Surat al-A’raf

Belajar Quran Online

المص

Arab-Latin: alif lām mīm shād

Terjemah Arti:  1.  Alif laam mim shaad.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(alif lam mim shad). pembicaraan tentang huruf-huruf terpisah, sudah berlalu di awal surat al-baqarah.

كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

kitābun unzila ilaika fa lā yakun fī ṣadrika ḥarajum min-hu litunżira bihī wa żikrā lil-mu`minīn

 2.  Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Al-qur’an ini merupakan kitab yang agung yang diturunkan oleh Allah kepadamu (wahai rasul). maka janganlah ada di dalam hatimu keraguan tentangnya bahwa dia diturunkan dari sisi Allah. Dan janganlah engkau merasa susah menyampaikannya dan memperingatkan (orang) dengannya. Kami menurunkannya kepadamu untuk menakut-nakuti orang-orang kafir dengannya dan mengingatkan orang-orang mukmin dengannya.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

ittabi’ụ mā unzila ilaikum mir rabbikum wa lā tattabi’ụ min dụnihī auliyā`, qalīlam mā tażakkarụn

 3.  Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).

Ikutilah oleh kalian (wahai sekalian manusia). apa yang diturunkan kepada kalian dari tuhan kalian yang berupa kitabullah dan Sunnah dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-laranganNya. dan janaganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain Allah, seperti setan-setan, pendeta-pendeta., dan rahib-rahib. Sesungguhnya sedikit sekali dari kalian yang mau memahami nasihat dan mengambil pelajaran sehingga mau kembali menuju kepada yang haq.

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ

wa kam ming qaryatin ahlaknāhā fa jā`ahā ba`sunā bayātan au hum qā`ilụn

 4.  Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.

dan banyak dari negeri-negeri yang telah kami hancurkan penduduknya, karena penentangan dan pendustaan mereka terhadap para rasul kami. sehingga hal itu menimpakan pada mereka kehinaan di dunia yang berlanjut dengan kenistaan di akhirat. Maka sekali waktu datanglah siksa kami kepada mereka pada saat mereka tidur pada malam hari, dan sekali waktu saat mereka tidur di siang hari. Allah menyebut dua waktu ini secara khusus, karena merupakan jam tidur dan melepas rasa lelah. Karenanya, kedatangan siksaan pada saat tersebut akan lebih menakutkan dan mengagetkan.

فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

fa mā kāna da’wāhum iż jā`ahum ba`sunā illā ang qālū innā kunnā ẓālimīn

 5.  Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.

Maka tidaklah ucapan dari mereka ketika siksaan itu datang kecuali pengakuan dari dosa dan kesalahan, dan bahwasannya mereka itu pantas menerima siksaan yang menimpa mereka.

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

fa lanas`alannallażīna ursila ilaihim wa lanas`alannal-mursalīn

 6.  Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami),

Maka kami akan benar-benar menanyakan kepada umat-umat yang telah di utus kepada mereka rasul-rasul. ”apa jawaban kalian terhadap rasul-rasul kami yang diutus ketengah kalian?” dan kami akan benar-benar bertanya kepada rasul-rasul tentang ketuntasan penyampain mereka terhadap risalah-risalah mereka dan apa jawaban umat-umat mereka terhadap mereka.

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ

fa lanaquṣṣanna ‘alaihim bi’ilmiw wa mā kunnā gā`ibīn

 7.  maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).

Dan kami sungguh akan memberitahukan kepada semua makhluk tentang apa yang mereka perbuat sesuai dengan pengetahuan kami tentang perbuatan-perbuatan mereka di dunia tentang perkara-perkara yang kami perintahkan kepada mereka dan hal-hal yang kami melarang mereka darinya. Dan kami tidaklah ghaib dari mereka dalam kondisi apapun.

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

wal-waznu yauma`iżinil-ḥaqq, fa man ṡaqulat mawāzīnuhụ fa ulā`ika humul-mufliḥụn

 8.  Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan penimbangan amal-amal manusia pada hari kiamat dilakukan dengan timbangan hakiki secara adil dan lurus yang tidak ada unsur kezhaliman sama sekali di dalamnya. Barangsiapa yang berat timbangan amal perbuatannya (karena banyaknya amal kebaikannya), maka mereka adalah orang-orang yang beruntung.

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

wa man khaffat mawāzīnuhụ fa ulā`ikallażīna khasirū anfusahum bimā kānụ bi`āyātinā yaẓlimụn

 9.  Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

Dan barangsiapa yang ringan amal perbuatannya (karena banyaknya keburukannnya) maka mereka itu adalah orang-orang yang menyia-nyiakan bagiannya dari keridahaan Allah . disebabkan sikapnya yang melampaui batas dengan mengingkari ayat-ayat Allah  dan menolak tunduk kepadanya.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

wa laqad makkannākum fil-arḍi wa ja’alnā lakum fīhā ma’āyisy, qalīlam mā tasykurụn

 10.  Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

dan sungguh kami telah memberikan kekuasaan bagi kalian di muka bumi (wahai sekalian manusia). dan kami menjadikan bumi sebagai tempat tinggal bagi kalian dan kami menjadikan bagi kalian apa saja untuk kalian pergunakan sebagai bekal hidup di dalamnya, berupa berbagai jenis makanan dan minuman. Meskipun demikian rasa syrukur kalian terhadap nikmat-nikmat Allah amat sedikit.

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

wa laqad khalaqnākum ṡumma ṣawwarnākum ṡumma qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, lam yakum minas-sājidīn

 11.  Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

Sungguh kami telah melimpahkan kenikmatan atas kalian dengan menciptakan asal-muasal kalian, (yaitu bapak kalian, Adam dari ketiadaan). kemudian kami membentuk rupa fisiknya dalam bentuknya yang lebih baik melebihi kebanyakan makhluk. lalu kami memerintahkan para malaikat kami  untuk bersujud kepadanya (sebagai bentuk kemuliaan, penghormaatan, dan pengukuhan keutamaan Adam). maka mereka semua bersujud. Akan tetapi, iblis yang waktu itu bersama malaikat, tidak mau bersujud kepada Adam. lantaran dorongan dari kedengkiannya terhadap kemuliaan besar ini.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

qāla mā mana’aka allā tasjuda iż amartuk, qāla ana khairum min-h, khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahụ min ṭīn

 12.  Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Allah  berfirman sebagai pengingkaran kepada iblis yang menolak untuk bersujud, ”apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika aku perintahkan engkau?” iblis menjawab, ”Aku lebih baik daripada dia dalam asal penciptaan, sebab aku diciptakan dari api, sedang dia diciptakan dari tanah,” iblis memandang api lebih mulia daripada tanah.

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

qāla fahbiṭ min-hā fa mā yakụnu laka an tatakabbara fīhā fakhruj innaka minaṣ-ṣāgirīn

 13.  Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Allah berfirman kepada iblis, ”turunlah kamu dari surga! Kamu tidak pantas untuk menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah dari surga! Sesungguhnya Kamu termasuk makhluk yang hina dan nista. ”

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

qāla anẓirnī ilā yaumi yub’aṡụn

 14.  Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.

Iblis berkata kepada Allah , ketika telah putus asa dari rahamat Allah, ”berilah aku kesempatan sampai hari kebangkitan, dan hal itu bertujuan agar aku bisa menyesatkan siapa saja yang dapat aku sesatkan dari keturunan Adam. ”

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

qāla innaka minal-munẓarīn

 15.  Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”.

Allah berfirman, ”sesungguhnya engkau termasuk makhluk yang telah kutakdirkan penundaan ajalnya hingga tiupan sangkakala pertama kelak, tatkala semua makhluk menemui ajal kematiaanya. ”

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

qāla fa bimā agwaitanī la`aq’udanna lahum ṣirāṭakal-mustaqīm

 16.  Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

Iblis yang dilaknat oleh Allah berkata, ”Disebabkan Engkau sudah memvonis aku sesat, maka aku akan sungguh-sungguh mengerahkan tenaga untuk menyesatkan keturunan Adam dari jalanMu yang lurus. Dan aku benar akan sungguh-sungguh menghalang-halangi mereka dari ajaran islam yang Engkau telah menciptakan fitrah mereka diatasnya.

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

ṡumma la`ātiyannahum mim baini aidīhim wa min khalfihim wa ‘an aimānihim wa ‘an syamā`ilihim, wa lā tajidu akṡarahum syākirīn

 17.  kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

kemudian aku akan mendatangi mereka dari seluruh arah dan sisi. Maka aku akan menghalangi mereka dari jalan kebenaran, dan aku akan tampakan seperti indah kepada mereka sebuah kebatilan, dan aku dorong mereka mencintai dunia serta aku sebarkan keraguan-raguan pada mereka tentang akhirat. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan anak keturunan adam bersukur terhadap nikmat-nikmatMu. ”

قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا ۖ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ

qālakhruj min-hā maż`ụmam mad-ḥụrā, laman tabi’aka min-hum la`amla`anna jahannama mingkum ajma’īn

 18.  Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.

Allah  berfirman kepada iblis, ”keluarlah dari surga dalam keadan dimurkai lagi terusir. Sesungguhnya aku benar-benar akan memenuhi isi jahanam denganmu dan orang-orang yang mengikutimu dari kalangan anak keturunan Adam bersama-sama.

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

wa yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata fa kulā min ḥaiṡu syi`tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takụnā minaẓ-ẓālimīn

 19.  (Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim”.

Wahai Adam, tinggalah kamu dan istrimu, hawwa, di dalam surga. makanlah oleh kalian berdua apa saja dari buah-buahan surga yang kalian berdua kehendaki. Dan janganlah kalian memakan buah dari pohon ini (yang ditentukan Allah kepada mereka). Apabila kalian melakukannya, akibatnya kalian termasuk orang-orang yang zhalim yang melanggar rambu-rambu ketentuan Allah. ”

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

fa waswasa lahumasy-syaiṭānu liyubdiya lahumā mā wụriya ‘an-humā min sau`ātihimā wa qāla mā nahākumā rabbukumā ‘an hāżihisy-syajarati illā an takụnā malakaini au takụnā minal-khālidīn

 20.  Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.

Maka setan membisikan keragu-raguan kepada Adam  dan Hawwa untuk menjurumuskan mereka kedalam maksiat terhadap Allah  dengan memakan buah dari pohon yang Allah larang mereka berdua dari (memakan buahnya) supaya mengakibatkan terbukanya apa yang tertutupi dari aurat mereka. Dan setan berkata kepada mereka dalam upaya memperdayai mereka berdua, ”sesungguhnya tuhan kalian melarang kalian dari memakan buah dari pohon ini hanyalah agar kalian tidak berubah menjadi malaikat dan agar kalian berdua tidak hidup kekal di dalam surga. ”

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

wa qāsamahumā innī lakumā laminan-nāṣiḥīn

 21.  Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,

Setan pun bersumpah dengan nama Allah di hadapan Adam  dan hawaa bahwa dia merupakan pemberi nasihat terhadap mereka berdua dalam mengusulkan pendapat untuk makan buah dari pohon tersebut, padahal sebenarnya dia dusta dalam ucapannya itu.

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

fa dallāhumā bigurụr, fa lammā żāqasy-syajarata badat lahumā sau`ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil-jannah, wa nādāhumā rabbuhumā a lam an-hakumā ‘an tilkumasy-syajarati wa aqul lakumā innasy-syaiṭāna lakumā ‘aduwwum mubīn

 22.  maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Maka setan berhasil menyeret dan memperdayai mereka berdua, sehingga keduanya memakan buah dari pohon yang Allah larang mereka berdua untuk mendekatinya. Usai memakannya, maka terbukalah aurat mereka dan lenyaplah penutup yang Allah pakaikan untuk menutupi mereka sebelum terjadi pelanggaran itu. Maka mereka pun mulai menempelkan dedaunan surga pada auarat mereka. Kemudian tuhan mereka menyeru mereka, ”bukankan Aku telah melarang kalian berdua dari pohon tersebut, dan telah Aku katakan kepada kalian, ”sesungguhnya setan itu bagi kalian berdua adalah musuh yang nyata permusuhannya?” Dalam ayat ini terkandung satu petunjuk bahwa terbukanya aurat termasuk perkara amat buruk, sebagimana dulu hingga sekarang di pandang menjijikan oleh fitrah manusia dan dianggap buruk oleh akal sehat.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

qālā rabbanā ẓalamnā anfusana wa il lam tagfir lanā wa tar-ḥamnā lanakụnanna minal-khāsirīn

 23.  Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Adam  dan hawwa berkata, ”wahai tuhan kami, kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri dengan memakan dari pohon tersebut. Dan Jika engkau tidak berkenan mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan bagian dari kehidupan dunia dan akhirat mereka.” ucapan ini merupakan kalimat-kalimat yang di terima Adam  dari tuhannya maka mereka berdua memanjatkan do’a dengan kalimat tersebut, sehingga Allah menerima taubatnya.

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

qālahbiṭụ ba’ḍukum liba’ḍin ‘aduww, wa lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā’un ilā ḥīn

 24.  Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”.

Allah  berfirman kepada Adam dan hawwa dan iblis, “turunlah kalian semua dari langit menuju ke bumi! Dan kelak sebagian dari kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan di bumi, kalian mempunyai tempat hunian yang kalian tingggali dan kalian bersenang-senang di dalamnya sampai habisnya batas ajal kalian.

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

qāla fīhā taḥyauna wa fīhā tamụtụna wa min-hā tukhrajụn

 25.  Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.

Allah  berfirman kepada Adam dan hawa dan anak keturunan mereka, ”disana kalian hidup”, maksudnya di muka bumi kalian akan menghabiskan masa-masa hidup kalian di dunia. ”dan disana pula kalian akan mati. dan dari sana (pula) tuhan kalian akan mengeluarkan kalian”, dan akan mengumpulkan kalian dalam keadaan hidup kembali pada hari kebangkitan.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn

 26.  Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Wahai anak cucu adam, sungguh kami telah menjadikan pakaian bagi kalian yang menutupi aurat kalian. Yaitu pakaian pokok, dan pakaian untuk perhiasan dan kecantikan. Pakaian ini yang berfungsi sebagai kesempurnaan penampilan dan kesenangan. Sedang pakaian ketakwaan kepada Allah  yaitu dengan cara mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, itulah sebaik-baiak pakaian bagi seorang mukmin. Dan semua itu yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian itu termasuk bukti-bukti rububiyah Allah , keesaan, limpahan karunia, dan rahmatNya kepada hamab-hambaNya. Harapannya, agar kalian selalu mengingat-ngingat nikmat-nikmat tersebut dan kemudian bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat tersebut. Dan dalah hal ini, terkandung pemberian karunia dari Allah bagi para hambaNYa dengan kenikmatan-kenikmatan ini.

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

yā banī ādama lā yaftinannakumusy-syaiṭānu kamā akhraja abawaikum minal-jannati yanzi’u ‘an-humā libāsahumā liyuriyahumā sau`ātihimā, innahụ yarākum huwa wa qabīluhụ min ḥaiṡu lā taraunahum, innā ja’alnasy-syayāṭīna auliyā`a lillażīna lā yu`minụn

 27.  Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

Wahai anak cucu adam, janganlah sekali-kali setan sampai memperdayai kalian, lalu menjadikan maksiat indah pada pandangan kalian, sebagiamana telah dijadikannya indah pada pandangan ibu-bapak kalian, Adam dan hawa, sehingga ia berhasil mengeluarkan keduanya gara-gara maksiat tersebut dari surga, yang juga menyebabkan ia berhasil menanggalkan dari keduanya pakaian yang Allah menutup mereka dengannya hingga tersingkaplah aurat mereka. Sesungguhnya setan itu, keturunan dan bangsanya dapat melihat kalian, sedang kalian tidak bisa melihat mereka. Maka waspadailah mereka itu. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu para pembela orang-orang kafir yang tidak bertauhid kepada Alllah, tidak mengimani para rasulNya dan tidak mengamalkan petunjukNYa.

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wa iżā fa’alụ fāḥisyatang qālụ wajadnā ‘alaihā ābā`anā wallāhu amaranā bihā, qul innallāha lā ya`muru bil-faḥsyā`, a taqụlụna ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

 28.  Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya”. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji”. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Dan apabila orang-orang kafir berbuat keburukan, mereka beralasan bahwa tindakan tersebut sudah mereka warisi dari nenek moyang mereka sebelumnya dan termasuk yang diperintahkan oleh Allah. Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”sesungguhnya Allah  tidak pernah memerintahkan para hambaNYa berbuat tindakan-tindakan yang buruk dan jelek. Apakah pantas kalian (wahai orang-orang musyrik) mengatakan sesuatu terhadap Allah yang tidak kalian ketahui sebagai mengada-ngadakan kedustaan dan kebohongan?”

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

qul amara rabbī bil-qisṭ, wa aqīmụ wujụhakum ‘inda kulli masjidiw wad’ụhu mukhliṣīna lahud-dīn, kamā bada`akum ta’ụdụn

 29.  Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”tuhanku memerintahkan berbuat adil, dan memerintahkan kalian mengikhlaskan ibadah kepadaNya dalam tiap-tiap tempat peribadahan, terutama di dalam masjid-masjid. Dan agar kalian menyeruNya dengan penuh ikhlas dalam ketaatan dan ibadah kepadaNya. Dan supaya kalian beriman kepada hari kebangkitan setelah kematian, dan sebagaimana Allah dahulu telah menciptakan kalian dari ketiadaan, Sesungguhnya Dia maha kuasa untuk mengembalikan kehidupan kepada kalian sekali lagi. ”

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ ۗ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

farīqan hadā wa farīqan ḥaqqa ‘alaihimuḍ-ḍalālah, innahumuttakhażusy-syayāṭīna auliyā`a min dụnillāhi wa yaḥsabụna annahum muhtadụn

 30.  Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

Allah menjadikan para hambaNya terbagi dua golongan : satu golongan yang di karunia taufik oleh Allah untuk memperoleh petunjuk menuju jalan yang lurus, dan satu golongan(lain) yang telah ditulis pasti pada mereka kesesatan dari jalan yang lurus; karena sesungguhnya mereka itu telah menjadikan setan-setan sebagai teman setia dan penolong selain Allah, lalu mereka mentaatinya lantaran kebodohan mereka, serta prasangka mereka kalau mereka tengah berjalan di atas jalan hidayah.

۞ يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

yā banī ādama khużụ zīnatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulụ wasyrabụ wa lā tusrifụ, innahụ lā yuḥibbul-musrifīn

 31.  Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Wahai anak cucu Adam, pastikan diri kalian ketika akan melaksanakan shalat berada dalam kondisi berhias sesuai yang disyariatkan dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat, memperhatikan kebersihan dan kesucian dan lain sebagainya. Makan dan minumlah dari barang yang baik-baik yang di karuniakan Allah kepada kalian, dan janganlah kalian melampaui batas kewajaran dalam hal itu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dan berlebihan dalam makanan dan minuman dan hal lainnya.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

qul man ḥarrama zīnatallāhillatī akhraja li’ibādihī waṭ-ṭayyibāti minar-rizq, qul hiya lillażīna āmanụ fil-ḥayātid-dun-yā khāliṣatay yaumal-qiyāmah, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

 32.  Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Katakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang bodoh dari kalangan kaum musyrikin, ”siapakah yang mengharamkan pakaian atas kalian pakaian yang baik yang telah Allah  jadikan sebagai perhiasan bagi kalian? Dan siapakah yang mengharamkan kalian untuk bersenang-senang menikmati barang-barang halal lagi baik dari rizki Allah  ?” Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya apa yang Allah halalkan dari berbagai jenis pakaian dan yang baik-baik dari berbagai macam makanan dan minuman, merupakan hak bagi orang-orang yang beriman di dunia ini, yang juga di nikmati secara bersamaan oleh selain mereka, sementara menjadi khusus bagi mereka saja di hari kiamat.” Dengan uraian yang rinci seperti ini, Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepada orang-orang yang mengetahui apa yang dijelaskan kepada mereka dan memahami keistimewaan yang diberikan kepada mereka.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

qul innamā ḥarrama rabbiyal-fawāḥisya mā ẓahara min-hā wa mā baṭana wal-iṡma wal-bagya bigairil-ḥaqqi wa an tusyrikụ billāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānaw wa an taqụlụ ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

 33.  Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, Sesungguhnya Allah hanyalah mengharamkan perbuatan-perbuatan yang buruk, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan Dia juga mengharamkan segala jenis perbuatan maksiat, dan diantara maksiat yang paling besar adalah tindakan aniaya terhadap manusia. Sesungguhnya tindakan tersebut bersebrangan dengan kebenaran. Dan Dia mengharamkan kalian menyembah Allah  bersama sesuatu selainNya yang Dia tidak menurunkan dalil maupun buktinya sama sekali. Sesungguhnya pelakunya sama sekali tidak memiliki hujjah apapun. Dan Dia mengharamkan atas kalian menisbatkan kepada Allah  sesuatu yang tidak pernah disyariatkanNya dengan dasar kebohongan dan kedustaan, seperti ungkapan bahwa Allah memiliki anak, dan mengharamkan sebagian yang halal dari jenis pakaian dan makanan. ”

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

wa likulli ummatin ajal, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

 34.  Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Bagi tiap-tiap umat yang bersama di atas kekafiran kepada Allah  dan pendustaan kepada rasulNya, sudah ada ketentuan waktu turunnya siksaan kepada mereka. Maka jika masa yang sudah ditentukan oleh Allah untuk membinasakan mereka telah tiba, mereka tidak dapat mengahirkan dari waktu tersebut meski barang sekejap pun, dan tidak bisa memajukannya.

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

yā banī ādama immā ya`tiyannakum rusulum mingkum yaquṣṣụna ‘alaikum āyātī fa manittaqā wa aṣlaḥa fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

 35.  Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Wahai anak cucu Adam , jika datang kepada kalian para rasulKu yang berasal dari kaum kalian, yang mereka membacakan kepada kalian ayat-ayat kitabKu, dan mereka menjelaskan kepada kalian bukti-bukti atas kebenaran risalah yang mereka bawa kehadapan kalian, maka taatilah para rasul itu. Sesungguhnya barangsiapa yang takut terhadap kemurkaanKu dan memperbaiki amal perbuatannya, maka tidak ada ketakutan pada diri mereka pada hari kiamat terhadap siksaan Allah  dan merekapun tidak bersedih hati atas apa yang terlewatkan bagi mereka dari nikmat-nikmat duniawi.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā wastakbarụ ‘an-hā ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

 36.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Orang-orang kafir yang mendustakan bukti-bukti tentang kebenaran keesaan Allah dan mereka merasa angkuh untuk mengikutinya, mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka tinggal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya selama-lamanya.

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ أُولَٰئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, ulā`ika yanaluhum naṣībuhum minal-kitāb, ḥattā iżā jā`at-hum rusulunā yatawaffaunahum qālū aina mā kuntum tad’ụna min dụnillāh, qālụ ḍallụ ‘annā wa syahidụ ‘alā anfusihim annahum kānụ kāfirīn

 37.  Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Tidak ada seorang pun yang lebih besar kezhalimannya dari pada orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah  , atau mendustakan ayat-ayatNya yang diturunkan. Mereka itulah yang Akan sampai kepada mereka bagian mereka dari kebaikan dan keburukan di dunia yang telah di tuliskan bagi mereka di dalam lauhil mahfudzh. Hingga ketika datang kepada mereka malaikat maut dan para pendampingnya mencabut nyawa-nyawa mereka, para malaikat bertanya kepada mereka, ”dimana mereka yang dahulu kalian sembah selain Allah dari sekutu-sekutu, pembela-pembela dan berhala-berhala agar menyelamatkan kalian dari kondisi yang meliputi kalian sekarang?” mereka menjawab, ”berhala-berhala itu telah lenyap bagi kami. ”Pada saat itu, mereka mengakui sendiri bahwa mereka dahulu di dunia mengingkari dan mendustakan keesaan Allah .

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

qāladkhulụ fī umaming qad khalat ming qablikum minal-jinni wal-insi fin-nāri kullamā dakhalat ummatul la’anat ukhtahā, ḥattā iżad dārakụ fīhā jamī’ang qālat ukhrāhum li`ụlāhum rabbanā hā`ulā`i aḍallụnā fa ātihim ‘ażāban ḍi’fam minan-nār, qāla likullin ḍi’fuw wa lākil lā ta’lamụn

 38.  Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui”.

Allah  berfirman kepada kaum musyrikin yang mengada-adakan kedustaan (atas nama Allah), ”masuklah kalian kedalam neraka bersama kelompok umat-umat manusia yang serupa dengan kalian dalam kekafiran yang telah terdahulu sebelum kalian dari bangsa jin dan manusia. Tiap kali suatu kelompok dari pengikut satu ajaran (sesat) masuk neraka, mereka mengutuk kawannya yang menyebabkan mereka sesat gara-gara mengikutinya. Sehingga apabila saling bertemu di neraka antara orang-orang terdahulu dari penganut ajaran-ajaran kafir dan orang-orang belakangan dari mereka semuanya, maka berkatalah orang-orang belakangan yang mengikuti pemimpin mereka di dunia, ”wahai tuhan kami, mereka itulah yang menyesatkan kami di jalan yang benar. Maka timpakan pada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka. ”Allah  berfirman, ”masing-masing akan mendapatkan hukuman yang berlipat ganda.” maksudnya, masing-masing dari kalian dan mereka, akan memperoleh siksaan yang berlipat ganda dari neraka. Akan tetapi kalian wahai para pengikut, tidak mengetahui apa yang akan diterima masing-masing kalian dari siksaan dan kepedihan-kepedihan.

وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

wa qālat ụlāhum li`ukhrāhum fa mā kāna lakum ‘alainā min faḍlin fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum taksibụn

 39.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan”.

Para pemimpin dan selainnya dari yang diikuti berkata kepada para pengikut mereka, ”kami dan kalian sama saja dalam penyimpangan dan kesesatan, dan dalam perbuatan yang menyebabkab azab, tidak ada kelebihan bagi kalian sedikitpun atas kami. ” Allah  berfirman kepada mereka semua, ”rasakanlah azab ini,” maksudnya siksaan jahanam, ”karena maksiat-maksiat yang dahulu kalian perbuat. ”

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

innallażīna każżabụ bi`āyātinā wastakbarụ ‘an-hā lā tufattaḥu lahum abwābus-samā`i wa lā yadkhulụnal-jannata ḥattā yalijal-jamalu fī sammil-khiyāṭ, wa każālika najzil-mujrimīn

 40.  Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Sesungguhnya orang-orang kafir yang tidak mengimani hujjah-hujjah dan ayat-ayat kami yang menunjukan keesaan Kami dan tidak melaksanakan syariat Kami karena kesombongan dan kecongkakan mereka, tidak di buka pintu-pintu langit untuk menerima perbuatan mereka di dunia dan roh-roh mereka saat kematian datang. Dan orang-orang kafir tidak mungkin akan masuk ke dalam surga kecuali apabila unta sudah bisa memasuki lubang jarum. Ini satu hal yang mustahil terjadi. Dengan balasan seperti itu, kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang banyak berbuat kejahatan dan sudah kelewatan tindakan kezhaliamannya.

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

lahum min jahannama mihāduw wa min fauqihim gawāsy, wa każālika najziẓ-ẓālimīn

 41.  Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,

Orang-orang kafir itu kekal abdi didalam neraka. Mereka mempunyai tempat tidur dari neraka yang berada di bawah mereka dan diatas mereka terdapat penutup-penutup yang menyelimuti mereka. Dengan siksaan pedih seperti ini, Allah  menyiksa orang-orang yang berbuat zhalim yang telah melewati batas-batas ketentuanNya, mereka kufur kepada Nya, dan berbuat maksiat kepadaNYa.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lā nukallifu nafsan illā wus’ahā ulā`ika aṣ-ḥābul-jannah, hum fīhā khālidụn

 42.  dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan melakukan amal-amal shalih sesuai dengan batasan kemampuan mereka, dan Allah tidak memikulkan beban pada seseorang dari amal-amalan, kecuali apa yang sanggup dikerjakannya. Mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya, tidak akan keluar darinya.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa naza’nā mā fī ṣudụrihim min gillin tajrī min taḥtihimul-an-hār, wa qālul-ḥamdu lillāhillażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh, laqad jā`at rusulu rabbinā bil-ḥaqq, wa nụdū an tilkumul-jannatu ụriṡtumụhā bimā kuntum ta’malụn

 43.  Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”.

Allah  menghilangkan apa yang ada di dalam hati para penghuni surga dari segala macam kedengkian dan rasa dendam. Dan termasuk pertanda kesempurnaan nikmat bagi mereka, adalah bahwa sungai-sungai di surga mengalir di bawah kamar-kamar dan tempat-tempat tinggal mereka. Lalu berkatalah para penghuni surga ketika memasukinya, ”segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada kami untuk beramal shalih yang menyebabkan kami memperoleh kenikmatan yang tengah meliputi kami ini. Kami tidak mungkin meperoleh taufik untuk berjalan menuju jalan yang lurus, jikalau Allah  tidak menunjuki kami untuk berjalan menuju jalan ini dan tidak memberikan taufik kepada kami untuk tetap teguh di atasnya. Sungguh telah datang para rasul tuhan kami dengan membawa kebenaran berupa berita tentang janji baik bagi orang-orang yang taat kepadaNya dan ancaman bagi orang-orang yang bermaksiat kepadaNya. ”Mereka diseru sebagai bentuk ucapan selamat dan pemuliaan bagi mereka dengan ucapan, ”Bahwa surga itu telah Allah wariskan kepada kalian dengan rahmatNya (kepada kalian) dan dengan apa yang telah kalian perbuat sebelumnya beupa keimanan dan amal shalih.

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

wa nādā aṣ-ḥābul-jannati aṣ-ḥāban-nāri ang qad wajadnā mā wa’adanā rabbunā ḥaqqan fa hal wajattum mā wa’ada rabbukum ḥaqqā, qālụ na’am, fa ażżana mu`ażżinum bainahum al la’natullāhi ‘alaẓ-ẓālimīn

 44.  Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,

para penghuni surga berseru Setelah memasukinya kepada penghuni-penghuni nereka dengan berkata kepada mereka, ”sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang di janjikan tuhan kami kepada kami melalui lisan para rasulNya sebagai sebuah kebenaran berupa pemberian balasan baik kepada orang-orang yang taat kepadaNYa, maka apakah kalian (juga) mendapatkan apa yang telah dijanjikan tuhan kalian kepada kalian melalui para rasulNya yang berupa hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat kepadaNYa adalah benar adanya?” maka para penghuni neraka menjawab pertanyaan penghuni-penghuni surga dengan berkata, ”betul. sungguh kami telah mendapatkan apa yang sudah di janjikan tuhan kami kepada kami adalah benar adanya.” kemudian satu penyeru mengumumkan di tengah para penduduk surga dan penduduk neraka, ”sesungguhnya laknat Allah atas orang-orang zhalim yang telah berbuat melampaui batas-batas ketentuan Allah, dan ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya.

الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ كَافِرُونَ

allażīna yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wa yabgụnahā ‘iwajā, wa hum bil-ākhirati kāfirụn

 45.  (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat”.

Orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang dahulu berpaling dari jalan Allah yang lurus, menghalang-halangi manusia untuk menapaki jalanNya, dan mencari segala cara agar jalan tersebut menjadi bengkok sehingga tidak ada yang dapat mengenalnya dengan baik seorangpun. Dan mereka juga orang-orang yang ingkar terhadap akhirat dan apa yang ada di dalamnya.

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

wa bainahumā ḥijāb, wa ‘alal-a’rāfi rijāluy ya’rifụna kullam bisīmāhum, wa nādau aṣ-ḥābal-jannati an salāmun ‘alaikum, lam yadkhulụhā wa hum yaṭma’ụn

 46.  Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

dan diantara para penghuni surga dan penduduk neraka Terdapat batas pemisah besar yang disebut dengan al-a’raf. Di atas batas pemisah ini ada orang-orang yang mengenal para penghuni surga dan para penduduk neraka melalui tanda-tanda mereka masing-masing, seperi rona muka putih para penghuni surga dan gelapnya wajah-wajah penduduk neraka. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang amal kebaikan dan perbuatan buruk mereka seimbang, mereka mengharapkan rahmat dari Allah  . dan orang-orang yang berada di atas al-‘araf ini memanggil-manggil penghuni surga dengan sambutan selamat datang dengan berkata kepada mereka, ”salamun ‘alaikum (semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian semua).” Mereka ini belumlah bisa masuk kedalam surga, namun mereka amat berharap untuk memasukinya.

۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa iżā ṣurifat abṣāruhum tilqā`a aṣ-ḥābin-nāri qālụ rabbanā lā taj’alnā ma’al-qaumiẓ-ẓālimīn

 47.  Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.

Apabila pandangan mata orang-orang yang berada di atas al-‘araf di alihkan ke para sisi penduduk neraka, mereka mengucapkan, ”wahai tuhan kami, janganlah engkau menjadikan kami bersama kumpulan orang-orang yang zhalim akibat perbuatan syirik dan kekafiran mereka.”

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَىٰ عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ

wa nādā aṣ-ḥābul-a’rāfi rijālay ya’rifụnahum bisīmāhum qālụ mā agnā ‘angkum jam’ukum wa mā kuntum tastakbirụn

 48.  Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.

Orang-0rang yang berada di al-araf menyeru lelaki-lelaki dari tokoh-tokoh orang-orang kafir yang tengah berada di dalam neraka, yang mereka mengenali mereka melalui tanda-tanda khusus yang membedakan tokoh-tokoh itu. Mereka berkata kepada para tokoh tersebut, ”tidak bermanfaat bagi kalian apa yang sudah dapat kalian kumpulkan berupa harta kekayaan dan pengikut-pengikut di alam dunia. Dan tidak bermanfaat kesombongan kalian untuk beriman kepada Allah dan menerima kebenaran.

أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

a hā`ulā`illażīna aqsamtum lā yanaluhumullāhu biraḥmah, udkhulul-jannata lā khaufun ‘alaikum wa lā antum taḥzanụn

 49.  (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.

Apakah orang-orang lemah dan miskin dari penghuni surga itu yang dahulu kalian bersumpah di dunia bahwa Allah tidak akan mencurahkan rahmat kepada merekap pada hari kiamat, dan tidak akan memasukan mereka ke dalam surga?” (Allah berfirman), ”masuklah kalian ke dalam surga wahai para penghuni al-araf. Sungguh telah diampuni dosa-dosa kalian. Tidak ada lagi ketentuan atas kalian terhadap siksaan Allah dan kalian tidak perlu bersedih atas apa yang terlewatkan bagi kalian dari kenikmatan-kenikmatan duniawi.”

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

wa nādā aṣ-ḥābun-nāri aṣ-ḥābal-jannati an afīḍụ ‘alainā minal-mā`i au mimmā razaqakumullāh, qālū innallāha ḥarramahumā ‘alal-kāfirīn

 50.  Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,

Penduduk neraka meminta bantuan kepada para penghuni surga dengan meminta dari mereka agar mau menuangkan kepada mereka air atau apa saja yang Allah berikan kepada mereka berupa makanan. Maka penghuni surga menjawab(permintaan) mereka dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah  telah mengharamkan minuman dan makanan atas orang-orang yang mengingkari tauhid dan mendustakan para rasulNya.

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

allażīnattakhażụ dīnahum lahwaw wa la’ibaw wa garrat-humul-ḥayātud-dun-yā, fal-yauma nansāhum kamā nasụ liqā`a yaumihim hāżā wa mā kānụ bi`āyātinā yaj-ḥadụn

 51.  (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

Orang-orang yang Allah  haramkan atas mereka kenikmatan akhirat adalah orang-orang yang menjadikan agama yang Allah perintahkan mereka untuk mengikutinya sebagai bahan main-main dan senda gurau dan dunia telah memperdayai mereka, serta mereka larut dalam pesona-pesonanya hingga melalaikan mereka dari beramal untuk akhirat. Maka pada hari kiamat kelak, Allah  melupakan mereka dan membiarkan mereka berada di dalam siksaan yang pedih, sebagaimana dahulu mereka tak peduli untuk beramal menyongsong pertemuan mereka dengan hari ini, dan karena kondisi mereka dahulu mengingkari ayat-ayat Allah dan bukti-buktiNya, padahal mereka mengetahui bahwa hal itu merupakan kebenaran.

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa laqad ji`nāhum bikitābin faṣṣalnāhu ‘alā ‘ilmin hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

 52.  Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dan sungguh kami telah mendatangkan kepada orang-orang kafir al-qur’an yang kami turunkan padamu (wahai rasul), yang telah kami jelaskan dengan mencakup ilmu yang agung, lagi menjadi petunjuk dari jalan kesesatan menuju jalan lurus dan sebagai rahmat bagi kaum yang beriman kepada Allah dan mengamalkan syariatNya. Dia menghususkan penyebutan mereka tanpa yang lainnya, karena sesungguhnya merekalah yang dapat memperoleh manfaat darinya.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ ۚ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ قَدْ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

hal yanẓurụna illā ta`wīlah, yauma ya`tī ta`wīluhụ yaqụlullażīna nasụhu ming qablu qad jā`at rusulu rabbinā bil-ḥaqq, fa hal lanā min syufa’ā`a fa yasyfa’ụ lanā au nuraddu fa na’mala gairallażī kunnā na’mal, qad khasirū anfusahum wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

 53.  Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”. Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.

Tiadalah yang ditunggu oleh orang-orang kafir, kecuali apa yang diancamkan kepada mereka dalam al-qur’an yang berbentuk siksaan yang menjadi penghujung nasib mereka. Pada hari datangnya kejadian yang sebenarnya, yaitu perhitungan amal perbuatan, adanya pahala dan siksaan pada hari kiamat, orang-orang kafir yang mengabaikan al-qur’an dan mengingkarinya dalam kehidupan dunia berujar, ”sungguh telah jelas bagi kami sekarang ini bahwa para rasul tuhan kami sudah datang dengan membawa kebenaran dan memberi nasihat terhadap kami. Apakah ada kawan-kawan dan para pemberi syafaat yang akan memintakan syafaat bagi kami di sisi tuhan kami, atau dapatkah kami dikembalikan menuju kehidupan dunia sekali lagi, sehingga kami akan berbuat di sana amalan yang menjadikan Allah ridha kepada kami?” sungguh, mereka telah merugikan diri mereka sendiri dengan masuk keadalam neraka dan keabadiaan mereka di dalamnya. Dan hilanglah dari mereka sesembahan-sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah dan mereka ada-adakan di dunia dengan dusta yang termasuk bagian dari janji manis setan kepada mereka.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

inna rabbakumullāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, yugsyil-lailan-nahāra yaṭlubuhụ ḥaṡīṡaw wasy-syamsa wal-qamara wan-nujụma musakhkharātim bi`amrihī alā lahul-khalqu wal-amr, tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn

 54.  Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Sesungguhnya tuhan kalian (wahai sekaliaan manusia), Dia lah Allah yang menciptakan langit dan bumi dari tidak ada dalam waktu enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas arsy. Maksudnya, tinggi dan berada di atasnya dengan hakikat istiwa (bersemayam) yang sesuai dengan kemuliaan dan keagunganNya. Dia memasukan malam pada siang sehingga menutupinya dengan itu, maka cahayanya itu pergi, dan Dia memasukan siang pada malam sampai kegelapannya pergi. Dan masing-masing dari keduanya mengejar yang lain dengan cepat dan terus menerus. Dan Dia dzat yang menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang dalam keadaan tunduk kepadaNya. Dia mengendalikannya sesuai dengan apa yang dikehendakinNya. Makhluk-makhluk ini temasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat besar. Ketahuilah, Bagi Allah  hak kekuasaan menciptakan semuanya dan hak menetapkan semua ketentuan. Allah mahatinggi, maha agung lagi maha suci dari setiap urusan kekurangan, penguasa semua makhluk secara keseluruhan.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

ud’ụ rabbakum taḍarru’aw wa khufyah, innahụ lā yuḥibbul-mu’tadīn

 55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Berdo’alah (wahai kaum mukminin), kepada tuhan kalian, dengan keadaan penuh menghinakan diri kepadaNya, dengan suara rendah dan perlahan. Dan hendaknya do’a dilakukan dengan hati khusyu dan jauh dari riya. Sesungguhnya Allah  tidak menyukai orang-orang yang bertindak melampaui batas syariatNYa. Dan tindakan melampaui batas yang paling besar adalah perbuatan syirik kepada Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, dengan meminta kepada orang-orang yang sudah mati, berhala-berhala dan yang semisalya.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

wa lā tufsidụ fil-arḍi ba’da iṣlāḥihā wad’ụhu khaufaw wa ṭama’ā, inna raḥmatallāhi qarībum minal-muḥsinīn

 56.  Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan janganlah kalian melakukan perbuatan kerusakan di muka bumi dengan cara apapun dari macam-macam kerusakan, setelah Allah memperbaikinya dengan pengutusan para rasul dan memakmurkannya dengan amal ketaatan kepada Allah. Dan berdoalah kepadaNYa dengan keikhlasan doa bagiNya, dengan diiringi rasa takut terhadap siksaanNya dan berharap akan pahalaNYa. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

wa huwallażī yursilur-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, ḥattā iżā aqallat saḥāban ṡiqālan suqnāhu libaladim mayyitin fa anzalnā bihil-mā`a fa akhrajnā bihī ming kulliṡ-ṡamarāt, każālika nukhrijul-mautā la’allakum tażakkarụn

 57.  Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

Dan Allah  , Dia lah yang telah mengirim angin-angin yang baik dengan membawa kabar gembira akan datangnya hujan yang ia sebarkan dengan izin Allah, sehingga makhluk-makhluk akan meresakan kegembiraan terhadap rahmat Allah, hingga apabila angin itu telah menghimpun awan yang sarat dengan air hujan, Allah menyiramnya dengan air hujan tersebut supaya bisa menghidupkan daerah yang tanahnya telah tandus dan telah mengering pepohonan dan tanaman-tanamannya, maka dengan itu, Allah menurunkan air hujan, dan Allah menumbuhkan dengan sebab hujan itu rerumputan, pepohonan, dan tanaman-tanaman. Setelah itu, pohon-pohon kembali dipenuhi oleh berbagai macam buah-buahan. Sebagiamana kami menghidupkan daerah yang telah mati dengan air hujan, Kami pun akan menghidupkan orang-orang mati dari kubur-kubur mereka dalam keadaan hidup-hidup setelah kehancuran mereka agar kalian dapat mengambil pelajaran dengan itu, dan selanjutnya kalian menjadikannya sebagai petunjuk terhadap keesaan Allah dan kekuasaanNya untuk membangkitkan jasad yang telah mati.

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

wal-baladuṭ-ṭayyibu yakhruju nabātuhụ bi`iżni rabbih, wallażī khabuṡa lā yakhruju illā nakidā, każālika nuṣarriful-āyāti liqaumiy yasykurụn

 58.  Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

Tanah yang bersih, jika turun hujan padanya, akan mengeluarkan tanaman-tanaman dengan izin Allah dan kehendakNya dalam keadaan baik-baik lagi mudah. Begitupula seorang mukmin, jika turun padanya ayat-ayat Allah, dia kan mendapatkan manfaat darinya dan menimbulkan pengaruh pada dirinya berupa kehidupan yang baik. Adapun tanah yang bergaram lagi buruk, sesungguhnya ia tidak bisa menumbuhkan tanaman, kecuali dengan susah payah lagi jelek yang tidak membawa manfaat sama sekali, dan tidak dapat menumbuhkan tanaman dengan baik, begitu pula orang kafir, dia tidak memperoleh manfaat dari ayat-ayat Allah. Dengan variasi yang tiada duanya dalam mengetengahkan penjelasan, kami mengemukakan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang berbeda-beda jenisnya untuk menetapkan kebenaran kepada manusia-manusia yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan taat kepadaNya.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī fa qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

 59.  Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

Sungguh kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya untuk menyeru mereka agar mengesakan Allah dan mengkhihlaskan ibadah kepadaNYa. Dia berkata kepada mereka, ”wahai kaumku, sembahlah Allah semata dan tunduklah kepadNYa dengan ketaatan. Tidak ada sesembahan bagi kalian yang berhak disembah selainNya. Maka ikhlashkanlah Dia dalam beribadah. Jika kalian tidak melakukannya dan tetap dalam penyembahan terhadap patung-patung, sesungguhnya aku khawatir akan ditimpa kepada kalian siksaan pada hari yang besar mara bahaya nya”. yaitu hari kiamat.

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qālal-mala`u ming qaumihī innā lanarāka fī ḍalālim mubīn

 60.  Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”.

Maka pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh dari kaum mereka berkata kepadanya, ”sesungguhnya kami benar-benar meyakini (wahai nuh), bahwa sesungguhnya kamu berada dalam kesesatan yang nyata dari jalan yang kebenaran. ”

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qāla yā qaumi laisa bī ḍalālatuw wa lākinnī rasụlum mir rabbil-‘ālamīn

 61.  Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.

Nuh berkata, ”wahai kaumku, aku bukan orang sesat dalam satu perkara apapun dari sudut manapun. Akan tetapi, aku adalah seorang utusan dari tuhan alam semesta, tuhanku dan tuhan kalian, serta tuhan seluruh makhluk.

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

uballigukum risālāti rabbī wa anṣaḥu lakum wa a’lamu minallāhi mā lā ta’lamụn

 62.  “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Aku sampaikan kepada kalian risalah yang aku diutus dengannya dari tuhanku, dan aku memberi nasihat kepada kalian untuk memperingatkan kalian dari siksaan Allah dan mengabarkan berita gembira dengan pahala dariNya. Dan aku mengetahui dari syari’atNYa apa yang kalian tidak ketahui.

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

a wa ‘ajibtum an jā`akum żikrum mir rabbikum ‘alā rajulim mingkum liyunżirakum wa litattaqụ wa la’allakum tur-ḥamụn

 63.  Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?

Apakah telah berpengaruh dan membuat kalian heran bahwa Allah  menurunkan kepada kalian ajaran yang mengingatkan kalian tentang perkara-perkara yang baik bagi kalian, melalui penjelasan lisan seorang lelaki yang berasal dari kalian sendiri, yang kalian ketahui garis keturunan dan kejujuran lisannya, untuk memperingatkan kalian dari azab Allah  dan siksaanNya, dan agar kalian takut terhadap kemurkaanNya dengan cara beriman kepadaNya, dan berharap kalian menggapai rahmat dan pahala yang besar dariNya?”

فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا عَمِينَ

fa każżabụhu fa anjaināhu wallażīna ma’ahụ fil-fulki wa agraqnallażīna każżabụ bi`āyātinā, innahum kānụ qauman ‘amīn

 64.  Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).

Akan tetapi, mereka mendustakan Nuh. Maka kami menyelamatkan dirinya dan orang-orang yang beriman bersamanya dalam kapal. Dan kami tenggelamkan orang-orang kafir yang mendustakan hujjah-hujjah Kami yang jelas. Sesungguhnya mereka itu manusia-manusia yang buta mata hatinya untuk melihat kebenaran.

۞ وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

wa ilā ‘ādin akhāhum hụdā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, a fa lā tattaqụn

 65.  Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

Dan sungguh kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka,Hud, ketika mereka menyembah berhala-berhala selain Allah. Dia berkata kepada mereka, ”Sembahlah Allah semata, tidak ada bagi kalian sesembahan yang berhak diibadahi selainNYa. Maka ikhlaskanlah penyembahan kalian kepadaNya. Apakah kalian tidak takut terhadap azab dan kemurkaanNya pada kalian?”

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī innā lanarāka fī safāhatiw wa innā lanaẓunnuka minal-kāżibīn

 66.  Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta”.

Tokoh-tokoh besar yang kafir dari kaum Hud  berkata, ”sesungguhnya kami tahu benar bahwa sesungguhnya kamu dengan dakwahmu yang engkau serukan kepada kami agar meninggalkan penyembahan terhadap tuhan-tuhan kami dan beribadah hanya kepada Allah, engkau itu orang yang kurang akal. Dan sesungguhnya kami benar-benar yakin bahwa engkau termasuk orang-orang yang berdusta atas Nama Allah dalam pernyataan yang engkau katakan.”

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qāla yā qaumi laisa bī safāhatuw wa lākinnī rasụlum mir rabbil-‘ālamīn

 67.  Hud herkata “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.

Hud  menjawab,”Wahai kaumku,tidak ada cacat pada akalku sedikit pun. Akan tetapi, aku adalah utusan Allah kepada kalian dari penguasa makhluk secara keseluruhan.

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

uballigukum risālāti rabbī wa ana lakum nāṣiḥun amīn

 68.  Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu”.

aku sampaikan kepada kalian apa yang Tuhanku mengutusku kepada kalian dengannya, dan aku bagi kalian (dalam apa yang aku dakwahkan kepada kalian dari tauhidulloh dan melaksanakan syariatNya) hanyalah sebagai pemberi nasihat yang menjaga wahyu dari Allah  .

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

a wa ‘ajibtum an jā`akum żikrum mir rabbikum ‘alā rajulim mingkum liyunżirakum, ważkurū iż ja’alakum khulafā`a mim ba’di qaumi nụḥiw wa zādakum fil-khalqi baṣṭah, fażkurū ālā`allāhi la’allakum tufliḥụn

 69.  Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Apakah telah berpengaruh dan membuat kalian keheranan bahwa Allah  menurunkan kepada kalian ajaran yang mengingatkan kalian tentang perkara-perkara yang baik bagi kalian melalui penjelasan seorang lelaki yang berasal dari kalian sendiri, yang kalian ketahui garis keturunan dan kejujuran lisannya, untuk memperingatkan kalian dari azab dan siksaan Allah  ? dan ingatlah oleh kalian nikmat Allah yang tercurah kepada kalian ketika Allah menjadikan kalian sebagai manusia-manusia yang menggantikan orang-orang sebelum kalian di muka bumi setelah dibinasakannya kaum Nuh , dan melebihkan pada fisik kalian dengan kekuatan dan perawakan yang lebih besar. Maka Ingatlah oleh kalian nikmat-nikmat Allah yang melimpah banyak atas kalian, supaya kalian dapat memperoleh keberuntungan besar di dunia dan akhirat. ”

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا ۖ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālū a ji`tanā lina’budallāha waḥdahụ wa nażara mā kāna ya’budu ābā`unā, fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

 70.  Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Kaum Ad berkata kepada Hud  , ”apakah engkau menyeru kami untuk hanya menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap patung-patung yang telah kami warisi kebiasaan menyembahnya dari nenek moyang kami? Datangkanlah saja kepada kami siksaan yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang jujur dalam apa yang katakan. ”

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ ۖ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

qāla qad waqa’a ‘alaikum mir rabbikum rijsuw wa gaḍab, a tujādilụnanī fī asmā`in sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā nazzalallāhu bihā min sulṭān, fantaẓirū innī ma’akum minal-muntaẓirīn

 71.  Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu”.

Hud berkata kepada kaumnya, ”Sungguh sudah pasti siksaan dan kemurkaan tuhan kalian akan menimpa kalian. Apakah pantas kalian melancarkan bantahan kepadaku tentang patung-patung yang kalian dan nenek moyang kalian menyebutnya sebagai tuhan-tuhan? padahal Allah tidak menurunkan tentang hal itu hujjah dan bukti kebenarannya. Sebab semua itu merupakan makhluk yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan tidak bisa membawa kemanfaatan. Dzat yang benar-benar berhak diibadahi hanyalah Dzat pencipta Yang Maha Suci. Maka tunggulah kedatangan siksaan yang akan menimpa kalian. Sesungguhnya aku juga menunggu kedatangannya bersama kalian.” Ini sudah merupakan ancaman dan peringatan yang paling menakutkan.

فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ

fa anjaināhu wallażīna ma’ahụ biraḥmatim minnā wa qaṭa’nā dābirallażīna każżabụ bi`āyātinā wa mā kānụ mu`minīn

 72.  Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.

Kemudian siksaan Allah terjadi dengan dikirimnya angin yang sangat kencang kepada mereka. Lalu Allah menyelamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat yang besar dariNya. Dan Dia menghancurkan orang-orang kafir dari kaumnya secara keseluruhannya, dan membinasakan mereka hingga tidak tersisa. Dan mereka tidaklah beriman karena menghimpun antara pendustaan terhadap ayat-ayat Allah dan meninggalkan amal shalih.

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, qad jā`atkum bayyinatum mir rabbikum, hāżihī nāqatullāhi lakum āyatan fa żarụhā ta`kul fī arḍillāhi wa lā tamassụhā bisū`in fa ya`khużakum ‘ażābun alīm

 73.  Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Dan sesungguhnya kami telah mengutus kepada kaum tsamud saudara mereka, Shaleh, di kala mereka menyembah patung-patung, bukan kepada Allah  . Shaleh berkata kepada mereka, ”Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah semata, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah  maka ikhlaskanlah peribadahan kalian kepadaNYa saja. Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa bukti tentang kebenaran ajaran yang aku serukan kepada kalian, yaitu ketika aku berdo’a kepada Allah di hadapan kalian, Lalu dia mengeluarkan bagi kalian satu unta betina besar dari balik batu, sebagaimana yang kalian minta. Maka biarkanlah unta itu makan sesukanya di bumi Allah, di tempat-tempat penggembalaan. Janganlah kalian melancarkan gangguan apa pun kepadanya, maka akan menimpa kalian disebabkan hal itu, siksaan yang pedih.

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

ważkurū iż ja’alakum khulafā`a mim ba’di ‘ādiw wa bawwa`akum fil-arḍi tattakhiżụna min suhụlihā quṣụraw wa tan-ḥitụnal-jibāla buyụtā, fażkurū ālā`allāhi wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

 74.  Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

Dan ingatlah oleh kalian nikmat Allah yang tercurah kepada kalian, ketika Allah menjadikan kalian sebagai manusia-manusia yang menggantikan orang-orang sebelum kalian di muka bumi setelah kaum Ad, dan memberikan kekuasaan bagi kalian di daerah yang baik yang kalian tinggali, kemudian kalian membangun di tanah-tanah datarnya istana-istana megah, dan kalian memahat daerah-daerah gunungnya sebagai rumah-rumah yang lain. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah yang tercurah atas kalian dan janganlah kalian berlalu lalang di muka bumi dengan membuat kerusakan. ”

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ

qālal-mala`ullażīnastakbarụ ming qaumihī lillażīnastuḍ’ifụ liman āmana min-hum a ta’lamụna anna ṣāliḥam mursalum mir rabbih, qālū innā bimā ursila bihī mu`minụn

 75.  Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”.

Para pemimpin dan tokoh-tokoh dari orang-orang yang menyombongkan diri dari kaum shaleh  berkata kepada kaum mukminin yang mereka tindas dan hinakan, ”Apakah kalian tahu secara hakikat bahwa Shaleh telah diutus oleh Allah kepada kita?” Orang-orang yang beriman menjawab, ”Kami mengimani risalah yang Allah mengutus dirinya dengan membawakannya, dan mengikuti ajaran syariatNya. ”

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

qālallażīnastakbarū innā billażī āmantum bihī kāfirụn

 76.  Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”.

Orang-orang menyombongkan diri berkata, ”sesungguhnya kami mengiingkari kenabian shaleh yang kalian Imani dan kalian ikuti. ”

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

fa ‘aqarun-nāqata wa ‘atau ‘an amri rabbihim wa qālụ yā ṣāliḥu`tinā bimā ta’idunā ing kunta minal-mursalīn

 77.  Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”.

Kemudian mereka menyembelih unta betina itu sebagai bentuk pelecehan mereka terhadap ancaman shaleh asa , dan mereka bersikaf sombong untuk menaati perintah tuhan mereka, dan mereka berkata dengan nada mengejek dan kemustahilan datangnya siksa, ”Wahia shaleh, datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan berupa siksaan, jika kamu memang termasuk utusan-utusan Allah. ”

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn

 78.  Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

maka menimpa kepada orang-orang kafir berupa gempa dahsyat yang merenggut hati , lalu mereka menjadi manusia-manusia yang binasa di negeri mereka, tertelungkup dengan lutut-lutut dan wajah-wajah yang menyusur tanah. Tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat lolos.

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

fa tawallā ‘an-hum wa qāla yā qaumi laqad ablagtukum risālata rabbī wa naṣaḥtu lakum wa lākil lā tuḥibbụnan-nāṣiḥīn

 79.  Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”.

Maka shaleh  meninggalkan kaumnya, ketika mereka menyembelih unta betina itu dan siksaan menimpa mereka, dan dia berkata kepada mereka, ”Wahai kaumku, sungguh aku telah sampaikan kepada kalian apa yang aku diperintahkan untuk menyampaikannya yang berupa perintah dan laranganNya, dan aku sudah mengerahkan segala usahaku untuk mengajak, memperingatkan dan menasihati kalian. Akan tetapi, kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat. Kalian tolak ucapan orang-orang yang memberi nasihat dan justru kalian menaati setan yang terlaknat. ”

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

 80.  Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”

Dan ingatlah oleh mu (wahai rosul) Luth , ketika dia berkata kepada kaumnya, ”apakah kalian pantas berbuat tindakan mungkar yang telah mencapai puncak kebejatannya? Yang tidak ada yang melakukannya seorangpun dari umat manusia sebelum kalian.

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn

 81.  Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.

Sesungguhnya kalian mendatangi para pria melalui dubur mereka lantaran ketertarikan kalian terhadap hal tersebut, tanpa mempedulikan sisi kebejatannya, meninggalkan apa yang Allah halalkan bagi kalian untuk menggauli kaum wanita-wanita kalian. Memang kalian itu manusia-manusia yang melampaui batas ketentuan Allah dalam tindakan berlebihan kalian itu. ”Sesungguhnya menggauli kaum pria, bukan kepada wanita, termasuk perbuatan keji yang baru pertama kali di lakukan oleh kaum luth  , tidak ada seorangpun dari manusia yang mendahului mereka. ”

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn

 82.  Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”.

Dan tidak ada jawaban kaum Luth ketika Luth  mengingkari perbuatan tidak senonoh mereka itu, kecuali sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ”usirlah Luth dan keluarganya dari daerah kalian. Sungguh dia dan orang-orang yang mengikuti dirinya menyucikan diri dari menggauli dubur-dubur laki-laki. ”

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

fa anjaināhu wa ahlahū illamra`atahụ kānat minal-gābirīn

 83.  Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Kemudian kami menyelamatkan Luth dan keluarganya dari siksaan, yaitu dengan memerintahkannya untuk meninggalakan kota tersebut, kecuali istrinya. Sesungguhnya wanita itu termasuk manusia yang binasa dan tinggal dalam deraan siksaan Allah.

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mujrimīn

 84.  Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.

Dan Allah menyiksa orang-orang kafir dari kaum luth denagn menurunkan kepada mereka hujan batu, dan membalik negeri mereka sehingga bagian bawah tanah mereka menjadi bagian permukaannya. Maka perhatiakanlah (wahai rasul), bagaimana jadinya nasib orang-orang yang berani berbuat maksiat kepada Allah dan mendustakan para rasulNya.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa ilā madyana akhāhum syu’aibā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, qad jā`atkum bayyinatum mir rabbikum fa auful-kaila wal mīzāna wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā`ahum wa lā tufsidụ fil-arḍi ba’da iṣlāḥihā, żālikum khairul lakum ing kuntum mu`minīn

 85.  Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.

Dan sesungguhnya kami telah mengutus kepada kaum Madyan saudara mereka, Su’aib  . Dia berkata kepada mereka, ”Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah semata, Dia tidak memiliki sekutu apapun. Kalain tidak memiliki sesembahan yang berhak diibadahi selainNya. Maka ikhlaskanlah kepadaNya dalam beribadah. Sungguh telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari tuhan kalian tentang kebenaran dakwah yang aku serukan kepada kalian. Maka sempurnakanlah hak-hak orang lain dengan memenuhi takaran dan timbangan. Janganlah kalian mengurangi hak-hak mereka, sehingga akibatnya kalian berbuat zhalim kepada mereka. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, (dengan tindakan kekafiran dan kezhaliman), setelah diperbaiki dengan syari’at-syari’at para nabi  sebelumnya. Apa yang aku dakwahkan kepada kalian merupakan kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat kalian, jika kalian mau membenarkan apa yang aku serukan kepada kalian, lagi mengamalkan syariat Allah.

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

wa lā taq’udụ bikulli ṣirāṭin tụ’idụna wa taṣuddụna ‘an sabīlillāhi man āmana bihī wa tabgụnahā ‘iwajā, ważkurū iż kuntum qalīlan fa kaṡṡarakum wanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn

 86.  Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan untuk mengintimidasi manusia dengan ancaman bunuh, bila mereka tidak menyerahkan harta benda mereka kepada kalian, dan untuk menghalang-halangi dari jalan Allah yang lurus orang-orang yang beriman kepada Allah  dan beramal shalih, serta kalian berharap jalan Allah menjadi bengkok, menyimpangkannya untuk disesuaikan dengan keinginan hawa nafsu kalian, dan menjauhkan manusia untuk mengikuti jalan Allah. Dan ingatlah oleh kalian nikmat-nikmat Allah  yang tercurah kepada kalian, tatkala jumlah kalian sedikit, kemudian Allah memperbanyak jumlah kalian. Maka kalainpun menjadi manusia-manusia kuat lagi kokoh. Coba perhatikan bagaimana nasib-nasib orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi berserta kebinasaan dan kehancuran yang menimpa mereka?

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

wa ing kāna ṭā`ifatum mingkum āmanụ billażī ursiltu bihī wa ṭā`ifatul lam yu`minụ faṣbirụ ḥattā yaḥkumallāhu bainanā, wa huwa khairul-ḥākimīn

 87.  Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Dan jika ada segolongan dari kalian yang mengimani risalah yang aku diutus oleh Allah dengan mengembannya, dan ada sekelompok lain yang tidak mempercayainya, maka tunggulah oleh kalian wahai orang-orang yang mendustakan keputusan Allah yang akan memutuskan antara kami dan kalian ketika menimpa kalian siksaan yang aku peringatkan kalian darinya. Dan Allah  adalah sebaik-baik hakim diantara para hambaNya. ”

۞ قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۚ قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ

qālal-mala`ullażīnastakbarụ ming qaumihī lanukhrijannaka yā syu’aibu wallażīna āmanụ ma’aka ming qaryatinā au lata’ụdunna fī millatinā, qāla a walau kunnā kārihīn

 88.  Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”

berkata para pemimpiin dan pemuka-pemuka dari kaum syu’aib  yang menyombongkan diri untuk beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-rasulNnya, syu’aib  , ”kami sungguh-sungguh akan mengusir engkau wahai syu’aib, dan orang-orang beriman yang bersamamu dari kampung kami, kecuali jika kalian mau kembali kepada agama kami,” Syua’aib  menjawab sebagi pengingkaran lagi merasa aneh terhadap pernyataan mereka itu, ”Apakah kami pantas mengikuti agama dan ajaran kalaian yang batil, walaupun kami itu benci terhadapnya karena kami tahu akan kebatilannya?”

قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا ۚ وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا ۚ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

qadiftarainā ‘alallāhi każiban in ‘udnā fī millatikum ba’da iż najjānallāhu min-hā, wa mā yakụnu lanā an na’ụda fīhā illā ay yasyā`allāhu rabbunā, wasi’a rabbunā kulla syai`in ‘ilmā, ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanaftaḥ bainanā wa baina qauminā bil-ḥaqqi wa anta khairul-fātiḥīn

 89.  Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

Dan syu’aib  berkata kepaad kaumnya untuk menyambung perkataannya, ”sungguh kami telah mengada-ngadakan kedustaan terhadap Allah, jika kami kembali kepada agama kalian, sesudah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan bukan hak kami untuk berpindah agama menuju agama selain agama tuhan kami, kecuali jika Allah tuhan kami menghendakinya. Sesungguhnya pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui apa saja yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi para hambaNYa. Kepada Allah semata ketergantungan kami dalam menggapai hidayah dan kemenangan. Wahai tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ

wa qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī la`inittaba’tum syu’aiban innakum iżal lakhāsirụn

 90.  Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi”.

dan telah berkata para pemimpin dan pemuka-pemuka yang memdustakan lagi menolak dakwah tauhid sebagai penegasan keangkuhan dan pernentangan mereka demi memperingatkan (manusia) agar tidak mengikuti syu’aib  , ”jika kalian mengikuti syu’aib, sesungguhnya kalian akan menjadi orang-orang yang binasa.”

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn

 91.  Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,

a gempa bumi dahsyat menerjang kaum syu’aib  , sehingga mereka kemudian menjadi jasad-jasad bergelimpangan yang mati di rumah-rumah mereka.

الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۚ الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ

allażīna każżabụ syu’aibang ka`al lam yagnau fīhā, allażīna każżabụ syu’aibang kānụ humul-khāsirīn

 92.  (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.

Orang-orang yang mendustakan syu’aib  , seolah-olah mereka belum pernah bermukim di kota mereka itu tidak pernah menikmati kesenangan hidup di dalamnya, lantaran mereka dibinasakan sampai keakar-akarnya, sehingga tidak ada bekas petunjuk tentang mereka sama sekali yang tersisa. Maka menimpa mereka kerugian dan kebinasaan dunia dan akhirat.

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ

fa tawallā ‘an-hum wa qāla yā qaumi laqad ablagtukum risālāti rabbī wa naṣaḥtu lakum, fa kaifa āsā ‘alā qauming kāfirīn

 93.  Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”

Maka syu’aib  berpaling meninggalkan mereka tatkala meyakini datangnya siksaan pada mereka. Dan dia berkarta, ”wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan ajaran-ajaran tuhanku kepada kalian dan aku sudah menasihati kalian untuk memeluk agama Allah dan meninggalkan keyakinan kalian sebelumnya, namun kalian tidak mendengar dan tidak menaatinya. Maka kenapa aku harus bersedih terhadap orang-orang yang mengingkari keesaan Allah dan mendustakan para rasulNya?”

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

wa mā arsalnā fī qaryatim min nabiyyin illā akhażnā ahlahā bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la’allahum yaḍḍarra’ụn

 94.  Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

Dan kami tidaklah mengutus seorang nabi ketengah satu negeri yang akan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah dan melarang mereka dari adat istiadat yang mereka perbuat yang mengandung syirik, lalu kaumnya mendustakan nabi itu, kecuali kami akan menimpakan cobaan kesulitan dan kesengsaraan hidup. Kami timpakan kepada tubuh-tubuh mereka penyakit-penyakit dan wabah-wabah, pada harta benda mereka kemiskinan dan kekurangan, dengan harapan agar mereka tunduk dan taubat kembali kepada Allah dan kembali ke jalan kebenaran.

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

ṡumma baddalnā makānas-sayyi`atil-ḥasanata ḥattā ‘afaw wa qālụ qad massa ābā`anaḍ-ḍarrā`u was-sarrā`u fa akhażnāhum bagtataw wa hum lā yasy’urụn

 95.  Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

Kemudian kami gantikan dengan kondisi yang lebih baik sebagai pengganti keadaan buruk itu, hingga mereka berada dalam kondisi yang sehat padda tubuh-tubuh mereka, keluasan dan kenyamanan dalam kekayaan duniawi mereka, untuk memberikan kesempaatan bagi mereka lagi, semoga mereka mau bersyukur. Akan tetapi, semua itu tidak bermanfaat bagi mereka sama sekali, dan mereka tidak mau mengambil pelajaran serta tidak meninggalkan keadaan mereka semula. Mereka malah berkata, ”ini sudah merupakan kejadian biasa pada suatu masa bagi penduduknya. Satu hari baik dari hari lainnya susah. Itulah yang terjadi pada nenek moyang sebelumnya. Maka kami pun menimpakan siksaan pada mereka dengan tiba-tiba, ketika mereka telah merasa aman, tidak merasa takut datangnya kehancuran pada benak mereka.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

walau anna ahlal-qurā āmanụ wattaqau lafataḥnā ‘alaihim barakātim minas-samā`i wal-arḍi wa lāking każżabụ fa akhażnāhum bimā kānụ yaksibụn

 96.  Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Seandainya para penduduk negeri-negeri mengimani para rasul mereka dan mengikuti mereka serta menjauhi apa yang Allah telah melarang mereka, Maka Allah akan membukakan bagi mereka pintu-pint kebaikan dari setiap arah, akan tetapi mereka mendustakan, maka Allah pun menjatuhkan siksaan yang membinasakan pada mereka akibat kekafiran dan perbuatan maksiat mereka.”

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

a fa amina ahlul-qurā ay ya`tiyahum ba`sunā bayātaw wa hum nā`imụn

 97.  Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Apakah para penduduk negeri-negeri itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka berada dalam tempat yang selamat dan aman dari siksaan Allah yang akan menimpa mereka pada malam hari tatkala mereka tertidur?

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

a wa amina ahlul-qurā ay ya`tiyahum ba`sunā ḍuḥaw wa hum yal’abụn

 98.  Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Apakah para penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari keadatangan siksaan Allah di pagi hari, ketika mereka tengah terlena lagi sibuk dengan urusan-urusan dunia mereka? Allah menyebut dua waktu tersebut secara khusus karena pada dua waktu tersebut manusia paling banyak lengah, sehingga datangnya siksaan pada waktu tersebut sangatlah menakutkan dan mengagetkan.

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

a fa aminụ makrallāh, fa lā ya`manu makrallāhi illal-qaumul-khāsirụn

 99.  Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Apakah para penduduk negeri yang mendustakan (para rasul) merasa aman terhadap makar (balasan siksaan) Allah dan penundaan yang diberikanNya bagi mereka untuk mengulur waktu bagi mereka dengan kenikmatan yang Allah curahkan kepada mereka sebagai hukuman bagi mereka atas makar mereka. Maka tidak ada yang merasa aman dari Azab Allah, kecuali orang-orang yang binasa.

أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ ۚ وَنَطْبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

a wa lam yahdi lillażīna yariṡụnal-arḍa mim ba’di ahlihā al lau nasyā`u aṣabnāhum biżunụbihim, wa naṭba’u ‘alā qulụbihim fa hum lā yasma’ụn

 100.  Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Apakah belum jelas bagi orang-orang yang tinggal di bumi ini setelah dihancurkannya penghuni-penghuninya terdahulu lantaran kemaksiatan yang mereka perbuat, lalu mereka menjalani hidup seperti kebiasaan mereka, bahwa kalau kami menghendaki, tentu kami akan menimpakan azab pada mereka disebabkan dosa-dosa mereka,sebagiaman yang kami perlakukan terhadap para pendahulu mereka, lalu kami mengunci hati mereka, sehingga tidak ada kebenaran yang memasuki hati mereka, merekapun tidak mendengarkan nasihat dan peringatan?

تِلْكَ الْقُرَىٰ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ الْكَافِرِينَ

tilkal-qurā naquṣṣu ‘alaika min ambā`ihā, wa laqad jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināt, fa mā kānụ liyu`minụ bimā każżabụ ming qabl, każālika yaṭba’ullāhu ‘alā qulụbil-kāfirīn

 101.  Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

Negeri-negeri yang telah di kemukakan sebelumnya, yaitu negeri kaum nuh, hud, shaleh, luth, dan syu’aib, kami ceritakan kepadamu (wahai rasul), tentang berita-beritanya dan keadaan para rasul Allah yang diutus kepada mereka yang dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau memetik pelajaaran darinya dan sebagai cambuk yang menakutkan bagi orang-orang yang zhalim. Dan sungguh telah datang kepada para penduduk negeri rasul-rasul Kami dengan membawa hujjah-hujjah yang nyata atas kebenaran mereka. Maka mereka tidak beriman terhadap risalah yang dibawa para rasul; disebabkan siikap melampaui batas dan pendustaan mereka terhadap kebenaran. Dan sebagiamana Allah telah mengunci hati-hati orang-orang kafir yang disebutkan ini, Dia juga kana mengunci hati orang-orang yang mengingkari Muhammad  .

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ ۖ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

wa mā wajadnā li`akṡarihim min ‘ahd, wa iw wajadnā akṡarahum lafāsiqīn

 102.  Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

Dan kami tidaklah mendapati kebanyakan umat yang lalu menjalankan amanat dan memenuhi janji. Dan tidaklah kami jumpai kebanyakan mereka kecuali orang-orang fasik yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan dari menjalankan perintahNya.

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

ṡumma ba’aṡnā mim ba’dihim mụsā bi`āyātinā ilā fir’auna wa mala`ihī fa ẓalamụ bihā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn

 103.  Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.

Kemudian Kami mengutus setelah para rasul yang telah disebutkan nama-namanya itu, musa bin Imran dengan membawa mukjizat-mukjizat kami yang jelas kepaad fir’aun dan kaumnya. Tetapi mereka menentang dan mengingkarinya dengan kezhaliman dan penuh penentangan. maka perhatikanlah (wahai rasul), dengan penuh perenungan, bagimana kami memperlakukan mereka dan kami tenggelamkan mereka secara keseluruhan di hadapan musa dan kaumnya. Itulah kesudahan orang-orang yang melakukan perusakan.

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa qāla mụsā yā fir’aunu innī rasụlum mir rabbil-‘ālamīn

 104.  Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam,

Musa  berkata kepada fir’aun untuk mengajaknya berkomunikasi menyampaikan (amanat Allah),”sesungguhnya aku adalah utusan dari Allah, pencipta semua makhluk dan pengatur keadaan-keadaan dan kesudahan nasib-nasib mereka.

حَقِيقٌ عَلَىٰ أَنْ لَا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

ḥaqīqun ‘alā al lā aqụla ‘alallāhi illal-ḥaqq, qad ji`tukum bibayyinatim mir rabbikum fa arsil ma’iya banī isrā`īl

 105.  wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku”.

Sudah sepantasnya aku tidak mengatakan atas nama Allah, kecuali kebenaran, dan sudah seharusnya aku komitmen dengan itu.Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa bukti petunjuk dan hujjah amat kuat dari tuhan kalian tentang kebenaran apa yang aku sebutkan kepada kalian, maka bebaskanlah (wahai fir’aun) bersamaku orang-orang bani israil dari tawanan dan penindasanmu, lepaskanlah mereka untuk beribadah kepaada Allah.”

قَالَ إِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qāla ing kunta ji`ta bi`āyatin fa`ti bihā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

 106.  Fir’aun menjawab: “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Fir’aun berkata kepada musa  , ”jika benar engkau membawa satu mukjizat sebagaimana pengakuanmu, maka datangkanlah bukti tersebut dan hadirkan di hadapanku agar klaimmu dapat dibuktikan kebenarannya, dan kejujuranmu juga terbukti, jika memang engkau berkata benar dalam klaim yang engkau katakan bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan tuhan alam semesta.”

فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ

fa alqā ‘aṣāhu fa iżā hiya ṡu’bānum mubīn

 107.  Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.

Maka musa  melemparkan tongkatnya, maka tongkat itu berubah menjelma seekor ular yang sangat besar dan tampak jelas untuk dilihat mata.

وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ

wa naza’a yadahụ fa iżā hiya baiḍā`u lin-nāẓirīn

 108.  Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya.

Dan dia menarik tangannya dari lubang leher pakaiannya dari sisinya, atau dari bawah ketiaknya, maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih seperti warna air susu, namun bukan merupakan penyakit kusta, sebagai mukjizat di hadapan fir’aun. Bila dia memasukkannya lagi, maka kembali ke warnanya semula, seperti warna seluruh tubuhnya.

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ

qālal-mala`u ming qaumi fir’auna inna hāżā lasāḥirun ‘alīm

 109.  Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai,

Para pemuka dari kaum dir’aun berkata, ”sesungguhnya musa itu tukang sihir, dapat meghipnotyis pandangan manusia dengan tipu dayanya kepada mereka sehingga terbayang pada penglihatan mereka seolah-olah tongkat berubag menjadi seekor ular, dan suatu obyek berubah, menjadi barang yang berbeda dari sebenarnya, dan dia adalah orang yang berpengetahuan luas dalam ilmu sihir dan seorang yang ahli dibidang itu.

يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ ۖ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ

yurīdu ay yukhrijakum min arḍikum, fa māżā ta`murụn

 110.  yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu”. (Fir’aun berkata): “Maka apakah yang kamu anjurkan?”

Dia hendak mengeluarkan kalian semua dari negeri kalian.” fir’aun berkata, ”apa yang kalian usulkan kepadaku terkait masalah musa wahai para tokoh?”

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَأَرْسِلْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ

qālū arjih wa akhāhu wa arsil fil-madā`ini ḥāsyirīn

 111.  Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir),

Maka orang-orang yang hadir pada acara debat dengan musa  dari kalangan pemuka kaum fir’aun da pembesar mereka berkata, ”berilah dia dan saudaranya, harun, waktu penangguhan dan utuslah petugas-petugas ke kota-kota negeri mesir dan pedesaan-pedesaan.

يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ

ya`tụka bikulli sāḥirin ‘alīm

 112.  supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai”.

Agar mereka mengumpulkan untukmu semua tukang sihir yang mumpuni kemampuan sihirnya.”

وَجَاءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوا إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ

wa jā`as-saḥaratu fir’auna qālū inna lanā la`ajran ing kunnā naḥnul-gālibīn

 113.  Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun mengatakan: “(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?”

Kemudian para tukang sihir berdatangan kepada fir’aun. Mereka berkata, ”apakah kami akan memperoleh hadiah dan harta, bila kami berhasil mengalahkan musa?

قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

qāla na’am wa innakum laminal-muqarrabīn

 114.  Fir’aun menjawab: “Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)”.

firaun menjawab, ”betul. Bagi kalian akan mendapatakn imbalan dan posisi dekat denganku, bila kalian berhasil mengalahkannya.”

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ

qālụ yā mụsā immā an tulqiya wa immā an nakụna naḥnul-mulqīn

 115.  Ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?”

Maka para tukang sihir fir’aun berkata kepada musa  dengan nada angkuh lagi menyepelekan, ”wahi musa silahkan pilih, engkau melemparkan tongkatmu duluan atau kami yang akan melakukkanya dahulu?”

قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

qāla alqụ, fa lammā alqau saḥarū a’yunan-nāsi wastar-habụhum wa jā`ụ bisiḥrin ‘aẓīm

 116.  Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan).

Maka musa  berkata kepada para tukang sihir itu, ”silahkan kalian lempar lebih dahulu!” ketika mereka melmparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka menyihir pandangan manusia sehingga terbayang pada mata mereka kalau yang mereka lakukan benar-benar terjadi. padahaal itu tiada laian hanyalah sekedar jadi-jadian dan khalyalan belaka. Mereka menakut-nakuti manusia dengan rasa takut yang mendalam. Mereka mendatangkan sihir yang sangat kuat lagi banyak.

۞ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

wa auḥainā ilā mụsā an alqi ‘aṣāk, fa iżā hiya talqafu mā ya`fikụn

 117.  Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.

Dan Allah mewahyukan kepada hamba dan rasulNya, musa  , pada peristiwa yang besar itu, dimana dengan itu Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Allah memerintahkan musa  untuk melemparkan apa yang ada di tangan kanannya, yaitu tongkatnya. Musa  melemparkan dan tiba-tiba tongkat itu menelan apa saja yang mereka lemaparkan dan mereka kesankan kepada manusia sebaga kebenaran, padahal sebenarnya merupakan kebatilan.

فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

fa waqa’al-ḥaqqu wa baṭala mā kānụ ya’malụn

 118.  Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.

Maka nyatalah yang benar dan menjadi jelas bagi orang yang menyaksikan dan menghadirinya tentang kebenaran musa  dan bahwa dia sesungguhnya dia adalah utusan Allah yang mengajak kepada kebenaran. Dan lenyaplah kedustaan yang mereka perbuat.

فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

fa gulibụ hunālika wangqalabụ ṣāgirīn

 119.  Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

Seluruh tukang sihir dapat dilakalahkan di tempat mereka berkumpul. Fir’aun dan kaumnya pun kembali dalam kadaan hina, pecundang, dan kalah..

وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ

wa ulqiyas-saḥaratu sājidīn

 120.  Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.

sementara itu, para tukang sihir menyungkur bersujud dengan wajah-wajah mereka kepada Allah, tuhan alam semesta, karena mereka telah menyaksikan langsung keagungan kuasa Allah.

قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

qālū āmannā birabbil-‘ālamīn

 121.  Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,

Mereka berkata, ”Kami beriman kepada penguasa alam semesta.”

رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

rabbi mụsā wa hārụn

 122.  “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun”.

Yaitu tuhan Musa dan harun. Dialah yang seharusnya ditunjukan seluruh jenis ibadah kepadaNYa semata, bukan kepada selainNya.”

قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

qāla fir’aunu āmantum bihī qabla an āżana lakum, inna hāżā lamakrum makartumụhu fil-madīnati litukhrijụ min-hā ahlahā, fa saufa ta’lamụn

 123.  Fir’aun berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);

Fir’aun berkata kepada para tukang sihir, ”Apakah kalian beriman kepada Allah sebelum aku izinkan kepada kalian untuk beriman kepada Nya? sesungguhnya keimanan kalian kepada Allah dan kepercayaan kalian terhadap Musa, serta penetapan kalian atas kenabiannya hanyalah satu bentuk rekayasa yang kalian rencanakan bersama Musa agar kalian dapat mengusir pendududk kota kalian ini darinya, kemudian kalian menjadi orang-orang yang memonopoli kebaikan-kebaikan yang ada di kota ini. Kalain (wahai para tukang sihir), akan tahu siksaan dan hukuman yang akan menimpa kalian (dariku).

لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ

la`uqaṭṭi’anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfin ṡumma la`uṣallibannakum ajma’īn

 124.  demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya”.

Aku benar-benar akan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki kalian (wahai tukang-tukang sihir) secara bersilang; dengan memotong tangan kiri dan kaki kanan. Kemudian aku sungguh-sungguh akan menggantung kalian pada batang pohon kurma, untuk menghukum kalian dan penakut-nakut manusia.”

قَالُوا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ

qālū innā ilā rabbinā mungqalibụn

 125.  Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali.

Para tukang sihir itu berkata kepada fir’aun. ”sesungguhnya kami telah membuktikan bahwa sesungguhnya kepada Allah kami akan kembali. Dan sesungguhnya siksaanNya jauh lebih berat dari siksaanmu. Maka kami akan sungguh-sungguh bersabar hari ini menghadpi siksaanmu, agar kami bisa selamat dari siksaan Allah pada hari kiamat.”

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

wa mā tangqimu minnā illā an āmannā bi`āyāti rabbinā lammā jā`atnā, rabbanā afrig ‘alainā ṣabraw wa tawaffanā muslimīn

 126.  Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.

Engkau tidaklah mencela dan mengingkari sesuatu dari kami (wahai fir’aun) selain keimanan kami dan kepercayaan kami terhadap hujjah-hujjah tuhan kami dan bukti-bukti kebenaran yang dibawa oleh Musa, yang engkau tidak kuasa untuk mendatangkan hal serupa dengannya begitupun orang lain selain Allah, Dzat yang memiliki keraajaan langit dan bumi. Wahai tuhan kami, limpahkan kepada kami kesabaran besar dan keteguhan di atasnya, dan wafatkanlah kami dalam keadaaan tunduk kepada perintahMu, dan mengikuti petunjuk RasulMu.”

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ ۚ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ

wa qālal-mala`u ming qaumi fir’auna a tażaru mụsā wa qaumahụ liyufsidụ fil-arḍi wa yażaraka wa ālihatak, qāla sanuqattilu abnā`ahum wa nastaḥyī nisā`ahum, wa innā fauqahum qāhirụn

 127.  Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?”. Fir’aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”.

Maka para pemimpin dan para pembesar-pembesar dari kaum fir’aun berkata kepada fir’aun, ”Apakah engkau akan membiarkan musa dan para pengikutnya dari bani israil untuk merusak manusia di negeri mesir dengan mengubah keyakinan mereka dengan beribadah kepada Allah semata dan tiada sekutu bagiNya, dan meninggalkan penyembahan kepadamu dan penyembahan kepada tuhan-tuhanmu?” fir’aun menjawab ”kami akan membunuhi anak laki-laki bani israil dan membiarkan wanita-wanita mereka tetap hidup untuk menjadi pelayan. Dan sesungguhnya kami ini berkuasa penuh atas mereka dengan kekuasaan raja dan penguasa.”

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

qāla mụsā liqaumihista’īnụ billāhi waṣbirụ, innal-arḍa lillāh, yụriṡuhā may yasyā`u min ‘ibādih, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn

 128.  Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.

Musa  berkata kepada kaumnya (dari bani israil), ”mohonlah pertolongan kepada Allah terhadap fir’aun dan para pengikutnya, serta bersabarlah atas hal-hal buruk yang menimpa kalian pada diri kalian dan anak-anak kalian dari fir’aun. Sesungguhnya bumi ini semuanya milik Allah, Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang dikehendakiNYa dari hambaNya. Dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah, lalu menjalankan semua perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

qālū ụżīnā ming qabli an ta`tiyana wa mim ba’di mā ji`tana, qāla ‘asā rabbukum ay yuhlika ‘aduwwakum wa yastakhlifakum fil-arḍi fa yanẓura kaifa ta’malụn

 129.  Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.

Kaum musa (dari kalangan bani israil) berkata kepada nabi mereka, Musa  , ”kami telah mengalami malapetaka dan tertindas dengan disembelihnya anak laki-laki kami dan dibiarkannya anak perempuan kami hidup di bawah kekuasaan fir’aun dan para pengikutnya, sebelum engkau datang kepada kami dan pasca kedatanganmu ke tengah kami.” Musa berkata kepada mereka, ”Mudah-mudahan tuhan kalian membinasakan musuh-musuh kalain, fir’aun dan para pengikutnya, dan menjadikan kalian berkuasa di bumi mereka setelah kebinasaan mereka. Maka Allah akan melihat apa yang akan kalian perbuat ;apakah kalian akan bersyukur atau malah ingkar.”

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

wa laqad akhażnā āla fir’auna bis-sinīna wa naqṣim minaṡ-ṡamarāti la’allahum yażżakkarụn

 130.  Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

Dan sungguh kami telah menimpakan malapetaka kepada fir’aun dan para pengikutnya dengan masa paceklik dan kekeringan, serta berkurangnya buah-buahan dan hasil pertanian mereka, agar mereka mau mengambil pelajaran, menghentikan kesesatan-kesesatan mereka dan bersimpuh kembali kepada tuhan mereka dengan bertaubat.

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

fa iżā jā`at-humul-ḥasanatu qālụ lanā hāżih, wa in tuṣib-hum sayyi`atuy yaṭṭayyarụ bimụsā wa mam ma’ah, alā innamā ṭā`iruhum ‘indallāhi wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 131.  Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Kemudian ketika tiba kepada fir’aun dan para pengikutnya masa subur dan limpahan rizki, mereka berkata, ”ini menjadi milik kami, karena kami memang berhak memperolehnya,” dan apabila mereka dilanda paceklik dan kekeringan , mereka beranggapan telah dilanda kesialan dan mereka berkata, ”ini disebabkan oleh Musa dan orang-orang yang bersamanya.” Ketahuilah, sesungguhnya paceklik dan kekeringan terjadi kepada mereka hanyalah lantaran qadha dan takdir Allah, serta karena dosa-dosa dan kekafiran mereka. Akan tetapi, kebanyakan para pengikut fir’aun tidak mengetahui hal itu. Itu terjadi karena mereka sudah berkubang dalam kebodohan dankesesatan.

وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

wa qālụ mahmā ta`tinā bihī min āyatil litas-ḥaranā bihā fa mā naḥnu laka bimu`minīn

 132.  Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu”.

Para pengikut fir’aun berkata kepada Musa  , ”apapun mukjizat yang engkau bawa kepada kami dan apapun petunjuk dan hujjah yang engkau terangkan untuk mengalihkan kami dari keadaan kami dalam meyakini ajaran fir’aun, maka kami tetaplah tidak akan membenarkan dan beriman kepadamu.”

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

fa arsalnā ‘alaihimuṭ-ṭụfāna wal-jarāda wal-qummala waḍ-ḍafādi’a wad-dama āyātim mufaṣṣalāt, fastakbarụ wa kānụ qaumam mujrimīn

 133.  Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Maka kami mengirim kepada mereka banjir yang amat deras yang menenggelamkan tanaman-tanaman dan buah-buahan. Dan kami kirim belalang, yang menghabiskan tanaman-tanaman dan buah-buahan mereka, (merusak) pintu-pintu, atap-atap dan pakaian-pakian mereka. Dan kami kirimkan kutu yang merusak tanaman-tanaman dan mematikan hewan-hewan ternak dan tanaman-tanaman. Dan kami kirim katak-katak yang memenuhi bejana-bejana, makanan-makanan dan tempat pembaringan mereka. Kami juga mengirim darah, sehingga sungai-sungai dan sumur-sumur berubah menjadi darah, akibatnya mereka tidak menemukan air yang layak di minum. Ini merupakan tanda-tanda kekuasaan dari Allah, yang tidak ada yang kuasa mendatangkannya selain Allah, masing-masing tanda kekuasaan datang secara terpisah dari yang lain. Meskipun demikian, kaum fir’aun tetap merasa angkuh dan sombong untuk beriman kepada Allah. Mereka manusia-manusia yang suka berbuat apa yang dilarang oleh Allah berupa maksiat-maksiat dan tindakan kefasikan lain dengan penuh kesombongan dan penolakan.

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۖ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

wa lammā waqa’a ‘alaihimur-rijzu qālụ yā mụsad’u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak, la`ing kasyafta ‘annar-rijza lanu`minanna laka wa lanursilanna ma’aka banī isrā`īl

 134.  Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.

Dan ketika turun siksaan melanda fir’aun dan para pengikutnya, mereka mengiba kepada musa  sambil berkata, ”Wahai musa mohonlah kepada tuhanmu dengan apa yang diwahyukanNya kepadamu berupa terangkatnya siksaan melalui taubat. JIka engkau berhasil menyingkirkan siksaan dari kami yang kami tengah mengalaminya, niscaya kami akan benar-benar mengimani risalah yang engkau bawa dan kami pasti akan mengikuti seruan dakwahmu, serta kami benar-benar akan membebaskan bani israil untuk pergi bersamamu. Kami tidak akan menghalangi mereka untuk pergi kemana mereka mau.”

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ

fa lammā kasyafnā ‘an-humur-rijza ilā ajalin hum bāligụhu iżā hum yangkuṡụn

 135.  Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.

Tetapi, setelah Allah mengangkat dari mereka azab yang diturunkanNya pada mereka hingga batas waktu yang akan mereka akan sampai kepadanya dengan pasti, dimana mereka akan di siksa pada waktu tersebut, tidak bisa bermanfaat bagi mereka penundaan waktu dan diangkatnya siksaan hingga waktu kedatanggannya, tiba-tiba mereka mengingkari perjanjian-perjanjian mereka yang telah mereka ajukan kepada tuhan mereka dan Musa  , mereka tetap tegak berdiri di atas kekafiran dan kesesatan mereka.

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

fantaqamnā min-hum fa agraqnāhum fil-yammi bi`annahum każżabụ bi`āyātinā wa kānụ ‘an-hā gāfilīn

 136.  Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.

maka kamipun membalas tindakan mereka ketika batas waktu penghancuran mereka telah tiba. Itu terjadi dengan ditimpakannya siksaan kami pada mereka, yaitu mereka ditenggelamkan di laut disebabkan mereka mendustakan mukjizat-mukjizat yang telah muncul melalui tangan musa, sedang mereka lalai terhadap mukjizat-mukjizat ini. Dan kelalaian itulah yang menyebabkan pendusaan mereka.

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

wa auraṡnal-qaumallażīna kānụ yustaḍ’afụna masyāriqal-arḍi wa magāribahallatī bāraknā fīhā, wa tammat kalimatu rabbikal-ḥusnā ‘alā banī isrā`īla bimā ṣabarụ, wa dammarnā mā kāna yaṣna’u fir’aunu wa qaumuhụ wa mā kānụ ya’risyụn

 137.  Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.

Dan kami wariskan kepada kaum bani israil yang mengalami penistaan sebagai budak-budak pelayan, bagian bumi timur dan bagian bumi barat, (yaitu negeri syam) yang telah kami berkahi dengan di tumbuhkannya berbagai macam tanaman, buah-buahan dan keberadaan sungai-sungai. Dan telah sempurna firman tuhanmu yang paling baik (wahai rasul), pada bani israil dengan memberikan kekuasaan di muka bumi dikarenakan kesabaran mereka menghadapi gangguan dari firaun dan para pengikutnya, dan kami pun telah menghancurkan apa yang dibangun oleh fir’aun dan para pengikutnya yaitu berbagai rumah hunian dan persawahan, serta apa yang telah mereka bangun berupa bangunan-bangunan, istana-istana dan lainnya.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

wa jāwaznā bibanī isrā`īlal-baḥra fa atau ‘alā qaumiy ya’kufụna ‘alā aṣnāmil lahum, qālụ yā mụsaj’al lanā ilāhang kamā lahum ālihah, qāla innakum qaumun taj-halụn

 138.  Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.

Dan kami telah seberangkan bani israil melintasi laut, kemudian mereka melewati suatu kaum yang bersimpuh dan menekuni penyembahan terhadap berhala-berhala mereka. bani israil berkata (kepada musa), ”jadikanlah bagi kami wahai Musa patung yang akan kami sembah dan kami jadikan sebagai tuhan seperti orang-orang itu memiliki patung-patung yang mereka sembah.” maka musa berkata kepada mereka, ”Wahai kaumku, sesungguhnya kalian itu orang-orang bodoh yang tidak paham akan keagungan Allah, dan kalian tidak mengetahui bahwa sesungguhnya ibadah itu tidak sepatutnya di kerjakan kecuali bagi Allah semata, Dzat yang Maha Esa lagi maha perkasa. ”

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

inna hā`ulā`i mutabbarum mā hum fīhi wa bāṭilum mā kānụ ya’malụn

 139.  Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.

sesungguhnya orang-orang yang duduk bersimpuh di depan berhala-berhala tersebut, akan dihancurkan kesyirikan yang ada pada mereka, dan akan disirnakan dan lenyap apa yang mereka perbuat yang berupa penyembahan terhadap berhala-berhala yang sama sekali tidak dapat menghalangi siksaan Allah dari mereka, jika ia turun menimpa mereka.

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

qāla a gairallāhi abgīkum ilāhaw wa huwa faḍḍalakum ‘alal-‘ālamīn

 140.  Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.

Musa  berkata kepada kaumnya, ”apakah pantas kepada selain Allah aku akan mencarikan sesembahan yang kalian sembah, sedang Allah itu, Dia lah yang menciptakan kalian dan melebihkan kalian atas segala umat pada zaman kalian dengan bayaknya jumlah nabi yang berada di tengah kalian dan dengan dihancurkannya musuh-musuh kalian, serta tanda-tanda kenabian yang Allah menampakkannya secara khusus kepada kalian?”

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۖ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

wa iż anjainākum min āli fir’auna yasụmụnakum sū`al-‘ażāb, yuqattilụna abnā`akum wa yastaḥyụna nisā`akum, wa fī żālikum balā`um mir rabbikum ‘aẓīm

 141.  Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu”.

Dan ingatlah oleh kalian (wahai bani israil), nikmat-nikmat kami yang tercurah atas kalian ketika kami menyelamatkan kalian dari penawana fir’aun dan keluarganya, dan keadaan hina dan nista yang meliputi kalian dalam bentuk disembelihnya anak-anak lelaki kalian dan dibiarkan hidup perempuan-perempuan kalian untuk dijadikan pelayan dan penghinaan, serta membawa kalian untuk menghadapi siksaan yang sangat jahat lagi paling menyengsarakan, lalu kami menyelamatkan kalian dari kondisi tersebut, semua ini merupakan cobaan dari Allah, sekaligus menjadi kenikmatan sangat besar bagi kalian.

۞ وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

wa wā’adnā mụsā ṡalāṡīna lailataw wa atmamnāhā bi’asyrin fa tamma mīqātu rabbihī arba’īna lailah, wa qāla mụsā li`akhīhi hārụnakhlufnī fī qaumī wa aṣliḥ wa lā tattabi’ sabīlal-mufsidīn

 142.  Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”.

Dan Allah telah menjanjikan kepada Musa  untuk bermunajat kepada tuhannya selama tiga puluh malam. Kemudian Allah menambah tempo masanya setelah itu dengan sepuluh malam. Dengan demikian, sempurnalah masa yang Allah tentukan bagi Musa untuk Dia berbicara dengannya menjadi empat puluh malam. Musa berkata kepada sauadaranya, Harun , (ketika hendak pergi berjalan untuk bermunajat kepada tuhannya), ”jadilah engkau pengganti diriku bagi kaumku hingga aku pulang. Dan bawalah mereka untuk taat kepada Allah dan beribadahlah kepadaNYa. Dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. ”

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

wa lammā jā`a mụsā limīqātinā wa kallamahụ rabbuhụ qāla rabbi arinī anẓur ilaīk, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahụ fa saufa tarānī, fa lammā tajallā rabbuhụ lil-jabali ja’alahụ dakkaw wa kharra mụsā ṣa’iqā, fa lammā afāqa qāla sub-ḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu`minīn

 143.  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Dan ketika Musa  telah tiba pada waktu yang telah di tentukan, yaitu tepat pada malam ke empat puluh, dan Tuhannya berbicara kepadanya dengan perkara-perkara yang dibicarakanNya kepada Musa  , berupa wahyu, perintahNya dan laranganNya, dia amat antusias untuk melihat Allah. Maka dia meminta kepadaNya, untuk melihatNya. Maka Allah berfirman kepadanya, ”Engkau tidak akan bisa melihatku.” Maksudnya kamu tida akan mampu melihat Ku di dunia, tapi lihatlah kea rah gunung, maka jika gunung tersebut tetap pada tempatnya ketika Aku tampakan diriku kepadanya, maka kamu akan dapat melihatKu. Maka tatkala tuhannya menampakan diri kepada gunung tersebut, Dia menjadikannya hancur rata dengan permukaan tanah dan Musa  langsung jatuh pingsan. Lalu tatkala Musa  siuman dari pingsannya, dia berkata, ”maha suci engkau wahai tuhanku, dari segala yang tidak pantas dengan keagunganMu. Sesungguhnya aka bertaubat kepadaMu dari permintaanku kepadaMu untuk bisa melihatMu di kehidupan dunia ini. Dan aku adalah orang-orang yang pertama beriman kepadaMu dari kaumku. ”

قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

qāla yā mụsā inniṣṭafaituka ‘alan-nāsi birisālātī wa bikalāmī fa khuż mā ātaituka wa kum minasy-syākirīn

 144.  Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Allah  berfirman, ”Wahai Musa, sesungguhnya aku telah memilihmu di atas sekalian manusia untuk (mengemban) risalah-risalahKu kepada semua makhlukKu yang aku mengutusmu kepada mereka, dan dengan firmanKu kepadamu tanpa ada perantara. Maka ambilah apa yang aku berikan kepadamu berupa perintah dan larangan, pegangilah ia dengan teguh dan amalkan, dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikanNya kepadamu, berupa risalah dan melebihkanmu dengan berkomunikasi langsung denganNya.”

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

wa katabnā lahụ fil-alwāḥi ming kulli syai`im mau’iẓataw wa tafṣīlal likulli syaī`, fa khuż-hā biquwwatiw wa`mur qaumaka ya`khużụ bi`aḥsanihā, sa`urīkum dāral-fāsiqīn

 145.  Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.

Dan kami telah menuliskan bagi Musa di dalam kitab taurat semua yang dibutuhkannya dalam agamanya dari hokum-hukum, sebagai nasihat untuk di jadikan pengendali diri dan sumber pelajaran, dan sebagai penjelas hukum-hukum taklif halal, dan haram, perintah dan larangan, kisah-kisah, keyakinan-keyakinan, berita-berita dan perkara-perkara ghaib. Allah berfirman kepadanya, ”maka ambilah ia dengan kuat” artinya ambilah taurat dengan serius dan penuh kesungguhan.” dan perintahkan kaummu untuk mengamalkan kandungan ajaran yang Allah syariatkan di dalamnya. Barangsiapa berbuat syirik dari mereka dan orang lain, maka sesungguhnya Aku akan perlihatkan kepadanya negeri orang-orang fasik di akhirat.” yaitu neraka Allah yang Dia sediakan bagi musuh-musuhNya yang keluar dari ketaatan kepadaNya.

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

sa aṣrifu ‘an āyātiyallażīna yatakabbarụna fil-arḍi bigairil-ḥaqq, wa iy yarau kulla āyatil lā yu`minụ bihā, wa iy yarau sabīlar-rusydi lā yattakhiżụhu sabīlā, wa iy yarau sabīlal-gayyi yattakhiżụhu sabīlā, żālika bi`annahum każżabụ bi`āyātinā wa kānụ ‘an-hā gāfilīn

 146.  Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.

Aku akan memalingkan dari pemahaman terhadap hujjah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukan keagaunganKu dan syariatKu serta hukum-hukumKu, hati orang-orang yang angkuh dari ketaatan kepadaku dan sombong di hadapan manusia tanpa alasan yang benar. Mereka tidak mau mengikuti seorang nabi dan tidak mau mendengarkan dengan baik kepadanya karena kesombombonagn mereka. Dan apabila orang-orang yang menyombongan diri dari iman itu menyaksiakan tiap-tiap ayat, mereka tidak beriman kepadanya, karena penolakan dan penentangan mereka kepada Allah. Dan apabila mereka melihat jalan kebaikan, mereka tidak mau mengikuti jalan itu. Dan apabila mereka melihat jalan kesesatan, maksudnya kekafiran, mereka menjadikannya sebagai jalan hidup dan agama. Yang demikian itu disebabkan pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah dan kelalaian mereka untuk melihatnya dan memikirkan kandungan petunjuk-peunjuknya.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā wa liqā`il-ākhirati ḥabiṭat a’māluhum, hal yujzauna illā mā kānụ ya’malụn

 147.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjahNya dan mendustakan perjumpaan dengan Allah di akhirat kelak, maka terhapuslah amal perbuatan mereka, disebabkan kehilangan syaratnya, yaitu beriman kepada Allah dan mengimani balasanNya. Mereka tidak memperoleh balasan di akhirat kelak kecuali balasan yang sesuai apa yang mereka perbuat di dunia berupa kekafiran dan maksiat-maksiat, yaitu abadi di dalam neraka.

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ

wattakhaża qaumu mụsā mim ba’dihī min ḥuliyyihim ‘ijlan jasadal lahụ khuwār, a lam yarau annahụ lā yukallimuhum wa lā yahdīhim sabīlā, ittakhażụhu wa kānụ ẓālimīn

 148.  Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Dan kaum musa mengadakan sesembahan setelah kepergiannya meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada tuhannya, dari perhiasan emas mereka berupa patung anak sapi bertubuh nyata yang tidak mempunyai ruh dan bersuara. Tidakkah mereka menyadari bahwa sesungguhnya patung anak sapi itu tidak dapat berkomunikasi dengan mereka dan tidak dapat menunjukan mereka kepada kebaikan? Mereka maju melakukan apa yang telah mereka perbuat dari tindakan parah ini. Dan mereka itu telah berbuat zhalim kepada diri mereka, meletakan sesuatu tidak pada tempatnya yang tepat.

وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa lammā suqiṭa fī aidīhim wa ra`au annahum qad ḍallụ qālụ la`il lam yar-ḥamnā rabbunā wa yagfir lanā lanakụnanna minal-khāsirīn

 149.  Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi”.

Dan ketika menyesal orang-orang yang menyembah patung anak sapi selain Allah itu ketika kembalinya Musa  kepada mereka, dan mereka melihat bahwa sesungguhnya mereka telah sesat, melenceng dari jalan yang lurus, dan pergi jauh meninggalkan agama Allah, lalu mereka mulai mengakui penghambaan diri kepada Allah dan memohon ampunan. Mereka berkata, ”sesungguhnya bila tuhan kami tidak merahmati kami dengan menerima taubat kami, dan menutupi dosa-dosa kami dengannya, tentulah kami akan bebar-benar termasuk orang-orang yang binasa yang amal perbuatnnya akan hilang.”

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ ۖ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ ۚ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa lammā raja’a mụsā ilā qaumihī gaḍbāna asifang qāla bi`samā khalaftumụnī mim ba’dī, a ‘ajiltum amra rabbikum, wa alqal-alwāḥa wa akhaża bira`si akhīhi yajurruhū ilaīh, qālabna umma innal-qaumastaḍ’afụnī wa kādụ yaqtulụnanī fa lā tusymit biyal-a’dā`a wa lā taj’alnī ma’al qaumiẓ-ẓālimīn

 150.  Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Dan ketika Musa  kembali kepada kaumnya dari bani israil dalam keadaan marah lagi sedih, karena Allah telah mengabarkan kepadanya bahwa Dia telah menguji kaumnya dan sesungguhnya samiri telah menyesatkan mereka, Musa  berkata, ”alangkah buruk perubahan keadaan yang kalian lakukan pasca kepergianku. Apakah kalian ingin mendahului perintah kalian?” maksudnya, apakah kalian ingin kedatanganku kepada kalian lebih cepat, padahal telah ditentukan waktunya oleh Allah  ? Dan musa  melemparkan lauh-lauh taurat sebagai ekspresi marahnya terhadap kaumnya yang telah menyembah patung anak sapi, dan kemarahannya kepada saudaranya, Harun  , dan memegang kepala saudaranya, dengan menariknya kearahnya. Harun  berkata kepadanya sambil memelas, ”wahai putra ibuku, sesungguhnya kaumku merendahkanku dan memandangku sebagai orang yang lemah, dan hampir-hampir mereka itu akan membunuhku.Maka kamu jangnlah membuat musuh kegirangan karena tindakan yang kamu perbuat kepadaku, dan janganlah kamu menjadikan aku dalam kemarahanmu bersama kaum yang melanggar perintahmu dan menyembah patung anak sapi.”

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

qāla rabbigfir lī wa li`akhī wa adkhilnā fī raḥmatika wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

 151.  Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Musa  berkata setelah menjadi jelas alasan saudaranya, dan tahu bahwa saudaranya tidak berbuat kesalahan dalam perkara yang menjadi tanggung jawabnya dari perintah Allah, ”wahai tuhanku, amunilah kemarahanku dan ampunilah bagi saudaraku apa yang telah terjadi antara dirinya dan Bani israil. Dan masukanlah kami kedalam rahmatMu yang amat luas. Sesungguhnya Engkau paling penyayang kepada kami daripada seluruh yang penyayang.”

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

innallażīnattakhażul-‘ijla sayanāluhum gaḍabum mir rabbihim wa żillatun fil-ḥayātid-dun-yā, wa każālika najzil-muftarīn

 152.  Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung anak sapi sebagi tuhan sesembahan, mereka akan tertimpa oleh kemurkaan besar dari tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan dunia, disebabkan oleh kekafiran mereka kepada tuhan mereka. Sebagimana kami telah memperlakukan mereka demikian, kami (juga) memperlakukan demikian terhadap orang-orang yang mengada-adakan kedustaan dan membuat hal-hal baru di dalam agama Allah. Maka setiap pelaku bid’ah adalah orang yang hina.

وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wallażīna ‘amilus-sayyi`āti ṡumma tābụ mim ba’dihā wa āmanū inna rabbaka mim ba’dihā lagafụrur raḥīm

 153.  Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa, berupa kekafiran dan berbagai macam maksiat, kemudian mereka kembali setelah perbuatan tersebut menuju keimanan dan amal shalih, sesungguhnya tuhanmu setelah adanya taubat nasuha benar-benar maha pengampun terhadap perbuatan-perbuatan mereka, tidak mempermalukan mereka dengannya, maha penyayang kepada mereka dan kepada setiap orang yang serupa dengan mereka dari orang-orang yang bertaubat.

وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ ۖ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ

wa lammā sakata ‘am mụsal-gaḍabu akhażal-alwāḥa wa fī nuskhatihā hudaw wa raḥmatul lillażīna hum lirabbihim yar-habụn

 154.  Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

Dan ketika Musa  telah tenang dari amarahnya, dia mengambil lauh-lauh taurat setelah melemparnya ke tanah.dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang kebenaran dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Allah dan khawatir akan siksaanNya.

وَاخْتَارَ مُوسَىٰ قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا ۖ فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا ۖ إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ ۖ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

wakhtāra mụsā qaumahụ sab’īna rajulal limīqātinā, fa lammā akhażat-humur-rajfatu qāla rabbi lau syi`ta ahlaktahum ming qablu wa iyyāy, a tuhlikunā bimā fa’alas-sufahā`u minnā, in hiya illā fitnatuk, tuḍillu bihā man tasyā`u wa tahdī man tasyā`, anta waliyyunā fagfir lanā war-ḥamnā wa anta khairul-gāfirīn

 155.  Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya”.

Dan Musa  memilih dari kaumnya sebanyak tujuh puluh orang pilihan, dan dia pergi bersama mereka menuju gunung thur(Sinai) dalam waktu dan saat yang telah Allah janjikan kepadanya untuk berjumpa dengaNYa dalam waktu tersebut bersama mereka untuk bertaubat dari tindakan yang dilakukan orang-orang bodoh dari kalanagn bani israil berupa menyembah patung anak sapi. Maka ketika mereka sampai tempat itu, mereka berkata, ”kami tidak akan beriman kepadamu wahai Musa, sampai kamu dapat memperlihatkan Allah kepada kami dengan terang, karena sesungguhnya kamu telah berbicara denganNYa, maka perlihatkanlah Allah kepada kami.” lalu gempa bumi yang dahsyat mengguncang mereka, sehingga mereka mati. Kemudian musa  berdiri merendahkan diri memohon kepada Allah dan berucap, ”wahai tuhanku, apa lagi yang harus aku ucapkan kepada bani israil bila aku temui mereka, sedang engkau telah membinasakan orang-orang terbaik mereka? bila engkau kehendaki, niscaya engkau akan membinasakan semuanya sebelum sekarang ini dan aku pun termasuk mereka. Sesungguhnya itu lebih mudah atas diriku. Apakah Engkau akan membinasakan kami lantaran apa yang diperbuat orang-orang yang bodoh dari kami? tidaklah perbuatan yang diperbuat kaumku berupa penyembahan mereka terhadap patung anak sapi, kecuali merupakan cobaan dan ujian. Engkau sesatkan dengannya orang-orang yang Engkau kehendaki dari makhlukMu dan Engkau beri hidayah dengannya orang-orang yang Engkau kehendaki memperoleh hidayah. Engkau adalah pelindung kami dan penolong kami.maka, maka ampunilah dosa-dosa kami dan rahmatilah kami dengan rahmatMu. Dan Engkau adalah sebaik-baik yang memaafkan kejahatan dan menutup dosa.

۞ وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

waktub lana fī hāżihid-dun-yā ḥasanataw wa fil-ākhirati innā hudnā ilaīk, qāla ‘ażābī uṣību bihī man asyā`, wa raḥmatī wasi’at kulla syaī`, fa sa`aktubuhā lillażīna yattaqụna wa yu`tụnaz-zakāta wallażīna hum bi`āyātinā yu`minụn

 156.  Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.

Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang telah Engkau tetapkan baginya amal-amal shalih di dunia dan di akhirat;sesungguhnya kami kembali untuk bertaubat kepaadMu.” Allah  berfirman kepada Musa  , ”siksaanKu akan Aku timpakan pada orang-orang yang aku kehendaki dari makhlukKu sebagaimana yang telah Aku timpakan pada orang-orang dari kaummu. Dan rahmatKu meliputi seluruh makhlukKu semuanya. Kemudian akan aku tetapkan rahmat itu bagi orang-orang yang takut kepada Allah dan takut dari siksaanNya, lalu mereka menunaikan kewajiban-kewajiban dariNya dan menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat kepadaNYa, dan orang-orang yang mengimani dalil-dalil tauhid dan bukti-buktinya.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

allażīna yattabi’ụnar-rasụlan-nabiyyal-ummiyyallażī yajidụnahụ maktụban ‘indahum fit-taurāti wal-injīli ya`muruhum bil-ma’rụfi wa yan-hāhum ‘anil-mungkari wa yuḥillu lahumuṭ-ṭayyibāti wa yuḥarrimu ‘alaihimul-khabā`iṡa wa yaḍa’u ‘an-hum iṣrahum wal-aglālallatī kānat ‘alaihim, fallażīna āmanụ bihī wa ‘azzarụhu wa naṣarụhu wattaba’un-nụrallażī unzila ma’ahū ulā`ika humul-mufliḥụn

 157.  (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Rahmat ini akan Aku tetapkan bagi orang-orang yang takut kepada Allah dan menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat kepadaNya, dan mengikuti seorang rasul, lagi nabi yang ummi, yang tidak dapat membaca dan menulis yaitu Muhammad  yang mereka jumpai sifat dan beritanya tertulis pada mereka di dalam taurat dan injil, yang memerintahkan mereka untuk bertauhid, taat, serta semua perkara lainnya yang diketahui kebaikannya, dan melarang mereka berbuat syirik, maksiat, dan seluruh perkara yang dimaklumi keburukannya, menghalalkan bagi mereka barang-barang yang baik-baik dari berbagai jenis makanan, minuman, dan hubungan pernikahan, dan mengharamkan atas mereka hal-hal yang keji seperti daging babi, dan semua yang mereka halalkan dari berbagai jenis makanan dan minuman yang diharamkan oleh Allah, dan menghapuskan dari mereka beban yang dipikulkan pada mereka berupa perintah-perintah yang berat, seperti memotong bagian yang terkena najis pada pakaian, dibakarnya harta-harta rampasan perang, dan penjatuhan hukum qishash secara wajib terhadap pelaku pembunuhan, baik pembunuhan yang disengaja ataupun terjadi karena kekeliruan. maka orang-orang yang beriman kepada nabi yang ummi, Muhammad , mengakui kenabiaannya, menghormati dan mengagungkannya, serta membelanya dan mengikuti al-qur’an yang diturunkan padanya dan mengerjakan sunnahnya, mereka itulah orang-orang yang beruntung memperoleh apa yang di janjikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

qul yā ayyuhan-nāsu innī rasụlullāhi ilaikum jamī’anillażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, lā ilāha illā huwa yuḥyī wa yumītu fa āminụ billāhi wa rasụlihin-nabiyyil-ummiyyillażī yu`minu billāhi wa kalimātihī wattabi’ụhu la’allakum tahtadụn

 158.  Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada manusia semuanya, ”sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, bukan kepada sebagian kalian saja tanpa diutus kepada sebagian yang lain, Tuhan yang memiliki kerajaan langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya, tidak sepatutnya penuhanan dan ibadah kecuali bagiNya saja, yang Mahatinggi sanjunganNya, yang Maha kuasa menciptakan makhluk, dan menghancurkannya, serta membangkitkannya. maka berimanlah kepada Allah dan akuilah keesaanNya, dan berimanlah kepada rasulNya Muhammad  nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan wahyu yang diturunkan kepadanya dari tuhannya dan wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya. Dan ikutilah rasul itu dan komitmenlah untuk mengamalkan apa yang diperintahkannya kepada kalian berupa amal ketaatan, mudah-mudahan kalian memperoleh taufik menuju jalan yang lurus.”

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

wa ming qaumi mụsā ummatuy yahdụna bil-ḥaqqi wa bihī ya’dilụn

 159.  Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.

Dan diantara bani israil dari kaum Musa ada segolongan yang tetap istiqamah di atas kebenaran, memberi petunjuk kepada manusia dengannya, serta berlaku adil dengannya dalam memutuskan hukum dalam perkara-perkara mereka.

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۚ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

wa qaṭṭa’nāhumuṡnatai ‘asyrata asbāṭan umamā, wa auḥainā ilā mụsā iżistasqāhu qaumuhū aniḍrib bi’aṣākal-ḥajar, fambajasat min-huṡnatā ‘asyrata ‘ainā, qad ‘alima kullu unāsim masyrabahum, wa ẓallalnā ‘alaihimul-gamāma wa anzalnā ‘alaihimul-manna was-salwā, kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum, wa mā ẓalamụnā wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

 160.  Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

Dan kami membagi kaum Musa dari kalangan bani israil menjadi dua belas suku sesuai dengan jumlah asbath, (yaitu anak-anak (keturunan) ya’qub). Dan masing-masing suku sudah diketahui sesuai pemimpinnya. Dan kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air minum kepadanya, saat mereka di landa kehausan di tempat mereka tersesat jalan, ”pukulah batu itu dengan tongkatmu, ” lalu dia memukulnya dan terpancarlah darinya dua belas mata air. Dan sesungguhnya tiap-tiap suku dari dua belas suku yang ada telah mengetahui tempat minum mereka. Tiap suku tidak masuk ke suku lain dalam tempat minumnya. Dan kami datangkan awan untuk menaungi mereka dan kami turunkan kepada mereka manna, (sesuatu yang menyerupai manisan kenyal yang rasanya menyerupai madu), dan salwa, (sejenis burung yang menyerupai burung puyuh). Dan kami katakan kepada mereka, ”makanlah yang baik-baik dari apa yang kami rizkikan kepada kalian.” Mereka justru tidak menyukainya dan merasa bosan, lantaran terlalu lama terus menerus mengonsumsinya. Mereka pun berkata, ”kami tidak dapat bersabar lagi terhadap satu jenis makanan saja.” Dan mereka menuntut makanan pengganti yang lebih rendah untuk menggantikan makanan yang lebih baik bagi mereka. Mereka tu tidaklah menzdolimi kami ketika tidak mau bersyukur kepada Allah dan tidak melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan atas mereka. Akan tetapi mereka menzholimi diri mereka sendiri, sebab mereka melewatkan semua jenis kebaikan bagi diri mereka dan membawanya kepada keburukan dan siksaan

وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ ۚ سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

wa iż qīla lahumuskunụ hāżihil-qaryata wa kulụ min-hā ḥaiṡu syi`tum wa qụlụ hiṭṭatuw wadkhulul-bāba sujjadan nagfir lakum khaṭī`ātikum, sanazīdul-muḥsinīn

 161.  Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki”. Dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu”. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan ingatlah (wahai rasul), kedurhakaan bani israil kepada tuhan mereka dan kepada nabi mereka, Musa  dan penggantian yang mereka lakukan terhadap ucapan yang mereka perintahkan untuk melakukannya ketika Allah berkata kepada mereka, ”tinggalah kalian di negeri baitul maqqdis, daan makanlah buah-buahnnya, biji-bijiannya, dan hasil tanamannya, dimanapun kalian berada dan kapanpun kalian kehendaki. Dan ucapkanlah oleh kalian, ’hapuslah dosa-dosa dari kami”, dan masukilah pintu gerbangnya dengan penuh ketundukan kepada Allah, niscaya kami akan ampuni kesalahan-kesalahan kalian dan kami tidak menyiksa kalian karenanya. Dan kami akan memberikan tambahan bagi orang-orang yang berbuat baik dari kebaikan dunia dan akhirat.”

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ

fa baddalallażīna ẓalamụ min-hum qaulan gairallażī qīla lahum fa arsalnā ‘alaihim rijzam minas-samā`i bimā kānụ yaẓlimụn

 162.  Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.

Kemudian orang-orang yang kafir kepada Alllah dari mereka, mengubah ucapan yang Allah memerintahkan mereka untuk mengucapkannya, dan memasuki pintu gerbang dalam keadaan merangkak dengan pantat-pantat mereka, dan mereka berkata, ”habbaatun fi sya’ratin (biji dari gandum).” maka kami kirim kepada mereka siksaan dari langit, kami binasakan mereka dengannya di sebabkan tindakan aniaya dan kedurhakaan mereka.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

was`al-hum ‘anil-qaryatillatī kānat hāḍiratal-baḥr, iż ya’dụna fis-sabti iż ta`tīhim ḥītānuhum yauma sabtihim syurra’aw wa yauma lā yasbitụna lā ta`tīhim, każālika nablụhum bimā kānụ yafsuqụn

 163.  Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.

Dan tanyakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang yahudi tentang berita penduduk negeri yang dahulu bermukim di dekat laut (merah), ketika penduduknya berbuat melampaui batas pada hari sabtu terhadap larangan-laranagn Allah, lantaran mereka diperintahkan oleh Allah untuk mengagungkan hari sabtu dan tidak berburu ikan pada hari itu. lalu Allah menguji mereka dan memberikan cobaan kepada mereka; dimana ikan-ikan datang kepada mereka pada hari sabtu dengan sangat banyak lagi mengapung-ngapung di permukaan air laut. Apabila hari sabtu berlalu, ikan-ikan itu pun pergi ke dalam laut, sehingga mereka tidak melihat sedikitpun dari ikan-ikan tersebut. Kemudian merekapun mengadakan rekayasa, mereka mungurung ikan-ikan itu dalam kurungan-kurungan pada hari sabtu, lalu menangkapinya setelah hari itu. Dan demikianlah sebagaimana kami telah gambarkan bagi kalian bentuk cobaan dan ujian denga menapakan ikan di atas permukaan air pada hari yang diharamkan atas mereka untuk berburu padanya, dan menyembunyikannya pada hari yang dihalalkan bagi mereka untuk menangkapnya, demikianlah pula kami menguji mereka di sebabkan perbuatan fasik mereka dan keluarnya mereka dari ketaatan Allah.

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa iż qālat ummatum min-hum lima ta’iẓụna qaumanillāhu muhlikuhum au mu’ażżibuhum ‘ażāban syadīdā, qālụ ma’żiratan ilā rabbikum wa la’allahum yattaqụn

 164.  Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika sekelompok orang dari mereka berkata kepada sekelompok lain yang tengah menasihati orang-orang yang berbuat melampaui batas pada hari sabtu dan melarang mereka dari perbuatan maksiat kepada Allah pada hari itu, ”mengapa kalian menasihati satu kaum yang Allah akan membinasakan mereka di dunia akibat perbuatan maksiat mereka kepadaNya atau akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di akhirat kelak?” maka berkatalah orang-orang yang melarang mereka terhadap perbuatan maksiat kepada Allah, ”kami menasihati mereka dan melarang mereka, supaya kami memiliki alasan (untuk bebas dari tanggung jawab) terkait mereka dan menjalankan kewajiabn yang Allah tetapkan atas kami untuk melakukan amr ma’ruf dan nahi mungkar, dan demi berharap mereka itu akan bertakwa kepada Allah, lalu takut kepadaNYa dan bertaubat dari maksiat mereka kepada tuhan mereka dan tiindakan mereka yang melampaui batas yang telah Allah haramkan atas mereka.”

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

fa lammā nasụ mā żukkirụ bihī anjainallażīna yan-hauna ‘anis-sū`i wa akhażnallażīna ẓalamụ bi’ażābim ba`īsim bimā kānụ yafsuqụn

 165.  Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

Maka ketika orang-orang yang melampaui batas pada hari sabtu mengabaikan peringatan yang tertuju pada mereka dan tetap berjalan di atas penyelewengan dan tindakan melampaui batas di dalam hari itu, serta tidak menerima ajakan golongn yang menyampaikan nasihat, Allah menyelamatkan orang-orang yang melarang (orang lain) berbuat maksiat kepadaNYa, dan menyiksa orang-orang yang berlaku melampaui batas pada hari sabtu itu dengan siksaan pedih lagi dahsyat, disebabkan oleh pelanggaran mereka terhadap perintah Allah dan keluarnya mereka dari ketaatan kepadaNya.

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

fa lammā ‘atau ‘am mā nuhụ ‘an-hu qulnā lahum kụnụ qiradatan khāsi`īn

 166.  Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.

Maka ketika kelompok itu kian pongah dan melewati batas ketentuan yang Allah larang mereka melakukannya, untuk tidak berburu ikan pada hari sabtu, Allah berfirman kepada mereka, ”jadilah kalian kera yang hina lagi dijauhkan dari setiap kebaiakan.” Maka jadilah mereka seperti hal tersebut.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۗ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ ۖ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa iż ta`ażżana rabbuka layab’aṡanna ‘alaihim ilā yaumil-qiyāmati may yasụmuhum sū`al-‘ażāb, inna rabbaka lasarī’ul-‘iqābi wa innahụ lagafụrur raḥīm

 167.  Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika tuhanmu memberitahukan dengan pemberitahuan yang tegas bahwa Dia akan benar-benar mengirim kepada kaum yahudi orang yang akan menimpakan pada mereka siksaan buruk dan kehinaan hingga hari kiamat. Sesungguhnya tuhanmu (wahai rosul) benar-benar amat cepat siksaanNya bagi orang yang berhak mendapatkannya dikarenakan kekafiran dan perbuatan maksiatnya. Dan sesungguhnya Dia maha pengampun dosa-dosa orang-orang yang bertaubat lagi maha penyayang kepada mereka.

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa qaṭṭa’nāhum fil-arḍi umamā, min-humuṣ-ṣāliḥụna wa min-hum dụna żālika wa balaunāhum bil-ḥasanāti was-sayyi`āti la’allahum yarji’ụn

 168.  Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Dan kami membagi-bagi bani israil di bumi in menjadi beberapa golongan. Diantara mereka ada golongan orang-orang yang menjalankan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya. Dan diantara mereka ada golongan yang tidak berbuat banyak kebaikan lagi berbuat zhalim kepada diri mereka, dan kami menguji mereka dengan kenyamanan dalam hidup dan kelapangan dalam rizki, sebagiamana kami juga menguji mereka dengan kesengsaraan dalam hidup, bencana-bencana, dan kesulitan-kesulitan lainnya, demi berharap mereka kembali kepada kataatan kepada tuhan mereka dan bertaubat dari perbuatan-perbuatan maksiat mereka.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

fa khalafa mim ba’dihim khalfuw wariṡul-kitāba ya`khużụna ‘araḍa hāżal-adnā wa yaqụlụna sayugfaru lanā, wa iy ya`tihim ‘araḍum miṡluhụ ya`khużụh, a lam yu`khaż ‘alaihim mīṡāqul-kitābi al lā yaqụlụ ‘alallāhi illal-ḥaqqa wa darasụ mā fīh, wad-dārul-ākhiratu khairul lillażīna yattaqụn, a fa lā ta’qilụn

 169.  Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun”. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?

Maka setelah orang-orang yang kami sebutkan karakter mereka itu, datanglah pengganti yang buruk, mereka mengambil kitab (taurat) dari para pendahulu mereka, lalu membaca dan memahaminya, namun menyelisiihi hukumnya. Mereka mengambil apa yang ditawarkan kepada mereka dari kekayaan dunia, melalui cara-cara nista seperti mengambil uang sogokan dan lainnya. Demikian itu dikarenakan sifat ketamakan dan ambisi (duniawi) yang besar mereka. dan selain itu, mereka juga mengatakan, ”Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kami’, sebagai bentuk angan-angan kosong mereka kepada Allah. Dan apabila kaum yahudi itu didatangi kekayaan yang fana dari berbagai jenis barang haram, mereka akan mengambilnya dan menganggapnya halal bagi mereka, dengan terus larut dalam dosa-dosa mereka dan mengambil apa-apa yang haram. Apakah belum diambil dari mereka janji-janji untuk menegakan taurat dan mengamalkan kandungannya, dan agar mereka tidak berbicara sembarangan atas nama Allah, kecuali kebenaran dan tidak berdusta atas NamaNya. Dan mereka sudah mengetahui kandungan kitabnya, tetapi mereka menyia-nyiakannya dan mengabaikan untuk mengamalkannya dan mereka melanggar pejanjian Allah terhadap mereka dalam perkara tersebut. Padahal negeri akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah, lalu menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi semua laranganNYa. Tidaklah mau memikirkan mereka itu, orang-orang yang mengambil penghasilan denagn cara rendah, bahwa sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu jauh lebih baik dan lebih abadi bagi orang-orang yang bertakwa?

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

wallażīna yumassikụna bil-kitābi wa aqāmuṣ-ṣalāh, innā lā nuḍī’u ajral-muṣliḥīn

 170.  Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.

Dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab (taurat) dan mengerjakan kandungannya berupa keyakinan-keyakinan dan hukum-hukumnya, serta menjaga ibadah shalat dengan seluruh ketentuannya dengan baik dan tidak menunda-nunda waktu-waktunya, maka sesungguhnya Allah akan memberikan balasan pahala atas amal-amal shalih mereka dan tidak menyia-nyiakannya.

۞ وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

wa iż nataqnal-jabala fauqahum ka`annahụ ẓullatuw wa ẓannū annahụ wāqi’um bihim, khużụ mā ātainākum biquwwatiw ważkurụ mā fīhi la’allakum tattaqụn

 171.  Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”.

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika kami mengangkat gunung di atas bani israil, seolah-olah gunung itu awan yang menaungi mereka, dan mereka meyakini bahwa gunung itu akan menimpa mereka bila tidak mau menerima hukum-hukm taurat. Dan kami katakan kepada mereka, ”ambilah apa yang kami berikan kepada kalian dengan kuat.” Maksudnya, laksanakanlah apa (ajaran) yang kami berikan kepada kalian dengan kesungguhan dari kalian.”Dan ingatlah oleh kalian kandungan di dalam kitab kami, berupa perjanjian-perjanjian dan ikrar-ikrar yang telah kami ambil dari kalian untuk patuh menjalankannya;supaya kalian bertakwa kepada tuhan kalian sehingga kalian selamat dari siksaanNya.”

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

wa iż akhaża rabbuka mim banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alā anfusihim, a lastu birabbikum, qālụ balā syahidnā, an taqụlụ yaumal-qiyāmati innā kunnā ‘an hāżā gāfilīn

 172.  Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika tuhanmu mengeluarkan anak keturunan adam dari tulang-tulang sulbi bapak-bapak mereka dan meminta pengakuan mereka tentang keesaan Allah melalui keyakinan yang Ditanamkan dalam fitrah-fitarah mereka, bahwa sesungguhnya Dia adalah tuhan mereka, pecipta mereka, serta penguasa mereka, kemudian mereka mengakui itu dihadapanNya, karena dikhawatirkan mereka akan mengingkari (hakikat tersebut) pada hari kiamat, sehingga tidak mengakui apapun dari keyakinan-keyakinan tersebut, dan mereka akan menyangka bahwa sesungguhnya hujjah Allah belumlah tegak nyata dihadapan mereka, dan sama sekali tidak ada pengetahuan yang mereka miliki tentangnya. Bahkan sebenarnya mereka itu lalai darinya.

أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

au taqụlū innamā asyraka ābā`unā ming qablu wa kunnā żurriyyatam mim ba’dihim, a fa tuhlikunā bimā fa’alal-mubṭilụn

 173.  atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Atau agar kelak mereka tidak mengatakan, ”sesungguhnya nenek moyang kami dahulu berbuat syirik sebelum kami dan mereka juga melanggar perjanjian, lalu kami mencontoh mereka setelah mereka tiada, Maka apakah Egkau akan menyiksa kami akibat tindakan yang diperbuat orang-orang yang telah menghapuskan amal perbuatan mereka dengan menjadikan sekutu bagi Allah dalam peribadahan?”

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa każālika nufaṣṣilul-āyāti wa la’allahum yarji’ụn

 174.  Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Dan sebagaimana kami telah uraikan ayat-ayat secara rinci dan kami terangkan di dalamnya apa yang telah kami timpakan pada umat-uamt terdahulu, demikian juga kami jelaskan ayat-ayat dan kami menerangkannya kepada kaummu (wahai rasul), dengan harapan mereka mau kembali dari perbuatan syirik mereka dan mereka kembali kepada tuhan mereka.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

watlu ‘alaihim naba`allażī ātaināhu āyātinā fansalakha min-hā fa atba’ahusy-syaiṭānu fa kāna minal-gāwīn

 175.  Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

Dan ceritakanlah (wahai rasul), kepada umatmu berita tentang seorang lelaki dari bani israil yang telah kami berikan kepada hujjah-hujjah dan dalil-dalil kami, lalu dia mempelajarinya, kemudian mengingkarinya dan membuangnya di belakang punggungnya, maka setan pun menguasainya, sehingga jadilah dia termasuk kedalam golongan orang-orang yang sesat lagi binasa, disebabkan kedurhakaannya kepada perintah tuhannya dan ketaatannya kepada setan.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

walau syi`nā larafa’nāhu bihā wa lākinnahū akhlada ilal-arḍi wattaba’a hawāh, fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in taḥmil ‘alaihi yal-haṡ au tatruk-hu yal-haṡ, żālika maṡalul-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, faqṣuṣil-qaṣaṣa la’allahum yatafakkarụn

 176.  Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Dan seandainya kami menghendaki meninggikan kedudukannya dengan ayt-ayat yang telah kami berikan kepadanya, niscaya kami benar-benar akan melakukannya, akan tetapi dia lebih cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya dan lebih mengutamakan pemenuhan kesenangan-kesenangan dan syahwat pribadinya daripada (kenikmatan) akhirat, dan menolak untuk taat kepaada Allah dan melanggar perintahNYa. Perumpamaan orang ini adalah seperti anjing, bila kamu usir dia atau kamu biarkan saja dia, dia akan menjulurkan lidahnya dalam dua keadaan tersebut. Demikianlah keadaan orang yang melepaskan diri dari ayat-ayat Allah, dia akan terus berada di atas kekafirannya, meskipun kamu berupaya kuat untuk mendakwahinya ataupun membiarkannya. Sifat tersebut (wahai rasul), adalah sifat mereka kaum yang dulu keadaan mereka sesat sebelum datang kepada mereka petunjuk dan risalah, maka ceritakanlah (wahai rosul) berita-berita umat-umat terdahulu. Maka dalam pemberitaanmu tentang kisah-kisah mereka merupakan sebuah mukjizat yang agung, semoga kaummu mengerti apa yang kamu bawa kepada mereka lalu mereka beriman kepadamu.

سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

sā`a maṡalanil-qaumullażīna każżabụ bi`āyātinā wa anfusahum kānụ yaẓlimụn

 177.  Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.

Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti petunjuk dariNya, lalu mereka mengingkarinya, dan terhadap diri mereka saja, mereka itu berbuat aniaya, disebabkan pendustaan mereka terhadap hujjah-hujjah dan dalil-dalil.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

may yahdillāhu fa huwal-muhtadī, wa may yuḍlil fa ulā`ika humul-khāsirụn

 178.  Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.

Barangsiapa diberi taufik oleh Allah untuk beriman dan taat kepada Nya, maka dia dalah orang yang memperoleh taufik. Dan barngsiapa yang dibiarkan oleh Allah, dan Allah tidak memberinya taufik, maka dialah orang yang merugi lagi binasa. Hidayah dan kesesatan hanya berasal dari Allah semata.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

wa laqad żara`nā lijahannama kaṡīram minal-jinni wal-insi lahum qulụbul lā yafqahụna bihā wa lahum a’yunul lā yubṣirụna bihā wa lahum āżānul lā yasma’ụna bihā, ulā`ika kal-an’āmi bal hum aḍall, ulā`ika humul-gāfilụn

 179.  Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

dan sungguh Kami telah menciptakan sebagai penghuni neraka (yang Allah menimpakan siksaan di dalamnya bagi orang yang berhak untukk menerima siksaan di akhirat) banyak dari golongan jin dan manusia, mereka memiliki hati yang tidak bisa mereka gunakan untuk berpikir, sehingga mereka tidak pernah berharap pahala dan tidak pernah takut siksaanm dan mereka memiliki mata yang tidak bisa dipakai untuk melihat dengannya kepada ayat-ayat Allah dan dalil-dalilNya, dan mereka memiliki telingan yang tidak bisa dipakai untuk mendengar dengannya ayat-ayat kitab Allah sehingga mereka bertafakur dengannya, mereka itu seperti binatang tidak memahami ucapan yang disampaikan kepadanya, dan tidak memahami apa yang mereka lihat, dan tidak bisa berpikir dengan hatinya tentang kebaikan dan keburukan sehingga mampu untuk membedakan diantara keduanya, bahkan mereka lebih sesat daripada binatang itu, karena sesungguhnya binatang bisa melihat apa yang bermanfaat untuknya dan apa yang berbahaya untuknya dan bisa mengikuti penggembalanya, sedangkan mereka kebalikan dari itu, mereka adalah orang-orang yang lalai dari keimanan kepada Allah dan ketaatan kepadaNya.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lillāhil-asmā`ul-ḥusnā fad’ụhu bihā wa żarullażīna yul-ḥidụna fī asmā`ih, sayujzauna mā kānụ ya’malụn

 180.  Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Dan Allah  memiliki nama-nama yang paling baik yang menunjukan kesempurnaan keagunganNya,dan tiap-tiap namaNya adalah baik. Maka mintalah kepadaNya dengan nama-namaNya, apa yang kalian kehendaki. Dan tinggalakanlah orang-orang yang melakukan perubahan dalam nama-namaNya dengan menambahi atau mengurangi atau menyelewengkannya, seperti dengan cara menamai dengannya sesuatu yang tidak pantas menyandangnya, seperti penamaan kaum musyrikin dengannya terhadap tuhan-tuhan mereka atau diadakan untuknya makna yang tidak dikehendaki Allah dan rasulNya. karenanya,mereka akan diberi balasan atas perbuatan-perbuatan buruk mereka yang mereka lakukaan di dunia, seperti kekafiran kepada Allah dan penyelewengan terhadap nama-namaNya serta mendustakan RasulNya.

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

wa mim man khalaqnā ummatuy yahdụna bil-ḥaqqi wa bihī ya’dilụn

 181.  Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.

Dan diantara makhluk yang telah kami ciptakan ada satu golongan yang utama yang berjalan dengan petunjuk kebenaran dan mengajak kepadanya, dan dengan itu mereka memutuskan perkara serta berlaku obyektif terhadap manusia. Mereka itu adalah tokoh-tokoh panutan dalam hidayah dan mereka termasuk orang-orang yang Allah menganugerahkan kepada mereka keimanan dan amal shalih.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

 182.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami lalu mereka mengingkarinya, dan tidak mengambilnya sebagai pelajaran,maka Kami akan membukakan bagi mereka pintu-pintu rizki dan berbagai macam jenis sumber penghidupan di dunia sebagai istidraj (penguluran waktu semata) bagi mereka,sehingga mereka terpedaya dengan keadaan mereka dan meyakini bahwa mereka berada di atas kebenaran, kemudian kami akan menyiksa mereka secara tiba-tiba di esok hari sedang mereka dalam keadaan tidak menyadarinya. Ini adalah siksaan dari Allah atas tindak pendustaan terhadap hujjah-hujjah Allah dan ayat-ayatNya.

وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

wa umlī lahum, inna kaidī matīn

 183.  Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.

Dan aku menangguhkan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami sampai mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka tidak akan tertimpa siksaan, sehingga mereka bertambah kafir dan melampaui batas. Dengan demikian, siksaan mereka akan berlipat ganda. sesungguhnya rencaana hukuman balasanKu adalah mantap, yakni kuat lagi dahsyat, tidak dapat ditolak dengan kekuatan maupun strategi apa pun.

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا ۗ مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ

a wa lam yatafakkarụ mā biṣāḥibihim min jinnah, in huwa illā nażīrum mubīn

 184.  Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.

Apakah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami tidak mau berpikir lalu merenungi dengan akal-akal sehat mereka dan mengetahui bahwa sesungguhnya pada diri Muhammad tidak ada itu gejala kegilaan? tiada lain Dia itu hanyalah seorang pemberi peringatan bagi mereka dari siksaan Allah atas orang-orang yang kafir jika mereka tidak mau beriman, lagi seorang pemberi nasihat yang nyata.

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

a wa lam yanẓurụ fī malakụtis-samāwāti wal-arḍi wa mā khalaqallāhu min syai`iw wa an ‘asā ay yakụna qadiqtaraba ajaluhum fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dahụ yu`minụn

 185.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

Apakah tidak memperhatikan mereka itu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah di dalam kerajaan Allah yang agung dan kekuasaanNYa yang besar di langit dan di bumi, dan tidaklah Allah  menciptakan apa pun di dalamnya, lalu mereka mau mencermatinya dan mengambil pelajaran darinya dan mereka merenungi ajal-ajal mereka yang mungkin saja telah dekat waktunya, lalu mereka binasa dengan membawa kekafiran dan kemudian berpulang menuju siksaan Allah dan hukumanNya yang pedih? dengan ancaman dan peringatan apalagi setelah peringatan dari al-qur’an ini yang akan mereka percayai dan mereka malakukan?

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

may yuḍlilillāhu fa lā hādiya lahụ wa yażaruhum fī ṭugyānihim ya’mahụn

 186.  Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Barangsiapa yang Allah sesatkan dari jalan lurus, maka tidak ada pemberi petunjuk baginya, dan Allah akan meninggalkan mereka dalam kekufuran dan kebingungan dan keraguraguan.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

yas`alụnaka ‘anis-sā’ati ayyāna mursāhā, qul innamā ‘ilmuhā ‘inda rabbī, lā yujallīhā liwaqtihā illā huw, ṡaqulat fis-samāwāti wal-arḍ, lā ta`tīkum illā bagtah, yas`alụnaka ka`annaka ḥafiyyun ‘an-hā, qul innamā ‘ilmuhā ‘indallāhi wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 187.  Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Orang-orang kafir Makkah akan bertanya kepadamu (wahai rasul),tentang hari kiamat, kapan waktu kedatangannya? Katakanlah kepada mereka,”pengetahuan tentang waktu terjadinya hanya ada di sisi Allah, tidak ada yang mengetahui kepastiannya kecuali Dia. pengetahuan tentangnya amat berat, dan tertutup bagi penguhi langit dan bumi. Tidak ada yang mengetahui kapan kejadiannya, baik malaikat yang didekatkan (kepada Allah) maupun nabi yang diutus sekalipun. Kiamat tidak datang kecuali dengan tiba-tiba.” Dan mereka bertanya kepadamu tentangnya lag, seolah-olah engkau memiliki pengetahuan tentangnya, pernah menanyakannya secara detail tentangnya. Katakanlah kepada mereka,”sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada di sisi Allah yang mengetahui perkara ghaib yang ada di langit dan di bumi.” Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa perkara tersebut tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

qul lā amliku linafsī naf’aw wa lā ḍarran illā mā syā`allāh, walau kuntu a’lamul-gaiba lastakṡartu minal-khaīr, wa mā massaniyas-sū`u in ana illā nażīruw wa basyīrul liqaumiy yu`minụn

 188.  Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Katakanlah (wahai rasul), ”aku tidak kuasa mendatangkan kebaikan bagi diriku dan tiadk dapat menolak keburukan yang menimpanya kecuali yang dikehendaki Allah. Dan seandainya aku mengetahui perkara ghaib, pastilah aku menempuh cara-cara yang aku tahu akan memperbanyak kebaikan-kebaikan dan manfaat-manfaat bagi diriku dan tentulah aku dapat menghindari keburukan yang akan terjadi sebelum ia datang. (Namun) aku tidak lain hanyalah seorang utusan Allah. Dia mengutusku kepada kalian. Aku peringatkan kalian dari siksaanNYa dan aku beri kabar gembira dengan pahalaNYa bagi kaum yang mau membenarkan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan mereka mengamalkan syari’atNya.”

۞ هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

huwallażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa ja’ala min-hā zaujahā liyaskuna ilaihā, fa lammā tagasysyāhā ḥamalat ḥamlan khafīfan fa marrat bih, fa lammā aṡqalad da’awallāha rabbahumā la`in ātaitanā ṣāliḥal lanakụnanna minasy-syākirīn

 189.  Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Dia lah Dzat yang menciptakan kalian (wahai sekalian manusia), dari satu jiwa, yaitu Adam  dan darinya Dia menciptakan istrinya hawaa, supaya dia merasa nyaman dan memperoleh ketenangan bersamanya. Ketika dia menyetubuhi istrinya, (maksudnya sepasang suami istri dari keturunan adam), lalu istrinya mengandung air (bakal kandungan) yang masih ringan, dia berdiri dan duduk bersamanya, sampai menyempurnakan usia kandungan. Ketika masa persalian sudah dekat dan dia merasa kian berat, sepasang suami istri itu berdoa memohon kepada tuhan mereka, ”sesungguhnya apabila engkau memberikan kepada kami seorang anak manusia yang normal lagi shalih, pastilah kami benar-benar termasuk orang-orang yang bersyukur kepadaMU atas apa yang engkau berika bagi kami berupa anak shalih.”

فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

fa lammā ātāhumā ṣāliḥan ja’alā lahụ syurakā`a fīmā ātāhumā, fa ta’ālallāhu ‘ammā yusyrikụn

 190.  Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Sesudah Allah memberikan rizki kepada pasangan suami istri tersebut berupa anak shalih, mereka berdua justru mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap anak yang hanya Allah sendiri yang menciptakannya. Mereka menjadikan peribadahannya kepada selain Allah. Maka Maha tinggi Allah dan Maha suci dari segala sekutu.

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

a yusyrikụna mā lā yakhluqu syai`aw wa hum yukhlaqụn

 191.  Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.

Apakah pantas kaum musyrikin menyekutukan dalam peribadahan kepada Allah bersama makhluk-makhlukNya, padahal mereka tidak berkuasa untuk menciptakan sesuatupun, bahkan sebaliknya mereka adalah makhluk-makhluk yang diciptakan?

وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

wa lā yastaṭī’ụna lahum naṣraw wa lā anfusahum yanṣurụn

 192.  Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu tidak dapat memberi pertolongan.

Dan mereka tidak mampu untuk menolong para penyembahnya atau menyingkirkan keburukan dari dirinya sendiri.Jika mereka tidak dapat menciptakan sesuatu, bahkan sebaliknya justru diciptakan, dan tidak mampu menolak keburukan dari para penyembahnya dan tidak juga dari dirinya sendiri, maka bagaimana pantas mereka dijadikan tuhan-tuhan bersama Allah? Sesungguhnya tindakan ini tiada lain merupakan tindakan kezhaliman yang paling besar dan kebodohan yang paling parah.

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمْ ۚ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ

wa in tad’ụhum ilal-hudā lā yattabi’ụkum, sawā`un ‘alaikum a da’autumụhum am antum ṣāmitụn

 193.  Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu herdiam diri.

Dan apabila kalian wahai kaum musyrikin, menyeru berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah menuju petunjuk, mereka tidak mendengarkan seruan kalian dan tidak mengikuti kalian. Sama saja baginya antara seruan kalian dan diamnya kalian. Sebab sesungguhnya berhala-berhala itu tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat, tidak bisa memberi petunjuk dan tidak dapat ditunjukan.

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ ۖ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

innallażīna tad’ụna min dụnillāhi ‘ibādun amṡālukum fad’ụhum falyastajībụ lakum ing kuntum ṣādiqīn

 194.  Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.

Sesunggunya apa yang kalian sembah selain Allah (wahai kaum musyrikin), mereka itu dibawah kekuasaan tuhan kalian sebagaimana kalian pun ada dibawah kekuasanNya, maka jika kalian seperti yang kalian kalim adalah orang-orang yang benar ucapannya bahwa berhala-berhala itu berhak mendapatkan perlakuan sedikit saja untuk disembah, maka berdo’alah kepada mereka dan hendaklah mereka mengabulkan permintaan kalian dan mewujudkan keinginan-keinginan kalian. Kalau tidak, maka menjadi jelas bagi kalian bahwa sesungguhnya kalian bohong dan mengada-adakan kedustaan atas nama Allah dengan kedustaan yang paling besar.

أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۗ قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ

a lahum arjuluy yamsyụna bihā am lahum aidiy yabṭisyụna bihā am lahum a’yunuy yubṣirụna bihā am lahum āżānuy yasma’ụna bihā, qulid’ụ syurakā`akum ṡumma kīdụni fa lā tunẓirụn

 195.  Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”.

Apakah tuhan-tuhan dan berhala-berhala tersebut memiliki kaki yang dengan itu mereka berjalan bersama kalian untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian? apakah mereka memiliki tangan-tangan yang dapat mereka pergunakan untuk menepis (bahaya) dari kalian dan menolong kalian dari orang yang menginginkan keburukan dan mara bahaya pada kalian? apakah mereka memiliki mata yang mereka melihat dengannya, lalu mereka mengenalkan kepada kalian apa yang dapat mereka lihat langsung dan saksikan dari perkara-perkara ghaib dari kalian yang tidak dapat kalian saksikan? Apakah mereka memiliki telinga untuk mendengar, lalu mereka mengabarkan kepada kalian hal-hal yang belum pernah kalian dengar? maka apabila tuhan-tuhan yang kalian sembah itu tidak memiliki sesuatu pun dari indra-indra ini, maka apa alasan kalian menjadikan penyembah kalian kepada mereka, padahal mereka tidak memiliki apa pun dari hal-hal tersebut yang dipergunakan untuk mendatangkan kemanfaatan atau menolak mudarat? katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin dari para penyembah berhala-berhala, ”panggilah tuhan-tuhan kalian yang kalian jadikan sekutu bagi Allah dalam peribadahan, kemudian bergabunglah untuk menimpakan keburukan dan bahaya kepadaku.Janganlah kalian menunda itu kepadaku dan segeralah kalian lakukan itu. Sesungguhnya aku tidak peduli kepada tuhan-tuhan kalian, karena ketergantunganku kepada perlindungan Allah semata.

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

inna waliyyiyallāhullażī nazzalal-kitāba wa huwa yatawallaṣ-ṣāliḥīn

 196.  Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Sesungguhnya pelindunganku adalah Allah yang mengurus penjagaan dan bantuan bagiku. Dia lah Dzat yang menurunkan al-qur’an kepadaku dengan sebenarnya, dan Dia melindungi orang-orang shalih dari hamba-hambaNya dan menolong mereka atas musuh-musuh dan tidak mengabaikan mereka.

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

wallażīna tad’ụna min dụnihī lā yastaṭī’ụna naṣrakum wa lā anfusahum yanṣurụn

 197.  Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Sedangkan apa yang kalian seru (wahai kaum musyrikin) selain Allah dari tuhan-tuhan kalian, mereka tidak sanggup menolong kalian dan tidak pula berkuasa untuk menolong diri mereka sendiri.

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَسْمَعُوا ۖ وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

wa in tad’ụhum ilal-hudā lā yasma’ụ, wa tarāhum yanẓurụna ilaika wa hum lā yubṣirụn

 198.  Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-herhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.

Dan apabila kalian menyeru (wahai kaum musyrikin) tuhan-tuhan kalian untuk istiaqamah dan berjalan lurus, niscaya mereka tidak mendengar seruan kalian.” Dan kamu bisa lihat (wahai rasul) tuhan-tuhan kaum musyrikin dari para penyembah berhala-berhala, menatap kamu seolah-olah melihat kamu padahal mereka itu tidak dapat melihat. Sebab sesunggguhnya mereka tidak mempunyai penglihatan dan tidak memiliki mata hati.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

khużil-‘afwa wa`mur bil-‘urfi wa a’riḍ ‘anil-jāhilīn

 199.  Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Terimalah (wahai rasul kamu juga umatmu), apa yang berlebih dari perilaku-perilaku manusia dan tindak-tanduk mereka, dan janganlah kamu menuntut dari mereka hal-hal yang memberatkan mereka agar mereka tidak menjauh. Dan perintahlah (orang) untuk bertutur kata yang baik dan perbuatan yang indah, dan berpalinglah dari setiap penentangan orang-orang yang bodoh dan duduk-duduk bersama orang-orang bodoh lagi dungu.

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta’iż billāh, innahụ samī’un ‘alīm

 200.  Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah

Dan apa yang menimpamu (wahai rasul) dari setan berupa amarah dan atau kamu merasakan gangguannya dalam bentuk was-was dan pengikisan semangat dari kebaikan atau dorongan berbuat keburukan, maka berlindunglah kepada Allah dengan memohon perlindungan kepadaNya. Sesungguhnya Dia maha mendengar setiap ucapan lagi maha mengetahui semua perbuaatan.

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

innallażīnattaqau iżā massahum ṭā`ifum minasy-syaiṭāni tażakkarụ fa iżā hum mubṣirụn

 201.  Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa kepada Allah dari hamba-hambaNya, lalu mereka takut terhadap siksaanNYa, dengan cara menjalankan kewajiban-kewajiaban dan menjauhi larangan-larangan, dan apabila ada sesuatu muncul dari bisikan setan yang menimpa mereka, mereka langsung ingat apa yang Allah wajibkan atas mereka untuk taat dan bertaubat kepadaNYa, kemudian mereka berhenti dari maksiat kepada Allah berdasarkan pengetahuan yang benar, memegangi perintah Allah dan mendurhakai ajakan setan.

وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ

wa ikhwānuhum yamuddụnahum fil-gayyi ṡumma lā yuqṣirụn

 202.  Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).

Dan saudara-saudara setan, yaitu orang-orang yang gemar berbuat dosa dari kalangan manusia yang sesat, setan dari bangsa jin mendukung mereka dalam menyesatkan dan membelokan jalan. Dan setan-setan dari bangsa jin tidak akan mengendorkan usaha dalam mendukung setan dari bangsa manusia dalam membelokan jalan. Dan setan-setan dari bangsa manusia tidak mengurangi tenaga dalam menjalankan bisikan yang di hembuskan oleh setan-setan dari bangsa jin.

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ قَالُوا لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي ۚ هَٰذَا بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa iżā lam ta`tihim bi`āyating qālụ lau lajtabaitahā, qul innamā attabi’u mā yụḥā ilayya mir rabbī, hāżā baṣā`iru mir rabbikum wa hudaw wa raḥmatul liqaumiy yu`minụn

 203.  Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Dan apabila kamu (wahai rasul), tidak datang kepada kaum musyrikin membawa satu ayat yang menunjukan kebenaranmu, mereka akan berkomentar, ”mengapa kamu tidak mengadakan dan menciptakannya sendiri?” katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”itu bukan wewenangku dan akau tidak boleh melakukannya. Sebab sesungguhnya Allah hanyalah memerintahkannku untuk mengkuti wahyu yang diwahyukan kepadaku dari sisiNya. Yaitu al-qur’an yang aku bacakan kepada kalian berisi hujjah-hujjah dan bukti-bukti nyata dari tuhan kalian dan sebagai penjelasan yang memberi petunjuk bagi kaum mukminin menuju jalan lurus serta rahmat yang dengannya Allah mencurahkan rahmatNYa kepada hamba-hambaNya yang beriman.”

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa iżā quri`al-qur`ānu fastami’ụ lahụ wa anṣitụ la’allakum tur-ḥamụn

 204.  Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Dan apabila al-qur’an dibacakan, maka dengarkanlah ia dengan baik (wahai sekalian manusia), dan diamlah untuk memperhatikannya supaya kalian dapat memahminya dengan harapan Allah akan merahmati kalian dengannya.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

ważkur rabbaka fī nafsika taḍarru’aw wa khīfataw wa dụnal-jahri minal-qauli bil-guduwwi wal-āṣāli wa lā takum minal-gāfilīn

 205.  Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Dan ingatlah tuhanmu (wahai rasul), dalam jiwamu dengan khusyu dan merendahkan diri kepada Allah, penuh rasa takut dan malu terhadapNya. Dan berdo’alah kepadaNya dengan suara lirih antara keras dan pelan di permulaan hari dan penghujungnya. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai dari berdzikir Allah dan sibuk bermain-main hingga melupakannya dalam seluruh waktu mereka.

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ۩

innallażīna ‘inda rabbika lā yastakbirụna ‘an ‘ibādatihī wa yusabbiḥụnahụ wa lahụ yasjudụn

 206.  Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi tuhanmu tidak sombong untuk beribadah kepada Allah. Bahkan mereka tunduk patuh terhadap perintah-perintahNya, dan bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, dan menyucikanNya dari segala hal yang tidak pantas bagiNya. Dan hanya kepadaNya yang tidak ada sekutu bagiNya, mereka itu bersujud.

Related: Surat al-Anfal Arab-Latin, Surat at-Taubah Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Yunus, Terjemahan Tafsir Surat Hud, Isi Kandungan Surat Yusuf, Makna Surat ar-Ra’d

Baca Quran Online

Al Qur an Surat Al Araf(7):189 Surah Al-hijr Ayat 26