Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat an-Nisa

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Arab-Latin: yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakumullażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa khalaqa min-hā zaujahā wa baṡṡa min-humā rijālang kaṡīraw wa nisā`ā, wattaqullāhallażī tasā`alụna bihī wal-ar-ḥām, innallāha kāna ‘alaikum raqībā

Terjemah Arti:  1.  Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Wahai manusia yang takut kepada Allah dan berpegang teguh kepada perintah-perintahNYA serta menjauhi larangan-laranganNYA, DIA lah Dzat yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,yaitu adam dan darinya DIA menciptakan istrinya, yaitu hawwa’, selanjutnya Dia menyebarkandari keduanya di seluruh penjuru bumi kaum lelaki dan kaum wanita yang banyak. Dan hendaknya kalian selalu merasa diawasi Allah yang sebagian dari kalian meminta sebagian yang lain dengan NamaNYA. Hindarilah memutus hubungan silaturahim kalian. Sesungguhnya Allah selalau mengawasi seluruh keadaan kalian.

وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

wa ātul-yatāmā amwālahum wa lā tatabaddalul-khabīṡa biṭ-ṭayyibi wa lā ta`kulū amwālahum ilā amwālikum, innahụ kāna ḥụbang kabīrā

 2.  Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

Dan berikanlah kepada anak-anak yang telah ditinggal mati oleh ayah-ayah mereka sebelum usia baligh, (sedang kalian berstatus sebagai penerima wasiat), harta-harta mereka ketika mereka telah mencapai usia baligh, dan kalian telah dapat melihat dari mereka adanya kemampuan untuk menjaga harta mereka. Dan janganlah kalian mengambil barang yang baik harta mereka dan menukar harta tersebut dengan barang buruk dari harta kalian. Dan janganlah kalian mencampuradukan antara harta mereka dengan harta milik kalian denga tujuan supaya kalian bias mencari alasan untuk bias memakan harta mereka dengan itu. Sesungguhnya orang yang lancang melakukannya, sungguh dia telah mengerjakan dosa yang besar.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

wa in khiftum allā tuqsiṭụ fil-yatāmā fangkiḥụ mā ṭāba lakum minan-nisā`i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā’, fa in khiftum allā ta’dilụ fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta’ụlụ

 3.  Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Dan jika kalian khawatir tidak bisa berbuat adil dalam memperlakukan anak-anak yatim perempuan yang berada di bawah tanggung jawab kalian, dengan tidak memberikan kepada mereka mahar-mahar mereka seperti wanita lainnya, maka tinggalkanlah mereka dan nikahi wanita-wanita yang kalian sukai sealin mereka, dua, tiga, atau empat. Lalu apabila kalian khawatir tidak dapat berbuat adil di antara mereka, maka cukuplah kalian dengan satu saja, atau dengan budak-budak perempuan yang kalian miliki. Hal itulah yang telah Aku syariatkan bagi kalian terkait anak-anak yatim perempuan dan menikahi seorang wanita sampai empat, atau cukup menikahi seorang perempuan saja ata hambasahaya perempuan yang kalian miliki, itu adalah lebih dekat untuk tidak berbuat curang dan melampaui batas.

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

wa ātun-nisā`a ṣaduqātihinna niḥlah, fa in ṭibna lakum ‘an syai`im min-hu nafsan fa kulụhu hanī`am marī`ā

 4.  Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

Dan berikanlah oleh kalian (wahai laki-laki) kepada wanita-wanita berupa maskawin sebagai pemberian yang harus diserahkan dan kewajiban yang mengikat dari kebaikan diri kalian. Apabila diri mereka rela menyerahkan sebagian dari maskawin itu dan menghadiahkannya kepada kalian, maka ambillah dan pergunakanlah sekehendak kalian, maka itu hukumnya halal lagi baik

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

wa lā tu`tus-sufahā`a amwālakumullatī ja’alallāhu lakum qiyāmaw warzuqụhum fīhā waksụhum wa qụlụ lahum qaulam ma’rụfā

 5.  Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Dan janganlah kalian berikan (wahai para wali), harta-harta kepada orang-orang yang akan menghamburkannya dari orang-orang lelaki, wanita dan anak-anak yang berada di bawah pengawasan kalian, sehingga mereka nanti akan mempergunakannnya pada cara-cara yang tidak sepatutnya. Harta-harta itu adalah merupakan tumpuan bagi kehidupan manusia. Dan berilah nafkah kepada mereka dari harta mereka dan berilah mereka pakaian darinya, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang baik-baik dalam bentuk tutur kata yang indah dan perilaku yang baik.

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

wabtalul-yatāmā ḥattā iżā balagun-nikāḥ, fa in ānastum min-hum rusydan fadfa’ū ilaihim amwālahum, wa lā ta`kulụhā isrāfaw wa bidāran ay yakbarụ, wa mang kāna ganiyyan falyasta’fif, wa mang kāna faqīran falya`kul bil-ma’rụf, fa iżā dafa’tum ilaihim amwālahum fa asy-hidụ ‘alaihim, wa kafā billāhi ḥasībā

 6.  Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

Dan ujilah orang-orang yang berda dalam pengasuhan kalian dari anak-anak yatim untuk mengetahui kemapuan mereka mengelola harta mereka dengan baik, sehingga apabila dia telah mencapai usia baligh dan kalian melihat keshalihan pribadi mereka dalam beragama dan kemampuan untuk menjaga harta benda mereka, maka serahkanlah (harta benda) itu kepada mereka, dan janganlah kalian berbuat melampaui batas terhadapnya dengan mempergunakannya bukan pada tempat yang sepatutnya dengan berlebih-lebihan dan bersegera menghabiskannya sebelum mereka mengambilnya dari kalian. Barangsiapa diantara kalian memiliki harta cukup ,hendaknya menjaga diri dengan kecukupan yang ada pada dirinya dan tidak mengambil sedikitpun dari harta anak yatim. Dan barang siapa yang miskin, hendaknya mengambil sesuai kebutuhannya saja ketika darurat. Lalu apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka mampu menjaga harta-harta mereka setelah mereka mencapai usia baligh dan kalian serahkan harta itu kepada mereka maka persaksikanlah atas mereka, demi memastikan sampainya hak mereka dengan sempurna kepada mereka, dan agar mereka tidak mengingkari di kemudian hari. Dan cukuplah Allah bagi kalian bahwa DIA mengawasi kalian dan memperhitungkan amal perbuatan kalian sesuai apa yang kalian perbuat.

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

lir-rijāli naṣībum mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụna wa lin-nisā`i naṣībum mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụna mimmā qalla min-hu au kaṡur, naṣībam mafrụḍā

 7.  Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.

Bagi para lelaki (baik masih kecil atau sudah dewasa) ada bagian jatah yang telah disyariatkan Allah dalam harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan karib kerabat, sedikit ataupun banyak, dalam bagian-bagian tertentu lagi sudah jelas yang Allah  tetapkan bagi mereka dan bagi kaum perempuan juga seperti itu.

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

wa iżā ḥaḍaral-qismata ulul-qurbā wal-yatāmā wal-masākīnu farzuqụhum min-hu wa qụlụ lahum qaulam ma’rụfā

 8.  Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

dan apabila pembagian warisan di hadiri oleh karib kerabat mayit yang tidak mempunyai hak waris atau didatangi oleh anak-anak yang telah ditinggal mati oleh ayah-ayah mereka,sedang mereka masih kecil-kecil, atau orang-orang yang tidak memiliki harta untuk mencukupi mereka atau menutupi kebutuhan mereka, maka berikanlah kepada mereka sekedarnya dari harta warisan itu sebagi bentuk anjuran semata sebelum pembagian warisan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dan katakanlah kepada mereka ucapan yang baik-baik, bukan ucapan yang kasar dan juga ucapan jelek.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

walyakhsyallażīna lau tarakụ min khalfihim żurriyyatan ḍi’āfan khāfụ ‘alaihim falyattaqullāha walyaqụlụ qaulan sadīdā

 9.  Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggal dan meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang masih kecil-kecil atau lemah, yang mereka takutkan mengalami kezhaliman atau tak terurus, maka hendaknya mereka selalu merasa diawasi oleh Allah dalam memperlakukan orang yang berada di bawah tanggungannya dari anak-anak yatim dan anak-anak lainnya, yaitu dengan cara menjaga harta benda mereka, mendidik mereka dengan baik, dan menyingkirkan segala gangguan dari mereka dan hendaklah berkata kepada mereka dengan ucapan yang sejalan dengan semangat keadilan dan yang baik-baik.

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

innallażīna ya`kulụna amwālal-yatāmā ẓulman innamā ya`kulụna fī buṭụnihim nārā, wa sayaṣlauna sa’īrā

 10.  Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat melampaui batas terhadap harta-harta milik anak-anak yatim, lalu mereka mengambilnya tanpa hak, sebenarnya mereka itu hanyalah memakan api yang akan menyala-nyala dalam perut mereka pada hari kiamat, dan mereka akan memasuki neraka, serta merasakan panasnya.

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

yụṣīkumullāhu fī aulādikum liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayaīn, fa ing kunna nisā`an fauqaṡnataini fa lahunna ṡuluṡā mā tarak, wa ing kānat wāḥidatan fa lahan-niṣf, wa li`abawaihi likulli wāḥidim min-humas-sudusu mimmā taraka ing kāna lahụ walad, fa il lam yakul lahụ waladuw wa wariṡahū abawāhu fa li`ummihiṡ-ṡuluṡ, fa ing kāna lahū ikhwatun fa li`ummihis-sudusu mim ba’di waṣiyyatiy yụṣī bihā au daīn, ābā`ukum wa abnā`ukum, lā tadrụna ayyuhum aqrabu lakum naf’ā, farīḍatam minallāh, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

 11.  Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Allah mewasiatkan kepada kalian dan memerintahkan kalian terkait kepentingan anak-anak kalian. Bila sesorang dari kalian meninggal dunia dan dia meninggalkan anak-anak, lelaki maupun perempuan, maka harta warisan itu seluruhnya menjadi milik mereka, bagi anak lelaki setara dengan bagian dua anak perempuan, apabila tidak ada ahli waris selain mereka. Maka Jika meninggalkan anak-anak perempuan saja,maka bagi dua anak perempuan atau lebih,dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Apabila anak perempuannya berjumlah seorang anak saja,maka baginya setengah dari harta. Dan bagi ayah-ibu mayit, masing-masing memperoleh seperenam, jika si mayit memiliki anak, lelaki atau perempuan, berjumlah satu orang anak atau lebih. Dan apabila yang meninggal tidak mempunyai anak, sedang ahli warisnya hanya ibu-dan bapaknya, maka bagi ibunya, bagian sepertiga, dan bagi ayahnya bagian yang tersisa. Lalu jika yang meninggal mempunyai saudara, berjumlah dua orang atau lebih, baik lelaki ataupun perempuan, maka ibunya mendapatkan seperenam, ayahnya bagian yang tersisa, sedang saudara-saudara mayit tidak mendapatkan apa-apa. Cara pembagian harta warisan ini hanya dilakukan setelah disisihkannya harta yang di wasiatkan oleh orang yang meninggal dalam batasan sepertiganya atau disisihkannya nominal sebesar tanggungan hutangnya. Bapak-bapak dan anak-anak kalian yang telah di tetapkan menerima bagian harta warisan, kalian tidak mengetahui siapakah diantara mereka yang lebih mendatangkan manfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat kalian. Maka janganlah lebih mengutamakan seseorang dari mereaka diatas yang lain. Apa yang telah Aku tetapkan ini merupakan perkara yang diwajibkan kepada kalian dari Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui makhluk-makhlukNYA, juga maha bijaksana dalam perkara yang di syariatkanNYA bagi mereka.

۞ وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۚ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ ۚ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

wa lakum niṣfu mā taraka azwājukum il lam yakul lahunna walad, fa ing kāna lahunna waladun fa lakumur-rubu’u mimmā tarakna mim ba’di waṣiyyatiy yụṣīna bihā au daīn, wa lahunnar-rubu’u mimmā taraktum il lam yakul lakum walad, fa ing kāna lakum waladun fa lahunnaṡ-ṡumunu mimmā taraktum mim ba’di waṣiyyatin tụṣụna bihā au daīn, wa ing kāna rajuluy yụraṡu kalālatan awimra`atuw wa lahū akhun au ukhtun fa likulli wāḥidim min-humas-sudus, fa ing kānū akṡara min żālika fa hum syurakā`u fiṡ-ṡuluṡi mim ba’di waṣiyyatiy yụṣā bihā au dainin gaira muḍārr, waṣiyyatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥalīm

 12.  Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Dan bagi kalian (kaum lelaki),setengah dari harta yang di tinggalkan oleh istri-istri kalian setelah mereka meninggal, jika mereka tidak mempunyai anak, baik anak lelaki atau perempuan. Jika istri-istri mempunyai anak, maka bagi kalian seperempat dari harta yang mereka tinggalkan. Kalian mendapatkan warisan itu sesudah dijalankannya wasiat mereka yang diperbolehkan oleh syariat atau pembayaran utang mereka kepada para pemiliknya. Dan bagi istri-istri kalian (wahai kaum laki-laki), seperempat dari harta yang kalian tinggalkan, jika kalian tidak mempunyai anak laki-laki atau perempuan dari istri-istri itu atau dari istri yang lain. Lalu apabila kalian memiliki anak lelaki atau perempuan,maka bagi istri-istri bagian seperdelapan dari harta yang kalian tinggalkan. Bagian seperdelapan atau seperempat ini di bagiakan rata kepada mereka. Apabila istri seorang saja,maka bagian itu menjadi hak warisnya sendirian, sesudah di penuhinya wasiat-wasiat yang kalian nyatakan, yang diperbolehkan oleh syariat atau pelunasan hutang yang menjadi tanggungan kalian. Dan apabila seseorang lelaki atau wanita meninggal,sedang dia tidak memiliki anak atau orang tua,namun memiliki saudara lelaki ataupun saudara perempuan seibu, maka masing-masing dari mereka berdua mendapatkan bagian seperenam. Apabila jumlah saudara lelaki atau perempuan seibunya berjumlah lebih dari satu, maka mereka bersekutu dalam bagian sebanyak sepertiga, yang dibagi rata diantara mereka, tanpa ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Aturan yang telah ditetapkan oleh Allah bagi saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara perempuan seibu ini, mereka mengambilnya sebagai warisan bagi mereka sesudah di laksanakan wasiatnya bila ia telah mengeluarkan wasiat dengan sebagian harta dan dilunasinya utang-utang orang yang meninggal itu, yang tidak mengakibatkan mudarat terhadap ahli waris. Dengan aturan ini tuhan kalian memerintahkan kepada kalian pesan bermanfaat bagi kalian. Dan Allah maha mengetahui perkara-perkara yang akan memperbaiki keadaan makhluk-mahklukNYA, juga maha penyantun,tidak menyegerakan pada mereka dengan siksaan.

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

tilka ḥudụdullāh, wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālikal-fauzul-‘aẓīm

 13.  (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

demikian itu Ketetapan-ketetapan hukum ilahiyah yang Allah syariatkan terkait anak-anak yatim, kaum wanita, dan pembagian warisan, mereupakan ajaran-ajaran syariatNYa yang menunjukan bahwa itu berasal dari sisi Allah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan rasulNYA dalam perkara yang telah disyariatkan terhadap hamba-hambaNYA dari hukum-hukum dan perkara lain, niscaya DIA akan memasukkannya kedalam surga-surga yang penuh dengan pepohonan dan istana-istana,yang mana sungai-sungai mengalir di bawahnya dengan aliran air yang tawar. Dan mereka abadi berada didalam kenikmatannya, tidak keluar darinya. Dan balasan pahala tersebut merupakan keberuntungan yang besar.

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ wa yata’adda ḥudụdahụ yudkhil-hu nāran khālidan fīhā wa lahụ ‘ażābum muḥīn

 14.  Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNYa dengan mengingkari hukum-hukum Allah dan melampaui batas yang telah disyariatkan Allah bagi hamba-hambaNYa dengan mengubah atau meninggalkan pengamalannya, niscaya DIA akan memasukkannya ke dalam neraka, dia tinggal di dalamnya, dan baginya siksaan yang menistakan dan menghinakannya.

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا

wallātī ya`tīnal-fāḥisyata min nisā`ikum fastasy-hidụ ‘alaihinna arba’atam mingkum, fa in syahidụ fa amsikụhunna fil-buyụti ḥattā yatawaffāhunnal-mautu au yaj’alallāhu lahunna sabīlā

 15.  Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya.

Dan orang-orang yang melakukan zina dari wanita-wanita kalian, maka datangkanlah oleh kalian (wahai para penguasa dan hakim), empat orang lelaki lurus dari kaum muslimin yang bersaksi atas mereka. Maka apabila mereka itu bersaksi atas wanita-wanita itu dengan perbuatan tersebut, maka kurunglah wanita-wanita itu di dalam rumah sampai kehidupan mereka berakhir dengan kematian atau Allah mengadakan cara lain bagi mereka untuk terbebas dari hukuman tersebut.

وَاللَّذَانِ يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا ۖ فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا عَنْهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا رَحِيمًا

wallażāni ya`tiyānihā mingkum fa āżụhumā, fa in tābā wa aṣlaḥā fa a’riḍụ ‘an-humā, innallāha kāna tawwābar raḥīmā

 16.  Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Dan dua orang yang melakukan perbuatan zina, maka hukumlah mereka berdua dengan pukulan,pengucilan,dan celaan. Maka apabila mereka sudah bertaubat dari perbuatan yang mereka terjerumus di dalamnya dan telah memperbaiki diri dengan apa yang mereka lakukan berupa amal-amal shalih, maka hentikanlah untuk menyakiti mereka berdua. Dapat diambil pelajaran dari ayat ini dan ayat sebelumnya bahwa kaum lelaki bila melakuakan perbuatan keji (zina), maka mereka dikenai hukuman-hukuman.dan perempuan dikurung serta dihukum. Kurungan berakhir dengan kematian. Sementara hukuman-hukuman berakhir dengan adanya taubat dan perbaikan diri. Ketetapan ini dahulu berlaku di awal datangnya islam.Kemudian dimansukh (diganti) dengan ajaran yang disyariatkan Allah dan rasulNYA, yaitu hukum rajam bagi lelaki muhsan dan wanita muhshanah, yakni lelaki dan wanita yang merdeka, baligh lagi berakal, yang pernah melakukan hubungan intim dalam pernikahan yang sah. Dan hukuman dera sebanyak 100 pukulan dan pengasingan selama satu tahun bagi selain mereka berdua. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat hamba-hambaNYA yang mau bertaubat, lagi Maha penyayang kepada mereka.

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

innamat-taubatu ‘alallāhi lillażīna ya’malụnas-sū`a bijahālatin ṡumma yatụbụna ming qarībin fa ulā`ika yatụbullāhu ‘alaihim, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

 17.  Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya Allah hanyalah menerima taubat dari orang-orang yang mengerjakan maksiat-maksiat dan dosa-dosa lantaran ketidaktahuan mereka terhadap akibatnya dan potensinya mendatangkan kemurkaan Allah maka tiap orang yang bermaksiat kepada Allah,tanpa sengaja, atau tidak disengaja, orang itu adalah orang yang jahil(bodoh) berdasarkan pertimbangan ini, meskipun dia mengerti bahwa hal itu diharamkan. Kemudian mereka kembali kepada tuhan mereka degan penyesalan dan ketaatan sebelum menyaksikan datangnya kematian dengan jelas, maka mereka itu adalah orang-orang yang Allah menerima taubat mereka. Dan Allah maha mengetahui hamba-hambaNYA, juga Maha bijaksana dalam pengaturan dan ketetapan takdirNYA. Pelajaran dari ayat : • Taubat yang disukai Allah adalah taubanya orang yang berbuat dosa karena kebodohannya, bukan karena dia mengetahui tanpa pula dengan terus menerus lalu bertaubat dengan segera.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

wa laisatit-taubatu lillażīna ya’malụnas-sayyi`āt, ḥattā iżā ḥaḍara aḥadahumul-mautu qāla innī tubtul-āna wa lallażīna yamụtụna wa hum kuffār, ulā`ika a’tadnā lahum ‘ażāban alīmā

 18.  Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Dan bukanlah penerimaan taubat itu diperuntukan bagi orang-orang yang masih terus melanjutkan berbuat maksiat-maksiat dan tidak kembali kepada tuhan mereka hingga akhirnya datang kepada mereka sakaratul maut, lalu salah seorang dari mereka mengucapkan ”sesungguhnya sekarang saya mau bertauabat,” sebagaimana tidak diterimanya taubat orang-orang yang mati dalam keadaan mengingkari lagi menolak keesaan Allah dan risalah rasulNYA, Muhammad  orang-orang yang masih meneruskan perbuatan maksiatnya hingga mati dan orang-orang yang ingkar yang mati dalam keadaan kafir, Kami telah menyediakan bagi mereka siksaan yang pedih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaḥillu lakum an tariṡun-nisā`a kar-hā, wa lā ta’ḍulụhunna litaż-habụ biba’ḍi mā ātaitumụhunna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf, fa ing karihtumụhunna fa ‘asā an takrahụ syai`aw wa yaj’alallāhu fīhi khairang kaṡīrā

 19.  Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Wahai orang-orang yang beriman, tidak boleh bagi kalian menjadikan istri-istri ayah-ayah kalian sebagai bagian dari harta pusaka warisan mereka, dimana kalian dapat berbuat sesuka hati terhadap wanita-wanita itu dengan menikahi mereka atau melarang mereka menikah, atau menikahkan mereka dengan orang lain, padahal mereka itu tidak menyukai seluruh hal tersebut. Dan tidak boleh bagi kalian untuk menyebabkan kemudaratan terhadap istri-istri kalian, lantaran kalian membenci mereka, supaya mereka bersedia menanggalkan sebagian yang telah kalian berikan kepada mereka berupa maskawin atau hal lainnya, kecuali jika dia berbuat sesuatu perbuatan yang kotor seperti berzina, maka saat itu kalian boleh menahan merekea sampai kalian mengambil apa yang telah diberikan kepada mereka. Dan hendaknya asas pergaulan kalian terhadap istri-istri kalian berlandaskan hasrat untuk memuliakan dan cinta dan memenuhi hak-hak mereka. Kemudian apabila kalian membenci mereka dikarenakan suatu factor duniawi, maka bersabarlah. Bias jadi kalian membenci suatu perkara dan lalu muncul darinya kebaikan yang muncul melimpah ruah.

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

wa in arattumustibdāla zaujim makāna zaujiw wa ātaitum iḥdāhunna qinṭāran fa lā ta`khużụ min-hu syai`ā, a ta`khużụnahụ buhtānaw wa iṡmam mubīnā

 20.  Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?

Dan apabila kalian menginginkan mengganti istri dengan wanita lainnya, dan kalian telah memberikan kepada istri yang hendak kalian ceraikan harta yang banyak sebagai maskawin baginya, maka tidak halal bagi kalian untuk mengambil dari maskawin tersebut sedikitpun. Apakah kalian akan tetap mengambilnya dengan jalan dusta dan mengada-ada yang nyata?

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

wa kaifa ta`khużụnahụ wa qad afḍā ba’ḍukum ilā ba’ḍiw wa akhażna mingkum mīṡāqan galīẓā

 21.  Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

dan bagaimana bisa halal bagi kalian,untuk mengambil apa yang telah kalian serahkan kepada mereka dari maskawin, sedang masing-masing dari kalian berdua telah saling menikmati melalui hubungan badan dan merekapun telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat, untuk mempertahankan mereka dengan cara baik-baik atau melepas mereka dengan cara baik-baik pula.

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا

wa lā tangkiḥụ mā nakaḥa ābā`ukum minan-nisā`i illā mā qad salaf, innahụ kāna fāḥisyataw wa maqtā, wa sā`a sabīlā

 22.  Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

Dan janganlah kalian menikahi wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian, kecuali apa yang telah terjadi sebelumnya pada kalian,dan telah berlalu di masa jahiliyyah, maka tidak ada hukuman padanya. Sesungguhnya pernikahan anak-anak laki-laki dengan istri-istri ayah-ayah mereka merupakan perkara buruk yang amat keji dan begitu besar kebejatannya, lagi sangat dibenci, Allah memurkai pelakunya. Dan itu adalah seburuk-buruk jalan dan cara hidup yang kalian jalani pada masa jahiliyyah kalian.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

ḥurrimat ‘alaikum ummahātukum wa banatukum wa akhawātukum wa ‘ammātukum wa khālātukum wa banatul-akhi wa banatul-ukhti wa ummahātukumullātī arḍa’nakum wa akhawātukum minar-raḍā’ati wa ummahātu nisā`ikum wa raba`ibukumullātī fī ḥujụrikum min-nisā`ikumullātī dakhaltum bihinna fa il lam takụnụ dakhaltum bihinna fa lā junāḥa ‘alaikum wa ḥalā`ilu abnā`ikumullażīna min aṣlābikum wa an tajma’ụ bainal-ukhtaini illā mā qad salaf, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

 23.  Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah mengharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian,termasuk dal itu juga nenek-nenek kalian dari jalur ayah dan ibu,dan putri-putri kalian dan mencakup anak-anak perempuan dari anak-anak sendiri dan demikian seterusnya; dan saudari-saudari kandung kalian,atau saudari seayah atau seibu;’ammah(bibi-bibi) kalian;yaitu saudari ayah-ayah dan kakek-kakek kalian,dan khalah(bibi-bibi);yaitu saudari ibu-ibu dan nenek-nenek kalian,anak-anank dan saudari-saudari lelaki kalian,dan anak-anak perempuan dari saudari-saudari kalian.Termasuk didalamnya anak-anak mereka.Dan ibu-ibu kalian yang menyusui kalian dan saudari-saudari kalian dalam persusuan. Dan sesungguhnya rasulullah  telah mengharamkan melalui persusuan apa yang diharamkan melalui nasab. Dan ibu-ibu dari istri-istri kalian, sama saja kalian telah berhubungan badan dengan istri-istri kalian atau belum, dan anak-anak istri-istri kalian yang berasal dari lelaki lain yang umumnya tumbuh di dalam rumah-rumah kalian dan dibawah pengasuhan kalian. Mereka itu haram dinikahi,meskipun tidak dibawah pengasuhan kalian, dengan syarat telah terjadi hubungan badan dengan ibu-ibu mereka. Apabila kalian belum mencampuri ibu-ibu mereka,dan kalian sudah menceraikan ibu-ibu mereka atau sudah meninggal dunia sebelum terjadi hubungan badan, maka tidak masalah bagi kalian untuk menikahi putri-putri mereka. Sebagaimana Allah sudah mengharamkan atas kalian istri-istri anak-anak lelaki kalian yang berasal dari tulang sulbi kalian sendiri dan anak-anak yang dimasukkan ke dalam kategori tersebut,yaitu anak-anak kalian yang melalui persusuan. Pengharaman ini berlaku sejak terjadi akad pernikahan dengannya,baik anak lelaki tersebut telah mencampurinya atau belum mencampurinya. Dan dia mengharamkan atas kalian menggabungkan dua perempuan bersaudara dalam satu nasab atau satu persusuan dalam satu waktu,kecualai apa yang telah terjadi dan berlalu dari kalian di masa jahiliyyah. Demikian pula tidak boleh menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dari jalur ayah atau ibunya, sebagaimana tertuang dalam dalil assunnah. Sesungguhnya Allah maha pengampun kepada orang-orang yang berbuat dosa bila mereka mau bertaubat, Maha penyayang terhadap mereka,tidak membebankan kepada mereka Sesuatu yang tidak mereka sanggupi.

۞ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

wal-muḥṣanātu minan-nisā`i illā mā malakat aimānukum, kitāballāhi ‘alaikum, wa uḥilla lakum mā warā`a żālikum an tabtagụ bi`amwālikum muḥṣinīna gaira musāfiḥīn, fa mastamta’tum bihī min-hunna fa ātụhunna ujụrahunna farīḍah, wa lā junāḥa ‘alaikum fīmā tarāḍaitum bihī mim ba’dil-farīḍah, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

 24.  dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan diharamkan juga atas kalian menikahi wanita-wanita bersuami, kecuali wanita-wanita dari mereka yang kalian tawan dalam peperangan. Sesungguhnya menikahi mereka itu halal bagi kalian, setelah melewati Memastian kosongnya Rahim-rahim mereka dengan sekali haid. Allah telah menetapkan atas kalian pengharaman menikahi mereka dan memperbolehkan menikahi wanita-wanita selain mereka dari wanita-wanita yang Allah menghalalkan kalian untuk mencari dengan harta-harta yang kalian miliki, cara untuk menjaga kehormatan kalian dari perbuatan haram. Kemudian istri-istri yang kalian telah nikmati dari mereka melalui pernikahan yang sah,maka berikanlah kepada mereka mahar-mahar mereka yang telah Allah wajibkan atas kalian.Tidak ada dosa atas kalian dalam kesepakatan yang saling meridoi yang terjalin di antara kalian untuk menambah atau mengurangi kadar mahar sesudah kewajiban membayar mahar tersebut ditentukan. Sesungguhnya Allah  Maha Mengetahui urusan-urusan hamba-hambaNYA, juga Maha bijaksana dalam ketetapan-ketetapan hukum dan pengaturanNYA.

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُمْ ۚ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۚ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa mal lam yastaṭi’ mingkum ṭaulan ay yangkiḥal-muḥṣanātil-mu`mināti fa mimmā malakat aimānukum min fatayātikumul-mu`mināt, wallāhu a’lamu bi`īmānikum, ba’ḍukum mim ba’ḍ, fangkiḥụhunna bi`iżni ahlihinna wa ātụhunna ujụrahunna bil-ma’rụfi muḥṣanātin gaira musāfiḥātiw wa lā muttakhiżāti akhdān, fa iżā uḥṣinna fa in ataina bifāḥisyatin fa ‘alaihinna niṣfu mā ‘alal-muḥṣanāti minal-‘ażāb, żālika liman khasyiyal-‘anata mingkum, wa an taṣbirụ khairul lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

 25.  Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan barangsiapa yang tidak berkemampuan baginya untuk membayar mahar-mahar wanita-wanita meredeka yang beriman, maka dia boleh menikahi selain wanita merdeka dari budak-budak wanita yang beriman. Dan Allah Maha mengetahui hakikat keimanan kalian. Sebagian kalian itu berasal dari sebagian yang lain, maka nikahilah mereka dengan persetujuan dari keluarga/pemiliknya, dan berikanlah kepada mereka mahar mereka dengan jumlah yang sesuai dengan keridoan diantara kalian dengan kerelaan hati dari kalian, sedang mereka adalah wanita-wanita yang memelihara kehormatan diri mereka dari perbuatan haram,bukan wanita-wanita yang dengan terang-terangan berbuat zina, serta bukan wanita-wanita yang diam-diam mengambil lelaki-lelaki simpanan. Apabila mereka sudah menikah dan kemudian melakukan perbuatan zina, maka mereka dikenakan hukuman (dera bukan rajam) setengah hukuman dari hukuman wanita-wanita meredeka. Ketetapan yang diperbolehkan untuk menikahi wanita-wanita hamba sahaya dengan sifat-sifat di atas, hanyalah diperbolehkan bagi orang yang merasa takut dirinya akan terjerumus kedalam perzinaan dan dia mengalami kesulitan berat untuk menahan hasrat berhubungan badan. Dan bersabar menahan hasrat menikahi hamba sahaya wanita itu disertai dengan menjaga kehormatan lebih baik dan lebih utama. Dan Allah Maha pengampun terhadap kalian,juga Maha penyayang kepada kalian, lantaran mengizinkan kalian menikahi wanita-wanita hambasahaya ketika kondisi tidak memungkinkan menikahi wanita-wanita merdeka.

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yurīdullāhu liyubayyina lakum wa yahdiyakum sunanallażīna ming qablikum wa yatụba ‘alaikum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 26.  Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Allah berkehendak melalui aturan-aturan syariat ini, untuk menerangkan kepada kalian rambu-rambu agamaNYA yang lurus dan syariatNYA yang bijaksana, dan menunjukan kalian kepada jalan para nabi dan orang-orang shalih sebelum kalian dalam perkara yang halal dan haram, dan menerima taubat kalian dengan kembali mengerjakan ketaatan-ketaatan. Dan DIA  Maha Mengetahui hal yang akan memperbaiki keadaan hamba-hambaNYA, Maha bijaksana dalam ajaran yang disyariatkanNYA untuk kalian.

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

wallāhu yurīdu ay yatụba ‘alaikum, wa yurīdullażīna yattabi’ụnasy-syahawāti an tamīlụ mailan ‘aẓīmā

 27.  Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

Dan Allah berkehendak menerima taubat kalian, dan memafkan kesalahan-kesalahan kalian. Sedangkan orang-orang yang mengikuti nafsu syahwat mereka dan kesenangan mereka berkeinginan supaya kalian melenceng dari agama kalian sejauh-jauhnya.

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

yurīdullāhu ay yukhaffifa ‘angkum, wa khuliqal-insānu ḍa’īfā

 28.  Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

Allah  menghendaki dengan ajaran yang disyariatkanNYA kepada kalian suatu kemudahan dan tidak adanya kesulitan bagi diri kalian, dikarenakan sesungguhnya kalian diciptakan dalam keadaan bersifat lemah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā ta`kulū amwālakum bainakum bil-bāṭili illā an takụna tijāratan ‘an tarāḍim mingkum, wa lā taqtulū anfusakum, innallāha kāna bikum raḥīmā

 29.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNYA serta melaksanakan syariatNYA, tidak halal bagi kalian untuk memakan harta sebagian kalian kepada sebagian yang lainnya tanpa didasari Haq, kecuali telah sejalan dengan syariat dan pengahasilan yang dihalalkan yang bertolak dari adanya saling rido dari kalian. Dan janganlah sebagian kalian membunuh sebagian yang lain,akibatnya kalian akan membinasakan diri kalian dengan melanggar larangan-larangan Allah dan maksiat-maksiat kepadaNYA. Sesungguhnya Allah Maha penyayang kepada kalian dalam setiap perkara yang Allah memerintahkan kalian untuk mengerjakannya dan perkara yang Allah melarang kalian melakukanya.

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

wa may yaf’al żālika ‘udwānaw wa ẓulman fa saufa nuṣlīhi nārā, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

 30.  Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Dan barangsiapa mengerjakan sesuatu yang telah Allah larang mengerjakannya berupa mengambil harta haram seperti;mencuri,merampas,menipu dengan melanggar hak orang lain dan bertindak di luar batas ajaran syariat,maka Allah kelak akan memasukkannya kedalam neraka, ia akan merasakan panasnya.Dan hal itu mudah bagi Allah.

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

in tajtanibụ kabā`ira mā tun-hauna ‘an-hu nukaffir ‘angkum sayyi`ātikum wa nudkhilkum mudkhalang karīmā

 31.  Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

jika kalian (wahai kaum mukminin), menjauhi dosa-dosa besar seperti perbuatan menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa yang tidak dibenarkan dan perkara-perkara lainnya, niscaya Kami akan menghapuskan dari kalian dosa-dosa yang lebih rendah darinya berupa dosa-dosa kecil, dan kami akan memasukkan kalian kedalam tempat yang mulia, yaitu surga.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba’ḍakum ‘alā ba’ḍ, lir-rijāli naṣībum mimmaktasabụ, wa lin-nisā`i naṣībum mimmaktasabn, was`alullāha min faḍlih, innallāha kāna bikulli syai`in ‘alīmā

 32.  Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan janganlah kalian berharap memperoleh sesuatu yang Allah unggulkan dengannya sebagian orang di atas sebagian yang lain, berupa bakat-bakat, jumlah rizki dan lainnya. Maka sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi kaum lelaki bagian tertentu dalam bentuk balasan sesuai amal perbuatan mereka. Dan DIA menjadikan bagian bagi para wanita dari apa yang mereka perbuat. Dan mintalah kepada Allah Dzat yang Maha mulia lagi Maha pemberi karunia, supaya DIA akan memberikan sebagian dari karuniaNYA sebagai pengganti dari sekedar berharap-harap belaka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan DIA lebih mengetahui apa yang memperbaiki keadaan hamba-hambaNYA terkait apa yang DIA bagi-bagikan kepada mereka berupa kebaikan.

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ ۚ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا

wa likullin ja’alnā mawāliya mimmā tarakal-wālidāni wal-aqrabụn, wallażīna ‘aqadat aimānukum fa ātụhum naṣībahum, innallāha kāna ‘alā kulli syai`in syahīdā

 33.  Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Dan untuk masing-masing dari kalian, kami menjadikan ahli waris yang mewarisi harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan karib kerabat. Dan orang-orang yang kalian telah mengadakan sumpah setia dengan mereka yang didasari sumpah-sumpah yang kuat untuk saling menolong dan memberikan bagian kepada mereka dari harta warisan,maka berikanlah kepada mereka bagian yang telah ditentukan bagi mereka. Pemberian bagian warisan berdasarkan hubungan sumpah setia dahulu berlaku pada permulaan islam, kemudian dihapuskan hukumnya dengan turunnya ayat-ayat tentang warisan. sesungguhnya Allah meneliti segala sesuatu dari perbuatan-perbuatan kalian dan Dia akan memberikan balasan bagi kalian sesuai dengan itu.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa’iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji’i waḍribụhunn, fa in aṭa’nakum fa lā tabgụ ‘alaihinna sabīlā, innallāha kāna ‘aliyyang kabīrā

 34.  Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Kaum laki-laki merupakan pemimpin-pemimpin yang menjalankan tugas pengarahan terhadap kaum wanita dan memperhatikan urusan mereka, berdasarkan keistimewaan yang Allah khususkan bagi mereka berupa kepemimpinan dan keunggulan, dan berdasarkan apa yang telah diberikan kaum laki-laki kepada mereka berupa mahar-mahar dan nafkah-nafkah. Maka wanita-wanita yang shalihah yang lurus diatas ajaran syariat Allah dari mereka adalah wanita-wanita yang taat kepada allah  dan kepada suami mereka,menjaga apa saja yang luput dari pengetahuan suami-suami mereka terhadap hal-hal yang mereka dipercaya untuk menjaganya dengan bantuan penjagaan dari Allah dan taufikNYA. Dan istri-istri yang kalian takutkan dari mereka keengganan untuk taat kepada kalian, maka nasihatilah mereka dengan tutur kata yang baik. Apabila tidak membuahkan hasil kepada mereka dengan tutur kata yang baik, maka pisah ranjanglah dengan mereka dan jangan mendekati mereka. Apabila mereka tidak berpengaruh bagi mereka tindakan mengucilkan tersebut, maka pukullah dengan pukulan yang tidak memudaratkan bagi mereka sedikitpun. Jika kemudian mereka taat kepada kalian,maka hindarilah berbuat zhalim kepada mereka. Maka sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar perwaliyanNya, dan Dia akan membalas orang yang menzolimi mereka dan melapaui batas terhadap mereka.

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

wa in khiftum syiqāqa bainihimā fab’aṡụ ḥakamam min ahlihī wa ḥakamam min ahlihā, iy yurīdā iṣlāḥay yuwaffiqillāhu bainahumā, innallāha kāna ‘alīman khabīrā

 35.  Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dan apabila kalian (wahai para wali kedua suami istri),mengetahui adanya pertengkaran antara mereka berdua yang berpotensi mengakibatkan perceraian, maka utuslah oleh kalian kepada mereka berdua penengah yang adil dari keluarga suami,dan satu penengah yang adil dari keluarga istri, supaya mereka menganalisa dan menetapkan putusan yang mengandung kemaslahatan bagi pasangan suami istri tersebut. Dan dikarenakan niat baik dua penengah untuk mengadakan perdamaian, dan pemakaian ungkapan yang baik, Allah akan memberikan taufik bagi pasangan suami istri tersebut. Sesungguhnya Allah  Maha mengetahui,tidak ada satu urusan hamba-hambaNYA, juga Maha teliti terhadap apa yang dipendam oleh jiwa-jiwa mereka.

۞ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

wa’budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan fakhụrā

 36.  Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Dan beribadahlah kepada Allah dan patuhlah kepadaNYa semata, dan janganlah kalian mengadakan bagiNYa sekutu dalam rububiyyah dan peribadahan. Dan berbuat baiklah kalian kepada kedua orang tua dan penuhi hak-hak mereka berdua, dan hak-hak karib kerabat, anak-anak yatim yang maeninggal bapak-bapaknya sedangkan mereka masih berusia sebelum balignya,orang-orang yang membutuhkan yang tidak memiliki harta untuk mencukupi dan menutupi kebutuhan mereka,tetangga yang dekat dengan kalian dan tetangga jauh,teman dalam perjalanan dan dalam pemukiman,orang yang safar yang terdesak kebutuhan dan budak-budak belian dari hamba sahaya kalian,baik lelaki maupun perempuan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dari kalangan hamba-hambaNYa lagi membanggakan diri terhadap manusia.

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

allażīna yabkhalụna wa ya`murụnan-nāsa bil-bukhli wa yaktumụna mā ātāhumullāhu min faḍlih, wa a’tadnā lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

 37.  (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.

Yaitu orang-orang yang menolak berinfak dan memberi dari sebagian karunia yang Allah rizkikan kepada mereka dan memerintahkan orang lain untuk berbuat kikir dan mereka itu mengingkari nikmat-nikmat Allah dan menutup-nutupi karunia dan pemberianNYA. Dan kami menyediakan bagi orang-orang yang ingkar siksaan yang menghinakan.

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

wallażīna yunfiqụna amwālahum ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minụna billāhi wa lā bil-yaumil-ākhir, wa may yakunisy-syaiṭānu lahụ qarīnan fa sā`a qarīnā

 38.  Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

Dan demikian pula kami telah menyediakan siksaan ini bagi orang-orang yang menginfakkan harta mereka karena dorongan riya dan sum’ah, dan mereka tidak beriman kepada Allah baik berupa keyakinan kuat dan amal, dan tidak beriman kepada hari kiamat. Perbuatan-perbuatan buruk ini termasuk perkara-perkara yang diserukan oleh setan. Dan barangsiapa yang setan menjadi pendampingnya, maka dialah seburuk-buruk pendamping dan teman dekat.

وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ آمَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا

wa māżā ‘alaihim lau āmanụ billāhi wal-yaumil-ākhiri wa anfaqụ mimmā razaqahumullāh, wa kānallāhu bihim ‘alīmā

 39.  Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.

Mudarat apa yang akan menimpa mereka seandainya mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, baik dalam bentuk keyakinan maupun dengan amal, dan menginfakkan sebagian yang Allah berikan kepada mereka dengan mengharap pahala dan ikhlas? dan Allah  Maha Mengetahui mereka dan apa yang mereka perbuat, dan DIA akan menghisab mereka atas semua itu.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

innallāha lā yaẓlimu miṡqāla żarrah, wa in taku ḥasanatay yuḍā’if-hā wa yu`ti mil ladun-hu ajran ‘aẓīmā

 40.  Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

Sesungguhnya Allah  tidak mengurangi seseorang dari balasan amal perbuatan sebesar dzarrah pun. Meskipun seberat dzarrah suatu kebaikan,maka sesungguhnya Allah  akan menambah dan memperbanyak bagi pemiliknya. Dan DIA memberikan anugerah kepadanya berupa tambahan, lalu DIA memberikan kepadanya pahala besar dari sisiNYA,yaitu surga.

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

fa kaifa iżā ji`nā ming kulli ummatim bisyahīdiw wa ji`nā bika ‘alā hā`ulā`i syahīdā

 41.  Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).

maka bagaimana keadaaan manusia pada hari kiamat, apabila Allah mendatangkan setiap umat manusia bersama rasul mereka untuk bersaksi kepada mereka atas apa yang mereka perbuat, dan DIA mendatangkan dirimu (wahai rasul),sebagai saksi atas umatmu bahwa engkau telah menyampaikan kepada mereka risalah tuhanmu.

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا

yauma`iżiy yawaddullażīna kafarụ wa ‘aṣawur-rasụla lau tusawwā bihimul-arḍ, wa lā yaktumụnallāha ḥadīṡā

 42.  Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.

Pada hari peristiwa itu terjadi, akan berangan-angan orang-orang yang kafir kepada Allah  dan menentang rasul dan tidak menaatinya,seandainya Allah menjadikan diri mereka dan permukaan tanah sama, lalu mereka berubah menjadi tanah,sehingga tidak akan di bangkitkan dan mereka tidak mampu menyembunyikan apapun dari Allah terkait apa-apa yang ada dalam diri mereka, karena Allah mengunci mulut-mulut mereka,dan anggota-anggota tubuh mereka bersaksi atas perbuatan yang dahulu mereka kerjakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā taqrabuṣ-ṣalāta wa antum sukārā ḥattā ta’lamụ mā taqụlụna wa lā junuban illā ‘ābirī sabīlin ḥattā tagtasilụ, wa ing kuntum marḍā au ‘alā safarin au jā`a aḥadum mingkum minal-gā`iṭi au lāmastumun-nisā`a fa lam tajidụ mā`an fa tayammamụ ṣa’īdan ṭayyiban famsaḥụ biwujụhikum wa aidīkum, innallāha kāna ‘afuwwan gafụrā

 43.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNYA serta melaksanakan syariatNYA, janganlah kalian mendekati shalat dan jangan beranjak untuk melaksanakannya saat dalam keadaan mabuk sampai kalian bisa membedakan dan menyadari apa yang kalian ucapkan. (Dan larangan ini berlaku sebelum pengharaman yang tegas terhadap khamar (minuman keras) dalam seluruh keadaan). Dan janganlah kalian mendekati shalat ketika menimpa kalian hadast besar (junub) dan jangan pula kalian mendekati tempat-tempat shalat yaitu masjid-masjid, kecuali sesorang dari kalian yang sekedar melintasinya dari pintu kepintu, sampai kalian telah bersuci dengan mandi besar. Dan apabila kalian dalam keadaan sakit,tidak mampu mempergunakan air dalam kondisi itu,atau tengah berada dalam perjalanan jauh atau salah seorang dari kalian datang dari tempat buang hajat atau kalian mencampuri istri-istri kalian,sedang kalian tidak mendapati air untuk bersuci, maka carilah debu yang suci,lalu usaplah muka dan tangan kalian dengannya.Sesungguhnya Allah  Maha banyak pemaaf dan Maha pengampun terhadap dosa-dosa kalian serta menutupinya untuk kalian.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلَالَةَ وَيُرِيدُونَ أَنْ تَضِلُّوا السَّبِيلَ

a lam tara ilallażīna ụtụ naṣībam minal-kitābi yasytarụnaḍ-ḍalālata wa yurīdụna an taḍillus-sabīl

 44.  Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).

Apakah kamu tidak mengetahui (wahai rasul), tentang kaum yahudi yang telah diberi bagian ilmu yang datang kepada mereka melalui taurat, mereka menukar kesesatan dengan hidayah ,dan meninggalkan apa yang ada pada mereka berupa hujjah-hujjah dan bukti-bukti nyata, yang menunjukkan kebenaran risalah utusan Allah, Muhammad ,serta berharap kalian (wahai kaum mukminin yang memperoleh hidayah) supaya kalian semua menyimpang dari jalan yang lurus supaya kalian sesat seperti mereka?

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

wallāhu a’lamu bi`a’dā`ikum, wa kafā billāhi waliyyaw wa kafā billāhi naṣīrā

 45.  Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).

Dan Allah  lebih mengetahui dari kalian (wahai orang-orang yang beriman), tentang permusuhan kaum yahudi terhadap kalian. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung yang melindungi kalian dan cukuplah DIA sebagai penolong yang menolong kalian atas musuh-musuh kalian.

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

minallażīna hādụ yuḥarrifụnal-kalima ‘am mawāḍi’ihī wa yaqụlụna sami’nā wa ‘aṣainā wasma’ gaira musma’iw wa rā’inā layyam bi`alsinatihim wa ṭa’nan fid-dīn, walau annahum qālụ sami’nā wa aṭa’nā wasma’ wanẓurnā lakāna khairal lahum wa aqwama wa lākil la’anahumullāhu bikufrihim fa lā yu`minụna illā qalīlā

 46.  Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.

Diantara orang-orang yahudi ada satu golongan yang terbiasa menganti-ganti firman Allah dan merubahnya dari pengertian yang sebenarnya secara dusta atas nama Allah. Dan mereka berkata kepada rasul , ”Kami dengar ucapanmu dan kami langgar perintahmu.Dengarlah dari kami,semoga kamu tidak dapat mendengar.” Dan mereka mengatakan, ”Ra ’ina sam’aka,” maksudnya pahamilah dari kami dan pahamkanlah kami. Mereka memutar-mutar lisan mereka dengan ungkapan itu. Sebenarnya mereka hendak melecehkan beliau dengan kata ar-ru’unah (bodoh sekali), sesuai dengan Bahasa yang mereka miliki, dan melecehkan agama islam. Seandainya mereka mengatakan, ”kami dengar dan kami taati,” sebagai ganti ”dan kami langgar”,dan “Dengarlah dari kami” tanpa kata-kata “semoga kamu tidak dapat mendengar”, dan “unzhurna” sebagai ganti “ra’ina”, niscaya ungkapan itu akan lebih baik bagi mereka di sisi allah dan merupakan ucapan yang lebih lurus. Akan tetapi, Allah mengusir mereka dari rahmatNYA, lantaran kekafiran dan pengingkaran mereka terhadap kenabian Muhammad . Mereka tidak mengimani kebenaran kecuali dengan keimanan yang sangat sedikit yang tidak akan bermanfaat bagi mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

yā ayyuhallażīna ụtul-kitāba āminụ bimā nazzalnā muṣaddiqal limā ma’akum ming qabli an naṭmisa wujụhan fa naruddahā ‘alā adbārihā au nal’anahum kamā la’annā aṣ-ḥābas-sabt, wa kāna amrullāhi maf’ụlā

 47.  Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

Wahai ahli kitab,berimanlah dan amalkanlah apa yang telah kami turunkan dari al-qur’an, yang membenarkan apa yang ada bersama kalian dari kitab-kitab, sebelum kami menghukum kalian akibat buruknya kelakuan kalian,dimana kami hilangkan muka-muka kalian dan kami pindahkan ke arah punggung, atau kami kutuk orang-orang yang mengadakan kerusakan tersebut dengan mengubah mereka menjadi kera dan babi. Sebagaimana kami telah melaknat orang-orang yahudi, para pelanggar larangan di hari sabtu, mereka orang-orang yang dahulu dilarang untuk berburu ikan pada hari itu, akan tetapi mereka tidak berhenti. Lalu Allah memurkai mereka dan mengusir mereka dari rahmatNYA. Dan ketetapan Allah itu pasti terlaksana dalam seluruh keadaan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qadiftarā iṡman ‘aẓīmā

 48.  Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Sesungguhnya Allah  tidak mengampuni dan tidak memaafkan orang yang mempersekutukanNya dengan sesorang dari makhlukNYA, atau kafir dengan jenis kekafiran apa saja dari kufur akbar; dan DIA mengampuni dan memaafkan dosa-dosa selain kesyirikan bagi siapa yang DIA kehendaki dari hamba-hambaNYA. Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya ia telah mengerjakan perbuatan dosa yang sangat besar.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

a lam tara ilallażīna yuzakkụna anfusahum, balillāhu yuzakkī may yasyā`u wa lā yuẓlamụna fatīlā

 49.  Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.

Apakah kamu tidak mengetahui (wahai rasul), perkara orang-orang yang memuji-muji diri mereka sendiri dan perbuatan-perbuatan mereka, dan menyifatinya dengan kesucian dan bebas dari keburukan? Allah lah semata yang memuji siapa saja yang dikehendakiNYA dari hamba-hambaNYA, karena Dia mengetahui hakikat amal perbuatan mereka sebenarnya,dan mereka tidak mengalami pengurangan pada amal perbuatan mereka sedikitpun,meski sekecil benang yang ada di belahan biji kurma.

انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا

unẓur kaifa yaftarụna ‘alallāhil-każib, wa kafā bihī iṡmam mubīnā

 50.  Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).

Lihatlah mereka olehmu (wahai rasul),dengan penuh keheranan terhadap keadaan mereka, bagaimana mereka bisa mengadakan kedustaan atas nama Allah,sedang Dia Maha bersih dari segala yang tidak pantas baginNYa? Dan cukuplah kedustaan ini sebagai dosa yang sangat besar lagi mengungkap rusaknya keyakinan mereka.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

a lam tara ilallażīna ụtụ naṣībam minal-kitābi yu`minụna bil-jibti waṭ-ṭāgụti wa yaqụlụna lillażīna kafarụ hā`ulā`i ahdā minallażīna āmanụ sabīlā

 51.  Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.

Tidakkah kamu mengetahui (wahai rasul) perihal orang-orang yahudi yang telah diberi bagian dari ilmu,mereka membenarkan semua yang disembah selain Allah, seperti berhala-berhala, setan-setan dari jenis manusia dan jin dengan pembenaran yang membawa mereka kepada berhukum dengan selain syariat Allah, dan mereka mengatakan kepada orang-orang yang kafir kepada Allah  dan rasulNYA, Muhammad  ,”orang-orang kafir itu lebih lurus dan lebih benar jalan mereka daripada orang-orang yang beriman itu.”

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا

ulā`ikallażīna la’anahumullāh, wa may yal’anillāhu fa lan tajida lahụ naṣīrā

 52.  Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.

Orang-orang yang telah banyak kerusakan mereka dan telah menyeluruh kesesatan mereka , Allah  mengusir mereka dari rahmatNYA. Dan barangsiapa dijauhkan Allah dari rahmatNYA, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya orang yang menolongnya dan menolak siksaan yang buruk darinya.

أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا

am lahum naṣībum minal-mulki fa iżal lā yu`tụnan-nāsa naqīrā

 53.  Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia.

Bahkan apakah mereka memiliki bagian dari kerajaan, Seandainya mereka benar memperolehnya, pastilah mereka tidak akan memberikannya sedikitpun kepada seseorang pun, meskipun sekecil celah yang ada di permukaan biji kurma?.

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا

am yaḥsudụnan-nāsa ‘alā mā ātāhumullāhu min faḍlih, fa qad ātainā āla ibrāhīmal-kitāba wal-ḥikmata wa ātaināhum mulkan ‘aẓīmā

 54.  ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.

bahkan apakah mereka itu sebenarnya dengki kepada Muhammad  atas karunia yang Allah berikan kepadanya berupa nikmat kenabian dan kerasulan, dan dengki kepada sahabat-sahabatnya atas nikmat taufik menuju kepada keimanan, dan mengimani risalah serta mengikut rasul, dan memperoleh kekuasaan dimuka bumi? Mereka mengharapkan hilangnya karunia itu dari kaum Mukminin. Sesungguhnya sebelumnya kami telah memberikan kepada keturunan Ibrahim  kitab-kitab yang Allah turunkan kepada mereka dan wahyu yang diwahyukan kepada mereka yang tidak berwujud kitab yang bias dibaca. Dan kami telah memberikan kepada mereka bersama itu semua berupa kerajaan yang luas.

فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ ۚ وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا

fa min-hum man āmana bihī wa min-hum man ṣadda ‘an-h, wa kafā bijahannama sa’īrā

 55.  Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.

Maka diantara orang-orang yang telah diberi bagian ilmu itu,ada yang beriman kepada risalah Muhammad  dan melaksanakan ajaran syriatNYA. Dan diantara mereka ada yang berpaling dan tidak mau memenuhi seruan dakwahnya serta menghalang-halangi manusia untuk mengikutinya. Dan cukuplah bagi kalian (wahai orang-orang yang mendustakan), Neraka Jahannam yang dinyalakan dengan bahan bakarnya berupa kalian sendiri.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā

 56.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari apa yang Allah telah turunkan berupa ayat-ayatNYA dan wahyu kitab suciNYA serta dalil-dalil dan hujjah-hujjahNYA, maka Kami akan memasukkan mereka kedalam neraka,mereka akan merasakan panasnya.Tiap kali kulit-kulit mereka terbakar,kami ganti kulit-kulit mereka dengan kuliyt-kulit yang lain, supaya terus berlangsung siksaan mereka dan rasa sakit mereka. Sesungguhnya Allah  Maha perkasa, tidak ada sesuatu pun yang menolak keinginanNYA, juga Maha bijaksana dalam pengaturan dan ketetapanNYA.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sanudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, lahum fīhā azwājum muṭahharatuw wa nudkhiluhum ẓillan ẓalīlā

 57.  Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

Dan orang-orang yang telah tentram hati mereka dengan keimanan kepada Allah  dan membenarkan risalah rasulNYA,Muhammad  dan kemudian istiqamah diatas ketaatan, kami akan memasukkan mereka kedalam surga-surga yang mengalir dibawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai. Mereka bersenang-senang disana selamanya dan tidak keluar darinya.Dan bagi mereka istri-istri yang Allah sucikan dari segala kotoran,dan kami memasukkan mereka ke tempat yang penuh naungan lebat lagi luas di dalam surga.

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

innallāha ya`murukum an tu`addul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumụ bil-‘adl, innallāha ni’immā ya’iẓukum bih, innallāha kāna samī’am baṣīrā

 58.  Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sesungguhnya Allah  memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat yang berbeda-beda yang kalian dipercaya untuk menyampaikannya kepada para pemiliknya, maka janganlah kalian melalaikan amanat-amanat itu. Dan Dia memerintahkan kalian untuk memutuskan perkara diantara manusia dengan dasar keadilan dan obyektif, bila kalian memutuskan permasalahan diantara mereka. Dan itu adalah sebaik-baik nasihat yang Allah sampaikan kepada kalian dan memberi petunjuk kalian kepadanya. Sesungguhnya Allah  Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian,meneliti seluruh perbuatan kalian lagi Maha Melihatnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza’tum fī syai`in fa ruddụhu ilallāhi war-rasụli ing kuntum tu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā

 59.  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNYA serta melaksanakan syariatNYA, laksanakanlah perintah-perintah Allah  dan janganlah kalian mendurhakaiNYa, dan penuhilah panggilan rasulNYA dengan mengikuti kebenaran yang dibawanya, dan taatilah para penguasa kalian dalam perkara selain maksiat kepada Allah. Apabila kalian berselisih paham dalam suatu perkara diantara kalian,maka kembalikanlah ketetapan hukumnya kepada kitab Allah  dan Sunnah rasulNYA, Muhammad , jika kalian memang beriman dengan sebenar-benarnya kepada allah  dan hari perhitungan. Mengembalikan persoalan kepada al-qur’an dan assunnah itu adalah lebih baik bagi kalian daripada berselisih paham dan pendapat atas dasar pikiran belaka dan akan lebih baik akibat dan dampaknya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

a lam tara ilallażīna yaz’umụna annahum āmanụ bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablika yurīdụna ay yataḥākamū ilaṭ-ṭāgụti wa qad umirū ay yakfurụ bih, wa yurīdusy-syaiṭānu ay yuḍillahum ḍalālam ba’īdā

 60.  Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apakah kamu tidak mengetahui (wahai rasul), perihal orang-orang munafik yang mengaku-aku telah beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadamu,(yaitu al-qur’an),dan kepada wahyu yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelummu, tetapi mereka ingin berhukum dalam memutuskan perselisihan diantara mereka kepada selain ajaran yang disyariatkan Allah berupa ajaran kebatilan, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri ajaran kebatilan? dan setan menghendaki untuk menjauhkan mereka dari jalan kebenaran sejauh-jauhnya. Dan dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa sesungguhnya iman yang benar menuntut kepatuhan kepada syariat Allah dan berhukum dengannya dalam setiap urusan dari urusan-urusan. Maka barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya telah beriman namun ternyata dia lebih memilih hukum thagut di atas hukum Allah, maka dia adalah seorang pembohong dalam pengakuannya itu.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

wa iżā qīla lahum ta’ālau ilā mā anzalallāhu wa ilar-rasụli ra`aital-munāfiqīna yaṣuddụna ‘angka ṣudụdā

 61.  Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Dan apabila mereka dinasihati dan dikatakan kepada mereka,”kemarilah kepada wahyu yang Allah turunkan dan kepada rasul dan petunjuknya,” kamu dapat melihat orang-orang yang menampakkan keimanan secara lahir dan menyembunyikan kekafiran,berpaling darimu dengan sejauh-jauhnya

فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

fa kaifa iżā aṣābat-hum muṣībatum bimā qaddamat aidīhim ṡumma jā`ụka yaḥlifụna billāhi in aradnā illā iḥsānaw wa taufīqā

 62.  Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

Maka bagiamana keadaan orang-orang munafik itu apabila musibah menimpa mereka lantaran dosa-dosa yang mereka perbuat dengan tangan-tangan mereka. Kemudian mereka datang kepadamu (wahai rosul) memberi alasan dan menguatkan kepadamu bahwa sesungguhnya mereka tidak bermaksud dengan perbuatan-perbuatan mereka kecuali berbuat baik dan mendamaikan antara pihak-pihak yang bertikai.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

ulā`ikallażīna ya’lamullāhu mā fī qulụbihim fa a’riḍ ‘an-hum wa’iẓ-hum wa qul lahum fī anfusihim qaulam balīgā

 63.  Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah Allah mengetahui hakikat isi hati mereka yang berupa kemunafikan. Maka berpalinglah dari mereka dan peringatkanlah mereka dari buruknya keadaan mereka.Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang menyentuh pada kalbu mereka lagi menghentikan mereka.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

wa mā arsalnā mir rasụlin illā liyuṭā’a bi`iżnillāh, walau annahum iż ẓalamū anfusahum jā`ụka fastagfarullāha wastagfara lahumur-rasụlu lawajadullāha tawwābar raḥīmā

 64.  Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul dari rasul-rasul kami, kecuali agar diterima seruannya dengan kehendak Allah  dan ketetapanNYA. Seandainya orang-orang yang menganiaya diri mereka dengan berbuat kesalahan-kesalahan itu datang kepadamu (wahai rasul), dalam masa hidupmu sambal bertaubat dan meminta kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa mereka, dan kamupun memohon ampunan untuk mereka, maka mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

fa lā wa rabbika lā yu`minụna ḥattā yuḥakkimụka fīmā syajara bainahum ṡumma lā yajidụ fī anfusihim ḥarajam mimmā qaḍaita wa yusallimụ taslīmā

 65.  Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Allah  telah bersumpah dengan DzatNYa yang maha mulia, bahwa mereka itu tidak beriman dengan sebenarnya sampai mau menjadikanmu sebagai hakim penengah dalam perselisihan yang terjadi antara mereka saat kamu masih hidup, dan berhukum dengan petunjuk sunnahmu setelah kematianmu, kemudian mereka tidak mendapati rasa sesak dalam hati mereka terhadap ketetapan yang menjadi keputusan akhirmu. Dan mereka patuh terhadap hal itu dengan kepatuhan yang sempurna. Berhukum dengan apa yang telah dibawa oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam yang bersumber dari kitabullah dan Sunnah dalam seluruh perkara kehidupan termasuk intisari keimanan,disertai dengan keridhaan dan penyerahan diri.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

walau annā katabnā ‘alaihim aniqtulū anfusakum awikhrujụ min diyārikum mā fa’alụhu illā qalīlum min-hum, walau annahum fa’alụ mā yụ’aẓụna bihī lakāna khairal lahum wa asyadda taṡbītā

 66.  Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),

Dan kalau kami wajibkan atas orang-orang munafik yang berhukum kepada thagut itu supaya sebagian mereka membunuh sebagian yang lain, atau supaya pergi keluar meninggalkan kampung halaman mereka, tidaklah ada yang mau menyambut perintah itu,kecuali sejumlah kecil saja dari mereka. Dan seandainya mereka itu menyambut nasihat yang ditunjukan kepada mereka, maka pastilah itu akan bermanafaat bagi mereka dan akan lebih menguatkan keimanan mereka.

وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا

wa iżal la`ātaināhum mil ladunnā ajran ‘aẓīmā

 67.  dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,

Dan kami pasti benar-benar akan memberikan kepada mereka dari sisi Kami pahala yang besar di dunia dan akhirat,

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

wa lahadaināhum ṣirāṭam mustaqīmā

 68.  dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

dan pasti kami benar-benar tunjukkan kepada mereka dan kami beri taufik kepada mereka menuju jalan Allah yang lurus.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

wa may yuṭi’illāha war-rasụla fa ulā`ika ma’allażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā`i waṣ-ṣāliḥīn, wa ḥasuna ulā`ika rafīqā

 69.  Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Dan barangsiapa menyambut perintah-perintah Allah  dan petunjuk rasulNYA,Muhammad  ,mereka itu adalah orang-orang yang agung kedudukan dan nilai mereka, maka mereka berada dalam kebersamaan dengan orang-orang yang telah Allah  berikan kenikmatan kepada mereka dengan surga,dari kalangan para nabi,para shiddiqin yang telah sempurna pembenaran keimanan terhadap apa-apa yang dibawa oleh para rasul,baik keyakinan,ucapan ,maupun perbuatan,dan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah dan juga kaum Mukminin yang shalih. Dan mereka itu sebaik-baik teman-teman di dalam surga.

ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا

żālikal-faḍlu minallāh, wa kafā billāhi ‘alīmā

 70.  Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.

Pemberian besar tersebut hanya berasal dari Allah semata. Dan cukuplah Allah maha mengetahui, Dia mengetahui segala keadaan hamba-hambaNYA, dan siapa saja dari mereka yang berhak memperoleh pahala besar melalui apa yang telah mereka usahakan sebelumnya berupa amal-amal shalih

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

yā ayyuhallażīna āmanụ khużụ ḥiżrakum fanfirụ ṡubātin awinfirụ jamī’ā

 71.  Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!

Wahai orang-orang beriman ambilah sikaf waspada kalian dengan selalu dengan mempersiapakan diri menghadapi musuh kalian, lalu keluarlah untuk melawan mereka satu kelompok demi kelompok atau secara bersama-sama.

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا

wa inna mingkum lamal layubaṭṭi`ann, fa in aṣābatkum muṣībatung qāla qad an’amallāhu ‘alayya iż lam akum ma’ahum syahīdā

 72.  Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.

Dan sesungguhnya diantara kalian ada sejumlah orang yang sengaja mengakhirkan diri untuk keluar menghadapi musuh-musuh karena merasa berat dan dia melemahkan semangat orang lain dengan kesengajaan dan terus menerus. Dan jika diantara kalian ditakdirkan ada yang tewas dan kalian mengalami kekalahan, dia berkata dengan meberi kabar gembira,”sesungguhnya Allah telah menjagaku, ketika aku tidak ikut terjun bersama orang-orang yang terjadi pada mereka peristiwa yang aku tidak suka terjadi pada diriku,” dan membuatnya senang dengan ketidak ikutsertaannya bersama kalin.

وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا

wa la`in aṣābakum faḍlum minallāhi layaqụlanna ka`al lam takum bainakum wa bainahụ mawaddatuy yā laitanī kuntu ma’ahum fa afụza fauzan ‘aẓīmā

 73.  Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)”.

Dan sungguh jika kalian mendapatkan karunia dari Allah dan harta rampasan ,dia benar-benar akan mengucapkan lantaran dengki dan kecewa,seolah-olah tidak ada hubungan kasih sayang secara lahir antara kalian dengan dirinya, ”Duhai,seandainya aku bersama mereka,maka aku akan memperoleh apa yang mereka dapatkan berupa keselamatan,kemenangan dan harta rampasan.”

۞ فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۚ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

falyuqātil fī sabīlillāhillażīna yasyrụnal-ḥayātad-dun-yā bil-ākhirah, wa may yuqātil fī sabīlillāhi fa yuqtal au yaglib fa saufa nu`tīhi ajran ‘aẓīmā

 74.  Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Hendaknya pergi berjihad untuk membela agama Allah dan meninggikan kalimatNYA, orang-orang yang menjual kehidupan dunia mereka untuk meraih kampung akhirat dan pahalanya. Dan barangsiapa berjihad di jalan Allah dengan ikhlas, lalu dia terbunuh atu memperoleh kemenangan, maka kami kelak akan memberikan kepadanya pahala yang besar.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

wa mā lakum lā tuqātilụna fī sabīlillāhi wal-mustaḍ’afīna minar-rijāli wan-nisā`i wal-wildānillażīna yaqụlụna rabbanā akhrijnā min hāżihil-qaryatiẓ-ẓālimi ahluhā, waj’al lanā mil ladungka waliyyā, waj’al lanā mil ladungka naṣīrā

 75.  Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Dan apakah yang menghalangi kalian (wahai kaum mukminin), untuk berjihad dalam rangka membela agama Allah dan membela hamba-hambaNYA yang lemah dari kalangan lelaki,kaum perempuan dan anak-anak kecil yang mengalami tindakan aniaya, dan tidak ada alasan bagi mereka serta tidak ada sarana bagi mereka kecuali dengan memohon pertolongan kepada tuhan mereka,mereka berdoa kepadaNYA dengan mengucapkan,”wahai tuhan kami,keluarkanlah kami dari negeri ini(maksudnya Makkah) yang penduduknya berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dengan berbuat kekafiran dan terhadap kaum mukminin dengan melancarkan gangguan. Dan jadikanlah bagi kami dari sisiMu pelindung yang menangani urusan-urusan kami,dan penolong yang menolong kami menghadapi orang-orang yang zhalim.

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

allażīna āmanụ yuqātilụna fī sabīlillāh, wallażīna kafarụ yuqātilụna fī sabīliṭ-ṭāgụti fa qātilū auliyā`asy-syaiṭān, inna kaidasy-syaiṭāni kāna ḍa’īfā

 76.  Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Orang-orang yang benar dalam keimanan mereka,baik secara keyakinan maupun amal perbuatan,mereka berjihad untuk membela kebenaran dan pendukungnya. Dan orang-orang kafir berperang untuk membela kezhaliman dan beruat kerusakan di muka bumi. Maka perangilah oleh kalian (wahai kaum mukminin),orang-orang kafir dan musyrik yang menyerahkan kesetiaan kepada setan dan menaati perintahnya.Sesungguhnya pengaturan setan terhadap orang-orang yang membelanya adalah lemah.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

a lam tara ilallażīna qīla lahum kuffū aidiyakum wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, fa lammā kutiba ‘alaihimul-qitālu iżā farīqum min-hum yakhsyaunan-nāsa kakhasy-yatillāhi au asyadda khasy-yah, wa qālụ rabbanā lima katabta ‘alainal-qitāl, lau lā akhkhartanā ilā ajaling qarīb, qul matā’ud-dun-yā qalīl, wal-ākhiratu khairul limanittaqā, wa lā tuẓlamụna fatīlā

 77.  Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.

tidakkah kamu (wahai rasul) mengetahui perihal orang-orang yang dikatakan kepda mereka sebelum adanya izin berjihad,”tahanlah tangan-tangan kalian dari memerangi musuh-musuh kalian dari kalangan musyrikin, dan kewajiban kalian adalah mengerjakan kewajiban yang Allah wajibkan bagi kalian, berupa shalat dan membayar zakt,” maka ketika Dia mewajibakan mereka untuk berperang tiba-tiba ada segolongan dari mereka yang berubah keadaannya.Mereka malah menjadi takut terhadap manusia dan gentar menghadapi mereka,seperti ketakutan mereka kepada Allah,atau bahkan lebih kuat. Dan mereka mengumumkan persaan yang merasuki mereka berupa rasa takut yang amat besar,lalu mereka mengatakan,”Wahai tuhan kami mengapa,Engkau mewajibkan kami berperang?tidakkah engkau menangguhkan kami sampai beberapa saat lagi?” dikarenakan hasrat besar terhadap mereka sangat besar dari mereka terhadap kesenangan yang ada di kehidupan dunia. katakanlah olehmu (wahai rasul), ”Kesenangan di dunia itu sedikit,sedang kehidupan akhirat dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya lebih agung dan lebih abadi bagi orang yang bertakwa lalu mengerjakan amal yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi perkara yang dia larang untuk melakukannya. Tuhanmu tidaklah menzhalimi sesorang sedikitpun, meskipun sekecil benang yang ada di belahan biji kurma.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

aina mā takụnụ yudrikkumul-mautu walau kuntum fī burụjim musyayyadah, wa in tuṣib-hum ḥasanatuy yaqụlụ hāżihī min ‘indillāh, wa in tuṣib-hum sayyi`atuy yaqụlụ hāżihī min ‘indik, qul kullum min ‘indillāh, fa māli hā`ulā`il-qaumi lā yakādụna yafqahụna ḥadīṡā

 78.  Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Dimanapun kalian berada,kematian akan menemui kalian ditempat mana saja kalian berada tatkala ajal kalian telah tiba, walaupun kalian berada di dalam benteng-benteng pertahanan yang kokoh lagi jauh dari tempat-tempat pertempuran dan peperangan. Dan apabila mereka mendapatkan hal yang menyenangkan mereka berupa datangnya kesenangan dari kehidupan dunia,mereka menisbatkannya kepada allah  .Dan jika terjadi pada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai,mereka menisbatkannya kepada Rasul Muhammad  sebagai bentuk kebodohan dan anggapan sebagai sumber kesialan. Mereka tidak mengetahui, bahwa semua itu berasal dari sisi allah semata sesuai dengan ketetapan qadha dan takdirNYA.Mengapa mereka tidak mendekati pemahaman yang benar terhadap ungkapan manapun yang kamu katakana kepada mereka?

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

mā aṣābaka min ḥasanatin fa minallāhi wa mā aṣābaka min sayyi`atin fa min nafsik, wa arsalnāka lin-nāsi rasụlā, wa kafā billāhi syahīdā

 79.  Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Apa saja yang menimpamu (wahai manusia),berupa kebaikan dan kenikmatan,maka itu berasal dari allah  semata sebagai karunia dan kebaikan dariNYA.Dan apa yang menimpamu berupa kesulitan dan kesengsaraan,maka hal tersebut disebabkan oleh perbuatan burukmu dan apa yang diperbuat oleh tanganmu berupa dosa-dosa serta kesalahan-kesalahan.Dan kami mengutusmu (wahai rasul(,bagi segenap manusia sebagai rasul yang menyampaikan risalah tuhanmu.Dan cukuplah allah menjadi saksi atas kebenaran risalahmu.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

may yuṭi’ir-rasụla fa qad aṭā’allāh, wa man tawallā fa mā arsalnāka ‘alaihim ḥafīẓā

 80.  Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Barangsiapa menyambut seruan rasul sholallohu alaihi wasallam dan mengerjakan petunjuknya,maka sesunguhnya ia telah menyambut seruan allah  dan melaksanakan perintahNYA.Dan barangsiapa yang berpaling dari ketaatan kepada allah dan kepada rasulNYA,maka tidaklah kami mengutusmu (wahai rasul), kepada orang-orang yang berpaling itu sebagai pengawas yang memelihara perbuatan-perbuatan mereka dan memperhitungkannya; sebab perhitungan perbuatan mereka merupakan tanggung jawab kami.

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ ۖ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ ۖ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

wa yaqụlụna ṭā’atun fa iżā barazụ min ‘indika bayyata ṭā`ifatum min-hum gairallażī taqụl, wallāhu yaktubu mā yubayyitụn, fa a’riḍ ‘an-hum wa tawakkal ‘alallāh, wa kafā billāhi wakīlā

 81.  Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.

Dan telah memperlihatkan orang-orang yang berpaling,(dan mereka berada di majelis Rasulullah ) ketaatan kepada rasulullah  dan risalah yang dibawanya. Maka apabila mereka telah jauh dari sisi beliau dan pergi dari majelis beliau,segolongan dari mereka mengatur makar jahat pada malam hari yang berbeda jauh dari ketaatan yang mereka suarakan (dihadapan rasulullah ). Mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya allah memperhitungkan rencana jahat yang telah mereka atur,dan akan memberikan balasan kepada mereka akibat perbuatan itu dengan balasan yang sempurna. Maka berpalainglah kamu (wahai rasul),dari mereka dan jangan pedulikan mereka;karena sesungguhnya mereka tidak dapat memadaratkanmu, dan bertawakkalah kamu kepada allah. Dan cukuplah allah bagimu sebagai pelindung dan penolong.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

a fa lā yatadabbarụnal-qur`ān, walau kāna min ‘indi gairillāhi lawajadụ fīhikhtilāfang kaṡīrā

 82.  Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Apakah mereka tidak mau melihat al-qur’an dan apa yang dibawa dengannya dari kebenaran dengan penglihatan yang penuh perenungan dan pengahayatan,yang datang dalam bentuk kerapian yang muhkam sehingga dapat dipastikan bahwa sesungguhnya al-qur’an berasal dari allah semata?sekiranya berasal dari selain allah,pastilah mereka akan mendapati banyak sekali kontradiksi di dalamnya.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

wa iżā jā`ahum amrum minal-amni awil-khaufi ażā’ụ bih, walau raddụhu ilar-rasụli wa ilā ulil-amri min-hum la’alimahullażīna yastambiṭụnahụ min-hum, walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ lattaba’tumusy-syaiṭāna illā qalīlā

 83.  Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Dan apabila datang kepada orang-orang yang keimanan mereka belum tertanam kuat di dalam hati mereka, suatu perkara yang mestinya disembunyikan, yang berhubungan dengan keamanan yang berdampak positif bagi islam dan kaum muslimin atau berkaitan dengan ketakutan yang menyebabkan ketidak tentraman di dalam hati mereka,mereka menyebarkan dan menyiarkannya ke tengah manusia. Sekiranya mereka mengembalikan penanganan kejadian yang datang pada mereka kepada Rasululah  atau kepada ahli ilmu dan fikih, pastilah akan mengetahui hakikat perkara tersebut orang-orang yang ahli beristinbath dari mereka.Dan kalau bukan karena allah mencurahkan karunia kepada kalian dan merahmati kalian,pastilah kalian akan mengikuti setan dan bisikan-bisikannya kecuali sebagian kecil saja dari kalian.

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ ۚ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا

fa qātil fī sabīlillāh, lā tukallafu illā nafsaka wa ḥarriḍil-mu`minīn, ‘asallāhu ay yakuffa ba`sallażīna kafarụ, wallāhu asyaddu ba`saw wa asyaddu tangkīlā

 84.  Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).

Maka berjihadlah (wahai nabi),di jalan allah dan dalam rangka meninggikan kalimatNYA.Kamu tidak terikat dengan kewajiban orang lain dan tidak dimintai pertanggung jawaban dengannya. Dan doronglah kaum mukminin untuk berperang dan berjihad,serta motivasi mereka untuk mencintainya. Mudah-mudahan allah  mencegah darimu dan dari mereka kebururukan orang-orang kafir dan kebengisan mereka..Dan allah  jauh lebih kuat dan lebih besar siksaanNYA bagi orang-orang kafir.

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

may yasyfa’ syafā’atan ḥasanatay yakul lahụ naṣībum min-hā, wa may yasyfa’ syafā’atan sayyi`atay yakul lahụ kiflum min-hā, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`im muqītā

 85.  Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Barangsiapa mengusahakan agar orang lain mendapatkan kebaikan,maka dia mendapatkan karena syafatnya tersebut bagian dari pahala. Dan barangsiapa berusaha kuat untuk menyebarkan keburukan kepada orang lain,niscaya dia mendapatkan bagian tanggungan kesalahan dan dosa.Dan allah atas segala sesuatu maha mengawasi lagi maha memelihara.

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

wa iżā ḥuyyītum bitaḥiyyatin fa ḥayyụ bi`aḥsana min-hā au ruddụhā, innallāha kāna ‘alā kulli syai`in ḥasībā

 86.  Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.

Dan apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian,maka jawablah dia dengan balasan salam yang lebih utama dari ungkapan salam yang dia ucapkan,baik dari segi lafazh salamnya maupun keceriaan raut muka,atau jawablah dengan ungkapan yang serupa dengan ucapan salam yang diucapkannya.Dan masing-masing akan memperoleh pahala dan balasannya.Sesungguhnya allah akan memberikan balasan terhadap segala sesuatu.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

allāhu lā ilāha illā huw, layajma’annakum ilā yaumil-qiyāmati lā raiba fīh, wa man aṣdaqu minallāhi ḥadīṡā

 87.  Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?

Allah semata Dzat yang maha tunggal dengan hak uluhiyahNYA atas seluruh makhluk, Dia Sungguh Dia akan benar-benar mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan sediktpun padanya, untuk perhitungan amal perbuatan dan pembalasannya. Dan tidak ada seorangpun yang lebih benar ucapannya daripada Allah terkait apa-apa yang Dia beritahukan tentangnya.

۞ فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

fa mā lakum fil-munāfiqīna fi`ataini wallāhu arkasahum bimā kasabụ, a turīdụna an tahdụ man aḍallallāh, wa may yuḍlilillāhu fa lan tajida lahụ sabīlā

 88.  Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.

maka kenapa kalian (wahai kaum Mukminin), terkait urusan orang-orang munafik ketika kalian berbeda pendapat menjadi dua golongan,satu golongan berpendapat untuk memerangi mereka dan golongan yang lain tidak berpendapat seperti itu? Dan allah  telah menjerumuskan mereka kedalam kekafiran dan kesesatan disebabkan keburukan perbuatan amal mereka. Apakah kalian menginginkan memberi hidayah kepada orang yang telah Allah palingkan hati mereka dari agamaNYA?dan orang yang Allah lalaikan dari agamanya dan dari mengikuti apa yang DIa perintahkan kepadanya,maka tidak ada jalan baginya menuju hidayah.

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

waddụ lau takfurụna kamā kafarụ fa takụnụna sawā`an fa lā tattakhiżụ min-hum auliyā`a ḥattā yuhājirụ fī sabīlillāh, fa in tawallau fa khużụhum waqtulụhum ḥaiṡu wajattumụhum wa lā tattakhiżụ min-hum waliyyaw wa lā naṣīrā

 89.  Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

Orang-orang munafik menginginkan kalian (wahai kaum Mukminin),untuk mengingkari hakikat yang telah diimani oleh hati kalian, sebagaimana mereka mengingkarinya dengan hati-hati mereka. Maka kalian bersama mereka dalam pengingkara, janganlah kalian mengangkat orang-orang dekat bagi kalian dari mereka sampai mereka mau berhijrah di jalan Allah sebagai bukti kebenaran keimanan mereka. Jika mereka berpaling dari perintah yang diserukan kepada mereka, maka tangkaplah mereka di mana pun mereka berada dan bunuhlah mereka.Dan janganlah kalian mengambil pelindung dari mereka selain allah dan jangan juga menjadikannya sebagai penolong yang kalian menggantungkan pertolongan kepadanya.

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا

illallażīna yaṣilụna ilā qaumim bainakum wa bainahum mīṡāqun au jā`ụkum ḥaṣirat ṣudụruhum ay yuqātilụkum au yuqātilụ qaumahum, walau syā`allāhu lasallaṭahum ‘alaikum fa laqātalụkum, fa ini’tazalụkum fa lam yuqātilụkum wa alqau ilaikumus-salama fa mā ja’alallāhu lakum ‘alaihim sabīlā

 90.  kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Akan tetapi,orang-orang yang sampai kepada suatu kaum yang antara kalian dan mereka terdapat perjanjian dan perdamaian,maka janganlah memerangi mereka. Demikian pula orang-orang yang datang kepada kalian dalam keadaan hati mereka sesak dan mereka membenci harus memerangi kalian,sebagaimana merekapun membenci untuk memerangi kaum mereka sendiri, sehingga mereka tidak bersama kalian dan tidakpula bersama kaum mereka,maka janganlah kalian perangi mereka.Seandainya allah  berkehendak,niscya Dia akan menjadikan mereka berkuasa atas diri kalian,lalu pastilah mereka memerangi kalian bersama dengan musuh kalian dari kalangan musyrikin.akan tetapi alalh  memalingkan mereka dari kalian dengan karunia dan kuasaNYA.Maka jika mereka meninggalkan kalian dan tidak memerangi kalian,serta tunduk patuh kepada kalian dengan pasrah menyerahkan diri,maka tidak ada hak bagi kalian untuk memerangi mereka.

سَتَجِدُونَ آخَرِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَأْمَنُوكُمْ وَيَأْمَنُوا قَوْمَهُمْ كُلَّ مَا رُدُّوا إِلَى الْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا فِيهَا ۚ فَإِنْ لَمْ يَعْتَزِلُوكُمْ وَيُلْقُوا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ ۚ وَأُولَٰئِكُمْ جَعَلْنَا لَكُمْ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

satajidụna ākharīna yurīdụna ay ya`manụkum wa ya`manụ qaumahum, kulla mā ruddū ilal-fitnati urkisụ fīhā, fa il lam ya’tazilụkum wa yulqū ilaikumus-salama wa yakuffū aidiyahum fa khużụhum waqtulụhum ḥaiṡu ṡaqiftumụhum, wa ulā`ikum ja’alnā lakum ‘alaihim sulṭānam mubīnā

 91.  Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Dan kalian akan mendapati satu kaum lain dari kalangan orang-orang munafik,mereka menghendaki ketenangan bagi jiwa mereka disisi kalian,sehingga mereka menampakkan keimanan kepada kalian dan menginginkan ketenangan bagi jiwa mereka disisi kaum mereka yang kafir,sehingga mereka menampakkan kekafiran dihadapan mereka.Tiap kali mereka dikembalikan ketempat kekafiran dan orang-orang kafir,mereka terjerumus dalam keadaan yang paling buruk.Mereka itu bila tidak berpaling dari sisi kalian,dan tidak memberikan kepasrahan penuh kepada kalian dan tidak menahan diri mereka untuk memerangi kalian,maka tangkaplah mereka dengan sekuat tenaga dan bunuhlah mereka di manapun mereka berada.Dan orang-orang yang telah sampai dalam cara hidup yang buruk ini pada batasan yang membedakan mereka dengan orang lain,mereka itulah orang-orang yang kami menjadikan alasan nyata bagi kalian untuk membunuh dan menawan mereka.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa mā kāna limu`minin ay yaqtula mu`minan illā khaṭa`ā, wa mang qatala mu`minan khaṭa`an fa taḥrīru raqabatim mu`minatiw wa diyatum musallamatun ilā ahlihī illā ay yaṣṣaddaqụ, fa ing kāna ming qaumin ‘aduwwil lakum wa huwa mu`minun fa taḥrīru raqabatim mu`minah, wa ing kāna ming qaumim bainakum wa bainahum mīṡāqun fa diyatum musallamatun ilā ahlihī wa taḥrīru raqabatim mu`minah, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu syahraini mutatābi’aini taubatam minallāh, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

 92.  Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tidak ada hak bagi seorang mukmin untuk berbuat melampaui batas kepada saudaranya yang mukmin dan membunuhnya tanpa hak, kecuali kejadian itu terjadi pada dirinya dalam bentuk kesalahan yang tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya. Barangsiapa mengalami kesalahan tersebut,maka menjadi kewajibannya untuk memerdekakan seorang budak mukmin dan menyerahkan diyat dengan nominal tertentu kepada ahli waris korban,kecuali mereka bersedia menyedekahkannya bagi pelaku dan meamaafkanya.Kemudian apabila korban yang terbunuh berasal dari orang-orang kafir yang memusuhi kaum Mukminin,sedang dia seorang yang beriman kepada allah  dan kepada kebenaran yang diturunkanNYa kepada rasulNYA,Muhammad ,maka kewajiabn pelaku pembunuhan adalah memerdekakan seorang budak yang beriman. Dan apabila korban berasal dari kaum yang antara kalian dan mereka terjalin perjanjian dan hubungan politik, maka kewajiban si pembunuh adalah membayar diyat yang diserahkan kepada para keluarga korban dan memerdekakan seorang budak perempuan mukmin.Barangsiapa tidak mampu memerdekakkan seorang budak perempuan mukmin,maka dia wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut,agar allah  berkenan menerima taubat dari nya.Dan allah  Maha mengetahui hakikat urusan hamba-hambaNya,juga Maha bijaksana dalam ajaran yang disyariatkanNYa kepada mereka.

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

wa may yaqtul mu`minam muta’ammidan fa jazā`uhụ jahannamu khālidan fīhā wa gaḍiballāhu ‘alaihi wa la’anahụ wa a’adda lahụ ‘ażāban ‘aẓīmā

 93.  Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.

Dan barangsiapa berbuat melampaui batas terhadap seorang mukmin dengan membunuhnya secara sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan,maka hukuman baginya adalah neraka jahanam,dia kekal disana disertai dengan kemurkaan allah  kepadanya dan terusir dari rahmatNYA,jika Dia memberikannya balasan karena dosanya.Dan allah menyediakan baginya siksaan yang paling keras disebabkan apa yang telah mereka lakukan berupa tindakan kejahatan besar. Akan tetapi,allah  memafkan dan melimpahkan karuniaNYA kepada orang-orang beriman,maka allah tidak membalas mereka dengan kekekalan dalam neraka jahanam.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanū iżā ḍarabtum fī sabīlillāhi fa tabayyanụ wa lā taqụlụ liman alqā ilaikumus-salāma lasta mu`minā, tabtagụna ‘araḍal-ḥayātid-dun-yā fa ‘indallāhi magānimu kaṡīrah, każālika kuntum ming qablu fa mannallāhu ‘alaikum fa tabayyanụ, innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

 94.  Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Wahai orang-orang yang beriman kepada allah dan rasulNYa serta melaksanakan syariatNYA,bila kalian berjalan keuar di muka bumi untuk berjihad di jalan allah,maka jadilah kalian orang-orang yang bersikap berdasarkan bukti nyata dalam perkara yang akan kalian perbuat atau perkara yang kalian tinggalkan.Dan janganlah kalian menafikkan keimanan dari orang yang tampak pada dirinya secara lahir,Sesutu yang merupakan tanda keislaman,dan tidak memerangi kalian,sebab ada kemungkinan dia seorang MUkmin yang menyembunyikan keimanannya,demi mencari kesenangan kehidupan dunia dengan sikap tersebut. Dan allah ,disisinya terdapat karunia dan pemberian yang akan mencukupi kalian.Demikianlah keadaan kalian pada permulaan islam,dimana kalian menyembunyikan keimanan kalian di hadapan kaum kalian dari kalangan kaum musyrikin.Kemudian allah menganugerahkan kenikmatan kepada kalian dan memuliakan kalian dengan keimanan dan kekuatan.Maka jadilah kalian orang-orang yang berjalan di atas bukti nyata dan pengetahuan yang benar terhadap urusan-urusan kalian.Sesungguhnya allah maha mengetahui seluruh amal perbuatan kalian,maha teliti terhadap urusan-urusan kalian sekecil-kecilnya,dan akan memberikan balasan kepada kalian atas segala perbuatan tersebut.

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

lā yastawil-qā’idụna minal-mu`minīna gairu uliḍ-ḍarari wal-mujāhidụna fī sabīlillāhi bi`amwālihim wa anfusihim, faḍḍalallāhul-mujāhidīna bi`amwālihim wa anfusihim ‘alal-qā’idīna darajah, wa kullaw wa’adallāhul-ḥusnā, wa faḍḍalallāhul-mujāhidīna ‘alal-qā’idīna ajran ‘aẓīmā

 95.  Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,

Tidaklah sama antara orang yang tidak ikut serta berjihad di jalan Allah  (yang bukan orang-orang yang punya udzur dari kaum Mukminin),dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta-harta dan jiwa-jiwa mereka .Allah  memberikan keutamaan bagi orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk tidak berjihad, dan mengangkat kedudukan mereka ke derajat yang tinggi di surga.Dan sungguh Allah telah menjanjikan kepada masing-masing dari orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka,dan orang-orang yang duduk(tidak berjihad) dari orang-orang yang mempunyai udzur berupa surge dikerenakan apa yang telah mereka kerahkan dan korbankan dijalan kebenaran.Dan Allah  melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk(tidak berjihad) dengan pahala yang besar.

دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

darajātim min-hu wa magfirataw wa raḥmah, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

 96.  (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pahala besar ini berupa tempat tinggal yang tinggi di surga-surga dari Allah  ,diperuntukkan bagi hamba-hambanya yang berjihad di jalanNYA secara khusus,dan disertai dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan rahmat yang luas dan mereka bersenang-senang menikmatinya di dalam surga.Dan Allah maha pengampun bagi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNYA,juga Maha penyayang terhadap orang-orang yang taat kepadaNYA,yang berjihad di jalanNya.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

innallażīna tawaffāhumul-malā`ikatu ẓālimī anfusihim qālụ fīma kuntum, qālụ kunnā mustaḍ’afīna fil-arḍ, qālū a lam takun arḍullāhi wāsi’atan fa tuhājirụ fīhā, fa ulā`ika ma`wāhum jahannam, wa sā`at maṣīrā

 97.  Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

Sesungguhnya orang-orang yang telah diwafatkan mereka oleh para malaikat,sedang mereka dalam keadaan menzolimi diri mereka sendiri dengan tetap tinggal di daerah kafir dan tidak berhijrah,para malaikat bertanya kepada mereka sebagai bentuk celaan terhadap mereka, ”dalam keadaan bagaimanakah kalian terkait urusan agama kalian?”maka mereka menjawab, ”kami orang-orang yang lemah di kampung halaman kami,tidak berdaya untuk menolak kezhaliman dan penindasan dari diri kami.”maka para malaiakat menjawab untuk mencela mereka, ”bukankah bumi Allah itu luas,sehingga kalian bisa keluar dari daerah kalian menuju daerah lainnya,dimana nanti kalian akan merasa aman terhadap agama kalian?” dan mereka,tempat mereka adalah neraka,dan neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali dan tempat berpulang.

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا

illal-mustaḍ’afīna minar-rijāli wan-nisā`i wal-wildāni lā yastaṭī’ụna ḥīlataw wa lā yahtadụna sabīlā

 98.  kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

Dan diberi uzur dari tempat kembali (yang buruk)itu, orang-orang yang lemah tak berdaya dari kaum lelaki,kaum wanita,dan anak-anak kecil yang tidak memiliki kemampuan untuk menolak tindak penindasan dan kezhaliamn yang menimpa diri mereka,serta mereka tidak tahu cara untuk membebaskan diri dari penderitaan yang mereka alami.

فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

fa ulā`ika ‘asallāhu ay ya’fuwa ‘an-hum, wa kānallāhu ‘afuwwan gafụrā

 99.  mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Orang-orang yang lemah itu,mereka itulah orang-orang yang di harap-harapkan mendapat maaf dari Allah, kerena pengetahuan Allah  akan hakikat keadaan diri mereka.Dan Allah maha banyak memaafkan dan mengampuni dosa-dosa mereka serta menutupi hal itu atas mereka.

۞ وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

wa may yuhājir fī sabīlillāhi yajid fil-arḍi murāgamang kaṡīraw wa sa’ah, wa may yakhruj mim baitihī muhājiran ilallāhi wa rasụlihī ṡumma yudrik-hul-mautu fa qad waqa’a ajruhụ ‘alallāh, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

 100.  Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan barangsiapa keluar dari negeri syirik menuju negeri islam demi lari menyelamatkan agamanya, lagi mengharap karunia tuhannya,serta bermaksud membela agamaNYA,niscaya dia akan mendapatkan di muka bumi ini tempat dan daerah tujuan yang dia akan menikmati hidup di sana dengan hal-hal yang menjadi factor penyebab kekuatannya dan kehinaan musuh-musuhnya, disertai dengan keluasan dalam rizki dan kehidupannya.Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan tujuan membela agama Allah  dan rosulNya  serta meninggikan kalimat Allah  ,lalu ajal menjemputnya sebelum dia mencapai tujuannya,maka sesungguhnya telah tetap baginya pahal amalannya pada sisi Allah,sebagai bentuk kemurahan dan kebaik dariNYa.Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang kepada hamba-hambaNya.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

wa iżā ḍarabtum fil-arḍi fa laisa ‘alaikum junāḥun an taqṣurụ minaṣ-ṣalāti in khiftum ay yaftinakumullażīna kafarụ, innal-kāfirīna kānụ lakum ‘aduwwam mubīnā

 101.  Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dan apabila kalian menempuh perjalanan jauh (wahai kaum Mukminin) dimuka bumi Allah,maka tidak ada masalah dan tidak ada dosa untuk mengqashar shalat,bila kalian mengkhawatirkan serangan musuh kepada kalian saat kalian tengah mengerjakan shalat.Dahulu kebanyakan safar kaum Muslimin pada awal perkembangan islam diliputi rasa ketakutan. Dan setelah itu,mengqashar shalat merupakan rukhsakh (keringanan) dalam perjalanan dalam keadaan aman maupun saat dilanda rasa ketakutan. Sesungguhnya orang-orang kafir menampakkan permusuhan kepada kalian secara terang-terangan,maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

wa iżā kunta fīhim fa aqamta lahumuṣ-ṣalāta faltaqum ṭā`ifatum min-hum ma’aka walya`khużū asliḥatahum, fa iżā sajadụ falyakụnụ miw warā`ikum walta`ti ṭā`ifatun ukhrā lam yuṣallụ falyuṣallụ ma’aka walya`khużụ ḥiżrahum wa asliḥatahum, waddallażīna kafarụ lau tagfulụna ‘an asliḥatikum wa amti’atikum fa yamīlụna ‘alaikum mailataw wāḥidah, wa lā junāḥa ‘alaikum ing kāna bikum ażam mim maṭarin au kuntum marḍā an taḍa’ū asliḥatakum, wa khużụ ḥiżrakum, innallāha a’adda lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

 102.  Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Dan apabila kamu (wahai nabi),berada di medan pertempuran, lalu kamu hendak mengerjakan shalat bersama mereka,maka hendaknya satu kelompok dari mereka berdiri untuk mengerjakan shalat bersamamu, dan hendaknya mereka tetap menyandang senjata-senjata mereka. lalu apabila mereka telah bersujud,hendaknya pasukan lain yang berada di belakang kalian menghadapi musuh kalian,sedang jamaah pasukan pertama menyempurnakan rakaat kedua dan bersalam.Kemudian datang jamaah pasukan yang belum mengerjakan shalat dan bermakmum kepadmu dalam rakaat pertama mereka,kemudian mereka menyelesaikan rakaat kedua sendiri. Dan hendaknya mereka selalu waspada terhadap musuh-musuh mereka dan hendaklah mereka menyandang senjata-senjata mereka.Orang-orang yang ingkar terhadap agama Allah menginginkan agar kalian itu lengah terhadap senjata dan perbekalan kalian,sehingga mereka dapat menyerbu kalian dengan satu srangan sekaliagus dan berhasil menghabisi kalian.Dan tidak ada dosa bagi kalian di waktu itu,tatkala ada sesuatu gangguan pada diri kalian seperti kondisi hujan atau kalian dalam kondisi sakit untuk meletakkan senjata-senjata kalian,dengan tetap waspada penuh.Sesungguhnya Allah  telah menyediakan bagi orang-orang yang mengingkari agamaNYA siksaan yang akan menghinakan dan menistakan mereka.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

fa iżā qaḍaitumuṣ-ṣalāta fażkurullāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbikum, fa iżaṭma`nantum fa aqīmuṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta kānat ‘alal-mu`minīna kitābam mauqụtā

 103.  Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Apabila kalian telah mengerjakan shalat,maka tetaplah kalian mengingat Allah dalam seluruh kondisi kalian.Kemudian apabila tlah hilang rasa ketakutan itu, maka kerjakanlah shalat dengan sempurn,dan janganlah kalian menyepelekannya,karena sesungguhnya shalat itu wajib pada waktu-waktu yang telah di maklumi dalam syariat.

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa lā tahinụ fibtigā`il-qaụm, in takụnụ ta`lamụna fa innahum ya`lamụna kamā ta`lamụn, wa tarjụna minallāhi mā lā yarjụn, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

 104.  Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan janganlah kalian kendur semangat dalam mengejar musuh kalian dan memerangi mereka.Jika kalian menderita kesakitan akibat peperangan dan dampak-dampaknya,maka musuh-musuh kalian pun demikian merasakan kesakitan yang lebih berat,meski demikian mereka tidak berhenti memerangi kalian.Maka sudah semestinya kalian lebih tangguh untuk itu daripada mereka,karena kalian mengharapkan pahala,kemenangan dan pertolongan,sedang mereka tidak mengharapkan itu.Dan Allah maha mengetahui semua keadaan kalian,juga Maha bijaksana dalam penetapan perintah dan aturanNya.

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi litaḥkuma bainan-nāsi bimā arākallāh, wa lā takul lil-khā`inīna khaṣīmā

 105.  Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,

Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu (wahai rasul), al-qur;an yang berisi kebenaran,untuk memutuskan perkara diantara manusia semuanya melalui wahyu yang Allah wahyukan kepadamu dan diperlihatkanNya kepadamu.Maka janganlah kamu menjadi bagi orang-orang yang berkhianat (dengan menyembunyikan kebenaran) sebagai pembela, gara-gara apa yang mereka perlihatkan kepadamu berupa perkataaan yang tidak sejalan dengan hakikat yang sebenarnya.

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

wastagfirillāh, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

 106.  dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan mintalah dari Allah  ampunan dalam seluruh keadaanmu. Sesungguhnya Allah  Maha pengampun bagi orang yang mengaharapkan karunia Nya dan mendapatkan ampunanNya,juga maha penyayang kepadanya.

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

wa lā tujādil ‘anillażīna yakhtānụna anfusahum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna khawwānan aṡīmā

 107.  Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

Dan janganlah kamu membela orang-orang yang berkhianat dengan bermaksiat kepaada Allah. Sesungguhnya Allah  tidak mencintai orang yang amat besar pengkhianatannya lagi banyak dosanya.

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

yastakhfụna minan-nāsi wa lā yastakhfụna minallāhi wa huwa ma’ahum iż yubayyitụna mā lā yarḍā minal-qaụl, wa kānallāhu bimā ya’malụna muḥīṭā

 108.  mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.

Mereka bersembunyi dari pandangan manusia lantaran takut manusia melihat perbuatan buruk mereka, tetapi mereka tidak menutupi diri dari Allah  dan tidak malu kepadaNya, padahal Dia  selalu bersama mereka dengan ilmuNya,mengawasi mereka ketika mereka mengatur suatu siasat di malam hari yang tidak diridhai Allah. Dan Allah  meliputi seluruh ucapan dan perbuatan mereka,tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا

hā`antum hā`ulā`i jādaltum ‘an-hum fil-ḥayātid-dun-yā, fa may yujādilullāha ‘an-hum yaumal-qiyāmati am may yakụnu ‘alaihim wakīlā

 109.  Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?

Itulah kalian (wahai kaum Mukminin), kalian mengemukakan hujjah untuk membela orang-orang yang berbuat pengkhianatan di kehidupan dunia ini, tetapi siapakah yang akan mendebat Allah  untuk membela mereka pada hari kebangkitan dan hari perhitunagn amal? Dan siapakah gerangan yang akan mengurusi urusan pengkhianatan itu pada hari kiamat?

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

wa may ya’mal sū`an au yaẓlim nafsahụ ṡumma yastagfirillāha yajidillāha gafụrar raḥīmā

 110.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan buruk lagi jelek,atau berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dengan melakukan pelanggaran terhadap hukum Allah dan syariatNya, kemudian dia kembali kepada Allah dengan penyesalan atas apa yang telah dia perbuat,demi mengharapkan ampunanaNYa dan agar Dia berkenan menutup dosanya, niscaya akan mendapati Allah maha pengampun kepadanya dan maha penyayang terhadapnya.

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa may yaksib iṡman fa innamā yaksibuhụ ‘alā nafsih, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

 111.  Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan barangsiapa sengaja melakuakan perbuatan dosa, amak sesungguhnya dengan tindakkannya itu,dia hanya memudaratkan dirinya saja. Dan Allah  Maha mengetahui hakikat urusan hamba-hamabaNya lagi Maha Bijaksana dalam memberi keputusan diantara makhluk-makhlukNya.

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

wa may yaksib khaṭī`atan au iṡman ṡumma yarmi bihī barī`an fa qadiḥtamala buhtānaw wa iṡmam mubīnā

 112.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

Dan barngsiapa berbuat kesalahan tanpa sengaja atau melakukan perbuatan dosa dengan sengaja,kemudian dia melemparkan tuduhan atas apa yang dia perbuat kepada orang yang tidak bersalah yang tidak melakukan tindakan kejahatan apapun, maka sesungguhnya dia telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata.

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

walau lā faḍlullāhi ‘alaika wa raḥmatuhụ lahammaṭ ṭā`ifatum min-hum ay yuḍillụk, wa mā yuḍillụna illā anfusahum wa mā yaḍurrụnaka min syaī`, wa anzalallāhu ‘alaikal-kitāba wal-ḥikmata wa ‘allamaka mā lam takun ta’lam, wa kāna faḍlullāhi ‘alaika ‘aẓīmā

 113.  Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.

Dan seandainya Allah  tidak menganugerahkan nikmat kepadamu (wahai rasul), dan tidak merahmatimu dengan karunia kenabian,dan tidak memeliharamu dengan taufikNya, melalui wahyu yang diwahyukan kepadamu, niscaya akan bertekad kuat dari segolongan orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri untuk menggelincirkanmu dari jalan kebenaran, namun mereka tidaklah menggelincirkan dengan usaha mereka itu kecuali diri mereka sendiri. Dan mereka tidak sanggup melancarkan gangguan kepadamu karena perlndungan Allah terhadap dirimu. Dan Allah telah menurunkan kepadamu al-qur’an dan assunnah yang berfungsi sebagai penjelasan al-qur’an, dan memberimu petunjuk kepada ilmu yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Dan karunia yang Allah mengistimewakan dirimu dengannya merupakan perkara yang sangat besar.

۞ لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

lā khaira fī kaṡīrim min najwāhum illā man amara biṣadaqatin au ma’rụfin au iṣlāḥim bainan-nās, wa may yaf’al żālikabtigā`a marḍātillāhi fa saufa nu`tīhi ajran ‘aẓīmā

 114.  Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Tidak ada manfaat dalam kebanyakan ucapan-ucapan manusia dengan berbisik-bisik diantara mereka, kecuali ucapan itu adalah perkataan yang mengajak untuk berbagi kebaikan dalam bentuk sedekah, atau kata-kata yang baik, atau mendamaikan antara manusia. Dan barangsiapa yang melakukan hal-hal tersebut demi mencari ridha Allah  lagi mengharap pahalaNya,maka Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar lagi luas.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

wa may yusyāqiqir-rasụla mim ba’di mā tabayyana lahul-hudā wa yattabi’ gaira sabīlil-mu`minīna nuwallihī mā tawallā wa nuṣlihī jahannam, wa sā`at maṣīrā

 115.  Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Dan barangsiapa menyelisihi rasul  setelah tampak jelas baginya sebuah kebenaran, dan dia menempuh jalan selain jalan kaum Mukminin dan apa yang ada pada diri merkea berupa kebenaran, kami akan biarkan dia menuju arah manapun yang akan dia tuju, maka kami tidak memberinya taufik menuju kebaikan dan kami akan memasukkannya kedalam Neraka jahanam, dia mersakan panasnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali dan tempat berpulang.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qad ḍalla ḍalālam ba’īdā

 116.  Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Sesungguhnya Allah  tidak mengampuni dosa perbuatan menyekutukan sesuatu denganNya, dan akan mengampuni selain syririk dari dosa-dosa lainnya bagi siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Dan barangsiapa menjadikan sekutu bagi Allah , Dzat yang tunggal dan maha esa ,dari kalangan makhluknya,maka sungguh ia telah jauh dari kebenaran denagn sejauh-jauhnya.

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا

iy yad’ụna min dụnihī illā ināṡā, wa iy yad’ụna illā syaiṭānam marīdā

 117.  Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,

tidaklah Kaum musyrikin menyembah selain Allah  kecuali hanya kepada berhala-berhala yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan menimpakkan mudarat. Dan mereka sebenarnya tidaklah menyembah, kecuali kepada setan yang amat durhaka terhadap Allah, yang telah berbuat kerusakan dam melakukan kerusakan yang mencapai batas yang parah.

لَعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

la’anahullāh, wa qāla la`attakhiżanna min ‘ibādika naṣībam mafrụḍā

 118.  yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya),

Allah  mengusirnya dari rahmatNYa.Dan setan berkata, ”aku benar-benar akan sungguh-sungguh mengambil bagian yang telah di tentukan dari hamba-hambaMu untuk aku sesatkan, dengan ucapan ataupun perbuatan.

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

wa la`uḍillannahum wa la`umanniyannahum wa la`āmurannahum fa layubattikunna āżānal-an’āmi wa la`āmurannahum fa layugayyirunna khalqallāh, wa may yattakhiżisy-syaiṭāna waliyyam min dụnillāhi fa qad khasira khusrānam mubīnā

 119.  dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

Dan benar-beanar akan aku sesatkan orang-orang yang mengikutiku dari kalangan mereka dari kebenaran,dan benar-benar akan aku janjikan mereka dengan angan-angan dan kedustaan dan sungguh-sungguh menyeru mereka untuk memotong telinga-telinga hewan ternak atau melubanginya untuk tujuan kebatilan yang akau perindah dari pandangan mereka. Dan aka sungguh-sungguh akan menyeru mereka untuk mengubah-ubah ciptaan Allah dari fitrahnya dan bentuk fisik yang ada pada makhluk.”barangsiapa menyambut seruan setan dan menjadikannya sebagai penolong baginya selain Allah, Dzat yang maha kuat lagi maha perkasa, maka sungguh dia telah binasa dengan kebinasaan yang nyata.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

ya’iduhum wa yumannīhim, wa mā ya’iduhumusy-syaiṭānu illā gurụrā

 120.  Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

Setan menjanjikan kepada pengikut-pengikutnya dengan janji-janji dusta dan memperdaya mereka dengan angan-angan yang menipu. Dan tidaklah setan memberikan janji kepada mereka kecuali merupakan tipuan belaka yang tidak ada kebenarnnya sama sekali dan tidak ada bukti yang menunjukannya.

أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا

ulā`ika ma`wāhum jahannamu wa lā yajidụna ‘an-hā mahīṣā

 121.  Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.

Mereka itu,tempat kembali mereka adalah neraka jahanam,dan mereka tidak akan mendapatkan tempat lari dan tempat berlindung darinya.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sanudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, wa’dallāhi ḥaqqā, wa man aṣdaqu minallāhi qīlā

 122.  Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?

Dan orang-orang yang benar dalam keimanan mereka kepada Allah  dan mengikutkan keimanan dengan amal-amal shalih, Allah akan memasukkan mereka kedalam surga-surga dengan karuniaNya, yang mengalir di bawah istana-istan dan pepohonannya sungai-sungai,dan mereka tinggal di sana selamanya,sebagai janji dari Allah  yang tidak pernah memungkiri janjiNya. Dan tidak ada seorangpun yang lebih benar daripada Allah  dalam perkataan dan janjiNya.

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

laisa bi`amāniyyikum wa lā amāniyyi ahlil-kitāb, may ya’mal sū`ay yujza bihī wa lā yajid lahụ min dụnillāhi waliyyaw wa lā naṣīrā

 123.  (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

tidak dapat digapai Karunia yang agung ini hanya dengan angan-angan kosong yang kalian impi-impikan belaka wahai kaum Muslimin, dan bukan juga dengan angan-angan kosong ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani. Dan sesungguhnya Ia hanya dapat digapai dengan keimanan yang benar kepada Allah  dan memperbaiki amal shalih yang Allah ridha. Dan barangsiapa mengerjakan perbuatan yang buruk,niscaya akan diberi pembalasan karenanya, dan dia tidak akan mendapati selain Allah  pelindung yang mengurus perkara-perkara dan kepentingannya serta penolong yang menolongnya dan menyingkirkan darinya siksaan yang buruk

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

wa may ya’mal minaṣ-ṣāliḥāti min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa ulā`ika yadkhulụnal-jannata wa lā yuẓlamụna naqīrā

 124.  Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.

Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih,baik lelaki maupun wanita,sedang dia beriman kepada Allah  dan kepada apa yang diturunkan berupa kebenaran,maka mereka itu akan Allah masukkan kedalam surga tempat kenikmatan yang abadi,mereka tidak mengalami pengurangan dari pahala amalan mereka sedikitpun,kendatipun sekecil celah yang ada di permukaan biji kurma.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

wa man aḥsanu dīnam mim man aslama waj-hahụ lillāhi wa huwa muḥsinuw wattaba’a millata ibrāhīma ḥanīfā, wattakhażallāhu ibrāhīma khalīlā

 125.  Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Tidak ada seorangpun yang lebih baik agamanya daripada orang yang tunduk patuh dengan hati dan segenap anggota tubuhnya kepada Allah  semata, sedang dia orang yang berbuat baik dengan ucapan dan perbuatannya mengikuti perintah tuhannya, dan mengikuti agama Ibrahim  dan ajarannya, menjauhi keyakinan-keyakinan yang rusak dan ajaran-ajaran yang batil. Dan sesungguhnya Allah telah memilih Ibrahim  dan menjadikannya orang kesayangganNya di antara seluruh makhlukNYa. Dan didalam ayat ini terdapat dalil penetapan sifat “khullah” bagi Allah  ,yaitu derajat paling tinggi dari cinta dan pilihan.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kānallāhu bikulli syai`im muḥīṭā

 126.  Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Dan kepunyaan Allah lah seluruh apa yang ada di alam semesta ini, yaitu semua makhlukNya, semua itu milik Allah  semata. Dan Allah  meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang samar bagiNya dari urusan-urusan makhlukNya

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ ۖ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدَانِ وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِالْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا

wa yastaftụnaka fin-nisā`, qulillāhu yuftīkum fīhinna wa mā yutlā ‘alaikum fil-kitābi fī yatāman-nisā`illātī lā tu`tụnahunna mā kutiba lahunna wa targabụna an tangkiḥụhunna wal-mustaḍ’afīna minal-wildāni wa an taqụmụ lil-yatāmā bil-qisṭ, wa mā taf’alụ min khairin fa innallāha kāna bihī ‘alīmā

 127.  Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.

Orang-orang meminta kepadamu (wahai nabi), untuk menjelaskan perkara yang sulit dipahami oleh mereka terkait persoalan-persoalan wanita dan hukum tentang mereka. Katakanlah Allah  telah menerangkan kepada kalian hal-hal tentang mereka dan apa-apa yang dibacakan kepada kalian di dalam al-qur’an tentang wanita-wanita yatim yang kalian tidak memberikan kepada mereka apa yang telah Allah wajibkan bagi mereka berupa maskawin, bagian warisan dan hak-hak lainnya, sedang kalian ingin menikahi mereka, atau kalian tidak suka untuk menikahi mereka, dan Dia menjelaskan kepada kalian perkara tentang orang-orang yang lemah dari kalangan anak-anak dan kewajiban untuk mengurus anak-anak yatim -yaitu;anak-anak yang ditinggal mati oleh bapak mereka dan belum mencapai umur baligh- dengan adil dan meninggalkan segala bentuk kecurangan terhadap mereka dalam hak-hak mereka. Dan kebaiakan apa saja yang kalian perbuat, maka sesungguhnya Allah  Maha Mengetahuinya,tidak ada yang tersembunyi bagiNya sesuatu dari kebaikan itu dan perkara lainnya.”

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

wa inimra`atun khāfat mim ba’lihā nusyụzan au i’rāḍan fa lā junāḥa ‘alaihimā ay yuṣliḥā bainahumā ṣul-ḥā, waṣ-ṣul-ḥu khaīr, wa uḥḍiratil-anfususy-syuḥḥ, wa in tuḥsinụ wa tattaqụ fa innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

 128.  Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan apabila seorang wanita mengetahui dari suaminya terdapat sikap arogansi dan keangkuhan kepadanya atau acuh tak acuh kepadanya, maka tidak ada dosa atas mereka berdua untuk mengadakan kesepakatan sesuai dengan kerelaan jiwa mereka, terkait pembagian giliran menginap dan nafkah. Dan perdamaian itu lebih baik dan lebih utama. Dan jiwa-jiwa manusia tercipta dalam tabiat tamak dan kikir. Dan apabila kalian memperbaiki pergaulan kalian terhadap istri-istri kalian dan bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan mereka, maka sesungguhnya Allah terhadap apa yang kalian perbuat berupa sikap kikir dan sifat lainnya Maha Mengetahui, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagiNya,dan akan memberikan balasan kepada kalian atas perbuatan tersebut.

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

wa lan tastaṭī’ū an ta’dilụ bainan-nisā`i walau ḥaraṣtum fa lā tamīlụ kullal-maili fa tażarụhā kal-mu’allaqah, wa in tuṣliḥụ wa tattaqụ fa innallāha kāna gafụrar raḥīmā

 129.  Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan sekali-kali tidak akan sanggup kalian (wahai kaum lelaki) untuk mewujudkan perlakuan adil yang sempurna terhadap istri-istri kalian dalam hal cinta dan kecenderungan hati,bagaimana pun besarnya usaha yang sudah kalian kerahkan. Maka janganlah kalian terlalu berpaling dari istri yang tidak kalian sukai, lalu kalian membiarkannya layaknya wanita yang tidak bersuami dan juga tidak diceraikan,sehingga menyebabkan kalian berbuat dosa. Dan apabila kalian mengadakan perbaiakan terhadap sikap dan tindakan kalian,dengan berlaku adil dalam membagi giliran hari antara istri-istri kalian,dan selalu merasa diawasi oleh Allah  dan takut kepadaNya, maka sesungguhnya Allah  Maha pengampun terhadap hamba-hambaNya lagi maha penyayang kepada mereka.

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

wa iy yatafarraqā yugnillāhu kullam min sa’atih, wa kānallāhu wāsi’an ḥakīmā

 130.  Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.

Dan jika terjadi penceraian antara seorang lelaki dan istrinya,maka sesungguhnya Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari mereka dari karunia dan keluasan rizkiNya. Sesungguhnya Allah  maha luas karunia dan anugerahNya,maha bijaksana dalam keputusan yang ditetapkanNya antara hamba-hambaNya.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa laqad waṣṣainallażīna ụtul-kitāba ming qablikum wa iyyākum anittaqullāh, wa in takfurụ fa inna lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kānallāhu ganiyyan ḥamīdā

 131.  Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.

Dan kepunyaan Allah lah kerajaan yang ada dilangit dan dibumi dan yang ada berada di antara keduanya. Dan sesungguhnya kami telah mengikat janji kepada orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelum kalian dari kalangan yahudi dan nasrani dan kami ikat janji kepada kalian juga (wahai umat Muhammad ), untuk bertakwa kepada Allah  dan melaksanakan segala perinyahNya dan menjauhi segala laranyanNya, dan kami jelaskan kepada kalian bahwasanya kalian jika mengingkari keesaan Allah dan mengingkari ajaran syariatNya, maka Allah  Maha kaya,tidak membutuhkan kalian,sebab segala sesuatu yang ada di langit dan dibumi adalah milikNya.Dan Allah Maha kaya,tidak membutuhkan makhlukNya;lagi maha terpuji dalam seluruh sifat dan perbuatanNya.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kafā billāhi wakīlā

 132.  Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Dan kepunyaan Allah lah segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dari seluruh wujud makhluk yang ada.Dan cukuplah Allah sebagi Dzat yang menangani urusan-urusan makhlukNya yang juga pemeliharaannya.

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًا

iy yasya` yuż-hibkum ayyuhan-nāsu wa ya`ti bi`ākharīn, wa kānallāhu ‘alā żālika qadīrā

 133.  Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.

Bila Allah menghendaki,niscaya Dia akan membinasakan kalian wahai sekalian manusia,dan kemudian mendatangkan kaum lain selain kalian. Dan Allah Mahakuasa untuk melakukan hal tersebut.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

mang kāna yurīdu ṡawābad-dun-yā fa ‘indallāhi ṡawābud-dun-yā wal-ākhirah, wa kānallāhu samī’am baṣīrā

 134.  Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Barangsiapa dari kalian (wahai sekalian manusia),lebih suka terhadap pembalasan dunia dan berpaling dari kampung akhirat,maka disisi Allah saja balasan di dunia dan akhirat. Karena itu, maka hendaklah dia memohon dari Allah saja kebaikan dunia dan akhirat. Dialah Dzat yang memiliki keduanya. Dan Allah maha mendengar seluruh ucapan hamba-hambaNya, maha melihat seluruh niat-niat dan tindak-tanduk mereka,dan Allah akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan perbuatan mereka.

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā`a lillāhi walau ‘alā anfusikum awil-wālidaini wal-aqrabīn, iy yakun ganiyyan au faqīran fallāhu aulā bihimā, fa lā tattabi’ul-hawā an ta’dilụ, wa in talwū au tu’riḍụ fa innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

 135.  Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, jadilah kalian orang-orang yang senantiasa tegak menjalankan keadilan, mengemukakan persaksian karena mengaharap wajah Allah  , walaupun terhadap diri kalian sendiri atau ayah-ayah dan ibu-ibu kalian atau terhadap karib kerabat kalian, bagiamanapun keadaan orang yang dipersaksikan, baik kaya maupun miskin, karena sesungguhnya Allah  lebih utama memperhatikan mereka dibandingkan kalian dan lebih tahu apa yang mendatangkan kemaslahatan mereka berdua. Janganlah membawa kalian hawa nafsu dan fanatik buta untuk meninggalkan sikaf adil. Apabila kalian mengubah-ubah persaksian dengan lisan-lisan kalian,lalu kalian membawakan persaksian yang tidak sebenarnya atau berpaling darinya dengan tidak mengemukakannya atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah  maha mengetahui sekecil apapun tindakan kalian dan akan memberikan balasan kepada kalian menurut perbuatan tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

yā ayyuhallażīna āmanū āminụ billāhi wa rasụlihī wal-kitābillażī nazzala ‘alā rasụlihī wal-kitābillażī anzala ming qabl, wa may yakfur billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulihī wal-yaumil-ākhiri fa qad ḍalla ḍalālam ba’īdā

 136.  Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah  dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, konsistenlah kalian diatas keadaan kalian berupa keimanan yang mantap kepada Allah dan rasulNya Muhammad  dan dalam ketaatan kepada keduanya, dan kepada al-qur’an yang diturunkanNya kepadanya serta kepada seluruh kitab suci yang Allah turunkan kepada para rasul. Dan barangsiapa kafir kepada Allah  malaikat-malaikatNya yang dimuliakan, kitab-kitabnya yang diturunkan sebagai petunjuk bagi makhluk-makhlukNya, dan para rasulNya yang Allah pilih untuk menyampaikan risalahNya, serta kepada hari akhir yang mana manusia akan bangkit dari kematian mereka untuk dihadapkan kepada Allah dan perhitungan amal hari itu,maka sungguh dia telah keluar dari agama islam dan jauh dari jalan kebenaran sejauh-jauhnya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

innallażīna āmanụ ṡumma kafarụ ṡumma āmanụ ṡumma kafarụ ṡummazdādụ kufral lam yakunillāhu liyagfira lahum wa lā liyahdiyahum sabīlā

 137.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Sesungguhnya orang-orang yang telah memasuk dalam keimanan, kemudian mereka kembali menuju kekafiran, lalu dia kembali lagi kepada keimanan, dan kemudian meninggalkannya menuju kekafiran kembali, lantas berketetapan hati di atas kekafiran dan terus berada di atasnya, niscaya Allah tidak akan mengampuni mereka dan juga tidak menunjukan mereka kepada jalan dari jalan-jalan hidayah yang mereka akan selamat dengannya dari akibat yang buruk.

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

basysyiril-munāfiqīna bi`anna lahum ‘ażāban alīmā

 138.  Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

Kabarkanlah olehmu wahai rasul,kepada orang-orang munafik, yaitu kaum yang menampakkan keislaman secara lahir dan menyembunyikan kekafiran, bahwasanya mereka akan mendapat siksaan yang pedih.

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

allażīna yattakhiżụnal-kāfirīna auliyā`a min dụnil-mu`minīn, a yabtagụna ‘indahumul-‘izzata fa innal-‘izzata lillāhi jamī’ā

 139.  (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Yaitu orang-orang loyal kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai penolong-penolong bagi mereka dan meninggalkan kesetiaan kepada kaum mukminin serta tidak menginginkan jalinan kasih sayang dengan kaum mukminin. Apakah dengan cara itu mereka mencari pertolongan dan kekuatan di sisi orang-orang kafir? sesungguhnya mereka tidak punya semua itu; sebab pertolongan, kemuliaan dan kekuatan semuanya hanya milik Allah  semata.

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

wa qad nazzala ‘alaikum fil-kitābi an iżā sami’tum āyātillāhi yukfaru bihā wa yustahza`u bihā fa lā taq’udụ ma’ahum ḥattā yakhụḍụ fī ḥadīṡin gairihī innakum iżam miṡluhum, innallāha jāmi’ul-munāfiqīna wal-kāfirīna fī jahannama jamī’ā

 140.  Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,

Dan sesungguhnya Tuhan kalian telah menurunkan kepada kalian (wahai kaum mukminin), di dalam kitab Nya bahwa sesungguhnya bila kalian mendengar pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah dan olok-olokan kepadanya,maka janganlah kalian duduk-duduk bersama orang-orang kafir yang memperolok itu, kecuali ketika mereka mulai membicarakan perbincangan selain pengingkaran dan olok-olokan terhadap ayat-ayat Allah. Sesungguhnya jika kalian masih tetap duduk-duduk bersama mereka, padahal mereka masih tetap di keadaan semula, maka kalian serupa dengan mereka, karena kalian rido terhadap pengingkaran dan olok-olokan mereka. Dan orang yang meridhai kemaksiatan adalah seperti orang yang melakukannya langsung. Sesungguhnya Allah  akan menghimpun orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka jahanam semuanya,disana mereka akan mendapat siksaan yang amat buruk.

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

allażīna yatarabbaṣụna bikum, fa ing kāna lakum fat-ḥum minallāhi qālū a lam nakum ma’akum wa ing kāna lil-kāfirīna naṣībung qālū a lam nastaḥwiż ‘alaikum wa namna’kum minal-mu`minīn, fallāhu yaḥkumu bainakum yaumal-qiyāmah, wa lay yaj’alallāhu lil-kāfirīna ‘alal-mu`minīna sabīlā

 141.  (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.

Orang-orang munafik adalah mereka yang menunggu-nunggu sesuatu yang akan menimpa kalian wahai kaum Mukminin yang berupa musibah-musibah dan peperangan. Apabila Allah menganugerahkan pada kalian bagian dari karuniaNya dan memenangkan kalian atas musuh kalian dan kalian berhasil mendapatkan harta rampasan perang mereka berkata kepada kalian, ”Bukankah kami bersama kalian dan mendukung kalian?” Dan apabila orang-orang yang mengingkari agama ini memperoleh kesempatan menang dan harta rampasan, orang-orang munafik berkata kepada orang-orang kafir, ”Bukaknkah kami telah membantu kalian dengan apa yang telah kami berikan kepada kalian dan kami melindungi kalian dari kaum MUkminin?” Allah  akan megadili antara kalian dan mereka pada hari kiamat. Dan Allah tidak akan mengadakan jalan bagi orang-orang kafir untuk mengalahkan hamba-hambaNya yang shalih. Dan kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa adalah kebaikan di dunia dan di akhirat.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

innal-munāfiqīna yukhādi’ụnallāha wa huwa khādi’ụhum, wa iżā qāmū ilaṣ-ṣalāti qāmụ kusālā yurā`ụnan-nāsa wa lā yażkurụnallāha illā qalīlā

 142.  Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Sesungguhnya cara-cara yang ditempuh orang-orang munafik merupakan bentuk tipudaya kepada Allah  ,dengan apa yang mereka tampakkan dari keimanan dan apa yang mereka sembunyikan dari kekafiran mereka, lantaran persangkaan mereka bahwa hal itu akan samar bagi Allah, padahl sebenarnya Allah tengah membalas tipu daya mereka dan akan memberikan balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan amal perbuatan mereka. Dan apabila mereka, orang-orang munafik, tegak berdiri untuk mengerjakan shalat, mereka beranjak untuk mengerjakannya dalam kemalasan. Mereka hanya bertujuan riya dan sum’ah denagan shalat mereka, dan tidak mengingat-ingat dan menyebut Allah,kecuali hanya sedikit saja.

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

mużabżabīna baina żālika lā ilā hā`ulā`i wa lā ilā hā`ulā`, wa may yuḍlilillāhu fa lan tajida lahụ sabīlā

 143.  Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

Sesungguhnya diantara karakter orang-orang munafik adalah keragu-raguan,bimbang,dan goncang. Mereka tidak pernah tegak diatas suatu keadaan. Mereka bukan bersama kaum Mukminin dan tidak pula bersama orang-orang kafir. Dan barangsiapa yang Allah palingkan hatinya dari keimanan kepadaNya dan berpegang teguh dengan petunjukNya, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapati baginya jalan menuju hidayah dan keyakinan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżul-kāfirīna auliyā`a min dụnil-mu`minīn, a turīdụna an taj’alụ lillāhi ‘alaikum sulṭānam mubīnā

 144.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, janganlah kalian memberikan loyalitas kepada orang-orang yang ingkar kepada agama Allah dan kalian tinggalkan sikaf loyal dan cinta kasih kepada kaum mukminin. Apakah kalian ingin dengan cinta kalian kepada musuh-musuh kalian,untuk memberi alasan yang jelas bagi Allah  atas ketidak jujuran kalian dalam keimanan kalian?

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

innal-munāfiqīna fid-darkil-asfali minan-nār, wa lan tajida lahum naṣīrā

 145.  Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tempat-tempat paling bawah dari neraka pada hari kiamat. Dan kamu wahai rasul,tidak akan mendapati penolong bagi mereka yang akan menolak dari mereka tempat kembali yang buruk itu .

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

illallażīna tābụ wa aṣlaḥụ wa’taṣamụ billāhi wa akhlaṣụ dīnahum lillāhi fa ulā`ika ma’al-mu`minīn, wa saufa yu`tillāhul-mu`minīna ajran ‘aẓīmā

 146.  Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

Kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah  dan bertaubat kepadaNya, serta memperbaiki apa yang telah mereka rusak dari keadaan mereka baik yang batin dan lahir mereka dan loyal kepada hamba-hambaNya yang mukminin, dan berpegangteguh terhadap agama Allah dan ikhlas kepada Allah  ,maka mereka itu akan bersama kaum mukminin di dunia dan akhirat, dan Allah akan memberikan pahala yang besar kepada kaum Mukminin.

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

mā yaf’alullāhu bi’ażābikum in syakartum wa āmantum, wa kānallāhu syākiran ‘alīmā

 147.  Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Allah tidak akan menyiksa kalian,bila kalian melakukan perbaikan amalan dan beriman kepada Allah dan rasulNya. Sesunguhnya Allah  maha kaya,tidak membutuhkan selainNya. Dia hanya menyiksa hamba-hamba karena perbuatan dosa-dosa mereka saja. Dan Allah maha mensyukuri terhadap hamba-hambaNya atas ketaatan mereka kepadaNya juga maha mengetahui segala sesuatu.

۞ لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

lā yuḥibbullāhul-jahra bis-sū`i minal-qauli illā man ẓulim, wa kānallāhu samī’an ‘alīmā

 148.  Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah tidak menyukai sesorang yang mengeraskan suara dengan ucapan yang buruk. Akan tetapi,diperbolehkan bagi orang yang terzhalimi untuk menyebut orang yang menganiayanya dengan tindakan keburukan yang ada padanya untuk menjelaskan bentuk kezhalimannya. Dan Allah Maha Mendengar ucapan yang kalian keraskan lagi Maha Mengetahui ucapan yang kalian sembunyikan.

إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

in tubdụ khairan au tukhfụhu au ta’fụ ‘an sū`in fa innallāha kāna ‘afuwwang qadīrā

 149.  Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.

Allah  mengajak untuk memberikan maaf dan mengawali ajakan itu dengan menyebut bahwa seorang Mukmin kadang menampakkan kebaikannya atau menyembunyikannya. Begitu pula sikapnya terhadap perbuatan yang buruk, dia kadang memperlihatkannya ketika meminta keadlian dari pelaku keburukan,atau memberi maaf dan berlapang dada. Dan memberikan maaf itu lebih baik. Sesungguhnya diantara sifat Allah  adalah pemaaf terhadap hamba-hambaNya, meskipun Dia Mahakuasa untuk menyiksa mereka.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

innallażīna yakfurụna billāhi wa rusulihī wa yurīdụna ay yufarriqụ bainallāhi wa rusulihī wa yaqụlụna nu`minu biba’ḍiw wa nakfuru biba’ḍiw wa yurīdụna ay yattakhiżụ baina żālika sabīlā

 150.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya dari kalangan yahudi dan nasrani, dan menginginkan untuk membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasulNya dengan hanya beriman kepada Allah dan mendustakan rasul-rasulNya yang Allah utus kepada makhluk-makhlukNya atau mereka mengakui kebenaran sebagian rasul saja tanpa sebagian yang lain dan berprasangka bahwa sebagian mereka telah mengada-adakan kedustaan atas Nama tuhan mereka,dan mereka hendak mengadakan jalan menuju kesesatan yang mereka buat-buat sendiri dan bid’ah yang mereka ada-adakan.

أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

ulā`ika humul-kāfirụna ḥaqqā, wa a’tadnā lil-kāfirīna ‘ażābam muhīnā

 151.  merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

Mereka itulah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya,yang tidak ada keraguan lagi padanya. Dan kami menyediakan bagi orang-orang kafir itu,siksaan yang akan menghinakan dan menistakan mereka.

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

wallażīna āmanụ billāhi wa rusulihī wa lam yufarriqụ baina aḥadim min-hum ulā`ika saufa yu`tīhim ujụrahum, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

 152.  Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang-orang yang mengimani keesaan Allah dan mengakui kenabian seluruh rasul-rasulNya,dan tidak membeda-bedakan salah seorang pun di antara mereka,serta mengerjakan syariat Allah,mereka itu adalah orang-orang yang akan Allah berikan balasan dan pahala atas keimanan mereka kepada Nya dan kepada rasul-rasulNya. Dan Allah Maha pengampun kepada hamba-hambaNya lagi Maha penyayang kepada mereka.

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ ۚ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَىٰ أَكْبَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَنْ ذَٰلِكَ ۚ وَآتَيْنَا مُوسَىٰ سُلْطَانًا مُبِينًا

yas`aluka ahlul-kitābi an tunazzila ‘alaihim kitābam minas-samā`i fa qad sa`alụ mụsā akbara min żālika fa qālū arinallāha jahratan fa akhażat-humuṣ-ṣā’iqatu biẓulmihim, ṡummattakhażul-‘ijla mim ba’di mā jā`at-humul-bayyinātu fa ‘afaunā ‘an żālik, wa ātainā mụsā sulṭānam mubīnā

 153.  Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.

Orang-orang yahudi meminta kepadamu (wahai rasul), mukjizat seperti mukjizat musa  ,yang mempersaksikan kebenaranmu, yaitu kamu menurunkan kepada mereka lembaran-lembaran yang tertulis dari Allah, sebagaimana dahulu musa  datang dengan membawa lempengan-lempengan dari sisi Allah. janganlah kamu mersa aneh (wahai rasul), sebab sesungguhnya para pendahulu mereka telah meminta kepada Musa  mukjizat yang lebih besar dari itu. Mereka meminta supaya Musa  memperlihatkan Allah kepada mereka dalam keadaan terjaga, akibatnya merekapun ditimpa siksaan yang membinasakan. dikarenakan sifat kezhaliman mereka terhadap diri mereka tatkala meminta Sesuatu hal yang tidak pantas bagi mereka.Dan setelah Allah menghidupkan mereka setelah kematian mereka, dan menyaksikan tanda-tanda kebenaran nyata melalui tangan musa  yang sudah pasti menampik kesyirikan, justru mereka menyembah patung anak sapi selain Allah. Kemudian kami memaafkan mereka dari penyembahan terhadap patung anak sapi tersebut karena taubat mereka. Dan kami berikan kepada Musa  hujjah agung yang menguatkan kebenaran kenabiannya.

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

wa rafa’nā fauqahumuṭ-ṭụra bimīṡāqihim wa qulnā lahumudkhulul-bāba sujjadaw wa qulnā lahum lā ta’dụ fis-sabti wa akhażnā min-hum mīṡāqan galīẓā

 154.  Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.

Dan kami angkat diatas kepala-kepala mereka gunung thursina (Sinai), ketika mereka menolak untuk konsisten dengan perjanjian yang telah ditegaskan, yang diberikan kepada mereka untuk mengamalkan hukum-hukum kitab taurat, dan kami perintahkan mereka untuk memasuki pintu gerbang baitul maqdis dengan bersujud, tetapi mereka malah masuk sambil merangkak dengan pantat-pantat mereka. Dan kami perintahkan mereka untuk tidak berbuat melampaui batas dengan berburu ikan pada hari sabtu, namun mereka melakukan tindakan di luar batas dan berburu ikan. Dan kami telah mengikat janji kuat kepada mereka,lalu mereka melanggarnya.

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

fa bimā naqḍihim mīṡāqahum wa kufrihim bi`āyātillāhi wa qatlihimul-ambiyā`a bigairi ḥaqqiw wa qaulihim qulụbunā gulf, bal ṭaba’allāhu ‘alaihā bikufrihim fa lā yu`minụna illā qalīlā

 155.  Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup”. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

Maka kami melaknat mereka disebabkan karena pelanggaran mereka terhadap isi perjanjian tersebut, dan kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah yang menunjukan kebenaran rasul-rasulNya,dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap nabi-nabi secara zhalim dan melampaui batas, serta ucapan mereka,”Dihati kami ada penutup-penutup,sehingga tidak bisa memahami apa yang kamu ucapkan.” Bahkan sebenarnya Allah telah melenyapkan hati mereka disebabkan kekafiran mereka, sehingga mereka tidak beriman kecuali dengan keimanan yang sedikit yang tidak bermanfaat bagi mereka.

وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَىٰ مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا

wa bikufrihim wa qaulihim ‘alā maryama buhtānan ‘aẓīmā

 156.  Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Demikian pula kami melaknat mereka disebabkan kekafiran mereka dan kedustaan mereka terhadap Maryam atas tuduhan yang mereka tujukan kepadanya berupa perzinaan,padahal dia bersih dari tuduhan itu,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

wa qaulihim innā qatalnal-masīḥa ‘īsabna maryama rasụlallāh, wa mā qatalụhu wa mā ṣalabụhu wa lākin syubbiha lahum, wa innallażīnakhtalafụ fīhi lafī syakkim min-h, mā lahum bihī min ‘ilmin illattibā’aẓ-ẓanni wa mā qatalụhu yaqīnā

 157.  dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Dan juga disebabkan oleh ucapan mereka (demi mengejek dan memperolok-olok) ”sesungguhnya kami telah membunuh Almasih Isa bin Maryam utusan Allah, Padahal mereka sebenarnya tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya. Bahkan mereka hanyalah menyalib seorang lelaki yang menyerupainya,karena menyangka dia adalah isa purta Maryam. Barangsiapa yang mengklaim telah membunuhnya dari kalanagn yahudi dan mengaku telah menyerahkannya kepada mereka dari kalangan nasrani,maka mereka semua terjatuh dalam keragu-raguan dan kebingungan.Tidak ada ilmu pada mereka,kecuali sekedar mengikuti persangkaan belaka. Dan mereka tidaklah membunuhnya dengan yakin,sebaliknya,mereka ragu-ragu lagi sekedar mengira-ngira saja.

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

bal rafa’ahullāhu ilaīh, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā

 158.  Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Bahkan Allah telah mengangkat isa  kepadaNya dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan hidup, dan membersihkannya dari orang-orang kafir. Dan Allah maha perkasa dalam kerajaanNya, juga maha bijaksana dalam pengaturan dan ketetapan qadha Nya.

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

wa im min ahlil-kitābi illā layu`minanna bihī qabla mautih, wa yaumal-qiyāmati yakụnu ‘alaihim syahīdā

 159.  Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Dan sesunguhnya tidak ada seorangpun yang tersisa dari ahli kitab setelah turunnya isa pada akhir zaman, kecuali akan beriman kepadanya sebelum dia  meninggal. Dan pada hari kiamat,isa  akan menjadi saksi untuk mendustakan orang-orang yang mendustakannya dan membenarkan orang-orang yang mengimaninya.

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

fa biẓulmim minallażīna hādụ ḥarramnā ‘alaihim ṭayyibātin uḥillat lahum wa biṣaddihim ‘an sabīlillāhi kaṡīrā

 160.  Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

Maka disebabkan tindakan kezhaliman orang-orang yahudi akibat dosa-dosa besar yang diperbuat mereka, Allah mengharamkan atas mereka hal-hal yang baik-baik dari jenis makanan yang sebelumnya halal bagi mereka, dan juga disebabkan tindakan menghalang-halangi diri mereka dan orang lain dari agama Allah yang lurus.

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

wa akhżihimur-ribā wa qad nuhụ ‘an-hu wa aklihim amwālan-nāsi bil-bāṭil, wa a’tadnā lil-kāfirīna min-hum ‘ażāban alīmā

 161.  dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Dan juga disebabkan kebiasaan mereka mengambil riba yang mereka dilarang darinya dan tindakan mereka yang menghalalkan memakan harta manusia tanpa alasan yang membenarkannya, dan kami telah menyediakan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasulNya dari kalangan kaum yahudi siksaan pedih di akhirat.

لَٰكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ ۚ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

lākinir-rāsikhụna fil-‘ilmi min-hum wal-mu`minụna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablika wal-muqīmīnaṣ-ṣalāta wal-mu`tụnaz-zakāta wal-mu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, ulā`ika sanu`tīhim ajran ‘aẓīmā

 162.  Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.

Akan tetapi,orang-orang yang menguasai ilmu secara mumpuni tentang hukum-hukum Allah dengan baik dari kalangan yahudi dan kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan rasulNya, mereka mengimani wahyu yang diturunkan Allah  kepadamu (wahai rasul), yaitu al-qur’an dan kitab-kitab yang diturunkannya kepada rasul-rasul sebelummu seperti taurat dan injil,dan mereka mendirikan shalat pada waktu-waktunya dan mengeluarkan zakat dari harta mereka,dan mereka beriman kepada Allah dan hari kebangkitan dan pembalasan. Mereka itu orang-orang yang akan Allah berikan kepada mereka pahala yang bersar,yaitu surga.

۞ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

innā auḥainā ilaika kamā auḥainā ilā nụḥiw wan-nabiyyīna mim ba’dih, wa auḥainā ilā ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa wa ya’qụba wal-asbāṭi wa ‘īsā wa ayyụba wa yụnusa wa hārụna wa sulaimān, wa ātainā dāwụda zabụrā

 163.  Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Sesungguhnya kami telah mewahyukan kepadamu (wahai rasul),supaya menyampaikan risalah sebagaimana kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Dan kami wahyukan kepada Ibrahim,ismail,ya’qub,dan para asbath- (yaitu nabi-nabi yang berasal dari keturunan ya’qub yang berda di tengah suku-suku banii israil yang berjumlah dua belas) isa, ayyub, yunus, harun, serta sulaiman. Dan kami berikan zabur kepada daud yaitu kitab dan lembaran-lembaran yang tertulis.

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

wa rusulang qad qaṣaṣnāhum ‘alaika ming qablu wa rusulal lam naqṣuṣ-hum ‘alaīk, wa kallamallāhu mụsā taklīmā

 164.  Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Dan kami utus rasul-rasul yang sungguh telah kami kisahkan kisah-kisah mereka kepadamu di dalam al-qur’an sebelum ayat ini,dan rasul-rasul lain yang belum kami kisahkan dalam kisah-kisah mereka kepadamu karena ada hikmah yang kami kehendaki. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung, sebagai pemuliaan kepadanya dengan sifat ini. Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat kalam (berbicara) bagi Allah  ,sebagaimana yang sesuai dengan keagunganNya, dan sesungguhnya Dia  berbicara kepada Musa  dengan sebenarnya tanpa ada perantara.

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

rusulam mubasysyirīna wa munżirīna li`allā yakụna lin-nāsi ‘alallāhi ḥujjatum ba’dar-rusul, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā

 165.  (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Aku utus rasul-rasul kepada semua makhluk Ku dengan membawa kabar gembira berupa pahala dariKu dan memperingatkan siksaanKu, supaya tidak ada hujjah bagi manusia untuk beralasan setelah pengutusan para rasul. Dan Allah Maha perkasa dalam kekuasaanNya,lagi maha bijaksana dalam pengaturanNya.

لَٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

lākinillāhu yasy-hadu bimā anzala ilaika anzalahụ bi’ilmih, wal-malā`ikatu yasy-hadụn, wa kafā billāhi syahīdā

 166.  (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.

Apabila kaum yahudi dan orang-orang selain mereka kafir kepadamu (wahai rasul), maka Allah bersaksi bagimu bahwa kamu sesungguhnya adalah rasulNya yang Dia telah menurunkann al-qur’an yang agung kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmuNya. Begitu pula para malaikat bersaksi atas kebenaran apa yang diwahyukan kepadamu. Dan persaksian Allah saja sudahlah cukup.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا

innallażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi qad ḍallụ ḍalālam ba’īdā

 167.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.

Sesungguhnya orang-orang yang menentang kenabianmu dan menghalangi manusia dari islam, sungguh mereka telah jauh dari jalan kebenaran dengan sejauh-jauhnya.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا

innallażīna kafarụ wa ẓalamụ lam yakunillāhu liyagfira lahum wa lā liyahdiyahum ṭarīqā

 168.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka,

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasulNya, dan melakukan kezhaliman dengan terus berada di atas kekafiran mereka,maka Allah sekali-kali tidak akan mengampuni dosa-dosa mereka dan sungguh Dia tidak akan menunjukan kepada mereka jalan yang akan menyelamatkan mereka.

إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

illā ṭarīqa jahannama khālidīna fīhā abadā, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

 169.  kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Kecuali hanya jalan menuju neraka Jahannam,mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikaian itu mudah bagi Allah, maka tidak ada sesuatu yang bisa melemahkannya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

yā ayyuhan-nāsu qad jā`akumur-rasụlu bil-ḥaqqi mir rabbikum fa āminụ khairal lakum, wa in takfurụ fa inna lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

 170.  Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Wahai sekalian manusia, sungguh telah datang kepada kalian rasul kami, Muhammad ,dengan membawa risalah islam,yaitu agama yang benar dari tuhan kalian,maka berimanlah kepadanya dan ikutilah dia.Sesungguhnya beriman kepadanya itu lebih baik bagi kalian. Dan jika kalian berkelanjutan di atas kekafiran kalian,maka sesungguhnya Allah maha kaya,tidak butuh kepada kalian dan iman kalian,karena Dia adalah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah maha mengetahui ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan kalian, juga Maha bijaksana dalam penetapan syariatNya dan perintahNya. Maka apabila langit dan bumi telah benar-benar tunduk kepada Allah  secara kauni dan berdasarkan takdir seperti ketundukan seluruh kerajaanNya, maka sepantasnya bagi kalian untuk beriman kepada Allah dan rasulNya Muhammad  dan kepada al-qur’an yang Dia turunkan kepadanya, dan menjadi orang-orang yang patuh terhadap hal itu secara syar’i, sehingga alam semesta secara keseluruhan menjadi tunduk kepada Allah,baik secara takdir kauni maupun syari. Dan di dalam ayat ini terdapat dalil tentang universalitas risalah nabi Allah dan rasulNya,Muhammad .

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

yā ahlal-kitābi lā taglụ fī dīnikum wa lā taqụlụ ‘alallāhi illal-ḥaqq, innamal-masīḥu ‘īsabnu maryama rasụlullāhi wa kalimatuh, alqāhā ilā maryama wa rụḥum min-hu fa āminụ billāhi wa rusulih, wa lā taqụlụ ṡalāṡah, intahụ khairal lakum, innamallāhu ilāhuw wāḥid, sub-ḥānahū ay yakụna lahụ walad, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa kafā billāhi wakīlā

 171.  Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

Wahai pengikut ajaran injil,janganlah kalian melampaui batas keyakinan yang benar dalam agama kalian,dan janganlah kalian berbicara atas nama Allah kecuali kebenaran, maka janganlah kalian menjadikan bagi Dia seorang istri dan anak. Sesungguhnya isa al-masih putra Maryam hanyalah utusan Allah yang Allah utus dengan kebenaran, dan Allah menciptaknnya dengan kalimatNYa yang Allah mengutus jibril dengan membawanya kepada Maryam, yaitu firmanNYa,”kun(jadilah)”, lalu jadilah isa. Itu merupakan tiupan dari Allah  yang ditiupkan oleh jibril dengan perintah tuhannya. Maka imanilah bahwa sesungguhnya Allah itu maha esa, dan berserah dirilah kalian kepadaNya. Dan berimanlah kepada para rasulNya terkait risalah yang mereka bawa dari sisi Allah. Dan janganlah kalian menjadikan isa dan ibunya sebagai sekutu bersama Allah. Berhentilah dari ucapan ini,itu lebih baik bagi kalian dari pada keyakinan yang kalian pegangi, sesungguhnya Allah itu sembahan yang satu . Apa-apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepemilikanNya. Maka bagaimana bisa Dia memiliki istri dan anak? Dan cukuplah Allah sebagai yang mengurusi pengaturan makhlukNya dan pengendalian penghidupan mereka. Maka bertawakalah kepada Allah semata, sebab Dia akan mencukupi kalian.

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

lay yastangkifal-masīḥu ay yakụna ‘abdal lillāhi wa lal-malā`ikatul-muqarrabụn, wa may yastangkif ‘an ‘ibādatihī wa yastakbir fa sayaḥsyuruhum ilaihi jamī’ā

 172.  Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

tidak akan malu-malu dan tidak akan menolak Al-masih untuk menjadi hamba Allah. Begitu pula tidak akan enggan para malaikat yang didekatkan (kepada Allah) untuk mengakui penghambaan diri mereka kepada Allah . Dan barangsiapa yang angkuh untuk tunduk dan sombong,maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya pada hari kiamat dan memutuskan diantara mereka dengan putusanNYa yang adil. Dan Dia akan membalasa masing-masing kalian sesuai dengan apa yang menjadi haknya.

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

fa ammallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa yuwaffīhim ujụrahum wa yazīduhum min faḍlih, wa ammallażīnastangkafụ wastakbarụ fa yu’ażżibuhum ‘ażāban alīmaw wa lā yajidụna lahum min dụnillāhi waliyyaw wa lā naṣīrā

 173.  Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keyakinan,ucapan dan perbuatan,dan istiqomah diatas ajaran syariatNya, maka Allah akan menyempurnakan balasan pahala amal perbuatan mereka, dan menambahkan kepada mereka bagian dari karuniaNYa. Sedangkan orang-orang yang menolak untuk taat kepada Allah dan menyombongkan diri untuk mau menghinakan diri kepadaNya, niscaya Dia akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung bagi mereka yang menyelamatkan mereka dari siksaanNya dan tidak pula penolong yang dapat menolong mereka selain Allah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

yā ayyuhan-nāsu qad jā`akum bur-hānum mir rabbikum wa anzalnā ilaikum nụram mubīnā

 174.  Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).

Wahai sekalian manusia,sungguh telah datang kepada kalian petunjuk nyata dari tuhan kalian,yaitu rasul kami Muhammad  dan risalah yang dia bawa, yang berisi bukti-btukti kebenaran dan hujjah-hujjah kuat, dan yang paling agung adalah al-qur’an al-karim yang ikut mempersaksiakan kebenaran kenabian dan risalahnya yang merupakan penutup kenabian. Dan kami turunkan kepada kalian al-qur’an sebagai petunjuk dan cahaya yang nyata.

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

fa ammallażīna āmanụ billāhi wa’taṣamụ bihī fa sayudkhiluhum fī raḥmatim min-hu wa faḍliw wa yahdīhim ilaihi ṣirāṭam mustaqīmā

 175.  Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

Adapaun orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keyakianan, ucapan, dan perbuatan,dan berpegang teguh dengan cahaya yang diturunkan kepada mereka, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga sebagai bentuk kasih sayang dan karunia dariNYa, dan memberikan taufik kepada mereka untuk menapaki jalan yang lurus yang mengantarkan ketaman-taman surga.

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

yastaftụnak, qulillāhu yuftīkum fil-kalālah, inimru`un halaka laisa lahụ waladuw wa lahū ukhtun fa lahā niṣfu mā tarak, wa huwa yariṡuhā il lam yakul lahā walad, fa ing kānataṡnataini fa lahumaṡ-ṡuluṡāni mimmā tarak, wa ing kānū ikhwatar rijālaw wa nisā`an fa liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayaīn, yubayyinullāhu lakum an taḍillụ, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

 176.  Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Orang-orang bertanya kepadamu (wahai rasul), tentang hukum warisan dari kalalah, yaitu orang yang meninggal tanpa meninggalkan seorang anak atau ayah. Katakanlah, ”Allah akan menerangkan hukum kepada kalian tentang itu; yaitu apabila ada seorang lelaki meninggal, tanpa memiliki anak atau ayah, sedangkan dia mempunyai saudara perempuan seayah dan seibu, atau seayah saja, maka baginya setengah dari harta warisan itu. Dan saudara lelaki sekandungnya atau seayah akan mewarisi seluruh harta warisannya, bila wanita itu meninggal dalam keadaan tidak memiliki anak dan ayah. Dan jika orang yang mati dalam keadaan kalalah itu memiliki dua saudara perempuan,maka bagi mereka berdua bagian dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan apabila ada saudara-saudara laki-laki bersama saudara-saudara perempuan itu, maka bagi seorang lelaki sebanyak bagian dua perempuan dari saudara-saudara perempuan nya. Allah menjelaskan bagi kalian pembagian harta warisan dan hukum kalalah, supaya kalian tidak tersesat dari jalan kebenaran dalam perkara pembagian warisan. Dan Allah Maha mengetahui kesudahan-kesudahan perkara-perkara dan segala sesuatu yang membawa kebaiakan bagi hamba-hambaNya.”

Related: Surat al-Maidah Arab-Latin, Surat al-An’am Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-A’raf, Terjemahan Tafsir Surat al-Anfal, Isi Kandungan Surat at-Taubah, Makna Surat Yunus

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

103 174 An Nisa 54 136 An Nissa Ayat 59