Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Anbiya

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

Arab-Latin: iqtaraba lin-nāsi ḥisābuhum wa hum fī gaflatim mu’riḍụn

Terjemah Arti:  1.  Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Telah dekat waktu perhitungan manusia atas apa yang telah berlalu dari apa yang mereka perbuat di dunia, walaupun demikian orang-orang kafir masih hidup dalam keadaan lalai terhadap hakikat tersebut dan berpaling dari peringatan ini.

مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ

mā ya`tīhim min żikrim mir rabbihim muḥdaṡin illastama’ụhu wa hum yal’abụn

 2.  Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main,

Dan tidaklah turun sesuatu (ayat) dari al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka untuk memperbarui peringatan bagi mereka, kecuali pendengaran mereka terhadapnya hanya mendengarkannya dengan main-main dan olokan.

لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

lāhiyatang qulụbuhum, wa asarrun-najwallażīna ẓalamụ hal hāżā illā basyarum miṡlukum, a fa ta`tụnas-siḥra wa antum tubṣirụn

 3.  (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: “Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?”

Hati mereka lalai terhadap al-Qur’an al-Karim, disibukkan dengan kebatilan-kebatilan dan syahwat-syahwat dunia; mereka tidak memahami kandungannya. Bahkan sesungguhnya orang-orang yang dzolim dari bangsa Quraisy berkumpul untuk satu rencana rahasia; yaitu menyebarluaskan sesuatu yang dapat menghalangi manusia untuk beriman kepada Muhammad sholallohu alaihi wasallam, yaitu bahwa sesungguhnya dia adalah manusia biasa seperti mereka, tidak berbeda dari mereka dalam aspek apa pun, dan bahwa sesungguhnya apa yang dibawanya, yaitu al-Qur’an adalah sihir, maka mengapa kalian datang kepadanya dan mengikutinya, padahal kalian tahu dia hanya manusia biasa seperti kalian?

قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

qāla rabbī ya’lamul-qaula fis-samā`i wal-arḍi wa huwas-samī’ul-‘alīm

 4.  Berkatalah Muhammad (kepada mereka): “Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Nabi Muhammad menyerahkan persoalan ini kepada Tuhannya; beliau berkata, “Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi, dan mengetahui pembicaraan yang kalian rahasiakan. Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian dan Maha Mengetahui keadaan-keadaan kalian.” Dalam ayat ini terkandung satu peringatan keras dan ancaman bagi mereka.

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ

bal qālū aḍgāṡu aḥlām, baliftarāhu bal huwa syā’ir, falya`tinā bi`āyating kamā ursilal-awwalụn

 5.  Bahkan mereka berkata (pula): “(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana rasul-rasul yang telah lalu di-utus”.

Bahkan orang-orang kafir mengingkari al-Qur’an. Diantara mereka ada yang berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an itu hanya himpunan mimpi-mimpi yang carut-marut, tidak ada hakikatnya.” Yang lain mengatakan, “Sesungguhnya al-Qur’an adalah perkataan dusta dan kebohongan, bukan wahyu.” Sebagian yang lain mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad seorang penyair. Dan kitab yang dibawanya adalah kumpulan syair-syair. Yang dia kehendaki dari kita adalah mempercayainya. Maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat yang dapat dilihat seperti unta Shaleh, dan mukjizat-mukjizat Musa dan Isa serta mukjizat yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya.”

مَا آمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا ۖ أَفَهُمْ يُؤْمِنُونَ

mā āmanat qablahum ming qaryatin ahlaknāhā, a fa hum yu`minụn

 6.  Tidak ada (penduduk) suatu negeripun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebeIum mereka; maka apakah mereka akan beriman?

Dan tidak menjadi beriman suatu penduduk negeri sebelum orang-orang kafir Makkah, setelah penduduknya meminta di datangkan mukjizat-mukjizat dari para rasul mereka dan terealisasikan. Bahkan mereka mendustakan, maka Kami membinasakan mereka. Apakah orang-orang kafir Makkah akan beriman, bila mukjizat-mukjizat yang mereka minta itu terpenuhi? Sekali-kali tidak. Mereka tidak akan beriman.

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

wa mā arsalnā qablaka illā rijālan nụḥī ilaihim fas`alū ahlaż-żikri ing kuntum lā ta’lamụn

 7.  Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Dan Kami tidak mengutus rasul sebelummu (wahai rasul) kecuali orang-orang lelaki dari bangsa manusia. Kami wahyukan kepada mereka wahyu. Kami tidak pernah mengutus malaikat. Maka bertanyalah kalian (wahai orang-orang kafir Makkah) kepada orang-orang yang berilmu terhadap kitab-kitab terdahulu yang telah diturunkan, jika kalian memang tidak mengetahuinya.

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

wa mā ja’alnāhum jasadal lā ya`kulụnaṭ-ṭa’āma wa mā kānụ khālidīn

 8.  Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.

Dan Kami tidak menjadikan rasul-rasul sebelummu berbeda dari tabiat manusia, yang tidak membutuhkan makanan dan minuman. Dan mereka tidak kekal abadi yang tidak akan mati.

ثُمَّ صَدَقْنَاهُمُ الْوَعْدَ فَأَنْجَيْنَاهُمْ وَمَنْ نَشَاءُ وَأَهْلَكْنَا الْمُسْرِفِينَ

ṡumma ṣadaqnāhumul-wa’da fa anjaināhum wa man nasyā`u wa ahlaknal-musrifīn

 9.  Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.

Kemudian Kami penuhi apa yang telah Kami janjikan kepada nabi-nabi dan para pengikut mereka, berupa kemenangan dan keselamatan, dan telah Kami binasakan orang-orang yang bertindak melampaui batas terhadap diri mereka dengan kekafiran kepada Tuhan mereka.

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

laqad anzalnā ilaikum kitāban fīhi żikrukum, a fa lā ta’qilụn

 10.  Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

Sungguh Kami benar-benar telah menurunkan kepada kalian al-Qur’an ini, didalamnya terdapat faktor-faktor penyebab kemenangan dan kemuliaan kalian di dunia dan akhirat, bila kalian mau mengingatnya. Apakah kalian tidak memahami martabat yang telah Aku utamakan kalian dengannya di atas manusia lainnya?

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آخَرِينَ

wa kam qaṣamnā ming qaryating kānat ẓālimataw wa ansya`nā ba’dahā qauman ākharīn

 11.  Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).

Dan banyak negeri yang penduduknya berbuat kezhaliman dengan mengingkari risalah yang dibawa oleh para rasul. Maka Kami menghancurkan mereka dengan siksaan yang membinasakan mereka semua. Dan kemudian Kami mengadakan setelah mereka kaum yang lain selain mereka.

فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ

fa lammā aḥassụ ba`sanā iżā hum min-hā yarkuḍụn

 12.  Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya.

Maka tatkala mereka menyaksikan siksaan Kami yang pedih menimpa mereka dan mereka melihat gejala-gejala kedatangannya, tiba-tiba mereka bergegas lari dari negeri-negeri mereka.

لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَىٰ مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ

lā tarkuḍụ warji’ū ilā mā utriftum fīhi wa masākinikum la’allakum tus`alụn

 13.  Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya.

Maka dalam kondisi ini, mereka dipanggil dengan keras, “Janganlah kalian lari. Kembalilah kepada kenikmatan dan kesenangan di kehidupan dunia kalian yang melenakan dan tempat-tempat tinggal kalian yang kokoh. Barangkali kalian akan ditanya sesuatu tentang dunia kalian.” Ucapan ini dikatakan untuk mengolok dan mengejek mereka.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

qālụ yā wailanā innā kunnā ẓālimīn

 14.  Mereka berkata: “Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zaIim”.

Maka tidak ada jawaban dari mereka selain pengakuan mereka atas kejahatan sembari berkata, “Binasalah kami, sesungguhnya kami telah menzhalimi diri kami dengan berbuat kekafiran.”

فَمَا زَالَتْ تِلْكَ دَعْوَاهُمْ حَتَّىٰ جَعَلْنَاهُمْ حَصِيدًا خَامِدِينَ

fa mā zālat tilka da’wāhum ḥattā ja’alnāhum ḥaṣīdan khāmidīn

 15.  Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi.

Dan masih tetap berlangsung ucapan itu (maksudnya ratapan atas kebinasaan terhadap diri mereka dan pengakuan mereka terhadap kedzoliman mereka) menjadi keluhan mereka yang mereka ulang-ulang sehingga Kami menjadikan mereka seperti tanaman yang telah dipanen, yang mati, tanpa ada kehidupan pada diri mereka. Maka camkanlah (wahai manusia) agar kalian tidak terus-menerus mendustakan Muhammad . Akibatnya, akan menimpa kalian siksaan yang telah menimpa umat-umat sebelum kalian.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

wa mā khalaqnas-samā`a wal-arḍa wa mā bainahumā lā’ibīn

 16.  Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.

Dan Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan dasar main-main dan tanpa tujuan jelas. Tetapi itu demi menegakkan hujjah di hadapan kalian (wahai sekalian manusia) agar kalian dapat mengambil pelajaran dengan semua kejadian itu. Kemudian kalian menjadi tahu bahwa sesungguhnya Dzat yang menciptakannya tidak ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan ibadah tidak pantas kecuali bagiNya.

لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ

lau aradnā an nattakhiża lahwal lattakhażnāhu mil ladunnā ing kunnā fā’ilīn

 17.  Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya).

Sekiranya Kami menghendaki membuat sesuatu yang main-main, seperti anak dan istri, pastilah Kami mengadakannya dari sisi Kami, bukan dari kalian. Namun, Kami tidak melakukan itu,karena mustahil Kami mempunyai anak atau istri.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ۚ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

bal naqżifu bil-ḥaqqi ‘alal-bāṭili fa yadmaguhụ fa iżā huwa zāhiq, wa lakumul-wailu mimmā taṣifụn

 18.  Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).

Bahkan Kami melontarkan kebenaran itu dan menerangkannya sehingga meluluhlantahkan kebatilan. Maka tiba-tiba kebatilan itu lenyap dan menghilang. Dan bagi kalian (wahai kaum musyrikin) mendapatkan siksaan di akhirat, dikarenakan kalian menyebut sifat-sifat yang tidak pantas bagi Tuhan kalian.

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ

wa lahụ man fis-samāwāti wal-arḍ, wa man ‘indahụ lā yastakbirụna ‘an ‘ibādatihī wa lā yastaḥsirụn

 19.  Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.

Dan bagi Allah-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dan para malaikat yang di sisiNya tidak enggan beribadah kepadaNya dan tidak bosan untuk melakukannya. Maka bagaimana boleh hamba dan ciptaanNya dipersekutukan denganNya?

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

yusabbiḥụnal-laila wan-nahāra lā yafturụn

 20.  Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.

Mereka berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah dan menyucikanNYa terus-menerus. Mereka tidak letih dan tidak bosan.

أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ

amittakhażū ālihatam minal-arḍi hum yunsyirụn

 21.  Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?

Bagaimana dibenarkan bagi kaum musyrikin mengambil sesembahan yang lemah yang berasal dari bumi, yang tidak berkuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati?

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

lau kāna fīhimā ālihatun illallāhu lafasadatā, fa sub-ḥānallāhi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifụn

 22.  Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan sesembahan selain Allah yang mengatur urusan-urusan keduanya, pastilah carut-marut keadaan keduanya. Maka Allah, penguasa Arasy Mahabersih dan Maha suci dari sifat-sifat yang disematkan oleh orang-orang pengingkar lagi kafir berupa kedustaan, ucapan yang mengada-ada, dan semua kekurangan.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

lā yus`alu ‘ammā yaf’alu wa hum yus`alụn

 23.  Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.

Sesungguhnya diantara bukti keesaan Allah dalam menciptakan dan ibadah, sesungguhnya Dia tidak ditanya tentang ketetapanNya terhadap makhluk-makhlukNya, sedang seluruh makhlukNya akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan-perbuatan mereka.

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ ۖ هَٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُمْ مُعْرِضُونَ

amittakhażụ min dụnihī ālihah, qul hātụ bur-hānakum, hāżā żikru mam ma’iya wa żikru mang qablī, bal akṡaruhum lā ya’lamụnal-ḥaqqa fa hum mu’riḍụn

 24.  Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: “Unjukkanlah hujjahmu! (Al Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku”. Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.

Apakah kaum musyrikin mengambil selain Allah tuhan-tuhan sesembahan yang tidak dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mara bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan? Katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka, “Tunjukkanlah apa yang kalian miliki berupa bukti kebenaran atas tindakan kalian menjadikan obyek itu sebagai tuhan sesembahan. Tidak ada di dalam al-Qur’an yang aku bawa dan kitab-kitab suci terdahulu satu bukti pun tentang keyakinan yang kalian peluk itu.” Dan tidaklah mereka berbuat kesyirikan kecuali karena dorongan kebodohan dan fanatisme saja. Maka mereka berpaling dari kebenaran dan mengingkarinya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

wa mā arsalnā ming qablika mir rasụlin illā nụḥī ilaihi annahụ lā ilāha illā ana fa’budụn

 25.  Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Dan kami tidak mengutus sebelummu (wahai rasul) seorang rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang haq selain Allah. Maka murnikanlah ibadah kepadaNya saja.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ

wa qāluttakhażar-raḥmānu waladan sub-ḥānah, bal ‘ibādum mukramụn

 26.  Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan,

لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

lā yasbiqụnahụ bil-qauli wa hum bi`amrihī ya’malụn

 27.  mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.

26-27. Orang-orang musyrikin berkata, “Allah yang Maha Rahman mengambil seorang anak,” sesuai dengan asumsi mereka bahwa sesungguhnya malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. Mahasuci Allah dari pernyataan tersebut. Malaikat itu adalah hamba-hamba Allah, mereka dekat dan memiliki sekian banyak keutamaan. Dan mereka dalam ketaatan yang baik; tidak berbicara kecuali dengan perintah yang di perintahkan Tuhan mereka kepada mereka, dan tidak mengerjakan suatu perbuatan, kecuali setelah Allah mengizinkan mereka.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yasyfa’ụna illā limanirtaḍā wa hum min khasy-yatihī musyfiqụn

 28.  Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.

Dan tidak ada tugas-tugas yang dikerjakan oleh para malaikat, baik tugas yang sudah berlalu atau tugas mendatang, kecuali Allah mengetahuinya dan akan menghitungnya atas mereka. Dan mereka tidak akan maju memberikan syafa’at, kecuali bagi orang yang dirdhai Allah untuk memperoleh syafa’at dari mereka. Dan mereka itu, karena takut kepada Allah, selalu waspada agar jangan sampai menyelisihi perintah dan larangan NYa.

۞ وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

wa may yaqul min-hum innī ilāhum min dụnihī fa żālika najzīhi jahannam, każālika najziẓ-ẓālimīn

 29.  Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.

Dan siapa saja yang mengklaim diri dari kalangan malaikat bahwa ia itu sesembahan bersama Allah (sebagai perumpamaan saja) maka balasan baginya adalah Neraka Jahanam. Dengan balasan seperti itu, Kami akan membalas tiap-tiap orang yang zhalim lagi berbuat syirik.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

a wa lam yarallażīna kafarū annas-samāwāti wal-arḍa kānatā ratqan fa fataqnāhumā, wa ja’alnā minal-mā`i kulla syai`in ḥayy, a fa lā yu`minụn

 30.  Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu keduanya merupakan suatu obyek yang saling menyatu, tanpa ada pemisah antara keduanya? Maka Tidak ada hujan dari langit dan tidak ada tanaman dari muka bumi. Kemudian Kami memisahkan keduanya dengan Kuasa Kami. Dan Kami turunkan hujan dari langit dan Kami keluarkan tanaman dari dalam tanah, serta Kami menjadikan segala sesuatu hidup dari air. Apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mau beriman, lalu mengimani apa yang mereka saksikan dengan menghususkan ibadah bagi Allah saja?

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

wa ja’alnā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bihim wa ja’alnā fīhā fijājan subulal la’allahum yahtadụn

 31.  Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.

Dan Kami menciptakan di muka bumi gunung-gunung untuk mengokohkannya sehingga tidak bergoncang. Dan Kami menjadikan di bumi itu jalan-jalan yang luas, supaya makhluk-makhluk dapat mendapat petunjuk menuju tempat mencari penghidupan mereka dan petunjuk untuk mengesakan Pencipta mereka.

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

wa ja’alnas-samā`a saqfam maḥfụẓā, wa hum ‘an āyātihā mu’riḍụn

 32.  Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap bagi bumi yang tidak ditopang oleh tiang. Langit itu terpelihara, tidak akan runtuh, dan tidak ditembus oleh setan-setan. Sedang orang-orang kafir itu lalai dari mengambil pelajaran dengan tanda-tanda Kuasa Allah yang ada di langit (matahari, bulan, dan bintang-bintang) lagi melupakan untuk memikirkannya.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

wa huwallażī khalaqal-laila wan-nahāra wasy-syamsa wal-qamar, kullun fī falakiy yasbaḥụn

 33.  Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Dan Allah, Dia-lah yang menciptakan malam agar manusia dapat beristirahat padanya dan siang hari supaya mereka dapat mencari penghidupan di dalamnya. Dan Dia menciptakan matahari sebagai pertanda bagi siang hari dan bulan sebagai pertanda untuk waktu malam. Dan masing-masing memiliki garis edar tempat ia berjalan dan beredar, tanpa melenceng darinya.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

wa mā ja’alnā libasyarim ming qablikal-khuld, a fā im mitta fa humul-khālidụn

 34.  Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?

Dan Kami tidaklah menjadikan bagi seorang manusia sebelummu (wahai Rasul) keabadian hidup di dunia. Apabila kamu meninggal, apakah mereka akan berharap hidup abadi sepeninggalmu? Ini tidak akan terjadi. Dalam ayat ini termuat satu dalil bahwa nabi Khadir telah wafat, karena dia adalah manusia.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

kullu nafsin żā`iqatul-maụt, wa nablụkum bisy-syarri wal-khairi fitnah, wa ilainā turja’ụn

 35.  Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Dan tiap-tiap jiwa itu akan merasakan kematian, tidak mungkin tidak, berapa tahun pun usianya diperpanjang di dunia. Dan keberadaannya di dunia ini tiada lain menjadi cobaan dengan menjalankan aturan-aturan syariat dalam bentuk perintah dan larangan, dan dengan terjadinya perubahan kondisi-kondisi, terkadang baik dan buruk. Kemudian tempat kembali dan tempat kesudahan itu adalah kepada Allah semata untuk perhitungan amal perbuatan dan pembalasannya.

وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ هُمْ كَافِرُونَ

wa iżā ra`ākallażīna kafarū iy yattakhiżụnaka illā huzuwā, a hāżallażī yażkuru ālihatakum, wa hum biżikrir-raḥmāni hum kāfirụn

 36.  Dan apahila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan-mu?”, padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.

Dan apabila orang-orang kafir melihat kamu (wahai Rasul) mereka menunjuk-nunjuk kepada drimu untuk tujuan memperolok-olok dirimu, dengan cara sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Apakah lelaki ini yang berani mencela tuhan-tuhan kalian?” mereka menentang (Allah) ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih) dan nikmat-nikmatNya, serta menentang apa yang diturunkanNya berupa al-Qur’an dan hidayah.

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

khuliqal-insānu min ‘ajal, sa`urīkum āyātī fa lā tasta’jilụn

 37.  Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.

Manusia diciptakan dalam keadaan bertabiat tergesa-gesa; dia ingin mengerjakan segala sesuatu dengan segera dan berhasrat segala sesuatu terjadi dengan cepat. Dan sesungguhnya kaum Quraisy telah meminta disegerakan siksaan kepada mereka, dan mereka beranggapan kedatangannya telambat. Maka Allah memperingatkan mereka bahwa sesungguhnya Dia akan memperlihatkan kepada mereka azab yang mereka kehendaki segera tiba. Karenanya, hendaknya mereka tidak meminta kepada Allah untuk disegerakan dan dipercepat kedatangannya.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

 38.  Mereka berkata: “Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekaIian adalah orang-orang yang benar?”

Dan orang-orang kafir berkata (dengan niat untuk meminta disegerakan kedatangan siksaan dan memperolok-oloknya), “Kapankah akan terjadi apa yang kamu janjikan kepada kami tentang (datangnya siksaan) itu (wahai Rasul) jika kamu dan orang-orang yang mengikutimu adalah orang-orang yang berkata benar?”

لَوْ يَعْلَمُ الَّذِينَ كَفَرُوا حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَنْ وُجُوهِهِمُ النَّارَ وَلَا عَنْ ظُهُورِهِمْ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

lau ya’lamullażīna kafarụ ḥīna lā yakuffụna ‘aw wujụhihimun-nāra wa lā ‘an ẓuhụrihim wa lā hum yunṣarụn

 39.  Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka (tidak pula) mendapat pertolongan, (tentulah mereka tiada meminta disegerakan).

Sekiranya orang-orang kafir itu menyadari apa yang akan mereka hadapi, tatkala mereka tidak mampu menepis api neraka dari wajah-wajah dan punggung-punggung mereka, dan mereka tidak mendapatkan penolong yang menolong mereka, dikarenakan kekafiran yang melandasi kehidupan mereka, niscaya mereka tidak akan meminta disegerakannya kedatangan siksaan pada mereka.

بَلْ تَأْتِيهِمْ بَغْتَةً فَتَبْهَتُهُمْ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ رَدَّهَا وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

bal ta`tīhim bagtatan fa tab-hatuhum fa lā yastaṭī’ụna raddahā wa lā hum yunẓarụn

 40.  Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.

Dan Hari Kiamat akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sehingga mereka akan mengalami kepanikan pada saat itu dan mereka dilanda rasa takut yang amat besar. Dan mereka tidak kuasa menolak siksaan dari diri mereka dan mereka tidak diberi kesempatan lagi untuk dapat bertaubat dan meminta ampunan.

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqadistuhzi`a birusulim ming qablika fa ḥāqa billażīna sakhirụ min-hum mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 41.  Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan.

Dan sesungguhnya telah dicemooh rasul-rasul sebelummu (wahai Rasul) maka turunlah kepada orang-orang yang suka memperolok-olok tersebut siksaan yang dahulu menjadi motivasi cemoohan dan olok-olokan mereka.

قُلْ مَنْ يَكْلَؤُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَٰنِ ۗ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُعْرِضُونَ

qul may yakla`ukum bil-laili wan-nahāri minar-raḥmān, bal hum ‘an żikri rabbihim mu’riḍụn

 42.  Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang yang meminta disegerakan turunnya siksaan tersebut, “Tidak ada yang bisa menjaga kalian dan melindungi kalian di malam dan siang hari kalian, dalam kondisi tidur dan terjaga dari siksaan Allah ar-Rahman, bila siksaan itu turun menimpa kalian.” Bahkan mereka itu lalai dan melupakan al-Qur’an dan nasihat-nasihat Tuhan mereka.

أَمْ لَهُمْ آلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا ۚ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ

am lahum ālihatun tamna’uhum min dụninā, lā yastaṭī’ụna naṣra anfusihim wa lā hum minnā yuṣ-ḥabụn

 43.  Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?

Apakah mereka punya tuhan-tuhan sesembahan yang mampu menghalangi mereka dari azab Kami? Sesungguhnya tuhan-tuhan mereka itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri, maka bagaimana mungkin mereka itu menolong orang-orang yang menyembah mereka? Padahal, mereka juga tidak terlindungi dari azab Kami?

بَلْ مَتَّعْنَا هَٰؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ ۗ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ

bal matta’nā hā`ulā`i wa ābā`ahum ḥattā ṭāla ‘alaihimul-‘umur, a fa lā yarauna annā na`til-arḍa nangquṣuhā min aṭrāfihā, a fa humul-gālibụn

 44.  Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang?

Orang-orang kafir dan bapak-bapak mereka terperdaya dengan penundaan datangnya siksaan, lantaran keadaan yang mereka saksikan berupa limpahan harta, banyaknya anak dan umur panjang. Maka mereka pun tetap hidup di atas kekafiran mereka, tidak mau meninggalkannya. Dan mereka berasumsi bahwa sesungguhnya mereka tidak akan mengalami siksaan. Mereka lalai memperhatikan ketetapan Allah yang sudah berlaku. Allah mengurangi jarak di bumi dari sisi-sisinya melalui siksaan yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin dalam setiap penjuru dan diakibatkan kekalahan yang mereka alami. Apakah termasuk dalam jangkauan kemampuan orang-orang kafir Makkah untuk kabur dari Kuasa Allah atau mempertahankan diri dari kematian?

قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ ۚ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنْذَرُونَ

qul innamā unżirukum bil-waḥyi wa lā yasma’uṣ-ṣummud-du’ā`a iżā mā yunżarụn

 45.  Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan”

Katakanlah olehmu (wahai Rasul) kepada umat yang kamu diutus kepada mereka, “Tidaklah aku memperingatkan kalian dengan sesuatu siksaan, kecuali melalui wahyu dari Allah, yaitu al-Qur’an.” Akan tetapi, orang-orang kafir tidak mau mendengar apa yang disampaikan kepada mereka dengan seksama, jika mereka sedang diberi peringatan. Maka mereka tidak memperoleh manfaat darinya.

وَلَئِنْ مَسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ مِنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

wa la`im massat-hum naf-ḥatum min ‘ażābi rabbika layaqụlunna yā wailanā innā kunnā ẓālimīn

 46.  Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Tuhan-mu, pastilah mereka berkata: “Aduhai, celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri”.

Seandainya bagian siksaan dari Allah itu menimpa orang-orang kafir secara langsung, pastilah mereka akan menyadari kesudahan nasib mereka akibat pendustaan mereka, dan mereka akan meresponnya dengan mendoakan kebinasaan terhadap diri mereka, disebabkan oleh tindakan kezhaliman mereka terhadap diri mereka sendiri dengan menyembah tuhan-tuhan selain Allah.

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

wa naḍa’ul-mawāzīnal-qisṭa liyaumil-qiyāmati fa lā tuẓlamu nafsun syai`ā, wa ing kāna miṡqāla ḥabbatim min khardalin atainā bihā, wa kafā binā ḥāsibīn

 47.  Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.

Dan Allah meletakkan timbangan yang adil untuk proses perhitungan amal perbuatan pada Hari Kiamat. Dan Dia tidak menzholimi mereka itu dan orang-orang lainnya sedikitpun. Kendatipun amal itu sebesar biji sawi sekali pun, dari kebaikan atau keburukan, akan diperhitungkan dalam perhitungan amal pelakunya. Dan cukuplah Allah sebagai penghitung perbuatan hamba-hambaNya dan pemberi balasan kepada mereka dengan setimpal.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ

wa laqad ātainā mụsā wa hārụnal-furqāna wa ḍiyā`aw wa żikral lil-muttaqīn

 48.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

48-49. Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun hujjah dan pertolongan untuk menghadapi musuh mereka dan kitab (yaitu Taurat) yang dengannya kami membedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan cahaya yang menjadi sumber petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yang takut akan siksaan Tuhan mereka, sedang mereka itu khawatir terhadap Hari perhitungan amal yang terjadi ketika datangnya Hari Kiamat.

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

allażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa hum minas-sā’ati musyfiqụn

 49.  (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.

48-49. Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun hujjah dan pertolongan untuk menghadapi musuh mereka dan kitab (yaitu Taurat) yang dengannya Kami membedakan antara kebenarana dan kebatilan, dan cahaya yang menjadi sumber petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yang takut akan siksaan Tuhan mereka, sedang mereka itu khawatir terhadap Hari perhitungan amal yang terjadi ketika datangnya Hari Kiamat.

وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ ۚ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

wa hāżā żikrum mubārakun anzalnāh, a fa antum lahụ mungkirụn

 50.  Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?

Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya, Muhammad ini merupakan peringatan bagi orang yang mau mendapatkan peringatan dengannya, dan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, ia memiliki kebaikan yang melimpah, besar manfaatnya; maka apakah kalian mengingkarinya, padahal ia amatlah nyata dan jelas?

۞ وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ

wa laqad ātainā ibrāhīma rusydahụ ming qablu wa kunnā bihī ‘ālimīn

 51.  Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.

Dan sungguh Kami telah memberikan Ibrahim hidayah baginya yang dia menyeru manusia untuk mengikutinya, sebelum Musa dan Harun. Dan Kami mengetahui bahwa dia pantas mendapatkannya.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

iż qāla li`abīhi wa qaumihī mā hāżihit-tamāṡīlullatī antum lahā ‘ākifụn

 52.  (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”

Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kalian buat, kemudian kalian menyembahnya dan senantiasa berada di dekatnya?”

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

qālụ wajadnā ābā`anā lahā ‘ābidīn

 53.  Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”.

Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya, dan kami menyembahnya sekedar mengikuti mereka.”

قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qāla laqad kuntum antum wa ābā`ukum fī ḍalālim mubīn

 54.  Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”.

Ibrahim berkata kepada mereka, “Sesungguhnya kalian dan nenek moyang kalian itu ketika kalian menyembah patung-patung ini berada dalam penyimpangan yang jauh lagi nyata dari kebenaran.”

قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ

qālū a ji`tanā bil-ḥaqqi am anta minal-lā’ibīn

 55.  Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?”

Mereka berkata, “Apakah pernyataan yang kamu bawa kepada kami ini benar dan serius, ataukah ucapanmu kepada kami itu omongan orang yang berkelakar lagi memperolok yang tidak sadar terhadap apa yang dilontarkannya?”

قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

qāla bar rabbukum rabbus-samāwāti wal-arḍillażī faṭarahunna wa ana ‘alā żālikum minasy-syāhidīn

 56.  Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”.

Ibrahim berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Tuhan kalian yang aku mengajak kalian untuk menyembahNya, Dia adalah penguasa langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang yang bersaksi atas hal itu.”

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ

wa tallāhi la`akīdanna aṣnāmakum ba’da an tuwallụ mudbirīn

 57.  Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.

“Dan demi Allah, aku akan benar-benar melancarkan makar terhadap patung-patung kalian dan menghancurkannya setelah kalian berlalu meninggalkannya.”

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

fa ja’alahum jużāżan illā kabīral lahum la’allahum ilaihi yarji’ụn

 58.  Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Kemudian Ibrahim menghancurkan patung-patung dan menjadikannya pecahan-pecahan kecil, dan membiarkan patung yang terbesar, supaya kaumnya mendatangi dirinya dan bertanya kepadanya, lalu dia akan menjelaskan tentang kelemahan dan kesesatan mereka sehingga hujjah menjadi tegak terhadap mereka.

قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ

qālụ man fa’ala hāżā bi`ālihatinā innahụ laminaẓ-ẓālimīn

 59.  Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Kaumnya kembali dan mereka menyaksikan patung-patung mereka hancur berkeping-keping dan dinistakan. Maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Siapa yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kita? Sesungguhnya dia benar-benar orang yang zhalim karena lancang melecehkan tuhan-tuhan yang berhak untuk di agungkan dan dihormati.”

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

qālụ sami’nā fatay yażkuruhum yuqālu lahū ibrāhīm

 60.  Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Orang yang mendengar Ibrahim bersumpah akan melancarkan makar terhadap patung-patung mereka berkata, “Kami telah mendengar seorang pemuda menyebut-nyebut patung-patung itu dengan komentar buruk dia itu bernama ibrahim.”

قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

qālụ fa`tụ bihī ‘alā a’yunin-nāsi la’allahum yasy-hadụn

 61.  Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Maka para pemuka mereka berkata, “Bawalah Ibrahim kemari dengan cara yang dapat dilihat oleh khalayak manusia agar mereka menyaksikan pengakuan atas ucapannya supaya menjadi bukti atas dirinya.”

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ

qālū a anta fa’alta hāżā bi`ālihatinā yā ibrāhīm

 62.  Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Kemudian Ibrahim dihadapkan, dan mereka bertanya kepadanya dengan penuh pengingkaran, “Apakah kamu yang menghancurkan tuhan-tuhan kami?” maksud mereka, patung-patung mereka.

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

qāla bal fa’alahụ kabīruhum hāżā fas`alụhum ing kānụ yanṭiqụn

 63.  Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Maka terwujudlah apa yang dikehendaki Ibrahim untuk menampakkan kebodohan mereka dihadapan mereka. Dia menjawab dengan pernyataan yang menerangkan kesalahan mereka dan menyindir kedunguan mereka, “Justru yang menghancurkannya adalah patung paling besar ini. Maka tanyalah tuhan-tuhan palsu kalian tentang itu, bila memang bisa berbicara atau merespon jawaban.”

فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ

fa raja’ū ilā anfusihim fa qālū innakum antumuẓ-ẓālimụn

 64.  Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”,

Maka merekapun terbungkam dan tampak jelas bagi mereka kesesatan yang ada pada mereka, bagaimana bisa mereka menyembahnya, sedangkan patung-patung itu tak kuasa menolak apapun dari duri sendiri atau mengabulkan permintaan orang yang meminta kepadanya? Mereka pun mengaku diri mereka telah berbuat kezhaliman dan syirik.

ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ

ṡumma nukisụ ‘alā ru`ụsihim, laqad ‘alimta mā hā`ulā`i yanṭiqụn

 65.  kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”.

Akan tetapi, tidak berapa lama, sikap penentangan mereka kembali setelah mereka terbungkam. Maka mereka kembali kepada kebatilan lagi dan mendebat Ibrahim dengan alasan yang dipergunakannya untuk menyanggah mereka. Mereka berkata, “Bagaimana kita bisa bertanya kepadanya, sedangkan kamu sendiri mengetahui berhala-berhala itu tidak bisa berbicara?”

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

qāla a fa ta’budụna min dụnillāhi mā lā yanfa’ukum syai`aw wa lā yaḍurrukum

 66.  Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”

أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

uffil lakum wa limā ta’budụna min dụnillāh, a fa lā ta’qilụn

 67.  Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?

66-67. Ibrahim berkata kepada mereka seraya merendahkan patung-patung tersebut, “Bagaimana kalian mau menyembah berhala-berhala yang tidak dapat mendatangkan manfaat bila disembah, dan tidak bisa mendatangkan madorot jika ditinggalkan? Amat buruk kalian dan tuhan-tuhan kalian itu yang kalian sembah selain Allah. Apakah kalian tidak berpikir, lalu memahami buruknya keadaan kalian itu?”

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

qālụ ḥarriqụhu wanṣurū ālihatakum ing kuntum fā’ilīn

 68.  Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

qulnā yā nāru kụnī bardaw wa salāman ‘alā ibrāhīm

 69.  Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”,

68-69. Ketika argumentasi mereka terpatahkan, dan kebenaran kian tampak jelas, maka mereka berdalih mempergunakan kekuasaan mereka. Dan mereka berkata, “Bakarlah Ibrahim dengan api, sebagai ungkapan kekesalan demi membela tuhan-tuhan kalian, jika kalian mau membelanya.” Lalu mereka menyalakan api yang besar dan melemparkan Ibrahim ke dalamnya. Kemudian Allah memenangkan RasulNya. Dia berfirman kepada api, “Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” Maka tidak ada rasa sakit apapun yang mengenai Ibrahim, dan tidak ada mara bahaya yang menimpanya.

وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

wa arādụ bihī kaidan fa ja’alnāhumul-akhsarīn

 70.  mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.

Orang-orang itu menginginkan kebinasaan Ibrahim. Akan tetapi, Allah menggugurkan makar mereka itu dan menjadikan mereka para pecundang lagi nista.

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

wa najjaināhu wa lụṭan ilal-arḍillatī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn

 71.  Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

Dan Kami menyelamatkan Ibrahim dan Luth yang telah beriman dengannya dari negeri Irak, dan Kami mengarahkan mereka berdua menuju negeri Syam yang telah Kami berkahi buminya dengan kebaikan yang melimpah, dan kebanyakan nabi pernah di utus disana.

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ

wa wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụba nāfilah, wa kullan ja’alnā ṣāliḥīn

 72.  Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh

Dan Allah telah mencurahkan berbagai nikmat kepada Ibrahim. Dia menganugerahkan baginya putranya, Ishaq ketika dia berdo’a kepadaNya. Dan Dia menganugerahkan Ya’qub baginya dari Ishaq sebagai tambahan atas nikmat sebelumnya. Dan masing-masing mereka; Ibrahim,Ishaq dan Ya’qub Kami jadikan orang shalih lagi patuh kepadaNya.

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

wa ja’alnāhum a`immatay yahdụna bi`amrinā wa auḥainā ilaihim fi’lal-khairāti wa iqāmaṣ-ṣalāti wa ītā`az-zakāh, wa kānụ lanā ‘ābidīn

 73.  Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,

Dan Kami menjadikan Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub sebagai teladan baik bagi sekalian manusia. Dengan izinNya, mereka menyeru manusia untuk beribadah dan taat kepadaNya. Dan Kami mewahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan-kebajikan berupa mengamalkan ajaran-ajaran para nabi, menegakkan shalat sebagaimana mestinya, dan membayar zakat. Maka mereka melaksanakannya. Dan mereka adalah orang-orang yang patuh dan taat kepada Allah semata, tidak kepada selainNya.

وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۗ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ

wa lụṭan ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmaw wa najjaināhu minal-qaryatillatī kānat ta’malul-khabā`iṡ, innahum kānụ qauma sau`in fāsiqīn

 74.  dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik,

Dan Kami berikan kepada Luth karunia kenabian dan keahlian menetapkan hokum di antara orang-orang yang bersilisih serta ilmu tentang perintah Allah dan agamaNya. Dan Kami menyelamatkannya dari negerinya, Sadom, yang para penduduknya mengerjakan perbuatan-perbuatan yang keji. Sesungguhnya mereka itu menjadi orang-orang yang buruk dan jelek karena perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran yang mereka perbuat, juga keluar dari ketaatan kepada Allah.

وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa adkhalnāhu fī raḥmatinā, innahụ minaṣ-ṣāliḥīn

 75.  dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.

Dan Allah menyempurnakan karunia bagi Luth, maka Dia memasukannya ke dalam rahmatNya dengan menyelamatkannya dari azab yang menimpa kaumnya. Sebab, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang mengerjakan amal ketaatan kepada Allah.

وَنُوحًا إِذْ نَادَىٰ مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa nụḥan iż nādā ming qablu fastajabnā lahụ fa najjaināhu wa ahlahụ minal-karbil-‘aẓīm

 76.  Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.

Dan ingatlah (wahai Rasul) Nuh ketika dia berdoa menyeru Tuhannya sebelum kamu dan sebelum Ibrahim dan Luth, lalu Kami mengabulkan doanya. Kemudian Kami selamatkan dia beserta keluarganya yang beriman kepadanya dari bencana yang besar.

وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

wa naṣarnāhu minal-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, innahum kānụ qauma sau`in fa agraqnāhum ajma’īn

 77.  Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.

Dan Kami telah menolongnya dari makar kaumnya yang mendustakan ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenarannya. Sesungguhnya mereka itu orang-orang jahat. Lalu Kami tenggelamkan mereka semua dengan banjir besar.

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ

wa dāwụda wa sulaimāna iż yaḥkumāni fil-ḥarṡi iż nafasyat fīhi ganamul-qaụm, wa kunnā liḥukmihim syāhidīn

 78.  Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

Dan ingatlah (wahai Rasul) Nabi Allah Dawud dan putranya, sulaiman, ketika mereka berdua menetapkan keputusan dalam satu permasalahan yang diajukan dua orang yang tengah bersengketa. Kambing milik salah seorang dari mereka berdua menginjak-nginjak ladang yang lain. Kambing-kambing itu menyebar di dalamnya pada malam hari sehingga merusak tanam-tanamannya. Dawud memutuskan bahwa kambing itu menjadi milik sang pemilik ladang sebagai ganti tanaman yang telah dirusak, (karena) harga keduanya sama. Dan Kami menyaksikan keputusan hokum mereka berdua, hal itu tidak samar dari Kami.

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

fa fahhamnāhā sulaimān, wa kullan ātainā ḥukmaw wa ‘ilmaw wa sakhkharnā ma’a dāwụdal-jibāla yusabbiḥna waṭ-ṭaīr, wa kunnā fā’ilīn

 79.  maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.

Maka Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman untuk menimbang-nimbang kemaslahatan kedua belah pihak dengan putusan yang adil. Dia menetapkan putusan terhadap pemilik kambing untuk memperbaiki tanaman yang rusak dalam jangka waktu yang dia butuhkan, seiring pemilik tanaman mendapatkan manfaat-manfaat dari kambing itu berupa susu, bulu, dan manfaat lainnya dalam masa itu. Kemudian kambing itu kembali ke pemiliknya; demikian juga tanaman itu kembali kepada pemiliknya; dikarenakan setaranya nominal harga tanaman yang rusak dengan manfaat kambing yang didapat. Dan masing-masing dari mereka berdua, Dawud dan Sulaiman, Kami berikan kepada mereka keahlian dalam hokum dan ilmu, dan Kami anugerahkan kepada Dawud dengan ditundukannya gunung-gunung yang bertasbih bersamanya, jika Dawud bertasbih. Begitu pula burung-burung pun bertasbih. Dan Kami-lah yang melakukannya.

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ

wa ‘allamnāhu ṣan’ata labụsil lakum lituhṣinakum mim ba`sikum, fa hal antum syākirụn

 80.  Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

Dan Allah mengistimewakan Dawud dengan mengajarkannya cara membuat baju besi yang dia buat dalam bentuk kepingan bulat yang saling terkait satu sama lainnya yang memudahkan tubuh untuk bergerak; yang berfungsi melindungi para pasukan perang dari sabetan senjata pada tubuh mereka. Maka apakah kalian bersyukur terhadap nikmat Allah yang tercurah pada kalian ketika Dia kirimkan melalui tangan Dawud?

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

wa lisulaimānar-rīḥa ‘āṣifatan tajrī bi`amrihī ilal-arḍillatī bāraknā fīhā, wa kunnā bikulli syai`in ‘ālimīn

 81.  Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan Kami menundukkan bagi Sulaiman angin yang bertiup kencang yang dapat membawa dirinya dan orang-orang yang bersamanya, yang berhembus dengan perintahNya menuju negeri Baitul Maqdis di Syam yang Kami curahkan keberkahan padanya dengan berbagai macam kebaikan yang banyak. Dan sungguh ilmu Kami meliputi segala sesuatu.

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

wa minasy-syayāṭīni may yagụṣụna lahụ wa ya’malụna ‘amalan dụna żālik, wa kunnā lahum ḥāfiẓīn

 82.  Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,

Dan Kami telah menundukkan bagi Sulaiman dari bangsa setan, yaitu setan-setan yang dia manfaatkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang makhluk lain tidak mampu melakukannya. Mereka ditugasi menyelam ke dalam laut untuk mengeluarkan batu-batu mutiara dan permata-permata. Mereka juga mengerjakan pekerjaan lain, yaitu membuat apa-apa yang diinginkan Sulaiman dari mereka. Mereka tidak kuasa menolak apa-apa yang Sulaiman inginkan dari mereka. Allah melindungi mereka baginya dengan kekuatan dan keperkasaanNya.

۞ وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

wa ayyụba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

 83.  dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

Dan ingatlah (wahai Rasul) hamba kami Ayyub, ketika Kami mengujinya dengan kondisi buruk dan penyakit parah dalam tubuhnya. Dia telah kehilangan istri, harta benda, dan anaknya. Maka dia bersabar dan mengharapkan pahala (dari Allah). Dan dia memanggil Tuhannya, “Sesungguhnya kondisi buruk telah menimpaku, sedang Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang. Maka singkirkanlah penyakit ini dariku.”

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

fastajabnā lahụ fa kasyafnā mā bihī min ḍurriw wa ātaināhu ahlahụ wa miṡlahum ma’ahum raḥmatam min ‘indinā wa żikrā lil-‘ābidīn

 84.  Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Maka Kami mengabulkan doanya dan melenyapkan bala darinya. Dan Kami mengembalikan apa yang sudah hilang darinya, berupa istri, anak,dan harta benda dengan jumlah yang berlipat-ganda. Kami lakukan itu sebagai rahmat dari Kami (baginya) agar dia menjadi teladan baik bagi stiap orang yang bersabar menghadapi bala, mengharap rahmat tuhannya, lagi menghambakan diri kepadaNya.

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ

wa ismā’īla wa idrīsa wa żal-kifl, kullum minaṣ-ṣābirīn

 85.  Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.

Dan ingatlah Ismail dan Idris, serta Dzulkifli. Masing-masing dari mereka itu termasuk orang-orang yang sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat kepadaNya, dan menghadapi takdir-takdirNya. Maka mereka pantas disebut dengan pujian yang baik.

وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa adkhalnāhum fī raḥmatinā, innahum minaṣ-ṣāliḥīn

 86.  Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.

Dan kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang batin dan lahir nya baik, maka mereka menaati Allah dan mengamalkan perintahNya.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

wa żan-nụni iż żahaba mugāḍiban fa ẓanna al lan naqdira ‘alaihi fa nādā fiẓ-ẓulumāti al lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn

 87.  Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.

Dan ingatlah kisah seorang yang ditelan ikan, yaitu Yunus bin Matta. Allah mengutusnya sebagai rasul kepada kaumnya, maka dia mendakwahi mereka, namun mereka tidak beriman. Lalu dia mengancam mereka dengan siksaan namun mereka tetap tidak mau kembali (bertaubat). Dan dia tidak dapat lebih bersabar dalam menghadapi mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada nya. Dia pun pergi dari tengah mereka dalam keadaan marah kepada mereka, merasa sempit dada lantaran penentangan mereka. Dan dia menyangka bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menyulitkan dan menghukumnya terhadap pelanggaran atas perintah Allah ini. Maka Allah mengujinya dengan kesempitan yang dahsyat dan tertahan, dan ikan besar menelannya di dalam lautan. Lalu dia menyeru Tuhannya dalam kegelapan malam, laut dan gelapnya perut ikan dengan bertaubat dan pengakuan akan kezhalimannya karena meninggalkan kesabaran dalam menghadapi kaumnya dengan berucap, “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Engkau, MahaSuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat kezhaliman.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

fastajabnā lahụ wa najjaināhu minal-gamm, wa każālika nunjil-mu`minīn

 88.  Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

Maka Allah mengabulkan permohonannya, dan Kami lepaskan dia dari kedukaan akibat kesulitan tersebut. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang Mukmin yang membenarkan dan menjalankan syariat Kami.

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

wa zakariyyā iż nādā rabbahụ rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

 89.  Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.

Dan ingatlah (wahai Rasul) kisah hamba Allah bernama Zakaria ketika dia memohon kepada Tuhannya agar berkenan memberikan rizki kepadanya berupa keturunan ketika telah berusia senja dengan berucap, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup sebatang kara, tanpa keturunan. Anugerahkanlah kepadaku pewarisku yang akan menjalankan ajaran agama di tenagh manusia sepeninggalku. Dan Engkau adalah Dzat Yang Mahaabadi, Yang terbaik lagi sebaik-baik Dzat yang memberikan pengganti bagiku dengan kebaikan.”

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

fastajabnā lahụ wa wahabnā lahụ yaḥyā wa aṣlaḥnā lahụ zaujah, innahum kānụ yusāri’ụna fil-khairāti wa yad’ụnanā ragabaw wa rahabā, wa kānụ lanā khāsyi’īn

 90.  Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya dalam kondisi tua renta, putranya, Yahya. Dan Kami menjadikan istrinya wanita baik akhlaknya dan wanita yang normal yang dapat mengandung dan melahirkan, setelah sebelumnya dia adalah seorang wanita yang mandul. Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang bersegera menujun kepada setiap kebajikan, dan memohon kepada kami dengan penuh mengharap kebaikan yang ada di sisi Kami, juga takut terhadap siksaan Kami. Dan mereka adalah orang-orang yang tunduk lagi rendah hati.

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

wallatī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhā mir rụḥinā wa ja’alnāhā wabnahā āyatal lil-‘ālamīn

 91.  Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.

Dan ingatlah (wahai Rasul) kisah Maryam putri Imran yang menjaga kehormatannya dari perbuatan haram, dan dia tidak melakukan perbuatan keji sepanjang hidupnya. Kemudian Allah mengutus Jibril kepadanya. Lalu dia meniup kerah baju Maryam. Tiupan itu sampai ke dalam rahimnya. Kemudian Allah menciptakan al-Masih Isa Bin Maryam melalui tiupan tersebut. Akhirnya, Maryam mengandungnya tanpa ada suami. Maka dengan keadaan demikian, dia dan putranya menjadi pertanda kuasa Allah dan pelajaran bagi semua makhluk hingga terjadinya Hari Kiamat.

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

inna hāżihī ummatukum ummataw wāḥidataw wa ana rabbukum fa’budụn

 92.  Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.

Nabi-nabi tersebut seluruhnya, agama mereka satu, Islam, yaitu berserah diri kepada Allah dengan taat dan mengesakanNya dengan ibadah. Dan Allah, Penguasa seluruh makhluk , sembahlah Dia (wahai sekalian manusia) semata dan tiada sekutu bagiNya.

وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ ۖ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ

wa taqaṭṭa’ū amrahum bainahum, kullun ilainā rāji’ụn

 93.  Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali.

Akan tetapi manusia malah berselisih (sikap) terhadap rasul-rasul mereka, dan terpecah kebanyakan pengikut mereka dalam agama menjadi berkelompok-kelompok dan bergolongan –golongan. Mereka menyembah sesama makhluk dan hawa nafsu. Dan mereka semua akan kembali kepada Kami, dan menghadapi perhitungan atas apa yang mereka perbuat.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ

fa may ya’mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu`minun fa lā kufrāna lisa’yih, wa innā lahụ kātibụn

 94.  Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.

Barangsiapa berpegang teguh dengan keimanan kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan dia mengerjakan apa yang dia mampu dari amal-amal shalih, karena taat kepada Allah dalam rangka beribadah kepadaNya, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalnya dan tidak akan menghapusnya, bahkan Dia akan melipatgandakannya semuanya dengan kelipatan yang banyak, dan orang itu akan mendapatkan apa yang telah dia kerjakan di dalam kitab (catatan amal) nya pada hari dia dibangkitkan setelah matinya.

وَحَرَامٌ عَلَىٰ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

wa ḥarāmun ‘alā qaryatin ahlaknāhā annahum lā yarji’ụn

 95.  Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami).

Dan mustahil bagi penduduk negeri yang telah Kami binasakan dikarenakan kekafiran dan perbuatan zhalim mereka, untuk kembali ke dunia sebelum Hari Kiamat, untuk mengejar kekurangan dalam amalan yang mereka tinggalkan.

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

ḥattā iżā futiḥat ya`jụju wa ma`jụju wa hum ming kulli ḥadabiy yansilụn

 96.  Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

waqtarabal-wa’dul-ḥaqqu fa iżā hiya syākhiṣatun abṣārullażīna kafarụ, yā wailanā qad kunnā fī gaflatim min hāżā bal kunnā ẓālimīn

 97.  Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim”.

96-97. Apabila tembok penutup Ya’juj dan Ma’juj dibuka, dan mereka merangsek segera dari dataran-dataran yang tinggi, dan mereka kemudian menyebar di sisi-sisinya dengan tepat. Dan telah dekatlah Hari Kiamat, dan tampaklah kengerian-kengeriannya. Tiba-tiba pandangan-pandangan orang-orang kafir terbelalak terbuka tidak bisa berkedip dikarenakan dahsyatnya rasa takut mereka. Mereka memekikkan kecelakaan bagi diri mereka dalam penyesalan dengan berkata, “Celaka kami, kami telah bermain-main lagi lalai terhadap hari ini dan untuk mempersiapkan diri untuk menyongsongnya. Dan kami dengan sikap itu telah menzhalimi diri sendiri.”

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

innakum wa mā ta’budụna min dụnillāhi ḥaṣabu jahannam, antum lahā wāridụn

 98.  Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.

Sesungguhnya kalian itu (wahai orang-orang kafir) dan apa yang kalian sembah selain Allah berupa berhala-berhala,serta orang-orang yang setuju dengan penyembahan kalian kepada mereka, dari bangsa jin dan manusia, akan menjadi bahan bakar Neraka Jahannam dan kayu bakarnya; kalian dan mereka akan memasukinya.

لَوْ كَانَ هَٰؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا ۖ وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ

lau kāna hā`ulā`i ālihatam mā waradụhā, wa kullun fīhā khālidụn

 99.  Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.

Seandainya obyek-obyek yang kalian sembah selain Allah itu benar-benar tuhan-tuhan yang berhak untuk disembah, pastilah mereka tidak masuk Neraka Jahanam bersama kalian, wahai orang-orang musyrik. Sesungguhnya masing-masing dari para penyembah dan yang disembah akan kekal di dalam Neraka Jahanam.

لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ

lahum fīhā zafīruw wa hum fīhā lā yasma’ụn

 100.  Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.

Orang-orang yang disiksa itu mengalami kepedihan-kepedihan yang diindikasikan oleh rintihan-rintihan mereka, tarikan-tarikan nafas mereka berhembus keluar masuk di dalamnya. Dan di dalam neraka mereka tidak mendengar, dikarenakan beratnya siksaan yang mereka alami.

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَىٰ أُولَٰئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ

innallażīna sabaqat lahum minnal-ḥusnā ulā`ika ‘an-hā mub’adụn

 101.  Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka,

Sesungguhnya orang-orang yang telah ditetapkan dari Kami kebahagiaan yang indah bagi mereka berdasarkan pengetahuan Kami bahwa mereka termasuk dari penghuni surga, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak akan memasukinya dan tidak berada di dekatnya.

لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا ۖ وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ

lā yasma’ụna ḥasīsahā, wa hum fī masytahat anfusuhum khālidụn

 102.  mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.

Mereka tidak akan mendengar suara kobaran apinya dan terbakarnya tubuh-tubuh (penghuni neraka) di dalamnya. Sesungguhnya Mereka menempati tempat tinggal mereka di surga, dan mereka berada dalam kondisi yang disukai oleh jiwa-jiwa mereka, berupa kenikmatan dan kelezatan hidup abadi di dalamnya selama-lamanya.

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

lā yaḥzunuhumul-faza’ul-akbaru wa tatalaqqāhumul-malā`ikah, hāżā yaumukumullażī kuntum tụ’adụn

 103.  Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”.

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

yauma naṭwis-samā`a kaṭayyis-sijilli lil-kutub, kamā bada`nā awwala khalqin nu’īduh, wa’dan ‘alainā, innā kunnā fā’ilīn

 104.  (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.

103-104. Kengerian yang luarbiasa tidak menakutkan mereka pada Hari Kiamat. Bahkan malaikat memberikan kabar gembira bagi mereka (dengan berkata), “Ini adalah hari kalian yang dahulu dijanjikan untuk kalian berupa kemuliaan dan balasan baik yang melimpah dari Allah.” Hari ketika Kami melipat langit sebagaimana kertas dilipat-lipat bersama dengan tulisan yang ada padanya. Kami membangkitkan makhluk-makhluk pada hari itu dengan bentuk yang Kami ciptakan mereka pertama kali,sebagaimana ibu-ibu mereka melahirkan mereka. Itu adalah janji Allah yang tidak mengalami pengingkaran. Kami menjanjikannya dengan janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami selalu melaksanakan apa yang telah Kami janjikan.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

wa laqad katabnā fiz-zabụri mim ba’diż-żikri annal-arḍa yariṡuhā ‘ibādiyaṣ-ṣāliḥụn

 105.  Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.

Dan sesungguhnya Kami telah menetapkan di dalam kitab-kitab suci sebelumnya pasca ditulis di Lauhul Mahfuzh, bahwa sesungguhnya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang shalih yang menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka dan menjauhi perkara yang mereka dilarang melakukannya. Mereka itu adalah umat Muhammad.

إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ

inna fī hāżā labalāgal liqaumin ‘ābidīn

 106.  Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).

Sesungguhnya dalam nasihat peringatan yang dibaca ini, benar-benar termuat pelajaran yang cukup memadai bagi orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan ajaran yang disyariatkanNya bagi mereka dan diridhai Allah pada mereka.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn

 107.  Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Dan Kami tidaklah mengutusmu (wahai Rasul) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Maka barangsiapa beriman kepadamu, niscaya dia akan berbahagia dan selamat, dan barangsiapa tidak beriman, maka dia akan gagal dan merugi.

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

qul innamā yụḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥid, fa hal antum muslimụn

 108.  Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”.

Katakanlah, “Sesungguhnya (isi) wahyu yang diwahyukan kepadaku dan yang dengannya aku diutus adalah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian yang berhak untuk diibadahi semata adalah Allah, maka hendaklah kalian berserah diri kepadaNya dan patuhlah untuk beribadah kepadaNya.”

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ آذَنْتُكُمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۖ وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَمْ بَعِيدٌ مَا تُوعَدُونَ

fa in tawallau fa qul āżantukum ‘alā sawā`, wa in adrī a qarībun am ba’īdum mā tụ’adụn

 109.  Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?”.

Apabila mereka itu menolak islam, maka katakanlah kepada mereka, “Aku sampaikan kepada kalian semua, apa yang Allah wahyukan kepadaku. Aku dan kalian itu sama saja dalam ilmu ketika aku peringatkan kalian. Aku tidaklah lebih tahu (setelah itu) kapan siksaan yang dijanjikan kepada kalian akan menimpa kalian.”

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ

innahụ ya’lamul-jahra minal-qauli wa ya’lamu mā taktumụn

 110.  Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan.

Sesungguhnya Allah mengetahui ucapan-ucapan yang kalian tampakkan dan yang kalian sembunyikan di dalam hati sanubari kalian, dan Dia akan memperhitungkan itu terhadap kalian.

وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

wa in adrī la’allahụ fitnatul lakum wa matā’un ilā ḥīn

 111.  Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.

Dan aku tidak mengetahui, mungkin saja diundurnya kedatangan siksaan yang kalian meminta untuk disegerakan itu merupakan bentuk penundaan belaka dan cobaan bagi kalian, dan agar kalian bersenang-senang di dunia sampai waktu tetentu, hingga kalian bertambah kafir, kemudian siksaan yang datang menjadi amat besar untuk menghukum kalian.

قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ ۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمَٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

qāla rabbiḥkum bil-ḥaqq, wa rabbunar-raḥmānul-musta’ānu ‘alā mā taṣifụn

 112.  (Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan”.

Nabi Muhammad berkata, “Wahai Tuhanku, berilah keputusan antara kami dan kaum kami yang mendustakan (kami) dengan putusan yang adil. Dan kami memohon kepada Tuhan kami Yang Maha Pengasih dan juga memohon pertolongan kepadaNya terhadap apa yang kalian perbuat (wahai orang-orang kafir) berupa kesyirikan, pendustaan dan kebohongan, dan juga apa yang kalian ancamkan terhadap kami, yaitu mempercundangi dan mengalahkan (kami).”

Related: Surat al-Hajj Arab-Latin, Surat al-Mu’minun Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat an-Nur, Terjemahan Tafsir Surat al-Furqon, Isi Kandungan Surat Asy-Syu’ara, Makna Surat an-Naml

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!