Surat Al-Kahfi Ayat 62

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا

Arab-Latin: Fa lammā jāwazā qāla lifatāhu ātinā gadā`anā laqad laqīnā min safarinā hāżā naṣabā

Artinya: Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".

« Al-Kahfi 61Al-Kahfi 63 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Hikmah Menarik Terkait Dengan Surat Al-Kahfi Ayat 62

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Kahfi Ayat 62 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada berbagai hikmah menarik dari ayat ini. Ada berbagai penjelasan dari banyak mufassirin terhadap isi surat Al-Kahfi ayat 62, misalnya seperti tertera:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Maka ketika mereka meninggalkan tempat yang di situ mereka melupakan ikan, musa merasakan lapar. Diapun berkata kepada pelayannya, ”bawalah kemari makan siang kita. Sungguh kita telah mengalami kelelahan dalam perjalanan kita ini. ”


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

62-63. Ketika Musa telah melewati tempat bertemunya dua laut itu, dia berkata kepada Yusya’: “Bawa kemari ikannya agar kita dapat memakannya, sungguh kita telah lelah dalam berjalan”.

Yusya’ menjawab: “Ingkatkah ketika kita berhenti di batu besar? Aku lupa memberitahukanmu perkara ikan itu, dan tidak ada yang membuatku lupa selain setan. Ikan yang diasinkan itu kembali hidup kemudian melompat ke air, sungguh itu adalah kejadian yang ajaib.”


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

62. Maka ketika mereka telah melewati tempat itu, Musa berkata kepada pelayannya, "Bawalah kemari makanan siang kita, sungguh kita telah merasa sangat letih karena perjalanan kita ini."


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

62. فَلَمَّا جَاوَزَا (Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh)
Yakni setelah mereka melewati pertemuan dua lautan yang Allah jadikan sebagai tempat untuk bertemu dengan orang yang dituju Nabi Musa.

قَالَ(berkatalah Musa)
Nabi Musa berkata.

لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا(kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita)
Nabi Musa hendak mendatanginya dengan membawa ikan mereka.

لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا(sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini)
Yakni rasa capek dan lelah.


📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

1 ). Pada firman Allah: { آتِنَا غَدَاءَنَا } "bawalah kemar bekal kita" adalah dalil dianjurkannya membawa bekal untuk suatu perjalanan, dan ini sebagai bantahan terhadap orang yang meremehkan perbekalan, mereka menembus padang pasir dan bebatuan kerikil, mengira bahwa mereka telah bertawakkal kepada Allah semata, namun ini adalah Musa nabi Allah dan hamba yang di ajak berbincang dengan-Nya juga membawa perbekalan padahal ia tahu ada tuhan yang menjaganya.

2 ). { آتِنَا غَدَاءَنَا } Perhatikan kisah Musa -عليه السلام- bersama pembantunya; akan ditemukan contoh akhlak yang mulia, dan kelembutan mu'amalah sang Nabi: beliau mengabarkan bagaimana simulasi perjalanan yang mereka tempuh, beliau juga mengikut sertakan sang pembantu dalam hidangannya, dan meminta maaf tatkala Musa berbuat salah. Namun perhatikan begitu banyak manusia memperlakukan pembantu-pembantunya, bahkan kepada anak dan murid-muridnya mereka jauh dari akhlak islam.

3 ). Pada firman Allah: { لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا } adalah dalil bolehnya memberitahukan musibah sakit yang menimpa seseorang, dan itu tidak mengurangi keridhoan satu sama lainnya.

4 ). Lihatlah betapa indahnya adab dan akhlak mulia yang ada pada diri Musa bersama pembantunya: Musa yang memperlakukan pembantunya dengan lembut tidak nampak bahwa beliau sedang berhadapan dengan pembantu, dan begitu juga dengan sang pembantu yang ingin memikul tanggung jawab dengan sendirinya: { فَإِنِّى نَسِيتُ ٱلْحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيْطَٰنُ } "maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan" padahal hakikatnya keduanya lupa dengan hal itu.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, Musa berkata kepada muridnya saat waktu makan: "Bawalah makanan kita kemari; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

{Ketika mereka telah melewatinya} ketika keduanya melewati pertemuan dua lautan {Musa berkata} Musa berkata {kepada pelayannya,“Bawalah kemari makanan kita. Sungguh kita benar-benar telah merasa letih} lelah dan letih {karena perjalanan kita ini”


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

62. Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya, “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini,” maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua pertemuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang mengindikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perjalanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 60-65
Penyebab ucapan nabi Musa kepada muridnya yaitu Yusya' bin Nun, adalah pembahasan ini yaitu ketika diceritakan kepada nabi Musa bahwa ada seorang hamba Allah yang tinggal di tempat bertemunya dua laut, dia memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh nabi Musa. Maka nabi Musa ingin berangkat mene­muinya. Jadi nabi Musa berkata kepada muridnya: (Aku tidak akan berhenti) yaitu aku akan terus berjalan (sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan) yaitu di tempat yang menjadi pertemuan dua laut.
Al-Farazdaq berkata, "Mereka tidak berangkat sampai istri-istri mereka bersenang-senang di dataran Dhi Qar, memamerkan bejana kasturi mereka"
Firman Allah (atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun) yaitu sekalipun saya harus berjalan bertahun-tahun.
Ibnu Jarir berkata, sebagian ulama bahasa Arab menyebutkan bahwa “al-huqub” dalam dialek bani Qais adalah satu tahun.
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun) bahwa maknannya adalah satu tahun. Hal yang sa­ma juga dikatakan Qatadah dan Ibnu Zaid.
Firman Allah: (Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya) Demikian itu karena murid tersebut diperintahkan untuk membawa ikan yang diasinkan, dan dikatakan kepadanya bahwa ketika kamu kehilangan ikan itu, maka itu di sana. Lalu keduanya berangkat hingga sampai di tempat bertemunya dua laut, Di tempat itu keduanya ter­tidur lelap dan ikan itu terkena percikan air itu, maka ikan bergerak hidup kembali dalam kantong Yusya', lalu melompat dari kantong itu ke laut. Yusya' terbangun, dan ikan itu terjatuh ke dalam laut dan dan ikan menempuh jalannya di dalam laut, sedangkan air yang dilaluinya tidak bersatu lagi melainkan membentuk terowongan. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut (membentuk lubang)) yaitu seperti terowongan dalam tanah.
Firman Allah: (Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh) yaitu tempat yang mereka melupakan ikannya. Kelalaian ini dinisbatkan kepada keduanya, sekalipun yang lupa hanyalah Yusya'. Sebagaimana firman Allah SWT: (Dari keduanya keluar mutiara dan marjan (22)) (Surah Ar-Rahman) Sesungguhnya itu hanya keluar dari salah satu di antara dua lautan
Setelah keduanya berjalan jauh dari tempat yang mereka melalaikan ikan: (Musa berkata) nabi Musa (kepada muridnya.”Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”) yaitu yang mereka berdua melewati tempatnya (Nasaban) adalah letih (Muridnya menjawab, "Tahukah kamu tatkala kita mencari tem­pat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (men­ceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan”) Qatadah berkata bahwa Ibnu Mas’ud membaca (Maa ansaaniihi an adzkurahu illasy-syaithaan) Oleh karena itu Allah berfirman (dan ikan itu mengambil jalannya) jalannya (ke laut dengan cara yang aneh sekali (63) Musa berkata, "Itulah (tempat) yang kita cari”) Itulah tempat yang kita cari (Lalu keduanya kembali) kembali (mengikuti jejak mereka) yaitu jejak mereka (semula) keduanya kembali menelusuri jejak semula menuju tempat tersebut (Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (65)) Inilah nabi Khidhir, sebagaimana yang ditunjukkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah SAW
Ibnu Abbas berkata,”Telah bercerita kepada kami Ubay bin Ka'b, dia berkata,”Aku pernah mende­ngar Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya nabi Musa berdiri berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu dia bertanya kepada mereka, “Siapakah orang yang paling berilmu?” lalu nabi Musa berkata, “Akulah orangnya" Maka Allah menegurnya karena dia tidak menisbatkan ilmu kepada Allah. Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Sesungguhnya Aku mem­punyai seorang hamba yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan, dia lebih berilmu daripada kamu" nabi Musa bertanya,"Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya aku dapat bertemu dengannya?" Allah SWT berfirman,"Bawalah bersamamu ikan, lalu masukkan ikan itu ke dalam kantung ikan. Ketika kamu merasa kehilangan ikan itu, maka dia di tempat itu" Nabi Musa membawa ikan, lalu memasukkannya ke dalam kantung ikan, dan dia berangkat dengan muridnya Yusya' bin Nun sehingga keduanya sampai di sebuah batu besar, maka keduanya merebah­kan diri dan tertidur. Ikan yang di dalam kantung itu bergerak, lalu keluar da­ri kantung itu dan melompat ke laut. Ikan mengambil jalannya di laut dengan membentuk terowongan. Allah menahan aliran air terhadap ikan itu, sehingga jalan yang dilaluinya seperti liang. Ketika nabi Musa terbangun, muridnya lupa memberitahukan kepadanya tentang ikan itu, bahkan keduanya melanjutkan perjalanan untuk menggenapkan masa dua hari dua malamnya. Pada keesokan harinya nabi Musa bertanya kepada muridnya: (Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini) nabi Musa masih belum merasa letih sehingga setelah melewati tempat yang diperintahkan Allah kepadanya. Muridnya berkata kepadanya (Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakan­nya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut de­ngan cara,yang aneh sekali) dia berkata bahwa ikan itu membentuk liang, sehingga membuat nabi Musa dan muridnya merasa aneh. Lalu nabi Musa berkata: (Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula) Keduanya kembali menelusuri jalan semula, hingga sampailah di batu besar tempat mereka berlindung. Tiba-tiba nabi Musa bertemu dengan seorang laki-laki berpakaian lengkap. Nabi Musa mengucapkan salam kepadanya, dan nabi Khidir menjawab, "Di manakah ada salam di bumimu ini?" Nabi Musa berkata,"Aku adalah Musa" Nabi Khidir bertanya,”Musa Bani Israil?" Nabi Musa menjawab,"Ya" Nabi Musa berkata,"Aku datang kepadamu untuk agar kamu mengajariku petunjuk yang telah kamu pelajari (Dia menjawab, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku” (67)) (Surah Al-Kahfi) Wahai Musa, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang telah diajarkan Allah kepadaku, sedangkan kamu tidak mengetahuinya, dan kamu mem­punyai ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu, sedangkan aku tidak mengetahuinya. Nabi Musa berkata: (Insya Allah kamu akan mendapati saya sebagai seorang yang sabar, dan saya tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun) (Surah Al-Kahfi: 69) Nabi Khidhir berkata kepadanya: (Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerang­kannya kepadamu) (Surah Al-Kahfi: 70)
Kemudian keduanya berjalan di tepi pantai, dan menjumpai perahu. Lalu keduanya meminta kepada para pemilik perahu itu agar mengangkut keduanya. Para pemilik perahu mengenal nabi Khidhir, jadi mereka mengangkut keduanya tanpa membayar Ketika keduanya menaiki perahu, nabi Musa terkejut karena tiba-tiba nabi Khidhir memecahkan sebuah papan perahu itu dengan kapak. Lalu nabi Musa berkata kepadanya, "Mereka telah mengangkut kita tanpa membayar, lalu kamu dengan sengaja merusak perahu mereka dengan melubanginya sehingga para penumpangnya tenggelam. Sesungguhnya kamu telah melakukan perbuatan yang ingkar" (Dia (Khidir) berkata, "Bukankah aku telah berkata,”Sesungguh­nya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku” (72) Musa berkata, "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku” (73)) (Surah Al-Kahfi) Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya, bahwa itu adalah pertama kali ini nabi Musa lupa. Kemudian ada seekor burung pipit hinggap di sisi perahu itu, lalu minum air laut itu dengan paruhnya sekali atau dua kali. Lalu nabi Khidir berkata kepada nabi Musa, "Tidaklah ilmuku dan ilmumu diban­dingkan ilmu Allah, melainkan seperti berkurangnya air laut ini dari apa yang diminum burung pipit ini"
Lalu keduanya turun dari perahu itu. Ketika keduanya sedang berjalan di pantai, tiba-tiba nabi Khidhir melihat seorang anak yang sedang bermain dengan beberapa anak lainnya. Lalu nabi Khidhir memegang kepalanya dan mencabutnya dengan tangannya, sehingga anak itu mati. Lalu nabi Musa berkata kepadanya,”(Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia mem­bunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan, sesua­tu yang mungkar" (74) Khidhir berkata,"Bukankah sudah kukata­kan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (75)) (Surah Al-Kahfi) Ini lebih keras daripada yang pertama, (Musa berkata, "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku" (76) Maka keduanya berjalan; hingga tatkala ke­duanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya menjumpai dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh) (Surah Al-Kahfi) yaitu miring. Lalu nabi Khidhir mengisyaratkan de­ngan tangannya: (maka Khidir menegakkan dinding rumah itu) Lalu nabi Musa berkata,"Mereka adalah kaum yang kita kunjungi, tetapi mereka tidak memberi kita makan dan tidak menjamu kita" ("Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu" (77) Khidhir berkata, "Inilah perpisahan antara aku dan kamu, kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya" (78)) (Surah Al-Kahfi) Lalu Rasulullah SAW bersabda.”Seandainya saja nabi Musa bersabar, sampai Allah menceritakan kisah keduanya kepada kita” Sa'id bin Jubair berkata bahwa Ibnu Abbas membacanya ("Karena di hadapan mere­ka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang baik") Dia juga membacanya. ("Adapun anak muda itu adalah orang yang kafir, se­dangkan kedua orang tuanya kedua-duanya adalah orang mukmin")
(kedua orang tuanya mukmin) (Surah Al-Kahfi: 80) dan dia adalah seorang yang ingkar (dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran) (Surah Al-Kahfi: 80) yaitu membuat kedua orang tuanya yang sangat mencintainya mengikuti agamanya (Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu) (Surah Al-Kahfi: 81) sebagaimana firmanNya (Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih) (Surah Al-Kahfi: 74) dan (dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya)) (Surah Al-Kahfi: 81) Keduanya lebih disayangi oleh keduanya daripada anak pertama yang dibunuh nabi Khidhir


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Kahfi Ayat 62

Nabi musa dan pembantunya meneruskan perjalanan, maka ketika mereka telah melewati tempat hilangnya ikan itu dan keduanya hendak beristirahat sambil menyantap bekal yang mereka bawa, nabi musa berkata kepada pembantunya, bawalah kemari makanan (ikan) kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita yang jauh pada hari ini. Dia, yaitu pembantunya, menjawab, tahukah engkau wahai guru ketika kita tengah mencari tempat berlindung di batu tadi, untuk beristirahat, maka aku lupa meninggalkan ikan itu lalu ikan itu hilang mencebur ke laut, dan tidak ada yang membuat aku lupa, yakni lupa kepada ikan dan menyebabkan aku meninggalkannya, atau aku lupa tidak menceritakan peristiwa ini kepadamu, kecuali setan, dan sungguh ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Sungguh aneh, bagaimana ikan itu hidup lagi, lalu hilang mencebur ke laut, sehingga tak dapat ditemukan lagi.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Demikianlah beberapa penjabaran dari beragam mufassir terkait kandungan dan arti surat Al-Kahfi ayat 62 (arab-latin dan artinya), semoga menambah kebaikan untuk kita. Dukunglah kemajuan kami dengan memberikan link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Bacaan Cukup Sering Dilihat

Tersedia banyak konten yang cukup sering dilihat, seperti surat/ayat: Al-Baqarah 216, Al-Baqarah 284-286, Ali ‘Imran 191, Yunus 41, Luqman 13-14, Assalaamualaikum. Ada pula Al-Fatihah 2, Ali ‘Imran 104, Al-Fatihah 7, Yasin 40, Al-A’raf, Al-Fatihah 1.

  1. Al-Baqarah 216
  2. Al-Baqarah 284-286
  3. Ali ‘Imran 191
  4. Yunus 41
  5. Luqman 13-14
  6. Assalaamualaikum
  7. Al-Fatihah 2
  8. Ali ‘Imran 104
  9. Al-Fatihah 7
  10. Yasin 40
  11. Al-A’raf
  12. Al-Fatihah 1

Pencarian: surat al-insyiqaq, isi kandungan surat al anbiya ayat 30, surah an-nas dan artinya, tabarok lengkap, qs al baqarah 2 83

Bantu Kami

Setiap bulan TafsirWeb melayani 1.000.000+ kaum muslimin yang ingin membaca al-Quran dan tafsirnya secara gratis. Tentu semuanya membutuhkan biaya tersendiri.

Tolong bantu kami meneruskan layanan ini dengan membeli buku digital Jalan Rezeki Berlimpah yang ditulis oleh team TafsirWeb (format PDF, 100 halaman).

Dapatkan panduan dari al-Qur'an dan as-sunnah untuk meraih rezeki berkah berlimpah, dapatkan pahala membantu keberlangsungan kami, Insya Allah.