Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Maryam

كهيعص

Arab-Latin: k&f hā yā ‘aīn ṣ&d

Terjemah Arti:  1.  Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(kaf ha ya ain shad) keterangan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (diawal surat seperti ini ) telah berlalu di muka pada permulaan surat al-baqarah.

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

żikru raḥmati rabbika ‘abdahụ zakariyyā

 2.  (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,

Ini merupakan penjelasan rahmat tuhanmu kepada hambaNya, Zakaria. Kami akan menceritakannya kepadamu. Sesungguhnya pada kisahnya terdapat pelajaran yang baik bagi orang-orang yang mau memetik pelajaran.

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

iż nādā rabbahụ nid&`an khafiyyā

 3.  yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

Yaitu, ketika dia berdoa memohon kepada tuhannya dengan suara lirih, agar menjadi lebih sempurna keikhlasannya kepada Allah dan lebih mendatangkan harapan besar di kabulkannya doa tersebut.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta’alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu’&`ika rabbi syaqiyyā

 4.  Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

Dia (zakaria) berkata ”wahai tuhanku, sesungguhnya aku telah berusia lanjut, dan tulangg-tulangku telah melemah, serta uban putih telah menyebar di seluruh rambut kepalaku, sedang aku sebelumnya belum pernah terhalangi dari doa yang terkabul.

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا

wa innī khiftul-mawāliya miw war&`ī wa kānatimra`atī ‘āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā

 5.  Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku dan orang-orang dari keluarga besarku setelah kematianku kelak mereka tidak menjalankan ajaran agamaMu dengan sebaik-baiknya, dan tidak menyeru hamba-hambaMu kepadaMU sedang istriku adalah seorang wanita yang mandul, tidak bisa melahirkan, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang anak yang menjadi pewaris lagi penolong.

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

yariṡunī wa yariṡu min āli ya’qụba waj’al-hu rabbi raḍiyyā

 6.  yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.

Yang akan mewarisi kenabianku dan kenabian keluarga ya’qub, dan jadikanlah anak itu sebagai orang yang diridhai olehMu dari para hambaMu. ”

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

yā zakariyy& innā nubasysyiruka bigulāminismuhụ yaḥyā lam naj’al lahụ ming qablu samiyyā

 7.  Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

Wahai zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan mengabulkan permohonanmu. Dan sungguh Kami anugerahkan kepadamu seorang anak lelaki bernama yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah memberikan nama bagi seorang pun dengan nama tersebut.

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī ‘āqiraw wa qad balagtu minal-kibari ‘itiyyā

 8.  Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.

Zakaria berkata dengan penuh keheranan, ”wahai tuhanku, bagaimana bisa aku memiliki anak lelaki, sedang istriku adalah seorang wanita yang mandul yang tidak bisa melahirkan, dan aku sendiri telah mencapai batas akhir dalam usia dan tulangku pun sudah rapuh?

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

qāla każālik, qāla rabbuka huwa ‘alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā

 9.  Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.

Malaikat menjawab Zakaria terhadap apa yang diherankannya, ”demikianlah keadaannya, sebagaimana yang engkau katakan, bahwa istrimu mandul dan engkau telah mencapai usia lanjut, akan tetapi tuhanmu telah berkata, bahwa penciptaan yahya dalam keadaan demikian ini merupakan perkara mudah lagi ringan bagi Ku. Kemudian Allah  menyebutkan kepada zakaria perkara yang jauh lebih aneh daripada apa yang dipertanyakannya itu. Allah berfirman, ’Dan sesungguhnya aku telah menciptakanmu sebelum yahya, sedang kamu bukanlah sesuatu yang pernah disebut-sebut dan belum ada wujudnya sama sekali. ’

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۚ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā

 10.  Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.

Zakaria berkata untuk menambah keyakinannya, ”wahai tuhanku, buatkanlah untukku tanda atas terwujudnya kabar gembira yang telah disampaikan malaikat kepadaku,” Allah berfirman ”tandamu, bahwa engkau tidak bisa berbicara kepada manusia selama tiga hari tiga malam, padahal engaku sehat-sehat saja dan bebas dari penyakit.

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

fa kharaja ‘alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥ& ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa ‘asyiyyā

 11.  Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

Lalu Zakaria keluar dari tempat ibadahnya menemui kaumnya, yaitu dari tempat disampaikannya kabar gembira kepadanya untuk meemperoleh anak. Dia memberikan isyarat kepada mereka, ”hendaklah kalian bertasbih menyucikan Allah pada pagi dan sore sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah . ”

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

yā yaḥyā khużil-kitāba biquwwah, wa ātaināhul-ḥukma ṣabiyyā

 12.  Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,

maka ketika Yahya dilahirkan, dan dia telah mencapai usia yang mampu memahami ucapan yang ditujukan kepadanya, maka Allah memerintahkannya untuk mengambil kitab taurot dengan sungguh-sungguh melalui firmanNya: “Wahai yahya, ambilah kitab taurat dengan penuh keseriusan dan kasungguhan dengan menghafal teks-teksnya, memahami makna-maknanya, dan mengamalkannya. Dan Kami telah berikan kepadanya hikmah dan pemahaman yang baik saat dia masih kanak-kanak.

وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا

wa ḥanānam mil ladunnā wa zakāh, wa kāna taqiyyā

 13.  dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa,

Dan Kami telah berikan kepadanya rasa belas kasihan dan cinta kasih dari sisi kami serta kebersihan pribadi dari dosa-dosa. Dan dia adalah seorang yang takut dan taat kepada Allah , menjalankan kewajiban-kewajiban dariNya, menjauhi larangan-laranganNya.

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

wa barram biwālidaihi wa lam yakun jabbāran ‘aṣiyyā

 14.  dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

Dan dia adalah seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, taat dan patuh kepada mereka, dan dia bukanlah orang yang angkuh untuk taat kepada tuhannya, juga untuk taat kepada kedua orangtuanya. Dia tidak durhaka kepada tuhannya dan kepada kedua orangtuanya.

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

wa salāmun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamụtu wa yauma yub’aṡu ḥayyā

 15.  Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Dan kesejahteraan dari Allah atas Yahya dan keamanan baginya pada hari dia dilahirkan dan pada hari dia meninggal, serta pada hari dia dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan hidup kembali.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

ważkur fil-kitābi maryam, iżintabażat min ahlihā makānan syarqiyyā

 16.  Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

Dan ingatlah (wahai rasul) di dalam al-qur’an kisah maryam tatkala dia menjauhkan diri dari keluarganya. dia mengambil tempat yang berada di sebelah timur dari mereka.

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

fattakhażat min dụnihim ḥijābā, fa arsaln& ilaihā rụḥanā fa tamaṡṡala lahā basyaran sawiyyā

 17.  maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Maka dia mengadakan tabir penutup yang menutupinya dari keluarga dan kaummnya. Lalu Kami mengutus malaikat jibril kepadanya, maka jibril menjelma di hadapannya dalam rupa manusia yang sempurna fisiknya.

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

qālat innī a’ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā

 18.  Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

Maryam berkata kepadanya, ”sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari kamu agar kamu jangan sampai berbuat buruk kepadaku, bila memang engkau termasuk orang yang takut kepada Allah.

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

qāla innam& ana rasụlu rabbiki li`ahaba laki gulāman zakiyyā

 19.  Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Malaikat berkata kepadanya, ”sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan tuhanmu, Dia mengutusku kepadamu untuk memberimu seorang anak lelaki yang suci dari dosa-dosa.

قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

qālat annā yakụnu lī gulāmuw wa lam yamsasnī basyaruw wa lam aku bagiyyā

 20.  Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

Maryam berkata kepada malaikat, ”bagaiamana aku akan memiliki seorang anak lelaki, padahal tidak ada seorangpun yang menyentuhku melalui pernikahan yang sah dan aku bukan seorang wanita pezina?”

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

qāla każālik, qāla rabbuki huwa ‘alayya hayyin, wa linaj’alahū āyatal lin-nāsi wa raḥmatam minnā, wa kāna amram maqḍiyyā

 21.  Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.

Malaikat berkata kepadanya, ”demikianlah keadaannya sebagaimana kamu sebutkan bahwa sesungguhnya tidak ada seorang lelaki pun yang pernah menyentuhmu dan engkau bukanlah wanita pezina. Akan tetapi tuhanmu berfirman ’perkara itu mudah bagiKu dan agar anak lelaki itu menjadi bukti bagi manusia yang menunjukan tentang kuasa allah  dan rahmat dari kami baginya, kedua orangtua dan sekalian manusia. Dan wujud isa dalam keadaan seperti ini merupakan satu ketetapan yang sudah berlalu lagi ditakdirkan, serta tertulis di lauhil mahfuzh, sehingga pasti akan terwujud.

۞ فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا

fa ḥamalat-hu fantabażat bihī makānang qaṣiyyā

 22.  Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

Maka maryam mengandung seorang anak lelaki sesudah jibril meniup leher bajunya. Tiupan itu menuju rahimnya, maka terjadilah kehamilan dengan sebab tersebut. Lalu dia mengasingkan diri di tempat yang jauh dari manusia.

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

fa aj&`ahal-makhāḍu ilā jiż’in-nakhlah, qālat yā laitanī mittu qabla hāżā wa kuntu nas-yam mansiyyā

 23.  Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

Rasa kontraksi untuk melahirkan memaksanya berhenti pada sebatang pohon kurma. Lalu dia berkata, ”aduhai, alangkah baiknya bila aku mati saja sebelum hari ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak dikenal juga tidak disebut-sebut, serta tidak diketahui siapa aku sebenarnya.

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

fa nādāhā min taḥtih& allā taḥzanī qad ja’ala rabbuki taḥtaki sariyyā

 24.  Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

maka jibril atau isa memanggilnya, ”janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu.

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

wa huzzī ilaiki bijiż’in-nakhlati tusāqiṭ ‘alaiki ruṭaban janiyyā

 25.  Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

Dan gerak-gerakanlah batang pohon kurma itu, niscaya pohon itu akan menjatuhkan kepadamu buah kurma mengkal yang segar yang terpetik saat itu juga.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

fa kulī wasyrabī wa qarrī ‘ainā, fa immā tarayinna minal-basyari aḥadan fa qụlī innī nażartu lir-raḥmāni ṣauman fa lan ukallimal-yauma insiyyā

 26.  maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Maka makanlah olehmu dari kurma mengkal tersebut dan minumlah air itu, dan bersikaplah nyaman dengan anak yang akan lahir. Jika engkau melihat seseorang dari manusia bertanya kepadamu tentang keadaan dirimu, maka katakanlah kepadanya, ’sesungguhnya aku telah mewajibkan atas diriku diam karena Allah, maka aku tidak akan berkomunikasi dengan siapapun dari manusia pada hari ini.’ Dahulu, diam termasuk bentuk ibadah dalam syariat mereka, namun tidak berlaku pada syariat Muhammad .

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا

fa atat bihī qaumahā taḥmiluh, qālụ yā maryamu laqad ji`ti syai`an fariyyā

 27.  Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

Lalu maryam datang menemui kaumnya dengan membawa bayinya dari tempat yang jauh. Ketika orang-orang melihatnya dalam keadaan demikian, mereka berkata kepadanya, ”wahai maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu perkara besar yang amat buruk. ”

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

y& ukhta hārụna mā kāna abụkimra`a sau`iw wa mā kānat ummuki bagiyyā

 28.  Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Wahai saudarinya orang shalih, harun, ayahmu bukanlah seorang lelaki yang buruk yang melakukan perbuatan keji, dan ibumu dahlu bukanlah seorang wanita berperilaku buruk yang melakukan perzinaan. ”

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

fa asyārat ilaīh, qālụ kaifa nukallimu mang kāna fil-mahdi ṣabiyyā

 29.  maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”

Maryam memberikan isyarat kepada bayinya, isa, agar mereka bertanya langsung dan berbicara kepadanya. Mereka menjawab dengan nada pengingkaran kepada maryam, ”bagaimana mungkin kami akan berbicara dengan seorang yang berada di buaian ibunya berupa anak kecil yang masih disusui?”

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

qāla innī ‘abdullāh, ātāniyal-kitāba wa ja’alanī nabiyyā

 30.  Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Isa berkata, sedang dia berada dalam buaiannya tengah menyusu, ”sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia menetapkan untuk memberiku kitab, yaitu injil, dan menjadikanku sebagai seorang nabi.

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

wa ja’alanī mubārakan aina mā kuntu wa auṣānī biṣ-ṣalāti waz-zakāti mā dumtu ḥayyā

 31.  dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Dan Dia menjadikanku orang yang mempunyai kebaikan yang besar dan kemanfaatan di manapun aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku untuk memelihara shalat dan menunaikan zakat selama aku masih hidup.

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

wa barram biwālidatī wa lam yaj’alnī jabbāran syaqiyyā

 32.  dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Dan Dia menjadikanku seorang yang berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikanku manusia yang sombong lagi celaka serta melanggar perintah tuhanku.

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

was-salāmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amụtu wa yauma ub’aṡu ḥayyā

 33.  Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Kesejahteraan dan keamanan dari Allah terlimpah padaku sejak hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan dalam keadaan hidup kembali pada hari kiamat.

ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ

żālika ‘īsabnu maryam, qaulal-ḥaqqillażī fīhi yamtarụn

 34.  Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

Orang yang telah Kami kisahkan kepadamu (wahai rasul) tentang sifat dan beritanya itu adalah isa putra maryam, tidak ada keraguan sama sekali tentangnya. Bahkan itulah kebenaran yang telah diragukan oleh kaum yahudi dan nasrani.

مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

mā kāna lillāhi ay yattakhiża miw waladin sub-ḥānah, iżā qaḍ& amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

 35.  Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

tidak sepantasnya bagi Allah  dan tidak patut bagiNya mengangkat seorang anak dari hamba-hamba dan makhlukNya. Allah bersih dan suci dari hal itu. Jika Dia menetapkan dan menginginkan sesuatu dari perkara-perkara, kecil maupun besar, tidak ada halangan bagiNya. Dia hanya berfirman kepadanya, ”kun (jadilah),” maka jadilah ia sebagaimana dikehendaki dan diinginkannya. ”

وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

wa innallāha rabbī wa rabbukum fa’budụh, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

 36.  Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.

Dan isa berkata kepada kaumnya, ”Dan sesungguhnya Allah yang aku seru kalian kepadanya, hanya Dia semata tuhanku dan tuhan kalian, maka sembahlah Dia semata oleh kalain semua, tiada sekutu baginya. Maka saya dan kalian sama dalam peribadahan dan ketundukan kepadaNya. Inilah jalan yang lurus yang tidak ada kebengkokan padanya. ”

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ ۖ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ

fakhtalafal-aḥzābu mim bainihim, fa wailul lillażīna kafarụ mim masy-hadi yaumin ‘aẓīm

 37.  Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.

Maka golongan-golongan dari ahli kitab berselisih diantara mereka sendiri mengenai perkara isa . Diantara mereka ada yang bersikap berlebihan terhadapnya, yaitu kaum nasrani, dan diantara mereka ada yang mengatakan, ”Dia adalah Allah” dan diantara mereka ada yang berkata, ”Dia adalah putra Allah”. Dan ada yang berkata, ”Dia adalah salah satu dari tiga.” Maha tinggi Allah dari apa yang mereka uccapkan. Dan diantara ahli kitab ada yang bersikap tidak hormat terhadap isa, yaitu kaum yahudi. Mereka mengatakan, ”Dia tukang sihir” Mereka berkata, ”Dia putra yusuf si tukang kayu.” maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang kafir ketika mereka menyaksikan hari yang besar kesulitannya, yaitu hari kiamat.

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا ۖ لَٰكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

asmi’ bihim wa abṣir yauma ya`tụnanā lākiniẓ-ẓālimụnal-yauma fī ḍalālim mubīn

 38.  Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata.

Alangkah tajam pendengaran dan pandangan mereka pada hari kiamat pada hari mereka datang kepada Allah ketika semua itu sudah tidak bermanfaat bagi mereka!! Akan tetapi, orang-orang yang berbuat zhalim ketika mereka di dunia, berada dalam jarak yang sangat jauh dari kebenaran.

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa anżir-hum yaumal-ḥasrati iż quḍiyal-amr, wa hum fī gaflatiw wa hum lā yu`minụn

 39.  Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.

Dan peringatkanlah (wahai rasul) kepada sekalian manusia tentang hari penyesalan, ketika semua perkara telah diputuskan, dan kematian dihadirkan dalam bentuk kambing gemuk lalu di sembelih, dan diputuskanlah nasib makhluk-makhluk. Orang-orang beriman menuju surga dan orang-orang kafir menuju neraka. Dan mereka itu dahulu di dunia berada dalam kelalaian dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Mereka tidak mengimani dan tidak melakukan amal shalih.

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

innā naḥnu nariṡul-arḍa wa man ‘alaihā wa ilainā yurja’ụn

 40.  Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan.

Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya dengan kehancuran mereka dan kelanggengan Kami setelah (kebinsaan) mereka dan berlakunya ketetapan Kami pada mereka. dan kepada Kami tempat mereka kembali dan perhitungan amal perbuatan mereka. Lalu Kami akan memberikan pembalasan kepada mereka atas amal perbuatan mereka.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi ibrāhīm, innahụ kāna ṣiddīqan nabiyyā

 41.  Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.

Dan sebutkanlah (wahai rasul) kepada kaummu di dalam al-qur’an ini tentang kisah ibrahim , sesungguhnya dia adalah insan yang sangat besar kejujurannya dan termasuk nabi Allah  yang paling tinggi kedudukannya.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

iż qāla li`abīhi y& abati lima ta’budu mā lā yasma’u wa lā yubṣiru wa lā yugnī ‘angka syai`ā

 42.  Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

Yaitu ketika dia berkata kepada ayahnya, Azar, ”wahai ayahku, untuk apa engkau menyembah berhala-berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, serta tidak dapat menyingkirkan sesuatu keburukan pun darimu selain Allah?

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

y& abati innī qad j&`anī minal-‘ilmi mā lam ya`tika fattabi’nī ahdika ṣirāṭan sawiyyā

 43.  Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

Wahai ayahku, sesungguhnya Allah telah memberiku ilmu yang tidak diberikanNYa kepadamu, maka terimalah ajakan dariku, dan ikutilah aku menuju ajaran yang aku seru engkau kepadanya, niscaya aku akan menunjukimu menuju jalan lurus yang engkau tidak akan mengalami kesesatan di dalamnya.

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

y& abati lā ta’budisy-syaiṭān, innasy-syaiṭāna kāna lir-raḥmāni ‘aṣiyyā

 44.  Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Wahai ayahku, janganlah engkau menaati setan, sehingga engkau mau menyembah berhala-berhala ini. Sesungguhnya setan itu durhaka terhadap tuhan yang maha pengasih dan dia angkuh untuk taaat kepada Allah.

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

y& abati innī akhāfu ay yamassaka ‘ażābum minar-raḥmāni fa takụna lisy-syaiṭāni waliyyā

 45.  Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.

Wahai ayahku, sesungguhnya aku takut engkau meninggal dalam kekafiranmu, maka siksaan dari tuhan yang maha pengasih akan menimpamu, sehingga setan akan menjadi kawanmu di neraka kelak.

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

qāla a rāgibun anta ‘an ālihatī y& ibrāhīm, la`il lam tantahi la`arjumannaka wahjurnī maliyyā

 46.  Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

Ayah ibrahim berkata kepada anaknya, ”apakah engkau berpaling dari menyembah sesembahanku, wahai ibrahim? jika engkau tidak berhenti mencelanya, niscaya aku akan benar-benar membunuhmu dengan lemparan batu-batuan (kepadamu) pergilah dariku, jangan engkau temui aku, dan jangan biicara kepadaku untuk waktu yang lama.

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

qāla salāmun ‘alaīk, sa`astagfiru laka rabbī, innahụ kāna bī ḥafiyyā

 47.  Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

Ibrahim berkata kepada ayahnya, ”semoga keselamatan dariku selalu menaungimu, engkau tidak akan tertimpa sesuatu perlakuan yang buruk dariku. Dan aku akan berdoa kepada Allah bagimu agar engkau memperoleh hidayah dan ampunan. Sesungguhnya, Tuhanku Maha penyayang lagi Maha pengasih terhadap keadaanku, Dia mengabulkan permohonnanku ketika aku berdoa kepadaNya.

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

wa a’tazilukum wa mā tad’ụna min dụnillāhi wa ad’ụ rabbī ‘as& all& akụna bidu’&`i rabbī syaqiyyā

 48.  Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Dan aku tinggalkan kalian dan sesembahan yang kalian sembah, dan aku hanya berdoa kepada Tuhanku dengan ikhlas. Semoga aku tidak kecewa dengan do’a ku kepada Tuhanku, lantaran Dia mamberiku apa yang aku minta kepadaNya.

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

fa lamma’tazalahum wa mā ya’budụna min dụnillāhi wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụb, wa kullan ja’alnā nabiyyā

 49.  Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.

Maka ketika dia meninggalkan mereka dan sesembahan mereka yang mereka sembah selain Allah, Kami beri dia anak keturunan; ishaq dan ya’qub bin ishaq, dan Kami jadikan mereka berdua sebagai nabi.

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا

wa wahabnā lahum mir raḥmatinā wa ja’alnā lahum lisāna ṣidqin ‘aliyyā

 50.  Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.

Dan Kami anugerahkan kepada mereka semua karunia yang tak terhitung dari rahmat Kami. Dan Kami jadikan bagi mereka kesan yang baik dan sanjungan indah yang langgeng di tengah manusia.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi mụs& innahụ kāna mukhlaṣaw wa kāna rasụlan nabiyyā

 51.  Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.

Dan ceritakanlah (wahai rasul) di dalam al-qur’an ini kisah Musa  . sesungguhnya dia orang pilihan dan terbaik, dan dia seorang rasul dan nabi dari salah seorang dari para rasul ulul azmi.

وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا

wa nādaināhu min jānibiṭ-ṭụril-aimani wa qarrabnāhu najiyyā

 52.  Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).

Dan Kami telah memanggil musa dari sisi kanan gunung thur (sinai), Kami telah mendekatkannya, kemudian kami memuliakannya dengan munajat Kami kepadanya. Di dalam ayat ini terdapat penetapan sifat kalam (berbicara) bagi Allah  sesuai dengan keagungan dan kesempurnaanNya.

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا

wa wahabnā lahụ mir raḥmatin& akhāhu hārụna nabiyyā

 53.  Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.

Dan Kami telah menganugerahkan sebagian rahmat kami kepada Musa, yaitu saudaranya, harun, menjadi seorang nabi yang mendukung dan membelanya.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi ismā’īla innahụ kāna ṣādiqal-wa’di wa kāna rasụlan nabiyyā

 54.  Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.

Dan ceritakanlah (wahai rasul) di dalam al-qur’an ini kisah ismail , sesungguhnya dia seorang yang jujur dalam menepati janjinyya, tidaklah dia mengemukakan suatu janji, kecuali dia pasti menepatinya. Dan dia adalah seorang rasul lagi nabi.

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

wa kāna ya`muru ahlahụ biṣ-ṣalāti waz-zakāti wa kāna ‘inda rabbihī marḍiyyā

 55.  Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.

Dan dia menyuruh keluarganya untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan dia di sisi tuhannya adalah seorang yang diraidhai.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi idrīsa innahụ kāna ṣiddīqan nabiyyā

 56.  Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.

Dan ceritakanlah (wahai rasul) di dalam al-qur’an ini kisah idris . Dia seorang yang amat besar kejujurannya dalam tutur kata dan tindakannya, lagi seorang nabi yang mendapatkan wahyu.

وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

wa rafa’nāhu makānan ‘aliyyā

 57.  Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

Dan kami telah mengangkat namanya di tengah seluruh makhluk dan kedudukannya di antara orang-orang yang dekat (dengan Allah). Maka dia adalah seorang yang namanya ditinggikan penyebutannya dan kedudukannya tinggi.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩

ul&`ikallażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna min żurriyyati ādama wa mim man ḥamalnā ma’a nụḥiw wa min żurriyyati ibrāhīma wa isr&`īla wa mim man hadainā wajtabainā, iżā tutlā ‘alaihim āyātur-raḥmāni kharrụ sujjadaw wa bukiyyā

 58.  Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

Orang-orang yang telah Kami beritahukan kisah mereka kepadamu, wahai rasul, mereka itulah orang-orang yang telah dianugerahi Allah karunia dan taufik. Dia menjadikan mereka sebagai para nabi dari keturunan Adam dan dari keturunan orang-orang yang telah kami angkut bersama Nuh di dalam kapal, dan dari keturunan ibrahim, dari keturunan ya’qub, dan dari orang-orang yang telah Kami beri hidayah bagi mereka untuk beriman dan Kami pilih untuk mengemban risalah dan kenabian; mereka itu bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat tuhan yang maha pengasih yang memuat ajakan mentauhidkanNya dan hujjah-hujjahnya, mereka menyungkur bersujud kepada Allah dengan penuh ketundukan dan kerendahan. dan mereka menangis karena takut kepada Allah .

۞ فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

fa khalafa mim ba’dihim khalfun aḍā’uṣ-ṣalāta wattaba’usy-syahawāti fa saufa yalqauna gayyā

 59.  Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Lalu datanglah sepeninggal orang-orang yang telah diberi kenikmatan kepada mereka itu para pengikut yang berperilaku buruk, meningglakan semua kewajiban shalat, atau mengakhirkan waktu pelaksanaannya, atau meninggalkan rukun-rukun dan wajib-wajibnya, dan mengikuti apa saja yang sesuai dan sejalan dengan hawa nafsu mereka. Maka mereka itu akan menemui keburukan, kesesatan dan kerugian di neraka jahanam.

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

illā man tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa ul&`ika yadkhulụnal-jannata wa lā yuẓlamụna syai`ā

 60.  kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,

akan tetapi, siapa saja yang bertaubat dari mereka dari dosanya, beriman kepada tuhannya dan beramal shalih sebagai bentuk pembuktian atas taubatnya, maka mereka itu akan diterima taubatnya oleh Allah, dan mereka akan masuk kedalam surga bersama kaum mukminin lainnya serta mereka tidak mengalami pengurangan amal shalih mereka sedikitpun.

جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا

jannāti ‘adninillatī wa’adar-raḥmānu ‘ibādahụ bil-gaīb, innahụ kāna wa’duhụ ma`tiyyā

 61.  yaitu surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati.

Yaitu surga-surga abadi dan tempat tinggal kekal, yaitu surga yang dijanjikan Allah yang maha pengasih kepada para hambaNya melalui berita ghaib, lalu mereka mengimaninya, sedang mereka belum pernah menyaksikannya. Sesungguhnya janji Allah kepada hamba-hambaNya berupa surga pasti akan terwujud, tidak ada keraguan sama sekali.

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا ۖ وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

lā yasma’ụna fīhā lagwan illā salāmā, wa lahum rizquhum fīhā bukrataw wa ‘asyiyyā

 62.  Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang.

Para penghuni surga tidak mendengar perkataan batil di dalamnya. Namun mereka itu mendengar ucapan salam sebagai penghormatan bagi mereka. Dan di dalamnya, mereka memperoleh rizki mereka berupa makanan dan minuman secara terus-menerus, tiap kali mereka menghendakinya pagi dan sore, tidak terbatas dan tidak terhingga.

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا

tilkal-jannatullatī nụriṡu min ‘ibādinā mang kāna taqiyyā

 63.  Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.

Surga yang telah dikemukakan sifat-sifatnya tersebut, itulah surga yang Kami wariskan dan kami berikan kepada hamba Kami yang bertakwa kepada Kami dengan menjalankan perintah-perintah Kami dan menjauhi larangan-larangan Kami.

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

wa mā natanazzalu illā bi`amri rabbik, lahụ mā baina aidīnā wa mā khalfanā wa mā baina żālika wa mā kāna rabbuka nasiyyā

 64.  Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.

Dan katakanlah (wahai jibril), kepada Muhammad  “kami malaikat tidak turun dari langit menuju bumi, kecuali berdasarkan perintah tuhanmu kepada kami. kepunyaanNya semua yang ada di hadapan kita dari perkara akhirat yang akan terjadi dan apa-apa yang ada di belakang kita dari perkara yang telah berlalu di bumi dan semua yang ada di antara dunia dan akhirat, bagiNya semua ketetapan secara keseluruhan dalam masa dan tempat. Dan tidaklah tuhanmu lalai terhadap suatu apapun.

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā fa’bud-hu waṣṭabir li’ibādatih, hal ta’lamu lahụ samiyyā

 65.  Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Dia adalah tuhan (penguasa) langit dan bumi dan segala yang ada dianatra keduanya, dan pemilik semua itu, pencipta dan pengaturnya, maka beribadahlah kepadanya saja (wahai nabi), dan bersabarlah dalam ketaatan kepadaNya, engkau dan orang-orang yang mengikutimu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya dalam Dzat , nama-nama , sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya.

وَيَقُولُ الْإِنْسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا

wa yaqụlul-insānu a iżā mā mittu lasaufa ukhraju ḥayyā

 66.  Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?”

Dan manusia kafir akan berakta untuk mengingkari hari kebangkitan setelah kematian, ”bila aku nanti mati dan aku telah hancur, apakah kelak aku akan dikeluarkan dari kuburku dalam keadaan hidup-hidup?

أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا

a wa lā yażkurul-insānu annā khalaqnāhu ming qablu wa lam yaku syai`ā

 67.  Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?

Bagaimana bisa manusia kafir ini melupakan dirinya? tidaklah dia mengingat bahwa Kami telah menciptakannya pertama kali, sedang dia bukanlah sesuatu yang berwujud sama sekali?

فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا

fa wa rabbika lanaḥsyurannahum wasy-syayāṭīna ṡumma lanuḥḍirannahum ḥaula jahannama jiṡiyyā

 68.  Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.

Maka demi tuhanmu (wahai rasul) Kami akan benar-benar menghimpun orang-orang yang mengingkari kebangkitan (manusia setelah kematian) pada hari kiamat bersama setan-setan, kemudian pasti Kami akan datangkan mereka semua di sekeliling jahanam dengan dduk berlutut dengan lutut-lutut mereka karena begitu dahsyatnya keadaan menakutkan yang mengitari mereka, mereka tidak sanggup berdiri.

ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَٰنِ عِتِيًّا

ṡumma lananzi’anna ming kulli syī’atin ayyuhum asyaddu ‘alar-raḥmāni ‘itiyyā

 69.  Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Kemudian Kami akan ambil dari masing-masing kelompok itu orang-orang yang paling besar pembangkangnya dan paling durhaka kepada Allah, lalu Kami memulai dengan menyiksa mereka.

ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَىٰ بِهَا صِلِيًّا

ṡumma lanaḥnu a’lamu billażīna hum aulā bihā ṣiliyyā

 70.  Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

Kemudian Kami sungguh-sungguh lebih mengetahui orang-orang yang paling pantas memasuki neraka dan merasakan penderitaan dari panas apinya.

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

wa im mingkum illā wāriduhā, kāna ‘alā rabbika ḥatmam maqḍiyyā

 71.  Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

Dan tidak ada seorang pun dari kalian (wahai manusia) kecuali akan mendatangi neraka dengan melewati jembatan yang terbentang diatas jahanam. Masing-masing tergantung amal perbuatannya. hal itu merupakan suatu perkara yang sdah dipastikan. Allah  telah menentukan dan menetapkan bahwa sesungguhnya itu akan terjadi dengan pasti.

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

ṡumma nunajjillażīnattaqaw wa nażaruẓ-ẓālimīna fīhā jiṡiyyā

 72.  Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada tuhan mereka dengan taatan kepadaNya dan menjauhi maksiat kepadaNya. Dan Kami memberiarkan orang-orang yang telah menzhalimi diri mereka dengan perbuatan kekafiran kepada Allah berada di dalam neraka dengan keberadaan berlutut.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū ayyul-farīqaini khairum maqāmaw wa aḥsanu nadiyyā

 73.  Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?”

Dan apabila dibacakan ayat-ayat Kami yang diturunkan lagi dijelaskan kepada manusia, maka orang-orang yang kafir kepada Allah berkata kepada orang-orang yang beriman kepadaNya, ”manakah diantara golongan dari kami atau kalian yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih baik tempat duduknya?”

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا

wa kam ahlaknā qablahum ming qarnin hum aḥsanu aṡāṡaw wa ri`yā

 74.  Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata.

Dan berapa banyak yang telah kami binasakan dari umat-umat manusia sebelum orang-orang kafir dari kaummu (wahai rasul) mereka itu lebih baik barang-barang rumahnya dan lebih enak dipandang.

قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلَالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَٰنُ مَدًّا ۚ حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ إِمَّا الْعَذَابَ وَإِمَّا السَّاعَةَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضْعَفُ جُنْدًا

qul mang kāna fiḍ-ḍalālati falyamdud lahur-raḥmānu maddā, ḥatt& iżā ra`au mā yụ’adụna immal-‘ażāba wa immas-sā’ah, fa saya’lamụna man huwa syarrum makānaw wa aḍ’afu jundā

 75.  Katakanlah: “Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya”.

Katakanlah (wahai rasul) kepada mereka ”siapa saja yang sesat menyimpang dari kebenaran, tidak mengikuti jalan hidayah, maka Allah akan menunda waktu (hukuman baginya) dan memperpanjang masa baginya dalam kesesatannya, hingga ketika dia melihat dengan penuh keyakinaan apa yang Allah ancamkan, baik siksaan yang disegerakan di dunia maupun terjadinya hari kiamat maka waktu itulah dia akan tahu siapakah yang lebih buruk tempat dan kedudukannya dan lebih lemah kekuatan dan pasukannya.”

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا

wa yazīdullāhullażīnahtadau hudā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairum maraddā

 76.  Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.

Dan Allah akan menambahkan kepada hamba-hambaNya yang telah memperoleh petunjuk menuju agamaNya berupa hidayah diatas hidayah mereka melalui hal-hal baru yang senantiasa terjadi pada mereka berupa mengimani kewajiban-kewajiban kepada Allah dan mengamalkannya dan amal-amal shalih yang kekal itu lebih baik pahalanya disisi Allah di akhirat kelak dan lebih baik tempat kembali dan kesudahannya.

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا

a fa ra`aitallażī kafara bi`āyātinā wa qāla la`ụtayanna mālaw wa waladā

 77.  Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: “Pasti aku akan diberi harta dan anak”.

Apakah engkau telah mengetahui (wahai rasul) tahu dan merasa aneh terhadap orang kafir ini (al-ash bin wa’il) dan orang-orang yang serupa dengannya? sebab, dia telah kafir terhadap ayat-ayat Allah dan mendustakannya serta berkata, ”aku benar-benar diberi di akhirat kelak berupa harta kekayaan dan anak-anak. ”

أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

aṭṭala’al-gaiba amittakhaża ‘indar-raḥmāni ‘ahdā

 78.  Adakah ia melihat yang ghaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah?,

Apakah dia memang telah mengetahui perkara ghaib, sehingga dia bisa tahu bahwa dirinya akan memiliki harta kekayaan dan anak-anak, atau kah dia telah memiliki janji di sisi Allah untuk mendapatkan itu?

كَلَّا ۚ سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا

kallā, sanaktubu mā yaqụlu wa namuddu lahụ minal-‘ażābi maddā

 79.  sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-benar Kami akan memperpanjang azab untuknya,

Persoalannya tidak seperti yang disangka oleh orang kafir tersebut, dia tidak punya pengetahuan dan perjanjian disinya, Kami akan mencatat apa saja yang dikatakan oleh orang yang berbohong dan mengada-adakan terhadap kedustaan terhada Allah. Dan kami akan menambahinya di akhirat dengan berbagai macam siksaan, sebagaimana dia telah terus menerus bertambah melenceng dan sesat.

وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأْتِينَا فَرْدًا

wa nariṡuhụ mā yaqụlu wa ya`tīnā fardā

 80.  dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang diri.

Dan Kami akan mewarisi harta dan anaknya, dan dia akan datang kepada Kami pada hari kiamat sendirian saja, tanpa membawa harta kekayaan dan anak-anak.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا

wattakhażụ min dụnillāhi ālihatal liyakụnụ lahum ‘izzā

 81.  Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka,

Dan kaum musyrikin telah mengambil sesembahan yang mereka sembah selain Allah agar sesembahan itu membela mereka dan menjadi sumber sebagai kekuatan bagi mereka.

كَلَّا ۚ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

kallā, sayakfurụna bi’ibādatihim wa yakụnụna ‘alaihim ḍiddā

 82.  sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.

Persoalannya tidak seperti yang mereka duga. Sesembahan-sesembahan itu tidak akan mendatangkan kekuatan bagi mereka. bahakan justru sesembahan itu akan mengingkari penyembahan mereka di akhirat kelak. dan akan menjadi musuh-musuh dengan memusuhi dan mendustakan mereka, berkebalikan dengan apa yang mereka duga sebelumnya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

a lam tara ann& arsalnasy-syayāṭīna ‘alal-kāfirīna ta`uzzuhum azzā

 83.  Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?,

Tidakah kamu (wahai rasul) melihat bahwa sesungguhnya Kami menguasakan setan-setan yang kafir kepada Allah dan rasulNya untuk menyesatkan mereka dan menjauhkan mereka dari ketaatan menuju maksiat?

فَلَا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

fa lā ta’jal ‘alaihim, innamā na’uddu lahum ‘addā

 84.  maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.

Maka janganlah kamu (wahai rosul) tergesa-gesa meminta diturunkannya siksaan atas orang-orang kafir tersebut. Sebab sesungguhnya kami telah menghitung umur dan amal perbuatan mereka dengan perhitungan yang tidak ada unsur keteledoran dan penundaan di dalamnya.

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَٰنِ وَفْدًا

yauma naḥsyurul-muttaqīna ilar-raḥmāni wafdā

 85.  (Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat,

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرْدًا

wa nasụqul-mujrimīna ilā jahannama wirdā

 86.  dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.

85-86. Pada hari Kami akan mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada tuhan mereka yang penyayang kepada mereka sebagai rombongan utusan yang dimuliakan. Dan Kami mengiring kaum yang kafir kepada Allah dengan cara yang keras menuju neraka dalam keadaan berjalan lagi penuh kehausan.

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

lā yamlikụnasy-syafā’ata illā manittakhaża ‘indar-raḥmāni ‘ahdā

 87.  Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.

Orang-orang kafir itu tidak memiiliki hak memberi syafaat bagi siapapun. Hanyasanya Yang memilikinya adalah orang yang telah memiliki perjanjian dengan tuhan yang maha pengasih untuk memperolehnya, dan mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا

wa qāluttakhażar-raḥmānu waladā

 88.  Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.

Dan orang-orang kafir berkata, ”ar-rahman telah mengambil anak. ”

لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

laqad ji`tum syai`an iddā

 89.  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,

Sesungguhnya kalian (wahai orang-orang yang mengatakan pernyataaan tersebut) telah datang dengan membawa perkara besar yang sangat mungkar.

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا

takādus-samāwātu yatafaṭṭarna min-hu wa tansyaqqul-arḍu wa takhirrul-jibālu haddā

 90.  hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,

أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا

an da’au lir-raḥmāni waladā

 91.  karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.

90-91. Hampir-hampir langit pecah berkeping-keping akibat amat buruknya pernyataan tersebut, dan bumi telah terbelah serta gunung-gunung runtuh dengan menggelegar di dorong kemarahan karena Allah. Lantaran mereka menisbatkan anak kepadaNya. maha tinggi Allah dari hal tersebut setinggi-tingginya.

وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

wa mā yambagī lir-raḥmāni ay yattakhiża waladā

 92.  Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.

Tidak sepantasnya bagi Allah yang maha pengasih dan tidak layak dengan keagunganNya untuk mengambil anak. Sebab, mengambil anak menunjukan kekuarangan dan kebutuhan. Sedangkan Allah Dia maha kaya, maha terpuji, bebas dari seluruh jenis kekuarangan.

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

ing kullu man fis-samāwāti wal-arḍi ill& ātir-raḥmāni ‘abdā

 93.  Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.

Tidaklah sesuatupun yang ada di langit seperti malaikat, dan yang ada di bumi, seperti manusia dan jin, kecuali akan datang kepada tuhannya pada hari kiamat sebagai hamba yang hina lagi tunduk serta mengaku menghambakan diri kepadaNya.

لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا

laqad aḥṣāhum wa ‘addahum ‘addā

 94.  Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.

Sesungguhnya Allah  telah menghitung makhluk-makhlukNya semua dan mengetahui jumlah mereka, maka tidak ada seorangpun dari mereka yang tesembunyi olehNya.

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

wa kulluhum ātīhi yaumal-qiyāmati fardā

 95.  Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.

Dan tiap-tiap indiviidu dari semua makhluk akan datang (menghadap) kepada tuhannya pada hari kiamat sendiri-sendiri tanpa membawa harta maupun anak-anaknya sama sekali.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sayaj’alu lahumur-raḥmānu wuddā

 96.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-rasulNya serta beramal shalih sesuai petunjuk syariatNya, maka tuhan yang maha pengasih akan mengadakan rasa cinta dan sayang terhadap mereka pada hati-haati para hambaNYa.,

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

fa innamā yassarnāhu bilisānika litubasysyira bihil-muttaqīna wa tunżira bihī qaumal luddā

 97.  Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

Sesungguhnya Kami telah memudahkan al-qur’an ini dengan lisanmu berbahasa arab (wahai rasul) agar engkau dapat memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa dari para pengikutmu, dan memperingatkan dengannya orang-orang yang mendustakan lagi sangat besar penentangannya dengan dasar kebatilan.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا

wa kam ahlaknā qablahum ming qarn, hal tuḥissu min-hum min aḥadin au tasma’u lahum rikzā

 98.  Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?

Dan berapa banyak (wahai rasul) Kami membinasakan umat-umat manusia sebelum kaummu engkau tidak melihat seorangpun dari mereka itu dan engkau tidak mendengar suara apapun dari mereka. Demikian pula orang-orang kafir dari kaummu, Kami akan membinasakan mereka sebagaimana Kami telah membinasakan orang-orang dahulu sebelum mereka. Maka dalam ayat ini terdapat peringatan dan ancaman kebinasaan orang-orang yang mendustakan lagi menentang.

Related: Surat Thaha Arab-Latin, Surat al-Anbiya Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Hajj, Terjemahan Tafsir Surat al-Mu’minun, Isi Kandungan Surat an-Nur, Makna Surat al-Furqon

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Maryam 39 26