Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Isra

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Arab-Latin: sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

Terjemah Arti:  1.  Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Allah memuliakan kedudukan diriNYa dan mengagungkan urusanNya karena kuasaNya untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat diperbuat oleh siapapun selainNya; tiada tuhan yang berhak disembah selainNya, dan tidak ada tuhan (penguasa alam) selainNya. Dialah yang menjalankan hambaNYa, Muhammad di malam hari pada sebagian malamnya dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga, bukan tidur, dari masjidil haram di makkah menuju masjidil aqsha di baitul maqdis yang Allah memberkahi sekelilingnya dari segi tanam-tanamannya, buah-buahannya dan lain sebagianya, dan Dia menjadikannya sebagai tempat hidup banyak nabi agar ia dapat menyaksikan keajaiban-keajaibab kuasa Allah dan petunjuk-petunjuk keesaanNYa. Sesungguhnya Allah , Dia mahamendengar semua ucapan para hambaNya lagi mahamelihat semua perbuatan mereka. Maka DIa akan memberikah hak setiap orang di dunia dan di akhirat.

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا

wa ātainā mụsal-kitāba wa ja’alnāhu hudal libanī isrā`īla allā tattakhiżụ min dụnī wakīlā

 2.  Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,

Sebagaimana Allah telah memuliakan Muhammad dengan isra, Kami telah memuliakan Musa dengan memberinya kitab taurat. Dan kami menjadikannya sebagai penjelas kebenaran dari bimbingan bagi bani israil, yang berisi larangan bagi mereka dari menjadikan selain Allah sebagai yang menangani(segala urusan) atau sesembahan yang mana mereka menyerahkan segala persoalan mereka kepadanya.

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

żurriyyata man ḥamalnā ma’a nụḥ, innahụ kāna ‘abdan syakụrā

 3.  (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.

Wahai keturunan orang-orang yang telah kami selamatkan mereka dan kami bawa mereka bersama-sama dengan Nuh di dalam kapal, janganlah kalian menyekutukan Allah dalam beribadah kepadaNya. Jadilah kalian manusia-manusia yang bersyukur atas nikmat-nikmatNya dan meneladani Nuh . Sebab sesungguhnya dia adalah hamba yang sangat bersyukur kepada Allah dengan sepenuh hati, lisan dan anggota-anggota tubuhnya.

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

wa qaḍainā ilā banī isrā`īla fil-kitābi latufsidunna fil-arḍi marrataini wa lata’lunna ‘uluwwang kabīrā

 4.  Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

Dan Kami telah mengabarkan kepada bani israil di dalam kitab taurat yang diturunkan atas mereka bahwa sesungguhnya pasti akan terjadi kerusakan yang timbul dari mereka dua kali di wilayah baitul maqdis dan tempat-tempat sekitarnya dengan melakukan tindak kezhaliman, membunuhi para nabi, sombong, dan tindakan melampaui batas serta permusuhan.

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا

fa iżā jā`a wa’du ụlāhumā ba’aṡnā ‘alaikum ‘ibādal lanā ulī ba`sin syadīdin fa jāsụ khilālad-diyār, wa kāna wa’dam maf’ụlā

 5.  Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

maka ketika terjadi kerusakan pertama yang mereka timbulkan, Kami datangkan kepada mereka hamba-hamba kami yang memiliki keberanian dan kekuatan luarbiasa untuk menguasai mereka, lalu mempencundangi mereka, membunuhi mereka serta mengusir mereka. Orang-orang itu berkeliling di perkampungan-perkampungan mereka dengan merusak. Itu merupakan suatu ketetapan yang mesti terjadi, karena ada faktor penyebabnya dari kalian.

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

ṡumma radadnā lakumul-karrata ‘alaihim wa amdadnākum bi`amwāliw wa banīna wa ja’alnākum akṡara nafīrā

 6.  Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Kemudian kami kembalikan bagi kalian (wahai bani israil), kekuasaan dan kemenangan atas para musuh kalain yang dahulu di kuasakan atas kalian. Dan kami tambah rizki dan jumlah anak-anak kalain, serta menguatkan kalian dan menjadikan kalain berjumlah lebih banyak dari pada jumlah musuh kalian. Kondisi demikian disebabkan perbuatan baik dan ketundukan kalian kepada Allah.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

in aḥsantum aḥsantum li`anfusikum, wa in asa`tum fa lahā, fa iżā jā`a wa’dul-ākhirati liyasū`ụ wujụhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhalụhu awwala marratiw wa liyutabbirụ mā ‘alau tatbīrā

 7.  Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Jika kalian baik dalam perbuatan-perbuatan dan uacapan-ucapan kalian, Sesungguhnya kalian berarti telah berbuat baik terhadap diri kalian sendiri. Sebab pahalanya kembali kepada kalian. Bila kalain bertindak buruk, maka hukumannya(juga) berbalik mengenai kalian sendiri. Jika nanti telah tiba ketetapan terjadinya kerusakan kedua (yang kalian perbuat), maka Kami akan menjadikan musuh kalian berkuasa atas kalain kembali, untuk menghinakan dan mengalahkan kalian, sehingga tampaklah bekas-bekas penghinaan dan penistaan pada wajah-wajah kalian dan lalu merangsek masuk menghadapi kalain ke dalam baitul maqdis untuk menghancurkannya sebagaimana mereka dahulu pernah menghancurkannya, dan kemudian meluluhlantahkan semua yang mereka miliki sehabis-habisnya secara total.

عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ ۚ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا ۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا

‘asā rabbukum ay yar-ḥamakum, wa in ‘uttum ‘udnā, wa ja’alnā jahannama lil-kāfirīna ḥaṣīrā

 8.  Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.

Mudah-mudahan tuhan kalian (wahai bani israil), melimpahkan rahmatNya kepada kalain setelah hukuman yang ditimpakanNya pada kalian, jika kalian mau bertaubat dan memperbaiki diri. Akan tetapi, bila kalian kembali melakukan kerusakan dan kezhaliman, niscaya Kami akan kembali menghukum dan menghinakan kalian. Dan kami menjadikan neraka jahanam bagi kalian dan seluruh orang kafir sebagai penjara yang tidak mungkin keluar darinya selamanya. Dalam ayat ini dan ayat sebelumnya terkandung unsur peringatan bagi umat ini agar tidak berbuat maksiat supa tidak menimpa mereka hukuman serupa yang menimpa bani israil. Sebab ketetapan-ketetapan Allah tetap berjalan sama, tidak berubah-ubah dan tidak berganti-ganti

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

inna hāżal-qur`āna yahdī lillatī hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajrang kabīrā

 9.  Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

wa annallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati a’tadnā lahum ‘ażāban alīmā

 10.  dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.

9-10. Sesungguhnya al-qur’an yang kami turunkan kepada hamba kami Muhammad ini, menunjukan manusia kepada jalan terbaik, yaitu ajaran islam, membawa kabar gembira bagi kaum mukmin yang mengamalkan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka dan berhenti dari perkara yang Allah larang mereka darinya, bahwa sesunggguhnya bagi mereka pahala yang besar dan bahwa sesungguhnya orang-orang yang tidak mempercayai kehidupan akhirat dan segala balasan yang ada di sana, maka kami sediakan bagi mereka siksaan yang menyakitkan di neraka.

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

wa yad’ul-insānu bisy-syarri du’ā`ahụ bil-khaīr, wa kānal-insānu ‘ajụlā

 11.  Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

Kadang-kadang manusia berdoa buruk bagi dirinya, anaknya atau hartanya ketika dalam kondisi marah, sebagaimana ia memohon kebaikan. Ini termasuk bukti kebodohan manusia dan tergesa-gesanya. Sedang, diantara bukti rahmat Allah bagi manusia Dia mengabulkan doa kebaikannya saja, tidak berharap doa buruknya. Karena Dia mengetahui tidak ada niat untuk keinginannya tersebut. Dan manusia secara tabiat bawaan memang bersifat tergesa-gesa.

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

wa ja’alnal-laila wan-nahāra āyataini fa maḥaunā āyatal-laili wa ja’alnā āyatan-nahāri mubṣiratal litabtagụ faḍlam mir rabbikum wa lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, wa kulla syai`in faṣṣalnāhu tafṣīlā

 12.  Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.

Dan kami menjadikan malam dan siang sebagai dua tanda yang menunjukan keesaan kemaha kuasaaan Kami. Kemudian Kami menghapuskan tanda malam ( yaitu bulan) dan menjadikan tanda siang (yaitu matahari) bersinar terang, agar dalam sinar siang hari manusia dapat melihat bagaimana dia harus mengerjakan urusan-urusan kehidupanya, dan ia dapat berdiam diri pada malamnya untuk mengambil kesempatan berteduh dan istirahat. Dan agar manusia mengetahui (melalui pergantian malam dan siang) bilangan tahun dan perhitungan bulan dan hari–hari agar mereka menyusun berdasarkan itu apa-apa yang mereka mau dari kemaslahatan-kemaslahatan mereka. Dan segala sesuatu taleh kami jelaskan dengan penjalasan yang cukup.

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

wa kulla insānin alzamnāhu ṭā`irahụ fī ‘unuqih, wa nukhriju lahụ yaumal-qiyāmati kitābay yalqāhu mansyụrā

 13.  Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.

Dan setiap manusia, Allah telah menjadikan apa yang dia perbuat yang baik maupun yang buruk selalu melekat padanya, maka dia tidak akan dihisab kerena perbuatan orang lain juga tidak akan dihisab orang lain kerena amal dia. Dan pada Hari Kiamat Allah akan mengeluarkan baginya satu buku yang berisi catatan segala perbuatanya yang akan ia lihat terbuka.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

iqra` kitābak, kafā binafsikal-yauma ‘alaika ḥasībā

 14.  “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.

Akan dikatakan kepadanya, “Bacalah buku perbuatan-perbuatanmu.” Maka ia akan membacanya, walaupun dia tidak tahu baca tulis di dunia. Hari ini cukuplah dirimu sendiri menjadi pihak yang akan memperhitungkan amal perbuatanmu di atasmu, sehingga engkau akan tahu balasan yang akan di terima dirimu. Ini termasuk bentuk keadilan dan ketetapan obyektip yang paling agung dengan di katakan kepada seorang hamba, “Hitunglah perbuatan sendiri, cukuplah itu menjadi penghisab terhadapmu.”

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

manihtadā fa innamā yahtadī linafsih, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu ‘alaihā, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, wa mā kunnā mu’ażżibīna ḥattā nab’aṡa rasụlā

 15.  Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

Barangsiapa berada di atas petunjuk dan mengikuti jalan kebenaran, maka sesungguhnya pahala perbuatan itu hanya kembali kepadanya. Dan barangsiapa melenceng dan mengikuti jalan kebatilan, maka sesungguhnya siksaan akibat perbuatan itu hanya kembali kepadanya saja.Tidak ada jiwa yang berbuat dosa yang menanggung dosa jiwa lain yang berbuat dosa, Dan Allah tidaklah menyiksa seseorang kecuali telah tegak baginya hujjah-hujjah dengan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

wa iżā aradnā an nuhlika qaryatan amarnā mutrafīhā fa fasaqụ fīhā fa ḥaqqa ‘alaihal-qaulu fa dammarnāhā tadmīrā

 16.  Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Dan jika kami berkehendak membinasakan satu penduduk negeri dikarenakan perbuatan zhalim mereka, maka kami memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah diantara mereka untuk taat kepada Allah dan mentauhidkanNya serta membenarkan para rasulNya, sedang yang lain hanya mengikuti mereka saja. Lalu mereka mendurhakai perintah tuhan mereka dan mendustakan para rasulNya, sehingga sudah pantaslah berlaku pada mereka ketetapan turunnya siksaan yang tidak bisa di tolak. Maka Kami pun membinasakan mereka sampai habis ke akar-akarnya.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

wa kam ahlaknā minal-qurụni mim ba’di nụḥ, wa kafā birabbika biżunụbi ‘ibādihī khabīram baṣīrā

 17.  Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.

Dan kami telah banyak membinasakan banyak umat manusia yang mendustakan lagi mengingkari rasul mereka sesudah Nuh. Dan cukuplah tuhanmu (wahai rasul) bahwa Dia mahamengetahui semua perbuatan para hambaNya, tidak ada sesuatu yang samar bagiNya.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

mang kāna yurīdul-‘ājilata ‘ajjalnā lahụ fīhā mā nasyā`u liman nurīdu ṡumma ja’alnā lahụ jahannam, yaṣlāhā mażmụmam mad-ḥụrā

 18.  Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Barang siapa yang hanya mencari dunia yang cepat sirna ini, dan berusaha dengan kuat untuk itu saja, sedang ia tidak mengimani alam akhirat dan tidak beramal untuknya, maka Allah akan menyegerakan baginya di dunia ini apa yang dikehendaki dan diinginkanNYa, dari hal-hal yang telah Dia tulis baginya di lauhil mahfuzh. Kemudian Allah menjadikan neraka jahanam baginya di akhirat kelak. Ia memasukinya dalam keadaan tercela lagi terusir dari rahmat Allah . itu disebabkan keinginannya untuk meraih dunia dan usaha kuatnya untuk itu, bukan untuk akhirat.

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

wa man arādal-ākhirata wa sa’ā lahā sa’yahā wa huwa mu`minun fa ulā`ika kāna sa’yuhum masykụrā

 19.  Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

Dan barangsiapa bertujuan dengan amal shalihnya untuk mendapatkan pahala di akhirat yang kekal abdi, dan ia berusaha kuat untuk itu dengan melakukan ketaatan kepada Allah , sedang dia beriman keapada Allah dan pahala serta balasan besar dariNya, maka mereka itu adalah orang-orang yang amal shalihnya diterima dan tersimpan bagi mereka di sisi tuhan mereka, dan mereka akan memperoleh balasan atas amal itu.

كُلًّا نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

kullan numiddu hā`ulā`i wa hā`ulā`i min ‘aṭā`i rabbik, wa mā kāna ‘aṭā`u rabbika maḥẓụrā

 20.  Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Masing-masing golongan yang berusaha untuk dunia yang fana dan golongan yang beramal untuk akhirat yang kekal, Kami memberinya tambahan bagian dari rizki Kami. Kami memberi rizki kepada kaum mukminin dan orang-orang kafir di dunia. Sebab sesungguhnya rizki itu berasal dari pemberian tuhanmu sebagai karunia dariNya. Dan pemberian tuhanmu tidak terhalangi bagi siapapun, orang mukmin maupun kafir.

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا

unẓur kaifa faḍḍalnā ba’ḍahum ‘alā ba’ḍ, wa lal-ākhiratu akbaru darajātiw wa akbaru tafḍīlā

 21.  Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.

Perhatikanlah (wahai rasul), bagaimana Allah melebihkan sebagian manusia di atas sebagian yang lain di dunia dalam rizki dan pekerajaan. Dan kehidupan akhirat benar-benar lebih tinggi derajat-derajatnya bagi kaum mukminin dan lebih besar keutamaannya.

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

lā taj’al ma’allāhi ilāhan ākhara fa taq’uda mażmụmam makhżụlā

 22.  Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).

Janganlah engkau (wahai manusia) mengadakan sekutu bersama Allah dalam beribadah kepadaNYa, akibatnya engkau kembali membawa celaan dan dicampakan oleh Allah.

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

wa qaḍā rabbuka allā ta’budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna ‘indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā

 23.  Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan tuhanmu (wahai manusia) telah memerintah, mengharuskan dan mewajibkan untuk diesakan dalam peribadahan kepadaNya, dan Dia memerintahkan untuk berbuat baik kepada bapak-ibu, terutama di saat mereka berusia lanjut, janganlah engkau berkeluh kesah, jangan merasa kesal terhadap sesuatu yang engkau lihat dari mereka atau salah satu dari mereka, dan jangan memperdengarkan kepada mereka ucapan yang buruk, bahkan jangan pula berkata (ah) sekaliapun ia merupakan tingkat terendah dari ucapan yang buruk. Dan janganlah muncul darimu tindakan buruk kepada mereka berdua. Akan tetapi bersikaplah lembu kepada mereka berdua. Dan katakanlah kepada mereka berdua selalu perkataan lembut bagi tulus.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli minar-raḥmati wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

 24.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Dan bersikaplah kepada ibu-ibu dan bapak-bapakmu dengan merendah dan tawadhu sebagai bentuk sayang kepada mereka, dan mohonlah kepada tuhanmu agar berkenan menyayangi mereka berdua dengan rahmatNya yang luas semasa mereka masih hidup maupun setelah wafat, sebagaimana mereka dahulu bersabar dalam mendidikmu semasa masih kecil, yang tak berdaya lagi tak punya kekuatan.

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ ۚ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

rabbukum a’lamu bimā fī nufụsikum, in takụnụ ṣāliḥīna fa innahụ kāna lil-awwābīna gafụrā

 25.  Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.

Tuhan kalain (wahai manusia) lebih mengetahui apa yang ada di hati sanubari kalian, yang baik maupun yang buruk. Bila keinginan dan tujuan kalian adalah mengharap keridhaan Allah dan apa saja yang mendekatkan diri kalian kepadaNya, Sesungguhnya Dia mahapengampunorang-orang yang mau kembali kepadaNya di sepanjang waktu. Maka brangsiapa yang Allah mengetahui tidak ada di hatinya selain kembali kepada Allah dengan bertaubat (inabah) dan cinta kepadaNya, sesungguhnya Allah akan memaafkannya dan mengampuni dosa-dosaa kecil yang muncul darinya yang terjadi akibat sifat tabiat manusiawinya.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

wa āti żal-qurbā ḥaqqahụ wal-miskīna wabnas-sabīli wa lā tubażżir tabżīrā

 26.  Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Dan berbuat baiklah kepada orang-orang yang masih terkait hubungan kekerabatan denganmu, dan berilah ia haknya dalam bentuk kebaikan dan bakti dan berilah orang miskin yang tidak memiliki sesuatu yang mencukupinya dan menutupi kebutuhannya, musafir yang terasing dari keluarga dan kehabisan bekal harta. Dan janganlah engkau belanjakan hartamu dalam urusan selain ketaatan kepada Allah atau secara berlebihan dan boros.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

innal-mubażżirīna kānū ikhwānasy-syayāṭīn, wa kānasy-syaiṭānu lirabbihī kafụrā

 27.  Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Sesungguhnya orang yang melakukan pemborosan dan membelanjakan hartanya dalam maksiat kepada Allah mereka itu menyerupai setan-setan dalam hal keburukan, kerusakan dan maksiat. Dan setan itu sangat banyak kufurnya dan keras pengingkarannya terhadap nikmat tuhannya.

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا

wa immā tu’riḍanna ‘an-humubtigā`a raḥmatim mir rabbika tarjụhā fa qul lahum qaulam maisụrā

 28.  Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.

Dan jika kamu berpaling dari memberi kepada orang-orang yang engkau diperintah untuk memberi mereka karena tidak ada yang dapat engkau berikan kepada mereka, karena mengharap rizki yang engkau tunggu dari sisi tuhanmu, maka katakanlah kepada mereka tutur kata yang halus lagi lembut, seperti mendoakan kecukupan dan kelapangan rizki bagi mereka, dan sampaikan janji kepada mereka jika Allah memudahkan rizki dari karunaiNya (bagimu), sesungguhnya engkau akan memberi mereka sebagain dari rizki itu.

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

wa lā taj’al yadaka maglụlatan ilā ‘unuqika wa lā tabsuṭ-hā kullal-basṭi fa taq’uda malụmam maḥsụrā

 29.  Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

Dan janganlah engkau menahan tanganmu dari berinfak di jalan kebaiakan, sebagai tindakan menyempitkan dirimu, keluargamu dan orang-orang yang membutuhkan, dan janganlah pula berlebihan dalam berinfak, hingga engkau memberikan apa yang melebihi kemampuanmu, akibatnya engkau duduk dalam keadaan tercela, orang-orang mencaci dan mencelamu, lagi menyesal atas sikap mubadzirmu dan habisnya hartamu.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

inna rabbaka yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, innahụ kāna bi’ibādihī khabīram baṣīrā

 30.  Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Sesungguhnya tuhanmu melapangkan rizki bagi sebagian manusia dan menyempitkannya bagi sebagian yang lain, sejalan dengan ilmu dan hikmah Allah .Sesungguhnya Dia maha mengetahui rahasia-rahasia para hambaNya, tidak ada yang tersembunyi dari ilmuNya sesuatu yang kecil pun dari kondisi-kondisi mereka.

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

wa lā taqtulū aulādakum khasy-yata imlāq, naḥnu narzuquhum wa iyyākum, inna qatlahum kāna khiṭ`ang kabīrā

 31.  Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

Dan apabila kalian telah mengetahui bahwa rizki itu di tangan Allah , maka janganlah kalain wahai manusia membunuh anak-anak kalian lantaran rasa takut terhadap kemiskinan, karena sesungguhnya Dialah Allah yang maha pemberi rizki bagi hamba-hambaNya, Dia memberi rizki kepada anak-anak sebagiamana memberi rizki kepada orangtua. Sesungguhnya membunuh anak-anak merupakan perbuatan dosa besar.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā`a sabīlā

 32.  Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Dan janganlah kalian mendekati perzinaan dan segala pemicunya, supaya kalian tidak terjerumus ke dalamnya. Sesungguhnya zina itu benar-benar amat buruk, dan seburuk-buruk tindakan adalah perzinaan.

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq, wa mang qutila maẓlụman fa qad ja’alnā liwaliyyihī sulṭānan fa lā yusrif fil-qatl, innahụ kāna manṣụrā

 33.  Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh kecuali dengan alasan syar’I, seperti melalui qishah atau merajam pezina yang telah menikah atau membunuh orang murtad. Dan barangsiapa dibunuh tanpa alasan yang kuat, maka Kami telah jadikan bagi walinya, baik ahli warisnya atau penguasa untuk menuntut hukum bunuh terhadap pelaku atau menuntut pembayaran diyat. Dan tidak boleh bagi ahli waris korban untuk melampaui batas ketentuan Allah dalam melakukan qishos seperti membunuh dua orang atau kebih hanya gara-gara membunuh satu orang atau tindakan memutilasi sipembunuh. Sesungguhnya Allah menjadi penolong bagi wali korban pembunuhan untuk menghadapi pembunuh hingga mampu membunuhnya melalui hukum qishash.

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

wa lā taqrabụ mālal-yatīmi illā billatī hiya aḥsanu ḥattā yabluga asyuddahụ wa aufụ bil-‘ahdi innal-‘ahda kāna mas`ụlā

 34.  Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

Dan janganlah kalian mengendalikan semua kalian harta-harta anak-anak yang ditinggal mati oleh bapak-bapak mereka sebelum mereka baligh dan lalu mereka berada di bawah tanggungan kalian kecuali dengan cara yang baik bagi mereka. Yaitu dengan cara mengembangkan dan meningkatkannya hingga si anak yatim mencapai usia matang dan sudah bagus dalam mengelola hartanya. Dan penuhilah janji yang kalian telah berkomitmen untuk melaksanakannya. Sesungguhnya perjanjian itu, Allah akan meminta pertanggung jawaban kepada yang bersangkutan di hari kiamat. Dia akan memberi balasan baginya apabila menyempurnakan dan memenuhinya dan akan menyiksa orang yang akan mengkhianatinya.

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

wa auful-kaila iżā kiltum wazinụ bil-qisṭāsil-mustaqīm, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā

 35.  Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dan sempurnakanlah takaran, dan jangan kalain menguranginya bila kalian menakar untuk oranglain. Dan timbanglah dengan neraca yang benar. Sesungguhnya tindakan adil dalam menakar dan menimbang adalah lebih baik bagi kalian di dunia dan akibatnya lebih baik di sisi Allah pada hari akhirat.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna ‘an-hu mas`ụlā

 36.  Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Dan janganlah engaku (wahai manusia), mengikuti apa yang tidak engkau ketahui. Akan tetapi pastikan dan verifikasi(akan kebenarannya) dahulu. Sesungguhnya manusia akan dimintai pertanggung jawaban menggenai bagaimana ia menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hatinya. Apabila dia mempergunakannya dalam perkara-perkara baik, niscaya akan memperoleh pahala, dan jika ia mempergunakannya dalam hal-hal buruk, maka dia akan memperoleh hukuman.

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablugal-jibāla ṭụlā

 37.  Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh lagi takabur, karena sesungguhnya engkau itu tidak akan mampu menembus bumi dengan langkah kakimu diatasnya, dan engkau tidak akan pernah mampu menyamai tinggi gunung dengan keangkuhan, kesombongan, dan takaburmu.

كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا

kullu żālika kāna sayyi`uhụ ‘inda rabbika makrụhā

 38.  Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

Semua yang sudah disebutkan, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan, Allah tidak menyukai keburukannya, dan tidak meridhai hal itu pada hamba-hambaNya.

ذَٰلِكَ مِمَّا أَوْحَىٰ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا

żālika mimmā auḥā ilaika rabbuka minal-ḥikmah, wa lā taj’al ma’allāhi ilāhan ākhara fa tulqā fī jahannama malụmam mad-ḥụrā

 39.  Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).

hal Yang Kami jelaskan dan Kami terangkan dari beberapa hukum yang agung, berupa perintah terhadap amal-amal perbuatan yang baik dan larangan dari moral-moral hina, termasuk yang Kami wahyukan kepada engkau wahai nabi. Maka janganlah engkau (wahai manusia) menjadikan sekutu bersama Allah dalam ibadah kepadaNya. Akibatnya, engkau akan dicampakan kedalam neraka jahanam, dalam keadaan kamu dicela oleh dirimu sendiri dan manusia, dan engkau menjadi manusia yang terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan.

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا ۚ إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا

a fa aṣfākum rabbukum bil-banīna wattakhaża minal-malā`ikati ināṡā, innakum lataqụlụna qaulan ‘aẓīmā

 40.  Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

Apakah tuhan kalian (wahai kaum musyrikin) telah mengistimewakan kalian dengan memberi kalian anak-anak lelaki, sedang Dia sendiri menjadikan maliakat sebagai anak-anak perempuannya? sesungguhnya ucapan kalian ini amat buruk lagi keji, tidak pantas bagi Allah .

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا

wa laqad ṣarrafnā fī hāżal-qur`āni liyażżakkarụ, wa mā yazīduhum illā nufụrā

 41.  Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

Sungguh kami telah menerangkan dan kami variasikan dalam al-qur’an ini jenis-jenis hukum, bentuk-bentuk perumpamaan dan macam-macan nasihat, saupaya manusia dapat mengambil pelajaran dan merenungi hal-hal yang memberi mereka manfaaat dan kemudian mereka mengambilnya, dan hal-hal yang membahayakan mereka kemudian mereka tinggalkan. Dan tidaklah keterangan dan penjelasan itu menambah orang-orang zhalim kecuali kian jauh dari kebenaran dan kelalaian dari berfikir dan memetik pelajaran.

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

qul lau kāna ma’ahū ālihatung kamā yaqụlụna iżal labtagau ilā żil-‘arsyi sabīlā

 42.  Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy”.

Katakanlah (wahai rasul) kepada kaum musyrikin, ”seandainya ada bersama Allah tuhan-tuhan yang lain, maka pasti tuhan-tuhan itu akan mencari cara untuk mengalahkan Allah, Dzat yang memiliki arasy yang besar. ”

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yaqụlụna ‘uluwwang kabīrā

 43.  Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

Allah bersih dan maha suci dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin, dan Dia mahatinggi dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

tusabbiḥu lahus-samāwātus-sab’u wal-arḍu wa man fīhinn, wa im min syai`in illā yusabbiḥu biḥamdihī wa lākil lā tafqahụna tasbīḥahum, innahụ kāna ḥalīman gafụrā

 44.  Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Langit yang tujuh dan bumi yang tujuh lapis, dan semua makhluk yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah . Dan setiap sesuatu di alam ini menyucikan Allah dengan sebenar-benarnya di sertai pujian dan sanjungan bagi Allah . akan tetapi, kalian wahai manusia, tidak dapat memahaminya. Sesungguhnya Dia maha penyantun terhadap para hambaNya, tidak menyegerakan hukuman bagi orang yang melanggar ketentuanNya, maha pengampun bagi mereka.

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

wa iżā qara`tal-qur`āna ja’alnā bainaka wa bainallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati ḥijābam mastụrā

 45.  Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,

Dan apabila engkau membaca al-qur’an, sedang kuam musyrikin mendengarkannya, maka Kami adakan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat sekat penutup yang menutupi akal-akal mereka untuk memahami al-qur’an sebagai bentuk hukuman bagi mereka atas kekafiran dan keingakaran mereka.

وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

wa ja’alnā ‘alā qulụbihim akinnatan ay yafqahụhu wa fī āżānihim waqrā, wa iżā żakarta rabbaka fil-qur`āni waḥdahụ wallau ‘alā adbārihim nufụrā

 46.  dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya,

Dan kami jadikan pada hati kaum musyrikin penutup-penutup supaya mereka tidak dapat memahami al-qur’an dan kami adakan sumbatan pada pendengaran-pendengaran mereka supaya mereka tidak dapat mendengarnya. Dan apabila engkau menyebut nama tuhanmu saja dalam al-qur’an untuk mengajak mereka agar mentauhidkanNya dan melarang mereka berbuat syirik kepadaNya, mereka kembali berpaling dengan lari dari ajakanmu, lantaran kesombongan dan keangkuhan mereka untuk mentauhidkan Allah dalam ibadah kepadaNya.

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَىٰ إِذْ يَقُولُ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

naḥnu a’lamu bimā yastami’ụna bihī iż yastami’ụna ilaika wa iż hum najwā iż yaqụluẓ-ẓālimụna in tattabi’ụna illā rajulam mas-ḥụrā

 47.  Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir”.

Kami lebih mengetahui apa yang didengarkan oleh para pemuka suku quraisy, ketika mereka mendengarkannmu, sedang tujuan mereka adalah jahat. Mereka menyimak bukanlah demi mendapatkan petunjuk dan menerima kebenaran. Dan kami mengetahui bisikan-bisikan antar mereka sewaktu mereka berkata, ”kalian itu tidaklah mengikuti kecuali seorang lelaki yang kena sihir hingga akalnya pun kacau. ”

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

unẓur kaifa ḍarabụ lakal-amṡāla fa ḍallụ fa lā yastaṭī’ụna sabīlā

 48.  Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).

pikirkanlah olehmua (Wahai rasul) ucapan mereka dengan penuh keheranan, ”sesungguhnya Muhammad adalah tukang sihir, penyair, orang gila!” Mereka telah melampaui batas dan menyimpang, serta tidak memperoleh cahaya hidayah menuju jalan yang lurus lagi benar.

وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا

wa qālū a iżā kunnā ‘iẓāmaw wa rufātan a innā lamab’ụṡụna khalqan jadīdā

 49.  Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

Dan orang-orang musyrik berkata dengan nada pengingkaran bahwa mereka akan diciptakan kembali dalam bentuk baru, setelah tulang belulang mereka lapuk dan mereka menjadi hancur, ”apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat sebagai makhluk yang baru?”

۞ قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا

qul kụnụ ḥijāratan au ḥadīdā

 50.  Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi,

أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا

au khalqam mimmā yakburu fī ṣudụrikum, fa sayaqụlụna may yu’īdunā, qulillażī faṭarakum awwala marrah, fa sayun-giḍụna ilaika ru`ụsahum wa yaqụlụna matā huw, qul ‘asā ay yakụna qarībā

 51.  atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”,

50-51. Katakanlah (wahai rasul), untuk membugkam mereka, ”jadilah kalian batu atau besi dalam hal keras dan kekatannya, jika kalian mampu untuk itu. Atau jadilah kalian makhluk yang besar dan yang mustahil sekalipun untuk dapat di terima oleh akal kalian,” niscaya mereka akan mengatakan (sebagai bentuk pengingkaran), ”siapakah yang akan mengembalikan kami menuju kehidupan lagi setelah kematian?” katakanlah kepada mereka, ”yang mengulang dan mengembalikan kalian adalah Allah yang telah menciptakan kalian pertama kali dari tidak ada.” sewaktu mereka mendengarkan jawaban ini, mereka akan menggeleng-gelengkan kepala-kepala mereka dengan mengolok-olok dan merasa aneh lantaran menganggapnya mustahil terjadi dan mereka berkata ”kapankah kebangkitan itu terjadi?” katakanlah, ”kalian tidak akan pernah tahu, bahwa kebangkitan yang kalian ingkari dan kalian anggap tidak mungkin itu barangkali sudah dekat waktu terjadinya.”

يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا

yauma yad’ụkum fa tastajībụna biḥamdihī wa taẓunnụna il labiṡtum illā qalīlā

 52.  yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.

Pada hari pencipta kalian memanggil kalian untuk bangkit keluar dari kubur kalian, lalu kalian menyambut titah Allah itu dan patuh kepadaNya, dan bagi Allah pujian dalam seluruh kondisi. Dan kalian menyangka (karena ketakutan luar biasa di hari kiamat) bahwa kalian tidaklah tinggal di dunia kecuali sebentar saja, lantaran lamanya masa tinggal kalian di akhirat.

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

wa qul li’ibādī yaqụlullatī hiya aḥsan, innasy-syaiṭāna yanzagu bainahum, innasy-syaiṭāna kāna lil-insāni ‘aduwwam mubīnā

 53.  Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu yang beriman, agar hendaknya mereka bertutur kata yang baik lagi bagus dalam komunikasi dan perbincangan mereka. Sesungguhnya jika mereka tidak mengerjakan hal itu, maka setan akan melontarkan diantara mereka api permusuhan, kerusakan dan pertengkaran. Sesungguhnya setan itu merupakan musuh yang benar-benar menampakan permusuhannya bagi manusia.

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ ۖ إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ ۚ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا

rabbukum a’lamu bikum iy yasya` yar-ḥamkum au iy yasya` yu’ażżibkum, wa mā arsalnāka ‘alaihim wakīlā

 54.  Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan mengazabmu, jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.

Tuhan kalian lebih mengetahui tentang kalian (wahai sekalian manusia). Jika Dia berkehendak, Dia akan merahmati kalian, maka akan memberikan taufik kepada kalian untuk beriman. Atau kalau Dia berkehendak lain, Dia akan mematikan kalian diatas kekafiran, lalu Dia mengazab kalian. Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai rasul) sebagai penjaga bagi mereka, dengan mengangani urusan-urusan mereka dan memberi balasan bagi mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka. akan tetapi, misi pentingmu ialah menyampaikan risalah yang engkau diutus untuk mengembannya dan menjelaskan jalan yang lurus.

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

wa rabbuka a’lamu biman fis-samāwāti wal-arḍ, wa laqad faḍḍalnā ba’ḍan-nabiyyīna ‘alā ba’ḍiw wa ātainā dāwụda zabụrā

 55.  Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Dan tuhanmu (wahai rasul), lebih mengetahui siapa saja yang berada di langit dan di muka bumi. Dan sesungguhnya kami telah melebihkan sebagian nabi di atas sebagian yang lain dengan berbagai keutamaan, jumlah pengikutnya lebih banyak dan diturunkannya kitab-kitab. Dan kami telah memberikan Zabur kepada daud.

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

qulid’ullażīna za’amtum min dụnihī fa lā yamlikụna kasyfaḍ-ḍurri ‘angkum wa lā taḥwīlā

 56.  Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin dari kaummu sendiri, ”Sesungguhnya sesembahan-sesembahan yang kalian seru untuk menyingkirkan mudarat dari kalian, mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu, dan tidak kuasa memindahkannya dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Dzat yang maha kuasa untuk itu, Dialah Allah semata.” Ayat ini berlaku umum terhadap semuya yang diseru selain Allah, baik yang sudah mati maupun berada di tempat yang jauh, baik dari kalangan para nabi maupun orang-orang shalih atau lainnya, dengan istilah meminta tolong, doa atau memohon lainnya. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

ulā`ikallażīna yad’ụna yabtagụna ilā rabbihimul-wasīlata ayyuhum aqrabu wa yarjụna raḥmatahụ wa yakhāfụna ‘ażābah, inna ‘ażāba rabbika kāna maḥżụrā

 57.  Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

Orang-orang yang di seru bersama Allah oleh kaum musyrikin dari kalangan para nabi, orang-orang shalih, para malaikat, justru berlomba untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka dengan segala hal yang mampu mereka perbuat berupa amal-amal shalih, dan mereka mengharapkan rahmatNya dan takut terhadap siksaanNya. Sesungguhnya siksaan tuhanmu itu adalah sesuatu yang sepantasnya dikhawatirkan dan di takuti oleh para hamba.

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

wa im ming qaryatin illā naḥnu muhlikụhā qabla yaumil-qiyāmati au mu’ażżibụhā ‘ażāban syadīdā, kāna żālika fil-kitābi masṭụrā

 58.  Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).

Allah mengancam orang-orang kafir bahwa tidak ada satu negeri pun yang mendustakan para rasul kecuali akan turun kepada mereka hukuman yang menghancurkan mereka di dunia sebelum hari kiamat atau berupa siksaan yang pedih bagi penduduknya. Ini satu ketetapan yang sudah Allah tulis dan ketentuan yang Allah telah Dia tetapkan secara pasti, yang pasti akan terjadi, dan ketetapan itu telah tertulis di lauhil mahfuzh.

وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

wa mā mana’anā an nursila bil-āyāti illā ang każżaba bihal-awwalụn, wa ātainā ṡamụdan-nāqata mubṣiratan fa ẓalamụ bihā, wa mā nursilu bil-āyāti illā takhwīfā

 59.  Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.

Dan tidak ada yang menghalang-halangi Kami untuk menurunkan mukjizat-mukjizat yang diminta oleh kaum musyrikin kecuali pendustaan yang telah di lakukan oleh umat-umat manusia sebelum mereka. Sesungguhnya Allah telah memenuhi permintaan mereka, namun kemudian mereka mundustakan dan akhirnya mereka binasa. Dan Kami telah memberikan kepada tsamud (mereka adalah kaum Nabi shaleh) mukjizat yang jelas yaitu unta betina, akan tetapi, mereka mengingkarinya. Maka kamipun membinasakan mereka. Dan kami tidaklah mengutus para rasul dengan membawa tanda-tanda kuasa, pelajaran-pelajaran dan mukjizat-mukjizat yang Kami tampakkan melalui tangan-tangan mereka kecuali untuk mempertakutkan para hamba, agar mereka memperoleh pelajaran dan mendapat peringatan.

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ ۚ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

wa iż qulnā laka inna rabbaka aḥāṭa bin-nās, wa mā ja’alnar-ru`yallatī araināka illā fitnatal lin-nāsi wasy-syajaratal-mal’ụnata fil-qur`ān, wa nukhawwifuhum fa mā yazīduhum illā ṭugyānang kabīrā

 60.  Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.

Dan ingatlah (wahai rasul) ketika Kami berfirman kepadamu, ”sesungguhnya tuhanmu meliputi seluruh manuasia dengan ilmu dan kekuasaanNya. Dan Kami tidaklah menjadikan penglihatan yang kami perlihatkan kepadamu secara langsung pada malam isra’ mi’raj berupa makhluk-mahkluk ciptaan yang luar biasa besar kecuali sebagai ujian bagi manusia, supaya bisa memisahkan mana yang kafir, dan mana yang mukmin. Dan tidaklah Kami menjadikan pohon zaqqum terlaknat yang disebutkan dalam al-qur’an, kecuali sebagai cobaan bagi manusia. Kami membuat takut kaum musyrikin dengan berbagai macam siksaan dan tanda-tanda kuasa Kami. Dan tidaklah perkara-perkara yang menakutkan itu menambah mereka kecuali kian menjadi-jadi dalam kekafiran dan kesesatan.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, qāla a asjudu liman khalaqta ṭīnā

 61.  Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”

Dan ingatlah firman Kami kepaada malaikat, ”bersujudlah kepada Adam sebagai penghormatan dan pemuliaan.” merekapun bersujud semua kecuali iblis. ia menyombongkan diri dan menolak bersujud sembari berdalih, sebagai bentuk kesombongan dan pengingkaran, ”apakah pantas aku bersujud kepada manusia yang lemah dan makhluk yang diciptakan dari tanah liat ini?”

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا

qāla a ra`aitaka hāżallażī karramta ‘alayya la`in akhkhartani ilā yaumil-qiyāmati la`aḥtanikanna żurriyyatahū illā qalīlā

 62.  Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

Iblis berkata kepada Allah dengan penuh kelancanagn dan kekafiran kepadaNya, ”bagaimana menurutMu makhluk ciptaan yang telah Engkau beri kelebihan atas diriku? jika Engkau melanggengkanku dalam keadaan hidup sampai hari kiamat, aku benar-benar akan dapat menguasai keturunan-keturunannya dengan menyesatkan dan merusak mereka, kecuali orang-orang yang ikhlas dalam keimanannya yang jumlahnya sedikit saja. ”

قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا

qālaż-hab fa man tabi’aka min-hum fa inna jahannama jazā`ukum jazā`am maufụrā

 63.  Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.

Allah berfirman memperingatkan iblis dan para pengikutnya, ”pergilah engkau! Maka siapa saja yang mengikutimu dari keturunan Adam, lalu ia menaatimu, maka sesungguhnya hukuman bagimu dan hukuman bagi mereka akan (ditimpakan secara) penuh di neraka jahanam.

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

wastafziz manistaṭa’ta min-hum biṣautika wa ajlib ‘alaihim bikhailika wa rajilika wa syārik-hum fil-amwāli wal-aulādi wa ‘id-hum, wa mā ya’iduhumusy-syaiṭānu illā gurụrā

 64.  Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

Dan hasutlah setiap orang dari mereka yang bisa kamu hasut dengan menyeru mereka untuk mendurhakaiKu, dan kumpulkanlah atas mereka apa yang mampu untuk kamu kumpulkan baik pasukan berkuda atau pasukan berjalan kaki, dan jadikanlah dirimu berserikat dengan mereka pada kekayaan mereka agar mereka mencarinya dari hal-hal yang diharamkan dan pada anak-anak mereka dengan memperindah pandangan mereka terhadp zina dan maksiat-maksiat serta pelanggaran terhadap perintah-perintah Allah, sehingga praktek kebejatan dan kerusakan kian merajalela, dan berilah para pengikutmu dari keturunan Adam janji-janji dusta. Maka setiap janji setan itu adalah batil dan merupakan tipu daya.

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا

inna ‘ibādī laisa laka ‘alaihim sulṭān, wa kafā birabbika wakīlā

 65.  Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”.

Sesungguhnya para hamba-hambaKu yang beriman, ikhlas, lagi taat kepadaKu, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka untuk menyesatkan mereka. ”Dan cukuplah tuhanmu (wahai nabi) sebagai pelindung dan penjaga bagi kaum mukminin dari makar setan dan tipu dayanya.

رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

rabbukumullażī yuzjī lakumul-fulka fil-baḥri litabtagụ min faḍlih, innahụ kāna bikum raḥīmā

 66.  Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.

Tuhan kalian (wahai sekalian manusia), Dialah yang memudahkan bagi kalian berlayarnya kapal-kapal di laut, agar kalian dapat mencari rizki Allah dalam perjalan-perjalan jauh kalian dan perniagaan kalian. Sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap para hambaNya.

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

wa iżā massakumuḍ-ḍurru fil-baḥri ḍalla man tad’ụna illā iyyāh, fa lammā najjākum ilal-barri a’raḍtum, wa kānal-insānu kafụrā

 67.  Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.

Dan apabila kesulitan menimpa kalian di lautan hingga kalian hampir-hampir terancam tenggelam dan binasa, maka hilanglah dari benak-benak kalian tuhan-tuhan yang kalian sembah, dan kalian hanya mengingat Allah semata Dzat yang mahakuasa agar memberi pertolongan dan menyelamtakan kalian. Lalu kemudian kalian ikhlaskan kepadaNya dalam meminta petolongan, kemudia Dia membantu dan menyelamatkan kalian. Namun setelah Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling dari beriman, ikhlas dan beramal shalih. Ini termasuk bentuk kebodohan manusia dan kekafirannya. Dan manusia itu banyak mengingkari nikmat-nikmat Allah .

أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ وَكِيلًا

a fa amintum ay yakhsifa bikum jānibal-barri au yursila ‘alaikum ḥāṣiban ṡumma lā tajidụ lakum wakīlā

 68.  Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu,

Apakah kalian (wahai sekalian manusia) lalai dari siksaan Allah, sehingga kalian merasa aman ditenggelamkan dari permukaan bumi atau Allah menurunkan hujan batu pada kalian dari langit, sehingga menghabisi kalian kemudian kalian tidak mendapatkan seseorangpun yang sanggup melindungi kalian dari siksaanNya?

أَمْ أَمِنْتُمْ أَنْ يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَىٰ فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ ۙ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا

am amintum ay yu’īdakum fīhi tāratan ukhrā fa yursila ‘alaikum qāṣifam minar-rīḥi fa yugriqakum bimā kafartum ṡumma lā tajidụ lakum ‘alainā bihī tabī’ā

 69.  atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami.

Ataukah apakah kalian (wahai sekalian manusia), merasa aman terhadap tuhan kalian, sedang kalian telah ingkar kepadaNya, dari mengembalikan kalian ke laut sekali lagi, lalu Dia mengirim angin kencang yang meluluhkan segala yang ia lewati. Lalu Dia menenggelamkan kalian gara-gara kekafiran kalian, kemudian kalianpun tidak mendapati pertanggung jawaban dan tuntutan terhadap kami; karena sesungguhnya Allah tidak pernah menzhalimi kalian sebesar biji dzarrah sekalipun?

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

wa laqad karramnā banī ādama wa ḥamalnāhum fil-barri wal-baḥri wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāti wa faḍḍalnāhum ‘alā kaṡīrim mim man khalaqnā tafḍīlā

 70.  Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Dan sungguh Kami telah memuliakan keturunan-keturunan Adam dengan karunia akal dan diutusnya para rasul kepada mereka, dan kami tundukan seluruh yang ada di alam ini bagi mereka, dan kami mudahkan bagi mereka tunggangan-tunggangan di darat dan kapal-kapal untuk mengangkut mereka, dan Kami beri mereka rizki dari makanan dan minuman yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka diatas kebanyakan makhluk ciptaanNya dengan keutamaan yang besar.

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

yauma nad’ụ kulla unāsim bi`imāmihim, fa man ụtiya kitābahụ biyamīnihī fa ulā`ika yaqra`ụna kitābahum wa lā yuẓlamụna fatīlā

 71.  (Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

Sebutkanlah (wahai rasul), hari kebangkitan dengan memberikan kabar gembira dan menyampaikan peringatan, ketika Allah memanggil tiap-tiap golongan dari manusia bersama pemimpinnya yang dahulu mereka ikuti di dunia. Maka siapa saja diantara mereka termasuk orang shalih dari mereka, dan disodori buku catatan amal perbuatannya di tangan kanannya, maka mereka itu akan membaca buku catatan amal mereka dengan senang dan riang gembira. Dan mereka tidak mengalami pengurangan pahala dari amal-amal shalih mereka sedikitpun, walaupun seukuran benang tipis yang berada di tengah biji kurma.

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

wa mang kāna fī hāżihī a’mā fa huwa fil-ākhirati a’mā wa aḍallu sabīlā

 72.  Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).

Dan barang siapa di dunia ini buta hatinya dari melihat bukti-bukti kuasa Allah, tidak beriman kepada risalah yang dibawa Muhammad maka dia pada hari kiamat akan lebih buta untuk mengetahui jalan menuju surga dan juga lebih sesat jalannya dari petunjuk dan bimbingan.

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

wa ing kādụ layaftinụnaka ‘anillażī auḥainā ilaika litaftariya ‘alainā gairahụ wa iżal lattakhażụka khalīlā

 73.  Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.

dan sungguh Hampir-hampir saja kaum musyrikin itu akan memalingkanmu (wahai rasul) dari al-qur’an yang diturunkan Allah kepadamu, agar kamu membuat-buat kebohongan terhadap kami terkait apa yang Kami wahyukan kepadamu. Jika kamu melakukan apa yang kamu inginkan, pastilah mereka akan menjadikanmu orang kecintaan yang dekat.

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

walau lā an ṡabbatnāka laqad kitta tarkanu ilaihim syai`ang qalīlā

 74.  Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

Dan sekiranya Kami tidak meneguhkan (hati)mu di atas kebenaran dan menjagamu dari menyetujui mereka, pastilah kamu hampir saja condong sedikit kepada apa yang mereka sarankan kepadamu disebabkan kuatnya tipudaya mereka dan dahsyatnya tipu muslihat mereka serta banyaknya usaha dan keinginan besarmu agar mereka mendapatkan hidayah.

إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

iżal la`ażaqnāka ḍi’fal-ḥayāti wa ḍi’fal-mamāti ṡumma lā tajidu laka ‘alainā naṣīrā

 75.  kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.

Jika engkau (wahai rasul) condong kepada kaum musyrikin sedikit terkait apa yang mereka mintakan kepadamu, niscaya Kami akan menimpakan padamu siksaan berlipat ganda saat engkau masih hidup di dunia dan siksaaan berlipat ganda di akhirat sesudah engkau mati. Hukuman yang demikian ini lantaran kesempurnaan nikmat Allah yang tercurah pada dirimu dan kesempurnaan ma’rifatmu kepada tuhanmu. Kemudian engkau tidak akan mendapatkan seseorangpun yang akan menolongmu dan menyingkirkan siksaan kami dari dirimu.

وَإِنْ كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الْأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا ۖ وَإِذًا لَا يَلْبَثُونَ خِلَافَكَ إِلَّا قَلِيلًا

wa ing kādụ layastafizzụnaka minal-arḍi liyukhrijụka min-hā wa iżal lā yalbaṡụna khilāfaka illā qalīlā

 76.  Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja.

dan sungguh Hampir saja kaum musyrikin mengusirmu dari makkah dengan cara melancarkan gangguan-gangguan terhadapmu. Seandainya mereka mengusirmu darinya, niscaya mereka tidak akan tinggal di dalamnya sepeninggalmu melainkan sebentar saja hingga turun pada mereka hukuman yang disegerakan.

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

sunnata mang qad arsalnā qablaka mir rusulinā wa lā tajidu lisunnatinā taḥwīlā

 77.  (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.

Itu adalah ketetapan Allah terkait pembinasaan umat manusia yang mengusir rasul dari tengah mereka. Dan engkau (wahai rasul) tidak akan menemukan adanya perubahan pada ketetapan Kami. Tidak ada pengingkaran terhadap janji Kami.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

aqimiṣ-ṣalāta lidulụkisy-syamsi ilā gasaqil-laili wa qur`ānal-fajr, inna qur`ānal-fajri kāna masy-hụdā

 78.  Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Dirikanlah shalat dengan sempurna dari waktu tergelincirnya matahari di tengah hari hingga waktu datangnya malam. Dan masuk dalam pengertian ini shalat dzhur, ashar, maghrib, dan isya. Dan laksanakanlah sholat subuh dan panjangkanlah bacaan al-qur’an di dalam shalat shubuh, karena sesungguhnya sholat subuh itu dihadiri malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

wa minal-laili fa taḥajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab’aṡaka rabbuka maqāmam maḥmụdā

 79.  Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Dan bangunlah (wahai nabi) dari tidurmu pada sebagain malam. Bacalah al-qur’an dalam shalat malam supaya shalat malammu menjadi tambahan bagimu untuk meninggikan kualitasmu dan meningkatkan derajatmu. Mudah-mudahan Allah membangkitkan kamu menjadi pemberi syafaat bagi sekalian manusia pada hari kiamat, sehingga Allah merahmati mereka dari kondisi yang meliputi merreka, dan engkau menduduki kedudukan yang dipuji oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang belakangan.

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

wa qur rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqiw wa akhrijnī mukhraja ṣidqiw waj’al lī mil ladungka sulṭānan naṣīrā

 80.  Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.

Dan katakanlah “wahai tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar ke dalam hal-hal yang baik bagiku, dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar dari hal-hal yang buruk bagiku. Dan berikanlah kepadaku dari sisiMu hujjah yang kuat yang dengannya Engkau akan membelaku terhadap semua orang yang menentangku.”

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

wa qul jā`al-ḥaqqu wa zahaqal-bāṭilu innal-bāṭila kāna zahụqā

 81.  Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Dan katakanlah (wahai rasul) kepada kaum musyrikin, ”telah datang islam dan telah lenyap kesyirikan. Sesungguhnya kebatilan itu tidak ada kelanggengan dan keteguhan baginya. Dan Kebenaranlah yang akan tetap kokoh lagi abadi yang tidak akan sirna.”

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

wa nunazzilu minal-qur`āni mā huwa syifā`uw wa raḥmatul lil-mu`minīna wa lā yazīduẓ-ẓālimīna illā khasārā

 82.  Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Dan kami menurunkan dari ayat-ayat al-qur’an al-azhim ayat-ayat yang menyembuhkan hati dari semua penyakit, seperti keraguan, kemunafikan dan kebodohan, dan akan menyembuhkan jasmani melalui bacaan ruqyah dengannya, dan hal-hal yang menjadi penyebab teraihnya rahmat Allah melalui kandungan keimanannya. Dan tidaklah al-qur’an ini menambah bagi orang-orang kafir ketika mendengarnya, kecuali kekafiran dan kesesatan. Kaarena pendustaan mereka terhadapnya dan tidak ada keimanan dalam diri mereka.

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

wa iżā an’amnā ‘alal-insāni a’raḍa wa na`ā bijānibih, wa iżā massahusy-syarru kāna ya`ụsā

 83.  Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.

Dan apabila kami mencurahkan kenikmatan kepada manusia sebagaimana adanya, berupa harta benda dan keafiatan, dia akan berpaling dan menjauh dari ketaatan kepada tuhannya. Dan apabila dia ditimpa kesulitan hidup seperti kemiskinan atau penyakit, maka dia menjadi manusia yang putus asa, sebab sesungguhnya dia tidak percaya terhadap karunia Allah , kecuali orang-orang yang dijaga Allah dalam kedua keadaan itu; kemudahan dan kesulitan.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

qul kulluy ya’malu ‘alā syākilatih, fa rabbukum a’lamu biman huwa ahdā sabīlā

 84.  Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Katakanlah (wahai rasul) kepada sekalian manusia, Tiap-tiap orang dari kalian akan berbuat sesuai dengan keadaannya. Dan tuhan kalian lebih mengetahui orang yang mendapatkan petunjuk menuju kebenaran.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

wa yas`alụnaka ‘anir-rụḥ, qulir-rụḥu min amri rabbī wa mā ụtītum minal-‘ilmi illā qalīlā

 85.  Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Orang-orang kafir bertanya kepadamu tentang hakikat ruh sebagai bentuk penentangan. Maka jawablah mereka bahwa hakikat ruh dan kondisi-kondisinya termasuk perkara yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Dan tidaklah kalian dan sekalian manusia deberi pengetahuan kecuali sedikit saja.

وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا

wa la`in syi`nā lanaż-habanna billażī auḥainā ilaika ṡumma lā tajidu laka bihī ‘alainā wakīlā

 86.  Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembelapun terhadap Kami,

Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki untuk menghapus al-qur’an dari hatimu, pastilah Kami kuasa melakukannya. Kemudian kalian tidak mendapati seorangpun penolong untuk dirimu yang mempu menghalangi dari kejadian tersebut atau mengembalikan al-qur’an kepadamu.

إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّ فَضْلَهُ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيرًا

illā raḥmatam mir rabbik, inna faḍlahụ kāna ‘alaika kabīrā

 87.  kecuali karena rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu adalah besar.

Akan tetapi, Allah merahmatimu, sehingga meneguhkannya dalam hatimu. Sesungguhnya karuniaNya terhadap dirimu sangatlah besar. Dia telah menganugerahkan kepadamu al-qur’an al-azhim dan maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) serta karunia-karunia lainnya yang tidak diberikanNya kepada seorangpun dari seluruh makhluk.

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

qul la`inijtama’atil-insu wal-jinnu ‘alā ay ya`tụ bimiṡli hāżal-qur`āni lā ya`tụna bimiṡlihī walau kāna ba’ḍuhum liba’ḍin ẓahīrā

 88.  Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Katakanlah, ”seandainya bangsa jin dan manusia sepakat berusaha mendatangkan sesuatu yang serupa dengan al-qur’an yang merupakan mukjizat ini, niscaya mereka tidak sanggup mendatangkan yang semisal dengan keindahan bahasanya, maknanya dan hukumnya, walaupun mereka semua saling membantu dan saling bekerja sama untuk mewujudkannya. ”

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

wa laqad ṣarrafnā lin-nāsi fī hāżal-qur`āni ming kulli maṡalin fa abā akṡarun-nāsi illā kufụrā

 89.  Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).

Dan sungguh Kami telah menjelaskan dan memvariasikan perumpamaan-perumpamaan dalam al-qur’an yang semestinya dapat dijadikan sumber pelajaran sebagai bentuk hujjah di hadapan mereka, agar mereka mau mengikuti dan mengamalkannya. Namun kebanyakan manusia enggan (bersikap) kecuali untuk menolak kebenaran dan mengingkari hujjah-hujjah Allah dan dalil-dalil kebenaranNya.

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا

wa qālụ lan nu`mina laka ḥattā tafjura lanā minal-arḍi yambụ’ā

 90.  Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami,

Ketika al-qur’an membungkam kaum musyrikin dan mengalahkan mereka, maka merekapun mulai meminta-minta mukjizat-mukjizat sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka berakta, ”kami tidak akan mempercayaimu (wahai Muhammad), dan mengamalkan apa yang engkau sampaikan sampai engkau dapat memancarkan dari tanah makkah mata air yang mengalir.

أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا

au takụna laka jannatum min nakhīliw wa ‘inabin fa tufajjiral-an-hāra khilālahā tafjīrā

 91.  atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya,

Atau kamu memilik kebun yang berisi berbagai macam kurma dan anggur, dan engkau adakan sungai-sungai yang mengalir di tengahnya dengan aliran yang deras.

أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا

au tusqiṭas-samā`a kamā za’amta ‘alainā kisafan au ta`tiya billāhi wal-malā`ikati qabīlā

 92.  atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.

Atau engaku jatuhkan langit dalam kepingan-kepingan kecil kepada kami sebagaimana engkau klaim, atau engkau datangkan Allah dan malaikatNya kepaada kami sehingga kami dapat menyaksikan mereka di depan kami dengan mata kepala kami.

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَىٰ فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ ۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

au yakụna laka baitum min zukhrufin au tarqā fis-samā`, wa lan nu`mina liruqiyyika ḥattā tunazzila ‘alainā kitāban naqra`uh, qul sub-ḥāna rabbī hal kuntu illā basyarar rasụlā

 93.  Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”

Atau engkau mempunyai rumah yang terbuat dari emas, atau engkau mendaki tanggga menuju langit, dan kami tidak akan mempercayaimu mendaki sampai engkau kembali dengan membawa kitab dari Allah yang terbuka dimana kami dapat membaca di dalamnya bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah sebenarnya. ”katakanlah (wahai rasul), dengan memandang aneh terhadap penentangan kaum kafir, ”maha suci tuhanku!! bukankah aku ini kecuali hanya seorang hamba dari hamba-hambaNya yang menyampaikan risalahnya? bagaimana aku bisa memenuhi apa yang kalian minta?”

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

wa mā mana’an-nāsa ay yu`minū iż jā`ahumul-hudā illā ang qālū a ba’aṡallāhu basyarar rasụlā

 94.  Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?”

Dan tidak ada sesuatu yang menghambat orang-orang kafir untuk beriman kepaada Allah dan rasulNya serta taat kepada Allah dan rasulNya ketika telah datang kepada mereka penjelasan yang memadai dari sisi Allah kecuali komentar mereka yang penuh kebodohan dan pengingkaran, ”apakah Allah mengutus seorang rasul dari bangsa manusia?”

قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا

qul lau kāna fil-arḍi malā`ikatuy yamsyụna muṭma`innīna lanazzalnā ‘alaihim minas-samā`i malakar rasụlā

 95.  Katakanlah: “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul”.

Katakanlah (wahai rasul) sebagai bantahan terhadap pengingkaran kaum musyrikin perihal rasul yang berasal dari bangsa manusia. ”kalau seandainya di muka bumi ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan di atasnya dengan tenang, pastilah kami akan mengutuus kepada mereka seorang rasul dari bangsa malaikat. Hanya saja, penghuni bumi adalah manusia. Maka utusan Allah kepada mereka sepantasnya dari bangsa mereka sendiri, agar memungkinkan terjadinya komunikasi baik dengannya dan memahami ucapannya. ”

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

qul kafā billāhi syahīdam bainī wa bainakum, innahụ kāna bi’ibādihī khabīram baṣīrā

 96.  Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.

katakanlah kepada mereka, ”cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kalian atas kejujuranku dan kebenaran kenabianku. Sesungguhnya Dia maha mengetahui semua kondisi hamba-hambaNYa, maha melihat amal perbuatan mereka, dan Dia akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan itu. ”

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ ۖ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا ۖ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا

wa may yahdillāhu fa huwal-muhtad, wa may yuḍlil fa lan tajida lahum auliyā`a min dụnih, wa naḥsyuruhum yaumal-qiyāmati ‘alā wujụhihim ‘umyaw wa bukmaw wa ṣummā, ma`wāhum jahannam, kullamā khabat zidnāhum sa’īrā

 97.  Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.

Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah , maka Dialah orang yang memperoleh petunjuk menuju kebenaran. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, lalu Dia abaikan dan menjadikannya bertumpu pada diri sendiri, maka tidak ada pemberi petunjuk banginya selain Alllah. Orang-orang sesat itu akan Allah bangkitkan pada hari kiamat dan mengumpulkan mereka dengan di seret wajah-wajah mereka, sedang mereka tidak bisa melihat, tidak bisa berbicara, dan tidak dapat mendengar. Tempat kembalinya adalah neraka jahanam yang menyala-nyala. Tapi tiap kali apinya meredup, dan kemudian apinya padam, maka Kami menambahkan nyala api yang menyala-nyala lagi berkobar-kobar,

ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا

żālika jazā`uhum bi`annahum kafarụ bi`āyātinā wa qālū a iżā kunnā ‘iẓāmaw wa rufātan a innā lamab’ụṡụna khalqan jadīdā

 98.  Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?”

Siksaan yang dideskripsikan ini merupakan hukuman bagi kaum musyrikin disebabkan kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjahNya, dan juga pendustaan mereka terhadap rasul-rasulNya yang menyeru mereka untuk beribadah kepadaNya saja, dan juga karena ucapan mereka dengan penuh kesombongan (ketika diperintahkan membenarkan hari kebangkitan) ”apakah kami bila telah mati dan kami berubah menjadi tulang-belulang yang hancur berkeping-keping kami akan dibangkitkan kembali setelah itu dalam bentuk makhluk yang baru?”.

۞ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلَّا كُفُورًا

a wa lam yarau annallāhallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa qādirun ‘alā ay yakhluqa miṡlahum wa ja’ala lahum ajalal lā raiba fīh, fa abaẓ-ẓālimụna illā kufụrā

 99.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.

Dan apakah kaum musyrikin itu lalai, tidak menyadari dan tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah Dialah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya tanpa ada contoh sebelumnya, Dia maha kuasa untuk menciptakan makhluk-makhluk seperti mereka setelah mereka lenyap? Allah telah menetapkan waktu tertentu bagi kaum musyrikin untuk kematian mereka dan timpaan siksaan bagi mereka, dan tidak diragukan lagi bahwa itu akan menimpa mereka. Kendatipun kebenaran dan dalil-dalilnya sudah begitu jelas, akan tetapi orang-orang kafir menolak kecuali untuk mengingkari agama Allah.

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

qul lau antum tamlikụna khazā`ina raḥmati rabbī iżal la`amsaktum khasy-yatal-infāq, wa kānal-insānu qatụrā

 100.  Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. Dan adalah manusia itu sangat kikir.

Katakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran, ”jika sekiranya kalian itu memiliki pembendaharaan rahmat tuhanku yang tidak akan habis atau lenyap, pastilah kalian akan pelit dengannya, kalian tidak akan memberikannya kepada orang lain karena khawatir akan habis sehingga kalian akan berubah menjadi orang-orang miskin.” Dan termasuk karakter manusia, ia akan bersifat bakhil dengan apa yang ada di tangannya, kecuali orang yang Allah jaga dengan keimanan.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَىٰ مَسْحُورًا

wa laqad ātainā mụsā tis’a āyātim bayyinātin fas`al banī isrā`īla iż jā`ahum fa qāla lahụ fir’aunu innī la`aẓunnuka yā mụsā mas-ḥụrā

 101.  Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir”.

Dan sesungguhnya Kami telah memberi Musa sembilan mukjizat yang nyata lagi mempersaksikan kebenaran kenabiannya, yaitu tongkat, tangan (yang memancarkan cahaya cemerlang), tahun-tahun kekeringan, minimnya buah-buahan, air bah, belalang, kutu, kodok, dan darah. Maka tanyakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang yahudi demi menuntut pengakuan mereka ketika musa mendatangi para nenek moyang mereka dengan membawa mukjizat-mukjizatnya yang nyata, maka fir’aun berkata kepada Musa, ”sesungguhnya aku mengira engkau (wahai musa) seorang tukang sihir, tertipu dan terpedaya akan akalmu di bawah kendalinya, lantaran hal-hal aneh yang engkau bawa.

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

qāla laqad ‘alimta mā anzala hā`ulā`i illā rabbus-samāwāti wal-arḍi baṣā`ir, wa innī la`aẓunnuka yā fir’aunu maṡbụrā

 102.  Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”.

Maka musa membalas ucapan fir’aun, ”sungguh engkau telah yakin wahai fir’aun, tidak ada yang menurunkan sembilan mukjizat itu yang membuktikan kebenaran kenabianku selain tuhan penguasa langit dan bumi, agar menjadi bukti bagi orang-orang yang memiliki akal lurus untuk mengetahui keesaan Allah dalam uluhiyah dan rububiyah. Dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya engkau wahai fir’aun, akan binasa, terlaknat, lagi kalah.”

فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَفِزَّهُمْ مِنَ الْأَرْضِ فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ جَمِيعًا

fa arāda ay yastafizzahum minal-arḍi fa agraqnāhu wa mam ma’ahụ jamī’ā

 103.  Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya,

Maka fir’aun ingin melancarkan gangguan kepada Musa dan mengusirnya beserta bani israil dari wilayah mesir. Akan tetapi kemudian kami menenggelamkannya beserta pasukannya yang bersamanya di dalam laut sebagai hukuman bagi mereka.

وَقُلْنَا مِنْ بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا

wa qulnā mim ba’dihī libanī isrā`īlaskunul-arḍa fa iżā jā`a wa’dul-ākhirati ji`nā bikum lafīfā

 104.  dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu)”.

Kemudian kami berfirman kepada bani israil pasca kebinasaan fir’aun dan para pengikutnya. ”tinggalah kalian di negeri syam, apabila nanti datang hari kiamat, kami akan datang membawa kalain dari kubur-kubur kalian menuju tempat perhitungan amal dan perbuatan.

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

wa bil-ḥaqqi anzalnāhu wa bil-ḥaqqi nazal, wa mā arsalnāka illā mubasysyiraw wa nażīrā

 105.  Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Dan dengan kebenaranlah kami turunkan al-qur’an ini kepada Muhammad untuk memerintahkan hamba-hamba dan melarang mereka serta berisi berita pahala dan siksaan bagi mereka. Dan dengan kebenaran, keadilan, pemeliharaan dari perubahan dan revisi, al-qur’an itu turun. Dan kami tidaklah mengutus engkau (wahai rasul), kecuali sebagai pembawa berita gembira bagi orang yang taat dan mempertakutkan dengan neraka bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

wa qur`ānan faraqnāhu litaqra`ahụ ‘alan-nāsi ‘alā mukṡiw wa nazzalnāhu tanzīlā

 106.  Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

Dan kami telah menurunkan kepadamu (wahai rasul) al-qur’an yang telah kami jelaskan, kami rapikan dan kami uraikan untuk menjadi pembeda antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran, dan kebatilan; agar engkau membacakannya kepada manusia dengan pelan-pelan dan perlahan-lahan, dan kami turunkan al-qur’an itu secara terpisah-pisah sedikit demi sedikit, sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan tuntutan kondisi-kondisi.

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

qul āminụ bihī au lā tu`minụ, innallażīna ụtul-‘ilma ming qablihī iżā yutlā ‘alaihim yakhirrụna lil-ażqāni sujjadā

 107.  Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud,

Katakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang yang mendustakan, ”berimanlah kepada al-qur’an atau tidak usah mengimaninya, karena sesungguhnya keimanan kalian tidak akan menambah kesempurnaan baginya dan pendustaan kalian tidak melekatkan kekurangan padanya. sesungguhnya orang-orang yang berilmu(ulama) yang diberi kitab-kitab suci terdahulu sebelum al-quran mengetahui hakikat wahyu, apabila dibacakan al-qur’an kepada mereka, mereka menjadi khusyu dan lalu bersujud dengan wajah-wajah mereka karena penganggungan kepada Allah dan sebagai rasa syukur kepadaNya.

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا

wa yaqụlụna sub-ḥāna rabbinā ing kāna wa’du rabbinā lamaf’ụlā

 108.  dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”.

Dan orang-orang yang diberi ilmu itu disaat mendengarkan al-qur’an berkata, ”kesucian menjadi milik tuhan kami dan Dia berlepas diri dari komentar yang diungkapkan kaum musyrikin kepadaNya, dan apa yang dijanjikan Allah yang berupa pahala dan siksaan akan terjadi, lagi merupakan kebenaran. ”

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

wa yakhirrụna lil-ażqāni yabkụna wa yazīduhum khusyụ’ā

 109.  Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Dan mereka menyungkur bersujud dengan wajah-wajah mereka, menangis lantaran tersentuh dengan nasihat-nasihat al-qur’an dan mendengar al-qur’an serta nasihat-nasihatnya semakin menambah ketundukan bagi mereka terhadap perintah Allah dan keagungan kuasaNya.

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

qulid’ullāha awid’ur-raḥmān, ayyam mā tad’ụ fa lahul-asmā`ul-ḥusnā, wa lā taj-har biṣalātika wa lā tukhāfit bihā wabtagi baina żālika sabīlā

 110.  Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang musyrik dari kaummu yang mengingkari engkau berdoa dengan membaca, ”Ya allah, ya rahman” Serulah Allah atau serulah arrahman. dengan namaNya yang mana saja kalian menyeruNya, sesungguhnya kalian telah menyeru tuhan yang satu. Sebab, nama-namaNya itu mahabaik. Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu di dalam shalatmu sehingga kaum musyrikin mendengarmu, dan jangnlah engkau lirihkan sehingga para sahabatmu tidak mendengarmu. Bersikaplah tengah-tengah antara keras dan lirih.

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

wa qulil-ḥamdu lillāhillażī lam yattakhiż waladaw wa lam yakul lahụ syarīkun fil-mulki wa lam yakul lahụ waliyyum minaż-żulli wa kabbir-hu takbīrā

 111.  Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

Dan katakanlah (wahai rasul), ”segala puji bagi Allah yang memiliki sifat kesempurnaan dan puji-pujian, yang maha suci dari memiliki anak dan sekutu dalam uluhiyahNya, dan Dia tidak mempunyai pembela dari makhlukNya. Dia mahakaya lagi maha kuat, sedang mereka itu kekurangan lagi membutuhkan kepadaNya. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sempurna dengan memujiNya dan hanya beribadah kepadaNya, tiada sekutu bagiNya serta mengkhihlaskan seluruh agama (ketaatan) hanya kepadaNYa.

Related: Surat al-Kahfi Arab-Latin, Surat Maryam Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Thaha, Terjemahan Tafsir Surat al-Anbiya, Isi Kandungan Surat al-Hajj, Makna Surat al-Mu’minun

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Al Isra Surat Al Isro Al Isro Bacaan Surat Al Asro Surat Al-isro