Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat an-Naml

طس ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ

Arab-Latin: ṭā sīn, tilka āyātul-qur`āni wa kitābim mubīn

Terjemah Arti:  1.  Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan,

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Tha. Ha). Keterangan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (di awal surat seperti ini) telah berlalu di muka pada permulaan surat al- baqarah. ayat-ayat al-Qur’an ini adalah ayat-ayat alkitab yang mulia yang terang maknanya lagi jelas petunjuknya dalam apa-apa yang terkandung padanya berupa ilmu-ilmu, hokum-hukum dan ajaran-ajaran syariat. Maka al-Qur’an adalah kitab. Allah menyatukan baginya dua nama sekaligus.

هُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

hudaw wa busyrā lil-mu`minīn

 2.  untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman,

Ia adalah ayat-ayat yang memandu menuju jalan kemenangan di dunia dan akhirat, memberitahukan kabar gembira berupa balasan yang baik bagi kaum Mukminin yang mengimaninya, dan memperoleh hidayah dengan petunjuknya,

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

allażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa hum bil-ākhirati hum yụqinụn

 3.  (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

yaitu orang-orang yang menegakkan shalat lima waktu dengan melaksanakan rukun-rukunnya yang sempurna dan memenuhi syarat-syarat, juga membayarkan zakat yang wajib kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan mereka itu meyakini terhadap kehidupan akhirat, dan pahala serta siksaan yang ada padanya.

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ

innallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati zayyannā lahum a’mālahum fa hum ya’mahụn

 4.  Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ

ulā`ikallażīna lahum sū`ul-‘ażābi wa hum fil-ākhirati humul-akhsarụn

 5.  Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.

4-5. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat dan tidak berbuat baik untuknya, Kami perlihatkan kepada mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka seakan-akan terlihat baik, sehingga mereka melihatnya tampak baik, sedang mereka itu dilanda keragu-raguan dan kebingungan tentang itu. Mereka itu adalah orang-orang yang akan mendapat siksaan yang buruk di dunia berupa dibunuh, ditawan, kehinaan dan kekalahan. Dan mereka di akhirat kelak adalah manusia yang paling merugi.

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

wa innaka latulaqqal-qur`āna mil ladun ḥakīmin ‘alīm

 6.  Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quran dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dan sesungguhnya kamu (wahai rasul) benar-benar merima al-Qur’an dari sisi Allah, Dzat Yang Mahabijaksana dalam penciptaan dan pengaturanNya, Yang pengetahuanNya meliputi segala sesuatu.

إِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

iż qāla mụsā li`ahlihī innī ānastu nārā, sa`ātīkum min-hā bikhabarin au ātīkum bisyihābing qabasil la’allakum taṣṭalụn

 7.  (Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: “Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang”.

Ingatlah kisah Musa, ketika ia berkata kepada keluarganya dalam perjalanannya dari Madyan menuju negeri Mesir, “Sesungguhnya aku menyaksikan api. Aku akan datang kepada kalian dengan membawa berita yang menunjukkan arah jalan yang tepat atau aku akan datang dengan membawa nyala api itu agar kalian dapat menghangatkan diri dengannya dari hawa dingin.”

فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

fa lammā jā`ahā nụdiya am bụrika man fin-nāri wa man ḥaulahā, wa sub-ḥānallāhi rabbil-‘ālamīn

 8.  Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.

8-12. Kemudian tatkala Musa mendatangi api itu, Allah memanggilnya dan memberitahukan kepadanya bahwa ini adalah suatu tempat yang disucikan Allah dan diberkahi olehNya. Maka Dia menjadikannya sebagai tempat untuk berbicara kepada Musa dan mengangkatnya sebagai rasul. Dan sesungguhnya Allah memberkahi siapa saja yang berada di api itu dan yang ada di sekitarnya dari kalangan malaikat, dan Mahasuci Allah, Penguasa seluruh makhluk dari segala yang tidak pantas bagiNya. “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah yang berhak diibadahi semata, yang Mahaperkasa Yang Kuasa untuk membalas musuh-musuhKu, juga Mahabijaksana dalam pengaturan makhluk-makhlukKu. Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ia (musa) melemparkan tongkatnya, lalu berubah menjadi seekor ular. Ketika melihatnya bergerak-gerak dengan mudah seperti rayapan ular yang cepat, Musa berbalik untuk lari, dan tidak kembali kepadanya. Maka Allah menenangkannya dengan FirmanNYa, “Wahai Musa, jangan takut. Sesungguhnya orang yang Aku utus kepada mereka dengan membawa risalahKu tidak takut disisiKu. Akan tetapi, orang yang melewati batas dengan berbuat dosa kemudian bertaubat dan menggantinya dengan taubat yang baik setelah buruknya dosa, sesungguhnya Aku Maha Pengampun baginya lagi Maha penyayang terhadapnya. Maka seseorang tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Dan masukkanlah tanganmu ke dalam kerah bajumu yang terbuka sampai ke dada, niscaya akan keluar dalam keadaan putih seperti salju, namun bukan karena penyakit kusta. Dua hal tersebut termasuk bagian dari Sembilan mukjizat yaitu tangan, tongkat, paceklik panjang, kekurangn buah-buahan, banjir bandang, belelang, kutu, katak, dan darah untuk menguatkanmu dalam menyampaikan risalah kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang telah keluar dari perintah Allah lagi kafir terhadapNya.”

يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

yā mụsā innahū anallāhul-‘azīzul-ḥakīm

 9.  (Allah berfirman): “Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

wa alqi ‘aṣāk, fa lammā ra`āhā tahtazzu ka`annahā jānnuw wallā mudbiraw wa lam yu’aqqib, yā mụsā lā takhaf, innī lā yakhāfu ladayyal-mursalụn

 10.  dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.

إِلَّا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

illā man ẓalama ṡumma baddala ḥusnam ba’da sū`in fa innī gafụrur raḥīm

 11.  tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka seaungguhnya Aku Maha Pangampun lagi Maha Penyayang.

وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ۖ فِي تِسْعِ آيَاتٍ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

wa adkhil yadaka fī jaibika takhruj baiḍā`a min gairi sū`in fī tis’i āyātin ilā fir’auna wa qaumih, innahum kānụ qauman fāsiqīn

 12.  Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik”.

8-12. Kemudian tatkala Musa mendatangi api itu, Allah memanggilnya dan memberitahukan kepadanya bahwa ini adalah suatu tempat yang disucikan Allah dan diberkahi olehNya. Maka Dia menjadikannya sebagai tempat untuk berbicara kepada Musa dan mengangkatnya sebagai rasul. Dan sesungguhnya Allah memberkahi siapa saja yang berada di api itu dan yang ada di sekitarnya dari kalangan malaikat, dan Mahasuci Allah, Penguasa seluruh makhluk dari segala yang tidak pantas bagiNya. “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah yang berhak diibadahi semata, yang Mahaperkasa Yang Kuasa untuk membalas musuh-musuhKu, juga Mahabijaksana dalam pengaturan makhluk-makhlukKu. Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ia (musa) melemparkan tongkatnya, lalu berubah menjadi seekor ular. Ketika melihatnya bergerak-gerak dengan mudah seperti rayapan ular yang cepat, Musa berbalik untuk lari, dan tidak kembali kepadanya. Maka Allah menenangkannya dengan FirmanNYa, “Wahai Musa, jangan takut. Sesungguhnya orang yang Aku utus kepada mereka dengan membawa risalahKu tidak takut disisiKu. Akan tetapi, orang yang melewati batas dengan berbuat dosa kemudian bertaubat dan menggantinya dengan taubat yang baik setelah buruknya dosa, sesungguhnya Aku Maha Pengampun baginya lagi Maha penyayang terhadapnya. Maka seseorang tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Dan masukkanlah tanganmu ke dalam kerah bajumu yang terbuka sampai ke dada, niscaya akan keluar dalam keadaan putih seperti salju, namun bukan karena penyakit kusta. Dua hal tersebut termasuk bagian dari Sembilan mukjizat yaitu tangan, tongkat, paceklk panjang, kekurangn buah-buahan, banjir bandang, belelang, kutu, katak, dan darah untuk menguatkanmu dalam menyampaikan risalah kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang telah keluar dari perintah Allah lagi kafir terhadapNya.”

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

fa lammā jā`at-hum āyātunā mubṣiratang qālụ hāżā siḥrum mubīn

 13.  Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Tatkala mukjizat-mukjizat tersebut telah datang kepada mereka dengan nyata lagi jelas yang dengan itu orang-orang yang menyaksikannya dapat mengetahui kebenaran kandungan yang ditunjukkan oleh mukjizat-mukjizat tersebut, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata lagi jelas.”

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

wa jaḥadụ bihā wastaiqanat-hā anfusuhum ẓulmaw wa ‘uluwwā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn

 14.  Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.

Dan firaun beserta kaumnya mendustakan mukjizat-mukjizat yang berjumlah Sembilan yang nyata petunjuknya tentang kebenaran Musa dalam pengakuan kenabian dan kebenaran dakwahnya. Dan mereka itu mengingkari bahwa itu semua dari sisi Allah dengan lisan-lisan mereka, padahal sesungguhnya mereka meyakininya dalam hati mereka, sebagai bentuk penentangan terhadap kebenaran lagi sikap arogan untuk mengakui. Maka lihatlah (wahai Rasul), bagaimana kesudahan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan melakukan perbuatan kerusakan di muka bumi, yaitu ketika Allah menenggelamkan mereka di dalam laut?. Dan dalam kejadian tersebut terdapat pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran.

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

wa laqad ātainā dāwụda wa sulaimāna ‘ilmā, wa qālal-ḥamdu lillāhillażī faḍḍalanā ‘alā kaṡīrim min ‘ibādihil-mu`minīn

 15.  Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”.

Dan sungguh Kami telah menganugerahkan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman, lalu mereka berdua mengamalkannya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kami dengan ilmu ini atas kebanyakan dari hambaNya yang beriman.” Pada ayat ini terdapat dalil petunjuk akan kemuliaan ilmu dan ketinggian martabat ahli ilmu.

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ ۖ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

wa wariṡa sulaimānu dāwụda wa qāla yā ayyuhan-nāsu ‘ullimnā manṭiqaṭ-ṭairi wa ụtīnā ming kulli syaī`, inna hāżā lahuwal-faḍlul-mubīn

 16.  Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.

Dan Sulaiman mewarisi bapaknya, Dawud, dalam kenabian, ilmu dan kekuasaan. Sulaiman berkata kepada kaumnya, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami telah diberi ilmu dan dikaruniai pemahaman tentang bahasa burung. Dan kami telah diberi segala sesuatu yang dibutuhkan. Sesungguhnya karunia yang Allah berikan kepada kami benar-benar merupakan karunia yang nyata yang membedakan antara kami dengan orang lain.”

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

wa ḥusyira lisulaimāna junụduhụ minal-jinni wal-insi waṭ-ṭairi fa hum yụza’ụn

 17.  Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

Dan dihimpunkan bagi Sulaiman bala tentaranya dari bangsa jin dan manusia serta burung dalam suatu perjalanan mereka. Mereka itu meskipun berjumlah banyak, mereka tidak terabaikan. Akan tetapi, setiap jenis makhluk memiliki pihak yang mengatur barisan pertama hingga barisan terakhir, agar mereka berdiri semua dengan rapi.

حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

hattā iżā atau ‘alā wādin-namli qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulụ masākinakum, lā yahṭimannakum sulaimānu wa junụduhụ wa hum lā yasy’urụn

 18.  Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

fa tabassama ḍāḥikam ming qaulihā wa qāla rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn

 19.  maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

18-19. Hingga ketika mereka sampai di sebuah lembah sarang semut, seekor semut berkata, “Wahai sekalian semut, masuklah kalian ke sarang-sarang kalian, agar Sulaiman dan bala tentaranya tidak membinasakan kalian, sedang mereka tidak menyadarinya.” Maka Sulaiman tersenyum sembari tertawa karena mendengar perkataan semut itu lantaran semut itu paham dan sadar untuk mengingatkan kawanan semut. Dan Sulaiman merasakan betapa besar nikmat Allah kepada dirinya, maka dia hadapkan hatinya kepadaNya dengan berdoa, “Wahai Tuhanku, berilah aku ilham dan taufik untuk mensyukuri kenikmatanMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar dapat beramal shalih sehingga Engkau ridha kepadaku, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam kenikmatan surgaMu bersama hamba-hambaMu yang shaleh yang telah Engkau ridhai amal perbuatan mereka.”

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ

wa tafaqqadaṭ-ṭaira fa qāla mā liya lā aral-hudhuda am kāna minal-gā`ibīn

 20.  Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

la`u’ażżibannahụ ‘ażāban syadīdan au la`ażbaḥannahū au laya`tiyannī bisulṭānim mubīn

 21.  Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

20-21. Sulaiman memeriksa keadaan burung-burung yang ditundukkan baginyan dan keadaan burung yang tidak hadir. Sebelumnya, ada besertanya seekor burung hud-hud yang istimewa lagi dikenal, akan tetapi dia tidak menjumpainya. Maka ia berkata, “Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud yang biasa aku lihat? Apakah ada penghalang yang menghalanginya dari (penglihatanku) ataukah ia termasuk yang tidak hadir di hadapanku, sehingga aku tidak bisa melihatnya karena ketidakhadirannya?” Tatkala sudah jelas bahwa ia tidak hadir, Sulaiman berkata, “Sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang pedih akibat ketidakhadirannya sebagai sanksi baginya atau aku akan benar-benar menyembelihnya sebagai hukuman atas perbuatannya karena ia tidak tunduk patuh terhadap aturan yang berlaku padanya, atau ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas yang berisi alasan ketidakhadirannya.”

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

fa makaṡa gaira ba’īdin fa qāla aḥaṭtu bimā lam tuḥiṭ bihī wa ji`tuka min saba`im binaba`iy yaqīn

 22.  Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

Maka burung hud-hud tidak hadir beberapa saat yang tidak lama. Kemudian ia menghadap, maka Sulaiman menegurnya atas ketidakhadiran dan keterlambatannya. Lalu hud-hud berkata kepadanya, “Aku telah mengetahui sesuatu perkara yang tidak engkau ketahui dengan baik. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ di Yaman dengan membawa berita yang sangat penting, dan aku yakin tentang itu.

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

innī wajattumra`atan tamlikuhum wa ụtiyat ming kulli syai`iu wa lahā ‘arsyun ‘aẓīm

 23.  Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang memerintah penduduk negeri Saba’, dan ia dianugerahi segala sesuatu dari berbagai bentuk kemewahan kehidupan dunia dan dia memiliki singgasana yang sangat besar bentuknya. Ia duduk dia atasnya untuk mengatur kerajaannya.

وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

wajattuhā wa qaumahā yasjudụna lisy-syamsi min dụnillāhi wa zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum fa ṣaddahum ‘anis-sabīli fa hum lā yahtadụn

 24.  Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

Aku mendapati dirinya dan kaumnya menyembah matahari, berpaling dari beribadah kepada Allah. dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan. Maka setan membelokkan mereka dari iman kepada Allah dan bertauhid kepadaNya. Mereka tidak memperoleh petunjuk jalan menuju kepada Allah, bertauhid kepadaNya serta beribadah kepadaNya semata.

أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

allā yasjudụ lillāhillażī yukhrijul-khab`a fis-samāwāti wal-arḍi wa ya’lamu mā tukhfụna wa mā tu’linụn

 25.  agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۩

allāhu lā ilāha illā huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm

 26.  Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”.

25-26. Setan menjadikan mereka memandang baik terhadap perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk) itu, agar mereka tidak bersujud kepada Allah Yang telah mengeluarkan hal-hal yang tersembunyi lagi tertutupi di langit dan di bumi seperti hujan, tanaman dan lain sebagainya. Dan Dia mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian tampakkan. Allah, Dia-lah Dzat Yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selainNya yang pantas untuk disembah. Dia Tuhan yang mempunyai Arasy yang agung yang merupakan makhluk yang paling besar.”

۞ قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

qāla sananẓuru a ṣadaqta am kunta minal-kāżibīn

 27.  Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

iż-hab bikitābī hāżā fa alqih ilaihim ṡumma tawalla ‘an-hum fanẓur māżā yarji’ụn

 28.  Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

27-28. Sulaiman berkata kepada hud-hud, “Kami akan analisa berita yang kamu bawa kepada kami, apakah kamu berkata jujur dalam perkara itu ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta padanya. Pergilah dengan membawa suratku ini kepada penduduk negeri Saba’ itu, dan berikan surat itu kepada mereka, lalu menyingkirlah kamu dengan jarak yang masih dekat dari mereka di mana kamu tetap bisa mendengar perkataan mereka. Lalu perhatikanlah perbincangan yang terjadi diantara mereka.”

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

qālat yā ayyuhal-mala`u innī ulqiya ilayya kitābung karīm

 29.  Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

Hud-hud pergi dan menjatuhkan surat itu kepada sang ratu. Kemudian sang ratu membacanya dan mengumpulkan seluruh pembesar dari kaumnya. Hud-hud mendengar ratu itu berkata kepada mereka, “Sesungguhnya telah sampai kepadaku surat yang isinnya penting dari seseorang yang berkedudukan agung.”

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

innahụ min sulaimāna wa innahụ bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

 30.  Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

allā ta’lụ ‘alayya wa`tụnī muslimīn

 31.  Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

30-31. Kemudian sang ratu menjelaskan isi surat itu dengan berkata, “ Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya ia dibuka dengan tulisan ‘Bismillahirrahmanirrahim. Janganlah kalian berlaku sombong dan bersikap congkak terhadap apa yang aku seru kalian kepadanya. Datanglah kepadaku dengan patuh kepada Allah dengan mengesakan dan ketaatan, lagi berserah diri kepadaNya.”

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّىٰ تَشْهَدُونِ

qālat yā ayyuhal-mala`u aftụnī fī amrī, mā kuntu qāṭi’atan amran ḥattā tasy-hadụn

 32.  Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.

Sang ratu berkata, “Wahai para pembesar, sampaikanlah kepadaku pendapat kalian dalam perkara ini. Aku tidaklah memutuskan dalam suatu perkara kecuali dengan kehadiran kalian dan pertimbangan dari kalian.”

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

qālụ naḥnu ulụ quwwatiw wa ulụ ba`sin syadīdiw wal-amru ilaiki fanẓurī māżā ta`murīn

 33.  Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Mereka berkata menjawabnya, “Kita ini adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dalam jumlah personel dan persenjataan dan kita adalah orang-orang yang bernyali tinggi dan berkeberanian dalam mengarungi pertempuran yang sengit, sedang (putusan) urusan ini terserah kepadamu, dan engkau adalah pemimpin yang berpikiran lurus, maka renungkanlah apa yang akan engkau perintahkan kepada kami? Kami akan dengar keputusanmu dan taat kepadamu.”

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

qālat innal-mulụka iżā dakhalụ qaryatan afsadụhā wa ja’alū a’izzata ahlihā ażillah, wa każālika yaf’alụn

 34.  Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

34-35. Sang ratu mengeluarkan pernyataan untuk memperingatkan mereka dari menghadapi Sulaiman dengan permusuhan lagi menjelaskan akibat buruk dari suatu pertempuran, “Sesungguhnya raja-raja bila mereka memasuki suatu negeri bersama dengan bala tentara mereka dengan paksa dan zhalim, mereka akan menghancurkannya dan menjadikan para pembesar negeri itu sebagai orang-orang yang hina. Mereka membunuhi dan melakukan penawanan. Inilah kebiasaan mereka yang terus berlangsung lagi tetap terjadi untuk memaksa manusia supaya takut kepada mereka. Dan sesungguhnya aku akan mengirim kepada Sulaiman dan kaumnya hadiah yang berisi bebagai harta yang mahal supaya aku dapat melunakkan hatinya dengannya dan aku akan menunggu apa yang dibawa kembali oleh para utusanku.”

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

wa innī mursilatun ilaihim bihadiyyatin fa nāẓiratum bima yarji’ul-mursalụn

 35.  Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

34-35. Sang ratu mengeluarkan pernyataan untuk memperingatkan mereka dari menghadapi Sulaiman dengan permusuhan lagi menjelaskan akibat buruk dari suatu pertempuran, “Sesungguhnya raja-raja bila mereka memasuki suatu negeri bersama dengan bala tentara mereka dengan paksa dan zhalim, mereka akan menghancurkannya dan menjadikan para pembesar negeri itu sebagai orang-orang yang hina. Mereka membunuhi dan melakukan penawanan. Inilah kebiasaan mereka yang terus berlangsung lagi tetap terjadi untuk memaksa manusia supaya takut kepada mereka. Dan sesungguhnya aku akan mengirim kepada Sulaiman dan kaumnya hadiah yang berisi bebagai harta yang mahal supaya aku dapat melunakkan hatinya dengannya dan aku akan menunggu apa yang dibawa kembali oleh para utusanku.

فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

fa lammā jā`a sulaimāna qāla a tumiddụnani bimālin fa mā ātāniyallāhu khairum mimmā ātākum, bal antum bihadiyyatikum tafraḥụn

 36.  Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Ketika para utusan ratu telah tiba dengan membawa hadiah bagi Sulaiman, Sulaiman berkata untuk mengingkari tindakan tersebut dan guna menyebut-nyebut kenikmatan-kenikmatan Allah yang terlimpah padanya, “Apakah kalian akan memperbanyak kekuasaan milikku dengan kekayaan untuk membuatku senang? Apa yang Allah anugerahkan kepadaku berupa kenabian, kerajaan dan kekayaan yang melimpah lebih baik dan lebih utama daripada apa yang diberikanNya kepada kalian. Bahkan kalianlah yang sebenarnya akan girang dengan hadiah yang diserahkan kepada kalian. Sebab, sesungguhnhya kalian adalah orang-orang yang suka membanggakan diri dengan kekayaan dunia lagi suka bersaing dengan jumlahnya yang banyak.”

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

irji’ ilaihim falana`tiyannahum bijunụdil lā qibala lahum bihā wa lanukhrijannahum min-hā ażillataw wa hum ṣāgirụn

 37.  Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.

Dan Sulaiman berkata kepada utusan dari negeri Saba’ itu, “Kembalilah kamu kepada mereka. Demi Allah, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang tidak ada kemampuan bagi mereka untuk melawan dan memeranginya. Dan sungguh kami akan mengusir mereka dari negeri mereka itu dalam keadaan terhina, sedang mereka menjadi orang-orang yang rendah lagi tertindas, bila tidak tunduk terhadap agama Allah semata, dan tidak meninggalkan peribadatan kepada selainNya.”

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

qāla yā ayyuhal-mala`u ayyukum ya`tīnī bi’arsyihā qabla ay ya`tụnī muslimīn

 38.  Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Sulaiman berkata kepada makhluk-makhluk yang Allah tundukkan baginya dari bangsa jin dan manusia, “Siapakah di antara kalian yang sanggup membawakan kepadaku singgasana kerajaannya yang besar sebelum mereka datang kepadaku dalam keadaan tunduk lagi taat?”

قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

qāla ‘ifrītum minal-jinni ana ātīka bihī qabla an taqụma mim maqāmik, wa innī ‘alaihi laqawiyyun amīn

 39.  Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

berkatalah makhluk bertenaga kuat lagi hebat dari bangsa jin, “Aku akan membawanya kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu itu untuk memutuskan diantara manusia. Dan sesungguhnya aku benar-benar sanggup untuk membawanya, dan dapat dipercaya untuk menjaga apa yang ada di dalamnya. Aku akan bawa sebagaimana bentuknya, aku tidak mengurangi apa pun darinya dan tidak aku ubah-ubah.”

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

qālallażī ‘indahụ ‘ilmum minal-kitābi ana ātīka bihī qabla ay yartadda ilaika ṭarfuk, fa lammā ra`āhu mustaqirran ‘indahụ qāla hāżā min faḍli rabbī, liyabluwanī a asykuru am akfur, wa man syakara fa innamā yasykuru linafsih, wa mang kafara fa inna rabbī ganiyyung karīm

 40.  Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Orang yang memiliki ilmu dari al-Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kedipan dua pelupuk matamu ketika bergerak untuk melihat sesuatu.” Maka Sulaiman mengizinkannya. Lalu orang itu berdoa kepada Allah, dan ia pun berhasil membawa singgasana itu. Ketika Sulaiman melihat singgasana itu tiba di depannya dan berada di sisinya, ia berkata, “Ini adalah diantara karunia Tuhanku yang telah menciptakanku dan menciptakan seluruh alam ini, guna mengujiku, apakah aku akan besyukur dengan kejadian itu sebagai pengakuan atas nikmat-nikmat Allah kepadaku ataukah aku akan mengkufuri nikmat dengan tidak bersyukur? Barangsiapa bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya, sesungguhnya manfaat bersyukur itu kembali padanya, dan barangsiapa mengingkari nikmat dan tidak bersukur, sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, tidak membutuhkan rasa syukurnya, juga Mahamulia yang kebaikannya merata meliputi orang yang bersyukur dan orang yang ingkar nikmat di dunia, kemudian Dia akan memperhitungkan amal perbuatan mereka dan memberikan balasan bagi mereka di akhirat.”

قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ

qāla nakkirụ lahā ‘arsyahā nanẓur a tahtadī am takụnu minallażīna lā yahtadụn

 41.  Dia berkata: “Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”.

Sulaiman berkata kepada makhluk-makhluk yang ada di sisinya, “Ubahlah bentuk singgasana kerajaannya yang dipakainya untuk duduk ke bentuk yang ia kenal bila ia melihatnya, supaya bisa kita lihat apakah ia sadar dapat mengenalnya ataukah termasuk orang-orang yang tidak menyadarinya?”

فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَٰكَذَا عَرْشُكِ ۖ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ ۚ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ

fa lammā jā`at qīla a hākażā ‘arsyuk, qālat ka`annahụ huw, wa ụtīnal-‘ilma ming qablihā wa kunnā muslimīn

 42.  Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

Ketika Ratu Saba’ datang kepada Sulaiman di majelisnya, maka dikatakan kepada wanita itu, “Apakah seperti ini singgasanamu?” ia menjawab, “Sesungguhnya itu menyerupainya.” Maka Sulaiman merasa bahwa wanita itu telah benar dalam jawabannya, dan sesungguhnya ia telah meyakini kekuasaan Allah dan kebenaran kenabian Sulaiman. Sulaiman berkata, “Dan kami telah diberi pengetahuan tentang Allah dan besarnya kekuasaanNya sebelum wanita itu. Dan kami adalah orang-orang yang tunduk kepada perintah Allah lagi mengikuti ajaran agama Islam.”

وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ

wa ṣaddahā mā kānat ta’budu min dụnillāh, innahā kānat ming qauming kāfirīn

 43.  Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Dan apa yang disembah oleh sang ratu selain Allah telah menghalang-halanginya untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya dia dahulu adalah seorang wanita yang kafir dan tumbuh berkembang ditengah kaum yang kafir dan terus berjalan di atas ajaran agama mereka. Hanya saja ia punya kecerdasan dan kepandaian yang dengan itu dia dapat mengetahui (membedakan) antara kebenaran dan kebatilan. Akan tetapi, keyakinan-keyakinan yang batil telah melenyapkan cahaya mata hatinya.

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qīla lahadkhuliṣ-ṣar-ḥ, fa lammā ra`at-hu ḥasibat-hu lujjataw wa kasyafat ‘an sāqaihā, qāla innahụ ṣar-ḥum mumarradum ming qawārīr, qālat rabbi innī ẓalamtu nafsī wa aslamtu ma’a sulaimāna lillāhi rabbil-‘ālamīn

 44.  Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Dikatakan kepadanya, “Masuklah kamu ke dalam istana.” Dan lantai istana terbuat dari kaca yang dibawahnya adalah air. Ketika ia menyaksikannya, ia mengira air yang gelombangnya mengarah kesana ke mari. Dan ia menyingkap kedua betisnya supaya bisa melewati air tersebut. Maka Sulaiman berkata kepadanya, “Sesungguhnya itu adalah lantai yang licin, terbuat dari kaca yang jernih, sedang aliran air ada di bawahnya.” Maka dengan itu, dia menyadari kebesaran kerajaan Sulaiman, dan berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku dengan perbuatan syirik yang sebelumnya aku perbuat, dan aku patuh kepada Sulaiman untuk mengikuti dan memeluk agama ajaran Tuhan seluruh alam semesta.”

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

wa laqad arsalnā ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥan ani’budullāha fa iżā hum farīqāni yakhtaṣimụn

 45.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah”. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan.

Dan sesungguhnya kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh (yang berseru), “Esakanlah Allah dan janganlah kalian mengadakan sesembahan lain bersamaNya.” Maka ketika Shaleh mendatangi mereka guna menyerukan (di tengah mereka) kepada bertauhid kepada Allah dan beribadah kepadaNya saja, kaumnya menjadi dua golongan: sebagian beriman kepadanya dan sebagian yang lain mengingkari dakwahnya. Dan masing-masing golongan mengkaliam bahwa kebenaran bersamanya.

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ ۖ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

qāla yā qaumi lima tasta’jilụna bis-sayyi`ati qablal-ḥasanah, lau lā tastagfirụnallāha la’allakum tur-ḥamụn

 46.  Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”.

Shaleh berkata kepada golongan yang kafir, “Mengapa kalian lebih cepat untuk mengingkari dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang akan mendatangkan siksaan bagi kalian dan menunda-nunda untuk beriman dan berbuat amal-amal kebaikan yang mendatangkan pahala bagi kalian? Kenapa kalian tidak memohon ampunan saja kepada Allah secara langsung dan bertaubat kepadanya dengan harapan kalian akan dilimpahkan rahmat?”

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

qāluṭ ṭayyarnā bika wa bimam ma’ak, qāla ṭā`irukum ‘indallāhi bal antum qaumun tuftanụn

 47.  Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”.

Kaum Shaleh berkata berkata kepadanya, “Kami mendapat kesialan dengan keberadaanmu dan orang yang bersamamu yang telah memeluk ajaran agamamu.” Shaleh berkata kepada mereka, “Apa yang kalian alami dari Allah berupa kebaikan atau keburukan, maka Dia-lah yang telah menakdirkannya pada kalian dan akan memberikan balasan dengan itu. Bahkan kalian adalah kaum yang diuji dengan kesenangan, kesusahan, kebaikan dan keburukan.”

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

wa kāna fil-madīnati tis’atu rahṭiy yufsidụna fil-arḍi wa lā yuṣliḥụn

 48.  Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.

Sebelumnya di kota Shaleh – yaitu al-Hijr yang terletak barat laut dari jazirah Arab- terdapat Sembilan orang laki-laki. Karakter mereka adalah melakukan perusakan di muka bumi tanpa diselingi sedikit pun unsur perbaikan.

قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

qālụ taqāsamụ billāhi lanubayyitannahụ wa ahlahụ ṡumma lanaqụlanna liwaliyyihī mā syahidnā mahlika ahlihī wa innā laṣādiqụn

 49.  Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.

Sembilan orang itu, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Mari kita saling bersumpah dengan Nama Allah, dengan cara tiap-tiap orang bersumpah di hadapan kawan-kawannya, ‘Kami benar-benar akan mendatangi Shaleh di malam hari, lalu kami akan membunuhnya dan menghabisi keluarganya’, kemudian kita akan berkata kepada ahli waris korban dari kerabatnya, ‘Kami tidak ikut serta dalam pembunuhan mereka, dan kami jujur dalam ucapan yang kami sampaikan’.”

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa makarụ makraw wa makarnā makraw wa hum lā yasy’urụn

 50.  Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.

Dan mereka pun mengatur strategi untuk membinasakan Shaleh dan keluarganya sebagai tindakan makar dari mereka, lalu Kami menolong Nabi kami, Shaleh, dan Kami siksa mereka dengan siksaan tanpa disangka-sangka, sedang mereka tidak pernah berasumsi akan datangnya tipu daya dari Kami sebagai balasan atas makar mereka itu.

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ

fanẓur kaifa kāna ‘āqibatu makrihim annā dammarnāhum wa qaumahum ajma’īn

 51.  Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.

Maka perhatikanlah (wahai Rasul) dengan pandangan yang seksama terhadap akibat penghianatan sekelompok orang itu terhadap Nabi mereka Shaleh. Sesungguhnya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

fa tilka buyụtuhum khāwiyatam bimā ẓalamụ, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy ya’lamụn

 52.  Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.

Itu adalah tempat-tempat tinggal mereka yang kosong, tidak ada seorang pun dari mereka di sana. Allah membinasakan mereka disebabkan tindak kezhaliman mereka terhadap diri mereka sendiri dengan perbuatan syirik dan mendustakan nabi mereka. Sesungguhnya dalam peristiwa pengahancuran dan pembinasaan itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mengetahui apa yang telah Kami perbuat terhadap mereka itu. Dan itu adalah ketetapan Kami terhadap orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.

وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

wa anjainallażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

 53.  Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.

Dan Kami selamatkan dari kebinasaan yang menimpa kaum Tsamud, Shaleh dan orang-orang yang beriman kepadanya, yang takut kepada siksaan Allah dengan keimanan mereka.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata wa antum tubṣirụn

 54.  Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

a innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumun taj-halụn

 55.  “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

54-55. Dan ingatlah Luth ketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kalian melakukan tindakan yang paling parah dalam keburukannya, sedang kalian mengetahui keburukannya? Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki melalui dubur-dubur mereka untuk memenuhi syahwat sebagai pengganti kaum wanita. Bahkan kalian adalah kaum yang bodoh terhadap hak Allah yang menjadi kewajiban kalian. Maka kalian menyelisihi perintahNya dengan tindakan tersebut, dan kalian durhaka kepada Rasul kalian dengan perbuatan kalian yang buruk itu yang tidak ada seorang pun dari semua makhluk di alam semesta ini yang pernah mendahului kalian.”

۞ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijū āla lụṭim ming qaryatikum innahum unāsuy yataṭahharụn

 56.  Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih”.

Maka tidak ada jawaban dari kaum Luth kepada Luth kecuali perkataan sebagian dari mereka kepada sebagian lainnya, “Usirlah keluarga Luth dari negeri kalian. Sesungguhnya mereka itu kumpulan orang yang tidak mau menggauli lelaki.” Orang-orang itu mengatakan hal itu kepada kawan-kawannya sebagai bentuk olokan terhadap mereka.

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِينَ

fa anjaināhu wa ahlahū illamra`atahụ qaddarnāhā minal-gābirīn

 57.  Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Lalu Kami selamatkan Luth dan keluarganya dari azab yang akan melanda kaum Luth kecuali istrinya, Kami telah takdir dia termasuk orang yang tertinggal dalam siksaan sehingga ikut binasa bersama orang-orang yang binasa. Sebab dia sesungguhnya mendukung kaumnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk mereka lagi menyetujuinya.

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā, fa sā`a maṭarul-munżarīn

 58.  Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.

Dan Kami hujani mereka dari langit dengan hujan batu yang berasal dari tanah yang membinasakan. Amat buruk hujan yang menimpa kaum yang sudah diperingatkan tersebut yang telah jelas hujjah di hadapan mereka.

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ ۗ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

qulil-ḥamdu lillāhi wa salāmun ‘alā ‘ibādihillażīnaṣṭafā, āllāhu khairun ammā yusyrikụn

 59.  Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”

Katakanlah (wahai Rasul) “Segala pujian dan syukur hanya milik Allah, dan keselamatan dariNya serta keamanan atas hamba-hambaNya yang telah Dia pilih untuk mengemban risalahNya.” Kemudian tanyakanlah kepada kaum musyrikin dari kaummu, “Apakah Allah yang memiliki kekuasaan mendatangkan manfaat dan keburukan yang lebih baik, ataukah obyek yang mereka persekutukan selain Allah yang tidak memiliki kuasa terhadap dirinya ataupun orang lain untuk memberikan manfaat dan kemadorotan?”

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ

am man khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa anzala lakum minas-samā`i mā`an fa ambatnā bihī ḥadā`iqa żāta bahjah, mā kāna lakum an tumbitụ syajarahā, a ilāhum ma’allāh, bal hum qaumuy ya’dilụn

 60.  Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).

Dan tanyalah mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan bagi kalian air dari langit, kemudian Dia menumbuhkan dengannya kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kalian tidak mungkin untuk menumbuhkan pohon-pohonnya, sekiranya Allah tidak menurunkan air dari langit. Sesungguhnya peribadahan kepada Allah itulah perkara yang haq, dan penyembahan terhadap selain Allah adalah perkara batil. Apakah ada tuhan bersama Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan tersbut di atas sehingga ia pantas disembah bersama Allah dan dipersekutukan denganNya? Bahkan orang-orang musyrik telah melenceng dari jalan kebenaran dan keimanan, lalu mereka menyamakan sesuatu dengan Allah dalam ibadah dan pengagungan.

أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

am man ja’alal-arḍa qarāraw wa ja’ala khilālahā an-hāraw wa ja’ala lahā rawāsiya wa ja’ala bainal-baḥraini ḥājizā, a ilāhum ma’allāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

 61.  Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

Apakah menyembah kepada apa-apa yang kalian persekutukan itu lebih baik dari menyembah Yang menjadikan bagi kalian bumi sebagai tempat tinggal dan menjadikan di tengah-tengahnya sungai-sungai dan menjadikan gunung-gunung sebagai pengokoh baginya dan menjadikan pemisah antara dua laut yang berair tawar dan berair asin sehingga salah satunya tidak merusak yang lain? Apakah ada tuhan yang disembah bersama Allah yang melakukan itu sehingga kalian kemudian menyekutukannya bersama Allah dalam ibadah kalian? Bahkan kebanyakan dari kaum musyrikin tidak mengetahui besarnya keagungan Allah. mereka menyekutukan sesuatu denganNya karena sekedar ikut-ikutan dan merupakan tindakan kezhaliman.

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

am may yujībul-muḍṭarra iżā da’āhu wa yaksyifus-sū`a wa yaj’alukum khulafā`al-arḍ, a ilāhum ma’allāh, qalīlam mā tażakkarụn

 62.  Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).

Apakah menyembah kepada apa-apa yang kalian persekutukan (dengan Allah) lebih baik dari menyembah Dzat Yang mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan ketika ia berdoa kepadaNya dan menyingkirkan keburukan yang menimpanya dan menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah pengganti orang-orang yang berada di muka bumi sebelumnya? Apakah ada tuhan di samping Allah yang memberikan kenikmatan-kenikmatan kepada kalian? Amat sedikit kalian yang mengingat dan mengambil pelajaran. Karena itu, kalian mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam beribadah kepadaNya.

أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

am may yahdīkum fī ẓulumātil-barri wal-baḥri wa may yursilur-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, a ilāhum ma’allāh, ta’ālallāhu ‘ammā yusyrikụn

 63.  Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).

Apakah penyembahan kepada apa-apa yang kalian persekutukan dengan Allah itu lebih baik dari Dzat Yang memandu kalian dalam kegelapan di daratan dan lautan ketika kalian tersesat jalan lalu jalan-jalan menjadi gelap bagi kalian, dan juga Yang menghembuskan angin-angin sebagai pemberi kabar gembira dengan apa-apa yang Allah akan merahmati hamba-hambaNya seperti hujan yang menghidupkan tanah yang telah tandus? Apakah ada tuhan bersama Allah yang melakukan sesuatu dari hal tersebut, lalu kalian menyerunya selain menyeru Allah? Allah Mahabersih dan Mahasuci dari apa yang mereka persekutukan denganNya.

أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

am may yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ wa may yarzuqukum minas-samā`i wal-arḍ, a ilāhum ma’allāh, qul hātụ bur-hānakum ing kuntum ṣādiqīn

 64.  Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

Dan tanyakanlah kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan makhluk dan kemudian membinasakannya ketika Dia menghendakinya kemudian mengulang penciptaannya kembali? Dan siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dengan menurunkan hujan dan dari bumi dengan ditumbuhkannya tanaman dan lainnya? Apakah ada tuhan selain Allah yang melakukan itu?” katakanlah, “Datangkanlah hujjah kalian bila kalian berkata jujur dalam klaim bahwa sesungguhnya Allah memiliki sekutu dalam kerajaan dan ibadah kepadanya.”

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

qul lā ya’lamu man fis-samāwāti wal-arḍil-gaiba illallāh, wa mā yasy’urụna ayyāna yub’aṡụn

 65.  Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الْآخِرَةِ ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْهَا ۖ بَلْ هُمْ مِنْهَا عَمُونَ

baliddāraka ‘ilmuhum fil-ākhirah, bal hum fī syakkim min-hā, bal hum min-hā ‘amụn

 66.  Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya.

65-66. Katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka, bahwa tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara-perkara ghaib yang hanya khusus diketahui oleh Allah semata. Dan mereka tidak tahu kapan akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka ketika Hari Kiamat datang. Bahkan ilmu mereka hanya akan menjadi sempurna di alam akhirat, lalu mereka meyakini kampung akhirat dan segala sesuatu yang terjadi disana berupa kengerian-kengerian ketika mereka menyaksikannya secara langsung, sedangkan di dunia mereka dalam keraguan terhadapnya, bahkan mata hati mereka telah buta terhadapnya.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ

wa qālallażīna kafarū a iżā kunnā turābaw wa ābā`unā a innā lamukhrajụn

 67.  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)?

Dan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah berkata, “Apakah kami dan nenek moyang kami akan dibangkitkan dalam keadaan hidup seperti bentuk kami sekarang setelah kematian kami sesudah kami berubah menjadi tanah?

لَقَدْ وُعِدْنَا هَٰذَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

laqad wu’idnā hāżā naḥnu wa ābā`unā ming qablu in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

 68.  Sesungguhnya kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala”.

Sungguh kami telah diberi ancaman tentang hari kebangkitan tersebut, begitu juga nenek moyang kami sebelumnya. Akan tetapi, kami belumlah melihat kebenaran dan kejadiannya. Ancaman ini tiada lain kecuali sesuatu yang ditulis dan diada-adakan oleh orang-orang dahulu berupa kedustaan-kedustaan dalam kitab-kitab mereka.”

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mujrimīn

 69.  Katakanlah: “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang yang mendustakan itu, “Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikanlah perkampungan orang-orang yang berbuat dosa sebelum kalian, bagaimanakah kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul? Allah membinasakan mereka karena pendustaan yang mereka perbuat. Dan Allah akan berbuat kepada kalian seperti pada mereka jika kalian tidak beriman.”

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُنْ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

wa lā taḥzan ‘alaihim wa lā takun fī ḍaiqim mimmā yamkurụn

 70.  Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan”.

Dan janganlah kamu bersedih hati atas sikap berpaling kaum musyrikin dan pendustaan mereka terhadapmu, dan janganlah hati kamu menjadi sempit gara-gara tipu daya mereka terhadapmu. Sesungguhnya Allah akan menolongmu atas mereka.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

 71.  Dan mereka (orang-orang kafir) berkata: “Bilakah datangnya azab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar”.

Dan orang-orang musyrik dari kaummu (wahai Rasul) akan berkata, “Kapankah ancaman dengan siksaan yang kamu dan para pengikutmu ancamkan kepada kami akan terjadi, bila kalian berkata benar dalam ancaman yang kalian sampaikan kepada kami?”

قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ رَدِفَ لَكُمْ بَعْضُ الَّذِي تَسْتَعْجِلُونَ

qul ‘asā ay yakụna radifa lakum ba’ḍullażī tasta’jilụn

 72.  Katakanlah: “Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari (azab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu.

Katakanlah kepada mereka (wahai Rasul) “Boleh jadi sudah dekat terhadap kalian sebagian siksaan Allah yang kalian minta disegerakan kedatangannya.”

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ

wa inna rabbaka lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡarahum lā yasykurụn

 73.  Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).

Dan sesungguhnya Tuhanmu itu benar-benar mempunyai karunia yang besar kepada sekalian manusia, dengan tidak menyegerakan siksaan bagi mereka atas perbuatan maksiat mereka kepada Allah dan kekafiran mereka kepadaNya. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak bersyukur kepada Allah atas itu, lalu mau beriman kepadaNya dan mengikhlaskan ibadah bagiNya semata.

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

wa inna rabbaka laya’lamu mā tukinnu ṣudụruhum wa mā yu’linụn

 74.  Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan.

Dan sesungguhnya Tuhanmu itu benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati makhlukNya dan apa saja yang mereka tampakkan.

وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa mā min gā`ibatin fis-samā`i wal-arḍi illā fī kitābim mubīn

 75.  Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).

Dan tidak ada sesuatu yang tidak terlihat oleh pandangan makhluk di langit dan di bumi, kecuali terdapat di dalam kitab yang nyata yang berada di sisi Allah. kitab itu telah meliputi seluruh peristiwa yang telah terjadi dan yang akan terjadi.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

inna hāżal-qur`āna yaquṣṣu ‘alā banī isrā`īla akṡarallażī hum fīhi yakhtalifụn

 76.  Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.

Sesungguhnya al-Qur’an ini menerangkan kepada Bani Israil tentang kebenaran dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan.

وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

wa innahụ lahudaw wa raḥmatul lil-mu`minīn

 77.  Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar merupakan sumber hidayah dari kesesatan dan rahmat dari azab bagi orang-orang yang mengimaninya dan mengambil hidayah dengan hidayahnya.

إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ بِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

inna rabbaka yaqḍī bainahum biḥukmih, wa huwal-‘azīzul-‘alīm

 78.  Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan perkara di antara orang-orang yang berselisih dari kalangan Bani Israil dan orang-orang selain mereka dengan keputusan hukumNya terhadap mereka, di mana Dia akan memberikan hukuman kepada orang yang batil dan memberikan balasan baik kepada orang yang berbuat baik. Dan Dia-lah Dzat Yang MahaPerkasa Yang selalu mengalahkan, maka keputusanNya tidak tertolak, juga Maha Mengetahui maka tidak samar bagiNya antara kebenaran dengan kebatilan.

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ

fa tawakkal ‘alallāh, innaka ‘alal-ḥaqqil-mubīn

 79.  Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.

Maka bergantunglah kamu (wahai Rasul) dalam seluruh urusanmu kepada Allah dan percayalah kepadaNya, sesungguhnya Dia-lah yang menolongmu dalam seluruh perkara. Sesungguhnya kamu benar-benar di atas kebenaran nyata yang tidak ada keragu-raguan padanya.

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

innaka lā tusmi’ul-mautā wa lā tusmi’uṣ-ṣummad-du’ā`a iżā wallau mudbirīn

 80.  Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.

Sesungguhnya kamu (wahai Rasul) tidak kuasa untuk memperdengarkan kebenaran kepada orang yang telah dicap hatinya oleh Allah, sehingga mematikan hatinya, dan kamu (juga) tidak mampu untuk memperdengarkan seruan dakwahmu kepada orang yang sudah ditulikan pendengarannya oleh Allah untuk mendengar kebenaran saat mereka membalikkan badan berpaling dari dirimu. Karena orang yang tuli tidak akan bisa mendengar seruan apabila mereka menghadap, apalagi apabila mereka membelakangi.

وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ

wa mā anta bihādil-‘umyi ‘an ḍalālatihim, in tusmi’u illā may yu`minu bi`āyātinā fa hum muslimụn

 81.  Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.

Dan kamu (wahai Rasul) tidak akan dapat memberi hidayah dari kesesatan bagi orang yang telah dibutakan oleh Allah dari melihat kebenaran dan jalan lurus. Dan tidak mungkin bagimu untuk memperdengarkannya, kecuali kepada orang yang mengimani ayat-ayat Kami, dan mereka itu berserah diri, taat dan menyambut seruan dakwahmu kepada mereka.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

wa iżā waqa’al-qaulu ‘alaihim akhrajnā lahum dābbatam minal-arḍi tukallimuhum annan-nāsa kānụ bi`āyātinā lā yụqinụn

 82.  Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.

Dan apabila ketetapan azab telah jatuh pada mereka karena mereka terus menerus hanyut dalam maksiat dan perbuatan yang melampaui batas serta sikap berpaling mereka dari ajaran syariat Allah dan hukumNya, sehingga mereka menjadi makhluk Allah yang paling jahat, maka Kami keluarkan kepada mereka dari muka bumi di akhir zaman satu pertanda dari tanda-tanda kiamat yang besar, yaitu sejenis binatang yang akan memberitahukan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia yang mengingkari hari kebangkitan, mereka itu tidak mengimani al-Qur’an, Muhammad dan ajaran agamanya dan tidak juga beramal shalih.

وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ

wa yauma naḥsyuru ming kulli ummatin faujam mim may yukażżibu bi`āyātinā fa hum yụza’ụn

 83.  Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).

Pada Hari kami menghimpun dari tiap-tiap umat segolongan orang yang mendustakan dalil-dalil dan hujjah-hujjah Kami, dimana barisan pertama dari mereka ditahan hingga orang-orang yang terakhir dari mereka supaya mereka semua dapat bergabung menjadi satu. Kemudian mereka digiring menuju proses perhitungan amal perbuatan.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوا قَالَ أَكَذَّبْتُمْ بِآيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْمًا أَمَّاذَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

ḥattā iżā jā`ụ qāla a każżabtum bi`āyātī wa lam tuḥīṭụ bihā ‘ilman ammāżā kuntum ta’malụn

 84.  Hingga apabila mereka datang, Allah berfirman: “Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau apakah yang telah kamu kerjakan?”.

وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لَا يَنْطِقُونَ

wa waqa’al-qaulu ‘alaihim bimā ẓalamụ fa hum lā yanṭiqụn

 85.  Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa).

84-85. Hingga ketika telah datang dari tiap-tiap umat segolongan orang dari orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka sudah berkumpul, Allah berfirman kepada mereka, “Apakah kalian mendustakan ayat-ayatKu yang telah Aku turunkan kepada para rasulKu, dan mendustakan ayat-ayatKu yang Aku jadikan sebagai petunjuk atas kewajiban bertauhid kepadaKu dan hakKu untuk diibadahi, sedang kalian tidak mengetahui tentang kebatilannya, sehingga kalian kemudian berpaling darinya dan mendustakannya? Atau apakah yang telah kalian kerjakan?” Dan telah jatuh ketetapan siksaan pada mereka, disebabkan kezhaliman dan pendustaan mereka. Mereka itu tidak berbicara dengan dasar hujjah yang dapat mereka jadikan sebagai penolak siksaan buruk yang menimpa mereka.

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a lam yarau annā ja’alnal-laila liyaskunụ fīhi wan-nahāra mubṣirā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

 86.  Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Apakah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami itu tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam hari sebagai waktu mereka beristirahat dan tidur, dan siang hari mereka dapat melihat dengan terang untuk berusaha dalam mencari penghidupan mereka? Sesungguhnya dalam kejadian pengendalian keduanya benar-benar terdapat petunjuk bagi kaum yang mengimani kesempurnaan kekuasaan Allah, keesaan dan agungnya kenikmatan-kenikmatan dariNya.

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

wa yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri fa fazi’a man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā`allāh, wa kullun atauhu dākhirīn

 87.  Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.

Dan ingatlah (wahai rasul) hari ketika malaikat akan meniup sangkakala, sehingga terkejutlah semua makhluk yang ada di langit dan di bumi dengan dahsyat karena tiupan yang mengerikan tersebut, kecuali orang yang Allah kecualikan dari orang-orang yang Allah muliakan dan dilindungi dari keterkejutan mendengarnya. Dan seluruh makhluk akan datang kepada Tuhan mereka dalam keadaan hina dina lagi tunduk patuh.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

wa taral-jibāla taḥsabuhā jāmidataw wa hiya tamurru marras-saḥāb, ṣun’allāhillażī atqana kulla syaī`, innahụ khabīrum bimā taf’alụn

 88.  Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan kamu akan melihat gunung-gunung yang kamu kira mereka berhenti dan diam tak bergerak, padahal ia berjalan dengan jalan yang cepat sebagaimana perjalanan awan yang ditiup oleh hembusan angina. Ini termasuk perbuatan Allah yang telah membuat segala sesuatu dengan indah dan merapikannya. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang diperbuat oleh hamba-hambaNya, perbuatan yang baik maupun yang buruk, dan akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan tersebut.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ khairum min-hā, wa hum min faza’iy yauma`iżin āminụn

 89.  Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.

Barangsiapa datang membawa tauhidullah, beriman kepadaNya dan hanya beribadah kepadaNya semata, serta amal-amal shalih pada Hari Kiamat, maka baginya di sisi Allah pahala besar yang lebih baik dan lebih utama darinya, yaitu surga. Dan mereka itu akan aman pada hari ketakutan yang terdahsyat.

وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa man jā`a bis-sayyi`ati fa kubbat wujụhuhum fin-nār, hal tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

 90.  Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.

Dan barangsiapa datang dengan membawa kesyirikan dan perbuatan-perbuatan buruk lagi keji, maka balasan bagi mereka adalah Allah akan menyeret mereka dengan wajah-wajah mereka di neraka pada Hari Kiamat. Dan akan dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan terhadap mereka, “Bukankah kalian diberi balasan sesuai dengan apa yang kalian perbuat di dunia dahulu?”

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

innamā umirtu an a’buda rabba hāżihil-baldatillażī ḥarramahā wa lahụ kullu syai`iw wa umirtu an akụna minal-muslimīn

 91.  Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ

wa an atluwal-qur`ān, fa manihtadā fa innamā yahtadī linafsih, wa man ḍalla fa qul innamā ana minal-munżirīn

 92.  Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan”.

91-92. Katakanlah (wahai Rasul) kepada sekalian manusia, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Pemilik negeri ini (Makkah) yang telah dijadikan kota suci olehNya atas makhlukNya, agar mereka tidak menumpahkan darah (orang) yang haram dibunuh, atau menzhalimi seseorang didalamya, atau membidik hewan buruan, dan menebang pepohonannya. Dan milikNya-lah segala sesuatu. Dan aku diperintah supaya menjadi orang-orang yang patuh terhadap perintahNya, yang bersegera untuk menaatiNya, dan agar aku membacakan al-Qur’an kepada sekalian manusia. Maka barangsiapa mendapatkan hidayah melalui kandungannya dan mengikuti risalah yang aku bawa, sesungguhnya kebaikan dan balasan baiknya teruntuk bagi dirinya saja.” Dan barangsiapa yang tersesat dari kebenaran, maka katakanlah (wahai Rasul), “Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kalian dari azab dan hukuman Allah jika kalian tidak beriman. Aku hanyalah salah seorang di antara para rasul yang (ditugaskan untuk) memberi peringatan kepada kaum mereka, dan bukan di tanganku sedikit pun taufik memberikan hidayah itu”

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

wa qulil-ḥamdu lillāhi sayurīkum āyātihī fa ta’rifụnahā, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ta’malụn

 93.  Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan”.

Dan ucapkanlah (wahai Rasul) pujian yang baik bagi Allah. Dia akan memperlihatkan kepada kalian ayat-ayat kebesaranNya pada diri kalian, di langit dan dibumi, maka kalian akan mengetahuinya dengan pengetahuan yang akan memandu kalian menuju kepada kebenaran dan menjelaskan kepada kalian tentang kebatilan. Dan tidaklah Tuhanmu itu lalai dari apa yang kalian perbuat. Dan Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas perbuatan kalian tersebut.

Related: Surat al-Qashash Arab-Latin, Surat al-Ankabut Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat ar-Rum, Terjemahan Tafsir Surat Luqman, Isi Kandungan Surat as-Sajdah, Makna Surat al-Ahzab

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!