Surat Al-Furqan Ayat 22

يَوْمَ يَرَوْنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا

Arab-Latin: Yauma yaraunal-malā`ikata lā busyrā yauma`iżil lil-mujrimīna wa yaqụlụna ḥijram maḥjụrā

Artinya: Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: "Hijraan mahjuuraa.

« Al-Furqan 21Al-Furqan 23 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Hikmah Penting Terkait Surat Al-Furqan Ayat 22

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Furqan Ayat 22 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada beragam hikmah penting dari ayat ini. Terdokumentasi beragam penafsiran dari berbagai ulama tafsir terhadap isi surat Al-Furqan ayat 22, antara lain seperti berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Hari mereka akan menyaksikan malaikat adalah saat sakaratul maut, di dalam kubur dan Pada Hari Kiamat bukan dalam bentuk sebagaimana mereka minta sebelumnya, bukan untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan surga, akan tetapi untuk berkata kepada mereka, “Allah menjadikan surga tempat yang haram untuk kalian tempati.”


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

22. Paha hari mereka melihat malaikat ketika kematian mereka dan pada hari kiamat, orang-orang penuh dosa itu tidak akan mendapat kabar yang menggembirakan mereka, namun malaikat akan berkata kepada mereka bahwa mereka tidak mungkin dapat masuk surga.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

22. Pada hari orang-orang kafir itu melihat Malaikat pada saat kematian mereka, ketika berada di alam barzakh, tatkala hari kebangkitan, ketika mereka digiring menuju tempat hisab, dan tatkala mereka masuk ke dalam Neraka, sungguh di semua keadaan ini tidak ada kabar gembira bagi mereka, berbeda dengan orang-orang yang beriman. Para Malaikat berkata kepada mereka (kaum kafir), “Haram lagi diharamkan atas kalian adanya kabar gembira dari Allah.”


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

22. يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلٰٓئِكَةَ (Pada hari mereka melihat malaikat)
Yakni mereka akan melihat malaikat namun bukan dalam keadaan yang mereka harapkan dan yang mereka usulkan, tapi dalam keadaan lain, yaitu ketika malaikat muncul kepada mereka saat kematian mereka atau di hari mereka dikumpulkan.

لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ(dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa)
Allah mengabarkan bahwa waktu mereka melihat malaikat adalah saat kematian mereka atau saat hari kiamat, Allah mengharamkan bagi mereka kabar gembira pada saat itu.

وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا(mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa)
Kalimat ini biasa mereka ucapkan ketika mereka sedang berperang atau ketika diserang musuh, mereka mengucapkan ini untuk mengharap perlindungan dengan kalimat itu.
Yakni mereka tidak mengharap untuk melihat malaikat melainkan seperti mereka mengharap untuk disegerakan azab bagi mereka seandainya mereka mengetahui hal itu.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

22. Pada hari mereka bisa melihat malaikat saat mati atau saat hari kiamat. Sungguh mereka dicegah untuk mendapatkan kabar gembira. Para malaikat berkata kepada mereka: “Tidak boleh dan haram bagi kalian untuk menerima kabar gembira tentang ampunan atau surga sebagaimana yang dikabarkan kepada orang-orang yang bertakwa”. Bangsa Arab berkata tentang dua kata itu (Hijran Mahjuuran), (kata pertama) yaitu saat mereka melihat sesuatu yang membuat mereka takut seperti bertemu musuh atau sesuatu menimpa mereka, seraya mereka akan menginginkan perlindungan dari keburukan, dan kata kedua adalah sebagai penegasan.


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

{(Ingatlah) hari (ketika) mereka melihat para malaikat. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi para pendosa dan mereka berkata,“Sungguh terlarang} para malaikat berkata kepada mereka,”Itu terlarang bagi kalian yaitu menyampaikan kabar gembira dari Allah kepada kalian”


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H


22 “pada hari mereka melihat malaikat,” [yang mereka usulkan kedatangannya], “di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa,” sebab, tidaklah mereka melihatnya (beserta bergelimangnya dosa dan keras kepala) melainkan (pasti) untuk menyiksa mereka dan menimpakan azab terhadap mereka. Yang paling awal adalah pada saat kematian, di mana saat itu para malaikat turun kepada mereka. Allah berfirman,
“alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), ‘keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya,” (al-an’am:93).
Kemudian di dalam kubur, di saat munkar dan nakir mendatangi mereka, lalu menanyakan kepada mereka tentang tuhan, nabi, dan agama mereka. Maka pada saat itu mereka tidak bisa memberikan jawaban yang dapat menyelamatkan mereka, sehingga azab pun menimpa mereka dan rahmat Allah sirna dari mereka.
Kemudian pada Hari Kiamat kelak, saat mereka digiring oleh para malaikat ke neraka, kemudian menyerahkannya kepada para malaikat petugas jahanam yang bertugas menyiksa mereka dan langsung menghukum mereka.
Inilah yang dahulu mereka usulkan, dan inilah yang dahulu mereka minta, jika mereka tetap dalam kejahatan (dosa), mereka pasti melihatnya dan menjumpainya, maka barulah saat itu mereka mencari perlindungan dari azab malaikat dan lari, namun mereka sama sekali tidak menemukan tempat pelarian.
”dan mereka berkata, ’hijran mahjura’.”
“hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan,” (ar-rahman:33)


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 21-24
Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang kerasnya kekafiran dan keingkaran orang-orang kafir (Mengapakah tidak diturunkan malaikat kepada kita) yaitu untuk membawa risalah sebagaimana risalah diturunkan kepada para nabi, sebagaimana Allah SWT memberitahukan tentang mereka dalam ayat lain: (Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah) (Surah Al-An'am: 124) Bisa juga bahwa maksud mereka di sini: (Mengapakah tidak diturunkan malaikat kepada kita) sehingga kita dapat melihat mereka dan mereka memberitahukan kepada kita bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana perkataan mereka: (atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami) (Surah Al-Isra: 92)
Tafsir ayat ini telah diterangkan dalam surah Al-Isra. Oleh karena itu mereka berkata (atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?) Oleh karena itu Allah SWT berfirman (Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman) dan Allah SWT berfirman: (Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (111)) (Surah Al-An'am)
Firman Allah SWT: (Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, "Hijran Mahjura” (22)) yaitu, mereka tidak dapat melihat malaikat di hari yang paling baik bagi mereka, bahkan di hari mereka dapat melihat para malaikat, tidak ada kabar gembira bagi mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka) yaitu dengan pukulan ((sambil berkata),"'Keluarkanlah nyawamu” Di hari kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya) (Surah Al-An'am: 93) Oleh karena itu Allah berfirman di ayat ini: (Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa) Ini berbeda dengan keadaan orang-orang mukmin, saat mereka menjelang kematiannya. Sesungguhnya mereka mendapat berita gembira tentang kebaikan-kebaikan dan mendapat hal-hal yang menyenangkan. Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah, " kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),"Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih; dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan (30) Allah kepada kalian,” Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta (31) Sebagai balasan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (32)) (Surah Fushshilat)
Asal kata “al-hijr” adalah terlarang. Dikatakan,"Hajara Al-Qadhi 'ala Fulan" yaitu ketika dia menahan kebebasannya, bisa juga karena dia jatuh, kekurangan akal, kecil, atau karena hal lain. Dikatakan “Al-Hijr” juga pengertian Hijir (Isma'il) yang ada di sisi Masjidil Haram, karena orang-orang yang berthawaf dilarang berthawaf di dalamnya, melainkan thawaf dilakukan di luarnya. Termasuk ke dalamnya dikata­kan kepada penjamin dengan sebutan hijr karena mencegah orang yang berada di bawah jaminannya melakukan hal-hal yang tidak layak. Maksudnya bahwa dhamir di dalam firmanNya: (dan mereka mengatakan) kembali kepada malaikat. Demikianlah pendapat Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Atiyyah Al-Aufi, ‘Atha’ Al-Khurrasani, Khashif, dan lainnya. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir
Ibnu Jarir meriwayatkan hal ini dari Ibnu Juraij bahwa hal itu merupakan perkataan orang-orang musyrik (Pada hari mereka melihat malaikat) yaitu mereka meminta perlindungan dari para malaikat. Demikian itu karena orang-orang Arab di masa dahulu jika seseorang dari mereka mengalami musibah atau kesengsaraan, dia mengatakan, (Hijran Mahjura) Pendapat ini sekalipun mempunyai alasan dan sumber, tetapi terkait dari segi konteks ayat ini jauh dari kebenaran, terlebih lagi mayoritas ulama telah menashkan hal yang bertentangan dengan itu. Akan tetapi, Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid bahwa dia berkata tentang firmanNya, ("Hijran Mahjura") yaitu memohon perlindungan dengan sungguh-sungguh, sehingga pendapat ini bisa sesuatu dengan apa yang dikemukakan Ibnu Juraij. Tetapi dalam riwayat Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Abu Najih, dari Mujahid, dia berkata bahwa (Hijran Mahjura) adalah memohon perlindungan dengan sungguh-sungguh, dan para malaikat yang mengatakannya. Hanya Allah Yang lebih Mengetahui
Firman Allah SWT: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan). Ini terjadi pada hari kiamat saat Allah menghisab semua hamba atas amal yang telah mereka kerjakan, baik amal yang baik dan yang buruk. Maka Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik itu tidak akan memperoleh sesuatu imbalan pun dari amal perbuatan yang mereka lakukan, padahal mereka menduga bahwa amal perbuatannya itu dapat menyelamatkan mereka. Demikian itu karena amal perbuatannya tidak memenuhi syarat dalam syariat, yaitu ikhlas dalam beramal karena Allah atau mengikuti syariat Allah. Setiap amal dilakukan tidak secara ikhlas dan tidak sesuai dengan syariat yang diridhai adalah bathil. Amal perbuatan orang-orang kafir itu tidak memenuhi salah satu dari kedua hal ini, dan terkadang kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga lebih jauh dari diterima. Oleh karena itu.Allah SWT berfirman: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan (23)) Mujahid dan Ats-Tsauri berkata tentang (Dan Kami hadapi) adalah Kami hadapi. Demikian juga dikatakan oleh As-Suddi, dan sebagian lain berkata,”'Kami datangi dia”.
Firman Allah SWT: (lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan) yaitu, sinar matahari apabila memasuki sebuah lubang dinding. Demikian juga diriwayatkan dari ulama’ lainnya dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, dan lainnya. Demikian juga dikatakan Hasan Al-Bashri, yaitu sinar matahari memasuki lubang dinding rumah seseorang, seandainya dia meraupkan tangannya pada sinar itu, dia tidak dapat menangkapnya.
Kesimpulan dari semua pendapat itu menjelaskan makna yang terkandung ayat itu. Demikian juga karena mereka melakukan banyak amal perbuatan yang menurut dugaan mereka benar. Tetapi ketika ditampilkan di hadapan Raja, Hakim yang Maha adil, tidak melampaui batas dan tidak pernah menganiaya seseorang, ternyata tidak ada artinya sama sekali. Kemudian hal itu diumpamakan dengan sesuatu yang tidak ada artinya dan berserakan, yang oleh pemiliknya tidak ada artinya sama sekali. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh (18)) (Surah Ibrahim)
Firman Allah SWT: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24)) yaitu pada hari kiamat (Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (20)) (Surah Al-Hasyr) Demikian itu bahwa penghuni surga memperoleh kedudukan-kedudukan yang tinggi dan ruangan-ruangan yang aman. Mereka berada di tempat yang aman, bagus pemandangannya, dan harum tempat tinggalnya (mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman (76)) (Surah Al-Furqan) Penghuni neraka berada di tempat yang paling bawah, kekecewaan yang berturut-turut, dan berbagai macam azab serta siksaan (Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman (66)) (Surah Al-Furqan) yaitu seburuk-buruk pemandangannya dan tempat tinggal. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24)) yaitu karena amal mereka yang diterima, akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka dapatkan, dan menempati tempat mereka itu, berbeda dengan keadaan penghuni neraka. Sesungguhnya mereka tidak mempunyai suatu amal yang menjadi alasan bagi mereka untuk dapat masuk surga dan selamat dari neraka. Jadi Allah SWT mengingatkan keadaan orang-orang yang berbahagia di atas keadaan orang-orang yang celaka. Orang-orang yang celaka itu sama sekali tidak memiliki apapun pada diri mereka. Jadi Allah SWT berfirman: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24))
Qatadah berkata tentang firmanNya: (paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya) yaitu tempat bernaung dan tempat tinggal


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Surat Al-Furqan ayat 22: Yang sebelumnya mereka minta agar diturunkan. Awal mereka melihat malaikat adalah pada saat mereka mati, yaitu ketika malaikat turun hendak mencabut nyawa mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu," Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Terj. Al An’aam: 93) Setelah itu, ketika mereka dikubur, di mana mereka akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir, lalu malaikat itu akan bertanya kepada mereka tentang Tuhan mereka, nabi mereka dan agama mereka. Mereka pun tidak bisa menjawab dengan jawaban yang menyelamatkan mereka, sehingga mereka akan disiksa, dan tidak memperoleh rahmat, kemudian pada hari Kiamat ketika para malaikat menggiring mereka ke neraka lalu menyerahkan kepada para penjaga neraka yang akan menyiksa mereka. Inilah sesungguhnya yang mereka usulkan dan yang mereka minta. Oleh karena itu, jika mereka tetap di atas perbuatan itu, maka mereka akan melihat dan menemui malaikat, dan ketika itu mereka malah berlindung dari malaikat serta berlari, namun tidak ada tempat berlari lagi.

Yakni orang-orang kafir, berbeda dengan orang-orang mukmin yang mendapat kabar gembira dengan surga.

Ini suatu ungkapan yang biasa disebut orang Arab di waktu menemui musuh yang tidak dapat dielakkan lagi atau ditimpa suatu bencana yang tidak dapat dihindari. Ungkapan ini berarti, "Semoga Allah menghindari bahaya ini dari saya", ada pula yang mengartikan, “Haram lagi diharamkan.” Yakni orang kafir haram mendapatkan kabar gembira, diampuni dosa atau masuk ke surga pada hari itu.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Furqan Ayat 22

Ingatlah pada hari ketika mereka melihat para malaikat, yang dahulu mereka mintakan kepada nabi Muhammad didatangkan, ternyata yang datang kepada mereka adalah malaikat penyiksa. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa sementara kaum mukmin mendapatkan kabar gembira itu dari para malaikat bahwa dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah, dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Dan mereka para malaikat itu berkata, kepada orang kafir 'hijran mahjura. ' artinya: terlarang bagi kalian mendapatkan berita gembira itu. 23. Kemudian Allah menjelaskan tentang nasib dari amal kebajikan yang telah diperbuat oleh orang kafir di akhirat nanti. Dan kami akan perlihatkan segala amal kebajikan yang mereka kerjakan, seperti membantu orang miskin dan amal sosial lainnya. Lalu kami akan jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan. Sebab, perbuatan baik tidak akan diterima Allah jika pelakunya kafir. Hasil dari kebajikan itu hanya bermanfaat di dunia saja seperti mendapat pujian dan penghargaan dari masyarakat.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Itulah pelbagai penafsiran dari berbagai mufassirin terkait isi dan arti surat Al-Furqan ayat 22 (arab-latin dan artinya), semoga menambah kebaikan untuk kita. Dukunglah usaha kami dengan mencantumkan tautan menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Artikel Sering Dibaca

Ada banyak materi yang sering dibaca, seperti surat/ayat: Ar-Ra’d 28, At-Tahrim 6, Al-Furqan 63, Al-Baqarah 1-5, At-Taubah 128-129, Al-Waqi’ah 35-38. Serta Ath-Thariq, An-Nahl 125, Al-Baqarah 275, As-Sajdah, Al-Baqarah 155, Al-Hujurat.

  1. Ar-Ra’d 28
  2. At-Tahrim 6
  3. Al-Furqan 63
  4. Al-Baqarah 1-5
  5. At-Taubah 128-129
  6. Al-Waqi’ah 35-38
  7. Ath-Thariq
  8. An-Nahl 125
  9. Al-Baqarah 275
  10. As-Sajdah
  11. Al-Baqarah 155
  12. Al-Hujurat

Pencarian: ayat dhuha latin, al.kafirun latin, surah qiyamah, nuh 10-12, surah arrad ayat 31

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
👉 tafsirweb.com/start
 
✅ Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: