Surat al-Maidah

Belajar Quran Online

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Arab-Latin: yā ayyuhallażīna āmanū aufụ bil-‘uqụd, uḥillat lakum bahīmatul-an’āmi illā mā yutlā ‘alaikum gaira muḥilliṣ-ṣaidi wa antum ḥurum, innallāha yaḥkumu mā yurīd

Terjemah Arti:  1.  Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, sempurnakanlah perjanjian-perjanjian Allah yang dipertegas, berupa keimanan terhadap ajaran-ajaran syariat agama dan ketundukan kepadanya. Dan penuhilah perjanjian sebagian kelian atas sebagian yang lain berupa amanat, jual-beli dan akad-akad lainnya yang tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya, Muhammad . Sungguh Allah telah mengahalalkan bagi kalian binatang-binatang ternak, seperti unta, sapi dan kambing, kecuali apa yang telah dijelaskan kepada kalian, yaitu diharamkannya bangkai, darah, dan lainnya, serta diharamkannya binatang buruan ketika kalian tengah dalam kondisi ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum apa saja yang dikehendakiNya sesuai dengan hikmah dan keadilanNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuḥillụ sya’ā`irallāhi wa lasy-syahral-ḥarāma wa lal-hadya wa lal-qalā`ida wa lā āmmīnal-baital-ḥarāma yabtagụna faḍlam mir rabbihim wa riḍwānā, wa iżā ḥalaltum faṣṭādụ, wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin an ṣaddụkum ‘anil-masjidil-ḥarāmi an ta’tadụ, wa ta’āwanụ ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta’āwanụ ‘alal-iṡmi wal-‘udwāni wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

 2.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta menjalankan syariatNya, janganlah kalian melewati batasan-batasan Allah dan rambu-rambuNya, dan janganlah kalian menghalalkan peperangan di bulan-bulan haram, yaitu, Bulan dzulqadah, dzulhijjah, muharram, dan rajab. Dan ketetapan ini berlaku pada permulaan perkembangan islam. Dan janganlah kalian menghalalkan kehormatan binatang hadyu dan jangan pula binatang-binatang yang leher-lehernya telah dikalungi sesuatu. Hal itu karena mereka meletakkan kalung-kalung berbentuk kuciran-kuciran dari bulu domba atau unta pada batang lehernya sebagai pertanda bahwa binatang-binatang ternak tersebut diperuntukkan sebagai hadyu dan pembawanya adalah orang yang hendak mengerjakan ibadah haji. Dan janganlah kalian menghalalkan tindakan memerangi orang-orang yang bermaksud mendatangi Masjidil Haram yang mengharapkan dari Allah karunia yang dapat memperbaiki kualiatas kehidupan dunia mereka dan mendatangkan keridhaan tuhan mereka. Apabila kalian telah selesai dari ihram kalian, maka halal bagi kalian binatang buruan. Dan janganlah menyeret kalian rasa kebencian kalian terhadap satu kaum gara-gara mereka menghalang-halangi kalian untuk memasuki masjidil haram, sebagimana yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah, membuat kalian mengabaikan perbuatan adil terhadap mereka. Dan tolong-menolonglah di antara kalian wahai kaum Mukminin,dalam mengerjakan kebaiakan dan ketakwaan kepada Allah. Dan janganlah kalian saling menolong dalam perbuatan yang memuat dosa,maksiat, dan pelanggaran terhadap batasan-batasan Allah, dan wasapadalah kalian dari melanggar perintah Allah, karena sesungguhnya Dia amat dahsyat siksaanNYa.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

ḥurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḥmul-khinzīri wa mā uhilla ligairillāhi bihī wal-munkhaniqatu wal-mauqụżatu wal-mutaraddiyatu wan-naṭīḥatu wa mā akalas-sabu’u illā mā żakkaitum, wa mā żubiḥa ‘alan-nuṣubi wa an tastaqsimụ bil-azlām, żālikum fisq, al-yauma ya`isallażīna kafarụ min dīnikum fa lā takhsyauhum wakhsyaụn, al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā, fa maniḍṭurra fī makhmaṣatin gaira mutajānifil li`iṡmin fa innallāha gafụrur raḥīm

 3.  Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah mengharamkan atas kalian bangkai, yaitu binatang yang telah berakhir dikehidupannya tanpa proses penyembelihan, juga mengharamkan atas kalian darah yang mengalir yang dikeluarkan, daging babi, dan binatang-binatang yang disebut nama selain Allah ketika penyembelihannya, hewan yang tercekik yang nafasnya terhenti hingga mati, juga binatang yang dipukul dengan tongkat atau batu hingga mati, juga binatang yang jatuh dari tempat yang lebih tinggi atau tercebur ke dalam sumur hingga mati, dan binatang yang dihantam oleh binatang lainnya dengan tanduknya hingga mati. Dan Allah juga mengaharamkan atas kalian binatang-binatang yang dimangsa oleh hewan-hewan buas, seperti singa, harimau, serigala, dan hewan lainnya. Dan Allah  mengecualikan dari apa yang diharamkanNya dari binatang yang tercekik dan sterusnya, binatang-binatang yang sempat kalian sembelih sebelum mati, ia menjadi halal bagi kalian. Dan Allah mengharamkan atas kalian binatang-binatang yang disembelih untuk selain Allah yang ditunjukkan untuk diibadahi, seperti bebatuan dan lainnya. Dan Allah juga mengharamkan atas kalian untuk mencari tahu nasib yang ditentukan atau belum ditentukan bagi kalian dengan azlam, yaitu anak panah-anak panah yang dahulu mereka pergunakan untuk mengundi nasib, jika mereka menginginkan suatu maksud tertentu sebelum melakukannya. Hal-hal yang disebutkan dalam ayat ini dari perkara-perkara yang diharamkan, jika dilanggar, merupakan tindakan keluar dari perintah Allah dan ketaatan kepadaNya menuju maksiat kepadaNya. Hari ini telah sirna harapan besar orang-orang kafir terhadap agama kalian agar kalian meninggalkan agama kalian untuk kembali kepada kesyirikan,setelah aku menangkan kalian atas mereka. Maka janganlah kalian takut kepada mereka,tetapi takutlah hanya kepadaKu. Pada hari ini, telah kusempurnakan bagi kalian agama kalian, agama islam, dengan mewujudkan kemenangan dan kesempurnaan ajaran syariat. Dan telah kusempurnakan bagi kalian nikmat-nikmatKu dengan mengeluarkan kalian dari kegelapan-kegelapan masa jahiliyah menuju cahaya keimanan, dan Aku telah ridoi bagi kalian islam sebagai agama kalian, maka berpegang teguhlah dengan kuat, janganlah kalian melepaskannya. Barangsiapa dalam kondisi kelaparan terpaksa memakan daging bangkai, tanpa ada keinginan sengaja berbuat dosa, maka dia boleh memakannya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi Maha penyayang kepadanya.

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

yas`alụnaka māżā uḥilla lahum, qul uḥilla lakumuṭ-ṭayyibātu wa mā ‘allamtum minal-jawāriḥi mukallibīna tu’allimụnahunna mimmā ‘allamakumullāhu fa kulụ mimmā amsakna ‘alaikum ważkurusmallāhi ‘alaihi wattaqullāh, innallāha sarī’ul-ḥisāb

 4.  Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.

bertanya kepadamu Para sahabatmu (wahai nabi), tentang apa yang di halalkan bagi mereka untuk dimakan? , maka katakanlah kepada mereka,”dihalalkan bagi kalian yang baik-baik dan binatang yang kalian latih dia dari binatang yang memiliki cakar atau bergigi taring, seperti anjing, cheetah, elang dan binatang serupa lainnya yang dapat di latih. Kalian melatihnya guna mengejar binatang buruan bagi kalian dari apa yang Allah ajarkan bagi kalian. Maka makanlah apa-apa yang ditangkapnya untuk kalian dan sebutlah nama Allah ketika melepaskannya untuk berburu. Dan takutlah kepada Allah dalam perkara yang Dia perintahkan dan Dia larang bagi kalian. Sesungguhnya Allah Maha cepat perhitunganNya.”

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

al-yauma uḥilla lakumuṭ-ṭayyibāt, wa ṭa’āmullażīna ụtul-kitāba ḥillul lakum wa ṭa’āmukum ḥillul lahum wal-muḥṣanātu minal-mu`mināti wal-muḥṣanātu minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum iżā ātaitumụhunna ujụrahunna muḥṣinīna gaira musāfiḥīna wa lā muttakhiżī akhdān, wa may yakfur bil-īmāni fa qad ḥabiṭa ‘amaluhụ wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn

 5.  Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

Dan di antara bentuk kesempurnaan nikmat Allah pada kalian hari ini (wahai kaum Mukminin) , bahwa Allah menghalalkan bagi kalian hal-hal yang halal lagi baik. Dan sembelihan-sembelihan orang-orang yahudi dan nasrani, jika mereka menyembelihnya sesuai dengan ajaran syariat mereka, maka itu halal bagi kalian, dan sembelihan-sembelihan kalian juga halal bagi mereka. Dan Dia menghalalkan bagi kalian (wahai kaum Mukminin) untuk menikahi wanita-wanita yang menjaga diri, yaitu wanita-wanita merdeka yang Mukminah lagi menjaga diri dari perbuatan zina, demikian pula menikahi wanita-wanita merdeka lagi menjaga kehormatan dari kalangan yahudi dan nasrani, bila kalalaian berikan kepada mereka maskawin-maskawin mereka, sedang kalian adalah orang-orang yang menjaga kehormatan, bukan menginginkan berbuat perzinaan, lagi tidak menjadikan mereka simpanan-simpanan, serta kalian merasa aman dari terpengaruh dengan agama mereka. Dan barangsiapa mengingkari ajaran syariat iman, sungguh telah terhapus amalnya dan dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā qumtum ilaṣ-ṣalāti fagsilụ wujụhakum wa aidiyakum ilal-marāfiqi wamsaḥụ biru`ụsikum wa arjulakum ilal-ka’baīn, wa ing kuntum junuban faṭṭahharụ, wa ing kuntum marḍā au ‘alā safarin au jā`a aḥadum mingkum minal-gā`iṭi au lāmastumun-nisā`a fa lam tajidụ mā`an fa tayammamụ ṣa’īdan ṭayyiban famsaḥụ biwujụhikum wa aidīkum min-h, mā yurīdullāhu liyaj’ala ‘alaikum min ḥarajiw wa lākiy yurīdu liyuṭahhirakum wa liyutimma ni’matahụ ‘alaikum la’allakum tasykurụn

 6.  Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian hendak mendirikan shalat, sedang kalian sedang tidak dalam keadaan suci, maka basuhlah wajah kalian, tangan kalian hingga siku (siku adalah pemisah antara lengan bawah dan lengan atas), dan usaplah kepala kalian, dan basuhlah kaki kalian hingga mata kaki (yaitu, tulang yang menonjol pada pertemuan antara tulang betis dan tulang telapak kaki). Dan apabila kalian terkena hadast besar, maka bersucilah dengan cara mandi darinya sebelum mengerjakan shalat. Dan apabila kalian sedang sakit atau dalam perjalanan jauh saat sehat, atau salah seorang diantara kalian membuang hajatnya atau sehabis mencampuri istrinya, kemudian kalian tidak menjumpai air, maka tepuklah kedua telapak tangan kalian ke permukaan tanah dan usaplah muka dan tangan kalian dengannya. Allah tidak menghendaki pada urusan bersuci ini untuk tidak mempersulit kalian. Bahkan sebaliknya, Dia membolehkan tayamum demi melonggarkan kalian dan sebagai rahmat bagi kalian, sebab dia menjadikannya sebagai pengganti air untuk bersuci. Maka rukhsah (keringanan) untuk bertayamum termasuk kesempurnaan nikmat-nikmat yang menuntut sikap bersyukur kepada Dzat yang memberikannya, dengan cara taat kepadaNya dalam perkara yang Dia perintahkan dan dalam perkara yang Dia larang.

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

ważkurụ ni’matallāhi ‘alaikum wa mīṡāqahullażī wāṡaqakum bihī iż qultum sami’nā wa aṭa’nā wattaqullāh, innallāha ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

 7.  Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu).

Dan ingatlah oleh kalian nikmat Allah yang tercurah pada kalian terkait ajaran yang disyariatkanNya bagi kalian. Dan ingatlah oleh kalian perjanjian yang Allah  telah mengikat kalian dengannya untuk beriman kepasda Allah dan RasulNya Muhammad  ,serta mendengar dan taat kepada keduanya. Dan bertakwalah kepada Allah dalam perkara yang Allah perintahkan kepada kalian dan perkara yang Allah melarang kalian darinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian bisikkan dalam jiwa kalian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna lillāhi syuhadā`a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ, i’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

 8.  Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Wahai oramg-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNYa,Muhammad  jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran, dengan mengharapkan wajah Allah, lagi menjadi saksi-saksi yang adil. Dan janganlah kebencian terhadap suatu kaum menyeret kalian untuk tidak berlaku adil. Berlakulah adil di hadapan musuh-musuh dan orang-orang yang tercinta seacara seimbang, karena berlaku adil itu lebih dekat kepada takut kepada Allah, dan hindarilah untuk berlaku curang. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian perbuat dan akan membalas kalian atas semua itu.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۙ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

wa’adallāhullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa ajrun ‘aẓīm

 9.  Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dan Allah menjanjikan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka dan akan memberikan pahala bagi mereka atas amal-amal itu berupa surga. Dan Allah tidak memungkiri janjiNya.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

 10.  Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.

Dan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah yang menunjukkan kepada kebenaran yang nyata, dan mendustakan dalil-dalilNya yang dibawa oleh para rasul, mereka itulah para penghuni neraka yang akan berada di sana selamanya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

yā ayyuhallażīna āmanużkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż hamma qaumun ay yabsuṭū ilaikum aidiyahum fa kaffa aidiyahum ‘angkum, wattaqullāh, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

 11.  Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta menjalankan syariatNya, ingatlah oleh kalian nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian dari nikmat aman dan dilontarkannya rasa takut pada hati musuh-musuh kalian yang hendak menyerang kalian. lalu Allah memalingkan mereka dari kalian dan menghalangi mereka untuk melancarkan apa yang mereka rencanakan pada kalian. Dan bertakwalah kepada Allah dan gentarlah kepadaNya, serta bertawakalah kepada Allah semata dalam seluruh urusan agama dan dunia kalian, serta percayalah terhadap bantuan dan pertolonganNYa.

۞ وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

wa laqad akhażallāhu mīṡāqa banī isrā`īl, wa ba’aṡnā min-humuṡnai ‘asyara naqībā, wa qālallāhu innī ma’akum, la`in aqamtumuṣ-ṣalāta wa ātaitumuz-zakāta wa āmantum birusulī wa ‘azzartumụhum wa aqraḍtumullāha qarḍan ḥasanal la`ukaffiranna ‘angkum sayyi`ātikum wa la`udkhilannakum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, fa mang kafara ba’da żālika mingkum fa qad ḍalla sawā`as-sabīl

 12.  Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian yang dikukuhkan atas bani israil agar mereka mengikhlaskan ibadah hanya untukNya semata, dan Allah memerintahkan Musa  untuk mengangkat dua belas pemimpin bagi mereka sesuai dengan jumlah suku-suku mereka, lalu mereka mengambil ikrar setia dari Bani israil untuk mendengar dan taat kepada Allah dan RasulNya serta kitabNya. Dan Allah berfirman kepada Bani israil, ”Sesungguhnya aku bersama kalian dengan perlindungan dan pertolonganKu. Sungguh jika kalian menegakkakn shalat, menyerahkan zakat yang wajib kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan membenarkan rasul-rasul terkait apa yang mereka kabarkan kepada kalian dan kalian membela mereka, serta berinfak dijalanKu, pastilah aku akan hapuskan dari kalian dosa-dosa kalian, dan aku benar-benar masukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir dibawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai. Maka barangsiapa mengingkari perjanjian tersebut dari kalian, sungguh dia telah melenceng dari jalan kebenaran menuju jalan kesesatan.”

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

fa bimā naqḍihim mīṡāqahum la’annāhum wa ja’alnā qulụbahum qāsiyah, yuḥarrifụnal-kalima ‘am mawāḍi’ihī wa nasụ ḥaẓẓam mimmā żukkirụ bih, wa lā tazālu taṭṭali’u ‘alā khā`inatim min-hum illā qalīlam min-hum fa’fu ‘an-hum waṣfaḥ, innallāha yuḥibbul-muḥsinīn

 13.  (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Lalu disebabkan oleh pelanggaran kaum yahudi terhadap perjanjian yang telah dilakukan pada mereka, kami usir mereka dari rahmat kami dan kami jadikan hati-hati mereka keras, sulit melunak untuk menerima keimanan, mereka mengubah kalamullah yang diturunkanNya pada Musa , yaitu taurat, dan meninggalkan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, sehingga mereka tidak mengamalkannya. Dan kamu (wahai rasul), akan senantiasa menjumpai dari kaum yahudi pengkhianatan dan kecurangan. Mereka itu berada di atas karakter para pendahulu mereka, kecuali sebagian kecil saja dari mereka. Maka maafkanlah bentuk interaksi buruk mereka kepadamu, dan berlapang dadalah menghadapi mereka, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik dengan memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang berbuat buruk kepadanya. (demikianlah para pembela kebatilan mendapatkan jalan untuk mewujudkan tujuan-tujuan buruk mereka denagn cara mengubah-ubah kalamullah, dan mentakwilnya dengan arti yang tidak tepat. Maka apabila mereka tidak punya jalan untuk mengubah-ubah dan mentakwil,mereka meninggalkan apa-apa yang tidak sejalan denagn hawa nafsu mereka dari ajaran syariat Allah yang tidak ada yang bertahan di atasnya,kecuali sebagian kecil dari mereka yang Allah jaga).

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

wa minallażīna qālū innā naṣārā akhażnā mīṡāqahum fa nasụ haẓẓam mimmā żukkirụ bihī fa agrainā bainahumul-‘adāwata wal-bagḍā`a ilā yaumil-qiyāmah, wa saufa yunabbi`uhumullāhu bimā kānụ yaṣna’ụn

 14.  Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.

Dan kami telah mengambil atas orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai para pengikut Isa al-masih, (padahal mereka bukan pengikut-pengikutnya) dengan janji kuat yang telah Kami ambil dari bani israil, agar mereka mau berjalan mengikuti rasul mereka, dan menolong, serta mendukungnya. kemudian mereka mengganti agama mereka dan meninggalkan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, mereka tidak mau mengamalkannya, sebagaimana telah dilakukan oleh kaum yahudi. Kemudian kami munculkan di tengah mereka permusuhan dan kebencian hingga hari kiamat. Dan Kami akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka perbuat pada hari perhitungan amal, dan akan menyiksa mereka atas perbuatan buruk mereka tersebut.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

yā ahlal-kitābi qad jā`akum rasụlunā yubayyinu lakum kaṡīram mimmā kuntum tukhfụna minal-kitābi wa ya’fụ ‘ang kaṡīr, qad jā`akum minallāhi nụruw wa kitābum mubīn

 15.  Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.

Wahai Ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, sungguh telah datang kepada kalian Rasul kami, Muhammad ,yang menjelaskan kepada kalian banyak hal yang kalian tutup-tutupi dari manusia yang terdapat dalam taurat dan injil, dan dia akan meninggalakan penjelasan hal-hal yang tidak sejalan dengan tuntutan hikmah. Sungguh telah datang kepada kalian dari Allah cahaya dan kitab yang nyata, yaitu al-qur’an al-karim.

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

yahdī bihillāhu manittaba’a riḍwānahụ subulas-salāmi wa yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụri bi`iżnihī wa yahdīhim ilā ṣirāṭim mustaqīm

 16.  Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Allah memberi petunjuk dengan kitab yang nyata ini kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan Allah  ke jalan-jalan keamanan dan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dengan izinNya dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, dan memberikan taufik bagi mereka menuju agamaNya yang lurus.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

laqad kafarallażīna qālū innallāha huwal-masīḥubnu maryam, qul fa may yamliku minallāhi syai`an in arāda ay yuhlikal-masīḥabna maryama wa ummahụ wa man fil-arḍi jamī’ā, wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, yakhluqu mā yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

 17.  Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sungguh telah kafir kaum nasrani yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Isa –almasih putra Maryam. Katakanlah (wahai Rasul), kepada orang-orang bodoh dari kalangan Nasrani itu, ”Seandainya isa al-masih adalah tuhan, sebagaimana yang mereka klaim, tentulah dia akan sanggup menolak ketetapan Allah, apabila ketetapan itu datang kepadanya untuk membinasakannya dan membinasakan ibunya dan seluruh orang yang berada di muka bumi semuanya. Dan sungguh ibunda isa telah meninggal, namun Isa tidak dapat menepis kematian dari ibunya. Begitu pula, dia tidak dapat menghalnginya dari dirinya sendiri. Karena sesungguhnya mereka berdua adalah termasuk hamba-hamba Allah, yang tidak mampu menolak kematian dari diri mereka berdua. Maka ini merupakan dalil yang menunjukan bahwa sesungguhnya isa adalah manusia biasa seperti layaknya segenap anak keturunan Adam, Dan semua objek yang ada di langit dan muka bumi adalah milik Allah, Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan mengadakannya. Dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Atas dasar itu, hakikat tauhid menuntut pengesaan Allah  dengan memiliki sifat-sifat Rububiyah dan Uluhiyah, maka tidak ada siapapun yang menyertaiNya dari makhlukNya dalam hal tersebut. Dan kebanyakan manusia terjerumus kedalam kesyirikan dan kesesatan akibat pengkultusan mereka terhadap pribadi para nabi dan orang-orang shalih, sebagaimana kaum nasrani mengkultuskan pribadi isa al-masih. Maka alam smesta ini semuanya adalah milik Allah dan hak menciptakan ada di tanganNya semata. Dan apa yang muncul dari kejadian luar biasa dan tanda-tanda kekuasaan, semua itu kembali tergantung kepada Allah. Dia  menciptakan apa saja yang dikehendakiNya dan berbuat apa yang diinginkanNya.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

wa qālatil-yahụdu wan-naṣārā naḥnu abnā`ullāhi wa aḥibbā`uh, qul fa lima yu’ażżibukum biżunụbikum, bal antum basyarum mim man khalaq, yagfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa ilaihil-maṣīr

 18.  Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

dan telah mengaku-ngaku Kaum yahudi dan kaum nasrani bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak Allah dan orang-orang kesayanganNya. Katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka, ”mengapa Dia menyiksa kalian dikarenakan dosa-dosa kalian? seandainya kalian betul orang-orang kesayanganNya, niscaya Dia tidak akan menyiksa kalian. Allah tidak mencintai kecuali orang yang taat kepadaNya,” Dan katakanlah kepada mereka, ”Bahkan sebenarnya kalian itu makhluk seperti seluruh anak cucu adam pada umumnya. jika kalian berbuat baik, niscaya kalian akan diberi balasan kebaikan atas perbuatan baik kalian, dan jika kalian berbuat keburukan, niscaya kalian diberi balasan keburukan atas perbuatan buruk kalian. Allah mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa saja yang dikehendakiNya. Dia lah pemilik kerajaan hakiki, mengendalikannya sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Dan hanya kepadaNya lah tempat kembali, lalu Dia memutuskan diantara para hambaNya dan memberikan balasan bagi masing-masing orang sesuai dengan apa yang berhak dia dapatkan.”

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

yā ahlal-kitābi qad jā`akum rasụlunā yubayyinu lakum ‘alā fatratim minar-rusuli an taqụlụ mā jā`anā mim basyīriw wa lā nażīr, fa qad jā`akum basyīruw wa nażīr, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

 19.  Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai orang-orang yahudi dan nasrani, sesungguhnya telah datang kepada kalian rasul kami, Muhammad , yang menjelaskan kepada kalian kebenaran dan hidayah sesudah masa kekosongan antara pengutusannya dan pengutusan isa putra Maryam, supaya kalian tidak berkata, ”tidak datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,” Maka tida ada alasan bagi kalian setelah diutusnya Muhammad  kepada kalian. Maka Sesungguhnya telah datang kepada kalian dari Allah seorang rasul yang membawa kabar gembira bagi orang yang beriman kepadanya, dan memperingatkan orang yang mendurhaikainya. Dan Allah mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menyiksa pelaku maksiat dan memberi pahala orang yang taat.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

wa iż qāla mụsā liqaumihī yā qaumiżkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż ja’ala fīkum ambiyā`a wa ja’alakum mulụkaw wa ātākum mā lam yu`ti aḥadam minal-‘ālamīn

 20.  Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika Musa  berkata kepada kaumnya , ”wahai bani israil, ingat-ingatlah oleh kalian kenikmatan Allah kepada kalian, ketika Dia menempatkan nabi-nabi di tengah kalian dan menjadikan kalian raja-raja yang menguasai kendali urusan kalian sendiri dengan penuh, setelah sebelumnya kalian menjadi budak-budak bagi firaun dan kaumnya. Dan sesungguhnya Dia telah menganugerahkan kepada kalian dari bagian nikmatNya sekian macam kenikmatan yang tidak diberikan kepada seorangpun manusia yang ada dialam ini yang ada di zaman kalian.

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

yā qaumidkhulul-arḍal-muqaddasatallatī kataballāhu lakum wa lā tartaddụ ‘alā adbārikum fa tangqalibụ khāsirīn

 21.  Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Wahai kaumku, masuklah kalian kenegeri yang disucikan ,yaitu baitul maqdis dan juga tempat sekitarnya, yang Allah janjikan kalian akan memasukinya dan memerangi orang-orang kafir yang ada di dalamnya. Dan janganlah kalian kembali dari memerangi orang-orang yang menjajah, maka kalian akan merugi karena tidak mendapatkan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.”

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ

qālụ yā mụsā inna fīhā qauman jabbārīna wa innā lan nadkhulahā ḥattā yakhrujụ min-hā, fa iy yakhrujụ min-hā fa innā dākhilụn

 22.  Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.

Mereka menjawab, ”Wahai musa,sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang sangat perkasa lagi kuat-kuat, tidak ada kekuatan bagi kami untuk memerangi mereka. Dan sesungguhnya kami tidak mungkin masuk,sedang mereka masih ada di dalamya. Maka bila mereka telah pergi darinya, barulah kami akan masuk.”

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

qāla rajulāni minallażīna yakhāfụna an’amallāhu ‘alaihimadkhulụ ‘alaihimul-bāb, fa iżā dakhaltumụhu fa innakum gālibụna wa ‘alallāhi fa tawakkalū ing kuntum mu`minīn

 23.  Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Berkatalah dua orang lelaki dari orang-orang yang takut kepada Allah  , yang Allah telah limpahkan kenikmatan kepada mereka berdua untuk menaati Allah dan menaati rasulNya, kepada Bani israil, ”masuklah kepada mereka para penjajah itu melalui pintu gerbang kota mereka, sebagai satu bentuk ikhtiar. Kemudian apabila kalian telah memasuki pintu gerbang niscaya kalian akan dapat mengalahkan mereka. Dan hanya kepada Allah lah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian orang-orang yang beriman kepada rasulNya terkait risalah yang dia bawa kepada kalian, lagi mengamalkan syariatNya.

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

qālụ yā mụsā innā lan nadkhulahā abadam mā dāmụ fīhā faż-hab anta wa rabbuka fa qātilā innā hāhunā qā’idụn

 24.  Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”.

Kaum Musa  berkata kepadanya,”Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasuki kota itu selama-lamanya, selama orang-orang penjajah itu masih berada di dalamnya. Maka pergilah kamu wahai musa bersama tuhanmu, lalu perangilah mereka. Adapun kami,akan duduk-duduk disini, dan tidak akan bergerak memerangi mereka. Ini adalah bentuk keras kepala mereka untuk terus melanggar perintah Musa .

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

qāla rabbi innī lā amliku illā nafsī wa akhī fafruq bainanā wa bainal-qaumil-fāsiqīn

 25.  Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.

Kemudian Musa  menghadap kepada tuhannya seraya berdoa, ”sesungguhnya aku tidak berkuasa, kecuali atas diriku dan saudaraku. Maka berilah keputusan hukum antara kami dan kaum yang berbuat kefasikan itu.”

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

qāla fa innahā muḥarramatun ‘alaihim arba’īna sanah, yatīhụna fil-arḍ, fa lā ta`sa ‘alal-qaumil-fāsiqīn

 26.  Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”.

Allah  berfirman kepada nabiNya,Musa ,”sesungguhnya tanah yang disucikan ini haram dimasuki oleh kaum yahudi selama empat puluh tahun. Mereka akan berjalan tak tahu arah di muka bumi dalam keadaan bingung. Maka janganlah kamu bersedih wahai Musa,terhadap kaum yang keluar dari ketaatan kepadaKu.

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

watlu ‘alaihim naba`abnai ādama bil-ḥaqq, iż qarrabā qurbānan fa tuqubbila min aḥadihimā wa lam yutaqabbal minal-ākhar, qāla la`aqtulannak, qāla innamā yataqabbalullāhu minal-muttaqīn

 27.  Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dan ceritakanlah olehmu (wahai rasul) kepada bani israil satu berita tentang dua putra Adam, qabil dan habil, dan itu merupakan berita yang benar, ketika mempersembahkan masing-masing dari mereka berdua kurban (yaitu sesuatu yang dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah .) Kemudian Allah menerima kurban habil,karena dia seorang yang bertakwa, dan tidak menerima kurban dari qabil, karena sesungguhnya dia bukan seorang yang bertakwa. Karena itu, Qabil iri terhadap saudaranya, dan berkata, ”aku akan benar-benar membunuhmu”. Kemudian habil menjawab, ”sesungguhnya Allah hanya mau menerima dari orang-orang yang takut kepadaNYa.”

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

la`im basatta ilayya yadaka litaqtulanī mā ana bibāsiṭiy yadiya ilaika li`aqtulak, innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn

 28.  “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

Dan habil berkata untuk menasihati saudaranya, ”Apabila kamu mengacungkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, maka kamu tidak akan mendapati aku berbuat seperti perbuatanmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, tuhan semua makhluk.

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

innī urīdu an tabū`a bi`iṡmī wa iṡmika fa takụna min aṣ-ḥābin-nār, wa żālika jazā`uẓ-ẓālimīn

 29.  “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.

Sesungguhnya aku ingin kamu pulang dengan memikul dosa pembunuhan terhadap diriku dan dosamu yang telah menjadi tanggunganmu sebelumnya, lalu kamu menjadi penghuni neraka dan menetap didalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang melampaui batas.

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

fa ṭawwa’at lahụ nafsuhụ qatla akhīhi fa qatalahụ fa aṣbaḥa minal-khāsirīn

 30.  Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.

Hawa nafsu Qabil memperindah pandangannya untuk melakukan tindakan membunuh saudaranya, lalu dia benar-benar membunuhnya, sehingga ia termasuk orang-orang yang merugi, yang telah menjual akhirat mereka dengan kehidupan dunia mereka.

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

fa ba’aṡallāhu gurābay yab-ḥaṡu fil-arḍi liyuriyahụ kaifa yuwārī sau`ata akhīh, qāla yā wailatā a ‘ajaztu an akụna miṡla hāżal-gurābi fa uwāriya sau`ata akhī, fa aṣbaḥa minan-nādimīn

 31.  Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.

31 Setelah Qabil membunuh saudaranya, ia belumlah tahu tindakan yang harus ia perbuat dengan jasadnya. Kemudian Allah mengirimkan seekor burung gagak yang mengagali-gali lubang di tanah untuk mengubur burung gagak yang telah mati di dalamnya, untuk menunjukan kepada qabil bagaimana mengubur jasad saudaranya. Lalu Qabil kaget dan berkata, ”apakah aku tidak mampu melakukan seperti yang diperbuat oleh gagak itu, sehingga aku dapat menutup aurat saudaraku?” kemudian diapun mengubur saudaranya, lalu Allah menghukumya dengan penyesalan setelah sebelumnya dia kembali dengan memikul kerugian.

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

min ajli żālika katabnā ‘alā banī isrā`īla annahụ mang qatala nafsam bigairi nafsin au fasādin fil-arḍi fa ka`annamā qatalan-nāsa jamī’ā, wa man aḥyāhā fa ka`annamā aḥyan-nāsa jamī’ā, wa laqad jā`at-hum rusulunā bil-bayyināti ṡumma inna kaṡīram min-hum ba’da żālika fil-arḍi lamusrifụn

 32.  Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Disebabkan tindak kriminal pembunuhan tersebut, kami mensyariatkan kepada bani israil bahwa siapa saja yang membunuh seorang manusia, tanpa sebab yang dibenarkan seperti tuntutan qishash, membuat kerusakan di muka bumi dengan berbagai jenis kerusakan yang menuntut penjatuhan vonis bunuh, seperti kesyrikan dan muharabah (tindakan memerangi Allah dan RasulNya), maka seakan-akan dia membunuh manusia semuanya terkait dampak hukumnya yang memaksa datangnya hukuman berat dari Allah. Dan bahwasannya orang yang menahan diri dari membunuh jiwa yang Allah haramkan, maka seakan-akan dia telah menghidupkan manusia semuanya. Maka menjaga kehormatan jiwa satu orang sama dengan menjaga kehormatan jiwa semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada bani israil rasul-rasul kami dengan membawa hujjah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukan kebenaran apa yang mereka dakwahkan kepadanya untuk beriman kepada tuhan mereka dan menjalankan ajaran yang diwajibkan kepada mereka. Kemudian kebanyakan orang dari mereka setelah kedatangan para rasul kepada mereka, benar-benar berbuat melampaui batas-batas yang ditentukan Allah dengan melakukan larangan-larangan Allah dan meninggalkan perintah-perintahNya.

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

innamā jazā`ullażīna yuḥāribụnallāha wa rasụlahụ wa yas’auna fil-arḍi fasādan ay yuqattalū au yuṣallabū au tuqaṭṭa’a aidīhim wa arjuluhum min khilāfin au yunfau minal-arḍ, żālika lahum khizyun fid-dun-yā wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun ‘aẓīm

 33.  Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan menentangNya dengan melancarkan permusuhan kepadaNya,serta berbuat melampaui batas terhadap hukum-hukumNya dan hukum-hukum rasulNya dan melakuakn perbuatan kerusakan di muka bumi dengan membunuh jiwa manusia dan merampas harta benda, supaya mereka itu dibunuh, disalib dan dibunuh (disalib maksudnya pelaku kriminal diikat di batang kayu), atau di potong tangan kanan orang yang memerangi manusia dan kaki kirinyai .Apabila dia belum mau bertaubat, maka di potong (juga) tangan kiri dan kaki kanannya, atau mereka diasingkan ke tempat lain selain tempatnya sendiri, dan ditahan di dalam penjara daerah tersebut,sampai tampak jelas taubat mereka. Dan Balasan ini Allah persiapkan bagi orang-orang yang memerangi itu merupakan kehinaan di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat siksaan pedih,bila mereka tidak bertaubat.

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

illallażīna tābụ ming qabli an taqdirụ ‘alaihim, fa’lamū annallāha gafụrur raḥīm

 34.  kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Akan tetapi, orang yang datang dari orang-orang yang memerangi itu sebelum kalian menangkap mereka, bahkan dia datang dengan taat lagi menyesal, maka sesungguhnya telah gugur atas dirinya hak yang menjadi milik Allah. Ketahuilah (wahai kaum mukminin), bahwa Allah maha pengampun terhadap hamba-hambaNya lagi maha penyayang kepada mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la’allakum tufliḥụn

 35.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta menjalankan syariatNya, takutlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kalian kepadaNya dengan cara taat kepadaNya dan beramal denga sesuatu yang diridahaanNya, dan berjihadlah di jalanNya, supaya kalian mengggapai keberuntungan dengan memperoleh surga-surgaNYa.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīna kafarụ lau anna lahum mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ liyaftadụ bihī min ‘ażābi yaumil-qiyāmati mā tuqubbila min-hum, wa lahum ‘ażābun alīm

 36.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari keesaan Allah dan syariatNya, seandainya mereka itu memiliki semua yang ada dimuka bumi dan memiliki yang setara dengannya lagi, dan mereka ingin menebus diri mereka pada hari kiamat dari siksaan Allah dengan apa yang mereka miliki tersebut, niscaya Allah tidak menerima tebusan itu dari mereka. Dan bagi mereka siksaan yang menyakitkan.

يُرِيدُونَ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنْهَا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

yurīdụna ay yakhrujụ minan-nāri wa mā hum bikhārijīna min-hā wa lahum ‘ażābum muqīm

 37.  Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.

Orang-orang kafir itu menginginkan keluar dari neraka dikarenakan apa yang mereka hadapi didalamnya berupa kesengsaraan-kesengsaraan, tetapi tidak ada jalan bagi mereka untuk mewujudkan hal itu. Dan bagi mereka siksaan yang abadi.

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

was-sāriqu was-sāriqatu faqṭa’ū aidiyahumā jazā`am bimā kasabā nakālam minallāh, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

 38.  Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, potonglah oleh kalian wahai para penguasa tangan mereka, dengan dasar tuntutan syariat, sebagai pembalasan bagi mereka berdua atas perbuatan mengambil harta manusia dengan cara yang tidak benar, serta sebagai sanksi yang dengan itu Allah hendak menghalangi orang lain berbuat serupa dengan perbuatan mereka. Dan Allah maha perkasa dalam kerajaanNya, Juga maha bijaksana dalam perintah dan laranganNYa.

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa man tāba mim ba’di ẓulmihī wa aṣlaḥa fa innallāha yatụbu ‘alaīh, innallāha gafụrur raḥīm

 39.  Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kemudian barangsiapa yang bertaubat setelah mencuri dan memperbaiki diri dalam seluruh perbuatannya, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya. Sesubngguhnya Allah maha pengampun bagi hamba-hambaNya lagi maha penyayang terhadap mereka.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

a lam ta’lam annallāha lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, yu’ażżibu may yasyā`u wa yagfiru limay yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

 40.  Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tidak kah kamu tahu wahai rasul, bahwa sesungguhnya Allah  adalah pencipta alam semesta, pengatur dan penguasanya, dan sesungguhnya Dia maha kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki? Dia menyiksa siapa saja yang dikehendakiaNya dan mengampuni siapa saja yang kehendakinNya. Dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu.

۞ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

yā ayyuhar-rasụlu lā yaḥzungkallażīna yusāri’ụna fil-kufri minallażīna qālū āmannā bi`afwāhihim wa lam tu`ming qulụbuhum, wa minallażīna hādụ sammā’ụna lil-każibi sammā’ụna liqaumin ākharīna lam ya`tụk, yuḥarrifụnal-kalima mim ba’di mawāḍi’ihī, yaqụlụna in ụtītum hāżā fa khużụhu wa il lam tu`tauhu faḥżarụ, wa may yuridillāhu fitnatahụ fa lan tamlika lahụ minallāhi syai`ā, ulā`ikallażīna lam yuridillāhu ay yuṭahhira qulụbahum, lahum fid-dun-yā khizyuw wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun ‘aẓīm

 41.  Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Wahai rasul,janganlah membuat kamu sedih orang-orang yang bersegera dalam mengingkari kenabianmu dari kalangan orang-orang munafik yang mereka menampakkan keislaman secara lahiriyah, padahal hati mereka kosong darinya. Sebab sesungguhnya Aku adalah penolong bagimu atas mereka. Dan janganlah kamu disedihkan oleh cepatnya kaum yahudi mengingakri kenabianmu, sebab sesungguhnya mereka itu kaum yahudi yang suka mendengar kedustaan dan mereka menerima kedustaan-kedustaan yang dibuat-buat oleh para pendeta-pendeta mereka dan menyambut perkataan orang lain yang tidak datang kemajelismu. Orang-orang lain itu telah mengubah-ubah kalamullah setelah mereka memahaminya, dan mereka mungucapakan, ”Bila Muhammad datang kepada kalian dengan membawa Sesutu ajaran yang sesuai dengan apa yang telah kami ganti dan kami ubah dari hukum-hukum taurat, maka kerjakanlah, dan apabila dia datang dengan membawa hukum yang tidak sejalan dengannya,maka hindari untuk menerima dan mengamalkannya, ”Barangsiapa yang Allah berkehendak kesesatannya, kamu tidak akan bisa (wahai rasul) untuk menolak hal itu darinya,dan kamu tidak kuasa untuk memberi hidayah kepadanya. Dan sesunguhnya orang-orang munafik dan yahudi itu, Allah tidak menghendaki untuk membersihkan hati-hati mereka dari kotoran kekafairan. Bagi mereka kehinaan dan terbongkarnya aib mereka didunia, dan bagi mereka di akhirat mendapat siksaan besar.

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

sammā’ụna lil-każibi akkālụna lis-suḥt, fa in jā`ụka faḥkum bainahum au a’riḍ ‘an-hum, wa in tu’riḍ ‘an-hum fa lay yaḍurrụka syai`ā, wa in ḥakamta faḥkum bainahum bil-qisṭ, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

 42.  Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.

Orang-orang yahudi itu,menggabungkan antara mendengarkan kedustaan dan memakan harta haram. Maka jika mereka datang kepadamu untuk meminta putusan hukum, maka putuskanlah perkara di antara mereka atau tinggalkan mereka. Dan jika kamu tidak memutuskan perkara diantara mereka, makan mereka sekali-kali tidak akan sanggup untuk memudaratkanmu sedikitpun. Dan jika kamu mau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah perkara diantara mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil.

وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِنْدَهُمُ التَّوْرَاةُ فِيهَا حُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

wa kaifa yuḥakkimụnaka wa ‘indahumut-taurātu fīhā ḥukmullāhi ṡumma yatawallauna mim ba’di żālik, wa mā ulā`ika bil-mu`minīn

 43.  Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.

Sesungguhnya tindakan orang-orang yahudi itu amat aneh. Mereka itu meminta putusan hukum kepadamu (wahai rasul), padahal mereka tidak beriman kepadamu dan tidak juga kepada kitabmu, meskipun kitab taurat yang mereka Imani yang ada pada sisi mereka, didalamnya terdapat hukum Allah. Kemudian mereka berpaling setelah putusanmu ketika putusan itu tidak menyenangkan mereka. Maka mereka menggabungkan antara keingkaran kepada syariat mereka dengan berpaling dari putusan hukummu. Dan bukanlah Orang-orang yang bersifat demikian itu termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepadamu beserta putusan yang kamu putuskan.

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

innā anzalnat-taurāta fīhā hudaw wa nụr, yaḥkumu bihan-nabiyyụnallażīna aslamụ lillażīna hādụ war-rabbāniyyụna wal-aḥbāru bimastuḥfiẓụ ming kitābillāhi wa kānụ ‘alaihi syuhadā`, fa lā takhsyawun-nāsa wakhsyauni wa lā tasytarụ bi`āyātī ṡamanang qalīlā, wa mal lam yaḥkum bimā anzalallāhu fa ulā`ika humul-kāfirụn

 44.  Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

sesungguhnya kami telah menurunkan taurat yang didalamnya terdapat bimbingan dari kesesatan dan penjelasan terhadap hukum-hukum, dan sungguh telah berhukum dengannya nabi-nabi yang patuh kepada hukum Allah dan mengimaninya dan telah memberlakukan hukum-hukum taurat itu ditengah kaum yahudi, mereka tidak keluar darinya dan tidak mengubah-ubahnya, dan juga yang memberlakukannya adalah para ahli ibadah kaum yahudi dan para ahli hukumnya yang membina manusia dengan syariat Allah. Demikian ini, dikarenakan para nabi mereka telah mempercayakan kepada mereka dalam menyampaikan taurat dan pemahaman kitabullah serta pengalamannya. Dan insan-insan Rabbani dan para rahib menjadi saksi-saksi bahwa para nabi mereka telah memutuskan perkara di tengah kaum yahudi dengan dasar kitabullah. Dan Allah  berfirman kepada para ulama yahudi dan rahib-rahib mereka, ”janganlah kalian takut kepada manusia untuk melaksanakan hukumKu,sebab sesungguhnya mereka tidak berkuasa untuk memberikan manfaat dan melancarkan mudarat terhadap kalian. Akan tetapi,takutlah kepadaku, sesungguhnya Aku lah yang Maha pemberi manfaat lagi Maha pemberi mudarat, dan janganlah kalian mengambil dengan meninggalkan hukum yang aku turunkan dengan imbalan sepele. ”Dan orang-orang yang mengubah-ubah hukum Allah yang diturunkanNya di dalam kitabNya dan menyembunyikannya serta mengingkari dan memberlakukan hukum yang lain dengan meyakini halal dan bolehnya hal itu, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

wa katabnā ‘alaihim fīhā annan-nafsa bin-nafsi wal-‘aina bil-‘aini wal-anfa bil-anfi wal-użuna bil-użuni was-sinna bis-sinni wal-jurụḥa qiṣāṣ, fa man taṣaddaqa bihī fa huwa kaffāratul lah, wa mal lam yaḥkum bimā anzalallāhu fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

 45.  Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Dan kami telah tetapkan atas mereka didalam taurat bahwa nyawa dibunuh sebagai balasan membunuh nyawa, mata dicongkel sebagai balasan congkelan mata, hidung diiris sebagai balasan mengiris hidung, telinga dipotong sebagai balasan memotong telinga, serta gigi dicabut sebagai balasan mencabut gigi, dan sesungguhnya diberlakukan hukum qishash pada luka-luka. Maka barangsiapa merelakan haknya dalam menuntut qishash dari orang yang berbuat zhalim (kepadanya) maka tindakan itu,menjadi penggugur dan pengahapus sebagian dosa orang yang terzhalimi. Dan barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan dalam hukum qishash dan hukum lainnya, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas terhadap hukum-hukum Allah.

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

wa qaffainā ‘alā āṡārihim bi’īsabni maryama muṣaddiqal limā baina yadaihi minat-taurāti wa ātaināhul-injīla fīhi hudaw wa nụruw wa muṣaddiqal limā baina yadaihi minat-taurāti wa hudaw wa mau’iẓatal lil-muttaqīn

 46.  Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Dan kami iringkan nabi-nabi Bani israil dengan Isa putra Maryam, yang beriman terhadap hukum-hukum di dalam taurat, mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalamnya yang tidak dihapus oleh kitabnya (injil). Dan kami turunkan kepadanya kitab injil sebagai petunjuk menuju kebenaran, lagi menjelaskan hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia terkait hukum-hukum Allah, juga menjadi saksi atas kebenaran taurat beserta hukum-hukum yang dikandungnya. dan sesungguhnya kami telah menjadikannya sebagai penjelasan bagi orang-orang yang takut kepada Allah, dan penghalang bagi mereka dari berbuat perkara-perkara haram.

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

walyaḥkum ahlul-injīli bimā anzalallāhu fīh, wa mal lam yaḥkum bimā anzalallāhu fa ulā`ika humul-fāsiqụn

 47.  Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

Dan hendaklah berhukum para pengikut injil yang utus kepada mereka Isa dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah di dalamnya. Dan barangsiapa tidak berhukum dengan syariat yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang keluar dari perintahNya lagi durhaka kepadaNya.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

wa anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi muṣaddiqal limā baina yadaihi minal-kitābi wa muhaiminan ‘alaihi faḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi’ ahwā`ahum ‘ammā jā`aka minal-ḥaqq, likullin ja’alnā mingkum syir’ataw wa min-hājā, walau syā`allāhu laja’alakum ummataw wāḥidataw wa lākil liyabluwakum fī mā ātākum fastabiqul-khairāt, ilallāhi marji’ukum jamī’an fa yunabbi`ukum bimā kuntum fīhi takhtalifụn

 48.  Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Dan kami telah menurunkan al-qur’an kepadamu (wahai rasul), dan semua yang ada didalamnya merupakan kebenaran yang mempersaksikan kebenaran kitab-kitab suci sebelumnya, dan sesungguhnya ia datang dari sisi Allah, yang membenarkan apa yang ada di dalamnya berupa kebenaran, dan yang menjelaskan adanya penyelewengan di dalamnya, dan menasakh (mengganti) sebagian syariat yang ada didalamnya. Maka putuskanlah orang-orang yang datang untuk berhukum kepadamu dari kaum Yahudi dengan apa yang Allah turunkan kepadamu di dalam al-qur’an. Dan janganlah kamu berpaling dari kebenaran yang Allah perintahkan kamu untuk melaksanakannya menuju keinginan-keinginan hawa nafsu mereka dan apa yang biasa mereka perbuat. Sesungguhnya kami telah menjadikan ajaran syariat bagi setiap umat dan cara yang jelas yang mereka amalkan. Dan seandainya Allah berkehendak, niscaya Dia menjadikan ajaran-ajaran syariat kalian hanya satu, akan tetapi Allah  membeda-bedakan ajaran bagi kalian guna menguji kalian, sehingga akan tampak siapa yang taat dan siapa yang melanggar. Maka bersegeralah untuk mencari apa yang baik bagi kalian di dunia dan di akhirat dengan mengamalkan kandungan al-qur’an. Maka sesungguhnya tempat kembali kalian hanya kepada Allah, lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian apa yang kalian perselisihkan dan memberi balasan bagi masing-masing sesuai dengan perbuatannya.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

wa aniḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi’ ahwā`ahum waḥżar-hum ay yaftinụka ‘am ba’ḍi mā anzalallāhu ilaīk, fa in tawallau fa’lam annamā yurīdullāhu ay yuṣībahum biba’ḍi żunụbihim, wa inna kaṡīram minan-nāsi lafāsiqụn

 49.  dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Dan putuskanlah perkara (wahai rasul) diantara orang-orang yahudi dengan hukum yang Allah turunkan kepadamu di dalam al-qur’an, dan janganlah kamu mengikuti keinginan-keinginan nafsu orang-orang yang berhukum kepadamu. Dan berhati-hatilah terhadap mereka agar jangan sampai mereka menghalangi dirimu dari sebagian hukum yang Allah turunkan kepadamu, akibatnya kamu meninggalkan pengamalannya. Apabila mereka itu berpaling dari putusan hukum yang sudah kamu keluarkan, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk memalingkan mereka dari kebenaran disebabkan oleh dosa-dosa yang mereka perbuat sebelumnya. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar keluar dari ketaatan kepada tuhan mereka.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

a fa ḥukmal-jāhiliyyati yabgụn, wa man aḥsanu minallāhi ḥukmal liqaumiy yụqinụn

 50.  Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

Apakah orang-orang yahudi itu menghendaki kamu memutuskan perkara diantara mereka dengan kebiasaan yang dijalankan oleh kaum musyrikin dan para penyembah berhala, berupa kesesatan-kesesatan dan kebodohan-kebodohan?! Hal itu tidak akan terjadi dan tidak pantas selamanya. Dan siapakah yang lebih adil daripada Allah dalam hukum yang ditetapkanNya bagi orang yang memahami dari Allah lah syariatNya dan beriman kepadaNya serta meyakini bahwa hukum Allah adalah haq?

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżul-yahụda wan-naṣārā auliyā`, ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, wa may yatawallahum mingkum fa innahụ min-hum, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

 51.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Wahai orang-orang yang beriman,janganlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nasrani sebagai sekutu-sekutu dan penolong-penolong untuk menghadapi kaum beriman. Demikian itu, karena sesungguhnya mereka tidak sayang kepada kaum Mukminin. Orang-orang yahudi itu, sebagian mereka loyal kepada sebagian yang lain. Begitu pula kaum nasrani. Dan dua golongan itu bersatu untuk memusuhi kalian, sedang kalian (wahai kaum mukminin), sepantasnya sebagain dari kalian membela sebagaian yang lain. Dan barangsiapa dari kalian yang memberikan loyalitasnya kepada mereka, sesungguhnya dia akan menjadi bagian dari mereka, dan hukumnya akan seperti hukum mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan taufik kepada orang-orang zhalim yang membela orang-orang kafir.

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

fa tarallażīna fī qulụbihim maraḍuy yusāri’ụna fīhim yaqụlụna nakhsyā an tuṣībanā dā`irah, fa ‘asallāhu ay ya`tiya bil-fat-ḥi au amrim min ‘indihī fa yuṣbiḥụ ‘alā mā asarrụ fī anfusihim nādimīn

 52.  Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Allah  mengabarkan tentang segolongan dari orang-orang munafik bahwa mereka bersegera menjalin hubungan kasih sayang dengan orang-orang yahudi, karena di dalam hati mereka ada keraguan dan kemunafikan. Dan mereka berkata,”Sesungguhnya kami menjalian hubungn kasih sayang dengan mereka karena kami takut mereka akan mengalahkan kaum Muslimin, akibatnya mereka (orang-orang yahudi) itu akan menghantam kami sekaligus bersamaan dengan kaum Muslimin.” Allah yang Maha tinngi NamaNya berfirman, ”Mudah-mudahan Allah akan membawakan kemenangan, (yaitu menaklukan kota Makkah) dan menolong nabiNYa, dan memenangkan islam dan kaum Muslimin atas orang-orang kafir, serta memudahkan perkara-perkara yang dapat melenyapkan kekuatan kaum yahudi dan nasrani, sehingga mereka nantinya akan tunduk kepada kaum Mukminin. Maka saat itulah kaum munafik akan menyesal atas hal yang mereka sembunyikan di dalam hati mereka berupa adanya loyalitas mereka.

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

wa yaqụlullażīna āmanū a hā`ulā`illażīna aqsamụ billāhi jahda aimānihim innahum lama’akum, ḥabiṭat a’māluhum fa aṣbaḥụ khāsirīn

 53.  Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.

Dan pada saat itulah sebagian kaum Mukminin akan berkata kepada sebagian yang lain dengan keheranan terhadap keadaan orang-orang munafik (ketika terbongkar urusan mereka), ”Apakah mereka itu adalah orang-orang yang dahulu berani bersumpah dengan sumpah-sumpah yang amat kuat bahwa mereka itu benar-benar bersama kita?” terhapuslah amal-amal kaum munafik yang mereka kerjakan di dunia ini, sehingga tidak ada balasan apapun bagi mereka atas amal-amal itu. Sebab sesungguhnya mereka itu mengerjakannya tanpa landasan keimanan, sehingga mereka merugi di dunia dan akhirat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ may yartadda mingkum ‘an dīnihī fa saufa ya`tillāhu biqaumiy yuḥibbuhum wa yuḥibbụnahū ażillatin ‘alal-mu`minīna a’izzatin ‘alal-kāfirīna yujāhidụna fī sabīlillāhi wa lā yakhāfụna laumata lā`im, żālika faḍlullāhi yu`tīhi may yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm

 54.  Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan SyariatNya, barangsiapa dari kalian ada orang yang meninggalkan agamanya dan menggantikannya dengan agama yahudi dan nasrani maupun agama lainnya, maka mereka itu tidak dapat memudaratkan Allah sedikitpun, dan Allah akan mendatangkan kaum yang lebih baik dari mereka, yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintaiNYa, mereka mengasihi orang-orang Mukmin dan tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad memerangi musuh-musuh Allah dan tidak takut kepada siapapun dijalan Allah. Kenikmatan tersebut termasuk dari bagian dari karunia Allah yang diberikanNYa kepada siapa yang Dia kehendaki,dan Allah Maha luas karunianya lagi Maha Mengetahui orang yang berhak mendapatkannya dari para hambaNYa.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

innamā waliyyukumullāhu wa rasụluhụ wallażīna āmanullażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa hum rāki’ụn

 55.  Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Sesungguhnya penolong kalian (wahai kaum Mukminin), hanyalah Allah, RasulNya dan kaum mukminin yang menjaga shalat-sahalat wajib mereka, membayarkan zakat dengan keridoan jiwanya ,sedang mereka itu tunduk kepada Allah.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

wa may yatawallallāha wa rasụlahụ wallażīna āmanụ fa inna ḥizballāhi humul-gālibụn

 56.  Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Dan barangsiapa percaya kepada Allah dan setia kepada Allah, RasulNya dan kaum mukminin, niscaya dia termasuk pengikut golongan Allah dan golongan Allah itulah orang-orang yang (pasti) menang lagi mendapat pertolongan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżullażīnattakhażụ dīnakum huzuwaw wa la’ibam minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum wal-kuffāra auliyā`, wattaqullāha ing kuntum mu`minīn

 57.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang memperolok dan mempermainkan agama kalian dari kalangan ahli kitab dan orang-orang kafir sebagai orang yang kalian berikan loyalitas kalian. Dan takutlah kepada Allah jika kalian benar-benar beriman kepada Nya dan kepada syariatNya.

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

wa iżā nādaitum ilaṣ-ṣalātittakhażụhā huzuwaw wa la’ibā, żālika bi`annahum qaumul lā ya’qilụn

 58.  Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.

Dan apabila muadzin kalian (wahai kaum Mukminin) mengumandangkan adzan untuk shalat, maka orang-orang yahudi,nasrani,dan kaum musyrikin mengolok-olok dan mempermainkan seruan kalian untuk shalat. Hal itu disebabkan kebodohan mereka kepada tuhan mereka, dan bahwasannya mereka tidak memahami hakikat ibadah.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

qul yā ahlal-kitābi hal tangqimụna minnā illā an āmannā billāhi wa mā unzila ilainā wa mā unzila ming qablu wa anna akṡarakum fāsiqụn

 59.  Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?

Katakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang yang berolok-olok dari ahli kitab itu, ”apa yang kalian dapati itu sebagai celaan dan aib adalah pujian bagi kami, yaitu keimanan kami kepada Allah dan kitab-kitabNYa yang diturunkan kepada kami, dan kepada orang-orang sebelum kami, dan keimanan kami bahwa kebanyakan kalian keluar dari jalan yang lurus.”

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

qul hal unabbi`ukum bisyarrim min żālika maṡụbatan ‘indallāh, mal la’anahullāhu wa gaḍiba ‘alaihi wa ja’ala min-humul-qiradata wal-khanāzīra wa ‘abadaṭ-ṭāgụt, ulā`ika syarrum makānaw wa aḍallu ‘an sawā`is-sabīl

 60.  Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Katakanlah (wahai nabi),kepada orang-orang Mukminin, ”maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang akan ditimpakan balasan pada hari kiamat dengan balasan yang lebih berat dari balasan orang-orang fasik itu? Sesungguhnya mereka adalah para pendahulu mereka yang Allah usir dari rahmatNya dan Dia murka terhadap mereka, lalu merubah bentuk fisik mereka dan menjadikan mereka kera-kera dan babi-babi, karena kemaksiatan, kedustaan mereka dan kesombongan mereka, sebagaimana di antara mereka ada para penyembah thaghut, (yaitu setiap apa saja yang disembah selain Allah sedangkan dia ridha). Sungguh buruk tempat mereka di akhirat, dan tersesatlah usaha mereka di dunia dari jalan yang benar.”

وَإِذَا جَاءُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا يَكْتُمُونَ

wa iżā jā`ụkum qālū āmannā wa qad dakhalụ bil-kufri wa hum qad kharajụ bih, wallāhu a’lamu bimā kānụ yaktumụn

 61.  Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

Dan apabila datang kepada kalian (wahai orang-orang mukmin) orang-orang munafik dari kaum yahudi, mereka berkata: ”kami telah beriman”, padahal mereka tetap diatas kekafiran mereka, dimana mereka masuk kepada kalian dengan membawa kekafiran mereka yang mereka yakini dengan hati mereka, kemudian mereka keluar dalam keadaan mereka tetap di atas itu. Dan Allah lebih mengetahui rahasia pada diri mereka sekalipun mereka menampakkan yang berbeda dengannya.

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa tarā kaṡīram min-hum yusāri’ụna fil-iṡmi wal-‘udwāni wa aklihimus-suḥt, labi`sa mā kānụ ya’malụn

 62.  Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.

Engkau (wahai rasul) melihat banyak orang dari kaum yahudi yang bersegera melakukan berbagai kemaksiatan, berupa perkataan bohong dan palsu, dan juga melanggar hukum-hukum Allah, dan memakan harta benda orang dengan jalan batil. Sungguh buruk perbuatan dan pelanggaran mereka itu.

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

lau lā yan-hāhumur-rabbāniyyụna wal-aḥbāru ‘ang qaulihimul-iṡma wa aklihimus-suḥt, labi`sa mā kānụ yaṣna’ụn

 63.  Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

Apakah tidak melarang kepada mereka yang bersegera dalam perbuatan dosa dan permusuhan oleh para pemimpin dan para ulama mereka, dari perkataan dusta dan palsu, serta memakan harta benda milik orang dengan jalan batil? sungguh buruk perbuatan mereka tersebut, yaitu ketika mereka meninggalkan tindakan melarang kemungkaran

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

wa qālatil-yahụdu yadullāhi maglụlah, gullat aidīhim wa lu’inụ bimā qālụ, bal yadāhu mabsụṭatāni yunfiqu kaifa yasyā`, wa layazīdanna kaṡīram min-hum mā unzila ilaika mir rabbika ṭugyānaw wa kufrā, wa alqainā bainahumul-‘adāwata wal-bagḍā`a ilā yaumil-qiyāmah, kullamā auqadụ nāral lil-ḥarbi aṭfa`ahallāhu wa yas’auna fil-arḍi fasādā, wallāhu lā yuḥibbul-mufsidīn

 64.  Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Allah memperlihatkan kepada NabiNya sesuatu dari perbuatan-perbuatan dosa kaum yahudi (dan itu termasuk yang mereka rahasiakan di antara mereka), yaitu bahwasannya mereka berkata, ”tangan Allah terikat sehingga tidak bisa melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dia bakhil kepada kita dengan rizki dan kelapangan hidup.” Itu terjadi ketika mereka ditimpa oleh paceklik dan kekeringan panjang. Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu, yakni, terikat dan melakukan kebaikan-kebaikan, dan Allah mengusir mereka dari rahmatNya karena perkataan mereka tersebut. Dan perkaranya tidaklah seperti kebohongan yang mereka buat-buat terhadap tuhan mereka, justru kedua tanganNYa terbentang,tak ada sesuatupun yang mengahalangiNya dan tidak ada yang mencegahNya untuk memberi; karena sesungguhnya Dia lah yang Maha dermawan lagi maha mulia. Dia memberikan sesuai dengan hikmah dan apa yang mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-hamba. Akan tetapi mereka akan semakain bertambah congkak dan kafir disebabkan kedengkian dan iri hati mereka; karena Allah telah memilihmu untuk mengemban risalah. Dan Allah juga mengabarkan bahwasannya sejumlah kelompok kaum yahudi, sebagian mereka akan tetap memusuhi sebagian yang lain,sebagain mereka menjauhi sebagian yang lain. Setiap kali mereka bersengkongkol untuk melakukan makar terhadap kaum muslimin, untuk mengorbankan fitnah dan menyalakan api peperangan, Allah pasti menolak tipu daya mereka tersebut dan mencerai beraikan kekuatan mereka. Dan orang-orang yahudi akan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah, yang karena nya akan muncul berbagai kerusakan dan kegoncangan di muka bumi. Dan Allah  tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan. Didalam ayat ini terdapat penetapan sifat”dua tanagn”bagi Allah  sebagaimana yang layak bagiNya;tanpa menyerupakannya (dengan sifat makhluk) dan tanpa menetapkan bentuk dan caranya

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

walau anna ahlal-kitābi āmanụ wattaqau lakaffarnā ‘an-hum sayyi`ātihim wa la`adkhalnāhum jannātin-na’īm

 65.  Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.

Dan seandainya kaum yahudi dan nasrani beriman kepada Allah dan RasulNya, serta mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, pastilah Kami akan hapus dosa-dosa dari mereka,dan Kami benar-benar akan memasukan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan di negeri akhirat kelak.

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ۚ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ

walau annahum aqāmut-taurāta wal-injīla wa mā unzila ilaihim mir rabbihim la`akalụ min fauqihim wa min taḥti arjulihim, min-hum ummatum muqtaṣidah, wa kaṡīrum min-hum sā`a mā ya’malụn

 66.  Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

Dan seandainya mereka mengerjakan kandungan taurat dan injil dan wahyu yang diturunkan kepadamu wahai rasul,(yaitu al-qur’an al-karim), niscaya mereka benar-benar akan dilimpahi rizki dari segala jalan, lalu kami turunkan hujan pada mereka dan Kami tumbuhkan tanam-tanaman. Ini adalah balasan dunia. Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada segolongan yang lurus lagi tetap bertahan di atas kebenaran. Dan kebanyakan dari mereka sangat buruk perbuatannya dan telah tersesat dari jalan yang lurus.

۞ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

yā ayyuhar-rasụlu ballig mā unzila ilaika mir rabbik, wa il lam taf’al fa mā ballagta risālatah, wallāhu ya’ṣimuka minan-nās, innallāha lā yahdil-qaumal-kāfirīn

 67.  Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Wahai rasul, sampaikanlah wahyu Allah yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu. jika kamu kurang dalam menyampaikan dengan menyembunyikan sesuatu darinya, maka kamu berarti belum menyampaikan risalah tuhanmu. Dan beliau  telah menyampaikan risalah tuhannya dengan sempurna. Maka barangsiapa memiliki dugaan bahwa sesungguhnya beliau menyembunyikan sesuatu dari wahyu yang diturunkan kepadanya, sungguh orang tersebut telah mengadakan kedustaan besar atas nama Allah dan RasulNya. Dan Allah  adalah pelindung dan penolongmu atas musuh-musuhmu. Tidak ada kewajiaban atas dirimu selain menyampaikan saja. Sesungguhnya Allah tidak memberikan taufik menuju hidayah bagi orang yang berbelok dari jalan kebenaran dan mengingkari risalah yang kamu bawa dari sisi Allah.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۖ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

qul yā ahlal-kitābi lastum ‘alā syai`in ḥattā tuqīmut-taurāta wal-injīla wa mā unzila ilaikum mir rabbikum, wa layazīdanna kaṡīram min-hum mā unzila ilaika mir rabbika ṭugyānaw wa kufrā, fa lā ta`sa ‘alal-qaumil-kāfirīn

 68.  Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

Katakanlah olehmu (wahai Rasul) kepada golongan yahudi dan nasrani, ”sesungguhnya kalian tidaklah berada di atas bagian dari agama, selama kalian masih saja tidak mengamalkan kandungan taurat dan injil, serta apa yang dibawa oleh Muhammad  berupa Al-quran.” Dan sesungguhnya bagi kebanyakan orang dari ahli kitab tidaklah menambah apa-apa dengan diturunkannya al-qur’an kepadamu,kecuali arogansi dan pengingkaran. Mereka sebenarnya dengki terhadap dirimu, karena sesungguhnya Allah mengutusmu dengan mengemban risalah penutup ini yang didalamnya Dia menjelaskan aib-aib mereka. Maka janganlah kamu bersedih hati (wahai rasul), akibat pendustaan mereka kepadamu.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna āmanụ wallażīna hādụ waṣ-ṣābi`ụna wan-naṣārā man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa ‘amila ṣāliḥan fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

 69.  Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (yaitu kaum muslimin) orang-orang yahudi dan kalangan shabi’in juga (mereka adalah kaum yang masih bertahan diatas fitrah mereka, tanpa ada agam ajaran tertentu yang mereka ikuti) dan orang-orang nasrani (para pengikut Isa al-masih ), siapa saja yang beriman diantara mereka kepada Allah dengan keimanan yang sempurna, yaitu tauhid dan membenarkan kenabian Muhammad  dan risalah yang dia bawa dan beriman kepada hari akhir, serta mengerjakan amal shalih, maka tidak ada rasa takut pada mereka terhadap kengerian-kengerian hari kiamat dan mereka tidak bersedih hati terhadap apa yang mereka tinggalkan di belakang mereka di kehidupan dunia.

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا ۖ كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

laqad akhażnā mīṡāqa banī isrā`īla wa arsalnā ilaihim rusulā, kullamā jā`ahum rasụlum bimā lā tahwā anfusuhum farīqang każżabụ wa farīqay yaqtulụn

 70.  Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.

Sesungguhnya kami tealh mengambil perjanjian yang dikukuhkan dari bani israil di dalam taurat untuk mendengar dan taat, dan kami utus kepada mereka rasul-rasul kami dengan membawa misi tersebut. Lalu mereka melanggar perjanjian yang diambil dari mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan mereka itu setiap kali datang seorang rasul kepada mereka dari rasul-rasul tersebut dengan membawa ajaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka memusuhinya; maka mereka mendustakan sebagian dari rasul-rasul itu dan membunuh sebagian yang lain.

وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

wa ḥasibū allā takụna fitnatun fa ‘amụ wa ṣammụ ṡumma tāballāhu ‘alaihim ṡumma ‘amụ wa ṣammụ kaṡīrum min-hum, wallāhu baṣīrum bimā ya’malụn

 71.  Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

dan telah menyangka para pelaku maksiat dari kalangan yahudi itu bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menimpakan siksaan pada mereka sebagai balasan kedurhakaan dan penentangan mereka. Dan mereka tetap berlalu dalam syahwat-syahwat, dan mereka telah buta terhadap hidayah, sehingga mereka tidak bisa melihatnya, dan mereka tuli untuk mendengar kebenaran, sehingga tidak dapat mengambil manfaat darinya. Maka Allah menurunkan siksaanNya pada mereka. Kemudian mereka bertaubat kepadaNYa, maka Allah menerima taubat mereka. Kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli setelah kebenaran jelas bagi mereka. Dan Allah Maha melihat perbuatan-perbuatan mereka, yang baik maupun buruk. Dan Dia akan memberikan balasan kepada mereka atas perbuatan tersebut.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

laqad kafarallażīna qālū innallāha huwal-masīḥubnu maryam, wa qālal-masīḥu yā banī isrā`īla’budullāha rabbī wa rabbakum, innahụ may yusyrik billāhi fa qad ḥarramallāhu ‘alaihil-jannata wa ma`wāhun-nār, wa mā liẓ-ẓālimīna min anṣār

 72.  Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Allah  bersumpah bahwa sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Isa al-masih putra Maryam, sungguh mereka telah kafir dengan pernyataan mereka ini dan Allah  mengabarkan bahwa sesungguhnya al-masih berkata kepada Bani israil, ”sembahlah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Aku dan kalian sama dalam penghambaan diri kepada Allah.” sesungguhnya orang yang menyembah bersama Allah selainNya, sungguh Allah mengharamkan surga atas dirinya dan menjadiakn neraka sebagai tempat tinggalnya. Dan tidak ada baginya seorang penolong yang menyelamatkannya dari neraka.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

laqad kafarallażīna qālū innallāha ṡāliṡu ṡalāṡah, wa mā min ilāhin illā ilāhuw wāḥid, wa il lam yantahụ ‘ammā yaqụlụna layamassannallażīna kafarụ min-hum ‘ażābun alīm

 73.  Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Sungguh telah kafir dari kalangan orang-orang Nasrani yang mengatakan, ”sesungguhnya Allah itu paduan dari tiga hal; yaiut Bapak, Putra, dan Roh qudus,” Tidakkah orang-orang Nasrani itu mengetahui bahwa tidak ada sesembahan bagi manusia kecuali sesembahan yang Esa, yang tidak melahirkan dan dilahirkan? Dan Apabila orang-orang mengeluarkan pernyataan tersebut tidak berhenti dari kebohongan dan kedustaan mereka, pastilah akan menimpa mereka siksaan pedih lagi menyakitkan disebabkan kekafiran mereka.

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

a fa lā yatụbụna ilallāhi wa yastagfirụnah, wallāhu gafụrur raḥīm

 74.  Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tidakkah orang-orang nasrani kembali kepada Allah  dan bertaubat dari apa yang telah mereka ucapkan, dan memohon ampunun kepada Allah ? Dan Allah  mengampuni dosa-dosa orang-orang yang bertaubat lagi Maha penyayang kepada mereka.

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

mal-masīḥubnu maryama illā rasụl, qad khalat ming qablihir-rusul, wa ummuhụ ṣiddīqah, kānā ya`kulāniṭ-ṭa’ām, unẓur kaifa nubayyinu lahumul-āyāti ṡummanẓur annā yu`fakụn

 75.  Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).

Tidaklah al-masih putra Maryam  kecuali seorang rasul sebagaimana rasul-rasul yang telah mendahuluinya. Dan ibunya telah membenarkan dengan keimanan yang teguh dengan ilmu dan amal, dan mereka berdua seperti halnya orang lain dari kalangan manusia yang membutuhkan makanan. Dan tidak mungkin Tuhan itu berupa orang yang membutuhkan makanan supaya dapat hidup. Maka perhatikanlah (wahai rasul), keadaan orang-orang kafir tersebut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda yang menunjukan keesaan Kami dan kebatilan anggapan yang mereka dengungkan pada diri para nabi Allah. Selain itu, mereka sesat dari jalan kebenaran yang Kami tunjukan mereka kepadanya. Kemudian lihatlah bagaimana mereka dipalingkan dari kebenaran setelah adanya penjelasan ini?

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

qul a ta’budụna min dụnillāhi mā lā yamliku lakum ḍarraw wa lā naf’ā, wallāhu huwas-samī’ul-‘alīm

 76.  Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Katakanlah (wahai rasul), kepada orang-orang kafir itu, bagaimana mungkin kalian menyekutukan bersama Allah makhluk yang tidak sanggup memudartakan kalian dan tidak sanggup mendatangkan manfaat bagi kalian? Dan Allah maha mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNYa lagi Maha Mengetahui keadaan-keadaan mereka.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

qul yā ahlal-kitābi lā taglụ fī dīnikum gairal-ḥaqqi wa lā tattabi’ū ahwā`a qauming qad ḍallụ ming qablu wa aḍallụ kaṡīraw wa ḍallụ ‘an sawā`is-sabīl

 77.  Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Katakanlah (wahai rasul) kepada kaum nasrani, ”janganlah kalian berbuat melampaui garis kebenaran dalam perkara yang kalian yakini terkait al-masih. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu kalian sebagaimana golongan yahudi mengikuti hawa nafsu mereka dalam urusan agama, sehingga mereka terjurumus kedalam kesesatan, dan membawa banyak manusia kepada kekufuran kepada Allah, dan mereka keluar dari jalan istiqamah menuju lorong petaka dan kesesatan.

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

lu’inallażīna kafarụ mim banī isrā`īla ‘alā lisāni dāwụda wa ‘īsabni maryam, żālika bimā ‘aṣaw wa kānụ ya’tadụn

 78.  Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Allah  mengabarkan bahwa Dia mengusir dari rahmatNya orang-orang kafir dari kalangan bani israil di dalam kitab suci yang Dia turunkan kepada Dawud , yaitu zabur, dan dalam kitab suci yang diturunkan pada Isa , yaitu injil, dikarenakan kedurhakaan mereka dan tindakan melampaui batas yang mereka perbuat terhadap larangan-larangan Allah.

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

kānụ lā yatanāhauna ‘am mungkarin fa’alụh, labi`sa mā kānụ yaf’alụn

 79.  Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

Orang-orang yahudi itu memperlihatkan tindakan-tindakan maksiat dan menyetujuinya. Sebagian dari mereka tidak melarang sebagian yang lain dari perbuatan kemungkaran apa pun yang mereka perbuat. Ini termasuk tindakan-tindakan buruk mereka. Dan dengan itu, mereka pantas diusir dari rahmat Allah 

تَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ

tarā kaṡīram min-hum yatawallaunallażīna kafarụ, labi`sa mā qaddamat lahum anfusuhum an sakhiṭallāhu ‘alaihim wa fil-‘ażābi hum khālidụn

 80.  Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Kamu bisa lihat (wahai rasul), banyak dari orang-orang yahudi yang menjadikan kaum musyrikin sebagai orang-orang yang mereka berikan loyalitas (sebagai teman dan penolong mereka). Amat buruk apa yang mereka lakukan berupa mempersembahkan loyalitas yang menjadi penyebab kemurkaan Allah pada mereka dan kekekalan mereka di dalam siksaan Allah pada hari kiamat.

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

walau kānụ yu`minụna billāhi wan-nabiyyi wa mā unzila ilaihi mattakhażụhum auliyā`a wa lākinna kaṡīram min-hum fāsiqụn

 81.  Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.

Seandainya orang-orang yahudi yang saling menolong dengan kaum musyrikin itu mau beriman kepada Allah  dan kepada nabi Muhammad  dan mengakui kebenaran wahyu yang diturunkanNYa kepadanya, yaitu al-qu’an al-karim, pasti mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan penolong. Akan tetapi,kebanyakan dari mereka keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasulNYa.

۞ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

latajidanna asyaddan-nāsi ‘adāwatal lillażīna āmanul-yahụda wallażīna asyrakụ, wa latajidanna aqrabahum mawaddatal lillażīna āmanullażīna qālū innā naṣārā, żālika bi`anna min-hum qissīsīna wa ruhbānaw wa annahum lā yastakbirụn

 82.  Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.

Kamu benar-benar akan mendapati (wahai rasul), orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang yang membenarkanmu dan beriman kepadamu serta mengikutimu adalah kaum yahudi, karena besarnya penentangan mereka, pengingkaran mereka dan penolakan mereka terhadap kebenaran, dan orang-orang yang menyekutukan Allah dengan selainNYa, seperti para penyembah berhala dan lain-lain. Dan kamu benar-benar akan mendapati orang yang paling dekat persahabatnnya dengan kaum muslimin adalah orang-orang yang mengatakan, ”sesungguhnya kami adalah kaum nasrani” Demikian ini lantaran diantara mereka ada tokoh-tokoh agama yang zuhud, dan ahli-ahli ibadah di dalam biara-biara yang larut dalam ibadah. Dan mereka adalah orang-orang yang tawdhu, tidak sombong untuk mau menerima kebenaran. Dan mereka itu adalah orang-orang yang menerima kerasulan Muhammad  dan mengimaninya.

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

wa iżā sami’ụ mā unzila ilar-rasụli tarā a’yunahum tafīḍu minad-dam’i mimmā ‘arafụ minal-ḥaqq, yaqụlụna rabbanā āmannā faktubnā ma’asy-syāhidīn

 83.  Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).

Dan diantara hal yang menunjukan kedekatan persahabatan mereka dengan kaum muslimin adalah bahwa sesungguhnya segolongan dari mereka (Yaitu utusan orang-orang habsyah ketika menyimak al-qur’an), mata mereka bercucuran air mata, mereka meyakini bahwa sesunggunya itu adalah kebenaran yang diturunkan dari sisi Allah  dan mereka beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya, serta tunduk memohon kepada Allah agar berkenan memuliakan mereka dengan kemuliaan bersaksi bersama umat Muhammad  atas umat-umat terdahulu pada hari kamat.

وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ

wa mā lanā lā nu`minu billāhi wa mā jā`anā minal-ḥaqqi wa naṭma’u ay yudkhilanā rabbunā ma’al-qaumiṣ-ṣāliḥīn

 84.  Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”.

Dan mereka berkata , ”dan celaan apapun yang tertuju pada kami terkait keimanan kami kepada Allah dan pembernaran kami terhadap kebenaran yang dibawa Muhammad  dari sisi Allah, serta komitmen kami untuk mengikutinya, Dan kami mengharap tuhan kami memasukkan kami bersama orang-orang yang taat kepadaNYa ke dalam surgaNya pada hari kiamat?”.

فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

fa aṡābahumullāhu bimā qālụ jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā`ul-muḥsinīn

 85.  Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).

Maka Allah memberikan balasan bagi mereka atas apa yang mereka ucapkan berupa kebanggaan dengan keimanan mereka terhadap agama islam dan permohononan mereka agar bersama orang-orang yang shalih, yaitu surga-surga yang mengalir di bawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai. Mereka menetap disana, tidak keluar darinya, dan tidak dipindahkan darinya. Itu adalah balasan atas usaha baik mereka dalam ucapan dan perbuatan.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

 86.  Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.

Dan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah dan mengingkari ayat-ayatNya yang diturunkan pada rasul-rasulNya, mereka itu adalah para penghuni neraka yang akan terus berada disana.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuḥarrimụ ṭayyibāti mā aḥallallāhu lakum wa lā ta’tadụ, innallāha lā yuḥibbul-mu’tadīn

 87.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Wahai orang-orang yang beriman,janganlah kelian mengharamkan apa-apa yang baik-baik yang Allah halalkan bagi kalian dari berbagai jenis makanan dan minuman, serta menikahi wanita, sehingga kalian mempersempit apa yang Allah lapangkan bagi kalian. Dan janganlah kalian melampaui batas-batasan apa saja yang telah Allah haramkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

wa kulụ mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wattaqullāhallażī antum bihī mu`minụn

 88.  Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Dan bersenang-senanglah kalian (wahai kaum mukminin), dengan menikmati yang halal lagi baik dari apa yang Allah berikan kepada kalian dan anugerahkan kepada kalian. Dan bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintahNYa dan menjauhi larangan-laranganNya. Sesungguhnya keimanan kalian kepada Allah mengharuskan kalian bertakwa dan selalu mendekatkan diri kepadaNYa.

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

lā yu`ākhiżukumullāhu bil-lagwi fī aimānikum wa lākiy yu`ākhiżukum bimā ‘aqqattumul-aimān, fa kaffāratuhū iṭ’āmu ‘asyarati masākīna min ausaṭi mā tuṭ’imụna ahlīkum au kiswatuhum au taḥrīru raqabah, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu ṡalāṡati ayyām, żālika kaffāratu aimānikum iżā ḥalaftum, waḥfaẓū aimānakum, każālika yubayyinullāhu lakum āyātihī la’allakum tasykurụn

 89.  Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Allah tidak menyiksa kalian (wahai kaum Muslimin) atas sesuatu yang kalian tidak bermaksud menyatakannya (sebagai) sumpah dari sumpah-sumpah, seperti ucapan sebagian kalian, ”tidak demi Allah” ,dan ”benar,demi Allah” akan tetapi Allah akan menghukum kalian dalam perkara (sumpah) yang memang sengaja kalian kukuhkan dengan hati kalian. Apabila kalian tidak memenuhi sumpah-sumpah kalian, maka dosanya akan dihapuskan oleh Allah dengan apa yang kalian persembahkan dari ajaran yang Allah syariatkan bagi kalian sebagai penggugurnya, yaitu berupa memberi makan sepuluh orang yang membutuhkan yang tidak memeiliki sesuatu yang bisa mencukupi dan menutup kebutuhan mereka, tiap-tiap orang miskin memperoleh setengah sha makanan standar penduduk negeri setempat, atau memberi pakaian kepada mereka, setiap orang miskin memperoleh apa yang cukup sebagai pakaian berdasarkan kebiasaan yang berlaku, atau memerdekakan seorang budak. Orang yang sumpah yang tidak menepati sumpahnya, dia dihadapkan pada pilihan diantara satu dari tiga pilihan ini. Apabila ia tidak mampu melakukan salah satunya sama sekali, maka dia wajib berpuasa tiga hari. Itu adalah kafarat (penggugur) sikap tidak menepati isi sumpah-sumpah. Dan peliharalah oleh kalian (wahai kaum Muslimin) sumpah-sumpah kalian, dengan menghindari sumpah, atau dengan menepati sumpah bila kalian mengeluarkan sumpah, atau membayar kafarat bila tidak menepati sumpah. Sebagaimana Allah telah menjelaskan kepada kalian hukum bersumpah dan cara-cara membebaskan diri darinya. Dia juga menerangkan kepada kalian hukum-hukum agamaNya agar kalian bersyukur kepadaNya atas hidayah dariNya kepada kalian menuju jalan yang lurus.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū innamal-khamru wal-maisiru wal-anṣābu wal-azlāmu rijsum min ‘amalisy-syaiṭāni fajtanibụhu la’allakum tufliḥụn

 90.  Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, sesungguhnya khamar, yaitu segala yang memabukkan dan menutup kesadaran akal, dan maisir, yaitu perjudian, yang mencakup seluruh jenis pertaruhan dan lainnya, yang di dalam prakteknya terdapat taruhan dari kedua belah pihak dan menghalangi dari mengingat Allah, dan anshab, yaitu batu yang dahulu kaum musyrikin melakukan penyembelihan di sisinya sebagai bentuk pengagungan terhadapnya, dan semua ditegakkan untuk diibadahi demi mendekatkan diri kepadanya, dan azlam, yaitu anak panah yang dahulu orang-orang kafir mengundi nasib mereka denganya, sebelum bergerak untuk melakukan sesuatu atau mengurungkan niat darinya; sesungguhnya semua itu merupakan perbuatan dosa dan tipu daya yang dibuat indah oleh setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan dosa tersebut, mudah-mudahan kalian akan meraih keberuntungan dengan memperoleh surga.

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

innamā yurīdusy-syaiṭānu ay yụqi’a bainakumul-‘adāwata wal-bagḍā`a fil-khamri wal-maisiri wa yaṣuddakum ‘an żikrillāhi wa ‘aniṣ-ṣalāti fa hal antum muntahụn

 91.  Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Sesungguhnya setan hanyalah menghendaki melalai memperindah perbuatan-perbuatan dosa bagi kalian itu untuk melontarkan di tengah kalian perkara-perkara yang menyebabkan permusuhan dan kebencian, disebabkan meminum khamar dan bermain judi, dan ia hendak memalingkan kalian dari mengingat Allah dan shalat dengan hilangnya akal sehat saat meminum khamar dan sibuk dalam kesia-siaan dalam permainan judi. Maka berhentilah kalian darinya.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla waḥżarụ, fa in tawallaitum fa’lamū annamā ‘alā rasụlinal-balāgul-mubīn

 92.  Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Laksanakanlah oleh kalian (wahai kaum Muslimin) ketaatan terhadap Allah dan ketaatan kepada rasulNya, Muhammad , dalam seluruh perkara yang kalian lakukan dan tinggalkan, dan bertakwalah kepada Allah dan sadarlah bahwa Dia mengawasi kalian dalam menjalankannya. Apabila kalian berpaling dari melaksankannya, lalu melakukan perkara yang kalian dilarang darinya, maka ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya kewajiban rasul kami Muhammad  hanyalah menyampaikan (risalah) dengan nyata.

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

laisa ‘alallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti junāḥun fīmā ṭa’imū iżā mattaqaw wa āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti ṡummattaqaw wa āmanụ ṡummattaqaw wa aḥsanụ, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

 93.  Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Tidak ada tanggungan dosa atas orang-orang Mukmin yang pernah meminum khamar sebelum diharamkan, bila mereka telah meninggalkannya dan takut akan kemurkaan Allah dan beriman kepadaNYa, dan mempersembahkan amal-amal shalih yang menunjukan keimanan mereka dan keinginan mereka terhadap keridahaan Allah  terhadap diri mereka, kemudian mereka semakin bertambah rasa di saksikan Allah  dan keimanan mereka dengan itu, sehingga mereka dengan dasar keyakinan kuat mereka menjadi beribadah kepada Allah dan seolah-olah mereka melihatNya. Dan sesungguhnya Allah  mencintai orang-orang yang telah mencapai dejarat ihsan,sehingga keimanan mereka terhadap perkara ghaib sama seperti penglihatan mereka terhadap perkara yang terlihat nyata.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ layabluwannakumullāhu bisyai`im minaṣ-ṣaidi tanāluhū aidīkum wa rimāḥukum liya’lamallāhu may yakhāfuhụ bil-gaīb, fa mani’tadā ba’da żālika fa lahụ ‘ażābun alīm

 94.  Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, Dia akan benar-benar menguji kalian dengan Sesuatu dari binatang buruan darat yang mendekati kalian tanpa sengaja, sampai kalian mampu untuk mengambil yang kecil dengan tangan kosong dan buruan yang besar dengan senjata, supaya Allah mengetahui dengan pengetahuan yang jelas bagi semua makhluk yang takut terhadap tuhan mereka meski tidak melihatNya, karena keyakinan mereka akan kesempurnaan ilmu Allah terhadap mereka, yaitu dengan menahan diri untuk berburu, saat mereka dalam keadaan ihram, maka baragsiapa yang melampaui batasanNya setelah adanya penjelasan ini sehingga dia melakukan pemburuan atas bitang buruan tersebut (padahal dia sedang ihram), maka sesungguhnya dia pantas mendapatkan siksaan yang keras.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā taqtuluṣ-ṣaida wa antum ḥurum, wa mang qatalahụ mingkum muta’ammidan fa jazā`um miṡlu mā qatala minan-na’ami yaḥkumu bihī żawā ‘adlim mingkum hadyam bāligal-ka’bati au kaffāratun ṭa’āmu masākīna au ‘adlu żālika ṣiyāmal liyażụqa wa bāla amrih, ‘afallāhu ‘ammā salaf, wa man ‘āda fa yantaqimullāhu min-h, wallāhu ‘azīzun żuntiqām

 95.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah danrasulNya,serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian membunuh binatang buruan darat, sedangkan kalian tengah berada dalam keadaan ihram dengan haji atau umrah. Atau kalian sedang berada di tanah haram. Dan barangsiapa membunuh jenis apa saja dari binatang buruan darat dengan sengaja, maka dendanya adalah menyembelih binatang ternak yang sepadan dengan buruan, seperti unta,sapi,dan kambing, setelah ada dua orang adil yang memutuskan perkiraan nilainya dan kemudian menghadiahkannya bagi fakir miskin di tanah haram, atau hendaknya dia membeli makanan yang setara dengan harganya, yang dia hadiahkan bagi kaum fakir miskin di tanah haram, untuk setiap fakir miskin setengah sho, atau sebagi gantinya dia berpuasa dengan hitiungan sehari puasa untuk menganti tiap setengah sha dari makanan yang dihadiahkan. Allah mewajibkan denda ini atas dirinya, agar dengan kewajiban membayar denda yang disebutkan itu, orang yang bersangkuatan akan merasakan akibat dari perbuatannya. Dan orang-orang yang terjerumus dalam satu jenis dari perbuatan tersebut sebelum datang pengharamannya, maka sesungguhnya Allah  telah memafkan mereka. Dan barangasiapa kembali melakukan pelanggaran dengan sengaja setelah datangnya ketetapan pengharamannya, sesungguhnya dia telah terancam dengan pembalasan Allah terhadap dirinya. Dan Allah  Maha perkasa, Maha kuat lagi kokoh dalam kekuaasaanNya. Dan diantara bukti sifat keperkasaanNya, bahwasannya Dia akan membalas orang-orang yang berbuat maksiat kepadaNya bila Dia menghendaki, tidak ada yang dapat menghalangiNya dari pembalasan tersebut.

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

uḥilla lakum ṣaidul-baḥri wa ṭa’āmuhụ matā’al lakum wa lis-sayyārah, wa ḥurrima ‘alaikum ṣaidul-barri mā dumtum ḥurumā, wattaqullāhallażī ilaihi tuḥsyarụn

 96.  Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.

Allah menghalalkan bagi kalian (Wahai kaum Muslimin), saat keadaan berihram, untuk berburu binatang laut, yaitu binatang yang diburu dari laut dalam keadaan hidup-hidup, dan makanan darinya, maksudnya binatang yang telah mati darinya, untuk kemanfaatan bagi kalian saat kalian berada dirumah maupun sedang menempuh perjalanan jauh. Dan Dia mengharamkan atas kalian binatang buruan darat, selama kalian dalam keadaan ihram dengan haji atau umrah. Dan takutlah kalian kepada Allah dan laksanakan oleh kalian semua perintahNya dan jauhi oleh kalian seluruh laranganNya, sehingga kalian akan menggapai pahalaNya yang besar dan selamat dari pedihnya siksaNya ketika kalian dikumpulkan untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasannya.

۞ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

ja’alallāhul-ka’batal-baital-ḥarāma qiyāmal lin-nāsi wasy-syahral-ḥarāma wal-hadya wal-qalā`id, żālika lita’lamū annallāha ya’lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa annallāha bikulli syai`in ‘alīm

 97.  Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Allah mengingatkan kenikmatanNYa kepada hamba-hambaNya dengan menjadikan ka’bah, baitul haram, sebagai sumber kebaikan bagi agama mereka dan tempat amam bagi kehidupan mereka. Dan itu berlaku sekiranya mereka beriman kepada Allah dan rasulNya dan menegakan apa-apa yang diwajibkanNya. Dan Dia mengharamkan tindakan permusuhan dan peperangan di bulan-bulan haram (yaitu bulan dulqadah, dzulhijjah, muharram, dan rajab). sesorang tidak boleh berbuat aniaya dibulan tersebut kepada orang lain. Dan Allah juga mengharamkan tindakan aniaya terhadap binatang hadyu yang dibawa ketanah suci dari binatang-binatang ternak. Dan Dia juga mengharamkan tindakan aniaya kepada qala’id, yaitu biinatang yang dikalungi sebagai pertanda bahwa binatang itu diperuntukan dalam ibadah haji. Demikian itu supaya kalian mengetahui bahwa Allah mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi, termasuk apa yang disyariatkaNya untuk melindungi makhlukNya, sebagian dari sebagian yang lain. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi bagiNya sesuatu pun.

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

i’lamū annallāha syadīdul-‘iqābi wa annallāha gafụrur raḥīm

 98.  Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ketahuilah (wahai sekalian manusia), sesungguhnya Allah  Maha keras siksaanNya bagi orang yang mendurhakaiNya, dan sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang terhadap hamba yang bertaubat dan kemabli kepadaNya.

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

mā ‘alar-rasụli illal-balāg, wallāhu ya’lamu mā tubdụna wa mā taktumụn

 99.  Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.

Allah  menerangkan bahwa misi penting rasulNya ialah mengarahkan petunjuk dan menyampaikan (risalahNya), dan ditangan Allah sematalah adanya hidayah taufik. Dan apa saja yang mengisi hati-hati manusia, baik yang mereka rahasiakan dan mereka perlihatkan terang-terangan dari bentuk hidayah dan kesesatan, Allah telah mengetahuinya.

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

qul lā yastawil-khabīṡu waṭ-ṭayyibu walau a’jabaka kaṡratul khabīṡ, fattaqullāha yā ulil-albābi la’allakum tufliḥụn

 100.  Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”.

Katakanlah (wahai rasul) ”tidak sama antara yang buruk dengan yang baik dari segala sesuatu, maka orang kafir tidak sama dengan orang Mukmin, dan pelaku maksiat tidak sama dengan orang yang taat, orang bodoh tidak sama dengan orang Alim, pelaku bid’ah tidak sama dengan orang yang mengikuti Sunnah, harta haram tidak lah sama dengan harta halal, dan sekandanya membuatmu heran (wahai manusia) dengan banyaknya perkara-perkara buruk dan pendukungnya, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang yang memiliki akal-akal yang matang, dengan menjauhi segala yang buruk-buruk dan melakukan hal-hal yang baik, supaya kalian beruntung dengan meraih tujuan yang paling agung, yaitu keridhaan Allah  dan meraih surga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tas`alụ ‘an asy-yā`a in tubda lakum tasu`kum, wa in tas`alụ ‘an-hā ḥīna yunazzalul-qur`ānu tubda lakum, ‘afallāhu ‘an-hā, wallāhu gafụrun ḥalīm

 101.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kamu bertanya-tanya tentang sesuat terkait perkara-perkara agama yang kalian tidak diperintahkan menjalankannya sama sekali, seperti pertanyaan tentang perkara-perkara yang belum terjadi atau yang mengakibatkan munculnya keberatan-keberatan dalam syariat, yang seandainya kalian dibebani dengannya, pastilah akan menyengsarakan kalian. Dan apabila kalian bertanya tentang itu saat rasululah  masih hidup dan ketika wahyu al-qur’an masih turun, niscaya akan dijelaskan hukumnya bagi kalian dan kalian mungkin saja mendapat beban menjalankannya, lalu kalian tidak sanggup untuk melaksanakannya, dan Allah menanggalkannya, demi membebaskan hamba-hambaNya dari tanggunagn tersebut. Dan Allah Maha pengampun bagi hamba-hambaNYa bila mereka bertaubat, juga maha penyantun kepada mereka maka Dia tidak akan menyiksa mereka ketika mereka sudah sungguh-sungguh bertaubat kepadaNya.

قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ

qad sa`alahā qaumum ming qablikum ṡumma aṣbaḥụ bihā kāfirīn

 102.  Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan sejenis ini telah ditanyakan oleh satu kaum sebelum kalian kepada rosul-rosul mereka. Tapi tatkala mereka di perintah menjalankannya, mereka mengingkarinya dan tidak melaksanakannya. Maka hati-hatilah, jangan sampai kalian seperti mereka.

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

mā ja’alallāhu mim baḥīratiw wa lā sā`ibatiw wa lā waṣīlatiw wa lā hāmiw wa lākinnallażīna kafarụ yaftarụna ‘alallāhil-każib, wa akṡaruhum lā ya’qilụn

 103.  Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Allah tidak pernah mensyariatkan bagi kaum Musyrikin aturan yang mereka ada-adakan sendiri terkait binatang-binatang ternak, dengan tidak mau memanfaatkan sebagain binatang itu dan mempersembahkannya bagi berhala-berhala. yaitu bahirah yang diiris telinganya setelah melahirkan beberapa anak, sa’ibah yang dibiarkan bagi berhala-berhala, washilah, betina yang kelahiran anak betinanya terjadi setelah kelahiran anak betina sebelumnya, ham, yaitu pejantan dari unta bila dilahirkan dari tulang sulbinya sekian banyak anak unta. Akan tetapi, orang-orang kafir menisbatkan aturan itu kepada Allah  sebagai kedustaan atas NamaNYa. Dan kebanyakan orang kafir tidak bisa memisahkan kebenaran dari kebatilan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

wa iżā qīla lahum ta’ālau ilā mā anzalallāhu wa ilar-rasụli qālụ ḥasbunā mā wajadnā ‘alaihi ābā`anā, a walau kāna ābā`uhum lā ya’lamụna syai`aw wa lā yahtadụn

 104.  Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

Dan apabila dikatakan kepada orang-orang kafir yang mengharamkan apa yang Allah halalkan, ”kemarilah kalian kepada wahyu yang diturunkan Allah dan kepada rasulNya, supaya menjadi jelas bagi kalian mana yang halal dan mana yang haram”, mereka menjawab, ”cukuplah bagi kami apa yang kami warisi dari bapak-bapak moyang kami berupa ucapan dan perbuatan.” Apakah mereka akan tetap berkata begitu, meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui apapun. Maksudnya, tidak memahami kebenaran dan tidak mengenalinya, serta tidak memperoleh petunjuk ke arahnya? Bagaimana mungkin orang-orang itu mengikuti mereka, sedangkan kondisi mereka seperti ini? sesungguhnya tidaklah ada yang mengikuti mereka, kecuali orang yang paling bodoh dari mereka dan orang yang paling sesat jalannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ ‘alaikum anfusakum, lā yaḍurrukum man ḍalla iżahtadaitum, ilallāhi marji’ukum jamī’an fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 105.  Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, haruskanlah diri kalian untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauihi larangan-laranganNya, dan konsistenlah dalam keadaan tersebut, meskipun manusia tidak menerima seruan kalian. Maka apabila kalian melaksanakan hal itu, maka kesesatan orang yang sesat tidak memudaratkan diri kalian selama kalian tetap di atas jalan istiqamah dan kalian perintahkan hal yang ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar. Kepada Allah tempat kembali kalian semua di akhirat. Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang amal perbuatan kalian dan memberikan balasan bagi kalian atas amal-amal itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ۚ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ syahādatu bainikum iżā ḥaḍara aḥadakumul-mautu ḥīnal-waṣiyyatiṡnāni żawā ‘adlim mingkum au ākharāni min gairikum in antum ḍarabtum fil-arḍi fa aṣābatkum muṣībatul-maụt, taḥbisụnahumā mim ba’diṣ-ṣalāti fa yuqsimāni billāhi inirtabtum lā nasytarī bihī ṡamanaw walau kāna żā qurbā wa lā naktumu syahādatallāhi innā iżal laminal-āṡimīn

 106.  Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, apabila telah dekat datangnya kematian kepada salah seorang diantara kalian, hendaknya dia mempersaksikan kepada dua orang terpecaya dari kaum Muslimin atas wasiatnya maupun dua orang dari selain kaum Muslimin dalam keadaan mendesak dan tidak ada orang selain mereka berdua dari kalangan kaum Muslimin, yang mana kalian mempersaksikan kepada mereka berdua ketika kalian dalam perjalanan jauh di muka bumi, lalu kematian datang kepada kalian. Dan apabila kalian meragukan persaksian mereka berdua, tahanlah mereka berdua dulu setelah shalat, (maksudnya shalat kaum Muslmin terutama shalat Ashar), kemudian mereka berdua bersumpah atas nama Allah dengan sumpah yang ikhlas, tanpa mengharapakan imbalan duniawi, dan tidak pula bersikap melunak dihadapan kaum kerabat mereka berdua, serta tidak menyembunyikan persaksian yang ada pada mereka karena Allah, dan sesungguhnya bila mereka melakukan hal-hal tersebut, maka mereka berdua termasuk orang-orang yang berbuat dosa,

فَإِنْ عُثِرَ عَلَىٰ أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا فَآخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْأَوْلَيَانِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

fa in ‘uṡira ‘alā annahumastaḥaqqā iṡman fa ākharāni yaqụmāni maqāmahumā minallażīnastaḥaqqa ‘alaihimul-aulayāni fa yuqsimāni billāhi lasyahādatunā aḥaqqu min syahādatihimā wa ma’tadainā innā iżal laminaẓ-ẓālimīn

 107.  Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: “Sesungguhnya persaksian kami labih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri”.

Kemudia apabila wali-wali mayit mendapati dua saksi yang disebutkan itu telah berbuat dosa dengan melakukan pengkhianatan dalam persaksian atau wasiat, maka hendaknya ada dua orang wali-wali mayit yang menggantikan posisi mereka berdua, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah (dan mengatakan) ”persaksian kami yang jujur ini lebih pantas untuk diterima daripada persaksian dusta mereka berdua, dan kami tidaklah melanggar garis kebenaran dalam persaksian kami. Sesungguhnya kami apabila kami bertindak aniaya dan menyampaikan persaksian yang tidak sesuai dengan fakta kebenaran, benar-benar termasuk orang-orang yang berbuat kezhaliman lagi melampaui batas-batasan Allah”

ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَىٰ وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

żālika adnā ay ya`tụ bisy-syahādati ‘alā waj-hihā au yakhāfū an turadda aimānum ba’da aimānihim, wattaqullāha wasma’ụ, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

 108.  Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Ketetapan hukum ketika muncul kecurigaan terhadap dua saksi tersebut, dalam bentuk bersumpah setelah shalat dan tidak menerima persaksian keduanya, lebih dekat untuk mendatangkan persaksian menurut apa yang sebenarnya, dikarenakan takut akan siksaan akhirat atau kekhawatiran ditolaknya sumpah-sumpah dusta oleh orang-orang yang benar setelah sumpahnya, maka terbongkarlah dari orang-orang yang berdusta yang ditolak sumpahnya di dunia ketika pengkhiantannya terkuak. Dan takutlah kalian kepada Allah (wahai sekalain manusia) dan hendaklah kalian selalu merasa di awasi olehNya agar kalian tidak bersumpah dengan dusta dan tidak mengambil harta haram dengan sumpah-sumpah kalian. Dan dengarkanlah nasihat yang dituju kepada kalian. Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang fasik yang telah keluar dari jalur ketaatan kepadaNya.

۞ يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ ۖ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

yauma yajma’ullāhur-rusula fa yaqụlu māżā ujibtum, qālụ lā ‘ilma lanā, innaka anta ‘allāmul-guyụb

 109.  (Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?”. Para rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib”.

Dan ingatlah (wahai sekalian manusia), hari kiamat adalah hari di mana Allah akan mengumpulkan rasul-rasul  , lalu Dia akan bertanya kepada mereka tentang jawaban umat-umat mereka ketika mereka menyeru umat-umat mereka kepada tauhid, lalu mereka menjawab, ”tidak ada pengetahuan dari kami tentang itu. Kami tidak tahu apa yang ada di dalam hati manusia dan tidak tahu perkara-perkara yang mereka ada-adakan sepeninggal kami. Sesungguhnya Engkau mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. ”

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

iż qālallāhu yā ‘īsabna maryamażkur ni’matī ‘alaika wa ‘alā wālidatik, iż ayyattuka birụḥil-qudus, tukallimun-nāsa fil-mahdi wa kahlā, wa iż ‘allamtukal-kitāba wal-ḥikmata wat-taurāta wal-injīl, wa iż takhluqu minaṭ-ṭīni kahai`atiṭ-ṭairi bi`iżnī fa tanfukhu fīhā fa takụnu ṭairam bi`iżnī wa tubri`ul-akmaha wal-abraṣa bi`iżnī, wa iż tukhrijul-mautā bi`iżnī, wa iż kafaftu banī isrā`īla ‘angka iż ji`tahum bil-bayyināti fa qālallażīna kafarụ min-hum in hāżā illā siḥrum mubīn

 110.  (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.

Ingatlah ketika Allah berfirman pada hari kiamat ”Wahai Isa purta Maryam, ingatlah NikmatKu yang tercurah kepadamu ketika Aku menciptakanmu tanpa ada seorang ayah, dan yang tercurah pada ibumu ketika Aku menjatuhkan pilihan padanya di antara wanita yang ada di alam semasta dan Aku telah bersihkan dia dari tuduhan yang dilancarkan kepadanya.” Dan diantara nikmat-nikmat yang tercurah kepada Isa  bahwa Dia menguatkan dan menolongnya dengan jibril , dia berbicara dengan manusia saat masih berupa bayi yang menyusu sebelum waktunya bisa bicara, dan menyeru mereka kepada Allah saat dia dewasa sungguh telah berkumpul seluruh kekuatannya dan sempurna kedewasaannya dengan wahyu yang Allah wahyukan kepadanya berupa tauhid. Dan diantara Nikmat lainnya, bahwasannya Allah  mengajarkan kepadanya cara menulis dan merangkai huruf dengan baik tanpa ada seorang guru. Dan Dia menganugerahkan kepadanya kekuatan pemahaman dan daya tangkap tinggi dan mengajarkan kepadanya taurat yang diturunkan kepada Musa  dan injil yang diturunkanNya kepadanya sebagai hidayah bagi manusia. Dan diantara kenikmatan-kenikmatan tersebut, sesungguhnya dia membentuk rupa sesuatu dari tanah seperti bentuk burung, lalu dia meniupnya, dan kemudian menjadi seekor burung atas izin Allah. Dan diantara nikmat-nikmat itu, dia juga dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir sehingga dapat melihat dan menyembuhkan orang yang berpenyakit lepra(kusta) sehingga kulitnya kembali sehat atas izin Allah. selain itu, dia memohon kepada Allah akan berkenan menghidupkan orang-orang mati, lalu mereka bangkit dari kubur-kubur mereka hidup-hidup. Dan semua itu terjadi atas kehendak Allah  dan izinNya, dan itu merupakan mukjizat-mukjizat amat terang yang menguatkan kenabian Isa . Kemudian Allah  mengingatkan kepadanya kenikmatan yang tercurah padanya, ketika Dia mencegah Bani israil saat mereka mengincar untuk membunuhnya. Sesungguhnya dia telah datang dengan membawa mukjizat-mukjizat yang jelas lagi menunjukan kenabiannya. Tapi kemudian orang-orang yang kafir dari mereka mengatakan, ”sesungguhnya bukti-bukti yang nyata yang dibawa oleh Isa merupakan sihir yang nyata. ”

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

wa iż auḥaitu ilal-ḥawāriyyīna an āminụ bī wa birasụlī, qālū āmannā wasy-had bi`annanā muslimụn

 111.  Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”.

Dan ingatlah (wahai Isa), nikmatKu yang tercurah padamu, ketika Aku ilhamkan dan tanamkan dalam hati sejumlah pengikut-pengikut setiamu untuk mengimani keesaan Allah  dan kenabianmu, maka mereka berkata, ”kami telah beriman wahai tuhan, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami tunduk kepadMu, patuh terhadap perintahMu. ”

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ ۖ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

iż qālal-ḥawāriyyụna yā ‘īsabna maryama hal yastaṭī’u rabbuka ay yunazzila ‘alainā mā`idatam minas-samā`, qālattaqullāha ing kuntum mu`minīn

 112.  (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”.

Dan ingatlah ketika para pembela setia Isa  berkata, ”wahai Isa putra Maryam, apakah tuhanmu mampu jika kamu meminta kepadaNya untuk menurunkan kepada kami hidangan makanan dari langit?” maka jawaban Isa  adalah memerintahkan mereka untuk takut terhadap siksaan Allah  kalau memang mereka beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya.”

قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ

qālụ nurīdu an na`kula min-hā wa taṭma`inna qulụbunā wa na’lama ang qad ṣadaqtanā wa nakụna ‘alaihā minasy-syāhidīn

 113.  Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”.

Para pembela setiamu berkata, ”kami ingin memakan hidangan itu dan hati kami akan tentram ketika melihatnya, serta kami akan tahu seyakin-yakinnya kebenaranmu sebagai nabi, dan agar kami termasuk orang-orang yang menyaksikan tanda kekuasaan itu dimana Allah menurunkannya sebagai hujjah bagiNya di hadapan kami dalam tauhid dan kuasaNYa atas segala yang dikehendakiNya dan hujjah penguat bagimu atas kebenaran kenabianmu.”

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

qāla ‘īsabnu maryamallāhumma rabbanā anzil ‘alainā mā`idatam minas-samā`i takụnu lanā ‘īdal li`awwalinā wa ākhirinā wa āyatam mingka warzuqnā wa anta khairur-rāziqīn

 114.  Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama”.

Isa putra maryam mengabulkan permintaan para pembela setia itu, lalu dia berdoa kepada tuhannya sembari mengucapkan, ”wahai tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan makanan dari langit, yang akan kami jadikan hari turunnya hidangan itu sebagai hari raya kami yang akan kami agungkan dan diagungkan oleh orang-orang setelah kami. Dan hidangan itu akan menjadi tanda dan hujjah dariMu (ya Allah) yang menunjukan keesaanMu dan atas kebenaran kenabianku. Dan karuniakanlah kepada kami dari pemberianMu yang melimpah. dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rizki. ”

قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۖ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

qālallāhu innī munazziluhā ‘alaikum, fa may yakfur ba’du mingkum fa innī u’ażżibuhụ ‘ażābal lā u’ażżibuhū aḥadam minal-‘ālamīn

 115.  Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia”.

Allah  berfirman, ”sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan makan pada kalian. Maka barangsiapa dari kalian mengingkari keesaanKu dan kenabian Isa  setelah turunnya hidangan ini, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang keras, yang aku tidak pernah menyiksa dengan siksaan itu seorang pun dari makhluk-makhluk.” Dan sungguh hidangan itu turun sebagaimana dijanjikan Allah.

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

wa iż qālallāhu yā ‘īsabna maryama a anta qulta lin-nāsittakhiżụnī wa ummiya ilāhaini min dụnillāh, qāla sub-ḥānaka mā yakụnu lī an aqụla mā laisa lī biḥaqq, ing kuntu qultuhụ fa qad ‘alimtah, ta’lamu mā fī nafsī wa lā a’lamu mā fī nafsik, innaka anta ‘allāmul-guyụb

 116.  Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Dan ingatlah ketika Allah  berfirman pada hari kiamat, ”wahai Isa putra Maryam, apakah kamu berkata kepada manusia, ’jadikanlah aku dan ibuku sesembahan selain Allah? Isa  menjawab (dengan menyucikan Allah  ), ”tidak sepantasnya bagiku untuk berkata kepada manusia perkataan yang tidak benar. Bila aku mengucapkannya, maka pastilah Engkau telah mengetahuinya; sebab sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariMu. Engkau mengetahui apa yang dirahasiakan hatiku, sedang aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala perkara, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. ”

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

mā qultu lahum illā mā amartanī bihī ani’budullāha rabbī wa rabbakum, wa kuntu ‘alaihim syahīdam mā dumtu fīhim, fa lammā tawaffaitanī kunta antar-raqība ‘alaihim, wa anta ‘alā kulli syai`in syahīd

 117.  Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Isa  berkata, ”wahai tuhanku, aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau wahyukan kepadaku dan Engkau perintahkan aku untuk menyampaikannya, yaitu mengesakanMu dalam tauhid dan ibadah. dan aku terhadap apa yang mereka perbuat (ketika aku masih berada di tengah mereka) aku menjadi saksi atas mereka dan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan mereka. Ketika Engkau sempurnakan ajalku di muka bumi dan Engkau angkat aku ke langit dalam keadaan hidup, Engkaulah yang mengawasi rahasia-rahasia batin mereka. Dan Engkau maha menyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang samar atau tersembunyi bagiMu, baik di bumi maupun di langit.

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

in tu’ażżib-hum fa innahum ‘ibāduk, wa in tagfir lahum fa innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

 118.  Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya Engkau, (ya Allah), bila menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMU, (dan Engkau lebih tahu keadaan mereka). Engkau dapat melakukan apa saja pada mereka yang Engkau kehendaki berdasarkan sifat keadilanMu. Dan bila Engkau mengampuni dengan sifat rahmatMu kepada orang diantara mereka yang mendatangkan sebab-sebab ampunan, sesungguhnya Engkau Maha perkasa yang tidak terkalahkan, lagi Maha bijaksana dalam pengaturan dan perintahMu.” Dan ayat ini merupakan bentuk pujian bagi Allah  terhadap sifat hikmah dan keadilanNya, serta kesempurnaan ilmuNya.

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

qālallāhu hāżā yaumu yanfa’uṣ-ṣādiqīna ṣidquhum, lahum jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, raḍiyallāhu ‘an-hum wa raḍụ ‘an-h, żālikal-fauzul-‘aẓīm

 119.  Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”.

Allah  berfirman kepada Isa  pada hari kiamat, ”ini adalah hari pembalasan yang akan bermanfaat bagi orang-orang bertauhid atas tauhid mereka kepada tuhan mereka dan kepatuhan mereka kepada syariat-syariatNya, serta kejujuran niat-niat mereka dan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalair dibawah istana-istananya dan pohon-pohonnya sungai-sungai, mereka tinggal abadi di dalamnya. Allah meridhai mereka lalu menerima amal kebaikan mereka, dan mereka ridha kepadaNya atas pahala besar dariNya yang diberikanNYa kepada mereka. balasan dan ridhaNya kepada mereka merupakan keberuntungan yang agung.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā fīhinn, wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

 120.  Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kepunyaan Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, kerajaan langit dan bumi, serta yang ada didalam keduanya. Dan Dia  Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkanNya.

Related: Surat al-An’am Arab-Latin, Surat al-A’raf Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Anfal, Terjemahan Tafsir Surat at-Taubah, Isi Kandungan Surat Yunus, Makna Surat Hud

Baca Quran Online

113 3 33 5 89