Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-An’am

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Arab-Latin: al-ḥamdu lillāhillażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa ja’alaẓ-ẓulumāti wan-nụr, ṡummallażīna kafarụ birabbihim ya’dilụn

Terjemah Arti:  1.  Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

seluruh pujian hanya untuk Allah  karena segala sifat-sifatNya yang semuanya merupakan sifat-sifat kesempurnaan, dan juga karena nikmat-nikmatNya yang zahir dan yang batin, nikmat-nikmat agama maupun dunia, yang telah mengadakan langit dan bumi dan semua makhluk yang berada di dalamnya, dan telah menciptakan kegelapan-kegelapan dan cahaya, yaitu, dengan silih bergantinya kedatangan malam dan siang. Dan dalam kejadian tersebut, terdapat bukti petunjuk akan keagungan Allah  dan keberhakan Allah semata untuk diibadahi. Maka tidak boleh bagi siapa saja untuk menyekutukan sesuatu denganNya. Dan meskipun hal ini sudah tampak jelas sekali, akan tetapi orang-orang kafir menyamakan Allah dengan selainNya dan mereka nyekutukanNya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

huwallażī khalaqakum min ṭīnin ṡumma qaḍā ajalā, wa ajalum musamman ‘indahụ ṡumma antum tamtarụn

 2.  Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

Dia lah Allah yang menciptakan kakek moyang kalian, Adam  , dari tanah, sedang kalian adalah keturunan darinya. Kemudian Dia menulis ketetapan masa tinggal kalian di dunia ini dan menulis ajal lain yang sudah ditentukan yang tidak ada yang tahu kecuali oleh Allah  , yaitu hari kiamat. Kemudian setelah itu semua, kalian masih meragukan terhadap kekeuasaan Allah , untuk membangkitkan (semua makhluk) setelah kematian.

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

wa huwallāhu fis-samāwāti wa fil-arḍ, ya’lamu sirrakum wa jahrakum wa ya’lamu mā taksibụn

 3.  Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

Dan Allah  , Dia lah tuhan sembahan yang berhak diibadahi di langit dan di bumi. Dan diantara dalil-dalil ke uluhiyahan (ketuhanan) Nya, adalah bahwa Dia maha mengetahui semua yang kalian rahasiakan (wahai manusia), dan apa yang kalian tampakkan, serta mengetahui segala perbuatan kalian, yang baik maupun yang buruk. Oleh karena inilah, Allah  menjadi satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah.

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

wa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ ‘an-hā mu’riḍīn

 4.  Dan tidak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya).

Orang-orang kafir tersebut yang menyekutukan Allah  bersama sesuatu yang lain, telah datang kepada mereka hujjah-hujjah yang terang dan bukti-bukti yang jelas tentang keesaan Allah  dan kebenaran Muhammad  dalam kenabiaannya serta risalah yang dibawanya, akan tetapi, begitu engkau mendatangi mereka, dengan serta merta mereka berpaling;tidak mau menerimanya dan tidak mengimaninya.

فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa qad każżabụ bil-ḥaqqi lammā jā`ahum, fa saufa ya`tīhim ambā`u mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 5.  Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (Al-Quran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.

sungguh orang-orang kafir itu telah mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Muhammad  kepada mereka dan mereka memperololok dakwahnya, karena kebodohan mereka terhadap Allah dan keterpedayaan mereka akibat penundaan siksaan bagi mereka. Maka mereka akan menyaksikan apa yang mereka perolok-olokan itu merupakan Haq dan kebenaran, dan Allah akan menjelaskan kepada orang-orang yang mendustakan akan kedustaan dan kebohongan-kebohongan yang mereka ada-adakan. dan Dia akan memberikan balasan bagi mereka atas perbuatannya tersebut.

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

a lam yarau kam ahlaknā ming qablihim ming qarnim makkannāhum fil-arḍi mā lam numakkil lakum wa arsalnas-samā`a ‘alaihim midrāraw wa ja’alnal-an-hāra tajrī min taḥtihim fa ahlaknāhum biżunụbihim wa ansya`nā mim ba’dihim qarnan ākharīn

 6.  Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Apakah tidak mengetahui orang-orang yang mengingkari keesaan Allah  dan keberhakan Nya untuk diibadahi dan juga mendustakan RasulNya, Muhammad , sesuatu yang telah menimpa umat-umat yang telah mendustakan (para Rasul) sebelumnya, berupa kebinasaan dan kehancuran. Padahal sebelumnya kami telah memberikan kekuasaan besar di muka bumi dengan kekuasaan yang tidak diberikan kepada kalian wahai orang-orang kafir, dan kami melimpahkan kenikmatan bagi mereka dengan menurunkan banyak hujan dan mengalirnya aliran sungai-sungai dari bawah tempat tinggal mereka. Sebagai istidroj dan penangguhan siksa. Maka mereka mengingkari kenikmatan-kenikmatan itu dan mendustakan para rasul. Akibatnya, kami binasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka dan kami adakan generasi-generasi manusia berikutnya yang mengggantikan mereka untuk mengurus pengelolaan bumi?

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

walau nazzalnā ‘alaika kitāban fī qirṭāsin fa lamasụhu bi`aidīhim laqālallażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn

 7.  Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

seandai kami menurunkan kepadamu (wahai rasul) satu kitab dari langit yang tertulis dalam lembaran-lembaran kertas, lalu orang-orang musyrik itu dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, pastilah mereka akan mengatakan bahwa sejatinya, apa yang engkau bawa wahai rasul, adalah sihir yang jelas lagi nyata.

وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ ۖ وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا لَقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَ

wa qālụ lau lā unzila ‘alaihi malak, walau anzalnā malakal laquḍiyal-amru ṡumma lā yunẓarụn

 8.  Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).

Orang-orang musyrik itu mengatakan, ”mengapa Allah  tidak menurunkan kepada Muhammd malaikat dari langit untuk membenarkannya tentang apa yang dia bawa berupa kenabian? ”seandanya kami menurunkan malaikat dari langit untuk mengabulkan permintaan mereka, pastilah telah diputuskan perintah untuk membinasakan mereka, kemudian mereka tidak diberi kesempatan untuk bertaubat, maka sungguh telah berlalu dalam ilmu Allah bahwa mereka tidak akan beriman.

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ

walau ja’alnāhu malakal laja’alnāhu rajulaw wa lalabasnā ‘alaihim mā yalbisụn

 9.  Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.

Dan seandainya kami menjadikan rasul yang diutus kepada mereka adalah malaikat, karena mereka tidak puas dengan Muhammad , kami pasti akan menjadikan malaikat itu dalam rupa manusia hingga mereka dapat mendengarkan darinya dan berkomunikasi dengannya. Sebab tidak mungkin bagi mereka melihat malaikat dalam rupa asli malaikat. Dan seandainya malaikat datang kepada mereka dengan rupa manusia, maka perkara kenabiannya akan menimbulkan keragu-raguan bagi mereka, sebagaimana keraguan mereka terhadap perkara kenabian Muhammad .

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqadistuhzi`a birusulim ming qablika fa ḥāqa billażīna sakhirụ min-hum mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 10.  Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.

Dan karena permintaan mereka untuk diturunkannya malaikat dengan tujuan untuk memperolok Muhammad  , Allah  menjelasakan kepada beliau bahwa olokan terhadap para rasul  bukanlah perkara baru, akan tetapi hal itu telah muncul dari orang-orang kafir sebelumnya terhadap para nabi mereka. Maka siksaan aka menimpa kepada mereka yang mengolok-oloknya dan ingkari kedatangannya menimpa mereka.

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

qul sīrụ fil-arḍi ṡummanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

 11.  Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”.

Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”berjalanlah kalian di muka bumi, dan kemudian perhatikanlah bagaimana Allah menimpakkan kebinasaan dan kehinaan bagi orang-orang yang mendustakan? maka hindarilah oleh kalian cara-cara kematian yang sama dengan mereka. Dan takutlah kalian akan datangnya (siksaan) yang serupa dengan apa yang telah menimpa mereka.”

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلْ لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

qul limam mā fis-samāwāti wal-arḍ, qul lillāh, kataba ‘alā nafsihir-raḥmah, layajma’annakum ilā yaumil-qiyāmati lā raiba fīh, allażīna khasirū anfusahum fa hum lā yu`minụn

 12.  Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”kepunyaan siapakah kerajaan langit dan bumi, serta apa yang ada di dalamnya?” katakanlah, ”itu kepunyaan Allah” seperti yang sudah kalian akui hal itu dan kalian ketahui bersama. Maka sembahlah Dia semata. Allah telah menetapkan pada diriNya sifat kasih sayang, sehingga Dia tidak menyegerakan siksaan pada para hambaNYa. Sungguh Dia akan menghimpun kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan tentangnya untuk perhitungan dan pembalasan. Orang-orang yang menyekutukan Allah, mereka membinasakan diri mereka sendiri. Mereka tidak mengesakan Allah, dan tidak mempercayai janji dan ancamanNya, serta tidak mengakui kenabian Muhammad .

۞ وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa lahụ mā sakana fil-laili wan-nahār, wa huwas-samī’ul-‘alīm

 13.  Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan kepunyaan Allah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, yang diam maupun yang bergerak, yang tersembunyi maupun yang tampak. Semua adalah hamba dan makhlikNya, serta berada di bawah kekuasaan, kendali, dan pengaturanNya. Dan Dia maha mendengar seluruh ucapan para hambaNya lagi maha Mengetahui segala rahasia-rahasia dan perbuatan mereka.

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul agairallāhi attakhiżu waliyyan fāṭiris-samāwāti wal-arḍi wa huwa yuṭ’imu wa lā yuṭ’am, qul innī umirtu an akụna awwala man aslama wa lā takụnanna minal-musyrikīn

 14.  Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang yang menyekutukan sesuatu dengan Allah , ”apakah selain Allah yang aku jadikan pelindung dan penolong, sedang Dia lah pencipta langit dan bumi dan seisinya, dan Dia lah yang memberi rizki kepadanya?” katakanlah (wahai rasul), ”sesungguhnya aku diperintahkan untuk menjadi orang yang pertama kali tunduk dan patuh kepadaNya dengan melakukan ubudiyah (ibadah) kepadNya dari umat ini, dan aku dilarang menjadi orang yang menyekutukan sesuatu bersamaNya. ”

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

 15.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum yang menyekutukan Allah dengan salainnya, ”sesungguhnya aku takut, jika aku mendurhakai tuhanku sehingga aku melanggar perintahNya dan aku sekutukan denganNya dalam ibadah, akan turun kepadaku siksaan besar pada hari kiamat. ”

مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

may yuṣraf ‘an-hu yauma`iżin fa qad raḥimah, wa żālikal-fauzul-mubīn

 16.  Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.

Barangsiapa yang dijauhkan Allah dari siksaan dahsyat tersebut, maka sungguh Dia telah memberikan rahmat kepadanya. dan dipalingkannya dari siksaan merupakan kemenangan yang nyata, yaitu dengan memperoleh keselamatan dari siksaan yang besar.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa iy yamsaskallāhu biḍurrin fa lā kāsyifa lahū illā huw, wa iy yamsaska bikhairin fa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

 17.  Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Dan jika Allah menimpakan kepada dirimu (wahai manusai) sesuatu yang menyebabkan mudarat bagimu, seperti kemiskinan dan penyakit, maka tidak ada yang sanggup menghilangkannya, melainkan Dia sendiri. Dan apabila Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, seperti hidup kecukupan dan kesehatan fisik, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNYa dan menghalangi ketetapanNya, dan Dia  Maha kuasa atas segala sesuatu.

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

wa huwal-qāhiru fauqa ‘ibādih, wa huwal-ḥakīmul-khabīr

 18.  Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dan Dia lah Allah yang Maha berkuasa, yang berada di atas sekalian hamba-hambaNya. semua makhluk tunduk kepadaNya dan hinalah para pembangkang di hadapanNya. Dia yang maha bijaksana yang meletakkan semua perkara pada tempaat semestinya sesuai dengan hikmahNya, juga Maha teliti yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. Dzat yang memiliki sifat-sifat demikian, maka wajib untuk tidak disekutukan dengan apapun. Dalam ayat ini terkandung petunjuk sifat fauqiyyah Allah (maksudnya, Allah berada diatas) seluruh makhlukNya secara mutlak yang sesuai dengan keagunagan Allah  .

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

qul ayyu syai`in akbaru syahādah, qulillāh, syahīdum bainī wa bainakum, wa ụḥiya ilayya hāżal-qur`ānu li`unżirakum bihī wa mam balag, a innakum latasy-hadụna anna ma’allāhi ālihatan ukhrā, qul lā asy-had, qul innamā huwa ilāhuw wāḥiduw wa innanī barī`um mimmā tusyrikụn

 19.  Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Katakanlah wahai rasul, kepada kaum musyrikin itu, ”siapakah yang paling kuat persaksiannya dalam menetapkan kebenaranku tentang apa yang aku sampaikan kepada kalian bahwa aku adalah seorang utusan Allah?” katakanlah, ”Allah menjadi saksi antara aku dengan kalian.” maksudnya, Dia Maha mengetahui risalah yang aku bawa kepada kalian dan apa yang kalian ucapkan kepadaku. ”Allah telah mewahyukan kepadaku al-qur’an ini agar dengan itu aku memperingatkan kalian terhadap siksaNya yang akan menimpa kalian. Dan aku memperingatkan dengannya manusia yang al-qur’an telah sampai kepadanya dari umat-umat. Sesungguhnya kalian benar-benar mengakui ada sesembahan-sesmbahan yang menyertai Allah yang kalian sekutukan denganNya. ” katakanlah kepada mereka wahai rasul, ”aku tidak bersaksi atas apa yang kalian yakini. Sesungguhnya Allah adalah sesembahan yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya aku berlepas diri setiap sekutu yang kalian sembah bersamaNya.”

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ ۘ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

allażīna ātaināhumul-kitāba ya’rifụnahụ kamā ya’rifụna abnā`ahum, allażīna khasirū anfusahum fa hum lā yu`minụn

 20.  Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).

Orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka taurat dan injil, mereka mengenal Muhammad  dengan sifat-sifatnya yang tertulis di sisi mereka, sebagaimana mereka mengenal anak-anak kandung mereka, maka sebagaimana tidak samar di hadapan mereka untuk dibedakan dengan anak-anak lain, begitu pula Muhammad  tidak samar dengan orang lain karena detailnya sifat-sifat beliau dalam kitab-kitab mereka. Akan tetapi, mereka lebih mengikuti hawa nafsu (keinginan) mereka. Akibatnya, mereka merugikan diri sendiri ketika mengingkari Muhammad  dan risalah yang dibawanya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

 21.  Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.

Tidak ada seorangpun yang lebih parah perbuatan kezhalimannya dari orang-orang yang mengada-ngadakan kedustaan atas nama Allah  . Dia berprasangka bahwa Allah memiliki sekutu-sekutu dalam ibadah, atau mengklaim bahwa Dia memiliki putra atau istri, maupun mendustakan bukti-bukti nyata dan dalil-dalil yang Allah jadikan pendukung untuk menguatkan para rasulNya . Sungguh tidak akan beruntung orang-orang yang berbuat kezhaliman yang mengada-ngadakan kedustaan atas nama Allah dan merekapun tidak akan menggapai keinginan-keinginan mereka di dunia maupun di akhirat.

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa yauma naḥsyuruhum jamī’an ṡumma naqụlu lillażīna asyrakū aina syurakā`ukumullażīna kuntum taz’umụn

 22.  Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) Kami?”.

Hendaknya orang-orang musyrik yang mendustakan ayat-ayat Allah  mengkhawatirkan diri mereka pada hari kami mengumpulkan mereka semua kemudian kami berfirman kepada mereka, ”Mana tuhan-tuhan sesembahan kalian yang dahulu kalian mengaku-ngaku bahwasanya mereka merupakan sekutu-sekutu yang mendampingi Allah  agar mereka memberikan syafaat bagi kalian?

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ

ṡumma lam takun fitnatuhum illā ang qālụ wallāhi rabbinā mā kunnā musyrikīn

 23.  Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah”.

Kemudian tidak ada jawaban dari mereka ketika mereka menghadapi cobaan dan di uji dengan pertanyaan tentang sekutu-sekutu mereka, kecuali mereka berlepas diri dari mereka, dan bersumpah dengan nama Allah, tuhan mereka bahwa mereka dahulu tidak pernah menyekutukan Allah dengan selainNya.

انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ ۚ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

unẓur kaifa każabụ ‘alā anfusihim wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

 24.  Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.

Perhatikanlah (wahai rasul), bagaimana orang-orang musyrik itu berdusta kepada diri mereka sendiri, padahal di akhirat kelak mereka akan berlepas diri dari perbuatan syirik (mereka). Dan pergi dan hilanglah dari mereka apa yang mereka sangka-sangka tentang syafaat (pertolongan) sesembahan-sesembahan mereka.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۖ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا ۚ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wa min-hum may yastami’u ilaīk, wa ja’alnā ‘alā qulụbihim akinnatan ay yafqahụhu wa fī āżānihim waqrā, wa iy yarau kulla āyatil lā yu`minụ bihā, ḥattā iżā jā`ụka yujādilụnaka yaqụlullażīna kafarū in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

 25.  Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

Dan diantara kaum musyrikin ada orang yang menyimak bacaan al-qur’an darimu (wahai rasul), namun tidak sampai ke hati mereka. Sebab, akibat mereka mengikuti hawa nafsu mereka , kami menjadikan pada hati mereka penutup, agar mereka tidak sanggup memahami al-qur’an. Dan kami jadikan (pula) pada pendengaran-pendengaran mereka sumbatan dan ketulian, sehingga tidak bisa mendengar dan mencerna apapun, walupun mereka telah melihat banyak bukti yang menunjukan kebenaran Muhammad  , akan tetapi mereka tidak mempercayainya. Bahkan bila mereka datang kepadamu (wahai rasul), usai menyaksiakan secara langsung bukti-bukti yang menunjukan kebenaranmu, mereka membantahmu. Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah itu berkata, ”apa yang kami dengar ini tiada lain merupakan sesuatu yang disebarkan orang-orang kuno berupa hikayat-hikayat (dongeng) yang tidak memiliki hakikat.

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ ۖ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

wa hum yan-hauna ‘an-hu wa yan`auna ‘an-h, wa iy yuhlikụna illā anfusahum wa mā yasy’urụn

 26.  Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.

Orang-orang musyrik menghalang-halangi manusia untuk mengikuti Muhammad  dan mendengar darinya (bacaan al-qur’an) dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya. Dan mereka tidaklah membinasakan (Atas usaha menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah) kecuali diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari bahwa mereka melakukan usaha-usaha untuk kebinasaan diri mereka sendiri.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

walau tarā iż wuqifụ ‘alan-nāri fa qālụ yā laitanā nuraddu wa lā nukażżiba bi`āyāti rabbinā wa nakụna minal-mu`minīn

 27.  Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

seandainya engkau (Wahai Rasul) melihat kaum musyrikin pada Hari Kiamat, pastilah engkau akan menyaksikan perkara yang dahsyat. Yaitu, ketika mereka digiring menuju nereka dan mereka melihat rantai-rantai dan belenggu-belenggu, dan mereka melihat perkara-perkara dahsyat tersebut dan kejadian-kejadian yang mengerikan dengan mata kepala mereka sendiri, pada saat itulah mereka berkata, “Andai saja kami dikembalikan ke kehidupan dunia, kemudian kami membenarkan ayat-ayat Allah dan mengamalkannya serta menjadi orang-orang yang beriman.”

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

bal badā lahum mā kānụ yukhfụna ming qabl, walau ruddụ la’ādụ limā nuhụ ‘an-hu wa innahum lakāżibụn

 28.  Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.

Sebenarnya tidak demikian adanya. Justru akan tampak nyata bagi mereka pada Hari Kiamat apa yang sudah mereka ketahui sendiri tentang kebenaran risalah yang dibawa para rasul di dunia. Kendatipun mereka menampakkan di hadapan para pengikut mereka berupa sikap yang berbeda. Kalaupun ditetapkan bahwa mereka akan dikembalikan ke dunia lagi, dan mendapatkan kesmpatan, pastilah mereka kembali melakukan penentangan dan berbuat kekafiran dan pendustaan. Dan sesungguhnya mereka benar-benar berdusta dengan ucapan mereka, “seandainya kami dikembalikan ke dunia, kami tidak akan mendustakan ayat-ayat tuhan kami dan kami termasuk orang-orang yang beriman. ”

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

wa qālū in hiya illā ḥayātunad-dun-yā wa mā naḥnu bimab’ụṡīn

 29.  Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”.

dan telah berkata Orang-orang musyrik yang mengingkari Hari kebangkitan, “Tidaklah ada kehidupan kecuali kehidupan yang sedang kita jalani ini, kita tidak akan dibangkitkan setelah kematian kita. ”

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

walau tarā iż wuqifụ ‘alā rabbihim, qāla a laisa hāżā bil-ḥaqq, qālụ balā wa rabbinā, qāla fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

 30.  Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: “Bukankah (kebangkitan ini benar?” Mereka menjawab: “Sungguh benar, demi Tuhan kami”. Berfirman Allah: “Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)”.

Sekiranya engkau (wahai Rasul) menyaksiakan orang-orang yang mengingkari Hari kebangkitan tatkala mereka di hadapkan kepada Allah  untuk menentukan nasib mereka pada Hari kiamat, pastilah engkau saksikan kondisi terburuk (pada mereka). Yaitu ketika Allah  berfirman, “bukankah kebangkitan ini yang dahulu kalian ingkari di dunia merupakan kebenaran?” Mereka menjawab, “ya, demi Tuhan kami, sesungguhnya itu memang benar. ” Allah  berfirman, “Rasakanlah siksaan yang dahulu kalian ingkari. ” Maksudnya, siksaan yang dulu kalian dustakan di dunia lantaran keingkaran kalian terhadap Allah  dan RasulNya, Muhammad .

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

qad khasirallażīna każżabụ biliqā`illāh, ḥattā iżā jā`at-humus-sā’atu bagtatang qālụ yā ḥasratanā ‘alā mā farraṭnā fīhā wa hum yaḥmilụna auzārahum ‘alā ẓuhụrihim, alā sā`a mā yazirụn

 31.  Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.

Sungguh, merugilah orang-orang kafir yang mengingkari Hari kebangkitan setelah kematian, sehingga saat Hari kiamat tiba dan mereka dikagetkan dengan tempat kembali yang buruk, mereka berteriak keras menyesali diri mereka atas apa yang tealh mereka sia-siakan di kehidupan dunia mereka dahulu. Mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggung-punggung mereka. Maka betapa buruk beban berat lagi buruk yang mereka pikul itu!

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa mal-ḥayātud-dun-yā illā la’ibuw wa lahw, wa lad-dārul-ākhiratu khairul lillażīna yattaqụn, a fa lā ta’qilụn

 32.  Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Dan tidaklah kehidupan dunia ini dalam kondisinya secara umum, melainkan hanya berisi tipuan dan kebatilan belaka. Dan berbuat amal shalih untuk negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang takut kepada Allah. Mereka ini memelihara diri dari siksaanNya dengan amal ketaatan kepadaNYa dan menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat kepadaNya. Tidakkah kalian mau berfikir (wahai orang-orang musyrik yang terpedaya oleh perhiasan dunia), lalu kalian lebih memilih yang abadi daripada yang fana?

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

qad na’lamu innahụ layaḥzunukallażī yaqụlụna fa innahum lā yukażżibụnaka wa lākinnaẓ-ẓālimīna bi`āyātillāhi yaj-ḥadụn

 33.  Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.

Sesungguhnya kami mengetahui bahwa telah menimbulkan rasa sedih di dalam hatimu atas pendustaan kaummu secara lahiriyah terhadapmu. Bersabarlah dan tetap tenang, sebab mereka tidaklah mendustakanmu dalam hati sanubari mereka, akan tetapi meyakini kebenaranmu. Namun, akibat sifat kezhaliman dan permusuhan yang ada pada diri mereka, mereka mengingkari bukti-bukti yang amat jelas terkait kebenaranmu, sehingga membuat mereka mendustakan risalah yang engkau bawa.

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

wa laqad kużżibat rusulum ming qablika fa ṣabarụ ‘alā mā kużżibụ wa ụżụ ḥattā atāhum naṣrunā, wa lā mubaddila likalimātillāh, wa laqad jā`aka min naba`il-mursalīn

 34.  Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.

Dan sungguh telah mendustakan orang-orang kafir terhadap utusan-utusan Allah  sebelummu yang diutsus ke tengah kaum-kaum mereka, dan mereka (para utusan Allah itu) mengalami berbagai gangguan di jalan Allah. Akan tetapi, mereka bersabar akan hal tersebut dan tetap meneruskan dakwah dan jihad mereka sampai datang kepada mereka kemenangan dari Allah. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan-ketetapan Allah), yaitu wahyu yang diturunkan kepada nabiNya, Muhammad  , yang berisi janji kemenangan dariNya bagi beliau atas orang-orang yang memusuhi beliau. Dan sungguh telah sampai kepadamu (wahai rasul) sebagian berita rasul-rasul sebelummu dan apa yang terwujud bagi mereka berupa kemenangan dari Allah, serta apa yang terjadi pada orang-orang yang mendustakan mereka berupa siksaan Allah bagi mereka dan kemurkaanNya terhadap mereka. Engkau memiliki teladan dan cermin baik dari para rasul dahulu. Dalam ayat ini, termuat pelipur lara bagi Rasululah 

وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

wa ing kāna kabura ‘alaika i’rāḍuhum fa inistaṭa’ta an tabtagiya nafaqan fil-arḍi au sullaman fis-samā`i fa ta`tiyahum bi`āyah, walau syā`allāhu lajama’ahum ‘alal-hudā fa lā takụnanna minal-jāhilīn

 35.  Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil

Dan jika berat atasmu (wahai rosul) penolakan orang-orang musyrik dan keberpalinagn mereka dalam menyambut dakwahmu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga yang engkau naiki menuju langit, lalu kamu dapat mendatangkan tanda dan bukti atas kebenaran ucapanmu yang berbeda dengan apa yang kami datangkan kepada mereka, maka lakukanlah. Sekiranya Allah menghendaki, pasti Dia menyatukan mereka di atas hidayah yang kalian pegangi dan memberikan taufik bagi mereka untuk beriman. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki hal tersebut demi hikmah yang Allah  ketahui sendiri, maka janganlah sekali-kali engkau (wahai Rasul), termasuk orang-orang jahil yang kesedihan mereka menjadi-jadi dan diliputi penyesalan hingga menyebabkan mereka dirundung keluh kesah yang amat sangat.

۞ إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ ۘ وَالْمَوْتَىٰ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

innamā yastajībullażīna yasma’ụn, wal-mautā yab’aṡuhumullāhu ṡumma ilaihi yurja’ụn

 36.  Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.

sesungguhnya yang menyambutmu (wahai rasul), kepada apa yang engkau dakwahkan yang berisi hidayah, hanyalah orang-orang yang mendengarkan perkataan dengan pendengaran untuk menerimanya. Adapun orang-orang kafir, mereka itu terhitung manusia-manusia yang telah mati, sebab hidup yang hakiki hanya dengan dasar islam. Dan orang-orang yang telah mati akan Allah keluarkan mereka dari kubur-kubur mereka dalam keadaan hidup, dan kemudian akan kembali kepada Allah pada Hari Kiamat untuk menerima perhitungan dan balasan (perbuatan) mereka.

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa qālụ lau lā nuzzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, qul innallāha qādirun ‘alā ay yunazzila āyataw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 37.  Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

Orang-orang musyrik berkata (sebagai penentang dan kesombongan), ”Mengapa Allah tidak menurunkan tanda yang menunjukan akan kebenaran Muhammad  melalui tanda yang luar biasa?” Maka katakanlah kepada mereka wahai rasul, bahwa sesungguhnya Allah maha kuasa untuk menurunkan pada mereka tanda-tanda itu. Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahi bahwa penurunan mukjizat itu hanya dilakukan sesuai sifat hikmah Allah  .

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

wa mā min dābbatin fil-arḍi wa lā ṭā`iriy yaṭīru bijanāḥaihi illā umamun amṡālukum, mā farraṭnā fil-kitābi min syai`in ṡumma ilā rabbihim yuḥsyarụn

 38.  Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Tidaklah ada di permukaan bumi binatang yang berjalan atau burung yang terbang di langit dengan mengepakkan dua sayapnya, kecuali merupakan kelompok-kelompok makhluk yang saling memiliki keserupaan sifat fisik dengan sesama jenisnya, layaknya kalian. Tidak ada sesuatu yang kami abaikan di lauhilmahfuzh , kami telah menuliskannya semua. Kemudian mereka akan dihimpun ke hadapan tuhan mereka pada Hari Kiamat. Allah akan mengadakan perhitungan dengan masing-masing makhluk sesuai dengan apa yang diperbuatnya.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ ۗ مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā ṣummuw wa bukmun fiẓ-ẓulumāt, may yasya`illāhu yuḍlil-hu wa may yasya` yaj’al-hu ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

 39.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.

Orang-orang yang mendustakan hujjah-hujjah Allah  adalah orang-orang yang tuli, yang tidak dapat mendengarkan yang bermanfaat bagi mereka, orang-orang bisu yang tidak bicara atas dasar kebenaran. Mereka dilanda kebingungan dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Tidak mau memilih jalan istiqamah (yanglurus). Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka dia akan tersesat, Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuknya), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul a ra`aitakum in atākum ‘ażābullāhi au atatkumus-sā’atu a gairallāhi tad’ụn, ing kuntum ṣādiqīn

 40.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!”

Katakanlah wahai rasul, kepada orang-orang musyrik , ”beritahukanlah kepadaku, jika telah datang kepada kalian siksaan Allah didunia atau telah datang kepada kalian Hari Kiamat yang kalian akan dibangkitkan padanya, apakah kepada selain Allah kalian akan merdo’a supaya bisa menyingkirkan bala yang menimpa kalian, bila kalian orang-orang yang benar dalam klaim kalian bahwa sesembahan kalian yang kalian sembah selain Allah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudarat?

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

bal iyyāhu tad’ụna fa yaksyifu mā tad’ụna ilaihi in syā`a wa tansauna mā tusyrikụn

 41.  (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).

Bahkan nanti kalian akan memohon (disana) kepada tuhan kalian (Allah) yang telah menciptakan kalian, bukan kepada yang lain, dan kalian akan meminta pertolongan kepadaNya, lalu Dia mengangkat bala besar yang tengah menimpa kalian, jika Dia menghendaki. Sebab sesungguhnya Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Dan pada hari itu kalian akan meninggalkan berhala-berhala, patung-patung, dan pembela-pembela kalian. ”

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

wa laqad arsalnā ilā umamim ming qablika fa akhażnāhum bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la’allahum yataḍarra’ụn

 42.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

Dan sesungguhnya kami (wahai Rasul) telah mengutus rasul-rasul kepada golongan-golongan manusia sebelum engkau, rosul-rosul yang mengajak mereka kepada Allah  . Namun umat-umat itu mendustakan para rasul itu, maka kami pun menimpakan cobaan kepada mereka terhadap harta benda mereka dengan kemelaratan yang sangat berat dan kesulitan hidup yang mencekik. kami juga menimpakan cobaan pada mereka terhadap fisik-fisik mereka dengan berbagai macam wabah dan rasa sakit, dengan harapan agar mereka mau menghinakan diri kepada Tuhan mereka dan tunduk patuh kepadaNya saja dalam beribadah.

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

falau lā iż jā`ahum ba`sunā taḍarra’ụ wa lāking qasat qulụbuhum wa zayyana lahumusy-syaiṭānu mā kānụ ya’malụn

 43.  Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

Mengapa umat-umat yang mendustakan itu tidak menghinakan diri kepada kami ketika siksa kami datang kepada mereka?, Akan tetapi hati mereka malah mengeras dan setan telah membuat mereka berpandangan baik terhadap apa yang mereka perbuat berupa maksiat-maksiat dan kesyirikan yang mereka kerjakan.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

fa lammā nasụ mā żukkirụ bihī fataḥnā ‘alaihim abwāba kulli syaī`, ḥattā iżā fariḥụ bimā ụtū akhażnāhum bagtatan fa iżā hum mublisụn

 44.  Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

maka Ketika mereka meninggalkan pelaksanakan perintah-perintah Allah  dengan berpaling darinya, Kami bukakan pintu-pintu segala rizki bagi mereka dan kami gantikan kesengsaraan mereka dengan kesenangan hidup, penderitaan penyakit (mereka) dengan kesehatan fisik sebagai bentuk istidraj (penguluran siksa) dari kami bagi mereka. Sehingga apabila mereka telah bertindak sewenang-wenang dan terlena dengan apa yang kami berikan kepada mereka berupa kebaikan dan kenikmatan, kami timpakan hukuman pada mereka dengan siksaan secara tiba-tiba. Maka ketika itu mereka hilang harapan dan berputus asa dari segala kebaikan.

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

fa quṭi’a dābirul-qaumillażīna ẓalamụ, wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

 45.  Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Maka kaum tersebut dimusnahkan sampai ke akar-akarnya dan dibinasakan karena mereka ingkar kepada Allah dan mendustakan para RasulNya, sehingga tidak ada seorangpun dari mereka yang tersisa. Rasa syukur dan pujian dipanjatkan bagi Allah  , pencipta segala sesuatu dan pemiliknya atas pertolonganNya bagi para waliNya dan kebinasaan para musuhNya.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

qul a ra`aitum in akhażallāhu sam’akum wa abṣārakum wa khatama ‘alā qulụbikum man ilāhun gairullāhi ya`tīkum bih, unẓur kaifa nuṣarriful-āyāti ṡumma hum yaṣdifụn

 46.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”beritahukanlah kepadaku jika Allah menghilangkan pendengaran kalian hingga membuat kalian tuli dan merusak pandangan kalian hingga membuat kalian buta dan mengunci hati kalian sehingga kalian menjadi tidak dapat memahami perkataan apapun, tuhan manakah selain Allah  yang kuasa mengembalikan semua itu kepada kalian?” perhatikanlah (wahai rasul), bagaimana kami memvariasikan bentuk hujjah kepada mereka, tetapi mereka setelah itu tetap berpaling dan tidak mau mengingat dan mengambil pelajaran.

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ

qul a ra`aitakum in atākum ‘ażābullāhi bagtatan au jahratan hal yuhlaku illal-qaumuẓ-ẓālimụn

 47.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?”

Katakanlah (wahai rasul) kepada kaum musyrikin, ”beritahukanlah olehkalian kepadaku apabila siksaan Allah datang kepada kalian secara mendadak sedang kalian tidak menyadarinya, atau tampak secara terang-terangan dan kalian dapat menyaksiakan dengan mata kepala kalian langsung; apakah ada yang dibinasakan (oleh Allah) selain orang-orang yang zhalim yang telah berbuat melampaui batas dengan cara memalingkan peribadahan kepada selain Allah  dan dengan mendustakan rosul-rosulNya?”

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

wa mā nursilul-mursalīna illā mubasysyirīna wa munżirīn, fa man āmana wa aṣlaḥa fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

 48.  Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.

Dan tidaklah kami mengutus para rasul kami, melainkan sebagai pemberi kabar gembira untuk orang-orang yang taat kepada kami dengan kenikmatan yang abadi dan pemberi peringatan keras terhadap orang-orang yang berbuat maksiat dengan siksaan yang pedih. Maka barangsiapa yang beriman dan membenarkan para rasul serta beramal shalih, maka mereka itu tidak mengalami kekhawatiran tatkala bertemu dengan tuhan mereka, dan(juga) tidak bersedih hati atas apa yang terlewatkan bagi mereka dari kenikmatan-kenikmatan dunia.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā yamassuhumul-‘ażābu bimā kānụ yafsuqụn

 49.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, baik yang berasal dari al-qur’an maupun mukjizat-mukjizat, maka mereka akan ditimpa siksaan pada hari kiamat akibat kekafiran mereka dan keluarnya mereka dari jalur ketaatan kepada Allah  .

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

qul lā aqụlu lakum ‘indī khazā`inullāhi wa lā a’lamul-gaiba wa lā aqụlu lakum innī malak, in attabi’u illā mā yụḥā ilayy, qul hal yastawil-a’mā wal-baṣīr, a fa lā tatafakkarụn

 50.  Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya aku tidak mengklaim bahwa aku memiliki pembendaharaan langit dan bumi sehingga aku bisa berbuat apa saja di dalamnya, dan aku pun tidak mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara ghaib, dan aku juga tidak mengaku bahwa aku adalah malaikat. Aku hanyalah seorang utusan yang di utus dari sisi Allah. Aku sekedar mengikuti apa yang di wahyukan (Allah) kepadaku dan kemudian aku sampaikan wahyuNya itu kepada umat manusia. ”Katakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang musyrik itu, ”apakah sama orang kafir yang buta untuk menyaksikan ayat-ayat Allah  sehingga dia tidak mengimaninya dengan orang mukmin yang dapat melihat ayat-ayat Allah lalu mengimaninya? . Apakah kalian tidak mau memikirkan ayat-ayat Allah agar dapat melihat kebenaran dan kemudian mengimaninya?”

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa anżir bihillażīna yakhāfụna ay yuḥsyarū ilā rabbihim laisa lahum min dụnihī waliyyuw wa lā syafī’ul la’allahum yattaqụn

 51.  Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.

Dan peringatkanlah (wahai rasul), dengan al-qur’an ini orang-orang yang meyakini bahwa mereka benar-benar akan dihimpun ke hadapan tuhan mereka. Mereka itu orang-orang yang mempercayai janji-janji Allah dan ancaman-ancamanNya. Tidak ada bagi Mereka pelindungan selain Allah yang menolong mereka dan tidak ada pemberi syafaat bagi mereka yang memberi syafaat disisi Allah  sehingga dapat meloloskan mereka dari siksaanNya. Semoga mereka menjadi bertakwa kepada Allah  dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

wa lā taṭrudillażīna yad’ụna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdụna waj-hah, mā ‘alaika min ḥisābihim min syai`iw wa mā min ḥisābika ‘alaihim min syai`in fa taṭrudahum fa takụna minaẓ-ẓālimīn

 52.  Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).

Dan janganlah engkau (wahai nabi), menjauhka dari majelismu orang-orang islam lemah yang menyembah tuhan mereka di pagi dan di petang hari, sedang mereka itu mengharapkan dengan amal-amal shalih yang mereka perbuat wajah Allah. Engkau tidak terkena tanggung jawab sedikitpun atas perbuatan-perbuatan orang-orang faqir itu. Allah lah yang memintai pertanggungjawaban kepada mereka. Dan merekapun tiadk memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu. Maka jika engkau mengusir mereka, niscaya engkau termasuk orang-orang yang melampaui batas rambu-rambu Allah yang meletakan sesuatu tidak pada tempatnya yang tepat.

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

wa każālika fatannā ba’ḍahum biba’ḍil liyaqụlū a hā`ulā`i mannallāhu ‘alaihim mim baininā, a laisallāhu bi`a’lama bisy-syākirīn

 53.  Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?”

Dan demikianlah, kami telah menguji sebagian hambaNya dengan sebagian yang lain dengan adanya perbedaan bagian harta mereka, baik rizki maupun sifat-sifat fisik. Maka Allah menjadikan sebagian dari mereka orang-orang kaya dan menjadikan yang lain orang-orang miskin. Dan sebagian yang lain dijadikan manusia-manusia berfisik kuat, sedang sebagian yang lain dijadikan lemah. Lalu Allah menjadikan sebagian mereka membutuhkan sebagian yang lain sebagai bentuk cobaan dari Allah bagi mereka melalui cara tersebut. Agar orang-orang kafir yang kaya bertanya, ”Apakah orang-orang yang lemah semacam mereka diantara kita itu Allah berikan kepada mereka hidayah kepada islam?” Bukankah Allah itu lebih mengetahui siapa saja yang mensyukuri nikmat-nikmatNya hingga Dia memberikan taufik bagi mereka untuk memperoleh hidayah menuju agamaNya?

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa iżā jā`akallażīna yu`minụna bi`āyātinā fa qul salāmun ‘alaikum kataba rabbukum ‘alā nafsihir-raḥmata annahụ man ‘amila mingkum sū`am bijahālatin ṡumma tāba mim ba’dihī wa aṣlaḥa fa annahụ gafụrur raḥīm

 54.  Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan jika datang kepadamu (Wahai nabi ). orang-orang yang membenarkan ayat-ayat Allah yang mempersaksikan kebenaran(risalah)mu, baik dari al-qur’an maupun lainnya mereka meminta fatwa (kepadamu) tentang cara bertaubat dari dosa-dosa mereka yang telah lalu, maka muliakanlah mereka dengan membalas salam mereka dan berilah mereka kabar gembira berupa rahmat Allah  yang sangat luas, bahwa Dia telah menetapkan atas diriNya kasih sayang kepada hambaNYa sebagai bentuk kemurahan; bahwasannya orang yang telah berbuat dosa karena ketidaktahuannya terhadap akibat perbuatan tersebut dan dampaknya yang mengundang kemurkaan Allah (dan perlu diketahui setiap orang yang telah berbuat maksiat kepada Allah, baik tidak sengaja atau dengan kesengajaan, maka hakikatnya adalah seorang yang bodoh, meskipun dia sudah tahu keharamannya), kemudian dia bertaubat setelah itu dan mendawamkan amal shalih, maka sesungguhnya Allah  mengampuni dosanya. Dia maha pengampun terhadap para hambaNYa yang bertaubat dan maha pengasih terhadap mereka.

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

wa każālika nufaṣṣilul-āyāti wa litastabīna sabīlul-mujrimīn

 55.  Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.

Dan seperti penjelasan demikian yang telah kami jelaskan kepadamu (wahai rasul), kami menerangkan hujjah-hujjah yang sangat jelas untuk setiap kebenaran yang diingkari oleh para pembela kebatilan agar kebenaran menjadi tampak jelas dan supaya semakin jelas juga jalan orang-orang batil para penentang rasul-rasul.

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ قُلْ لَا أَتَّبِعُ أَهْوَاءَكُمْ ۙ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

qul innī nuhītu an a’budallażīna tad’ụna min dụnillāh, qul lā attabi’u ahwā`akum qad ḍalaltu iżaw wa mā ana minal-muhtadīn

 56.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah”. Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya Allah  telah melarang diriku menyembah berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah.” Dan katakanlah kepada mereka, ”Aku tidak akan mengikuti keinginan-keinginan kalian. Sungguh, aku akan tersesat dari jalan yang lurus jika aku mengikuti keinginan hawa nafsu kalian dan tidaklah pula aku termasuk orang yang memperoleh hidayah.”

قُلْ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ ۚ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

qul innī ‘alā bayyinatim mir rabbī wa każżabtum bih, mā ‘indī mā tasta’jilụna bih, inil-ḥukmu illā lillāh, yaquṣṣul-ḥaqqa wa huwa khairul-fāṣilīn

 57.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.

Katakanlah (wahai rasul kepada kaum musyrikin), ”sesungguhnya aku berada diatas ilmu yang terang yang bersumber dari syariat Allah yang telah Dia wahyukan kepadaku. Yaitu dengan mengesakanNya semata-mata dengan ibadah, dan sungguh kalian mendustakannya. Dan bukanlah dalam kemampuanku untuk menurunkan siksaan yang kalian minta supaya disegerakan kedatangannya. Tiadalah ketetapan penundaan hal itu kecuali tergantung kepada Allah  .Dia menerangkan kebenaran dan Dialah sebaik-baik Dzat yang memutuskan antara kebenaran dan kebatilan melalui keputusan dan hukumNya.

قُلْ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الْأَمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ

qul lau anna ‘indī mā tasta’jilụna bihī laquḍiyal-amru bainī wa bainakum, wallāhu a’lamu biẓ-ẓālimīn

 58.  Katakanlah: “Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim.

Katakanlah (wahai rasul), “seandainya aku memiliki kemampuan menurunkan siksaan yang kalian minta disegerakan kedatangannya ,pastilah akan aku timpakan siksa itu pada kalian, sehingga selesailah urusan antara aku dan kalian.” Akan tetapi, urusan tersebut tergantung kepada Allah . Dia lebih mengetahui tentang orang-orang zhalim yang melakukan perbuatan-perbuatan melampaui batas hingga menyekutukan selain Allah denganNya.

۞ وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa ‘indahụ mafātiḥul-gaibi lā ya’lamuhā illā huw, wa ya’lamu mā fil-barri wal-baḥr, wa mā tasquṭu miw waraqatin illā ya’lamuhā wa lā ḥabbatin fī ẓulumātil-arḍi wa lā raṭbiw wa lā yābisin illā fī kitābim mubīn

 59.  Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Dan disisi Allah lah kunci-kunci perkara ghaib, yaitu perbendaharaan perkara-perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia saja. Diantaranya adalah pengetahuan tentang hari kiamat, (waktu) turunnya hujan,janin yang ada didalam Rahim, rizki di masa depan serta tempat kematian sesorang. Dia mengetahui semua yang ada di darat dan di laut. Dan tidaklah ada dedaunan yang gugur dari satu tanaman, kecuali Dia mengetahuinya. Dan setiap biji yang ada ditempat tersembunyi di dalam tanah,setiap Sesuatu yang basah dan kering , (semuanya) tertulis rapi dalam buku yang nyata, tidak ada kesamaran sama sekali di dalamnya,yaitu lauhil mahfuzh.

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa huwallażī yatawaffākum bil-laili wa ya’lamu mā jaraḥtum bin-nahāri ṡumma yab’aṡukum fīhi liyuqḍā ajalum musammā, ṡumma ilaihi marji’ukum ṡumma yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 60.  Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.

Dia lah Allah  yang mencabut ruh-ruh kalian di malam hari dengan cara yang menyerupai terabutnya nyawa-nyawa dalam kematian. Dan Dia mengetahui apa yang kalian usahakan di siang hari dari perkerjaan-pekerjaan, kemudian Dia mengembalikan ruh-ruh kalian ke jasad-jasad kalian ketika terjaga dari tidur di siang harinya dengan kondisi yang menyerupai orang-orang yang hidup setelah kematian, untuk disempurnakan ajal-ajal kalian yang telah ditentukan di dunia. Kemudian kepada Allah  lah tempat kembali kalian setelah di bangkitkan dari kubur-kubur kalian dalam keadaan hidup, lalu Dia mengabarkan kepada kalian apa saja yang telah kalian kerjakan dalam kehidupan dunia kalian kemudia Dia akan memberikan balasan kepada kalian karena hal itu.

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

wa huwal-qāhiru fauqa ‘ibādihī wa yursilu ‘alaikum ḥafaẓah, ḥattā iżā jā`a aḥadakumul-mautu tawaffat-hu rusulunā wa hum lā yufarriṭụn

 61.  Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

Dan Allah  ,Dia lah yang memiliki kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-hambaNya , dengan ketinggian secara mutlak dari segala aspek, yang layak dengan keagungan Allah  . Tiap-tiap makhluk tunduk terhadap kemulian dan keagunganNya.Dan Dia mengutus kepada para hambaNYa malaikat-malaikat yang menjaga amal perbuatan mereka dan menghitungnya, hingga ketika kematian mendatangi salah seorang dari mereka, maka malaikat maut dan para pendampingnya mencabut ruhnya, sedang mereka tidak menyia-nyiakan perintah yang menjadi tugas mereka.

ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ

ṡumma ruddū ilallāhi maulāhumul-ḥaqq, alā lahul-ḥukmu wa huwa asra’ul-ḥāsibīn

 62.  Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat Perhitungan yang paling cepat.

Kemudian mereka yang telah mati itu akan dikembaliakn kepada Allah  ,penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa hanya milikNYa lah segala keputusan dan hukuman pada hari kiamat di antara para hambaNya. Dan Dia lah pembuat perhitungan yang paling cepat.

قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

qul may yunajjīkum min ẓulumātil-barri wal-baḥri tad’ụnahụ taḍarru’aw wa khufyah, la`in anjānā min hāżihī lanakụnanna minasy-syākirīn

 63.  Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur””.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, “siapakah yang akan menyelamatkan kalian dari rasa ketakuatan yang muncul akibat kezaliman-kezaliman yang ada di darat dan laut? Bukankah Dia adalah Allah  yang kalian seru dengan doa dalam kondisi-kondisi sulit dengan penuh kerendahan diri, baik dengan suara keras dan lirih?” kalian mengatakan, “jika tuhan kami berkenan menyelamatkan kami dari bahaya-bahya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur dengan cara hanya beribadah hanya kepadaNYa  , tidak menyekutukanNYa dengan apapun.”

قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ

qulillāhu yunajjīkum min-hā wa ming kulli karbin ṡumma antum tusyrikụn

 64.  Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya”.

Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”hanya Allah lah semata yang mampu menyelamatkan kalian dari marabahaya tersebut dan dari segala kesulitan. Namun setelah itu, kalian menyekutukan Nya dalam ibadah dengan selainNya.”

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

qul huwal-qādiru ‘alā ay yab’aṡa ‘alaikum ‘ażābam min fauqikum au min taḥti arjulikum au yalbisakum syiya’aw wa yużīqa ba’ḍakum ba`sa ba’ḍ, unẓur kaifa nuṣarriful-āyāti la’allahum yafqahụn

 65.  Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Katakanlah (wahai rasul), “Allah  semata yang Mahakuasa mengirim kepada kalian siksaan dari arah atas kalian,seperti hujan batu, angin topan ,dan siksaan yang lain serupa dengannya, atau dari arah bawah kalian, dengan gempa bumi dan tertelan perut bumi, atau mengacaukan urusan kalian sehingga kalian terkotak-kotak dalam golongan-golongan yang saling berseteru, sebagian kalian membunuh sebagian lainnya.” perhatikanlah (wahai rasul) bagaimana kami memvariasikan hujjah-hujjah kami yang jelas ini bagi kaum musyrikin agar mereka dapat memahami dan mengambil pembelajaran?.

وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ ۚ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

wa każżaba bihī qaumuka wa huwal-ḥaqq, qul lastu ‘alaikum biwakīl

 66.  Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.

Dan telah mendustakan kepada al-qur’an ini orang-orang kafir dari kaummu wahai rosul, sedang ia adalah kitab yang benar dalam seluruh ajaran yang di kandungnya. Katakanlah kepada mereka, ”aku bukanlah orang yang di suruh menjaga dan mengawasi kalian. Aku hanyalah seorang utusan Allah, yang bertugas menyampaikan kepada kalian risalah yang aku diutus untuk menyampaikannya kepada kalian.”

لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ ۚ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

likulli naba`im mustaqarruw wa saufa ta’lamụn

 67.  Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.

Tiap-tiap berita (dari rasul-rasul) ada ketetapan waktu yang akan terjadi padanya dan batasan akhir yang mana ia akan berhenti padanya, maka kebenaran akan tampak jelas dari kebatilan. Dan kalian akan mengetahui (wahai orang-orang kafir) akibat dari tindakan kalian ketika datangnya azab Allah terhadap kalian.

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa iżā ra`aitallażīna yakhụḍụna fī āyātinā fa a’riḍ ‘an-hum ḥattā yakhụḍụ fī ḥadīṡin gairih, wa immā yunsiyannakasy-syaiṭānu fa lā taq’ud ba’daż-żikrā ma’al-qaumiẓ-ẓālimīn

 68.  Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).

Apabila engkau (wahai rasul), melihat kaum musyrikin yang berbicara tentang ayat-ayat al-qur’an dengan cara-cara batil dan olokan, maka menjauhlah dari mereka sehingga mereka mulai berbicara dalam perkara lain. Apabila setan membuatmu lupa tentang perintah ini, maka setelah engkau ingat, janganlah kamu duduk lagi bersama orang-orang yang melakukan tindakan melampaui batas, yang berbicara tentang ayat-ayat Allah dengan kebatilan.

وَمَا عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَلَٰكِنْ ذِكْرَىٰ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa mā ‘alallażīna yattaqụna min ḥisābihim min syai`iw wa lākin żikrā la’allahum yattaqụn

 69.  Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa.

Dan tidak ada pertanggung jawaban atas orang-orang yang beriman yang takut kepada Allah dengan menaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNYa, sedikitpun di hadapan hisab Allah, terhadap orang-orang yang hanyut dalam pembicaraan batil lagi memperolok-olok ayat-ayat Allah. Akan tetapi, menjadi kewajiban mereka untuk memberi nasihat kepada orang-orang tersebut supaya menghentikan ucapan-ucapan batil mereka, semoga mereka takut kepada Allah .

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا ۖ لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

wa żarillażīnattakhażụ dīnahum la’ibaw wa lahwaw wa garrat-humul-ḥayātud-dun-yā wa żakkir bihī an tubsala nafsum bimā kasabat laisa lahā min dụnillāhi waliyyuw wa lā syafī’, wa in ta’dil kulla ‘adlil lā yu`khaż min-hā, ulā`ikallażīna ubsilụ bimā kasabụ lahum syarābum min ḥamīmiw wa ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakfurụn

 70.  Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.

Dan tinggalkanlah olehmu (wahai rasul), orang-orang musyrik yang menjadikan agama islam sebagai bahan permaianan dan senda gurau, dengan memperolok-olok ayat-ayat Allah  . Dan merekapun telah terpedaya oleh dunia dengan segala keindahannya. Dan ingatkanlah dengan al-qur’an orang-orang musyrik itu dan orang selain mereka, agar jiwa-jiwa mereka tidak tergadai oleh dosa-dosa dan kekafirannya kepada tuhannya. Dan tidak ada baginya penolong selain Allah yang akan menolongnya sehingga dapat menyelamatkannya dari siksaanNya, juga tidak ada pemberi syafaat baginya di sisi Allah. Meskipun dia mengajukan tebusan dengan apa saja, niscaya tidak akan diterima darinya. Mereka yang telah terpasung oleh dosa-dosa mereka itu, bagi mereka minuman yang sangat panas di dalam neraka dan siksaan yang pedih, akibat kekafiran mereka kepada Allah  dan RasulNya, Muhammad  , dan agama islam.

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

qul a nad’ụ min dụnillāhi mā lā yanfa’unā wa lā yaḍurrunā wa nuraddu ‘alā a’qābinā ba’da iż hadānallāhu kallażistahwat-husy-syayāṭīnu fil-arḍi ḥairāna lahū aṣ-ḥābuy yad’ụnahū ilal-huda`tinā, qul inna hudallāhi huwal-hudā, wa umirnā linuslima lirabbil-‘ālamīn

 71.  Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,

Katakanlah Wahai rasul, kepada kaum musyrikin, ”apakah(pantas) kami menyembah berhala-berhala selain Allah yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak dapat membawa kemudaratan? Dan apakah kami akan kembali kepada ke kafiran, selain Allah  memberikan kami hidayah kepada islam, sehingga kami serupa (ketika kembali menuju kekafiran) dengan orang yang rusak akalnya gara-gara digeleincirkan oleh setan dan menjadi sesat di muka bumi, sedang dia memiliki kawan-kawan berakal lurus yang beriman yang mengajaknya menuju jalan yang benar yang mereka pegangi, namun dia menolaknya? ” katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya hidayah yang Allah mengutusku dengan membawanya, adalah petunjuk yang benar. Dan kita semua diperintahkan untuk berserah diri kepada Allah  Rabbul ‘alamin, dengan beribadah hanya kepadaNYa, tiada sekutu bagiNya. Dan Dia adalah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya.

وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَاتَّقُوهُ ۚ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

wa an aqīmuṣ-ṣalāta wattaqụh, wa huwallażī ilaihi tuḥsyarụn

 72.  dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya”. Dan Dialah Tuhan yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.

Dan demikian pula kita semua diperintahkan untuk mendirikan shalat secara sempurna dan supaya kita takut kepadaNya dengan cara melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ”Dia lah Allah  yang kepadaNya semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ ۚ قَوْلُهُ الْحَقُّ ۚ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ ۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

wa huwallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, wa yauma yaqụlu kun fa yakụn, qauluhul-ḥaqq, wa lahul-mulku yauma yunfakhu fiṣ-ṣụr, ‘ālimul-gaibi wasy-syahādati wa huwal-ḥakīmul-khabīr

 73.  Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dan Allah  , Dialah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang haq. Dan ingatlah (wahai rasul) pada hari kaiamt ketika Dia akan berfirman , ”jadilah”, maka jadilah apa yang diperintahNya secepat kedipan mata atau bahkan lebih cepat. FirmanNya merupakan kebenaran yang sempurna. Dan milikNya  semata kekuasaan pada hari ketika malaikat meniup sangkala pada tiupannya yang kedua yang menjadi saat kembalinya ruh-ruh ke jasad-jasadnya. Dan Dia lah dzat yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dari pancaindra kalian (wahai manusia) dana pa yang kalian saksiakan, dan Dia Maha bijaksana, yang menempatkan segala perkara pada tempatnya (yang tepat), lagi maha Mengetahui seluruh urusan makhlukNya. Dan Allah  Dia lah yang secara khusus menguasai urusan-urusan ini dan perkara-perkara lainnya, dari permulaan hingga kejadian akhirnya, tentang perkembangan hingga tempat kembalinya. Dan Dia lah yang tuhan yang wajib bagi para hamba untuk menaati syari’atNya, diterima ketetapan hukumNya dengan tulus dan diharap-harapkan keridhaan dan ampunanNya.

۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa iż qāla ibrāhīmu li`abīhi āzara a tattakhiżu aṣnāman ālihah, innī arāka wa qaumaka fī ḍalālim mubīn

 74.  Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

Dan ingatlah (wahai rasul) perdebatan antara Ibrahim  dengan ayahnya, Azar, ketika ia berkata kepada sang ayah, ”mengapa engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan yang engkau sembah selain Allah ? sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata dari jalan yang lurus. ”

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

wa każālika nurī ibrāhīma malakụtas-samāwāti wal-arḍi wa liyakụna minal-mụqinīn

 75.  Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

Dan sebagaimana kami telah memberikan Ibrahim  hidayah menuju jalan yang haq dalam perkara peribadahan, kami juga memperlihatkan kepadanya sesuatu yang meliput langit dan bumi berupa kerajaan agung dan kekuasaan yang mencengangkan pandangan agar dia termasuk di antara orang-orang yang mendalam dalam keimanannya.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

fa lammā janna ‘alaihil-lailu ra`ā kaukabā, qāla hāżā rabbī, fa lammā afala qāla lā uḥibbul-āfilīn

 76.  Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Ketika malam gelap telah menyapa Ibrahim  dan menutupinya, dia mulai mengajak berdiskusi kaumnya untuk menetapkan kepada mereka bahwa ajaran agama yang mereka pegangi adalah batil. Mereka adalah orang-orang yang menyembah bintang-bintang. Ibrahim  melihat bintang sambil berkata untuk menarik kaumnya secara perlahan-lahan dan menuntut mereka agar bertauhid kepada Allah, ”ini adalah tuhanku” ketika bintang itu tenggelam, dia berkata” Aku tidak menyukai tuhan yang bisa lenyap. ”

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

fa lammā ra`al-qamara bāzigang qāla hāżā rabbī, fa lammā afala qāla la`il lam yahdinī rabbī la`akụnanna minal-qaumiḍ-ḍāllīn

 77.  Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.

Tatkala Ibrahim  melihat bulan tengah terbit, dia berkata kepada kaumnya (sebagai cara untuk menarik penentangnya secara perlahan-lahan(dari keyakinan yang salah) “ini adalah tuhanku” ketika bulan tersebut tenggelam, dia berkata dengan menunjukan kebutuhannya terhadap hidayah rabbnya, ”jika tuhanku tidak memberikan taufik kepadaku menuju kebenaran dalam bertauhid kepadaNya, niscaya aku pasti termasuk orang-orang yang sesat dari jalan lurus dengan menyembah selain Allah  . ”

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

fa lammā ra`asy-syamsa bāzigatang qāla hāżā rabbī hāżā akbar, fa lammā afalat qāla yā qaumi innī barī`um mimmā tusyrikụn

 78.  Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Ketika Ibrahim  melihat matahari sedang terbit, dia berkata kepada kaumnya, ”ini tuhanku, ini lebih besar dari bintang-bintang dan bulan.” Ketika matahari telah tenggelam, dia berkata kepada kaumnya, ”sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan berupa menyembah berhala-berhala, bintang-bintang, dan patung-patung yang kalian sembah selain Allah  . ”

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

innī wajjahtu waj-hiya lillażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfaw wa mā ana minal-musyrikīn

 79.  Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Sesungguhnya aku menghadapkan dengan wajahku dalam ibadah hanya kepada Allah , Dialah Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dengan berpaling dari syirik menuju tauhid, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah bersama selainNya. ”

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

wa ḥājjahụ qaumuh, qāla a tuḥājjūnnī fillāhi wa qad hadān, wa lā akhāfu mā tusyrikụna bihī illā ay yasyā`a rabbī syai`ā, wasi’a rabbī kulla syai`in ‘ilmā, a fa lā tatażakkarụn

 80.  Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?”

Dan kaumnya mendebat perkara pengesaan Allah  . Maka Ibrahim  menjawab, ”apakah pantas kalian mendebat tentang tauhidku kepada Allah dengan ibadah, sedang Dia telah memberikan taufik kepadaku untuk mengenal keesaanNya? Dan bila kalian menakut-nakuti diriku dengan tuhan-tuhan kalian yang akan menimpakan kemadaratan kepada diriku, sesungguhnya akau pantang takut kepadanya, karena tidak aka nada yang mendatangkan mara bahaya bagiku kecuali jika tuhanku menghendaki sesuatu. Dan Tuhanku meliputi segala sesuatu dengan ilmuNya. Maka apakah kalian mau mengambil pelajaran (darinya) sehingga kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Dia lah tuhan satu-satunya yang berhak diibadahi?

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa kaifa akhāfu mā asyraktum wa lā takhāfụna annakum asyraktum billāhi mā lam yunazzil bihī ‘alaikum sulṭānā, fa ayyul-farīqaini aḥaqqu bil-amn, ing kuntum ta’lamụn

 81.  Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?

Bagaimana aku harus menjadi takut kepada berhala-berhala kalian, sedang kalian tidak takut kepada tuhanku yang telah menciptakan kalian dan menciptakan berhala-berhala yang kalian persekutukan dengan Allah dalam ibadah, tanpa ada hujjah bagi kalian dalam perkara tersebut? maka manakah dari dua golngan itu, yaitu golongan orang-orang musyrik dan golongan orang –orang yang bertauhid, yang lebih berhak memperoleh ketenangan dan keselamatan serta keamanan dari siksa Allah ? jika kalian mengetahui kebenaran apa yang aku katakan, maka beritahukanlah kepadaku. ”

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

allażīna āmanụ wa lam yalbisū īmānahum biẓulmin ulā`ika lahumul-amnu wa hum muhtadụn

 82.  Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan melaksanakan syariatNya dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang akan mendapatkan ketenangan dan keselamatan, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh taufik menuju jalan yang haq.

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa tilka ḥujjatunā ātaināhā ibrāhīma ‘alā qaumih, narfa’u darajātim man nasyā`, inna rabbaka ḥakīmun ‘alīm

 83.  Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Hujjah yang dikemukakan Ibrahim  untuk menghadapi kaumnya itu merupakan hujjah kami yang telah kami berikan taufik untuk itu kepada Ibrahim  hingga semua hujjah-hujjah mereka terpatahkan. kami tinggikan siapa saja yang kami kehendaki dari para hamba kami beberapa derjat di dunia dan akhirat. Sesungguhnya tuhanmu itu Mahabijaksana dalam pengaturan makhlukNya dan Maha Mengetahui tentang mereka.

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

wa wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụb, kullan hadainā wa nụḥan hadainā ming qablu wa min żurriyyatihī dāwụda wa sulaimāna wa ayyụba wa yụsufa wa mụsā wa hārụn, wa każālika najzil-muḥsinīn

 84.  Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan kami menganugerahi Ibrahim  karunia dengan memberikan kepadanya putra yang bernama ishaq dan cucu bernama ya’qub, dan sungguh kami telah memberikan taufik kepada mereka berdua untuk meniti jalan yang lurus. Demikian juga sebelumnya kami telah memberikan taufik menuju kebenaran kepada Nuh, (sebelum Ibrahim, ishaq, dan ya’qub). Demikian juga kami telah memberikan taufik menuju kebenaran bagi keturunan Nuh, yaitu dawud, sulaiman, Ayyub, yusuf, muusa, dan harun  . Sebagaimana kami telah memberikan balasan baik bagi para nabi itu atas perbuatan-perbuatan baik mereka, kami pun akan memberikan balasan baik pula bagi setiap orang yang berbuat baik.

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa zakariyyā wa yaḥyā wa ‘īsā wa ilyās, kullum minaṣ-ṣāliḥīn

 85.  dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.

Begitu pula, Kami telah memberi hidayah kepada zakria, yahya, isa, dan ilyas. Semua nabi  itu termasuk orang-orang shalih.

وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

wa ismā’īla walyasa’a wa yụnusa wa lụṭā, wa kullan faḍḍalnā ‘alal-‘ālamīn

 86.  dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),

Dan kami memberikan hidayah pula kepada ismail, al-yasa, yunus, dan luth. Para rasul  itu telah kami lebihkan derajatnya di atas manusia-manusia pada zaman mereka.

وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ ۖ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa min ābā`ihim wa żurriyyātihim wa ikhwānihim, wajtabaināhum wa hadaināhum ilā ṣirāṭim mustaqīm

 87.  Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Demikian pula, kami memberikan taufik menuju kebenaran kepada orang-orang yang kami kehendaki memperoleh hidayah dari bapak-bapak mereka, keturunan-keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan kami memilih mereka untuk (mengemban) ajaran agama kami dan menyampaikan risalah kami kepada umat manusia yang berada di tempat kami mengutus para rasul tersebut, dan kami berikan petunjuk bagi mereka menuju jalan yang benar yang tidak bengkok sama sekali, yaitu mentauhidkan Allah  dan menyucikannya dari kesyirikan.

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā`u min ‘ibādih, walau asyrakụ laḥabiṭa ‘an-hum mā kānụ ya’malụn

 88.  Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Hidayah tersebut adalah taufik Allah yang telah memberikan taufik untuk itu kepada orang yang dikehendakiNya diantara para hambaNya. Sekiranya para nabi itu melakukan perbuatan syirik kepada Allah, (sekedar sebagai pengandaian dan perumpamaan saja) pastilah akan lenyap dari mereka amal-amal kebaikan mereka, sebab sesungguhnya Allah  tidak menerima amalan yang di sertai dengan kesyirikan.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ

ulā`ikallażīna ātaināhumul-kitāba wal-ḥukma wan-nubuwwah, fa iy yakfur bihā hā`ulā`i fa qad wakkalnā bihā qaumal laisụ bihā bikāfirīn

 89.  Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.

Para nabi telah kami beri karunia kepada mereka dengan hidayah dan kenabian itu, mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab suci, seperti shuhuf (lembaran kitab suci) Ibrahim, taurat musa, zabur dawud, injil isa, dan kami telah anugerahkan kepada mereka pemahan kitab-kitab tersebut dan kami pilih mereka untuk menyampaikan wahyu kami. Wahi rasul, siapa saja yang mengingkari ayat-ayat al-qur’an ini dari orang-orang kafir dari kaummu, maka sesungguhnya kami akan menyerahkannya kepada kaum yang lain, yaitu kaum muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat, yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Sebaliknya, mereka betul-betul mengimaninya dan mengamalkan ajaran yang dikandungnya.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ

ulā`ikallażīna hadallāhu fa bihudāhumuqtadih, qul lā as`alukum ‘alaihi ajrā, in huwa illā żikrā lil-‘ālamīn

 90.  Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)”. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.

Para nabi yang telah disebutkan nama-namanya tersebut, itulah orang-orang yang telah diberikan taufik oleh Allah  , untuk memegangi agama yang benar, maka hendaknya engkau (wahai rasul) mengikuti petunjuk mereka dan menapaki jalan mereka. Dan katakanlah kepada kaum musyrikin , ”Aku tidak meminta upah duniawi dari kalian dalam menyampaikan dakwah islam ini. Sesungguhnya balasanku hanyalah menjadi tanggungan Allah. Dan tidaklah islam itu, kecuali ajakan kepada semua manusia menuju jalan yang lurus dalam peringatan bagi kalian dan orang-orang yang serupa dengan kalian yang berdiri di atas kebatilan. Semoga kalian dapat mengambil pelajaran darinya hal-hal yang bermanfaat bagi kalian. ”

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrihī iż qālụ mā anzalallāhu ‘alā basyarim min syaī`, qul man anzalal-kitāballażī jā`a bihī mụsā nụraw wa hudal lin-nāsi taj’alụnahụ qarāṭīsa tubdụnahā wa tukhfụna kaṡīrā, wa ‘ullimtum mā lam ta’lamū antum wa lā ābā`ukum, qulillāhu ṡumma żar-hum fī khauḍihim yal’abụn

 91.  Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَهُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

wa hāżā kitābun anzalnāhu mubārakum muṣaddiqullażī baina yadaihi wa litunżira ummal-qurā wa man ḥaulahā, wallażīna yu`minụna bil-ākhirati yu`minụna bihī wa hum ‘alā ṣalātihim yuḥāfiẓụn

 92.  Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.

Kitab al-qur’an ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu (wahai rasul), merupakan kitab yang memiliki manfaaat yang agung, yang membenarkan kitab-kitab yang datang sebelumnya yang diturunkan. Dan sesungguhnya ia merupakan dari sisi Allah. Kami menurunkannya agar dengan kitab itu engkau menakut-nakuti orang-orang (Makkah) dan sekitarnya dari seluruh penduduk penjuru dunia terhadap azab dan siksaan Allah. Dan orang-orang yang membenarkan kehidupan akhirat, mereka itu membenarkan al-qur’an adalah firman Allah dan memperhatikan penegakan shalat dalam waktu-waktunya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au qāla ụḥiya ilayya wa lam yụḥa ilaihi syai`uw wa mang qāla sa`unzilu miṡla mā anzalallāh, walau tarā iżiẓ-ẓālimụna fī gamarātil-mauti wal-malā`ikatu bāsiṭū aidīhim, akhrijū anfusakum, al-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum taqụlụna ‘alallāhi gairal-ḥaqqi wa kuntum ‘an āyātihī tastakbirụn

 93.  Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

dan siapakah orang yang lebih zhalim dari orang yang mengadakan ucapab kedustaan atas Nama Allah  di mana dia mengklaim Allah sama sekali tidak mengutus satu orang pun dari kalangan manusia sebagai rasul (Nya) atau dia mengaku-aku dengan dengan dusta bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya, padahal Allah tidak pernah menyampaikan wahyu kepadanya, atau dia mengklaim bahwa dirinya berkuasa menurunkan sesuatu yang serupa dengan al-Qur’an yang di turunkan Allah? Seandainya engkau (wahai Rasul) , menyaksikan orang-orang yang berbuat melampaui batas saat mereka dalam kesulitan-kesulitan sakaratul maut, sedang para malaikat mencabut nyawa-nyawa mereka tengah membentangkan tangan-tangan mereka menimpakan siksaan seraya berkata kepada orang-orang tersebut, ; ‘’keluarkanlah nyawa kalian! Hari ini, kalian dihinakan sehina-hinanya, sebagaimana kalian dahulu mengadakan kebohongan atas Nama Allah, dan menyombongkan diri untuk mengikuti ayat-ayat Allah dan patuh terhadap rasul-rasul Nya. ’’

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa laqad ji`tumụnā furādā kamā khalaqnākum awwala marratiw wa taraktum mā khawwalnākum warā`a ẓuhụrikum, wa mā narā ma’akum syufa’ā`akumullażīna za’amtum annahum fīkum syurakā`, laqat taqaṭṭa’a bainakum wa ḍalla ‘angkum mā kuntum taz’umụn

 94.  Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).

dan sunguh kalian kelak akan datang kepada kami sendiri-sendiri untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasanya, sebagai mana dahulu kami ciptakan di dunia pertama kali dalam keadaan tanpa alas kaki dan telanjang. Dan kalian tinggalkan di belakang kalian apa yang dahulu kami kuasakan kepada kalian dari apa yang kalian bangga-banggakan berupa kekayaan di dunia. Dan kami tidaklah melihat beserta kalian di akhirat berhala-berhala yang dahulu kalian yakini bahwa mereka bapat memberikan syafa’at bagi kalian dan kalian klaim menjadi sekutu-sekutu Allah dalam ibadah. Sesunguhnya telah sirna hubungan yang kalian jalin antara kalian di dunia , dan hilanglah dari apa yang kalian klaim bahwa sesembahan-sesembahan kalian merupakan sekutu Allah dalam perkara peribadahan dan menjadi tampak jelas bahwa kalian telah merugi bagi diri kalian, keluarga dan harta benda kalian.

۞ إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

innallāha fāliqul-ḥabbi wan-nawā, yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa mukhrijul-mayyiti minal-ḥayy, żālikumullāhu fa annā tu`fakụn

 95.  Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?

Sesungguhnya Allah membelah butir-butir tumbuhan dan kemudian mengeluarkan darinya tanaman, dan membelah biji buah-buahan dan lalu menumbuhkan pepohonan darinya. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, seperti manusia dan binatang yang tumbuh dari air mani, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, seperti air mani dari manusia dan binatang. Yang mengeluarkan demikian adalah Allah. Maksudnya, yang melakukannya adalah Allah semata, tiada sekutu bagiNya, yang berhak untuk diibadahi. Maka sebagaimana kalian bisa dipalingkan dari kebenaran menuju kebatilan, sehingga kalian menyembah bersama Allah yang selainNya?

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

fāliqul-iṣbāḥ, wa ja’alal-laila sakanaw wasy-syamsa wal-qamara ḥusbānā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

 96.  Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Allah  , Dial ah yang membelah cahaya pagi dari kegelapan malam, dan menjadikan malam menjadi masa istirahat di mana tiap-tiap yang bergerak yang berdiam diri dan tenang pada waktu tersebut mengambil bagian waktu istirahatnya. Dan Dia menjadikan matahari dan bulan berjalan pada porosnya dengan dasar perhitungan yang sangat rapi lagi telah ditentukan. Perhitungan yang tidak berubah-ubah dan tidak berantakan. Itu adalah ketentuan Dzat yang Maha perkasa yang sangat kokoh kerajaanNya, Maha mengetahui segenap kemaslahatan makhlukNya dan pengaturan urusan-urusan mereka. Al-Aziz dan Al-Alim termasuk nama Allah yang paling baik yang menunjukan kesempurnaan keperkasaan dan ilmuNya.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

wa huwallażī ja’ala lakumun-nujụma litahtadụ bihā fī ẓulumātil-barri wal-baḥr, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy ya’lamụn

 97.  Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.

Dan Allah  Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagi kalian (wahai sekalian manusia), sebagai petunjuk arah yang kalian dapat mengenali jalan-jalan pada malam hari melalui bintang-bintang tersebut, ketika kalian tersesat jalan akibat pekatnya kegelapan malam di darat maupun laut. Sesungguhnya kami telah menerangkan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas agar ikut terdorong merenunginya orang-orang yang mengenal Allah dan RasulNya dan syariatNya dari kalangan kalian.

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ

wa huwallażī ansya`akum min nafsiw wāḥidatin fa mustaqarruw wa mustauda’, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy yafqahụn

 98.  Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.

Dan Allah lah yang memulai penciptaan diri kalian wahai sekalian manusia dari Adam  tatkala Dia menciptakannya dari tanah, sedang kalian merupakan anak cucu dan keturunan darinya. Kemudian Allah menyiapkan bagi kalian tempat menetap yang kalian tinggali, yaitu Rahim-rahim para ibu, dan tempat penyimpanan di mana kalian terlindungi di dalamnya, yaitu tulang-tulang sulbi pada kaum lelaki. Sesungguhnya telah kami jelaskan hujjah-hujjah dan kami istimewakan kalian dengan keberadaan dalil-dalil, dan kami kuatkan hal-hal tersebut bagi satu kaum yang mampu memahami bagian-bagian hujjahnya dan sisi-sisi yang memuat pelajaran.

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa huwallażī anzala minas-samā`i mā`ā, fa akhrajnā bihī nabāta kulli syai`in fa akhrajnā min-hu khaḍiran nukhriju min-hu ḥabbam mutarākibā, wa minan-nakhli min ṭal’ihā qinwānun dāniyatuw wa jannātim min a’nābiw waz-zaitụna war-rummāna musytabihaw wa gaira mutasyābih, unẓurū ilā ṡamarihī iżā aṡmara wa yan’ih, inna fī żālikum la`āyātil liqaumiy yu`minụn

 99.  Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Dan Allah  Dia lah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Dia mengeluarkan dari hujan itu berbagai macam tumbuhan. Kemudian menumbuhkan dari tetumbuhan tetsebut tanaman dan pepohonan yang menghijau, dan mengelurkan dari tanaman itu biji-bijian yang tersusun satu sama lain, seperti bulir biji gandum, jewawut dan padi. Dan Dia mengeluarkan dari mayang kurma, (yaitu tempat tumbuhnya bakal tandan kurma muda), tangkai-tangkai kurma yang mudah di jangkau tangan. Dia  menumbuhkan kebun-kebun angggur. Dia mengeluarkan pohon zaitun dan delima yang serupa daunnya, namun berbeda buahnya dalam bentuk, rasa, dan karakter. Maka lihatlah olehmu Wahai sekalian manusia, buah-buahan pohon-pohon tersebut ketika tanaman itu berbuah, serta mengkal dan masaknya ketika tiba waktunya. Sesungguhnya dalam perkara tersebut (wahai sekalian manusia), terdapat berbagai petunjuk tentang kesempurnaan kekuasaan Dzat penciptanya, hikmah dan rahmatNya bagi kaum yang beriman kepaad Allah  dan melaksanakan syariatNya.

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

wa ja’alụ lillāhi syurakā`al-jinna wa khalaqahum wa kharaqụ lahụ banīna wa banātim bigairi ‘ilm, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yaṣifụn

 100.  Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

Dan orang-orang musyrik menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah  dalam penyembahan , terdorong keyakinan dari mereka bahwa jin-jin dapat memberikan manfaat atau menimpakan mudarat, padahal Allah  lah yang menciptakan mereka dan semua yang mereka sembah dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dia sendiri yang menciptakan, maka sudah sepantasnya hanya Dia yang berhak disembah, tanpa sekutu bagiNya di dalamnya. Dan sungguh kaum musyrikin telah mengadakan kedustaan atas nama Allah  ketika mereka menisbatkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kepadaNya, lantaran kebodohan mereka terhadap sifat-sifat kesempurnaan yang wajib bagi Allah. Dia Maha suci lagi maha tinggi dari penisbatan kaum musyrikin kepadaNya yang berupa kedustaan dan kebohongan.

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

badī’us-samāwāti wal-arḍ, annā yakụnu lahụ waladuw wa lam takul lahụ ṣāḥibah, wa khalaqa kulla syaī`, wa huwa bikulli syai`in ‘alīm

 101.  Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Dan Allah  Dia lah yang mengadakan langit dan bumi dan seisinya tanpa ada contoh sebelumnya. Maka bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal tidak memiliki istri? Maha tinggi Allah dari apa yang diucapkan kaum musyrikin setinggi-tingginya. Dan Dia lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya dari perkara-perkara makhlukNya

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

żālikumullāhu rabbukum, lā ilāha illā huw, khāliqu kulli syai`in fa’budụh, wa huwa ‘alā kulli syai`iw wakīl

 102.  (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.

Yang memiliki sifat demikian itu (wahai kaum musyrikin), adalah tuhan kalian yang Maha agung lagi Maha tinggi , tiada sesembahan yang berhak dibadahi selainNya. Dia sang pencipta segala sesuatu, maka tunduklah kepadaNya dengan ketaatan dan ibadah kepadaNya. Dia  Maha pemelihara lagi penjaga segala sesuatu, mengatur urusan-urusan makhlukNya.

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār, wa huwal-laṭīful-khabīr

 103.  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

kamu tidak dapat melihat Allah oleh penglihatan mata di dunia(ini). Adapun di akhirat, sesungguhnya kaum mukminin akan dapat melihat tuhan mereka tanpa ada dinding penghalang, sedang Dia  dapat melihat semua penglihatan dan meliputinya, serta mengetahuinya sesuai dengan apa adanya. Dan Dia maha lembut terhadap para kekasihNya, lagi maha teliti yang Maha mengetahui perkara-perkara yang samar dan detail.

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

qad jā`akum baṣā`iru mir rabbikum, fa man abṣara fa linafsih, wa man ‘amiya fa ‘alaihā, wa mā ana ‘alaikum biḥafīẓ

 104.  Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sungguh telah datang kepada kalian bukti-bukti nyata yang kalian dapat melihat dengannya petunjuk dari kesesatan, termuat dalam al-qur’an, dan Rasulullah  telah membawanya. Maka barangsiapa yang dapat melihatnya dengan jelas dan mengimani kandungan petunjuknya, maka manfaat nya kembali kepada dirinya. Dan barangsiapa tidak melihat hidayah setelah muncul dengan jelas di hadapannya, maka dia telah berbuat jahat terhadap dirinya. Dan aku bukanlah seorang pemelihara atas kalian, yang menghitung amal perbuatan kalian. Aku hanyalah penyampai risalah semata, dan Allah lah yang memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya, berdasarkan ilmu dan hikmahNya. ”

وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

wa każālika nuṣarriful-āyāti wa liyaqụlụ darasta wa linubayyinahụ liqaumiy ya’lamụn

 105.  Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui.

Sebagiamana dalam al-qur’an ini kami telah menjelaskan kepada kaum musyrikin bukti-bukti nyata dalam perkara tauhid, kenabian dan tempat kembali (akhirat), kami (juga) menerangkan bukti-bukti kepada mereka tentang segala yang tidak mereka ketahui, tetapi mereka justru mengatakan dengan berdusta , ”Engkau telah belajar dari ahli kitab” Dan agar kami menjelaskan kebenaran melalui pengulangan ayat-ayat yang kami lakukan, kepada kaum yang mengetahuinya, kemudian mereka terima dan ikuti. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, Muhammad  dan wahyu yang diturunkan kepadanya.

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

ittabi’ mā ụḥiya ilaika mir rabbik, lā ilāha illā huw, wa a’riḍ ‘anil-musyrikīn

 106.  Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.

ikutilah (Wahai rasul), apa yang kami wahyukan kepadamu berupa perintah-perintah dan larangan-larangan dimana yang paling agung ialah mentauhidkan Allah  dan mendakwahkannya. Dan jangan pedulikan penentangan keras kaum usyrikin dan klaim batil mereka.

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكُوا ۗ وَمَا جَعَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

walau syā`allāhu mā asyrakụ, wa mā ja’alnāka ‘alaihim ḥafīẓā, wa mā anta ‘alaihim biwakīl

 107.  Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.

Sekiranya Allah  menghendaki kaum musyrikin tidak bertaubat syirik, niscaya mereka tidak akan menyekutukan Allah. Akan tetapi, Allah maha mengetahui apa yang terjadi kepada mereka, berupa buruknya pilihan yang mereka tentukan dan keinginan-keinginan yang menyimpang yang mereka perturutkan. Dan kami tidak menjadikan engkau (wahai rasul), sebagai pemelihara amal perbuatan mereka, dan kamu bukan penanggung jawab atas mereka yang mengurusi pengaturan kemaslahatan mereka.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lā tasubbullażīna yad’ụna min dụnillāhi fa yasubbullāha ‘adwam bigairi ‘ilm, każālika zayyannā likulli ummatin ‘amalahum ṡumma ilā rabbihim marji’uhum fa yunabbi`uhum bimā kānụ ya’malụn

 108.  Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Dan janganlah kalian (wahai kaum muslimin), mencaci maki berhala-berhala yang disembah kaum musyrikin (sebagai bentuk antisipasi) sehingga tidak menyebabkan mereka memaki-maki Allah atas dasar kebodohan dan permusuhan mereka tanpa pengetahuan. Sebagaimana kami menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan buruk mereka sebagai hukuman atas buruknya pilihan mereka, kami pun menjadikan tiap-tiap umat manusia memandang baik perbuatan mereka. Kemudian kepada tuhan mereka, tempat kembali mereka semua. Maka Allah memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan-perbuatan mereka yang dahulu mereka perbuat di dunia. kemudian Allah membalas mereka atas perbuatan-perbuatan tersebut.

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa aqsamụ billāhi jahda aimānihim la`in jā`at-hum āyatul layu`minunna bihā, qul innamal-āyātu ‘indallāhi wa mā yusy’irukum annahā iżā jā`at lā yu`minụn

 109.  Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah”. Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.

dan telah bersumpah Orang-orang musyrik itu dengan sumpah-sumpah yang dikukuhkan, ”jika Muhammad datang membawa tanda yang luar biasa (mukjizat) , pastilah kami akan beriman kepada risalah yang dibawanya.” katakanlah (wahai rasul), ”sesungguhnya kemunculan mukjizat yang luar biasa itu berasal dari Allah  . Dia maha kuasa mendatangkan mukjizat bila Dia menghendakinya. ”Dan tahukah kalian (wahai kaum mukminin), bahwa apabila mukjizat itu datang, mungkin saja kaum musyrikin itu tidak juga mengimaninya?

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

wa nuqallibu af`idatahum wa abṣārahum kamā lam yu`minụ bihī awwala marratiw wa nażaruhum fī ṭugyānihim ya’mahụn

 110.  Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.

Dan kami membalikan hati dan pandangan mereka, lalu kami menghalanginya untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah , sehingga mereka tidak beriman kepadanya, sebagaimana mereka tidak beriman kepada ayat-ayat Al –qur’an ketika diturunkan pertama kali. dan kami biarkan mereka dalam pembangkangan mereka kepada Allah dalam keadaan kebingungan, tidak memperoleh petunjuk menuju yang haq dan jalan yang benar.

۞ وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَىٰ وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

walau annanā nazzalnā ilaihimul-malā`ikata wa kallamahumul-mautā wa ḥasyarnā ‘alaihim kulla syai`ing qubulam mā kānụ liyu`minū illā ay yasyā`allāhu wa lākinna akṡarahum yaj-halụn

 111.  Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Seandainya kami mengabulkan permintaan orang-orang musyrik itu, lalu kami menurunkan malaikat dari langit, dan Kami hidupkan orang-orang mati agar berbicara kepada mereka, serta kami kumpulkan semua yang mereka minta sehingga mereka dapat menyaksikannya dengan mata kepala mereka di hadapan mereka, mereka tetap tidak akan beriman terhadap dakwah yang engkau serukan kepada mereka (wahai rasul), dan mereka tidak akan mengamalkannya, kecuali orang yang Allah kehendaki memperoleh hidayah. Akan tetapi kebanyakan orang-orang kafir itu jahil terhadap kebenaran yang engkau bawa dari sisi Allah  .

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

wa każālika ja’alnā likulli nabiyyin ‘aduwwan syayāṭīnal-insi wal-jinni yụḥī ba’ḍuhum ilā ba’ḍin zukhrufal-qauli gurụrā, walau syā`a rabbuka mā fa’alụhu fa żar-hum wa mā yaftarụn

 112.  Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Sebagaimana kami uji engkau (wahai rasul), dengan musuh-musuhmu dari kalangan kaum musyrikin, kami juga telah menguji seluruh nabi  dengan para musuh dan para penentang dari kaum mereka dan musuh-musuh dari para penentang dari kalangan jin, sebagian dari mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang telah mereka hiasi dengan kebatilan, supaya teperdaya dengan itu orang yang mendengarnya, sehingga tersesat dari jalan Allah. seandainya tuhanmu Allah  berkehendak, pastilah Dia akan menghalangi antara mereka dengan sikap permusuhan tersebut. Akan tetapi, hal itu adalah cobaan dari Allah. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan yang berupa kedustaan dan kebohongan.

وَلِتَصْغَىٰ إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

wa litaṣgā ilaihi af`idatullażīna lā yu`minụna bil-ākhirati wa liyarḍauhu wa liyaqtarifụ mā hum muqtarifụn

 113.  Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.

Dan agar lebih condong kepada bisikan itu hati orang-orang kafir yang tidak mempercayai kehidupan akhirat dan tidak beramal untuk akhirat mereka,dan supaya jiwa-jiwa mereka menyukainya serta supaya mereka mengusahakan perbuatan buruk yang mereka perbuat. Disini terkandung satu ancaman keras terhadap mereka.

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

a fagairallāhi abtagī ḥakamaw wa huwallażī anzala ilaikumul-kitāba mufaṣṣalā, wallażīna ātaināhumul-kitāba ya’lamụna annahụ munazzalum mir rabbika bil-ḥaqqi fa lā takụnanna minal-mumtarīn

 114.  Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”Apakah kepada selain Allah yang merupakan tuhanku dan tuhan kalian, aku harus mencari hakim pemutus ketetapan hukum antara aku dan kalian? Padahal Dia lah yang telah menurunkan al-qur’an dengan menjelaskan di dalamnya tentang hukum dalam persoalan yang kalian pertentangkan di dalamnya tentang urusanku dan urusan kalian?” Dan bani israil yang diberi taurat dan injil oleh Allah, mereka mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa sesungguhnya al-qur’an ini diturunkan kepadamu (wahai rasul), dari tuhanmu dengan haq. maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu-ragu terhadap apa yang kami wahyukan kepadamu.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa tammat kalimatu rabbika ṣidqaw wa ‘adlā, lā mubaddila likalimātih, wa huwas-samī’ul-‘alīm

 115.  Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

Dan telah sempurnalah kalimat tuhanmu, (yaitu al-qur’an) kalimat yang benar dalam berita-berita dan pernyataan-pernyataannya, dan adil dalam hukum-hukumnya. Tidak ada seorangpun yang mampu mengganti kalimat-kaliamatNya yang sempurna. Dan Allah Dialah yang maha mendengar semua apa yang diucapkan oleh para hambaNya, juga maha mengetahui urusan batin mereka dan urusan lahir mereka.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

wa in tuṭi’ akṡara man fil-arḍi yuḍillụka ‘an sabīlillāh, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa in hum illā yakhruṣụn

 116.  Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

Dan seandainya ditetapkan (wahai rasul), bahwasanya engkau menuruti kebanyakan orang-orang yang berada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari agama Allah. Mereka tidaklah berjalan kecuali di atas jalur yang mereka sangka-sangka sebagai kebenaran berdasarkan taklid mereka terhadap para pendahulu (nenek moyang) mereka. Dan tidaklah mereka berbuat kecuali sekedar berprasangka belaka dan berdusta.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

inna rabbaka huwa a’lamu may yaḍillu ‘an sabīlih, wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

 117.  Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.

Sesungguhnya tuhanmu, Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang istiqamah dan berada di atas jalan lurus.dan Dia lebih mengetahui siapa dianatara kalian dan diantara mereka siapa saja yang berada di jalan istiqomah dan kebenaran. Tidak ada yang samar bagiNya seorangpun.

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

fa kulụ mimmā żukirasmullāhi ‘alaihi ing kuntum bi`āyātihī mu`minīn

 118.  Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Maka makanlah sembelihan-sembelihan yang telah disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kalian beriman kepada petunjuk-petunjuk Allah  yang jelas.

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

wa mā lakum allā ta`kulụ mimmā żukirasmullāhi ‘alaihi wa qad faṣṣala lakum mā ḥarrama ‘alaikum illā maḍṭurirtum ilaīh, wa inna kaṡīral layuḍillụna bi`ahwā`ihim bigairi ‘ilm, inna rabbaka huwa a’lamu bil-mu’tadīn

 119.  Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Dan apa saja yang menghalangi kalian (wahai kaum muslimin), untuk memakan sembelihan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah  telah menerangkan kepada kalian seluruh makanan yang diharamkannya atas kalian? Akan tetapi, dalam kondisi darurat yang disebabkan oleh kelaparan, dari barang-barang yang diharamkan atas kalian seperti bangkai, sesungguhnya menjadi boleh dimakan bagi kalian. Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang sesat pasti akan menyesatkan para pengikut mereka dari jalan Allah dalam urusan penghalalan barang-barang yang diharamkan dan pengharaman barang-barang halal dengan dorongan hawa nafsu mereka lantaran kebodohan mereka. Sesungguhnya tuhanmu (wahai rasul), lebih mengetahui orang yang melampaui batas dalam perkara tersebut. Dan Dia lah yang akan menangani perhitungan perbuatan orang itu dan balasan baginya.

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

wa żarụ ẓāhiral-iṡmi wa bāṭinah, innallażīna yaksibụnal-iṡma sayujzauna bimā kānụ yaqtarifụn

 120.  Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.

dan tinggalkanlah oleh kalian (Wahai sekalain manusia) seluruh jenis maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat maksiat, akan dihukum oleh tuhan mereka akibat apa yang mereka lakukan dari perbuatan-perbuatan buruk tersebut.

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

wa lā ta`kulụ mimmā lam yużkarismullāhi ‘alaihi wa innahụ lafisq, wa innasy-syayāṭīna layụḥụna ilā auliyā`ihim liyujādilụkum, wa in aṭa’tumụhum innakum lamusyrikụn

 121.  Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

janganlah kalian makan (wahai kaum muslimin) sembelihan-sembelihan yang tidak disebut nama Allah sewaktu menyembelihnya, seperti bangkai dan binatang yang disembelih untuk berhala-berhala, jin dan makhluk lainnya. Sesungguhnya makan sembelihan-sembelihan tersebut merupakan tindakan keluar dari ketaatan kepada Allah  Dan sesungguhnya jin-jin yang jahat membisikan syubhat-syubhat tentang pengharaman bangkai terhadap kawan-kawan mereka, setan-setan dari kalangan manusia. Mereka memerintahkan setan-setan dari kalangan manusia untuk berkata kepada kaum muslimin dalam adu argumentasi dengan meereka. ”sesungguhnya kalian dengan tidak mau memakan bangkai berarti tidak mau memakan hasil sembelihan Allah, padahal kalian memakan apa yang merupakan hasil sembelihan kalian sendiri.” jika kalian kaum muslimin, menuruti penghalalan bangkai, maka kalian dan mereka sama saja dalam kesyirikan.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

a wa mang kāna maitan fa aḥyaināhu wa ja’alnā lahụ nụray yamsyī bihī fin-nāsi kamam maṡaluhụ fiẓ-ẓulumāti laisa bikhārijim min-hā, każālika zuyyina lil-kāfirīna mā kānụ ya’malụn

 122.  Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

Apakah orang yang hatinya sudah mati dan binasa lagi dilanda dengan kebingungan, lalu Kami hidupkan hatinya dengan iman dan kami berikan kepadanya cahaya-cahaya hidayah, dan kKami beri taufik untuk mengikuti rosul-rosul Kami, maka mereka menjadi hidup dalam cahaya-cahaya hidayah, sama seperti orang-orang yang hanyut dalam berbagai kejahilan (kebodohan), jeratan hawa nafsu dan gulungan keseatan yang bermacam-macam tidak tahu jalan menuju keselamatan dan jalan kebebasan dari kondisinya?. Mereka tidak sama. Dan sebagimana aku acuhkan orang kafir ini,yang mendebat kalian (wahai kaum mukminin) dan aku hiasi perbuatan buruknya, sehingga memandangnya baik, begitupula aku jadikan perbuatan-perbuatan buruk orang-orang yang terlihat bagus menurut mereka, agar dengan itu mereka pantas menerima azab.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

wa każālika ja’alnā fī kulli qaryatin akābira mujrimīhā liyamkurụ fīhā, wa mā yamkurụna illā bi`anfusihim wa mā yasy’urụn

 123.  Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Sebagaimana ini terjadi dari para pemuka orang-orang kafir Makkah berupa tindakan menghalangi dari agama Allah, maka kami jadikan di tiap-tiap negeri itu penjahat-penjahat beasr yang dipimpin oleh tokoh mereka, agar mereka melakukan tipu daya demi menghalangi manusia dari jalan Allah. Dan tidaklah mereka melancarakan tipu daya kecuali terhadap diri mereka sendiri, sedang mereka tidaklah menyadari hal itu.

وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

wa iżā jā`at-hum āyatung qālụ lan nu`mina ḥattā nu`tā miṡla mā ụtiya rusulullāh, allāhu a’lamu ḥaiṡu yaj’alu risālatah, sayuṣībullażīna ajramụ ṣagārun ‘indallāhi wa ‘ażābun syadīdum bimā kānụ yamkurụn

 124.  Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.

Dan apabila datang kepada orang-orang musyrik dari penduduk Mekah itu hujjah yang terang tentang kenabian Muhammad , maka sebagian pemuka mereka berkata, ”Kami tidak akan pernah mengimani kenabiannya sampai Allah mau memberikan kepada kami sebagian dari (bukti) kenabian dan mukjizat, seperti yang telah diberikan kepada rasul terdahulu.” maka Allah membantah pernyatan mereka,dengan firman-Nya ”Allah lebih tahu dimana Dia akan meletakkan tugas kerasulan,” maksudnya tentang orang-orang yang pantas mengemban risalahnya dan menyampaikannya kepada manusia. Para penentang tersebut akan dilanda kehinaan, dan bagi mereka siksaan yang pedih di neraka jahanam disebabkan tipu daya mereka terhadap islam dan kaum muslimin.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

fa may yuridillāhu ay yahdiyahụ yasyraḥ ṣadrahụ lil-islām, wa may yurid ay yuḍillahụ yaj’al ṣadrahụ ḍayyiqan ḥarajang ka`annamā yaṣṣa”adu fis-samā`, każālika yaj’alullāhur-rijsa ‘alallażīna lā yu`minụn

 125.  Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Maka barangsiapa yang Allah berkehendak memberinya taufik untuk menerima kebenaran, niscaya Allah akan melapangkan dadanya untuk bertauhid dan beriman. Dan barangsiapa Allah berkehendak menyesatkannya maka Dia akan menjadikan dadanya dalam kondisi sangat keras dan tertutup dari menerima hidayah, seperti keadaan orang yang menaiki lapisan-lapisan udara yang tinggi, maka ia akan mengalami sesak yang parah dalam bernafas. Dan sebagaimana Allah menjadikan hati orang-orang kafir sangat sesak dan tertutup , dan begitu juga Dia menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak beriman kepadaNYa.

وَهَٰذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ

wa hāżā ṣirāṭu rabbika mustaqīmā, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy yażżakkarụn

 126.  Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.

126 Apa yang kami jelaskan kepadamu ini (wahai rasul), itulah jalan yang mengantarkan menuju keridhaan tuhanmu dan surgaNYa. Sungguh kami telah menerangkan berbagai bukti petunjuk bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran dari orang-orang yang memiliki akal yang kuat.

۞ لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

lahum dārus-salāmi ‘inda rabbihim wa huwa waliyyuhum bimā kānụ ya’malụn

 127.  Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.

Bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran disisi tuhan mereka pada hari kiamat ada tempat tinggal yang penuh keselamatan dan aman dari segala hal yang tidak disukai, yaitu surga; dan Dia  adalah penolong dan pelindung mereka, sebagai balasan bagi mereka atas amal-amal mereka yang shalih.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa yauma yaḥsyuruhum jamī’ā, yā ma’syaral-jinni qadistakṡartum minal-ins, wa qāla auliyā`uhum minal-insi rabbanastamta’a ba’ḍunā biba’ḍiw wa balagnā ajalanallażī ajjalta lanā, qālan-nāru maṡwākum khālidīna fīhā illā mā syā`allāh, inna rabbaka ḥakīmun ‘alīm

 128.  Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dan ingatlah (wahai rasul), hari ketika Allah  akan menghimpun orang-orang kafir dan para pembela mereka dari kalangan setan-setan dari bangsa jin, lalu Dia berfirman, ”wahai golongan jin, sungguh kalian telah menyesatkan banyak manusia.” maka kawan-kawan mereka dari orang-orang kafir berkata, ”wahai tuhan kami, sungguh sebagian kami telah mendapatkan manfaat dari sebagian yang lain dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan atas kami dengan berakhirnya kehidupan dunia.” Allah  berfirman kepada mereka, ”neraka adalah tempat berdiam kalian.” Maksudnya menjadi tempat tinggal kalian secara abadi di dalamnya, kecuali orang yang Allah kehendaki tidak kekal berada di sana dari para pelaku maksiat yang bertauhid kepada Allah. Sesungguhnya tuhanmu Maha bijaksana dalam pengaturan dan penciptaNya, maha mengetahui seluruh urusan hamba-hambaNYa.

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

wa każālika nuwallī ba’ḍaẓ-ẓālimīna ba’ḍam bimā kānụ yaksibụn

 129.  Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.

Sebagaimana kami telah jadikan setan-setan dari jin menguasai manusia-manusia kafir, maka setan-setan itu menjadi kawan-kawan mereka, begitu pula kami jadikan manusia-manusia zhalim saling menguasai satu sama lain di dunia disebabkan apa yang telah mereka perbuat dari kemaksiatan-kemaksiatan.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

yā ma’syaral-jinni wal-insi a lam ya`tikum rusulum mingkum yaquṣṣụna ‘alaikum āyātī wa yunżirụnakum liqā`a yaumikum hāżā, qālụ syahidnā ‘alā anfusinā wa garrat-humul-ḥayātud-dun-yā wa syahidụ ‘alā anfusihim annahum kānụ kāfirīn

 130.  Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

wahai kaum musyrikin dari kalangan jin dan manusia, belumkah datang kepada kalian rasul-rasul dari golongan kalian sendiri (dzohir nash ini menunjukan bahwa sesungguhnya rosul itu dari golongan manusia saja) yang memberitahukan kepada kalian ayat-ayatKu yang jelas lagi memuat penjelasan tentang perintah, larangan, kebaikan dan keburukan dan memperingatkan kalian terhadap pertemuan (kalian) dengan siksaKu pada hari kiamat? kaum musyrikin dari golongan manusia dan jin menjawab “kami bersaksi terhadap diri kami bahwa rasul-rasulMu telah menyampaikan ayat-ayatMu kepada kami dan memperingatkan kami terhadap pertemuan kami pada hari ini, namun kemudian kami mendustakan mereka.” Dan telah memperdayai kaum musyrikin itu Gemerlap kehidupan dunia. Mereka menjadi saksi bagi diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang mengingkari keesaan Allah  dan mendustakan rasul-rasulNya  .

ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

żālika al lam yakur rabbuka muhlikal-qurā biẓulmiw wa ahluhā gāfilụn

 131.  Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.

dan sesungguhnya Kami telah mengemukakan hujjah-hujjah kepada dua jenis makhluk (manusia dan jin) dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, agar tidak ada seorangpun yang di siksa akibat perbuatan zhalimnya, sedang dakwah belum sampai kepadanya. Akan tetapi, kami telah menerangkan hujjah-hujjah kepada umat-umat manusia, dan tidaklah kami menyiksa seorangpun kecuali setelah mengutus para rasul kepada mereka.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

wa likullin darajātum mimmā ‘amilụ, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ya’malụn

 132.  Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

dan bagi Tiap-tiap orang yang berbuat ketaatan kepada Allah  atau maksiat kepadaNya mendapatkan kedudukan sesuai dengan perbuatannya. Allah akan menempatkannya dalam kedudukan itu dan memberinya balasan sesuai dengan itu. Dan tidaklah tuhanmu (wahai rasul) lengah dari apa yang dilakukan oleh hamba-hambaNya.

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ

wa rabbukal-ganiyyu żur-raḥmah, iy yasya` yuż-hibkum wa yastakhlif mim ba’dikum mā yasyā`u kamā ansya`akum min żurriyyati qaumin ākharīn

 133.  Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

Dan tuhanmu (wahai rasul), yang memerintahkan manusia untuk beribadah kepadaNYa, Dia itu satu-satunya yang maha kaya, dan seluruh makhlukNya butuh kepadaNya. Dan Dia  mempunyai rahmat yang sangat luas. Jika sekiranya Dia menghendaki, pastilah Dia akan membinasakan kalian dan menciptakan kaum yang lain dari kalian yang akan menggantikan kalian setelah kemusnahan kalian dan mengerjakan amal ketaatan kepada Allah  , sebagaimana Dia dahulu menciptakan kalian dari keturunan kaum yang lain yang hidup sebelum kalian.

إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ ۖ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

inna mā tụ’adụna la`ātiw wa mā antum bimu’jizīn

 134.  Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.

Sesungguhnya apa yang dijanjikan tuhan kalian kepada kalian (wahai kaum musyrikin), berupa siksaan atas kekafiran kalian, pasti akan menimpa kalian. Dan kalian tidak akan mampu melemahkan tuhan kalian dengan melarikan diri darinya. Dia maha kuasa untuk menghidupkan kalian kembali, walaupun kaian telah menjadi tanah dan tulang-belulang.

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

qul yā qaumi’malụ ‘alā makānatikum innī ‘āmil, fa saufa ta’lamụna man takụnu lahụ ‘āqibatud-dār, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

 135.  Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.

Katakanlah (wahai rasul), “wahai kaumku, berbuatlah sesuka hati kalian, sesungguhnya aku akan berbuat sesuai dengan ajaranku yang telah di syariatkan kepadaku oleh tuhanku . Kelak kalian akan mengetahui, (ketika siksaan menimpa kalian) siapakah (diantara kita) yang akan memperoleh akibat yang baik?. Sesungguhnya tiidak akan menggapai ridha Allah  dan surgaNya orang yang berbuat melampaui batas dan melakukan tindakan aniaya dengan menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lain.”

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَٰذَا لِشُرَكَائِنَا ۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَىٰ شُرَكَائِهِمْ ۗ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

wa ja’alụ lillāhi mimmā żara`a minal-ḥarṡi wal-an’āmi naṣīban fa qālụ hāżā lillāhi biza’mihim wa hāżā lisyurakā`inā, fa mā kāna lisyurakā`ihim fa lā yaṣilu ilallāh, wa mā kāna lillāhi fa huwa yaṣilu ilā syurakā`ihim, sā`a mā yaḥkumụn

 136.  Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.

Dan kaum musyrikin menjadikan bagi Allah  satu bagian dari apa yang diciptakanNya berupa tanaman, buah-buahan dan hewan ternak dengan menghidangkannya bagi para tamu dan orang-orang miskin, dan juga memperuntukan bagian yang lain dari barang-barang tersebut bagi sekutu-sekutu mereka dari berhala-berhala dan patung-patung. Persembahan yang mereka khususkan bagi sesmbahan-sesembahan mereka hanya akan sampai kepada sesembahan-sesembahan tersebut saja, tidak sampai kepada Allah  , dana pa yang dikhususkan untuk Allah  sesungguhnya ia sampai kepada sesembahan-sesembahan mereka. Alangkah buruk ketetapan dan pembagian mereka tersebut.

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

wa każālika zayyana likaṡīrim minal-musyrikīna qatla aulādihim syurakā`uhum liyurdụhum wa liyalbisụ ‘alaihim dīnahum, walau syā`allāhu mā fa’alụhu fa żar-hum wa mā yaftarụn

 137.  Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Sebagaimana setan telah membuat kaum musyrikin memandang baik untuk memperuntukan bagi Allah  sebagian dari tanaman dan hewan ternak dan sebagian bagi sesembahan-sesembahan mereka, setan-setan pun menjadikan kebanyakan orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka lantaran takut kemiskinan; agar dapat menjerumuskan para orang tua ke dalam kebinasaan dengan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk di bunuh kecuali dengan alasan yang benar, dan supaya mencampuradukan agama mereka hingga menjadi samar. Akibatnya mereka sesat dan binasa. Sekiranya Allah menghendaki mereka tidak melakukannya, pastilah mereka tidak akan melakukannya. Akan tetapi, Dia telah menakdirkan kejadian tersebut karena Dia mengetahui buruknya kondisi dan temapat kemabil mereka. Maka tinggalkanlah mereka (wahai rasul), dan urusan mereka terkait kedustaan yang mereka ada-adakan. Allah akan membuat keputusan antara dirimu dengan mereka.

وَقَالُوا هَٰذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لَا يَطْعَمُهَا إِلَّا مَنْ نَشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لَا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ ۚ سَيَجْزِيهِمْ بِمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa qālụ hāżihī an’āmuw wa ḥarṡun ḥijrul lā yaṭ’amuhā illā man nasyā`u biza’mihim wa an’āmun ḥurrimat ẓuhụruhā wa an’āmul lā yażkurụnasmallāhi ‘alaihaftirā`an ‘alaīh, sayajzīhim bimā kānụ yaftarụn

 138.  Dan mereka mengatakan: “Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.

Dan orang-orang musyrik itu mengatakan, ”unta dan tanaman ini haram,” tidak boleh memakannya kecuali orang-orang yang mereka izinkan saja, (sesuai dengan prasangka mereka), seperti para penjaga berhala-berhala dan orang-orang lainnya.” unta ini diharamkan pemanfaatan punggungnya, maka tidak boleh ditunggangi dan membawa barang bawaan dalam kondisi apapun.” Dan unta yang lain tidak mereka sebut Nama Allah  ketika menyembelihnya dalam keadaan apapun. Mereka melakukan semua itu dengan dasar kebohongan atas nama Alllah. Allah akan membalasan kepada mereka disebabkan perbuatan yang mereka ada-adakan dalam bentuk kedustaan terhadapNya.

وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ الْأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰ أَزْوَاجِنَا ۖ وَإِنْ يَكُنْ مَيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ ۚ سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ ۚ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa qālụ mā fī buṭụni hāżihil-an’āmi khāliṣatul liżukụrinā wa muḥarramun ‘alā azwājinā, wa iy yakum maitatan fa hum fīhi syurakā`, sayajzīhim waṣfahum, innahụ ḥakīmun ‘alīm

 139.  Dan mereka mengatakan: “Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dan orang-orang musyrik berkata, ”Apa yang ada di dalam perut binatang-binatang ternak yang berupa janin-janin, hukumnya mubah bagi para laki-laki dari kami, namun haram bagi para wanita kami, jika dilahirkan dalam keadaan hidup.” Dan mereka saling berbagi bila dilahirkan dalam keadaan mati. Allah akan menghukum mereka, karena mereka menetapkan aturan syariat bagi diri mereka, baik berupa pengahalalan, maupun pengharaman yang tidak pernah diizinkan oleh Allah . Sesungguhnya Allah maha bijaksana dalam pengaturan urusan-urusan makhlukNya, lagi maha mengetahui mereka.

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ ۚ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

qad khasirallażīna qatalū aulādahum safaham bigairi ‘ilmiw wa ḥarramụ mā razaqahumullāhuftirā`an ‘alallāh, qad ḍallụ wa mā kānụ muhtadīn

 140.  Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezeki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Sungguh benar-benar merugi dan binasa orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kedangkalan akal pikiran dan kebodohan mereka, dan mereka mengharamkan apa yang Allah karuniakan kepada mereka dengan dasar kebohongan atas nama Allah. Sungguh mereka telah amat jauh dari kebenaran, dan mereka bukanlah orang-orang yang memperoleh hidayah dan berada di jalan yang lurus. Penetapan hukum halal dan haram menjadi salah satu hak khusus Allah dalam penetapan aturan hukum syariat. Perkara halal adalah yang dihalalkan oleh Allah dan perkara haram adalah yang diharamkan oleh Allah. Tidak ada hak bagi seorang pun dari hambaNYa, entah itu seorang individu atau golongan untuk mensyariatkan kepada hamba-hamba Allah sesuatu ajaran yang tidak diizinkan dengan itu oleh Allah.

۞ وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

wa huwallażī ansya`a jannātim ma’rụsyātiw wa gaira ma’rụsyātiw wan-nakhla waz-zar’a mukhtalifan ukuluhụ waz-zaitụna war-rummāna mutasyābihaw wa gaira mutasyābih, kulụ min ṡamarihī iżā aṡmara wa ātụ ḥaqqahụ yauma ḥaṣādihī wa lā tusrifụ, innahụ lā yuḥibbul-musrifīn

 141.  Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Dan Allah  Dia lah yang menciptakan bagi kalian kebun-kebun, yang diantaranya ada kebun yang batangnya tidak menyentuh permukaan tanah seperti pohon anggur, dan diantaranya ada kebun yang tidak menjalar tinggi di atas permukaan tanah, akan tetapi berdiri tegak di atas batang pokoknya, seperti pohon kurma dan tanam-tanaman lain yang memiliki cita-rasa yang berbeda-beda, dan pohon zaitun dan pohon delima yang saling serupa bentuk fisiknya, namun berbeda buah dan rasanya. Wahai manusia, makanlah dari hasil buahnya bila telah berbuah, dan serahkanlah zakatnya yang wajib atas kalian pada hari dipetik dan dipanennya. Dan janganlah kalian melewati batas-batas keseimbangan dalam urusan pengeluaran harta, memakan makanan dan yang lainnya. Sesungguhnya Allah  tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas-batasNya, dengan cara menginfakan harta tidak sesuai aturannya.

وَمِنَ الْأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا ۚ كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

wa minal-an’āmi ḥamụlataw wa farsyā, kulụ mimmā razaqakumullāhu wa lā tattabi’ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

 142.  Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Dan Allah menciptakan dari binatang-binatang ternak hewan yang diperuntukan guna mengangkut beban karena bentu fisiknya yang besar karena ukuran tubuhnya yang tinggi, seperti unta. Dan ada pula dari binatang-binatang ternak yang di peruntukan bukan untuk mengangkut beban, karena fisiknya yang kecil dan kedekatan habitatnya dengan tanah seperti sapi dan kambing. Makanlah dari apa-apa yang diperbolehkan oleh Allah bagi kalian dan yang diberikannya kepada kalian dari binatang-binatang ternak tersebut. Dan janganlah kalian mengharamkan apa yang Allah halalkan darinya, demi mengikuti jalan-jalan bisikan setan, sebagaimana diperbuat oleh kaum musyrikin. Sesungguhhya setan itu bagi kalian adalah musuh yang sangat tampak permusuhannya.

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۖ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ نَبِّئُونِي بِعِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

ṡamāniyata azwāj, minaḍ-ḍa`niṡnaini wa minal-ma’ziṡnaīn, qul āż-żakaraini ḥarrama amil-unṡayaini ammasytamalat ‘alaihi ar-ḥāmul-unṡayaīn, nabbi`ụnī bi’ilmin ing kuntum ṣādiqīn

 143.  (yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar,

Binatang-binatang ternak tersebut yang dikaruniakan Allah kepada para hambaNya yang berupa unta, sapi dan kambing berjumlah delapan jenis binatang. Empat diantaranya dari jenis kambing, yaitu domba jantan dan betina, dan dari jenis kambing yang jantan dan bentina. Katakanlah (wahai rasul) kepada kaum musyrikin, ”apakah Allah yang mengharamkan jenis jantan dari dua jenis kambing tersebut?” apabila mereka mengatakan , ”betul”, sungguh mereka telah berbohong dalam ucapan mereka itu, Sebab mereka tidak mengharamkan seluruh jenis jantan dari domba dan kambing. Dan katakanlah kepada mereka, ”apakah Allah mengharamkan betina dari dua jenis domba tersebut?” apabila mereka mengatakan “ya” maka mereka juga telah berdusta. sebab mereka tidak mengharamkan seluruh betina dari Peranakan domba dan kambing. Dan katakanlah kepada mereka , ”dan apakah Allah mengharamkan apa yang ada di dalam kandungan dua betina dari jenis domba dan kambing?” apabila mereka berkata “betul”, maka mereka telah berdusta juga, karena mereka itu tidak mengharamkan seluruh isi kandungannya. Beritahukanlah kepadaku dengan satu bukti yang menunjukan kebenaran pendapat kalian tersebut, jika memang kalian berkata benar dalam perkara yang kalian nisbatkan kepada tuhan kalian.

وَمِنَ الْإِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَٰذَا ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

wa minal-ibiliṡnaini wa minal-baqariṡnaīn, qul āż-żakaraini ḥarrama amil-unṡayaini ammasytamalat ‘alaihi ar-ḥāmul-unṡayaīn, am kuntum syuhadā`a iż waṣṣākumullāhu bihāżā, fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibal liyuḍillan-nāsa bigairi ‘ilm, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

 144.  dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

dan empat Jenis-jenis hewan ternak lainnya ialah dua dari jenis unta, jantan dan betina, dan dua jenis dari sapi, jantan dan betina. Katakanlah (wahai rasul), ”apakah Allah mengharamkan dua jenis jantan atau dua jenis betina ataukah mengharamkan apa yang dikandung oleh dua betina baik jantan maupun betina? apakah kalian wahai kaum musyrikin, menyaksikan ketika Allah berpesan menetapkan pada kalian pengharaman binatang-binatang ternak tersebut? maka tidak ada orang yang lebih parah kezhalimannya daripada orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah untuk memalingkan manusia atas kebodohannya dari jalan petunjuk.” sesungguhnya Allah tidak memberikan taufik menuju jalan lurus bagi orang-orang yang berbuat melampaui batas, lalu berdusta atas nama Allah dan menyesatkan manusia.

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

qul lā ajidu fī mā ụḥiya ilayya muḥarraman ‘alā ṭā’imiy yaṭ’amuhū illā ay yakụna maitatan au damam masfụḥan au laḥma khinzīrin fa innahụ rijsun au fisqan uhilla ligairillāhi bih, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa inna rabbaka gafụrur raḥīm

 145.  Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Katakanlah (wahai rasul), ”sesungguhnya aku tidak mendapati dalam wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadaku sesuatu yang haram atas orang yang hendak memakannya dari ternak-ternak yang kalian sebut haram, kecuali kalau bintang itu telah mati tanpa disembelih dahulu, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu najis. Atau binatang yang cara penyembelihannya keluar dari ketaatan kepada Allah  , sebagimana yang terjadi pada sembelihan yang disebut nama selain Allah ketika disembelih. Barangsiapa yang terpaksa memakan barang-barang yang diharamkan ini disebabkan kelaparan yang melilit, sedang ia tidak ingin memakannya untuk menikmatinya dan tidak melewati batas ketentuan darurat, sesungguhnya Allah maha pengampun dan maha penyayang terhadapnya. Dan sungguh telah ditetapkan dalam Sunnah pengharaman semua binatang liar yang memiliki gigi taring, burung yang bercakar tajam, keledai yang di ternakan dan anjing.

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ ۖ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ۚ ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

wa ‘alallażīna hādụ ḥarramnā kulla żī ẓufur, wa minal-baqari wal-ganami ḥarramnā ‘alaihim syuḥụmahumā illā mā ḥamalat ẓuhụruhumā awil-ḥawāyā au makhtalaṭa bi’aẓm, żālika jazaināhum bibagyihim, wa innā laṣādiqụn

 146.  Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.

Dan sampaikanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, apa-apa yang kami haramkan atas kaum yahudi dari jenis binatang ternak dan burung, yaitu setiap binatang ternak yang jari-jari kakinya tidak teerpisah seperti unta, burung unta, lemak sapi dan kambing, kecuali lemak yang melekat pada punggung dan usus-usus atau yang bercampur dengan tulang belakang dan rusuk, dan lainnya. Pengharaman hal-hal tersebut atas kaum yahudi merupakan hukuman dari kami bagi mereka karena perbuatan-perbuatan buruk mereka.Dan kami maha benar dalam perkara yang kami berutahukan tentang mereka.

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

fa ing każżabụka fa qur rabbukum żụ raḥmatiw wāsi’ah, wa lā yuraddu ba`suhụ ‘anil-qaumil-mujrimīn

 147.  Maka jika mereka mendustakan kamu, katakanlah: “Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”.

maka jika mendustakan engkau (wahai rasul) para penentangmu dari kaum musyrikin, kaum yahudi, dan golongan lainnya, maka katakanlah kepada mereka, ”tuhan kalian memiliki rahmat yang luas. Dan tidak dapat disingkirkan siksaanNya dari kaum yang berbuat jahat dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa, serta berbuat kesalahan-kesalahan”, Disini terdapat ancaman bagi mereka atas penentangan mereka terhadap rasul .

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

sayaqụlullażīna asyrakụ lau syā`allāhu mā asyraknā wa lā ābā`unā wa lā ḥarramnā min syaī`, każālika każżaballażīna ming qablihim ḥattā żāqụ ba`sanā, qul hal ‘indakum min ‘ilmin fa tukhrijụhu lanā, in tattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa in antum illā takhruṣụn

 148.  Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

Orang-orang yang menyekutukan Allah berkata, ”seandainya Allah menghendaki kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukannNya dan tidak mengharamkan sesuatu tanpa petunjuk dariNYa, niscaya kami tidak akan melakukannya.” Maka Allah membantah pernyataaan mereka dengan menjelaskan bahwa syubhat ini telah didengung-dengungkan oleh orang-orang kafir sebelum mereka dan mereka mendustakan dakwah para rasul dengan alasan itu, serta hal itu tetap mereka pegangi terus-menerus hingga akhirnya datanglah siksaan Allah menimpa mereka. Katakanlah (wahai rasul) kepada mereka, ”apakah (dalam pengharaman unta dan tanaman-tanaman yang kalian haramkan dan anggapan kalian bahwa Allah telah menghendaki kekafiran pada diri kalian, meridhainya dari kalian serta menyukainya dari kalian) kalian mempunyai pengetahuan yang benar yang dapat kalian perlihatkan kepada kami? kalian tidaklah mengikuti perkara-perkara agama, kecuali sekedar mengikuti prasangka belaka, dan tidaklah kalian kecuali hanya berdusta.”

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ ۖ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

qul falillāhil-ḥujjatul-bāligah, falau syā`a lahadākum ajma’īn

 149.  Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”.

Katakanlah (wahai rasul) kepada mereka, ”maka milik Allah  lah hujjah-hujjah yang kuat yang mematahkan prasangka-prasangka kalian. Sekiranya Allah berkehendak, niscaya Dia akan memberikan taufik kepada kalian semua menuju jalan yang lurus.”

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ ۚ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

qul halumma syuhadā`akumullażīna yasy-hadụna annallāha ḥarrama hāżā, fa in syahidụ fa lā tasy-had ma’ahum, wa lā tattabi’ ahwā`allażīna każżabụ bi`āyātinā wallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati wa hum birabbihim ya’dilụn

 150.  Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”bawalah kemari para saksi kalian yang menyaksiakan bahwa sesungguhnya Allah  Dia lah yang mengharamkan tanaman dan binatang yang kalian haramkan itu.” apabila mereka menyampaikan persaksian mereka (dengan cara berdusta dan curang) maka janganlah kalian mempercayai mereka. Dan janganlah engkau menuruti orang-orang yang memperuntukan hawa nafsu mereka lalu mendustakan ayat-ayat Allah dengan apa yang mereka katakana berupa pengharaman apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramakan. Dan janganlah engkau mengikuti orang orang yang tidak mempercayai kehidupan akhirat dan tidak beramal untuknya, dan orang-orang yang menyekutukan tuhan mereka dengan menyembah yang lain bersamaNya.

۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

qul ta’ālau atlu mā ḥarrama rabbukum ‘alaikum allā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānā, wa lā taqtulū aulādakum min imlāq, naḥnu narzuqukum wa iyyāhum, wa lā taqrabul-fawāḥisya mā ẓahara min-hā wa mā baṭan, wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum ta’qilụn

 151.  Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

Katakanlah (wahai rasul) kepada mereka, ”kemarilah, akau akan bacakan apa yang diharamkan tuhan kalian kepada kalian, yaitu; janganlah kalian menyekutukan sesuatupun dengan Allah dari makhluk-makhlukNya dalam beribadah kepadaNya, akan tetapi arahkanlah seluruh jenis ibadah kepadaNya semata, seperti khauf (rasa takut), pengharapan, do’ a dan jenis ibadah lainnya, dan hendaknya kalain berbuat baik kepada kedua orangtua kalian dengan berbakti dan doa serta jenis kebaikan lainnya. Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian dikarenakan kefakiran yang kalian alami. Sesungguhnya Allah lah yang memberikan rizki kepada kalian dan kepada mereka. Dan janganlah kalian mendekati dosa-dosa besar yang tampak dan tersembunyi. Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk di bunuh, kecuali dengan sebab yang dibenarkan seperti dalam kondisi menuntut hukum qishash dari pembunuh, perzinaan yang dilakukan orang yang telah menikah, atau karena murtad dari islam. Hal-hal yang disebutkan termasuk perkara yang Allah melarang kalian darinya dan menuntut janji dari kalian untuk menjauhinya, serta perkara yang Allah memerintahkan dan berpesan kepada kalian dengannya, semoga kalian memahami perintah-perintah dan larangan-laranganNya.

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

wa lā taqrabụ mālal-yatīmi illā billatī hiya aḥsanu ḥattā yabluga asyuddah, wa auful-kaila wal-mīzāna bil-qisṭ, lā nukallifu nafsan illā wus’ahā, wa iżā qultum fa’dilụ walau kāna żā qurbā, wa bi’ahdillāhi aufụ, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum tażakkarụn

 152.  Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

Dan janganlah kalian mendekati wahai para penerima wasiat, harta anak yatim yang meningggal bapaknya sedangkan dia masih kecil kecuali dengan cara yang menyebabkan hartanya menjadi lebih baik dan dapat dia manfaatkan, sampai dia mencapai usia baligh dan berakala matang. Ketika dia telah mencapainya, maka serahkanlah hartanya kepadanya. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil hingga sempurna dan penuh. Apabila kalian telah mengerahkan usaha-usaha kalian, maka tidak masalah bagi kalian dalam hal yang mungkin masih terjadi kekurangan padanya. Kami tidak membebani seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Jika kalian berkata, maka usahakanlah sekuat tenaga untuk berbuat adil dalam berucap tanpa condong dari kebenaran, baik dalam menyampaikan berita, persaksian dan pemutusan hukum serta pemberian pembelaan. Walaupun obyek yang terkait dengan ucapan tersebut merupakan kaum kerabat dari kalian. Maka janganlah kalian condong kepadanya tanpa alasan yang benar. Dan penuhilah janji Allah yang mengikat kalian untuk komitmen dengan syariatNya. Hal-hal yang dibacakan kepada kalian ini yang berupa hukum-hukum, Allah memerintahkan kalian untuk melaksanakannya dengan harapan kalian mau mengingat-ngingat nasib kalian kelak.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

wa anna hāżā ṣirāṭī mustaqīman fattabi’ụh, wa lā tattabi’us-subula fa tafarraqa bikum ‘an sabīlih, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum tattaqụn

 153.  dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Dan diantara perintah Allah kepada kalian, bahwa islam adalah jalan Allah  yang lurus, maka tempuhlah jalan itu, janganlah kalian menempuh jalan-jalan kesesatan yang akan mencerai-beraikan kalian dan menjauhkan kalian dari jalan Allah yang lurus. Berjalan mengarah ke jalan yang lurus itulah yang diperintahkan Allah kepada kalian, supaya kalian dapat melindungi diri dari siksaanNYa dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

ثُمَّ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

ṡumma ātainā mụsal-kitāba tamāman ‘alallażī aḥsana wa tafṣīlal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmatal la’allahum biliqā`i rabbihim yu`minụn

 154.  Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.

Kemudian katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya Allah , Dia lah yang memberi musa kitab taurat sebagai penyempurna nikmatNya bagi orang-orang yang berbuat baik dari para pengikut ajaran agamanya dan untuk menjelaskan segala sesuatu terkait perkara-perkara agama mereka, serta sebagai petunjuk dan panduan menuju jalan yang lurus dan menjadi rahmat bagi mereka. Harapannya, mereka mengimani hari kebangkitan setelah kematian, hisab dan balasan amal perbuatan dan kemudian beramal untuk menyiapkannya. ”

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa hāżā kitābun anzalnāhu mubārakun fattabi’ụhu wattaqụ la’allakum tur-ḥamụn

 155.  Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

Kitab al-qur’an ini adalah kitab yang kami turunkan kepada Nabi kami, Muhammad  kebaikannya amatlah banyak, maka ikutilah kitab tersebut dalam perkara yang diperintahkan dan dilarangnya. Dan takutlah kepada Allah dari melanggar perintahNya, dengan harapan kalian dinaungi rahmatNya sehingga selamat dari siksaanNYa dan beruntung mendapatkan pahalaNYa.

أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

an taqụlū innamā unzilal-kitābu ‘alā ṭā`ifataini ming qablinā wa ing kunnā ‘an dirāsatihim lagāfilīn

 156.  (Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.

Dan kami turunkan al-qur’an supaya kalian (wahai orang-orang kafir arab) tidak berkata, ”sesungguhnya kitab yang diturunkan dari langit itu hanya kepada golongan yahudi dan nasrani saja dan sungguh kami dari sangat sibuk dari membaca kitab mereka, dan kami tidak memiliki ilmu dan pengetahuan tentangnya. ”

أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَىٰ مِنْهُمْ ۚ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا ۗ سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ

au taqụlụ lau annā unzila ‘alainal-kitābu lakunnā ahdā min-hum, fa qad jā`akum bayyinatum mir rabbikum wa hudaw wa raḥmah, fa man aẓlamu mim mang każżaba bi`āyātillāhi wa ṣadafa ‘an-hā, sanajzillażīna yaṣdifụna ‘an āyātinā sū`al-‘ażābi bimā kānụ yaṣdifụn

 157.  Atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka”. Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.

Dan agar kalian (wahai kaum musyrikin) tidak berkarta, ”seandainya diturunkan kitab kepada kami dari langit, sebagaimana diturunkan kepada yahudi dan nasrani, pastilah kami akan lebih istiqomah berada di atas jalan kebenaran daripada mereka. ” sungguh telah datang kepada kalian kitab dengan berbahasa lisan kalian yaitu Bahasa arab yang nyata dari langit dengan Bahasa ibu kalian, dan itu adalah hujjah yang jelas dari tuhan kalian dan petunjuk menuju jalan kebenaran dan rahmat bagi umat ini. Maka tidak ada orang yang lebih aniaya dan lebih besar permusuhannya dari orang yang mendustakan hujjjah-hujjah Allah  dan kemudian dia berpaling darinya! orang-orang yang berpaling tersebut, akan kami hukum dengan siksaan yang keras di dalam neraka jahanam, disebabkan mereka berpaling dari ayat-ayat Kami dan menghalangi (orang lain) dari jalan Kami.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

hal yanẓurụna illā an ta`tiyahumul-malā`ikatu au ya`tiya rabbuka au ya`tiya ba’ḍu āyāti rabbik, yauma ya`tī ba’ḍu āyāti rabbika lā yanfa’u nafsan īmānuhā lam takun āmanat ming qablu au kasabat fī īmānihā khairā, qulintaẓirū innā muntaẓirụn

 158.  Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula)”.

apakah yang ditunggu oleh orang-orang yang berpaling dan menghalangi (Orang) dari jalan Allah hanyalah kedatangan malaikat kematian dan para pendampingnya kepada mereka untuk mencabut nyawa mereka, atau kedatanagn tuhanmu (wahai rasul) untuk memutuskan nasib diantara para hambaNYa pada hari kiamat, atau munculnya dari sebagian tanda dan gejala hari kiamat yang menunjukan kedatangan hari tersebut yaitu, terbitnya matahari dari arah barat? Ketika itu terjadi maka tidaklah bermanfaat keimanan sesorang bagi dirinya, jika dia belum beriman sebelumnya, dan tidak di terima amal perbuatan yang baik darinya kalau dia sudah beriman, jika dia belum mengusahakannya sebelum itu. Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”tunggulah kedatangannya agar kalian mengetahui siapa yang benar dan siapa yang berada di atas kebatilan, siapa orang yang berbuat buruk dan siapa orang yang baik. Sesungguhnya kamipun juga menunggunya. ”

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

innallażīna farraqụ dīnahum wa kānụ syiya’al lasta min-hum fī syaī`, innamā amruhum ilallāhi ṡumma yunabbi`uhum bimā kānụ yaf’alụn

 159.  Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka setelah sebelumnya berkumpul diatas tauhidullah dan mengamalkan syariatNya, lalu mereka berbagi-bagi ke dalam golongan-golongan dan kelompok-kelompok, sesungguhnya engkau (wahai rasul) berlepas diri dari mereka. Urusan mereka hanyalah tergantung pada Allah  , kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan-perbuatan yang telah mereka perbuat lalu memberikan balasan orang-orang yang bertaubat diantara mereka dan berbuat baik atas kebaikan mereka dan menghukum orang-orang yang berbuat buruk atas keburukan-keburukan mereka.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ ‘asyru amṡālihā, wa man jā`a bis-sayyi`ati fa lā yujzā illā miṡlahā wa hum lā yuẓlamụn

 160.  Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Barang siapa bertemu dengan tuhannya pada hari kiamat dengan amal kebaikan dari amal-amal yang shalih, maka baginya sepuluh kali lipat (pahala) dari kebaikannya itu. Dan barangsiapa bertemu dengan tuhannya dengan dosa, maka dia tidak dikenai hukuman, melainkan dengan yang sebanding dengan kesalahannya. Dan mereka tidaklah terzhalimi meski sebesar dzarrah sekalipun.

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul innanī hadānī rabbī ilā ṣirāṭim mustaqīm, dīnang qiyamam millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn

 161.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh tuhanku menuju jalan lurus yang mengantarkan ke surgaNYa, yaitu agama islam yang mengatur urusan dunia dan akhirat. Dan Itu adalah agama tauhid, agama Ibrahim  dan Ibrahim  bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah bersama sesuatu yang lain.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn

 162.  Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Katakanlah (wahai rasul) kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya shalatku dan ‘nusuk’ ku, maksudnya sembelihanku, hanya bagi Allah semata, bukan untuk berhala-berhala, juga bukan untuk orang-orang mati dan jin, dan bukan selain itu semua dari yang kalian menyembelih sembelihan untuk selain Allah, dan bukan dengan nama selain Allah sebagaimana yang kalian lakukan. Dan hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam.

لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

lā syarīka lah, wa biżālika umirtu wa ana awwalul-muslimīn

 163.  Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.

Tidak ada sekutu bagiNya dalam uluhiyah, rububiyah, dan asma’dan sifatNya. Dan dengan tauhid yang murni itu, Allah  memeintahkan aku orang yang pertama kali mengakui dan patuh kepada Allah dari umat ini. ”

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

qul a gairallāhi abgī rabbaw wa huwa rabbu kulli syaī`, wa lā taksibu kullu nafsin illā ‘alaihā, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji’ukum fa yunabbi`ukum bimā kuntum fīhi takhtalifụn

 164.  Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.

Katakanlah (wahai rasul), ”apakah selain Allah aku akan mencari tuhan, padahal Dia dalah pencipta segala sesuatu, pemilik dan pengaturnya? Dan tidaklah manusia melakukan hal yang buruk kecuali dosanya akan menjadi tanggungannya. Dan sesorang tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhan kalian tempat kembali kalian pada hari kiamat, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang kalian perselisihkan dalam perkara agama.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa huwallażī ja’alakum khalā`ifal-arḍi wa rafa’a ba’ḍakum fauqa ba’ḍin darajātil liyabluwakum fī mā ātākum, inna rabbaka sarī’ul-‘iqābi wa innahụ lagafụrur raḥīm

 165.  Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan Allah lah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di muka bumi yang menggantikan umat manusia sebelum kalian, setelah Allah memusnahkan mereka dan menjadikan kalian pengganti mereka di muka bumi, untuk memamkmurkannya sepeninggal mereka dengan ketaatan kepada tuhan kalian, dan Dia meninggikan sebagian dari kalian dalam soal rizki dan kekuatan diatas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terkait karunia-karunia yang diberikan kepada kalian, sehingga akan tampak dalam pandangan manusia siapa orang yang bersyukur dan yang tidak. Sesungguhnya tuhanmu amat cepat siksaanNya terhadap orang-orang yang kafir dan bermaksiat kepadaNya. Dan sesungguhnya Dia maha pengampun bagi orang yang beriman kepadaNya dan beramal shalih serta bertaubat dari dosa-dosa besar, lagi maha penyayang terhadapnya. Alghafur dan Arrahim adalah dua nama yang mulia dari nama-nama Allah yang bagus (asmaul husna).

Related: Surat al-A’raf Arab-Latin, Surat al-Anfal Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat at-Taubah, Terjemahan Tafsir Surat Yunus, Isi Kandungan Surat Hud, Makna Surat Yusuf

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Al An Am Syarofil Anam Arab Latin Unzilal Quran Fii Lauhi Mahfudz Al Anam 28 121