Surat Al-Ma’idah Ayat 49

وَأَنِ ٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَٱحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

Arab-Latin: Wa aniḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi' ahwā`ahum waḥżar-hum ay yaftinụka 'am ba'ḍi mā anzalallāhu ilaīk, fa in tawallau fa'lam annamā yurīdullāhu ay yuṣībahum biba'ḍi żunụbihim, wa inna kaṡīram minan-nāsi lafāsiqụn

Artinya: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

« Al-Ma'idah 48Al-Ma'idah 50 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Pelajaran Penting Berkaitan Dengan Surat Al-Ma’idah Ayat 49

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Ma’idah Ayat 49 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada variasi pelajaran penting dari ayat ini. Ada variasi penjabaran dari beragam mufassirun terkait kandungan surat Al-Ma’idah ayat 49, misalnya seperti termaktub:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan putuskanlah perkara (wahai rasul) diantara orang-orang yahudi dengan hukum yang Allah turunkan kepadamu di dalam al-qur’an, dan janganlah kamu mengikuti keinginan-keinginan nafsu orang-orang yang berhukum kepadamu. Dan berhati-hatilah terhadap mereka agar jangan sampai mereka menghalangi dirimu dari sebagian hukum yang Allah turunkan kepadamu, akibatnya kamu meninggalkan pengamalannya. Apabila mereka itu berpaling dari putusan hukum yang sudah kamu keluarkan, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk memalingkan mereka dari kebenaran disebabkan oleh dosa-dosa yang mereka perbuat sebelumnya. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar keluar dari ketaatan kepada tuhan mereka.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

49-50. Kemudian Allah memerintahkan untuk menjadikan syariat-Nya sebagai landasan hukum, karena didalamnya terdapat kebaikan, rahmat, keberkahan, dan kebahagiaan bagi setiap hamba yang mentaatinya dan ridha terhadapnya.

Dan Allah melarang hamba-hamba-Nya mengikuti hawa nafsu orang-orang yang sesat dengan menjadikannya landasan hukum padahal di dalamnya terdapat kezaliman dan kesewenang-wenangan. Dan dia memperingatkan dari tipu daya musuh-musuh Islam agar kaum muslimin tidak terpalingkan dari syariat dan jalan mereka yang terang dan agar musuh-musuh Islam itu dapat menebar kezaliman dan kekacauan di masyarakat.

Memenuhi ajakan musuh-musuh Allah tersebut dengan tidak menerapkan hukum yang diturunkan oleh Allah merupakan suatu ujian besar yang wajib diwaspadai. Jika mereka berpaling dari syariat dan jalan Allah yang telah Dia ridhai bagi hamba-hamba-Nya maka sesungguhnya Allah akan menyiksa mereka.

Kemudian Allah membuat pengingkaran terhadap orang yang mengacuhkan syariat dan rela dengan hawa nafsu jahiliyah padahal itu dipenuhi dengan kebodohan, kezaliman, dan kontradiksi; namun tetap ada orang yang menyeru dan menuntut untuk menerapkan hukum jahiliyah tersebut.

Dan Allah menekankan bahwa hukum-Nya adalah yang paling utama, sehingga tidak ada hukum yang dapat menandinginya. Dan orang yang menerapkan syariat Allah hanyalah orang yang telah yakin, yaitu orang yang keimanan telah kokoh di dalam hatinya.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

49. Dan kamu seharusnya -wahai Rasul- memutuskan perkara mereka berdasarkan hukum yang Allah turunkan kepadamu. Janganlah kamu mengikuti pendapat-pendapat mereka yang bersumber dari hawa nafsu. Dan berhati-hatilah agar mereka tidak menyesatkanmu dari hukum yang Allah turunkan kepadamu. Karena mereka akan terus bekerja keras untuk melakukan hal itu. Jika mereka tidak bersedia menerima keputusan berdasarkan hukum yang Allah turunkan kepadamu, ketahuilah bahwasanya Allah hendak menghukum mereka dengan hukuman dunia atas dasar sebagian dosa mereka dan hendak menghukum mereka di Akhirat atas dasar semua dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya banyak sekali manusia yang tidak taat kepada Allah.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

49. وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ (dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah)
Yakni apabila mereka mendatangimu agar kamu memutuskan perkara diantara mereka dan kamu mau melakukan itu maka putuskanlah perkara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan Allah kepadamu, bukan sesuai dengan hawa nafsu mereka atau kitab-kitab mereka yang telah dirubah.

وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ اللهُ إِلَيْكَ ۖ (Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu)
Yakni menyesatkan kamu darinya.

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ (Jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka)
Yakni apabila mereka tidak mau menerima putusanmu yang sesuai dengan apa yang diturunkan kepadamu, maka itu disebabkan karena Allah hendak menyiksa mereka karena sebagian dosa-dosa mereka, yaitu dosa berpaling darimu, dan penolakan atas apa yang kamu datangkan.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

49. Lalu Allah mengulangi perkara tersebut sebagai peringatan agar (Nabi) tidak tersesat, dan berfirman: “Wahai Nabi, hendaklah kamu memutuskan hukum di antara ahli kitab dan pemeluk kepercayaan lainnya sesuai apa yang diturunkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan mereka dengan tetap membenarkan yang benar dan menyalahkan yang bathil, serta waspadailah mereka saat mau menyesatkanmu dari sebagian wahyu yang diturunkan Allah kepadamu sehingga kamu tidak mengamalkannya. Dan jika mereka tidak mau menerima keputusanmu yang sesuai dengan apa yang diturunkan kepadamu, maka hal itu karena balasan atas sebagian dosa-dosa mereka, yaitu menolak apa yang kamu bawa. Sesungguhnya kebanyakan manusia tidak mau menaati Allah SWT.” Ibnu Abbas berkata: “Sebagian ulama’ Yahudi datang dan berkata: “Wahai Muhammad, kami adalah para pendeta Yahudi, jika kami mengikutimu, maka semua orang Yahudi akan mengikutimu, dan sesungguhnya di antara kami dan kaum kami itu ada perdebatan, dan kami ingin meminta keputusan hukum kepadamu. Jika kamu memutuskan perkara bagi kami, niscaya kami akan berikrar untuk mengimanimu” Lalu Rasulullah SAW menolak hal tersebut dan Allah SWT menurunkan ayat [Wahdzarhum] untuk mereka”


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Hendaklah kamu memutuskan di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Waspadailah mereka agar mereka tidak dapat memperdayakanmu} menyesatkan dan membelokkanmu {dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling} berpaling untuk menerima hukum menurut apa yang diturunkan Allah kepadamu {ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan kepada mereka} mengazab mereka {sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya banyak dari manusia adalah orang-orang yang fasik


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

49. “Dan hendaknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah.” Ayat inilah yang katanya menasakh Firman Allah,"maka putuskanlah keptusan dianatara mereka atau berpalinglah" (Al-Maidah:42).
Padahal yang benar adalah bahwa ia bukan menasakh, karena ayat itu menunjukkan bahwa Nabi diberi pilihan antara memutuskan perkara atau tidak memutuskan, hal itu karena tujuan mereka dalam meminta keputusan bukanlah kebenaran. Sementara ayat ini menunjukkan bahwa jika Nabi memutuskan, ,maka dia memutuskan dengan dengan apa yang diturunkan oleh Allah yaitu al-Quran dan Sunnah. Inilah keadilan yang telah dinyatakan oleh Allah dalam ayat sebelumnya. "dan jika kamu memutuskan maka putuskanlah diantara mereka dengan adil" (Al-Maidah:42).
Ayat ini menjelaskan tentang keadilan, bahwa intinya adalah hukum yang disyariatkan oleh Allah karena ia mengandung keadilan yang sempurna dana pa yang menyelisihinya adalah kezhaliman. “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” Larangan mengikuti hawa nafsu kembali di ulang untuk memberikan peringatan keras darinya, dank arena konteksnya adalah memutuskan hukum dan fatwa yang jelas lebih luas sementara ini konteksnya hanyalah hukum semata. Pada keduanya seseorang tidak boleh mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang dari kebenaran.
Oleh karena itu Allah berfirman, “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu.” Maksudnya, janganlah kamu terkecoh oleh mereka, jangan sampai mereka membuatmu berpaling lalu mereka berhasil menghalangimu dari sebagian yang diturunkan oleh Allah kepadamu. Maka mengikuti hawa nafsu mereka menjadi penyebab dicampakkannya kebenaran yang semestinya wajib dan harus diikuti.
“JIka mereka berpaling” dari mengikutimu dan mengikuti kebenaran, “maka ketahuilah,” bahwa itu adalah hukuman bagi mereka, dan bahwa Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Karena dosa memiliki hukuman cepat atau lambat. Termasuk hukuman terbesar adalah, seorang hamba diuji dan dijadikan indah baginya keengganan untuk mengikuti Rasulullah, dan hal itu karena kefasikannya. “Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik,” yakni tabiat mereka adalah kefasikan dan penyimpangan dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 48-50
Ketika Allah SWT menyebutkan Taurat yang Dia turunkan kepada nabi Musa, dan Dia memuji serta mengagungkannya, serta memerintahkan untuk mengikuti Taurat di mana pun yang mudah untuk mengikutinya. Dia juga menyebutkan Injil dan memujinya, serta memerintahkan untuk mengerjakan dan mengikuti apa yang terkandung di dalamnya, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Allah SWT mulai menyebutkan Al-Quran yang agung yang Dia turunkan kepada hambaNya dan RasulNya yang mulia. Allah berfirman, (Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran) yaitu dengan kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya bahwa itu dari sisi Allah (membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab) yaitu kitab-kitab sebelumnya yang menyebutkan dan memuji Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an akan diturunkan dari sisi Allah kepada hamba dan RasulNya, Muhammad SAW. Maka turunnya Al-Qur’an itu sebagaimana yang diberitakan oleh kitab-kitab itu, dimana Al-Qur’an menambah kebenaran bagi orang-orang yang memegang teguh kitab-kitab itu dari kalangan orang-orang yang berilmu yang patuh kepada perintah Allah, mengikuti syariat-syariatNya, dan membenarkan rasul-rasulNya, sebagaimana Allah SWT berfirman (Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud (107) dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi" (108)) (Surah Al-Isra') yaitu jika apa yang dijanjikan Allah melalui lisan para rasulNya yang terdahulu sebelum nabi Muhammad SAW (pasti dipenuhi) yaitu pasti akan terjadi, tanpa bisa disangkal, dan tidak ada keraguan dalam hal itu.
Firman Allah, (dan menjaganya) Sufyan Ats-Tsauri dan lainnya meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari At-Taimiy, dari Ibnu Abbas, dia berkata, "maknanya, mempercayainya"
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa “Al-Muhaimin” adalah yang dipercayai, yaitu Al-Qur’an itu dipercayai oleh kotab-kitab sebelumnya.
Diriwayatkan dari Al-Walibi dari Ibnu Abbas, bahwa (Muhaimin)maknanya adalah saksi. Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan As-Suddi.
Semua pendapat ini memiliki makna yang serupa, karena nama "Al-Muhaimin" mencakup semuanya: bahwa maknanya adalah dipercaya, saksi, dan hakim atas semua kitab sebelumnya. Allah menjadikan kitab yang agung ini sebagai kitab yang diturunkan di akhir semua kitab, sebagai penutup semua kitab, dan sebagai kitab yang paling mencakup semuanya, paling agung di antara semuanya, dan paling sempurna, dimana menggabungkan kebaikan-kebaikan dari kitab-kitab sebelumnya dan menambahkannya dengan keutamaan-keutamaan yang tidak ada dalam kitab-kitab lainnya. Oleh karena itu, Allah menjadikannya sebagai saksi, sesuatu yang dipercaya, dan hakim atas semua kitab tersebut. Allah SWT berjanji untuk menjaganya dengan DzatNya yang Maha Mulia, Dia berfirman, (Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (9)) (Surah Al-Hijr).
Firman Allah, (maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan), yaitu "Putuskanlah, wahai Muhammad, perkara di antara manusia, baik dari bangsa Arab maupun non-Arab, yang tidak bisa baca tulis maupun yang ahli baca tulis, dengan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu dalam kitab yang agung ini, dan berdasarkan beberapa hukum yang telah ditetapkan Allah untukmu berupa hukum yang telah digunakan oleh para nabi sebelummu yang belum dinasakh dalam syariatmu." Demikian juga Ibnu Jarir memaknainya demikian.
Firman Allah, (dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka), yaitu pendapat yang telah mereka sepakati, dan karena itu mereka meninggalkan apa yang diturunkan Allah kepada para rasulNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, (dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu) yaitu janganlah kamu berpaling dari kebenaran yang telah diperintahkan Allah kepadamu menuju kepada hawa nafsu orang-orang bodoh yang fasik itu.
Firman Allah, (Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, telah Kami berikan aturan dan jalan yang terang).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat (Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, telah Kami berikan aturan) dia berkata,”maknanya adalah jalan”. (dan jalan yang terang) dia berkata,”maknanya adalah sunnah”
Demikian juga diriwayatkan dari Mujahid, ‘Ikrimah, Hasan Al-Bashri, Qatadah, Adh-Dhahhak, As-Suddi, dan Abu Ishaq As-Sabi'i, mereka berkata: (aturan dan jalan yang terang) maknanya adalah jalan dan tuntunan. Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan ‘Atha' Al-Khurasani berpendapat sebaliknya: yaitu tuntunan dan jalan.
Pendapat pertama lebih sesuai karena “Asy-Sir’ah” (yang juga merupakan syari’ah) adalah adalah permulaan yang digunakan untuk mencapai sesuatu. Dikatakan juga “Syara’a kadza” maknanya yaitu memulai dengan hal itu. Demikian pula makna syari'ah, yaitu sesuatu yang dipakai untuk berlayar di atas air. Sedangkan "Al-Minhaj" adalah jalan yang jelas dan mudah, sedangkan “As-Sunan” adalah tuntunan-tuntunan.
Jadi tafsir dari firmanNya, (Syir'atan wa minhajan) dengan jalan dan tuntunan itu lebih jelas kaitannya daripada kebalikannya. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Kemudian hal ini memberitahukan tentang umat-umat yang beragam agamanya, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah melalui rasul-rasulNya yang mulia berupa syariat yang beragam, tetapi sama dalam ketentuannya, yaitu tauhid.. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits shahih Imam Bukhari dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kami para nabi adalah saudara-saudara yang berlainan ibu, tetapi agama kami satu” yaitu dengan ajaran tauhid yang diperintahkan Allah kepada setiap rasul yang Dia utus, dan terkandung di dalamnya semua kitab yang Dia diturunkan. Sebagaimana Allah SWT berfirman, (Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian”) (25)) (Surah Al-Anbiya) dan (Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu") (Surah An-Nahl: 36). Adapun syariat-syariat yang beragam itu dalam hal perintah danlarangan. Terkadang sesuatu bisa diharamkan dalam syariat ini, kemudian dihalalkan dalam syariat lain, dan sebaliknya. Terkadang sesuatu yang ringan dijadikan lebih berat dalam syariat ini, namun tidak pada syariat itu. Dalam hal ini terdapat hikmah yang jelas dan hujjah yang kuat dari Allah SWT yang menentukannya.
Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: (Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu) yaitu bahwa Allah SWT telah menetapkan syariat-syariat yang berbeda, untuk menguji hamba-hambaNya dalam syariat yang diberikan kepada mereka, dan untuk memberi pahala atau hukuman kepada mereka berdasarkan ketaatan atau kedurhakaan mereka kepadaNya melalui apa yang mereka perbuat dan mereka yakini dari semua itu"
Abdullah bin Katsir berkata, (terhadap pemberian-Nya kepadamu) yakni kitab.
Kemudian, Allah SWT menyarankan mereka untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan menyegerakan dalam melakukannya. Allah berfirman, (maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan) yaitu taat kepada Allah dan mengikuti syariatNya yang telah Dia buat untuk menasakh kitab yang sebelumnya, serta membenarkan kitab Al-Qur'an yang merupakan akhir dari kitab yang Dia turunkan.
Kemudian Allah SWT berfirman, (Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya) yaitu tempat kembali kalian semua wahai manusia pada hari kiamat (lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu) yaitu Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang kebenaran yang kalian perselisihkan. Lalu Dia akan membalas orang-orang yang jujur dengan kejujuran mereka dan menghukum orang-orang yang kafir, ingkar, dan mendustakan kebenaran, serta menyimpang darinya menuju hal lain tanpa dalil dan bukti yang jelas, bahkan mereka adalah orang-orang yang keras kepala terhadap bukti yang jelas, hujjah yang terang, dalil bukti yang pasti.
Adh-Dhahhak berkata tentang firmanNya, (maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan) yaitu umat nabi Muhammad SAW. Pendapat pertama adalah adalah yang paling jelas.
Firman Allah: (dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka) Ini adalah penegasan untuk melaksanakan perintah sebelumnya dan larangan untuk melanggar perintah itu.
Kemudian Allah SWT berfirman: (Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu) yaitu berhati-hatilah terhadap musuh-musuhmu, yaitu orang-orang Yahudi, dimana mereka memalsukan kebenaran dalam hal-hal yang mereka cegah agar tidak sampai kepadamu. Janganlah kamu tertipu dengan merasa, karena mereka adalah pendusta, kafir, dan pengkhianat. (Jika mereka berpaling) dari hukum yang kamu putuskan di antara mereka sesuai dengan kebenaran, lalu mereka melanggar syariat Allah, (maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka) yaitu ketahuilah bahwa hal itu terjadi karena takdir dan kebijaksanaan Allah atas mereka untuk membuat mereka menyimpang dari petunjuk akibat dari dosa-dosa mereka yang lalu yang mengakibatkan kesesatan dan kedengkian mereka (Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik) yaitu sesungguhnya kebanyakan manusia itu tidak mau taat kepada Tuhan mereka, menentang dan menjauh dari kebenaran. Sebagaimana Allah berfirman: (Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (103)) (Surah Yusuf), dan (Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah) (Surah Al-An'am: 116).
Firman Allah (Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (50)) Allah menolak orang menyimpang dari hukumNya yang bijaksana dan mencakup setiap kebaikan, menolak sagala jenis keburukan, dan berbuat adil kepada apa saja selainNya berupa pandangan, keinginan, dan istilah-istilah yang mereka ciptakan tanpa dasar dari syariat Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yang menetapkan hukum-hukum sesat dan salah, berdasarkan pendapat dan keinginan mereka sendiri.
(dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?) yaitu, siapakah yang lebih adil daripada Allah dalam memberikan hukum bagi orang-orang yang telah mengerti hukum Allah, beriman kepadaNya, dan mengetahui bahwa Allah adalah Dzat yang paling adil di antara para hakim, dan Dzat yang paling mengasihi ciptaanNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya?. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan Maha Adil atas segala sesuatu


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Surat Al-Ma’idah ayat 49: Yaitu yang disebutkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah, dan itulah keadilan.

Sehingga kamu meninggalkan hukum Allah karena mengikuti hawa nafsu mereka.

Untuk dosa-dosa ada hukumannya, baik segera maupun ditunda nanti, di antara hukuman yang paling besar adalah dijadikan indah kemaksiatan akibat kefasikannya.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Ma’idah Ayat 49

Selanjutnya ingatlah, wahai nabi Muhammad, ketika orang-orang yahudi mengajukan persoalan di antara mereka dan mengharapkan keputusanmu, maka tetapkanlah sesuai aturan dan hendaklah engkau memutuskan perkara yang terjadi di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, sebagaimana yang terdapat dalam taurat, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka yang menyebabkan terjadinya kezaliman terhadap sebagian yang lain. Karena itu, hati-hati dan waspadalah terhadap sikap dan perkataan mereka, jangan sampai mereka berhasil memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu Al-Qur'an yang berisi petunjuk yang lebih lurus. Jika mereka berpaling dari hukum yang telah diturunkan Allah dan tidak mau mengikutinya, maka ketahuilah bahwa dengan keadaan itu sesungguhnya Allah berkehendak untuk menimpakan musibah sebagai peringatan kepada mereka yang disebabkan oleh sebagian dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Itulah pelajaran dan ujian bagi mereka, namun sungguh banyak manusia tidak menyadarinya, sehingga mereka ini adalah termasuk sebagai orang-orang yang fasik, yaitu mereka yang tidak melaksanakan ajaran yang diimaninyaapakah keinginan yang tidak sesuai dengan ajaran Allah itu karena mereka ingin kembali pada hukum jahiliah yang mereka kehendaki' sesungguhnya hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum yang telah ditetapkan Allah, yaitu yang telah disyariatkan bagi orang-orang yang benar-benar beriman dan yang meyakini agama-Nya'


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Demikianlah pelbagai penafsiran dari berbagai ahli ilmu mengenai makna dan arti surat Al-Ma’idah ayat 49 (arab-latin dan artinya), moga-moga membawa faidah untuk kita bersama. Bantu kemajuan kami dengan memberi tautan ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Link Paling Banyak Dilihat

Terdapat berbagai materi yang paling banyak dilihat, seperti surat/ayat: Al-Falaq, Do’a Setelah Adzan, An-Naba, Al-Kafirun, Seribu Dinar, Al-Hujurat 13. Serta Adh-Dhuha, Al-A’la, Al-Fatihah, Yusuf 28, Al-Qadr, Al-Isra 32.

  1. Al-Falaq
  2. Do’a Setelah Adzan
  3. An-Naba
  4. Al-Kafirun
  5. Seribu Dinar
  6. Al-Hujurat 13
  7. Adh-Dhuha
  8. Al-A’la
  9. Al-Fatihah
  10. Yusuf 28
  11. Al-Qadr
  12. Al-Isra 32

Pencarian: surat anajiat, al baqarah ayat 150, surat al fajar, adz dzariyat ayat 56, surah al mu'minun ayat 12-14

Surat dan Ayat Rezeki

Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" dengan sharing informasi tentang TafsirWeb!

Cara Sharing Manual:

Copy-paste text di bawah, kirim ke lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
✅ Klik *tafsirweb.com/start* untuk menikmati tafsir al-Qur'an
 
✅ Klik *tafsirweb.com/pahala* lalu kirim informasi ini ke 5 group lainnya untuk dapat pahala jariyah

Cara Sharing Otomatis:

Klik Di Sini 👉 pilih lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti 👉 klik tombol kirim

Bonus Setelah Sharing:

Setelah Anda melakukan sharing, klik tombol di bawah: