Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Yusuf

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

Arab-Latin: alif lām rā, tilka āyātul-kitābil mubīn

Terjemah Arti:  1.  Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Alif lam Ro. Keterangan tentang huruf-huruf yang terpotong-potong (diawal surat) telah berlalu di muka pada permulaan surat al-baqarah. Ini adalah ayat-ayat kitab yang nyata lagi jelas dalam makna-maknanya, halal dan haramnya, serta hidayahnya.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

innā anzalnāhu qur`ānan ‘arabiyyal la’allakum ta’qilụn

 2.  Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Sesungguhnya kami telah menurunkan al-qur’an ini dengan berbahasa arab, agar kalian (wahai bangsa arab), dapat mencerna makna-maknanya dan memahaminya serta mengamalkan petunjuknya.

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

naḥnu naquṣṣu ‘alaika aḥsanal-qaṣaṣi bimā auḥainā ilaika hāżal-qur`āna wa ing kunta ming qablihī laminal-gāfilīn

 3.  Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Kami menceritakan kepadamu (wahai rasul), kisah terbaik dengan mewahyukan al-qur’an ini kepadamu, dan kamu sebelum turunnya al-qur’an itu benar-benar termasuk orang yang tidak mengerti berita-berita tersebut, tidak mengetahuinya sama sekali.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

iż qāla yụsufu li`abīhi yā abati innī ra`aitu aḥada ‘asyara kaukabaw wasy-syamsa wal-qamara ra`aituhum lī sājidīn

 4.  (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.

Sebutkanlah (wahai rasul), kepada kaummu perkataan yusuf kepada ayahnya, ”sesungguhnya aku bermimpi melihat dalam tidurku sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka semua itu bersujud kepadaku.” mimpi ini menjadi pembuka kabar gembira atas martabat yang dicapai oleh yusuf  berupa kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

qāla yā bunayya lā taqṣuṣ ru`yāka ‘alā ikhwatika fa yakīdụ laka kaidā, innasy-syaiṭāna lil-insāni ‘aduwwum mubīn

 5.  Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Ya’qub berkata kepada putranya, yusuf, ”wahai putraku, janganlah kamu sebutkan mimpi ini kepada saudara-saudara lelakimu, nanti mereka akan dengki kepadamu, lalu memusuhimu dan merencanakan makar untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan bagi manusia adalah musuh yang jelas permusuhannya

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa każālika yajtabīka rabbuka wa yu’allimuka min ta`wīlil-aḥādīṡi wa yutimmu ni’matahụ ‘alaika wa ‘alā āli ya’qụba kamā atammahā ‘alā abawaika ming qablu ibrāhīma wa is-ḥāq, inna rabbaka ‘alīmun ḥakīm

 6.  Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sebagiamana tuhanmu telah memperlihatkan mimpi ini kepadamu, demikian pula Dia memilihmu dan mengajarkan kepadamu ta’bir mimpi yang dilihat manusia dalam tidur mereka, yang ditakwil kepada peristiwa nyata yang akan terjadi, dan menyempurnakan kenikmatanNya padamu dan pada keluarga ya’qub dengan karunia kenabian dan risalah, sebagaimana telah disempurnakanNya pada dua bapakmu;Ibrahim dan ishaq, dengan karunia kenabian dan risalah. Sesungguhnya tuhanmu maha mengetahui siapa yang pantas dipilihNya dari hamba-hambaNya juga mahabijaksana dalam pengaturan urusan-urusan makhluk-makhlukNya.”

۞ لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ

laqad kāna fī yụsufa wa ikhwatihī āyātul lis-sā`ilīn

 7.  Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.

Sesungguhnya dalam kisah yusuf dan saudara-saudara lelakinya terdapat pelajaran-pelajaran dan bukti-bukti petunjuk yang menunjukan kekuasaan Allah dan hikmahNya bagi orang yang mau bertanya tentang kisah-kisah mereka dan berkeinginan untuk mengetahuinya.

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

iż qālụ layụsufu wa akhụhu aḥabbu ilā abīnā minnā wa naḥnu ‘uṣbah, inna abānā lafī ḍalālim mubīn

 8.  (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

ketika saudara-saudara yusuf seayah berkata di antara mereka sendiri, ”sesungguhnya yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai ayah kita daripada kita, dia lebih mengutamakan mereka berdua di atas kita, padahal kita kumpulan orang yang berjumlah lebih banyak. sesungguhnya ayah kita benar-benar dalam kekeliruan yang nyata, lantaran lebih mengutamakan mereka berdua daripada kita, tanpa ada alasan benar menurut pandangan kita.

اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ

uqtulụ yụsufa awiṭraḥụhu arḍay yakhlu lakum waj-hu abīkum wa takụnụ mim ba’dihī qauman ṣāliḥīn

 9.  Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”.

Bunuhlah yusuf atau buanglah dia ke daerah asing lagi jauh dari pemukiman, niscaya cinta ayah kalian dan perhatiannya kepada kalian akan murni menjadi milik kalian, dan dia tidak akan menoleh dari kalian kepada selain kalian, lalu setelah membunuh yusuf atau membuangnya jauh, kalian menjadi orang yang bertaubat kepada Allah, memohon ampunan kepadaNya setelah dosa yang kalian perbuat.

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

qāla qā`ilum min-hum lā taqtulụ yụsufa wa alqụhu fī gayābatil-jubbi yaltaqiṭ-hu ba’ḍus-sayyārati ing kuntum fā’ilīn

 10.  Seorang diantara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat”.

Ada orang yang berkata dari saudara-saudara yusuf, ”janganlah kalian membunuh yusuf, akan tetapi lemparkanlah dia ke dalam dasar sumur agar sebagian orang yang melintas dari orang-orang musafir akan memungutnya, sehingga kalian akan bebas darinya, dan tidak ada perlunya membunuh dia, jika kalian memang bertekad untuk melakukan apa yang kalian katakan.

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

qālụ yā abānā mā laka lā ta`mannā ‘alā yụsufa wa innā lahụ lanāṣiḥụn

 11.  Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.

berkata saudara-saudara yusuf, setelah bersepakat membuang yusuf, ”wahai ayah kami, mengapa engkau tidak menganggap kami orang-orang yang dapat di percaya atas yusuf, padahal yusuf adalah saudara kami sendiri, sedang kami menginginkan kebaikan baginya, menyayanginya dan perhatian kepadanya, serta mengistimewakan dengan niat tulus kami kepadanya?

أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

arsil-hu ma’anā gaday yarta’ wa yal’ab wa innā lahụ laḥāfiẓụn

 12.  Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya”.

biarkanlah dia pergi bersama kami besok, ketika kami pergi keluar menuju padang rumput, tempat kami menggembala, agar dia dapat berlari, beraktifitas, bergembira, dan dapat bermain berloma-lomba dan lainnya dari berbagai macam permainan yang boleh. Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya dari segala yang engkau khawatirkan padanya.”

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

qāla innī layaḥzununī an taż-habụ bihī wa akhāfu ay ya`kulahuż-żi`bu wa antum ‘an-hu gāfilụn

 13.  Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya”.

Ya’qub berkata, ”sesungguhnya amat menyedihkan diriku perpisahan dengannya, bila kalian pergi bersamanya kepadang rumput, dan aku takut serigala akan memangsanya, saat kalian lalai terhadapnya dan sibuk dengan urusan kalian sendiri.

قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ

qālụ la`in akalahuż-żi`bu wa naḥnu ‘uṣbatun innā iżal lakhāsirụn

 14.  Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi”.

Sauadara-saudara yusuf berkata kepada ayah mereka, ”bila dia dimangsa serigala, padahal kami kumpulan orang yang kuat, maka sesungguhnya jika demikian, kami adalah orang-orang yang rugi, tidak ada kebaikan pada diri kami lagi dan tidak ada manfaat dari kami yang dapat diharap-harapkan.

فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

fa lammā żahabụ bihī wa ajma’ū ay yaj’alụhu fī gayābatil-jubb, wa auḥainā ilaihi latunabbi`annahum bi`amrihim hāżā wa hum lā yasy’urụn

 15.  Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi”.

Maka ya’qub melepasnya pergi bersama mereka. Lalu ketika mereka berhasil membawanya pergi bersama mereka dan telah bersepakat untuk melemparkannya ke dasar sumur, kami wahyukan kepada yusuf bahwa ”sesunggguhnya kamu nantinya benar-benar akan memberitahukan kepada saudara-saudaramu pada waktu yang akan datang tentang tindakan mereka yang mereka perbuat kepadamu, sedang mereka tidak merasa dan menyadari hal tersebuat.

وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ

wa jā`ū abāhum ‘isyā`ay yabkụn

 16.  Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.

Dan datanglah keluarga-keluarga Yusuf kepada ayah mereka pada waktu isya di permulaan malam dalam keadaan menangis dan memperlihatkan perasaan sesal lagi gelisah.

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

qālụ yā abānā innā żahabnā nastabiqu wa taraknā yụsufa ‘inda matā’inā fa akalahuż-żi`b, wa mā anta bimu`minil lanā walau kunnā ṣādiqīn

 17.  Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar”.

Mereka berkata, ”wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi bersama berlomba-lomba lari dan memanah dan kami tinggalkan yusuf di sisi perbekalan dan pakaian kami. Kami tidaklah lalai untuk menjaganya. Akan tetapi, kami tempatkan dia di tempat aman yang telah kami pilih, dan kami tidaklah meninggalkannya kecuali sebentar saja, lalu serigala memangsanya. Dan engkau pasti tidak akan percaya kepada kami, meskipun kami orang-orang yang dikenal jujur, lantaran besarnya kecintaanmu kepada yusuf.”

وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

wa jā`ụ ‘alā qamīṣihī bidaming każib, qāla bal sawwalat lakum anfusukum amrā, fa ṣabrun jamīl, wallāhul-musta’ānu ‘alā mā taṣifụn

 18.  Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan”.

Dan mereka pulang dengan membawa pakaiannya yang telah dilumpuri darah, namun bukan darah yusuf, untuk membuktikan kejujuran ucapan mereka, namun justru menjadi bukti petunjuk kedustaan mereka, sebab pakaian itu tidaklah terkoyak-koyak. Maka ayah mereka ya’qub alaihi salam berkata kepada mereka, ”kejadiannya tidak seperti yang kalian katakan. Akan tetapi, telah mebuat terlihat baik jiwa kalian yang suka memerintahkan keburukan memerintah keburukan kepada yusuf dan telah menjadikan kalian memandangnya baik-baik saja dan kemudian kalian lakukan. Maka kesabaranku adalah kesabaran yang baik, tidak disertai keluhan kepada siapa pun dari makhluk. Dan aku memohon pertolongan kepada Allah untuk menanggung beban akibat kedustaan yang kalian ungkapkan, bukan kepada daya dan kekuatanku sendiri.”

وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

wa jā`at sayyāratun fa arsalụ wāridahum fa adlā dalwah, qāla yā busyrā hāżā gulām, wa asarrụhu biḍā’ah, wallāhu ‘alīmum bimā ya’malụn

 19.  Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan tibalah satu rombongan dari orang-orang musafir. Mereka mengutus orang untuk mencarikan air bagi mereka. Maka ketika orang tersebut memasukkan ember ke dalam sumur, yusuf bergantung padanya. Maka orang yang mengambil air itu senang, berbinar, karena mendapatkan seorang anak, dan dia berkata, ”wah ada kabar yang menyenangkan. Ini ada anak lelaki yang berharga mahal.” tukang air itu dan sejumlah temannya menyembunyikan yusuf dari anggota rombongan musafir yang lainnya dan tidak menampakannya kepada mereka. Mereka berkata, ’ini adalah barang perniagaan yang kami bawa.” dan Allah mahamengetahui apa yang mereka lakukan terhadap yusuf.

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

wa syarauhu biṡamanim bakhsin darāhima ma’dụdah, wa kānụ fīhi minaz-zāhidīn

 20.  Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.

Sauadara-saudara yusuf menjualnya kepada para pendatang dari rombongan musafir tersebut dengan harga yang murah. Mereka merasa tidak butuh terhadap yusuf dan ingin bebas darinya. Demikian ini lantaran mereka tidak mengetahui kedudukan yusuf di sisi Allah.

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa qālallażisytarāhu mim miṣra limra`atihī akrimī maṡwāhu ‘asā ay yanfa’anā au nattakhiżahụ waladā, wa każālika makkannā liyụsufa fil-arḍi wa linu’allimahụ min ta`wīlil-aḥādīṡ, wallāhu gālibun ‘alā amrihī wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 21.  Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.

Dan ketika rombongan orang-orang musafir itu pergi membawa yusuf menuju negeri mesir, seorang pembesar mesir membelinya dari mereka, dia itu seorang menteri. Dan dia berkaat kepada istrinya, ”perlakukanlah dia dengan baik, dan tempatkanlah dia di tempat posisi yang mulia di tempat kita. Semoga kita bisa memanfaatkannya untuk melayani kita, atau kita suruh tinggal bersama kita layaknya anak sendiri.” Dan sebagaimana kami telah selamtakan yusuf dan kami jadikan pembesar mesir merasa iba kepadanya, demikian pula kami memberikan kekuasaan kepada yusuf di negeri mesir, dan kami menjadikannya pemegang perbendaharaan kekayaannya, dan agar kami juga mengajarkan kepadanya ta’bir mimpi, sehingga dia dapat mengetahui dari mimpi itu peristiwa-peristiwa yang akan terjadi kemudian. Dan Alah mahakuasa atas urusanNya, ketetapannNya pasti terlaksana, tidak ada orang yang menghambatnya. Akan tetapi, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa urusan-urusan semuanya ada di tangan Allah.

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

wa lammā balaga asyuddahū ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmā, wa każālika najzil-muḥsinīn

 22.  Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan ketika yusuf mencapai puncak kekuatannya dalam masa mudanya, kami anugerahkan kepadanya pemahaman dan ilmu. Dan dengan balasan serupa yang kami beriikan kepada yusuf atas perbuatan baiknya, kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik atas tindakan baik mereka. Disini terkandung hiburan bagi rasulullah  .

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

wa rāwadat-hullatī huwa fī baitihā ‘an nafsihī wa gallaqatil-abwāba wa qālat haita lak, qāla ma’āżallāhi innahụ rabbī aḥsana maṡwāy, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

 23.  Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

Dan istri menteri mengajak yusuf yang berada di dalam rumahnya dengan lemah lembut, untuk berbuat keji dengan dirinya, lantaran ketertarikannya kepada yusuf yang amat besar dan ketampanan parasnya, dan dia mengunci pintu-pintu sehingga hanya ada dia dan Yusuf di sana, lalu berkata, “kemarilah kepadaku.” Yusuf menjawab, “Aku berlindung kepada Allah. Aku memohon penjagaan dan perlindungan kepadaNya dari keinginan yang kamu mengajakku kepadanya, dan dari berhianat terhadap tuanku yang telah menempatkanku pada martabat yang baik, dan memuliakanku, maka aku tidak mau menghianatinya dalan hal istrinya. Sesungghunya tidak beruntung orang yang berbuat kezhaliman dan melakukan sesuatu yang tidak pantas dia perbuat.

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

wa laqad hammat bihī wa hamma bihā, lau lā ar ra`ā bur-hāna rabbih, każālika linaṣrifa ‘an-hus-sū`a wal-faḥsyā`, innahụ min ‘ibādinal-mukhlaṣīn

 24.  Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Dan sesungguhnya jiwa wanita telah condong untuk berbuat kekejian, sedang jiwa Yusuf telah membisiki dirinya dengan bisikan hati untuk memenuhi ajakannya, seandainya dia tidak melihat tanda dari tanda-tanda Tuhanya yang menghalanginya dari apa yang dibisikan jiwanya. Sesungguhnya kami memperlihatkan padanya tanda tersebut, agar kami dapat menyingkirkan darinya hal yang buruk dan perbuatan keji dalam seluruh urusannya. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba kami yang bersih lagi terpilih untuk mengemban risalah, yang ikhlas dalam ibadah mereka kepada Allah dan pengesaanNya.

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wastabaqal-bāba wa qaddat qamīṣahụ min duburiw wa alfayā sayyidahā ladal-bāb, qālat mā jazā`u man arāda bi`ahlika sū`an illā ay yusjana au ‘ażābun alīm

 25.  Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?”

dan Yusuf bersegera menuju pintu untuk keluar, dan sang wanita itu pun beranjak segera untuk mencoba menahannya dan menarik pakaian yusuf dari belakang, untuk menghalanginya keluar, sampai merobek pakaiannya, dan keduanya mendapati suami wanita tersebut di depan pintu. Lalu wanita itu berkata, ”apa balasan orang yang berhasrat melakukan perbuatan keji kepada istrimu selain di hukum penjara atau di ditimpakan hukuman dengan siksaan yang pedih?”

قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

qāla hiya rāwadatnī ‘an nafsī wa syahida syāhidum min ahlihā, ing kāna qamīṣuhụ qudda ming qubulin fa ṣadaqat wa huwa minal-kāżibīn

 26.  Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.

Yusuf berkata, ”Dialah yang mengajaku kepada perbuatan tersebut.” dan seorang anak kecil dari keluarganya masih dalam ayunan bayi bersaksi dengan berkata, ”Apabila pakaiannya robek dari arah depan, maka wanita itu benar dalam tuduhannya terhadap yusuf, dan yusuf termasuk orang-orang yang dusta.”

وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ

wa ing kāna qamīṣuhụ qudda min duburin fa każabat wa huwa minaṣ-ṣādiqīn

 27.  Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”.

Dan apabila pakaiannya robek dari bagian belakang, maka wanita itu berdusta dalam tuduhannya, dan yusuf termasuk orang-orang yang berkata jujur.”

فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

fa lammā ra`ā qamīṣahụ qudda min duburing qāla innahụ ming kaidikunn, inna kaidakunna ‘aẓīm

 28.  Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”.

Maka ketika sang suami melihat pakaian yusuf robek dari bagian belakang, dia pun tahu yusuf tidak berbuat apa-apa, dan dia berkata kepada istrinya, ”sesungguhnya kedustaan yang kamu tuduhkan kepada pemuda ini termasuk dari tipu daya kalian wahai para wanita, sesungguhnya tipu daya kalian adalah besar.

يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ

yụsufu a’riḍ ‘an hāżā wastagfirī liżambiki innaki kunti minal-khāṭi`īn

 29.  (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah”.

mentri mesir itu berkata, ”wahai yusuf, lupakanlah tindakan yang diperbuatnya, janganlah kamu menyebutnya kepada siapapun. Dan mintalah oleh kamu wahai istriku ampunan untuk dosamu. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang berbuat dosa saat menggoda yusuf untuk menundukan dirinya dan tuduhan dustamu terhadapnya.

۞ وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa qāla niswatun fil-madīnatimra`atul-‘azīzi turāwidu fatāhā ‘an nafsih, qad syagafahā ḥubbā, innā lanarāhā fī ḍalālim mubīn

 30.  Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata”.

dan berita itu sampai ke wanita-wanita di kota itu, sehingga mereka ramai memperbincangkannya. Dan mereka berkata untuk mengingkari (perbuatan) istri sang mentri, ”sesungguhnya istri sang mentri mencoba menundukan pelayannya dan mengajaknya untuk berbuat keji dengan dirinya. Sesungguhnya ketertarikan kepada pemuda itu telah mencapai puncak kecintaan hatinya. Sesungguhnya kami memandangnya dengan perbuatan tersebut, dalam kesesatan yang nyata.”

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

fa lammā sami’at bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a’tadat lahunna muttaka`aw wa ātat kulla wāḥidatim min-hunna sikkīnaw wa qālatikhruj ‘alaihinn, fa lammā ra`ainahū akbarnahụ wa qaṭṭa’na aidiyahunna wa qulna ḥāsya lillāhi mā hāżā basyarā, in hāżā illā malakung karīm

 31.  Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”.

maka ketika istri sang mentri itu mendengar gunjingan mereka terhadap dirinya dan ulah mereka untuk mencelanya, maka dia mengutus seseorang kepada mereka untuk mengundang mereka berkunjung ke rumahnya. Dan dia telah mempersiapkan bagi mereka peralatan untuk mereka bersandar berupa bantal-bantal dan makanan-makanan yang akan mereka santap, dan memberikan kepada setiap-setiap wanita sebilah pisau untuk mereka gunakan memotong makanan. Selanjutnya, dia berkata kepada yusuf, ”keluarlah kehadapan mereka.” Ketika mereka memandangnya, mereka mengagungkannya dan memuliakannya, dan membuat mereka terpesona oleh kebaikan dan ketampanannya, sehingga mereka melukai tangan-tangan mereka sendiri, ketika mereka tengah mengiris-ngiris makanan, lantaran begitu luarbiasanya keadaan yang mencegangkan dan hilangnya kesadaran.Dan mereka berkata dengan penuh takjub, ”maha sempurna Allah. Ini bukanlah dari bangsa manusia, sebab ketampanannya tidak biasa ada pada bangsa manusia. Dia tidak lain adalah satu malaikat yang mulia dari bangsa malaikat.”

قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ

qālat fa żālikunnallażī lumtunnanī fīh, wa laqad rāwattuhụ ‘an nafsihī fasta’ṣam, wa la`il lam yaf’al mā āmuruhụ layusjananna wa layakụnam minaṣ-ṣāgirīn

 32.  Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina”.

Istri sang mentri itu berkata kepada para wanita yang mengiris-iris tangan mereka sendiri, ”kejadian yang kalian alami saat melihatnya ini, dialah pemuda yang kalian mencelaku lantaran akku tergoda dengannya. Sesungguhnya aku telah memintanya dan berusaha menggodanya agar mau menerima ajakanku, akan tetapi dia menolak dan enggan. Dan bila dia tetap menolak apa yang aku pinta kepadanya di waktu yang akan datang, pastilah dia akan di hukum dengan kurungan penjara, dan dia benar-benar termasuk orang-orang yang hina.”

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

qāla rabbis-sijnu aḥabbu ilayya mimmā yad’ụnanī ilaīh, wa illā taṣrif ‘annī kaidahunna aṣbu ilaihinna wa akum minal-jāhilīn

 33.  Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.

Yusuf berkata memohon perlindungan dari keburukan dan tipu daya mereka, ”wahai tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka pinta kepadaku berupa perbuatan zina. Dan bila engkau tidak menghindarkan dariku tipu daya mereka, niscaya aku akan condong kepada mereka dan aku akan termasuk orang-orang bodoh yang melakukan dosa karena kebodohan mereka.”

فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

fastajāba lahụ rabbuhụ fa ṣarafa ‘an-hu kaidahunn, innahụ huwas-samī’ul ‘alīm

 34.  Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kemudian Allah mengabulkan permohonan yusuf, lalu memalingkan darinya apa yang diinginkan oleh istri sang mentri dan kawan-kawan wanitanya untuk bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya Allah mahamendengar doa yusuf dan doa setiap orang yang memanjatkan doa dari makhlukNYa, maha mengetahui keinginan, kebutuhan dan apa saja yang memperbaiki keadaannya, dan kebutuhan seluruh mahklukNya dan apa saja yang memperbaiki keadaan mereka.

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ

ṡumma badā lahum mim ba’di mā ra`awul-āyāti layasjununnahụ ḥattā ḥīn

 35.  Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.

Kemudian muncul pikiran pada sang mentri dan rekan-rekannya, setelah menyaksikan bukti-bukti tentang terbebas dan terjaganya ke hormatan yusuf, untuk memenjarakannya hingga waktu yang lama atau pendek, demi menutup terbongkarnya skandal(aib) tresebut.

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

wa dakhala ma’ahus-sijna fatayān, qāla aḥaduhumā innī arānī a’ṣiru khamrā, wa qālal-ākharu innī arānī aḥmilu fauqa ra`sī khubzan ta`kuluṭ-ṭairu min-h, nabbi`nā bita`wīlih, innā narāka minal-muḥsinīn

 36.  Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur”. Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung”. Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).

Dan bersama yusuf, ada dua orang pemuda yang masuk penjara. yang pertama berkata, Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku memeras anggur untuk dibuat minuman keras.” Dan yang lain berkata, ”Sesungguhnya aku melihat diriku mengangkat roti di atas kepalaku yang dimakan oleh burung. Beritahukanlah kepada kami (wahai yusuf), tafsir mimpi yang kami lihat, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-oran yang melakukan hal terbaik dalam beribadah kepada Allah dan berinteraksi dengan sesama makhlukNya.

قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

qāla lā ya`tīkumā ṭa’āmun turzaqānihī illā nabba`tukumā bita`wīlihī qabla ay ya`tiyakumā, żālikumā mimmā ‘allamanī rabbī, innī taraktu millata qaumil lā yu`minụna billāhi wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn

 37.  Yusuf berkata: “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.

Yusuf berkata kepada mereka berdua, ”tidaklah ada makanan yang datang kepada kalian yang diberikan kepada kalian sebagia rizki kalian dalam keadaan apapun kecuali aku akan memberitahukan kepada kalian tafsir mimpinya sebelum makanan itu tiba kepada kalian. Tafsir yang akan aku ungkapakn nanti kepada kalian berasal dari apa yang diajarkan tuhanku padaku. Sesungguhnya aku beriman kepadaNya dan aku ikhlaskan ibadah bagiNya, dan aku jauhi agama kaum yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar terhadap hari kebangkitan dan pembalasan amal.

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

wattaba’tu millata ābā`ī ibrāhīma wa is-ḥāqa wa ya’qụb, mā kāna lanā an nusyrika billāhi min syaī`, żālika min faḍlillāhi ‘alainā wa ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurụn

 38.  Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).

Dan aku mengikuti agama nenek moyangku; Ibrahim, Ishaq , Dan Ya’qub. Aku menyembah Allah semata. Tidak sepantasnya bagi kami untuk menjadikan sekutu bagi Allah dalam peribadahan kepadaNya. Keyakiann betauhid dengan mengesakan Allah dalam ibadah, merupakan sebagian karunia yang Allah anugerahkan kepada kami dan kepada manusia. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak bersyukur kepada Allah atas kenikmatan bertauhid dan iman.”

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

yā ṣāḥibayis-sijni a arbābum mutafarriqụna khairun amillāhul-wāḥidul-qahhār

 39.  Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?

Yusuf berkata kepada dua pemuda yang bersamanya di dalam penjara, ”apakah penyembahan tuhan-tuhan yang berupa makhluk yang bermacam-macam lebih baik daripada peribadahan kepada Allah yang maha Esa lagi mahaperkasa?

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

mā ta’budụna min dụnihī illā asmā`an sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān, inil-ḥukmu illā lillāh, amara allā ta’budū illā iyyāh, żālikad-dīnul-qayyimu wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 40.  Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Kalian tidaklah menyembah selain Allah, kecuali hanya nama-nama yang tidak memiliki hakikat-hakikat di baliknya, kalian dan bapak-bapak kalian menjadikannya sebagai tuhan-tuhan, di sebabkan kebodohan yang ada pada kalian dan kesesatan kalian. Allah tidak menurunkan satu hujjah dan bukti apapun yang menunjukan kebenarannya. Keputusan yang haq tiada lain kecuali hanya milik Allah  saja, tiada sekututu bagiNya. Dia memerintahakan agar kalian tidak tunduk kepada selainNya, dan agar kalian semata-mata hanya beribadah kepadaNya. Ini lah agama yang lurus yang tidak ada unsur yang bengkok padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia buta terhadapnya, sehingga tidak mengetahui hakikatnya.

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ

yā ṣāḥibayis-sijni ammā aḥadukumā fa yasqī rabbahụ khamrā, wa ammal-ākharu fa yuṣlabu fa ta`kuluṭ-ṭairu mir ra`sih, quḍiyal-amrullażī fīhi tastaftiyān

 41.  Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.

Wahai dua penghuni penjara, aku sampaikan kepada kalian berdua penjelasan mimpi kalian, adapun orang yang melihat dirinya memeras anggur dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia akan keluar dari penjara dan akan menjadi pegawai yang menuangkan khamar kepada raja. sedangkan yang lain yang melihat dalam mimpinya bahwa dia membawa roti di atas kepalanya, sesungguhnya dia akan di salib dan di biarkan begitu saja, lalu burung mematok sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan ketetapan yang kalian meminta jawaban soal itu dan telah usai diputuskan.’

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

wa qāla lillażī ẓanna annahụ nājim min-humażkurnī ‘inda rabbika fa ansāhusy-syaiṭānu żikra rabbihī fa labiṡa fis-sijni biḍ’a sinīn

 42.  Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.

Dan yusuf berpesan kepada orang yang dia tahu akan selamat di antara dua temannya itu, ’sebutlah aku disisi tuanmu, sang raja, dan beritahukanlah padanya bahwa sesungguhnya aku adalah orang yang terzhalimi lagi di penjara tanpa dosa.” tapi setan membuat lelaki itu lupa untuk mengabarkan kepada sang raja keadaan yusuf. Akibatnya, yusuf tetap tinggal di dalam penjara setelah itu beberapa tahun lamanya.

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ

wa qālal-maliku innī arā sab’a baqarātin simāniy ya`kuluhunna sab’un ‘ijāfuw wa sab’a sumbulātin khuḍriw wa ukhara yābisāt, yā ayyuhal-mala`u aftụnī fī ru`yāya ing kuntum lir-ru`yā ta’burụn

 43.  Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi”.

Dan sang raja berakata, ”sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku ada tujuh sapi betina gemuk-gemuk yang dimangsa oleh tujuh ekor sapi betina yang sudah benar-benar lemah-lunglai, dan aku melihat tujuh bulir yang hijau-hijau dan tujuh bulir lain yang kering-kering. Wahai para petinggi dan para pembesar, sampaikanlah kepadaku ta’bir tentang mimpi ini, bila kalian adalah orang-orang yang sanggup menafsirkan mimpi.

قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ

qālū aḍgāṡu aḥlām, wa mā naḥnu bita`wīlil-aḥlāmi bi’ālimīn

 44.  Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu”.

Mereka menjawab, ”mimpimu hanya rangkain bunga-bunga tidur belaka, tidak ada ta’wil maknanya. Dan kami bukan orang-orang yang tahu menafsirkan bunga-bunga tidur.

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

wa qālallażī najā min-humā waddakara ba’da ummatin ana unabbi`ukum bita`wīlihī fa arsilụn

 45.  Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”.

Dan berkatalah orang yang selamat dari hukuman mati dari dua teman yusuf di dalam penjara, dan diapun teringat setelah sekian lama lupa tentang yusuf, ”aku akan memberitahukan kepada kalian dengan tafsir mimpi ini. Maka utuslah aku kepada yusuf supaya aku dapat membawakan tafsirnya kepada kalian.

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ

yụsufu ayyuhaṣ-ṣiddīqu aftinā fī sab’i baqarātin simāniy ya`kuluhunna sab’un ‘ijāfuw wa sab’i sumbulātin khuḍriw wa ukhara yābisātil la’allī arji’u ilan-nāsi la’allahum ya’lamụn

 46.  (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya”.

Dan ketika lelaki itu sampai kepada yusuf, dia berkata kepadanya, ”yusuf, wahai orang yang selalu berkata benar, jelaskanlah kepada kami tafsir mimpi orang yang melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh sapi betina kurus-kurus.Dan ia melihat tujuh bulir yang hijau-hijau dan tujuh bulir yang kering-kering. Mudah-mudahan aku dapat kembali kepada raja dan teman0temannya, lalu aku beritahukan kepada mereka, sehingga mereka akan tahu tafsir yang aku tanyakan kepadamu, dan agar mereka mengetahui kedudukan dan keutamaanmu.”

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

qāla tazra’ụna sab’a sinīna da`abā, fa mā ḥaṣattum fa żarụhu fī sumbulihī illā qalīlam mimmā ta`kulụn

 47.  Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Yusuf brkata kepada penanyanya soal mimpi raja tersebut, ”tafsir mimpi ini adalah bahwa hendaknya kalian menanam selama tujuh tahun berturut-turut dengan tekun agar hasil panen menjadi melimpah. Lalu hasil panen yang kalian hasilkan darinya setiap kali,maka simpanlah dan biarkan dalam bulir-bulirnya, supaya sempurna proses penyimpanannya dari gangguan ulat dan lebih bertahan lama, kecuali sebagian kecil saja yang kalian makan dari hasil-hasi biji-bijian itu.

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ

ṡumma ya`tī mim ba’di żālika sab’un syidāduy ya`kulna mā qaddamtum lahunna illā qalīlam mimmā tuḥṣinụn

 48.  Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

kemudian akan datang Setelah tujuh tahun yang makmur itu, tujuh tahun paceklik yang amat sulit, orang-orang memakan apa yang telah mereka simpan sebelumnya untuk menghadapinya, kecuali sedikit saja yang mereka pertahankan dan simpan untuk menjadi benih-benih tanaman.

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

ṡumma ya`tī mim ba’di żālika ‘āmun fīhi yugāṡun-nāsu wa fīhi ya’ṣirụn

 49.  Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur”.

Kemudian setelah tahun-tahun kekeringan tersebut datanglah tahun di mana manusia dilimpahi padanya dengan air hujan, lalu Allah  mengangkat kesulitan dari mereka, dan mereka dapat memeras buah-buahan padanya karena kesuburan yang merata dan hasil yang melipah ruah.

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ

wa qālal-maliku`tụnī bih, fa lammā jā`ahur-rasụlu qālarji’ ilā rabbika fas`al-hu mā bālun-niswatillātī qaṭṭa’na aidiyahunn, inna rabbī bikaidihinna ‘alīm

 50.  Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku”. Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka”.

Sang raja berkata kepada para stafnya, ”bebaskanlah orang yang telah mena’bir mimpi ini dari penjara dan hadapkan dia kepadaku,” maka kemudian ketika utusan raja datang kepada yusuf memanggilnya, yusuf berkata kepada utusan itu, ”kembalilah kepada tuanmu sang raja, dan mintalah bertanya kepada wanita-wanita yang dahulu mengiris-iris tangan mereka sendiri soal hakikat urusan mereka dan kepentingan mereka terhadapku, supaya tampak jelas fakta sebenarnya bagi seluruh orang dan menjadi jelas pula kebersihan namaku. Sesungguhnya tuhanku mahamengetahui tindakan dan perbuatan mereka, tidak tersembunyi bagiNya sesuatupun dari tindakan mereka itu.

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

qāla mā khaṭbukunna iż rāwattunna yụsufa ‘an nafsih, qulna ḥāsya lillāhi mā ‘alimnā ‘alaihi min sū`, qālatimra`atul-‘azīzil-āna ḥaṣ-ḥaṣal-ḥaqqu ana rāwattuhụ ‘an nafsihī wa innahụ laminaṣ-ṣādiqīn

 51.  Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”.

Raja berkata kepada wanita-wanita yang dahulu mengiris-iris tangan mereka, ”apa yang terjadi pada kalian sebenarnya, ketika kalian menggoda yusuf untuk menundukan dirinya (kepada kalian) pada hari penjamuan hidangan? apakah kalian melihat pada dirinya sesuatu yang mencurigakan?” mereka menjawab, ”kami berlindung kepada Allah. Kami tidak mengetahui padanya sekecil apapun yang mencorengnya, ”saat itulah istri sang mentri berkata, ”sekarang, jelaslah kebenaran setelah tertutupi. Akulah orang yang mencoba memfitnahnya, dengan cara menggodanya, namun dia menolak.Dan sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang jujur dalam semua yang diucapkannya.

ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

żālika liya’lama annī lam akhun-hu bil-gaibi wa annallāha lā yahdī kaidal-khā`inīn

 52.  (Yusuf berkata): “Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.

Ucapan yang aku katakan soal kesucian pribadi yusuf dan pengakuanku atas diriku sendiri agar suamiku mengetahui bahwa aku tidaklah berkhianat denga berdusta kepadanya saat dia tidak dirumah dan tidak terjadi padaku perbuatan zina, walaupum sesunggguhnya aku hanya sekedar menggodanya saja. Aku akui hal tersebut untuk membuktikan kebersihanku dan kebersihannya dan sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada orang yang mengkhianati amanat-amanat dan tidak menunjuki mereka dalam perbuatan khianat mereka.”

۞ وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm

 53.  Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Istri sang mentri itu berkata, ”Dan aku tidak membenarkan diriku dan tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Sesungguhnya (jiwa) manusia banyak memerintahkan pemiliknya untuk berbuat maksiat demi mencari kesenangan-kesenangannya, kecuali orang yang dilindungi Allah. Sesungguhnya Allah maha pengampun dosa-dosa orang yang bertaubat dari hamba-hambanYa lagi mahapenyayang terhadap mereka.”

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

wa qālal-maliku`tụnī bihī astakhliṣ-hu linafsī, fa lammā kallamahụ qāla innakal-yauma ladainā makīnun amīn

 54.  Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami”.

Dan raja penguasa mesir berkata ketika sampai kepadanya berita tentang bersihnya kepribadian yusuf, ”hadapkanlah dia kepadaku niscaya akan aku jadikan dia termasuk orang-orang kepercayaanku dan penasihat pribadiku.” Maka Ketika yusuf datang, dan sang raja berbicara dengannya, dan mengetahui ketrbebasan dirinya, besarnya sifat amanahnya dan kebaikan akhlaknya, dia berkata kepada yusuf ”sesungguhnya hari ini engkau di sisi kami berkedudukan tinggi dan dipercaya memegang semua urusan”.

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

qālaj’alnī ‘alā khazā`inil-arḍ, innī ḥafīẓun ‘alīm

 55.  Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Dan yusuf berkeinginan dapat mendatangkan manfaat bagi para hamba dan menegakan keadlian di tengah mereka, sehingga dia berkata kepada sang raja, ”jadikanlah aku penanggung jawab perbendaharan kekayaan mesir, Sesungguhnya aku seorang penjaga yang dapat dipercaya, berilmu lagi berpengetahuan tentang urusan yang aku pimpin.”

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

wa każālika makkannā liyụsufa fil-arḍi yatabawwa`u min-hā ḥaiṡu yasyā`, nuṣību biraḥmatinā man nasyā`u wa lā nuḍī’u ajral-muḥsinīn

 56.  Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Sebagiamana Allah telah mencurahkan kenikmatan kepada yusuf dengan selamat dari penjara, dia juga memberikan kekuasaan baginya di bumi mesir, dia bisa menduduki kedudukan dimana saja yang dikehendakinya. Allah mencurahkan rahmatNya kepada orang yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya yang bertakwa, dan tidak menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan amal shalih.

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

wa la`ajrul-ākhirati khairul lillażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

 57.  Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

Dan sungguh pahala akhirat di sisi Allah lebih agung daripada balasan di dunia bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, yaitu orang-orang yang takut kepada siksaan Allah dan menaatiNya dalam perintah dan laranganNya.

وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

wa jā`a ikhwatu yụsufa fa dakhalụ ‘alaihi fa ‘arafahum wa hum lahụ mungkirụn

 58.  Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir} lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya.

Dan datanglah saudara-saudara yusuf ke mesir setelah paceklik menimpa daerah mereka, untuk mendapatkan bahan makanan dari sana. Kemudian mereka menemuinya. Maka Yusuf mengenali mereka karena kuatnya firasat dan kecerdasannya, namun mereka tidak mengenalinya, karena waktu yang sudah berlalu lama dan perubahan penampilannya.

وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

wa lammā jahhazahum bijahāzihim qāla`tụnī bi`akhil lakum min abīkum, alā tarauna annī ụfil-kaila wa ana khairul-munzilīn

 59.  Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?

Dan yusuf memerintahkan supaya mereka dihormati dan di jamu dengan baik, lalu memberikan kepada mereka bahan makanan yang mereka minta. Dan sebelumnya mereka telah mengabarkan kepadanya bahwa mereka memiliki saudara seayah yang tidak mereka bawa bersama mereka. Maksud mereka adalah saudara kandung yusuf sendiri yaitu Bunyamin. Lalu yusuf berkata, ”bawalah saudara kalian yang seayah itu kepadaku. Tidaklaah kalian lihat aku menyempurnakan takaran bagi kalian dan aku muliakan kalian dalam perjamuan, dan aku adalah sebaik-baik orang nyang menjamu kalian?

فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ

fa il lam ta`tụnī bihī fa lā kaila lakum ‘indī wa lā taqrabụn

 60.  Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku”.

Maka apabila kalian tidak membawanya kepadaku, kalian tidak akan mendapatkan di sisiku jatah bahan makanan yang aku takarkan bagi kalian, dan jangan datang kepadaku.

قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ

qālụ sanurāwidu ‘an-hu abāhu wa innā lafā’ilụn

 61.  Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya”.

Mereka berkata, ”kami akan mengerahkan usaha kami untuk membujuk ayahnya agar mau melepasnya(pergi) bersama kami, dan kami tidak akan mengendorkan usaha untuk itu.

وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa qāla lifityānihij’alụ biḍā’atahum fī riḥālihim la’allahum ya’rifụnahā iżangqalabū ilā ahlihim la’allahum yarji’ụn

 62.  Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: “Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi”.

Dan yusuf berkata kepada para pembantunya, ”taruhlah kembali barang-barang penukar untuk membayar yang mereka ambil, ke dalam barang-braang bawaan mereka secara sembunti-sembunyi, semoga mereka mengetahui bila telah pulang ke keluarga mereka dan menghargai penghormatan kita kepada mereka, supaya mereka kembali ke sini lantaran berhasrat besar terhadap pemberian kiita.

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

fa lammā raja’ū ilā abīhim qālụ yā abānā muni’a minnal-kailu fa arsil ma’anā akhānā naktal wa innā lahụ laḥāfiẓụn

 63.  Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata: “Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya”.

Kemudian ketika mereka pulang kembali kepada ayah mereka, mereka menceritakan kepadanya penghormatan pembesar mesir itu kepada mereka, dan mereka berkata kepadanya, ”sesungguhnya dia tidak akan memberikan kepada kami (bahan makanan) pada waktu yang akan datang, kecuali apabila datang bersama kami saudara kami yang telah kami beritahukan kepadanya. Maka izinkanlah dia pergi bersama kami, supaya kami dapat membawa bahan makanan dengan penuh, dan kami berjanji untuk menjaganya dengan baik.

قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

qāla hal āmanukum ‘alaihi illā kamā amintukum ‘alā akhīhi ming qabl, fallāhu khairun ḥāfiẓaw wa huwa ar-ḥamur-rāḥimīn

 64.  Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?”. Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.

Ayah mereka berkata kepada mereka, “ Bagaimana aku percaya kepada kalian untuk menjaga Bunyamin, dan sungguh aku pernah percayakan saudaranya (Yusuf) sebelumnya pada kalian, dan kalian berkomitmen untuk menjaganya, akan tetapi kalian tidak menepati hal itu? Karenanya, aku tidak percaya terhadap kemitmen dan penjagaan kalian. Akan tetapi, Aku akan percaya terhadap perlindungan Allah. (Dia) sebaik-baik yang menjaga dan sebaik-baik Dzat yang menyayangi. Aku berharap Dia merahmatiku, lalu menjaganya dan mengembaliaknya kepadaku.”

وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ ۖ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ

wa lammā fataḥụ matā’ahum wajadụ biḍā’atahum ruddat ilaihim, qālụ yā abānā mā nabgī, hāżihī biḍā’atunā ruddat ilainā wa namīru ahlanā wa naḥfaẓu akhānā wa nazdādu kaila ba’īr, żālika kailuy yasīr

 65.  Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)”.

Dan ketika mereka membawa barang-barang bawaan mereka, mereka menemukan barang penukar barang-barang bawaan mereka yang mereka bayarkan kepada mereka telah di kembalikan kepada mereka. Mereka berkata, “ Wahai Ayah kami, apalagi yang kita cari yang lebih dari ini? Ini barang penukar barang-barang penukar kami telah di kembalikan oleh pembesar itu kepada kita. Maka tenanglah engkau terhadap saudara kami dan biarkanlah dia pergi bersama kami, supaya kami dapat membawa pulang bahan makanan yang penuh bagi keluarga kita, dan kami akan menjaga saudara kami serta mendapat bawaan seberat beban seekor unta. Sebab, Sesungguhnya pembesar Mesir itu memberi takaran bagi setiap orang sebarat beban seekor unta. Dan itu adalah sukatan yang ringan baginya.”

قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

qāla lan ursilahụ ma’akum ḥattā tu`tụni mauṡiqam minallāhi lata`tunnanī bihī illā ay yuḥāṭa bikum, fa lammā ātauhu mauṡiqahum qālallāhu ‘alā mā naqụlu wakīl

 66.  Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh”. Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)”.

Ya’qub  berkata kepada mereka, “Aku tidak akan membiarkan dia pergi bersama kalian sampai kalian berjnji dan bersumpah kepadaku dengan Nama Allah untuk mengembalikanya kepadaku, kecuali kalian ditundukan musuh dan kalian tidak mampu melepaskan diri.” Setelah mereka memberikan janji dengan Nama Allah sesuai dengan yang di minta Ya’qub maka Ya’qub berkata, ”Allah menjadi saksi atas yang kalian ucapkan.” Yakni, cukuplah kita kesaksianNya atas kita dan penjagaanNya bagi kita.

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

wa qāla yā baniyya lā tadkhulụ mim bābiw wāḥidiw wadkhulụ min abwābim mutafarriqah, wa mā ugnī ‘angkum minallāhi min syaī`, inil-ḥukmu illā lillāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ‘alaihi falyatawakkalil-mutawakkilụn

 67.  Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.

Dan Ayah mereka berkata kepada mereka, ”Wahai anak-anakku, apabila kalian akan memasuki tanah Mesir, janganlah kalian memasukinya melalui satu pintu, akan tetapi, masukilah melalui pintu-pintu yang berbeda-beda, supaya mata-mata yang dengki tidak menimpa kalian Dan sesungguhnya aku ketika berwasiat kepada kalian dengan ini, aku tidak dapat menolak sesuatu yang telah di tetapkan oleh Allah pada kalian. Tidak ada ketetapan, kecuali sesuai dengan ketetapan Allah semata, kepada-Nyalah aku bergantung dan percaya, dan kepada-NYalah semata orang-orang Mukmin bergantung.”

وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa lammā dakhalụ min ḥaiṡu amarahum abụhum, mā kāna yugnī ‘an-hum minallāhi min syai`in illā ḥājatan fī nafsi ya’qụba qaḍāhā, wa innahụ lażụ ‘ilmil limā ‘allamnāhu wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 68.  Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Dan ketika mereka memasuki beberapa pintu-pintu yang berbeda-beda, sebagaimana yang diperintahkan oleh ayah mereka, hal itu tidak untuk menolak ketetapan Allah pada mereka, akan tetapi merupakan bentuk kasih sayang kepada Ya’qub terhadap mereka agar mereka tidak terkena oleh serangan ‘ain. Dan sesungguhnya Ya’qub benar-benar seorang yang berilmu agung dengan urusan agamanya yang Allah ajarkan kepadanya dalam bentuk wahyu. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara dan urusan-urusan secara detail, dan ilmu yang di ketahui oleh Ya’qub  berupa perkara-perkara agama.

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lammā dakhalụ ‘alā yụsufa āwā ilaihi akhāhu qāla innī ana akhụka fa lā tabta`is bimā kānụ ya’malụn

 69.  Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Dan ketika saudara-saudara Yusuf masuk ke dalam ruangan perjamuan tamu, sedang saudara Yusuf (Bunyamin) bersama mereka, Yusuf memeluk saudara kandungnya itu, dan berkata kepadanya dengan berbisik, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu, maka janganlah kamu bersedih dan risau atas apa yang mereka perbuat di masa lalu.” Dan Yusuf memerintahkanya untuk merahasiakan hal itu dari mereka.

فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ

fa lammā jahhazahum bijahāzihim ja’alas-siqāyata fī raḥli akhīhi ṡumma ażżana mu`ażżinun ayyatuhal-‘īru innakum lasāriqụn

 70.  Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri”.

Maka ketika Yusuf mempersiapkan mereka dan mengangkutkan pada unta mereka bahan makanan, dia memerintahkan para pegawainya untuk meletakan bejana yang di pergunakan menakar bagi orang-orang ke dalam bawaan saudaranya Bunyamin, tanpa ada seorangpun yang menyadarinya. Dan ketika mereka menaiki tunggangan untuk bersiap memulai perjalanan, seorang pemanggil berteriak, ”Wahai pemilik unta yang mengangkut makanan ini, sesungguhnya kalian benar-benar pencuri.

قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ

qālụ wa aqbalụ ‘alaihim māżā tafqidụn

 71.  Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: “Barang apakah yang hilang dari pada kamu?”

Putra-putra Ya’qub berkata dengan mendatangi orang yang berteriak itu, “Apa yang hilang dari kalian?”

قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ

qālụ nafqidu ṣuwā’al-maliki wa liman jā`a bihī ḥimlu ba’īriw wa ana bihī za’īm

 72.  Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”.

Orang yang memanggil dan orang yang bersamanya berkata, “Kami kehilangan bejana yang dipergunakan raja untuk menakar. Dan hadiah orang yang dapat menghadirkanya adalah bahan makanan seukuran beban angkutan unta.” Orang yang memanggil berkata, ”Dan aku menjamin dan menggaransi bahan makanan seberat unta (baginya).”

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ

qālụ tallāhi laqad ‘alimtum mā ji`nā linufsida fil-arḍi wa mā kunnā sāriqīn

 73.  Saudara-saudara Yusuf menjawab “Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri”.

Saudara-saudara Yusuf berkata, ”Demi Allah, kalian pasti sudah tahu apa yang kalian saksikan pada kami bahwa sesungguhnya kami pasti tidak datang ke negri Mesir untuk melalukan kerusakan di dalamnya. Dan bukan menjadi sipat kami untuk mencuri.”

قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ

qālụ fa mā jazā`uhū ing kuntum kāżibīn

 74.  Mereka berkata: “Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta? “

Orang-orang yang di tugasi untuk mencari bejana itu berkata kepada saudara-saudara Yusuf, “Apakah hukuman si pencuri di dalam hukuman kalian, jika kalian berdusta dalam pernyataan kalian, ‘Kami bukan pencuri’?”

قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

qālụ jazā`uhụ maw wujida fī raḥlihī fa huwa jazā`uh, każālika najziẓ-ẓālimīn

 75.  Mereka menjawab: “Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)”. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.

Saudara-saudara Yusuf menjawab, “balasan hukuman si pencuri, siapa saja yang barang curian ditemukan dalam barang angkutanya, dialah balasanya,” Maksudnya, dia diserahkan karena perbuatan pencuriannya kepada orang yang dicuri sehingga menjadi budak baginya. ”Dengan balasan seperti ini, yakni mejadikanya sebagai budak, kami membalas orang-orang yang berbuat zhalim dengan mencuri. Dan inilah ajaran agama kami dan hukum-hukum kami terhadap pelaku pencurian.

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

fa bada`a bi`au’iyatihim qabla wi’ā`i akhīhi ṡummastakhrajahā miw wi’ā`i akhīh, każālika kidnā liyụsuf, mā kāna liya`khuża akhāhu fī dīnil-maliki illā ay yasyā`allāh, narfa’u darajātim man nasyā`, wa fauqa kulli żī ‘ilmin ‘alīm

 76.  Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.

Orang-orang itu kembali dengan membawa saudara-saudara Yusuf kepadanya. Lalu Yusuf sendiri yang memeriksa barang bawaan mereka. Dia memulai memeriksa barang bawaan mereka, sebelum barang bawaan saudara kandungnya, untuk menjalankan rencana yang sudah di aturnya dengan rapi, supaya saudaranya dapat tinggal bersamanya, kemudian ia mengakhirinya dengan barang bawaan saudaranya, lalu ia mengeluarkan bejana darinya. Demikianlah kami memudahkan Yusuf mengatur recana itu yang dapat mengantarkanya untuk mengambil saudaranya. Tidak sepantasnya Yusuf mengambil saudaranya menurut hukum Raja Mesir, karena bukan termasuk ajaran agamanya untuk memperbudak seorang pencuri. Hanya saja, kehendak Allah memutuskan pengaturan rencana ini dan berhukum dengan ajaran syariat yang di amalkan oleh saudara-saudara Yusuf yang memutuskan diperbudaknya seorang pencuri. Kami mengangkat kedudukan- orang yang kami kehendaki di dunia atas selainnya sebagaimana kami mengangkat kedudukan Yusuf, dan diatas setiap yang berilmu ada yang Maha mengetahui, sehingga selesainya ilmu kepada Allah ta’ala yang mengetahui perkara yang ghaib maupun yang Nampak.

۞ قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ

qālū iy yasriq fa qad saraqa akhul lahụ ming qabl, fa asarrahā yụsufu fī nafsihī wa lam yubdihā lahum, qāla antum syarrum makānā, wallāhu a’lamu bimā taṣifụn

 77.  Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu”. Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu”.

saudara-saudara Yusuf berkata “jika orang ini mencuri, maka sungguh saudara sekandungnya dulupun pernah mencuri (yang mereka maksud adalah Yusuf alaihi salam) maka Yusuf menyembunyikan dalam dirinya sendiri apa yang ia dengar dari tuduhan kedustaan mereka, dan dia berkata dalam dirinya sendiri “kalian adalah lebih buruk kedudukannya dari apa yang kalian sebutkan, karena kalian telah menyembunyikan dariku apa yang dahulu terjadi pada kalian, dan Allah Maha mengetahui apa saja yang kalian sifati dari kedustaan dan yang diada-adakan”.

قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

qālụ yā ayyuhal-‘azīzu inna lahū aban syaikhang kabīran fa khuż aḥadanā makānah, innā narāka minal-muḥsinīn

 78.  Mereka berkata: “Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik”.

mereka berkata sambil berharap dikasihani supaya mereka bisa menepati janji ayah mereka : wahai sang mentri, sesungguhnya orang itu mempunyai bapak yang sudah tua usianya yang mencintainya dan tidak sanggup untuk jauh darinya, maka ambilah salah satu dari kami untuk menggantikan posisi Bunyamin, sesungguhnya kami melihat engkau adalah termasuk orang-orang yang berbuat baik dalam memperlakukan kami dan orang lain selain kami.

قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ

qāla ma’āżallāhi an na`khuża illā maw wajadnā matā’anā ‘indahū innā iżal laẓālimụn

 79.  Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim”.

Yusuf berkata, ”kami berlindung kepada Allah dan memohon dijaga olehNya dari menahan sesorang yang bukan orang yang kami temukan bejana takaran padanya, (sebagaimana telah kalian putuskan sendiri), sesungguhnya bila kami melakukan apa yang kalian pinta niscaya kami termasuk kategori orang-orang yang berbuat kezhaliman.

فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

fa lammastai`asụ min-hu khalaṣụ najiyyā, qāla kabīruhum a lam ta’lamū anna abākum qad akhaża ‘alaikum mauṡiqam minallāhi wa ming qablu mā farrattum fī yụsufa fa lan abraḥal-arḍa ḥattā ya`żana lī abī au yaḥkumallāhu lī, wa huwa khairul-ḥākimīn

 80.  Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya”.

Maka ketika mereka sudah putus harapan dari jawaban yusuf terhadap mereka atas permintaan yang mereka ajukan kepadanya, merekapun menyendiri dari orang-orang. Mereka mulai berunding diantara mereka sendiri. Yang tertua dari mereka berkata, ”Tidaklah kalian tahu bahwa sesungguhnya ayah kalian telah mengambil janji teguh dari kalian, supaya kalian pasti mengembalikan saudara kalian kecuali kalian dikalahkan musuh. Dan sebelum ini, perlakuan tidak manusiawi kalian terhadap yusuf dan pengkhianatan kalian terhadapnya. Karena itu, aku tidak akan meninggalkan bumi mesir sampai ayahku memberi izin meninggalkannya atau tuhanku menetapkanku keluar darinya dan bisa membawa pulang saudaraku. Dan Allah sebaik-baik yang menetapkan keputusan dan yang paling adil menyelesaikan perkara diantara manusia.

ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ

irji’ū ilā abīkum fa qụlụ yā abānā innabnaka saraq, wa mā syahidnā illā bimā ‘alimnā wa mā kunnā lil-gaibi ḥāfiẓīn

 81.  Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib.

pulanglah kalian kepada ayah kalian dan beritahukanlah kepadanya peristiwa yang telah terjadi, dan katakanlah kepadanya, ’sesungguhnya putramu, bunyamin telah mencuri, dan kami tidak bersaksi demikian, kecuali setelah kami meyakinkannya, sungguh kami telah menyaksikan bejana takaran (raja) berada dalam bawaan kendaraaannya, dan tidak ada pada kami pengetahuan tentang perkara ghaib bahwa ia akan mencuri ketika kami telah mengikat janji teguh denganmu untuk membawanya pulang.

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

was`alil-qaryatallatī kunnā fīhā wal-‘īrallatī aqbalnā fīhā, wa innā laṣādiqụn

 82.  Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”.

Dan ketika mereka kembali dan mengabarkan kepada ayah mereka tentang apa yang telah terjadi, dan meminta ayah mereka agar mempercayai apa yang mereka kabarkan, seraya berkata, ”Dan tanyalah (wahai ayah kami), kepada penduduk mesir dan siapa saja yang bersama kami dalam rombongan khalifah yang kami berada bersama mereka, dan sesungguhnya kami jujur dalam berita yang kami kabarkan kepadamu.

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

qāla bal sawwalat lakum anfusukum amrā, fa ṣabrun jamīl, ‘asallāhu ay ya`tiyanī bihim jamī’ā, innahụ huwal-‘alīmul-ḥakīm

 83.  Ya’qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Maka sang ayah berkata kepada mereka, ”bahkan jiwa kalian yang suka memerintahkan keburukan telah menjadikan kalian memandang baik terhadap tipu daya yang sudah kalian atur, sebagaimana kalian perbuat sebelumnya terhadap yusuf. Maka kesabaranku adalah kesabaran yang baik, tanpa ada unsur berontak dan keluh kesah padanya. Mudah-mudahan Allah mengembalikan tiga anakku kepadaku, (yaitu Yusuf, saudaranya dan saudara tertua mereka yang tetap tinggal di mesir karena bunyamin). Sesungguhnya Dia Mahamengetahui keadaanku, lagi Mahabijaksana dalam pengaturanNya.

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

wa tawallā ‘an-hum wa qāla yā asafā ‘alā yụsufa wabyaḍḍat ‘aināhu minal-ḥuzni fa huwa kaẓīm

 84.  Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).

Dan ya’qub berpaling dari mereka, sedang hatinya sungguh telah sesak lantaran perkataan yang mereka ucapkan. Ia berkata, ”betapa sedihku terhadap yusuf,” dan dua bola matanya menjadi putih karena hilang hwarna hitam matanya disebabkan beratnya kesedihan. Dia seorang yang hatinya terliputi kesedihan, akan tetapi dia berusaha keras menyembunyikannya.

قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ

qālụ tallāhi tafta`u tażkuru yụsufa ḥattā takụna ḥaraḍan au takụna minal-hālikīn

 85.  Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”.

Putra-putranya berkata, ”Demi Allah, engkau terus-menerus mengingat-ingat yusuf, dan kesedihanmu atas dirinya kian besar, hingga engkau hampir mengalami kematian atau benar-beanr akan meninggal, maka kurangilah beban dirimu.”

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

qāla innamā asykụ baṡṡī wa ḥuznī ilallāhi wa a’lamu minallāhi mā lā ta’lamụn

 86.  Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”.

Ya’qub berkata menjawab mereka, ”Aku tidak ingin menampakan duka dan kesedihanku, kecuali kepada Allah semata. Dialah Dzat yang akan menghilangkan madarat dan musibah, dan aku mengetahui rahmat Allah dan jalan keluar dariNya yang tidak kalian ketahui.”

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

yā baniyyaż-habụ fa taḥassasụ miy yụsufa wa akhīhi wa lā tai`asụ mir rauḥillāh, innahụ lā yai`asu mir rauḥillāhi illal-qaumul-kāfirụn

 87.  Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Ya’qub berkata, ”Wahai anak-anakku, kembalilah kalian ke mesir, dan carilah dengan seksama berita tentang yusuf dan saudaranya. Dan janganlah kalian putus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhya tidak ada yang putus harapan dari rahmat Allah, kecuali orang-orang yang ingkar terhadap kekuasaanNya, yang kafir kepadaNya.”

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ

fa lammā dakhalụ ‘alaihi qālụ yā ayyuhal-‘azīzu massanā wa ahlanaḍ-ḍurru wa ji`nā bibiḍā’atim muzjātin fa aufi lanal-kaila wa taṣaddaq ‘alainā, innallāha yajzil-mutaṣaddiqīn

 88.  Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah”.

Kemudian mereka pergi menju mesir. Dan ketika mereka masuk menemui yusuf, mereka berkata, “Wahai pembesar, kekeringan dan paceklikan telah menimpa kami dan keluarga kami. Dan kami datang kepadamu dengan barang penukar tang buruk lagi sedikit. Maka sudilah engkau memberikan kepada kami apa yang sebelumnya engkau berikan kepada kami dengan barang penukar yang baik. Dan bersedekahlah kepada kami dengan menerima beberapa keping dirham yang tidak berharga ini dan abaikanlah kondisinya. Sesungguhnya Allah  akan memberikan balasan kepada orang yang murah hati dengan harta kekayaan mereka terhadap orang-orang yang membutuhkan.

قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ

qāla hal ‘alimtum mā fa’altum biyụsufa wa akhīhi iż antum jāhilụn

 89.  Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”.

Maka tatkala dia mendengar ucapan mereka, hati yusuf iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka. Dan dia berkata, ”Apakah kalian ingat tindakan yang kalian lakukan terhadap yusuf dan saudaranya berupa tindakan buruk saat kalian tidak memahami dampak buruk dari apa yang kalian perbuat.”

قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

qālū a innaka la`anta yụsuf, qāla ana yụsufu wa hāżā akhī qad mannallāhu ‘alainā, innahụ may yattaqi wa yaṣbir fa innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn

 90.  Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”. Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”

Mereka bertanya, ”Apakah kamu adalah yusuf?” Dia menjawab, ”Ya, betul. Aku yusuf dan ini saudara kandungku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia kepada kami, dan mempertemukan kami setelah terpisah. Sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Alalh dan bersabar menghadapi cobaan-cobaan, maka sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan pahala perbuatan baiknya. Dan sesungguhnya Dia akan memberikan balasan kepadanya dengan balasan terbaik”

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ

qālụ tallāhi laqad āṡarakallāhu ‘alainā wa ing kunnā lakhāṭi`īn

 91.  Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.

Mereka berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya Allah telah mengutamakanmu di atas kami, dan memuliakanmu dengan ilmu, kesantunan dan keutamaan. Dan sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang berbuat kesalahan, melalui tindakan yang kami perbuat dengan sengaja terhadap dirimu dan saudaramu.

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

qāla lā taṡrība ‘alaikumul-yaụm, yagfirullāhu lakum wa huwa ar-ḥamur-rāḥimīn

 92.  Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”.

Yusuf berkata kepada mereka, ”Tidak ada celaan lagi bagi kalian hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian. Dan Dia sebaik-baik Dzat yang menyayangi bagi orang-orang yang bertaubat dari dosanya dan kembali menuju ketaatan kepadaNya.

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

iż-habụ biqamīṣī hāżā fa alqụhu ‘alā waj-hi abī ya`ti baṣīrā, wa`tụnī bi`ahlikum ajma’īn

 93.  Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.

Dan ketika yusuf bertanya kepada mereka tentang ayah mereka, mereka mengabarkan perihal telah rusaknya penglihatan matanya akibat menangisinya. Lalu dia berkata kepada mereka, ”kembalilah kalian kepada ayah kalian, dengan membawa pakaianku ini, lalu tutupkanlah pada wajah ayahku, niscaya penglihatnnya akan kembali normal. Kemudian bawalah kepadaku seluruh keluarga kalian.”

وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ

wa lammā faṣalatil-‘īru qāla abụhum innī la`ajidu rīḥa yụsufa lau lā an tufannidụn

 94.  Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)”.

Dan ketika kafilah itu telah keluar dari negeri mesir dengan membawa pakaiannya, ya’qub berkata kepada orang-orang yang bersamanya, ”sesungguhnya aku benar-benar mencium aroma yusuf, sekiranya kalian tidak menganggapku bodoh dan mgolok-oloku, dan kalian menduga bahwa perkataan ini muncul dariku di luar kesadaranku.”

قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ

qālụ tallāhi innaka lafī ḍalālikal-qadīm

 95.  Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu”.

Orang-orang yang bersamanya berkata, ”Demi Allah, engkau masih dalam kesalahan lamamu, yaitu mencintai yusuf dan tidak melupakannya.”

فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

fa lammā an jā`al-basyīru alqāhu ‘alā waj-hihī fartadda baṣīrā, qāla a lam aqul lakum innī a’lamu minallāhi mā lā ta’lamụn

 96.  Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.

Kemudian ketika orang yang yang membawa kabar gembira datang kepada ya’qub bahwa yusuf masih hidup, lalu menutupkan pakaian yusuf di wajahnya, kembalilah ya’qub dapat melihat lagi, dan kebahagiaan meliputi dirinya. Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang ada di sisinya, ”bukankah aku telah mengabarkan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku mengetahui dari Allah apa-apa yang kalian tidak ketahui, berupa karunia Allah, rahmat, dan kemurahanNYa?

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

qālụ yā abānastagfir lanā żunụbanā innā kunnā khāṭi`īn

 97.  Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.

Putra-putra ya’qub berkata kepadanya, ”Wahai ayah kami, mintakanlah untuk kami kepada tuhanmu supaya mengampuni kami dan menutupi dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami telah berbuat salah dalam tindakan yang kami lakukan terhadap yusuf dan saudara kandungnya.”

قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

qāla saufa astagfiru lakum rabbī, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

 98.  Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ya’qub berkata, ”Aku memohon kepada tuhanku agar mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Dia Maha pengampun dosa-dosa hamba-hambaNya yang bertaubat, lagi Maha penyayang kepada mereka.”

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

fa lammā dakhalụ ‘alā yụsufa āwā ilaihi abawaihi wa qāladkhulụ miṣra in syā`allāhu āminīn

 99.  Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman”.

Ya’qub dan keluarganya kemudian keluar berangkat menuju mesir untuk menemui yusuf. Ketika mereka sampai kepadanya, yusuf merangkul kedua oranng tuanya. Dan dia berkata kepada mereka ”Masuklah ke mesir, dengan kehendak Allah, dalam keadaan aman dari kesulitan, kekeringan, dan dari segala keburukan, ”

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

wa rafa’a abawaihi ‘alal-‘arsyi wa kharrụ lahụ sujjadā, wa qāla yā abati hāżā ta`wīlu ru`yāya ming qablu qad ja’alahā rabbī ḥaqqā, wa qad aḥsana bī iż akhrajanī minas-sijni wa jā`a bikum minal-badwi mim ba’di an nazagasy-syaiṭānu bainī wa baina ikhwatī, inna rabbī laṭīful limā yasyā`, innahụ huwal-‘alīmul-ḥakīm

 100.  Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Yusuf mendudukan ayah dan ibunya di singgasana kerajaan di sampingnya, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka berdua. Kedua orang tua dan saudara-saudaranya yang berjumlah sebelas orang menghormatinya dengan bersujud kepadanya sebagai penghormatan dan pemuliaan, bukan untuk menyembah dan tunduk. Dan itu perkara yang diperbolehkan dalan ajaran syariat mereka, dan sungguh telah diharamkan hukumnya dalam syariat kita(islam) untuk menutup pintu menuju syirik kepada Allah. Yusuf berkata kepada bapaknya ”Sesungguhnya sujud ini merupakan ta’bir mimpi yang telah aku ceritakan kepadamu sebelumnya (wahai ayah) saat aku masih kecil. Sesungguhnya tuhanku telah menjadikannya kenyataan, dan Dia telah memberikan keutamaan kepadaku ketika Dia mengeluarkanku dari penjara, dan mendatangkan kalian kepadaku dari kampung yang jauh, setelah setan merusak ikatan persaudaraan antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku mahalembut pengurusannya terhadap apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia mahamengetahui kemaslahat0kemaslahatan hamba-hambaNya, naha bijaksana dalah perkataan dan perbuatanNya.

۞ رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

rabbi qad ātaitanī minal-mulki wa ‘allamtanī min ta`wīlil-aḥādīṡ, fāṭiras-samāwāti wal-arḍ, anta waliyyī fid-dun-yā wal-ākhirah, tawaffanī muslimaw wa al-ḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn

 101.  Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.

kemudian Yusuf berdo’a kepada Tuhannya seraya berkata “tuhanku, sungguh engkau telah memberikan kepadaku sebagian dari kerjaan mesir, dan Engkau telah mengajarkan kepadaku tafisr mimpi dan ilmu yang lainnya, Wahai Pencipta langit dan bumi dan pengada keduanya, Engkaulah yang mengurus segala urusanku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri, dan pertemukanlah aku bersama hamba-hambaMu yang sholeh dari para nabi yang baik,bersih dan terpilih”

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

żālika min ambā`il-gaibi nụḥīhi ilaīk, wa mā kunta ladaihim iż ajma’ū amrahum wa hum yamkurụn

 102.  Demikian itu (adalah) diantara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya.

itulah yang disebutkan tentang kisah Yusuf, dan itu merupakan berita yang ghaib yang kami beritahukan kepadamu (wahai rosul) sebagai wahyu, dan tidaklah engkau hadir bersama saudara Yusuf ketika mereka mengatur rencana untuk memasukan yusuf ke dalam sumur, dan mereka membuat alasan kepada bapak mereka, hal ini menunjukan kebenaranmu, dan sesungguhnya Allah lah yang meberi wahyu kepadamu

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

wa mā akṡarun-nāsi walau ḥaraṣta bimu`minīn

 103.  Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman — walaupun kamu sangat menginginkannya.

dan tidaklah kebanyakan kaum musyrikin dari kaummu (wahai rosul) membenarkanmu dan mengikutimu, walaupun engkau sangat menginginkan keimanan mereka, maka janganlah kamu sedih atas hal itu.

وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

wa mā tas`aluhum ‘alaihi min ajr, in huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

 104.  Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.

Dan kamu tidak meminta dari kaummu upah atas usaha menunjukan mereka kepada keimanan. Sesungguhnya yang kamu di utus dengan membawanya berupa al- Qur’an dan hidayah merupakan pelajaran bagi kalian manusia seluruhnya, yang mereka akan mengingat dan mendapat hidayah dengannya.

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

wa ka`ayyim min āyatin fis-samāwāti wal-arḍi yamurrụna ‘alaihā wa hum ‘an-hā mu’riḍụn

 105.  Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.

Dan banyak dari bukti-bukti kebenaran yang menunjukan keesaan Allah dan dan kekuasaanNya, tersebar di langit dan di bumi, seperti matahari, bulan, gunung-gunung dan pepohonan yang mereka menyaksikanya sendiri, sedang mereka berpaling darinya, tidak merenungkan dan tidak mengambil pelajaran darinya.

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

wa mā yu`minu akṡaruhum billāhi illā wa hum musyrikụn

 106.  Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).

Dan tidaklah mengimani orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah itu bahwa Allah itu Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka dan Pencipta segala sesuatu dan hanya Dia semata yang berhak diibadahi, kecuali mereka mempersekutukan dalam peribadahan mereka dengan patung-patung dan berhala-berhala. Mahatinggi Allah dalam hal itu setinggi-tingginya.

أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

a fa aminū an ta`tiyahum gāsyiyatum min ‘ażābillāhi au ta`tiyahumus-sā’atu bagtataw wa hum lā yasy’urụn

 107.  Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?

Maka apakah mereka memiliki sesuatu yang menyebabkan mereka aman dari siksa Allah pada mereka yang merata menimpa mereka semua, atau Kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadari dan tidak menduga-duganya?

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul hāżihī sabīlī ad’ū ilallāh, ‘alā baṣīratin ana wa manittaba’anī, wa sub-ḥānallāhi wa mā ana minal-musyrikīn

 108.  Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Katakanlah kepada mereka (wahai Rasul), “ Inilah jalanku aku menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah semata, berdasarkan hujjah dari Allah dan keyakinan, aku dan orang-orang yang meneladaniku. Dan aku menyucikan Allah  dari sekutu-sekutu, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah bersama selaiNya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa mā arsalnā ming qablika illā rijālan nụḥī ilaihim min ahlil-qurā, a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim, wa ladārul-ākhirati khairul lillażīnattaqau, a fa lā ta’qilụn

 109.  Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?

Dan kami tidaklah mengutus sebelummu (wahai Rasul), kepada manusia kecuali laki-laki dari mereka, yang kami turunkan kepada mereka wahyu kami, dan mereka termasuk penduduk kota. Karena mereka akan lebih mampu memahami dakwah dan mengemban risalah. Orang-orang yang mendapatkan hidayah kebenarana akan mengimani mereka. Dan orang-orang yang sesat akan mendustakan mereka. Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, sehingga mereka dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaiman kesudahan orang-orang yang mendustakan yang terdahulu dan kebinasaan yang menimpa mereka? Dan sungguh pahala akhirat lebih utama daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya bagi orang-orang yang beriman dan Takut terhadap Tuhan mereka. Apakah kalian tidak berpikir dan kemudian mengambil pelajaran darinya?

حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

ḥattā iżastai`asar-rusulu wa ẓannū annahum qad kużibụ jā`ahum naṣrunā fa nujjiya man nasyā`, wa lā yuraddu ba`sunā ‘anil-qaumil-mujrimīn

 110.  Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.

Dan janganlah kamu (wahai Rasul), tergasa-gesa mengharapkan pertolongan atas orang-orang yang mendustakanmu. Sebab sesungguhnya rasul-rasul sebelummu, tidaklah datang kepada mereka pertolongan dengan segera, dikarenakan satu hikmah yang Kami ketahui, sampai akhirnya rasul-rasul putus harapan dari keimanan kaum mereka dan menyangka bahwa apa yang diutus kepada mereka sungguh telah mereka dustakan mereka dalam apa yang diberitakan kepada mereka, maka datanglah kepada rosul-rosul Kami pertolongan dari Kami, ketika kesulitan kian berat. Kemudian Kami menyelamatkan rasul-rasul dan para pengikut mereka yang kami kehendaki, dan siksaan Kami tidak dapat di tolak dari orang-orang yang berbuat kejahatan dan berani lancing terhadap Allah. Disini terkandung hiburan bagi Nabi .

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

laqad kāna fī qaṣaṣihim ‘ibratul li`ulil-albāb, mā kāna ḥadīṡay yuftarā wa lākin taṣdīqallażī baina yadaihi wa tafṣīla kulli syai`iw wa hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

 111.  Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Sesungguhnya dalam kisah rasul-rasul yang kami kisahkan padamu dan siksaan yang menimpa orang-orang yang mendustakan terhadap palajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. Al-Quran’ ini bukanlah perkataan dusta yang diada-adakan. Akan tetapi, kami menurunkanya sebagai saksi atas kebenaran kitab-kitab suci samawi yang mendahuluinya dan bahwasanya kitab-kitab itu dari sisi Allah dan penjelasan tentang hal-hal yang di butuhkan oleh hamba-hamba, tentang perkara yang dihalalkan, diharamkan, dicintai dan dibenci dan lain sebagainya, dan petunjuk penyelamat dari kesesatan, dan rahmat bagi orang-orang beriman, yang dengan itu hati mereka mendapatkan hidayah, lalu mereka mengerjakan kandungannya, yaitu (menjalankan) perintah-perintah dan (menjauhi) larangan-larangan.

Related: Surat ar-Ra’d Arab-Latin, Surat Ibrahim Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Hijr, Terjemahan Tafsir Surat an-Nahl, Isi Kandungan Surat al-Isra, Makna Surat al-Kahfi

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Yusuf