Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Furqon

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Arab-Latin: tabārakallażī nazzalal-furqāna ‘alā ‘abdihī liyakụna lil-‘ālamīna nażīrā

Terjemah Arti:  1.  Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Amat agung keberkahan-keberkahan Allah, sangat banyak kebaikan-kebaikanNya, dan sempurna sifat-sifatNya serta MahaTinggi Dzat Yang telah menurunkan al-Qur’an yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan kepada hambaNya, Muhammad agar menjadi seorang utusan (Allah) bagi bangsa manusia dan jin, yang memperingatkan mereka dari siksaan Allah.

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

allażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍi wa lam yattakhiż waladaw wa lam yakul lahụ syarīkun fil-mulki wa khalaqa kulla syai`in fa qaddarahụ taqdīrā

 2.  yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mengambil anak, dan Dia tidak mengambil sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia-lah Yang menciptakan segala sesuatu dan menyempurnakannya sesuai dengan bentuk ciptaan yang tepat dengan tuntutan hikmahNya tanpa adanya kekurangan dan kekeliruan.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

wattakhażụ min dụnihī ālihatal lā yakhluqụna syai`aw wa hum yukhlaqụna wa lā yamlikụna li`anfusihim ḍarraw wa lā naf’aw wa lā yamlikụna mautaw wa lā ḥayātaw wa lā nusyụrā

 3.  Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.

Dan orang-orang Musyrik Arab telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak dapat menciptakan apapun, padahal Allah-lah Yang menciptakan sesembahan-sesembahan itu dan menciptakan mereka; mereka tidak memiliki kemampuan menolak mara bahaya dan mendatangkan kebaikan bagi diri mereka, dan tidak dapat mematikan apa yang hidup dan menghidupkan apa yang mati atau membangkitkan seseorang dari orang-orang yang telah mati dalam keadaan hidup dari kuburnya.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

wa qālallażīna kafarū in hāżā illā ifkuniftarāhu wa a’ānahụ ‘alaihi qaumun ākharụn, fa qad jā`ụ ẓulmaw wa zụrā

 4.  Dan orang-orang kafir berkata: “Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.

Dan orang-orang yang kafir kepada Allah berkata, “Al-Qur’an ini tiada lain hanyalah kebohongan dan kedustaan belaka, yang dibuat-buat oleh Muhammad, dan beberapa orang telah membantunya untuk itu.” Sesungguhnya mereka telah melakukan perbuatan kezhaliman parah dan mengadakan kedustaan yang amat buruk. Al-Qur’an termasuk sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang manusia pun untuk mengadakannya.

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

wa qālū asāṭīrul-awwalīnaktatabahā fa hiya tumlā ‘alaihi bukrataw wa aṣīlā

 5.  Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang”.

Dan mereka berkata tentang al-Qur’an, “Ia adalah kisah-kisah dongeng orang-orang terdahulu yang tercatat di buku-buku mereka. Muhammad meminta disalinkan, maka dibacakan kepadanya tiap pagi dan sore hari.”

قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

qul anzalahullażī ya’lamus-sirra fis-samāwāti wal-arḍ, innahụ kāna gafụrar-raḥīmā

 6.  Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang kafir itu, “Sesungguhnya yang menurunkan al-Qur’an, Dia adalah Allah yang pengetahuanNya meliputi segala yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha pengampun bagi orang yang bertaubat dari dosa-dosanya dan maksiat-maksiat, juga Maha Pemurah terhadap mereka karena tidak segera menimpakan siksaan pada mereka .

وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا

wa qālụ mā lihāżar-rasụli ya`kuluṭ-ṭa’āma wa yamsyī fil-aswāq, lau lā unzila ilaihi malakun fa yakụna ma’ahụ nażīrā

 7.  Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?,

أَوْ يُلْقَىٰ إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا ۚ وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

au yulqā ilaihi kanzun au takụnu lahụ jannatuy ya`kulu min-hā, wa qālaẓ-ẓālimụna in tattabi’ụna illā rajulam mas-ḥụrā

 8.  atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”.

7-8. Dan orang-orang Musyrik berkata, “Mengapa orang-orang ini yang mengaku-aku sebagai utusan Allah (maksud mereka adalah Muhammad) memakan makanan seperti kita dan berjalan-jalan dipasar untuk mencari penghidupan? Mengapa Allah tidak mengutus bersamanya satu malaikat yang mempersaksikan kebenarannya, atau turun kepadanya perbendaharaan harta dari langit atau ia memiliki kebun yang besar yang dia dapat makan dari buah-buahannya?” orang-orang zhalim yang mendustakan berkata, “Kalian, wahai kaum Mukminin, tidaklah mengikuti kecuali orang yang terkena pengaruh sihir yang merasuki akalnya. “

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

unẓur kaifa ḍarabụ lakal-amṡāla fa ḍallụ fa lā yastaṭī’ụna sabīlā

 9.  Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).

Lihatlah (wahai Rasul) bagaimana orang-orang yang mendustakan itu melontarkan ucapan-ucapan aneh tentang dirimu yang menyerupai perumpamaan-perumpamaan dalam keanehannya agar mereka bisa mencapai cara untuk mendustakanmu? Maka dengan itu mereka menjadi jauh dari kebenaran, sehingga tidak mendapatkan jalan menuju kepadanya untuk meluruskan apa yang telah mereka ucapkan tentangmu berupa kedustaan dan kebohongan.

تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَٰلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا

tabārakallażī in syā`a ja’ala laka khairam min żālika jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru wa yaj’al laka quṣụrā

 10.  Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.

Amat agung keberkahan-keberkahan Allah dan sangat banyak kebaikan-kebaikanNya yang jika Dia menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan bagimu (wahai Rasul) keadaan yang lebih baik dari apa yang mereka pikirkan bagimu. Maka Dia menjadikan bagimu di dunia kebun-kebun yang banyak yang disibak oleh sungai-sungai, dan menjadikan bagimu di dalamnya istana-istana yang besar.

بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا

bal każżabụ bis-sā’ati wa a’tadnā limang każżaba bis-sā’ati sa’īrā

 11.  Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.

Dan mereka tidaklah mendustakanmu gara-gara kamu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Akan tetapi, mereka mendustakan Hari Kiamat dan peristiwa pembalasan amal yang terjadi padanya. Dan Kami telah menyediakan bagi orang yang mendustakan Hari Kiamat api panas yang dinyalakan dengan mereka (maksudnya, merekalah yang menjadi bahan bakarnya) .

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا

iżā ra`at-hum mim makānim ba’īdin sami’ụ lahā tagayyuẓaw wa zafīrā

 12.  Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.

Apabila neraka melihat orang-orang yang mendustakan Hari Kiamat itu dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara gelegar dan gaduhannya lantaran besarnya kemurkaannya terhadap mereka.

وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا

wa iżā ulqụ min-hā makānan ḍayyiqam muqarranīna da’au hunālika ṡubụrā

 13.  Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.

Dan apabila mereka dilemparkan kedalam tempat yang sangat sempit di Jahanam (dalam keadaan tangan-tangan mereka telah dibelenggu dengan rantai hingga leher-leher mereka) mereka berdoa buruk memohon kebinasaan bagi diri mereka agar dapat terbebaskan darinya.

لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا

lā tad’ul-yauma ṡubụraw wāḥidaw wad’ụ ṡubụrang kaṡīrā

 14.  (Akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak”.

Maka dikatakan kepada mereka demi menghancurkan harapan mereka, “Pada hari ini, janganlah kalian meminta kebinasaan sekali saja, akan tetapi (mintalah kebinasaan) yang banyak. Tetapi itu tidak akan menambah mereka kecuali kesengsaraan ; maka tidak ada kesempatan bebas bagi kalian”.

قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

qul a żālika khairun am jannatul-khuldillatī wu’idal-muttaqụn, kānat lahum jazā`aw wa maṣīrā

 15.  Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?” Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?”.

Katakanlah (wahai Rasul), kepada mereka, “Apakah neraka ini yang diceritakan karakternya kepada kalian lebih baik daripada Surga Na’im yang abadi yang dijanjikan kepada orang-orang yang takut terhadap siksa Tuhan mereka, yang nantinya menjadi ganjaran bagi mereka atas amal perbuatan mereka dan menjadi tempat kembali mereka di akhirat?”

لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ خَالِدِينَ ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعْدًا مَسْئُولًا

lahum fīhā mā yasyā`ụna khālidīn, kāna ‘alā rabbika wa’dam mas`ụlā

 16.  Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).

bagi orang-orang yang taat Di dalam surga akan mendapatkan segala yang mereka inginkan dari berbagai macam kenikmatan yang enak. Kesenangan mereka di dalamnya bersifat abadi. Masuknya mereka ke dalam surga sudah merupakan janji atas Tuhanmu (wahai rosul) yang pantas dimohon, yang dimohon oleh para hamba Allah yang bertakwa. Dan Allah tidak memungkiri janjiNya.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَٰؤُلَاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ

wa yauma yaḥsyuruhum wa mā ya’budụna min dụnillāhi fa yaqụlu a antum aḍlaltum ‘ibādī hā`ulā`i am hum ḍallus-sabīl

 17.  Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?”.

Pada Hari KIamat, Allah akan menghimpun kaum Musyrikin dan apa saja yang dahulu mereka sembah selain Allah. Kemudian Dia berfirman kepada sesembahan-sesembahan itu, “Apakah benar kalian telah menyimpangkan hamba-hambaKu dari jalan kebenaran dan kalian perintahkan mereka untuk menyembah kalian ataukah mereka sendiri yang tersesat jalan, mereka menyembah kalian atas keinginan mereka sendiri?”

قَالُوا سُبْحَانَكَ مَا كَانَ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَّخِذَ مِنْ دُونِكَ مِنْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنْ مَتَّعْتَهُمْ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ نَسُوا الذِّكْرَ وَكَانُوا قَوْمًا بُورًا

qālụ sub-ḥānaka mā kāna yambagī lanā an nattakhiża min dụnika min auliyā`a wa lākim matta’tahum wa ābā`ahum ḥattā nasuż-żikr, wa kānụ qaumam bụrā

 18.  Mereka (yang disembah itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa”.

Sesembahan-sesembahan selain Allah menjawab, “Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, dari apa yang mereka perbuat. Tidak benar kami mengambil penolong-penolong selain Engkau yang kami bela. Akan tetapi, Engkau telah memberikan kepada kaum Musyrikin dan nenek moyang mereka kekayaan dan keselamatan dari mara bahaya di dunia, sampai akhirnya mereka lupa untuk mengingatMu, sehingga kemudian mereka menyekutukan (sembahan-sembahan) lain denganMu. Mereka adalah kaum yang binasa. Celaka dan jauh dari hidayah telah menguasai mereka.”

فَقَدْ كَذَّبُوكُمْ بِمَا تَقُولُونَ فَمَا تَسْتَطِيعُونَ صَرْفًا وَلَا نَصْرًا ۚ وَمَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيرًا

fa qad każżabụkum bimā taqụlụna fa mā tastaṭī’ụna ṣarfaw wa lā naṣrā, wa may yaẓlim mingkum nużiq-hu ‘ażābang kabīrā

 19.  maka sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan maka kamu tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu), dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.

Kemudian dikatakan kepada kaum musyrikin, “Sesungguhnya sesembahan-sesembahan yang dahulu kalian sembah mendustakan kalian dalam klaim kalian terhadap mereka. Kalian sekarang sendirian, tidak dapat menghalau siksaan dari diri kalian sendiri dan tidak bisa memberikan pertolongan bagi diri kalian sendiri. Dan barangsiapa menyekutukan Allah, menganiaya diri sendiri dan menyembah selain Allah, dan mati dalam keadaan itu, niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang keras

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

wa mā arsalnā qablaka minal-mursalīna illā innahum laya`kulụnaṭ-ṭa’āma wa yamsyụna fil-aswāq, wa ja’alnā ba’ḍakum liba’ḍin fitnah, a taṣbirụn, wa kāna rabbuka baṣīrā

 20.  Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, (wahai Rasul) seseorang dari rasul-rasul Kami kecuali mereka itu bangsa manusia, yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian (wahai manusia) cobaan dan ujian bagi sebagian lainnya, melalui hidayah dan kesesatan, kekayaan dan kemiskinan, sehat dan sakit; apakah kalian bersabar sehingga kalian menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan atas kalian dan mensyukuriNya dan kemudian Penguasa kalian memberi balasan bagi kalian, atau kalian tidak bersabar sehingga mengakibatkan kalian pantas ditimpa musibah? Dan Tuhanmu (wahai Rasul) Maha Melihat orang yang berkeluh kesah atau bersabar, dan orang yang ingkar atau orang yang bersyukur.

۞ وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا

wa qālallażīna lā yarjụna liqā`anā lau lā unzila ‘alainal-malā`ikatu au narā rabbanā, laqadistakbarụ fī anfusihim wa ‘atau ‘utuwwang kabīrā

 21.  Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”.

Dan berkatalah orang-orang yang tidak berharap perjumpaan dengan tuhan mereka setelah kematian mereka, didorong rasa pengingkaran terhadapnya, “Mengapa tidak diturunkan kepada kami malaikat untuk memberitahukan kepada kami bahwa sesungguhnya Muhammad adalah orang yang jujur, atau kami dapat menyaksikan Tuhan kami dengan mata kepala kami, lalu Dia memberitahukan kepada kami tentang kebenarannya dalam mengemban risalahNya?” sungguh, mereka telah bangga memandang diri mereka dan mereka sombong, lantaran berani melontarkan ucapan tersebut dan bertindak melampaui batas dalam penentangan dan kekafiran mereka.

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا

yauma yaraunal-malā`ikata lā busyrā yauma`iżil lil-mujrimīna wa yaqụlụna ḥijram maḥjụrā

 22.  Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa.

hari mereka akan menyaksikan malaikat adalah saat sakaratul maut, di dalam kubur dan Pada Hari Kiamat bukan dalam bentuk sebagaimana mereka minta sebelumnya, bukan untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan surga, akan tetapi untuk berkata kepada mereka, “Allah menjadikan surga tempat yang haram untuk kalian tempati.”

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

wa qadimnā ilā mā ‘amilụ min ‘amalin fa ja’alnāhu habā`am manṡụrā

 23.  Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

Dan Kami mendatangi segala apa yang mereka perbuat dari kebaikan dan kebajikan yang tampak secara zahir, kemudian Kami menjadikannya tidak berguna dan tidak berarti, tidak memberikan manfaat kepada mereka, bagaikan debu yang beterbangan, yaitu debu-debu ringan yang terlihat pada pancaran sinar matahari. Yang demikian itu karena amal sudah berguna di akhirat, kecuali apabila terpenuhi pada pemiliknya: iman kepada Allah; berikut ikhlas untukNya dan mengikuti RasulNya, Muhammad.

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا

aṣ-ḥābul-jannati yauma`iżin khairum mustaqarraw wa aḥsanu maqīlā

 24.  Penghuni-penghuni surga pada hari itu palig baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.

Penghuni-penghuni surga pada Hari Kiamat jauh lebih baik tempat tinggal mereka ketimbang penghuni neraka, dan jauh lebih indah hunian mereka di surga. Kenyamanan mereka sempurna dan kenikmatan mereka tidak terkotori oleh kekeruhan.

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنْزِيلًا

wa yauma tasyaqqaqus-samā`u bil-gamāmi wa nuzzilal-malā`ikatu tanzīlā

 25.  Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.

Dan ingatlah (wahai Rasul) perihal hari ketika itu langit terpecah belah dan tampak melalui celah-celahnya awan putih lembut. Dan Allah menurunkan malaikat langit pada hari itu, lalu mereka mengelilingi semua makhluk di padang mahsyar, dan Allah datang untuk memutuskan putusan di antara para hamba, dengan kedatangan yang layak dengan keagunganNya.

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ ۚ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا

al-mulku yauma`iżinil-ḥaqqu lir-raḥmān, wa kāna yauman ‘alal-kāfirīna ‘asīrā

 26.  Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.

Dan kerajaan yang haq pada hari ini hanya milik Tuhan Yang Maha Pengasih, bukan yang lain. Dan hari itu merupakan suatu hari yang sulit lagi berat bagi orang-orang kafir, karena mereka ditimpa hukuman dan siksaan yang pedih.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

wa yauma ya’aḍḍuẓ-ẓālimu ‘alā yadaihi yaqụlu yā laitanittakhażtu ma’ar-rasụli sabīlā

 27.  Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

yā wailatā laitanī lam attakhiż fulānan khalīlā

 28.  Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

laqad aḍallanī ‘aniż-żikri ba’da iż jā`anī, wa kānasy-syaiṭānu lil-insāni khażụlā

 29.  Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

27-29. Dan ingatlah (wahai Rasul) pada hari orang yang berbuat kezhaliman terhadap dirinya akan menggigit dua tangannya lantaran penyesalan dan kekecewaan, sembari berkata, “Celaka aku, seandainya aku dulu mau mendampingi Rasulullah Muhammad dan mengikutinya untuk menjadikan Islam sebagai jalan menuju surga.”. Dan ia merasakan penyesalan mendalam seraya berkata,”Sekiranya aku dulu tidak menjadikan orang kafir si Fulan itu sebagai teman dekat yang aku ikuti dan aku cintai. Sesungguhnya teman akrab itu telah menyimpangkan diriku dari al-Qur’an setelah datang kepadaku. Dan setan yang terlaknat itu adalah makhluk yang selalu tidak mau menolong manusia.” Dalam ayat-ayat ini terkandung satu peringatan dari menjalin persahabatan dengan teman yang buruk, karena sesungguhnya dia bisa menjadi penyebab teman dekatnya masuk neraka.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

wa qālar-rasụlu yā rabbi inna qaumittakhażụ hāżal-qur`āna mahjụrā

 30.  Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.

Dan Rasul berkata untuk mengadukan apa yang diperbuat oleh kaumnya, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku meninggalkan al-Qur’an ini dan mengasingkannya, dengan terus menerus berpaling darinya, mengabaikan untuk mentadabburi, mengamalkan,dan menyampaikannya.” Pada ayat ini terkandung satu ancaman besar bagi orang yang mengacuhkan al-Qur’an dan tidak mengamalkannya.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

wa każālika ja’alnā likulli nabiyyin ‘aduwwam minal-mujrimīn, wa kafā birabbika hādiyaw wa naṣīrā

 31.  Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.

Dan sebagaimana Kami mengadakan bagimu (wahai Rasul) musuh-musuh dari orang-orang jahat dari kaummu, Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap nabi musuh-musuh dari orang-orang jahat dari kaumnya. Maka bersabarlah sebagaimana mereka telah bersabar. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk, Yang mengarahkan, dan Penolong Yang menolongmu menghadapi musuh-musuhmu. Dalam ayat ini terkandung satu hiburan bagi Nabi kita, Muhammad.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

wa qālallażīna kafarụ lau lā nuzzila ‘alaihil-qur`ānu jumlataw wāḥidah, każālika linuṡabbita bihī fu`ādaka wa rattalnāhu tartīlā

 32.  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

Dan orang-orang kafir berkata, “Menagapa al-Qur’an tidak diturunkan kepada Muhammad sekaligus saja, seperti Taurat, Injil, dan Zabur?” Allah berfirman, “Demikianlah, Kami menurunkannya secara berangsur-angsur supaya Kami memperkuat kalbumu dan menambah ketenanganmu dengannya dan kamu dapat memahami dan mengembannya. Dan Kami menjelaskannya dengan teliti dan perlahan-lahan.”

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

wa lā ya`tụnaka bimaṡalin illā ji`nāka bil-ḥaqqi wa aḥsana tafsīrā

 33.  Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

Dan tidaklah kaum musyrikin datang kepadamu (wahai Rasul) dengan membawa hujjah atau syubhat kecuali Kami mendatangkan kepadamu jawaban yang haq dan dengan penjelasan terbaik baginya.

الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلًا

allażīna yuḥsyarụna ‘alā wujụhihim ilā jahannama ulā`ika syarrum makānaw wa aḍallu sabīlā

 34.  Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.

Orang-orang kafir itulah yang akan diseret dengan muka-muka mereka ke Neraka Jahannam. Dan mereka itu adalah manusia yang paling buruk tempat tinggalnya dan paling jauh menyimpang dari kebenaran.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا

wa laqad ātainā mụsal-kitāba wa ja’alnā ma’ahū akhāhu hārụna wazīrā

 35.  Dan sesungguhnya kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu).

فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا

fa qulnaż-habā ilal-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, fa dammarnāhum tadmīrā

 36.  Kemudian Kami berfirman kepada keduanya: “Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami”. Maka Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya.

35-36. Dan sungguh telah Kami anugrahkan Taurat kepada Musa, dan Kami menjadikan saudaranya, Harun sebagai penolong baginya. Lalu Kami berkata kepada mereka berdua, “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun dan kaumnya yang telah mendustakan bukti-bukti rububiyah dan uluhiyah Kami.” Kemudian mereka berdua bertolak menuju mereka dan menyeru mereka untuk beriman kepada Allah dan taat kepadaNya, serta tidak menyekutukanNya. Akan tetapi, mereka mendustakan mereka berdua, sehingga Allah membinasakan mereka dengan kebinasaan yang besar.

وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً ۖ وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

wa qauma nụḥil lammā każżabur-rusula agraqnāhum wa ja’alnāhum lin-nāsi āyah, wa a’tadnā liẓ-ẓālimīna ‘ażāban alīmā

 37.  Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih;

Dan Kami juga telah menenggelamkan kaum Nuh dengan banjir bandang ketika mereka mendustakannya. Dan siapa saja yang mendustakan seorang Rasul, maka sesungguhya dia telah mendustakan seluruh rasul. Dan Kami menjadikan penenggelaman mereka sebagai pelajaran bagi umat manusia, dan Kami menjadikan bagi mereka dan orang-orang yang menuruti jalan mereka dalam mendustakan rasul siksaan yang pedih di Hari Kiamat.

وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا

wa ‘ādaw wa ṡamụda wa aṣ-ḥābar-rassi wa qurụnam baina żālika kaṡīrā

 38.  dan (Kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.

Dan Kami telah menghancurkan bangsa Ad kaum Hud, bangsa Tsamud kaum Shaleh, para penduduk ar-Rass, dan umat-umat lain yang berjumlah banyak yang hidup antara (masa) kaum Nuh, bangsa Ad, bangsa Tsamud dan para penduduk ar-Rass itu. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.

وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ ۖ وَكُلًّا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا

wa kullan ḍarabnā lahul-amṡāla wa kullan tabbarnā tatbīrā

 39.  Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.

Dan kepada tiap-tiap umat, Kami telah menerangkan kepada mereka hujjah-hujjah dan Kami telah menjelaskan kepada mereka bukti-bukti kebenaran, serta Kami patahkan udzur-udzur mereka. Meskipun demikian, mereka tetaop tidak beriman. Maka Kami pun benar-benar membinasakan mereka dengan kebinasaan yang besar.

وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ ۚ أَفَلَمْ يَكُونُوا يَرَوْنَهَا ۚ بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا

wa laqad atau ‘alal-qaryatillatī umṭirat maṭaras-saụ`, a fa lam yakụnụ yaraunahā, bal kānụ lā yarjụna nusyụrā

 40.  Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.

Dan sesungguhnya orang-orang musyrik Makkah melewati perkampungan kaum Luth dalam perjalanan-perjalanan mereka, yaitu negeri Sodom yang telah dihancurkan dengan hujan batu dari langit, namun mereka enggan mengambil pelajaran dengannya. Mereka justru tidak mengharapkan kembali hidup pada Hari Kiamat untuk memperoleh pembalasan disana.

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا

wa iżā ra`auka iy yattakhiżụnaka illā huzuwā, a hāżallażī ba’aṡallāhu rasụlā

 41.  Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang di utus Allah sebagai Rasul?.

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚ وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

ing kāda layuḍillunā ‘an ālihatinā lau lā an ṣabarnā ‘alaihā, wa saufa ya’lamụna ḥīna yaraunal-‘ażāba man aḍallu sabīlā

 42.  Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar(menyembah)nya” dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.

41-42. Dan apabila orang-orang yang mendustakan melihatmu (wahai Rasul) mereka mengolok-olok dirimu dengan berkata, “Apakah orang ini yang mengaku-aku bahwa sesungguhnya Allah mengutusnya sebagai utusan kepada kita? Sesungguhnya hampir saja dia memalingkan kita dari penyembahan kepada berhala-berhala kita dengan kekautan hujjah dan penjelasannya, seandainya kita tidak teguh untuk menyembahnya.” Dan mereka itu kelak akan mengetahui tatkala mereka menyaksikan siksaan yang akan mereka peroleh: siapakah orang yang sesat ajaran agamanya; mereka ataukah Muhammad?

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

a ra`aita manittakhaża ilāhahụ hawāh, a fa anta takụnu ‘alaihi wakīlā

 43.  Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,

Lihatlah (wahai Rasul) dengan penuh keheranan, kepada orang yang menaati hawa nafsunya seperti layaknya dia menaati Allah. Apakah kamu akan menjadi pelindung bagi orang itu hingga mengembalikannya kepada keimanan?

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

am taḥsabu anna akṡarahum yasma’ụna au ya’qilụn, in hum illā kal-an’āmi bal hum aḍallu sabīlā

 44.  atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Atau apakah kamu akan menyangka bahwa kebanyakan mereka akan mendengarkan ayat-ayat Allah dengan penuh penghayatan ataukah (berusaha) memahami isi kandungannya? Mereka itu tiada lain kecuali seperti binatang-binatang ternak, dalam tinjauan tidak memperoleh manfaat dari apa yang mereka dengar. Bahkan mereka jauh lebih sesat daripada binatang-binatang itu.

أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا

a lam tara ilā rabbika kaifa maddaẓ-ẓill, walau syā`a laja’alahụ sākinā, ṡumma ja’alnasy-syamsa ‘alaihi dalīlā

 45.  Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,

ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا

ṡumma qabaḍnāhu ilainā qabḍay yasīrā

 46.  kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.

45-46. Apakah kamu memperhatikan bagaimana Allah memanjangkan bayangan dari terbitnya fajar hingga terbit matahari? Sekiranya Allah menghendaki, pastilah Dia akan menjadikan bayang-bayang itu bertahan dan tetap ada, tidak lenyapkan oleh (sinar) matahari. Kemudian Kami menjadikan matahari sebagai pertanda dengan keadaan-keadaanya atas keadaan-keadaan bayang-bayang itu. Lalu ia akan mengecil sedikit demi sedikit. Tiap kali bertambah ketinggian matahari, maka ia akan kian berkurang besarnya. Itu termasuk bukti Kuasa Allah dan keagunganNya, dan sesungguhnya Dia-lah yang berhak diibadahi, bukan yang lain.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

wa huwallażī ja’ala lakumul-laila libāsaw wan-nauma subātaw wa ja’alan-nahāra nusyụrā

 47.  Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.

Dan Allah, Dia-lah yang menjadikan malam sebagai penutup bagi kalian dengan kegelapannya, sebagaimana pakaian menutupi kalian. Dan Dia menjadikan tidur sebagai istirahat bagi tubuh-tubuh kalian, dalam tidur itu kalian bisa menjadi tenang dan tentram. dan menjadikan siang bagi kalian untuk bertebaran di muka bumi dan mencari penghidupan.

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

wa huwallażī arsalar-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, wa anzalnā minas-samā`i mā`an ṭahụrā

 48.  Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,

لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا

linuḥyiya bihī baldatam maitaw wa nusqiyahụ mimmā khalaqnā an’āmaw wa anāsiyya kaṡīrā

 49.  agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.

48-49. Dan Dia-lah yang mengirimkan angin yang membawa awan yang memberi kabar gembira bagi manusia dengan (turunnya) hujan sebagai rahmat dariNya, dan Kami telah menurunkan dari langit air untuk keperluan bersuci; agar Kami menumbuhkan dengannya tumbuhan-tumbuhan di tempat yang tidak ada tanamannya sama sekali, maka negeri yang kering menjadi hidup kembali setelah kematiannya, dan Kami memberi minum dengan air itu banyak binatang ternak dan manusia dari makhluk Kami.

وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

wa laqad ṣarrafnāhu bainahum liyażżakkarụ fa abā akṡarun-nāsi illā kufụrā

 50.  Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

Dan sungguh Kami telah menurunkan hujan pada suatu tempat tertentu dan tidak pada tempat yang lain, agar orang-orang yang Kami turunkan kepada mereka hujan tersebut mengingat-ingat nikmat Allah atas mereka, lalu mereka bersyukur kepada Nya dan orang-orang yang tidak mendapatkan guyurannya mengingat-ingat apa yang tidak diturunkan pada mereka, lalu bersegera untuk bertaubat kepada Allah supaya kemudian Dia merahmati mereka dan menurunkan hujan bagi mereka. Namun, kebanyakan manusia menolak kecuali sikap pengingkaran terhadap nikmat-nikmat Kami yang tercurahkan kepada mereka, sebagaiman perkataan mereka, “Kami dicurahi hujan karena rasi bintang anu dan anu.”

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

walau syi`nā laba’aṡnā fī kulli qaryatin nażīrā

 51.  Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul).

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

fa lā tuṭi’il kāfirīna wa jāhid-hum bihī jihādang kabīrā

 52.  Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.

51-52. Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan mengutus kepada setiap negeri seorang pemberi peringatan, yang menyeru mereka kepada Allah dan memperingatkan mereka terhadap siksaanNya. Akan tetapi, Kami menjadikanmu (wahai Rasul) diutus kepada seluruh penduduk muka bumi, dan Kami memerintahkanmu untuk menyampaikan al-Qur’an ini kepada mereka. Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir untuk meninggalkan sesuatu yang dengannya kamu mengikuti diutus. Bahkan, kerahkan semua dayamu dalam menyampaikan risalah tersebut, dan berjihadlah terhadap orang-orang kafir dengan al-Qur’an ini dengan jihad yang besar, yang tidak tercampuri kelesuan semangat.

۞ وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

wa huwallażī marajal-baḥraini hāżā ‘ażbun furātuw wa hāżā mil-ḥun ujāj, wa ja’ala bainahumā barzakhaw wa ḥijram maḥjụrā

 53.  Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

Dan Allah, Dia-lah Yang mencampurkan dua lautan, yang berair tawar lagi segar untuk minuman dan yang berair asin yang sangat pekat, dan menjadikan antara keduanya pembatas yang menghalangi masing-masing dari keduanya untuk merusak yang lain, dan penghalang yang menghambat sampainya salah satu (air) laut itu kepada yang lain.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

wa huwallażī khalaqa minal-mā`i basyaran fa ja’alahụ nasabaw wa ṣihrā, wa kāna rabbuka qadīrā

 54.  Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.

Dan Dia-lah Yang menciptakan dari air mani lelaki dan perempuan anak-anak keturunan, yang lelaki dan perempuan. Dari situ, lalu tumbuhlah hubungan kekerabatan melalui nasab dan mushaharah (pernikahan).dan Tuhanmu Mahakuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang di kehendakiNya.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْ ۗ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلَىٰ رَبِّهِ ظَهِيرًا

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lā yanfa’uhum wa lā yaḍurruhum, wa kānal-kāfiru ‘alā rabbihī ẓahīrā

 55.  Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.

Kendatipun dikemukakan bukti-bukti Kuasa Allah dan curahan nikmatNya pada makhlukNya, orang-orang kafir menyembah sesembahan selain Allah, obyek yang tidak dapat memberikan manfaat bagi mereka ketika mereka menyembahnya dan tidak dapat mencelakai mereka bila mereka meninggalkan penyembahannya. Dan orang yang ingkar itu menjadi penolong bagi setan untuk menentang TuhanNya dengan perbuatan syirik dalam peribadahan kepada Allah, mendukungnya untuk maksiat kepadaNya.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

wa mā arsalnāka illā mubasysyiraw wa nażīrā

 56.  Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Dan Kami tidaklah mengutusmu (wahai Rasul) kecuali sebagai pembawa kabar gembira bagi kaum Mukminin dengan surga, dan pemberi peringatan terhadap orang-orang kafir dengan neraka.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

qul mā as`alukum ‘alaihi min ajrin illā man syā`a ay yattakhiża ilā rabbihī sabīlā

 57.  Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.

Katakanlah kepada mereka, “Aku tidak meminta bayaran apa pun dari kalian atas penyampaian risalah ini. Akan tetapi, siapa saja yang berharap memperoleh hidayah, berjalan di atas jalan kebenaran menuju Tuhannya dan berinfak untuk mencari ridhaNya, maka aku tidak memaksa mereka untuk itu, akan tetapi itu merupakan kebaikan bagi diri kalian sendiri.”

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

wa tawakkal ‘alal-ḥayyillażī lā yamụtu wa sabbiḥ biḥamdih, wa kafā bihī biżunụbi ‘ibādihī khabīrā

 58.  Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.

Dan bertawakallah kepada Allah, Yang berkumpul padanya segala makna kehidupan yang sesuai dengan keagunganNya, yang tidak mati, dan sucikanlah Dia dari sifat-sifat kekurangan. Dan cukuplah Allah Mengetahui dosa-dosa makhlukNya. Tidak ada sesuatu pun dari dosa-dosa itu yang tersembunyi bagiNya, dan Dia akan memperhitungkan kalian dan memberi balasan bagi kalian karenanya.

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا

allażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, ar-raḥmānu fas`al bihī khabīrā

 59.  Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam jangka enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy (maksudnya, tinggi dan jauh di atas sana) bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. Dia-lah ar-Rahman (YangMaha Pengasih), maka tanyakanlah (wahai nabi) tentang Dia kepada Yang Maha Mengetahui, yaitu Allah Yang Mahamulia sendiri. Dia-lah yang mengetahui sifat-sifatNya, kebesaran, dan keagunganNya. Dan tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah dan lebih teliti tentangNya selain hamba dan rasulNya, Muhammad.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩

wa iżā qīla lahumusjudụ lir-raḥmāni qālụ wa mar-raḥmānu a nasjudu limā ta`murunā wa zādahum nufụrā

 60.  Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Dan apabila dikatakan kepada orang-orang kafir, “Bersujudlah kepada ar-Rahman (Tuhan Yang Maha pengasih) dan beribadahlah kepadaNya”, mereka menjawab, “Kami tidak mengenal ar-Rahman. Apakah kami akan bersujud terhadap Dzat yang kamu perintahkan kami bersujud kepadaNya sebagai bentuk ketaatan kami kepada perintahmu?” dan seruan kepada mereka untuk bersujud kepada ar-Rahman kian menambah mereka jauh dari keimanan dan lari darinya.

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

tabārakallażī ja’ala fis-samā`i burụjaw wa ja’ala fīhā sirājaw wa qamaram munīrā

 61.  Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Amat agung keberkahan-keberkahan Tuhan Yang Maha Pengasih itu dan sangat banyak kebaikan-kebaikanNya, Yang menjadikan di langit bintang-bintang yang besar dengan poros-porosnya, dan menjadikan di dalamnya matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

wa huwallażī ja’alal-laila wan-nahāra khilfatal liman arāda ay yażżakkara au arāda syukụrā

 62.  Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

Dan Dia-lah yang menjadikan malam dan siang saling silih berganti, salah satunya menggantikan yang lain bagi orang yang mau mengambil pelajaran dengan apa yang terjadi di dalamnya karena dorongan keimanan kepada Dzat Yang Mengatur lagi Menciptakan, atau orang yang hendak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat dan karunia-karuniaNya.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

wa ‘ibādur-raḥmānillażīna yamsyụna ‘alal-arḍi haunaw wa iżā khāṭabahumul-jāhilụna qālụ salāmā

 63.  Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih yang shalih berjalan di muka bumi dengan tenang dan penuh kerendahan hati. Apabila orang-orang jahil lagi bodoh menyapa mereka dengan melancarkan gangguan, mereka menjawab orang-orang itu dengan ucapan yang baik-baik, dan membalas omongan mereka dengan ucapan-ucapan yang di dalamnya tidak terkandung unsur dosa dan tidak merespon orang jahil dengan tindakan jahilnya.

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

wallażīna yabītụna lirabbihim sujjadaw wa qiyāmā

 64.  Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Dan juga orang-orang yang banyak mengerjakan shalat malam dengan ikhlas kepada Tuhan mereka di dalamnya dan merendahkan diri kepadaNya dengan sujud dan berdiri.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

wallażīna yaqụlụna rabbanaṣrif ‘annā ‘ażāba jahannama inna ‘ażābahā kāna garāmā

 65.  Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

innahā sā`at mustaqarraw wa muqāmā

 66.  Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

65-66. Dan juga orang-orang yang meskipun sudah bersungguh-sungguh dalam ibadah, mereka takut kepada Allah, lalu memohon kepadaNya agar menyelamatkan mereka dari siksaan Jahanam. Sesungguhnya siksaannya itu akan mengitari orang yang berhak mendapatkannya. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat tinggal.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

wallażīna iżā anfaqụ lam yusrifụ wa lam yaqturụ wa kāna baina żālika qawāmā

 67.  Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan juga orang-orang yang jika menginfakan sebagian dari kekayaan mereka, mereka tidak melampaui batas dalam memberi dan tidak kurang dalam infak itu. Infak mereka ditengah-tengah antara pemborosan dan kikir.

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

wallażīna lā yad’ụna ma’allāhi ilāhan ākhara wa lā yaqtulụnan-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqqi wa lā yaznụn, wa may yaf’al żālika yalqa aṡāmā

 68.  Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

yuḍā’af lahul-‘ażābu yaumal-qiyāmati wa yakhlud fīhī muhānā

 69.  (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

illā man tāba wa āmana wa ‘amila ‘amalan ṣāliḥan fa ulā`ika yubaddilullāhu sayyi`ātihim ḥasanāt, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

 70.  kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

wa man tāba wa ‘amila ṣāliḥan fa innahụ yatụbu ilallāhi matābā

 71.  Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

68-71. Dan juga orang-orang yang mengesakan Allah, dan tidak menyeru dan tidak menyembah sesembahan selainNya, dan mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang membolehkan jiwa dibunuh, seperti kafir setelah beriman, atau berzina setelah menikah, atau membunuh jiwa secara zhalim. Dan mereka juga tidak berzina, dan bisa menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki. Barangsiapa melakukan sebagian dari dosa-dosa besar ini, niscaya akan menjumpai siksaan di akhirat kelak, siksaan dilipat gandakan baginya di akhirat, dan ia akan kekal di dalamnya dalam keadaan hina lagi rendah. (Ancaman kekal ini adalah bagi orang yang melakukan semuanya, atau bagi orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah). Akan tetapi, orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebut dengan taubat nasuha (yang sesungguhnya), beriman dengan keimanan yang teguh lagi disertai dengan amal shalih, maka orang-orang itulah yang Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan menggantikannya dengan kebaikan-kebaikan, lantaran taubat dan penyesalan mereka. Dan Allah itu Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, Maha Pemurah terhadap hamba-hambaNya, karena Allah menyeru mereka untuk bertaubat setelah menentangnya dengan maksiat yang paling besar. Dan barangsiapa bertaubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya dan beramal shalih, sesungguhnya dengan itu, ia telah kembali kepada Allah dengan cara yang benar, maka Allah menerima taubatnya dan mengugurkan dosa-dosanya.

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

wallażīna lā yasy-hadụnaz-zụra wa iżā marrụ bil-lagwi marrụ kirāmā

 72.  Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Dan juga orang-orang yang tidak memberikan persaksian dusta dan tidak menghadiri tempat-tempatnya, dan mereka apabila dengan tidak sengaja melewati orang-orang yang hanyut dalam kebatilan dan permainan, orang-orang itu melintasi mereka dengan berpaling dan mengingkari, dengan menjaga kehormatan diri dan tidak menyukai itu terjadi pada selain mereka.

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

wallażīna iżā żukkirụ bi`āyāti rabbihim lam yakhirrụ ‘alaihā ṣummaw wa ‘umyānā

 73.  Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Dan juga orang-orang yang apabila mereka diberi nasihat dengan ayat-ayat al-Qur’an dan bukti-bukti keesaan Allah, mereka tidak melalaikannya layaknya orang tuli yang tidak dapat mendengarnya dan orang buta yang tidak melihatnya. Bahkan sebaliknya, hati mereka memahaminya dengan jeli dan mata hati mereka terbuka untuknya, kemudian mereka menyungkur kepada Allah dengan bersujud lagi taat.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

wallażīna yaqụlụna rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā

 74.  Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Dan juga orang-orang yang memohon kepada Allah dengan mengatakan, “wahai Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan anak-anak kami apa yang dapat menyejukkan pandangan mata kami yang disitu kami memperoleh kenyamanan hidup dan kebahagiaan, dan jadikanlah kami teladan baik yang diikuti oleh orang-orang yang bertakwa dalam kebaikan.”

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

ulā`ika yujzaunal-gurfata bimā ṣabarụ wa yulaqqauna fīhā taḥiyyataw wa salāmā

 75.  Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

khālidīna fīhā, ḥasunat mustaqarraw wa muqāmā

 76.  mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

75-76. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang telah dikemukakan dari kalangan hamba-hamba ar-Rahman itu, mereka akan dibalas dengan balasan tempat tinggal tertinggi di surga, dengan rahmat Allah dan dikarenakan kesabaran mereka untuk taat. Dan mereka akan disambut di surga dengan penghormatan dan ucapan salam dari malaikat dan (menjumpai) kehidupan yang baik dan keselamatan dari berbagai gangguan, mereka kekal abadi di dalamnya tanpa ada kematian. Itu adalah sebaik-baik tempat menetap yang mereka diami dan tempat tinggal yang mereka huni. Mereka tidak mengharapkan pindah dari sana.

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

qul mā ya’ba`u bikum rabbī lau lā du’ā`ukum, fa qad każżabtum fa saufa yakụnu lizāmā

 77.  Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.

Allah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia tidak peduli dan tidak mengindahkan manusia, kalau bukan karena doa mereka kepadaNya, baik doa ibadah maupun doa permohonan. Dan sungguh kalian (wahai orang-orang kafir) sikap mendustakan yang kalian lakukan akan berakibat pada siksaan yang mengikat kalian seperti orang-orang yang memiliki piutang kepada seseorang, dan akan membinasakan kalian di dunia dan akhirat.

Related: Surat Asy-Syu’ara Arab-Latin, Surat an-Naml Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Qashash, Terjemahan Tafsir Surat al-Ankabut, Isi Kandungan Surat ar-Rum, Makna Surat Luqman

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

?? ??? ????? ????artinya Artinya Lilmulkibi Surat Al Furqon Wa Ibadur Rohmani