Surat Al-Furqan Ayat 21

۞ وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَآءَنَا لَوْلَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ لَقَدِ ٱسْتَكْبَرُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيرًا

Arab-Latin: Wa qālallażīna lā yarjụna liqā`anā lau lā unzila 'alainal-malā`ikatu au narā rabbanā, laqadistakbarụ fī anfusihim wa 'atau 'utuwwang kabīrā

Artinya: Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman".

« Al-Furqan 20Al-Furqan 22 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Hikmah Berharga Mengenai Surat Al-Furqan Ayat 21

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Furqan Ayat 21 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada aneka ragam hikmah berharga dari ayat ini. Ditemukan aneka ragam penjabaran dari banyak ulama terhadap makna surat Al-Furqan ayat 21, misalnya sebagaimana berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan berkatalah orang-orang yang tidak berharap perjumpaan dengan tuhan mereka setelah kematian mereka, didorong rasa pengingkaran terhadapnya, “Mengapa tidak diturunkan kepada kami malaikat untuk memberitahukan kepada kami bahwa sesungguhnya Muhammad adalah orang yang jujur, atau kami dapat menyaksikan Tuhan kami dengan mata kepala kami, lalu Dia memberitahukan kepada kami tentang kebenarannya dalam mengemban risalahNya?” sungguh, mereka telah bangga memandang diri mereka dan mereka sombong, lantaran berani melontarkan ucapan tersebut dan bertindak melampaui batas dalam penentangan dan kekafiran mereka.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

21. Dan orang-orang yang tidak mengharap dan tidak meyakini perjumpaan dengan Allah pada hari kiamat berkata: “Mengapa malaikat tidak turun kepada kami dan menyampaikan kebenaran Muhammad, atau mengapa kami tidak dapat melihat Allah dengan mata kepala kami.” Sungguh mereka dalam diri mereka terdapat kesombongan terhadap dakwah Nabi Muhammad dan mereka telah berbuat semena-mena.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

21. Orang-orang kafir yang tidak berharap adanya pertemuan dengan Kami dan tidak pula takut akan azab Kami mengatakan, "Mengapakah Allah tidak menurunkan Malaikat agar ia mengabarkan kepada kami tentang kebenaran Muhammad, atau mengapa kami tidak melihat Tuhan kami secara nyata agar Dia mengabarkan tentang kebenaran Muhammad?" Sesungguhnya rasa angkuh telah membesar sekali dalam diri mereka hingga menghalangi mereka dari keimanan, dan dengan perkataan mereka ini, mereka benar-benar telah melampaui batas dalam melakukan kekafiran dan kedurhakaan.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

21. وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَآءَنَا (Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami)
Yakni orang-orang yang tidak mengharapkan pahala yang telah Kami janjikan sebagai balasan ketaatan.

لَوْلَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلٰٓئِكَةُ(Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat)
Kemudian malaikat itu mengatakan kepada kami bahwa Muhammad adalah orang yang benar.
Atau maksudnya adalah mengapa tidak diturunkan kepada kami rasul-rasul yang diutus Allah.

أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ( atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita)
Yakni melihat Tuhan secara langsung, yang mengatakan kepada Kami bahwa Muhammad adalah rasul yang Dia utus.

لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيرًا (Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman)
Yakni mereka menyimpan keangkuhan dan kedurhakaan dalam hati mereka terhadap kebenaran. Mereka tidak puas dengan manusia yang diutus kepada mereka sehingga meminta untuk diutus malaikat kepada mereka, bahkan lebih dari itu, mereka juga memberikan pilihan antara diutusnya malaikat kepada mereka atau mereka dapat melihat dan berbicara dengan Allah di dunia tanpa perantara.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

21. Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan yang tidak menantikan pertemuan dengan Allah di akhirat berkata: ”Kenapa Allah tidak menurunkan malaikat kepada kami untuk mengabarkan tentang kebenaran Muhammad atau (mengapa) kami tidak bisa melihat Tuhan kami dengan mata kepala kami sehingga Dia bisa memberitahu kami bahwa Muhammad adalah rasul yang Dia utus.” Sungguh mereka sangat menyombongkan diri sendiri sehingga ingin dihormati sebagai wujud keagungan. Mereka juga melampaui batas dalam berbuat kezaliman dan kesewenang-wenangan dengan meminta pengutusan malaikat dan melihat Allah di dunia


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami} tidak menginginkan untuk bertemu dengan Tuhan mereka {berkata,“Mengapa tidak} mengapa tidak {diturunkan kepada kita malaikat atau kita melihat Tuhan kita” Sungguh mereka benar-benar telah menyombongkan diri dan melampaui batas} melampaui batas dalam kezaliman {yang sangat besar} melampaui batas yang sangat jauh


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

21 orang-orang yang mendustakan rasul, yaitu yang mendustakan janji Allah dan ancamanNya, yang di dalam hati mereka tidak ada rasa takut terhadap ancaman dan tidak mengharap pertemuan dengan sang Pencipta berkata, ”mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat, atau kita melihat Rabb kita,” maksudnya mengapa para malaikat tidak turun untuk memberikan kesaksian bagimu atas kerasulanmu dan memberikan dukungan kepadamu atasnya, atau mereka turun sebagai rasul-rasul khusus, atau kita langsung melihat Tuhan, agar Dia berbicara kepada kita dan mengatakan, ’ini adalah utusanKu, maka ikutilah dia!” ini adalah tindakan menentang rasul dengan sesuatu yang bukan penentang, akan tetapi ia merupakan kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan.
“sungguh mereka menganggap besar diri mereka,” di mana mereka mengajukan usulan ini dan telah lancang melakukan tindakan yang sangat tidak sopan ini. Siapa kalian wahai si kaum fakir, wahai si kaum hina, hingga kalian (berani-beraninya) meminta melihat Allah dan kalian beranggapan bahwa kebenaran dan kepastian kerasulan itu sangat tergantung kepada hal yang demikian? Sungguh, kesombongan apalagi yang lebih besar dari ini?
“dan mereka benar-benar sangat melampaui batas,” maksudnya, mereka bersikap keras hati dan beku terhadap kebenaran dengan sekeras-kerasnya. Hati mereka lebih keras daripada batu, atau lebih liat daripada besi, sama sekali tidak mau lunak terhadap kebenaran dan tidak mau mendengar (nasihat) orang-orang yang memberi nasihat. Maka dari itu nasihat dan peringatan sama sekali tidak membekas pada mereka, dan mereka tidak mau mengikuti kebenaran ketika seorang pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menghadapi manusia yang paling jujur dan paling tulus, dan ayat-ayat Allah yang sangat jelas dengan sikap berplaing dan mendustakan [serta menentang]. Keangkuhan apalagi yang lebih besar daripada keangkuhan semacam ini? Maka dari itu, amal perbuatan mereka batal (hangus) dan sirna, dan mereka merugi dengan kerugian yang paling besar [dan terhalang sepenuhnya dari kebaikan].


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 21-24
Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang kerasnya kekafiran dan keingkaran orang-orang kafir (Mengapakah tidak diturunkan malaikat kepada kita) yaitu untuk membawa risalah sebagaimana risalah diturunkan kepada para nabi, sebagaimana Allah SWT memberitahukan tentang mereka dalam ayat lain: (Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah) (Surah Al-An'am: 124) Bisa juga bahwa maksud mereka di sini: (Mengapakah tidak diturunkan malaikat kepada kita) sehingga kita dapat melihat mereka dan mereka memberitahukan kepada kita bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana perkataan mereka: (atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami) (Surah Al-Isra: 92)
Tafsir ayat ini telah diterangkan dalam surah Al-Isra. Oleh karena itu mereka berkata (atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?) Oleh karena itu Allah SWT berfirman (Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman) dan Allah SWT berfirman: (Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (111)) (Surah Al-An'am)
Firman Allah SWT: (Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, "Hijran Mahjura” (22)) yaitu, mereka tidak dapat melihat malaikat di hari yang paling baik bagi mereka, bahkan di hari mereka dapat melihat para malaikat, tidak ada kabar gembira bagi mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka) yaitu dengan pukulan ((sambil berkata),"'Keluarkanlah nyawamu” Di hari kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya) (Surah Al-An'am: 93) Oleh karena itu Allah berfirman di ayat ini: (Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa) Ini berbeda dengan keadaan orang-orang mukmin, saat mereka menjelang kematiannya. Sesungguhnya mereka mendapat berita gembira tentang kebaikan-kebaikan dan mendapat hal-hal yang menyenangkan. Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah, " kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),"Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih; dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan (30) Allah kepada kalian,” Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta (31) Sebagai balasan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (32)) (Surah Fushshilat)
Asal kata “al-hijr” adalah terlarang. Dikatakan,"Hajara Al-Qadhi 'ala Fulan" yaitu ketika dia menahan kebebasannya, bisa juga karena dia jatuh, kekurangan akal, kecil, atau karena hal lain. Dikatakan “Al-Hijr” juga pengertian Hijir (Isma'il) yang ada di sisi Masjidil Haram, karena orang-orang yang berthawaf dilarang berthawaf di dalamnya, melainkan thawaf dilakukan di luarnya. Termasuk ke dalamnya dikata­kan kepada penjamin dengan sebutan hijr karena mencegah orang yang berada di bawah jaminannya melakukan hal-hal yang tidak layak. Maksudnya bahwa dhamir di dalam firmanNya: (dan mereka mengatakan) kembali kepada malaikat. Demikianlah pendapat Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Atiyyah Al-Aufi, ‘Atha’ Al-Khurrasani, Khashif, dan lainnya. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir
Ibnu Jarir meriwayatkan hal ini dari Ibnu Juraij bahwa hal itu merupakan perkataan orang-orang musyrik (Pada hari mereka melihat malaikat) yaitu mereka meminta perlindungan dari para malaikat. Demikian itu karena orang-orang Arab di masa dahulu jika seseorang dari mereka mengalami musibah atau kesengsaraan, dia mengatakan, (Hijran Mahjura) Pendapat ini sekalipun mempunyai alasan dan sumber, tetapi terkait dari segi konteks ayat ini jauh dari kebenaran, terlebih lagi mayoritas ulama telah menashkan hal yang bertentangan dengan itu. Akan tetapi, Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid bahwa dia berkata tentang firmanNya, ("Hijran Mahjura") yaitu memohon perlindungan dengan sungguh-sungguh, sehingga pendapat ini bisa sesuatu dengan apa yang dikemukakan Ibnu Juraij. Tetapi dalam riwayat Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Abu Najih, dari Mujahid, dia berkata bahwa (Hijran Mahjura) adalah memohon perlindungan dengan sungguh-sungguh, dan para malaikat yang mengatakannya. Hanya Allah Yang lebih Mengetahui
Firman Allah SWT: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan). Ini terjadi pada hari kiamat saat Allah menghisab semua hamba atas amal yang telah mereka kerjakan, baik amal yang baik dan yang buruk. Maka Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik itu tidak akan memperoleh sesuatu imbalan pun dari amal perbuatan yang mereka lakukan, padahal mereka menduga bahwa amal perbuatannya itu dapat menyelamatkan mereka. Demikian itu karena amal perbuatannya tidak memenuhi syarat dalam syariat, yaitu ikhlas dalam beramal karena Allah atau mengikuti syariat Allah. Setiap amal dilakukan tidak secara ikhlas dan tidak sesuai dengan syariat yang diridhai adalah bathil. Amal perbuatan orang-orang kafir itu tidak memenuhi salah satu dari kedua hal ini, dan terkadang kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga lebih jauh dari diterima. Oleh karena itu.Allah SWT berfirman: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan (23)) Mujahid dan Ats-Tsauri berkata tentang (Dan Kami hadapi) adalah Kami hadapi. Demikian juga dikatakan oleh As-Suddi, dan sebagian lain berkata,”'Kami datangi dia”.
Firman Allah SWT: (lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan) yaitu, sinar matahari apabila memasuki sebuah lubang dinding. Demikian juga diriwayatkan dari ulama’ lainnya dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, dan lainnya. Demikian juga dikatakan Hasan Al-Bashri, yaitu sinar matahari memasuki lubang dinding rumah seseorang, seandainya dia meraupkan tangannya pada sinar itu, dia tidak dapat menangkapnya.
Kesimpulan dari semua pendapat itu menjelaskan makna yang terkandung ayat itu. Demikian juga karena mereka melakukan banyak amal perbuatan yang menurut dugaan mereka benar. Tetapi ketika ditampilkan di hadapan Raja, Hakim yang Maha adil, tidak melampaui batas dan tidak pernah menganiaya seseorang, ternyata tidak ada artinya sama sekali. Kemudian hal itu diumpamakan dengan sesuatu yang tidak ada artinya dan berserakan, yang oleh pemiliknya tidak ada artinya sama sekali. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh (18)) (Surah Ibrahim)
Firman Allah SWT: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24)) yaitu pada hari kiamat (Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (20)) (Surah Al-Hasyr) Demikian itu bahwa penghuni surga memperoleh kedudukan-kedudukan yang tinggi dan ruangan-ruangan yang aman. Mereka berada di tempat yang aman, bagus pemandangannya, dan harum tempat tinggalnya (mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman (76)) (Surah Al-Furqan) Penghuni neraka berada di tempat yang paling bawah, kekecewaan yang berturut-turut, dan berbagai macam azab serta siksaan (Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman (66)) (Surah Al-Furqan) yaitu seburuk-buruk pemandangannya dan tempat tinggal. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24)) yaitu karena amal mereka yang diterima, akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka dapatkan, dan menempati tempat mereka itu, berbeda dengan keadaan penghuni neraka. Sesungguhnya mereka tidak mempunyai suatu amal yang menjadi alasan bagi mereka untuk dapat masuk surga dan selamat dari neraka. Jadi Allah SWT mengingatkan keadaan orang-orang yang berbahagia di atas keadaan orang-orang yang celaka. Orang-orang yang celaka itu sama sekali tidak memiliki apapun pada diri mereka. Jadi Allah SWT berfirman: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24))
Qatadah berkata tentang firmanNya: (paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya) yaitu tempat bernaung dan tempat tinggal


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Surat Al-Furqan ayat 21: Maksudnya, orang-orang yang mendustakan janji dan ancaman Allah, di mana dalam hati mereka tidak ada rasa takut terhadap ancaman Allah dan tidak berharap bertemu dengan Allah.

Sebagai rasul.

Lalu Dia memberitahu kami bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.

Karena permintaan mereka untuk melihat Allah di dunia. Nampaknya mereka tidak berkaca terhadap diri mereka, memangnya mereka siapa sampai meminta untuk melihat Allah dan mengira bahwa kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam benar tidaknya tergantung atas hal itu? Kesombongan apalagi yang lebih besar daripada ini.

Hati mereka lebih keras daripada batu, bahkan lebih keras daripada besi sehingga nasehat dan peringatan tidak bermanfaat, dan mereka tidak mau mengikuti kebenaran ketika pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menyikapi orang yang paling jujur dan paling tulus kepada orang lain dan menyikapi ayat-ayat Allah dengan berpaling, mendustakan dan menentangnya. Sungguh kelewatan sekali sikap mereka. Oleh karena itu amal-amal mereka akan batal dan mereka akan rugi serugi-ruginya sebagaimana diterangkan dalam ayat 23.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Furqan Ayat 21

Ayat ini menjelaskan tentang alasan lainnya yang dibuat-buat kaum musyrik mekah karena keengganan mereka beriman kepada nabi Muhammad. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami di akhirat karena keingkaran mereka terhadap adanya hari akhir, atau karena ketidaktakutan mereka terhadapnya, mereka berkata, 'mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita dalam wujudnya yang nyata, yang memberitahukan tentang kebenaran nabi Muhammad, atau mengapa kita tidak melihat tuhan kita' dengan mata kepala kita yang juga memberitahukan tentang kebenaran nabi Muhammad. " permintaan-permintaan tersebut jelas mengada-ada, sama dengan apa yang dilakukan bani israil dahulu. Hal itu jelas muncul dari hati mereka yang penuh kedengkian. Sungguh, mereka telah me-nyombongkan diri mereka karena terbujuk oleh hawa nafsu. Mereka meng-anggap bahwa merekalah yang lebih mulia, baik karena kekayaan atau kedudukan mereka di masyarakat. Dan mereka benar-benar telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Demikianlah jika hati telah tertutup oleh kekafiran, semua kebenaran yang ada di hadapan, walau sudah terang benderang, tidak diacuhkan sama sekali. 22. Ingatlah pada hari ketika mereka melihat para malaikat, yang dahulu mereka mintakan kepada nabi Muhammad didatangkan, ternyata yang datang kepada mereka adalah malaikat penyiksa. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa sementara kaum mukmin mendapatkan kabar gembira itu dari para malaikat bahwa dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah, dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Dan mereka para malaikat itu berkata, kepada orang kafir 'hijran mahjura. ' artinya: terlarang bagi kalian mendapatkan berita gembira itu.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Demikian berbagai penjelasan dari berbagai pakar tafsir mengenai isi dan arti surat Al-Furqan ayat 21 (arab-latin dan artinya), moga-moga membawa faidah untuk kita semua. Dukung usaha kami dengan memberi link ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Konten Paling Banyak Dicari

Tersedia berbagai materi yang paling banyak dicari, seperti surat/ayat: Al-Baqarah 275, As-Sajdah, Ar-Ra’d 28, An-Nahl 125, Al-Waqi’ah 35-38, Al-Baqarah 155. Ada pula Ath-Thariq, At-Taubah 128-129, At-Tahrim 6, Al-Hujurat, Al-Baqarah 1-5, Al-Furqan 63.

  1. Al-Baqarah 275
  2. As-Sajdah
  3. Ar-Ra’d 28
  4. An-Nahl 125
  5. Al-Waqi’ah 35-38
  6. Al-Baqarah 155
  7. Ath-Thariq
  8. At-Taubah 128-129
  9. At-Tahrim 6
  10. Al-Hujurat
  11. Al-Baqarah 1-5
  12. Al-Furqan 63

Pencarian: ada berapa juz dalam al quran, surat al qashash, al iklas artinya, surat at-takwir, quran surah an naba

Surat dan Ayat Rezeki

Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" dengan sharing informasi tentang TafsirWeb!

Cara Sharing Manual:

Copy-paste text di bawah, kirim ke lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
✅ Klik *tafsirweb.com/start* untuk menikmati tafsir al-Qur'an
 
✅ Klik *tafsirweb.com/pahala* lalu kirim informasi ini ke 5 group lainnya untuk dapat pahala jariyah

Cara Sharing Otomatis:

Klik Di Sini 👉 pilih lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti 👉 klik tombol kirim

Bonus Setelah Sharing:

Setelah Anda melakukan sharing, klik tombol di bawah: