Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Thaha

طه

Arab-Latin: ṭā hā

Terjemah Arti:  1.  Thaahaa.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Tha Ha). Keterangan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (seperti ini) telah berlalu di muka pada permulaan surat al- Baqarah.

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

mā anzalnā ‘alaikal-qur`āna litasyqā

 2.  Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Kami tidak menurunkan kepadamu (wahai Rasul) al-Qur’an ini agar kamu menjadi celaka disebabkan ketidakmampuanmu mengamalkannya.

إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ

illā tażkiratal limay yakhsyā

 3.  tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),

Akan tetapi, Kami menurunkannya sebagai nasihat (pelajaran) agar dapat mengambil pelajaran dengannya orang-orang yang takut kepada siksaan Allah, lalu dia menghindarinya dengan menjalankan kewajiban-kewajiban dan menjauhi apa-apa yang diharamkan.

تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

tanzīlam mim man khalaqal-arḍa was-samāwātil-‘ulā

 4.  yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

Al-Qur’an ini diturunkan dari Allah yang telah menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

ar-raḥmānu ‘alal-‘arsyistawā

 5.  (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

(Yaitu) Yang Maha Pengasih, Yang bersemayam di atas Arasy. Maksudnya, tinggi dan berada di atas (nya), bersemayam yang sesuai dengan keagungan dan kebesaranNYa.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ

lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa mā bainahumā wa mā taḥtaṡ-ṡarā

 6.  Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.

BagiNya semua yang ada di langit, segala yang ada di bumi dan dan apa-apa yang ada di antara keduanya serta semua yang ada di bawah bumi, sebagai ciptaan, kepunyaan dan di bawah pengaturanNya.

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

wa in taj-har bil-qauli fa innahụ ya’lamus-sirra wa akhfā

 7.  Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.

Dan bila engkau mengeraskan ucapanmu (wahai Rasul) sehingga menampakannya atau menyembunyikannya, sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya sama sekali. Dia mengetahui sesuatu yang dirahasiakan dan apa yang lebih tersembunyi dari itu yang dibisikkan hatimu.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

allāhu lā ilāha illā huw, lahul-asmā`ul-ḥusnā

 8.  Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Allah, Dia-lah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia. bagiNya Nama-nama yang sempurna dalam keindahannya.

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ

wa hal atāka ḥadīṡu mụsā

 9.  Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?

Dan apakah telah sampai kepadamu, (wahai Rasul) berita tentang Musa bin Imran? Dan dia datang dari Negri Madyan menuju ke Mesir.

إِذْ رَأَىٰ نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى

iż ra`ā nāran fa qāla li`ahlihimkuṡū innī ānastu nāral la’allī ātīkum min-hā biqabasin au ajidu ‘alan-nāri hudā

 10.  Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”.

Tatkala di kegelapan malam, dia melihat api yang menyala-nyala, maka dia berkata kepada istrinya, “Tunggulah di sini, aku melihat api. Mudah-mudahan aku bisa kembali membawa nyala api yang dapat kalian pergunakan untuk menghangatkan diri dan menghidupkan nyala api lain dengannya, atau mungkin aku menjumpai seorang penunjuk jalan yang mengarahkan arah jalan yang benar”

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ

fa lammā atāhā nụdiya yā mụsā

 11.  Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

innī anā rabbuka fakhla’ na’laīk, innaka bil-wādil-muqaddasi ṭuwā

 12.  Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.

11-12. Ketika Musa mendatangi api itu, Allah memanggilnya, “Wahai Musa Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka lepaslah dua terompahmu. Sesungguhnya engkau sekarang ini berada di lembah Thuwa yang Aku berkahi.” Ini sebagai persiapan untuk bermunajat kepada Tuhannya

وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ

wa anakhtartuka fastami’ limā yụḥā

 13.  Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

“Dan sesungguhnya Aku telah memilihmu, wahai Musa, untuk mengemban risalahKU, maka dengarkanlah dengan baik apa yang akan diwahyukan kepadamu dariKu.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa’budnī wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī

 14.  Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Aku, tiada sekutu bagiKu, maka sembahlah Aku saja, dan tegakkanlah shalat untuk mengingatKu di dalamnya.

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ

innas-sā’ata ātiyatun akādu ukhfīhā litujzā kullu nafsim bimā tas’ā

 15.  Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

Sesungguhnya Hari Kiamat yang umat manusia akan dibangkitkan padanya akan tiba dan pasti akan datang waktu kejadiannya. Aku hampir merahasiakannya terhadap DiriKu, bagaimana mungkin ada seseorang dari kalangan makhluk yang mengetahuinya? Supaya tiap-tiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya di dunia; perbuatan yang baik maupun yang buruk.

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ

fa lā yaṣuddannaka ‘an-hā mal lā yu`minu bihā wattaba’a hawāhu fa tardā

 16.  Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”.

maka sekali-kali jangan sampai kamu dipalingkan (wahai musa) dari beriman kepadanya dan mempersiapkan diri untuk menyongsongnya, oleh orang-orang yang tidak beriman terhadap terjadinya dan tidak beramal untuk menyongsongnya dan mengikuti hawa nafsunya, lalu dia mendustakannya sehingga menjadi binasa.”

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ

wa mā tilka biyamīnika yā mụsā

 17.  Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?

“Apakah yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?”

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

qāla hiya ‘aṣāy, atawakka`u ‘alaihā wa ahusysyu bihā ‘alā ganamī wa liya fīhā ma`āribu ukhrā

 18.  Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.

Musa menjawab, “Ia adalah tongkatku, aku bertumpu padanya saat berjalan dan aku gunakan memukul pepohonan agar kambing-kambingku memakan dari daun-daunnya yang berjatuhan, dan ada manfaat-manfaat lain bagiku padanya.”

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ

qāla alqihā yā mụsā

 19.  Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!”

Allah berfirman kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu.”

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ

fa alqāhā fa iżā hiya ḥayyatun tas’ā

 20.  Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

Maka Musa melemparkannya di atas permukaan tanah, maka dengan kehendak Allah tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular hidup yang bergerak cepat. Musa menyaksikan suatu kejadian yang sangat aneh itu dan membalikkan badan untuk lari.

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ

qāla khuż-hā wa lā takhaf, sanu’īduhā sīratahal-ụlā

 21.  Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,

وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ

waḍmum yadaka ilā janāḥika takhruj baiḍā`a min gairi sū`in āyatan ukhrā

 22.  dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain (pula),

21-22. Allah berfirman kepada Musa, “Ambillah ular itu dan jangan takut kepadanya. Kami akan mengembalikkan wujudnya menjadi tongkat lagi, sebagaimana keadannya semula. Dan kepitlah tanganmu ke arah sisi tubuhmu (ketiak) di bawah lengan atasmu, maka akan keluar menjadi berwarna putih seperti salju, bukan karena penyakit kusta, untuk menjadi tanda lain kebenaran kenabianmu.

لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

linuriyaka min āyātinal-kubrā

 23.  untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar,

Kami lakukan itu, supaya Kami dapat memperlihatkan kepadamu (wahai Musa) sebagian dari bukti-bukti besar yang menunjukkan Kuasa Kami, dan kebesaran kekuasaan Kami serta kebenaran risalahmu.

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

iż-hab ilā fir’auna innahụ ṭagā

 24.  Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas”.

Pergilah engkau (wahai Musa) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah berbuat melampaui batas kewajaran sebagai manusia dan membangkang terhadap Tuhannya. Maka serulah dia untuk mentauhidkan Allah dan beribadah kepadaNya.”

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī

 25.  Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

wa yassir lī amrī

 26.  dan mudahkanlah untukku urusanku,

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي

waḥlul ‘uqdatam mil lisānī

 27.  dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

يَفْقَهُوا قَوْلِي

yafqahụ qaulī

 28.  supaya mereka mengerti perkataanku,

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي

waj’al lī wazīram min ahlī

 29.  dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,

هَارُونَ أَخِي

hārụna akhī

 30.  (yaitu) Harun, saudaraku,

اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي

usydud bihī azrī

 31.  teguhkanlah dengan dia kekuatanku,

وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

wa asyrik-hu fī amrī

 32.  dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku,

كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا

kai nusabbiḥaka kaṡīrā

 33.  supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau,

وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا

wa nażkuraka kaṡīrā

 34.  dan banyak mengingat Engkau.

إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا

innaka kunta binā baṣīrā

 35.  Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami”.

25-35. Musa berkata, “Wahai Tuhanku, luaskanlah untukku dadaku, permudahlah bagiku urusanku, Lepaskanlah kekeluan pada lidahku dengan tutur kata yang lancar, Agar mereka memahami perkataanku, Dan adakanlah penolong bagiku dari keluargaku, Yaitu Harun saudaraku, Kuatkanlah aku dengannya dan teguhkanlah kekuatanku dengannya, Dan jadikanlah dia partner bersamaku dalam kenabian dan penyampaian risalah (Mu), Agar kami bisa menyucikanMu dengan bertasbih banyak-banyak, Dan kami banyak mengingatMu, dan kemudian kami memujiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat kami, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiMu dari perbuatan-perbuatan kami.”

قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَىٰ

qāla qad ụtīta su`laka yā mụsā

 36.  Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa”.

Allah berfirman, “Sungguh Kami telah mengabulkan apa saja yang kamu minta, wahai Musa.

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَىٰ

wa laqad manannā ‘alaika marratan ukhrā

 37.  Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain,

Dan sungguh Kami telah melimpahkan kepadamu (wahai Musa) sebelum nikmat ini berupa nikmat lain, yaitu ketika kamu masih menyusu, lalu Kami selamatkan kamu dari kekejaman Fir’aun.

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰ

iż auḥainā ilā ummika mā yụḥā

 38.  yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan,

Yaitu ketika Kami memberikan ilham kepada ibumu,

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي

aniqżi fīhi fit-tābụti faqżi fīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya`khuż-hu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah, wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna’a ‘alā ‘ainī

 39.  Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,

Letakkanlah putramu, Musa, setelah kelahirannya, di dalam peti, lalu hanyutkanlah dia ke sungai Nil. Maka (aliran) sungai Nil akan mendamparkannya ke tepian sungai, sehingga nantinya akan diambil oleh Fir’aun, musuhKu dan musuhnya.’ Dan Aku telah menurunkan kasih sayang dariKu padamu sehingga kamu menjadi orang yang dicintai diantara hamba-hamba dan agar kamu diasuh di bawah pengawasan mataKu dan dalam penjagaanKu.” Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat “Mata” bagi Allah, yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaanNya.

إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ مَنْ يَكْفُلُهُ ۖ فَرَجَعْنَاكَ إِلَىٰ أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ۚ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا ۚ فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ

iż tamsyī ukhtuka fa taqụlu hal adullukum ‘alā may yakfuluh, fa raja’nāka ilā ummika kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzan, wa qatalta nafsan fa najjaināka minal-gammi wa fatannāka futụnā, fa labiṡta sinīna fī ahli madyana ṡumma ji`ta ‘alā qadariy yā mụsā

 40.  (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa,

Dan Kami telah melimpahkan kepadamu kenikmatan, yaitu ketika saudarimu berjalan mengikutimu, kemudian berkata kepada orang-orang yang memungutmu (dari sungai), “Apakah kalian mau aku tunjukkan kepada orang (wanita) yang akan memeliharanya dan menyusuinya bagi kalian?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu setelah engkau berada di tangan Fir’aun; agar jiwa ibumu menjadi tenang karena engkau selamat dari tenggelam dan dibunuh, dan agar dia tidak bersedih hati lantaran kehilangan dirimu. Dan kamu pernah membunuh seseorang lelaki dari suku Qibthi (mesir) tanpa kesengajaan, lalu Kami menyelamatkanmu dari kegundahan akibat perbuatanmu tersebut dan rasa takut dibunuh. Dan Kami telah mengujimu dengan suatu cobaan. Maka kamu pun keluar dalam keadaan takut menuju negeri Madyan. Maka kamu tinggal beberapa tahun bersama mereka. Kemudian kamu datang dari Madyan pada waktu yang sudah Kami tentukan untuk mengangkatmu sebagai Rasul dengan kedatangan yang sesuai dengan takdir Allah dan kehendakNya. Dan semua perkara semuanya merupakan milik Allah.

وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي

waṣṭana’tuka linafsī

 41.  dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.

Dan Aku telah menganugrahkan kepadamu (wahai Musa), nikmat-nikmat ini sebagai pilihan dariKu terhadap dirimu dan sebagai pilihan untuk mengemban risalahKu dan menyampaikan ajaran dariKu, serta melaksanakan perintah dan laranganKu.

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي

iż-hab anta wa akhụka bi`āyātī wa lā taniyā fī żikrī

 42.  Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku;

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

iż-habā ilā fir’auna innahụ ṭagā

 43.  Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā

 44.  maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

42-44. Pergilah (wahai Musa) engkau bersama saudaramu, Harun, dengan membawa ayat-ayatKu yang menunjukkan keesaanKu dan kesempurnaan kuasaKu, serta kebenaran risalahmu, dan janganlah kalian berdua menjadi lemah untuk senantiasa mengingatKU. Pergilah kalian berdua bersama-sama kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia telah berbuat melampaui batas dalam kekafiran dan kezhaliman. Dan katakanlah oleh kalian berdua kepadanya ucapan yang lembut; mudah-mudahan dia ingat atau takut kepada Tuhannya.”

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَىٰ

qālā rabbanā innanā nakhāfu ay yafruṭa ‘alainā au ay yaṭgā

 45.  Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”.

Musa dan Harun berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir dia akan segera melancarkan siksaan kepada kami atau justru bertambah membangkang terhadap kebenaran, sehingga tidak akan menerimanya.”

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

qāla lā takhāfā innanī ma’akumā asma’u wa arā

 46.  Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ ۖ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ

fa`tiyāhu fa qụlā innā rasụlā rabbika fa arsil ma’anā banī isrā`īla wa lā tu’ażżib-hum, qad ji`nāka bi`āyatim mir rabbik, was-salāmu ‘alā manittaba’al-hudā

 47.  Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَىٰ مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

innā qad ụḥiya ilainā annal-‘ażāba ‘alā mang każżaba wa tawallā

 48.  Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.

46-48. Allah berfirman kepada Musa dan Harun, “Janganlah kalian berdua takut kepada Fir’aun. Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, mendengar ucapan kalian berdua dan melihat tindakan-tindakan kalian berdua. Maka tetaplah pergi kepadanya dan katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan kepadamu dari Tuhanmu, agar kamu membebaskan orang-orang Bani Israil, dan janganlah membebani mereka pekerjaan-pekerjaan yang tidak dapat mereka pikul. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti mukjizat yang amat luar biasa dari Tuhanmu yang menunjukkan kebenaran kami dalam dakwah kami ini. Dan keselamatan dari siksaan Allah tercurah bagi orang yang mengikuti petunjukNya.’ Sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan kepada kami bahwa siksaanNYa itu ditimpakan atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling dari dakwah dan ajaran syariatNya.

قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَىٰ

qāla fa mar rabbukumā yā mụsā

 49.  Berkata Fir’aun: “Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?.

Fir’aun berkata kepada mereka berdua (sebagai bentuk pengingkaran), “Siapakah gerangan Tuhan kalian berdua,wahai Musa?”

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

qāla rabbunallażī a’ṭā kulla syai`in khalqahụ ṡumma hadā

 50.  Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.

Musa berkata kepadanya, “Tuhan kami, ialah Yang telah memberikan segala sesuatu kepada makhluknya bentuk ciptaan yang sesuai dengannya yang menjadi petunjuk keindahan ciptaanNya dan kemudian memberi petunjuk kepada tiap-tiap makhluk untuk mengetahui cara memanfaatkan semua yang telah diciptakan Allah baginya. “

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ

qāla fa mā bālul-qurụnil-ụlā

 51.  Berkata Fir’aun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?”

Fir’aun berkata kepada Musa (sebagai bentuk mencari-cari kesalahan dan memprovokasi emosi), “Bagaimanakah nasib umat-umat manusia terdahulu? Sesungguhnya berita (penduduk) pada masa-masa yang telah berlalu? Sesungguhnya mereka telah mendahului kami dengan sikap pengingkaran dan kekufuran.”

قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى

qāla ‘ilmuhā ‘inda rabbī fī kitāb, lā yaḍillu rabbī wa lā yansā

 52.  Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa;

Musa berkata kepada Fir’aun, “apa yang kamu tanyakan bukanlah termasuk dari apa yang kami mengetahuinya, karena sesungguhnya Pengetahuan mengenai umat-umat di masa itu terkait apa yang mereka perbuat dari kekafiran mereka itu ada di sisi Tuhanku di Lauhul Mahfuzh. Sedang aku tidak punya pengetahuan tentang itu sama sekali. Tuhanku tidaklah akan salah dalam perbuatan-perbuatan dan ketetapan hukum-hukumNya, dan Dia tidak lupa akan sesuatu yang telah Dia ketahui darinya.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ

allażī ja’ala lakumul-arḍa mahdaw wa salaka lakum fīhā subulaw wa anzala minas-samā`i mā`ā, fa akhrajnā bihī azwājam min nabātin syattā

 53.  Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.

Dia-lah yang menjadikan bagi kalian bumi yang mudah dimanfaatkan oleh kalian. Dan Dia menjadikan di dalamnya jalan-jalan yang banyak, dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai macam tumbuhan yang berbeda-beda.

كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ

kulụ war’au an’āmakum, inna fī żālika la`āyātil li`ulin-nuhā

 54.  Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

Dan makanlah (wahai sekalian manusia) dari apa-apa yang baik-baik yang telah Kami tumbuhkan bagi kalian, dan gembalakanlah hewan-hewan dan ternak-ternak kalian. Sesungguhnya pada hal-hal yang disebutkan itu benar-benar terdapat tanda-tanda yang menunjukkan Kuasa Allah dan seruan untuk mengesakan Allah (dalam Dzat dan SifatNya) dan mengesakanNya dengan ibadah bagi orang yang memiliki akal yang selamat.

۞ مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

min-hā khalaqnākum wa fīhā nu’īdukum wa min-hā nukhrijukum tāratan ukhrā

 55.  Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain,

Dari bumi Kami menciptakan kalian (wahai sekalian manusia) dan kedalamnya Kami akan mengembalikan kalian setelah kematian kalian, dan dari dalam bumi, Kami akan mengeluarkan kalian hidup-hidup dalam kehidupan yang lain lagi untuk menghadapi proses perhitungan amal perbuatan dan pembalasannya.

وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آيَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَىٰ

wa laqad araināhu āyātinā kullahā fa każżaba wa abā

 56.  Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir’aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).

Dan sesungguhnya Kami telah mempertontonkan kepada Fir’aun bukti-bukti dan hujjah-hujjah Kami seluruhnya yang menunjukkan uluhiyah dan Kuasa Kami serta kebenaran risalah Musa. Tapi dia mendustakannya dan menolak untuk menerima kebenaran.

قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَىٰ

qāla a ji`tanā litukhrijanā min arḍinā bisiḥrika yā mụsā

 57.  Berkata Fir’aun: “Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa?

Fir’aun berkata, “Apakah kamu datang kepada kami (wahai Musa) untuk mengusir kami dari negeri-negeri kami dengan sihirmu ini?

فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوًى

fa lana`tiyannaka bisiḥrim miṡlihī faj’al bainanā wa bainaka mau’idal lā nukhlifuhụ naḥnu wa lā anta makānan suwā

 58.  Dan kamipun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).

Kami akan mendatangkan kepadamu sihir yan serupa dengan sihirmu. Maka buatkanlah waktu pertemuan yang ditentukan antara kami dan kamu, yang tidak kami pungkiri dan tidak kamu ingkari di satu tempat yang lapang lagi netral antara kami dan kamu.”

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

qāla mau’idukum yaumuz-zīnati wa ay yuḥsyaran-nāsu ḍuḥā

 59.  Berkata Musa: “Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik”.

Musa berkata kepada Fir’aun, “Waktu pertemuan kalian (dengan kami) adalah pada hari raya, ketika orang-orang berdandan menghiasi diri dan kemudian mereka berkumpul dari seluruh penjuru dan sudut kota pada waktu Dhuha.”

فَتَوَلَّىٰ فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهُ ثُمَّ أَتَىٰ

fa tawallā fir’aunu fa jama’a kaidahụ ṡumma atā

 60.  Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang.

Maka Fir’aun berpaling mengabaikan ajakan yang dibawa Musa kepadanya berupa kebenaran. Lalu dia mengumpulkan tukang-tukang sihirnya dan setelah itu dia datang pada waktu pertemuan (yang telah disepakati).

قَالَ لَهُمْ مُوسَىٰ وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ

qāla lahum mụsā wailakum lā taftarụ ‘alallāhi każiban fa yus-ḥitakum bi’ażāb, wa qad khāba maniftarā

 61.  Berkata Musa kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.

Musa berkata kepada para tukang sihir Fir’aun untuk menasihati mereka, “Waspadalah kalian. Janganlah kalian membuat-buat kedustaan atas Nama Allah, niscaya Dia akan memusnahkan dan membinasakan kalian sampai habis dengan siksaan yang berasal dariNya. Sesungguhnya amat merugi orang yang mengadakan kedustaan atas Nama Allah.”

فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَىٰ

fa tanāza’ū amrahum bainahum wa asarrun-najwā

 62.  Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka).

قَالُوا إِنْ هَٰذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ

qālū in hāżāni lasāḥirāni yurīdāni ay yukhrijākum min arḍikum bisiḥrihimā wa yaż-habā biṭarīqatikumul-muṡlā

 63.  Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَىٰ

fa ajmi’ụ kaidakum ṡumma`tụ ṣaffā, wa qad aflaḥal-yauma manista’lā

 64.  Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. dan sesungguhnya beruntunglah oran yang menang pada hari ini.

62-64. Maka para tukang sihir itu saling tarik menarik dalam urusan mereka dan berbicara dengan percakapan rahasia. Mereka berkata, “Sesungguhnya Musa dan Harun adalah tukang sihir yang ingin mengusir kalian dari negeri kalian melalui keahlian sihir mereka dan menyingkirkan keahlian sihir besar yang ada pada kalian. Maka matangkanlah strategi tipu daya kalian dan kuatkanlah tekad kalian untuk tujuan tersebut tanpa ada silang pendapat diantara kalian dan kemudian datanglah kalian dengan berbaris satu barisan, dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kalian dengan serentak, agar kalian bisa membelalakkan mata semua manusia dan mengalahkan sihir Musa dan saudaranya (Harun). Sesungguhnya hari ini telah memenangkan keinginannya orang yang berada di atas lawannya, sehingga dapat mengalahkan dan mempercundanginya.”

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ

qālụ yā mụsā immā an tulqiya wa immā an nakụna awwala man alqā

 65.  (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”

Para tukang sihir berkata, “Wahai Musa, lemparkanlah tongkatmu dahulu atau kami yang memulai untuk melemparkan apa yang kami miliki?”

قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ

qāla bal alqụ, fa iżā ḥibāluhum wa ‘iṣiyyuhum yukhayyalu ilaihi min siḥrihim annahā tas’ā

 66.  Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.

Musa berkata kepada mereka, “Silahkan kalian lemparkan apa yang ada pada kalian dahulu.” Maka mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Akibatnya, lantaran saking kuatnya sihir mereka, terbayang pada diri Musa seakan-akan merupakan ular-ular yang bergerak-gerak merayap

فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ

fa aujasa fī nafsihī khīfatam mụsā

 67.  Maka Musa merasa takut dalam hatinya.

Musa pun merasa takut dalam hatinya

قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ

qulnā lā takhaf innaka antal-a’lā

 68.  Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).

Allah berfirman kepada Musa ketika itu, “Janganlah kamu takut kepada sesuatu pun, karena sesungguhnya kamulah yang lebih unggul di atas para tukang sihir itu dan di atas Fir’aun serta para tentaranya, dan kamu akan mengalahkan mereka.

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

wa alqi mā fī yamīnika talqaf mā ṣana’ụ, innamā ṣana’ụ kaidu sāḥir, wa lā yufliḥus-sāḥiru ḥaiṡu atā

 69.  Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.

Lemparkanlah tongkatmu yang ada di tangan kananmu, niscaya akan menelan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Apa yang mereka perbuat di hadapanmu tiada lain sekedar tipu daya seorang tukang sihir dan ilusi pengaruh sihir semata. Dan tidaklah tukang sihir itu akan menang di mana pun ia berada.”

فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَىٰ

fa ulqiyas-saḥaratu sujjadang qālū āmannā birabbi hārụna wa mụsā

 70.  Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”.

Lalu Musa melemparkan tongkatnya dan kemudian menelan apa yang mereka ada-adakan. Maka tampak nyatalah kebenaran dan hujjah menjadi tegak di hadapan mereka. Lalu tukang-tukang sihir itu menyungkurkan diri mereka di atas permukaan tanah dalam keadaan bersujud dan berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Harun dan Musa, sebab kalau itu sihir, niscaya kami tidak akan kalah.”

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ ۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَىٰ

qāla āmantum lahụ qabla an āżana lakum, innahụ lakabīrukumullażī ‘allamakumus-siḥr, fa la`uqaṭṭi’anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfiw wa la`uṣallibannakum fī jużụ’in-nakhli wa lata’lamunna ayyunā asyaddu ‘ażābaw wa abqā

 71.  Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”.

Fir’aun berkata kepada para tukang sihir, “Apakah kalian telah beriman kepada musa dan mengikutinya serta mengakuinya sebelum aku mengizinkan kalian untuk itu? Sesungguhnya musa adalah pembesar kalian yang telah mengajarkan sihir kepada kalian, karena itu kalian mengikutinya. Maka sesungguhnya aku akan benar-benar memotong-motong tangan-tangan dan kaki-kaki kalian dengan bersilangan, tangan di potong pada satu sisi dan kaki di potong pada bagian sisi tubuh yang lain, dan aku akan benar-benar menyalib kalian (dengan mengikat jasad-jasad kalian) pada pangkal pohon kurma, dan kalian akan sungguh-sungguh tahu, wahai para tukang sihir, siapakah dari kami; aku atau Tuhan Musa yang lebih pedih siksaannya daripada siksaan pihak lain dan lebih kekal baginya?”

قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

qālụ lan nu`ṡiraka ‘alā mā jā`anā minal-bayyināti wallażī faṭaranā faqḍi mā anta qāḍ, innamā taqḍī hāżihil-ḥayātad-dun-yā

 72.  Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.

Para tukang sihir berkata pada Fir’aun, “Kami tidak akan mengutamakan dirimu hingga kami lebih taat kepadamu dan mengikuti keyakinanmu daripada apa yang telah di bawa oleh Musa berupa bukti-bukti nyata yang menunjukkan kebenarannya dan kewajiban menaatinya serta taat kepada Tuhannya. Dan kami tidak akan mengutamakan ketuhananmu yang palsu di atas ketuhanan Allah yang telah menciptakan kami. Lakukanlah apa saja yang engkau mau lancarkan kepada kami. Sesungguhnya kekuasaanmu atas kami hanya di kehidupan dunia ini, dan apa yang kamu perbuat pada kami tiada lain hanyalah siksaan yang akan selesai dengan sirnanya dunia.

إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

innā āmannā birabbinā liyagfira lanā khaṭāyānā wa mā akrahtanā ‘alaihi minas-siḥr, wallāhu khairuw wa abqā

 73.  Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)”.

Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami dan mengimani RasulNya, dan kami akan melaksanakan apa dia datang detang membawanya, agar Tuhan kami berkenan mengampuni dosa-dosa kami dan apa yang telah kamu paksakan kepada kami untuk mempelajari sihir untuk melawan Musa. Dan Allah lebih baik bagi kami daripada kamu (wahai Fir’aun) dari segi balasan bagi orang-orang yang menaatiNya, dan lebih kekal siksaanNya atas orang yang bermaksiat kepadaNya dan melanggar perintahNya.”

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ

innahụ may ya`ti rabbahụ mujriman fa inna lahụ jahannam, lā yamụtu fīhā wa lā yaḥyā

 74.  Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.

Sesungguhnya barangsiapa yang datang (menghadap) kepada Tuhannya dalam keadaan kafir kepadaNya, maka baginya Neraka Jahanam. Dia akan disiksa dengannya. Dia tidak akan mati didalamnya sehingga bisa bebas darinya dan tidak (pula) hidup dengan kehidupan yang dapat dinikmatinya.

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَىٰ

wa may ya`tihī mu`minang qad ‘amilaṣ-ṣāliḥāti fa ulā`ika lahumud-darajātul-‘ulā

 75.  Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),

جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّىٰ

jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā`u man tazakkā

 76.  (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).

75-76. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi benar-benar telah melakukan amal-amal shalih, maka baginya tempat-tempat hunian yang tinggi di surga, tempat tinggal yang abadi, sungai-sungai yang mengalir di bawah istana-istana dan pohon-pohonnya. Mereka hidup kekal abadi di dalamnya. Kenikmatan abadi tersebut merupakan balasan pahala dari Allah bagi siapa saja yang telah membersihkan dirinya dari noda, kotoran, dan kesyirikan, serta dia hanya beribadah kepada Allah semata, taat kepadaNya, dan menjauhi maksiat-maksiat kepadaNya, serta menghadap kepada Tuhannya, dalam keadaan dia tidak menyekutukan seorang pun dari makhluknya denganNYa dalam beribadah kepadaNya.

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ

wa laqad auḥainā ilā mụsā an asri bi’ibādī faḍrib lahum ṭarīqan fil-baḥri yabasal lā takhāfu darakaw wa lā takhsyā

 77.  Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”.

Dan sungguh Kami telah mewahyukan kepada Musa, “Keluarlah kamu di malam hari bersama hamba-hambaKu dari Bani Israil dari Mesir. Dan ambillah jalan yang kering bagi mereka di tengah laut . Jangan kamu khawatir terhadap Fir’aun dan tentaranya akan dapat mengejar kalian sehingga bisa menyusul kalian, dan kamu tidak usah takut akan tenggelam di dalam laut. “

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ

fa atba’ahum fir’aunu bijunụdihī fa gasyiyahum minal-yammi mā gasyiyahum

 78.  Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.

Maka Musa berjalan di malam hari bersama orang-orang Bani Israil, dan menyebrangi jalan bersama mereka di tengah laut. Fir’aun dan bala tentaranya membuntuti mereka. Maka Allah mengepung mereka dengan air yang tidak ada yang mengetahui kadar jumlahnya kecuali Allah, sehingga mereka semua tenggelam, sedang Musa dan kaumnya selamat.

وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُ وَمَا هَدَىٰ

wa aḍalla fir’aunu qaumahụ wa mā hadā

 79.  Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk.

Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dengan apa yang telah dia tampakkan indah pada mata mereka berupa kekafiran dan pendustaan dan tidaklah dia memandu mereka menuju jalan hidayah.

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ جَانِبَ الطُّورِ الْأَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ

yā banī isrā`īla qad anjainākum min ‘aduwwikum wa wā’adnākum jānibaṭ-ṭụril-aimana wa nazzalnā ‘alaikumul-manna was-salwā

 80.  Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa.

Wahai Bani Israil, ingat-ingatlah ketika Kami menyelamatkan kalian dari musuh kalian, Fir’aun, dan Kami adakan perjanjian bagi kalian di sisi kanan gunung Thursina (Sinai) untuk menurunkan Taurat kepada kalian, serta Kami telah menurunkan pada kalian saat kalian tersesat arah apa yang dapat kalian makan yang menyerupai madu dalam hal rasa dan burung yang menyerupai burung puyuh.

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي ۖ وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ

kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum wa lā taṭgau fīhi fa yaḥilla ‘alaikum gaḍabī, wa may yaḥlil ‘alaihi gaḍabī fa qad hawā

 81.  Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.

Makanlah dari rizki Kami yang baik-baik, dan janganlah kalian melampaui batas padanya dengan cara sebagian kalian menzhalimi sebagian yang lain, akibatnya kemurkaanKu akan menimpa kalian. Dan siapa saja yang ditimpa kemurkaanKu, sungguh dia akan binasa dan merugi.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan ṡummahtadā

 82.  Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.

Dan sesungguhnya Aku itu Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertaubat dari dosa dan kekafirannya dan beriman kepadaKu serta beramal shalih, kemudian meraih hidayah menuju kebenaran dan tetap berada di atasnya.

۞ وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَىٰ

wa mā a’jalaka ‘ang qaumika yā mụsā

 83.  Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?

Dan urusan apa yang membuatmu datang lebih cepat (wahai Musa) sehingga kamu mendahului mereka menuju sisi kanan gunung thursina dan kamu tinggalkan mereka di belakangmu?

قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَىٰ أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ

qāla hum ulā`i ‘alā aṡarī wa ‘ajiltu ilaika rabbi litarḍā

 84.  Berkata, Musa: “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”.

Dia berkata, “Sesungguhnya mereka ada di belakangku dan akan menyusulku. Dan aku mendahului mereka kepadaMu (wahai Tuhanku) agar Engkau semakin ridha kepadaku.”

قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ

qāla fa innā qad fatannā qaumaka mim ba’dika wa aḍallahumus-sāmiriyy

 85.  Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.

Allah berfirman kepada Musa, “Sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan mereka dengan penyembahan terhadap anak sapi. Dan sesungguhnya Samiri telah menyesatkan mereka.”

فَرَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ۚ أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُمْ مَوْعِدِي

fa raja’a mụsā ilā qaumihī gaḍbāna asifā, qāla yā qaumi a lam ya’idkum rabbukum wa’dan ḥasanā, a fa ṭāla ‘alaikumul-‘ahdu am arattum ay yaḥilla ‘alaikum gaḍabum mir rabbikum fa akhlaftum mau’idī

 86.  Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”.

Maka Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan murka dan prihatin kepada mereka. Dan dia berkata kepada mereka, “Bukankah Tuhan kalian telah menjanjikan kepada kalian suatu janji yang baik untuk menurunkan Taurat? Apakah sudah terasa terlalu lama masa yang berlalu bagi kalian dan kalian menganggap janji itu tidak kunjung datang ataukah kalian memang ingin berbuat suatu tindakan yang menyebabkan kemurkaan Allah akan menimpa kalian karenanya dan kalian melanggar perjanjian denganku dan kalian sembah anak sapi serta kalian tinggalkan komitmen dengan perintah-perintahku?”

قَالُوا مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلَٰكِنَّا حُمِّلْنَا أَوْزَارًا مِنْ زِينَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنَاهَا فَكَذَٰلِكَ أَلْقَى السَّامِرِيُّ

qālụ mā akhlafnā mau’idaka bimalkinā wa lākinnā ḥummilnā auzāram min zīnatil-qaumi fa qażafnāhā fa każālika alqas-sāmiriyy

 87.  Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,

Mereka berkata, “Wahai Musa, kami tidak melanggar perjanjian denganmu atas kemauan sendiri. Akan tetapi, kami diperintah memikul beban-beban dari perhiasan kaum Fir’aun. Maka kami lemparkan barang-barang itu di dalam satu lubang yang di dalamnya terdapat api sesuai perintah Samiri.” Demikian juga Samiri melemparkan apa saja yang dia bawa, yaitu debu bekas pijakan telapak kaki kuda Jibril.

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَٰذَا إِلَٰهُكُمْ وَإِلَٰهُ مُوسَىٰ فَنَسِيَ

fa akhraja lahum ‘ijlan jasadal lahụ khuwārun fa qālụ hāżā ilāhukum wa ilāhu mụsā fa nasiy

 88.  kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.

Kemudian Samiri membuatkan bagi orang-orang Bani Israil patung anak sapi dari emas yang mengeluarkan suara layaknya suara sapi. Orang-orang yang terperdaya dengannya dari kalangan mereka berkata kepada orang-orang lainnya, “Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa, dia lupa dan lalai darinya.”

أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا

a fa lā yarauna allā yarji’u ilaihim qaulaw wa lā yamliku lahum ḍarraw wa lā naf’ā

 89.  Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?

Apakah orang-orang yang menyembah patung anak sapi itu tidak melihat bahwa ia pada asalnya tidak bisa berbicara dengan mereka, tidak dapat menjawab mereka, tidak dapat menolak mara bahaya dari mereka dan tidak dapat mendatangkan manfaat bagi mereka?

وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ ۖ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَٰنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي

wa laqad qāla lahum hārụnu ming qablu yā qaumi innamā futintum bih, wa inna rabbakumur-raḥmānu fattabi’ụnī wa aṭī’ū amrī

 90.  Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu. itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku”.

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada Bani Israil sebelum kembalinya Musa kepada mereka, “Wahai kaumku, sesungguhnya kalian itu sedang diuji dengan keberadaan patung anak sapi ini, agar menjadi tampak jelas orang yang beriman dari kalian dan orang yang kafir. Dan sesungguhnya Tuhan kalian adalah ar-Rahman, tiada tuhan sembahan selainNya. Maka ikutilah aku dalam perkara yang aku seru kalian kepadanya, yaitu beribadah hanya kepada Allah, dan taatilah perintahku untuk mengikuti syariatNya.”

قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ

qālụ lan nabraḥa ‘alaihi ‘ākifīna ḥattā yarji’a ilainā mụsā

 91.  Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami”.

Para penyembah patung anak sapi dari mereka menjawab, “Kami akan tetap terus-menerus menyembah patung anak sapi ini sampai Musa kembali kepada kami.”

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا

qāla yā hārụnu mā mana’aka iż ra`aitahum ḍallū

 92.  Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,

أَلَّا تَتَّبِعَنِ ۖ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي

allā tattabi’an, a fa ‘aṣaita amrī

 93.  (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”

92-93. Musa berkata saudaranya, Harun, “Apa yang menahanmu untuk menjumpaiku ketika engkau melihat mereka telah tersesat dari agama mereka, kenapa kamu tidak mengikutiku dan kemudian kamu menyusulku dan meninggalkan mereka? Apakah kamu memang mau mendurhakai perintahku yang telah aku perintahkan kepadamu untuk menjadi penggantiku dan memperbaiki mereka sepeninggalku?”

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

qāla yabna`umma lā ta`khuż biliḥyatī wa lā bira`sī, innī khasyītu an taqụla farraqta baina banī isrā`īla wa lam tarqub qaulī

 94.  Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.

Kemudian Musa memegang jenggot dan kepala Harun serta menariknya ke arahnya,. Maka Harun berkata kepadanya, “Wahai putra ibuku, janganlah kamu pegangi jenggotku dan juga rambut kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir (jika aku tinggalkan mereka dan aku menyusulmu), kamu akan mengatakan (kepadaku), ‘Kamu telah memecah belah antara Bani Israil, kamu tidak memelihara wasiatku untuk mengurus mereka dengan baik’.”

قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ

qāla fa mā khaṭbuka yā sāmiriyy

 95.  Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”

Musa berkata kepada Samiri, “Ada apa denganmu, wahai Samiri? Apa yang mendorongmu melakukan apa yang telah kamu perbuat ini?”

قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي

qāla baṣurtu bimā lam yabṣurụ bihī fa qabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasụli fa nabażtuhā wa każālika sawwalat lī nafsī

 96.  Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.

Samiri menjawab, “Aku telah melihat apa yang tidak mereka lihat, (yaitu Jibril) dia berada di atas kuda ketika mereka keluar dari laut dan tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya. Maka aku ambil tanah bekas kuda Jibril dengan telapak tanganku. Lalu aku lemparkan ke perhiasan-perhiasan yang aku buat patung anak sapi darinya. Tiba-tiba muncul patung anak sapi yang memiliki bentuk tubuh, sebagai cobaan dan fitnah. Demikian pula nafsuku yang memerintahkan kepada keburukan telah mendorongku melakukannya.”

قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ ۖ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ إِلَٰهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۖ لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا

qāla faż-hab fa inna laka fil-ḥayāti an taqụla lā misāsa wa inna laka mau’idal lan tukhlafah, wanẓur ilā ilāhikallażī ẓalta ‘alaihi ‘ākifā, lanuḥarriqannahụ ṡumma lanansifannahụ fil-yammi nasfā

 97.  Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).

Musa berkata kepada Samiri, “Pergilah kamu. Sesungguhnya hukuman bagimu di dalam dunia ini, engkau akan hidup terbuang, kamu hanya mengatakan kepada siapa saja, ‘Aku tidak menyentuh dan aku tidak di sentuh.’ Dan sesungguhnya kamu punya masa untuk mendapatkan siksaan dan hukumanmu. Allah tidak akan memungkirinya bagimu dan kamu akan menemuinya. Dan lihatlah sesembahanmu yang kamu setia menyembahnya, kami benar-benar akan membakarnya dengan api, kemudian kami benar-benar akan menyebarkan (abu) nya di dalam laut, agar diterbangkan oleh angina hingga tidak ada bekas yang tersisa darinya.”

إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

innamā ilāhukumullāhullażī lā ilāha illā huw, wasi’a kulla syai`in ‘ilmā

 98.  Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.

Sesungguhnya Tuhan kalian, (wahai sekalian manusia), adalah Allah, Yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, pengetahuanNya meliputi segala sesuatu.

كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

każālika naquṣṣu ‘alaika min ambā`i mā qad sabaq, wa qad ātaināka mil ladunnā żikrā

 99.  Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran).

Sebagaimana Kami telah mengisahkan kepadamu (wahai Rasul) cerita tentang Musa dan Fir’aun serta kaum mereka, Kami juga memberitahukan kepadamu kisah-kisah para nabi terdahulu. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu dari sisi Kami al-Qur’an ini sebagai peringatan bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا

man a’raḍa ‘an-hu fa innahụ yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrā

 100.  Barangsiapa berpaling dari pada Al qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat,

Barangsiapa yang berpaling dari al-Qur’an ini, tidak mengimaninya dan tidak mengamalkan kandungannya, maka sesungguhnya dia akan datang pada Hari Kiamat dengan memikul dosa yang amat besar.

خَالِدِينَ فِيهِ ۖ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلًا

khālidīna fīh, wa sā`a lahum yaumal-qiyāmati ḥimlā

 101.  mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat,

Mereka kekal abadi didalam siksaan. Dan telah menyengsarakan mereka tanggungan beban yang berat itu yang berupa dosa-dosa, lantaran menjerumuskan mereka ke dalam neraka.

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ ۚ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri wa naḥsyurul-mujrimīna yauma`iżin zurqā

 102.  (yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram;

Pada hari malaikat meniup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, dan Kami akan menggiring orang-orang kafir pada hari itu, dalam keadaan bermuka muram, telah berubah warna kulit mereka dan penglihatan mereka karena begitu dahsyatnya peristiwa-peristiwa dan kengerian-kengeriannya.

يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا عَشْرًا

yatakhāfatụna bainahum il labiṡtum illā ‘asyrā

 103.  mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”

Mereka saling berbisik-bisik di antara mereka, di mana sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Kalian tidaklah hidup di kehidupan dunia kecuali hanya sepuluh hari saja.”

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا

naḥnu a’lamu bimā yaqụlụna iż yaqụlu amṡaluhum ṭarīqatan il labiṡtum illā yaumā

 104.  Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja”.

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan dan mereka bisik-bisikkan ketika orang paling tahu dan paling berakal dari mereka berkata, “Tidaklah kalian tinggal (di dunia) kecuali hanya sehari saja“, karena begitu cepatnya masa hidup di dunia pada diri mereka pada Hari Kiamat.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا

wa yas`alụnaka ‘anil-jibāli fa qul yansifuhā rabbī nasfā

 105.  Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya,

Dan kaummu bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang kesudahan gunung-gunung pada Hari Kiamat. Maka katakanlah kepada mereka, “Tuhanku akan melenyapkannya dari tempat-tempatnya dan menjadikannya debu-debu yang beterbangan.

فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا

fa yażaruhā qā’an ṣafṣafā

 106.  maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali,

لَا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا

lā tarā fīhā ‘iwajaw wa lā amtā

 107.  tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.

106-107. Maka Allah menjadikan permukaan bumi pada hari itu terhampar, datar, dan rata, tanpa ada tetumbuhan. Orang yang melihatnya tidak menyaksikan adanya kemiringan, tempat tinggi, maupun menurun karena begitu datarnya bumi itu.

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ ۖ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

yauma`iżiy yattabi’ụnad-dā’iya lā ‘iwaja lah, wa khasya’atil-aṣwātu lir-raḥmāni fa lā tasma’u illā hamsā

 108.  Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.

Pada hari itu, manusia mengikuti suara penyeru menuju tempat berkumpul di Hari Kiamat, tidak ada yang membelok dari seruan penyeru. Karena hal itu merupakan kejadian yang haq dan kebenaran bagi seluruh makhluk. Suara-suara merendah sebagai bentuk ketundukan terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kamu tidak mendengar, kecuali suara bisikan semata.

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

yauma`iżil lā tanfa’usy-syafā’atu illā man ażina lahur-raḥmānu wa raḍiya lahụ qaulā

 109.  Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.

Pada hari itu, syafa’at tidak bermanfaat bagi siapa pun dari semua makhluk, kecuali jika Tuhan Yang Maha Pengasih telah mengizinkan sang pemberi syafa’at dan meridhai orang yang menerima syafa’at. Dan tidaklah itu berlaku, kecuali bagi orang Mukmin yang ikhlas.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yuḥīṭụna bihī ‘ilmā

 110.  Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.

Allah mengetahui apa yang ada di hadapan semua manusia tentang kejadian-kejadian di Hari Kiamat dan apa yang ada di belakang mereka berupa perkara-perkara dunia. Sedangkan ilmu makhlukNya tidak meliputiNya.

۞ وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

wa ‘anatil-wujụhu lil-ḥayyil-qayyụm, wa qad khāba man ḥamala ẓulmā

 111.  Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.

Wajah-wajah semua makhluk tertunduk dan merendah kepada Penciptanya yang Mahahidup Yang memiliki makna-makna hidup yang sempurna sebagaimana yang layak dengan keagunganNya, Yang tidak akan mati, Yang mengurus pengaturan seluruh urusan segala sesuatu. Yang Maha tidak membutuhkan selainNya, Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat merugilah orang-orang yang menyekutukan seseorang dari makhluk dengan Allah.

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

wa may ya’mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu`minun fa lā yakhāfu ẓulmaw wa lā haḍmā

 112.  Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.

Dan barangsiapa mengerjakan amal shalih, sedang dia beriman kepada Tuhannya, maka dia tidak akan takut akan perlakuan dzolim dengan bertambahnya dosa-dosanya, dan pengurangan terhadap amal kebaikannya.

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا

wa każālika anzalnāhu qur`ānan ‘arabiyyaw wa ṣarrafnā fīhi minal-wa’īdi la’allahum yattaqụna au yuḥdiṡu lahum żikrā

 113.  Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.

Dan sebagaimana Kami mendorong orang-orang beriman untuk semangat beramal shalih dan Kami peringatkan orang-orang kafir agar tidak terus menerus berkubang dalam perbuatan maksiat dan kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Kami, Kami juga menurunkan al-Qur’an ini dengan berbahasa arab agar mereka dapat memahaminya dan Kami telah merinci di dalamnya berbagai bentuk ancaman dengan harapan mereka akan takut kepada Tuhan mereka atau al-Qur’an itu akan menimbulkan peringatan bagi mereka lalu mereka mau menerima nasihat dan memetik pelajaran.

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

fa ta’ālallāhul-malikul-ḥaqq, wa lā ta’jal bil-qur`āni ming qabli ay yuqḍā ilaika waḥyuhụ wa qur rabbi zidnī ‘ilmā

 114.  Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.

Allah  maha bersih, tinggi dan suci dari semua kekurangan, Dia Raja Yang kekuasaaNya mengalahkan semua penguasa dan tirani, Yang mengendalikan segala sesuatu, Yang Mahabenar, janjiNya benar, ancamanNya benar, dan tiap-tiap sesuatu dariNya adalah kebenaran. Dan janganlah kamu teegesa-gesa (wahai Rasul) untuk mendahului Jibril dalam menerima al-Qur’an sebelim dia tuntas darinya. Dan katakanlah, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu disamping ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku.”

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

wa laqad ‘ahidnā ilā ādama ming qablu fa nasiya wa lam najid lahụ ‘azmā

 115.  Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

dan sungguh Kami telah perintahkan kepada Adam sebelum dia memakan (sesuatu) dari pohon tersebut, agar dia jangan memakan darinya. Dan Kami telah firmankan kepadanya, “Sesungguhnya iblis adalah musuhmu dan musuh istrimu, maka jangan sampai dia mengeluarkan kalian berdua dari surga. Akibatnya, kamu dan istrimu akan celaka di dunia.” Lalu setan membisik-bisikkan kepadanya, hingga Adam menaatinya. Adam lupa pesan tersebut dan Kami tidak mendapatinya memiliki kekuatan tekad untuk menjaga apa yang di perintahkan kepadanya.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīsa abā

 116.  Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.

Dan ingatlah (wahai Rasul) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam, sebagai salam penghormatan dan pemuliaan,” maka mereka pun taat dan bersujud. Akan tetapi, iblis menolak bersujud.

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

fa qulnā yā ādamu inna hāżā ‘aduwwul laka wa lizaujika fa lā yukhrijannakumā minal-jannati fa tasyqā

 117.  Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

Maka Kami berkata, “Wahai Adam, sesungguhnya iblis ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka hendaklah kalian berdua waspada terhadapnya, dan janganlah kalian berdua menaatinya dengan mendurhakaiKu, sehingga ia akan mengeluarkan kalian berdua dari surga, dan kamu menjadi celaka bila dikeluarkan darinya.

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ

inna laka allā tajụ’a fīhā wa lā ta’rā

 118.  Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,

Sesungguhnya bagi kamu (wahai Adam) di dalam surga ini dapat makan sehingga kamu tidak lapar dan mengenakan pakaian hingga kamu tidak telanjang.

وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ

wa annaka lā taẓma`u fīhā wa lā taḍ-ḥā

 119.  dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya”.

Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa kehausan di dalam surga ini dan panas matahari tidak mengenaimu.”

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ

fa waswasa ilaihisy-syaiṭānu qāla yā ādamu hal adulluka ‘alā syajaratil-khuldi wa mulkil lā yablā

 120.  Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Kemudian setan membisik-bisikkan pikiran buruk kepada Adam, dan berkata kepadanya, “Maukah kamu aku tunjukkan suatu pohon yang bila kamu memakan dari buahnya, kamu akan hidup abadi, tidak akan mati, dan kamu akan memiliki kerajaan yang tidak akan pernah lenyap dan habis?”

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

fa akalā min-hā fa badat lahumā sau`ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil jannah, wa ‘aṣā ādamu rabbahụ fa gawā

 121.  Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

Kemudian Adam dan Hawwa’ memakan (buah) dari pohon itu yang Allah melarang mereka berdua darinya, maka terbukalah aurat mereka berdua, sedang sebelumnya tidak tampak oleh pandangan mata. Lalu mulailah mereka berdua memetik daun-daun dari pohon-pohon surga dan melekatkannya pada tubuh mereka untuk menutupi aurat mereka yang terbuka. Adam telah melanggar perintah Tuhannya. Maka dia menjadi orang yang bersalah dengan memakan dari pohon yang Allah telah melarangnya untuk mendekatinya.

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

ṡummajtabāhu rabbuhụ fa tāba ‘alaihi wa hadā

 122.  Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Kemudian Allah memilih Adam, menjadikannya orang yang dekat (kepadaNya), menerima taubatnya, dan memberinya hidayah kepada jalan yang lurus.

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

qālahbiṭā min-hā jamī’am ba’ḍukum liba’ḍin ‘aduww, fa immā ya`tiyannakum minnī hudan fa manittaba’a hudāya fa lā yaḍillu wa lā yasyqā

 123.  Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Allah berfirman kepada Adam dan Hawwa’, “Turunlah kalian berdua semuanya dari surga bersama dengan iblis. Kalian berdua dan iblis saling bermusuhan. Maka jika datang kepada kalian berdua petunjuk dan penjelasan dariKu, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk dan penjelasan dariKu dan dia mengamalkannya, sesungguhnya dia telah lurus di dunia, dan memperoleh hidayah, serta tidak celaka di akhirat dengan tertimpa hukuman Allah.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

wa man a’raḍa ‘an żikrī fa inna lahụ ma’īsyatan ḍangkaw wa naḥsyuruhụ yaumal-qiyāmati a’mā

 124.  Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Namun, barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu yang dengannya Aku memperingatkannya, maka sesungguhnya baginya di dunia ini kehidupan sempit lagi sengsara, (walaupun tampaknya dia termasuk orang bermartabat dan berkemudahan) dan Kami akan menghimpunnya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta dari hujjah.”

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

qāla rabbi lima ḥasyartanī a’mā wa qad kuntu baṣīrā

 125.  Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Orang yang berpaling dari peringatan Allah akan berkata, “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu seorang yang bisa melihat saat di dunia?”

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

qāla każālika atatka āyātunā fa nasītahā, wa każālikal-yauma tunsā

 126.  Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.

Allah ta’ala berfirman kepadanya, “Aku menghimpunmu dalam keadaan buta, karena dahulu sesungguhnya telah datang kepadamu ayat-ayatKu yang nyata, lalu kamu berpaling darinya dan kamu tidak mengimaninya. Maka sebagaimana kamu mengabaikannya di dunia, demikian pula kamu hari ini di biarkan berada di dalam neraka.”

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ ۚ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ

wa każālika najzī man asrafa wa lam yu`mim bi`āyāti rabbih, wa la’ażābul-ākhirati asyaddu wa abqā

 127.  Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

Dan demikianlah Kami menghukum orang-orang yang bertindak melampaui batas terhadap dirinya, lalu dia mendurhakai Tuhannya dan tidak mengimani ayat-ayatNya, dengan hukuman-hukuman di dunia. Dan siksaan akhirat yang disiapkan bagi mereka itu benar-benar lebih pedih, lebih kekal dan lebih pasti, karena tidak pernah putus dan tidak akan berhenti.

أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ

a fa lam yahdi lahum kam ahlaknā qablahum minal-qurụni yamsyụna fī masākinihim, inna fī żālika la`āyātil li`ulin-nuhā

 128.  Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Apakah kamu (wahai rosul) belum menunjuki kaummu kepada jalan petunjuk, betapa banyaknya umat-umat yang mendustakan sebelum mereka yang telah Kami binasakan, sedang mereka berjalan-jalan di (bekas) perkampungan-perkampungan umat-umat itu, dan dapat menyaksikan bekas-bekas kehancuran mereka? Sesungguhnya pada kejadian banyaknya umat-umat tersebut dan bekas-bekas siksaan mereka benar-benar terdapat berbagai pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang berakal yang sadar.

وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى

walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika lakāna lizāmaw wa ajalum musammā

 129.  Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.

Dan seandainya bukan karena telah ada ketetapan dari Tuhanmu dahulu dan ajal yang ditentukan dariNya, pastilah kebinasaan menimpa mereka dengan segera, karena mereka itu pantas mendapatkannya disebabkan kekafiran mereka.

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

faṣbir ‘alā mā yaqụlụna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulụ’isy-syamsi wa qabla gurụbihā, wa min ānā`il-laili fa sabbiḥ wa aṭrāfan-nahāri la’allaka tarḍā

 130.  Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,

Maka bersabarlah kamu (wahai Rasul) terhadap apa yang diucapkan oleh orang-orang yang mendustakanmu, berupa predikat-predikat (buruk) dan kebatilan-kebatilan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu di dalam Shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, dan di Shalat Ashar sebelum matahari terbenam, serta di Shalat Isya di waktu-waktu malam, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu di ujung siang pada Shalat Dzuhur (karena waktunya diujung setengah pertama siang dan setengah kedua) dan Magrib pada waktu-waktu siang hari, supaya kamu memperoleh balasan kebajikan atas amalan-amalan tersebut yang menyebabkanmu puas.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

wa lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta’nā bihī azwājam min-hum zahratal-ḥayātid-dun-yā linaftinahum fīh, wa rizqu rabbika khairuw wa abqā

 131.  Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Dan janganlah kamu memandang berbagai macam kesenangan yang telah Kami berikan kepada kaum Musyrikin dan orang-orang yang serupa dengan mereka, karena sesungguhnya itu hanya sekedar hiasan belaka yang akan sirna di kehidupan dunia ini. Kami memberikan kesenangan itu kepada mereka untuk menguji mereka dengannya. Dan rizki Tuhanmu dan pahalaNya lebih baik bagimu dari kesenangan yang Kami berikan kepada mereka dan lebih abadi, lantaran tidak ada waktu putus dan habisnya.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

wa`mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir ‘alaihā, lā nas`aluka rizqā, naḥnu narzuquk, wal-‘āqibatu lit-taqwā

 132.  Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Dan perintahkanlah (wahai Nabi) keluargamu untuk shalat dan bersabarlah kamu dalam menjalankannya. Kami tidak meminta harta kepadamu. Kami-lah Yang memberimu rizki dan memberimu karunia, dan kesudahan yang baik di dunia dan akhirat adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ أَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ

wa qālụ lau lā ya`tīnā bi`āyatim mir rabbih, a wa lam ta`tihim bayyinatu mā fiṣ-ṣuḥufil-ụlā

 133.  Dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?” Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?

Dan orang-orang yang mendustakanmu (wahai Rasul) berkata, “Mengapa kamu tidak membawakan kepada kami satu tanda dari Tuhanmu yang menunjukkan kebenaranmu?” bukankah telah datang kepada mereka al-Qur’an ini yang membenarkan kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu?

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَىٰ

walau annā ahlaknāhum bi’ażābim ming qablihī laqālụ rabbanā lau lā arsalta ilainā rasụlan fa nattabi’a āyātika ming qabli an nażilla wa nakhzā

 134.  Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?”

Dan sekiranya Kami sungguh-sungguh membinasakan orang-orang yang mendustakan itu dengan siksaan sebelum Kami mengutus kepada mereka seorang rasul dan menurunkan kepada mereka satu kitab, pastilah mereka akan berkata, “Wahai Tuhan kami, tidakkah Engkau utus kepada kami seorang rasul dari sisiMu sehingga kami kemudian beriman kepadanya dan mengikuti ayat-ayatMu dan ajaran syariatMu, sebelum kami hina dan nista karena siksaanMu?”

قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَىٰ

qul kullum mutarabbiṣun fa tarabbaṣụ, fa sata’lamụna man aṣ-ḥābuṣ-ṣirāṭis-sawiyyi wa manihtadā

 135.  Katakanlah: “Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk”.

Katakanlah (wahai Rasul), kepada kaum yang menyekutukan Allah, “Masing-masing dari kami dan kalian itu akan menunggu pergantian masa, dan bagi siapa kelak kemenangan dan kejayaan. Maka tunggulah, kalian akan mengetahui siapakah orang-orang yang berada di atas jalan lurus dan memperoleh hidayah kepada kebenaran; kami atau kalian?

Related: Surat al-Anbiya Arab-Latin, Surat al-Hajj Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Mu’minun, Terjemahan Tafsir Surat an-Nur, Isi Kandungan Surat al-Furqon, Makna Surat Asy-Syu’ara

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!