Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Mu’minun

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Arab-Latin: qad aflaḥal-mu`minụn

Terjemah Arti:  1.  Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, serta melaksanakan syariatNya.

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

allażīna hum fī ṣalātihim khāsyi’ụn

 2.  (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,

Yaitu orang-orang yang di antara sifat mereka adalah bahwasanya mereka itu orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka, hati mereka focus untuknya dan anggota tubuh mereka tenang di dalamnya.

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

wallażīna hum ‘anil-lagwi mu’riḍụn

 3.  dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

Dan orang-orang yang meninggalkan segala sesuatu yang tidak ada kebaikan padanya dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan.

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

wallażīna hum liz-zakāti fā’ilụn

 4.  dan orang-orang yang menunaikan zakat,

Dan orang-orang yang membersihkan jiwa dan harta mereka dengan membayarkan zakat harta mereka yang berbeda-beda jenis bentuknya.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

wallażīna hum lifurụjihim ḥāfiẓụn

 5.  dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka dari perkara yang diharamkan oleh Allah, seperti perbuatan zina, homoseks, dan seluruh perbuatan keji lainnya.

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

illā ‘alā azwājihim au mā malakat aimānuhum fa innahum gairu malụmīn

 6.  kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak perempuan yang mereka miliki. Maka tidak ada celaan dan tidak ada dosa atas mereka untuk menggauli wanita-wanita itu dan bersenang-senang dengan mereka; sebab sesungguhnya Allah telah menghalalkan wanita-wanita itu.

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

fa manibtagā warā`a żālika fa ulā`ika humul-‘ādụn

 7.  Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Maka barangsiapa mencari kenikmatan dengan selain istri atau budak perempuannya, maka dia termasuk orang-orang yang melakukan tindakan melampaui batas yang halal menuju yang haram. Dan sesungguhnya dia telah menghadapkan dirinya pada ancaman siksaan Allah dan kemurkaanNya.

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

wallażīna hum li`amānātihim wa ‘ahdihim rā’ụn

 8.  Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Dan orang-orang yang menjaga semua apa yang dipercayakan kepada mereka, juga memenuhi setiap janji-janji mereka.

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

wallażīna hum ‘alā ṣalawātihim yuḥāfiẓụn

 9.  dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

Dan orang-orang yang senantiasa tekun menjalankan shalat mereka pada waktu-waktunya sesuai dengan tata caranya yang disyariatkan yang bersumber dari Nabi.

أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ

ulā`ika humul-wāriṡụn

 10.  Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,

Orang-orang Mukmin itu, merekalah orang-orang yang mewarisi surga.

الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

allażīna yariṡụnal-firdaụs, hum fīhā khālidụn

 11.  (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

yaitu orang-orang yang mewarisi tempat yang paling tinggi dan paling tengah di surga, dan ini adalah tempat yang paling utama di surga. Mereka kekal abadi di dalamnya,kenikmatan mereka tidak berhenti dan tidak sirna.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ

wa laqad khalaqnal-insāna min sulālatim min ṭīn

 12.  Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

Dan sungguh Kami telah menciptakan Adam dari tanah yang diambil dari seluruh tempat di muka bumi.

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

ṡumma ja’alnāhu nuṭfatan fī qarārim makīn

 13.  Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Dan kemudian Kami menciptakan anak keturunannya secara turun-temurun dari setetes air nuthfah, yaitu air mani lelaki yang keluar dari tulang sulbi mereka, lalu menetap dalam Rahim-rahim kaum wanita.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

ṡumma khalaqnan-nuṭfata ‘alaqatan fa khalaqnal-‘alaqata muḍgatan fa khalaqnal-muḍgata ‘iẓāman fa kasaunal-‘iẓāma laḥman ṡumma ansya`nāhu khalqan ākhar, fa tabārakallāhu aḥsanul-khāliqīn

 14.  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Kemudian Kami menciptakan nuthfah itu menjadi alaqah, yaitu gumpalan darah merah. Lalu selepas empat puluh hari, Kami ciptakan alaqah itu menjadi mudhghah, yaitu gumpalan daging sebesar satu suapan yang dikunyah. Kemudian Kami menciptakan gumpalan daging yang lunak itu menjadi tulang-tulang, lalu Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging, dan setelah itu Kami ciptakan dia menjadi makhluk (dalam bentuk) yang berbeda dengan meniupkan ruh padanya. Mahaberkah Allah yang memperindah ciptaan untuk segala sesuatu.

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ

ṡumma innakum ba’da żālika lamayyitụn

 15.  Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

Kemudian sesungguhnya kalian itu, wahai sekalian manusia, setelah berlalunya fase-fase kehidupan dan habisnya usia, benar-benar akan meninggal.

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

ṡumma innakum yaumal-qiyāmati tub’aṡụn

 16.  Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.

Kemudian sesungguhnya kalian, pasca kematian dan lenyapnya dunia, akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dari kubur-kubur kalian untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasan.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

wa laqad khalaqnā fauqakum sab’a ṭarā`iqa wa mā kunnā ‘anil-khalqi gāfilīn

 17.  Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).

Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh lapis langit, sebagian berada di atas sebagian lainnya. Dan Kami tidaklah lalai terhadap makhluk-makhuk. Kami tidak melalaikan suatu makhluk pun dan tidak pula melupakannya.

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

wa anzalnā minas-samā`i mā`am biqadarin fa askannāhu fil-arḍi wa innā ‘alā żahābim bihī laqādirụn

 18.  Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.

Dan Kami menurunkan dari langit air sesuai dengan kebutuhan makhluk-makhluk dan Kami jadikan bumi tempat menetap bagi air tersebut, dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk melenyapkan air itu. Di sini terkandung peringatan keras dan ancaman bagi orang-orang yang berbuat zhalim.

فَأَنْشَأْنَا لَكُمْ بِهِ جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ لَكُمْ فِيهَا فَوَاكِهُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

fa ansya`nā lakum bihī jannātim min nakhīliw wa a’nāb, lakum fīhā fawākihu kaṡīratuw wa min-hā ta`kulụn

 19.  Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan,

Kemudian kami mengadakan dengan air ini kebun-kebun kurma dan kebun-kebun anggur bagi kalian, di dalamnya kalian memperoleh buah-buahan yang banyak dengan berbagai jenis dan bentuk, dan sebagian darinya kalian makan.

وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلْآكِلِينَ

wa syajaratan takhruju min ṭụri sainā`a tambutu bid-duhni wa ṣibgil lil-ākilīn

 20.  dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan.

Dan Kami menumbuhkan dengannya pohon zaitun yang tumbuh di sekitar Thursina, untuk diperas sehingga menghasilkan minyak, lalu dijadikan minyak oles dan campuran makanan.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهَا وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

wa inna lakum fil-an’āmi la’ibrah, nusqīkum mimmā fī buṭụnihā wa lakum fīhā manāfi’u kaṡīratuw wa min-hā ta`kulụn

 21.  Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,

Dan sesungguhnya bagi kalian (wahai sekalian manusia) benar-benar ada pelajaran baik dalam unta, sapi dan kambing yang dapat kalian petik melalui penciptaanya. Kami memberikan minum kepada kalian dari cairan susu yang ada dalam perutnya. Dan kalian pun memperoleh manfaat-manfaat yang lain darinya berupa bulu domba,kulit dan lain-lain, dan sebagian darinya kalian makan.

وَعَلَيْهَا وَعَلَى الْفُلْكِ تُحْمَلُونَ

wa ‘alaihā wa ‘alal-fulki tuḥmalụn

 22.  dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut.

Dan di atas unta, dan kapal-kapal; di daratan dan laut, kalian diangkut.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

wa laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī fa qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, a fa lā tattaqụn

 23.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dengan mengemban dakwah tauhid. Dia berkata kepada mereka, “Beribadahlah kepada Allah semata; kalian sekali-kali tidak memiliki tuhan yang berhak disembah selainNya, maka murnikanlah peribadahan kepadaNya. Apakah kalian tidak takut siksaanNya?”

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

fa qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī mā hāżā illā basyarum miṡlukum yurīdu ay yatafaḍḍala ‘alaikum, walau syā`allāhu la`anzala malā`ikatam mā sami’nā bihāżā fī ābā`inal-awwalīn

 24.  Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّىٰ حِينٍ

in huwa illā rajulum bihī jinnatun fa tarabbaṣụ bihī ḥattā ḥīn

 25.  la tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu”.

24-25. Kemudian para tokoh kaumnya mendustakannya, dan berkata kepada masyarakat umum mereka, “Sesungguhnya dia hanya seorang manusia biasa seperti kalian, tidak memiliki kelebihan apa pun atas kalian. Dan dia tidak menginginkan dengan ajakannya, kecuali kekuasaan dan keunggulan di atas kalian. Dan sekiranya Allah menghendaki untuk mengutus kepada kita seorang rasul, pastilah akan mengutus utusan dari kalangan malaikat. Kami tidak pernah mendengar ini pada orang-orang yang mendahului kami, dari bapak-bapak dan kakek-kakek kami. Dan tidaklah Nuh kecuali seorang lelaki yang telah terkena penyakit gila, maka tunggulah sampai dia sadar kembali, lalu dia akan meninggalkan dakwahnya itu, atau dia mati sehingga kalian akan bebas dari (pengaruh) nya.”

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

qāla rabbinṣurnī bimā każżabụn

 26.  Nuh berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku”.

Nuh berkata, “wahai Tuhanku,tolonglah aku menghadapi kaumku, disebabkan pendustaan mereka terhadapku dalam perkara yang aku sampaikan kepada mereka dari risalahMu.”

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ ۙ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۖ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

fa auḥainā ilaihi aniṣna’il-fulka bi`a’yuninā wa waḥyinā fa iżā jā`a amrunā wa fārat-tannụru fasluk fīhā ming kullin zaujainiṡnaini wa ahlaka illā man sabaqa ‘alaihil-qaulu min-hum, wa lā tukhāṭibnī fillażīna ẓalamụ, innahum mugraqụn

 27.  Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Maka Kami mewahyukan kepadanya, “Buatlah sebuah kapal dengan pengawasan pandangan Mata Kami dan perintah Kami serta pertolongan dari Kami, dan kamu dalam pelindungan dan jaminan Kami. Ketika telah datang keputusan Kami untuk menyiksa kaummu dengan hanyut di dalam air, dan banjir bandang mulai menerjang, serta air memancar dari dapur api (yaitu tempat yang dipakai memanggang roti) sebagai tanda datangnya siksaan, maka masukkanlah ke dalam kapal semua yang hidup,lelaki, dan perempuan, agar kelangsungan keturunan akan tetap terjaga. Dan masukanlah keluargamu, kecuali yang berhak mengalami siksaan karena kekufurannya, seperti istrimu dan anak lelakimu. Dan janganlah kamu meminta kepadaKu agar kaummu yang zhalim itu diselamatkan, sebab sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan, dan itu pasti.” Di dalam ayat ini terkandung penetapan sifat “Mata” bagi Allah sesuai dengan yang layak bagiNya, tanpa menyerupakanNya dengan makhluk dan tanpa menentukan bentuknya.

فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa iżastawaita anta wa mam ma’aka ‘alal-fulki fa qulil-ḥamdu lillāhillażī najjānā minal-qaumiẓ-ẓālimīn

 28.  Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim”.

Dan ketika kamu telah berada di atas kapal dengan tenang, kamu dan orang-orang yang bersamamu dalam keadaan aman dari ancaman tenggelam, maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang kafir.”

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

wa qur rabbi anzilnī munzalam mubārakaw wa anta khairul-munzilīn

 29.  Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat”.

Dan katakanlah, “Wahai Tuhanku, mudahkanlah bagi kami untuk mendarat di tempat yang di berkahi lagi aman, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang mendaratkan.” Di sini terkandung pengajaran dari Allah kepada hamba-hambaNya ketika musibah turun maka hendaklah mengucapkan do’a ini.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ وَإِنْ كُنَّا لَمُبْتَلِينَ

inna fī żālika la`āyātiw wa ing kunnā lamubtalīn

 30.  Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan sesungguhnya Kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu).

Sesungguhnya dalam peristiwa diselamatkannya kaum Mukminin dan dibinasakannya orang-orang kafir benar-benar terdapat petunjuk-petunjuk nyata tentang kebenaran rasul-rasul Allah dalam risalah yang mereka bawa dari Allah. Dan sungguh Kami menguji umat-umat manusia dengan mengutus rasul-rasul kepada mereka, sebelum datangnya siksaan pada mereka.

ثُمَّ أَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

ṡumma ansya`nā mim ba’dihim qarnan ākharīn

 31.  Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain.

Kemudian Kami menciptakan setelah kaum Nuh generasi lain, yaitu kaum Ad.

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

fa arsalnā fīhim rasụlam min-hum ani’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, a fa lā tattaqụn

 32.  Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).

Kami mengutus ditengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu Hud. Dia berkata kepada mereka, “Beribadahlah hanya kepada Allah. Sekali-kali kalian tidak mempunyai sesembahan yang haq selainNya. Apakah kalian tidak takut akan siksaNya, bila kalian menyembah selainNYa?”

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

wa qālal-mala`u ming qaumihillażīna kafarụ wa każżabụ biliqā`il-ākhirati wa atrafnāhum fil-ḥayātid-dun-yā mā hāżā illā basyarum miṡlukum ya`kulu mimmā ta`kulụna min-hu wa yasyrabu mimmā tasyrabụn

 33.  Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.

Maka para pembesar dan pemuka-pemuka dari kaumnya yang kafir kepada Allah dan mengingkari kehidupan akhirat, yaitu orang-orang yang kemewahan hidup dunia telah menyebabkan mereka bertindak melampaui batas berkata, “Tidaklah orang yang menyeru kalian kepada pengesaan Allah dalam ibadah ini, melainkan manusia biasa seperti kalian, dia makan dari jenis makanan kalian dan minum dari jenis minuman yang sama dengan minuman kalian.

وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ

wa la`in aṭa’tum basyaram miṡlakum innakum iżal lakhāsirụn

 34.  Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.

Dan apabila kalian mengikuti seseorang yang seperti kalian, sesungguhnya kalian kalau begitu menjadi orang-orang yang benar-benar merugi, dengan meninggalkan tuhan-tuhan sesembahan kalian dan mengikutinya.

أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُمْ مُخْرَجُونَ

a ya’idukum annakum iżā mittum wa kuntum turābaw wa ‘iẓāman annakum mukhrajụn

 35.  Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?

Bagaimana kalian mau membenarkan peringatan yang dia sampaikan kepada kaliani bahwa bila kalian mati, kemudian kalian menjadi tanah dan tulang belulang, kalian akan dibangkitkan kembali dari kubur-kubur kalian dalam keadaan hidup?

۞ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ

haihāta haihāta limā tụ’adụn

 36.  jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu,

Alangkah mustahil apa yang diancamkan kepada kalian itu, wahai kaumku, bahwa kalian setelah mati akan dibangkitkan dari kubur-kubur kalian.

إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

in hiya illā ḥayātunad-dun-yā namụtu wa naḥyā wa mā naḥnu bimab’ụṡīn

 37.  kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi,

Tidaklah kehidupan kita ini, kecuali di dunia itu saja. Bapak-bapak kita meninggal,lalu lahirlah anak-anak. Dan kita tidak akan dibangkitkan (dari kubur) dalam keaadan hidup lagi.

إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا وَمَا نَحْنُ لَهُ بِمُؤْمِنِينَ

in huwa illā rajuluniftarā ‘alallāhi każibaw wa mā naḥnu lahụ bimu`minīn

 38.  Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya”.

Dan tidaklah penyeru kalian kepada keimanan ini, kecuali seorang lelaki yang telah membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Dan kita tidak perlu membenarkan apa yang dia katakan kepada kita.”

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

qāla rabbinṣurnī bimā każżabụn

 39.  Rasul itu berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku”.

Kemudian Rasul mereka memohon kepada Tuhannya sembari berkata, “Wahai Tuhanku, tolonglah aku menghadapi mereka, dikarenakan mereka mendustakan aku.”

قَالَ عَمَّا قَلِيلٍ لَيُصْبِحُنَّ نَادِمِينَ

qāla ‘ammā qalīlil layuṣbiḥunna nādimīn

 40.  Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal”.

Dan Allah berfirman untuk mengabulkan permohonannya, “Sebentar lagi, mereka benar-benar akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Artinya, tidak berapa lama lagi, orang-orang yang mendustakan akan penuh penyesalan.

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ بِالْحَقِّ فَجَعَلْنَاهُمْ غُثَاءً ۚ فَبُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu bil-ḥaqqi fa ja’alnāhum guṡā`ā, fa bu’dal lil-qaumiẓ-ẓālimīn

 41.  Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.

Tidak menunggu lama, datang lah kepada mereka suara menggelegar dahsyat yang disertai angin, yang dengannya Allah membinasakan mereka. Mereka pun mati semuanya, dan menjelma layaknya buih-buih air yang mengambang di permukaan air. Maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang berbuat zhalim itu, dan mereka jauh dari rahmat Allah. Karenanya, hendaknya orang-orang yang mendengar (berita itu) waspada dari mendustakan Rasul mereka, akibatnya akan menimpa mereka siksaan yang menimpa orang-orang yang mendahului mereka.

ثُمَّ أَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قُرُونًا آخَرِينَ

ṡumma ansya`nā mim ba’dihim qurụnan ākharīn

 42.  Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.

Kemudian Kami adakan setelah orang-orang yang mendustakan itu umat-umat dan manusia-manusia lain, seperti kaum Luth, kaum Syu’aib, kaum Ayyub, dan kaum Yunus.

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

mā tasbiqu min ummatin ajalahā wa mā yasta`khirụn

 43.  Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).

tidaklah akan mendahului Suatu umat dari umat-umat yang mendustakan itu waktu yang telah ditentukan bagi kehancurannya, dan tidak akan mundur darinya.

ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَىٰ ۖ كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَسُولُهَا كَذَّبُوهُ ۚ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ ۚ فَبُعْدًا لِقَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

ṡumma arsalnā rusulanā tatrā, kullamā jā`a ummatar rasụluhā każżabụhu fa atba’nā ba’ḍahum ba’ḍaw wa ja’alnāhum aḥādīṡ, fa bu’dal liqaumil lā yu`minụn

 44.  Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.

Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami kepada umat-umat tersebut, sebagian menggantikan sebagian yang lain secara berturut-turut. Setiapkali seorang rasul datang menyeru kepada umatnya, lalu mereka mendustakannnya, Kami timpakan kebinasaan dan kehancuran pada mereka itu secara bergantian, dan tidak ada yang tersisa selain berita-berita tentang kebinasaan mereka saja. Dan Kami menjadikan mereka sebagai bahan buah bibir bagi orang-orang setelah mereka untuk mereka jadikan sebagai pelajaran. Maka kebinasaan dan kutukan bagi orang-orang yang tidak beriman kepada rasul-rasul dan tidak menaati mereka.

ثُمَّ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ وَأَخَاهُ هَارُونَ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

ṡumma arsalnā mụsā wa akhāhu hārụna bi`āyātinā wa sulṭānim mubīn

 45.  Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (Kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata,

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا عَالِينَ

ilā fir’auna wa malā`ihī fastakbarụ wa kānụ qauman ‘ālīn

 46.  kepada Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takbur dan mereka adalah orang-orang yang sombong.

45-46. Kemudian Kami utus Musa dan saudara lelakinya, Harun dengan membawa ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) Kami yang berjumlah Sembilan: tongkat, tangan (yang bercahaya), belalang, kutu, katak, darah, banjir bandang, musim kemarau yang amat panjang dan kekurangan buah-buahan, sebagai hujjah nyata yang melunakkan hati, sehingga hati kaum Mukminin tunduk patuh kepadanya,dan hujjah menjadi jelas tegak di hadapan orang-orang penentang. Kami mengutus mereka berdua kepada Fir’aun, sang penguasa Mesir dan para pemuka kaumnya. Lalu mereka menyombongkan diri untuk beriman kepada Musa dan saudaranya. Dan mereka adalah kaum yang congkak terhadap manusia, lagi menindas mereka dengan tindak kezhaliman.

فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ

fa qālū a nu`minu libasyaraini miṡlinā wa qaumuhumā lanā ‘ābidụn

 47.  Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”

Mereka berkata, “Apakah kita pantas mempercayai dua orang yang sama (manusia) seperti kita, sedang kaumnya, yaitu Bani Israil, berada di bawah kekuasaan kita, taat lagi tunduk kepada kita?”

فَكَذَّبُوهُمَا فَكَانُوا مِنَ الْمُهْلَكِينَ

fa każżabụhumā fa kānụ minal-muhlakīn

 48.  Maka (tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan.

Mereka mendustakan keduanya terkait risalah yang mereka bawa, maka mereka pun menjadi orang-orang yang dibinasakan dengan tenggelam di laut.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba la’allahum yahtadụn

 49.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk.

Dan sesungguhnya kami telah memberikan kitab Taurat kepada musa, supaya kaumnya mendapatkan petunjuk dengannya menuju kepada jalan kebenaran.

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ

wa ja’alnabna maryama wa ummahū āyataw wa āwaināhumā ilā rabwatin żāti qarāriw wa ma’īn

 50.  Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.

Dan Kami menjadikan Isa putra Maryam dn ibunya, sebagai pertanda yang menunjukkan Kuasa Kami, yaitu ketika Kami menciptakannya tanpa keberadaan seorang ayah, Dan Kami menjadikan bagi mereka tempat tinggal di tanah yang tinggi lagi rata untuk ditinggali, yang disitu terdapat kesuburan dan air mengalir yang tampak jelas bagi pandangan mata.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

yā ayyuhar-rusulu kulụ minaṭ-ṭayyibāti wa’malụ ṣāliḥā, innī bimā ta’malụna ‘alīm

 51.  Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Wahai sekalian Rasul, makanlah dari rizki halal lagi baik-baik dan kerjakanlah amal-amal shalih, sesungguhnya Aku maha Mengetahui apa yang kalian perbuat, tidak ada sesuatu pun dari perbuatan-perbuatan kalian yang tersembunyi bagiKu. Arah pembicaraan ayat ini bersifat umum bagi seluruh rasul dan para pengikut mereka. Pada ayat ini terkandung dalil bahwa memakan makanan halal menjadi faktor pendukung beramal shalih, dan sesungguhnya dampak dari makanan haram sangat buruk, di anataranya adalah tertolaknya doa.

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

wa inna hāżihī ummatukum ummataw wāḥidataw wa ana rabbukum fattaqụn

 52.  Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

Dan sesungguhnya agama kalian (wahai sekalian nabi) adalah agama yang satu, yaitu Islam, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepadaKu, dengan menjalankan perintah-perintahKu dan menjauhi larangan-laranganKu.

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

fa taqaṭṭa’ū amrahum bainahum zuburā, kullu ḥizbim bimā ladaihim fariḥụn

 53.  Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).

Kemudian para pemeluk agama bercerai-berai menjadi beberapa golongan dan beberapa sekte. Mereka menjadikan agama mereka (yang satu) dalam bentuk ideology-ideologi yang banyak, setelah sebelumnya diperintahkan untuk bersatu padu. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan pendapatnya, mereka menyangka bahwa kelompoknya berada di atas kebenaran, sedang kelompok lainnya berada di atas kebatilan. Di sini, terkandung peringatan dari bergolong-golongan dan berpecah belah dalam agama.

فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّىٰ حِينٍ

fa żar-hum fī gamratihim ḥattā ḥīn

 54.  Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.

Maka biarkanlah saja (wahai Rasul) mereka itu dalam kesesatan mereka dan kebutaan mereka terhadap kebenaran, hingga azab turun pada mereka.

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ

a yaḥsabụna annamā numidduhum bihī mim māliw wa banīn

 55.  Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),

نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

nusāri’u lahum fil-khairāt, bal lā yasy’urụn

 56.  Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.

55-56. Apakah orang-orang kafir itu menyangka bahwa sesungguhnya Kami melimpahkan pada mereka harta benda dan anak-anak di dunia ini, merupakan penyegeraan kebaikan bagi mereka yang pantas mereka terima? Sesungguhnya Kami menyegerakan kebaikan bagi mereka sebagai sumber fitnah bagi mereka dan penangguhan waktu semata. Namun, mereka tidak menyadarinya.

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

innallażīna hum min khasy-yati rabbihim musyfiqụn

 57.  Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,

Sesungguhnya orang-orang yang lantaran rasa takut mereka kepada Tuhan mereka, mereka menjadi ngeri lagi khawatir terhadap peringatan yang Allah sampaikan kepada mereka,

وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

wallażīna hum bi`āyāti rabbihim yu`minụn

 58.  Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,

dan orang-orang yang mengimani ayat-ayat Allah yang ada di dalam al-Qur’an dan mengamalkannya.

وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

wallażīna hum birabbihim lā yusyrikụn

 59.  Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),

dan orang-orang yang mengikhlaskan ibadah bagi Allah semata, tidak mempersekutukan apa pun denganNya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

wallażīna yu`tụna mā ātaw wa qulụbuhum wajilatun annahum ilā rabbihim rāji’ụn

 60.  Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berbuat amal-amal shalih dan kebajikan, sedang hati mereka takut lantaran khawatir tidak diterima amal perbuatan mereka dan tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksaan Tuhan mereka, bila mereka kembali kepadaNya untuk menghadapi perhitungan amal;

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

ulā`ika yusāri’ụna fil-khairāti wa hum lahā sābiqụn

 61.  mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

mereka yang sungguh-sungguh dalam ketaatan (kepada Allah) itu, kebiasaan mereka bersegera melakukan setiap amal kebaikan, dan mereka berlomba dalam kebaikan-kebaikan.

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa lā nukallifu nafsan illā wus’ahā waladainā kitābuy yanṭiqu bil-ḥaqqi wa hum lā yuẓlamụn

 62.  Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.

Dan Kami tidaklah membebani seseorang dari hamba-hamba Kecuali amal perbuatan yang mampu dia perbuat. Dan perbuatan-perbuatan mereka tertulis di sisi Kami di dalam buku catatan perhitungan amal-amal yang akan dibawa ke atas oleh malaikat. Buku itu akan berbicara dengan benar tentang mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang dizhalimi.

بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِنْ هَٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ

bal qulụbuhum fī gamratim min hāżā wa lahum a’mālum min dụni żālika hum lahā ‘āmilụn

 63.  Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain daripada itu, mereka tetap mengerjakannya.

Akan tetapi, hati orang-orang kafir berada di dalam kekafiran amat pekat terhadap al-Qur’an ini dan kandungan yang ada di dalamnya. Dan selain kesyirikan, mereka memiliki perbuatan-perbuatan buruk. Allah menangguhkan waktu bagi mereka agar mereka melakukan keburukan-keburukan itu, sehingga mereka mendapatkan murka dan hukuman Allah.

حَتَّىٰ إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ

ḥattā iżā akhażnā mutrafīhim bil-‘ażābi iżā hum yaj`arụn

 64.  Hingga apabila Kami timpakan azab, kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong.

sehingga ketika Kami timpakan siksaan pada orang-orang yang bergelimang kemewahan dan orang-orang arogan dari mereka, tiba-tiba mereka berteriak keras-keras dengan penuh iba lagi memohon pertolongan.

لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّكُمْ مِنَّا لَا تُنْصَرُونَ

lā taj`arul-yauma innakum minnā lā tunṣarụn

 65.  Janganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami.

Maka, dikatakanlah kepada mereka, “Janganlah kalian berteriak-teriak dan jangan pula kalian meminta pertolongan pada hari ini. Sesungguhnya kalian tidak dapat menolong diri kalian dan tidak ada seorang pun yang dapat menolong kalian dari siksaan Allah.”

قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ

qad kānat āyātī tutlā ‘alaikum fakuntum ‘alā a’qābikum tangkiṣụn

 66.  Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al Quran) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang,

sungguh dahulu ayat-ayat al-Qur’an telah dibacakan kepada kalian agar kalian mau mengimaninya, lalu kalian justru lari dari mendengar dan mengimaninya serta mengamalkannya, seperti orang membalik badan dengan berbalik ke belakang.

مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ

mustakbirīna bihī sāmiran tahjurụn

 67.  dengan menyombongkan diri terhadap Al Quran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.

Kalian itu bersikap demikian lantaran menyombongkan diri di hadapan manusia tanpa alasan yang dibenarkan, dikarenakan Baitul Haram. Kalian mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang mendiaminya, kami tidak akan kalah di dalamnya,” dan kalian mengungkapkan kata-kata buruk pada malam hari di sekitarnya.

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

a fa lam yaddabbarul-qaula am jā`ahum mā lam ya`ti ābā`ahumul-awwalīn

 68.  Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?

Apakah mereka itu tidak mau memikirkan al-Qur’an, sehingga mereka dapat mengetahui kebenarannya, ataukah yang menghalangi mereka beriman, adalah lantaran sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dan kitab yang tidak pernah mendatangi bapak-bapak mereka dahulu hal yang serupa, lalu mereka pun mengingkari dan berpaling darinya Karena itu?

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

am lam ya’rifụ rasụlahum fa hum lahụ mungkirụn

 69.  Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?

Ataukah yang menghalangi mereka mengikuti kebenaran adalah status Rasul mereka, Muhammad, tidak popular di tengah mereka, sehingga mereka kemudian mengingkarinya?

أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ ۚ بَلْ جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

am yaqụlụna bihī jinnah, bal jā`ahum bil-ḥaqqi wa akṡaruhum lil-ḥaqqi kārihụn

 70.  Atau (apakah patut) mereka berkata: “Padanya (Muhammad) ada penyakit gila”. Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.

Dan apakah mereka menyangkanya seorang yang gila? Sungguh, mereka telah berdusta. Sebab dia datang, kepada mereka dengan membawa al-Qiur’an, perintah bertauhid dan agama yang lurus. Dan kebanyakan dari mereka membenci kebenaran, lantaran kedengkian dan dorongan bertindak melampaui batas.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

wa lawittaba’al-ḥaqqu ahwā`ahum lafasadatis-samāwātu wal-arḍu wa man fīhinn, bal ataināhum biżikrihim fa hum ‘an żikrihim mu’riḍụn

 71.  Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.

Dan sekiranya Allah menetapkan ajaran syariat bagi mereka apa-apa yang sejalan dengan hawa nafsu keinginan mereka, pastilah akan rusak berantakan langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah datangkan kepada mereka sesuatu yang akan mengangkat gengsi dan kemuliaan mereka, yaitu al-Qur’an, tetapi mereka berpaling darinya.

أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

am tas`aluhum kharjan fa kharāju rabbika khairuw wa huwa khairur-rāziqīn

 72.  Atau kamu meminta upah kepada mereka?”, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezeki Yang Paling Baik.

Atau apakah yang menghalangi mereka beriman, lantaran kamu (wahai Rasul) meminta upah atas seruan dakwahmu kepada mereka, sehingga mereka pun kikir? Kamu tidak pernah meminta apa pun. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah berupa pahala dan limpahan karunia (Nya) itu lebih baik. Dan Dia sebaik-baik Pemberi rizki, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan rizki seperti rizki Allah.

وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa innaka latad’ụhum ilā ṣirāṭim mustaqīm

 73.  Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.

Dan sesungguhnya kamu (wahai Rasul) benar-benar menyeru kaummu dan orang-orang lain kepada agama yang lurus, yaitu agama Islam.

وَإِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُونَ

wa innallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati ‘aniṣ-ṣirāṭi lanākibụn

 74.  Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus).

Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak mengimani Hari Kebangkitan dan perhitungan amal perbuatan, dan tidak mengerjakan amal shalih untuk menyongsong keduanya, mereka benar-benar menyimpang dari jalan lurus ke jalan yang lain.

۞ وَلَوْ رَحِمْنَاهُمْ وَكَشَفْنَا مَا بِهِمْ مِنْ ضُرٍّ لَلَجُّوا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

walau raḥimnāhum wa kasyafnā mā bihim min ḍurril lalajjụ fī ṭugyānihim ya’mahụn

 75.  Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka.

Seandainya Kami kasihi mereka dan Kami singkirkan dari mereka situasi yang ada pada mereka, yaitu paceklik dan kelaparan, pastilah mereka akan berkubang dalam kekafiran dan penentangan, dan berjalan tanpa arah.

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

wa laqad akhażnāhum bil-‘ażābi fa mastakānụ lirabbihim wa mā yataḍarra’ụn

 76.  Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.

Dan sesungguhnya Kami telah menguji mereka dengan berbagai macam musibah, namun mereka tidaklah tunduk kepada Tuhan mereka, dan tidak memohon kepadaNya dengan penuh khusyu’ ketika musibah itu datang.

حَتَّىٰ إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

ḥattā iżā fataḥnā ‘alaihim bāban żā ‘ażābin syadīdin iżā hum fīhi mublisụn

 77.  Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.

Hingga apabila Kami telah membuka untuk mereka satu pintu siksaan dahsyat di akhirat, maka tiba-tiba mereka langsung merasa putus harapan dari setiap kebaikan, mereka bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

wa huwallażī ansya`a lakumus-sam’a wal-abṣāra wal-af`idah, qalīlam mā tasykurụn

 78.  Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

Dan Dia-lah Dzat yang menciptakan bagi kalian pendengaran untuk menangkap apa-apa yang didengar, dan penglihatan untuk menangkap apa-apa yang dilihat, dan hati untuk memahami. Meskipun demikian, rasa syukur kalian terhadap nikmat-nikmat yang tidak putus pada kalian ini kecil tidak ada artinya.

وَهُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

wa huwallażī żara`akum fil-arḍi wa ilaihi tuḥsyarụn

 79.  Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.

Dan Dia-lah yang menciptakan seluruh manusia di bumi dan kepadaNyalah kalian akan dikumpulkan setelah kematian kalian, lalu Dia memberikan balasan kepada kalian atas apa yang kalian perbuat, perbuatan baik maupun perbuatan buruk.

وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa huwallażī yuḥyī wa yumītu wa lahukhtilāful-laili wan-nahār, a fa lā ta’qilụn

 80.  Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

Dan Dia-lah satu-satuNya Dzat yang menghidupkan dari tidak ada dan mematikan setelah hidup, dan bagiNya (kekuasaan) mempergantikan malam dan siang dan membedakan waktu-waktu keduanya. Apakah kalian tidak memahami Kuasa dan keesaanNya?

بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ

bal qālụ miṡla mā qālal-awwalụn

 81.  Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala.

Akan tetapi, orang-orang kafir tidak beriman kepada Hari Kebangkitan. Bahkan sebaliknya, mereka mengulang-ulang ucapan para pendahulu mereka yang ingkar.

قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

qālū a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamab’ụṡụn

 82.  Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?

Mereka mengatakan, “apakah Apabila kami telah mati, dan jasad-jasad dan tulang-tulang kami telah terurai dalam bumi, apakah kami akan hidup kembali? Ini tidak mungkin terjadi dan tidak bisa terbayangkan.

لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَٰذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

laqad wu’idnā naḥnu wa ābā`unā hāżā ming qablu in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

 83.  Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!”.

Dan sungguh ucapan ini juga dikatakan kepada bapak-bapak kami sebelumnya, persis seperti yang kamu ungkapkan kepada kami, wahai Muhammad. Kami tidak memandangnya sebagai satu realita nyata. Itu tiada lain, kecuali cerita-cerita batil orang-orang dahulu.”

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

qul limanil-arḍu wa man fīhā ing kuntum ta’lamụn

 84.  Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

Katakanlah kepada mereka, “Milik siapakah bumi ini dan semua yang ada didalamnya, bila kalian memang memiliki pengetahuan ?”

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

sayaqụlụna lillāh, qul a fa lā tażakkarụn

 85.  Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

Mereka pasti akan mengakui bahwa itu milik Allah. Dia-lah Penciptanya dan Pemiliknya. Katakanlah kepada mereka, “Tidakkah memikirkan melalui fakta tersebut bahwa Dia Mahakuasa untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali?”

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

qul mar rabbus-samāwātis-sab’i wa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm

 86.  Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”

Katakanlah, “Siapakah Pemilik langit yang tujuh, dan Pemilik Arasy yang besar yang merupakan makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi?”

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

sayaqụlụna lillāh, qul a fa lā tattaqụn

 87.  Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

Mereka pasti akan mengatakan,”milik Allah”, maka katakanlah kepada mereka “Apakah kalian tidak khawatir terhadap siksaanNya bila kalian justru menyembah selain Allah?”

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

qul mam biyadihī malakụtu kulli syai`iw wa huwa yujīru wa lā yujāru ‘alaihi ing kuntum ta’lamụn

 88.  Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

Katakanlah, “Siapakah Pemilik segala sesuatu dan yang di TanganNya perbendaharaan segala sesuatu? Dan siapakah yang dapat melindungi orang yang memohon perlindungan? Tidak ada seorang pun yang kuasa melindungi dan menjaga seseorang yang Allah berkehendak untuk membinasakannya, dan tidak dapat menolak keburukan yang Allah telah takdirkan, bila kalian mengetahui hal tersebut?”

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

sayaqụlụna lillāh, qul fa annā tus-ḥarụn

 89.  Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Mereka akan menjawab, “Bahwa sesungguhnya semua itu kepunyaan Allah.” katakanlah kepada mereka, “Bagaimana bisa akal-akal kalian lenyap, dan kalian diperdayai dan dipalingkan dari mentauhidkan Allah dan ketaatan kepadaNya, dan dari membenarkan perkara kebangkitan dan kebangkitan kembali setelah kematian?”

بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِالْحَقِّ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

bal ataināhum bil-ḥaqqi wa innahum lakāżibụn

 90.  Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Bahkan Kami telah membawakan kepada mereka kebenaran dalam risalah yang Kami utus Muhammad untuk mengembannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar berdusta dalam perbuatan syirik mereka dan pengingkaran mereka terhadap kebangkitan kembali pasca kematian.

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

mattakhażallāhu miw waladiw wa mā kāna ma’ahụ min ilāhin iżal lażahaba kullu ilāhim bimā khalaqa wa la’alā ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍ, sub-ḥānallāhi ‘ammā yaṣifụn

 91.  Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,

Allah tidak mengadakan bagi DzatNya seorang anak pun, dan sekali-kali tidak ada sesembahan lain bersamaNya. Sebab, bila di alam semesta ada tuhan sesembahan lebih dari satu, maka pastilah tiap-tiap tuhan akan memperhatikan makhluk-makhluk ciptaanya sendiri-sendiri, dan tentulah akan terjadi saling mengalahkan antara tuhan-tuhan itu, layaknya raja-raja di muka bumi, sehingga kacaulah pengaturan alam semesta. Allah Mahabersih dan Mahasuci dari sifat yang mereka sandangkan kepadaNya bahwa Dia memiliki sekutu atau anak.

عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

 92.  Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Dia-lah Allah semata, Yang mengetahui semua yang ghaib bagi makhlukNya dan apa yang dapat mereka saksikan. Maka Allah Maha bersih dari sekutu yang mereka klaim.

قُلْ رَبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ

qur rabbi immā turiyannī mā yụ’adụn

 93.  Katakanlah: “Ya Tuhanku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka,

رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

rabbi fa lā taj’alnī fil-qaumiẓ-ẓālimīn

 94.  ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim”.

93-94. Katakanlah (wahai Rasul), “Wahai Tuhanku, jika Engkau hendak memperlihatkan kepadaku tentang orang-orang musyrik itu, apa yang diperingatkan kepada mereka berupa siksaanMu, maka janganlah Engkau membinasakan aku dengan siksaan yang Engkau timpakan untu membinasakan mereka, dan selamatkanlah aku dari siksaan dan kemurkaanMu. Maka janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang-orang musyrik lagi berbuat kezhaliman. Akan tetapi, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau ridhai.”

وَإِنَّا عَلَىٰ أَنْ نُرِيَكَ مَا نَعِدُهُمْ لَقَادِرُونَ

wa innā ‘alā an nuriyaka mā na’iduhum laqādirụn

 95.  Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka berupa siksaan.

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

idfa’ billatī hiya aḥsanus-sayyi`ah, naḥnu a’lamu bimā yaṣifụn

 96.  Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.

Apabila musuh-musuhmu berbuat keburukan kepadamu (wahai Rasul) dengan kata-kata maupun tindakan, maka janganlah kamu balas mereka dengan keburukan. Akan tetapi, balaslah sikap buruk mereka dengan tindakan kebaikan darimu kepada mereka. Kami lebih tahu apa yang diungkapkan oleh kaum Musyrikin berupa kesyirikan dan pendustaan, dan Kami akan membalas mereka dengan balasan paling buruk atas perbuatan itu.

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

wa qur rabbi a’ụżu bika min hamazātisy-syayāṭīn

 97.  Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.

وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

wa a’ụżu bika rabbi ay yaḥḍurụn

 98.  Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku”.

97-98. Dan katakanlah (wahai Nabi), “Wahai Tuhanku, aku memohon perlindungan kepadaMu dari ajakan penyimpangan setan dan bisikan-bisikannya yang membujuk kepada kebatilan, kerusakan dan menghambat manusia dari jalan kebenaran. Dan aku memohon perlindungan kepadaMu, wahai TUhanku, dari kedatangan mereka pada hal apa pun dari urusan-urusanku.”

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ

ḥattā iżā jā`a aḥadahumul-mautu qāla rabbirji’ụn

 99.  (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

Allah mengabarkan tentang keadaan orang yang sakaratul maut, baik dari orang-orang kafir atau orang-orang yang melalaikan perintah Allah, hingga apabila dia mendekati kematiannya, dan menyaksikan siksaan yang diancamkan kepadanya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia,

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

la’allī a’malu ṣāliḥan fīmā taraktu kallā, innahā kalimatun huwa qā`iluhā, wa miw warā`ihim barzakhun ilā yaumi yub’aṡụn

 100.  agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.

agar aku dapat mengejar apa yang telah aku sia-siakan, yaitu beriman dan taat.” (padahal) dia tidak punya hak untuk itu, sehingga apa yang dia minta tidak akan dikabulkan dan tidak akan diberi tangguh baginya. Akan tetapi, itu hanya perkataan yang memang dia yang mengatakannya, tetapi tidak ada gunanya baginya, dan bersama itu dia juga tidak jujur dengan perkataan itu; karena kalau seandainya dia dikembalikan ke dunia, niscaya dia akan kembali melanggar apa-apa yang dilarang untuk dia kerjakan. Dan orang-orang yang telah meninggal dunia, akan tetap berada di perbatasan dan alam barzakh itu, yaitu antara dunia dan akhirat, hingga tibanya hari kebangkitan kembali dan di kumpulkan (untuk menghadap Tuhan).

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

fa iżā nufikha fiṣ-ṣụri fa lā ansāba bainahum yauma`iżiw wa lā yatasā`alụn

 101.  Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.

Saat Hari Kiamat tiba, malaikat yang ditugasi meniup sangkakala telah meniupnya, dan manusia dibangkitkan, maka tidak ada kebanggaan dengan pertalian nasab pada hari itu sebagaimana mereka berbangga-bangga diri dengannya di dunia, dan tidak seorang pun yang bertanya kepada orang lain.

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

fa man ṡaqulat mawāzīnuhụ fa ulā`ika humul-mufliḥụn

 102.  Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.

Maka siapa saja yang kebajikannya banyak dan timbangan amal perbuatannya menjadi berat dengannya dalam perhitungan amal, mereka itulah orang-orang yang beruntung memperoleh surga.

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

wa man khaffat mawāzīnuhụ fa ulā`ikallażīna khasirū anfusahum fī jahannama khālidụn

 103.  Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.

Dan barangsiapa yang amal kebajikannya sedikit pada timbangan dan keburukan-keburukannya lebih berat, dan keburukannya yang paling parah ialah kesyirikan, mereka itulah orang-orang yang gagal lagi merugi di Neraka Jahanam dalam keadaan kekal abadi.

تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

talfaḥu wujụhahumun-nāru wa hum fīhā kāliḥụn

 104.  Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.

Api neraka membakar wajah mereka, sedang mereka di dalamnya bermuka masam, bibir-bibir mereka mengelupas dan tampaklah gigi-gigi mereka.

أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

a lam takun āyātī tutlā ‘alaikum fa kuntum bihā tukażżibụn

 105.  Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?

Dikatakanlah kepada mereka, “Bukankah ayat-ayat al-Qur’an sudah dibacakan kepada kalian di dunia, lalu mengapa kalian mendustakannya?”

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ

qālụ rabbanā galabat ‘alainā syiqwatunā wa kunnā qauman ḍāllīn

 106.  Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.

Ketika rasul-rasul menyampaikan risalah kepada mereka dan memperingatkan mereka, pada Hari KIamat mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, sungguh telah melumpuhkan kami kesenangan-kesenangan kami dan hawa nafsu kami yang telah ditakdirkan pada diri kami dalam IlmuMu yang pasti sebelumnya. Dan kami dalam tindakan kami ini telah sesat dari petunjuk yang lurus.

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ

rabbanā akhrijnā min-hā fa in ‘udnā fa innā ẓālimụn

 107.  Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.

Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami neraka, dan kembalikanlah kami ke dunia. Bila kami kembali berbuat kezhaliman lagi, maka kami adalah orang-orang yang berbuat aniaya yang pantas menerima silksaan.

قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

qālakhsa`ụ fīhā wa lā tukallimụn

 108.  Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.

Allah berfirman kepada mereka, “Tinggallah kalian di dalam neraka dalam keadaan hina dina. Dan janganlah kalian berbicara kepadaKu.” Maka terputuslah saat itu permohonan dan harapan mereka.

إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

innahụ kāna farīqum min ‘ibādī yaqụlụna rabbanā āmannā fagfir lanā war-ḥamnā wa anta khairur-rāḥimīn

 109.  Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.

Sesungguhnya dahulu ada segolongan dari hamba-hambaKu, (yaitu kaum Mukminin) yang berdoa memohon, “Wahai Tuhan kami, kami telah beriman, maka tutuplah dosa-dosa kami, dan rahmatilah kami. Dan Engkau adalah sebaik-baik yang mengasihi.”

فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّىٰ أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ

fattakhażtumụhum sikhriyyan ḥattā ansaukum żikrī wa kuntum min-hum taḍ-ḥakụn

 110.  Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka,

Kemudian kalian larut dalam menghina mereka sampai kalian lupa mengingat Allah, dan kemudian kalian tetap bertahan dalam pendustaan kalian, sedang kalian menertawakan mereka sebagai olok-olokan dan penghinaan.

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

innī jazaituhumul-yauma bimā ṣabarū annahum humul-fā`izụn

 111.  Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”.

Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada golongan dari hamba-hambaKu, kaum Mukminin ini, dengan keberuntungan memperoleh surga, dikarenakan kesabaran mereka menghadapi gangguan dalam ketaatan kepada Allah.

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ

qāla kam labiṡtum fil-arḍi ‘adada sinīn

 112.  Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”

Dan orang-orang yang celaka di neraka akan ditanya, “Berapa lama kalian berada di dunia dalam hitungan tahun? Dan berapa lama kalian menyia-nyiakan ketaatan kepada Allah di dalamnya?”

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ

qālụ labiṡnā yauman au ba’ḍa yaumin fas`alil-‘āddīn

 113.  Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.

Mereka menjawab lantaran beratnya situasi dan dahsyatnya siksaan, “Kami (hanya) tinggal di sana selama sehari saja, atau setengah hari saja. Maka tanyalah para penghitung yang menghitung jumlah bulan dan jumlah hari.”

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

qāla il labiṡtum illā qalīlal lau annakum kuntum ta’lamụn

 114.  Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”

Katakanlah kepada mereka,”Tidaklah kalian tinggal kecuali sebentar saja. Seandainya kalian mau bersabar untuk taat kepada Allah, pastilah kalian beruntung memperoleh surga, sekiranya kalian memiliki ilmu tentang itu.” Demikian ini lantaran masa tinggal mereka di dunia amat sebentar dibandingkan dengan lamanya masa tinggal mereka di neraka yang kekal abadi.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

a fa ḥasibtum annamā khalaqnākum ‘abaṡaw wa annakum ilainā lā turja’ụn

 115.  Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Apakah kalian menyangka (wahai sekalian makhluk), bahwa Kami menciptakan kalian dengan membiarkan kalian begitu saja, tanpa ada perintah dan larangan, tidak ada pahala dan siksaan, dan sesungguhnya kalian tidak dikembalikan kepada Kami di akhirat kelak untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasannya?

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

fa ta’ālallāhul-malikul-ḥaqq, lā ilāha illā huw, rabbul-‘arsyil-karīm

 116.  Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.

Maka Mahatinggi Allah, Maha Raja Yang bertindak terhadap segala sesuatu, Yang Maha Haq, janjinya Haq, ancamanNya juga haq dan segala sesuatu dariNya adalah haq. Mahasuci Dia dari menciptakan sesuatu dengan main-main dan tanpa tujuan. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Tuhan Arasy yang mulia yang merupakan makhluk yang paling besar.

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

wa may yad’u ma’allāhi ilāhan ākhara lā bur-hāna lahụ bihī fa innamā ḥisābuhụ ‘inda rabbih, innahụ lā yufliḥul-kāfirụn

 117.  Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.

Barangsiapa menyembah tuhan sesembahan yang lain bersama Allah, Dzat Yang Maha Esa, tanpa ada alasan baginya tentang kepantasannya untuk disembah, maka sesungguhnya balasannya atas tindakannya yang buruk itu di sisi Allah di akhirat. Sesungguhnya tidak ada keberuntungan baginya dan tidak ada keselamatan bagi orang-orang kafir pada Hari Kiamat.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

wa qur rabbigfir war-ḥam wa anta khairur-rāḥimīn

 118.  Dan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik”.

Katakanlah wahai Nabi, “Wahai Tuhanku, maafkanlah dosa-dosa dan berilah rahmat. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang merahmati orang yang memiliki dosa dan tidak menyiksanya karena dosanya, maka terimalah taubatnya.”

Related: Surat an-Nur Arab-Latin, Surat al-Furqon Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Asy-Syu’ara, Terjemahan Tafsir Surat an-Naml, Isi Kandungan Surat al-Qashash, Makna Surat al-Ankabut

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al Mukminun Latin 62 Al Muminun