Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Hud Ayat 95

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ

Arab-Latin: Ka`al lam yagnau fīhā, alā bu'dal limadyana kamā ba'idat ṡamụd

Terjemah Arti: Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Seakan-akan mereka tidak pernah mendiami kampung-kampung mereka sejenakpun.Maka ingatlah kutukan bagi bangsa madyan, takala Allah membinasakan mereka dan menghinakan mereka, sebagaimana kaum tsamud telah hancur. Sesungguhnnya dua bangsa ini sama-sama mengalami kutukan dan kebinasaan.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

95. Seolah-olah mereka tidak pernah tinggal di sana. Ingatlah! Penduduk kota Madyan itu telah jauh dari rahmat Allah dengan datangnya hukuman Allah kepada mereka. Sebagaimana kaum Ṡamūd yang terusir dari rahmat Allah dengan turunnya murka Allah kepada mereka.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

95. أَلَا بُعْدًا(Ingatlah, kebinasaanlah)
Yakni kehancuran.

كَمَا بَعِدَتْ (sebagaimana telah binasa)
Sebagaimana telah hancur kaum Tsamud.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

95. Seakan-akan tidak ada yang tinggal di dalamnya. Ingatlah kehancuran kaum Madyan, seperti halnya Kami membinasakan kaum Tsamud sebelumnya. Kehancuran dua kaum itu akibat shaihah (sara teriakan), dimana suara bagi kaum Tsamud itu berasal dari bawah mereka sedangkan suara bagi kaum Madyan itu dari atas mereka

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Makna kata :
(كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ) ka’allam yaghnau fiihaa : seakan mereka tidak pernah tinggal disini seharipun.
(أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ) alaa bu’dal limadyan : celakalah Madyan, kaum Syu’aib.

Makna ayat :
Allah berfirman (كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ) “Seakan-akan mereka belum pernah tinggal dan menempati lokasi tersebut dalam waktu yang lama. Lalu melaknat mereka, firman-Nya (أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ) mereka jauh dari rahmat serta celaka, sebagaimana kaum sebelum mereka, Tsamud.

Pelajaran dari ayat :
• Benarnya janji Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mungkinnya janji itu diingkari.

Aisarut Tafasir / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, pengajar tafsir di Masjid Nabawi

Nabi Syu'aib terkenal dengan ahli khutbah (pidato) dari kalangan para nabi karena bagusnya penyampaian Beliau kepada kaumnya. Dalam kisah Beliau dapat diambil banyak pelajaran, di antaranya:

- Kaum kafir, sebagaimana mereka ditujukan pokok ajaran Islam (Tauhid), mereka pun ditujukan syari’at Islam dan cabangnya. Hal itu, karena Nabi Syu’aib ‘alaihis salam mengajak kaumnya kepada tauhid dan mengajak pula memenuhi takaran dan timbangan yang termasuk syari’at Islam.

- Mengurangi takaran dan timbangan adalah dosa yang besar, dan dikhawatirkan akan ditimpa azab secara segera bagi yang melakukannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَلَمْ يَنْقَصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلاَّ أثخِذَوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّة الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

“Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpa kemarau panjang, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib)

- Balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Oleh karena itu, barang siapa yang mengurangi harta manusia, dengan maksud agar hartanya bertambah, maka ia akan dibalas dengan yang serupa dengan dicabutnya kebaikan atau keberkahan pada rezeki tersebut.

- Termasuk sikap yang mirip dengan perbuatan mereka adalah sikap sebagian orang yang ingin dipenuhi haknya, namun kewajibannya tidak dilakukan, padahal antara hak dan kewajiban haruslah seimbang.

- Seorang hamba seharusnya qana’ah (menerima apa adanya) pemberian Allah, mencukupkan diri dengan yang halal dan melakukan usaha yang halal, dan bahwa hal tersebut lebih baik baginya, karena yang demikian akan diberikan berkah dan tambahan rezeki. Demikian juga bahwa mencukupkan diri dengan yang halal termasuk lawazim (hal yang menyatu) dengan iman dan atsar(pengaruh)nya (lihat ayat 86), sehingga menunjukkan bahwa jika tidak demikian, maka menunjukkan imannya kurang atau tidak ada.

- Shalat senantiasa disyari’atkan kepada para nabi sejak dahulu (lihat ayat 87), dan bahwa ia merupakan amalan yang paling utama sampai diakui oleh orang-orang kafir, dan bahwa shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan ia merupakan timbangan keimanan, di mana jika seseorang mendirikannya, maka akan sempurna keadaan agama seorang hamba, dan jika tidak didirikannya, maka akan rusak keadaan agama seorang hamba.

- Harta yang diberikan Allah –meskipun sudah diberikan kepadanya- namun demikian pemiliknya tidak berhak bertindak semaunya, karena harta itu adalah amanah di sisinya. Ia harus memenuhi hak Allah padanya dengan menunaikan hak-hakny dan tidak melakukan usaha yang haram..

- Seorang da’i harus menjadi orang pertama yang menjauhi apa yang dilarangnya.

- Tugas para rasul, sunnah dan ajaran mereka adalah mengadakan perbaikan sesuai kemampuan dan memperhatikan maslahat umum daripada maslahat pribadi. Arti maslahat adalah sesuatu yang dengannya keadaan hamba menjadi baik, dan urusan agama serta dunia mereka menjadi lurus.

- Sepatutnya seorang hamba tidak bersandar kepada dirinya, bahkan senantiasa meminta pertolongan kepada Tuhannya, bertawakkal kepada-Nya sambil meminta taufiq-Nya serta tidak ujub (bangga) terhadap dirinya.

- Dalam memberi nasehat sepatutnya mengisahkan pula umat-umat terdahulu yang binasa agar lebih masuk ke dalam hati orang yang mendengarnya. Demikian pula mengisahkan pula orang-orang yang dimuliakan Allah agar orang itu mengikutinya dan menjadi jelas jalan yang harus dilaluinya.

- Orang yang bertobat dari dosa sebagaimana dosanya akan diampuni, Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga akan mencintainya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Keberadaan kaum nabi syuaib yang dibinasakan Allah seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu, karena semua makhluk hidup telah binasa dan bangunan tempat tinggal mereka pun telah hancur. Ingatlah, binasalah penduduk madyan sebagaimana kaum samud juga telah binasa dengan suara yang mengguntur; kaum samud dibinasakan oleh suara yang mengguntur dari bawah, sedang penduduk madyan dibinasakan oleh suara yang mengguntur dari atas akibat kedurhakaan dan kesombongan mereka. Pada ayat berikut Allah menjelaskan kisah nabi musa ketika menghadapi fir'aun. Dan sungguh, kami telah mengutus nabi musa untuk menyampaikan risalah Allah disertai dengan tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan dan keesaan kami berupa kitab taurat atau sembilan tanda-tanda kekuasaan Allah (lihat: surah al-a'ra'f/7: 133 dan al-isra'/17: 101). Dan kami anugerahkan kepadanya bukti yang nyata berupa mukjizat yang membuktikan tentang kerasulannya.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Hud Ayat 96 Arab-Latin, Surat Hud Ayat 97 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Hud Ayat 98, Terjemahan Tafsir Surat Hud Ayat 99, Isi Kandungan Surat Hud Ayat 100, Makna Surat Hud Ayat 101

Category: Surat Hud

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!