Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Yunus

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

Arab-Latin: alif lām rā, tilka āyātul-kitābil-ḥakīm

Terjemah Arti:  1.  Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(alif lam ra). keterangan tentang huruf-huruf terputus-putus seperti ini telah berlalu pada permulaan surat al-baqarah. ini adalah ayat-ayat kitab yang mukhkam (jelas) yang sudah Allah terangkan dan jelaskan kepada para hambaNYa.

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ

a kāna lin-nāsi ‘ajaban an auḥainā ilā rajulim min-hum an anżirin-nāsa wa basysyirillażīna āmanū anna lahum qadama ṣidqin ‘inda rabbihim, qālal-kāfirụna inna hāżā lasāḥirum mubīn

 2.  Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka”. Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata”.

Apakah merupakan suatu perkara yang mengherankan bagi manusia, bila kami menurunkan wahyu berupa al-qur’an kepada seorang lelaki dari mereka, yang memperingatkan mereka dari siksaan Allah, dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya, bahwa bagi mereka pahala yang baik atas apa yang telah mereka perbuat sebelumnya berupa amal shalih? maka ketika rasul Allah datang kepada mereka dengan membawa wahyu Allah dan membacakannya kepada mereka, orang-orang yang ingkar berkata, ”sesungguhnya Muhammad itu tukang sihir, dan apa yang dia bawa merupakan sihir yang nyata kebatilannya, ”

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

inna rabbakumullāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsyi yudabbirul-amr, mā min syafī’in illā mim ba’di iżnih, żālikumullāhu rabbukum fa’budụh, a fa lā tażakkarụn

 3.  Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

Sesungguhnya tuhan kalian adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dalam masa enam hari. Kemudian Dia bersemayam (diatas dan tinggi) di atas arsy dengan bersemayam yang layak dengan keagungan dan kebesaranNya, mengatur urusan-urusan seluruh makhlukNya, tidak ada seorang pun yang sanggup melawanNya dalam keputusanNya. Dan tidak ada pemberi syafaat yang memberikan syafaat di sisiNya pada hari kiamat, kecuali setelah Dia memberi izin bagimnya untuk memberikan syafaaat, maka beribadhalah kalian kepada Allah, tuhan kalian yang memiliki sifat-sifat tersebut, dan murnikanlah ibadah kepadaNya. apakah kalian tidak mengambil ibrah dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat dan hujjah- hujjah ini?

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

ilaihi marji’ukum jamī’ā, wa’dallāhi ḥaqqā, innahụ yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ liyajziyallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti bil-qisṭ, wallażīna kafarụ lahum syarābum min ḥamīmiw wa ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakfurụn

 4.  Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.

Kepada tuhan kalian lah kalian semua kembali pada hari kiamat. Ini adalah janji Allah yang benar. Dialah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian akan menghidupkannya kembali sesudah kematian. Dia akan menciptakannya dalam keadan hidup sebagaimana rupa fisiknya semula, agar Dia memberikan balasan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rosulNya, serta melakukan amal-amal shalih dengan balasan terbaik dan keadilan. Dan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah, dan risalah para rasulNya, bagi mereka minuman dari air yang sangat panas, yang dapat membakar wajah-wajh dan memotong usus perut, dan bagi mereka siksaan yang pedih, disebabkan kekafiran dan kesesatan mereka.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

huwallażī ja’alasy-syamsa ḍiyā`aw wal-qamara nụraw wa qaddarahụ manāzila lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, mā khalaqallāhu żālika illā bil-ḥaqq, yufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

 5.  Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Allah, Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan menjadikan bulan bercahaya, dan menentukan bagi bulan tempat-tempat perputarannya. Dengan matahari akan diketahui (pergantian) hari-hari, dan dengan bulan akan diketahui (pergantian) bulan-bulan dan tahun-tahun. Dan tidak lah Allah menciptakan matahari dan bulan, kecuali karena adanya hikmah yang agung, dan sebagai bukti petunjuk akan kesempurnaan kuasa Allah dan pengetahuanNya.Dia menerangkan hujjah-hujah dan bukti-bukti petunjuk kepada orang-orang yang mengetahui hikmah dari penciptaan makhluk.

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

inna fikhtilāfil-laili wan-nahāri wa mā khalaqallāhu fis-samāwāti wal-arḍi la`āyātil liqaumiy yattaqụn

 6.  Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan segala yang Allah ciptakan di langit dan dibumi, berupa ciptaan-ciptaan yang luar biasa serta apa yang ada pada ciptaan itu berupa pesona dan kerapian benar-benar merupakan bukti-bukti petunjuk dan hujjah-hujjah yang jelas bagi orang yang takut akan hukuman Allah, kemurkaan dan siksaanNya.

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ

innallażīna lā yarjụna liqā`ana wa raḍụ bil-ḥayātid-dun-yā waṭma`annụ bihā wallażīna hum ‘an āyātinā gāfilụn

 7.  Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,

Sesungguhnya orang-orang yang tidak menginginkan berjumpa dengan kami di akhirat untuk menghadapi perhitungan amal dan perkara yang menyertainya berupa pembalasan atas amal perbuatan karena pengingkaran mereka terhadap adanya kebangkitan dan merasa puas dengan kehidupan dunia sebagai pengganti dari kehidupan akhirat dan lebih cenderung kepadanya, dan orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat kami yang kauniyah dan syar’iyah.

أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

ulā`ika ma`wāhumun-nāru bimā kānụ yaksibụn

 8.  mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.

mereka itu, tempat tinggal mereka adalah neraka jahanam di akhirat, sebagai bentuk balasan atas apa yang mereka perbuatan di dunia, berupa dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti yahdīhim rabbuhum bi`īmānihim, tajrī min taḥtihimul-an-hāru fī jannātin-na’īm

 9.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya dan mengerjakan amal-amal shalih, Tuhan mereka akan menunjukan mereka ke jalan menuju surge, dan akan mengarahkan mereka menuju amalan-amalan yang menyebabkan mereka masuk kedalam surga disebabkan keimanan mereka, kemudian memberi pahala kepada mereka dengan masuk ke dalam surge dan dihalalkan seluruh keridoanNya atas mereka, yang mengalir di bawah kamar-kamar dan tempat tinggal mereka sungai-sungai di dalam surga yang sarat dengan kenikmatan.

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

da’wāhum fīhā sub-ḥānakallāhumma wa taḥiyyatuhum fīhā salām, wa ākhiru da’wāhum anil-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn

 10.  Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.

Doa mereka di dalam surga berupa tasbih ”subhanakallahuma” dan penghormatan Allah dan para malaikat bagi mereka, dan juga ucapan selamat antar mereka di dalam surga adalah ucapan “salam”. Dan penutup doa mereka adalah ucapan mereka ”alhamdulillahirabbil ‘alamin”. Artinya, rasa syukur dan pujian hanya bagi Allah, pencipta makhluk-makhluk dan pendidik mereka dengan nikmat-nikmatNya.

۞ وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ ۖ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

walau yu’ajjilullāhu lin-nāsisy-syarrasti’jālahum bil-khairi laquḍiya ilaihim ajaluhum, fa nażarullażīna lā yarjụna liqā`anā fī ṭugyānihim ya’mahụn

 11.  Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.

Dan sekiranya Allah menyegerakan bagi manusia pengabulan doa mereka dalam keburukan, sebagaimana Dia menyegerakan pengabulan permintaan mereka dalam kebaikan, pastilah mereka akan binasa. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak takut terhadap siksaan kami dan tidak meyakini kebangkitan dan dikumpulkannya mereka kembali, berkubang dalam penentangan dan kesombongan, dimana mereka terus ragu-ragu dan bingung.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa iżā massal-insānaḍ-ḍurru da’ānā lijambihī au qā’idan au qā`imā, fa lammā kasyafnā ‘an-hu ḍurrahụ marra ka`al lam yad’unā ilā ḍurrim massah, każālika zuyyina lil-musrifīna mā kānụ ya’malụn

 12.  Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Dan apabila manusia ditimpa kesulitan hidup, dia meminta pertolongan kepada Kami untuk menyingkirkannya dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tergantung dengan keadaan saat kesengsaraan itu menimpanya. Tatkala kami telah mengangkat kesulitan yang menimpanya, dia kembali berada di atas cara kehidupannya semula sebelum kesulitan melandanya dan lupa akan kesulitan dan musibah yang dia alami, dan tidak bersyukur kepada tuhannya yang telah menghilangkan darinya mara bahaya yang telah menimpanya. Dan sebagaimana telah dihiasi (oleh setan) bagi orang tersebut untuk terus-menerus melakukan pengingkaran dan penentangan setelah Allah menyingkirkan mara bahaya yang ada pada dirinya, begitu pula telah dihiasai (oleh setan) bagi orang-orang yang berbuat melampaui batas dalam melakukan kedustaan atas nama Allah dan para nabiNya atas apa yang mereka perbuat dari berbagai bentuk maksiat kepada Allah dan perbuatan syirik kepadaNya.

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا ۙ وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

wa laqad ahlaknal-qurụna ming qablikum lammā ẓalamụ wa jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti wa mā kānụ liyu`minụ, każālika najzil-qaumal-mujrimīn

 13.  Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.

Dan sesungguhnya kami telah membinasakan umat-umat yang dahulu mendustakan utusan-utusan Allah sebelum kalian (wahai orang-orang yang menyekutukan tuhannya), ketika mereka berbuat kesyirikan, dan datang kepada mereka rasul-rasul mereka dari sisi Allah dengan membawa mukjizat-mukjizat yang nyata dan hujjah-hujjah yang menerangkan kebenaran rasul yang membawanya, namun umat-umat itu yang telah kami biansakan, tidak mau beriman dan membenarkan rasul-rasul mereka. Akibatnya, mereka pantas mendapatkan kebinsaan. Dan dengan bentuk pembinasaan seperti itu, kami akan memberi balasan setiap orang yang berbuat dosa lagi melampaui batas-batas Allah.

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

ṡumma ja’alnākum khalā`ifa fil-arḍi mim ba’dihim linanẓura kaifa ta’malụn

 14.  Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.

Kemudian kami menjadikan kalian (wahai sekalain manusia), sebagai pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi setelah generasi yang dibinasakan, agar kami melihat apa yang akan kalian perbuat, kebaikan atau kebutukan, lalu kami memberikan balasan kepada kalian dengan itu sesuai dengan amal perbuatan kalian.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ ۚ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna lā yarjụna liqā`ana`ti biqur`ānin gairi hāżā au baddil-h, qul mā yakụnu lī an ubaddilahụ min tilqā`i nafsī, in attabi’u illā mā yụḥā ilayy, innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

 15.  Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.

Dan apabila dibacakan kepada kaum musyrikin ayat-ayat Allah yang kami turunkan kepadamu (wahai rasul), dengan jelas, berkata orang-orang yang tidak takut terhadap perhitungan amal, dan tidak mengharapkan balasan serta tidak beriman kepada kebangkitan dan dikumpulkannya makhluk setelah itu, ”datangkanlah al-qur’an yang lain dari ini, atau gantilah al-qur’an dengan merubah perkara halal menjadi haram, yang haram menjadi halal, dan janji baik menjadi ancaman, dan ancaman menjadi janji baik, dan kamu hilangkan ayat-ayat yang memuat celaan terhadap sesembahan kami dan pembodohan akal-akal kami,” katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”sesungguhnya hal itu bukanlah tergantung kepadaku.Sesungguhnya pada setiap apa yang aku perintahkan kepada kalian dan apa yang aku larang kalian darinya, aku hanya mengikuti apa yang diwahyuakan kepadaku oleh tuhanku. Sesungguhnya aku takut kepada Allah (bila aku melanggar perintahNya), (bahwa dia akan menimpakan kepadaku) siksaan hari yang besar, yaitu hari kiamat.”

قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ ۖ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

qul lau syā`allāhu mā talautuhụ ‘alaikum wa lā adrākum bihī fa qad labiṡtu fīkum ‘umuram ming qablih, a fa lā ta’qilụn

 16.  Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?

Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”jikalau Allah menghendaki, aku tidak akan membaca al-qur’an ini kepada kalian dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepada kalian, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Allah. Sesungguhnya kalian tahu bahwa aku telah hidup bersama kalian dalam masa yang panjang sebelum tuhanku menurunkan wahyu kepadaku, dan sebelum aku membacakannya kepada kalian. Maka apakah kalian tidak mempergunakan akal kalian untuk menghayati dan memikirkannya?”

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ

fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, innahụ lā yufliḥul-mujrimụn

 17.  Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.

tidak ada orang yang lebih parah tindak kezhalimannnya daripada orang yang membuat-buat kebohongan atas nama Allah dan mendustakan ayat-ayatNya. Sesungguhnya tidak beruntung orang-orang yang mendustakan nabi-nabi Allah dan rasul-rasulNya dan tidak meraih kemenangan.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lā yaḍurruhum wa lā yanfa’uhum wa yaqụlụna hā`ulā`i syufa’ā`unā ‘indallāh, qul a tunabbi`ụnallāha bimā lā ya’lamu fis-samāwāti wa lā fil-arḍ, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

 18.  Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Dan orang-orang musyrik itu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka sedikitpun dan tidak dapat memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Dan mereka berkata, ”kami menyembah mereka agar mereka memberikan syafaat bagi kami di sisi Allah.” katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”apakah kalian mau memberitahukan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahuiNya tentang perkara para pemberi syafaat di langit dan di bumi? Karena sesungguhnya kalaulah pada keduanya ada yang akan memberikan syafaat bagi kalian di sisiNya, maka pastilah Dia lebih tahu tentang mereka daripada kalian.” Allah  maha suci dari apa yang diperbuat kaum musyrikin berupa tindakan kesyirikan mereka dalam beribadah kepadaNya dengan menyembah apa yang tidak dapat menimpakan mudarat maupun mendatangkan manfaat.

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa mā kānan-nāsu illā ummataw wāḥidatan fakhtalafụ, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum fīmā fīhi yakhtalifụn

 19.  Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Dahulu manusia berada di atas ajaran agama yang satu, yaitu islam. Kemudian mereka berselisih setelah itu. sebagain dari mereka menjadi kafir dan sebagain yang lain tetap teguh di atas kebenaran. kalaulah bukan karena ketetapan dari Allah yang telah berlalu untuk memberikan penundaan (siksaan) bagi orang yang bermaksiat dan tidak segera menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, pastilah mereka akan diputuskan, dengan membinasakan orang-orang yang berada di atas kebatilan dari mereka dan menyelamatkan para pengikut kebenaran.

وَيَقُولُونَ لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۖ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

wa yaqụlụna lau lā unzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, fa qul innamal-gaibu lillāhi fantaẓirụ, innī ma’akum minal-muntaẓirīn

 20.  Dan mereka berkata: “Mepada tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Tuhannya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang manunggu.

Orang-orang kafir yang menentang itu berkata, ”mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad ilmu, dalil, dan tanda kebenaran konkret dari tuhannya yang dapat kami ketahui dengannya bahwa sesungguhnya dia berada di atas kebenaran dalam semua yang dikatakannya?” Maka katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah. Apabila dia menghendaki, Dia akan melakukannya dan jika Dia berkehendak Dia tidak akan melekukannya, maka tunggulah oleh kalian (wahai manusia) ketetapan Allah antara kami dan kalian dengan disegerakannya siksaan bagi orang yang berada di atas kebatilan dari kita dan menolong pemegang kebenaran, sesungguhnya aku juga menunggu hal itu.”

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ إِذَا لَهُمْ مَكْرٌ فِي آيَاتِنَا ۚ قُلِ اللَّهُ أَسْرَعُ مَكْرًا ۚ إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ

wa iżā ażaqnan-nāsa raḥmatam mim ba’di ḍarrā`a massat-hum iżā lahum makrun fī āyātinā, qulillāhu asra’u makrā, inna rusulana yaktubụna mā tamkurụn

 21.  Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah: “Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu)”. Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu.

Dan apabila kami membuat orang-orang musyrik merasakan kemudahan dan kebahagiaan, serta kenyamaanan hidup setelah kesulitan, kesengsaraan dan musibah berat yang menimpa mereka, tiba-tiba mereka mendustakan dan mengolok-olok ayat-ayat Allah. Katakanlaah olehmu (wahai rasul) kepada orang-orang musyrik yang suka mengolok-olok itu, “Allah lebih cepat membalas tipu daya, istdroj (penangguhan) dan hukuman terhadap kalian.” Sesungguhnya malaikat-malaikat yang kami utus kepada kalian, mereka menulis apa saja tipu daya yang kalian perbuat di dunia dan kemudian Kami memperhitungkan kalian terhadap itu.

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

huwallażī yusayyirukum fil-barri wal-baḥr, ḥattā iżā kuntum fil-fulk, wa jaraina bihim birīḥin ṭayyibatiw wa fariḥụ bihā jā`at-hā rīḥun ‘āṣifuw wa jā`ahumul-mauju ming kulli makāniw wa ẓannū annahum uḥīṭa bihim da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīn, la`in anjaitanā min hāżihī lanakụnanna minasy-syākirīn

 22.  Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Dia-lah yang memperjalankan kalian (wahai sekalian manusia), di atas daratan dengan menunggangi binatang-binatang tunggangan dan lain sebagianya, dan di laut dengan menumpangi di dalam kapal-kapal. Sehingga jika kalian sudah berada di atas kapal itu, lalu berlayar dengan tiupan angin yang baik, dan para penumpang bergembira ria dengan tiupan angin yang baik itu, datanglah angin kencang melanda kapal-kapal itu dan gelombang ombak (yaitu air yang menggelombang meningi ) menerjang para penumpang dari setiap tempat, dan mereka yakin bahwa kebinasaan telah menyergap mereka, mereka mengihklaskan doa kepada Allah semata, dan mereka meninggalkan apa-apa yang sebelumnya mereka sembah. Mereka berkata, “Bila Engkau menyelamatkan kami dari kesulitan ini di mana kami sedang berda di dalamnya, pastilah kami nanti akan menjadi orang-orang yang bersyukur kepadaMu atas nikmat-nikmatMu.

فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ ۖ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

fa lammā anjāhum iżā hum yabgụna fil-arḍi bigairil-ḥaqq, yā ayyuhan-nāsu innamā bagyukum ‘alā anfusikum matā’al-ḥayātid-dun-yā ṡumma ilainā marji’ukum fa nunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 23.  Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Maka ketika Allah telah menyelamatkan mereka dari kondisi-kondisi sulit dan keadaan yang mencengkam itu, tiba-tiba mereka berbuat kerusakan dan berbagai maksiat di muka bumi. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dampak buruk kezhaliman kalian hanyalah kembali kepada diri kalian. Bagi kalian kenikmatan di kehidupan dunia yang fana, kemudian kepada kami tempat pulang kalian dan kembali kalian, lalu kami mengabarkan kapada kalian semua perbuatan kalian dan kami akan menghisab kalian dengannya.

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

innamā maṡalul-ḥayātid-dun-yā kamā`in anzalnāhu minas-samā`i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi mimmā ya`kulun-nāsu wal-an’ām, ḥattā iżā akhażatil-arḍu zukhrufahā wazzayyanat wa ẓanna ahluhā annahum qādirụna ‘alaihā atāhā amrunā lailan au nahāran fa ja’alnāhā ḥaṣīdang ka`al lam tagna bil-ams, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy yatafakkarụn

 24.  Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

Sesunggunnya perumpamaan kehidupan dunia dan apa yang kalian banggakan berupa perhiasan dan harta benda , adalah seperti air hujan yang kami turunkan dari langit ke muka bumi. Maka dengan itu tumbuhlah berbagai macam tanaman, sebagian bercampur dengan yang lain dari buah-buahan yang di makan oleh manusia dan tumbuh tumbuhan yang di makan oleh binatang-binatang sehingga apabila tampak keindahan permukaan bumi dan pesonanya dan para pemilknya menyangka mereka kuasa untuk memetik hasil panennya dan mengambil manfaat darinya, datanglah keputusan dan ketetapan kami kepadanya dengan kebinasaanya dan semua tanaman dan pesona yang ada di atasnya, baik di siang hari maupun malam hari. Kemudian kami menjadikan tanaman-tanaman dan pohon-pohon itu telah dipanen dan telah di potong tidak ada apapun yang tersisa padanya, seolah-olah puoh-pohon dan tanaman-tanaman itu sebelumnya tidak pernah tegak di muka bumi. Maka begitu pula, kesirnaan akan menimpa apa yang kalian bangga-banggakan dari dunia dan perhiasanya yang kalian miliki . Maka Allah melenyapkan dan Menyirnakannya. Dan sebagaimana Kami telah menjelaskan kepada kalian (wahai manusia), perumpamaan dunia ini dan Kami mengenalkan hakikatnya, kami juga menjelaskan hujjah-hujjah Kami dan petunjuk kami kepada kaum yang memikirkan ayat-ayat Allah dan merenungi apa yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan akhirat.

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wallāhu yad’ū ilā dāris-salām, wa yahdī may yasyā`u ilā ṣirāṭim mustaqīm

 25.  Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).

Dan Allah menyeru kalian menuju surga-surgaNya yang Dia sediakan bagi para waliNya, dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendakiNya dari makhluk-makhlukNya, lalu memberinya taufik untuk menepati jalan yang lurus, yaitu islam.

۞ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

lillażīna aḥsanul-ḥusnā wa ziyādah, wa lā yar-haqu wujụhahum qataruw wa lā żillah, ulā`ika aṣ-ḥābul-jannati hum fīhā khālidụn

 26.  Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Bagi orang-orang mukmin yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah, lau menaatinya dalam perkara yang diperintahkaNya dan yang di larangNya, ada surga dan tambahnya, yaitu melihat wajah Allah  di dalam surga, ampunan dan keridaan(Nya). Dan tidak akan menutupi wajah-wajah mereka Debu dan kehinaan, sebagai mana yang akan di alami oleh penghuni neraka. Orang-orang yang bersipat demikian ini, mereka itu adalah para penghuni surga, mereka tinggal di dalamnya selamanya.

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ ۖ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna kasabus-sayyi`āti jazā`u sayyi`atim bimiṡlihā wa tar-haquhum żillah, mā lahum minallāhi min ‘āṣim, ka`annamā ugsyiyat wujụhuhum qiṭa’am minal-laili muẓlimā, ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

 27.  Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dan orang-orang yang berbuat keburukan di dunia, di mana mereka kafir dan berbuat maksiat kepada Allah, bagi mereka balasan yang setimpal atas tindakan-tindakan buruk mereka yang telah mereka kerjakan dulu, berupa siksaan Allah di akhirat. Dan mereka akan di tutupi kehinaan dengan kenistaan. Dan tidak ada bagi mereka dari siksa Allah seorang penghalang yang bisa menghalangi mereka jika Dia menyiksa mereka, seolah-olah wajah mereka di tutupi oleh potongan hitam dari malam gelap gulita. Mereka itulah para penghuni nereka, mereka tinggal abadi di dalamnya.

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا مَكَانَكُمْ أَنْتُمْ وَشُرَكَاؤُكُمْ ۚ فَزَيَّلْنَا بَيْنَهُمْ ۖ وَقَالَ شُرَكَاؤُهُمْ مَا كُنْتُمْ إِيَّانَا تَعْبُدُونَ

wa yauma naḥsyuruhum jamī’an ṡumma naqụlu lillażīna asyrakụ makānakum antum wa syurakā`ukum, fa zayyalnā bainahum wa qāla syurakā`uhum mā kuntum iyyānā ta’budụn

 28.  (Ingatlah) suatu hari (ketika itu). Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan): “Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu”. Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.

Dan ingatlah (wahai Rasul), pada hari Kami menghimpun semua makhluk untuk proses perhitungan amal dan pembalasanya. Kemudian kami berfirman kepada orang-orang yang menyekutukan Allah, “Tetaplah berada di tempat kalian dan sekutu-sekutu kalian yang kalian sembah selain Allah, hingga kalian melihat tindakan apa yang akan di lakukan terhadap kalian.” Lalu kami pisahkan antara kaum musyrikin dan sesembahan-sesembahan mereka, dan berlepas dirilah sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah yang dahulu mereka sembah dari orang-orang yang menyembahnya. Sesembahan-sesembahan itu berkata kepada kaum musyrikin, ”Kalian itu tidaklah menyembah kami sewaktu di dunia.

فَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ إِنْ كُنَّا عَنْ عِبَادَتِكُمْ لَغَافِلِينَ

fa kafā billāhi syahīdam bainanā wa bainakum ing kunnā ‘an ‘ibādatikum lagāfilīn

 29.  Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami).

Maka cukuplah Allah menjadi saksi di antara kami dan kalian. Sesungguhnya kami tidaklah tahu apa yang kalian katakan dan apa yang kalian perbuat. Dan sesungguhnya kami itu lalai terhadap penyembahan kalian kepada kami, kami tidak merasa itu terjadi.

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ ۚ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۖ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

hunālika tablụ kullu nafsim mā aslafat wa ruddū ilallāhi maulāhumul-ḥaqqi wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

 30.  Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan.

Di tempat perhitungan amal itu, masing-masing memeriksa jiwa keadaan-keadaan dan amal perbuatanya yang telah berlalu dan dahulu ia usahakan dan ia akan dibalas sesuai dengan itu. Bila baik maka balasannya baik, jika buruk, maka balasanya buruk. Dan semua akan dikembalikan kepada Allah, Yang Maha Menghakimi lagi Mahaadil. Penghuni surga akan di masukan ke surga dan penghuni nereka akan di masukan kedalam nereka. Dan lenyaplah dari kaum musyrikin apa-apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, suatu tindakan yang mereka dustakan kepadaNya.

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

qul may yarzuqukum minas-samā`i wal-arḍi am may yamlikus-sam’a wal-abṣāra wa may yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi wa may yudabbirul-amr, fa sayaqụlụnallāh, fa qul a fa lā tattaqụn

 31.  Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”

Katakanlah olehmu (wahai Rasul), kepada kaum musyrikin, “Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit melalui hujan yang di turunkanNya dan dari tanah melalui tanaman yang ditumbuhkanNya padanya berupa berbagai macam tanaman dan pepohonan yang kalian makan dan binatang ternak kalian? Dan siapakah yang memiliki apa yang kalian dan orang-orang selain kalian nikmati, berupa indra pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengurus kehidupan dan kematian di alAm semesta ini seluruhnya, maka Dia mengeluarkan yang hidup dan yang mati sebagiannya dari sebagian yang lain tentang apa yang kalian ketahui dari mahkluk–mahkluk dan tentang apa yang tidak kalian kenal? Dan siapakah yang mengurus urusan di langit dan di bumi dan apa-apa yang terjadi di dalamnya, dan urusan kalian serta urusan seluruh mahkluk? Mereka akan menjawab pertanyaanmu bahwa sesungguhnya yang berkuasa melakukan itu semua adalah Allah. Maka katakanlah kepada mereka, “ apakah kalian tidak takut terhadap siksaan Allah, bila kalian menyembah objek sesembahan yang lain bersama Allah?.

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

fa żālikumullāhu rabbukumul-ḥaqq, fa māżā ba’dal-ḥaqqi illaḍ-ḍalālu fa annā tuṣrafụn

 32.  Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?

Maka (Dzat) yang demikian itu adalah Allah, Tuhan kalian. Dia Mahabenar tiada keraguan di dalamnya, yang berhak disembah kepadaNya semata tanpa sekutu bagiNya. Maka apa lagi selain kebenaran kalau bukan kesesatan? Bagaimana kalian dipalingkan dari beribadah kepadaNya kepada penyembahan selainNya?

كَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

każālika ḥaqqat kalimatu rabbika ‘alallażīna fasaqū annahum lā yu`minụn

 33.  Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.

Sebagaimana orang-orang musyrik telah kafir dan terus-menerus dalam kesyirikan mereka, telah pasti pula ketetapan Tuhanmu dan hukum serta ketentuaNya pada orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada tuhan mereka menuju maksiat kepadaNya dan mereka kafir kepadaNya, kerena sesungguhnya mereka itu tidak mengimani keesaan Allah, kenabian NabiNya, Muhammad  dan tidak melaksanakan petunjuknya.

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

qul hal min syurakā`ikum may yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduh, qulillāhu yabda`ul-khalqa ṡumma yu’īduhụ fa annā tu`fakụn

 34.  Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?”

Katakanlah kepada mereka (wahai rasul) ”Apakah ada dari tuahan-tuhan dan sesembahan-sesembahan kalian yang dapat memulai penciptaan makhluk apapun tanpa ada contoh sebelumnya, lalu membinasakannya setelah mengadakannya, kemudian mengembalikan bentuk ciptaan itu lagi seperti asalnya sebelum dibinasakannya? Sesungguhnya tuhan-tuhan itu tidak kuasa untuk melakukan itu.” katakanlah (wahai rasul), ”Allah lah satu-satunya yang menciptakan ciptaan, kemudian membinasakannya dan kemudian mengembalikan ciptaan itu sebagaimana semula. Mengapa kalian melenceng dari jalan kebenaran menuju jalan kebatilan, yaitu peribadahan kepada selain Alalh?

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ ۚ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ ۗ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَىٰ ۖ فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

qul hal min syurakā`ikum may yahdī ilal-ḥaqq, qulillāhu yahdī lil-ḥaqq, a fa may yahdī ilal-ḥaqqi aḥaqqu ay yuttaba’a am mal lā yahiddī illā ay yuhdā, fa mā lakum, kaifa taḥkumụn

 35.  Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekuturmu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”Apakah dari sekutu-sekutu kalian itu ada yang menunjukan kepada jalan yang lurus?” Sesungguhnya mereka itu tidak kuasa untuk melakukannya. Katakanlah kepada mereka, ”Allah lah satu-satunya yang dapat memberi petunjuk bagi orang yang sesat dari jalan hidayah menuju jalan kebenaran. Maka siapakah yang lebih pantas untuk diikuti: Dzat yang dapat memberikan petunjuk menuju kebenaran ataukah orang yang tidak memperoleh hidayah bagi diri sendiri karena tidak memiliki ilmu atau karena kesesatannya, yaitu sekutu-sekutu kalian yang tidak dapat memberikan hidayah dan tidak memperoleh hidayah kecuali bila diberi petunjuk? mengapa kalian menyamakan antara Allah dan makhluk ciptaannya? ini jelas penilaian yang batil.”

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

wa mā yattabi’u akṡaruhum illā ẓannā, innaẓ-ẓanna lā yugnī minal-ḥaqqi syai`ā, innallāha ‘alīmum bimā yaf’alụn

 36.  Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan tidaklah orang yang diikuti oleh kebanyakan kaum musyrikin dalam menjadikan berhala-berhala itu sebagai sesembahan-sesembahan dan keyakinan mereka bahwa tuhan-tuhan sesembahan-sesembahan itu akan mendekatkan(mereka) kepada Allah kecuali hanya persangkaan dan praduga saja. Dan praduga itu tidak mendatangkan keyakinan sama sekali. Sesungguhnya Allah mahamengetahui dengan apa yang diperbuat kaum musyrikin berupa kekafiran dan mendustakan.

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa mā kāna hāżal-qur`ānu ay yuftarā min dụnillāhi wa lākin taṣdīqallażī baina yadaihi wa tafṣīlal-kitābi lā raiba fīhi mir rabbil-‘ālamīn

 37.  Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.

Dan tidaklah ada kemudahan bagi siapapun untuk mendatangkan al-qur’an dari selain Allah. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu untuk itu dari makhluk. Akan tetapi Alalh menurunkannya untuk membenarkan kitab-kitab yang diturunkanNya sebelumnya kepada para nabiNya, karena sesungguhnya agama Allah itu satu. Dan di dalam al-qur’an ini terdapat penjelasan dan rincian tentang ajaran yang Allah syariatkan bagi umat Muhammad  .tidak ada keraguan bahwa sesungguhnya al-qur’an itu diwahyukan dari tuhan semesta alam.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

am yaqụlụnaftarāh, qul fa`tụ bisụratim miṡlihī wad’ụ manistaṭa’tum min dụnillāhi ing kuntum ṣādiqīn

 38.  Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar”.

Bahkan apakah patut mereka mengatakan ”sesungguhnya al-qur’an ini telah dibuat-buat oleh Muhammad dari dirinya sendiri?, padahal sesungguhnya mereka tahu bahwa Muhammad adalah manusia seperti mereka? katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”maka cobalah kalian datangkan satu surat dari jenis yang serupa dengan al-qur’an ini dari segi nadzomnya dan kekuatan hidayahnya. Dan carilah bantuan untuk itu dengan siapa saja yang dapat kalian kumpulkan selain Allah, dari bangsa manusia dan jin, jika kalian itu orang-orang yang benar dalam pengakuan kalian.

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

bal każżabụ bimā lam yuḥīṭụ bi’ilmihī wa lammā ya`tihim ta`wīluh, każālika każżaballażīna ming qablihim fanẓur kaifa kāna ‘āqibatuẓ-ẓālimīn

 39.  Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.

bahkan mereka justru dengan cepat mendustakan al-qur’an begitu mendengarnya pertama kali sebelum mereka mau merenungi ayat-ayatnya, dan mengingkari sesuatu yang mereka tidak menguasainya dengan baik tentang kebangkitan, pembalasan, surga dan neraka dan lain sebagianya, dan belum juga sampai kepada mereka kebenaran yang dijanjikan di dalam al-qur’an. Dan sebagiamana kaum musyrikin telah mendustakan ancaman Allah, umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka juga telah mendustakannya. Maka perhatikanlah (wahai rasul), bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kezhaliman. Sungguh Allah telah membinasakan sebagian mereka dengan membenamkan mereka ke dalam tanah, sebagian lagi dengan di tenggelamkan di dasar laut, dan sebagain yang lain mengalami siksaan selain itu.

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ

wa min-hum may yu`minu bihī wa min-hum mal lā yu`minu bih, wa rabbuka a’lamu bil-mufsidīn

 40.  Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dan diantara kaummu (wahai rasul), ada orang yang mengimani al-qur’an, dan sebagain dari mereka ada yang tidak mengimaninya hingga mati dalam keyakinan itu dan dibangkitkan dengannya. Dan tuhanmu mengetahui orang-orang yang melakuakn kerusakan yang tidak beriman kepadaNYa dengan dorongan kezhaliman, penentangan dan kerusakan lalu Allah memberikan balasan kepada mereka atas kerusakan yang mereka perbuat dengan siksaan yang sangat keras.

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

wa ing każżabụka fa qul lī ‘amalī wa lakum ‘amalukum, antum barī`ụna mimmā a’malu wa ana barī`um mimmā ta’malụn

 41.  Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Dan bila kaum musyrikin mendustakan dirimu (wahai rasul), maka katakanlah kepada mereka, ”bagiku agamaku dan amal perbuatanku, dan bagi kalian agama dan perbuatan kalian. kalian tidaklah disiksa karena perbuatanku, dan akaupun tidak disiksa atas perbuatan kalian.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ ۚ أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ وَلَوْ كَانُوا لَا يَعْقِلُونَ

wa min-hum may yastami’ụna ilaīk, a fa anta tusmi’uṣ-ṣumma walau kānụ lā ya’qilụn

 42.  Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti.

Dan dianatara orang-orang kafir, ada orang-orang yang mendengarkan ucapanmu yang haq dan bacaan al-qur’anmu, akan tetapi mereka tidak memperoleh hidayah. Maka apakah kamu sanggup membuat orang tuli menjadi mendengar? maka demikian pula kamu tidak akan sanggup memberikan hidayah kepada mereka, kecuali bila Allah menghendaki mereka memperoleh hidayah. Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang tuli terhadap kebenaran, yakni, tidak memahaminya.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْكَ ۚ أَفَأَنْتَ تَهْدِي الْعُمْيَ وَلَوْ كَانُوا لَا يُبْصِرُونَ

wa min-hum may yanẓuru ilaīk, a fa anta tahdil-‘umya walau kānụ lā yubṣirụn

 43.  Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan.

Dan diantara orang-orang kafir, ada orang yang melihat kepadamu dan bukti-bukti kenabianmu yang benar, akan tetapi dia tidak melihat apa yang diberikan Allah kepadamu berupa cahaya keimananmu. Apakah kamu (wahai rasul), sanggup untuk menciptakan penglihatan bagi orang-orang buta yang membuatnya dapat mengetahui jalan? demikian pula, kamu tidak sanggup untuk memberikan hidayah bagi mereka, bila mereka itu kehilangan bashirah (mata hati yang lurus). semua itu hanya milik Allah semata.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

innallāha lā yaẓlimun-nāsa syai`aw wa lākinnan-nāsa anfusahum yaẓlimụn

 44.  Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun dengan menambah kesalahan-kesalahan mereka atau mengurangi kebaikan-kebaikan mereka. Akan tetapi manusialah yang berbuat kezhaliman terhadap diri mereka sendiri dengan berbuat kekafiran, maksiat, dan melanggar perintah Allah dan laranganNya.”

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ ۚ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

wa yauma yaḥsyuruhum ka`al lam yalbaṡū illā sā’atam minan-nahāri yata’ārafụna bainahum, qad khasirallażīna każżabụ biliqā`illāhi wa mā kānụ muhtadīn

 45.  Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk

Dan pada hari Allah mengumpulkan kaum musyrikin pada hari kebangkitan dan hari perhitungan amal, seakan-akan mereka itu sebelumnya tidaklah tinggal di dunia ini, kecuali beberapa sesaat dari waktu siang hari saja, sebagian mereka mengenali sebagain yang lain layaknya keadaan mereka di dunia. Kemudian putuslah hubungan perkenalan itu dan habislah saat-saat tersebut. Sungguh telah merugi orang-orang yang mengingkari dan mendustakan perjuampaan dengan Allah, pahala dan siksaanNya. Dan mereka tidak memperoleh taufik untuk selaras dengan kebenaran dalam perbuatan yang mereka kerjaakn.

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ

wa immā nuriyannaka ba’ḍallażī na’iduhum au natawaffayannaka fa ilainā marji’uhum ṡummallāhu syahīdun ‘alā mā yaf’alụn

 46.  Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah kamu akan melihatnya) atau (jika) Kami wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan.

Dan bila kami memperlihatkan kepadamu (wahai rasul), saat kamu masih hidup sebagain kejadian yang kami ancamkan kepada mereka berupa siksaan di dunia, atau kami mewafatkanmu sebelum kami perlihatkan kepadamu kejadian itu berlangsung di tengah mereka, maka kepada kami semata urusan mereka akan dikembalikan dalam dua keadaan tersebut. Kemudian Allah adalah saksi atas perbuatan-perbuatan mereka yang dahulu mereka perbuatan didunia. Tidak ada bagi Allah sesuatupun darinya yang tersembunyi. Kemudian dia memberikan balasan kepada mereka yang sesuai dengan apa yang pantas mereka dapatkan.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa likulli ummatir rasụl, fa iżā jā`a rasụluhum quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn

 47.  Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.

Dan tiap-tiap umat yang telah berlalu sebelum kalian (wahai manusia), memiliki seorang rasul yang aku utus kepada mereka, sebagiamana aku mengutus Muhammad  kepada kalian, yang menyeru kepada agama Allah dan ketaatan kepadaNYa. Kemudian apabila telah datang rasul mereka di akhirat, maka saat itu diputuskanlah antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak terzhalimi terkait balasan perbuatan-perbuatan mereka sedikitpun.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

 48.  Mereka mengatakan: “Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?”

dan berkata Orang-orang musyrik dari kaummu (wahi rasul) ”kapan hari kiamat akan tiba, bila kamu dan orang-orang yang mengikutimu termasuk orang-orang yang benar dalam janji yang kalian sampaikan kepada kami?”

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

qul lā amliku linafsī ḍarraw wa lā naf’an illā mā syā`allāh, likulli ummatin ajal, iżā jā`a ajaluhum fa lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

 49.  Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).

Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”aku tidak sanggup menyingkirkan mudarat dari diriku dan mendatangkan kebaikan bagi diriku, kecuali apa-apa yang dikendaki Allah untuk menolak dariku mudarat atau mendatangkan bagiku suatu kebaikan. Tiap-tiap kaum memiliki waktu berakhirnya masa mereka dan ajal mereka. Apabila telah datang waktu berakhirnya ajal dan kebinasaan umur mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun sehingga mereka mendapatkan penangguhan dan tidak (pula) ajal mereka maju dari waktu yang telah ditentukan.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُهُ بَيَاتًا أَوْ نَهَارًا مَاذَا يَسْتَعْجِلُ مِنْهُ الْمُجْرِمُونَ

qul a ra`aitum in atākum ‘ażābuhụ bayātan au nahāram māżā yasta’jilu min-hul-mujrimụn

 50.  Katakanlah: “Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian sikaaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu meminta disegerakan juga?”

Katakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang musyrik, ”beritahulkanlah kepadaku, bila siksaan Allah datang kepada kalian pada malam atau siang hari, maka apa yang kalian minta disegerakan wahai orang-orang pelaku maksiat, dari turunnya siksaan?

أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ ۚ آلْآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

a ṡumma iżā mā waqa’a āmantum bih, āl-āna waqad kuntum bihī tasta’jilụn

 51.  Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?

Apakah setelah siksaan Allah menimpa kalian (wahai kaum musyrikin), kalian baru akan beriman pada saat yang keimanan tidak lagi bermanfaat? dan dikatakan pada kalian waktu itu, ”apakah baru sekarang kalian beriman kepadanya, sedang kalian sebelumnya meminta disegerakan kedatangannya?”

ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

ṡumma qīla lillażīna ẓalamụ żụqụ ‘ażābal-khuld, hal tujzauna illā bimā kuntum taksibụn

 52.  Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu: “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan”.

Kemudian dikatakan pada orang-orang yang berbuat kezaliman terhadap diri mereka dengan kekafiran mereka terhadap Allah, ”rasakanlah oleh kalian siksaan Allah yang abadi bagi kalian selamanya. Kalian tidak dikenai siksaan kecuali apa-apa yang telah kalian perbuat di dalam kehidupan kalian dari berbagai maksiat-maksiat kepada Allah.

۞ وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ ۖ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ ۖ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

wa yastambi`ụnaka aḥaqqun huw, qul ī wa rabbī innahụ laḥaqq, wa mā antum bimu’jizīn

 53.  Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)”.

Dan orang-orang musyrik dari kaummu itu meminta berita kepadamu (wahai rasul), tentang siksaan pada hari kiamat, apakah benar(siksaan tersebut) itu? katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”benar, demi tuhanku, sesungguhnya itu sungguh-sungguh benar, tiada keraguan padanya. Dan kalian tidak dapat melemahkan Allah untuk membangkitkan kalian dan memberikan balasan bagi kalian, sedang kalian berada dalam genggaman dan kekuasaanNya.”

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الْأَرْضِ لَافْتَدَتْ بِهِ ۗ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

walau anna likulli nafsin ẓalamat mā fil-arḍi laftadat bih, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn

 54.  Dan kalau setiap diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.

Dan sekiranya tiap-tiap jiwa yang musyrik dan kafir kepada Allah memiliki semua yang ada di muka bumi,dan Dia memberikan kepadanya kesempatan untuk menjadikan semua itu sebagai tebusan baginya dari siksaan tersebut, tentulah ia akan menembus dengannya. Dan orang-orang yang berbuat kezhaliman menyembunyikan penyesalan mereka ketika mereka melihat langsung siksaaan Allah menimpa mereka semua, dan Allah telah memutuskan perkara diatara mereka dengan adil, sedang mereka tidaklah teraniaya sedikitpun. Sesungguhnya Allah  tidak menyiksa seorangpun kecuali disebabkan dosanya.

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ أَلَا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

alā inna lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, alā inna wa’dallāhi ḥaqquw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 55.  Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).

Ingatalah, sesungguhnya yang ada di langit dan di bumi merupakan milik Allah , tidak ada sesuatupun darinya yang menjadi milik seseorang pun selainNya. Ingatlah, sesungguhnya perjumpaan dengan Allah  dan siksaanNya bagi kaum musyrikin pasti terjadi, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui hakikat hal demikian itu.

هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

huwa yuḥyī wa yumītu wa ilaihi turja’ụn

 56.  Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Sesungguhnya Allah, Dialah tuhan yang menghidupkan dan mematikan. Tidak sulit bagiNya untuk Menghidupkan orang-orang sesudah kematian mereka, sebagaimana tidak sulit untuk mematika mereka, bila Dia menghendaki itu. Dan mereka akan kembali kepadaNya setelah kematian mereka.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

yā ayyuhan-nāsu qad jā`atkum mau’iẓatum mir rabbikum wa syifā`ul limā fiṣ-ṣudụri wa hudaw wa raḥmatul lil-mu`minīn

 57.  Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian nasihat dari tuhan kalian yang memperingatkan kalian dari siksaan Allah dan menakuti kalian dengan ancamanNYa, yaitu al-qur’an dan apa yang dikandungnya berupa ayat-ayat dan nasihat-nasihat untuk memperbaiki akhlak-akhlak kalian dan amal perbuatan kalian. Dan di dalamnya juga terdapat obat bagi hati dari kebodohan, kesyirikan dan seluruh penyakit, ,serta merupakan petunjuk lurus bagi orang yang mengikutinya dari seluruh makhluk, sehingga menyelamatkannya dari kebinasaan. Allah  menjadikannya sebagai kenikmatan dan rahmat bagi kaum mukminin dan mengistimewakan mereka dengan itu secara khusus; karena merekalah yang dapat mengambil manfaat dengan iman, sedangkan orang-orang kafir,maka ia adalah kegelapan bagi mereka.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn

 58.  Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Katakanlah (wahai rasul),kepada seluruh manusia, ”dengan karunia Allah dan rahmatNya, yaitu hidayah yang datang dari Allah kepada mereka dan agama yang benar yaitu islam, dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Sesungguhnya islam yang kepadanya Allah menyeru kalian dan al-qur’an yang diturunkanNya pada Muhammad  itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan berupa kekayaan dunia yang semu dan segala isinya dari kemegahannya yang fana lagi akan sirna.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

qul a ra`aitum mā anzalallāhu lakum mir rizqin fa ja’altum min-hu ḥarāmaw wa halālā, qul āllāhu ażina lakum am ‘alallāhi taftarụn

 59.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”

Katakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang yang mengingkari wahyu, ”beritahukanlah kepadaku tentang karunia rizki yang Allah turunkan bagi kalian berupa hewan, tetumbuhan, dan kebaikan-kebaikan lainnya, lalu kalian menghalalkan sebagiannya bagi diri kalian dan mengharamkan sebagain yang lain,” katakanlah kepada mereka, ”apakah Allah mengizinkan kalian untuk melakukan itu, ataukah kalian mengatakan ucapan kebatilan atas nama Allah dan berdusta(kepadaNya)?” dan sesungguhnya mereka benar-benar melontarkan ucapan kebatilan atas nama Allah dan berdusta.

وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ

wa mā ẓannullażīna yaftarụna ‘alallāhil-każiba yaumal-qiyāmah, innallāha lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡarahum lā yasykurụn

 60.  Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).

Dan apakah prasangka orang-orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah pada hari perhitungan amal,dimana mereka menambahkan kepadanya pengharaman apa yang tidak Allah haramkan dari macam-macam rizki dan bahan makanan sehari-hari, tentang apa yang akan diperbuat Allah terhadap mereka pada hari kiamat akibat kedustaan dan kebohongan mereka terhadap Allah? apakah mereka mengira bahwa Dia sesungguhnya akan meberikan toleransi dan mengampuni mereka? sesungguhnya Allah memiliki karunia atas makhlukNya; dengan tidak menyegerakan hukuman bagi orang yang mengadakan kedustaan atas namaNya di dunia dan menangguhkan waktu baginya. Akan tetapi,kebanyakan orang tidak bersyukur kepada Allah atas kemurahanNya pada mereka dengan memberikan semua itu.

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa mā takụnu fī sya`niw wa mā tatlụ min-hu ming qur`āniw wa lā ta’malụna min ‘amalin illā kunnā ‘alaikum syuhụdan iż tufīḍụna fīh, wa mā ya’zubu ‘ar rabbika mim miṡqāli żarratin fil-arḍi wa lā fis-samā`i wa lā aṣgara min żālika wa lā akbara illā fī kitābim mubīn

 61.  Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Dan tidaklah kamu (wahai rasul), berada dalam suatu urusan dari urusan-urusanmu,dan tidaklah kamu membaca ayat-ayat dari kitabullah, dan tidaklah sesorang dari umat ini mengerjakan suatu perbuatan, yang baik maupun yang buruk, kecuali kami akan menjadi saksi baginya yang mengawasinya, ketika kalian memulainya dan mengerjakannya, kami akan memelihara itu bagi kalian dan memberikan balasan bagi kalian dengannya. Dan tidak ada sesuatu yang terlewat dari ilmu tuhanmu (wahai rasul) meski sebesar semut kecil yang ada di muka bumi maupun yang ada di langit, dan tidak pula sesuatu yang paling kecil maupun yang paling besar,kecuali sudah tertulis di dalam kitab di sisi Allah,jelas lagi terang. Yang telah diliputi oleh IlmuNya dan telah berjalan oleh penaNYa.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

alā inna auliyā`allāhi lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

 62.  Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada ketakutan pada mereka di akhirat dari siksaan Allah dan mereka pun tidak bersedih atas apa yang telah luput dari mereka dari kesenangan-kesenangan dunia.

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

allażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

 63.  (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Dan sifat-sifat wali-wali Allah itu bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasulNya, dan risalah yang dibawanya dari sisi Allah, dan mereka selalu bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNYa.

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

lahumul-busyrā fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah, lā tabdīla likalimātillāh, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

 64.  Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

Bagi para wali-wali Allah itu ada kabar gembira dari Allah di kehidupan dunia dengan hal-hal yang menyenangkan mereka diantaranya adalah mimpi yang baik yang dilihat oleh orang mukmin atau diperlihatkan kepadanya, dan di akhirat berupa surga. Allah tidak mengingkari janjiNya dan tidak pula mengubah-ubahnya.Itulah keberuntungan yang agung, karena mencakup keselamatan dari segala yang ditakuti dan keberuntungan meraih semua keinginan yang disukai.

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا ۚ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa lā yaḥzungka qauluhum, innal-‘izzata lillāhi jamī’ā, huwas-samī’ul-‘alīm

 65.  Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan janganlah membuatmu sedih (wahai rosul) dengan perkataan orang-orang musyrik tentang tuhan mereka dan kedustaan yang mereka buat-buat kepadaNya serta penyekutuan berhala-berhala dan patung-patung dengan Allah yang mereka lakukan. Karena sesungguhnya Allah maha esa dengan kekuatan yang sempurna dan kekuasaan yang mutlak di dunia dan di akhirat. Dia mahamendengar ucapan-ucapan mereka lagi mahamengetahui perbuatan-perbuatan dan niat-niat mereka.

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ ۗ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

alā inna lillāhi man fis-samāwāti wa man fil-arḍ, wa mā yattabi’ullażīna yad’ụna min dụnillāhi syurakā`, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa in hum illā yakhruṣụn

 66.  Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.

Ingatlah bahwa sesungguhnya milik Allah semua yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dari bangsa malaikat, manusia, jin dan bangsa makhluk lainnya. Dan apakah yang diikuti oleh orang-orang yang menyeru selain Allah dari sekutu-sekutu? mereka tidaklah mengikuti, kecuali keragu-raguan. Dan mereka itu tiada lain, melainkan orang-orang yang berdusta dalam perkara yang mereka nisbatkan kepada Allah.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

huwallażī ja’ala lakumul-laila litaskunụ fīhi wan-nahāra mubṣirā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yasma’ụn

 67.  Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.

Dialah (Allah) yang menjadikan bagi kalian (wahai sekalain manusia) malam hari supaya kalian dapat menenangkan diri padanya dan beristirahat dari kepenatan mobilitas dalam mencari penghidupan, dan Dia menjadikan bagi kalian siang hari agar kalian dapat melihat dengan jelas padanya dan berusaha dalam mencari rizki kalian. Sesungguhnya dalam pergantian malam dan siang dan keadaan manusia pada dua waktu itu benar-benar terdapat petunjuk dan hujah-hujah yang menunjukan bahwa sesungguhnya Allah, Dialah satu-satuNya yang berhak diibadahi bagi kaum yang menyimak hujjah-hujah ini(dengan baik) dan memikirkannya.

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَٰذَا ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

qāluttakhażallāhu waladan sub-ḥānah, huwal-ganiyy, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, in ‘indakum min sulṭānim bihāżā, a taqụlụna ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

 68.  Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Orang-orang musyrik berkata, ”Allah mengambil anak” seperti perkataan mereka, ”malaikat adalah anak-anak perempuan Allah” atau “isa al-masih adalah putra Allah” maha suci Allah dari semua ungkapan tersebut dan Mahabersih darinya. Dia Mahakaya, tidak membutuhkan segala sesuatu selainNya.MilikNya segala sesuatu yang ada di langit dan dibumi.Maka bagaimana Dia mempunyai seorang anak dari yang Dia ciptakan sendiri, padahal segala sesuatu adalah milikNya? dan kalian tidak mempunyai bukti yang menguatkan apa yang kalian ada-adakan itu berupa kedustaan. Apakah kalian melontarkan kepada Allah sesuatu yang kalian sendiri tidak mengetahui hakikat dan kebenarnnya?

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

qul innallażīna yaftarụna ‘alallāhil-każiba lā yufliḥụn

 69.  Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”.

Katakanlah, ”sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, dengan menyatakan Allah mempunyai anak dan mengaitkan sekutu kepadaNya, mereka tidak akan dapat menggapai keinginan mereka di dunia dan di akhirat.”

مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

matā’un fid-dun-yā ṡumma ilainā marji’uhum ṡumma nużīquhumul-‘ażābasy-syadīda bimā kānụ yakfurụn

 70.  (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.

Sesungguhnya mereka akan bersenang-senang di dunia dengan kekafiran dan kedustaan mereka dalam kesenangan yang singkat, kemudian apabila ajal mereka telah berakhir, maka kepada kami lah tempat kembali mereka, kemudian kami menimpakan kepada mereka siksaan jahanam disebabkan kekafiran mereka kepada Allah dan pendustaan mereka terhadap rasul-rasul Allah dan penentangan mereka terhadap ayat-ayatNya.

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ

watlu ‘alaihim naba`a nụḥ, iż qāla liqaumihī yā qaumi ing kāna kabura ‘alaikum maqāmī wa tażkīrī bi`āyātillāhi fa ‘alallāhi tawakkaltu fa ajmi’ū amrakum wa syurakā`akum ṡumma lā yakun amrukum ‘alaikum gummatan ṡummaqḍū ilayya wa lā tunẓirụn

 71.  Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

Dan ceritakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang kafir Makkah kisah nuh  bersama kaumnya, ketika dia berkata kepada mereka, ”bila memberatkan kalian keberadaanku tinggal ditengah kalian dan peringatanku kepada kalian dengan hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti kebenaranNa, maka hanya kepada Allah lah tempat bergantungku dan kepaadNya aku menaruh kepercayaanku. Karena itu, persiapkanlah putusan kalian, dan serulah sekutu-sekutu kalian, kemudian janganlah kalian menjadikan putusan kalian bersifat tertutup, akan tetapi jadikanlah nyata lagi tebuka. Lalu berikanlah keputusan kepadaku dengan hukuman dan keburukan yang berada dalam jangkauan kemampuan kalian. Dan janganlah kalian memberiku penangguhan sesaatpun di siang hari.

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

fa in tawallaitum fa mā sa`altukum min ajr, in ajriya illā ‘alallāhi wa umirtu an akụna minal-muslimīn

 72.  Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”.

Kemudian bila kalian berpaling dari dakwahku, maka sesungguhnya aku tidaklah meminta upah dari kalian; sebab sesungguhnya balasanku ada di sisi tuhanku dan imbalanku pada Allah  semata, tiada sekutu bagiNya.Dan aku diperintah agar termasuk orang-orang yang tunduk patuh kepada hukumNya.”

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

fa każżabụhu fa najjaināhu wa mam ma’ahụ fil-fulki wa ja’alnāhum khalā`ifa wa agraqnallażīna każżabụ bi`āyātinā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn

 73.  Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

Tetapi kaum nuh mendustakan nuh  terkait berita-berita yang dia sampaikan kepada mereka Dari Allah. Lalu kami menyelamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal, dan kami menjadikan mereka pengganti orang-orang yang mendustakan di muka bumi, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mengingkari hujjah-hujah kami. Maka renungilah (wahai rasul), bagaimanakah kesudahan orang-orang yang telah diperingatkan oleh rasul mereka dengan siksaan Allah dan hukumNYa?

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ ۚ كَذَٰلِكَ نَطْبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِ الْمُعْتَدِينَ

ṡumma ba’aṡnā mim ba’dihī rusulan ilā qaumihim fa jā`ụhum bil-bayyināti fa mā kānụ liyu`minụ bimā każżabụ bihī ming qabl, każālika naṭba’u ‘alā qulụbil-mu’tadīn

 74.  Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.

Kemudian kami utus setelah nuh rasul-rasul kepada kaum-kaum mereka (seperti hud, shaleh, Ibrahim, luth, syu’aib, dan lain-lain). Tiap-tiap rasul datang kepada kaumnya dengan membawa mukjizat-mukjizat yang membuktikan kebenaran kerasulannya dan kebenaran apa-apa yang dia dakwahkan kepada mereka. Namun mereka benar-benar tidak mau membenarkan dan mengamalkan risalah yang didustakan oleh kuam nuh dan begitu juga orang-orang sebelum mereka dari umat-uamt yang telah berlalu. Dan sebagaimana kami telah mengunci hati kaum-kaum tersebut sehingga tetap tidak akan beriman, demikian pula akan Dia akam mengunci hati orang-orang yang serupa dengan mereka dari orang-orang yang datang setelah mereka yang melakukan perbuatan melampaui batas aturan-aturan Allah, menyelisihi ajakan yang diserukan rasul-rasul mereka kepada mereka, berupa perintah untuk taat kepada Allah, sebagai hukuman bagi mereka atas perbuatan-perbuatan maksiat mereka.

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ وَهَارُونَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

ṡumma ba’aṡnā mim ba’dihim mụsā wa hārụna ilā fir’auna wa mala`ihī bi`āyātinā fastakbarụ wa kānụ qaumam mujrimīn

 75.  Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Kemudian kami mengutus setelah rasul-rasul itu Musa dan Harun  kepada fir’aun dan para bangsawan dari kaumnya dengan membawa mukjizat-mukjizat yang menunjukan kebenaran mereka berdua, lalu mereka menyombongkan diri menerima kebenaran. Dan mereka adalah kaum yang berbuat syirik, pelaku kejahatan, lagi mendustakan.

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا إِنَّ هَٰذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ

fa lammā jā`ahumul-ḥaqqu min ‘indinā qālū inna hāżā lasiḥrum mubīn

 76.  Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata”.

Maka ketika telah datang kepada fir’aun dan kaumnya kebenaran yang dibawa Musa , mereka berkomentar, ”sesungguhnya mukjizat-mukjizat nyata yang dibawa oleh musa hanyalah merupakan sihir yang nyata.

قَالَ مُوسَىٰ أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ ۖ أَسِحْرٌ هَٰذَا وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ

qāla mụsā a taqụlụna lil-ḥaqqi lammā jā`akum, a siḥrun hāżā, wa lā yufliḥus-sāḥirụn

 77.  Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?” padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan”.

Musa  berkata kepada mereka lantaran merasa aneh dengan perkataan mereka, ”apakah kalian berkata terhadap kebenaran yang datang kepada kalian bahwa ia merupakan sihir yang nyata? perhatikanlah ciri-ciri dari risalah yang datang kepada kalian dan apa yang terkandung padanya, niscaya kalian akan mendapatinya sebagai kebenaran. Dan tukang-tukan sihir tidak akan beruntung dan tidak memperoleh kemenangan di dunia maupun akhirat.

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الْأَرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ

qālū a ji`tanā litalfitanā ‘ammā wajadnā ‘alaihi ābā`anā wa takụna lakumal-kibriyā`u fil-arḍ, wa mā naḥnu lakumā bimu`minīn

 78.  Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua”.

Fir’aun dan para pembesarnya berkata kepada Musa , apakah kamu datang untuk membelokan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami melakukannya berupa menyembah selain Allah, lalu kamu dan harun menggapai keagungan dan kekuasaan di bumi mesir? Dan kami tidaklah mengakui bahwa kalian berdua adalah rasul Allah yang diutus kepada kami agar kami hanya beribadah kepadaNYa semata, tiada sekutu bagiNya.”

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ

wa qāla fir’aunu`tụnī bikulli sāḥirin ‘alīm

 79.  Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!”

Fir’aun berkata, ”datangkanlah kepadaku setiap tukang sihir yang ahli dalam penguasaan ilmu sihir.”

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَىٰ أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ

fa lammā jā`as-saḥaratu qāla lahum mụsā alqụ mā antum mulqụn

 80.  Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”.

Ketika tukang sihir-sihir itu datang kepada fir’aun, Musa  berkata kepada mereka, ”lemparkanlah oleh kalian ke tanah apa yang ada pada kalian dari tali-tali dan tongkat-tongkat.”

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ ۖ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ

fa lammā alqau qāla mụsā mā ji`tum bihis-siḥr, innallāha sayubṭiluh, innallāha lā yuṣliḥu ‘amalal-mufsidīn

 81.  Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.

Sesudah mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, Musa  berkata kepada mereka, ”sesungguhnya apa yang telah kalian datangkan dan telah kalian lemparkan itu merupakan sihir, dan sesunguhnya Allah akan melenyapkan apa yang kalian datangkan itu dan menggagalkannya. Sesungguhnya Allah tidak memperbaiki perbuatan orang yang berusaha melakukan di muka bumi Allah berupa sesuatu yang dibenciNya dan berbuat kerusakan di dalamnya dengan maksiat kepadaNya.

وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

wa yuḥiqqullāhul-ḥaqqa bikalimātihī walau karihal-mujrimụn

 82.  Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).

Dan Alalh mengokohkan kebenaran yang kamu bawa kepada mereka dari sisiNya, lalu meninggikannya dibatas kebatilan mereka dengan kalimat-kalimatNYa dan perintahNYa, walaupun membencinya orang-orang yang berbuat keburukan, para pelaku makasiat-maksiat dari pasukan fir’’aun.

فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ ۚ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

fa mā āmana limụsā illā żurriyyatum ming qaumihī ‘alā khaufim min fir’auna wa mala`ihim ay yaftinahum, wa inna fir’auna la’ālin fil-arḍ, wa innahụ laminal-musrifīn

 83.  Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Maka tidak aad yang beriman kepada Musa  meski dia membawakan kepada mereka hujjah-hujjah dan dalil-dalil nyata, kecuali sekumpulan keturunan dari kaumnya dari bangsa bani israil, sedang mereka itu takut kepada fir’aun dan para pembesarnya akan menimpakan ujian pada mereka dengan siksaan, sehingga dapat menghalangi mereka dari agama mereka. Dan sesungguhnya fir’aun benar-benar sosok penindas lagi angkuh di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang telah melampaui batas dalam kekafiran dan kerusakan.

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

wa qāla mụsā yā qaumi ing kuntum āmantum billāhi fa ‘alaihi tawakkalū ing kuntum muslimīn

 84.  Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”.

Dan Musa  berakata, ”wahai kaumku, bila kalian beriman kepada Allah  , dan melaksanakan syariatNya, maka percayalah kepadaNYa, berserah dirilah kalian terhadap perintahNya, dan hanya kepada Allah, hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar tunduk kepadaNYa dengan ketaatan.”

فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa qālụ ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanā lā taj’alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn

 85.  Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim,

Kaum Musa  berkata kepadanya, ”Hanya kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagiNYa, kami bergantung, dan kepadaNyalah kami serahkan urusan-urusan kami, wahai tuhan kami, janganlah Engkau memenangkan mereka atas kami, sehingga akan menjadi sumber fitnah bagi kami dalam agama kami. Atau diuji orang-orang kafir itu dengan kemenangan mereka, maka mereka akan berkata “seandaunya mereka ada diatas kebenaran tentulah mereka tidak akan kalah”

وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn

 86.  dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir”.

Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMU dari orang-orang kafir, fir’aun, dan pembesar-pembesarnya. Sebab, sesungguhnya mereka itu memaksa orang-orang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat.”

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

wa auḥainā ilā mụsā wa akhīhi an tabawwa`ā liqaumikumā bimiṣra buyụtaw waj’alụ buyụtakum qiblataw wa aqīmuṣ-ṣalāh, wa basysyiril-mu`minīn

 87.  Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”.

Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, Harun , ”carilah bagi kaummu rumah-rumah di mesir sebagai tempat-tempat tinggal dan tempat persembunyian di mana kalian mempertahankan diri di dalamnya. Dan jadikanlah rumah-rumah kalian itu sebagi tempat kalian mengerjakan shalat disana dalam konddisi mencekam, dan kerjakanlah shalat fardhu pada waktu-waktunya. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang Mukminin yang taat kepada Allah dengan kemenangan yang pasti dan pahala besar dari Allah  .”

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

wa qāla mụsā rabbanā innaka ātaita fir’auna wa mala`ahụ zīnataw wa amwālan fil-ḥayātid-dun-yā, rabbanā liyuḍillụ ‘an sabīlik, rabbanaṭmis ‘alā amwālihim wasydud ‘alā qulụbihim fa lā yu`minụ ḥattā yarawul-‘ażābal-alīm

 88.  Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”.

Musa  berkata , ”waahi tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada fir’aun dan pembesar-pembesar dari kaumnya perhiasan dari kesenangan dunia, namun mereka tidak bersyukur kepadaMu. justru mereka mempergunakannya untuk menyesatkan dari jalanMU. Wahai tuhan kami, hempaskanlah harta kekayaan mereka, agar mereka tidak dapat memanfaatkannya, dan kuncilah hati mereka sehingga tidak dapat terbuka lapang menerima keimanan, maka mereka tidak akan pernah beriman sampai melihat langsung siksaan yang dahsyat lagi pedih.”

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

qāla qad ujībad da’watukumā fastaqīmā wa lā tattabi’ānni sabīlallażīna lā ya’lamụn

 89.  AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”.

Allah  berfirman kepada mereka berdua, ”Sesungguhnya aku telah mengabulkan permohonan kalian berdua terkait nasib Fir’aun dan para perbesarnya serta harta kekayaan mereka.“ Waktu itu Musalah yang berdoa, sedang Harun  mengamini doanya. Dari sini, permohonan doa di nisbatkan kepada mereka berdua. ”Maka tetap teguhlah kalian di atas agama kalian, dan bertahanlah kalian dalam mendakwahi Fir’aun dan kaumnya untuk mentauhidkan Allah dan taat kepadaNya, dan janganlah kalian berdua menempuh jalan orang-orang yang tidak mengetahui hakikat janji dan ancamanKu.”

۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa jāwaznā bibanī isrā`īlal-baḥra fa atba’ahum fir’aunu wa junụduhụ bagyaw wa ‘adwā, ḥattā iżā adrakahul-garaqu qāla āmantu annahụ lā ilāha illallażī āmanat bihī banū isrā`īla wa ana minal-muslimīn

 90.  Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Kami belah lautan bagi Bani israil sehingga mereka dapat menyebrangi laut itu. Kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengejar mereka demi melancarkan kezhaliman dan karena permusuhan. Lalu mereka mengarungi laut di belakang mereka. Dan ketika ancaman tenggelam telah meliputi Fir’aun, dia berkata, “ Aku beriman, sesungguhnya tiada tuhan yang haq kecuali Dzat yang telah diimani oelh Bani israil. Dan aku termasuk orang-orang yang mengesakan lagi berserah diri dengan patuh dan ketaatan.”

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

āl-āna wa qad ‘aṣaita qablu wa kunta minal-mufsidīn

 91.  Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Apakah baru sekarang wahai Fir’aun, ketika kematian telah benar-benar mendatangimu, kamu mau mengakui penghambaan kepada Allah, sedang kamu telah mendurhakaiNya sebelum turun siksaNYa padamu, dan kamu termasuk orang-orang yang melakukan kerusakan lagi menghambat orang dari jalan Allah?! karenaNya, tidaklah bermanfaat bagimu taubat di saat syakaratul maut dan melihat kematian.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

fal-yauma nunajjīka bibadanika litakụna liman khalfaka āyah, wa inna kaṡīram minan-nāsi ‘an āyātinā lagāfilụn

 92.  Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Hari ini, kami hendak menjadikan kamu berada di tempat yang tinggi di permukaan tanah dengan tubuhmu, agar dapat melihatmu orang yang mendustakan dengan kebinasaanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi manusia sepeninggalmu yang akan memetik pelajaran darimu. Namun kebanyakan dari manusia melalaikan hujjah-hujjah Kami dan dalil nyata Kami, mereka tidak mau memikirkannya dan mengambil pelajaran darinya.

وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْعِلْمُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa laqad bawwa`nā banī isrā`īla mubawwa`a ṣidqiw wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāt, famakhtalafụ ḥattā jā`ahumul-‘ilm, inna rabbaka yaqḍī bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

 93.  Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di ternpat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Dan sungguh kami telah menempatkan Bani israil di tempat tinggal yang baik lagi pilihan di negeri Syam dan Mesir, dan kami memberikan rizki yang halal lagl baik kepada mereka dari kekayaan-kekayaan dari bumi yang penuh berkah. Kemudian mereka tiidaklah berselisih pendapat perkara agama mereka, kecuali setelah datangnya ilmu yang mewajibkan mereka untuk bersatu padu. Dan termasuk kandungan Taurat tetang kenabian Muhamad . Sesungguhya Tuhanmu (wahai Rasul), akan menetapkan putusan antara mereka pada Hari kiamat dan memutuskan perkara yang mereka berselish di dalamnya tentang hakikat darimu. Lalu Memasukan orang-orang yang mendustakan ke dalam neraka dan orang-orang Mukmin ke dalam surga.

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

fa ing kunta fī syakkim mimmā anzalnā ilaika fas`alillażīna yaqra`ụnal-kitāba ming qablik, laqad jā`akal-ḥaqqu mir rabbika fa lā takụnanna minal-mumtarīn

 94.  Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu.

Maka apabila kamu (wahai Rasul), dalam keragu-raguan dalam hakikat apa yang Kami beritahukan kepadamu, maka tanyalah orang-orang yang membaca Al-kitab sebelummu dari para penganut kitab Taurat dan Injil pertanyaan tentang ketetapan dan kesaksian, karena sesungguhnya perkara itu termuat dari dalam kitab-kitab suci mereka. Sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran yang meyakinkan dari Tuhanmu bahwa kamu benar-benar adalah utusan Allah, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani sungguh-sungguh mengetahui kebenaran itu dan mereka mendapati sifat-sifatmu ada di dalam kitab-kitab suci mereka, akan tetapi mereka mengingkarinya padahal mereka mengetahuinya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu-ragu terhadap kebenaran itu dan hakikatnya. Maksud dari ayat ini adalah menegakan hujjah kepada orang-orang musyrik dengan persaksian orang-orang hali kitab dari kalangan yahudi dan nasrani sebagai pembantah atas alasan-alasan mereka.

وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa lā takụnanna minallażīna każżabụ bi`āyātillāhi fa takụna minal-khāsirīn

 95.  Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi.

Dan janganlah kamu sekali-kali (wahai Rasul), termasuk di antara orang-orang yang mendustakan hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti kebenaraNya akibatnya kamu akan termasuk orang-orang yang merugi, yang Allah akan memurkai mereka dan mereka akan memperoleh siksaNya.

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ

innallażīna ḥaqqat ‘alaihim kalimatu rabbika lā yu`minụn

 96.  Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman,

Sesungguhnya orang-orang yang pada dirinya mereka telah berlaku pasti ketetapan Tuhanmu (wahai Rasul), untuk menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menimpa siksanNya bagi mereka, mereka tidak akan mengimani hujjah-hujjah Allah dan tidak mengakui keesaaNya, serta tidak mengerjakan syariatNya,

وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

walau jā`at-hum kullu āyatin ḥattā yarawul-‘ażābal-alīm

 97.  meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.

walaupun datang kepada mereka setiap nasihat dan pelajaran sampai mereka menyaksikan sendiri siksaan yang pedih. Maka pada Saat itulah mereka hendak beriman padahal keimanan mereka tidak lagi berguna.

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

falau lā kānat qaryatun āmanat fa nafa’ahā īmānuhā illā qauma yụnus, lammā āmanụ kasyafnā ‘an-hum ‘ażābal-khizyi fil-ḥayātid-dun-yā wa matta’nāhum ilā ḥīn

 98.  Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.

Tidak akan bermanfaat keimanan satu negeripun yang beriman setelah menyaksikan siksaan (yang datang) selain kaum yunus bin matta asa , karena sesungguhnya mereka tatkala mereka meyakini siksaan akan menimpa mereka, mereka bertaubat kepada Allah  dengan taubat nasuha. Maka tatkala tampak jelas keseriusan dari mereka dalam taubat mereka, maka kami angkat dari mereka siksaan yang menghinakan setelah sudah mendekat kepada mereka, dan membiarkan mereka di dunia bersenang-senang hingga waktu ajal mereka berakhir.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

walau syā`a rabbuka la`āmana man fil-arḍi kulluhum jamī’ā, a fa anta tukrihun-nāsa ḥattā yakụnụ mu`minīn

 99.  Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Dan sekiranya tuhanmu (wahai rasul), Menghendaki keimanan bagi penduduk bumi secara keseluruhan, pastilah mereka akan beriman semuanya kepada risalah yang kamu bawa kepada mereka. Akan tetapi, Dia memiliki hikmah dalam hal tersebut. Dia memberikan hidayah kepada yang Dia kehendaki, dan menyesatkan orang yang dikehendakiNya, sejalan dengan sifat kebijaksanaanNya. Dan bukanlah termasuk kuasamu untuk memaksa manusia untuk beriman.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

wa mā kāna linafsin an tu`mina illā bi`iżnillāh, wa yaj’alur-rijsa ‘alallażīna lā ya’qilụn

 100.  Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Dan tidaklah satu jiwa beriman kepada Allah, kecuali dengan izin Allah dan taufikNya.Maka janganlah kamu memaksakan diri dalam urusan itu, sebab sesungguhnya nasib mereka tergantung kepada Allah. Dan Allah akan menjatuhkan siksaaan dan kehinaan pada orang-orang yang tidak mau memahami perintah dan laranganNya.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

qulinẓurụ māżā fis-samāwāti wal-arḍ, wa mā tugnil-āyātu wan-nużuru ‘ang qaumil lā yu`minụn

 101.  Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaummu, ”berpikirlah dan ambillah pelajaran dari apa yang ada di langit dan di bumi yang berisi tanda-tanda kuasa Allah yang nyata.” Akan tetapi, tanda-tanda kekuasaan, pelajaran-pelajaran, dan rasul-rasul yang memberi peringatan kepada hamba-hamba Allah terhadap siksaanNya, tidak memberikan manfaat bagi kaum yang tidak mengimani apapun dari perkara-perkara tersebut karena sikap berpaling dan penentangan mereka.

فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

fa hal yantaẓirụna illā miṡla ayyāmillażīna khalau ming qablihim, qul fantaẓirū innī ma’akum minal-muntaẓirīn

 102.  Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: “Maka tunggulah, sesungguhnya akupun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu”.

Tidaklah mereka itu menunggu, kecuali sekedar satu haru yang mereka akan menyaksikan langsung sikasaan Allah seperti hari-hari para pendahulu mereka yang mendustakan yang telah berlalu sebelum mereka. Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”maka tungggulah siksaan Allah, sesungguhnya aku bersama kalian termasuk orang-orang yang menunggu siksaan atas kalian.”

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

ṡumma nunajjī rusulana wallażīna āmanụ każālik, ḥaqqan ‘alainā nunjil-mu`minīn

 103.  Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.

Kemudian kami menyelamatkan rasul-rasul kami dan orang-orang beriman yang bersama mereka. Sebagaimana kami telah menyelamatkan mereka, Kami juga menyelamatkan kamu wahai rasul, dan orang-orang yang beriman kepadamu sebagai bentuk karunia dan rahmat dari kami.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

qul yā ayyuhan-nāsu ing kuntum fī syakkim min dīnī fa lā a’budullażīna ta’budụna min dụnillāhi wa lākin a’budullāhallażī yatawaffākum wa umirtu an akụna minal-mu`minīn

 104.  Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman”,

Katakanlah (wahai rasul), kepada sekalain manusia, ”bila kalian masih dalam keraguan terhadap kebenaran agamaku yang aku mendakwahi kalian kepadanya, yaitu islam, dan termasuk keteghuhan dan istiqamahku, sedang kalin berharap mengalihkan aku darinya, maka sesunggguhnya aku tidak beribadah dalam kondisi apapun kepada apa-apa yang kalian sembah dari berhala-berhala dan patung-patung yang kalian jadikan tuhan-tuhan. Akan tetapi, aku hanya beribadah kepaada Allah, Dzat yang mematikan kalian dan mencabut ruh-ruh kalian. Dan aku diperintahkan untuk menjadi orang-orang yang beriman kepadaNya dan melaksanakan syariatNya.

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

wa an aqim waj-haka lid-dīni ḥanīfā, wa lā takụnanna minal-musyrikīn

 105.  dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.

Dan tegakkanlah dirimu (wahai rasul) di atas islam, dengan selalu lurus di atasnya, tidak condong ke ajaran yahudi dan nasrani ataupun penyembahan kepada selainNya. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan dalam peribadahan kepada tuhannya dengan tuhan-tuhan dan tandingan-tandingan, karena akibatnya kamu akan menjadi bagian dari orang-orang yang binasa.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

wa lā tad’u min dụnillāhi mā lā yanfa’uka wa lā yaḍurruk, fa in fa’alta fa innaka iżam minaẓ-ẓālimīn

 106.  Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

Dan janganlah kamu (wahai rasul), menyeru selain Allah sesuatupun dari patung-patung dan berhala-berhala, karena sesungguhnya mereka tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak dapat memberikan mudarat. Kemudian bila kamu melakukannya dan menyerunya selain Allah, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yang berbuat aniaya kepada diri mereka melalui perbuatan syirik dan maksiat.” Ayat ini walaupun khitobnya untuk rosululloh  akan tetapi ayat ini juga umum untuk umatnya.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

wa iy yamsaskallāhu biḍurrin fa lā kāsyifa lahū illā huw, wa iy yuridka bikhairin fa lā rādda lifaḍlih, yuṣību bihī may yasyā`u min ‘ibādih, wa huwal-gafụrur-raḥīm

 107.  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan apabila Allah menimpakan padamu (wahai rasul), sebuah kesulitan atau bencana, maka tidak ada yang kuasa menghilangkannya kecuali Allah, . Dan kalau Dia menghendaki kehidupan nyaman bagimu atau kenikmatan, tidak ada seorangpun yang dapat menghambatnya darimu. Allah  menimpakan kesenangan dan kesulitan kepada orang yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNYa. Dan Dia mahapengampun terhadap dosa-dosa orang yang bertaubat kepadaNya lagi mahapenyayang terhadap orang yang beriman dan taat kepadaNya.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

qul yā ayyuhan-nāsu qad jā`akumul-ḥaqqu mir rabbikum, fa manihtadā fa innamā yahtadī linafsih, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu ‘alaihā, wa mā ana ‘alaikum biwakīl

 108.  Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada sekalian manusia, ”sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang utusan Allah dengan membawa al-qu’an, yang di dalamya terdapat penjelasan hidayah bagi kalian. Maka barangsiapa mendapat petunjuk melalui hidayah Allah, maka buah amal baiknya kembali kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyimpang dari kebenaran dan bertahan diatas kesesatan, maka kesesatannya dan mudaratnya menjadi tanggungannya sendiri. Dan aku tidak diperintah mengurusi kalian sehingga kalian beriman. Sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan penyampai yang menyampaikan kepada kalian risalah yang aku diutus dengannya.’

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

wattabi’ mā yụḥā ilaika waṣbir ḥattā yaḥkumallāh, wa huwa khairul-ḥākimīn

 109.  Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Dan ikutilah (wahai rasul), wahyu Allah yang Dia wahyukan kepadamu, lalu laksanakanlah ia dan bersabarlah dalam ketaatan kepada Allah dan meniggalkan maksiat. Dan menghadapi penentangan orang-orang yang menentangmu dari manusia sampai Allah menentukan keputusanNYa terhadap mereka dan terhadapmu. Dan Dia adalah sebaik-baik penetap keputusan, karena sesungguhnya keputusanNya mencakup keadilan yang sempurna.

Related: Surat Hud Arab-Latin, Surat Yusuf Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat ar-Ra’d, Terjemahan Tafsir Surat Ibrahim, Isi Kandungan Surat al-Hijr, Makna Surat an-Nahl

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Yunus 99