Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Yasin

يس

Arab-Latin: yā sīn

Terjemah Arti:  1.  Yaa siin

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Ya Sin). Pembicaraan tentang huruf-huruf terpisah-pisah (di awal surat seperti ini) telah hadir di awal Surat al-baqarah.

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

wal-qur`ānil-ḥakīm

 2.  Demi Al Quran yang penuh hikmah,

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

innaka laminal-mursalīn

 3.  Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,

عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

‘alā ṣirāṭim mustaqīm

 4.  (yang berada) diatas jalan yang lurus,

2-4. Allah bersumpah dengan al-Qur’an yang muhkam yang di dalamnya terkandung hokum-hukum, hikmah-hikmah dan hujjah-hujjah, bahwa sesungguhnya kamu (wahai Rasul) benar-benar termasuk orang-orang yang diutus oleh Allah dengan wahyuNya kepada hamba-hambaNya, yang berjalan di atas jalan lurus lagi seimbang, yaitu Islam.

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

tanzīlal-‘azīzir-raḥīm

 5.  (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

Allah menurunkan al-Qur’an ini dengan penurunan dari Dzat yang Mahaperkasa dalam membalas orang-orang yang kafir lagi berdosa, namun Dia Maha Penyayang kepada siapa yang bertaubat dari hamba-hambaNya dan beramal shalih.

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

litunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn

 6.  Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

Kami menurunkannya kepadamu (wahai Rasul) agar dengannya kamu memperingatkan suatu kaum yang nenek moyang mereka sebelummu belum diberi peringatan, yaitu orang-orang Arab. Mereka adalah orang-orang yang lalai dari iman dan istiqamah di atas amal shalih. Setiap umat yang peringatan terhadapnya terputus, mereka akan terjatuh kedalam kelalaian. Dalam ayat Ini mengandung dalil diwajibkannya dakwah dan memberi peringatan atas para ulama, orang-orang yang mengetahui Allah dan SyariatNya, untuk membangunkan kaum Muslimin dari kelalaian mereka.

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

laqad ḥaqqal-qaulu ‘alā akṡarihim fa hum lā yu`minụn

 7.  Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ

innā ja’alnā fī a’nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmaḥụn

 8.  Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.

7-8. Sungguh azab memang patut ditimpakan kepada kebanyakan orang-orang kafir tersebut, setelah kebenaran disampaikan kepada mereka namun mereka menolaknya. Mereka tidak membenarkan Allah dan RasulNya, serta tidak melaksanakan SyariatNya. Sesungguhnya Kami menjadikan orang-orang kafir yang mana kebenaran telah disampaikan kepada mereka namun mereka menolaknya dan bersikukuh di atas kekafiran dan tidak beriman, seperti orang yang dibelenggu lehernya dengan rantai, lalu tangan dan leher mereka disatukan dibawah dagu mereka, sehingga mereka terpaksa mendongakkan kepala ke langit. Mereka terbelenggu dari segala macam kebaikan, mereka tidak melihat kebenaran dan tidak mendapatkan petunjuk kepadanya.

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

wa ja’alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn

 9.  Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Dan Kami menjadikan dinding penghalang di depan orang-orang kafir dan juga di belakang mereka, sehingga mereka seperti orang yang dihalang-halangi jalannya dari depan kedua matanya dan dibelakangnya. Lalu Kami membutakan penglihatan mereka disebabkan oleh kekafiran dan kesombongan mereka. Mereka tidak melihat jalan lurus dan tidak mendapatkan petunjuk kepadanya. Siapa pun yang berpaling dari dakwah Islam dan menentangnya, maka dia layak mendapatkan azab ini.

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa sawā`un ‘alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn

 10.  Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Sama saja bagi orang-orang kafir yang menentang itu, apakah kamu (wahai Rasul) memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan, mereka tetap tidak akan membenarkan dan tidak akan beramal.

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

innamā tunżiru manittaba’aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring karīm

 11.  Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

Peringantanmu hanya bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an dan mengikuti hokum-hukum Allah yang ada didalamnya, takut kepada Allah yang Maha Pengasih, di mana tidak ada yang melihatNya kecuali Allah. Maka sampaikanlah berita gembira kepadanya dengan ampunan Allah terhadap dosa-dosanya dan pahala dari Allah di akhirat atas amal shalihnya, yaitu masuk surga.

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn

 12.  Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati seluruhnya dengan membangkitkan mereka di Hari Kiamat. Kami mencatat kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan dan peninggalan-peninggalan mereka di mana mereka merupakan sebabnya dalam kehidupan mereka dan sesudah kematian mereka dalam bentuk kebaikan, seperti anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah, dan juga menulis keburukan mereka berupa kesyirikan dan kemaksiatan. Segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab yang jelas, yaitu Ummul Kitab yang merupakan induk segala kitab, yaitu Lauhul Mahfuzh. Hendaknya orang yang berakal menghisab (mengevaluasi) dirinya, agar menjadi teladan dalam kebaikan dalam hidup dan sesudah matinya.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ

waḍrib lahum maṡalan aṣ-ḥābal-qaryah, iż jā`ahal-mursalụn

 13.  Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ

iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabụhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin fa qālū innā ilaikum mursalụn

 14.  (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu”.

13-14. Dan buatlah (wahai Rasul) sebuah perumpamaan bagi orang-orang musyrik dari kaummu yang menolak dakwahmu, agar mereka bisa mengambil pelajaran darinya, yaitu kisah penduduk sebuah desa, tatkala para utusan datang kepada mereka, yaitu tatkala Kami mengutus dua orang Rasul kepada mereka untuk berdakwah kepada mereka untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selainNya, maka penduduk desa itu mendustakan kedua utusan tersebut, maka Kami menguatkan keduanya dengan utusan ketiga, maka ketiga utusan tersebut berkata kepada penduduk kampong tersebut, “Wahai kaum, sesungguhnya kami ini diutus kepada kalian.”

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ

qālụ mā antum illā basyarum miṡlunā wa mā anzalar-raḥmānu min syai`in in antum illā takżibụn

 15.  Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”.

Penduduk desa berkata kepada para rasul, “Kalian hanyalah orang-orang seperti kami dan Allah yang Maha Pengasih tidak menurunkan wahyu apa pun, dan tidaklah kalian sendiri (wahai para utusan) kecuali hanyalah orang-orang yang berdusta.”

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ

qālụ rabbunā ya’lamu innā ilaikum lamursalụn

 16.  Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”.

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa mā ‘alainā illal-balāgul-mubīn

 17.  Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.

16-17. Para rasul itu berkata untuk menegaskan, “Tuhan kami Yang mengutus kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah utusan-utusan kepada kalian, dan tugas kami hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas, kami tidak memilki kuasa memberikan hidayah untuk kalian, karena hidayah ada di Tangan Allah semata.”

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

qālū innā taṭayyarnā bikum, la`il lam tantahụ lanarjumannakum wa layamassannakum minnā ‘ażābun alīm

 18.  Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.

Penduduk desa berkata, “Sesungguhnya kami merasa pesimis karena kalian, bila kalian tidak menghentikan dakwah kalian kepada kami, maka kami akan membunuh kalian dengan melempari kalian dengan batu, dan hukuman yang setimpal lagi berat akan menimpa kalian dari kami.”

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ ۚ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

qālụ ṭā`irukum ma’akum, a in żukkirtum, bal antum qaumum musrifụn

 19.  Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”.

Para utusan itu berkata, “Pesimistis kalian dan amal perbuatan kalian berupa syirik dan keburukan adalah karena kalian sendiri dan itu tertolak atas kalian. Apakah bila kalian diingatkan dengan sesuatu yang mengandung kebaikan bagi kalian, kalian merasa pesimis dan kalian mengancam kami dengan rajam dan siksaan? Sebaliknya kalian adalah suatu kaum yang sudah terbiasa melampaui batas dan berbuat maksiat dan mendustakan.”

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

wa jā`a min aqṣal-madīnati rajuluy yas’ā qāla yā qaumittabi’ul-mursalīn

 20.  Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”.

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

ittabi’ụ mal lā yas`alukum ajraw wa hum muhtadụn

 21.  Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

20-21. Seorang laki-laki dari sebuah tempat yang jauh di kota datang dengan tegesa-gesa (hal itu saat dia mengetahui bahwa penduduk desa berniat membunuh atau menyiksa para rasul itu), dia berkata, “Wahai kaum, ikutilah para utusan dari Allah kepada kalian ikutilah mereka yang tidak memungut upah harta dari kalian sebagai imbalan dia menyampaikan risalah kepada kalian, mereka juga berada di atas petunjuk dalam apa yang mereka dakwahkan kepada kalian, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata.” Dalam Ayat ini mengandung petunjuk tentang keutamaan orang yang berusaha untuk beramar ma’ruf dan bernahi mungkar.

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa mā liya lā a’budullażī faṭaranī wa ilaihi turja’ụn

 22.  Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?

“apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Allah yang telah menciptakanku dan hanya kepadaNyalah kalian semua akan kembali?”

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

a attakhiżu min dụnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā’atuhum syai`aw wa lā yungqiżụn

 23.  Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

innī iżal lafī ḍalālim mubīn

 24.  Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

innī āmantu birabbikum fasma’ụn

 25.  Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.

23-25. Apakah aku menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah yang tidak memiliki sedikitpun kesanggupan bila Allah yang maha pengasih menghendaki keburukan terhadapku, maka tuhan-tuhan itu tidak kuasa menolak hal itu atau mencegahnya dan ia juga tidak mampu menyelamatkanku dari apa yang sedang aku hadapi? Sesungguhnya bila aku tetap melakukan hal itu, maka aku benar-benar dalam kesalahan yang sangat nyata. Sesungguhnya aku beriman kepada tuhan kalian, maka dengarkanlah apa yang aku katakan kepada kalian. Taatilah aku engan beriman kepadaNya. Manakala dia berkata demikian kaumnya menggepungnya dan membunuhnya, maka Allah memasukkannya kedalam surga.”

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

qīladkhulil-jannah, qāla yā laita qaumī ya’lamụn

 26.  Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.

setelah dibunuh, dikatakan kepadaNya, ”masuklah kedalam surga” sebagai pnghargaan untuknya.

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

bimā gafara lī rabbī wa ja’alanī minal-mukramīn

 27.  Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.

Dia berkata saat dalam kenikmatan dan kemuliaan, ”seandainya kaumku mengetahui ampunan tuhanku dan penghormatannya kepadaku disebabkan oleh imanku dan kesabaranku di atas ketaatan kepadaNya dan mengikuti utusan-utusanNya sampai aku dibunuh, sehingga mereka akan beriman kepada Allah lalu mereka masuk surga sepertiku. ”

۞ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِينَ

wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba’dihī min jundim minas-samā`i wa mā kunnā munzilīn

 28.  Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.

Perkaranya tidak membutuhkan diturunkannya pasukan dari langit untuk mengazab mereka setelah mereka membunuh laki-laki shaleh yang menasihati mereka dan pendustaan mereka terhadap utusan-utusan mereka, karena lebih lemah dan lebih hina dari itu dan kami juga tidak menurunkan malaikat kepada umat-umat bila kami membinasakan mereka, akan tetapi kami (cukup) mengirimkan azab yang menghancurkan mereka.

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ

ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum khāmidụn

 29.  Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

kebinasaaan mereka hanya dengan satu teriakan, dan merekapun bergelimpangan tanpa sesuatupun tersisa dari mereka.

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

yā ḥasratan ‘alal-‘ibād, mā ya`tīhim mir rasụlin illā kānụ bihī yastahzi`ụn

 30.  Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

Betapa merugi dan menyesal para hamba di hari kiamat saat mereka menyaksikan azab secara langsung, karena sebelumnya mereka tidak didatangi seorang utusan dari utusan-utusan Allah kecuali mereka menghina dan memperolok-oloknya.

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ

a lam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurụni annahum ilaihim lā yarji’ụn

 31.  Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.

apakah orang-orang yang memperolok-olok itu tidak melihat lalu mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka dari generasi-generasi yang telah kami binasakan, bahwa mereka tidak lagi kembali kedunia ini?

وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

wa ing kullul lammā jamī’ul ladainā muḥḍarụn

 32.  Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.

Semua umat pada abad yang telah berlalu yang telah kami binasakan mereka dan selain mereka , semuanya akan dihadirkan di depan kami di hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal.

وَآيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

wa āyatul lahumul-arḍul-maitatu aḥyaināhā wa akhrajnā min-hā ḥabban fa min-hu ya`kulụn

 33.  Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

Dan petunjuk kepada orang-orang musyrik atas kuasa Allah dalam membangkitkan dan mengumpulkan makhluk adalah bumi yang mati ini yang kosong dari tanaman, lalu Kami menghidupkannya dengan menurunkan hujan dan darinya Kami mengeluarkan berbagai macam bentuk tanaman yang dimakaan oleh manusia dan hewan-hewan. dan siapa yang kuasa menghidupkan bumi dengan tumbuhan, dia juga pasti kuasa menghidupkan manusia setelah kematian.

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ

wa ja’alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a’nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyụn

 34.  Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,

Dan kami menubuhkan di bumi ini kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami mengalirkan mata air yang menyiraminya.

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

liya`kulụ min ṡamarihī wa mā ‘amilat-hu aidīhim, a fa lā yasykurụn

 35.  supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Semua itu adalah agar manusai makan dari buah-bbuahnya, dan hal itu tidak lain kecuali karena rahmat Allah kepada mereka dan bukan karena usaha dan upaya mereka, bukan pula dengan kekuatan dan daya mereka. maka mengapa mereka tidak bersyukur kepada Allah atas nimat-nikmatnya yang dia limpahkan kepada mereka yang tidak terhitung dan tak terhinggga?

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

sub-ḥānallażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya’lamụn

 36.  Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Maha suci Allah yang maha agung yang telah menciptakan berbagai macam makhluk seluruhnya meliputi berbagai macam tanaman di bumi ini, manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan makhluk-makhluk lainnya yang tidak mereka ketahui hanya Allah yang menciptakan sehinggga tidak patut ada selainnya yang dipersekutukan denganNya.

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

wa āyatul lahumul-lailu naslakhu min-hun-nahāra fa iżā hum muẓlimụn

 37.  Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.

Tanda yang menunjukan tauhid Allah dan kesempurnaan kuasanya adalah malam darinya kami mencabut siang sehingga manusia berada dalam kegelapan.

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

 38.  dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

tanda lain bagi mereka adalah matahari yang beredar pada orbitnya, Allah taala telah menetapkannya sehingga ia tidak melampauinya dan tidak menyimpang darinya. yang demikian itu merupakan pengaturan dari Allah yang maha perkasa, yang tidak dikalahkan lagi maha menggetahui yang tidak ada sesuatupun yang samar baginya.

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjụnil-qadīm

 39.  Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

Juga rembulan adalah tanda kebesaran Allah pada makhluknya, Kami menetapkan sebuah manzilla (possi) untuknya setiap malamnya, mulai terlihat dalam bentuk hilal (bulan sabit) yang kecil sehingg ia sempurna membentuk rembulan yang bulat kemudian ia kembali mengecil menjadi seperi tanda kurma yang melengkung yang ketipisan, kelengkung, dan kekuningannya, karena usianya yang tua dan keringnya.

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn

 40.  Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

masing-masing dari matahari, rembulan, malam dan siang, memiliki waktu yang telah Allah taala tetapkan yang tidak mereka lampaui. Maka tidak mungkin matahari menyusul rembulan lalu ia menghapus cahayanya atau orbit berputarnya berubah. malam juga tidak mungkin mendahului siang, lalu siang masuk ke dalam malam padahal malam belum habis. Masing-masing dari matahari, rembulan, bintang-bintang memiliki garis edar sendiri-sendiri yang padanya mereka berjalan.

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masy-ḥụn

 41.  Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

Dalil dan bukti (lain) bagi mereka yang menunjukan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah yang melimpahkan segala nikmat, adalah bahwa Kami membawa anak-anak adam yang selamat dalam kapal Nuh yang penuh dengan berbagai macam makhluk agar mereka meneruskan kehidupan setelah banjir bandang.

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ

wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabụn

 42.  dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.

Dan kami menciptakan untuk orang-orang musyrik itu dan lainnya kapal-kapal seperti kapal nuh dan alat-alat berkendara lainnya yang mereka kendarai dan menyampaikan mereka ke tempat tinggal mereka.

وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ

wa in nasya` nugriq-hum fa lā ṣarīkha lahum wa lā hum yungqażụn

 43.  Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.

Jika kami berkehendak, kami menenggelakan mereka sehingga mereka tidak menemukan penolong dari tenggelam dan merekapun tidak bisa selamat dari tenggelam.

إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

illā raḥmatam minnā wa matā’an ilā ḥīn

 44.  Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

Kecuali bila Kami merahmati mereka lalu Kami menyelamatkan mereka dan memberi mereka kenikmatan sampai batas waktu tertentu, dengan harapan mereka kembali dan memperbaiki apa yang mereka lalaikan dahulu.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa iżā qīla lahumuttaqụ mā baina aidīkum wa mā khalfakum la’allakum tur-ḥamụn

 45.  Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).

bila dikatakan kepada orang-orang musyrik ”Takutlah kalian kepada perkara akhirat dan beban-beban beratnya, serta hukuman dan siksa dunia, agar kalian mendapatkan rahmat Allah,” mereka berpaling dan tidak menjawabnya

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

wa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ ‘an-hā mu’riḍīn

 46.  Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.

Orang-orang musyrik itu tidak didatangi sebuah bukti yang nyata dari sisi tuhan mereka untuk membimbing mereka kepada kebenaran dan membuktikan kebenaran rasul, kecuali mereka berpaling darinya dan tidak mengambil manfaat darinya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa iżā qīla lahum anfiqụ mimmā razaqakumullāhu qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū a nuṭ’imu mal lau yasyā`ullāhu aṭ’amahū in antum illā fī ḍalālim mubīn

 47.  Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.

dan apabila dikatakan kepada orang-orang kafir, ”infakanlah sebagian rizki yang telah Allah swt berikan kepada kalian. ”mereka berkata membela diri di depan orang-orang mukmin, ”apakah kami harus memberi makan kepada orang-orang yang bila Allah berkehendak Dia yang akan membieri mereka makan? kalian (wahai orang-orang mukmin) benar-benar dalam kejauhan yang sangat jauh dari kebenaran jika kalian memerintahkan hal itu kepada kami. ”

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

 48.  Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”.

Orang-orang kafir itu berkata dalam rangka mendustakan dan meminta disegerakannya azab, ”kapan kiranya kebangkitan bila kalian adalah orang-orang yang benar dalam apa yang kalian katakan itu?”

مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

mā yanẓurụna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta`khużuhum wa hum yakhiṣṣimụn

 49.  Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.

Orang-orang yang musyrik yang berharap disegerakannya ancaman Allah tersebut tidak menunggu kecuali tiupan al-faza saat kiamat tiba yang menghancurkan mereka sedang sibuk dengan urusan hidup mereka.

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

fa lā yastaṭī’ụna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji’ụn

 50.  lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.

Pada saat sangkakala telah ditiup, orang-orang musyrik itu tidak lagi mampu mewasiatkan sesuatu kepada saudaranya dan tidak mampu kembali kepada keluarganya, sebaliknya mereka mati di pasar-pasar dan di tempat-tempat mereka berada

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

wa nufikha fiṣ-ṣụri fa iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilụn

 51.  Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.

Dan sasangkala ditiup untuk kedua kalinya, lalu arwah mereka dikembalikan kepada jasad mereka, dan merekapun keluar dari kubur mereka dengan cepat menuju tuhan mereka.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

qālụ yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụn

 52.  Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).

Orang-orang yang mendustakan kebangkitan berkata dengan penuh penyesalan, ”duhai betapa celakanya kami, siapa yang mengeluarkan kami dari kubur kami?” mereka dijawab, ”inilah yang dijanjikan Allah yang maha pengasih dan disampaikan oleh para rasul yang benar. ”

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum jamī’ul ladainā muḥḍarụn

 53.  Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.

Kebangkitan dari kubur itu hanyalah hasil dari sekali tiupan sangkakala , lalu tiba-tiba seluruh makhluk menghadap ke hadapan kami untuk menghadapi hisab dan balasan.

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai`aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

 54.  Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.

Di hari itu hisab terlaksana dengan adil, suatu jiwa tidak dizhalimi sedikitpun dengan dikurangi kebaikannya atau ditambah keburukannya, dan kalian tidak dibalas kecuali dengan apa yang dulu kalian kerjakan di dunia.

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ

inna aṣ-ḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihụn

 55.  Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

Sesungguhnya penduduk surga di hari itu sibuk dengan berbagai macam kenikmatan yang mereka rasakan, sehingga mereka tidak menghiraukan orang lain.

هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā`iki muttaki`ụn

 56.  Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.

Mereka dan pasangan-pasangan mereka merasakan kenikmatan dan duduk di atas ranjang yang berhias di bawah naungan yang teduh.

لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ

lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda’ụn

 57.  Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.

Di dalam surga mereka mendapatkan berbagai macam buah-buahan yang lezat dan mereka mendapatkan berbagai macam kenikmatan yang mereka inginkan.

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

salām, qaulam mir rabbir raḥīm

 58.  (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Mereka mendapatkan nikmat lain yang lebih besar, yaitu saat tuhan mereka berbicara kepada mereka, menyayangi mereka dengan memberi salam kepada mereka. Dan pada saat itulah keselamatan yang sempurna dari segala sisi terwujud bagi mereka.

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimụn

 59.  Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

Di hari itu dikatakan kepada orang-orang kafir “menyingkirlah kalian dari orang-orang mukimin dan pisahkanlah diri kalian dari mereka.

۞ أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

a lam a’had ilaikum yā banī ādama al lā ta’budusy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

 60.  Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,

Allah berfirman kepada mereka (sebagai peringatan dan mencela) “bukankah Aku telah berpesan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, agar kalian tidak menyembah setan dan menaatinya? sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.

وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

wa ani’budụnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

 61.  dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

Dan Aku memerintahkan kalian agar hanya menyembah-Ku semata. Beribadah kepadaKu, menaatiKu, serta mendurhakai setan, itu adalah agama yang lurus yang menyampaikan kepada ridha dan surgaKu.

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

wa laqad aḍalla mingkum jibillang kaṡīrā, a fa lam takụnụ ta’qilụn

 62.  Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?.

Sungguh setan telah menyesatkan banyak manusia dari kebenaran. Apakah kalian (wahai orang-orang musyrik) tidak mempunyai akal yang mencegah kalian untuk mengikuti setan?

هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

hāżihī jahannamullatī kuntum tụ’adụn

 63.  Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).

Inilah jahanam yang dulu diancamkan kepada kalian di dunia atas kekafiran kalian kepada Allah dan pendustaan kalian terhadap rasul-rasul Allah.

اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurụn

 64.  Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasy-hadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụn

 65.  Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

Pada hari itu Kami mengunci mulut orang-orang kafir sehingga mereka tidak berkata-kata dan tangan-tangan merekalah yang berbicara kepada kami tentang apa yang dilakukannya, kaki-kaki mereka bersaksi dengan apa yang diusahakannya di dunia dan apa yang diusahakannya berupa dosa-dosa.

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ

walau nasyā`u laṭamasnā ‘alā a’yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirụn

 66.  Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).

Kalau Kami berkehendak, niscaya Kami menghapus mata-mata mereka dengan menghilangkan penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menutup mulut mereka, selanjutnya mereka akan berbondong-bondong menuju titian untuk melintasinya, mana mungkin mereka bisa melewatinya sementara penglihatan mereka telah dibutakan?

وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ

walau nasyā`u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā’ụ muḍiyyaw wa lā yarji’ụn

 67.  Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.

Kalau Kami menghendaki, Kami akan merubah bentuk dan Kami dudukkan mereka di tempat-tempat mereka, sehingga mereka tidak bisa berjalan ke depan dan tidak pula kembali ke belakang.

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

wa man nu’ammir-hu nunakkis-hu fil-khalq, a fa lā ya’qilụn

 68.  Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?

Barangsiapa yang Kami panjangkan usianya sehingga dia tua renta, maka dia akan dikembalikan kepada keadannya semula saaat akalnya lemah dan jasadnya pun lemah. maka apakah mereka tidak berfikir bahwa Allah yang kuasa melakukan ini juga kuasa untuk membangkitkan mereka?

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

wa mā ‘allamnāhusy-syi’ra wa mā yambagī lah, in huwa illā żikruw wa qur`ānum mubīn

 69.  Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

liyunżira mang kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn

 70.  supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.

69-70. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepada hamba kami, Muhammad, dan tidak patut baginya untuk menjadi penyair, apa yang dia bawa adalah dzikir (peringatan) dimana orang-orang yang berakal mengambil nasihat darinya. dan al-quran membedakan dengan terang antara yang haq dengan yang batil, hokum-hukumnya jelas, hikmah-hikmah dan nasihat-nasiahnya juga jelas. Agar dia memberi peringatan kepada orang yang hatinya hidup dan bashirahnya bercahaya, sedangkan azab berhak dipikul oleh orang-orang yang ingkar kepada Allah, karena al-quran telah menegakkan hujjah Allah yang mendalam atas mereka.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ

a wa lam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an’āman fa hum lahā mālikụn

 71.  Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

apakah para makhluk tidak melihat bahwa Kami menciptakan ternak-ternak untuk mereka, Kami menundukannya untuk mereka, lalu mereka bisa mengendalikan ternak-ternak itu?

وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ

wa żallalnāhā lahum fa min-hā rakụbuhum wa min-hā ya`kulụn

 72.  Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.

Dan Kami menundukannya untuk mereka, sehingga diantara ternak-ternak itu ada yang mereka kendarai dalam perjalanan, ada yang mereka gunakan untuk membawa beban, dan ada yang mereka makan dagingnya.

وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

wa lahum fīhā manāfi’u wa masyārib, a fa lā yasykurụn

 73.  Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Mereka juga mendapatkan manfaat-manfaaat lain yang bisa mereka petik, seperti manfaat wol, bulu dan rambut sebagai peralatan dan pakaian dan lain-lainnya, dan mereka juga minum susunya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat ini kepada mereka dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya?

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ

wattakhażụ min dụnillāhi ālihatal la’allahum yunṣarụn

 74.  Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.

Orang-orang musyrik mengangkat tuhan-tuhan lain yang mereka sembah selain Allah dengan harapan tuhan-tuhan itu bisa menolong mereka dengan menyelamatkan mereka dari siksaan Allah.

لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ

lā yastaṭī’ụna naṣrahum wa hum lahum jundum muḥḍarụn

 75.  Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.

Tuhan-tuhan itu tidak kuasa menolong para penyembahnya dan tidak pula mampu menolong diri mereka sendiri. Orang-orang musyrik berikut tuhan-tuhan yang mereka sembah itu, akan dihadirkan seluruhnya kepada azab, dimana sebagaian dari mereka berlepasdiri dari sebagain yang lain.

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

fa lā yaḥzungka qauluhum, innā na’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn

 76.  Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

Maka janganlah kamu (wahai rasul) bersedih karena kekafiran mereka kepada Allah, pendustaan mereka kepadamu dan penghinaan mereka kepadamu. Seseungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka simpan dan apa yang mereka tampakkan dan Kami akan membalas mereka atasnya.

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

a wa lam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn

 77.  Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

Apakah orang yang mengingkari kebangkitan tidak melihat awal mula penciptaannya sehingga dia bisa menjadikannya dalil akan tempat kembalinya. Sesungguhnya Kami menciptakan dia dari setetes air yang selanjutnya berproses sampai ia menjadi manusia dewasa, dan ternyata dia adalah pendebat yang ulung dan jelas menolak.

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah, qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm

 78.  Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”

Bahkan para pengingkar hari kebangkitan itu membuat perumpamaan kepada Kami dengan sebuah perumpamaan yang tidak patut baginya untuk membuatnya, yaitu menyamakan kuasa pencipta dengan kuasa makhluk dan dia lupa awal penciptanya, maka dia berkata ”siapa yang akan menghidupkan tulang-tulang yang lapuk dan telah menjadi tanah?”

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

qul yuḥyīhallażī ansya`ahā awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin ‘alīm

 79.  Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.

Katakanlah kepadanya, ”yang menghidupkannya adalah yang menciptakannya pertama kali dan Dia maha mengetahui seluruh makhluk Nya tidak ada sesuatupun yang samar bagiNya.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ

allażī ja’ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nāran fa iżā antum min-hu tụqidụn

 80.  yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”.

Dialah yang mengeluarkan bagi kalian api yang membakar dari pohon basah lagi hijau, kalian menyalakan api dari pohon, dia kuasa mengeluarkan sesuatu dari lawannya. ”hal ini mengandung dalil atas keesaan Allah dan kesempurnaan kuasaNya, dan diantaranya adalah menghidupkan kembali orang-orang yang mati dari kubur mereka.

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

a wa laisallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm

 81.  Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

bukankah Allah yang telah menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada pada keduanya kuasa menciptakan yang semisal dengan mereka dan mengembalikan mereka sebagaimana Dia mengawali penciptaan mereka? benar, Dia mampu untuk itu karena Dia adalah maha pencipta seluruh makhlukNya, maha mengetahui apa yang telah Dia ciptakan, dan akan Dia ciptakan, tidak ada sesuatupun yang samar bagiNya.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn

 82.  Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

sesungguhnya urusan Allah saat Dia menghendaki sesuatu adalah hanya dengan mengatakan, ”jadilah” maka iapun jadi, termasuk dalam hal ini mematikan, menghidupkan, membangkitkan dan mengumpulkan.

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

fa sub-ḥānallażī biyadihī malakụtu kulli syai`iw wa ilaihi turja’ụn

 83.  Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

karena itu, maha suci dan maha tinggi Allah dari kesyirikan dan kelemahan, karena Dia adalah maha raja yang meguasai segala sesuatu, yang bertindak terhadap segala urusan makhlukNya tanpa penentang dan penghalang. Bukti-bukti kuasaNya dan kesempurnaan nikmatnya telah terlihat, dan hanya kepadaNya kalian akan pulang untuk menghadapi prehitungan amal dan pembalasan.

Related: Surat ash-Shaffat Arab-Latin, Surat Shad Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat az-Zumar, Terjemahan Tafsir Surat al-Mu’min, Isi Kandungan Surat Fushshilat, Makna Surat asy-Syura

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surat Yasin Yasin Latin Surah Yassin Surat Yassin Yasiin