Surat Al-Anbiya Ayat 8

وَمَا جَعَلْنَٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَمَا كَانُوا۟ خَٰلِدِينَ

Arab-Latin: Wa mā ja'alnāhum jasadal lā ya`kulụnaṭ-ṭa'āma wa mā kānụ khālidīn

Artinya: Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.

« Al-Anbiya 7Al-Anbiya 9 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Kandungan Menarik Mengenai Surat Al-Anbiya Ayat 8

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Anbiya Ayat 8 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada beraneka kandungan menarik dari ayat ini. Ada beraneka penafsiran dari banyak ulama terkait kandungan surat Al-Anbiya ayat 8, misalnya sebagaimana berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan Kami tidak menjadikan rasul-rasul sebelummu berbeda dari tabiat manusia, yang tidak membutuhkan makanan dan minuman. Dan mereka tidak kekal abadi yang tidak akan mati.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

8. Dan Kami tidak menjadikan rasul-rasul yang Kami utus itu sebagai manusia yang memiliki jasad yang tidak mengkonsumsi makanan, tetapi mereka juga makan seperti manusia lainnya, serta mereka juga tidaklah hidup kekal di dunia ini tanpa mengalami kematian.


📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

8. وَمَا جَعَلْنٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ (Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan)
Yakni para rasul adalah teladan bagi manusia yang lain dalam menjalani tabiat mereka; para rasul tersebut makan sebagaimana orang lain butuh makan dan minum sebagaimana orang lain butuh minum; sebab tubuh setiap manusia tidak dapat terlepas dari makanan dan minuman, begitu pula para Rasul.

وَمَا كَانُوا۟ خٰلِدِينَ(dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal)
Namun mereka juga mati sebagaimana orang lain mati.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

8. Kami tidak menjadikan mereka sebagai jasad yang bertentangan dengan watak dasar manusia dimana mereka hidup seperti malaikat yang yang tidak makan dan minum. Mereka juga tidak hidup abadi di dunia, tapi mereka mati layaknya manusia selain mereka.


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Kami tidak menjadikan mereka} Kami tidak menjadikan para rasul itu {sebagai jasad} orang yang berjasad {yang tidak memakan makanan. Mereka juga tidak kekal} abadi di dunia dan tidak mati


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

7-9. Ini merupakan sanggahan atas lontaran syubhat kalangan orang-orang yang mendustakan Rasulullah. Mereka berkomentar, “Kenapa dia (seorang rasul) bukan seorang malaikat yang tidak membutuhkan makanan dan minuman serta mondar-mandir berurusan dengan pasar-pasar! Kenapa dia tidak abadi!” bila dia tidak demikian, berarti menunjukkan dia bukan seorang utusan Allah.”
Rangkaian syunhat ini, masih saja menancap di hati-hati kaum yang mendustakan para rasul. Mereka serupa dalam kekufuran, sehingga pernyataan-pernyataan mereka pun senada. Berikutnya, Allah menangkis syuhat orang-orang yang mendustakan Rasulullah, (namun) mengakui penetapan eksistensi para rasul sebelum beliau.
Kalau tida ada Nabi melainkan Nabi Ibrahim saja –yang telah diakui kenabbiannya oleh seluruh golongan, yang mana kaun musyrikin melancarkan klaim berpegang teguh pada agama dan ajaran Ibrahim bahwa para rasul sebelum Muhammad semuanya dari kalangan manusia, yang makan makanan, dan berjalan-jalan di pasar-pasar, dan muncul kejadian-kejadian manusiawi yang menimpa mereka seperti kematian dan kejadian lainnya, serta bahwa Allah telah mengutuus mereka kepada kaum dan ummat mereka; lalu sebagian beriman kepada mereka, dan adapula yang mendustakan, dan bahwa Allah benar-benar akan merealisasikan bagi mereka sesuatu yang telah dijanjikan, berupa keselamatan dan kebahagiaan bagi mereka (para utusan Allah) dan para pengikut, dan akan membinasakan orang-orang yang melampaui batas, lagi mendustakan mereka-, maka mengapa banyak syubhat batil yang diarahkan kepada Muahammad dalam rangka mengingkari risalahnya, padahal realita-realita itu melekat pada para saudaranya dari kalangan para rasul yang diakui oleh para pendusta kenabian Muhammad?
Ini adalah konsekuensi yang begitu jelas bagi mereka. Jika mereka mengakui kerasulan dari kalangan manusia, namun tidak mau menetapkan seorang rasul dari selain kalangan manusia, maka berarti syubhat mereka (tentang Nabi Muhammad) batil. Mereka telah mematahkannya sendiri dengan pengakuan mereka mengenai rusaknya syubhat mereka dan adanya kontradiksi di tengah (pola pikir) mereka tentang itu.
Andai alangkah mereka ini diprediksi menuju pengingkaran kenabian dari kalangan manusia seutuhnya, tidak ada satu pun nabi, melainkan seorang malaikat yang abadi, tidak makan makanan, maka sungguh Allah telah menyanggah syubhat ini dengan FirmanNYa,
"Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?" dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-Iaki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." (Al-An’am:8-9)
Dan bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan dalam menerima wahyu dari malaikat (secara langsung),
"Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka malaikat menjadi rasul". (Al-Isra:95).
Jikalau timbul keraguan pada kalian, dan kalian tidak mengetahui selu-beluk para rasul yang sudah lewat, hendaknya mereka bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang kitab-kitab yang terdahulu. Misalnya, para ulama yang menguasai Taurat dan INjil. Mereka bakal memberitahukan tentang ilmu yang mereka miliki kepada kalian, dan bahwa seluruh rasul adalah manusia yang berasal dari jenis bangsa yang diberikan risalah (obyek dakwah).
Ayat ini, meskipun sebabnya khusus mengenai pertanyaan tentang jatii diri para rasul yang telah berlalu kepada ahli dzikir, yaitu ulama, tapi sesungguhnya konteksnya umum, mencakup setiap permasalahan agama, perkara yang inti atau cabangnya. Jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, hendaknya dia menanyakannya kepada orang yang mengetahuinya.
Dalam keterangan ini terkandung pelajaran, adanya perintah untuk belajar dan bertanya kepada ulama. Tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada mereka (ulama) melainkan karena mereka wajib mengajarkan ilmu dan menjawab permasalahan yang mereka ketahui.
Di dalam pengkhususan melontarkan pertanyaan kepada ulama, terkandung larangan bertanya kepada orang yang sudah dikenal dengan kebodohannya dan tida berilmu. Di dalamnya juga terkandung larangan bagi orang yang bodoh untuk memposisikan diri untuk menjawab. Dalllam ayat ini termuat sebuah dalil bahwa tidak ada nabi dari kalangan wanita, termasuk Maryam atau lainnya bukan nabi. Hal ini berdasarkan Firman Allah, “Melainkan beberapa orang laki-laki.”


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 7-9
Allah SWT berfirman seraya menjawab orang-orang yang mengingkari pengutusan rasul dari kalangan manusia: (Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka) yaitu semua rasul yang terdahulu itu dari kalangan laki-laki manusia, tidak ada seorang pun di antara mereka dari kalangan malaikat. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan seorang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri) (Surah Yusuf: 109) Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui) yaitu, tanyakanlah kepada ahli ilmu dari kalangan umat-umat terdahulu seperti kaum Yahudi dan Nasrani serta semua kelompok agama terdahulu,”Apakah para rasul yang datang kepada mereka itu sebagai manusia atau malaikat? Sesungguhnya mereka adalah manusia. Demikian itu merupakan nikmat Allah atas makhlukNya, dengan mengutus para rasul kepada mereka dari kalangan mereka, sehingga mereka bisa menerima apa yang disampaikan para rasul.
Firman Allah: (Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan) yaitu sesungguhnya mereka itu memiliki jasad yang membutuhkan makanan sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar) (Surah Al-Furqan: 20) yaitu, sesungguhnya mereka itu adalah manusia yang makan dan minum seperti manusia umumnya. Mereka memasuki pasar-pasar untuk mencari penghidupan dan berdagang. Tidaklah hal itu membahayakan mereka dan tidak pula mengurangi sedikit pun martabat mereka
Firman Allah: (dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal) di dunia, bahkan mereka hidup, lalu mati: (Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu) (Surah Al-Anbiya: 34) Dikhususkan bahwa mereka diberi wahyu Allah SWT. Para malaikat turun kepada mereka membawa wahyu dari Allah tentang apa yang diputuskan Allah untuk makhlukNya, berupa apa yang DIa perintahkan dan Dia larang. Firman Allah: (Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan)) yaitu apa yang telah dijanjikan Tuhan mereka, bahwa sungguh Dia akan membinasakan orang-orang yang zalim. Allah memenuhi dan melaksanakan janjiNya itu. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki) yaitu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang mukmin (dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas) yaitu orang-orang yang mendustakan apa yang disampaikan para rasul.


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Anbiya Ayat 8

-9. Kemudian kami tepati janji, yang telah kami janjikan tentang pertolongan dan keselamatan kepada mereka, para rasul dan pengikut-pengikutnya yang beriman. Maka kami selamatkan mereka dan orang-orang yang kami kehendaki di antara umat para rasul itu karena keimanannya; dan kami binasakan dengan bencana alam orang-orang yang melampaui batas, karena kekafiran mereka kepada Allah.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Itulah pelbagai penjelasan dari para ahli tafsir terkait makna dan arti surat Al-Anbiya ayat 8 (arab-latin dan artinya), semoga membawa manfaat bagi kita. Support dakwah kami dengan memberikan link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Konten Banyak Dibaca

Tersedia banyak topik yang banyak dibaca, seperti surat/ayat: Al-Buruj, Ibrahim 7, Innallaha Ma’ash Shabiriin, Al-Qashash 77, Ayat 15 (Lima Belas), An-Nisa 36. Ada juga Al-Isra, Yasin 82, Ar-Rahman 13, Fatir 37, Al-Baqarah 177, Ar-Rum 21.

  1. Al-Buruj
  2. Ibrahim 7
  3. Innallaha Ma’ash Shabiriin
  4. Al-Qashash 77
  5. Ayat 15 (Lima Belas)
  6. An-Nisa 36
  7. Al-Isra
  8. Yasin 82
  9. Ar-Rahman 13
  10. Fatir 37
  11. Al-Baqarah 177
  12. Ar-Rum 21

Pencarian: quran surah alimran ayat 159, an nisa ayat 129, surah al baqarah 1 sampai 10, surat ibrahim ayat 6, surat al-fil melarang kita berbuat

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
👉 tafsirweb.com/start
 
✅ Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: