Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat an-Nahl

أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Arab-Latin: atā amrullāhi fa lā tasta’jilụh, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

Terjemah Arti:  1.  Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Telah dekat terjadinya hari kiamat dan keputusan Allah untuk mengazab kalian (wahai orang-orang kafir), maka janganlah kalain meminta untuk disegerakan datangnya azab itu lantaran hasrat memperolok ancaman rasul kepada kalian. Allah maha suci dari perbuatan syirik dan sekutu-sekutu.

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

yunazzilul-malā`ikata bir-rụḥi min amrihī ‘alā may yasyā`u min ‘ibādihī an anżirū annahụ lā ilāha illā ana fattaqụn

 2.  Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”.

Allah menurunkan malaikat denagn membawa wahyu berdasar perintahNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya yang diutus sebagai rasul-rasul (yang berisi perintah) ”peringatkanlah manusia dari perbuatan syirik, dan bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku. Maka takutlah kepadaku dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang Aku tetapkan dan mengesakan Aku dalam pereibadahan dan keikhlasan.

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ تَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

 3.  Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah daripada apa yang mereka persekutukan.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan haaq, agar para hamba dapat mengambil petunjuk dengan keduanya tentang keagungan pencipta keduanya, dan bahwasannya Dia satu-stuNya Dzat yang berhak diibadahi. Allah maha suci dan maha agung dari perbuatan syirik mereka.

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

khalaqal-insāna min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn

 4.  Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.

Dia menciptakan manusia dari setetes air yang hina, tiba-tiba dia kemudian menjadi bertenaga kuat lagi terpedaya dengan dirinya, lalu menjelma menjadi manusia yang amat besar permusuhan dan perdebatannya kepada tuhannya dalam mengingkari hari kebangkitan dan perkara lainnya, seperti dalam firmanNya : قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Dan melupakan Allah yang telah menciptakannya dari ketiadaan

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

wal-an’āma khalaqahā lakum fīhā dif`uw wa manāfi’u wa min-hā ta`kulụn

 5.  Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.

Dan binatang-binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, Allah menciptakannya bagi kalain (wahai sekalain manusia), dan Dia menjadikan pada bulu domba dan bulu unta sumber kehangatan dan manfaat-manfaat lainnya yang berasal dari air susu, kulit dan sebagi tunggangan, dan sebagian kalian konsumsi.

وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ

wa lakum fīhā jamālun ḥīna turīḥụna wa ḥīna tasraḥụn

 6.  Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.

Dan bagi kalian padanya ada sumber keindahan yang mendatangkan kebahagiaan bagi kalain, tatkala kalian membawanya pulang kembali ke kandang-kandangnya di waktu sore, dan ketika kalian mengeluarkannya ke tempat pengembalaan di waktu pagi hari.

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنْفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

wa taḥmilu aṡqālakum ilā baladil lam takụnụ bāligīhi illā bisyiqqil-anfus, inna rabbakum lara`ụfur raḥīm

 7.  Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Dan binatang-binatang ternak ini mengangkut barang-barang bawaan kalian yang berat menuju negri yang jauh, tempat yang kalian tidak mampu untuk mencapainya kecuali tenaga besar dari kalian dan susah payah. Sesungguhnya tuhan kalian Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dikarenakan dimemudahkan bagi kalian apa yang kalian butuhkan. Maka bagiNya segala Puji dan bagiNya rasa syukur.

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wal-khaila wal-bigāla wal-ḥamīra litarkabụhā wa zīnah, wa yakhluqu mā lā ta’lamụn

 8.  dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.

Dan Dia menciptakan bagi kalian kuda, baghal dan keledai, agar kalian menungganginya dan berpungsi sebagai perhiasan dan pesona indah bagi kalian. Dan Dia menciptakan bagi kalian berbagai sarana tranportasi dan lain-lain yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentang itu sama sekali, agar kalian bertambah syukur dan iman kepadaNya.

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ ۚ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

wa ‘alallāhi qaṣdus-sabīli wa min-hā jā`ir, walau syā`a lahadākum ajma’īn

 9.  Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).

Dan tanggung jawab Allah untuk mejelaskan jalan yang lurus untuk menunjuki kalian, yaitu islam. Dan di antara jalan, ada lorong bengkok yang tidak mengantarkan menuju hidayah, yaitu setiap ajaran yang bertentangan dengan islam, dari berbagai bentuk ideologi dan keyakinan. Dan Kalau seandainya Allah menghendaki memberikan hidayah, niscaya Dia memberikan kalian semuanya hidayah kepada Iman.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

huwallażī anzala minas-samā`i mā`al lakum min-hu syarābuw wa min-hu syajarun fīhi tusīmụn

 10.  Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.

Dia-lah yang menurunkan bagi kalian hujan dari awan, lalu menjadikan darinya bagi kalian air yang kalian minum, dan menumbuhkan bagi kalian pepohonan yang kalian mengembalakan ternak-ternak kalian padanya, dan kembali untuk kalian air susunya dan manfaatnya juga.

يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

yumbitu lakum bihiz-zar’a waz-zaitụna wan-nakhīla wal-a’nāba wa ming kulliṡ-ṡamarāt, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn

 11.  Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Dia mengeluarkan bagi kalian dari bumi dengan satu jenis air ini berbagai tanaman yang bermacam-macam, dan Dia mengeluarkan dengannya zaitun, pohon kurma dan anggur, dan mengeluarkan dengannya beragam hasil panen gan buah-buahan. Sesungguhnya pada kejadian munculnya berbagai macam buah-buahan terdapat pentunjuk yang jelas bagi kaum yang merenungi dan mau mengambil pelajaran.

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa sakhkhara lakumul-laila wan-nahāra wasy-syamsa wal-qamar, wan-nujụmu musakhkharātum bi`amrih, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy ya’qilụn

 12.  Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),

Dan Dia menundukan malam bagi kalian untuk waktu istirahat kalian dan siang hari untuk mencari kehidupan bagi kalian, dan Dia menundukan bagi kalian matahari yang bersinar yang menerangi dan bulan sebagai cahaya, serta guna mengetahui tahun-tahun dan perhitungan waktu dan manfaat-manfaat lainya, dan binatang-binatang dikendalikan bagi kalian berdasarkan perintah Allah untuk mngenali waktu-waktu, dan untuk mengetahi waktu masaknya buah-buahan dan hasil-hasil tanaman, serta sebagai arah petunjuk dalam kegelapan malam. Sesungguhnya dalam pengendalian semua itu terdapat petunjuk yang jelas bagi kaum-kaum yang memahami hujjah-hujjah dan bukti-bukti kebenaran dari Allah.

وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ

wa mā żara`a lakum fil-arḍi mukhtalifan alwānuh, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yażżakkarụn

 13.  dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.

Dan Dia menundukan bagi kalian apa yang diciptakaNya di bumi berupa binatang-binatang ternak, buah-buahan, bahan-bahan tambang dan lain-lain yang berbeda-beda warna dan kegunaanya. Sesungguhnya dalam penciptaan obyek-obyek tesebut dan perbedaan warna dan kegunaanya benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan menyadari bahwa dalam pengendalian hal-hal tersebut terdapat tanda-tanda keesaan Allah dan keesaaNya untuk diibadahi.

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa huwallażī sakhkharal-baḥra lita`kulụ min-hu laḥman ṭariyyaw wa tastakhrijụ min-hu ḥilyatan talbasụnahā, wa taral-fulka mawākhira fīhi wa litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

 14.  Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

Dan Dia-lah yang menundukan laut bagi kalian, agar dapat mengomsumsi daging yang segar dari apa yang kalian buru dari hasli ikannya, dan kalian dapat menambang dari jenis perhiasan yang kalian kenakan seperti intan dan permata, dan kamu melihat kapal-kapal besar mambelah permukaan air laut, berlayar pergi dan datang, dan kalian menumpanginya, untuk mencari rizki Allah melalui perniagaan dan meraup keuntungan di dalamnya. Dan mudah-mudahan kalian mensyukuri Allah atas besarnya kenikmatanNya kapada kalian, sehingga tidak menyembah selainNya.

وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

wa alqā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bikum wa an-hāraw wa subulal la’allakum tahtadụn

 15.  Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,

Dan Dia menancapkan di dalam bumi gunung-gunung yang menguatkannya sehingga bumi tetap stabil bersama kalian, dan menjadikan di dalamnya sungai-sungai agar kalian dapat minum darinya, dan menjadikan padanya jalan-jalan agar kalian dapat minum darinya, dan menjadikan padanya jalan-jalan agar kalian memperoleh petunjuk, sehingga kalian dapat mencapai tempat-tempat yang kalian tuju.

وَعَلَامَاتٍ ۚ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

wa ‘alāmāt, wa bin-najmi hum yahtadụn

 16.  dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.

Dan Dia menjadikan di muka bumi bermacam-macam tanda yang kalain manfaatkan untuk mengetahui arah-arah jalan pada siang hari, dan menjadikan bintang-bintang sebagai sumber petunjuk di malam hari.

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

a fa may yakhluqu kamal lā yakhluq, a fa lā tażakkarụn

 17.  Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.

Apakah pantas kalian menjadikan Allah yang menciptakan segala sesuatu ini dan obyek-obyek ciptaan lainnya dalam keberhakan untuk diibadahi berkedudukan sama dengan tuhan-tuhan fiktif yang tidak menciptakan apapun? tidakah kalian mengingat keagungan Allah, lalu kalian mengesakanNya dalam peribadahan?

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa in ta’uddụ ni’matallāhi lā tuḥṣụhā, innallāha lagafụrur raḥīm

 18.  Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jika kalian berusaha untuk menghitung jumlah nikmat-nikmat yang tercurah pada kalian, niscaya kalian tidak akan sanggup memenuhi hitungan jumlahnya, dikarenakan jumlah dan jenisnya yang banyak. Sesungguhnya Allah benar-benar maha pengampun terhadap kalian lagi maha penyayang kepada kalian, sebab Dia memaafkan kekurangan kalian dalam mengerjakan kewajiban bersyukur, tetap tidak menghentikannya dari kalian meskipun kalian kurang bersyukur, dan tidak menyegerakan dalam menimpakan siksaan pada kalian.

وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

wallāhu ya’lamu mā tusirrụna wa mā tu’linụn

 19.  Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.

Dan Allah mengetahui seluruh amal perbuatan kalian, baik yang kalian rahasiakan pada jiwa kalain maupun yang kalian tampakkan kepada orang lain, dan Dia akan memberikan balasan kepada kalain atas perbuatan-perbuatan tersebut.

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

wallażīna yad’ụna min dụnillāhi lā yakhluqụna syai`aw wa hum yukhlaqụn

 20.  Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.

Dan tuhan-tuhan sesembahan yang disembah oleh kaum musyrikin tidak mampu menciptakan apapun, meskipun barang yang amat kecil. Sebab tuhan-tuhan sesembahan itu(juga) makhluk-makhluk yang diciptakan sendiri oleh orang-orang kafir dengan tangan-tangan mereka. Bagaimana bisa mereka menyembahnya?

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

amwātun gairu aḥyā`, wa mā yasy’urụna ayyāna yub’aṡụn

 21.  (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.

Tuhan-tuhan sesembahan itu seluruhnya adalah benda-benda mati, tidak ada kehidupan padanya, dan tidak mengetahui kapan waktu Allah membangkitkan para penyembahnya.Tuhan-tuhan sesembahan itu bersama mereka supaya dilempar bersama-sama kedalam neraka pada hari kiamat.

إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

ilāhukum ilāhuw wāḥid, fallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati qulụbuhum mungkiratuw wa hum mustakbirụn

 22.  Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

Tuhan sesembahan kalian yang berhak diibadahi, Dialah Allah, sesembahan yang maha Esa maka orang-orang yang tidak beriman kepada hari kebangkitan, hati mereka mengingkari keesaan Allah , karena ketidak takutan mereka kepada siksaan Allah. Mereka menyombongkan diri untuk menerima kebenaran dan (juga tidak mau) beribadah hanya kepada Allah semata.

لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

lā jarama annallāha ya’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn, innahụ lā yuḥibbul-mustakbirīn

 23.  Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

Sudah pasti, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dari bentuk-bentuk keyakinan, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan, dan apa yang mereka tampakan darinya, dan Dia akan memberikan balasan kepada mereka atas perkara-perkara tersebut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah dan tunduk kepadaNya dan akan memberikan balasan kepada mereka atas hal-hal tersebut.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wa iżā qīla lahum māżā anzala rabbukum qālū asāṭīrul-awwalīn

 24.  Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”,

Dan apabila kaum musyrikin ditanya soal wahyu yang turun kepada nabi Muhammad , mereka dengan dusta dan bohong mengatakan, ”tidaklah ia datang membawa sesuatu kecuali kisah-kisah orang-orang terdahulu dan dongeng-dongeng kebatilan mereka.

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

liyaḥmilū auzārahum kāmilatay yaumal-qiyāmati wa min auzārillażīna yuḍillụnahum bigairi ‘ilm, alā sā`a mā yazirụn

 25.  (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.

Kesudahan mereka adalah akan memikul dosa-dosa mereka secara penuh pada hari kiamat, (tidak ada apapun yang diampuni dari mereka), dan sekaligus memikul dosa-dosa orang-orang yang mereka kelabui untuk menjauhkan orang-orang tersebut dari islam, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sendiri. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul berupa dosa-dosa.

قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

qad makarallażīna ming qablihim fa atallāhu bun-yānahum minal-qawā’idi fa kharra ‘alaihimus-saqfu min fauqihim wa atāhumul-‘ażābu min ḥaiṡu lā yasy’urụn

 26.  Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.

Dan sesungguhnya orang-orang kafir telah merencanakan berbagai tipu daya terhadap rasul-rasul yang diutus kepada mereka dan misi mendakwahkan kebenaran yang mereka bawa. Kemudian Allah datang menghancurkan bangunan-bangunan rumah mereka dari dasar dan pondasinya, sehingga atapnya menjatuhi mereka dari atas mereka, dan datanglah kepada mereka kebinasaan melalui tempat tinggal mereka yang aman, lantaran mereka tidak berpikir dan tidak menyangka-nyangka kebinasaan mereka muncul dari dalam rumah mereka.

ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ

ṡumma yaumal-qiyāmati yukhzīhim wa yaqụlu aina syurakā`iyallażīna kuntum tusyāqqụna fīhim, qālallażīna ụtul-‘ilma innal-khizyal-yauma was-sū`a ‘alal-kāfirīn

 27.  Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?” Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu: “Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir”,

Kemudian pada hari kiamat, Allah akan mempermalukan mereka dengan menjatuhkan siksaan dan menghinakan mereka dengannya, dan Dia berfirman ”Manakah sekutu-sekutuKu dari tuhan-tuhan selain Aku yang kalain sembah, agar mereka mencegah siksaan dari kalian sedang kalian dulu menyerang nabi-nabi dan kaum mukminin dan memusuhi mereka untuk membela tuhan-tuhan itu? Para ulama rabbani mengatakan “sesungguhnya kehinaan dan siksaan pada hari ini menimpa orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya.

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ ۖ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوءٍ ۚ بَلَىٰ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

allażīna tatawaffāhumul-malā`ikatu ẓālimī anfusihim fa alqawus-salama mā kunnā na’malu min sū`, balā innallāha ‘alīmum bimā kuntum ta’malụn

 28.  (yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Yaitu orang-orang yang malaikat menacabut ruh-ruh mereka dalam keadaan mereka berbuat kezhaliman kepada diri mereka dengan kekafiran. Lalu mereka berserah diri kepada ketetapan Allah ketika melihat kematian (tiba) dan mereka mengingkari semua yang mereka sembah selain Allah, sembari berkata, ”kami tidaklah berbuat maksiat apapun.” Lalu dikatakan kepada mereka, ”kalian dusta, sebab sesungguhnya kalain dahulu melakukannya. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui perbuatan-perbuatan kalian semuanya, dan akan memberikan balasan kepada kalain karena itu.”

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

fadkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa labi`sa maṡwal-mutakabbirīn

 29.  Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.

maka masuklah kalain kedalam pintu-pintu neraka jahanam, kalian tidak akan keluar darinya selamanya. itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong untuk beriman kepada Allah semata dan beribadah serta taat kepadaNya.

۞ وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

wa qīla lillażīnattaqau māżā anzala rabbukum, qālụ khairā, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa ladārul-ākhirati khaīr, wa lani’ma dārul-muttaqīn

 30.  Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,

Dan apabila dikatakan kepada orang-orang mukmin yang takut kepada Allah “apakah yang diturunkan oleh Allah kepada nabi muhammad ?” mereka menjawab ”Allah menurunkan padanya kebaiakan dan kebenaran.” Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya di dunia ini, dan mengajak hamba-hamba Allah untuk beriman dan beramal shalih, ada kemuliaan yang agung berupa kemenangan bagi mereka di dunia dan keluasan rizki. Dan sunggguh negeri akhirat lebih baik dan lebih agung bagi mereka daripada apa yang diberikan kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya sebaik-baik tempat tinggal bagi orang-orang yang takut kepada Allah di dunia dan takut siksaanNya dengan melaksanakan kewajibannya dan menjauhi laranganNya adalah negeri akhirat.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ

jannātu ‘adniy yadkhulụnahā tajrī min taḥtihal-an-hāru lahum fīhā mā yasyā`ụn, każālika yajzillāhul-muttaqīn

 31.  (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

allażīna tatawaffāhumul-malā`ikatu ṭayyibīna yaqụlụna salāmun ‘alaikumudkhulul-jannata bimā kuntum ta’malụn

 32.  (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.

31-32. Yaitu surga-surga tempat hunian bagi mereka, tempat mereka bermukim di sana, mereka tidak keluar darinya selamanya, sungai-sungai mengalir di bawah pepohonan dan istana-istananya. Bagi mereka di dalamnya apa saja yang diinginkan oleh jiwa-jiwa mereka. Dengan balasan yang baik seperti ini, Allah akan membalas orang-orang yang takut kepadaNYa dan bertakwa kepadaNYa. Yaitu orang-orang yang malaikat mencabut ruh-ruh merreka, sedang hati mereka bersih dari kekafiran. Malaikat berkata kepada mereka, ”salamun ‘alaikum, ini merupakan penghormatan khusus bagi kalian, dan semoga kalian mendapat keselamatan dari seluruh keburukan. Masuklah kalain ke dalam surga berkat apa yang kalain perbuat berupa keimanan kepada Allah dan ketundukan terhadap perintahNya.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

hal yanẓurụna illā an ta`tiyahumul-malā`ikatu au ya`tiya amru rabbik, każālika fa’alallażīna ming qablihim, wa mā ẓalamahumullāhu wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

 33.  Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri,

Kaum musyrikin tidaklah menunggu-nunngu kecuali maliakat yang datang kepada mereka untuk mencabut ruh-ruh mereka dalam keadaaan mereka kfir, atau ketetapan Allah yang datang dengan membawa siksaan yang disegerakan yang membinasakan mereka. Sebagaimana mereka telah mendustakan orang-orang kafir sebelumnya juga telah mendustakan, lalu Allah membinasaakn mereka. Dan tidaklah Allah menzhalimi mereka saat membinsakaan mereka dan menimpakan siksaan pada mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan perbuatan yang menjadikan mereka pantas dikenai siksaan.

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa aṣābahum sayyi`ātu mā ‘amilụ wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 34.  Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi oleh azab yang selalu mereka perolok-olokan.

Kemudian turunlah pada mereka hukuman akibat dosa-dosa mereka yang dahulu mereka perbuat, dan kemudia mengepung mereka siksaan yang dahulu mereka olok-olok.

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa qālallażīna asyrakụ lau syā`allāhu mā ‘abadnā min dụnihī min syai`in naḥnu wa lā ābā`unā wa lā ḥarramnā min dụnihī min syaī`, każālika fa’alallażīna ming qablihim, fa hal ‘alar-rusuli illal-balāgul-mubīn

 35.  Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya”. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Dan orang-orang Musyrik berkata, “Sekiranya Allah menghendaki kami hanya menyembahNya saja, pastilah kami tidak menyembah siapapun selainNya, baik kami maupun bapak-bapak kami sebelumnya, dan kami tidak pula mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya.” Dengan dalih batil seperti ini, orang-orang kafir terdahulu membela diri, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbohong. Sebab sesungguhnya Allah telah memerintahkan mereka dan melarang mereka, serta memberikan kepada mereka kemampuan untuk melaksanakan kewajiban yang di bebankanya kepada mereka, dan mengadakan bagi mereka kekuatan dan kehendak yang menjadi pangkal perbuatan-perbuatan mereka. Maka pembelaan diri mereka dengan menggunakan Qadha dan Qada, adalah usaha yang paling batil setelah adanya peringatan para Rasul kepada mereka. Tidaklah ada kewajidan atas rasul-rasul yang memperingatkan mereka kecuali hanya menyampaikan dengan jelas apa yang di bebankan terhadap mereka.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

wa laqad ba’aṡnā fī kulli ummatir rasụlan ani’budullāha wajtanibuṭ-ṭāgụt, fa min-hum man hadallāhu wa min-hum man ḥaqqat ‘alaihiḍ-ḍalālah, fa sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

 36.  Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Dan sungguh kami telah mengutus di tengah setiap umat yang telah berlalu seorang rasul yang memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah dan taat kepadaNya semata serta meninggalkan penyembahan kepada selainNya, seperti kepada setan-setan, patung-patung dan orang-orang mati dan lain sebagainya yang dijadikan sebagai penolong selain Allah. Maka diantara mereka terdapat orang yang diberi petunjuk oleh Allah sehingga dia mengikuti para rosul, dan diantara mereka terdapat juga para penentang keras yang mengikuti jalan menyimpang, sehingga jatuhlah ketetapan sesat padanya. Allah tidak memberikan taufik kepadanya. Maka berjalanlah di muka bumi dan saksikanlah dengan mata kepala kalian bagaimana angan-angan orang-orang yang mendustakan dan kehancuran yang menimpa mereka, agar kalian dapat mengambil pelajaran.

إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

in taḥriṣ ‘alā hudāhum fa innallāha lā yahdī may yuḍillu wa mā lahum min nāṣirīn

 37.  Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.

Jika kamu (wahai Rasul) mengerahkan usaha dengan habis-habisan untuk menuntun orang-orang yang musyrik menuju hidayah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk pada orang yang sesat, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai penolong selain Allah yang akan meolong mereka dan menolak siksaan dari mereka.

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa aqsamụ billāhi jahda aimānihim lā yab’aṡullāhu may yamụt, balā wa’dan ‘alaihi ḥaqqaw wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 38.  Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,

Dan orang-orang yang mempersekutukan Allah bersumpah dengan sumpah-sumpah kuat, bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati setelah jasadnya hancur lagi tercerai berai. justru sebaliknya, Allah akan membangkitkan mereka dengan pasti, sebagai janji yang benar dariNya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari kuasa Allah untuk membangkitkan orang yang telah mati, sehinggga mereka mengingkari perkara tersebut.

لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ كَانُوا كَاذِبِينَ

liyubayyina lahumullażī yakhtalifụna fīhi wa liya’lamallażīna kafarū annahum kānụ kāżibīn

 39.  agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta.

Allah akan membangkitkan semua hamba untuk menerangkan kepada mereka kebenaran perkara kebangkitan yang mereka perselisihkan. Kemudian orang-orang mukmin akan mengetahui bahwa mereka sesungguhnya berada diatas kebenaran, dan orang-orang kafir akan sadar dan bahwa sesungguhnya mereka berada di atas kebatilan dan sesungguhnya mereka telah berbohong ketika dahulu bersumpah soal tidak ada kebangkitan.

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

innamā qaulunā lisyai`in iżā aradnāhu an naqụla lahụ kun fa yakụn

 40.  Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia.

Sesungguhnya urusan membangkitkan(orang-orang yang telah mati) merupakan perkara mudah bagi Kami. Sesungguhnya Kami bila menghendaki sesuatu, kami hanya berfirman, ”jadilah”, maka kemudian ia terjadi dan terwujud.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

wallażīna hājarụ fillāhi mim ba’di mā ẓulimụ lanubawwi`annahum fid-dun-yā ḥasanah, wa la`ajrul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

 41.  Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,

Dan orang-orang yang meninggalkan negeri mereka karena Allah, lalu mereka berhijrah setelah mengalami tindakan kezhaliman pastilah kami akan menempatkan mereka di dunia ke dalam tempat tinggal yang baik, dan ganjaran akhirat itu lebih besar, sebab pahala mereka disana adalah surga, seandainya orang-orang yang tidak berhijrah mengetahui seyakin-yakinnya ganjaran dan pahala yang ada di sisi Allah bagi orang-orang yang berhijrah di jalanNya, niscaya tidak ada seorangpun yang tertinggal dari berhijrah.

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

allażīna ṣabarụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

 42.  (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.

Orang-orang yang berhijrah di jalan Allah mereka itulah orang-orang yang besabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah menghadapi larangan-laranganNya, dan menjalani takdir-takdirNya yang menyakitkan.Dan kepada tuhan mereka saja mreka bergantung, sehingga mereka berhak menggapai kedudukan yang agung ini.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

wa mā arsalnā ming qablika illā rijālan nụḥī ilaihim fas`alū ahlaż-żikri ing kuntum lā ta’lamụn

 43.  Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,

Dan tidaklah kami mengutus di tengah orang-orang terdahulu sebelummu (wahai rasul), kecuali utusan-utusan dari kaum lelaki bangsa manusia, bukan dari kalangan malaikat, yang kami berikan wahyu kepada mreka. Dan bila kalian (wahai kaum musyrikin quraisy), tidak mengimaninya, maka tanyakanlah kepada umat-umat terdahulu yang diberi kitab suci, supaya mereka mengabarkan kepada kalian bahwa sesungguhnya nabi-nabi terdahulu berwujud manusia-manusia biasa juga, jika kalian tidak mengetahui bahwasanya mereka itu manusia. Ayat ini bersifat umum pada setiap masalah-masalah agama, jika seorang manusia tidak memiliki pengetahuan tentangnya, hendaknya ia bertanya kepada orang yang mengetahuinya dari ulama-ulama yang berilmu mendalam.

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

bil-bayyināti waz-zubur, wa anzalnā ilaikaż-żikra litubayyina lin-nāsi mā nuzzila ilaihim wa la’allahum yatafakkarụn

 44.  keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,

Dan kami utus rasul-rasul terdahulu dengan membawa bukti-bukti jelas dan kitab-kitab suci dari langit, dan kami turunkan al-qur’an kepadamu (wahai rasul), supaya kamu menjelaskan kepada manusia makana-makna dan hukumnya yang masih samar dan agar mereka merenunginya dan memperoleh petunjuk dengannya.

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

a fa aminallażīna makarus-sayyi`āti ay yakhsifallāhu bihimul-arḍa au ya`tiyahumul-‘ażābu min ḥaiṡu lā yasy’urụn

 45.  maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,

أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ

au ya`khużahum fī taqallubihim fa mā hum bimu’jizīn

 46.  atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu),

أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

au ya`khużahum ‘alā takhawwuf, fa inna rabbakum lara`ụfur raḥīm

 47.  atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

45-47. Apakah orang-orang kafir yang merencanakan berbagai macam tipu daya merasa aman kalau Allah membenamkan mereka ke dalam bumi sebagaimana yang Dia lakukan kepada qarun, atau Dia mendatangkan kepada mereka siksaan di tempat yang tidak mereka duga dan tidak mereka sangka-sangka atau siksaan akan menimpa mereka, sedang mereka itu tengah mondar-mandir dalam perjalanan dan aktivitas mereka? Mereka tidakbisa mendahului Allah dan tidak bisa lolos dariNya serta selamat dari siksaanNya. Sebab Allah maha kuat yang tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNYa atau Allah akan menyiksa mereka dengan berkurangnya harta benda mereka dan kebinasaan sebagian mereka, serta berkurangnya buah-buahan, atau dalam ketakutan mereka atas siksaannYa terhadap mereka. Sesungguhnya tuhan kalian sayang terhadap makhluk-makhlukNya dengan kasih sayang yang luas di dunia dan di akhirat mereka.

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ

a wa lam yarau ilā mā khalaqallāhu min syai`iy yatafayya`u ẓilāluhụ ‘anil-yamīni wasy-syamā`ili sujjadal lillāhi wa hum dākhirụn

 48.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri?

Apakah orang-orang kafir itu buta mata, sehingga mereka tidak bisa melihat segala sesuatu yang Allah ciptakan yang memiliki bayangan, seperi gunung-gunung dan pepohonan, terkadang bayangannya condong ke arah kanan dan kadang ke kiri, lantaran mengikuti pergerakan matahari diwaktu siang hari dan perjalanan bulan di malam hari, semuanya tunduk pada keagungan dan kebesaran tuhannya, dan semua berada di bawah pengendalian, dan pengaturan dan kekuasaanNya?

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

wa lillāhi yasjudu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi min dābbatiw wal-malā`ikatu wa hum lā yastakbirụn

 49.  Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

Dan kepada Allah semata bersujud segala yang ada di langit dan semua yang ada di bumi dan malaikat juga bersujud kepada Allah, dan mereka tidak sombong untuk beribadah kepadaNya, Allah menyebut malaikat secara khusus setelah lafazh yang umum, karena keutamaan, kemuliaan, dan banyaknya ibadah mereka.

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۩

yakhāfụna rabbahum min fauqihim wa yaf’alụna mā yu`marụn

 50.  Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).

Malaikat-malaikat takut kepada tuhan mereka yang berada di atas mereka dengan Dzat, kekuasaan, dan kesempurnaan sifat-sifatNya, dan mereka mengerjakan perintah yang ditunjukan kepada mereka untuk taat kepadaNya. Di dalam ayat ini terkandung penetapan sifat ‘uluw(Allah mahatinggi) dan fauqiyyah(berada di atas makhlukNya) bagi Allah diatas seluruh makhlukNya sesuai dengan keagungan dan kesempurnaanNya.

۞ وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

wa qālallāhu lā tattakhiżū ilāhainiṡnaīn, innamā huwa ilāhuw wāḥidun fa iyyāya far-habụn

 51.  Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”.

Allah berfirman kepada hamba-hambaNYa, ”janganlah kalain menyembah dua sembahan. sesungguhnya tuhan sesembahan kalian hanyalah tuahn yang maha tunggal maka takutlah kepadaKu, tidak kepada selainKU.”

وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا ۚ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ

wa lahụ mā fis-samāwāti wal-arḍi wa lahud-dīnu wāṣibā, a fa gairallāhi tattaqụn

 52.  Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?

Dan milik Allah lah semua yang ada di langit dan dibumi sebagai ciptaan, milik dan hambaNya. Dan baginya semata peribadahan, ketaatan dan keikhlasan secara teus-menerus. Apakah pantas bagi kalian untuk takut kepada selain Allah dan menyembahnya?

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

wa mā bikum min ni’matin fa minallāhi ṡumma iżā massakumuḍ-ḍurru fa ilaihi taj`arụn

 53.  Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

Dan apa saja yang ada pada kalain beruapa kenikmatan hidayah kesehatan jasmani keluasan rizki dan anak dan lain-lain, maka itulah adalah dari Allah semata, Dia lah pemberi kenikmatan-kenikmatan itu kepada kalian. Kemudian bila turun kepada kalian penyakit, bala dan paceklik, maka kepada Allah lah kalian riuh dengan doa.

ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

ṡumma iżā kasyafaḍ-ḍurra ‘angkum iżā farīqum mingkum birabbihim yusyrikụn

 54.  Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain),

kemudian bila Dia mengangkat musibah dan wabah penyakit dari mereka, ternyata segologan dari kalian yang telah dianugerahi keselamatan oleh tuhan mereka malah mengadakan sekutu-sekutu dan penolng-penolong bersamaNYa.

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

liyakfurụ bimā ātaināhum, fa tamatta’ụ, fa saufa ta’lamụn

 55.  Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).

Biarlah mereka mengingkari nikmat-nikmat Kami pada mereka, yang diantara bentuknya ialah mengangkat musibah dari mereka. Maka bersenang-senanglah kalain dengan kehidupan dunia kalian, yang kesudahannya ialah akan sirna. Kalian akan mengetahui akibat tindakan kekafiran dan kedurhakaan kalian itu.

وَيَجْعَلُونَ لِمَا لَا يَعْلَمُونَ نَصِيبًا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ ۗ تَاللَّهِ لَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَفْتَرُونَ

wa yaj’alụna limā lā ya’lamụna naṣībam mimmā razaqnāhum, tallāhi latus`alunna ‘ammā kuntum taftarụn

 56.  Dan mereka sediakan untuk berhala-berhala yang mereka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bahagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan.

Dan diantara bentuk buruknya perbuatan mereka, bahwa sesungguhnya mereka memperuntukan berhala-berhala yang mereka jadikan sebagai tuhan sesembahan, (padahal tuhan-tuhan itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan mencelakai) bagian dari harta benda mereka yang Allah rizkikan kepada mereka, sebagai sarana mendekatkan diri kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Demi Allah kalian akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat atas kedustaan yang kalian ada-adakan terhadap Allah.

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ ۙ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

wa yaj’alụna lillāhil-banāti sub-ḥānahụ wa lahum mā yasytahụn

 57.  Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki).

Dan orang-orang kafir mengadakan bagi Allah anak-anak perempuan. Mereka mengatakan ”malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Maha suci Allah dari pernyataan mereka. Dan mereka menjadikan bagi diri mereka sesuatu yang mereka sukai, yaitu anak-anak kecil.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

wa iżā busysyira aḥaduhum bil-unṡā ẓalla waj-huhụ muswaddaw wa huwa kaẓīm

 58.  Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Dan apabila ada seseorang yang menyampaikan berita kepada salah seorang dari mereka tentang kelahiran anak perempuannya, maka menghitamlah wajahnya, lantaran kebenciannya terhadap berita yang ia dengar, dan hatinya sesak dengan persaan gundah dan sedih.

يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

yatawarā minal-qaumi min sū`i mā busysyira bih, a yumsikuhụ ‘alā hụnin am yadussuhụ fit-turāb, alā sā`a mā yaḥkumụn

 59.  Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.

Dia akan menyembunyikan diri dari kaumnya dikarenakan dia tidak suka berjumpa dengan mereka dalam keadaan terbalut sesuatu yang memperburuk dirinya berupa kesedihan dan aib, disebabkan anak perempuan yang terlahir tersebut; dan bingung apakah akan mempertahankannya hidup-hidup dengan menanggung kehinaan dan aib, ataukah menguburnya hidup-hidup di dalam tanah? ingatlah, seburuk-buruk keputusan ialah ketetapan yang mereka ambil dengan menjadikan anak-anak perempuan bagi Allah dan anak-anak laki-laki bagi mereka.

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

lillażīna lā yu`minụna bil-ākhirati maṡalus-saụ`, walillāhil-maṡalul-a’lā, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

 60.  Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dan bagi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat dan tidak mengerjakan perbuatan baik untuknya, perangai yang buruk berupa sifat lemah, kekurangan, kejahilan dan kekafiran. Sedang Allah mempunyai sifat-sifat tinggi dalam kesempurnaan dan ketidakbutuhan terhadap makhluk. dan Dia maha perkasa dalam kerajaanNya, lagi mahabijaksana dalam pengaturanNya.

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

walau yu`ākhiżullāhun-nāsa biẓulmihim mā taraka ‘alaihā min dābbatiw wa lākiy yu`akhkhiruhum ilā ajalim musammā, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

 61.  Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.

Dan seandainya(secara langsung) Allah menghukum manusia atas kekafiran dan kedustaan mereka, pastilah Dia tidak akan menyisakan sesuatu yang bergerak di muka bumi ini. akan tetapi Dia memberikan kesempatan hidup kepada mereka sampai waktu tertentu yaitu akhir ajal mereka. Lalu apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak akan mundur darinya, dan tidak maju barang sedikitpun.

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَىٰ ۖ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُمْ مُفْرَطُونَ

wa yaj’alụna lillāhi mā yakrahụna wa taṣifu alsinatuhumul-każiba anna lahumul-ḥusnā lā jarama anna lahumun-nāra wa annahum mufraṭụn

 62.  Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya).

Dan diantara bentuk keburukan perilaku mereka, bahwasannya mereka menjadikan bagi Allah anak-anak perempuan yang mereka benci, dan lisan mereka berkata dengan dusta: “bahwannya mereka akan mendapatkan kesudahan nasib yang baik. Sebenarnya, bagi mereka adalah neraka, dan bahwasannya mereka di dalamnya diabaikan lagi dilupakan.

تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

tallāhi laqad arsalnā ilā umamim ming qablika fa zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum fa huwa waliyyuhumul-yauma wa lahum ‘ażābun alīm

 63.  Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.

Demi Allah sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelummu (wahai rasul), lalu setan menjadikan mereka memandang baik apa yang mereka perbuat berupa kekafiran, pendustaan dan penyembahan kepada selain Allah. Setan menyetir penyimpangan mereka di dunia, dan bagi mereka di akhirat kelak siksaan menyakitkan lagi pedih.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa mā anzalnā ‘alaikal-kitāba illā litubayyina lahumullażikhtalafụ fīhi wa hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

 64.  Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Dan kami tidaklah menurunkan al-qur’an kepadamu (wahai rasul), kecuali supaya kamu menerangkan kepada manusia perkara agama dan hukum-hukum yang mereka perselisihkan, sehingga hujjah agak tegak di hadapan mereka melalui penjelasanmu, yang tidak meniggalkan satu jalanpun bagi kebatilan untuk merasuk kedalam jiwa. Dan juga karena al-qur’an adalah hidayah yang tidak meninggalkan satu celahpun untuk bimbang, serta sebagai rahmat bagi kaum mukminin dalam sikap mereka mengikuti petunjuk dan menjauhi kesesatan.

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

wallāhu anzala minas-samā`i mā`an fa aḥyā bihil-arḍa ba’da mautihā, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yasma’ụn

 65.  Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Dan Allah Dialah yang menurunkan hujan dari awan, lalu mengeluarkan dengannya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dari tanah setelah sebelumnya tandus lagi kering. Sesungguhnya dalam kejadian diturunkannya air hujan dan ditumbuhkannya tanam-tanaman, benar-benar terdapat bukti petunjuk atas kuasa Allah untuk membangkitkan (yang sudah mati) dan (menunjukan) sifat keesaanNya bagi kaum yang mau mendengar dengan baik, merenung, taat kepada Allah dan bertakwa kepadaNya.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

wa inna lakum fil-an’āmi la’ibrah, nusqīkum mimmā fī buṭụnihī mim baini farṡiw wa damil labanan khāliṣan sā`igal lisy-syāribīn

 66.  Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

Sesungguhnya bagi kalian (wahai sekalian manusia), (dalam hewan-hewan ternak), yaitu unta, sapi dan kambing, benar-benar terdapat nasihat. Sesungguhnya kalian telah menyaksikan bahwa kami memberikan minum kepada kalian dari kelenjar-kelenjar susunya, berupa air susu yang keluar dari antara kotran (yang ada di dalam usus besar) dan darah, yang steril dari semua unsur yang mencemarinya, lezat, tidak menyebabkan orang yang menemuinya merasa tersedak.

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa min ṡamarātin-nakhīli wal-a’nābi tattakhiżụna min-hu sakaraw wa rizqan ḥasanā, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy ya’qilụn

 67.  Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

Dan diantara bentuk nikmat kami pada kalian adalah apa yang kalian ambil dari bauh-bauh pohon kurma dan anggur lalu kalian proses menjadi minuman khamr yang memabukan, (ini sebelum turun ayat pengharamannya) dan makanan yang enak. Sesungguhnya dalam kenikmatan yang disebutkan terdapat bukti petunjuk tentang kekuasaan Allah bagi kaum yang memahami bukti-bukti kebenaran dan mengambil pelajaran darinya.

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

wa auḥā rabbuka ilan-naḥli anittakhiżī minal-jibāli buyụtaw wa minasy-syajari wa mimmā ya’risyụn

 68.  Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,

Dan tuhanmu (wahai nabi) telah mengilhamkan pada lebah, ”buatlah untukmu sarang-sarang di gunung-gunung dan di pohon-pohon dan dalam ruagan yang dibangun manusia seperti rumah-rumah dan atap-atap.

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

ṡumma kulī ming kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā, yakhruju mim buṭụnihā syarābum mukhtalifun alwānuhụ fīhi syifā`ul lin-nās, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn

 69.  kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Dan kemudian makanlah dari setiap buah apa yang kamu sukai lalu tempuhlah jalan-jalan tuhanmu yang telah ditundukan bagimu untuk mendapatkan rizki di gunung-gunung dan sela-sela antara pepohonan, Sesungguhnya Allah telah menjadikannya mudah bagimu kamu tidak akan salah jalan untuk kembali meskipun berjarak jauh. Akan keluar dari perut-peru lebah itu cairan madu dengan berbagi warna yang berbeda-beda seperti putih, kuning, merah, dan warna lainnya. Didalamnya terdapat sumber kesembuhan bagi manusia dari penyakit-penyakit. Sesunggguhnya dalam hal-hal yang dilakukan oleh lebah benar-benar terkandung bukti kuat yang menunjukan kuasa penciptanya bagi orang yang berpikir dan kemudian mengambil pelajaran.

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

wallāhu khalaqakum ṡumma yatawaffākum wa mingkum may yuraddu ilā arżalil-‘umuri likai lā ya’lama ba’da ‘ilmin syai`ā, innallāha ‘alīmung qadīr

 70.  Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Dan Allah menciptakan kalian kemudian mematikan kalian pada akhir umur kalian. Dan diantara kalian ada orang yang dikembalikan kepada masa usia terburuk, yaitu masa pikun, sebagaimna keadaannya pada masa kanak-kanak, ia menjadi tidak mengetahui apa-apa dari apa yang telah diketahuinya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha kuasa, dan ilmu serta kekuasaannya meliputi segala sesuatu, maka Allah lah yang mengembalikan manusia kepada keadaan ini, Dia mahakuasa untuk mematikan dan kemudian membangkitkannya kembali.

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

wallāhu faḍḍala ba’ḍakum ‘alā ba’ḍin fir-rizq, fa mallażīna fuḍḍilụ birāddī rizqihim ‘alā mā malakat aimānuhum fa hum fīhi sawā`, a fa bini’matillāhi yaj-ḥadụn

 71.  Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?.

Dan Allah telah mengutamakan sebagian dari kalian atas sebagian yang lain di kehidupan dunia dalam urusan rizki yang Dia berikan kepada kalian. Maka diantara kalian ada orang yang kaya, dan diantara kalian ada orang yang kekurangan. Dan diantara kalian ada orang yang menjadi tuan dan diantara kalian ada yang menjadi sahaya. Para tuan tidak ingin memberikan kepada sahaya-sahaya miliknya dari karunia yang Allah anugerahkan kepada tuan-tuan itu sesuatu yang menjadikan sahaya-sahaya itu sekutu-sekutu bagi mereka yang sederajat dengan mereka dalam urusan kekayaan. Apabila tuan-tuan itu tidak menerima hal tersebut bagi diri mereka, maka bagaiamana mereka bisa ridha mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah dari hamba-hambaNYa? sesungguhnya tindakan ini benar-benar termasuk bentuk kezhaliman dan pengingkaran terbesar terhadap nikmat-nikmat Allah

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

wallāhu ja’ala lakum min anfusikum azwājaw wa ja’ala lakum min azwājikum banīna wa ḥafadataw wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāt, a fa bil-bāṭili yu`minụna wa bini’matillāhi hum yakfurụn

 72.  Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”

Allah menciptakan istri-istri dari jenis kalian supaya jiwa kalian tentram bersama mereka, dan Dia menciptakan dari istri-istri itu anak-anak dan dari keturunan mereka cucu-cucu. Dan Dia memberikan rizki kepada kalian berupa makanan-makanan yang baik-baik dari jenis buah-buahan, biji-bijian dan daging-daging dan lain sebagainya. Apakah terhadap kebatilan dari tuhan-tuhan sekutu mereka beriman sedang mereka mengingkari nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya, dan tidak bersyukur kepadaNya dengan mengesakan Allah dengan peribadahan?

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lā yamliku lahum rizqam minas-samāwāti wal-arḍi syai`aw wa lā yastaṭī’ụn

 73.  Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun).

Orang-orang musyrik menyembah berhala-berhala yang tidak kuasa untuk memberikan kepada mereka sesuatu dari rizki, baik dari langit seperti air hujan maupun dari bumi seperi hasil tanaman. Berhala-berhala itu tidak memiliki apapun dan tidak ada jalan dari mereka untuk memiliknya, sebab mereka sesungguhnya tidak mempunyai kuasa.

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

fa lā taḍribụ lillāhil-amṡāl, innallāha ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

 74.  Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Dan jika kalian telah mengetahui berhala-berhala dan patung-patung tidak berkuasa memberikan manfaat, maka janganlah kalian (wahai sekalian manusia), mengadakan bagi Allah tandingan-tandingan yang diserupakan denganNya dari makhlukNya, yang kalian persekutukan mereka dengan Allah dalam peribadahan. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalain perbuat, sedang kalian lalai, tidak menyadari kekeliruan dan buruknya kesudahan kalian.

۞ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

ḍaraballāhu maṡalan ‘abdam mamlụkal lā yaqdiru ‘alā syai`iw wa mar razaqnāhu minnā rizqan ḥasanan fa huwa yunfiqu min-hu sirraw wa jahrā, hal yastawụn, al-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

 75.  Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.

Allah mengadakan perumpamaan yang Dia menjelasakan melalui perumpaan itu kerusakan keyakinan orang-orang musyrik(yaitu): ada seorang lelaki yang berstatus budak belian, tidak berdaya untuk bertindak bagi dirinya sendiri, tidak memiliki apa-apa dan seorang lelaki lain yang merdeka, ia mempunyai harta yang halal yang Allah rizkikan kepadanya, kendali pengaturan keuangannya di tangannya, ia menginfakan dari uangnya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah akan ada orang yang berakal yang mengatakan sama antara keadaan dua orang lelaki tersebut? Demikian pula Allah yang maha pencipta maha memiliki , yang maha berbuat apa saja, Dia tidak sama dengan makhluk dan hamba-hambaNya, bagiamana bisa kalian menyetarakan antara Allah dan makhlukNya? segala puji bagi Allah semata. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak dipuji dan disanjung. Namun kebanyakan orang-orang musyrik tidak menyadari bahwa segala pujian dan kenikmatan itu milik Allah, dan sesungguhnya Dialah semata yang berhak diibadahi.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa ḍaraballāhu maṡalar rajulaini aḥaduhumā abkamu lā yaqdiru ‘alā syai`iw wa huwa kallun ‘alā maulāh, ainamā yuwajjihhu lā ya`ti bikhairin hal yastawī huwa wa may ya`muru bil-‘adli wa huwa ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

 76.  Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?

Dan Allah mengadakan perumpamaan lain terkait kebatilan kesyirikan, yaitu; dua orang, salah satunya bisu lagi buta tidak dapat memahami dan tidak dapat memahamkan, ia tidak dapat bermanfaat bagi diri sendiri atau bagi orang lain, justru ia menjadi beban berat bagi orang yang menangani urusannya dan menghidupinya, bila diutus untuk suatu urusan yang harus diselesaikannya, ia tidak berhasil, dan ia tidak kembali dengan membawa kebaikan. Dan seseorang yang lain, berpanca indra normal, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, memerintahkan untuk berbuat adil, dan dia berada di atas jalan yang lurus yang jelas tanpa ada kebengkokan padanya, apakah sama dua orang tersebut dalam pandangan orang-orang berakal? mengapa kalian mempersamakan antara berahala-berhala yang bisu lagi buta dengan Allah yang maha kuasa lagi maha pemberi segala kebaikan.

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa lillāhi gaibus-samāwāti wal-arḍ, wa mā amrus-sā’ati illā kalam-ḥil-baṣari au huwa aqrab, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

 77.  Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dan bagi Allah lah pengetahuan semua yang ghaib di langit dan di bumi. Dan tidaklah perihal hari kiamat terkait kecepatan kejadiannya kecuali seperti penglihatan sekilas dengan pandangan mata, bahkan lebih cepat dari itu, sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wallāhu akhrajakum mim buṭụni ummahātikum lā ta’lamụna syai`aw wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abṣāra wal-af`idata la’allakum tasykurụn

 78.  Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Dan Allah telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu-ibu kalian sesudah masa kehamilan sedang kalian tidak mengetahui apapun yang ada di sekitar kalian, kemudia Allah menjadikan bagi kalian sarana-sarana pengetahuan berupa pendengeran, penglihatan, dan hati. Mudah-mudahan kalian beryukur kepada Allah , atas nikmat-nikmat tersebut. Dan mengesakan Allah dengan ibadah.

أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a lam yarau ilaṭ-ṭairi musakhkharātin fī jawwis-samā`, mā yumsikuhunna illallāh, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

 79.  Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.

Tidakkah orang-orang musyrik itu memandang burung-burung yang dimudahkan untuk beterbangan di udara antara langit dan bumi dengan ketetapan Allah? tidak ada yang menahan mereka dari terjatuh kebawah, kecuali Allah dengan kekuatan yang diciptakanNya bagi burung-burung itu berupa sayap-sayap dan ekor sehingga mebiuatnya mampu untuk melakukan hal tersebut. Sesungguhnya pada kejadian memudahkan terbang dan menahan dari jatuh terdapat petunjuk-petunjuk kebenaran bagi orang-orang yang beriman dengan bukti-bukti kebenaran yang menunjukan kuasa Allah.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

wallāhu ja’ala lakum mim buyụtikum sakanaw wa ja’ala lakum min julụdil-an’āmi buyụtan tastakhiffụnahā yauma ẓa’nikum wa yauma iqāmatikum wa min aṣwāfihā wa aubārihā wa asy’ārihā aṡāṡaw wa matā’an ilā ḥīn

 80.  Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

Dan Allah menjadikan bagi kalian melalui rumah-rumah kalian ketenangan dan ketentraman bersama keluarga kalian, ketika kalian tengah bermukim di kampung halaman sendiri, dan Dia juga menjadikan bagi kalian dalam safar kalian kemah-kemah dan tenda-tenda tinggi dari bahan kulit-kulit binatang ternak, yang ringan bagi kalian untuk mengangkutnya ketika kalian berpindah tempat, dan ringan bagi kalian untuk mendirikannya ketika kalian memutuskan tinggal di suatu tempat setelah berpindah dari satu tempat ke temapt lain. Dan Dia juga menjadikan bagi kalian dari bulu-bulu domba, kulit-kulit unta dan kulit-kulit kambing perabotan yang kalian gunakan berupa kain-kain, pakaian-pakaian dan penutup-penutup, hamparan tikar, hiasan yang kalian nikmati hingga ajal dan waktu tertentu.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

wallāhu ja’ala lakum mimmā khalaqa ẓilālaw wa ja’ala lakum minal-jibāli aknānaw wa ja’ala lakum sarābīla taqīkumul-ḥarra wa sarābīla taqīkum ba`sakum, każālika yutimmu ni’matahụ ‘alaikum la’allakum tuslimụn

 81.  Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).

Dan Allah menjadikan bagi kalian sesuatu yang kalian berteduh dengannya berupa pepohonan dan lain-lain, dan menjadikan bagi kalian di gunung-gunung berupa lorong-lorong dan gua-gua tempat kalian berlindung di sana saat kalain butuhkan, dan menjadikan bagi kalian pakaian-pakaian dari bahan kapas, bulu domba, dan lain-lain yang melindungi kalian dari terik panas dan hawa dingin. Dan menjadikan bagi kalian dari bahan besi perangkat yang menghindarkan kalian dari tikaman dan serangan dari dalam perang-perang kalian. Sebagaimana Dia telah melimpahkan kenikmatan pada kalian dengan nikmat-nikmat ini, Dia (juga) menyempurnakan nikmatnya bagi kalain dengan menerangkan Agama yang haq, supaya kalian berserah diri kepada perintah Allah semata, dan tidak mempersekutukan sesuatu denganNya dalam beribadah kepadaNYa.

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

fa in tawallau fa innamā ‘alaikal-balāgul-mubīn

 82.  Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Kemudian bila mereka berpaling darimu (wahai rasul), setelah menyaksikan bukti-bukti kekuasan Allah, maka janganlah kamu bersedih. TIdak ada kewajiban atasmu selain menyampaiakan dengan jelas risalah yang kamu diutus untuk mengembannya. sedangkan hidayah urusannya terserah kepada kami.

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

ya’rifụna ni’matallāhi ṡumma yungkirụnahā wa akṡaruhumul-kāfirụn

 83.  Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.

Orang-orang musyrik mengetahui nikmat Allah bagi mereka dengan diutusnya Muhammad kepada mereka. Kemudian mereka mengingkari kenabiannya. Dan kebanyakan dari kaumnya adalah orang-orang yang mengingkarinya, tidak mengakui kebenarannya.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

wa yauma nab’aṡu ming kulli ummatin syahīdan ṡumma lā yu`żanu lillażīna kafarụ wa lā hum yusta’tabụn

 84.  Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf.

Dan sebutkanlah kepada mereka (wahai rasul), peristiwa yang akan terjadi pada hari kiamat tatkala kami membangkitkan dari setiap umat rasulnya masing-masing sebagai saksi atas keimanan orang yang beriman dari umat itu dan kekafiran orang-orang kafir. Kemudian tidak diizinkan lagi bagi orang-orang kafir untuk mengajukan permohonan maaf atas tindakan yang muncul dari mereka dan tidak diminta dari mereka unuk membuat tuhan mereka ridha kepada mereka dengan bertaubat dan beramal shalih, karena sesungguhnya telah berlalu kesempatan utuk itu.

وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

wa iżā ra`allażīna ẓalamul-‘ażāba fa lā yukhaffafu ‘an-hum wa lā hum yunẓarụn

 85.  Dan apabila orang-orang zalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak puIa mereka diberi tangguh.

Dan apabila orang-orang kafir telah menyaksikan siksaan Allah di akhirat, maka tidak diringankan bagi mereka dari siksaan itu sedikitpun, dan mereka tidak diberi penangguhan serta tidak di tunda lagi siksaan mereka.

وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَاءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُو مِنْ دُونِكَ ۖ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَاذِبُونَ

wa iżā ra`allażīna asyrakụ syurakā`ahum qālụ rabbanā hā`ulā`i syurakā`unallażīna kunnā nad’ụ min dụnik, fa alqau ilaihimul-qaula innakum lakāżibụn

 86.  Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau”. Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang dusta”.

Dan apabila pada hari kiamat kaum musyrikin melihat tuhan-tuhan sesembahan mereka yang dahulu mereka sembah bersama Allah (didunia), mereka berkata, ”wahai tuhan kami mereka itu adalah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain Engkau,” maka tuhan-tuhan sesembahan itu berbicara mendustakan orang-orang yang menyembahnya, dan berkata, ”sesungguhnya kalian itu (wahai kaum musyrikin), benar-benar berbohong tatkala menjadikan kami sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dan menyembah kami bersamaNya. Kami tidak pernah meminta kalian untuk itu, dan kami tidak pula beranggapan bahwa kami behak dipertuhankan. jadi, celaan hanya terhadap kalian saja.

وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ ۖ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa alqau ilallāhi yauma`iżinis-salama wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

 87.  Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.

Orang-orang musyrik menampakan penyerahan diri dan ketundukan kepada Allah pada hari kiamta dan sirnalah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan berupa kebohongan-kebohongan bahwa sesungguhnya sesembahan mereka dapat memberi syafaat untuk mereka.

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

allażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi zidnāhum ‘ażāban fauqal-‘ażābi bimā kānụ yufsidụn

 88.  Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.

Orang-orang yang mengingkari keesaan Allah dan kenabianmu (wahai rasul), dan mendustakan kamu dan menghalng-halangi kamu dan menghalang-halangi orang lain untuk beriman kepada Allah dan rasulNya, kami tambahkan kepada mereka siksaan akibat kekafiran mereka dan siksaan atas tindakan mereka menghalangi manusia dari mengikuti kebenaran. Siksaan demikian ini disebabkan kesengajaan mereka untuk melakukan kerusakan dan menyesatkan para hamba dengan kekafiran dan maksiat.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

wa yauma nab’aṡu fī kulli ummatin syahīdan ‘alaihim min anfusihim wa ji`nā bika syahīdan ‘alā hā`ulā`, wa nazzalnā ‘alaikal-kitāba tibyānal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmataw wa busyrā lil-muslimīn

 89.  (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika pada hari kiamat kami akan membangkitkan dari setiap umat dari umat-umat manusia seorang saksi atas mereka, yaitu rasul yang Allah utus kepada mereka yang berasal dari mereka sendiri dan berbicara dengan bahasa mereka. Dan Kami datangkan kamu (wahai rasul) sebagai saksi atas umatmu. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan al-qur’an kepadamu sebagai penjelas setiap perkara yang membutuhkan keterangan, seperti hukum-hukum halal dan haram, pahala dan hukuman, dan lain sebaginya, dan agar menjadi sumber hidayah dari jalan kesesatan dan rahmat bagi orang yang mengimaninya dan melaksanakannya dan kabar gembira yang baik bagi kaum mukminin tentang baiknya tempat kembali mereka.

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

innallāha ya`muru bil-‘adli wal-iḥsāni wa ītā`i żil-qurbā wa yan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya’iẓukum la’allakum tażakkarụn

 90.  Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Sesungguhnya Allah memerintahakan hamba-hambaNya di dalam al-qur’an ini untuk berbuat adil dan berlaku obyektif terhadap hakNya, dengan mengesakanNya dan tidak mempersekutukanNya, dan juga terhadap hak-hak hamba-hambaNYa dengan memberikan hak kepada orang yang berhak mendapatkannya, juga memerintahkan (orang lain) untuk berbuat baik terhadap hakNya dalam beribadah kepadaNya dan menjalankan kewajiban-kewajiabnNya sebagaimana yang disyariatkannya dan kepada sesama makhluk dalam ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, memerintahakan untuk memberi orang-orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan sesuatu yang mewujudkan silaturahmi dan kebaikan bagi mereka, dan melarang dari setiap yang buruk baik ucapan maupun perbuatan dan semua yang diingkari dan tidak disukai oleh syariat seperti zhalim kepada manusia dan menindas mereka. Dan melalui perintah dan larangan ini, Allah menasihati kalian dan mengingkatkan dampaknya supaya kalian mengingat-ingat perintah-perintah Allah dan memperoleh manfaat darinya.

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

wa aufụ bi’ahdillāhi iżā ‘āhattum wa lā tangquḍul-aimāna ba’da taukīdihā wa qad ja’altumullāha ‘alaikum kafīlā, innallāha ya’lamu mā taf’alụn

 91.  Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Dan berkomitmenlah untuk menepati setiap janji yang telah kalian wajibkan atas diri kalian antara diri kalian dengan Allah , dan antara kalian dan manusia dalam perkara yang tidak berseberangan dengan kitabullah dan sunnah nabiNya, dan janganlah kalain menarik sumpah-sumpah setelah kalain menguatkannya, sedang kalian sungguh telah menjadikan Allah sebagai wakil dan penjamin bagi kalian tatkala kalian menjalin perjanjian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat dan akan memberi kalian balasan sesuai dengan itu.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

wa lā takụnụ kallatī naqaḍat gazlahā mim ba’di quwwatin angkāṡā, tattakhiżụna aimānakum dakhalam bainakum an takụna ummatun hiya arbā min ummah, innamā yablụkumullāhu bih, wa layubayyinanna lakum yaumal-qiyāmati mā kuntum fīhi takhtalifụn

 92.  Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Dan janganlah kalain membatalkan perjanjian-perjanjian kalian, sehingga perumpamaan kalian seperi seorang wanita yang telah memintal benang-benang dan merapikannya, kemudian ia mengurainya. Kalian menjadikan sumpah-sumpah yang kalian ucapkan ketika membuat perjanjian sebagai alat tipuan terhadap pihak yang kalian menjalin perjanjian dengannya, dan kalian membatalkan perjanjian kalian tatkala kalian menjumpai golongan yang lebih banyak harta dan manfaatnya daripada orang-orang yang kalian jalin perjanjian dengan mereka(sebelumnya). Sesungguhnya Allah menguji kalian dengan perintah yang tertuju kepada kalian untuk memenuhi janji-janji dan Dia melarang kalian dari melanggarnya, dan supaya Dia menjelaskan kepada kalian pada hari kiamat apa yang kalian perselisihkan di dunia, yaitu untuk beriman kepada Allah dan kenabian Muhammad .

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

walau syā`allāhu laja’alakum ummataw wāḥidataw wa lākiy yuḍillu may yasyā`u wa yahdī may yasyā`, wa latus`alunna ‘ammā kuntum ta’malụn

 93.  Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

Dan sekiranya Allah menghendaki, pastilah Dia akan memberikan taufik kepada kalain semuanya, lalu menjadikan kalian diatas satu ajaran agama, yaitu islam dan iman dan memastikan kalian dengannya. Akan tetapi, Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dari orang yang Dia mengetahui dirinya lebih menyukai kesesatan, sehingga DIa tidak memberikan hidayah kepadanya sebagai bentuk keadilan dariNya, dan Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya dari orang yang Dia ketahui bahwa orang tersebut lebih mementingkan kebenaran, lalu memberikan taufik kepadanya sebagai karunia dariNya. Dan sungguh Allah akan benar-benar bertanya kepada kalian semua pada hari kiamat tentang apa yang kalian perbuat di dunia terkait perkara apa yang diperintahkanNya kepada kalian dan perkara yang Dia larang kalian darinya, dan akan membalas kalian atas dasar semua itu.

وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

wa lā tattakhiżū aimānakum dakhalam bainakum fa tazilla qadamum ba’da ṡubụtihā wa tażụqus-sū`a bimā ṣadattum ‘an sabīlillāh, wa lakum ‘ażābun ‘aẓīm

 94.  Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.

Dan janganlah kalian menjadikan dari sumpah-sumpah yang kalian ucapkan sebagai alat tipu daya terhadap orang-orang yang kalian bersumpah di hadapan mereka, akibatnya kalian akan binasa setelah sebelumnya kalian menikmati keadaan aman, seperti orang yang terpeleset kakinya setelah berpijak teguh, dan kalian akan merasakan siksaan yang menyakiti kalian di dunia lantaran usaha yang kalain tempuh untuk menghalangi orang lain dari agama ini dikarenakan mereka menyaksikan penghianatan terhadap janji pada diri kalian, dan bagi kalian di akhirat kelak siksaan yang besar.

وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ إِنَّمَا عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa lā tasytarụ bi’ahdillāhi ṡamanang qalīlā, innamā ‘indallāhi huwa khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

 95.  Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Dan janganlah kalian membatalkan perjanjian dengan Allah, untuk menggantinya dengan kekayaan yang sedikit dari kesenangan dunia. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah berupa pahala atas menepati perjanjian adalah lebih utama bagi kalian daripada imbalan harga yang sedikit tersebut, jika kalian termasuk orang-orang yang berilmu. Maka renungilah perbedaan antara kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

mā ‘indakum yanfadu wa mā ‘indallāhi bāq, wa lanajziyannallażīna ṣabarū ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya’malụn

 96.  Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

apa yang ada di sisi kalian berupa harta benda dunia akan lenyap. Sedangkaan apa yang ada di sisi Allah bagi kalian berupa rizki, dan pahala, tidak akan pernah sirna. Dan sungguh Kami akan memberikan balasan pahala bagi orang-orang yang mau bersusah payah mengemban beban-beban taklif, (termasuk di dalamnya menepati janji) dengan balasan yang lebih baik dari amal perbuatan mereka. Kami memberikan pahala kepada mereka atas amal perbuatan mereka yang terendah sebagaimana Kami pun memberikan balasan kepada mereka atas amal-amal tertinggi mereka sebagai karunia dari kami.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa lanuḥyiyannahụ ḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya’malụn

 97.  Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik lelaki maupun perempuan, sedang ia beriman kepada Allah dan rasulNya, maka Kami akan beri dia kehidupan bahagia dan tentram di dunia, walaupun dia tidak banyak memiliki harta, dan kami benar-benar akan memberikan balasan pahala bagi mereka di akhirat dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka perbuat di dunia.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

fa iżā qara`tal-qur`āna fasta’iż billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm

 98.  Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

Kemudian, bila kamu (wahai orang mukmin) hendak membaca sebagian dari al-qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan setan yang terusir dari rahmat Allah dengan membaca, ”a’udzu billahi minasy syaithanirrajiim”

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

innahụ laisa lahụ sulṭānun ‘alallażīna āmanụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

 99.  Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

innamā sulṭānuhụ ‘alallażīna yatawallaunahụ wallażīna hum bihī musyrikụn

 100.  Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

99-100. Sesungguhnya setan tidak mempunyai kemampuan menguasai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan kepada tuhan mereka saja, mereka itu bersandar. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah pada orang-orang yang menjadikannya sebagai penolong bagi mereka dan mereka juga menaatinya, dan juga terhadap orang-orang yang karena taat kepada setan, mereka mepersekutukan Allah .

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ ۙ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa iżā baddalnā āyatam makāna āyatiw wallāhu a’lamu bimā yunazzilu qālū innamā anta muftar, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

 101.  Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.

Dan apabila Kami menggantikan satu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah maha pencipta lebih mengetahui kemaslahatan makhluk-makhlukNya melalui hukum-hukum yang diturunkanNYa dalam berbagai waktu yang berbeda-beda, orang-orang kafir berkata, ”sesungguhnya kamu (wahai Muhammad), seorang pembohong yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah yang tidak pernah Dia firmankan,” padahal Muhammad bukanlah seperti orang yang mereka duga-duga. akan tetapi, karena kebanyakan mereka tidak mempunyai ilmu tentang tuhan mereka, syariat dan hukum-hukumNya.

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

qul nazzalahụ rụḥul-qudusi mir rabbika bil-ḥaqqi liyuṡabbitallażīna āmanụ wa hudaw wa busyrā lil-muslimīn

 102.  Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”al-qur;an bukanlah sesuatu yang diada-adakan dari diriku. Akan tetapi, jibril turun membawanya dari tuhanmu dengan benar dan adil, demi meneguhkan kaum mukminin dan petunjuk dari kesesatan, serta kabar gembira yang baik bagi orang-orang yang berserah diri dan tunduk kepada Allah, rabbul ‘alamin.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

wa laqad na’lamu annahum yaqụlụna innamā yu’allimuhụ basyar, lisānullażī yul-ḥidụna ilaihi a’jamiyyuw wa hāżā lisānun ‘arabiyyum mubīn

 103.  Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa kaum musyrikin mengatakan ”sesungguhnya nabi memperoleh al-qur’an dari seseorang yang berasal dari anak keturunan adam.” mereka dusta (dalam pernyataannya itu). Sebab sesungguhnya bahasa orang yang mereka kaitkan Nabi belajar kepadanya adalah bahasa ‘ajam (selain bahasa arab) yang tidak fasih, sedangkan al-qur’an berbahasa arab yang berada dalam puncak kefasihan dan kejelasan

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīna lā yu`minụna bi`āyātillāhi lā yahdīhimullāhu wa lahum ‘ażābun alīm

 104.  Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.

Sesungguhnya orang-orang kafir yang tidak mengimani al-qur’an, Allah tidak memberikan taufik kepada mereka untuk mencapai kebenaran, dan bagi mereka di akhirat siksaan menyakitkan lagi pedih.

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

innamā yaftaril-każiballażīna lā yu`minụna bi`āyātillāh, wa ulā`ika humul-kāżibụn

 105.  Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.

Sesungguhnya yang mengada-adakan kedustaan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan ayat-ayatNya. Dan mereka itu adalah orang-orang yang berdusta dalam pernyataan mereka itu. Sedangkan Muhammad yang beriman kepada tuhannya lagi tunduk kepadaNya, maka mustahil baginya untuk berdusta atas nama Allah dan mengucapkan apa yang tidak difirmankanNya.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

mang kafara billāhi mim ba’di īmānihī illā man ukriha wa qalbuhụ muṭma`innum bil-īmāni wa lākim man syaraḥa bil-kufri ṣadran fa ‘alaihim gaḍabum minallāh, wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm

 106.  Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

żālika bi`annahumustaḥabbul-ḥayātad-dun-yā ‘alal-ākhirati wa annallāha lā yahdil-qaumal-kāfirīn

 107.  Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

106-107. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan tiada lain hanyalah orang yang mengucapkan kata-kata kekafiran dan telah murtad meninggalkan keimanannya. Maka kemurkaan dari Allah akan menimpa mereka kecuali orang yang dipaksa mengucapkan kata-kata kekafiran, lalu mengucapkannya lantaran takut akan binasa, sedang hatinya tetap teguh di atas keimanan, maka tidak ada celaan atas dirinya. Akan tetapi orang yang mengucapkan kata-kata kekafiran, sedang hatinya tenang-tenang saja dengannya, maka mereka mendapatkan kemurkaan besar dari Allah , dan bagi mereka siksaan yang besar. Demikian itu, disebabkan oleh kehendak mereka untuk mengedepankan dunia dan pesonanya dan mengutamkannya diatas akhirat dan balasan pahalanya. Dan bahwasannya Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang kafir, dan tidak mencurahkan taufik kepada mereka menuju kebenaran dan jalan lurus.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

ulā`ikallażīna ṭaba’allāhu ‘alā qulụbihim wa sam’ihim wa abṣārihim, wa ulā`ika humul-gāfilụn

 108.  Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah telah mengunci hati mereka dengan kekafiran dan lebih mendahulukan dunia di atas akhirat, sehingga cahaya hidayah tidak sampai kepada mereka, dan menyumbat pendengaran mereka dari ayat-ayat Allah, sehingga tidak dapat mendengarnya dengan penuh perenungan serta membutakan penglihatan mereka, sehingga tidak dapat memperhatikan bukti-bukti kebenaran yang menunujukan uluhiyah Allah. Dan mereka itulah orang-orang lalai dari siksaan yang Allah siapakan bagi mereka.

لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

lā jarama annahum fil-ākhirati humul-khāsirụn

 109.  Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.

Adalah benar bahwasannya di akhirat kelak mereka adalah orang-orang yang merugi lagi binasa, yaitu orang-orang yang telah memalingkankan hidup mereka dalam perkara yang berujung siksaaan dan kebinasaan bagi mereka.

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma inna rabbaka lillażīna hājarụ mim ba’di mā futinụ ṡumma jāhadụ wa ṣabarụ, inna rabbaka mim ba’dihā lagafụrur raḥīm

 110.  Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

kemudian tuhanmu terhadap orang-orang yang tertindas tanpa daya di makkah yang disiksa oleh orang-orang musyrikin hingga mereka(terpaksa) menuruti mereka secara zhahir dalam keyakinan mereka yakini, lalu menguji mereka dengan menyuruh mereka mengucapkan perkataan yang membuat orang-orang tersebut (kaum musyrikin) senang, sedang hati-hati mereka tetap tentram dengan keimanan, dan tatkala memungkinkan bagi mereka melepaskan diri, mereka pun berhijrah ke madinah, kemudian berjihad di jalan Allah, dan bersabar menghadapi beban-beban taklif, sesungguhnya tuhanmu, (setelah mereka bertaubat), benar-benar maha pengampun lagi maha penyayang terhadap mereka.

۞ يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَنْ نَفْسِهَا وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

yauma ta`tī kullu nafsin tujādilu ‘an nafsihā wa tuwaffā kullu nafsim mā ‘amilat wa hum lā yuẓlamụn

 111.  (Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan).

Dan peringatkanlah mereka (wahai rasul), terhadap hari kiamat ketika setiap jiwa datang mendebat dirinya sendiri dan mengajukan berbagai alasan. Dan Allah akan menyempurnakan bagi setiap jiwa balasan semua yang ia perbuat, tanpa menzhaliminya. Dan tidak menambahi mereka hukuman dan tidak mengurangi pahala mereka.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

wa ḍaraballāhu maṡalang qaryatang kānat āminatam muṭma`innatay ya`tīhā rizquhā ragadam ming kulli makānin fa kafarat bi`an’umillāhi fa ażāqahallāhu libāsal-jụ’i wal-khaufi bimā kānụ yaṣna’ụn

 112.  Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.

Dan Allah telah membuat satu perumpamaan negeri makkah yang sebelumnya aman dari penindasan dan terbebas dari kesulitan hidup, yang mana rizkinya datang melimpah ruah lagi mudah ke negeri itu dari segala penjuru, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah yang tercurah pada mereka, dan mereka mempersekurukan (sesuatu) denganNya, serta tidak mensyukurinya, maka Allah menimpakan pada mereka hukuman kelaparan dan ketakuatn terhadap pasukan-pasukan ekspedisi dan bala tentara Rasululah yang membuat nyali mereka ciut. Demikian itu disebabkan kekafiran dan tindakan batil mereka.

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

wa laqad jā`ahum rasụlum min-hum fa każżabụhu fa akhażahumul-‘ażābu wa hum ẓālimụn

 113.  Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Dan sungguh Allah telah mengutus kepada penduduk makkah seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu nabi Muhammad , yang mereka kenal garis nasabnya, kejujuran dan amanahnya, namun mereka enggan menerima risalah yang dibawa olehnya dan tidak mengimaninya, maka hukuman menerjang mereka, berupa kesengsaraan-kesengsaaraan hiidup, kelaparan, cekaman rasa takut dan terbunuhnya para pembesar mereka di perang badar, sedang mereka adalah orang-orang zhalim terhadap diri mereka dengan kesyirikan kepada Allah dan menghalangi (orang) dari jalan Allah.

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

fa kulụ mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wasykurụ ni’matallāhi ing kuntum iyyāhu ta’budụn

 114.  Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

Maka makanlah wahai oarang-orang mukmin, dari apa yang Allah rizkikan kepada kalian dan menjadikannya halal lagi baik bagi kalain, dan syukurilah nikmat-nikmat Allah yang terlimpah pada kalian, dengan mengakuinya dan mempergunakannya dalam ketaatan kepada Allah, jika kalian adalah orang-orang yang tunduk kepada perintahNya, juga mendengar dan taat kepadaNya, kalian hanya beribadah kepadaNya semata, tidak ada sekutu bagiNya.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

innamā ḥarrama ‘alaikumul-maitata wad-dama wa laḥmal-khinzīri wa mā uḥilla ligairillāhi bih, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa innallāha gafụrur raḥīm

 115.  Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atas kalian bangkai binatang darah yang mengalir dari hewan sembelihan ketika disembelih, daging babi, dan binatang yang disembelih untuk selain Allah. Akan tetapi orang yang terjepit oleh keadaan darurat akibat raasa takut terhadap kematian sehingga terpaksa memakan sesuatu dari hal-hal yang diharamkan ini, sedang ia tidak berbuat kezhaliman, dan tidak berbuat melampaui batas kriteria keadaan darurat, maka sesunggguhnya Allah maha pengampun baginya lagi maha penyayang terhadapnya, tidak menghukumnya atas perbuatan yang ia lakukan itu.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

wa lā taqụlụ limā taṣifu alsinatukumul-każiba hāżā ḥalāluw wa hāżā ḥarāmul litaftarụ ‘alallāhil-każib, innallażīna yaftarụna ‘alallāhil-każiba lā yufliḥụn

 116.  Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

Dan janganlah kalain (wahai kaum musyrikin) mengatakan pernyataan dusta yang disebut oleh lisan-lisan kalian bahwa ini halal terhadap perkara yang diharamkan Allah, dan ini haram terhadap perkara yang dihalalkan Allah demi mengadakan kebohongan atas nama Allah dengan menisbatkan penghalalan dan pengharaman itu kepadaNya. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, mereka tidak akan beruntung mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

matā’ung qalīluw wa lahum ‘ażābun alīm

 117.  (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.

Kekayaan mereka di dunia adalah kekayaan yang akan sirna lagi sedikit, dan bagi mereka di akhirat siksaan yang menyakitkan.

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

wa ‘alallażīna hādụ ḥarramnā mā qaṣaṣnā ‘alaika ming qabl, wa mā ẓalamnāhum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

 118.  Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Dan terhadap orang-orang yahudi, kami mengharamkan apa yang telah kami beritahukan kepadamu (wahai rasul) sebelumnya, yaitu setiap binatang yang berkuku, lemak-lemak sapi dan kambing, kecuali apa yang melekat pada punggung-punggung dan usus besarnya atau yang bercampur dengan tulang. Dan kami tidaklah menzhalimi mereka dengan mengharamkan itu bagi mereka, akan tetapi mereka itu telah menzhalimi diri mereka dengan kekafiran dan tindakan melampaui batas, sehingga mereka pantas atas diharamkan semua itu sebagai hukuman bagi mereka.

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma inna rabbaka lillażīna ‘amilus-sū`a bijahālatin ṡumma tābụ mim ba’di żālika wa aṣlaḥū inna rabbaka mim ba’dihā lagafụrur raḥīm

 119.  Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kemudain sesungguhnya tuhanmu terhadap orang-orang yang berbuat maksiat-maksiat saat dalam ketidaktahuannya tentang dampak buruknya dan penyebab datangnya kemurkaan dari Allah, (setiap orang yang berbuat maksiat kepada Allah tanpa sengaja atau disengaja, ia adalah orang bodoh ditinjau dari sisi ini walaupun ia mengetahui pengharamannya) kemudian mereka kembali kepada Allah dari dosa-dosa yang mereka perbuat dan memperbaiki diri dan perbuatan-perbuatan mereka, sesungguhnya tuhanmu (setelah mereka bertaubat dan memperbaiki diri) benar-benar mahapengampun lagi maha penyayang terhadap mereka.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

inna ibrāhīma kāna ummatang qānital lillāhi ḥanīfā, wa lam yaku minal-musyrikīn

 120.  Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

syākiral li`an’umihijtabāhu wa hadāhu ilā ṣirāṭim mustaqīm

 121.  (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.

وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

wa ātaināhu fid-dun-yā ḥasanah, wa innahụ fil-ākhirati laminaṣ-ṣāliḥīn

 122.  Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

120-122. Sesungguhnya ibrahim adalah seorang imam (panutan) dalam kebaikan, orang yang taat dan tunduk kepada Allah, tidak miring dari agama islam, seorang yang mengesakan Allah, tidak mempersekutukanNya, dan ia seorang yang bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah padanya. Allah memilihnya untuk mengemban risalahnya, dan menunjukinya kedalam jalan yang lurus, yaitu jalan islam, dan kami berikan kepadanya di dunia ini berupa kenikmatan yang baik, berupa sanjungan terhadapnya di tengah orang-orang yang datang belakangan, juga sebagai teladan baik, dan juga putra yang shalih. Sesungguhnya dia di sisi Allah di akhirat kelak benar-benar termasuk orang-orang yang shalih, orang-orang yang mendapatkan kedudukan yang tinggi.

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

ṡumma auḥainā ilaika anittabi’ millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn

 123.  Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Kemudian kami wahyukan kepadamu (wahai rasul), agar kamu mengikuti ajaran islam sebagaimana ibrahim telah mengikutinya dan agar kamu istiqamah (lurus) diatasnya. Dan jangan menyimpang darinya. Sesungguhnya ibrahim bukanlah termasuk orang-orang musyrik yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah.

إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

innamā ju’ilas-sabtu ‘alallażīnakhtalafụ fīh, wa inna rabbaka layaḥkumu bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

 124.  Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.

Sesungguhnya Allah hanya mewajibkan menghormati hari sabtu untuk berkonsentrasi dalam ibadah atas orang-orang yahudi yang telah berselisih padanya tentang nabi mereka, dan lebih memilihnya sebagai ganti hari jumat yang mereka sebenarnya diperintah untuk mengagungkannya. Dan sesungguhnya tuhanmu (wahai rasul), benar-benar akan memutuskan ketetapan diantara orang-orang yang berselisih pada hari kiamat, dalam perkara yang mereka berselisih paham padanya terhadap nabi mereka dan akan memberikan balasan bagi masing-masing sesuai dengan balasan yang berhak diterimnya.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan, inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

 125.  Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Serulah (wahai rasul) oleh mu dan orang-orang yang mengikutimu kepada agama tuhanmu dan jalanNya yang lurus dengan cara bijakasana yang telah Allah wahyukan kepadamu di dalam al-qur’an dan -sunnah. Dan bicaralah kepada manusia dengan metode yang sesuai dengan mereka, dan nasihati mereka dengan baik-baik yang akan mendorong mereka menyukai kebaikan dan menjauhkan mereka dari keburukan. Dan debatlah mereka dengan cara perdebatan yang terbaik, dengan halus dan lemah lembut. sebab tidak ada kewajiban atas dirimu selain menyampaikan, Dan sungguh engkau telah menyampaikan, adapun hidayah bagi mereka terserah kepada Allah semata. Dia lebih tahu siapa saja yang sesat dari jalanNya dan Dia lebih tahu orang-orang yang akan mendapatkan hidayah.

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

wa in ‘āqabtum fa ‘āqibụ bimiṡli mā ‘ụqibtum bih, wa la`in ṣabartum lahuwa khairul liṣ-ṣābirīn

 126.  Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Dan bila kalian (wahai kaum mukmimin) hendak membalas terhadap orang-orang yang bertindak zhalim kepada kalian, maka janganlah membalas melebihi apa yang mereka perbuat terhadapt kalian. Dan bila kalian mau bersabar itu benar-benar lebih baik bagi kalian di dunia dengan mendapat kemenangan, dan di akhirat dengan mendapat pahala besar.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

waṣbir wa mā ṣabruka illā billāhi wa lā taḥzan ‘alaihim wa lā taku fī ḍaiqim mimmā yamkurụn

 127.  Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

Dan besabarlah kamu (wahai rasul), terhadap gangguan yang menimpamu di jalan Allah sampai datang kepadamu jalan keluar. Dan tidaklah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah yang menolongmu untuk tetap bersabar dan meneguhkan(hati) mu, dan janganlah kamu bersedih menghadapi orang yang menentangmu dan tidak menyambut dakwahmu, dan janganlah kamu berduka terhadap makar dan tipu daya mereka. Sesunggguhnya tindakan mereka itu akan berbalik kepada mereka dengan keburukan dan kejelekan.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

innallāha ma’allażīnattaqaw wallażīna hum muḥsinụn

 128.  Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sesungguhnya Allah dengan taufik, pertolongan, dan pembelaanNya , bersama orang-orang yang takut kepadaNya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi apa-apa yang Dia larang, dan juga bersama orang-orang yang berbuat baik dalam menunaikan apa-apa yang Dia fardhukan dan melaksanakan hak-hakNYa, dan senantiasa taat kepadaNYa.

Related: Surat al-Isra Arab-Latin, Surat al-Kahfi Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Maryam, Terjemahan Tafsir Surat Thaha, Isi Kandungan Surat al-Anbiya, Makna Surat al-Hajj

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!