Surat al-Mu’min

Belajar Quran Online

حم

Arab-Latin: ḥā mīm

Terjemah Arti:  1.  Haa Miim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

( Ha Mim). Pembicaraan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah di awal surat seperti ini telah hadir di awal surat al-Baqarah.

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-‘alīm

 2.  Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui,

Diturunkannya al-Qur’an kepada nabi Muhammad adalah dari sisi Allah yang Mahaperkasa yang dengan keperkasaanNya mengalahkan seluruh makhluk, juga maha Mengetahui segala sesuatu.

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

gāfiriż-żambi wa qābilit-taubi syadīdil-‘iqābi żiṭ-ṭaụl, lā ilāha illā huw, ilaihil-maṣīr

 3.  Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya-lah kembali (semua makhluk).

Dia pengampun terhadap dosa orang-orang yang berbuat dosa, Penerima taubat dari orang-orang yang bertaubat, maha keras hukumanNya bagi siapa yang berani melakukan dosa-dosa dan tidak mau bertaubat darinya. Dia pemilik karunia dan nikmat atas hamba-hambaNya yang taat, tiada sesembahan yang berhak untuk disembah selainNya, hanya kepadaNya tempat kembali seluruh makhluk di hari perhitungan amal perbuatan, lalu Dia membalas masing-masing orang sesuai dengan haknya.

مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ

mā yujādilu fī āyātillāhi illallażīna kafarụ fa lā yagrurka taqallubuhum fil-bilād

 4.  Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.

Tiada yang menentang ayat-ayat al-Qur’an dan dalil-dalilnya yang menetapkan keesaan Allah dan menyikapinya dengan kebatilan, kecuali orang-orang yang ingkar yang mengingkari bahwa Allah adalah Tuhan Yang Haq yang berhak untuk disembah. Maka janganlah kamu (wahai Rasul) terperdaya oleh hilir mudik mereka di berbagai negeri dengan berbagai macam perniagaan dan mata pencaharian, kenikmatan dan perhiasan dunia.

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ ۖ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ

każżabat qablahum qaumu nụḥiw wal-aḥzābu mim ba’dihim wa hammat kullu ummatim birasụlihim liya`khużụhu wa jādalụ bil-bāṭili liyud-ḥiḍụ bihil-ḥaqqa fa akhażtuhum, fa kaifa kāna ‘iqāb

 5.  Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?

Telah mendustakan sebelum orang-orang kafir itu, kaum Nuh dan umat-umat yang datang sesudah mereka yang mengumumkan perang melawan rasul, seperti Ad dan Tsamud, di mana mereka bertekad untuk menyakiti para rasul dan bersekutu untuk mengganggu mereka atau membunuh mereka, masing-masing umat dari umat-umat yang mendustakan tersebut berkeinginan untuk membunuh rasulnya dan mendebatnya dengan kebatilan, sehingga mereka bisa membatalkan kebenaran dengan debat mereka, maka Aku menghukum mereka. Maka bukankah hukumanKu atas mereka mengandung pelajaran bagi makhluk dan nasihat bagi orang-orang yang datang sesudah mereka?

وَكَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

wa każālika ḥaqqat kalimatu rabbika ‘alallażīna kafarū annahum aṣ-ḥābun-nār

 6.  Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.

Sebagaimana hukumanKu benar-benar telah menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para RasulNya, maka ketetapanKu pasti berlaku pula atas orang-orang kafir bahwa mereka adalah penduduk neraka.

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

allażīna yaḥmilụnal-‘arsya wa man ḥaulahụ yusabbiḥụna biḥamdi rabbihim wa yu`minụna bihī wa yastagfirụna lillażīna āmanụ, rabbanā wasi’ta kulla syai`ir raḥmataw wa ‘ilman fagfir lillażīna tābụ wattaba’ụ sabīlaka wa qihim ‘ażābal-jaḥīm

 7.  (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

Para malaikat yang memikul Arasy Tuhan Yang Maha Pengasih dan para malaikat di sekeliling Arasy dari kalangan para malaikat yang mengelilinginya, mereka menyucikan Allah dari segala kekurangan, memujiNya dengan pujian yang layak untukNya, mereka beriman kepadaNya dengan sebenar-benar iman, dan mereka memohon kepadaNya agar memaafkan orang-orang Mukmin. Mereka berdoa, “Wahai Tuhan Kami, ilmu dan rahmatMu meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dari syirik dan kemaksiatan, lalu mengambil jalan yang Engkau perintahkan agar mereka mengambilnya, yaitu Islam, dan jauhkanlah mereka dari azab api neraka dan kengeriannya.

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

rabbanā wa adkhil-hum jannāti ‘adninillatī wa’attahum wa man ṣalaḥa min ābā`ihim wa azwājihim wa żurriyyātihim, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

 8.  ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,

Wahai Tuhan kami, masukkanlah orang-orang yang beriman ke dalam surga-surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang yang shalih karena iman dan amal shalih dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa yang menundukkan segala sesuatu, juga Mahabijaksana dalam penciptaan dan pengaturanNya.

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

wa qihimus-sayyi`āt, wa man taqis-sayyi`āti yauma`iżin fa qad raḥimtah, wa żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

 9.  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”.

dan palingkanlah dari mereka akibat buruk dari amal-amal keburukan mereka, maka jangan menyiksa mereka karenanya. Dan barangsiapa yang Engkau palingkan darinya akibat buruk perbuatannya di hari perhitungan, maka Engkau telah merahmatinya dan memberi nikmat kepadanya dengan keselamatan dari siksaMu, dan itu adalah kemenangan yang besar di mana tiada kemenangan sepertinya.”

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ

innallażīna kafarụ yunādauna lamaqtullāhi akbaru mim maqtikum anfusakum iż tud’auna ilal-īmāni fa takfurụn

 10.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir”.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari bahwa Allah adalah Tuhan sembahan Yang Haq dan memberikan ibadah kepada selainNya, pada saat mereka menyaksikan siksa api neraka dengan diri mereka, maka mereka akan membenci diri mereka sendiri sebenci-bencinya. Saat itu para penjaga neraka jahanam memanggil mereka, “ Murka Allah terhadap kalian di dunia (saat Dia meminta kalian agar beriman kepadaNya dan mengikuti rasul-rasulNya, lalu kalian menolak) adalah lebih besar daripada kebencian kalian terhadap diri kalian sendiri saat ini setelah kalian mengetahui bahwa kalian memang berhak untuk mendapat murka Allah dan siksaNya.”

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

qālụ rabbanā amattanaṡnataini wa aḥyaitanaṡnataini fa’tarafnā biżunụbinā fa hal ilā khurụjim min sabīl

 11.  Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”

Orang-orang kafir berkata, Wahai tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali, yaitu saat kami masih dalam Rahim ibu kami dalam bentuk setetes air mani sebelum ditiupkannya ruh, dan saat ajal kami di dunia telah habis. Dan Engkau telah menghidupkan kami dua kali, di dunia saat kami lahir dan disaat kami dibangkitkan dari kubur kami. Sekarang kami mengakui kesalahan-kesalahan masa lalu kami. Adakah jalan bagi kami untuk keluar dari api neraka lalu Engkau mengembalikan kami ke dunia agar kami bisa beramal menaatimu?” Akan tetapi alangkah ruginany mereka, karena pengakuan ini sama sekali tidak berguna bagi mereka.

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

żālikum bi`annahū iżā du’iyallāhu waḥdahụ kafartum, wa iy yusyrak bihī tu`minụ, fal-ḥukmu lillāhil-‘aliyyil-kabīr

 12.  Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Siksa yang kalian peroleh itu (wahai orang-orang kafir) adalah disebabkan karena kalian dulu diajak untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan amal perbuatan untukNya, namun kalian justru malah ingkar kepadaNya, tetapi bila ada sekutu yang diangkat bersama Allah, kalian justru membenarkan dan mengikutinya. Maka Allah adalah Pemberi putusan hukum terhadap makhlukNya, Yang Mahaadil yang tidak bertindak zhalim, memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, merahmati siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia yang Mahatinggi DzatNya, kedudukanNya, dan kekuasaanNya, serta bagiNya kebesaran dan keagungan.

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا ۚ وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ

huwallażī yurīkum āyātihī wa yunazzilu lakum minas-samā`i rizqā, wa mā yatażakkaru illā may yunīb

 13.  Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).

Dia-lah yang memperlihatkan KuasaNya kepada kalian (wahai manusia) melalui apa yang kalian saksikan berupa tanda-tanda agung yang menunjukkan kesempurnaan Pencipta dan Pembuatnya, Dia juga menurunkan hujan untuk kalian dari langit yang dengannya kalian mendapatkan rizki. Dan tiada yang mengambil pelajaran dari ayat-ayat ini kecuali orang-orang yang kembali kepada ketaatan kepada Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya untukNya.

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

fad’ullāha mukhliṣīna lahud-dīna walau karihal-kāfirụn

 14.  Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

maka ikhlaskanlah (wahai orang-orang Mukmin) ibadah dan doa hanya kepada Allah semata, selisihilah jalan orang-orang musyrik sekalipun hal itu membuat mereka marah, jangan pedulikan mereka.

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ

rafī’ud-darajāti żul-‘arsy, yulqir-rụḥa min amrihī ‘alā may yasyā`u min ‘ibādihī liyunżira yaumat-talāq

 15.  (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).

Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi, yang derajat-derajatNya membubung tinggi sehingga Dia tidaklah sama dengan makhluk-makhlukNya, dan kedudukanNya juga tinggi, dan Dia adalah Pemilik Arasy yang agung. Diantara bentuk rahmatNya kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Dia mengutus para Rasul kepada mereka untuk menyampaikan wahyu yang dengannya mereka hidup, sehingga mereka menjalani segala urusan mereka dengan dasar ilmu yang jelas, agar para rasul itu mempertakutkan hamba-hamba, di samping juga memberikan peringatan kepada mereka tentang Hari Kiamat di mana di sana orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir akan bertemu.

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ ۖ لَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۚ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

yauma hum bārizụn, lā yakhfā ‘alallāhi min-hum syaī`, limanil-mulkul-yaụm, lillāhil-wāḥidil-qahhār

 16.  (Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

Di Hari Kiamat, seluruh makhluk akan menghadap Tuhan mereka, tiada seorang pun dari mereka yang samar bagi Allah, tiada sedikit pun amal yang mereka lakukan di dunia yang tidak diketahui oleh Allah, saat itu Allah berfirman, “Milik siapa kerajaan dan hak bertindak di hari ini ?” lalu Allah sendiri yang menjawab, “Hanya milik Allah yang Maha Esa dengan nama-nama dan sifat-sifatNya serta perbuatan-perbuatanNya, juga Mahakuat Yang mengalahkan seluruh makhluk dengan Kuasa dan keperkasaanNya.”

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

al-yauma tujzā kullu nafsim bimā kasabat, lā ẓulmal-yaụm, innallāha sarī’ul-ḥisāb

 17.  Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.

Pada hari itu, setiap jiwa akan diberikan balasan atas apa yang dikerjakannya di dunia, kebaikan atau keburukan, tidak ada kedzhaliman bagi seorangpun dengan dikurangi pahalanya atau ditambahkan keburukannya. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya, maka jangan pernah merasa bahwa hari itu masih jauh, karena sebenarnya ia sudah dekat.

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

wa anżir-hum yaumal-āzifati iżil-qulụbu ladal-ḥanājiri kāẓimīn, mā liẓ-ẓālimīna min ḥamīmiw wa lā syafī’iy yuṭā’

 18.  Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.

Berilah peringatan (wahai Rasul) kepada manusia tentang kedatangan Hari Kiamat yang sudah dekat, sekalipun mereka menganggapnya masih jauh, hari di mana hati para hamba, karena ketakutannya pada Allah, naik ke dada mereka, sehingga ia mencapai kerongkongan mereka sedangkan mereka dipenuhi rasa ketakutan dan kesedihan. Dan orang-orang zhalim tidak memiliki kawan, kerabat dan pemberi syafaat yang membantu mereka di hadapan Tuhan mereka.

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

ya’lamu khā`inatal-a’yuni wa mā tukhfiṣ-ṣudụr

 19.  Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.

Allah mengetahui lirikan pandangan-pandangan sekilas yang dilakukan oleh mata, juga kebaikan atau keburukan yang manusia simpan di dalam dadanya.

وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَقْضُونَ بِشَيْءٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

wallāhu yaqḍī bil-ḥaqq, wallażīna yad’ụna min dụnihī lā yaqḍụna bisyaī`, innallāha huwas-samī’ul-baṣīr

 20.  Dan Allah menghukum dengan keadilan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Allah menetapkan menetapkan sebuah keputusan diantara manusia dengan adil sesuai dengan apa yang berhak mereka dapatkan, sedangkan tuhan-tuhan selain Allah yang disembah oleh manusia itu tidak memutuskan apa pun karena mereka memang tidak mampu untuk melakukan hal itu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan-perkataaan makhlukNya, Maha Melihat perbuatan-perbuatan dan amal-amal mereka, lalu Dia membalas mereka atasnya.

۞ أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

a wa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna kānụ ming qablihim, kānụ hum asyadda min-hum quwwataw wa āṡāran fil-arḍi fa akhażahumullāhu biżunụbihim, wa mā kāna lahum minallāhi miw wāq

 21.  Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.

Apakah orang-orang yang mendustakan risalahmu itu (wahai rasul) tidak berjalan di bumi untuk melihat bagaimana akhir hidup orang-orang terdahulu? Umat-umat itu lebih dahsyat kekuatannya daripada mereka dan lebih meninggalkan bekas di muka bumi, namun kekuatan mereka yang dahsyat dan kebesaran jasad mereka itu tidak berguna bagi mereka, Allah menetapkan hukumanNya atas mereka disebabkan kekafiran mereka dan dosa-dosa yang mereka kerjakan. Mereka tidak memiliki pelindung yang bisa melindungi mereka dari azab Allah dan mencegah azab itu dari mereka.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

żālika bi`annahum kānat ta`tīhim rusuluhum bil-bayyināti fa kafarụ fa akhażahumullāh, innahụ qawiyyun syadīdul-‘iqāb

 22.  Yang demiklan itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya.

Azab yang menimpa orang-orang yang mendustakan yang telah berlalu itu disebabkan oleh sikap mereka terhadap rasul-rasul mereka yang hadir membawa bukti-bukti yang kuat atas kebenaran dakwah mereka, namun mereka malah kafir kepada utusan tersebut dan mendustakan mereka, maka Allah mengambil mereka semuanya dengan azabNya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, tidak seorang pun mengalahkanNya, juga Mahakeras hukumanNya bagi siapa yang kafir dan bermaksiat kepadaNya.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā wa sulṭānim mubīn

 23.  Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,

Sungguh Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami yang agung yang membuktikan kebenaran tugas yang diembannya, dan hujjah yang nyata lagi jelas atas kebenaran dakwahnya serta kebatilan perbuatan kaum di mana Musa diutus kepada mereka.

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

ilā fir’auna wa hāmāna wa qārụna fa qālụ sāḥirung każżāb

 24.  kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.

kepada Fir’aun, Raja Mesir, Haman, menterinya; dan Qarun, hartawan pemilik kekayaan melimpah-ruah, lalu mereka mengingkari risalahnya dan menyombongkan diri. Mereka berkata tentangnya, “sesungguhnya dia adalah tukang sihir pembohong, bagaimana dia mengaku bahwa dirinya diutus kepada manusia sebagai Rasul?”

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ ۚ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

fa lammā jā`ahum bil-ḥaqqi min ‘indinā qāluqtulū abnā`allażīna āmanụ ma’ahụ wastaḥyụ nisā`ahum, wa mā kaidul-kāfirīna illā fī ḍalāl

 25.  Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka).

Maka ketika Musa datang kepada Fir’aun, Haman, dan Qarun dengan membawa mukjizat-mukjizat yang jelas dari sisi Kami, mereka tidak cukup hanya dengan menentang dan mengingkarinya, mereka malah berkata, “Bunuhlah anak-anak lelaki orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah anak-anak perempuan mereka tetap hidup untuk menjadi pelayan dan budak kami.” Rencana jahat orang-orang kafir hanyalah akan sia-sia dan binasa.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

wa qāla fir’aunu żarụnī aqtul mụsā walyad’u rabbah, innī akhāfu ay yubaddila dīnakum au ay yuẓ-hira fil-arḍil-fasād

 26.  Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.

Fir’aun berkata kepada para pembesar kaumnya, “Biarkan aku membunuh Musa dan biarkan dia memanggil Tuhannya yang dia anggap Dia mengutusnya kepada kita agar Dia bisa melindunginya dari apa yang hendak dia lakukan terhadapnya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan mengganti agama yang telah kalian pegang atau akan menghadirkan kerusakan di bumi Mesir ini.”

وَقَالَ مُوسَىٰ إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ

wa qāla mụsā innī ‘użtu birabbī wa rabbikum ming kulli mutakabbiril lā yu`minu biyaumil-ḥisāb

 27.  Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”.

Dan Musa berkata kepada Fir’aun dan orang-orangnya, “Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Tuhanku dan Tuhan kalian (wahai kaum) dari setiap orang yang menyombongkan diri dengan menolak untuk mentauhidkan Allah dan menaatiNya dan dia tidak beriman kepada suatu hari di mana saat itu Allah akan memperhitungkan amal seluruh makhlukNya.”

وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ ۖ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

wa qāla rajulum mu`minum min āli fir’auna yaktumu īmānahū a taqtulụna rajulan ay yaqụla rabbiyallāhu wa qad jā`akum bil-bayyināti mir rabbikum, wa iy yaku kāżiban fa ‘alaihi każibuh, wa iy yaku ṣādiqay yuṣibkum ba’ḍullażī ya’idukum, innallāha lā yahdī man huwa musrifung każżāb

 28.  Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

Seorang laki-laki dari keluarga Fir’aun yang beriman kepada Allah yang menyembunyikan imannya berkata mengingkari kaumnya, “Bagaimana kalian membolehkan diri kalian untuk membunuh seorang laki-laki yang tidak melakukan dosa di tengah-tengah kalian kecuali karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah.’ padahal dia telah membawa bukti-bukti yang kuat dari sisi Tuhan kalian yang menunjukkan kebenaran apa yang dikatakannya? Bila Musa berdusta, maka akibat buruk dustanya akan menimpa dirinya sendiri, namun bila dia benar, maka sebagian dari apa yang dia ancamkan kepada kalian akan menimpa kalian. Sesungguhnya Allah tidak membimbing kepada jalan kebenaran siapa yang melampaui batas dengan meninggalkan kebenaran dan mengambil kebatilan serta pendusta dengan menisbatkan apa yang dilakukannya itu kepada Allah.

يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ يَنْصُرُنَا مِنْ بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءَنَا ۚ قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَىٰ وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

yā qaumi lakumul-mulkul-yauma ẓāhirīna fil-arḍi fa may yanṣurunā mim ba`sillāhi in jā`anā, qāla fir’aunu mā urīkum illā mā arā wa mā ahdīkum illā sabīlar-rasyād

 29.  (Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!” Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.

Wahai kaumku, bagi kalian kekuasaan di hari ini, kalian berkuasa di bumi Mesir atas rakyat kalian dari Bani Israil dan lainnya. Lalu siapa yang menolak azab Allah dari kita bila ia datang menimpa kita?’ fir’aun berkata kepada kaumnya untuk menjawab perkataannya, “Wahai manusia, aku tidak menunjukkan kepada kalian berupa pendapat atau nasihat kecuali apa yang aku pandang baik dan benar untuk diriku sendiri dan bagi kalian, dan aku tidak mengajak kalian kecuali kepada jalan yang benar lagi haq.”

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِثْلَ يَوْمِ الْأَحْزَابِ

wa qālallażī āmana yā qaumi innī akhāfu ‘alaikum miṡla yaumil-aḥzāb

 30.  Dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu.

Laki-laki yang beriman dari keluarga fir’aun itu berkata menasihati dan memperingatkan Fir’aun dan pengikutnya, “Sesungguhnya aku takut terhadap kalian bila kalian membunuh Musa, maka kalian akan ditimpa seperti hari al- Ahzab saat mereka bersekongkol melawan nabi-nabi mereka,

مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۚ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ

miṡla da`bi qaumi nụḥiw wa ‘ādiw wa ṡamụda wallażīna mim ba’dihim, wa mallāhu yurīdu ẓulmal lil-‘ibād

 31.  (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.

seperti kebiasaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka yang selalu mengingkari dan mendustakan, lalu Allah membinasakan mereka karena itu. Allah tidak ingin menzhalimi hamba-hambaNya lalu Dia mengazab mereka tanpa dosa yang mereka lakukan. Mahatinggi Allah dari kezhaliman dan kekurangan setinggi-tingginya.

وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ

wa yā qaumi innī akhāfu ‘alaikum yaumat-tanād

 32.  Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil.

Wahai kaumku, sesungguhnya aku takut hukuman di Hari Kiamat akan menimpa kalian, di hari itu sebagian manusia berseru memanggil sebagian yang lain karena beratnya kengerian di hari itu.

يَوْمَ تُوَلُّونَ مُدْبِرِينَ مَا لَكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ ۗ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

yauma tuwallụna mudbirīn, mā lakum minallāhi min ‘āṣim, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

 33.  (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.

Di hari dimana kalian berlarian tak tentu arah, kalian tidak memiliki pelindung dan penolong dari Allah yang bisa membantu kalian. Barangsiapa dibiarkan oleh Allah dan tidak dibimbing ke jalan lurus, maka tidak ada sesuatu pun yang membimbing yang menuntunnya ke jalan yang benar dan haq.

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ مِنْ بَعْدِهِ رَسُولًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ

wa laqad jā`akum yụsufu ming qablu bil-bayyināti fa mā ziltum fī syakkim mimmā jā`akum bih, hattā iżā halaka qultum lay yab’aṡallāhu mim ba’dihī rasụlā, każālika yuḍillullāhu man huwa musrifum murtāb,

 34.  Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.

Sungguh Allah telah mengutus kepada kalian seorang Nabi yang mulia, Yusuf bin Ya’qub sebelum Musa dengan membawa bukti-bukti yang jelas atas kebenarannya, dan dia memerintahkan kalian agar menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, namun kalian senantiasa dalam kebimbangan terhadap apa yang dia bawa dalam hidupnya, sehingga saat dia meninggal, semakin bertambahlah keragu-raguan dan kesyirikan kalian, dan kalian berkata, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengutus seorang rasul sesudahnya.” Dengan kesesatan seperti itulah Allah menyesatkan setiap orang yang bertindak melampaui batas kebenaran, selalu dalam keraguan tentang keesaan Allah, sehingga Allah tidak memberinya taufik ke jalan hidayah lagi lurus.

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

allażīna yujādilụna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum, kabura maqtan ‘indallāhi wa ‘indallażīna āmanụ, każālika yaṭba’ullāhu ‘alā kulli qalbi mutakabbirin jabbār

 35.  (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Dan orang-orang yang mendebat ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjahNya untuk menolaknya dengan tanpa memiliki hujjah-hujjah yang bisa diterima, perdebatan tersebut benar-benar besar dosanya sehingga itu mendatangkan murka Allah dan orang-orang yang beriman, sebagaimana Allah mengunci hati orang-orang yang mendebat itu dengan kesesatan dan Dia telah menutup dari hidayah, Allah juga menutup hati orang-orang yang menyombongkan diri sehingga menolak mentauhidkanNya dan menaatiNya, angkuh dengan banyak melakukan kezhaliman dan permusuhan.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ

wa qāla fir’aunu yā hāmānubni lī ṣar-ḥal la’allī ablugul-asbāb

 36.  Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,

أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ

asbābas-samāwāti fa aṭṭali’a ilā ilāhi mụsā wa innī la`aẓunnuhụ kāżibā, wa każālika zuyyina lifir’auna sū`u ‘amalihī wa ṣudda ‘anis-sabīl, wa mā kaidu fir’auna illā fī tabāb

 37.  (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

36-37. Fir’aun berkata mendustakan dakwah Musa untuk mengakui ketuhanan tuhan alam semesta dan berserah diri kepadaNya, “Wahai Haman, dirikanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi, yang bisa menyampaikanku kepada pintu-pintu langit sehingga aku ingin melihat sendiri Tuhan Musa. Sesungguhnya aku menyangka Musa telah berdusta dalam kata-katanya bahwa kita memiliki Tuhan dan bahwa Tuhan itu di atas langit.” Demikianlah perbuatan Fir’aun yang buruk itu dijadikan indah sehingga dia pun melihatnya baik, maka dia terhalangi dari jalan kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiasi untuknya. Taktik yang digunakan oleh Fir’aun untuk mengelabuhi manusia bahwa dirinya berada di pihak yang benar dan bahwa Musa adalah pihak yang salah, hanya kerugian dan kesia-siaan; tidak bermanfaat sama sekali selain hanya menambah kesengsaraan baginya di dunia dan di akhirat.

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ

wa qālallażī āmana yā qaumittabi’ụni ahdikum sabīlar-rasyād

 38.  Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

Orang yang beriman itu mengulangi nasihatnya kepada kaumnya, “Wahai kaumku ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kalian jalan yang lurus dan benar.

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

yā qaumi innamā hāżihil-ḥayātud-dun-yā matā’uw wa innal-ākhirata hiya dārul-qarār

 39.  Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kenikmatan sesaat bagi manusia, kemudian setelah itu terputus habis, maka janganlah kalian condong kepadanya. Sesungguhnya alam akhirat dengan segala kenikmatannya yang langgeng adalah tempat tinggal di mana kalian akan menetap selamanya di sana. Maka hendaklah kalian mendahulukannya dan beramal untuknya dengan amal-amal shalih yang membuat kalian berbahagia di sana.

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

man ‘amila sayyi`atan fa lā yujzā illā miṡlahā, wa man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa ulā`ika yadkhulụnal-jannata yurzaqụna fīhā bigairi ḥisāb

 40.  Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.

Barangsiapa durhaka kepada Allah dalam hidupnya dan menyimpang dari jalan hidayah, maka dia tidak dibalas di akhirat kecuali dengan hukuman yang sesuai dengan kedurhakaannya. Dan barangsiapa menaati Allah dan mengerjakan amal shalih dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, baik dia laki-laki atau perempuan, sementara dia beriman kepada Allah dan mentauhidkanNya, maka mereka akan masuk surga, di dalamnya Allah memberi mereka rizki dari buah-buahannya dan kenikmatannya serta kelezatannya tanpa batas.

۞ وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ

wa yā qaumi mā lī ad’ụkum ilan-najāti wa tad’ụnanī ilan-nār

 41.  Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?

Wahai kaumku, bagaimana aku tidak mengajak kalian agar beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya, Musa, sementara dakwahku ini menyampaikan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari api neraka, sementara kalian mengajakku kepada amal perbuatan yang membawa kepada azab Allah dan hukumanNya di neraka?

تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ

tad’ụnanī li`akfura billāhi wa usyrika bihī mā laisa lī bihī ‘ilmuw wa ana ad’ụkum ilal-‘azīzil-gaffār

 42.  (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?

Kalian mengajakku untuk kafir kepada Allah dan menyekutukanNya dengan sesuatu yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya bahwa ia memang berhak untuk disembah selain Allah (dan ini adalah dosa paling besar sekaligus paling buruk) sementara aku mengajak kalian kepada jalan yang menyampaikan kalian kepada Allah yang Mahaperkasa dalam pembalasanNya dan Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat kepadaNya setelah maksiat kepadaNya.

لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

lā jarama annamā tad’ụnanī ilaihi laisa lahụ da’watun fid-dun-yā wa lā fil-ākhirati wa anna maraddanā ilallāhi wa annal-musrifīna hum aṣ-ḥābun-nār

 43.  Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.

Benar, dakwah yang kalian serukan kepadaku agar aku meyakininya adalah sesuatu yang tidak patut untuk didakwahkan, ia tidak bisa dimintai perlindungan, tidak di dunia dan tidak pula di akhirat, karena kelemahan dan kekurangannya. Ketahuilah, bahwa tempat kembali seluruh makhluk adalah kepada Allah, Dia membalas setiap pelaku perbuatan sesuai dengan perbuatannya, dan bahwa orang-orang yang melanggar batasan-batasanNya dengan melakukan kemaksiatan, menumpahkan darah dan kekafiran, mereka adalah penduduk neraka.”

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ ۚ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

fasatażkurụna mā aqụlu lakum, wa ufawwiḍu amrī ilallāh, innallāha baṣīrum bil-‘ibād

 44.  Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.

maka ketika dia menasehati mereka dan mereka tidak menaatinya, dia berkata kepada mereka, “Kalian pasti akan teringat bahwa aku pernah menasehati dan mengingatkan kalian, kalian pasti akan menyesal di hari di mana penyesalan itu tidak berguna. Aku berserah diri kepada Allah dan berlindung kepadaNya serta bertawakal kepadaNya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat keadaan hamba-hambaNya dan balasan yang layak mereka dapatkan, tiada sesuatu pun yang samar bagiNya darinya.”

فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا ۖ وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

fa waqāhullāhu sayyi`āti mā makarụ wa ḥāqa bi`āli fir’auna sū`ul-‘ażāb

 45.  Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.

Maka Allah melindungi laki-laki beriman lagi diberi taufik itu dari siksa yang ditimpakan oleh Fir’aun dan bala tentaranya, sebaliknya Fir’aun dan bala tentaranya ditimpa azab terburuk di mana Allah menenggelamkan mereka semuanya.

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

an-nāru yu’raḍụna ‘alaihā guduwwaw wa ‘asyiyyā, wa yauma taqụmus-sā’ah, adkhilū āla fir’auna asyaddal-‘ażāb

 46.  Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.

sungguh mereka pertamanya tenggelam lalu mereka semua binasa, kemudian di dalam kubur mereka disiksa, di mana neraka diperlihatkan kepada mereka dipagi dan petang hari sampai hari perhitungan amal, dan di Hari Kiamat dikatakan, “Masukkanlah keluarga Fir’aun ke dalam neraka sebagai balasan atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan.” Ayat ini merupakan dasar yang menetapkan adanya siksa kubur.

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ

wa iż yataḥājjụna fin-nāri fa yaqụlud-du’afā`u lillażīnastakbarū innā kunnā lakum taba’an fa hal antum mugnụna ‘annā naṣībam minan-nār

 47.  Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Tatkala penduduk neraka bertikai, sebagian menyalahkan sebagian yang lain, lalu orang-orang yang mengikuti dan bertaklid membantah para pemimpin yang sombong yang menyesatkan mereka dan menghiasi jalan kesengsaraan untuk mereka, mereka berkata kepada para pemimpin, “Apakah kalian bisa membantu kami sedikit dengan memikul sebagian dari siksa neraka yang kami rasakan?”

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

qālallażīnastakbarū innā kullun fīhā innallāha qad ḥakama bainal-‘ibād

 48.  Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”.

Para pemimpin yang sombong itu menjawab mengakui kelemahan mereka, “Kami tidak bisa memikul sebagian dari azab neraka untuk kalian sementara kita semuanya ada di dalamnya, kita tidak memiliki jalan untuk keluar darinya. Sesungguhnya Allah telah membagi azab diantara kita sesuai dengan kadar yang menjadi haknya, sejalan dengan ketetapanNya yang adil.”

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ

wa qālallażīna fin-nāri likhazanati jahannamad’ụ rabbakum yukhaffif ‘annā yaumam minal-‘ażāb

 49.  Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari”.

Penduduk neraka dari kalangan orang-orang yang sombong dan orang-orang yang lemah berkata kepada para penjaga Jahanam, “Mintalah kepada Tuhan kalian agar Dia berkenan meringankan siksa dari kami sehari saja, sehingga kami bisa beristirahat.”

قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۚ قَالُوا فَادْعُوا ۗ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

qālū a wa lam taku ta`tīkum rusulukum bil-bayyināt, qālụ balā, qālụ fad’ụ, wa mā du’ā`ul-kāfirīna illā fī ḍalāl

 50.  Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.

Para penjaga Jahanam menjawab sambil menghardik mereka, “Permintaan itu tidak berguna apa pun untuk kalian, bukankah kalian telah didatangi oleh rasul-rasul kalian dengan membawa hujjah-hujjah yang jelas dari Allah lalu kalian mendustakan mereka?” Maka orang-orang yang ingkar itu mengakuinya dan mereka berkata, “Benar.” Maka para penjaga Jahanam berlepasdiri dari mereka dan berkata, “Kami tidak mendoakan kebaikan untuk kalian, dan tidak memberi syafaat kepada kalian, maka berdoalah kalian sendiri, namun doa itu tetap tidak berguna apa pun bagi kalian, karena kalian adalah orang-orang kafir.” Doa orang-orang kafir hanya kesia-siaan, tidak diterima dan tidak dijawab.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

innā lananṣuru rusulanā wallażīna āmanụ fil-ḥayātid-dun-yā wa yauma yaqụmul-asy-hād

 51.  Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),

Sesungguhnya Kami benar-benar akan menolong utusan-utusan Kami dan orang-orang Mukmin yang mengikuti mereka, dan Kami akan menjaga mereka dari pihak yang menyakiti mereka di kehidupan dunia ini dan di Hari Kiamat. Di hari itu para malaikat, para nabi dan orang-orang beriman bersaksi atas umat-umat yang mendustakan utusan-utusannya, maka mereka bersaksi bahwa para rasul itu telah menyampaikan risalah Tuhan mereka dan bahwa umat-umat mereka mendustakan mereka.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

yauma lā yanfa’uẓ-ẓālimīna ma’żiratuhum wa lahumul-la’natu wa lahum sū`ud-dār

 52.  (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

Di hari perhitungan amal, orang-orang kafir yang melanggar batasan-batasan Allah tidak merasakan manfaat sedikit pun dari alasan-alasan yang mereka suguhkan, karena sebelumnya mereka telah mendustakan utusan-utusan Allah, mereka diusir dari rahmat Allah, bagi mereka tempat tinggal yang buruk di akhirat, yaitu neraka.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْهُدَىٰ وَأَوْرَثْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ

wa laqad ātainā mụsal-hudā wa auraṡnā banī isrā`īlal-kitāb

 53.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil,

هُدًى وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

hudaw wa żikrā li`ulil-albāb

 54.  untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.

53-54. Sungguh Kami telah memberi Musa Taurat dan mukjizat-mukjizat yang bisa menunjukkan kepada Kebenaran dan Kami menjadikan Bani Israil mewarisi Taurat dari satu generasi ke generasi berikutnya, Taurat itu membimbing ke jalan yang lurus dan nasihat bagi orang-orang yang memiliki akal yang lurus.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

faṣbir inna wa’dallāhi ḥaqquw wastagfir liżambika wa sabbiḥ biḥamdi rabbika bil-‘asyiyyi wal-ibkār

 55.  Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

Maka bersabarlah (wahai Rasul) terhadap gangguan orang-orang musyrik, karena sungguh Kami telah menjanjikan kepadamu akan meninggikan kalimatmu, dan janji Kami adalah haq yang tidak diingkari, mohonlah ampunan kepada Allah atas dosamu dan hendaknya kamu selalu menyucikan Tuhanmu dari apa yang tidak layak bagiNya di akhir dan di awal siang hari.

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

innallażīna yujādilụna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum in fī ṣudụrihim illā kibrum mā hum bibāligīh, fasta’iż billāh, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

 56.  Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sesungguhnya orang-orang yang menolak kebenaran dengan kebatilan, menolak hujjah-hujjah Allah yang shahih dengan syubhat-syubhat yang rusak tanpa ada bukti dan hujjah dari Allah, di dalam dada mereka hanyalah ada kesombongan untuk menerima kebenaran ditambah dengan kedengkian dari mereka atas karunia yang Allah berikan kepada NabiNya dan kemuliaan derajat kenabian yang Dia limpahkan kepadanya, sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan dan raih, maka berlindunglah kepada Allah dari keburukan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan-perkataan mereka, Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka dan Dia akan membalas mereka atasnya.

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

lakhalqus-samāwāti wal-arḍi akbaru min khalqin-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 57.  Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Penciptaan Allah terhadap langit dan bumi adalah lebih besar daripada penciptaan manusia dan mengembalikan mereka hidup kembali setelah mereka mati, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa menciptakan semua itu adalah mudah bagi Allah.

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ ۚ قَلِيلًا مَا تَتَذَكَّرُونَ

wa mā yastawil-a’mā wal-baṣīru wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa lal-musī`, qalīlam mā tatażakkarụn

 58.  Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.

Orang yang melihat tidak sama dengan orang buta, demikian juga orang-orang yang beriman yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Haq yang tidak ada sekutu bagiNya, juga memenuhi seruan rasul-rasulNya dan mengamalkan SyariatNya tidak sama dengan orang-orang yang mengingkari dan memungkiri bahwa Allah adalah Tuhan Yang Haq, mendustakan rasul-rasulNya dan tidak mengamalkan SyariatNya. Hanya sedikit kalian (wahai manusia) merenungkan hujjah-hujjah Allah, lalu mengambil pelajaran dan nasihat darinya.

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

innas-sā’ata la`ātiyatul lā raiba fīhā wa lākinna akṡaran-nāsi lā yu`minụn

 59.  Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.

Sesungguhnya Kiamat pasti datang, tidak ada kebimbangan padanya, maka yakinlah bahwa ia akan datang sebagaimana hal itu telah dikabarkan oleh para Rasul, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mempercayai kehadirannya dan tidak beramal untuknya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

wa qāla rabbukumud’ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna ‘an ‘ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn

 60.  Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Tuhan kalian (wahai para hamba) telah berfirman, “Berdoalah hanya kepadaKu semata dan khususkanlah ibadah hanya bagiKu, niscaya Aku menjawab untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga mereka menolak untuk mengakui keesaanKu dalam ubudiyah dan uluhiyahKu, mereka akan masuk ke dalam Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

allāhullażī ja’ala lakumul-laila litaskunụ fīhi wan-nahāra mubṣirā, innallāha lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurụn

 61.  Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Hanya Allah semata yang menjadikan malam untuk kalian agar kalian bisa tenang di dalamnya dan mengambil jatah istirahat dengan baik, dan Allah menjadikan siang bersinar sehingga kalian bisa mencari penghidupan kalian. Sesungguhnya Allah benar-benar memiliki karunia yang besar atas manusia, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mensyukuri Allah dengan menaatiNya dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya.

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

żālikumullāhu rabbukum khāliqu kulli syaī`, lā ilāha illā huwa fa annā tu`fakụn

 62.  Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?

Yang melimpahkan nikmat-nikmat ini kepada kalian adalah Tuhan kalian yang telah menciptakan segala sesuatu seluruhnya, tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya. Maka bagaimana kalian bisa menyimpang sehingga tidak beriman kepadaNya dan menyembah berhala-berhala selain Allah setelah jelas bagi kalian petunjuk-petunjukNya?

كَذَٰلِكَ يُؤْفَكُ الَّذِينَ كَانُوا بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

każālika yu`fakullażīna kānụ bi`āyātillāhi yaj-ḥadụn

 63.  Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah.

Sebagaimana kalian (wahai orang-orang kafir Quraisy) mendustakan kebenaran dan berpaling darinya kepada kebatilan, maka seperti itu pula orang-orang yang mengingkari hujjah-hujjah Allah juga dipalingkan dari kebenaran dan keimanan.

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

allāhullażī ja’ala lakumul-arḍa qarāraw was-samā`a binā`aw wa ṣawwarakum fa aḥsana ṣuwarakum wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāt, żālikumullāhu rabbukum, fa tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn

 64.  Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.

Allah Yang menciptakan bumi untuk kalian agar kalian bisa tinggal di atasnya, Allah memudahkan untuk kalian menetap di atasnya, Dia juga menjadikan langit sebagai atap bagi bumi, di sana Allah menebarkan tanda-tanda yang membimbing, Dia menciptakan kalian dalam bentuk paling sempurna dan penciptaan paling bagus, Dia melimpahkan karunianya kepada kalian dengan rizki yang halal, makanan dan minuman yang lezat, yang memberi kalian nikmat-nikmat tersebut adalah Allah, Tuhan kalian, kebaikanNya melimpah, begitu juga karunia dan berkahNya, Mahasuci dari segala apa yang tidak layak bagiNya, Dia adalah Tuhan seluruh makhluk.

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

huwal-ḥayyu lā ilāha illā huwa fad’ụhu mukhliṣīna lahud-dīn, al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

 65.  Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

.Dia-lah Allah Yang Mahahidup dengan kehidupan yang sempurna dan lengkap tiada tuhan yang haq disembah kecuali Dia, maka mintalah kepadaNya dan berikanlah ibadah kalian hanya kepadaNya dengan memurnikan agama dan ketaatan kepadaNya. Segala puji dan sanjungan sempurna hanya bagi Allah, tuhan seluruh makhluk.

۞ قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِنْ رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

qul innī nuhītu an a’budallażīna tad’ụna min dụnillāhi lammā jā`aniyal-bayyinātu mir rabbī wa umirtu an uslima lirabbil-‘ālamīn

 66.  Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik dari kaummu, “Sesungguhnya aku dilarang untuk menyembah apa-apa yang kalian sembah selain Allah, ketika ayat-ayat yang jelas telah datang kepadaku dari sisi Tuhanku dan Dia telah memerintahkanku agar tunduk dan patuh dengan memberikan ketaatan sempurna kepadaNya, Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

huwallażī khalaqakum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma min ‘alaqatin ṡumma yukhrijukum ṭiflan ṡumma litablugū asyuddakum ṡumma litakụnụ syuyụkhā, wa mingkum may yutawaffā ming qablu wa litablugū ajalam musammaw wa la’allakum ta’qilụn

 67.  Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

Dia-lah Allah Yang menciptakan bapak kalian, Adam, dari tanah, kemudian Dia menciptakan kalian dari sperma dengan KuasaNya, setelah itu kalian berganti kepada fase segumpal darah merah yang kental, kemudian kalian mengalami beberapa proses dalam Rahim sampai kalian lahir sebagai bayi kecil, kemudian jasad kalian menjadi kuat sampai kalian menjadi tua, diantara kalian ada yang mati sebelum itu dan agar dengan proses yang telah ditetapkan tersebut kalian mencapai ajal yang telah ditetapkan yang habis saat usia kalian berakhir, dan agar kalian merenungkan hujjah-hujjah Allah atas kalian dengan itu dan memikirkan ayat-ayatNya, sehingga kalian mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang melakukan hal itu, dan bahwa hanya Dia yang berhak untuk disembah, bukan selainNya.

هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

huwallażī yuḥyī wa yumīt, fa iżā qaḍā amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

 68.  Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

Hanya Allah semata Yang menghidupkan dan mematikan, bila Dia menetapkan sesuatu perkara, maka dia tinggal berfirman, “Jadilah.” Maka ia pun jadi. Tiada yang menolak keputusanNya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّىٰ يُصْرَفُونَ

a lam tara ilallażīna yujādilụna fī āyātillāh, annā yuṣrafụn

 69.  Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?

Apakah kamu (wahai rasul) tidak heran kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, mereka berselisih padanya, padahal ayat-ayat tersebut jelas petunjuknya untuk menetapkan tauhid dan Kuasa Allah, bagaimana mereka berpaling darinya padahal ia benar? Ke mana mereka akan pergi setelah penjelasan yang sempurna ini?

الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

allażīna każżabụ bil-kitābi wa bimā arsalnā bihī rusulanā, fa saufa ya’lamụn

 70.  (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab (Al Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui,

إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ

iżil-aglālu fī a’nāqihim was-salāsil, yus-ḥabụn

 71.  ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret,

فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ

fil-ḥamīmi ṡumma fin-nāri yusjarụn

 72.  ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api,

70-72. Orang-orang musyrik yang mendustakan al-Quran dan kitab-kitab samawi yang Allah turunkan kepada rasul-rasulNya untuk membimbing manusia, orang-orang yang mendustakan tersebut akan mengetahui akibat dari pendustaan mereka saat belenggu-belenggu dipasangkan di leher-leher mereka dan rantai-rantai di kaki-kaki mereka, mereka diseret oleh para malaikat Zabaniyah dala air yang sangat panas dan bergejolak, kemudian mereka dijebloskan ke dalam api Neraka Jahanam yang membakar mereka.

ثُمَّ قِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تُشْرِكُونَ

ṡumma qīla lahum aina mā kuntum tusyrikụn

 73.  kemudian dikatakan kepada mereka: “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan,

مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ

min dụnillāh, qālụ ḍallụ ‘annā bal lam nakun nad’ụ ming qablu syai`ā, każālika yuḍillullāhul-kāfirīn

 74.  (yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu”. Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.

73-74. lalu dikatakan kepada mereka sebagai celaan disaat mereka sedang dalam keadaan yang menyesakkan tersebut, “Mana Tuhan-tuhan yang dulu kalian sembah selain Allah? adakah di hari ini mereka menolong kalian? Panggillah mereka agar mereka menyelamatkan kalian dari azab yang menimpa kalian ini bila mereka mampu.” Orang-orang yang mendustakan itu menjawab, “Kami tidak mellihat mereka, mereka tidak memberi manfaat apa pun kepada kami.” Mereka mengaku bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak tahu urusan mereka dan bahwa ibadah kepada mereka adalah batil, tidak berarti apapun, sebagaimana Allah menyesatkan orang-orang yang mana apa yang mereka sembah di dunia selain Allah tidak membantu mereka sedikit pun di dalam Neraka Jahanam, Allah juga menyesatkan orang-orang yang kafir kepadaNya.

ذَٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ

żālikum bimā kuntum tafraḥụna fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa bimā kuntum tamraḥụn

 75.  Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan).

Azab yang menimpa kalian hanyasanya disebabkan oleh kelalaian kalian Dalam kehidupan dunia, di mana kalian justru berbahagia dengan dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan yang kalian kerjakan, dan kalian membanggakan keangkuhan dan kesombongan serta pelanggaran terhadap hamba-hamba Allah.

ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

udkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa bi`sa maṡwal-mutakabbirīn

 76.  (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong”.

Masuklah kalian melalui pintu-pintu jahanam sebagai hukuman atas kekafiran kalian kepada Allah dan kemaksiatan kalian, kalian kekal di dalamnya. Jahanam adalah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri terhadap Allah di dunia.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۚ فَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

faṣbir inna wa’dallāhi ḥaqq, fa immā nuriyannaka ba’ḍallażī na’iduhum au natawaffayannaka fa ilainā yurja’ụn

 77.  Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar; maka meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka ataupun Kami wafatkan kamu (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan.

Maka bersabarlah (wahai Rasul) dan tetaplah berdakwah, sesungguhnya janji Allah adalah haq, Dia akan mewujudkan janjiNya kepadamu, bisa saja Kami memperlihatkan kepadamu sebagian dari apa yang Kami ancamkan kepada orang-orang musyrik itu berupa azab, atau Kami mewafatkanmu sebelum azab itu menimpa mereka, maka kepada Kami- lah tempat mereka kembali di Hari Kiamat, dan Kami akan membuat mereka merasakan azab yang keras akibat kekafiran mereka.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ

wa laqad arsalnā rusulam ming qablika min-hum mang qaṣaṣnā ‘alaika wa min-hum mal lam naqṣuṣ ‘alaīk, wa mā kāna lirasụlin ay ya`tiya bi`āyatin illā bi`iżnillāh, fa iżā jā`a amrullāhi quḍiya bil-ḥaqqi wa khasira hunālikal-mubṭilụn

 78.  Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.

Dan sungguh Kami telah mengutus sebelummu (wahai Rasul) rasul-rasul dalam jumlah yang banyak kepada kaum mereka. Para utusan itu mengajak mereka dan bersabar atas gangguan kaum mereka, di antara mereka ada yang Kami kisahkan beritanya kepadamu, dan di antara mereka ada yang tidak Kami kisahkan beritanya kepadamu. Semua utusan itu diperintahkan untuk menyampaikan apa yang Allah wahyukan kepada mereka, dan salah seorang dari mereka tidak mendatangkan satu tanda dari tanda-tanda yang terindra maupun yang masuk akal kecuali dengan izin Allah dan kehendakNya. Bila perintah Allah untuk mengazab orang-orang yang mendustakan telah tiba, maka Allah menetapkan keputusan antara para utusan dengan orang-orang yang mendustakan mereka dengan adil, dan pada saat itu para pembohong tersebut merugi karena kebohongan mereka atas Nama Allah dan penyembahan mereka terhadap selainNya.

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَنْعَامَ لِتَرْكَبُوا مِنْهَا وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

allāhullażī ja’ala lakumul-an’āma litarkabụ min-hā wa min-hā ta`kulụn

 79.  Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.

وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَلِتَبْلُغُوا عَلَيْهَا حَاجَةً فِي صُدُورِكُمْ وَعَلَيْهَا وَعَلَى الْفُلْكِ تُحْمَلُونَ

wa lakum fīhā manāfi’u wa litablugụ ‘alaihā ḥājatan fī ṣudụrikum wa ‘alaihā wa ‘alal-fulki tuḥmalụn

 80.  Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera.

79-80. Allah Yang menciptakan hewan ternak untuk kalian agar kalian mengambil manfaat darinya, yaitu manfaat mengendarai, dikonsumsi dan manfaat- manfaat lainnya. Dengan mengendarainya kalian bisa sampai ke negeri-negeri jauh di mana hal itu adalah hajat yang ada dalam dada kalian, di atas punggung hewan-hewan inilah kalian diangkut di daratan sebagaimana kalian diangkut oleh kapal di lautan.

وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَأَيَّ آيَاتِ اللَّهِ تُنْكِرُونَ

wa yurīkum āyātihī fa ayya āyātillāhi tungkirụn

 81.  Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?

Allah juga memperlihatkan kepada kalian bukti-buktiNya yang banyak dan jelas yang menunjukkan Kuasa dan pengaturanNya atas makhlukNya. Lalu tanda kebesaran Allah yang manakah yang kalian ingkari dan tidak kalian akui?

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim, kānū akṡara min-hum wa asyadda quwwataw wa āṡāran fil-arḍi fa mā agnā ‘an-hum mā kānụ yaksibụn

 82.  Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.

Apakah orang-orang yang mendustakan itu tidak berjalan di muka bumi lalu merenungkan akhir hidup umat-umat yang mendustakan sebelum mereka, bagaimana akibat yang menimpa mereka? Padahal umat-umat terdahulu itu lebih banyak jumlahnya, perlengkapannya dan karya peninggalannya di muka bumi berupa bangunan besar, bangunan menjulang, pertanian dan lainnya, namun apa yang mereka usahakan itu tidak membantu mereka saat azab Allah turun menimpa mereka.

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa lammā jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti fariḥụ bimā ‘indahum minal-‘ilmi wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 83.  Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

Manakala umat-umat yang mendustakan itu didatangi para rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berbahagia dengan ilmu yang mereka miliki yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh utusan-utusan mereka, karena kebodohan mereka. Azab pun menimpa mereka, padahal sebelumnya mereka menghina dan mengejek para utusan untuk segera mendatangkan azab tersebut. Ayat ini mengandung dalil bahwa setiap ilmu yang bertentangan dengan Islam atau mencederai Islam atau meragukan kebenaran Islam, ilmu tersebut adalah ilmu yang tercela dan dibenci, serta orang yang meyakininya bukan termasuk diantara para pengikut Muhammad.

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ

fa lammā ra`au ba`sanā, qālū āmannā billāhi waḥdahụ wa kafarnā bimā kunnā bihī musyrikīn

 84.  Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah”.

Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka pun mengakui disaat di mana pengakuan tidak berguna. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah semata dan kafir kepada apa yang telah Kami persekutukan dengan Allah.”

فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا ۖ سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ ۖ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ

fa lam yaku yanfa’uhum īmānuhum lammā ra`au ba`sanā, sunnatallāhillatī qad khalat fī ‘ibādih, wa khasira hunālikal-kāfirụn

 85.  Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.

Iman mereka tidak berguna bagi mereka saat mereka melihat azab Kami. Hal itu karena iman dalam kondisi tersebut adalah iman yang terpaksa, bukan iman suka rela dan pilihan. Sunnah dan keputusan Allah yang berlaku untuk seluruh umat, bahwa iman tidak berguna saat pelakunya mengikrarkannya dalam keadaan melihat azab. Saat azab Allah datang, maka binasalah orang-orang kafir dan orang-orang yang ingkar terhadap tauhid Allah dan tidak menaatiNya.

Related: Surat Fushshilat Arab-Latin, Surat asy-Syura Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat az-Zukhruf, Terjemahan Tafsir Surat ad-Dukhan, Isi Kandungan Surat al-Jatsiyah, Makna Surat al-Ahqaf

Baca Quran Online