Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat az-Zukhruf

حم

Arab-Latin: ḥā mīm

Terjemah Arti:  1.  Haa Miim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(ha mim) pembicaraan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (sepertin ini) telah hadir di awal surat al-baqarah.

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

wal-kitābil-mubīn

 2.  Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan.

Allah  bersumpah dengan al-quran yang agung lafazh dan maknanya.

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

innā ja’alnāhu qur`ānan ‘arabiyyal la’allakum ta’qilụn

 3.  Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

wa innahụ fī ummil-kitābi ladainā la’aliyyun ḥakīm

 4.  Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.

3-4 Sesungguhnya Kami menurunkan al-qur’an kepada muhammad  dengan bahasa arab, agar kalian memahami dan merenungkan makna-makna dan hujjah-hujjahnya. Dan sesungguhnya ia di lauhil mahfudz di sisi Kami, benar-benar memliki kedudukan dan derajat yang tinggi, muhkam (bermakna jelas) tanpa ada perselisihan dan pertentangan padanya.

أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا أَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُسْرِفِينَ

a fa naḍribu ‘angkumuż-żikra ṣaf-ḥan ang kuntum qaumam musrifīn

 5.  Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?

Apakah Kami akan berpaling dari kalian dan tidak menurunkan al-quran kepada kalain hanya gara-gara kalian berpaling dan menolak untuk tunduk serta berbuat melampaui batas dengan tidak beriman kepadanya?

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ

wa kam arsalnā min nabiyyin fil-awwalīn

 6.  Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu.

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa mā ya`tīhim min nabiyyin illā kānụ bihī yastahzi`ụn

 7.  Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَ

fa ahlaknā asyadda min-hum baṭsyaw wa maḍā maṡalul-awwalīn

 8.  Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu (musyrikin Mekah) dan telah terdahulu (tersebut dalam Al Quran) perumpamaan umat-umat masa dahulu.

6-8 Dan kami telah banyak mengutus nabi pada abad-abad pertama yang telah berlalu sebelum kaummu wahai nabi. Tidak ada seorang nabipun yang datang kepada mereka kecuali mereka memperolok-oloknya seperti kaummu memperolok-olokmu. Maka Kami membinasakan orang-orang yang membinasakan orang-orang yang membinasakan utusan-utusan Kami padahal mereka lebih besar kekuatan dan perlengkapannya dari kaummu wahi nabi. Azab atas orang-orang terdahulu telah berlalu disebabkan kekafiran dan pelanggaran serta penghinaan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Disini terkandung hiburan bagi nabi .

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunna khalaqahunnal-‘azīzul-‘alīm

 9.  Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

Bila kamu (wahai rasul) bertanya kepada orang-orang musyrik dari kaummu, ”siapa yang mencipatakan langit dan bumi?” niscaya mereka akan menjawab, ”yang menciptakannya adalah Allah yang perkasa dalam kekuasaan-Nya juga maha mengetahui keduanya dan segala seuatu yang ada pada keduanya; tidak ada sesuatupun yang samar bagiNya,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

allażī ja’ala lakumul-arḍa mahdaw wa ja’ala lakum fīhā subulal la’allakum tahtadụn

 10.  Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.

Dialah yang telah menjadikan untuk kalian bumi yang terhampar, memudahkan untuk kalian jalan-jalan di atasnya untuk kehidupan kalian dan perniagaan kalian, agar dengan jalan-jalan tersebut kalian bisa meraih kemaslahatan dunia dan agama kalian.

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

wallażī nazzala minas-samā`i mā`am biqadar, fa ansyarnā bihī baldatam maitā, każālika tukhrajụn

 11.  Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).

Dan Dia lah yang menurunkan hujan dari langit dengan takaran, bukan berupa badai sehingga ia meneggelamkan dan tidak pula sedikit sehingga tidak menutupi hajat kebutuhan, sehingga ia menjadi kehidupan untuk kalian dan hewan-hewan kalian, dengan hujan tersebut Kami menumbuhkan lahan yang luas dari bumi yang kosong dari tanaman, sebagiamana Kami mengeluarkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman dengan hujan yang Kami turunkan dari langit sehingga bumi yang mati itu menjadi hidup. Demikianlah kalian (wahai manusia) akan dikeluarkan dari kubur kalian setelah kematian kalian.

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ

wallażī khalaqal-azwāja kullahā wa ja’ala lakum minal-fulki wal-an’āmi mā tarkabụn

 12.  Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.

Dan Dia lah yang menciptakan segala jenis hewan-hewan dan tumbuhan, Dia juga membuat kapal-kapal untuk kalian yang kalian naiki di lautan, diantara hewan-hewan ternak seperti unta, kuda dan bigal serta keledai ada yang kalian kendarai di daratan.

لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

litastawụ ‘alā ẓuhụrihī ṡumma tażkurụ ni’mata rabbikum iżastawaitum ‘alaihi wa taqụlụ sub-ḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahụ muqrinīn

 13.  Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,

وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

wa innā ilā rabbinā lamungqalibụn

 14.  dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

13-14 Agar kalain duduk nyaman di atas punggung hewan kendaraan kalian, kemudian kalian mengingat nikmat tuhan kalian bila kalian mengendarainya dan kalian mengucapkan, ”segala puji bagi Allah yang telah menundukan ini bagi kami dan kami sendiri tidak mampu menundukannya.” Dan agar kalain mengucapkan Sesungguhnya kami akan kembali dan berpulang kepada tuhan kami setelah kami mati.”. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah yang memberikan nikmat kepada manusia dengan berbagai bentuknya, itulah yang berhak untuk disembah dalam kondisi apapun.

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا ۚ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ

wa ja’alụ lahụ min ‘ibādihī juz`ā, innal-insāna lakafụrum mubīn

 15.  Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).

Dan orang-orang yang musyrik itu menjadikan bagiNya bagian dari makhlukNya, yaitu ucapan mereka tentang malaikat, ”anak-anak perempuan Allah”. sesungguhnya manusia adalah pengingkar terhadap nikmat-nikmat tuhannya yang telah Dia limpahkan kepadanya, memperlihatkan pengingkaran dan kekafirannya, menghitung musibah-musibah dan melupakan berbagai nikmat.

أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُمْ بِالْبَنِينَ

amittakhaża mimmā yakhluqu banātiw wa aṣfākum bil-banīn

 16.  Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.

Bahkan apakah kalian wahai (orang-orang jahil) mengklaim bahwa tuhan kalian mengangkat anak perempuan dari makhlukNya, sedangkan kalian sendiri tidak menerimanya untuk diri kalian, dan mengistimewakan kalain dengan anak laki-laki dan menjadikan mereka untuk kalian? Dalam ayat ini merupakan celaan terhadap mereka.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَٰنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

wa iżā busysyira aḥaduhum bimā ḍaraba lir-raḥmāni maṡalan ẓalla waj-huhụ muswaddaw wa huwa kaẓīm

 17.  Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.

Bila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan (yang mereka nisbatkan kepada Allah saat mereka mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah) maka wajahnya menghitam karena buruknya berita gembira tersebut(baginya), dia bersedih, dadanya penuh dengan kepedihan dan penyesalan. Maka bagaimana mereka bisa menisbatkan sesuatu kepada Allah yang mereka sendiri tidak bisa menerimanya untuk diri mereka? mahatinggi dan maha suci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir itu setinggi-tingginya.

أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

a wa may yunasysya`u fil-ḥilyati wa huwa fil-khiṣāmi gairu mubīn

 18.  Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.

Apakah kalian lancang dan menisbatkan kepada Allah seseorang yang dibesarkan dalam perhiasan, yaitu kondisi perdebatan yang tidak jelas hujjahnya karena dia tumbuh dalam perhiasan dan kenikmatan?

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا ۚ أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ ۚ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

wa ja’alul-malā`ikatallażīna hum ‘ibādur-raḥmāni ināṡā, a syahidụ khalqahum, satuktabu syahādatuhum wa yus`alụn

 19.  Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.

Orang-orang yang menyekutukan Allah itu menjadikan para malaikat yang merupakan hamba-hamba Allah sebagai anak perempuan, apakah mereka hadir saat Allah menciptakan mereka sehingga mereka berani menetapkan bahwa mereka adalah perempuan? Kesaksian mereka akan ditulis dan ditanyakan kepada mereka di akhirat.

وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ ۗ مَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

wa qālụ lau syā`ar-raḥmānu mā ‘abadnāhum, mā lahum biżālika min ‘ilmin in hum illā yakhruṣụn

 20.  Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)”. Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.

Orang-orang musyrik dari kaum quraisy itu berkata ”kalau Allah yang maha pengasih menghendaki, niscaya kami tidak menyembah seseorang dari makhluk-Nya. ini adalah hujjah yang batil, Allah telah menegakkan hujjah atas manusia dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab mereka. Hakikatnya mereka tidak memiliki ilmu tentang apa yang mereka katakan, akan tetapi mereka mengucapkannya hanya sebatas dugaan dan kebohongan, karena dalam hal ini mereka tidak memiliki bukti dan informasi dari Allah.

أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ

am ātaināhum kitābam ming qablihī fa hum bihī mustamsikụn

 21.  Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Quran, lalu mereka berpegang dengan kitab itu?

Apakah mereka menghadiri penciptaan malaikat atau apakah Kami memberi mereka sebuah kitab sebelum al-qur’an yang Kami turubkan sehingga mereka berpegang kepadanya dan mengamalkan isinya, lalu merekapun berhujjah atasmu wahai rasul?

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

bal qālū innā wajadnā ābā`anā ‘alā ummatiw wa innā ‘alā āṡārihim muhtadụn

 22.  Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”.

Sebaliknya mereka berkata, ”sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berjalan di atas sebuah jalan, ajaran dan agama, dan sesungguhnya kami hanya mengikuti dan meneladani jejak nenek moyang kami.”

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

wa każālika mā arsalnā ming qablika fī qaryatim min nażīrin illā qāla mutrafụhā innā wajadnā ābā`anā ‘alā ummatiw wa innā ‘alā āṡārihim muqtadụn

 23.  Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.

dan begitu juga Kami tidak mengutus seorang pemberi peringatan sebelummu (wahai rasul) pada sebuah negeri, lalu dia memperingatkan penduduknya terhadap hukuman Kami atas kekafiran mereka, dia memerintahkan mereka agar mewaspadai dan berhati-hati terhadap murka dan azab Kami, kecuali para pemuka dan pemimpin mereka yang bergelimang kenikmatan berkata, ”sesunggguhnya kami mendapati leluhur kami di atas suatu ajaran dan agama, dan sesungguhnya kami hanya mengikuti dan meneladani manhaj dan jejak mereka. ”

۞ قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

qāla a walau ji`tukum bi`ahdā mimmā wajattum ‘alaihi ābā`akum, qālū innā bimā ursiltum bihī kāfirụn

 24.  (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Muhammad  dan para rasul yang mendahuluinya berkata kepada orang-orang yang menyangkalnya dengan syubhat batil ini, ”apakah kalian akan tetap mengikuti nenek moyang kalian sekalipun aku telah datang kepada kalian dengan membawa sesuatu dari sisi tuhan kalian yang lebih membingbing ke jalan yang benar dan lebih menunjukan jalan yang lurus dari pada agama dan ajaran yang kalian warisi dari nenek moyang kalian?” Mereka menjawab dengan penuh pengingkaran, Sesunggguhnya kami tetap ingar dan kafir kepada apa yang kalian diutus dengannya. ”

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

fantaqamnā min-hum fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

 25.  Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.

maka Kami membalas umat-umat yang mendustakan para rasul tersebut dengan menumpahkan hukuman kepada mereka berupa pembenaman (kedalam bumi), penenggelam (dilaut) dan lainnya. maka perhatikanlah (wahai rasul) bagaimana akibat dari kehidupan mereka saat mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan para utusanNYa?. hendaknya kaummu juga waspada sehingga mereka tidak bersikukuh di atas sikap mendustakan yang mereka lakukan, akibatnya mereka akan ditimpa apa yang telah menimpa umat-umat sebelum mereka.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ

wa iż qāla ibrāhīmu li`abīhi wa qaumihī innanī barā`um mimmā ta’budụn

 26.  Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah,

Ingatlah (wahai rasul) saat ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya yang mana mereka menyembah apa yang disembah oleh kaummu, ”sesunggguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah selain Allah”.

إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

illallażī faṭaranī fa innahụ sayahdīn

 27.  tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”.

Kecualii Allah yang telah menciptakanku, Dia akan membimbingku untuk mengikuti jalan yang lurus.

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa ja’alahā kalimatam bāqiyatan fī ‘aqibihī la’allahum yarji’ụn

 28.  Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.

Dan ibrahim menjadikan kalimat tauhid (la ilaaha illallah) tetap tegak pada orang-orang sesudahnya, agar mereka kembali menaati tuhan mereka dan mentauhidkanNYa serta bertaubat dari kekafiran dan dosa-dosa mereka.

بَلْ مَتَّعْتُ هَٰؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْحَقُّ وَرَسُولٌ مُبِينٌ

bal matta’tu hā`ulā`i wa ābā`ahum ḥattā jā`ahumul-ḥaqqu wa rasụlum mubīn

 29.  Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan bapak-bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Quran) dan seorang rasul yang memberi penjelasan.

Bahkan aku telah memberikan kenikmatan kehidupan kepada orang-orang musyrik dari kaummu (wahai rasul), dan nenek moyang mereka, Aku tidak menyegerakan hukuman atas mereka disebabkan kekafiran mereka sebelum mereka didatangi oleh al-qur’an dan seoarng utusan yang menjelaskan apa yang mereka butuhkan terkait dengan perkara-perkara agama mereka.

وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ وَإِنَّا بِهِ كَافِرُونَ

wa lammā jā`ahumul-ḥaqqu qālụ hāżā siḥruw wa innā bihī kāfirụn

 30.  Dan tatkala kebenaran (Al Quran) itu datang kepada mereka, mereka berkata: “Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya”.

Dan ketika al-qur’an datang kepada mereka dari sisi Allah, mereka berkata, ”apa yang dibawa oleh utusan ini adalah sihir yang dengannya dia menyihir kami, ia bukan wahyu dari Allah, dan sesungguhnya kami mendustakannya”.

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

wa qālụ lau lā nuzzila hāżal-qur`ānu ‘alā rajulim minal-qaryataini ‘aẓīm

 31.  Dan mereka berkata: “Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”

Orang-orang musyrik dari kaum quraisy itu berakta, ”bila al-qur’an ini memang benar datang dari Allah, mengapa ia tidak turun kepada seorang laki-laki agung (pembesar) dari salah satu dari dua kota, yaitu makkah dan tha’if?

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

a hum yaqsimụna raḥmata rabbik, naḥnu qasamnā bainahum ma’īsyatahum fil-ḥayātid-dun-yā wa rafa’nā ba’ḍahum fauqa ba’ḍin darajātil liyattakhiża ba’ḍuhum ba’ḍan sukhriyyā, wa raḥmatu rabbika khairum mimmā yajma’ụn

 32.  Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

apakah mereka yang membagi-bagikan status kenabian sehingga mereka bisa memberikannya kepada siapa yang mereka kehendaki?. Kamilah yang membagi-bagikan dalam kehidupan dunia mereka berupa rizki dan makanan, Kami juga tinggikan sebagian dari mereka beberapa derajat atas sebagian yang lain, sehingga ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang kuat dan adapula yang lemah, agar sebagian melengkapi sebagian yang lain dalam kehidupan. Dan rahmat Allah bagimu (wahai rasul) dengan memasukanmu kedalam surga adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan berupa kekayaan dunia yang fana.

وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

walau lā ay yakụnan-nāsu ummataw wāḥidatal laja’alnā limay yakfuru bir-raḥmāni libuyụtihim suqufam min fiḍḍatiw wa ma’ārija ‘alaihā yaẓ-harụn

 33.  Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.

Kalau bukan karena menghindarkan manusia untuk bersatu padu menjadi jamaah yang satu diatas kekafiran, niscaya Kami menjadikan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah yang maha pengasih untuk rumah-rumah mereka atap dari perak, demikian pula tangga-tangga yang mereka naiki.

وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ

wa libuyụtihim abwābaw wa sururan ‘alaihā yattaki`ụn

 34.  Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.

وَزُخْرُفًا ۚ وَإِنْ كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

wa zukhrufā, wa ing kullu żālika lammā matā’ul-ḥayātid-dun-yā, wal-ākhiratu ‘inda rabbika lil-muttaqīn

 35.  Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

34-35 Dan Kami menjadikan pintu-pintu rumah mereka dari perak. Kami menjadikan untuk mereka ranjang-ranjang dimana mereka bersandar di atasnya dan Kami memberikan emas kepada mereka, namun semua itu hanyalah kenikmatan dunia, kenikmatan yang sedikit yang akan hilang, sedangkan kenikmatan akhirat tersimpan di sisi tuhanmu bagi orang-orang yang bertakwa, bukan bagi selain mereka.

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

wa may ya’syu ‘an żikrir-raḥmāni nuqayyiḍ lahụ syaiṭānan fa huwa lahụ qarīn

 36.  Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Dan barang siapa yang berpaling dari mengingat Allah yang maha pengasih yaitu al-qur’an, sehingga tidak takut hukumanNya dan tidak mengambil petunjukNya, maka Kami mengirimkan setan kepadanya di dunia yang menyesatkannya sebagai balasan kepadanya karena dia berpaling dari dzikrullah tersebut, setan tersebut menjadi rekan akrabnya yang menghalang-halanginya melakukan yang halal dan mendorongnya melakukan yang haram.

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

wa innahum layaṣuddụnahum ‘anis-sabīli wa yaḥsabụna annahum muhtadụn

 37.  Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi orang-orang yang berpaling dari dzikir Allah (al-qur’an) dari jalan kebenaran, setan-setan itu memperindah kesesatan bagi mereka, membuat mereka benci kepada iman kepada Allah dan amal ketaatan kepadaNYa. Orang-orang yang berpaling itu menyangka bahwa apa yang mereka pegang berupa kesesatan adalah kebenaran dan petunjuk akibat setan-setan tersebut yang menghiasinya untuk mereka.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ

ḥattā iżā jā`anā qāla yā laita bainī wa bainaka bu’dal-masyriqaini fa bi`sal-qarīn

 38.  Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.

Sehingga orang yang berpaling dari dzikir Allah (al-qur’an) yang maha pengasih itu datang untuk menghadapi hisab dan mendapatkan balasan, dia berkata kepada rekannya, ”saya berharap anatara diriku dengan dirimu terdapat jarak sejauh timur dengan barat, seburuk-buruk rekan adalah kamu, karena kamu telah menyesatkanku.

وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

wa lay yanfa’akumul-yauma iẓ ẓalamtum annakum fil-‘ażābi musytarikụn

 39.  (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.

Hari ini tidak ada yang bermanfaat bagi kalian (wahai orang-orang yang berpaling dari al-qur’an) saat kalian menyekutukan Allah di dunia, saat ini kalian sama-sama dalam azab, kalian dan teman-teman itu. Masing-masing dari kalian memperoleh bagian yang penuh dari azab, sebagaimana kalian berserikat dalam kekafiran.

أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

a fa anta tusmi’uṣ-ṣumma au tahdil-‘umya wa mang kāna fī ḍalālim mubīn

 40.  Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

Apakah kamu (wahai rasul) mampu membuat orang yang Allah tulikan untuk bisa mendengarkan kebenaran atau kamu mampu memberi petunjuk kejalan hidayah kepada orang yang hatinya di butakan oleh Allah sehingga dia tidak melihatnya, atau kamu mampu membimbing orang yang berjalan di atas kesesatan yang nyata lagi jelas ke jalan yang benar?. Semua itu bukan wewenangmu, karena tugasmu hanya menyampaikan, bukan tugasmu yang memberi petunjuk kepada mereka, karena Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.

فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ

fa immā naż-habanna bika fa innā min-hum muntaqimụn

 41.  Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat).

أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ

au nuriyannakallażī wa’adnāhum fa innā ‘alaihim muqtadirụn

 42.  Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka.

41-42 Bila Kami mewafatkanmu (wahai rasul), sebelum kamu menang atas orang-orang yang mendustakan dari kaummu, maka Kami akan tetap membalas mereka di akhirat, atau Kami memperlihatkan kepadamu siksa Kami yang telah Kami ancamkan kepada mereka bahwa ia akan turun menimpa mereka, seperti pada hari perang badar. Sesungguhnya Kami maha kuasa untuk melakukan hal itu atas mereka, kuasa untuk memenangkanmu atas mereka dan merendahkan mereka melalui kedua tanganmu dan tangan orang-orang yang beriman kepadamu.

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

fastamsik billażī ụḥiya ilaīk, innaka ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

 43.  Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.

Maka berpeganglah (wahai rasul) dengan apa yang Allah perintahkan dalam al-qur’an yang telah Dia wahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. itulah agama Allah yang Dia perintahkan, yaitu islam. Disini terkandung peneguhan bagi rasulullah  dan sanjungan kepadanya.

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

wa innahụ lażikrul laka wa liqaumik, wa saufa tus`alụn

 44.  Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.

Sesungguhnya al-qur’an ini merupakan kemuliaan bagimu dan bagi kuammu dari quraisy, dimana ia turun dengan bahasa mereka, mereka orang-orang yang paling memahaminya, maka selayaknya mereka menjadi orang-orang yang paling kuat menegakannya dan paling gigih mengamalkannya. Dan kalian akan ditanya kamu dan orang-orang yang bersamamu, tentang kewajiban syukur kepada Allah dan mengamalkan tuntutannya.

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

was`al man arsalnā ming qablika mir rusulinā a ja’alnā min dụnir-raḥmāni ālihatay yu’badụn

 45.  Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”

Bertanyalah (wahai rasul) kepada para pengikut nabi-nabi yang telah Kami utus sebelummu dan para pembawa syariat mereka, ”apakah utusan-utusan mereka mengajak manusia untuk menyembah selain Allah?”. maka mereka akan mengabarkan kepadamu bahwa hal itu tidak terjadi, karena semua rasul mengajak kepada apa yang kamu serukan kepada manusia sekarang, yaitu menyembah Allah  semata. yang tidak ada sekutu bagiNya dan melarang menyembah selainNya.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَقَالَ إِنِّي رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā ilā fir’auna wa mala`ihī fa qāla innī rasụlu rabbil-‘ālamīn

 46.  Dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”.

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ

fa lammā jā`ahum bi`āyātinā iżā hum min-hā yaḍ-ḥakụn

 47.  Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.

46-47 Sungguh Kami telah mengutus Musa dengan membawa hujjah-hujah Kami kepada fir’aun dan para pemuka kaumnya, sebagaimana Kami mengutusmu (wahai rasul) kepada orang-orang musyrik dari kaummu, maka Musa berkata kepada mereka , ”sesungguhnya aku adalah utusan tuhan semesta alam.” Ketika musa datang dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata yang membuktikan kebenarannya dalam dakwahnya, ternyata fir’aun dan orang-orangnya menertawakan ayat-ayat dan bukti-bukti yang dibawa musa kepada mereka.

وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا ۖ وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa mā nurīhim min āyatin illā hiya akbaru min ukhtihā, wa akhażnāhum bil-‘ażābi la’allahum yarji’ụn

 48.  Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat yang sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).

Dan kami tidak memperlihatkan kepada fir’aun dan orang-orangnya sebuah hujjah kecuali ia lebih agung dari yang sebelumnya dan lebih jelas dalam membuktikan kebenaran apa yang didakwahkan oleh musa. Dan kami telah menimpakan kepada mereka berbagai macam azab, seperti belalang, kodok, kutu, banjir bandang dan sebagainya, agar mereka meninggalkan kekafiran mereka kepada Allah dan berganti dengan mentauhidkan dan menaatiNYa.

وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ

wa qālụ yā ayyuhas-sāḥirud’u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak, innanā lamuhtadụn

 49.  Dan mereka berkata: “Hai ahli sihir, berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ

fa lammā kasyafnā ‘an-humul-‘ażāba iżā hum yangkuṡụn

 50.  Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).

49-50 Fir’aun dan para pembesarnya berkata kepada musa, ”wahai tukang sihir (tukang sihir dihormati dikalangan mereka dan sihir bukan merupakan sifat tercela) berdo’alah kepada tuahnmu untuk kami dengan janjiNya yang telah dijanjikanNya kepadamu dan kemuliaan-kemuliaan yang Dia berikan kepadamu agar Dia menghilangkan azab ini, bila Dia menghilangkan azab ini dari kami, maka kami akan menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan beriman kepada apa yang kamu bawa.” Maka ketika musa berdoa agar azab tersebut diangkat dari mereka, dan Kami pun mengangkatnya dari mereka, ternyata mereka menyelisihi dan tetap bersikukuh diatas kesesatan mereka.

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

wa nādā fir’aunu fī qaumihī qāla yā qaumi a laisa lī mulku miṣra wa hāżihil-an-hāru tajrī min taḥtī, a fa lā tubṣirụn

 51.  Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

am ana khairum min hāżallażī huwa mahīnuw wa lā yakādu yubīn

 52.  Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

51-52 Fir’aun mengumumkan di depan para pembesar kaumnya dengan penuh kebangggan dan kesombongan sebagai penguasa mesir, ”bukanlah kerajaan mesir ini adalah milikku, cabang-cabang nil mengalir di bawah istanaku di sela-sela kebunku, apakah kalian tidak melihat keagunganku dan kekuatanku serta kelemahan dan kemiskinan musa? lebih dari itu aku lebih baik daripada orang yang tidak punya kemuliaan ini. dia merendahkan dirinya demi menutupi kebutuhan-kebutuhannya karena kerendahan dan kemiskinannya, dia juga hampir tidak bisa berbicara dengan jelas karena cacat pada lisannya.” Firaun mengatakan semua itu karena terdorong oleh kekafiran dan penentangannya demi menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.

فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

falau lā ulqiya ‘alaihi aswiratum min żahabin au jā`a ma’ahul-malā`ikatu muqtarinīn

 53.  Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”

lalu mengapa Dia tidak memberikan kepada Musa (Bila musa memang benar-benar utusan tuhan semesta alam) gelang-gelang emas atau malaikat hadir bersamanya, sebagain berkaitan dengan sebagain yang lain, lalu mereka satu persatu bersaksi bahwa musa adalah utusan Allah kepada kami?

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

fastakhaffa qaumahụ fa aṭā’ụh, innahum kānụ qauman fāsiqīn

 54.  Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.

Fir’aun membuat akal kaumnya dungu dan mengajak mereka kepada kesesatan. Dan merekapun menaatinya. mereka mendustakan musa. Dan sesungguhnya mereka adalah kaum yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan jalan yang lurus.

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

fa lammā āsafụnantaqamnā min-hum fa agraqnāhum ajma’īn

 55.  Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),

فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ

fa ja’alnāhum salafaw wa maṡalal lil-ākhirīn

 56.  dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.

55-56 Maka ketika mereka membuat Kami murka (dengan kemaksiatan yang mereka lakukan terhadap Kami dan pendustaan mereka kepada musa dan ayat-ayat yang dibawa olehnya) Kami membalas mereka dengan menyegerakan azab yang menimpa mereka kami menenggelamkan mereka semuanya kelautan. maka kami menjadikan orang-orang yang kami tenggelamkan itu sebagai pendahulu bagi siapa yang melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka dari kalangan orang-orang yang datang sesudah mereka, bahwa mereka pun akan mendapatkan azab, dan sekaligus pelajaran dan nasihat bagi yang lainnya.

۞ وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ

wa lammā ḍuribabnu maryama maṡalan iżā qaumuka min-hu yaṣiddụn

 57.  Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.

Maka ketika orang-orang musyrik menjadikan isa putra maryam sebagai perumpamaan ketika mereka mendebat Muhammad  dan berdalih atasnya dengan penyembahan orang-orang nasrani kepada isa, maka kaummu karena itu dan demi itu bersuara keras dan gaduh karena senang dan gembira, hal itu ketika turun firman Allah : إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (QS. AL-ANBIYA : 98) Dan orang-orang musyrik berkata “kami ridho jika tuhab-tuhan kami seperti kedudukan Isa, maka Allah menurunkan firman-Nya: إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَىٰ أُولَٰئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka (QS. AL-ANBIYA : 101) Maka orang-orang yang dilepmarkan kedalam nereka dari tuhan-tuhan orang musyrikin adalah mereka yang ridho dengan penyembahan mereka kepadanya.

وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ ۚ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

wa qālū a ālihatunā khairun am huw, mā ḍarabụhu laka illā jadalā, bal hum qaumun khaṣimụn

 58.  Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.

Orang-orang musyrik dari kaummu (wahai rasul) berkata, ”apakah tuhan-tuhan yang kami sembah ini lebih baik atau isa yang disembahi oleh kaumnya? bila isa di dalam neraka maka kami dan tuhan-tuhan kami juga di neraka.” mereka tidak membuat perumpamaan tersebut kecuali hanya untuk membantah, karena mereka adalah yang selalu membantah dengan kebatilan.

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

in huwa illā ‘abdun an’amnā ‘alaihi wa ja’alnāhu maṡalal libanī isrā`īl

 59.  Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail

Isa putra marayam hanya seorang hamba yang telah Kami beri nikmat dengan derajat kenabian dan Kami menjadikannya sebagai bukti dan pelajaran bagi bani israil, bukti yang menetapkan kuasa Kami.

وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُونَ

walau nasyā`u laja’alnā mingkum malā`ikatan fil-arḍi yakhlufụn

 60.  Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun.

Kalau Kami berkenan niscaya Kami menjadikan sebagai ganti kalian para malaikat yang sebagian yang lain sebagai ganti manusia.

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

wa innahụ la’ilmul lis-sā’ati fa lā tamtarunna bihā wattabi’ụn, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

 61.  Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

Sesungguhnya turunnya Isa sebelum Hari Kiamat menunjukkan bahwa Kiamat sudah dekat, maka jangan meragukannya, karena ia pasti dan tidak bisa tidak, dan ikutilah apa yang aku kabarkan kepada kalian dari Allah, ini adalah jalan lurus menuju surga, yang tiada kebengkokan padanya.

وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

wa lā yaṣuddannakumusy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

 62.  Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Jangan sampai setan menghalang-halangi kalian dengan godaannya sehingga kalian tidak menaatiKu dalam apa yang Aku perintahkan kepada kalian dan apa yang aku larang kalian melakukannya. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.

وَلَمَّا جَاءَ عِيسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

wa lammā jā`a ‘īsā bil-bayyināti qāla qad ji`tukum bil-ḥikmati wa li`ubayyina lakum ba’ḍallażī takhtalifụna fīh, fattaqullāha wa aṭī’ụn

 63.  Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku”.

. Dan ketika Isa datang kepada Bani Israil dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata dan dalil-dalil, Isa berkata, “Aku datang kepada kalian dengan kenabian, aku akan menjelaskan kepada kalian sebagian perkara yang kalian perselisihkan terkait dengan agama kalian, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya dan taatilah dalam apa yang aku perintahkan kepada kalian dari Tuhan kalian, yaitu agar kalian bertakwa dan menaati Allah.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

innallāha huwa rabbī wa rabbukum fa’budụh, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

 64.  Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.

. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian semuanya, maka sembahlah Dia semata, dan jangan menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Apa yang aku perintahkan kepada kalian ini berupa ketakwaan dan pengesaan Allah dalam uluhiyah adalah jalan yang lurus, ia adalah agama Allah yang haq di mana Dia tidak menerima selainnya dari siapapun.”

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ ۖ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ

fakhtalafal-aḥzābu mim bainihim, fa wailul lillażīna ẓalamụ min ‘ażābi yaumin alīm

 65.  Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).

. Maka orang-orang berselisih tentang perkara Isa sehingga mereka menjadi beberapa kelompok, diantara mereka ada yang mengakui bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah dan inilah yang benar, dan diantara mereka ada yang mengklaim bahwasanya ia sebagai putra Allah, dan diantara mereka ada yang berkata bahwa dia adalah Allah. MahaTinggi Allah dari perkataan mereka setinggi-tingginya. Kebinasaan dan azab yang pedih di Hari Kiamat atas siapa yang menyifati Isa bukan dengan sifat yang Allah tetapkan untuknya.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

hal yanẓurụna illas-sā’ata an ta`tiyahum bagtataw wa hum lā yasy’urụn

 66.  Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.

Apakah ada yang ditunggu oleh kelompok-kelompok yang bertikai tentang Isa itu selain Kiamat yang datang kepada mereka secara tiba-tiba saat mereka tidak menyadari dan merasakannya?

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

al-akhillā`u yauma`iżim ba’ḍuhum liba’ḍin ‘aduwwun illal-muttaqīn

 67.  Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.

Orang-orang yang berteman akrab dalam kemaksiatan kepada Allah di dunia, sebagian dari mereka akan berlepas diri dari sebagian yang lain di Hari Kiamat, akan tetapi orang-orang yang berkawan di atas landasan takwa kepada Allah, maka perkawanan mereka tetap berlangsung di dunia dan akhirat.

يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

yā ‘ibādi lā khaufun ‘alaikumul-yauma wa lā antum taḥzanụn

 68.  “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.

. Dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, “Wahai hamba-hambaKu, tidak ada ketakutan atas kalian di hari ini dari azabKu, dan kalian juga tidak bersedih atas bagian-bagian yang tidak kalian dapatkan dari kenikmatan dunia.”

الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ

allażīna āmanụ bi`āyātinā wa kānụ muslimīn

 69.  (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri.

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

udkhulul-jannata antum wa azwājukum tuḥbarụn

 70.  Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”.

69-70. Orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mengamalkan apa-apa yang datang kepada mereka, mereka tunduk kepada Allah, Tuhan semesta alam dengan hati dan anggota badan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Masuklah kalian bersama rekan-rekan kalian yang beriman ke dalam surga, kalian diberi nikmat didalamnya dan gembira.”

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

yuṭāfu ‘alaihim biṣiḥāfim min żahabiw wa akwāb, wa fīhā mā tasytahīhil-anfusu wa talażżul-a’yun, wa antum fīhā khālidụn

 71.  Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.

Di surga orang-orang yang beriman kepada Allah dan para utusanNya itu dikelilingi oleh makanan dalam nampan-nampan emas, minuman dalam gelas-gelas emas, di sana mereka mendapatkan apa yang diinginkan oleh jiwa mereka dan dinikmati oleh pandangan mata mereka, mereka tinggal di sana selama-lamanya.

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa tilkal-jannatullatī ụriṡtumụhā bimā kuntum ta’malụn

 72.  Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.

Surga yang Allah wariskan kepada kalian ini, semuanya disebabkan kebaikan-kebaikan dan amal-amal shalih yang kalian kerjakan di dunia, Allah menjadikannya diantara rahmat dan karuniaNya sebagai balasan bagi kalian.

لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ

lakum fīhā fākihatung kaṡīratum min-hā ta`kulụn

 73.  Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan.

. Di surga kalian mendapatkan buah-buahan yang bermacam-macam, dan dari setiap macamnya kalian makan.

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

innal-mujrimīna fī ‘ażābi jahannama khālidụn

 74.  Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam.

لَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

lā yufattaru ‘an-hum wa hum fīhi mublisụn

 75.  Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ

wa mā ẓalamnāhum wa lāking kānụ humuẓ-ẓālimīn

 76.  Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

74-76. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa disebabkan kekafiran mereka, mereka berada di dalam siksa Jahanam, mereka kekal di dalamnya, azab tidak diringankan dari mereka, mereka pun berputus asa dari rahmat Allah. Kami tidak menzhalimi para penjahat tersebut dengan menyiksa mereka, sebaliknya justru merekalah yang menzhalimi diri mereka dengan kesyirikan dan pengingkaran mereka bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya, di samping karena mereka menolak untuk mengikuti rasul-rasul Tuhan mereka.

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

wa nādau yā māliku liyaqḍi ‘alainā rabbuk, qāla innakum mākiṡụn

 77.  Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”.

لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

laqad ji`nākum bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarakum lil-ḥaqqi kārihụn

 78.  Sesungguhnya Kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.

77-78. Para penjahat itu memanggil-manggil Malik, penjaga Jahanam setelah mereka dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah, “Wahai Malik, biarlah Tuhanmu mematikan kami, sehingga kami bisa beristirahat dari penderitaan ini.” Maka Malik menjawab, “Kalian tetap tinggal, kalian tidak akan keluar darinya, kalian tidak bisa menghindar darinya.” Sungguh Kami telah datang kepada kalian dengan kebenaran dan menjelaskannya untuk kalian, akan tetapi kebanyakan dari kalian membenci kebenaran yang dibawa oleh para rasul.

أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ

am abramū amran fa innā mubrimụn

 79.  Bahkan mereka telah menetapkan satu tipu daya (jahat), maka sesungguhnya Kami menetapkan pula.

Sebaliknya apakah orang-orang musyrik itu malah menyusun sebuah rencana untuk melawan kebenaran yang Kami bawa kepada mereka? Sesungguhnya Kami juga merencanakan sesuatu untuk mereka yang menghinakan mereka berupa azab dan siksaan.

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

am yaḥsabụna annā lā nasma’u sirrahum wa najwāhum, balā wa rusulunā ladaihim yaktubụn

 80.  Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.

Apakah orang-orang yang mempersekutukan Allah itu menyangka bahwa Kami tidak mendengar apa yang mereka rahasiakan di dalam jiwa mereka dan apa yang mereka bisik-bisikkan diantara mereka? Benar, Kami mendengar dan mengetahui, dan utusan-utusan Kami, para malaikat penjaga yang mulia, juga menulis apa yang mereka kerjakan.

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ

qul ing kāna lir-raḥmāni waladun fa ana awwalul-‘ābidīn

 81.  Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).

سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥāna rabbis-samāwāti wal-arḍi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifụn

 82.  Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.

81-82. Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik dari kaummu yang menganggap bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, “Bila Allah yang Maha Pengasih memiliki anak, maka aku adalah orang pertama yang menyembah anak yang kalian anggap itu.” Akan tetapi hal itu tidak terjadi dan tidak akan terjadi. Mahasuci Allah dari istri dan anak. Ini adalah penyucian dan pembersihan bagi Tuhan langit dan bumi, Tuhan Arasy yang agung, dari kebohongan dan kedustaan yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik berupa penisbatan anak kepada Allah dan anggapan-anggapan batil lainnya.

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ

fa żar-hum yakhụḍụ wa yal’abụ ḥattā yulāqụ yaumahumullażī yụ’adụn

 83.  Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.

Maka biarkanlah (wahai rasul), orang-orang yang berdusta atas Nama Allah berbicara dalam kebatilan mereka dan bermain-main di dunia mereka, sampai mereka mendapatkan hari yang diancamkan kepada mereka, yaitu azab, bisa di dunia dan bisa di akhirat atau bisa pula di keduanya sekaligus.

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

wa huwallażī fis-samā`i ilāhuw wa fil-arḍi ilāh, wa huwal-ḥakīmul-‘alīm

 84.  Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Hanya Allah semata yang berhak disembah dengan sebenarnya di langit dan di bumi. Dia-lah yang Mahabijaksana yang menciptakan makhlukNya dengan sangat baik dan menetapkan syariat dengan sangat mulia. Dia juga Maha Mengetahui segala sesuatu terkait dengan urusan makhlukNya, tidak ada sesuatu pun darinya yang samar bagiNya.

وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa tabārakallażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, wa ‘indahụ ‘ilmus-sā’ah, wa ilaihi turja’ụn

 85.  Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Keberkahan Allah sangat banyak, kebaikanNya melimpah dan kekuasaanNya sangat agung. Dia-lah pemilik tunggal kerajaan langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, serta apa yang ada diantara keduanya seluruhnya. Hanya di sisiNya ilmu tentang saat dimana Kiamat tiba, saat itu seluruh makhluk dibangkitkan dari kubur mereka untuk berdiri di padang hisab, kepada Allah-lah kalian (wahai manusia) dikembalikan setelah kematian kalian, lalu Dia memberikan balasan kepada masing-masing sesuai dengan yang berhak dia dapatkan.

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

wa lā yamlikullażīna yad’ụna min dụnihisy-syafā’ata illā man syahida bil-ḥaqqi wa hum ya’lamụn

 86.  Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).

Orang-orang yang disembah oleh orang-orang musyrik itu tidak memiliki syafaat di sisi Allah untuk seseorang kecuali siapa yang bersaksi dengan benar, mengakui tauhid Allah dan kenabian Muhammad, disamping mereka mengetahui hakikat dari apa yang mereka akui dan saksikan.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqahum layaqụlunnallāhu fa annā yu`fakụn

 87.  Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,

Bila kamu (wahai Rasul) bertanya kepada orang-orang musyrik dari kaummu tentang siapa yang menciptakan mereka?, pastilah mereka akan menjawab, “Allah-lah yang menciptakan kami.” Lalu bagaimana mereka akhirnya berpaling dari penghambaan kepada Allah dan mempersekutukanNYa dengan sesuatu?”

وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ

wa qīlihī yā rabbi inna hā`ulā`i qaumul lā yu`minụn

 88.  dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

faṣfaḥ ‘an-hum wa qul salām, fa saufa ya’lamụn

 89.  Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal)”. Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

88-89. Muhammad berkata mengadukan kaumnya yang mendustakannya kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya orang-orang itu adalah kaum yang tidak beriman kepadaMu dan kepada apa yang Engkau adalah kaum yang tidak beriman kepadaMu dan kepada apa yang Engkau mengutusku dengannya kepada mereka.” Maka Allah memerintahkannya untuk berpaling dari mereka dan dari gangguan mereka serta membiarkan mereka disebabkan kekafiran mereka dan penentangan mereka. Jangan terlontar darimu (wahai Rasul) kecuali keselamatan bagi mereka sebagaimana yang diucapkan oleh orang-orang yang berakal dan beradab kepada orang-orang bodoh, karena orang-orang yang berakal tidak membalas kebodohan dengan kebodohan dan membalas keburukan dengan yang semisalnya. Mereka pasti akan mengetahui musibah dan bencana yang akan menimpa mereka. Dlam ayat ini terdapat ancaman dan peringatan keras bagi orang-orang kafir yang menentang dan orang-orang yang seperti mereka.

Related: Surat ad-Dukhan Arab-Latin, Surat al-Jatsiyah Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Ahqaf, Terjemahan Tafsir Surat Muhammad, Isi Kandungan Surat al-Fath, Makna Surat al-Hujurat

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Tsfsir Web Al Fath 49