Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Hud

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Arab-Latin: alif lām rā, kitābun uḥkimat āyātuhụ ṡumma fuṣṣilat mil ladun ḥakīmin khabīr

Terjemah Arti:  1.  Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

( Alif lam Ro ) keterangan tentang huruf-huruf yang terputus-putus (di awal surat) penjelasannya telah berlalu di awal pada permulaan surat al-baqarah. Kitab yang diturunkan Allah kepaada Muhammad ini, ayat-ayat nya telah terpelihara dari kesalahan dan kebatilan. kemudian diterangkan dengan adanya perintah dan larangan seta penjelasan halal dan haram dari sisi Allah, Dzat yang mahabijaksana dalam mengatur segala urusan, yang maha mengetahui bagaimana perkara-perkara itu berkesudahan.

أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۚ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

allā ta’budū illallāh, innanī lakum min-hu nażīruw wa basyīr

 2.  agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya,

Dan diturunkannya al-qur’an dan adanya penjelasan hukum-hukum, perincian dan dijaganya , bertujuan supaya kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNYa. Sesungguhnya aku bagi kalian (wahai sekalian manusia), hanyalah seorang pemberi peringatan dari Allah yang memperingatkan kalian dari siksaanNYa, dan pemberi kabar gembira yang memberikan kabar gembira dengan pahalaNYa.

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

wa anistagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaihi yumatti’kum matā’an ḥasanan ilā ajalim musamman wa yu`ti kulla żī faḍlin faḍlah, wa in tawallau fa innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yauming kabīr

 3.  dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

Dan mintalah oleh kalian kepadaNya agar berkenan mengampuni dosa-dosa kalian, kemudian bertaubatlah kepadaNYa dalam keadaan menyesal, niscaya Dia akan memberikan kesenangan di dunia dengan kesenanagn yang baik berupa kehidupan yang baik di dalamnya, sampai waktu datangnya ajal kalian. Dan memberikan kepada setiap yang memiliki keutamaan dari ilmu maupun amal balasan keutamaannya itu secara sempurna, tidak ada pengurangan sedikitpun padanya. Dan apabila kalian berpaling dari seruan yang aku seru kalian padanya, maka sesungguhnya aku khawatir akan menimpa kalian siksaan hari yang amat pedih, yaitu siksaan hari kiamat. Ini merupakan bentuk ancaman keras terhadap orang yang berpaling dari perintah-perintah Allah dan mendustakan rasul-rasaulNya.

إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

ilallāhi marji’ukum, wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

 4.  Kepada Allah-lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kepada Allah kalian kembali setelah kematian kalian semua, maka takutlah akan siksaanNya. Sebab Allah mahakuasa untuk membangkitkan kalian, mengumpulkan kalian dan memberikan balasan bagi kalian.

أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ ۚ أَلَا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

alā innahum yaṡnụna ṣudụrahum liyastakhfụ min-h, alā ḥīna yastagsyụna ṡiyābahum ya’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

 5.  Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Sesungguhnya orang-orang musyrik menyembunyikan kekafiran di hati-hati mereka, karena beranggapan bahwa akan tersembunyi bagi Allah apa yang dirahasiakan jiwa-jiwa mereka. Tidakkah mereka mengetahui ketika mereka menutup-nutupi tubuh-tubuh mereka dengan pakaian-pakaian mereka bahwa sesungguhnya Allah tidak tersembunyi bagiNya rahasia dan tindakan nyata mereka? sesungguhnya Dia mahamengetahui semua perkara yang disembunyikan oleh hati-hati mereka berupa niat-niat , bisikan hati nurani, dan rahasia-rahasia jiwa.

۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa mā min dābbatin fil-arḍi illā ‘alallāhi rizquhā wa ya’lamu mustaqarrahā wa mustauda’ahā, kullun fī kitābim mubīn

 6.  Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Sesungguhnya Allah telah menjamin rizki semua makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, sebagai bentuk karunia dariNya, dan Dia mengetahui tempat tinggalnya saat hidup dan setelah matinya, dan mengetahui tempat dimana ia akan mati. Semua itu sudah tertulis di satu kitab di sisi Allah yang sudah menerangkan semua itu.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa huwallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmiw wa kāna ‘arsyuhụ ‘alal-mā`i liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa la`ing qulta innakum mab’ụṡụna mim ba’dil-mauti layaqụlannallażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn

 7.  Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya dalam enam hari, dan arsyNya berada di atas air sebelum itu, supaya Dia menguji kalian siapakah dari kalian yang lebih ketaatan dan amalanya kepadaNya, yaitu amal yang dikerjakan ikhlas karena Allah, yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah . Dan bila kamu , berkata (wahai rasul) kepada kaum musyrikin dari kaummu, ”sesungguhnya kalian akan dibangkitkan dalam keadaan hidup setelah kematian kalian,” pastilah mereka akan bersegera mendustakan dan mengatakan, ”tidaklah al-qur’an yang kamu bacakan kepada kami kecuali sihir yang nyata.”

وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَىٰ أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ لَيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ ۗ أَلَا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ مَصْرُوفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa la`in akhkharnā ‘an-humul-‘ażāba ilā ummatim ma’dụdatil layaqụlunna mā yaḥbisuh, alā yauma ya`tīhim laisa maṣrụfan ‘an-hum wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 8.  Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan. niscaya mereka akan berkata: “Apakah yang menghalanginya?” lngatlah, diwaktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya.

Dan apbila kami tangguhkan siksaan atas orang-orang musyrik tersebut sampai waktu tertentu, pastilah mereka akan menganggap kedatangannya terlambat. Dan mereka akan berkata sebagai sikap mengolok-ngolok dan mendustakannya, ”Apakah yang menghalangi siksaan ini terjadi bila memang benar akan terjadi?” ingatlah, pada hari siksaan itu datang kepada mereka, maka tidak akan ada seorangpun yang mampu menyingkirkannya dari mereka dan tidak ada pula seorangpun yang sanggup menolaknya dan akan mengepung mereka dari segala sisi siksaan yang mereka tertawakan sebelum kedatangannya.

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

wa la`in ażaqnal-insāna minnā raḥmatan ṡumma naza’nāhā min-h, innahụ laya`ụsung kafụr

 9.  Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.

Dan apabila kami memberikan kepada manusia kenikmatan dari kami, berupa kesehatan, keamanan dan nikmat lainnya, kemudian kami mencabut nikmat-nikmat itu darinya, maka dia menjadi sangat putus asa dari rahmat Allah, mereka ingkar terhadap nikmat yang telah Allah karuniakan kepadanya.

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

wa la`in ażaqnāhu na’mā`a ba’da ḍarrā`a massat-hu layaqụlanna żahabas-sayyi`ātu ‘annī, innahụ lafariḥun fakhụr

 10.  Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,

Dan jika kami melapangkan bagi manusia keadaan dunianya dan meluaskan baginya rizki setelah kesempitan penghidupannya, tentulah saat itu dia benar-benar akan mengatakan, ” telah pergi dariku kesulitan hidup dan telah lenyap berbagi macam kesengsaraan.” sesungguhnya ia benar-benar seorang yang mengingkari nikmat-nikmat, keterlaluan dalam berbangga diri dan angkuh di hadapan manusia.

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

illallażīna ṣabarụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt, ulā`ika lahum magfiratuw wa ajrung kabīr

 11.  kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.

Akan tetapi, orang-orang yang bersabar menghadapi apa yang menimpa mereka berupa kesulitan hidup, karena keimanan mereka kepada Allah dan harapan mereka memperoleh pahala dari sisiNya, dan mereka mengerjakan amal shalih sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya, mereka itulah orang-orang yang mendapat ampunan dari dosa-dosa mereka dan pahala besar di akhirat kelak.

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ ۚ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

fa la’allaka tārikum ba’ḍa mā yụḥā ilaika wa ḍā`iqum bihī ṣadruka ay yaqụlụ lau lā unzila ‘alaihi kanzun au jā`a ma’ahụ malak, innamā anta nażīr, wallāhu ‘alā kulli syai`iw wakīl

 12.  Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.

Maka barangkali kamu (wahai rasul dikarenakan beratnya apa yang kamu saksikan pada mereka berupa kekafiran dan pendustaan) akan meninggalkan sebagian apa yang telah diwahyukan kepadamu dari wahyu yang Allah turunkan kepadamu dan yang telah perintahkan kamu untuk menyampaikannya, dan dadamu menjadi sesak lantaran khawatir mereka akn menuntut darimu beberapa tuntutan sebagai bentuk kerasnya sikap mereka, seperti mengatakan, ”sekiranya diturunkan padanya harta yang melimpah ruah, atau malaikat datang bersamanya untuk membenarkan ajaran risalahnya.” karenanya, sampaikanlah olehmu apa yang aku wahyukan kepadamu, karena sesungguhnya tidak ada kewajiban atas dirimu selain memberikan peringatan saja dengan wahyu yang diturunkan kepadamu. Dan Allah Mahamemelihara segala sesuatu, juga mengatur semua urusan makhlukNya.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

am yaqụlụnaftarāh, qul fa`tụ bi’asyri suwarim miṡlihī muftarayātiw wad’ụ manistaṭa’tum min dụnillāhi ing kuntum ṣādiqīn

 13.  Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

Bahkan apakah orang-orang musyrik dari penduduk negeri Makkah akan mengatakan, ”sesungguhnya Muhammadlah yang telah mengada-adakan al-qur’an ini?” katakanlah kepada mereka, ”jika memang urusan ini seperti yang kalian duga-duga, maka datangkanlah sepuluh surat serupa yang dibuat-buat sendiri, dan panggillah siapa saja yang kalian bisa dari seluruh makhluk Allah yang dapat membantu kalian untuk mendatangkan sepuluh surat tersebut, jika kalian orang-orang yang benar dalam klaim kalian, ”

فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

fa il lam yastajībụ lakum fa’lamū annamā unzila bi’ilmillāhi wa al lā ilāha illā huw, fa hal antum muslimụn

 14.  Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?

Maka jika orang-orang musyrik tidak memenuhi permintaan kalian (wahai rasul), dan orang-orang yang beriman bersamamu, terhadap tuntutan kalian kepada mereka, karena ketidakmampuan mereka semua untuk itu, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya al-qur’an ini hanya Allah lah yang menurunkannya kepada RasaulNya dengan ilmuNya, dan bukan dari perkataan manusia, dan ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Apakah kalian (setelah tegaknya hujjah ini di hadapan kalian), mau berserah diri dan tunduk kepada Allah dan rasulNya?”

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

mang kāna yurīdul-ḥayātad-dun-yā wa zīnatahā nuwaffi ilaihim a’mālahum fīhā wa hum fīhā lā yubkhasụn

 15.  Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Barangsiapa mengharapkan dengan amalnya, kehidupan dunia dan kesenangan-kesenangannya, niscaya kami akan memberikan kepada mereka apa yang telah dibagikan bagi mereka berupa imbalan amal-amal yang mereka perbuat dengan balasan yang penuh dalam kehidupan dunia, mereka tidak mengalami pengurangan sedikitpun dari balasan mereka.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ulā`ikallażīna laisa lahum fil-ākhirati illan-nāru wa ḥabiṭa mā ṣana’ụ fīhā wa bāṭilum mā kānụ ya’malụn

 16.  Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.

Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mendapatkan di akhirat, kecuali neraka jahanam yang mana mereka akan merasakan panasnya, dan hilangah dari mereka manfaat amal-amal yang telah mereka perbuat, dan sia-sialah perbuatan mereka, lantaran dikerjakan bukan karena wajah Allah.

أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً ۚ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الْأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ ۚ فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ ۚ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

a fa mang kāna ‘alā bayyinatim mir rabbihī wa yatlụhu syāhidum min-hu wa ming qablihī kitābu mụsā imāmaw wa raḥmah, ulā`ika yu`minụna bih, wa may yakfur bihī minal-aḥzābi fan-nāru mau’iduhụ fa lā taku fī miryatim min-hu innahul-ḥaqqu mir rabbika wa lākinna akṡaran-nāsi lā yu`minụn

 17.  Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

Apakah orang yang berpijak diatas hujjah dan bashirah(ilmu jelas) dari tuhannya dalam perkara yang dia imani dan dia serukan, melalui wahyu yang Allah turunkan, yang didalamnya terdapat penjeasan, yang diikuti oleh bukti lain yang mempersaksikannya, yaitu jibril atau Muahmmad dan didukung hal itu oleh bukti ketiga sebelum al-qur’an, yaitu taurat, kitab suci yang diturunkan kepada Musa sebagai penuntun dan rahmat bagi yang beriman kepadanya, (apakah serupa orang seperti ini) dengan orang yang motifasinya adalah dunia yang fana dengan semua perhiasannya? mereka itu membenarkan al-qur’an ini dan melaksanakan hukum-hukumnya. Barangsiapa kafir terhadap Al-qur’an ini dari orang-orang yang bersekutu untuk melawan rasulullah , maka balasan mereka adalah neraka, dia akan memasukinya dengan pasti. Maka janganlahkamu (wahai rasul) berada dalam keraguan perihal al-qur’an dan statusnya yang berasal dari sisi Allah setelah kamu menyaksikan dalil-dalil petunjuk dan hujjah-hujjah. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya agama ini adalah agama yang haq dari tuhanmu, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengimaninya dan tidak mengetahui dengan apa yang merka diperintahkannya. Ini merupakan taujih umum untuk umat nabi Muhammad .

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibā, ulā`ika yu’raḍụna ‘alā rabbihim wa yaqụlul-asy-hādu hā`ulā`illażīna każabụ ‘alā rabbihim, alā la’natullāhi ‘alaẓ-ẓālimīn

 18.  Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

Dan tidak ada orang yang lebih zhalim dari orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah. Mereka itu akan dihadapkan di depan tuhan mereka pada hari kiamat, untuk memperhitungkan perbuatan-perbuatan mereka, dan para saksi dari kalangan malaikat dan nabi-nabi, serta lainnya akan berkata, ”mereka itulah orang-orang berdusta atas nama tuhan mereka di dunia.” sungguh Allah telah memurkai mereka dan melaknat mereka dengan laknat yang tiada putus-putus, sebab tindakan kezhaliman telah menjadi karakter yang melekat pada diri mereka.

الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

allażīna yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wa yabgụnahā ‘iwajā, wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn

 19.  (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat.

Mereka itu adalah orang-orang zhalim yang menghalangi manusia dari jalan Allah yang menyampaikan mereka kepada penyembahanNya, mereka menginginkan agar jalan tersebut bengkok supaya sejalan dengan hawa nafsu keinginan mereka, dan mereka itulah orang-orang kafir terhadap akhirat, tidak beriman kepada Hari kebangkitan dan hari pembalasan.

أُولَٰئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ۘ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ ۚ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ

ulā`ika lam yakụnụ mu’jizīna fil-arḍi wa mā kāna lahum min dụnillāhi min auliyā`, yuḍā’afu lahumul-‘ażāb, mā kānụ yastaṭī’ụnas-sam’a wa mā kānụ yubṣirụn

 20.  Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat(nya).

Orang-orang kafir itu, mereka tidak akan dapat melarikan diri dari Allah di dunia. Dan mereka tidaklah mempunyai penolong-penolong yang dapat menghalangi mereka dari siksaanNya. Akan diliatgandakan bagi mereka siksaan di dalam neraka jahanam, disebabkan mereka tidak dapat mendengar al-qur’an dengan memanfaatkannya, atau menyaksikan ayat-ayat Allah di dalam semesta ini untuk mencari petunjuk, karena mereka sibuk dalam kekafiran yang mereka hidup didalamnya.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

ulā`ikallażīna khasirū anfusahum wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

 21.  Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.

Mereka itu adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri akibat kedustaan mereka atas nama Allah, dan telah hilang dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan berupa tuhan-tuhan sesembahan yang mereka anggap dapat memberikan syafaat bagi mereka.

لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ

lā jarama annahum fil-ākhirati humul-akhsarụn

 22.  Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi.

Sudah dipastikan bahwa sesungguhnya mereka di akhirat kelak adalah orang-orang yang paling merugi perniagaannya. karena mereka telah meminta pengganti kerak-kerak paling bawah dengan hunian-hunian yang bertingkat-tingkat (disurga); mereka berada di neraka jahanam. Dan itulah kerugian yang nyata.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa akhbatū ilā rabbihim ulā`ika aṣ-ḥābul-jannah, hum fīhā khālidụn

 23.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada rasulNya, mengerjakan amal-amal shalih dan tunduk kepada Allah dalam setiap perkara yang mereka diperintah untuk menjalankannya dan perkara yang mereka dilarang melakukannya, mereka itu adalah para penghuni surga, mereka tidak meninggal di dalamnya dan tidak keluar darinya selama-lamanya.

۞ مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَىٰ وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ ۚ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

maṡalul-farīqaini kal-a’mā wal-aṣammi wal-baṣīri was-samī’, hal yastawiyāni maṡalā, a fa lā tażakkarụn

 24.  Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?

Perumpamaan antara dua golongan kafir dan golongan yang beriman, adalah seperti perumpamaan antara orang buta yang tidak dapat melihat lagi tuli yang tidak dapat mendengar dengan orang yang dapat melihat dan mendengar dengan normal. Golongan yang kafir tidak dapat melihat kebenaran untuk kemudian mereka ikuti, dan tidak mampu mendengar penyeru menuju kepada Allah sehingga kemudian mereka memperoleh petunjuk. Adapun golongan yang beriman, sungguh telah dapat melihat hujjah-hujah Allah dan mendengar seruan kepada Allah, lalu menyambutNya. Apakah sama antara dua golongan ini?. Apakah mereka mau mengambil pelajaran dan memikirkannya?

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

wa laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī innī lakum nażīrum mubīn

 25.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu,

Dan sungguh kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, kemudian ia berkata kepada mereka, ”sesunggguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian dari siksaan Allah, yang menerangkan kepada kalian ajaran yang aku diutus membawanya kepada kalian, berupa perintah dan larangan Allah.

أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ

al lā ta’budū illallāh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin alīm

 26.  agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”.

Aku memerintahkan kalian untuk tidak menyembah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku takut akan menimpa kalian (bila kalian tidak mengesakan Allah dengan ibadah) azab pada hari yang pedih.

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

fa qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī mā narāka illā basyaram miṡlanā wa mā narākattaba’aka illallażīna hum arāżilunā bādiyar-ra`y, wa mā narā lakum ‘alainā min faḍlim bal naẓunnukum kāżibīn

 27.  Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.

Maka para tokoh kekafiran dari kaumnya berkata, ”sesungguhnya kamu itu bukanlah malaikat, akan tetapi seorang manusia biasa. Mengapa diturunkan wahayu kepadamu, sementara kami tidak? dan kami tidaklah melihat orang yang mengikutimu, kecuali orang-orang rendah diantara kami. Orang-orang itu hanya mengikutimu tanpa berpikir panjang dan pengamatan seksama. Dan kami tidak melihat kalian memiliki keistimewaan di atas kami dalam soal rizki dan kekayaan harta, ketika kalian memeluk agama kalian itu. Bahkan kami meyakini bahwa kalian itu adalah para pendusta dengan apa yang kalian klaim”

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ

qāla yā qaumi a ra`aitum ing kuntu ‘alā bayyinatim mir rabbī wa ātānī raḥmatam min ‘indihī fa ‘ummiyat ‘alaikum, a nulzimukumụhā wa antum lahā kārihụn

 28.  Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?”

Nuh berakata, ”wahai kaumku, apa pendapat kalian bila aku berada diatas hujjah yang nyata dari tuhanku terkait risalah yang aku bawa kepada kalian, yang menerangkan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku berada di atas petunjuk yang benar dari sisiNya, dan Dia memberikan kepadaku rahmat dari sisinya, yaitu berupa kenabian dan kerasulan? Dia menutupinya dari kalian karena kebodohan kalian dan kesilauan kalian terhadap keadaan kalian. Apakah pantas aku menekan kalian untuk menerimanya dengan pemaksaan, sedang kalian mengingkarinya? kami tidak mau melakukan hal itu. Akan tetapi, kami serahkan urusan kalian kepada Allah hingga Dia memutuskan urusan kalian sesuai dengan kehendakNya.”

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۚ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

wa yā qaumi lā as`alukum ‘alaihi mālā, in ajriya illā ‘alallāhi wa mā ana biṭāridillażīna āmanụ, innahum mulāqụ rabbihim wa lākinnī arākum qauman taj-halụn

 29.  Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”.

Nuh berkata kepada kaumnya, ”wahai kaumku aku tidak meminta dari kalian atas seruan dakwahku kepada kalian supaya mengesakan Allah dan memurnikan ibadah kepadaNya imbalan yang harus kalian bayarkan kepadaku setelah kalian beriman. Akan tetapi, pahala atas nasihat yang aku berikan kepada kalian menjadi tanggungan Allah semata, dan bukan menjadi sifatku untuk mengusir kaum mukninin. Sesungguhnya mereka akan berjumpa dengan tuhan mereka pada hari kiamat. Akan tetapi, aku melihat kalian adalah kumpulan orang-orang yang bodoh, karena menyuruhku mengusir kekasih-kekasih Allah dan menjuhkan mereka dari diriku.

وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

wa yā qaumi may yanṣurunī minallāhi in ṭarattuhum, a fa lā tażakkarụn

 30.  Dan (dia berkata): “Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?

Dan wahai kaumku, siapakah yang dapat mengahalangi diriku dari Allah, jika Dia menyiksaku atas tindakan pengusiranku terhadap kaum Mukminin? apakah kalian tidak merenungi perkara-perkara dengan baik, lalu mengetahui apa yang paling bermanfaat dan terbaik bagi kalian?

وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

wa lā aqụlu lakum ‘indī khazā`inullāhi wa lā a’lamul-gaiba wa lā aqụlu innī malakuw wa lā aqụlu lillażīna tazdarī a’yunukum lay yu`tiyahumullāhu khairā, allāhu a’lamu bimā fī anfusihim, innī iżal laminaẓ-ẓālimīn

 31.  Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib”, dan tidak (pula) aku mengatakan: “Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat”, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.

Dan aka tidak akan berkata kepada kalian, ”sesungguhnya aku memiliki penguasaan kendali perbendaharaan kekayaan Allah, dan aku tidak mengetahui perkara ghaib, dan aku bukanlah malaikat. Dan aku tidak mengataakn kepada orang-orang yang kalian lecehkan dari orang-orang mukmin yang lemah, Allah tidak akan memberikan pahala atas amal-amal kalian, Allah saja yang lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada dan hati mereka. Dan jika aku lakukan itu, dengan demikian aku benar-benar termasuk orang-orang yang berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dan kepada orang lain.

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālụ yā nụḥu qad jādaltana fa akṡarta jidālana fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

 32.  Mereka berkata “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Mereka berkata, ”wahai Nuh, kamu telah membantah kami dan sudah terlalu banyak melancarkan bantahan kepada kami, maka datangkanlah kepada kami apa yang kamu ancamkan kepada kami dari siksaan, jika kamu termasuk orang-orang yang benar dalam klaimmu.

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

qāla innamā ya`tīkum bihillāhu in syā`a wa mā antum bimu’jizīn

 33.  Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.

Nuh berkata kepada kaumnnya, :sesungguhnya Allah sajalah yang menimpakan siksaan pada kalian, bila Dia menghendaki, dan kalian tidak akan lolos dari siksaanNya, bila dia berkehendak menyiksa kalian. karena sesungguhnya Allah tidak ada yang mampu melemahkanNYa sesuatupun di muka bumi dan di langit.

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ ۚ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa lā yanfa’ukum nuṣ-ḥī in arattu an anṣaḥa lakum ing kānallāhu yurīdu ay yugwiyakum, huwa rabbukum, wa ilaihi turja’ụn

 34.  Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.

Dan tidak akan bemanfaat bagi kalian nasihat dan kesungguhanku mendakwahi kalian kepada keimanan jika Allah memang berkehendak menyesatkan kalian dan membinasakan kalian. Dia pemilik kalian, dan kepadaNya kalian akan dikembalikan di akhirat untuk menghadapi perhitungan amal perbuatan dan pembalasannya.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ

am yaqụlụnaftarāh, qul iniftaraituhụ fa ‘alayya ijrāmī wa ana barī`um mimmā tujrimụn

 35.  Malahan kaum Nuh itu berkata: “Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja”. Katakanlah: “Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat”.

Atau apakah ada orang-orang musyrik dari kuam nuh mengatakan, ”nuh sendiri yang mengada-adakaan ucapan itu?” katakalanlah kepada mereka ”bila aku benar-benar mengada-adakan hal itu atas nama Allah, maka dosa tindakan itu hanyalah menjadi tanggunganku, akan tetapi bila aku benar, maka kalian lah orang-orang yang jahat lagi pendosa, dan aku berlepas diri dari kekafiran, pendustaan dan kejahatan kalian.

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

wa ụḥiya ilā nụḥin annahụ lay yu`mina ming qaumika illā mang qad āmana fa lā tabta`is bimā kānụ yaf’alụn

 36.  Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

Dan Allah telah mewahyukan kepada nuh tatkala siksaan telah pasti ada pada kaumnya, bahwa sesungguhnya tidak akan beriman kepada Allah kecuali orang yang telah beriman sebelumnya. Maka janganlah kamu bersedih hati wahai nuh, terhadap apa yang mereka perbuat.

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

waṣna’il-fulka bi`a’yuninā wa waḥyinā wa lā tukhāṭibnī fillażīna ẓalamụ, innahum mugraqụn

 37.  Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Dan buatlah kapal dalam pandangan mata kami dan perintah serta pertolongan kami, dan kamu berada dalam penjagaan dan penanganan kami, dan janganlah kamu meminta kami memberikan penangguhan bagi orang-orang yang telah menzhalimi diri mereka dari kaummu dengan kekafiran mereka, karena sesungguhnya mereka akan hanyut dalam banjir bandang. dalam ayat ini terdapat penetapan sifat “mata” bagi Allah yang sesuai dengan keagungannNya.

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ ۚ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ

wa yaṣna’ul-fulk, wa kullamā marra ‘alaihi mala`um ming qaumihī sakhirụ min-h, qāla in taskharụ minnā fa innā naskharu mingkum kamā taskharụn

 38.  Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).

Dan nuh membuat kapal. Tiap kali dari sekelompok orang dari para pembesar kaumnya melewatinya, mereka memperolok-oloknya. Maka nuh berkata kepada mereka ”jika kalian mengejek kami sekarang lantaran kebodohan kalian terhadap kebenaran ancaman Allah, maka kami akan mengolok-olok kalian esok hari ketika kalian tenggelam, sebagaimana kalian mengejek kami.

فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

fa saufa ta’lamụna may ya`tīhi ‘ażābuy yukhzīhi wa yaḥillu ‘alaihi ‘ażābum muqīm

 39.  Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”.

Kalian akan mengetahui bila ketetapan Allah telah tiba terkait ancaman tersebut, siapakah orang yang akan terkena siksaan Allah di dunia yang akan menghinakannya dan selanjutnya akan diturunkan kepadanya siksaan abadi ahirat tanpa putus?

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

ḥattā iżā jā`a amrunā wa fārat-tannụru qulnaḥmil fīhā ming kullin zaujainiṡnaini wa ahlaka illā man sabaqa ‘alaihil-qaulu wa man āman, wa mā āmana ma’ahū illā qalīl

 40.  Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

Hingga apabila datang ketetapan kami untuk membinasakan mereka sebagai mana Kami telah janjikan kejadian itu kepada Nuh, dan air memancar dengan kuat dari tungku api (yaitu tempat memebakar roti) sebagai tanda akan datangnya siksaan, Kami berfirman kepada Nuh, “Angkutlah ke dalam kapal itu segala jenis binatang jantan dan betina, dan angkutlah ke dalamnya keluargamu, kecuali orang yang telah berlaku padanya ketetapan (Allah) pada mereka sebagai orang yang tidak akan beriman kepada Allah, ” seperti putra dan istrinya. “ Dan angkutlah ke dalamnya orang yang beriman bersamamu dari kaummu. ” Dan tidaklah beriman bersamanya kecuali berjumlah sedikit, meski telah berlalu masa waktu yang panjang dan tinggal lama berada di tengah mereka.

۞ وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa qālarkabụ fīhā bismillāhi majr)hā wa mursāhā, inna rabbī lagafụrur raḥīm

 41.  Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Nuh berkata kepada orang-orang yang telah beriman bersamanya, “ Naiklah kalian ke dalam kapal dengan menyebut nama Allah ketika berlayar ke atas permukaan air dan dengan menyebut nama Allah pada akhir perjalanan dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha pengampun dosa-dosa orang-orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya dari hamba-hambaNya, juga Maha penyayang terhadap mereka dengan tidak menyiksa mereka setelah mereka bertaubat.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

wa hiya tajrī bihim fī maujing kal-jibāl, wa nādā nụḥunibnahụ wa kāna fī ma’ziliy yā bunayyarkam ma’anā wa lā takum ma’al-kāfirīn

 42.  Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.

Kapal itu berlayar bersama mereka dalam golongan ombak yang meninggi lagi memuncak hingga seperti gunung-gunung dan ketinggianya. Dan Nuh memanggil putranya (dan putranya berada di suatu tempat tersendiri jauh dari kaum Mukminin) Nuh berkata kepada putranya, “Wahai, putraku naiklah bersama kami ke dalam kapal, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang kafir kepada Allah, akibatnya kamu akan tenggelam.

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

qāla sa`āwī ilā jabaliy ya’ṣimunī minal-mā`, qāla lā ‘āṣimal-yauma min amrillāhi illā mar raḥim, wa ḥāla bainahumal-mauju fa kāna minal-mugraqīn

 43.  Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Putra Nuh berkata, “ Aku akan berlindung ke puncak gunung, aku akan berlindung diri dari air, sehingga akan menghalangiku dari tenggelam.” Maka Nuh menjawabnya, ” Tidak ada yang dapat menghalangi hari ini dari ketetapan Allah dan ketentuaNya yang telah turun pada mahluk, berupa tenggelam dan kebinasaan, kecuali orang yang di rahmati oleh Allah . Maka dari itu, berimanlah dan naiklah ke dalam kapal bersama kami.” Kemudian ombak yang menggunung memisahkan Nuh dengan putranya, akibatnya putranya termasuk orang-orang yang di tenggelamkan lagi binasa.

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa qīla yā arḍubla’ī mā`aki wa yā samā`u aqli’ī wa gīḍal-mā`u wa quḍiyal-amru wastawat ‘alal-jụdiyyi wa qīla bu’dal lil-qaumiẓ-ẓālimīn

 44.  Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”.

Allah berfirman kepada Bumi setelah kebinasaan kaum Nuh , ”Wahai bumi, seraplah airmu wahai langit, hentikan hujanmu,” sehingga air berkurang dan surut. Dan telah datang ketetapan Allah berupa kebinasaan kaum Nuh , sedangkan perahu merapat di gunung judi, dan di katakan, “Kebinasaan dan kutukan bagi orang-orang yang berbuat kezhaliman yang telah melampaui batas-batas Allah dan tidak beriman kepadaNya. ”

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

wa nādā nụḥur rabbahụ fa qāla rabbi innabnī min ahlī, wa inna wa’dakal-ḥaqqu wa anta aḥkamul-ḥākimīn

 45.  Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.

Dan Nuh menyeru Tuhanya, sambil berkata, ”Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menjanjikan kepadaku untuk menyelamatkan keluargaku dari tenggelam dan kebinasaan, dan sesungguhnya putraku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMu itu benar yang tidak ada penggingkaran padanya, dan Engkau adalah sebaik-baik yang Memutuskan perkara dan yang paling adil. ”

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

qāla yā nụḥu innahụ laisa min ahlik, innahụ ‘amalun gairu ṣāliḥin fa lā tas`alni mā laisa laka bihī ‘ilm, innī a’iẓuka an takụna minal-jāhilīn

 46.  Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.

Allah berfirman, ’’Wahai nuh, sesungguhnya putramu yang telah binasa itu bukanlah bagian dari keluargamu yang aku berjanji untuk menyelamatkan mereka. Hal itu disebabkan oleh kekafirannya dan perbuatan tidak baik yang dia lakukan. Dan sesungguhnya Aku melarangmu untuk meminta kepadaKu sesuatu hal yang tidak ada pengetahuan bagimu tentang hakikatnya. Sesungguhnya Aku menasihatimu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang bodoh dalam permintaanmu kepadaKu tentang hal itu”.

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

qāla rabbi innī a’ụżu bika an as`alaka mā laisa lī bihī ‘ilm, wa illā tagfir lī wa tar-ḥamnī akum minal-khāsirīn

 47.  Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”.

Nuh berkata, ”wahai tuhanku, sesungguhnya aku memohon keselamatan dan mengharap perlindungan kepadaMu dari memohon kepadaMu sesuatu yang aku tidak memiliki pengetahuan. Dan jika Engkau tidak mengampuni dosaku dan merahmatiku dengan rahmatMu, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang memperdayai diri mereka hingga kehilangan kebaikan-kebaikannya dan akhirnya binasa.

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

qīla yā nụḥuhbiṭ bisalāmim minnā wa barakātin ‘alaika wa ‘alā umamim mim mam ma’ak, wa umamun sanumatti’uhum ṡumma yamassuhum minnā ‘ażābun alīm

 48.  Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”.

Allah berfirman, ”Wahai nuh, turunlah kamu dari kapal itu menuju permukaan tanah dengan aman dan keselamatan dari Kami, dan limpahan kebaikan-kebaikan dan nikmat-nikmat yang abadi padamu dan pada kumpulan orang-orang yang bersamamu. Disisi lain, ada umat-umat dan golongan-golongan lain yang juga celaka, kami akan memberikan kesenangan kepada mereka di kehidupan dunia, hingga mereka mencapai ajal-ajal mereka, kemudian mereka tertimpa siksaan pedih dari kami pada hari kiamat.

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

tilka min ambā`il-gaibi nụḥīhā ilaīk, mā kunta ta’lamuhā anta wa lā qaumuka ming qabli hāżā, faṣbir, innal-‘āqibata lil-muttaqīn

 49.  Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Kisah yang telah kami ceritakan kepadamu (wahai rasul), tentang nuh dan kaumnya, yang merupakan berita ghaib yang telah berlalu, kami mewahyuakn kepadamu apa yang kamu dan kaummu tidak ketahui sebelum keterangan ini, maka bersabarlah kamu menghadapi pendustaan kaummu dan gangguan mereka kepadamu, sebagaimana nabi-nabi terdahulu sabar menghadapinya. Sesungguhnya kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat adalah bagi orang-orang yang bertakwa yang takut kepada Allah.

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

wa ilā ‘ādin akhāhum hụdā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, in antum illā muftarụn

 50.  Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.

Dan kami telah mengutus kepada Bangsa Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata kepada mereka, “Wahai kaumku, sembahlah Allah semata, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak diibadahi selainNya, maka murnikanlah peribadahan kepadaNya. Kalian tidak lain hanyalah orang-orang yang berdusta dalam tindakan kalian mempersekutukan Allah.

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

yā qaumi lā as`alukum ‘alaihi ajrā, in ajriya illā ‘alallażī faṭaranī, a fa lā ta’qilụn

 51.  Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?”

Wahai kaumku, aku tidak meminta imbalan dari kalian atas dakwahku terhadap kalian untuk memurnikan ibadah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan patung-patung. Imbalanku atas dakwahku terhadap kalian hanyalah menjadi tanggungan Allah yang telah menciptakanku. Tidaklah kalian mau berfikir?, sehingga kalian dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil?

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

wa yā qaumistagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaihi yursilis-samā`a ‘alaikum midrāraw wa yazidkum quwwatan ilā quwwatikum wa lā tatawallau mujrimīn

 52.  Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”.

Wahai kaumku, mintalah ampun Allah dengan beriman kepadaNya, kemudian bertaubatlah kepadaNya dari dosa-dosa kalian, karena sesungguhnya jika kalian melakukanya, niscaya Dia akan menurunkan hujan secara terus-menerus lagi deras, sehingga kabaikan–kebaikan kalian bertambah banyak dan meningkatkan kekuatan kalian atas kekuatan sebelumnya, dengan bertambahnya anak keturunan kalian dan berturut-turut tibanya nikmat-nikmat Allah atas kalian. Dan janganlah kalian berpaling dari dakwah yang aku seru kalian kepadanya, dan bertahan dalam perbuatan buruk kalian.

قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

qālụ yā hụdu mā ji`tanā bibayyinatiw wa mā naḥnu bitārikī ālihatinā ‘ang qaulika wa mā naḥnu laka bimu`minīn

 53.  Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.

Mereka menjawab, “wahai Hud, kamu tidaklah datang kepada kami dengan membawa hujjah yang jelas yang menunjukan kebenaran dakwah yang kamu seru kepadanya, dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan sesembahan kami yang telah kami sembah hanya kerena ucapanmu. Dan kami tidak membenarkan kamu terkait apa yang kamu sampaikan.

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ ۗ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

in naqụlu illa’tarāka ba’ḍu ālihatinā bisū`, qāla innī usy-hidullāha wasy-hadū annī barī`um mimmā tusyrikụn

 54.  Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan,

مِنْ دُونِهِ ۖ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ

min dụnihī fa kīdụnī jamī’an ṡumma lā tunẓirụn

 55.  dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

54-55. Kami tidak mengatakan kecuali bahwa sebagian tuhan-tuhan sesembahan kami telah menimpakan kegilaan kepadamu, disebabkan laranganmu menyembahnya. Hud berkata kepada mereka, ”sesungguhnya aku persaksikan Allah atas apa yang aku katakan, dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan selain Allah berupa tandingan-tandingan dan berhala-berhala selain Allah. Maka perhatikan dan kerahkanlah segala daya oleh kalian dan semua tuhan untuk menimpakan mudarat padaku, dan janganlah kalian menunda hal itu walaupun sekedipan mata sekalipun.” Yang demikian itu, karena Hud sangat yakin sepenuhnya bahwa sesungguhnya tidak akan ada gangguan yang menimpanya dari mereka maupun tuhan-tuhan mereka.

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

innī tawakkaltu ‘alallāhi rabbī wa rabbikum, mā min dābbatin illā huwa ākhiżum bināṣiyatihā, inna rabbī ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

 56.  Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus”.

Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, tuhanku dan tuhan kalian, pemilik segala sesuatu, yang mengendalikan urusan didalamnya, maka tidak akan ada sesuatupun yang menimpaku, kecuali dengan ketetapanNya. Dan Dia lah Dzat yang mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang berjalan di muka bumi, kecuali Allah lah pemiliknya, dia berada di bawah kekuasaan dan kendaliNya. Sesungguhnya tuhanku di atas jalan yang lurus.” Maksudnya, mahaadil dalam ketetapan, syariat, dan perintahNya. Dia akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik atas tindakan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk atas kelakuan buruknya.

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ ۚ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

fa in tawallau fa qad ablagtukum mā ursiltu bihī ilaikum, wa yastakhlifu rabbī qauman gairakum, wa lā taḍurrụnahụ syai`ā, inna rabbī ‘alā kulli syai`in ḥafīẓ

 57.  Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.

“jika kalian tetap berpaling dari apa yang aku seru kalian kepadanya, yaitu pengesaan Allah dan mengkhihlaskan ibadah bagiNya, maka sungguh aku telah menyampaikan risalah tuhanku kepada kalian dan telah tegak hujjah di hadapan kalian. Dan karena kalian tidak beriman kepada Allah, Dia akan membinasakan kalian, dan akan mendatangkan satu kaum lain yang akan mengggantikan kalian menguasai negeri-negeri kalian dan harta benda kalian, dan mereka akan mengkhihlasakn ibadah bagiNya dan kalian tidak dapat melancarakan mudarat kepadaNya sama sekali. Sesungguhnya tuhanku maha memelihara segala sesuatu. Dia lah yang akan menjagaku dari kalian yang hendak melancarkan gangguan buruk kepadaku.”

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

wa lammā jā`a amrunā najjainā hụdaw wallażīna āmanụ ma’ahụ biraḥmatim minnā, wa najjaināhum min ‘ażābin galīẓ

 58.  Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.

Dan ketika datang ketetapan Kami untuk mengazab kaum hud, kami selamatkan hud dan kaum muminin darinya karena karunia dan rahmat Kami kepada mereka. Dan kami selamatkan mereka dari siksaan pedih yang kami timpakan pada kaum Ad, sehingga pada keesokan hari tidak ada yang terlihat dari mereka kecuali tempat tinggal mereka saja.

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

wa tilka ‘ādun jaḥadụ bi`āyāti rabbihim wa ‘aṣau rusulahụ wattaba’ū amra kulli jabbārin ‘anīd

 59.  Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).

Dan itulah kaum Ad, mereka telah kafir kepada Ayat-ayat Allah dan mendurhakai rasul-rasulNya, dan mereka lebih menaati perintah setiap penguasa yang sombong kepada Allah yang tidak mau menerima kebenaran dan tidak tunduk kepadanya.

وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ

wa utbi’ụ fī hāżihid-dun-yā la’nataw wa yaumal-qiyāmah, alā inna ‘ādang kafarụ rabbahum, alā bu’dal li’āding qaumi hụd

 60.  Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Huud itu.

Dan mereka diikuti di dunia ini dengat lakanat dari Allah dan kemurkaan dariNya pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum Ad mengingkari tuhan mereka dan mendustakan rasul-rasulNya. Dan ingatlah, kehancuran dan kebinasaan bagi bangsa Ad, kaum hud, disebabkan perbuatan syirik mereka dan kekafiran mereka terhadap nikmat tuhan mereka.

۞ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

wa ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, huwa ansya`akum minal-arḍi wasta’marakum fīhā fastagfirụhu ṡumma tụbū ilaīh, inna rabbī qarībum mujīb

 61.  Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.

Dan Kami mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Kemudian dia berkata kepada mereka, ”wahai kaumku, sembahlah Allah semata, karena tidak ada tuhan yang berhak disembah bagi kalian kecuali Dia, maka murnikanlah ibadah bagiNya. Dia lah yang memulai penciptaan kalian dari tanah dengan menciptakan bapak moyang kalian, Adam darinya, dan menjadikan kalian orang-orang yang memakmurkannya, maka mohonlah kepadaNya agar berkenan mengampuni dosa-dosa kalian, dan kembalilah kepadaNya dengan taubat nasuha. Sesungguhnya tuhanku dekat kepada orang yang mengikhlaskan ibadah kepadaNya dan mau bertaubat kepadaNya, lagi mengabulkan (permintaannya), bila dia berdo’a kepadaNYa.”

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

qālụ yā ṣāliḥu qad kunta fīnā marjuwwang qabla hāżā a tan-hānā an na’buda mā ya’budu ābā`unā wa innanā lafī syakkim mimmā tad’ụnā ilaihi murīb

 62.  Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami”.

Kaum tsamud berkata kepada nabi mereka shaleh , ”sesungguhnya kami sebelumnya berharap kamu menjadi seorang pemimpin yang ditaati sebelum seruan yang kamu katakan itu kepada kami. Apakah kamu akan melarang kami dari menyembah tuhan-tuhan yang telah disembah oleh bapak-bapak kami dahulu? dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang membimbangkan terhadap dakwahmu kapada kami untuk beribadah hanya kepada Allah semata.

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ ۖ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ

qāla yā qaumi a ra`aitum ing kuntu ‘alā bayyinatim mir rabbī, wa ātānī min-hu raḥmatan fa may yanṣurunī minallāhi in ‘aṣaituh, fa mā tazīdụnanī gaira takhsīr

 63.  Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.

Shaleh berkata kepada kaumnya, ”wahai kaumku, beritahukanlah kepadaku, bila kau memiliki bukti nyata dari Allah dan memberikan kepadaku dariNya kenabian dan hikmah, maka siapakah yang akan dapat menghalangi siksaan Allah dariku, jika aku mendurhakaiNya, dengan tidak menyampaikan risalah dan menasihati kalian? karenanya, kalian tidaklah menambahkan kepadaku selain penyesatan dan menjauhkan dari kebaikan.

وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ

wa yā qaumi hāżihī nāqatullāhi lakum āyatan fa żarụhā ta`kul fī arḍillāhi wa lā tamassụhā bisū`in fa ya`khużakum ‘ażābung qarīb

 64.  Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat”.

Wahi kaumku, ini adalah unta milik Allah, Dia menjadikannya bagi kalian sebagai hujjah dan pertanda yang menunjukan kebenaranku dalam seruanku terhadap kalian. Maka biarkanlah ia makan di muka bumi Allah, rizkinya bukanlah menjadi tanggung jawab kalian. Dan janganlah kalian menyentuhnya dengan menyembelihnya. Bila kalian melakukannya, niscaya siksaan dari Allah yang dekat akan menimpa kalian akibat menyembelihnya.

فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ

fa ‘aqarụhā fa qāla tamatta’ụ fī dārikum ṡalāṡata ayyām, żālika wa’dun gairu makżụb

 65.  Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan”.

tetapi mereka mendustakannya dan menyembelih unta tersebut. Maka shaleh berkata kepada mereka, ”bersenang-senanglah kalian dengan kehidupan di negeri kalian ini selama tiga hari. karena sesungguhnya siksaan akan turun pada kalian setelah itu. Itu adalah janji dari Allah yang tidak dusta, yang pasti akan terjadi.

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

fa lammā jā`a amrunā najjainā ṣāliḥaw wallażīna āmanụ ma’ahụ biraḥmatim minnā wa min khizyi yaumi`iż, inna rabbaka huwal-qawiyyul-‘azīz

 66.  Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Maka tatkala datang kepada mereka ketetapan kami untuk membinasakan kaum tsamud, kami menyelamtkan shaleh dan orang-orang beriman yang bersamanya dari kebinasaan dengan rahmat dari kami, dan kami selamatkan mereka dari kehinaan hari itu dan kenistaannya. Sesungguhhnya tuhanmu (wahai rasul), Dia mahakuat lagi Mahaperkasa dan diantara bukti kekuatan dan keperkasaaNya, Dia membinasakan umat-umat manusia yang berbuat melampaui batas dan menyelamatkan para rasul dan pengikut-pengikut mereka.

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

wa akhażallażīna ẓalamuṣ-ṣaiḥatu fa aṣbaḥụ fī diyārihim jāṡimīn

 67.  Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya,

Dan suara yang menggelar kuat menghabisi kaum tsamud yang berbuat kezhaliman, sehingga mereka menjadi orang-orang yang mati di tempat-tempat tinggal mereka, binasa lagi jatuh tersungkur dengan wajah, tidak ada gerakan sama sekali pada mereka.

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ

ka`al lam yagnau fīhā, alā inna ṡamụda kafarụ rabbahum, alā bu’dal liṡamụd

 68.  seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.

Mereka itu lantaran begitu cepatnya lenyap dan hancur, seolah-olah tidak pernah mendiami negeri itu. Ingatlah sesungguhnya kaum tsamud telah mengingkari ayat-ayat tuhan mereka dan hujjah-hujjah dariNya. Maka ingatlah kehancuran bagi kaum tsamud, dan pengusiran bagi mereka dari rahmat Allah. Maka alangkah celaka dan nistanya mereka itu!

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

wa laqad jā`at rusulunā ibrāhīma bil-busyrā qālụ salāmā, qāla salāmun fa mā labiṡa an jā`a bi’ijlin ḥanīż

 69.  Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”. Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Dan sungguh para malakat telah mendatangi Ibrahim, memberikan kabar gembira baginya dan istrinya dengan kelahiran ishaq dan ya’qub setelahnya, lalu mereka berkata, ”salam, Ibrahim berkata untuk menjawab salam mereka, ”salam.” Lalu Ibrahim segera beranjak dan membawakan bagi mereka daging anak sapi gemuk yang telah dipanggang agar mereka menyantapnya.

فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۚ قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ

fa lammā ra`ā aidiyahum lā taṣilu ilaihi nakirahum wa aujasa min-hum khīfah, qālụ lā takhaf innā ursilnā ilā qaumi lụṭ

 70.  Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth”.

Dan ketika Ibrahim melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuh daging anak sapi yang dia bawakan kepada mereka dan tidak memakannya, dia memandang adanya keanehan dari mereka, dan dia merasa ketakutan dalam hatinya, tetapi menyembunyikan perasaan itu. Ketika para malaikat melihat rasa kecemasan pada Ibrahim, mereka berkata, ”janganlah kamu takut, sesungguhnya kami adalah malaikat-malaikat tuhanmu, kami dikirim kepada kaum luth untuk membinasakan mereka.

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

wamra`atuhụ qā`imatun fa ḍaḥikat fa basysyarnāhā bi`is-ḥāqa wa miw warā`i is-ḥāqa ya’qụb

 71.  Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.

Sedang istri Ibrahim, sarah, waktu itu berdiri di balik penutup tabir, mendengarkan pembicaraan. Kemudian dia tertawa gembira lantaran keajaiban yang dia dengarkan. Kemudian kami memberikan kabar gembira kepadanya melalui lisan malaikat itu bahwa sesungguhnya dia akan melahirkan dari suaminya, Ibrahim, seorang anak yang beranama ishaq, dan akan hidup bersama sang anak itu, dan dia akan memiliki cucu setelah ishaq, yaitu ya’qub.

قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

qālat yā wailatā a alidu wa ana ‘ajụzuw wa hāżā ba’lī syaikhā, inna hāżā lasyai`un ‘ajīb

 72.  Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”.

Sarah berakata ketika diberi kabar gembira berupa ishaq dengan penuh keheranan, ”aneh, bagaimana aku akan memiliki anak sedang aku adalah wanita yang mandul sejak dulu, sementara suamiku sudah dalam periode masa tua dan usia lanjut? sesungguhnya melahirkan anak dari seorang wanita yang seperti keadaaanku dan keadaan suamiku yang sudah berusia lanjut benar-benar suatu perkara yang sangat mengherankan.

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

qālū a ta’jabīna min amrillāhi raḥmatullāhi wa barakātuhụ ‘alaikum ahlal-baīt, innahụ ḥamīdum majīd

 73.  Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

Para utusan itu berakat kepadanya, ”Apakah kamu merasa heran terhadap ketetapan Allah dan keputusanNya? rahmat Allah dan keberkahan-keberkahanNYa senantiasa tercurah pada kalian wahsi sekalian penghuni rumah kenabian. Sesungguhnya Allah maha terpuji sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, memiliki kemuliaan dan keagungan padanya.”

فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَىٰ يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ

fa lammā żahaba ‘an ibrāhīmar-rau’u wa jā`at-hul-busyrā yujādilunā fī qaumi lụṭ

 74.  Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.

Kemudian ketika telah sirna dari Ibrahim rasa cemas yang sempat menggelayutinya dikarenakan para tamu tidak memakan hidangan, dan datang kepdanya kabar gembira dengan kehadiran ishaq dan ya’qub, dia terus bertukar pikiran dengan para utusan kami terkait misi yang kami mengutus mereka dengannya, yaitu menghukum kaum luth dan membinasakan mereka.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

inna ibrāhīma laḥalīmun awwāhum munīb

 75.  Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.

Sesungguhnya Ibrahim sangatlah penyantun, tidak suka disegerakan turunnya siksaan, banyak menundukan diri kepada Allah dan berdoa kepadaNya, bertaubat kembali kepada Allah dalam seluruh urusannya.

يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۖ إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ

yā ibrāhīmu a’riḍ ‘an hāżā, innahụ qad jā`a amru rabbik, wa innahum ātīhim ‘ażābun gairu mardụd

 76.  Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.

Para utusan Allah berakata, ”wahai ibrahim, hentikanlah perdebatan ini terkait perkara kaum luth dan beriba kepada mereka, karena sesungguhnya telah pasti pada mereka siksaan dan telah telah datang ketetapan Allah yang telah ditakdirkanNYa pada mereka untuk membinasakan mereka. Dan sesungguhnya pada mereka akan turun siksaan dari Allah, tanpa dapat disingkirkan dari mereka dan ditolak.

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

wa lammā jā`at rusulunā lụṭan sī`a bihim wa ḍāqa bihim żar’aw wa qāla hāżā yaumun ‘aṣīb

 77.  Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”.

Dan ketika malaikat-malaikat datang kepada luth, kedatangan mereka menyusahkan luth dan dia menjadi gelisah karena itu. Sebab, dia belumlah tahu bahwa mereka itu adalah utusan-utusan Allah, sehingga mengkhawatirkan mereka dari kaumnya. Dan dia berkata, ”ini adalah hari cobaan dan kesulitan.

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ ۚ قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

wa jā`ahụ qaumuhụ yuhra’ụna ilaīh, wa ming qablu kānụ ya’malụnas-sayyi`āt, qāla yā qaumi hā`ulā`i banatī hunna aṭ-haru lakum fattaqullāha wa lā tukhzụni fī ḍaifī, a laisa mingkum rajulur rasyīd

 78.  Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”

Dan kaum luth datang dengan berjalan cepat menuju kepadanya untuk meminta kesempatan melakukan perbuatan keji. Dan mereka itu, sebelum kedatangan mereka, memang suka mendatangi sesama lelaki demi melampiaskan syahwat mereka, bukan kepada kaum wanita. Maka luth berkata kepada kaumnya, ”putri-putriku itu, silahkan nikahilah mereka, mereka lebih suci bagi kalian daripada apa yang kalian inginkan. luth menyebut wanita-wanita sebagai putri-putrinya, lantaran seorang nabi yang diutus ke suatu umat, berposisi sebagai ayah bagi kaumnya. ”takutlah kalian kepada Allah dan hindarilah siksaanNYa. Dan jangalah kalian mempermalukan aku dengan berlaku melampaui batas terhadap tamu-tamuku. Bukanlah pada kalian ada orang yang berpikiran normal, yang akan melarang orang yang hendak berbuat keji, lalu menghalang-halangi mereka dari perbuatan buruk tersebut karena meremehkan tamu adalah perbuatan memalukan yang tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang dungu?”

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

qālụ laqad ‘alimta mā lanā fī banātika min ḥaqq, wa innaka lata’lamu mā nurīd

 79.  Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”.

Kaum luth berkata kepadanya, ”sungguh kamu sudah tahu sebelumnya bahwa sesungguhnya kami tidak ada kebutuhan dan hasrat kepada wanita. Dan sesungguhnya kamu betul-betul sudah tahu apa yang kami inginkan.” maksudnya, kami tidak menginginkan kecuali laki-laki, dan tidak ada hasrat dari kami untuk menikahi kaum perempuan.

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ

qāla lau anna lī bikum quwwatan au āwī ilā ruknin syadīd

 80.  Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”.

Luth berakata kepada mereka ketika mereka menolak kecuali perbuatan(homo) yang keji itu, ”seandainya aku memiliki kekuatan dan penolong bersamaku untuk melawan kalian, atau aku bernaung pada satu keluarga besar yang akan melindungiku dari kalian, pastilah akan aku halangi antara kalian dan antara apa yang kalian inginkan.

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

qālụ yā lụṭu innā rusulu rabbika lay yaṣilū ilaika fa asri bi`ahlika biqiṭ’im minal-laili wa lā yaltafit mingkum aḥadun illamra`atak, innahụ muṣībuhā mā aṣābahum, inna mau’idahumuṣ-ṣub-h, a laisaṣ-ṣub-ḥu biqarīb

 81.  Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”.

Para malaikat berkata, ”wahai luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan tuhanmu, Dia mengirim kami untuk menghancurkan kaummu, dan sesungguhnya mereka tidak akan sampai mencelakaimu. Maka keluarlah kamu dari negeri ini, kamu dan keluargamu pada sisa malam, dan janganlah seorangpun dari kalian menengok ke arah belakangnya, supaya tidak sampai dia menyaksikan siksaan, akibatnya siksaan itu akan menimpanya. Akan tetapi, istrimu yang telah mengkhianatimu dengan kekafiran dan kemunafikan, dia juga akan ditimpa apa yang akan menimpa kaummu, berupa kebinasaan. Sesungguhnya waktu kebinasaan mereka adalah waktu shubuh, yaitu ketetapan waktu yang akan segera tiba.”

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

fa lammā jā`a amrunā ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihā ḥijāratam min sijjīlim manḍụd

 82.  Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,

Maka ketika datang kepada mereka ketetapan kami untuk turunnya siksaan pada mereka, kami menjadikan bagian atas negeri mereka yang mereka menjalani kehidupan padanya kebagian bawah; kami membalikannya. Dan kami hujani mereka dengan bebatuan dari tanah padat lagi keras, sebagiannya telah disatukan dengan yang lain secara bertubi-tubi.

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

musawwamatan ‘inda rabbik, wa mā hiya minaẓ-ẓālimīna biba’īd

 83.  Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

Yang berasal dari sisi Allah dengan bertanda yang jelas, yang berbeda dengan bentuk bebatuan bumi. Dan bebatuan yang kami hujankan pada kaum luth, bukan tidak mungkin orang-orang kafir quraisypun mengalami hujan batu serupa. Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi setiap pendurhaka lagi penentang terhadap Allah.

۞ وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

wa ilā madyana akhāhum syu’aibā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, wa lā tangquṣul-mikyāla wal-mīzāna innī arākum bikhairiw wa innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumim muḥīṭ

 84.  Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

Dan kami utus ke negeri madyan saudara mereka, syu’aib. kemudian dia mengatakan, ”wahai kaumku, sembahlah Allah semata, kalian tidak memiliki sesembahan selainNYa yang berhak diibadahi. maka ikhlaskanlah ibadah untukNya. Dan janganlah kalian mengurangi hak-hak manusia dalam takaran dan timbangan mereka. Sesungguhnya kalian itu berada dalam kelapangan hidup, dan sesungguhnya aku takut atas kalian, akibat perbuatan mengurangi takaran dan timbangan yang kalian lakukan, datangnya siksaan pada hari yang meliputi kalian.

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

wa yā qaumi auful-mikyāla wal-mīzāna bil-qisṭi wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā`ahum wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

 85.  Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Wahai kaumku, sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi hak manusia dalam semua barang-barang mereka, dan janganlah kalian berjalan di muka bumi, dengan melakukan berbagai maksiat kepada Allah di dalamnya dan menyebarluaskan kerusakan.

بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

baqiyyatullāhi khairul lakum ing kuntum mu`minīn, wa mā ana ‘alaikum biḥafīẓ

 86.  Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu”

Sesungguhnya apa yang tersisa bagi kalian setelah menyempurnakan takaran dan timbangan itu berupa keuntungan halal yang sudah pasti bagi kalian lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian ambil berupa hasil tindakan pengurangan dan lainnya dari cara-cara haram untuk mencari penghasilan, jika kalian beriman kepada Allah dengan sebenarnya. Maka laksanakanlah perintahNya, dan aku bukanlah pengawas bagi kalian yang memperhitungkan perbuatan-perbuatan kalian.

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

qālụ yā syu’aibu a ṣalātuka ta`muruka an natruka mā ya’budu ābā`unā au an naf’ala fī amwālinā mā nasyā`, innaka la`antal-ḥalīmur-rasyīd

 87.  Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”.

Mereka menjawab, ”wahai syu’aib, apakah shalat yang kamu tekuni ini yang memerintahkan kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah bapak-bapak moyang kami, berupa berhala-berhala dan patung-patung atau agar kami terkekang untuk berbuat apa saja dalam mencari penghasilan dengan semua usaha yang dapat kami tempuh berupa cara rekayasa dan tipu daya?” dan mereka berkata untuk mengoloknya, ”sesungguhnya kamu benar-benar orang yang penyantun lagi berpikiran lurus dalam harta.”

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

qāla yā qaumi a ra`aitum ing kuntu ‘alā bayyinatim mir rabbī wa razaqanī min-hu rizqan ḥasanaw wa mā urīdu an ukhālifakum ilā mā an-hākum ‘an-h, in urīdu illal-iṣlāḥa mastaṭa’t, wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

 88.  Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

Syu’aib menjawab, ”wahai kaumku, apakah pendapat kalian bila aku berada di atas jalan yang jelas dari tuhanku terkait apa yang aku seru kalian kepadanya, berupa perintah mengikhlaskan ibadah kepadaNya dan terkait urusan yang aku larang kalian darinya untuk merusak harta benda, dan Dia memberikan rizki kepadaku dengan rizki melimpah yang halal lagi baik? dan aku tidak ingin menyalahi kalian dengan melakukan perkara yang aku larang kalian darinya. Dan aku tidaklah menginginkan dalam perkara yang aku perintahkan kalian melakukannya dan larang kalian darinya kecuali untuk memperbaiki keadaan kalian sesuai kesanggupan dan kemampuanku. Dan tidaklah ada taufik bagiku dalam menapaki kebenaran dan usaha memperbaiki keadaan kalian kecuali dengan taufik dari Allah. Kepada Allah lah semata aku bertawakal, dan kepadaNya lah aku kembali dengan bertaubat dan inabah.

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

wa yā qaumi lā yajrimannakum syiqāqī ay yuṣībakum miṡlu mā aṣāba qauma nụḥin au qauma hụdin au qauma ṣāliḥ, wa mā qaumu lụṭim mingkum biba’īd

 89.  Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.

Wahai kaumku, janganlah permusuhan dan kebencian kepadaku serta perbedaan agama yang aku yakini sampai menyeret kalian untuk melakukan penentangan dan bertahan di atas keadaan kalian berupa kekafiran kepada Alalh, akibatnya akan menimpa kalian seperti apa yang menimpa kaum nuh, kaum hud atau kaum shaleh berupa kehancuran. Dan tidaklah jauh kaum luth dan siksaan yang mendera mereka dengan kalian, dari negeri dan masa kalian.

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

wastagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaīh, inna rabbī raḥīmuw wadụd

 90.  Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Dan mohonlah kepada tuhan kalian ampunan bagi dosa-dosa kalian, kemudian kembalilah kepada ketaatan kepadaNya, dan teruslah di atas itu. Sesungguhnya tuhanku Mahapengasih lagi Maha penyayang terhadap orang yang bertaubat dan kembali kepadaNYa, Dia akan mengampuni dan menerima taubatnya.” maka, dalam ayat ini terdapat penetapan sifat (rahmat) menyayangi dan mawadah (mengasihi) bagi Allah , sesuai dengan (keagungan)Nya.

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

qālụ yā syu’aibu mā nafqahu kaṡīram mimmā taqụlu wa innā lanarāka fīnā ḍa’īfā, walau lā rahṭuka larajamnāka wa mā anta ‘alainā bi’azīz

 91.  Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”.

Mereka berkata, ”wahai syu’aib, kami tidak banyak memahami apa yang kamu ucapkan. Dan sesungguhnya kami melihat dirimu orang yang lemah di tengah kami, kamu bukanlah termasuk pembesar-pembesar, bukan pula termasuk para penguasa. Kalaulah bukan karena mempertimbangkan keluarga besarmu, pastilah kami akan membunuhmu dengan bentuk rajam dengan bebatuan(kepadamu),” dan waktu itu keluarganya masih berada di atas keyakinan kaumnya. ”dan kamu tidaklah memiliki kedudukan dan kehormatan pada pandangan kami.

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا ۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

qāla yā qaumi a rahṭī a’azzu ‘alaikum minallāh, wattakhażtumụhu warā`akum ẓihriyyā, inna rabbī bimā ta’malụna muḥīṭ

 92.  Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”.

syu’aib menjawab , ”wahai kaumku, apakah keluarga besarku lebih kuat lagi lebih mulia menurut kalian daripada Allah? dan kalian mengesampingkan perintah tuhan kalian, lalu menempatkannya berada di belakang punggung kalian, kalian tidak melaksanakan perintah yang kalian diperintah dan tidak berhenti dari larangan yang kalian dilarang, sesungguhnya tuhanku meliputi apa yang kalian perbuat, tidak ada sebesar biji sawi pun dari perbuatan-perbuatan kalian yang samar bagaiNya, dan dia akan memberikan balasan kepada kalian atas tindakan-tindakan itu, baik balasan di dunia maupun diakhirat.

وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ ۖ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ

wa yā qaumi’malụ ‘alā makānatikum innī ‘āmil, saufa ta’lamụna may ya`tīhi ‘ażābuy yukhzīhi wa man huwa kāżib, wartaqibū innī ma’akum raqīb

 93.  Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu”.

Wahai kaumku, lakukanlah apa saja yang kalain dapat perbuat sesuai dengan budaya dan keadaan kalian, sesunggguhnya aku akan beramal lagi tekun di atas jalanku dan tugas yang Allah berikan kepadaku untuk mendakwahi kalian kepada tauhid. Kalian akan tahu siapakah dari kita yang akan tertimpa siksaan yang menghinakannya dan siapakah dari kita yang berdusta dalam ucapannya, aku atau kalian? dan tunggulah apa yang akan menimpa kalian, sesungguhnya aku bersama kalian akan ikut menunggu-nunggu.” ini adalah peringatan keras bagi mereka.

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

wa lammā jā`a amrunā najjainā syu’aibaw wallażīna āmanụ ma’ahụ biraḥmatim minnā, wa akhażatillażīna ẓalamuṣ-ṣaiḥatu fa aṣbaḥụ fī diyārihim jāṡimīn

 94.  Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.

Dan ketika telah datang ketetapan kami untuk membinasakan kaum syua’ib, kami selamatkan rasul kami syuaib dan orang-orang mukminin yang bersamanya dengan rahmat dari kami. Dan suara menggelegar dari langit menerpa orang-orang dzolim, dan membinasakan mereka, sehingga mereka terpaku di atas lutut-lutut mereka di kampung-kampung mereka dalam keadaan tak bernyawa lagi, tidak ada gerakan sama sekali.

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ

ka`al lam yagnau fīhā, alā bu’dal limadyana kamā ba’idat ṡamụd

 95.  Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.

Seakan-akan mereka tidak pernah mendiami kampung-kampung mereka sejenakpun.Maka ingatlah kutukan bagi bangsa madyan, takala Allah membinasakan mereka dan menghinakan mereka, sebagaimana kaum tsamud telah hancur. Sesungguhnnya dua bangsa ini sama-sama mengalami kutukan dan kebinasaan.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā wa sulṭānim mubīn

 96.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata,

Dan sungguh kami telah mengutus Musa dengan membawa bukti-bukti petunjuk tentang keesan kami dan hujjah yang menerangkan bagi orang yang menyaksikannya langsung dan mau merenunginya dengan hati yang lurus, bahwa sesunggguhnya hujah itu menunjukan keeasan Allah dan kedustaan orang yang mengaku-ngaku memiliki kekuasaan rububiyah selain Allah .

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ ۖ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ

ilā fir’auna wa mala`ihī fattaba’ū amra fir’aụn, wa mā amru fir’auna birasyīd

 97.  kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar.

Kami mengutus musa kepada fir’aun dan para pembesar kaumnya serta kaum bangsawan dari kaumnya, tetapi firaun kafir, dan memerintahkan kaumnya untuk mengikuti dirinya, lalu merekapun mengikuti fir’aun dan menyelisihi perintah Musa, padahal tidak ada kelurusan petunjuk dalam perintah firaun, ia hanyalah murni kebodohan, kesesatan, kekafiran dan penentangan.

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۖ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ

yaqdumu qaumahụ yaumal-qiyāmati fa auradahumun-nār, wa bi`sal-wirdul-maurụd

 98.  Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.

Fir’aun akan berjalan di depan kaumnya pada hari kiamat lalu memasukan mereka ke dalam neraka. Amat buruk tempat tinggal yang mereka masuki.

وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ

wa utbi’ụ fī hāżihī la’nataw wa yaumal-qiyāmah, bi`sar-rifdul-marfụd

 99.  Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. La’nat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.

Dan Allah mengiringkan laknat pada mereka di dunia ini selain siksaan yang Dia segerakan bagi mereka di dunia ini selain siksaan yang Dia segerakan bagi mereka di dunia berupa tengggelam di dasar laut. Dan pada hari kiamat, terdapat laknat lain(bagi mereka)dengan dimasukan ke dalam neraka. Alangkah buruk kondisi yang menyatu pada mereka dan datang bertubi-tubi pada mereka, berupa siksaan Allah, serta laknat di dunia dan akhirat.

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَىٰ نَقُصُّهُ عَلَيْكَ ۖ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ

żālika min ambā`il-qurā naquṣṣuhụ ‘alaika min-hā qā`imuw wa ḥaṣīd

 100.  Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.

Berita yang kami sebutkan kepadamu wahai rasul, yaitu peristiwa-peristiwa negeri-negeri yang telah kami hancurkan penghuninya, kami memberitahukannya kepadamu, diantara ngeri-negeri itu masih ada peniggalan-peningggalannya yang tersisa, dan diantaranya ada negeri yang telah sirna sama sekali bekas-bekasnya, tidak ada sedikitpun yang tersisa darinya.

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ۖ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

wa mā ẓalamnāhum wa lākin ẓalamū anfusahum fa mā agnat ‘an-hum ālihatuhumullatī yad’ụna min dụnillāhi min syai`il lammā jā`a amru rabbik, wa mā zādụhum gaira tatbīb

 101.  Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.

Dan penghancuran mereka bukanlah terjadi tanpa sebabdan dosa yang berhak menerimanya. Akan tetapi, (karena) mereka telah berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dengan perbuatan syirik dan kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi. Maka tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka Tuhan-tuhan sesembahan mereka yang mereka seru dan mereka minta kepadanya untuk menyingkirkan mara bahaya dari mereka, ketika ketetapan tuhanmu telah pasti datang untuk menyiksa mereka. Dan tuhan-tuhan sesembahan mereka tidak menambah bagi mereka, kecuali kehancuran, kebinasaan, dan kerugian.

وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

wa każālika akhżu rabbika iżā akhażal-qurā wa hiya ẓālimah, inna akhżahū alīmun syadīd

 102.  Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.

Dan sebagaimana aku telah menghukum suatu penduduk negeri yang zhalim dengan siksaan lantaran mendurhakai perintahKu dan mendustakan rasul-rasulKu, aku (juga) akan menghukum orang-orang yang lain dari penduduk negeri-negeri, jika mereka berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dengan kafir kepada Allah, kemaksiatan mereka kepada Allah dan pendustaan mereka terhadap rasul-rasulNya. Sesungguhnya siksaan Allah sangat menyakitkan lagi keras.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ

inna fī żālika la`āyatal liman khāfa ‘ażābal-ākhirah, żālika yaumum majmụ’ul lahun-nāsu wa żālika yaumum masy-hụd

 103.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).

Sesungguhnya pada peristiwa hukuman dari kami terhadap para penduduk negeri-negeri zaman dulu yang berbuat kezhaliman, benar-benar terdapat pelajaran dan pesan baik bagi orang yang takut terhadap siksaan Allah dan azabNya di akhirat. Hari tersebut adalah hari dimana manusia dikumpulkan dihadapanNya untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasannya, dan seluruh makhluk semuanya menyaksikan.

وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ

wa mā nu`akhkhiruhū illā li`ajalim ma’dụd

 104.  Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.

Dan kami tidaklah mengundurkan hari kiamat dari kalian, melainkan sampai berakhirnya masa yang telah ditentukan dalam pengetahuan kami, tidak bertambah dan tidak berkurang dari ketentuan takdir kami sesuai dengan kebijaksanaan kami.

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

yauma ya`ti lā takallamu nafsun illā bi`iżnih, fa min-hum syaqiyyuw wa sa’īd

 105.  Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.

Pada saat hari kiamat tiba, tidak ada seorangpun yang berbicara, kecuali dengan izin tuhannya. Lalu diantara mereka ada yang celaka yang pantas mendapatkan azab, dan adapula yang bahagia yang memperoleh kemurahan(dari Allah) dengan nikmat-nikmat.

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

fa ammallażīna syaqụ fa fin-nāri lahum fīhā zafīruw wa syahīq

 106.  Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

khālidīna fīhā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍu illā mā syā`a rabbuk, inna rabbaka fa”ālul limā yurīd

 107.  mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

106-107. Adapun orang-orang yang celaka di kehidupan dunia, dikarenakan rusaknya keyakinan mereka dan buruknya perbuatan-perbuatan mereka, maka neraka menjadi tempat tinggal mereka. Bagi mereka disana, dahsyatnya siksaan yang mereka alami, terdengar dari mereka suara rintihan dan tarikan nafas karena kerasnya siksaan itu. Dan keduanya merupakan seburuk-buruk suara. Mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya, selama langit dan bumi ada, siksaan mereka tidak putus-putus dan tidak berakhir, akan tetapi benar-benar abadi, kecuali apa yang dikehendaki tuhanmu berupa mengeluarkan para pendurhaka dari kalangan orang-orang yang bertauhid setelah beberapa lama mereka tinggal di dalam neraka. Sesungguhnya tuhanmu wahai rasul, maha berbuat apa yang dikehendakiNya.

۞ وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

wa ammallażīna su’idụ fa fil-jannati khālidīna fīhā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍu illā mā syā`a rabbuk, ‘aṭā`an gaira majżụż

 108.  Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Sedangkan orang-orang yang diberi karunia kebahgiaan bagi mereka, mereka masuk kedalam surga, abadi di dalamnya selama langit dan bumi masih ada, kecuali golongan yang Allah kehendaki untuk menunda mereka masuk, yaitu orang-orang yang bermaksiat dari kalangan ahli tauhid, sesungguhnya mereka akan berada di dalam neraka beberapa waktu lamanya, kemudian dikeluarkan dari sana menuju surga dengan kehendak Allah dan rahmatNya. Dan tuhanmu akan memberikan kepada orang-orang yang bahagia di dalam surga karunia yang tidak terputus-putus dari mereka.

فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَٰؤُلَاءِ ۚ مَا يَعْبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلُ ۚ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ

fa lā taku fī miryatim mimmā ya’budu hā`ulā`, mā ya’budụna illā kamā ya’budu ābā`uhum ming qabl, wa innā lamuwaffụhum naṣībahum gaira mangqụṣ

 109.  Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikitpun.

Maka janganlah kamu wahai rasul, merasa ragu-ragu terhadap kebatilan tuhan-tuhan sesembahan yang disembah oleh kaum musyrikin dari kaummu. mereka itu tidaklah menyembah berahal-berhala, kecuali serupa dengan apa yang disembah oleh nenek moyang mereka sebelumnya. Dan kami sungguh-sungguh akan memenuhi bagi mereka apa yang telah kami janjikan kepada mereka dengan sepenuhnya tanpa berkurang sedikitpun. Dan ini merupakan ketentuan yang tertuju kepada seluruh umat manusia sekaliapun lafazhnya hanya tertuju kepada Rasulullah .

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba fakhtulifa fīh, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum, wa innahum lafī syakkim min-hu murīb

 110.  Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap Al Quran.

Dan sungguh kami telah berikan kepada Musa kitab suci, yaitu taurat, kemudian kaumnya berselisih pendapat tentangnya. Maka beriman Sebagian golongan dan sebagian yang lain mengingkarinya. Dan seandainya bukan karena ketetapan dari tuhanmu yang telah berlalu bahwa Dia tidak menyegerakan siksaan bagi mahklukNya, pastilah akan datang ketentuan Allah tersebut di kehidupan dunia mereka untuk membinasakan orang-orang yang mendustakan dan menyelamatkan orang-orang mukmin. Dan sesungguhnya orang-orang kafir dari kaum yahudi dan orang-orang musyrik (wahai rasul), benar-benar berada dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap al-qur’an ini.

وَإِنَّ كُلًّا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ ۚ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

wa inna kullal lammā layuwaffiyannahum rabbuka a’mālahum, innahụ bimā ya’malụna khabīr

 111.  Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan setiap kaum yang berselisih itu yang telah kami sebutkan kepadamu (wahai rasul), berita-berita tentang mereka, tuhanmu benar-benar akan memenuhi bagi mereka balasan perbuatan-perbuatan mereka pada hari kiamat. Bila baik, maka balasannya baik, jika buruk, maka balasannyapun buruk. Sesungguhnya tuhanmu mahamengetahui semua yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagiNya dari perbuatan mereka. di dalam ayat ini terdapat peringatan dan ancaman bagi mereka.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahụ bimā ta’malụna baṣīr

 112.  Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Maka tetaplah kamu lurus (Wahai Rasul), sebagaimana Tuhanmu memetintahkanmu dan orang-orang yang bertabaut bersamamu, dan janganlah kalian berbuat melampaui batas yang telah Allah tentukan kepada kalian. Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Melihat semua perbuatan yang kalian lakukan seluruhnya, tidak ada yang tersembunyi bagiNya dari segala sesuatu dari perbuatan mereka, dan Dia akan memebiri balasan kepada kalian atas perbuatan-perbuatan tersebut.

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

wa lā tarkanū ilallażīna ẓalamụ fa tamassakumun-nāru wa mā lakum min dụnillāhi min auliyā`a ṡumma lā tunṣarụn

 113.  Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.

Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang kafir yang zhalim tersebut, akibatnya kalian akan terkena api neraka, dan kalian tidak memiliki selain Allah seorang penolong pun yang dapat menolong kalian dan membela urusan-urusan kalian.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

wa aqimiṣ-ṣalāta ṭarafayin-nahāri wa zulafam minal-laīl, innal-ḥasanāti yuż-hibnas-sayyi`āt, żālika żikrā liż-żākirīn

 114.  Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Dan kerjakanlah shalat (wahai Nabi), dengan cara sebaik-baiknya pada dua tepi siang, yaitu pagi dan sore hari, dan pada saat-saat malam hari, Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik akan menghapuskan dosa-dosa yang terdahulu dan menghilangkan pengaruh buruknya. Dan adanya perintah untuk mendirikan shalat dan penjelasan perbuatan-perbuatan baik akan melenyapkan perbuatan-perbuatan buruk memuat satu nasihat bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan memikirkanya

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

waṣbir fa innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn

 115.  Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dan bersabarlah kamu (Wahai Nabi), dalam mendirikan shalat dan dalam menghadapi ganguan dari kaum musyrikin dari kaummu. Sebab sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan cara terbaik dalam perbuatan-perbuatan mereka.

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

falau lā kāna minal-qurụni ming qablikum ulụ baqiyyatiy yan-hauna ‘anil-fasādi fil-arḍi illā qalīlam mim man anjainā min-hum, wattaba’allażīna ẓalamụ mā utrifụ fīhi wa kānụ mujrimīn

 116.  Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Mengapa tidak di jumpai pada masa-masa yang telah berlalu sejumlah orang dari orang-orang yang baik dan orang-orang shalih yang melarang para pelaku kekafiran mereka dan dari kekufuran mereka dan dari tindakan merusak di muka bumi. Dan tidak di jumpai dari kaum-kaum itu, kecuali segelintir saja orang-orang yang beriman, lalu Allah menyelamatkan mereka disebabkan hal itu dari siksa Nya ketika Allah menyiksa kaum yang zhalim. Dan memperturutkan orang-orang yang berbuat kezhaliman kepada dari mereka dari mereka dari setiap umat yang telah berlalu kepada kasenang-senangan dan kenikmatan-kenikmatan dunia. Dan mereka adalah orang yang gemar berbuat kajahatan lagi berbuat kazhaliman dengan ikut tenggelam dengan kenikmatan yang mereka peroleh, maka azab pasti bagi mereka. Dalam ayat ini terkandung pelajaran dan nasihat bagi oarng-orang yang suka berbuat maksiat dari kaum muslimin; karena mereka tidak membebaskan diri mereka dari sikap menzhalimi diri mereka.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

wa mā kāna rabbuka liyuhlikal-qurā biẓulmiw wa ahluhā muṣliḥụn

 117.  Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dan Tuhanmu wahai Rasul, sekali-kali tidak akan membinasakan suatu negri dari negri-negri yang ada, sedang para penduduknya melakukan perbaikan di muka bumi lagi menjauhi perbuatan kerusakan dan kezhaliman, Sesungguhnya Dia hanya menghancurkan disebabkan oleh tindakan kezhaliman dan kerusakan mereka.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

walau syā`a rabbuka laja’alan-nāsa ummataw wāḥidataw wa lā yazālụna mukhtalifīn

 118.  Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,

Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, pastilah Dia akan menjadikan manusia semuanya umat yang bersatu diatas satu agama, yaitu islam. Akan tetapi, Dia tidak menghendakinya, sehingga manusia akan tetap saling berselisih dalam agama-agama mereka, dan itu sesuai dengan kandungan hikmahNya.

إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

illā mar raḥima rabbuk, wa liżālika khalaqahum, wa tammat kalimatu rabbika la`amla`anna jahannama minal-jinnati wan-nāsi ajma’īn

 119.  kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

Kecuali orang yang dirahmati tuhanmu, lalu mereka beriman kepadaNya dan mengikuti rasul-rasulNya. Maka mereka itu sesungguhnya tidak akan berselisih dalam mentauhidkan Allah dan risalah yang dibawa oleh para rasul dari sisi Allah. dan sesungguhnya hikmah Allah telah berkonsekuensi Dia menciptakan manusia dalam keadaan berselisih, satu golongan celaka dan golongan lain bahagia. Dan masing-masing berjalan menuju takdir penciptaannya. Dengan ini, maka terpenuhilah janji Allah dalam ketetapan qadha dan qadarNya, bahwa Dia akan memenuhi Neraka jahanam dengan makhluk dari bangsa jin dan manusia yang mengikuti iblis dan tentara-tentaranya, dan mereka tidak memperoleh petunjuk menuju keimanan.

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

wa kullan naquṣṣu ‘alaika min ambā`ir-rusuli mā nuṡabbitu bihī fu`ādaka wa jā`aka fī hāżihil-ḥaqqu wa mau’iẓatuw wa żikrā lil-mu`minīn

 120.  Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

Kami mengisahkan kepadamu (wahai nabi), dari berita-berita para rasul yang hidup sebelum masa mu, semua apa yang kamu butuhkan yang dapat meneguhkan hatimu untuk mengemban beban-beban tugas menyampaikan risalah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu dalam surat ini dan dalam berita-berita yang dikandungnya suatu penjelasan tentang kebenaran yang kamu pegangi. Dan telah datang padamu nasihat di dalamnya yang akan membuat kaum kafir menghentikan perbuatan mereka dan menjadi peringatan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya.

وَقُلْ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ

wa qul lillażīna lā yu`minụna’malụ ‘alā makānatikum, innā ‘āmilụn

 121.  Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya Kami-pun berbuat (pula)”.

Dan katakanlah (wahai Rasul), kepada orang-orang kafir yang tidak mengakui keesaan Allah, “Berbuatlah kalian apa yang kalian perbuat sesuai dengan keadaan dan keyakinan kalian untuk melawan dakwah dan melancarkan gangguan kepada rasul dan orang-orang yang menyambut dakwahnya, karena sesungguhnya kamipun berbuat sesuai dengan martabat dan keyakinan kami dengan tetap teguh di atas agama kami dan melaksanakn perintah Allah.

وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

wantaẓirụ, innā muntaẓirụn

 122.  Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”.

dan tunggulah oleh kalian balasan urusan kami, karena sesungguhnya kamipun menunggu balasan urusan kalian. Dalam ayat ini ada tantangan dan ancaman bagi mereka.

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

wa lillāhi gaibus-samāwāti wal-arḍi wa ilaihi yurja’ul-amru kulluhụ fa’bud-hu wa tawakkal ‘alaīh, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ta’malụn

 123.  Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Dan Allah memiliki pengetahuan setiap apa yang ghaib yang ada di langit dan di bumi. Dan hanya kepadaNyalah seluruh urusan kembali pada hari kiamat, maka beribadahlah kepadaNya (wahai nabi). Dan serahkanlah urusanmu kepadaNya. Dan tidaklah tuhanmu lalai dari apa yang kalian kerjakan, entah perbuatan baik maupun buruk, dan Dia akan memberikan balasan bagi masing-masing orang sesuai dengan perbuatannya.

Related: Surat Yusuf Arab-Latin, Surat ar-Ra’d Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Ibrahim, Terjemahan Tafsir Surat al-Hijr, Isi Kandungan Surat an-Nahl, Makna Surat al-Isra

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Quran Surat Hud Fayata Alamuna Mayadzuruhum Wa La Yan Fa Uhum Al Quran Surat Hud Dan Terjemahanya Qs.hud Arab Latin Dan Terjemahannya. Surat Hud Arab