Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Kahfi

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ

Arab-Latin: al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajā

Terjemah Arti:  1.  Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

segala sanjungan hanya bagi Allah dengan sifat-sifatNya yang kesemuanya adalah sifat-sifat kesempurnaan, dan juga karena nikmat-nikmatNya yang tampak maupun yang tidak tampak, nikmat agama maupun duniawi, yang telah memberi karunia dengan menurunkan al-qur’an pada hamba dan rasulNya, Muhammad , dan tidak mengadakan sesuatupun ajaran yang melenceng dari kebenaran di dalamnya.

قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

qayyimal liyunżira ba`san syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā

 2.  sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

mākiṡīna fīhi abadā

 3.  mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

2-3. Allah menjadikannya kitab yang lurus, tidak ada pertentangan dan kontradiksi di dalamnya; untuk memberikan peringatan kepada orang-orang kafir dari siksaan yang pedih yang berasal dari sisiNya, dan memberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya yang beramal shalih bahwa sesungguhnya bagi mereka pahala melimpah, yaitu surga. Mereka akan berdiam dalam kenikmatan tersebut, tidak akan pergi terpisah darinya selamanya.

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladā

 4.  Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak”.

Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang musyrik yang berkata, ”Allah mengambil seorang anak. ”

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā li`ābā`ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqụlụna illā każibā

 5.  Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

Kaum musyrikin sama sekali tidak memiliki pengetahuan sedikitpun pada mereka atas apa yang mereka dakwakan bagi Allah, yaitu mengambil seorang anak, sebagaimana para pendahulu mereka yang mereka ikuti. Alangkah parah ungkapan buruk yang keluar dari mulut-mulut mereka. Apa yang mereka ucapkan hanyalah ucapan dusta saja.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

fa la’allaka bākhi’un nafsaka ‘alā āṡārihim il lam yu`minụ bihāżal-ḥadīṡi asafā

 6.  Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).

Mungkin saja (engkau wahai rasul), akan membinasakan dirimu sendiri lantaran kedukaan dan kesedihan akibat penolakan kaummu dan mereka berpaling darimu, ketika mereka belum mau beriman kepada Al-qur’an ini dan mengamalkannya.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

innā ja’alnā mā ‘alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu ‘amalā

 7.  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di muka bumi berupa makhluk-mahkluk lain sebagai penghias baginya dan kemanfaatan bagi para penghuninya, agar kami dapat menguji mereka, siapakah dari mereka yang terbaik amalannya dengan taat kepada Kami dan siapakah dari mereka yang paling buruk tindakannya dengan berbuat berbagai macam maksiat. Dan kami akan memberi balasan kepada masing-masing mereka dengan balasan yang sesuai.

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

wa innā lajā’ilụna mā ‘alaihā ṣa’īdan juruzā

 8.  Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar menjadikan apa yang terdapat di muka bumi dari perhiasan tersebut ketika dunia berakhir berupa tanah yang tanpa tumbuh-tumbuhan sama sekali di dalamnya.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا

am ḥasibta anna aṣ-ḥābal-kahfi war-raqīmi kānụ min āyātinā ‘ajabā

 9.  Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

Janganlah engaku (wahai rasul), menyangka bahwa sesungguhnya kisah para penghuni gua itu dan batu pualam yang tertulis di atasnya nama-nama mereka termasuk tanda-tanda Kami yang menakjubkan lagi aneh. sebab, penciptaan langit dan bumi dan segala isinya lebih menakjubkan dari kisah itu.

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālụ rabbanā ātinā mil ladungka raḥmataw wa hayyi` lanā min amrinā rasyadā

 10.  (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Ingatlah (wahai rasul) ketika sejumlah pemuda yang beriman kepada Allah mencari tempat berlindung ke dalam gua, karena takut menghadapi fitnah dari kaum mereka yang dilancarkan kepada mereka dan paksaan terhadap mereka untuk menyembah berhala-berhala. Mereka berkata, ”wahai tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisiMu untuk meneguhkan kami dengannya dan melindungi kami dari keburukan. Dan mudahkanlah bagi kami jalan yang benar yang mengantarkan kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai, sehinga kami menjadi manusia-manusia yang lurus, bukan orang-orang yang sesat.

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

fa ḍarabnā ‘alā āżānihim fil-kahfi sinīna ‘adadā

 11.  Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,

Maka Kami lemparkan kepada mereka tidur yang nyenyak sehingga mereka berdiam di sana dalam jangka waktu yang lama.

ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

ṡumma ba’aṡnāhum lina’lama ayyul-ḥizbaini aḥṣā limā labiṡū amadā

 12.  Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).

Kemudian kami bangunkan mereka dari tidur mereka, untuk Kami tampakan kepada manusia apa yang telah Kami ketahui sejak azali, sehingga jelas perbedaan pihak mana dari dua pihak yang saling berbeda pendapat yang lebih tepat dalam menghitung; apakah mereka tinggal selama sehari, atau hanya sebagian hari saja, ataukah dalam waktu yang lama.

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

naḥnu naquṣṣu ‘alaika naba`ahum bil-ḥaqq, innahum fityatun āmanụ birabbihim wa zidnāhum hudā

 13.  Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.

Kami akan menceritakan kepadamu (wahai rasul), berita tentang mereka dengan benar. Sesungguhnya para penghuni gua itu adalah para pemuda yang beriman kepada tuhan mereka dan menyambut seruanNya dan Kami menambahkan mereka petunjuk dan keteguhan di atas kebenaran.

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

wa rabaṭnā ‘alā qulụbihim iż qāmụ fa qālụ rabbunā rabbus-samāwāti wal-arḍi lan nad’uwa min dụnihī ilāhal laqad qulnā iżan syaṭaṭā

 14.  Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

Dan Kami kokohkan hati mereka dengan iman dan Kami kuatkan tekad mereka dengannya ketika mereka berdiri di hadapan raja kafir yang mencela mereka karena enggan menyembah berhala-berhala. Mereka berkata kepadanya. ”Rab kami yang kami sembah adalah tuhan yang menguasai langit dan bumi. Kami tidak akan sekali-kali menyembah sembahan selainNya. jika kami mengatakan ucapan yang lain, maka kami sungguh telah mengucapkan kata-kata yang melenceng lagi jauh dari kebenaran. ”

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

hā`ulā`i qaumunattakhażụ min dụnihī ālihah, lau lā ya`tụna ‘alaihim bisulṭānim bayyin, fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibā

 15.  Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

Kemudian sebagain mereka berkata kepada sebagian yang lain, ”kaum kita telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah bagi mereka. Mengapa mereka tidak mengemukakan dalil yang jelas atas penyembahan mereka (terhadap berhala-berhala) itu? Siapakah yang lebih parah tindakan kezhalimannya daripada orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah dengan menisbatkan sekutu kepadaNya dalam ibadah kepadaNYa?”

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

wa iżi’tazaltumụhum wa mā ya’budụna illallāha fa`wū ilal-kahfi yansyur lakum rabbukum mir raḥmatihī wa yuhayyi` lakum min amrikum mirfaqā

 16.  Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Dan ketika kalian meninggalkan kaum kalian dengan membawa keyakinan kalian dan kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan mereka sembah, kecuali beribadah kepada Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua yang berada di gunung untuk beribadah kepada tuhan kalian semata, niscaya tuhan kalian akan melimpahkan sebagian rahamatNya bagi kalian, sehingga Dia meliputi kalian dengannya di dunia dan akhirat dan memudahkan urusan-urusan kalian yang bermanfaat bagi kalian dalam kehidupan kalian yang terkait dengan sebab-sebab mencari penghidupan.

۞ وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

wa tarasy-syamsa iżā ṭala’at tazāwaru ‘ang kahfihim żātal-yamīni wa iżā garabat taqriḍuhum żātasy-syimāli wa hum fī fajwatim min-h, żālika min āyātillāh, may yahdillāhu fa huwal-muhtadi wa may yuḍlil fa lan tajida lahụ waliyyam mursyidā

 17.  Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

maka ketika mereka melakukannya, Allah melemparkan tidur pada mereka dan melindungi mereka. Dan engkau lihat (wahai orang yang menyiksakan mereka langsung), matahari jika terbit dari arah timur lebih menyorong ke arah kanan dari tempat mereka, dan jika terbenam, maka menjauhi mereka ke arah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalam gua. Panasnya terik matahari tidak mengenai mereka, dan udarapun tidak putus dari mereka. Keadaan yang kami kondisikan bagi para pemuda itu termasuk bukti kuasa Allah. Barangsiapa diberi taufik oleh Allah untuk mendapatkan hidayah maka dialah yang di beri taufik menuju kebenaran, dan barangsiapa yang belum dikaruniai taufik oleh Allah untuk itu, maka engkau tidak akan menemukan baginya seorang penolong yang akan menuntutnya menuju kebenaran. Sebab pemberian taufik, atau di biarkan jauh dari hidayah hanya di tangan Allah semata.

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

wa taḥsabuhum aiqāẓaw wa hum ruqụduw wa nuqallibuhum żātal-yamīni wa żātasy-syimāli wa kalbuhum bāsiṭun żirā’aihi bil-waṣīd, lawiṭṭala’ta ‘alaihim lawallaita min-hum firāraw wa lamuli`ta min-hum ru’bā

 18.  Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.

dan kamu (wahai orang yang menyaksikan langsung) akan mengira para penghuni gua itu dalam keadaan terjaga, padahal mereka faktanya tertidur. Kami terus memantaui mereka dengan penuh perhatian. Saat tidur, kami sesekali membolak-balikan mereka ke arah kanan dan sesekali kearah sisi kiri; agar permukaan tanah tidak merusak tubuh mereka. Dan anjing mereka yang menemani mereka membentangkan dua lengannya di pelataran depan gua. Seandainya engkau melihat mereka langsung niscaya engkau bebalik lari dari mereka, dan engkau akan dipenuhi rasa ketakutan.

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

wa każālika ba’aṡnāhum liyatasā`alụ bainahum, qāla qā`ilum min-hum kam labiṡtum, qālụ labiṡnā yauman au ba’ḍa yaụm, qālụ rabbukum a’lamu bimā labiṡtum, fab’aṡū aḥadakum biwariqikum hāżihī ilal-madīnati falyanẓur ayyuhā azkā ṭa’āman falya`tikum birizqim min-hu walyatalaṭṭaf wa lā yusy’iranna bikum aḥadā

 19.  Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.

Dan sebagaimana Kami telah mencurahkan kenikmatan kepada mereka dan menjaga mereka dalam masa yang panjang tersebut, Kami bangunkan mereka dari tidur mereka dalam bentuk fisik semula tanpa ada perubahan sedikitpun. Agar sebagian mereka bertanya kepada sebgaian yang lain, ”berapa lama waktu kita tinggal tidur di sini?” sebagain mereka berkata, ”kita tingggal selama sehari atau sebagian hari saja.” orang-orang lain yang bingung menentukan masa waktunya mengatakan, ”serahkan pengetahuan itu kepada Allah, karena tuhan kalian lebih mengetahui tentang jangka waktu kita tinggal di sini. Suruhlah salah seorang diantara kalian dengan membawa uang perak kalian ke tengah kota kita dan hendaknya dia melihat siapakah dari penduduk kota yang makanannya paling halal dan paling baik. Maka hendaklah ia membawa bekal makanan darinya untuk kalian, dan hendaklah dia belaku lemah lembut terhadap penjual dalam membelinya supaya kita tetap tidak terbongkar dan keberadaan kita tidak ketahuan. Dan hendaklah ia jangan pernah menceritakan tentang kalian kepada siapaun dari manusia.

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

innahum iy yaẓ-harụ ‘alaikum yarjumụkum au yu’īdụkum fī millatihim wa lan tufliḥū iżan abadā

 20.  Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.

Sesungguhnya kaum kalian, jika mengetahui keberadaaan kalian, niscaya mereka akan melempari kalian dengan bebatuan, sehingga merekapun dapat menghabisi kalian atau mengembalikan kalian kedalam ajaran agama mereka, akibatnya kalianpun menjadi orang-orang kafir dan tidak dapat memperoleh keingingan kalian, bila kalian melakukannya, yaitu memasuki surga yang abadi. ”

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

wa każālika a’ṡarnā ‘alaihim liya’lamū anna wa’dallāhi ḥaqquw wa annas-sā’ata lā raiba fīhā, iż yatanāza’ụna bainahum amrahum fa qālubnụ ‘alaihim bun-yānā, rabbuhum a’lamu bihim, qālallażīna galabụ ‘alā amrihim lanattakhiżanna ‘alaihim masjidā

 21.  Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.

Sebagaimana Kami telah membuat mereka tidur selama bertahun-tahun yang panjang kemudian kami bangunkan mereka setelah itu, maka Kami singkapkan bagi orang-orang masa itu tentang mereka, setelah penjual menyadari jenis uang dirham yang dibawa oleh utusan mereka. Supaya umat manusai menjadi yakin bahwa sesungguhnya janji Allah untuk membangkitkan makhluk yang telah mati itu benar adanya, dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi, tidak ada keraguan tentangnya. Yaitu ketika orang-orang telah berhasil mengetahui para penghuni gua berselisih pendapat tentang hari kiamat, ada yang menetapkannya dan ada yang mengingkarinya. Maka Allah menjadikan pengetahuan mereka tentang berita para penghuni gua sebagai hujjah bagi kaum mukminin di hadapan orang-orang yang ingkar. Dan setelah keadaaan mereka terbongkar dan mereka meninggal, sekelompok orang yang menggetahui perihal mereka mengatakan ”Dirikanlah sebuah bangunan yang akan menutup mereka di depan pintu gua. Dan biarkanlah mereka dan keadaan mereka; tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” orang-orang yang mengendalikan kekuasaan di tengah mereka berkata, ”sesungguhnya kami akan membuat tempat peribadahan di tempat mereka untuk beribadah(disana).” Dan sungguh Rasululah telah melarang menjadikan kubur-kubur para nabi dan orang shalih sebagai masjid, dan melaknat orang-orang yang melakukannya dalam beberapa pesan terakhir beliau bagi umatnya. Sebagaimana beliau juga melarang mendirikan banguan di atas kubur secara mutlak, dan mengecat dan menulis sesuatu di atasnya. sebab tindakan ini termasuk guluw(tindakan melampaui batas) yang dapat menyeret terhadap penyembahan terhadap orang yang di kubur di dalamnya.

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

sayaqụlụna ṡalāṡatur rābi’uhum kalbuhum, wa yaqụlụna khamsatun sādisuhum kalbuhum rajmam bil-gaīb, wa yaqụlụna sab’atuw wa ṡāminuhum kalbuhum, qur rabbī a’lamu bi’iddatihim mā ya’lamuhum illā qalīl, fa lā tumāri fīhim illā mirā`an ẓāhiraw wa lā tastafti fīhim min-hum aḥadā

 22.  Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

Sebagain dari orang-orang yang larut dalam pembicaraan tentang urusan para pemuda penghuni gua dari kalangan ahli kitab mengatakan, ”Mereka berjumlah tiga orang yang keempat adalah anjing mereka.” golongan lain mengatakan ”mereka empat orang, dan yang kelima adalah anjing mereka.” ungkapan dua pihak itu hanya omongan dengan dasar praduga belaka, tanpa bukti dalil yang benar. Golongan ketiga menyebutkan ”mereka berjumlah tujuh orang, dan yang kedelapan ialah anjing mereka.” katakanlah (wahai rasul) ”tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. tidak ada yang mengetahui jumlah mereka, kecuali sedikit saja dari makhluk mereka.” maka janganlah mendebat ahli kitab tentang jumlah mereka(pemuda ashabul kahfi) itu, kecuali perdebatan pada perkara yang jelas saja, tidak sampai mendalam. akan tetapi ceritakanlah kepada mereka sebatas apa yang diberitakan oleh wahyu kepadamu saja. Janganlah kamu menanyakan kepada mereka tentang jumlah dan keadaan mereka, sebab sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

wa lā taqụlanna lisyai`in innī fā’ilun żālika gadā

 23.  Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,

إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

illā ay yasyā`allāhu ważkur rabbaka iżā nasīta wa qul ‘asā ay yahdiyani rabbī li`aqraba min hāżā rasyadā

 24.  kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

23-24. Dan janganlah mengatakan sesuatu yang engkau berniat untuk melakukannya, ”aku akan melakukan sesuatu itu besok.” kecuali engkau menggantungkan ucapanmu dengan kehendak Allah. Yaitu engkau mengatakan, ”insya Allah” dan ingatlah kepada tuhanmu ketika engkau lupa mengucapkan ”insya Allah” dan tiap kali engkau lupa, maka berdzikirlah(mengingat dan menyebut Allah) sebab mengingat Allah akan menghilangkan lupa. Dan katakanlah “semoga tuhanku akan menunjukan kepadaku jalan paling dekat yang mengantarkan menuju hidayah dan petunjuk yang lurus.

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

wa labiṡụ fī kahfihim ṡalāṡa mi`atin sinīna wazdādụ tis’ā

 25.  Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).

para pemuda itu tinggal dalam keadaan tidur di gua mereka selama tiga ratus sembilan tahun lamanya.

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

qulillāhu a’lamu bimā labiṡụ, lahụ gaibus-samāwāti wal-arḍ, abṣir bihī wa asmi’, mā lahum min dụnihī miw waliyy, wa lā yusyriku fī ḥukmihī aḥadā

 26.  Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.

Dan bila engkau (wahai rasul), ditanya tentang lama masa tinggal mereka di dalam gua, sedang engkau tidak punya pengetahuan tentang itu dan tergantung pada berita dari Allah , maka janganlah engkau menyampaikan dahulu dalam masalah itu dengan sesuatu berita apapun. akan tetapi ucapkalah, ”Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal. KepunyaanNya semua tersembunyi di langit dan dibumi. Alangkah terang penglihatan dan pendengaran Allah, serta pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada seorangpun dari makhlukNya selainNya yang mengurusi mereka. Dia tidak punya sekutu dalam penetapan hukum, ketentuan, dan aturan syariatNya. Maha suci Allah.

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ ۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

watlu mā ụḥiya ilaika ming kitābi rabbik, lā mubaddila likalimātih, wa lan tajida min dụnihī multaḥadā

 27.  Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.

Dan bacalah (wahai rasul), apa yang diwahyukan Allah kepadamu berupa al-qur’an karena sesungguhnya ia adalah kitab yang tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatnya karena kebenaran dan keadilannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan tempat untuk menyelamatkan diri dan tempat berlindung selain kepada tuhanmu.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

waṣbir nafsaka ma’allażīna yad’ụna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdụna waj-hahụ wa lā ta’du ‘aināka ‘an-hum, turīdu zīnatal-ḥayātid-dun-yā, wa lā tuṭi’ man agfalnā qalbahụ ‘an żikrinā wattaba’a hawāhu wa kāna amruhụ furuṭā

 28.  Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Dan bersabarlah dirimu (wahai nabi), bersama-sama dengan para sahabatmu dari orang-orang mukmin yang fakir yang beribadah kepada tuhan mereka semata dan menyeruNya di pagi hari dan sore hari, sedang mereka menginginkan wajah Allah dengan itu. dan duduklah bersama mereka dan pergauli mereka. Dan janganlah kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada orang lain dari kalangan orang-orang kafir untuk tujuan mencari kesenangan dengan perhiasan kehidupan duniawi. Dan janganlah kamu menaati orang yang telah Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami dan dia lebih mengutamakan keinginan hawa nafsunya ketimbang menaati penguasanya dan keadaannya dalam seluruh perbuatannya menjadi sia-sia dan binasa.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

wa qulil-ḥaqqu mir rabbikum, fa man syā`a falyu`miw wa man syā`a falyakfur, innā a’tadnā liẓ-ẓālimīna nāran aḥāṭa bihim surādiquhā, wa iy yastagīṡụ yugāṡụ bimā`ing kal-muhli yasywil-wujụh, bi`sasy-syarāb, wa sā`at murtafaqā

 29.  Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Dan katakanlah kepada orang-orang yang lalai itu : “risalah yang aku bawa kepada kalian adalah kebenaran dari tuhan kalian. Maka barangsiapa diantara kalian yang mau mengimani dan mengamalkannya, maka segeralah dia melakukannya dan itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Dan barangsiapa ingin mengingkari, segeralah dia melakukannya, karena dia tidaklah menzhalimi kecuali dirinya sendiri. Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir api yang sangat panas yang panas apinya meliputi mereka. Jika orang-orang kafir itu meminta tolong di dalam api neraka dengan meminta air minum lantaran rasa haus yang mencekik, maka akan disodorkan kepada mereka air yang seperti minyak sangat panas yang akan membakar wajah-wajah mereka. Amat buruk minuman yang tidak meyeka rasa haus mereka, bahkan menambah rasa kehausan mereka. Dan amat buruk neraka sebagai tempat tinggal dan beristirahat. Dalam ayat ini terkandung ancaman dan peringatan keras bagi orang yang berpaling dari kebenaran, dia tidak beriman kepada risalah Muhammad dan tidak mengamalkan tuntutannya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti innā lā nuḍī’u ajra man aḥsana ‘amalā

 30.  Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya dan mengerajakan amal shalih, bagi mereka balasan baik yang paling besar. Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala-pahala mereka, dan tidak pula menguranginya atas kebajikan yang mereka perbuat sebaik-baiknya.

أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

ulā`ika lahum jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihimul-an-hāru yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa yalbasụna ṡiyāban khuḍram min sundusiw wa istabraqim muttaki`īna fīhā ‘alal-arā`ik, ni’maṡ-ṡawāb, wa ḥasunat murtafaqā

 31.  Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;

Mereka yang beriman itu, bagi mereka surga-surga yang akan mereka diami selamanya, mengalir sungai-sungai air tawar di bawah kamar-kamar dan hunian-hunian mereka. Di dalam surga, mereka di hiasi gelang-gelang dari emas, dan mereka mengenakan pakaian-pakaian berwarna hijau yang di sulam dari sutra halus dan sutra tebal. Di dalamnya mereka duduk-duduk bersandar di atas dipan-dipan yang terhiasi oleh kelambu-kelambu yang indah. sebaik-baik pahala adalah pahala yang mereka raih dan amat baik surga menjadi hunian dan tempat tinggal bagi mereka.

۞ وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

waḍrib lahum maṡalar rajulaini ja’alnā li`aḥadihimā jannataini min a’nābiw wa ḥafafnāhumā binakhliw wa ja’alnā bainahumā zar’ā

 32.  Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.

Dan buatlah (wahai rasul) perumpamaan bagi orang-orang kafir dari kaummu; dua lelaki dari umat terdahulu yang salah satunya mukmin, yang kedua kafir, dan kami telah adakan bagi orang yang kafir dua bidang kebun dari tanaman anggur dan kami pagari dua kebun itu dengan pohon kurma yang banyak, dan di tengah kebun itu kami tumbuhkan berbagai macam tanaman yang bermanfaat.

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

kiltal-jannataini ātat ukulahā wa lam taẓlim min-hu syai`aw wa fajjarnā khilālahumā naharā

 33.  Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,

Masing-masing dua kebun itu telah mendatangkan hasil buahnya dan tidak berkurang buahnya sedikitpun. Dan kamipun telah membelah anatara dua kebun itu dengan sebuah aliran sungai untuk menyirami dua kebun itu dengan mudah dan ringan.

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

wa kāna lahụ ṡamar, fa qāla liṣāḥibihī wa huwa yuḥāwiruhū ana akṡaru mingka mālaw wa a’azzu nafarā

 34.  dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”

Sang pemilik dua kebun itu memiliki buah-buahan dan kekayaan lainnya. Maka ia berkata kepada temannya yang mukimin untuk mengobrol dengannya, sedang rasa sial dengan keadaanya sendiri menjejali jiwanya, ”aku lebih banyak memiliki harta daripada kamu, dan para pengikut serta pendukungku lebih kuat. ”

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

wa dakhala jannatahụ wa huwa ẓālimul linafsih, qāla mā aẓunnu an tabīda hāżihī abadā

 35.  Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

wa mā aẓunnus-sā’ata qā`imataw wa la`ir rudittu ilā rabbī la`ajidanna khairam min-hā mungqalabā

 36.  dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”.

35-36. Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia berbuat zhalim kepada dirinya dengan kekafiran terhadap kebangkitan makhluk pasca kematiannya dan keragu-raguannya terhadap kedatangan hari kiamat. Buah-buah di kebun mencengangkan dirinya. Dan dia pun berkomentar, ”aku tidak yakin kebun ini akan binasa sepanjang hidupku. Dan aku tidak yakin bahwa sesungguhnya hari kiamat akan terjadi. Bila memang akan terjadi (sebagaimana yang engkau sangkakan wahai orang mukmin) dan aku akan dikembalikan kepada tuhanku, pasti aku akan mendapatkan di sisiNya tempat kembali dan tempat berpulang yang lebih baik daripada kebun ini, karena kemuliaaan diriku dan kedudukanku di sisiNya.

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

qāla lahụ ṣāḥibuhụ wa huwa yuḥāwiruhū a kafarta billażī khalaqaka min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma sawwāka rajulā

 37.  Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?

Kawannya yang mukmin itu berkata kepadanya ketika dia berdiskusi dengannya dan menasihatinya, ”bagaimana kamu ingkar kepada Allah yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari tetesan air mani kedua orang tua, lalu Dia menjadikanmu makhluk yang sempurna, dengan perawakan yang sempurna?” dalam percakapan ini terdapat dalil bahwa Dzat yang maha kuasa memulai penciptaan, juga Dia maha kuasa untuk mengulang penciptaan mereka lagi.

لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا

lākinna huwallāhu rabbī wa lā usyriku birabbī aḥadā

 38.  Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.

“Akan tetapi, aku tidak mengatakan seperti pernytaanmu yang menunjukan kekafiranmu. Ucapanku adalah ‘Dzat yang memberi nikmat yang memberi karunia adalah Allah, tuhanku semata. Aku tidak menyekutukan seseorangpun dalam ibadahku kepadaNya’

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

walau lā iż dakhalta jannataka qulta mā syā`allāhu lā quwwata illā billāh, in tarani ana aqalla mingka mālaw wa waladā

 39.  Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,

فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا

fa asā rabbī ay yu`tiyani khairam min jannatika wa yursila ‘alaihā ḥusbānam minas-samā`i fa tuṣbiḥa ṣa’īdan zalaqā

 40.  maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;

أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا

au yuṣbiḥa mā`uhā gauran fa lan tastaṭī’a lahụ ṭalabā

 41.  atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”.

39-41. Dan mengapa sewaktu memasuki kebunmu, lalu kebunmu membuatmu berdecak kagum, kamu tidak memuji Allah dan mengucapkan, ’ini adalah kehendak Allah padaku. Tidak ada kekuatan bagiku untuk mewujudkannya kecuali dengan pertolongan Allah’ jika engkau anggap aku lebih sedikit harta dan anak-anak daripada kamu. ’ Maka semoga tuhanku memberiku sesuatu yang lebih baik daripada kebunmu dan mengambil kenikmatan darimu akibat kekafiranmu dan mengirim sisksaan dari langit pada kebunmu sehingga berubah menjadi tanah yang licin lagi gundul(gersang), di mana kaki tidak dapat menginjak dengan kuat, tanaman tidak dapat tumbuh di sana. Atau airnya yang kamu pakai untuk menyirami tanamunmu dengannya berubah menjadi surut ke dalam tanah, sehingga engkau tiidak dapat menggeluarkannya lagi, ”

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

wa uḥīṭa biṡamarihī fa aṣbaḥa yuqallibu kaffaihi ‘alā mā anfaqa fīhā wa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urụsyihā wa yaqụlu yā laitanī lam usyrik birabbī aḥadā

 42.  Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.

Dan nyatalah apa yang dikatakan oleh orang yang mukmin itu dan terjadilah kehancuran pada kebun tersebut, dan hancurlah semua yang ada di dalamnya. Akhirnya orang kafir itu membolak-balikan dua telapak tangannya sebagai ekspresi kekecewaan dan penyesalan terhadap apa yang dia belanjakan untuk kebun itu, sedang pohon-pohonnya roboh, sebagiannya tumbang menindih pohon lainnya dan dia berkata, ”sekiranya aku menyadari nikmat-nikmat Allah dan kekuasaanNya, serta tidak menyekutukan sesuatupun denganNya.” ini adalah rasa penyesalan darinya tatkala penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi.

وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا

wa lam takul lahụ fi`atuy yanṣurụnahụ min dụnillāhi wa mā kāna muntaṣirā

 43.  Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.

Dan dia tidak memiliki golongan yang dapat dia bangga-banggakan yang melindunginya dari siksaan Allah yang turun kepadanya, dan diapun sekali-kali tidak dapat mempertahankan diri dengan jiwa dan kekuatannya.

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

hunālikal-walāyatu lillāhil-ḥaqq, huwa khairun ṡawābaw wa khairun ‘uqbā

 44.  Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.

Dalam keadaan genting seperti ini, pembelaan dan pertolongan hanya hak Allah, Dzat yang maha haq. Dia sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan bagi oarng-orang yang dibelaNya dari para hambaNya yang beriman.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

waḍrib lahum maṡalal-ḥayātid-dun-yā kamā`in anzalnāhu minas-samā`i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi fa aṣbaḥa hasyīman tażrụhur-riyāḥ, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`im muqtadirā

 45.  Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dan buatkanlah wahai rasul, satu perumpamaan kepada manusia (terutama kepada orang-orang yang mempunyai sifat kesombongan dari mereka) perihal karakter dunia yang mereka telah terpedaya dengannya dalam pesona dan kesirnaannya yang cepat. Yaitu dunia itu adalah seperti air yang Allah turunkan dari langit, maka dengan itu tumbuhlah tanam-tanaman atas kehendakNya, dan berubah menjelma kehijauan. Dan tidak lama kemudian tanam-tanaman itu kering dan patah-patah yang diterbangkan oleh angin ke seluruh penjuru. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. maksudnya, mempunyai kekuasaan agung atas segala sesuatu.

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

al-mālu wal-banụna zīnatul-ḥayātid-dun-yā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairun amalā

 46.  Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Harta benda dan anak-anak adalah keindahan dan kekuatan di dunia yang fana ini, sedang amal-amal shalih (terutama bacaan tasbih, tahmid, dan takbir, serta tahlil) lebih besar pahalanya di sisi tuhanmu daripada kekayaan dan anak keturunan. Amal-amal shalih ini adalah hal yang paling utama diharapkan oleh manusia yang dapat menghasilkan pahala di sisi tuhannya, sehingga dia di akhirat kelak akan memperoleh apa yang diimpikannya di dunia.

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

wa yauma nusayyirul-jibāla wa taral-arḍa bārizataw wa ḥasyarnāhum fa lam nugādir min-hum aḥadā

 47.  Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.

Dan ingatkanlah kepada mereka wahai rasul, hari dimana Kami akan melenyepkapkan gunung-gunung dari tempat-tempatnya, dan kamu akan melihat bumi tampak datar, tidak ada seseuatupun di permukaanya yang menutupinya sebelumnya berada di atasnya, yaitu makhluk-makhluk, dan kami kumpulkan manusia-manusia terdahulu dan orang-orang belakangan menuju tempat hisab. Dan Kami tidak meninggalkan seorangpun dari mereka.

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا

wa ‘uriḍụ ‘alā rabbika ṣaffā, laqad ji`tumụnā kamā khalaqnākum awwala marratim bal za’amtum allan naj’ala lakum mau’idā

 48.  Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.

Dan mereka semua dihadapkan di depan tuhanmu dengan berbaris-baris, tidak ada seorangpun dari mereka yang tertutupi. Dan sungguh kami telah membangkitkan kalian (dari kematian) dan kalain datang kepada kami sendiri-sendiri, tidak ada harta dan anak yang menyertai kalian, sebagaimana sebelumnya Kami menciptakan kalian pertama kali, Bahkan kalian menyangka Kami sekali-kali tidak akan menentukan bagi kalian waktu untuk membangkitkan kalian, dan membalasi kalian atas semua perbuatan kalian.

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

wa wuḍi’al kitābu fa taral-mujrimīna musyfiqīna mimmā fīhi wa yaqụlụna yā wailatanā māli hāżal-kitābi lā yugādiru ṣagīrataw wa lā kabīratan illā aḥṣāhā, wa wajadụ mā ‘amilụ ḥāḍirā, wa lā yaẓlimu rabbuka aḥadā

 49.  Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.

Dan diletakkanlah kitab catatan amal perbuatan setiap orang di tangan kanan atau tangan kirinya. maka orang-orang yang berbuat maksiat melihat dengan penuh ketakutan terhadap isinya akibat apa yang telah mereka perbuat dahulu berupa kejahatan-kejahatan mereka, dan mereka ketika melihatnya dengan mata kepala mereka, mengatakan, ”celaka kami! kenapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil-kecil dari perbuatan kami dan yang besar-besar kecuali mencatatnya?!” Dan mereka mendapati semua yang mereka lakukan di dunia ada lagi tercatat. Dan tuhanmu tidak menzhalimi seseorang sebesar biji sawi sekalipun, sehingga orang yang taat tidak terkurangi pahalanya dan orang yang bermaksiat tidak ditambah hukumannya.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, kāna minal-jinni fa fasaqa ‘an amri rabbih, a fa tattakhiżụnahụ wa żurriyyatahū auliyā`a min dụnī wa hum lakum ‘aduww, bi`sa liẓ-ẓālimīna badalā

 50.  Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Dan ingatlah ketika Kami memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan, bukan penyembahan kepadanya, dan kami perintahkan iblis dengan apa yang diperintahkan kepada para malaikat. Malaikatpun bersujud semua. Namun iblis yang termasuk bangsa jin keluar dari ketaatan kepada tuhannya. Dia tidak bersujud didorong oleh rasa kesombongan dan kedengkian. Apakah kalian (wahai sekalain manusia) patut menjadikan ibils dan keturunannya sebagai pembela-pembela bagi kalian yang kalian taati, dan kalian meninggalkan ketaatan kepaadaKu, padahal mereka adalah musuh kalian yang paling berbahaya? amat buruk ketaatan orang-orang zhalim kepada setan sebagai ganti ketaatan kepada Allah yang maha pengasih.

۞ مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

mā asy-hattuhum khalqas-samāwāti wal-arḍi wa lā khalqa anfusihim wa mā kuntu muttakhiżal-muḍillīna ‘aḍudā

 51.  Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.

Aku tidak menghadirkan iblis dan keturunannya (yang kalian taati) dalam penciptaan langit dan bumi hingga Aku meminta pertolongan mereka untuk menciptakan keduanya, dan Aku pun tidak menghadirkan sebagian mereka untuk menyaksikan penciptaan sebagian yang lain, Namun, Aku sendiri yang menciptakan semua itu tanpa penolong dan pembantu. Dan Aku tidaklah mengambil makhluk-makhluk yang menyesatkan dari kalangan setan-setan dan lainnya sebagai para penolong. Maka bagaiamana kalain(wahai manusia) mengalihkan hakKu kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai para pelindung, bukan malah Aku, padahal Akulah semata pencipta segala sesuatu.

وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا

wa yauma yaqụlu nādụ syurakā`iyallażīna za’amtum fa da’auhum fa lam yastajībụ lahum wa ja’alnā bainahum maubiqā

 52.  Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: “Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu”. Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).

Dan sebutkanlah kepada mereka ketika Allah akan berfirman kepada orang-orang musyrik pada hari kiamat, ”panggilah sekutu-sekutuKu yang dahulu kalian anggap sebagai sekutu-sekutuKu dalam ibadah agar mereka dapat menolong kalian hari ini dari siksaan Ku.” maka mereka meminta pertolongan kepada mereka, akan tetapi mereka tidak dapat memberikan pertolongan bagi orang-orang musyrik tersebut. Dan Kami adakan bagi para penyembah dan yang disembah satu tempat kebinasaan di neraka jahanam, mereka semua akan binasa di sana.

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

wa ra`al-mujrimụnan-nāra fa ẓannū annahum muwāqi’ụhā wa lam yajidụ ‘an-hā maṣrifā

 53.  Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya.

Dan orang-orang yang gemar berbuat dosa melihat neraka, maka merekapun yakin bahwa sesungguhnya mereka akan berada di dalamnya tanpa bisa mengelak, dan mereka tidak menemukan tempat menghindar darinya untuk meninggalkan menuju tempat kalian.

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

wa laqad ṣarrafnā fī hāżal-qur`āni lin-nāsi ming kulli maṡal, wa kānal-insānu akṡara syai`in jadalā

 54.  Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

Dan sungguh Kami telah menerangkan dan memvariasikan di dalam al-qur’an ini banyak macam perumpamaan bagi sekalian manusia, agar mereka dapat mengambil pelajaran dengannya dan kemudian beriman. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat dan membantah,

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا

wa mā mana’an-nāsa ay yu`minū iż jā`ahumul-hudā wa yastagfirụ rabbahum illā an ta`tiyahum sunnatul-awwalīna au ya`tiyahumul-‘ażābu qubulā

 55.  Dam tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.

Dan tidaklah ada faktor yang menghalangi manusia untuk beriman (ketika datang kepada mereka rasul Muhammad dengan membawa al-qur’an) dan untuk memohon ampunan kepada tuhan mereka dan meminta maafNya bagi mereka, kecuali penentangan mereka terhadap rasul dan permintaan mereka agar mereka ditimpakan ketetapan Allah dalam membinasakan umat-umat yang mendahului mereka atau tertimpa siksaan Allah yang mereka lihat langsung.

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۚ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ۖ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا

wa mā nursilul-mursalīna illā mubasysyirīna wa munżirīn, wa yujādilullażīna kafarụ bil-bāṭili liyud-ḥiḍụ bihil-ḥaqqa wattakhażū āyātī wa mā unżirụ huzuwā

 56.  Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.

Dan kami tidak mengutus rasul-rasul ke tengah umat manusia kecuali agar para rasul itu menjadi orang-orang yang membawa kabar gembira berupa surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, serta memberikan kabar menakutkan bagi orang yang mengikuti kekafiran dan maksiat dari neraka. akan tetapi, kendatipun kebenaran itu sangat terang, orang-orang yang kafir tetap membantah para rasul dengan kebatilan-kebatilan sebagai bentuk penentangan agar dengan kebatilan itu, mereka dapat menghapus kebenaran yang dibawa oleh rasul. Dan mereka menjadikan kitabKu, hujjah-hujjahKu dan siksaan yang mereka diperingatkan dengannya sebagai bahan olokan dan ejekan.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

wa man aẓlamu mim man żukkira bi`āyāti rabbihī fa a’raḍa ‘an-hā wa nasiya mā qaddamat yadāh, innā ja’alnā ‘alā qulụbihim akinnatan ay yafqahụhu wa fī āżānihim waqrā, wa in tad’uhum ilal-hudā fa lay yahtadū iżan abadā

 57.  Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

Tidak ada orang yang lebih zhalim daripada orang yang diberi nasihat dengan ayat-ayat tuhannya yang nyata, namun dia pergi berpaling darinya menuju kebatilannya. Dia lupa apa yang telah diperbuat kedua tangannya, berupa tindakan-tindakan buruk sehingga dia tetap tidak mau kembali (kepada kebenaran). Sesungguhnya Kami menjadikan pada hati mereka penutup-penutup, sehingga mereka tidak dapat memahami al-qur’an dan tidak mengerti kebaikan yang ada di dalamnya. Dan kami jadikan pada telinga-telinga mereka sumbatan yang menyerupai ketulian. Sehingga mereka tidak dapat mendengarnya dan tidak dapat memperoleh manfaat darinya. Bila engkau ajak mereka untuk beriman, maka mereka tidak menerima dan tidak mengetahui jalan menuju Allah selama-lamanya.

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ ۚ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا

wa rabbukal-gafụru żur-raḥmah, lau yu`ākhiżuhum bimā kasabụ la’ajjala lahumul-‘ażāb, bal lahum mau’idul lay yajidụ min dụnihī mau`ilā

 58.  Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.

Dan tuhanmu maha pengampun terhadap dosa-dosa anak adam, jika mereka mau bertaubat. Dia mempunyai rahmat kepada mereka. kalau seandainya Dia menyegerakan azab bagi orang-orang yang berpaling dari ayat-ayatNya dikarenakan dosa-dosa yang mereka berbuat, dari dosa-dosa dan kesalahan, pastilah Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Namun Allah mahapenyantun, tidak menyegerakan siksaan. bahkan mereka itu sudah mempunyai ketentuan waktu yang mereka akan memperoleh balasannya sesuai dengan amal perbuatannya pada waktu tersebut. Tidak ada tempat berlindung dan tempat berlari darinya.

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا

wa tilkal-qurā ahlaknāhum lammā ẓalamụ wa ja’alnā limahlikihim mau’idā

 59.  Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.

negeri-negeri yang dekat dengan kalian itu (seperti negeri kaum Hud, shaleh, luth, dan negeri kuam syuaib) Kami telah binasakan negeri-negeri itu, ketika para penduduknya berbuat kezhaliman dengan berbuat kekafiran dan Kami telah menentukan waktu dan saat untuk kebinasaan mereka, ketika mereka telah sampai pada waktu tersebut, maka siksaan menimpa mereka, lalu Allah membinasakan mereka dengannya.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

wa iż qāla mụsā lifatāhu lā abraḥu ḥattā abluga majma’al-baḥraini au amḍiya ḥuqubā

 60.  Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

Dan ingatlah ketika musa berkata kepada pelayannya, yusya’ bin Nun, ”aku akan tetap meneruskan perjalananku hingga aku sampai pada tempat pertemuan dua lautan. atau aku akan terus berjalan dalam waktu yang lama hingga berjumpa dengan orang yang shalih itu untuk aku timba darinya ilmu yang tidak aku miliki.

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

fa lammā balagā majma’a bainihimā nasiyā ḥụtahumā fattakhaża sabīlahụ fil-baḥri sarabā

 61.  Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

Mereka berdua pun tetap bersungguh-sungguh meneruskan perjalanan. Ketika mereka telah sampai pada tempat pertemuan dua laut, mereka berdua duduk di sisi sebuah batu. Dan mereka melupakan ikan yang Musa diperintahkan untuk membawanya sebagai perbekalan bagi mereka berdua. Dan yusya’ membawanya di dalam sebuah keranjang. Tiba-tiba ikan itu menjadi hidup dan melompat menuju laut dan mengambil jalannya yang terbuka ke laut itu.

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا

fa lammā jāwazā qāla lifatāhu ātinā gadā`anā laqad laqīnā min safarinā hāżā naṣabā

 62.  Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

Maka ketika mereka meninggalkan tempat yang di situ mereka melupakan ikan, musa merasakan lapar. Diapun berkata kepada pelayannya, ”bawalah kemari makan siang kita. Sungguh kita telah mengalami kelelahan dalam perjalanan kita ini. ”

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

qāla a ra`aita iż awainā ilaṣ-ṣakhrati fa innī nasītul-ḥụta wa mā ansānīhu illasy-syaiṭānu an ażkurah, wattakhaża sabīlahụ fil-baḥri ‘ajabā

 63.  Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”.

Pelayannya berkata kepadanya, ”apakah engkau ingat ketika kita menepi ke sebuah batu tempat kita beristirahat disana? Sesungguhnya aku lupa memberitahumu apa yang terjadi pada ikan tersebut. Dan tidaklah ada yang melupakanku untuk mengabarkannya kepadamu kecuali setan. Sesungguhnya ikan yang mati itu telah muncul padanya tanda-tanda kehidupan dan melompat ke laut dan mengambil jalannya menuju ke dalam laut. Dan kejadian itu adalah perkara yang begitu menakjubkan.

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا

qāla żālika mā kunnā nabgi fartaddā ‘alā āṡārihimā qaṣaṣā

 64.  Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

Musa berkata, ”apa yang terjadi itulah yang kita sedang cari-cari, karena sesungguhnya itu pertanda bagiku tentang tempat hamba yang shalih itu. Maka mereka kembali menelusuri jejak-jejak langkah mereka hingga sampai ke tempat batu tersebut.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

fa wajadā ‘abdam min ‘ibādinā ātaināhu raḥmatam min ‘indinā wa ‘allamnāhu mil ladunnā ‘ilmā

 65.  Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Maka mereka berdua menjumpai seorang hamba yang shalih dari hamba-hambaKu, yaitu khadir (seorang nabi dari nabi-nabi Allah dan telah di wafatkan Allah) yang telah Kami berikan padanya rahmat dari sisi Kami dan Kami telah ajarkan kepadanya ilmu yang agung dari sisi Kami.

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

qāla lahụ mụsā hal attabi’uka ‘alā an tu’allimani mimmā ‘ullimta rusydā

 66.  Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Kemudian musa mengucapkan salam kepadanya, dan berkata kepadanya, ”apakah engkau mau mengizinkanku mengikutimu supaya engkau dapat mengajariku ilmu yang Allah telah ajarkan padamu yang dapat aku pegangi sebagai petunjuk dan bermanfaat bagiku?”

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

qāla innaka lan tastaṭī’a ma’iya ṣabrā

 67.  Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

Khadir berkata kepadnya, ”sesungguhnya engkau wahai musa, tidak akan mampu bersabar dalam mengikuti dan menyertaiku. ”

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

wa kaifa taṣbiru ‘alā mā lam tuḥiṭ bihī khubrā

 68.  Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Bagaimana mungkin engkau dapat bersabar menghadapi hal-hal yang akan aku perbuat yang pengetahuannya tersembunyi pada pandanganmu yang telah Allah ajarkan kepadaku?

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

qāla satajidunī in syā`allāhu ṣābiraw wa lā a’ṣī laka amrā

 69.  Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

Musa berkata kepadanya, ”insya Allah, engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang bersabar terhadap apa yang akan aku lihat darimu. Aku tidak melangggar perkara yang sudah engkau perintahkan kepadaku.

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

qāla fa inittaba’tanī fa lā tas`alnī ‘an syai`in ḥattā uḥdiṡa laka min-hu żikrā

 70.  Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

Maka khadir pun setuju dan berkata kepada Musa, ”jika engkau menyertaiku, maka janganlah engaku sekali-kali menanyakan kepadaku tentang sesuatu yang kamu ingkari, hingga nanti aku sendiri yang akan menjelaskan maksudnya kepadamu apa yang masih samar bagi dirimu tanpa bertanya dulu kepadaku. ”

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

fanṭalaqā, ḥattā iżā rakibā fis-safīnati kharaqahā, qāla a kharaqtahā litugriqa ahlahā, laqad ji`ta syai`an imrā

 71.  Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

Kemudian mereka berdua mulai berjalan di tepi laut. Lalu lewatlah sebuah perahu di hadapan mereka. Maka mereka berdua memohon kepada para penumpang kapal agar dapat menumpang bersama mereka. Lalu Seusai mereka menaikinya, khadir melepas satu bagian kayu kapal tersebut, hingga menyebabkan kapal berlubang. Maka musa berkata kepadanya, ”apakah engkau melubangi kapal agar engkau dapat menenggelamkan semua penumpangnya, padahal mereka telah rela mengangkut kita tanpa bayaran?! sungguh engkau telah berbuat tindakan yang mungkar. ”

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

qāla a lam aqul innaka lan tastaṭī’a ma’iya ṣabrā

 72.  Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.

Khadir berakata kepadanya, ”sungguh telah aku katakan kepadamu sejak pertama, ’sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar menyertaiku’

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا

qāla lā tu`ākhiżnī bimā nasītu wa lā tur-hiqnī min amrī ‘usrā

 73.  Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

Musa berkata untuk meminta maaf, ”janganlah engaku menyalahkan aku gara-gara aku lupa terhadap syarat yang engkau tetapkan atasku. Dan janganlah engkau membebani aku dengan satu beban berat untuk belajar darimu. Tolong perlakukanlah aku dengan mudah dan lembut. ”

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

fanṭalaqā, ḥattā iżā laqiyā gulāman fa qatalahụ qāla a qatalta nafsan zakiyyatam bigairi nafs, laqad ji`ta syai`an nukrā

 74.  Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

Khadir menerima permohonan maafnya. Kemudian mereka berdua keluar dari kapal itu. Maka ketika mereka berjalan di tepi laut, tiba-tiba mereka melihat anak kecil sedang bermain dengan sekumpulan anak-anak lainnya. kemudian khadir membunuhnya. Maka musa pun mengingkari perbuatan khadir dan berkata, ”bagaimana engkau membunuh jiwa yang masih suci, belum mencapai usia taklif, sedangkan ia tidaklah membunuh satu jiwa sehingga pantas untuk dibunuh karenanya? sungguh engkau telah melakukan perbuatan mungkar yang besar. ”

۞ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

qāla a lam aqul laka innaka lan tastaṭī’a ma’iya ṣabrā

 75.  Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

Khadir berkata kepada Musa untuk menegurnya dan mengingatkannya, ”bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan bisa bersabar berjalan bersamaku terhadap apa yang engkau lihat pada tindakan-tindakanku yang engkau tidak menguasai pengetahuannya tentangnya?

قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا

qāla in sa`altuka ‘an syai`im ba’dahā fa lā tuṣāḥibnī, qad balagta mil ladunnī ‘użrā

 76.  Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

Musa berkata kepadanya, ”jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah kali ini, maka tinggalkanlah aku dan janganlah engkau memperbolehkan aku mendampingimu. Sesungguhnya engkau telah cukuup memberi toleransi terkait tindakanku dan engkaupun tidak kurang dalam mengingatkan lantaran telah memberitahuku bahwa sesungguhnya aku tidak akan mampu bersabar bersamamu.

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

fanṭalaqā, ḥattā iżā atayā ahla qaryatinistaṭ’amā ahlahā fa abau ay yuḍayyifụhumā fa wajadā fīhā jidāray yurīdu ay yangqaḍḍa fa aqāmah, qāla lau syi`ta lattakhażta ‘alaihi ajrā

 77.  Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

Maka musa dan khadir berjalan hingga menjumpai penduduk suatu kampung. Mereka berdua meminta makanan sebagai jamuan bagi mereka berdua, akan tetapi penduduk kampung tersebut menolak untuk menjamu mereka berdua. Kemudian mereka mendapati di sana ada dinding miring yang hampir-hampir roboh. Maka khadir menegakannya hingga berdiri lurus. Musa berkata kepadanya, ”jika engkau mau engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu yang dapat engkau pergunakan untuk mendapatkan makanan untuk kita, karena mereka tidak memberikan jamuan kepada kita. ”

قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

qāla hāżā firāqu bainī wa bainik, sa`unabbi`uka bita`wīli mā lam tastaṭi’ ‘alaihi ṣabrā

 78.  Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

Khadir berkata kepada musa, ”ini adalah saat perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang engkau ingkari terhadapku dari tindakan-tindakan yang aku perbuat dan yang engkau tidak mampu bersabar untuk tidak menanyakannya dan mengingkariku terhadapnya.

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

ammas-safīnatu fa kānat limasākīna ya’malụna fil-baḥri fa arattu an a’ībahā, wa kāna warā`ahum malikuy ya`khużu kulla safīnatin gaṣbā

 79.  Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

Adapun tentang kapal yang aku lubangi, sesungguhnya itu adalah kepunyaan orang-orang yang membutuhkan (mereka tidak memiliki sesuatu yang mencukupi dan menutupi kebutuhan mereka) yang bekerja di laut untuk mencari nafkah. Maka aku berniat merusaknya dengan cara melubanginya, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang akan mengambil setiap kapal yang bagus dengan merampasnya dari para pemiliknya.

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

wa ammal-gulāmu fa kāna abawāhu mu`minaini fa khasyīnā ay yur-hiqahumā ṭugyānaw wa kufrā

 80.  Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

Adapun anak kecil yang aku bunuh, dia dala pengetahuan Allah akan menjadi seorang manusia kafir, sedang ayah ibunya adalah orang-orang mukmin, maka kami khawatir bila anak itu tetap hidup, maka dia akan menyeret orang tuanya ke dalam kekafiran dan tindakan melampaui batas, lantaran didorong oleh rasa cinta mereka kepadanya atau karena kebutuuhan mereka kepadanya.

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

fa aradnā ay yubdilahumā rabbuhumā khairam min-hu zakātaw wa aqraba ruḥmā

 81.  Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

Maka kami ingin agar Allah memberikan ganti bagi orangtuanya dengan anak yang lebih baik daripada anak tersebut dalam keshalihan, agama dan baktinya kepada mereka berdua,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

wa ammal-jidāru fa kāna ligulāmaini yatīmaini fil-madīnati wa kāna taḥtahụ kanzul lahumā wa kāna abụhumā ṣāliḥā, fa arāda rabbuka ay yablugā asyuddahumā wa yastakhrijā kanzahumā raḥmatam mir rabbik, wa mā fa’altuhụ ‘an amrī, żālika ta`wīlu mā lam tasṭi’ ‘alaihi ṣabrā

 82.  Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Adapun dinding rumah yang aku luruskan kemiringannya sehingga berdiri tegak, sesungguhnya milik dua anak yatim yang berada di kampung dimana dinding itu berada. Dan di bawahnya terdapat simpanan harta bagi mereka berdua berupa emas dan perak. Ayah mereka adalah orang shalih. maka tuhanmu menghendaki agar mereka mencapai masa kedewasaan mereka, memiliki kekuatan dan dapat mengeluarkan simpanan harta tersebut, sebagai rahmat dari tuhanmu terhadap mereka berdua. Dan tidaklah aku, wahai musa, melakukan semua yang engkau lihat aku melakukannya menurut kehendakku dan kemauanku pribadi. akan tetapi aku melakukannya sesuai perintah Allah. Hal-hal yang aku terangkan kepadamu latar belakangnya merupakan kesudahan perkara-perkara tersebut yang engkau tidak mampu bersabar untuk tidak menanyakannya dan mengingkariku terhadapnya.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

wa yas`alụnaka ‘an żil-qarnaīn, qul sa`atlụ ‘alaikum min-hu żikrā

 83.  Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.

Orang-orang musyrik dari kaummu (wahai rasul) akan bertanya kepadamu mengenai Dzulqarnain, seorang raja yang shalih. katakanlah kepada mereka, ”aku akan ceritakan kepada kalain kisahnya yang akan kalian ingat dan kalian ambil pelajaran darinya. ’

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

innā makkannā lahụ fil-arḍi wa ātaināhu ming kulli syai`in sababā

 84.  Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,

Sesungguhnya Kami telah memberinya kekuasaan di muka bumi dan Kami telah memberikan kepadanya berbagai cara dan jalan dari segala sesuatu yang dia tempuh untuk mencapai apa saja yang dikehendakinya, berupa penaklukan berbagai kota dan mengalahkan musuh-musuh dan tujuan-tujuan lainnya.

فَأَتْبَعَ سَبَبًا

fa atba’a sababā

 85.  maka diapun menempuh suatu jalan.

Dia lalu menempuh cara-cara dan jalan-jalan tersebut dengan mengerahkan usaha dan sungguh-sungguh.

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

ḥattā iżā balaga magribasy-syamsi wajadahā tagrubu fī ‘ainin ḥami`atiw wa wajada ‘indahā qaumā, qulnā yā żal-qarnaini immā an tu’ażżiba wa immā an tattakhiża fīhim ḥusnā

 86.  Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.

Hingga Dzulqarnain telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia mendapatinya dalam jangkauan pandangan matanya seolah-olah terbenam pada mata air yang amat panas yang berlumpur hitam. Dan dia mendapati di tempat matahari terbenam satu kaum dari manusia, kami berkata, ”wahai dzulqarnain, kamu boleh menyiksa mereka dengan membunuh mereka atau tindakan lainnya bila mereka tidak mengakui keesaan Allah, atau berbuat baik kepada mereka dengan mengajarkan hidayah kepada mereka dan menunjukan kepada mereka jalan yang lurus.”

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا

qāla ammā man ẓalama fa saufa nu’ażżibuhụ ṡumma yuraddu ilā rabbihī fa yu’ażżibuhụ ‘ażāban nukrā

 87.  Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.

Dzulqarnian berkata, ”adapaun orang yang menganiaya dirinya dari mereka hingga kafir kepada tuhannya, maka kami akan menyiksanya di dunia dan dia akan kembali kepada tuhannya, hingga tuhannya menyiksanya dengan siksaan yang besar di neraka jahanam.

وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahụ jazā`anil-ḥusnā, wa sanaqụlu lahụ min amrinā yusrā

 88.  Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”.

Adapun orang-orang yang beriman dari mereka kepada tuhannya, kemudian membenarkan dan mengesakanNya, serta beramal menuju ketaatan kepadaNYa, maka baginya surga sebagai pahala dari Allah. Dan kami akan memperlakukannya dengan baik, dan kami akan berkata kepadanya dengan lembut, serta memudahkan baginya urusan-urusan.”

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا

ṡumma atba’a sababā

 89.  Kemudian dia menempuh jalan (yang lain).

Kemudian dzulqarnain kembali ke arah timur dengan mengikuti kemudahan-kemudahan yang sudah Allah berikan kepadanya.

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

ḥattā iżā balaga maṭli’asy-syamsi wajadahā taṭlu’u ‘alā qaumil lam naj’al lahum min dụnihā sitrā

 90.  Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbitnya matahari, dia mendapati matahari terbit menyinari suatu kaum yang tidak memiliki bangunan yang menutupi mereka dan tidak ada pepohonan yang menaungi mereka dari matahari.

كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا

każālik, wa qad aḥaṭnā bimā ladaihi khubrā

 91.  demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.

Demikianlah, ilmu kami telah meliputi apa yang dimilikinya berupa kebaikan dan semua cara yang besar, kemanapun dia berlalu dan berjalan.

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا

ṡumma atba’a sababā

 92.  Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).

Kemudian dzulqarnain berjalan dengan menempuh cara-cara dan jalan-jalan yang telah kami berikan kepadanya.

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا

ḥattā iżā balaga bainas-saddaini wajada min dụnihimā qaumal lā yakādụna yafqahụna qaulā

 93.  Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

Hingga apabila dia sampai ke tempat diantara dua buah gunung yang memisahkan daerah yang berada di belakangnya, dia menjumpai dibawahnya satu kaum yang hampir-hampir tidak mengerti perkataan orang selain mereka.

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

qālụ yā żal-qarnaini inna ya`jụja wa ma`jụja mufsidụna fil-arḍi fa hal naj’alu laka kharjan ‘alā an taj’ala bainanā wa bainahum saddā

 94.  Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Mereka berkata, ”wahai dzulqarnain, sesunggguhnya ya’juj dan ma’juj (mereka adalah dua umat yang besar dari bani adam) melakukan kerusakan di muka bumi dengan merusak tanaman dan keturunan. apakah boleh kami menyerahkan imbalan bagimu dan kami kumpulkan harta benda kami supaya kamu mau membuatkan dinding pemisah antara kami dengan mereka?

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

qāla mā makkannī fīhi rabbī khairun fa a’īnụnī biquwwatin aj’al bainakum wa bainahum radmā

 95.  Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,

Dzulqurnain menjawab, ”apa yang dikaruniakan tuhanku kepadaku berupa kerajaan dan kekuasaan adalah lebih baik bagiku dari harta benda kalian. maka tolonglah aku dengan kekuatan kalian, agar aku dapat membuatkan dinding antara kalian dengan mereka.

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

ātụnī zubaral-ḥadīd, ḥattā iżā sāwā bainaṣ-ṣadafaini qālanfukhụ, ḥattā iżā ja’alahụ nārang qāla ātụnī ufrig ‘alaihi qiṭrā

 96.  berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.

Berilah aku potongan-potongan besi, ”hingga tatkala mereka telah datang membawanya dan meletakannya dan mereka telah membuatnya rata setinggi dua sisi (puncak) gunung, dia berkata kepada pekerja, ”nyalakanlah api”. Maka ketika semua besi sudah berubah menjadi kobaran api, dia berkata, ”berilah aku tembaga. aku akan menuangkan tembaga padanya.”

فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

fa masṭā’ū ay yaẓ-harụhu wa mastaṭā’ụ lahụ naqbā

 97.  Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

Ya’juj dan ma’juj tidak bisa mendaki ke atas dinding itu karena tinggi dan licin. dan mereka tidak mampu melubanginya dari bagian bawah dinding karena ketebalan dan kekokohannya.

قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

qāla hāżā raḥmatum mir rabbī, fa iżā jā`a wa’du rabbī ja’alahụ dakkā`, wa kāna wa’du rabbī ḥaqqā

 98.  Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”.

Dzulqarnain berkata, ”dinding yang aku dirikan sebagai penghalang dari kerusakan yang dilakukan ya’ij ma’juj ini merupakan rahmat dari tuhanku kepada sekalian manusia. Maka apabila sudah datang janji dari tuhanku dengan keluarnya ya’juj ma’juj (menjelang hari kiamat), Dia akan menjadikannya hancur berantakan lagi rata dengan permukaan tanah, dan janji tuhanku adalah benar adanya.”

۞ وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

wa taraknā ba’ḍahum yauma`iżiy yamụju fī ba’ḍiw wa nufikha fiṣ-ṣụri fa jama’nāhum jam’ā

 99.  Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya,

Dan kami biarkan ya’juj dan ma’juj (pada hari datangnya janji kami kepada mereka) datang bergelombang sebagian mereka pada sebagian yang lain dengan bercampur aduk, karena jumlah mereka yang banyak, dan ditiuplah sasangkala untuk kebangkitan. Maka Kami mengumpulkan semua makhluk untuk perhitungan amalan dan pembalasan.

وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا

wa ‘araḍnā jahannama yauma`iżil lil-kāfirīna ‘arḍā

 100.  dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas,

Dan Kami tampakan jahanam kepada orang-orang kafir dan Kami perlihatkan neraka itu kepada mereka agar Kami dapat memperlihatkan kepada mereka buruknya kesudahan mereka.

الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا

allażīna kānat a’yunuhum fī giṭā`in ‘an żikrī wa kānụ lā yastaṭī’ụna sam’ā

 101.  yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.

yaitu, orang-orang yang ketika di dunia pada mata mereka terdapat penutup sehingga tidak dapat memperlihatkan ayat-ayatKu dan mereka tidak kuat untuk mendengar hujjah-hujjahKu yang mengantarkan menuju keimanan kepadaKu dan kepada rasulKu.

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا

a fa ḥasiballażīna kafarū ay yattakhiżụ ‘ibādī min dụnī auliyā`, innā a’tadnā jahannama lil-kāfirīna nuzulā

 102.  maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.

Apakah orang-orang yang kafir kepadaKu menyangka bahwa mereka boleh menjadikan hamba-hambaKu sebagai sesembahan selainKu agar menjadi pembela-pembela mereka? sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka jahanam sebagai tempat tinggal bagi orang-orang kafir.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

qul hal nunabbi`ukum bil-akhsarīna a’mālā

 103.  Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Katakanlah (wahai rasul) kepada sekalian manusia sebagai peringatan mereka, ”apakah perlu Kami beritahukan kepada kalain tentang manusia yang paling merugi amal perbuatannya?”

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

allażīna ḍalla sa’yuhum fil-ḥayātid-dun-yā wa hum yaḥsabụna annahum yuḥsinụna ṣun’ā

 104.  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang telah sia-sia perbuatan mereka di dalam kehidupan dunia, (yaitu kaum musyrikin dari kaummu dan kaum lainnya yang tersesat dari jalan yang lurus, mereka tidak berada di atas hidayah dan ajaran yang benar) namun mereka menyangka diri mereka telah melakukan perbuatan sebaik-baiknya.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

ulā`ikallażīna kafarụ bi`āyāti rabbihim wa liqā`ihī fa ḥabiṭat a’māluhum fa lā nuqīmu lahum yaumal-qiyāmati waznā

 105.  Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

Orang-orang yang paling merugi perbuatannya itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat tuhan mereka dan mendustakannya. Dan mereka mengingkari perjumpaan dengan Allah pada hari kiamat. Akibatnya, terhapuslah amal-amal perbuatan mereka disebabkan kekufuran mereka, dan tidaklah kami melaksanakan penilaian sedikitpun bagi mereka pada hari kiamat.

ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

żālika jazā`uhum jahannamu bimā kafarụ wattakhażū āyātī wa rusulī huzuwā

 106.  Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

Balasan yang telah disediakan bagi mereka karena terhapusnya amalan-amalan mereka adalah neraka jahanam, disebabkan oleh kekafiran mereka kepada Allah dan mereka menjadikan ayat-ayatNya dan hujah-hujah rasulNya sebagai bahan olokan dan ejekan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kānat lahum jannātul-firdausi nuzulā

 107.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepadaKu dan membenarkan rasul-rasulKu serta beramal shalih, bagi mereka surga paling tinggi, dan paling tengah-tengah serta paling utama sebagai tempat tinggal.

خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا

khālidīna fīhā lā yabgụna ‘an-hā ḥiwalā

 108.  mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.

Mereka kekal abadi di dalamnya.Mereka tidak menginginkan pindah darinya karena suka dan kecintaan mereka terhadapnya.

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

qul lau kānal-baḥru midādal likalimāti rabbī lanafidal-baḥru qabla an tanfada kalimātu rabbī walau ji`nā bimiṡlihī madadā

 109.  Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Katakanlah (wahai rasul), seandainya air lautan menjadi tinta bagi pena-pena yang digunakan untuk menulis kalamullah dari ilmu dan hikmahNya serta apa yang diwahyukan olehNya kepada malaikat dan rosul-rosulNya, pastilah akan habis air laut itu sebelum habis kalimat-kalimat tersebut. Seandainya kami mendatangkan air sebanyak air laut itu pula dari lautan yang lain sebagai tinta untuk itu, niscaya pasti akan habis pula. Dalam ayat ini terdapat dalil penetapan sifat kalam bagi Allah secara hakiki yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaanNYa.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

qul innamā ana basyarum miṡlukum yụḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥid, fa mang kāna yarjụ liqā`a rabbihī falya’mal ‘amalan ṣāliḥaw wa lā yusyrik bi’ibādati rabbihī aḥadā

 110.  Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian yang diwahyukan kepadaku dari tuhanku, ’bahwa sesungguhnya tuhan kalian adalah tuhan yang satu’ maka barangsiapa yang takut terhadap siksaan tuhannya dan mengharapkan pahalaNya dan perjumpaaan denganNya, hendaknya dia beramal shalih bagi tuhannya yang sesuai dengan tuntutan syariatNya, dan tidak menyekutukan seseorangpun denganNya dalam ibadah kepadaNya.”

Related: Surat Maryam Arab-Latin, Surat Thaha Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Anbiya, Terjemahan Tafsir Surat al-Hajj, Isi Kandungan Surat al-Mu’minun, Makna Surat an-Nur

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surah Al Kahfi Surat Alkahfi Surah Alkahfi Surat Al Khafi Al Kahfi Latin