Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ash-Shaffat

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا

Arab-Latin: waṣ-ṣāffāti ṣaffā

Terjemah Arti:  1.  Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya],

فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا

faz-zājirāti zajrā

 2.  dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),

فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا

fat-tāliyāti żikrā

 3.  dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,

إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَاحِدٌ

inna ilāhakum lawāḥid

 4.  Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1-4. Allah bersumpah dengan malaikat-maliakatNya yang beribadah dengan berbaris-baris sangat rapi, Allah bersumpah juga dengan malaikat-malaikat yang menggiring awan dengan perintah Allah, Allah bersumpah juga dengan malaikat-malaikat yang melantunkan dzkir kepada Allah dan firmanNya. Bahwa sesungguhnya sesembahan kalian (wahai manusia) adalah esa, tidak ada sekutu bagiNya, maka ikhlaskanlah ibadah dan ketaatan hanya kepadaNya. Allah swt bersumpah dengan makhlukNya yang Dia kehendaki. Adapun makhluk, dia hanya boleh bersumpah dengan nama Allah saja, karena sumpah dengan nama selain Allah adalah syirik.

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ

rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa rabbul-masyāriq

 5.  Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.

Dialah pencipta langit dan bumi dan apa yang ada dianatra keduanya, pengatur matahari pada tempat-tempat terbit dan terbenamnya.

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

innā zayyannas-samā`ad-dun-yā bizīnatinil-kawākib

 6.  Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,

Sesungguhnya kami menghiasi langit dengan perhiasan, yaitu bintang-bintang.

وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ

wa ḥifẓam ming kulli syaiṭānim mārid

 7.  dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka,

Dan kami menjaga langit dengan bintang-bintang dari semua setan yang Bengal yang nakal lagi terkutuk.

لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ

lā yassamma’ụna ilal-mala`il-a’lā wa yuqżafụna ming kulli jānib

 8.  syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ

duḥụraw wa lahum ‘ażābuw wāṣib

 9.  Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,

8-9. Setan-setan tidak mampu sampai ke al-mala al’la yaitu langit dan para malaikat yang ada di sana, untuk mendengar perbincangan mereka saat mereka membicarakan wahyu Allah swt tetang syariat dan takdirNya, setan-setan itu di lempari api-api dari segala penjuru agar mereka tidak bisa mendengar, dan diakhirat nanti mereka akan mendapatkan siksa abadi yang sangat menyakitkan.

إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

illā man khaṭifal-khaṭfata fa atba’ahụ syihābun ṡāqib

 10.  akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.

Kecuali setan yang mencuri pendengaran terhadap pembicaraan yang dia dengar dari langit, lalu dia menyampaikannya kepada setan yang ada di bawahnya, lalu yang dibawahnya tersebut menyampaikan pada yang dibawahnya lagi, dan terkadang dia sudah terkena lemparan bola api sebelum dia menyampaikannya dan terkadang pula dia telah menyampaikan dengan takdir Allah sebelum dia terkena lemparan bola api, lalu dia membawanya ke dukun-dukun dan mereka pun mencampurnya dengan sertaus kedustaan.

فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ

fastaftihim a hum asyaddu khalqan am man khalaqnā, innā khalaqnāhum min ṭīnil lāzib

 11.  Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.

tanyakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang yang mengingkari kebangkitan kembali itu ”apakah penciptaan mereka itu lebih sulit daripada penciptaan makhluk-makhluk yang lainnya yang telah kami ciptakan? Sesungguhnya kami menciptakan bapak mereka, adam dari tanah liat yang sebagiannya lengket dengan sebagian yang lain.

بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ

bal ‘ajibta wa yaskharụn

 12.  Bahkan kamu menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan kamu.

bahkan kamu (wahai rasul) merasa heran dengan pengingkaran mereka terhadap kebangkitan, dan yang lebih mengherankan dari pengingkaran mereka tersebut adalah bahwa mereka memperolok-olokmu dan menghina ucapanmu,

وَإِذَا ذُكِّرُوا لَا يَذْكُرُونَ

wa iżā żukkirụ lā yażkurụn

 13.  Dan apabila mereka diberi pelajaran mereka tiada mengingatnya.

Dan apabila mereka diingatkan tentang sesuatu yang mereka lupakan atau lalaikan, mereka tidak mengambil manfaat dari peringatan tersebut dan tidak merenungkannya.

وَإِذَا رَأَوْا آيَةً يَسْتَسْخِرُونَ

wa iżā ra`au āyatay yastaskhirụn

 14.  Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda kebesaran Allah, mereka sangat menghinakan.

Dan apabila mereka melihat mukjizat yang membuktikan kenabianmu, mereka meperolok-oloknya dan merasasa aneh.

وَقَالُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa qālū in hāżā illā siḥrum mubīn

 15.  Dan mereka berkata “Ini tiada lain hanyalah sihir yang nyata.

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamab’ụṡụn

 16.  Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)?

أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ

a wa ābā`unal-awwalụn

 17.  Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (akan dibangkitkan pula)”?

15-17. Mereka berkata ”apa yang kau bawa ini hanyalah sihir yang nyata lagi jelas”. Apakah apabila kami telah mati dan kami menjadi tanah tulang-tulang telah lapuk, kami akan dibangkitkan dari kubur kami dalam keadaan hidup, apakah leluhur-leluhur kami yang dulu juga dibangkitkan?

قُلْ نَعَمْ وَأَنْتُمْ دَاخِرُونَ

qul na’am wa antum dākhirụn

 18.  Katakanlah: “Ya, dan kamu akan terhina”

katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”ya kalian pasti dibangkitkan dalam keadaan hina dina.”

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَ

fa innamā hiya zajratuw wāḥidatun fa iżā hum yanẓurụn

 19.  Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka meIihatnya.

sesungguhnya ia hanya sekali tiupan dan mereka pun berdiri dari kubur mereka menyaksikan kengerian hari kiamat.

وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِ

wa qālụ yā wailanā hāżā yaumud-dīn

 20.  Dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.

Dan mereka berkata, ”celaka kami, ini adalah hari perhitungan amal dan pembalasan.”

هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

hāżā yaumul-faṣlillażī kuntum bihī tukażżibụn

 21.  Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.

dan dikatakan kepada mereka ”ini adalah hari keputusan diantara manusia dengan keadilan yang dulu kalian dustakan dan kalian ingkari di dunia.”

۞ احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ

uḥsyurullażīna ẓalamụ wa azwājahum wa mā kānụ ya’budụn

 22.  (kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,

مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

min dụnillāhi fahdụhum ilā ṣirāṭil-jaḥīm

 23.  selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.

وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ

waqifụhum innahum mas`ụlụn

 24.  Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya:

22-24. Dan dikatakan kepada para malaikat, ”kumpulkan orang-orang yang kafir kepada Allah dan sekutu-sekutu mereka berikut tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, giringlah mereka semuanya dengan keras ke neraka jahanam, tahanlah mereka sebelum mereka sampai ke jahanam, karena mereka akan ditanya tentang amal perbuatan mereka dan perkataan-perkataan yang mereka ucapkan di dunia sebagai pengingkaran dan perendahan terhada mereka.”

مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ

mā lakum lā tanāṣarụn

 25.  “Kenapa kamu tidak tolong menolong?”

Dikatakan kepada mereka sebagai pengingkaran, ”mengapa sebagian dari kalian tidak menolong sebagian yang lain?

بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

bal humul-yauma mustaslimụn

 26.  Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.

sebaliknya pada hari itu mereka tunduk kepada keputusan Allah, tidak menyelisihinya dan tidak menyimpang darinya, mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri.

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

wa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

 27.  Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan.

Sebagian dari orang-orang kafir memandang sebagian yang lain mereka saling mendebat dan saling menyalahkan.

قَالُوا إِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ

qālū innakum kuntum ta`tụnanā ‘anil-yamīn

 28.  Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan.

قَالُوا بَلْ لَمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

qālụ bal lam takụnụ mu`minīn

 29.  Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”.

28-29. Para pengikut berkata kepada orang-orang yang diikuti “sesungguhnya kalian mendatangi kami dari arah agama dan kebenaran, lalu kalian meminta kami untuk meremehkan perkara syariat, kalian membuat kami menjauh darinya, kalian menghiasi kesesatan kepada kami.” Lalu orang-orang yang diikuti itu menjawab kepada orang-orang yang mengikuti “perkaranya tidak seperti yang kalian sangka, karena sebenarnya hati kalian sudah mengingkari iman dan menerima kekafiran dan kemaksiatan.

وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ

wa mā kāna lanā ‘alaikum min sulṭān, bal kuntum qauman ṭāgīn

 30.  Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.

kami sendiri tidak memiliki hujjah atau kekuatan atas kalian sehingga kami menghalang-halangi kalian dari iman, justru kalian (wahai orang-orang musyrik) adalah kaum yang melampaui batas dari jalan kebenaran.

فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ

fa ḥaqqa ‘alainā qaulu rabbinā innā lażā`iqụn

 31.  Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu).

maka kita semuanya pasti mendapatkan ancaman tuhan kita, kita sama-sama akan merasakan azab, kami dengan kalian, akibat dari apa yang telah kita lakukan berupa dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan kita di dunia.

فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ

fa agwainākum innā kunnā gāwīn

 32.  Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.

Maka kami menyesatkan kalian dari jalan Allah dan dari beriman kepadaNya. Sesungguhnya kami sebelum kalian memang sudah sesat, kami celaka disebabkan oleh kekafiran kami dan kami mencelakakan kalian semuanya.”

فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

fa innahum yauma`iżin fil-‘ażābi musytarikụn

 33.  Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.

sesungguhnya para pengikut dan orang-orang yang diikuti sama-sama merasakan azab di hari kiamat, sebagaimana di dunia mereka sama-sama bermaksiat kepada Allah.

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

innā każālika naf’alu bil-mujrimīn

 34.  Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.

Sesungguhnya beginilah kami berbuat terhadap orang orang yang memilih untuk bermaksiat kepada Allah di dunia daripada menaatiNya sehingga kami menimpakan azab kepada mereka.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

innahum kānū iżā qīla lahum lā ilāha illallāhu yastakbirụn

 35.  Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,

Orang-orang musyrik itu di dunia, bila dikatakan kepada mereka, ”laa ilaaha illalah” dan mereka diajak kepadanya dan diminta untuk meninggalkan apa yang bertentangan dengannya, mereka menyombongkan diri di depannya dan di depan orang yang membawanya kepada mereka.

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

wa yaqụlụna a innā latārikū ālihatinā lisyā’irim majnụn

 36.  dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

dan mereka berkata “apakah kami harus meninggalkan ibadah kepada tuhan-tuhan kami hanya karena ucapan seorang penyair gila? maksud mereka adalah rasululallah saw.

بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

bal jā`a bil-ḥaqqi wa ṣaddaqal-mursalīn

 37.  Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).

Mereka dusta, Muhammad tidak seperti yang mereka katakan, sebaliknya dia datang dengan membawa al-qur’an dan tauhid, membenarkan para rasul berkaitan dengan apa-apa yang mereka kabarkan berupa syariat dan tauhid kepadaNya.

إِنَّكُمْ لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ

innakum lażā`iqul-‘ażābil-alīm

 38.  Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.

Sesungguhnya kalian (wahai orang-orang musyrik) benar-benar akan merasakan azab yang keras dan menyakitkan akibat dari perkataan, kekafiran, dan pendustaan kalian.

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa mā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

 39.  Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan,

Di akhirt kalian tidak dibalas kecuali akibat kemaksiatan yang telah kalian lakukan di dunia.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

 40.  tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

أُولَٰئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ

ulā`ika lahum rizqum ma’lụm

 41.  Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu,

فَوَاكِهُ ۖ وَهُمْ مُكْرَمُونَ

fawākih, wa hum mukramụn

 42.  yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,

فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

fī jannātin na’īm

 43.  di dalam surga-surga yang penuh nikmat.

40-43 Kecuali hamba-hamba Allah swt yang mengikhlasakn ibadah kepadaNya, maka Allah memberikan rahmat khusus dan murni kepada mereka. mereka adalah orang-orang yang selamat dari azab yang pedih. Orang-orang yang ikhlas itu mendapatkan rizki yang sudah diketahui yang mengalir selamanya di surga, rizki tersebut adalah buah-buahan yang bermcam-macam, mereka dimuliakan dari Allah di surga yang penuh dengan kenikmatan yang langgeng.

عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

‘alā sururim mutaqābilīn

 44.  di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.

44 Dan diantara pemuliaan Allah kepada mereka dan pemuliaan sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain adalah bahwa mereka akan berada di atas ranjang-ranjang dengan saling berhadap-hadapan di antara mereka.

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ

yuṭāfu ‘alaihim bika`sim mim ma’īn

 45.  Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.

بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ

baiḍā`a lażżatil lisy-syāribīn

 46.  (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.

لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ

lā fīhā gauluw wa lā hum ‘an-hā yunzafụn

 47.  Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.

45-47 Gelas-gelas khamar dibawa berkeliling di majelis-majelis mereka dari sungai-sungai yang mengalir, mereka tidak khawatir akan terputus (habis) putih warnanya, rasanya nikmat, tidak membahayakan jasmani dan akal.

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi ‘īn

 48.  Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ

ka`annahunna baiḍum maknụn

 49.  seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.

48-49 Di majelis mereka terdapat bidadari-bidadari yang suci, mereka tidak melihat kecuali kepada suami-suami mereka, bermata indah, seolah-olah mereka adalah telur yang terjaga yang belum tersentuh tangan.

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

 50.  Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ

qāla qā`ilum min-hum innī kāna lī qarīn

 51.  Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,

50-51 Sebagian mereka menghadap ke sebagain yang lain, bertanya tentang keadaan mereka di dunia dan apa yang mereka rasakan di sana serta apa yang Allah limpahkan berupa nikmat kepada mereka di surga, dan ini adalah dianatara bentuk kenikmatan yang sempurna. Seorang penghuni surga berkata ”Dulu di dunia aku meiliki teman akrab”

يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ

yaqụlu a innaka laminal-muṣaddiqīn

 52.  yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamadīnụn

 53.  Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

52 -53 dia berkata “bagaimana kamu membenarkan kebangkitan kembali (setelah hancur) padahal itu sangat mustahil? apakah bila kita mati, jasad kita hancur luluh dan menjadi tanah serta menyisakan tulang belulang, apakah kita akan tetap dibangkitkan diperhitungkan dan dibalas sesuai dengan amal perbuatan kami?

قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ

qāla hal antum muṭṭali’ụn

 54.  Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”

فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ

faṭṭala’a fa ra`āhu fī sawā`il-jaḥīm

 55.  Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.

54-55 Orang mukmin yang masuk surga itu berkata kepada rekan-rekannya, ”apakah kalian berkenan untuk menengok sehingga kalian bisa melihat nasib rekan tersebut?” lalu dia melongok dan melihat rekannya berada di tengah-tengah api neraka.

قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ

qāla tallāhi ing kitta laturdīn

 56.  Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

walau lā ni’matu rabbī lakuntu minal-muḥḍarīn

 57.  jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

56-57 Orang mukmin itu berkata kepada temannya yang mengingkari kebangkitan “hampir-hampir saja kamu mencelakakanku dengan menghalang-halangiku dari iman sekiranya aku patuh kepadamu. kalau tidak ada karunia dari tuhanku dengan memberiku hidayah kepada iman dan peneguhanNya terhadapku diatasnya, niscaya aku termasuk orang-orang yang dimasukkan ke dalam azab bersamamu.”

أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ

a fa mā naḥnu bimayyitīn

 58.  Maka apakah kita tidak akan mati?,

إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

illā mautatanal-ụlā wa mā naḥnu bimu’ażżabīn

 59.  melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

inna hāżā lahuwal-fauzul-‘aẓīm

 60.  Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.

58-60 apakah benar kami diberi kenikatan dan dikekalkan sehingga kami tidak akan mati kecuali kematian kami yang pertama di dunia dan kami tidak akan disiksa setelah kami masuk surga? sesungguhnya kenikmatan yang kami dapatkan ini merupakan kemenangan yang besar.”

لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

limiṡli hāżā falya’malil-‘āmilụn

 61.  Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

untuk kenikmatan yang sempurna seperti ini, kekekalan yang langgeng dan kemenangan besar ini lah hendaklah orang-orang yang beramal di dunia beramal untuknya, agar di akhirat mereka sampai kepadanya.

أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ

a żālika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqụm

 62.  (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.

Apakah kenikmatan surga yang telah disebutkan di atas lebih baik sebagai karunia dan pemberian dari Allah ataukah pohon zaqqum yang busuk lagi menjijikan sebagi makanan penduduk neraka?

إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ

innā ja’alnāhā fitnatal liẓ-ẓālimīn

 63.  Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya kami menjadikannya sebagai fitnah, dimana orang-orang zhalim terfitnah olehnya untuk diri mereka sendiri dengan kekafiran dan kemaksiatan dan merekapun berkata penuh pengingkaran, ”sesungguhnya rekan kalian mengabarkan kepada kalian bahwa di dalam neraka ada pohon, padahal api membakar pohon, ”

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ

innahā syajaratun takhruju fī aṣlil-jaḥīm

 64.  Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.

طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

ṭal’uhā ka`annahụ ru`ụsusy-syayāṭīn

 65.  mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.

فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

fa innahum la`ākilụna min-hā famāli`ụna min-hal buṭụn

 66.  Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.

ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ

ṡumma inna lahum ‘alaihā lasyaubam min ḥamīm

 67.  Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.

ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ

ṡumma inna marji’ahum la`ilal-jaḥīm

 68.  Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.

64-68 sesungguhnya ia pohon zaqqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar jahanam, buahnya sangat buruk apabila dipandang, seolah-olah ia adalah kepala-kepala setan bila ia demikian maka jangan bertanya lagi setelah ini rasanya. sesungguhnya orang-orang musyrik itu pasti makan dari pohon tersebut, yang akan memenuhi perut-perut mereka, kemudian setelah mereka memakannya mereka akan minum minuman yang campur aduk (keruh), buruk lagi sangat panas, kemudian setelah azab ini dikembalikan kepada azab api neraka.

إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

innahum alfau ābā`ahum ḍāllīn

 69.  Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat.

فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ

fa hum ‘alā āṡārihim yuhra’ụn

 70.  Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.

69-70 Sesungguhnya mereka mendapatkan leluhur mereka di atas kesyirikan dan kesesatan, lalu merekapun bersegera mengikuti mereka di atas itu.

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ

wa laqad ḍalla qablahum akṡarul-awwalīn

 71.  Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,

Sungguh kebanyakan umat-umat sebelum umatmu (wahai rasul) juga telah tersesat dari kebenaran.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ

wa laqad arsalnā fīhim munżirīn

 72.  dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka.

Dan sungguh kami telah mengutus para utusan kepada umat-umat tersebut, para utusan itu memperingatkan mereka terhadap azab Allah namun mereka mengingkarinya.

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn

 73.  Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

maka perhatikanlah bagaimana akhir kehidupan umat-umat yang telah diberi peringatan itu lalu mereka ingkar. mereka disiksa dan menjadi pelajaran bagi manusia yang lain.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

 74.  Tetapi hamba-hamba Allah yang bersihkan (dari dosa tidak akan diazab).

Kecuali hamba-hamba Allah yang Allah selamatkan dan Allah khususkan dengan rahmatNya karena keikhlasan mereka kepadanya.

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ

wa laqad nādānā nụḥun fa lani’mal-mujībụn

 75.  Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).

Nabi Kami, nuh berseru kepada Kami, dan Kami pasti akan menolongnya atas kaumnya. dan Kami adalah sebaik-baik yang mengabulkan do’anya.

وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa najjaināhu wa ahlahụ minal-karbil-‘aẓīm

 76.  Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.

Dan kami menyelamatkannya dan keluarganya serta orang-orang yang beriman kepadanya dari gangguan orang-orang musyrik dan dari tenggelam karena banjir bandang yang dahsyat.

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

wa ja’alnā żurriyyatahụ humul-bāqīn

 77.  Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.

Dan kami menjadikan anak keturunan nuh adalah orang-orang yang tersisa setelah tenggelamnya kaumnya.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

 78.  Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian;

Dan kami abadikan untuknya penyebutan nama yang baik dan sanjungan yang mulia untuknya pada orang-orang yang datang sesudahnya, yang menyebut-nyebut tentangnya dengan penuh kebaikan.

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

salāmun ‘alā nụḥin fil-‘ālamīn

 79.  “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”.

jaminan keamanan bagi nuh dan keselamatan untuknya, sehingga dia tidak disebut-sebut dengan keburukan di kalangan orang-orang yang datang sesudahnya, sebaliknya generasi-generasi sesudahnya akan menyanjungnya.

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

 80.  Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Seperti balasan untuk nuh itulah kami akan membalas hamba-hamba kami yang berbuat kebaikan dengan menaati Allah.

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

 81.  Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.

Sesungguhnya nuh termasuk hamba-hamba kami yang membenarkan, ikhlas dan melaksanakan perintah-perintah Allah.

ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ

ṡumma agraqnal-ākharīn

 82.  Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.

Kemudian kami menenggelamkan kaumnya yang lain yang mendustakan dengan banjir bandang, sehingga tidak tersisa seorangpun dari mereka.

۞ وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

wa inna min syī’atihī la`ibrāhīm

 83.  Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).

إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

iż jā`a rabbahụ biqalbin salīm

 84.  (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ

iż qāla li`abīhi wa qaumihī māżā ta’budụn

 85.  (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu?

أَئِفْكًا آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ

a ifkan āliḥatan dụnallāhi turīdụn

 86.  Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

fa mā ẓannukum birabbil-‘ālamīn

 87.  Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”

83-87 Diantara pengikut nuh yang berjalan diatas manhaj dan agamanya adalah nabiyullah Ibrahim, saat dia datang kepada tuhannya dengan membawa hati yang bersih dari segala akidah sesat dan akhlak tercela saat dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya dengan penuh pengingkaran “apa yang kalian sebah selain Allah itu? apakah kalian ingin menyembah tuhan-tuhan buatan dan meninggalkan ibadah kepada Allah yang berhak untuk disembah semata? lalu apa dugaan kalian terhadap apa yang akan dilakukan oleh raabbul alamin bila kalian menyekutukannNya dengan menyembah selainNya?

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ

fa naẓara naẓratan fin-nujụm

 88.  Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.

فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ

fa qāla innī saqīm

 89.  Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit”.

88-90 Lalu Ibrahim memandang sepintas ke bintang-bintang dimana kaumnya memang menyembahnya, seraya memikirkan alasan yang akan disodorkan kepada kaumnya agar tidak berangkat bersama mereka menghadiri hari raya mereka, ”saya sakit” ini adalah ungkapan kias darinya, maka merekapun meningggalkannya di belakang mereka.

فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِينَ

fa tawallau ‘an-hu mudbirīn

 90.  Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang.

89-90 Lalu Ibrahim memandang sepintas ke bintang-bintang dimana kaumnya memang menyembahnya, seraya memikirkan alasan yang akan disodorkan kepada kaumnya agar tidak berangkat bersama mereka menghadiri hari raya mereka, ”saya sakit” ini adalah ungkapan kias darinya, maka merekapun meningggalkannya di belakang mereka.

فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

fa rāga ilā ālihatihim fa qāla alā ta`kulụn

 91.  Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan?

مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ

mā lakum lā tanṭiqụn

 92.  Kenapa kamu tidak menjawab?”

91-92 Maka Ibrahim segera mendatangi berhala-berhala kaumnya, Ibrahim berkata menghinanya “mengapa kalian tidak makan makanan-makanan yang disuguhkan oleh penjaga-penjaga kalian? mengapa kalian diam saja dan tidak menjawab orang yang bertanya kepada kalian?”

فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ

fa rāga ‘alaihim ḍarbam bil-yamīn

 93.  Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).

lalu Ibrahim menghantam dan menghancurkan berhala-berhala itu dengan tangan kanannya untuk membuktikan kepada kaumnya bahwa menyembah berhala-berhala tersebut adalah kemaksiatan.

فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ يَزِفُّونَ

fa aqbalū ilaihi yaziffụn

 94.  Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas.

lalu kaumnya berbondong-bondong mendatangi berhala-berhala mereka dengan penuh kemarahan.

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ

qāla a ta’budụna mā tan-ḥitụn

 95.  Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

wallāhu khalaqakum wa mā ta’malụn

 96.  Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

95-96 maka Ibrahim menghadapi mereka dengan penuh keteguhan Ibrahim berkata ”bagaimana kalian menyembah berhala yang kalian pahat sendiri dan kalian buat dengan tangan kalian sendiri, lalu kalian meninggalkan penyembahan kepada tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan amal perbuatan kalian?

قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ

qālubnụ lahụ bun-yānan fa alqụhu fil-jaḥīm

 97.  Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.

manakala hujjah telah tegak atas mereka, merekapun menggunakan kekuatan, mereka berkata, ”bangunkanlah untuknya sebuah bangunan, isilah dengan kayu bakar lalu lemparkanlah dia kedalamnya.”

فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ

fa arādụ bihī kaidan fa ja’alnāhumul-asfalīn

 98.  Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.

kaum Ibrahim hendak membuat rencaan jahat untuk membinasakan Ibrahim, maka kami menjadikan mereka orang-orang yang kalah, Allah menggagalkan rencana jahat mereka dan menjadikan api itu dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

wa qāla innī żāhibun ilā rabbī sayahdīn

 99.  Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn

 100.  Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

99-100 Ibrahim berkata ”sesunggunya aku berhiijrah kepada tuhanku dari negeri kaumku ke tempat dimana aku bisa beribadah kepada tuhanku. Sesungguhya dia akan menunjukan kebaikan kepadaku dalam agama dan duniawiku. wahi tuhanku, berilah aku anak yang shalih.

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

fa basysyarnāhu bigulāmin ḥalīm

 101.  Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

maka kami mengabulkan doanya dan kami memberikan kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang sangat bijak, yakni saat dia dewasa yaitu ismail.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

fa lammā balaga ma’ahus-sa’ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif’al mā tu`maru satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣābirīn

 102.  Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

manakala ismail mulai besar dan berjalan bersama ayahnya, ayahnya berkata kepadanya ”sesunggunya aku bermimpi menyembelihmu apa pendapatmu? dan mimpi para nabi adalah haq maka ismail menjawab dengan meraih ridha tuhannya dan berbakti kepada bapaknya serta membantunya untuk menaati Allah “lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah, sembelihlah aku, engkau akan melihatku insya Allah sebagai orang yang sabar, taat dan hanya berharap pahala dari Allah.”

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

fa lammā aslamā wa tallahụ lil-jabīn

 103.  Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

maka ketika keduanya berserah diri kepada perintah Allah dan tunduk kepadanya, Ibrahim memiringkan anaknya kesampingnya (dan dia ada disis bahunya) diatas tanah untuk menyembelihnya

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ

wa nādaināhu ay yā ibrāhīm

 104.  Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

qad ṣaddaqtar-ru`yā, innā każālika najzil-muḥsinīn

 105.  sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

104-105 lalu Kami memanggil Ibrahim dalam keadaan yang sangat sulit tersebut, ”wahai Ibrahim, kamu telah melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu dan kamu telah membenarkan mimpimu. sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berbuat baik sepertimu sebagaimana Kami membalasmu atas pembenaranmu, sehingga Kami menyelamatkan mereka dari kesuliatn-kesulitan di dunia daan akhirat.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

inna hāżā lahuwal-balā`ul mubīn

 106.  Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

sesungguhnya perintah untuk menyembelih anakmu adalah ujian yang berat yang telah membuktikan kebenaran imanmu.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

wa fadaināhu biżib-ḥin ‘aẓīm

 107.  Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Kami menyelamatkan ismail dan Kami menggantinya dengan seekor domba yang besar.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

 108.  Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

Kami menyisakan sanjungan yang baik bagi Ibrahim pada umat-umat sesudahnya.

سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

salāmun ‘alā ibrāhīm

 109.  (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

sebagai penghormatan untuk Ibrahim disisi Allah dan doa kebaikan untuknya agar selamat dari segala celaan.

كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

każālika najzil-muḥsinīn

 110.  Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

sebagimana Kami memberikan balasan baik bagi Ibrahim karena ketaatannya kepada Kami dan melaksanakan perintah Kami, begitu pula Kami membalas orang-orang yang berbuat baik dari hamba-hamba Kami.

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

 111.  Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

sesungguhnya Ibrahim termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin yang telah memberikan hak penghambaan dengan sebaik-baiknya.

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

wa basysyarnāhu bi`is-ḥāqa nabiyyam minaṣ-ṣāliḥīn

 112.  Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

dan Kami menyampaikan berita gembira kepada ibraahim bahwa Kami menjadiakn ishaq putranya sebagai nabi di kalangan orang-orang shaih, sebagai balasan untuknya atas kesabarannya dan kerelaannya menerima perintah tuhannya dan ketaatan kepadanya.

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

wa bāraknā ‘alaihi wa ‘alā is-ḥāq, wa min żurriyyatihimā muḥsinuw wa ẓālimul linafsihī mubīn

 113.  Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

dan Kami menurunkan keberkahan kepada mereka berdua. Dan diantara anak keturunan mereka berdua ada yang taat kepada tuhannya berbuat baik untuk dirinya, namun ada juga yang zhalim secara nyata dengan kekafiran dan kemaksiatannya.

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

wa laqad manannā ‘alā mụsā wa hārụn

 114.  Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.

وَنَجَّيْنَاهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa najjaināhumā wa qaumahumā minal-karbil-‘aẓīm

 115.  Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.

114-115 Dan sungguh Kami telah melimpahkan kenabian dan kerasaulan kepada musa dan harun, Kami menyelamatkan mereka berdua dari kaum mereka dari tenggelam dan Kami mengentaskan mereka dari penghambaan dan kehinaan yang menimpa mereka.”

وَنَصَرْنَاهُمْ فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ

wa naṣarnāhum fa kānụ humul-gālibīn

 116.  Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.

dan Kami telah menolong mereka sehingga akhirnya mereka mendapatkan kemuliaan dan keunggulan atas firaun dan bala tenatranya.

وَآتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ

wa ātaināhumal-kitābal-mustabīn

 117.  Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.

وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

wa hadaināhumaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

 118.  Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihimā fil-ākhirīn

 119.  Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian;

117-119 dan Kami memberikan mereka berdua taurat yang jelas membimbing keduanya ke jalan yang lurus yang tidak bengkok yaitu islam, agama Allah yang dengannya dia mengutus nabi-nabinya, dan Kami mengabadikan sanjungan yang bagus dan nama mulia untuk mereka berdua pada orang-orang yang datang setelah mereka berdua’

سَلَامٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

salāmun ‘alā mụsā wa hārụn

 120.  (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”.

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

 121.  Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahumā min ‘ibādinal-mu`minīn

 122.  Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

120-122 sebagai penghormatan pada musa dan harun dari sisi Allah, pujian dan doa kebaikan untuk mereka berdua agar selamat dari segala aib, sebagaimana Kami membalas mereka dengan kebaiakan, Kami juga membalas orang-orang yang berbuat baik dari hamba-hamba Kami yang mengikhlaskan diri bagi Kami dengan membenarkan, beriman, dan beramal. sesungguhnya musa dan harun termasuk hamba-hamba Kami yang mendalam imannya

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna ilyāsa laminal-mursalīn

 123.  Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.

إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ

iż qāla liqaumihī alā tattaqụn

 124.  (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?

أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ

a tad’ụna ba’law wa tażarụna aḥsanal-khāliqīn

 125.  Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,

اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

allāha rabbakum wa rabba ābā`ikumul-awwalīn

 126.  (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?”

123-126 dan sesungguhnya hamba Kami ilyas termasuk orang-orang yang Kami muliakan dengan kenabian dan kerasulan, tatkala dia berkata kepada kaumnya bani israil ”bertakwalah kalian kepada Allah semata dan takutlah kepadaNya jangan menyekutukan selainNya denganNya. bagaimana kalian menyembah berhala yang lemah lagi makhluk dan kalian meninggalkan sebaik-baik pencipta yang disifati dengan sifat-sifat terbaik dan paling sempurna, lalu kalian tidak menyembahNya? Allah adalah tuhan kalian yang menciptakan kalian dan menciptakan nenek moyang kalian yang telah berlalu sebelum kalian?

فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

fa każżabụhu fa innahum lamuḥḍarụn

 127.  Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka),

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

 128.  kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

127-128 kemudian kaum nabi lyas mendustakan nabi mereka, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua pada hari kiamat utuk memperhitungkan amalan mereka dan memberi siksaan, kecuali hamba-hamba Allah yang mengikhlaskan agama mereka kepada Allah, maka sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang selamat dari siksa-Nya.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

 129.  Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ

salāmun ‘alā ilyāsīn

 130.  (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?”

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

 131.  Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

 132.  Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

129-132 kemudian Kami menjadikan bagi Ilyas sebuah sanjungan yang baik pada umat-umat setelahnya, sebagao penghormatan dari Allah, dan sanjungan bagi Ilyas. Dan sebagaimana kami membalas Ilyas dengan balasan yang baik atas ketaatannya, Kami pun akan mebalas orang-orang yang berbuat baik diantara hamba-hamba Kami yang beriman. Sesungguhnya dia termasuk dianta hamba-hamba Kami yang beriman dan mengikhlaskan bagiNya dengan mengamalkan perintah-perintahNya

وَإِنَّ لُوطًا لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna lụṭal laminal-mursalīn

 133.  Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.

إِذْ نَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ

iż najjaināhu wa ahlahū ajma’īn

 134.  (Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua,

إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ

illā ‘ajụzan fil-gābirīn

 135.  kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal.

133-135 dan sesungguhnya Kami telah memilih hamba Kami luth, lalu Kami menjadikannya para rasul, saat Kami menyelamatkannya dan keluarganya dari azab. kecuali seorang wanita tua, yaitu istrinya dia binasa bersama kaumnya yang binasa karena kekafirannya.

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ

ṡumma dammarnal-ākharīn

 136.  Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain.

kemudian Kami membinasakan orang-orang yang tersisa yang mendustakan dari kaumnya

وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ

wa innakum latamurrụna ‘alaihim muṣbiḥīn

 137.  Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,

وَبِاللَّيْلِ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa bil-laīl, a fa lā ta’qilụn

 138.  dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

137-138 Sesungguhnya kalian orang makkah benar-benar melewati kampung-kampung kaum luth dan sisa-sisanya dalam perjalanan safar kalian di waktu pagi dan kalian juga melewatinya di waktu malam, maka mengapa kalian tidak merenungkannya, sehingga kalian merasa takut ditimpa seperti apa yang telah menipa mereka.

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna yụnusa laminal-mursalīn

 139.  Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,

إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

iż abaqa ilal-fulkil-masy-ḥụn

 140.  (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,

139-140 Sesungguhya Kami memilih hamba Kami yunus dan menjadikannya termasuk para rasul, saat dia berlari meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah kepada kaumnya lalu dia ikut ke sebuah kapal yang sarat dengan penumpang dan barang.

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

fa sāhama fa kāna minal-mud-ḥaḍīn

 141.  kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.

kapal itu kemudian dikepung oleh ombak-ombak yang besar maka para penumpangnya melakukan undian untuk meringankan beban kapal karena takut tengelam, maka yunus termasuk pada orang-orang yang kalah.

فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ

faltaqamahul-ḥụtu wa huwa mulīm

 142.  Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.

maka yunus di buang ke laut lalu seekor ikan besar menelannya dan dia telah melakukan sesuatu yang karenanya dia disalahkan.

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ

falau lā annahụ kāna minal-musabbiḥīn

 143.  Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,

لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

lalabiṡa fī baṭnihī ilā yaumi yub’aṡụn

 144.  niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

143-144 kalau bukan karena banyaknya ibadah dan amal shalih yang telah dia lakukan sebelum dia dimakan ikan besar tersebut, dan juga tasbihnya saat dia berada di dalam perut ikan tersebut dengan mengucapkan لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ niscaya yunus akan berdiam diri dalam perut ikan dan perut itu akan menjadi kuburnya sampai hari kiamat.

۞ فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

fa nabażnāhu bil-‘arā`i wa huwa saqīm

 145.  Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.

lalu Kami mengeluarkannya dari perut ikan, dan Kami melemparkannnya ke sebuah daerah yang tidak berpohon dan tidak memiliki bangunan dalam keadaan lemah

وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ

wa ambatnā ‘alaihi syajaratam miy yaqṭīn

 146.  Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.

dan Kami menumbuhkan untuknya pohon labu yang memayunginya dan bermanfaat baginya.

وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ

wa arsalnāhu ilā mi`ati alfin au yazīdụn

 147.  Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.

فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

fa āmanụ fa matta’nāhum ilā ḥīn

 148.  Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.

147-148 dan Kami mengutusnya pada kaumnya yang berjumlah seratus ribu bahkan lebih dari itu mereka membenarkannya dan melaksanakan apa yang dibawanya, maka Kami memberikan kenikmatan hidup kepada mereka sampai tiba saat ajal mereka.

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ

fastaftihim a lirabbikal-banātu wa lahumul-banụn

 149.  Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki,

maka tanyakanlah (wahai rasul) kepada kaummu, bagaimana mereka menjadikan anak perempuan untuk Allah padahal mereka sendiri tidak menyukainya, dan mereka menjadikan anak laki-laki untuk mereka.

أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُونَ

am khalaqnal-malā`ikata ināṡaw wa hum syāhidụn

 150.  atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?

tanyakanlah kepada mereka “apakah Kami menciptakan para malaikat sebagai perempuan-perempuan dan mereka hadir saat itu?

أَلَا إِنَّهُمْ مِنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ

alā innahum min ifkihim layaqụlụn

 151.  Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:

وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

waladallāhu wa innahum lakāżibụn

 152.  “Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.

151-152 dan sesungguhnya diantara kebohongan mereka adalah ucapan mereka ”Allah melahirkan anak” sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta karena mereka berkata apa yang tidak mereka ketahui.

أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ

aṣṭafal-banāti ‘alal-banīn

 153.  Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?

untuk apa Allah memilih anak perempuan dan bukan anak laki-laki?

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

 154.  Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?

seburuk-buruk ketetapan adalah ketetapan yang kalian tetapkan (wahai kaum) dimana kalian memberikan anak perempuan kepada Allah dan anak laki-laki untuk diri kalian sendiri, padahal diri kalian sediri tidak ridha perempuan untuk diri kalian.

أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

a fa lā tażakkarụn

 155.  Maka apakah kamu tidak memikirkan?

apakah kalian tidak ingat bahwa Allah tidak boleh dan tidak patut memiliki anak? maha tinggi Allah dari itu setinggi-tingginya.

أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ

am lakum sulṭānum mubīn

 156.  Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

apakah kalian memiliki hujjah yang nyata atas kebohongan dan perkataan kalian itu?

فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

fa`tụ bikitābikum ing kuntum ṣādiqīn

 157.  Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.

jika kalian meiliki hujjah dalam sebuah kitab dari sisi Allah maka datangkanlah hal itu, bila kalian adalah orang-orang yang jujur dalam apa yang kalian katakan.

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

wa ja’alụ bainahụ wa bainal-jinnati nasabā, wa laqad ‘alimatil-jinnatu innahum lamuḥḍarụn

 158.  Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka),

orang-orang musyrik itu juga menetapkan nasab dan kekerabatan antara Allah dengan para malaikat, dan sungguh malaikat itu mengetahui bahwa orang-orang musyrik akan dihadirkan untuk di azab di hari kiamat.

سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥanallāhi ‘ammā yaṣifụn

 159.  Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

Maha suci Allah dari segala perkara yang tidak layak untukNya dari sifat-sifat yang disandangkan oleh orang-orang kafir kepadaNya.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

 160.  Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari (dosa).

akan tetapi hamba-hamba Allah yang ikhlas dalam beribadah kepadanya tidak menyipatinya kecuali dengan apa yang layak bagi keagunganNya.

فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ

fa innakum wa mā ta’budụn

 161.  Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu,

مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ

mā antum ‘alaihi bifātinīn

 162.  Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,

إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ

illā man huwa ṣālil-jaḥīm

 163.  kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala.

161-163 maka sesungguhnya kalian (wahai orang-orang yang menyekutukan Allah) dan tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah itu, tidak mampu menyesatkan siapapun kecuali siapa yang telah Allah swt takdirkan untuk masuk kedalam neraka jahanam karena kekafiran dan kezhalimannya.

وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ

wa mā minnā illā lahụ maqāmum ma’lụm

 164.  Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu,

وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ

wa innā lanaḥnuṣ-ṣāffụn

 165.  dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah).

وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ

wa innā lanaḥnul-musabbiḥụn

 166.  Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).

164-166 Para malaikat berkata ”tidak seorangpun dari kami kecuali dia memiliki tempat yang sudah diketahui di langit, sesungguhnya kami berdiri berbaris dalam beribadah kepada Allah dan menaatiNya dan sesungguhnya kami menyucikan Allah dari segala yang tidak layak bagiNya.

وَإِنْ كَانُوا لَيَقُولُونَ

wa ing kānụ layaqụlụn

 167.  Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata:

لَوْ أَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِنَ الْأَوَّلِينَ

lau anna ‘indanā żikram minal-awwalīn

 168.  “Kalau sekiranya di sksi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu,

لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

lakunnā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

 169.  benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”.

167-169 Dan sesungguhnya orang-orang kafir makkah benar-benar berkata sebelum engkau diutus (wahai rasul), ”seandainya kami dikirimi kitab-kitab dan nabi-nabi yang telah dikirimkan kepada orang-orang sebelum Kami, niscaya kami menjadi hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman, mengikhlaskan beribadah kepadaNya.”

فَكَفَرُوا بِهِ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

fa kafarụ bih, fa saufa ya’lamụn

 170.  Tetapi mereka mengingkarinya (Al Quran); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).

namun ketika telah datang kepada mereka berita orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang terakhir, dan kitab paling sempurna dan rasul yang paling utama, yaitu Muhammad saw, mereka kafir kepadanya, maka mereka akan mengetahui azab apa yang akan mereka terima di akhirat,

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ

wa laqad sabaqat kalimatunā li’ibādinal-mursalīn

 171.  Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,

إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ

innahum lahumul-manṣụrụn

 172.  (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.

وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

wa inna jundanā lahumul-gālibụn

 173.  Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang,

171-173 Dan sungguh kalimat (ketetapan) Kami telah mendahului, yaitu ketetapan yang tidak akan tertolak, untuk hamba-hamba Kami para utusan, bahwa mereka akan mendapatkan kemenangan atas musuh-musuh mereka dengan hujjah dan kekuatan, dan bahwa bala tentara Kami, para mujahidin di jalan Kami, adalah orang-orang yang menang atas musuh-musuh mereka disetiap kesempatan dengan melihat kepada akibat dan akhir kehidupan.

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ

fa tawalla ‘an-hum ḥattā ḥīn

 174.  Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika.

وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

wa abṣir-hum, fa saufa yubṣirụn

 175.  Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu).

174-175 Maka berpalinglah (wahi rasul) dari orang-orang yang menentang dan tidak menerima kebenaran sehingga waktu yang Aku berikan kepada mereka habis dan perintah Allah yang berisi azab tiba. lihatlah dan perhatikanlah azab apa yang akan menimpa mereka akibat penyelisihan mereka terhadapmu? mereka akan melihat azab Allah yang akan turun menimpa mereka.

أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ

a fa bi’ażābinā yasta’jilụn

 176.  Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan?

فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ

fa iżā nazala bisāḥatihim fa sā`a ṣabāḥul-munżarīn

 177.  Maka apabila siksaan itu turun dihalaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.

176-177 apakah mereka meminta kepadamu (wahai rasul) disegerakanya azab Kami atas mereka? bila azab Kami turun kepada mereka, maka seburuk-buruk waktu pagi adalah waktu pagi mereka.

وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ

wa tawalla ‘an-hum ḥattā ḥīn

 178.  Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika.

وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

wa abṣir, fa saufa yubṣirụn

 179.  Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat.

178-179 Dan berpalinglah dari mereka sampai Allah menetapkan azbNya atas mereka, dan lihatlah mereka pasti mereka akan melihat azab dan siksaan yang akan menimpa mereka.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yaṣifụn

 180.  Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.

Maha suci Allah tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang berdusta atas namaNya.

وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ

wa salāmun ‘alal-mursalīn

 181.  Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.

penghormatan Allah, sanjunganNya dan keamananNya selalu tercurah untuk seluruh rasul,

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

 182.  Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Segala puji bagi Allah di dunia dan akhirat. Dialah yang berhak atas itu semata tiada sekutu bagiNya.

Related: Surat Shad Arab-Latin, Surat az-Zumar Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Mu’min, Terjemahan Tafsir Surat Fushshilat, Isi Kandungan Surat asy-Syura, Makna Surat az-Zukhruf

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Tafsir Surah As Saffat Balasan Orang Di Bumi