Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Qashash

طسم

Arab-Latin: ṭā sīm mīm

Terjemah Arti:  1.  Thaa Siin Miim

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Tha Sin Mim). Keterangan tentang huruf-huruf yang terputus (di awal surat seperti ini) telah berlalu di muka pada permulaan Surat al-Baqarah.

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

tilka āyātul-kitābil-mubīn

 2.  Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang Aku turunkan kepadamu (wahai Rasul) untuk menjelaskan setiap yang dibutuhkan oleh hamba-hamba di dunia dan akhirat mereka.

نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

natlụ ‘alaika min naba`i mụsā wa fir’auna bil-ḥaqqi liqaumiy yu`minụn

 3.  Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.

Kami membacakan kepadamu dari sebagian kisah Musa bersama bersama Fir’aun dengan benar, untuk kaum yang beriman kepada al-Qur’an ini dan membenarkan bahwa sesungguhnya al-Qur’an itu berasal dari sisi Allah dan mereka mengamalkan petunjuk-petunjuknya.

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

inna fir’auna ‘alā fil-arḍi wa ja’ala ahlahā syiya’ay yastaḍ’ifu ṭā`ifatam min-hum yużabbiḥu abnā`ahum wa yastaḥyī nisā`ahum, innahụ kāna minal-mufsidīn

 4.  Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Sesungguhnya Fir’aun itu telah menyombongkan diri dan bertindak sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan para penduduknya bergolongan-golongan yang terpecah belah. Ia menindas sebagian dari mereka, yaitu orang-orang Bani Israil, menyembelih anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka untuk dijadikan pembantu dan bahan penghinaan. Sesungguhnya ia termasuk manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi.

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

wa nurīdu an namunna ‘alallażīnastuḍ’ifụ fil-arḍi wa naj’alahum a immataw wa naj’alahumul-wāriṡīn

 5.  Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),

Dan Kami berkehendak untuk mencurahkan karunia Kami kepada orang-orang yang ditindas Fir’aun di muka bumi dan Kami jadikan mereka sebagai para pemimpin dalam kebaikan dan penyeru kepadanya, dan Kami jadikan mereka orang-orang yang mewarisi tanah (Mesir) setelah kebinasaan Fir’aun dan kaumnya.

وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ

wa numakkina lahum fil-arḍi wa nuriya fir’auna wa hāmāna wa junụdahumā min-hum mā kānụ yaḥżarụn

 6.  dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.

Dan Kami kokohkan kekuasaan bagi mereka di muka bumi dan Kami menjadikan Fir’aun, Haman dan bala tentara mereka menyaksikan dari golongan yang tertindas ini apa yang mereka takuti, berupa kebinasaan mereka dan sirnanya kerajaan mereka serta terusirnya mereka dari negeri-negeri mereka sendiri oleh seseorang yang terlahir dari Bani Israil.

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa auḥainā ilā ummi mụsā an arḍi’īh, fa iżā khifti ‘alaihi fa alqīhi fil-yammi wa lā takhāfī wa lā taḥzanī, innā rāddụhu ilaiki wa jā’ilụhu minal-mursalīn

 7.  Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ

faltaqaṭahū ālu fir’auna liyakụna lahum ‘aduwwaw wa ḥazanā, inna fir’auna wa hāmāna wa junụdahumā kānụ khāṭi`īn

 8.  Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.

7-8. Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa ketika melahirkannya dan mengkhawatirkannya dari disembelih oleh Fir’aun sebagaimana ia telah menyembelihi anak-anak Bani Israil, “Susuilah dia dengan hati tenang. Lalu bila kamu khawatir berita si anak akan diketahui, maka letakkanlah dia di dalam kotak dan hanyutkanlah dia ke sungai Nil, tanpa rasa khawatir terhadap Fir’aun dan kaumnya untuk membunuhnya, dan tanpa ada rasa kesedihan atas kepergiannya. Sesungguhnya Kami akan mengembalikan putramu kepadamu dan mengutusnya sebagai seorang rasul.” Maka sang ibu meletakkan putranya di dalam suatu kotak dan menghanyutkannya ke sungai Nil. Kemudian orang-orang Fir’aun menemukan dan mengambilnya. Maka itulah kesudahan kejadian tersebut, itulah yang Allah takdirkan untuk menjadikan Musa sebagai musuh bagi mereka dengan menyelisihi agama mereka dan membuat mereka terperosok kepada kesedihan dengan menenggelamkan mereka dan melenyapan kerajaannya ditangn Musa. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman dan para pendukung mereka adalah orang-orang yang berdosa lagi menyekutukan Allah.

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa qālatimra`atu fir’auna qurratu ‘ainil lī wa lak, lā taqtulụhu ‘asā ay yanfa’anā au nattakhiżahụ waladaw wa hum lā yasy’urụn

 9.  Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.

Dan ketika istri Fir’aun melihatnya, Allah menaruh rasa sayang di hatinya, dan dia berkata kepada Fir’aun, “Anak kecil ini akan menjadi sumber kebahagiaan bagiku dan bagimu. Maka janganlah kalian membunuhnya. Mungkin saja kita akan mendapatkan kebaikan melaluinya atau kita jadikan ia sebagai anak.” Fir’aun dan keluarganya tidak menyadari bahwa kehancuran mereka adalah melalui kedua tangan anak itu.

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

wa aṣbaḥa fu`ādu ummi mụsā fārigā, ing kādat latubdī bihī lau lā ar rabaṭnā ‘alā qalbihā litakụna minal-mu`minīn

 10.  Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).

Sementara itu, hati ibu Musa menjadi kosong dari semua hal yang terkait di dunia kecuali dari pikiran tentang Musa dan mengingatnya. Dan hampir saja ia menyatakan rahasia bahwa anak itu adalah putranya, sekiranya Kami tidak meneguhkan hatinya. Maka ia pun dapat bersabar dan tidak memberitahukan tentangnya, agar ia menjadi orang-orang yang beriman terhadap janji Allah dan meyakininya.

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ ۖ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa qālat li`ukhtihī quṣṣīh, fa baṣurat bihī ‘an junubiw wa hum lā yasy’urụn

 11.  Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,

Dan ibu Musa berkata kepada saudara perempuan Musa ketika hendak melemparkan Musa, “Ikutilah perjalanan Musa, tindakan apa yang diperlakukan padanya?” maka sang kakak mengikuti arah Musa dan melihatnya dari kejauhan. Sedang kaum Fir’aun tidak menyadari bahwa perempuan itu adalah saudara perempuan Musa dan ia tengah mencari tahu berita tentangnya.

۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

wa ḥarramnā ‘alaihil-marāḍi’a ming qablu fa qālat hal adullukum ‘alā ahli baitiy yakfulụnahụ lakum wa hum lahụ nāṣiḥụn

 12.  dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

Dan kami cegah wanita-wanita yang menyusui dari Musa untuk menyusu dari mereka sebelum Kami mengembalikannya kepada ibunya. Lalu saudara perempuannya berkata, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian satu keluarga yang akan merawatnya dan menyusuinya dengan baik, serta mereka akan menyayanginya?” mereka pun menerima permintaannya itu.

فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

fa radadnāhu ilā ummihī kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzana wa lita’lama anna wa’dallāhi ḥaqquw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 13.  Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya matanya menjadi sejuk dengannya dan Kami tepati janji Kami kepadanya, pasalnya Musa kembali padanya dalam keadaan selamat dari dibunuh oleh Fir’aun, dan agar dia tidak bersedih atas perpisahan dengan Musa, dan agar ia yakin bahwa janji Allah itu benar dalam hal yang Dia janjikan kepadaNya berupa dikembalikannya Musa kepadanya dan menjadikannya sebagai utusan Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janjiNya. Akan tetapi, kebanyakan orang musyrik tidak mengetahui bahwa janji Allah itu benar.

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

wa lammā balaga asyuddahụ wastawā ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmā, wa każālika najzil-muḥsinīn

 14.  Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan ketika Musa sudah mencapai puncak kekuatan fisiknya dan kemampuan akalnya pun telah matang, Kami berikan kepadanya hokum dan ilmu yang menjadi alat bagi dirinya untuk mengetahui hokum-hukum syariat. Dan sebagaimana Kami memberikan balasan kepada Musa atas ketaatan dan perbuatan baiknya, Kami akan memberikan balasan kepada setiap hamba-hamba Kami yang berbuat kebaikan.

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ

wa dakhalal-madīnata ‘alā ḥīni gaflatim min ahlihā fa wajada fīhā rajulaini yaqtatilāni hāżā min syī’atihī wa hāżā min ‘aduwwih, fastagāṡahullażī min syī’atihī ‘alallażī min ‘aduwwihī fa wakazahụ mụsā fa qaḍā ‘alaihi qāla hāżā min ‘amalisy-syaiṭān, innahụ ‘aduwwum muḍillum mubīn

 15.  Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Dan Musa memasuki kota dengan sembunyi-sembunyi ketika para penduduknya tengah lengah. Lalu dia mendapati padanya dua orang lelaki yang sedang berkelahi. Salah satunya dari kaum Musa dari kalangan Bani Israil dan lelaki lainnya dari kaum Fir’aun. Maka orang yang berasal dari kaum Musa meminta pertolongan (dari Musa) untuk melawan musuhnya. Lalu Musa meninjunya dengan kepalan tangannya, sehingga lelaki itu mati. Ketika membunuhnya, Musa berkata, “Ini adalah hasutan setan dengan menyulut emosi amarahku, sehingga aku memukulnya dan ia menjadi binasa. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi anak keturunan Adam, menyesatkan dari jalan lurus, lagi sangat nyata permusuhannya.” Perbuatan Musa ini terjadi sebelum ia menjadi seorang nabi.

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

qāla rabbi innī ẓalamtu nafsī fagfir lī fa gafara lah, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

 16.  Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Musa berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan membunuh jiwa yang Engkau tidak memerintahkan aku untuk membunuhnya. Maka ampunilah dosaku itu.” Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dosa-dosa hamba-hambaNya, juga Maha Penyayang terhadap mereka.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ

qāla rabbi bimā an’amta ‘alayya fa lan akụna ẓahīral lil-mujrimīn

 17.  Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”.

Musa berkata, “Wahai Tuhanku, melalui anugerah yang Engkau curahkan kepadaku dengan menerima taubatku, memberikan ampunan dan kenikmatan-kenikmatan yang melimpah, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi siapa pun untuk melakukan perbuatan maksiat dan perbuatan jahatnya.”

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ

fa aṣbaḥa fil-madīnati khā`ifay yataraqqabu fa iżallażistanṣarahụ bil-amsi yastaṣrikhuh, qāla lahụ mụsā innaka lagawiyyum mubīn

 18.  Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)”.

Karenanya, di dalam kota, Musa menjadi takut kepada Fir’aun, ia mencari tahu tentang berita yang diperbincangkan oleh masyarakat terkait dirinya dan korban yang dibunuhnya. Lalu ia melihat temannya yang kemarin beradu senjata dengan orang lain dari suku Qibthi dan meminta pertolongan darinya, maka Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu itu benar-benar banyak berbuat penyimpangan dan nyata kesesatannya.”

فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ ۖ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ

fa lammā an arāda ay yabṭisya billażī huwa ‘aduwwul lahumā qāla yā mụsā a turīdu an taqtulanī kamā qatalta nafsam bil-amsi in turīdu illā an takụna jabbāran fil-arḍi wa mā turīdu an takụna minal-muṣliḥīn

 19.  Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”.

Maka tatkala Musa hendak memukul orang Qibthi itu, ia berkata “Apakah kamu akan membunuhku sebagaimana kamu telah membunuh seseorang kemarin? Kamu itu tidak ingin kecuali menjadi seorang yang melampaui batas di muka bumi. Kamu tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mendamaikan di anatara manusia.”

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

wa jā`a rajulum min aqṣal-madīnati yas’ā qāla yā mụsā innal-mala`a ya`tamirụna bika liyaqtulụka fakhruj innī laka minan-nāṣiḥīn

 20.  Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”.

Dan datanglah seorang lelaki dari ujung kota dengan berjalan cepat tergopoh-gopoh. Ia berkata kepada Musa, “Sesungguhnya para pembesar kaum Fir’aun telah berkonspirasi untuk membunuh dirimu dan mereka tengah bermusyawarah. Maka keluarlah kamu dari kota ini. Sesungguhnya aku adalah orang yang tulus menasehatimu dan mengkhawatirkan dirimu.”

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa kharaja min-hā khā`ifay yataraqqabu qāla rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn

 21.  Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Maka Musa keluar dari kota Fir’aun dengan diliputi rasa takut, menunggu-nunggu adanya pengejaran yang dapat menyusulnya sehingga akan dapat menangkapnya. Maka Musa berdoa kepada Allah supaya berkenan menyelamatkannya dari orang-orang yang zhalim.

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ

wa lammā tawajjaha tilqā`a madyana qāla ‘asā rabbī ay yahdiyanī sawā`as-sabīl

 22.  Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.

Dan ketika Musa berjalan menuju negeri Madyan dan keluar dari daerah kekuasaan Fir’aun, ia berkata, “Mudah-mudahan Tuhanku memanduku dengan sebaik-baik petunjuk menuju negeri Madyan.”

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

wa lammā warada mā`a madyana wajada ‘alaihi ummatam minan-nāsi yasqụna wa wajada min dụnihimumra`ataini tażụdān, qāla mā khaṭbukumā, qālatā lā nasqī ḥattā yuṣdirar-ri’ā`u wa abụnā syaikhung kabīr

 23.  Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

Dan ketika ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menyaksikan sekumpulan orang di sana memberi minuman untuk ternak-ternak mereka. Dan ia menjumpai di belakang kumpulan orang-orang itu dua orang wanita yang memisahkan diri dari manusia menahan kambing mereka dari air, karena ketidakkuatan dan kelemahan fisik mereka untuk menerobos kumpulan orang-orang lelaki, dan mereka menunggu hingga binatang-binatang ternak orang-orang pulang darinya, kemudian mereka berdua baru memberikan minum bagi ternak mereka berdua. Ketika Musa melihat mereka berdua, hati Musa merasa iba kepada mereka, kemudian bertanya kepada mereka, “apa yang kalian inginkan?” mereka menjawab, “Kami tidak mampu menerobos kumpulan orang-orang lelaki,dan kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sampa orang-orang selesai memberi minum ternak-ternak mereka, sedang ayah kami adalah orang yang sudah lanjut usia, tidak mampu memberi minum ternaknya karena kelemahan fisik dan usianya yang sudah tua.”

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr

 24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

Maka Musa menggatikan mereka berdua memberikan minum hewan ternak mereka dan lalu berjalan menuju arah bayangan pohon dan ia berteduh dengannya, dan dia berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku membutuhkan kebaikan jenis apa pun yang Engkau giring kepadaku, seperti makanan.” Dan waktu itu, rasa lapar telah melilitnya.

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

fa jā`at-hu iḥdāhumā tamsyī ‘alastiḥyā`ing qālat inna abī yad’ụka liyajziyaka ajra mā saqaita lanā, fa lammā jā`ahụ wa qaṣṣa ‘alaihil-qaṣaṣa qāla lā takhaf, najauta minal-qaumiẓ-ẓālimīn

 25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

Kemudian salah seorang wanita yang telah ia gantikan untuk meminumkan air bagi ternaknya berjalan ke arahnya dengan malu-malu. Wanita itu berkata, “Sesungguhnya ayahku memanggil kamu untuk memberimu imbalan atas bantuanmu memberi minum bagi (ternak) kami.” Lalu Musa berjalan bersamanya menuju ayahnya. Ketika Musa sampai pada ayah wanita itu dan menceritakan kepadanya kisah dirinya bersama Fir’aun dan kaumnya, ayah wanita itu berkata, “Janganlah takut. Kamu telah selamat dari kaum yang zhalim. Yaitu, Fir’aun dan kaumnya. Sebab, ia tidak memiliki kekuasaan atas negeri kami.”

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

qālat iḥdāhumā yā abatista`jir-hu inna khaira manista`jartal-qawiyyul-amīn

 26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Salah seorang wanita itu berkata kepada bapaknya, “Wahai ayah, jadikanlah ia orang yang bekerja menggembala ternak untukmu. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan untuk menggembalakan ternak adalah orang yang kuat untuk menjaga ternakmu lagi dapat dipercaya yang engkau tidak khawatir ia akan berkhianat dalam urusan yang engkau percayakan kepadanya.”

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

qāla innī urīdu an ungkiḥaka iḥdabnatayya hātaini ‘alā an ta`juranī ṡamāniya ḥijaj, fa in atmamta ‘asyran fa min ‘indik, wa mā urīdu an asyuqqa ‘alaīk, satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣāliḥīn

 27.  Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

Orang tua itu berkata kepada Musa, “Sesungguhnya aku ingin menikahkan kamu dengan salah seorang putriku ini dengan syarat kamu bekerja untukku menggembala ternakku selama delapan tahun sebagai imbalannya. Apabila kamu menyempurnakan sampai sepuluh tahun, maka itu adalah satu tindakan baik darimu. Dan aku tidak ingin mempersulit dirimu dengan menjadikan masa kerjanya sepuluh tahun. Kamu akan mendapatiku insya allah termasuk orang-orang yang shalih dalam pergaulan yang baik dan menepati janji apa yang aku katakan.”

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖ وَاللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

qāla żālika bainī wa bainak, ayyamal-ajalaini qaḍaitu fa lā ‘udwāna ‘alayy, wallāhu ‘alā mā naqụlu wakīl

 28.  Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

Musa berkata, “Apa yang kamu katakan tadi berlaku antara aku dan kamu. Maksudnya, mana saja dari kedua tempo waktu yang aku jalani dalam bekerja, maka aku sudah memenuhi kewajiban kepadamu. Maka aku tidak akan dituntut untuk melakukan yang lebih dari itu. Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan, lagi Maha Pemelihara yang menyertai kita, dan Mengetahui perjanijian yang kita buat bersama.”

۞ فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

fa lammā qaḍā mụsal-ajala wa sāra bi`ahlihī ānasa min jānibiṭ-ṭụri nārā, qāla li`ahlihimkuṡū innī ānastu nāral-la’allī ātīkum min-hā bikhabarin au jażwatim minan-nāri la’allakum taṣṭalụn

 29.  Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”.

Setelah nabi Allah, Musa menepati tempo waktu selama sepuluh tahun kepada orang tersebut, yaitu tempo waktu yang lebih lama, dan berangkat bersama keluarganya menuju Mesir, dia melihat nyala api di lereng gunung. Musa berkata kepada keluarganya, “Sebentar dan tunggulah, sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku bisa kembali kepada kalian darinya dengan satu berita atau aku kembali kepada kalian dengan membawa nyala api agar kalian dapat menghangatkan badan dengannya.”

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

fa lammā atāhā nụdiya min syāṭi`il-wādil-aimani fil-buq’atil-mubārakati minasy-syajarati ay yā mụsā innī anallāhu rabbul-‘ālamīn

 30.  Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.

وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ

wa an alqi ‘aṣāk, fa lammā ra`āhā tahtazzu ka`annahā jānnuw wallā mudbiraw wa lam yu’aqqib, yā mụsā aqbil wa lā takhaf, innaka minal-āminīn

 31.  dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.

30-31. Maka tatkala Musa mendatangi api itu, Allah menyerunya dari pinggir lembah sebelah kanan Musa, di tempat yang di berkahi, dari sisi sebuah pohon, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan Penguasa alam semesta. Dan lemparkanlah tongkatmu.” Lalu Musa melemparkannya, maka tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang bergerak-gerak cepat. Ketika Musa melihatnya bergerak-gerak seakan-akan dari bangsa ular, ia berbalik lalu menjauh darinya, dan ia tidak menoleh ke belakang karena rasa takut. Maka Tuhannya memangilnya, “Wahai Musa kembalilah kamu kepadaKu, dan jangan takut. Sesungguhnya kamu itu termasuk orang-orang yang aman dari segala hal yang buruk.

اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ ۖ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

usluk yadaka fī jaibika takhruj baiḍā`a min gairi sū`iw waḍmum ilaika janāḥaka minar-rahbi fażānika bur-hānāni mir rabbika ilā fir’auna wa mala`ih, innahum kānụ qauman fāsiqīn

 32.  Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Masukkanlah tanganmu ke dalam lubang bajumu yang terbuka sampai kebagian dada dan keluarkanlah, niscaya akan keluar dalam keadaan putih seperti salju tanpa ada penyakit atau kusta. Dan dekapkanlah tanganmu ke dada agar kamu merasa aman dari rasa takut. Dua hal ini yang Aku perlihatkan kepadamu, wahai Musa, berupa berubahnya tongkat menjadi ular dan tanganmu menjadi putih bersinar tanpa ada penyakit atau kusta, merupakan dua mukjizat dari Tuhanmu ke hadapan Fir’aun dan para pembesar kaumnya. Sesungguhnya fir’aun dan pembesar-pembesarnya adalah orang-orang yang kafir.

قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

qāla rabbi innī qataltu min-hum nafsan fa akhāfu ay yaqtulụn

 33.  Musa berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ

wa akhī hārụnu huwa afṣaḥu minnī lisānan fa arsil-hu ma’iya rid`ay yuṣaddiqunī innī akhāfu ay yukażżibụn

 34.  Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.

33-34. Musa berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seseorang dari kaum Fir’aun. Dan aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku, Harun, lebih fasih tutur katanya daripadaku, maka utuslah dia berasamaku menjadi pendukung yang membenarku dan menggantikanku untuk menjelaskan kepada mereka. Sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakan aku terkait ucapanku kepada mereka, ‘Sesungguhnya aku adalah seorang rasul yang di utus kepada mereka’.”

قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا ۚ بِآيَاتِنَا أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ

qāla sanasyuddu ‘aḍudaka bi`akhīka wa naj’alu lakumā sulṭānan fa lā yaṣilụna ilaikumā bi`āyātinā, antumā wa manittaba’akumal-gālibụn

 35.  Allah berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.

Allah berfirman kepada Musa, “Kami akan menguatkan kamu dengan saudaramu dan Kami menjadikan bagi kalian kekuatan hujjah atas Fir’aun dan kaumnya. Maka mereka tidak dapat mencapai kalian berdua dengan melancarkan keburukan. Kalian berdua (wahai Musa dan Harun) dan orang-orang yang beriman kepada kalian berdua adalah orang-orang yang menang atas Fir’aun dan kaumnya, disebabkan mukjizat-mukjizat yang Kami berikan dan kandungannya yang menunjukkan kepada kebenaran.”

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

fa lammā jā`ahum mụsā bi`āyātinā bayyināting qālụ mā hāżā illā siḥrum muftaraw wa mā sami’nā bihāżā fī ābā`inal-awwalīn

 36.  Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu”.

maka Ketika Musa mendatangi Fir’aun dan menyodorkan kepadanya seluruh dalil dan hujjah Kami yang menjadi saksi akan kebenaran risalah yang dibawa Musa dari sisi Tuhannya, mereka berkata kepada Musa, “Tidaklah yang kamu bawa kepada kami ini kecuali tipuan sihir saja yang kamu buat-buat dengan kebohongan dan kebatilan. Dan kami belum pernah mendengar seruan yang kamu ajak kami kepadanya dari para pendahulu kami yang telah meninggal sebelum kami.”

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

wa qāla mụsā rabbī a’lamu biman jā`a bil-hudā min ‘indihī wa man takụnu lahụ ‘āqibatud-dār, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

 37.  Musa menjawab: “Tuhanku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim”.

Dan Musa berkata kepada Fir’aun, “Tuhanku lebih mengetahui daripada kami siapa orang yang berada di atas kebenaran yang datang dengan membawa petunjuk yang lurus dari sisiNya dan orang yang akan memperoleh kesudahan yang terpuji di negeri akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kezhaliman tidaklah mendapat kemenangan meraih apa yang mereka inginkan.”

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

wa qāla fir’aunu yā ayyuhal-mala`u mā ‘alimtu lakum min ilāhin gairī, fa auqid lī yā hāmānu ‘alaṭ-ṭīni faj’al lī ṣarḥal la’allī aṭṭali’u ilā ilāhi mụsā wa innī la`aẓunnuhụ minal-kāżibīn

 38.  Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.

Dan Fir’aun berkata kepada para pembesar kaumnya, “Wahai para pembesarku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian yang berhak disembah selain aku. Nyalakanlah api (wahai Haman) di atas tanah liat agar menjadi kokoh dan buatkanlah bagiku suatu bangunan yang memjulang tinggi, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa yang dia sembah dan dia menyeru (manusia) untuk menyembahNya. Dan sesungguhnya aku yakin dia termasuk orang-orang yang berbohong dalam ucapan yang dikatakannya.”

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ

wastakbara huwa wa junụduhụ fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa ẓannū annahum ilainā lā yurja’ụn

 39.  dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.

Dan Fir’aun dan bala tentaranya telah berbuat kesombongan di negeri Mesir tanpa alasan yang dibenarkan untuk mau membenarkan Musa dan para mengikutinya terhadap dakwah yang ia serukan kepada mereka. Dan mereka beranggapan bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dibangkitkan setelah kematian mereka.

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

fa akhażnāhu wa junụdahụ fa nabażnāhum fil-yamm, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatuẓ-ẓālimīn

 40.  Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.

Maka Kami menyiksa Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka semua ke dalam laut dan Kami tenggelamkan mereka semua. Maka lihatlah (wahai Rasul) bagaimana kesudahan orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan berbuat kafir kepada Tuhan mereka.

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ

wa ja’alnāhum a immatay yad’ụna ilan-nār, wa yaumal-qiyāmati lā yunṣarụn

 41.  Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dan Kami jadikan Fir’aun dan kaumnya sebagai pemimpin menuju neraka yang akan diikuti oleh orang-orang kafir dan fasik. Dan pada Hari Kiamat, mereka tidak mendapatkan pertolongan. Hal itu disebabkan oleh kekafiran dan pendustaan mereka terhadap utusaan Tuhan mereka dan ketetapan hati mereka untuk terus mengerjakannya.

وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ

wa atba’nāhum fī hāżihid-dun-yā la’nah, wa yaumal-qiyāmati hum minal-maqbụḥīn

 42.  Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).

Dan Kami iringkan pada Fir’aun dan kaumnya di dunia ini kehinaan dan kemurkaan Kami kepada mereka, dan pada Hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang perbuatan mereka dinilai buruk dan mereka dijauhkan dari rahmat allah.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba mim ba’di mā ahlaknal-qurụnal-ụlā baṣā`ira lin-nāsi wa hudaw wa raḥmatal la’allahum yatażakkarụn

 43.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.

Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa kitab Taurat setelah Kami membinasakan umat-umat sebelum dia (seperti kaum Nuh, Ad, Tsamud dan kaum Luth serta penduduk Madyan). Di dalam kitab taurot itu terdapat petunjuk-petunjuk bagi Bani Israil. Dengan itu, mereka dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan perkara-perkara yang membahayakan mereka. Dan di dalamya terdapat rahmat bagi orang yang mengamalkannya dari mereka. Mudah-mudahan mereka mau mengngat-ingat nikmat-nikmat Allah yang tercurah pada mereka, lalu mereka mensyukuri Allah atas nikmat tersebut dan tidak kafir terhadapNya.

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ إِذْ قَضَيْنَا إِلَىٰ مُوسَى الْأَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

wa mā kunta bijānibil-garbiyyi iż qaḍainā ilā mụsal-amra wa mā kunta minasy-syāhidīn

 44.  Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan.

. Dan tidaklah kamu (wahai Rasul) berada di sisi sebelah barat dari Musa ketika Kami bebankan kepadanya perintah dan larangan Kami, dan kamu tidaklah termasuk orang-orang yang menyaksikannya, sehingga dapat dikatakan bahwa ia sampai kepadamu melalui jalan ini.

وَلَٰكِنَّا أَنْشَأْنَا قُرُونًا فَتَطَاوَلَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ ۚ وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِي أَهْلِ مَدْيَنَ تَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَلَٰكِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

wa lākinnā ansya`nā qurụnan fa taṭāwala ‘alaihimul-‘umur, wa mā kunta ṡāwiyan fī ahli madyana tatlụ ‘alaihim āyātinā wa lākinnā kunnā mursilīn

 45.  Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Mad-yan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul.

Akan tetapi, Kami telah menciptakan umat-umat manusia setelah Musa. Lalu mereka hidup sekian lama sehingga melupakan perjanjian dengan Allah dan mereka meninggalkan perintahNya. Dan kamu tidaklah tinggal di kota Madyan untuk membacakan kitab Kami, lalu kamu mengetahui sejarah mereka dan memberitahukan itu (kepada orang lain). Akan tetapi, berita yang kamu bawa tentang Musa itu adalah wahyu dan menjadi saksi pembenar atas risalahmu.

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَٰكِنْ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa mā kunta bijānibiṭ-ṭụri iż nādainā wa lākir raḥmatam mir rabbika litunżira qaumam mā atāhum min nażīrim ming qablika la’allahum yatażakkarụn

 46.  Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu agar mereka ingat.

Dan kamu (wahai Rasul) juga tidak berda di sisi Gunung Thursina ketika Kami menyeru Musa dan kamu juga tidak menyaksikan apa pun dari kejadian itu sehingga kamu menjadi tahu sendiri. Akan tetapi, Kami mengutusmu sebagai rahmat dari sisi Tuhanmu, agar kamu memperingatkan kaum yang belum pernah di datangi seorang pemberi peringatan (rasul) sebelummu, supaya mereka ingat akan kebaikan yang kamu bawa lalu mereka melaksanakannya, dan keburukan yang kamu larang darinya sehingga mereka menjauhinya.

وَلَوْلَا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

walau lā an tuṣībahum muṣībatum bimā qaddamat aidīhim fa yaqụlụ rabbanā lau lā arsalta ilainā rasụlan fa nattabi’a āyātika wa nakụna minal-mu`minīn

 47.  Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin”.

Dan supaya ketika siksaan menimpa orang-orang kafir itu dikarenakan kekafiran mereka terhadap Tuhan mereka, mereka tidak mengatakan, “Wahai Tuhan Kami, mengapa Engkau tidak mengutus kepada kami seorang rasul sebelumnya lalu kami akan mengikuti ayat-ayatMu yang diturunkan di dalam kitabMu dan kami menjadi orang-orang yang beriman kepadamu?”

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَىٰ ۚ أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ

fa lammā jā`ahumul-ḥaqqu min ‘indinā qālụ lau lā ụtiya miṡla mā ụtiya mụsā, a wa lam yakfurụ bimā ụtiya mụsā ming qabl, qālụ siḥrāni taẓāharā, wa qālū innā bikulling kāfirụn

 48.  Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: “Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?”. Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata: “Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu”. Dan mereka (juga) berkata: “Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu”.

Maka ketika Muhammad datang kepada orang-orang itu sebagai pemberi peringatan bagi mereka, mereka mengatakan, “Mengapa orang yang di utus kepada kami tidak diberikan kepadanya apa yang diberikan kepada Musa berupa mukjizat-mukjizat yang dapat dilihat oleh mata dan satu kitab yang turun sekaligus?” katakanlah (wahai rasul) kepada mereka, “Bukankah kaum Yahudi telah kafir kepada apa yang dibawa Musa sebelumnya? Dan mereka berkata tentang Taurat dan al-Qur’an, ‘Dua sumber sihir yang saling mendukung dalam pengaruh sihirnya’, dan mereka berkata, ‘Kami kafir terhadap keduanya’?”

قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَىٰ مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul fa`tụ bikitābim min ‘indillāhi huwa ahdā min-humā attabi’hu ing kuntum ṣādiqīn

 49.  Katakanlah: “Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar”.

katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka, “Datangkanlah oleh kalian satu kitab dari sisi Allah yang lebih lurus petunjuknya daripada Taurat dan al-Qur’an, niscaya aku akan mengikutinya, jika kalian adalah orang-orang yang benar dalam pengakuan kalian.”

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

fa il lam yastajībụ laka fa’lam annamā yattabi’ụna ahwā`ahum, wa man aḍallu mim manittaba’a hawāhu bigairi hudam minallāh, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

 50.  Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Maka jika mereka tidak menyambut seruan dakwahmu dengan membawa kitab, dan tidak ada hujjah apa pun yang tersisa lagi bagi mereka, maka ketahuilah sesunggguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka belaka. Dan tidak ada orang yang lebih besar kesesatannya daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberikan taufik untuk berada di atas kebenaran kepada kaum yang berbuat zhalim yang melanggar perintah Allah dan telah melampaui batas-batas ketetapanNya.

۞ وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad waṣṣalnā lahumul-qaula la’allahum yatażakkarụn

 51.  Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al Quran) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran.

Dan sungguh Kami telah menguraikan dengan rinci dan menerangkan al-Qur’an sebagai rahmat bagi kaummu, wahai Rasul, mudah-mudahan mereka mau mengingat-ingat dan mengambil pelajaran darinya.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ

allażīna ātaināhumul-kitāba ming qablihī hum bihī yu`minụn

 52.  Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu.

Dan orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab sebelum al-Qur’an (yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengubah ajaran mereka) mereka itu beriman kepada al-Qur’an dan kepada Muhammad

وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ

wa iżā yutlā ‘alaihim qālū āmannā bihī innahul-ḥaqqu mir rabbinā innā kunnā ming qablihī muslimīn

 53.  Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).

Apabila dibacakan al-Qur’an ini kepada orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab, mereka akan mengatakan, “Kami mengimaninya, dan kami mengamalkan kandungannya. Sesungguhnya ia merupakan kebenaran dari Tuhan kami. Sesungguhnya sebelum turunnya al-qur’an, kami adalah orang yang berserah diri dan mengesakan Allah karena agama Allah itu satu, yaitu Islam.”

أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

ulā`ika yu`tauna ajrahum marrataini bimā ṣabarụ wa yadra`ụna bil-ḥasanatis-sayyi`ata wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

 54.  Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

wa iżā sami’ul-lagwa a’raḍụ ‘an-hu wa qālụ lanā a’mālunā wa lakum a’mālukum salāmun ‘alaikum lā nabtagil-jāhilīn

 55.  Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

54-55. Orang-orang yang telah disebutkan sifat-sifat (ciri-ciri) nya itu, mereka diberi pahala dua kali atas keimanan mereka terhadap kitab suci mereka dan keimanan mereka terhadap al-Qur’an dengan kesabaran mereka. Dan termasuk karakter mereka, bahwasanya mereka menolak keburukan dengan kebaikan, dan mereka menafkahkan sebagian yang Kami rizkikan kepada meeka di jalan kebaikan dan kebajikan. Apabila mereka mendengar perkataan batil, mereka tidak memfokuskan pendengaran mereka untuk menyimaknya. Mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan kami tidak akan membelok darinya. Dan bagi kalian perbuatan-perbuatan kalian dan dosanya menjadi tanggungan kalian sendiri. Kami tidak ingin menyibukkan diri untuk membantah kalian, sedang kalian tidaklah mendengar dari kami kecuali hal-hal baik saja. Kami tidak ingin berkomunikasi kepada kalian atas dasar kebodohan kalian. Sebab sesungguhnya kami tidak ingin jalan orang-orang jahil dan tidak menyukainya.” Ini termasuk kata-kata terbaik yang diucapkan para da’i yang mengajak manusia kepada Allah.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

innaka lā tahdī man aḥbabta wa lākinnallāha yahdī may yasyā`, wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

 56.  Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Sesungguhnya kamu (wahai Rasul) tidak bisa memberikan hidayah taufik kepada orang yang kamu inginkan memperoleh hidayah. Akan tetapi, urusan itu berada di tangan Allah, Dia memberikan hidayah kepada orang yang dikehendakiNya untuk Dia beri hidayah menuju keimanan dan memberikan taufik kepadanya menuju hidayah itu. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang pantas menerima hidayah dan kemudian Dia menunjukkannya kepadanya.

وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا ۚ أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa qālū in nattabi’il-hudā ma’aka nutakhaṭṭaf min arḍinā, a wa lam numakkil lahum ḥaraman āminay yujbā ilaihi ṡamarātu kulli syai`ir rizqam mil ladunnā wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 57.  Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Orang-orang kafir Makkah berkata, “jika kami mengikuti kebenaran yang kamu bawa kepada kami dan kami berlepas diri dari para pembela dan tuhan-tuhan (kami), niscaya kami akan diusir dari tempat kami dengan dibunuh, ditawan dan terampas kekayaan kami.” Bukankah Kami telah menjadikan mereka berkuasa di negeri yang aman, di mana Kami mengharamkan atas manusia untuk menumpahkan darah di dalamnya, dipasok kepadanya buah-buahan dari segala sesuatu (tumbuhan) sebagai rizki dari sisi Kami? akan tetapi, kebanyakan kaum musyrikin tidak mengerti urgensi kenikmatan-kenikmatan yang tercurah kepada mereka itu, sehingga mereka tidak mensyukuri Dzat yang telah melimpahkan karunia itu kepada mereka dan tidak menaatiNya.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ

wa kam ahlaknā ming qaryatim baṭirat ma’īsyatahā, fa tilka masākinuhum lam tuskam mim ba’dihim illā qalīlā, wa kunnā naḥnul-wāriṡīn

 58.  Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya).

Dan banyak dari penduduk negeri-negeri yang telah Kami binasakan ketika kehidupan mereka telah melalaikan mereka dari keimanan kepada rasul-rasul, lalu mereka ingkar dan berbuat aniaya. Maka itulah kediaman-kediaman mereka, tidak dihuni sepeninggal mereka kecuali sebagian kecil saja darinya. Dan Kami adalah pewaris para hamba, Kami mematikan mereka, kemudian mereka dikembalikan kepada Kami, lalu Kami memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

wa mā kāna rabbuka muhlikal-qurā ḥattā yab’aṡa fī ummihā rasụlay yatlụ ‘alaihim āyātinā, wa mā kunnā muhlikil-qurā illā wa ahluhā ẓālimụn

 59.  Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.

Dan tidaklah Tuhanmu (wahai Rasul) membinasakan negeri-negeri yang berada di sekitar Makkah pada masamu sehingga diutus di ibukota (makah) itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Dan Kami tidaklah membinasakan negeri-negeri kecuali penduduknya dalam keadaan berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dengan kafir kepada Allah dan berbuat maksiat kepadaNya. Maka dengan itu, mereka pantas mendapatkan hukuman dan siksaan.

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa mā ụtītum min syai`in fa matā’ul-ḥayātid-dun-yā wa zīnatuhā, wa mā ‘indallāhi khairuw wa abqā, a fa lā ta’qilụn

 60.  Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

Apa saja yang diberikan kepada kalian (wahai manusia) dari segala sesuatu berupa harta benda dan anak-anak, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan kenikmatan yang kalian bersenang-senang dengannya di kehidupan dunia ini dan merupakan perhiasan yang dijadikan penghias. Sedang apa yang ada di sisi Allah bagi orang-orang yang taat dan loyal kepadaNya adalah lebih baik dan lebih kekal; karena bersifat langgeng tanpa pernah habis. Maka apakah kalian tidak memiliki akal (wahai sekalian kaum) untuk merenung dengannya, sehingga kalian menjadi tahu antara kebaikan dari keburukan?

أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

a fa maw wa’adnāhu wa’dan ḥasanan fa huwa lāqīhi kamam matta’nāhu matā’al-ḥayātid-dun-yā ṡumma huwa yaumal-qiyāmati minal-muḥḍarīn

 61.  Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?

Apakah orang yang Kami janjikan dari hamba-hamba Kami atas ketaatannya kepada kami dengan surga, lalu dia mendapatkan apa yang dijanjikan kepadanya dan ia menuju kesana, sama seperti orang yang Kami berikan kenikmatan duniawi kepadanya di kehiduan dunia ini, lalu dia bersenang-senang dengannya dan lebiih mengutamakan kenyamanan hidup duniawi dibandingkan ukhrawi, kemudian dia di Hari Kiamat termasuk orang-orang yang diajukan untuk menghadapi perhitungan perbuatan-perbuatan dan pembalasannya? Dua golongan itu tidak sama. Maka hendaklah orang yang berakal memilih pilihan yang terbaik bagi dirinya, yaitu taat kepada Allah dan mengharap keridhaanNya.

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa yauma yunādīhim fa yaqụlu aina syurakā`iyallażīna kuntum taz’umụn

 62.  Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?”

Dan pada hari Allah menyeru orang-orang yang menyekutukan para wali dan berhala-berhala denganNya di dunia ini, kemudian Allah berfirman kepada mereka, “Manakah sekutu-sekutuKu yang dahulu kalian beranggapan bahwa mereka adalah sekutu-sekutu bagiKu?”

قَالَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَغْوَيْنَا أَغْوَيْنَاهُمْ كَمَا غَوَيْنَا ۖ تَبَرَّأْنَا إِلَيْكَ ۖ مَا كَانُوا إِيَّانَا يَعْبُدُونَ

qālallażīna ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu rabbanā hā`ulā`illażīna agwainā, agwaināhum kamā gawainā, tabarra`nā ilaika mā kānū iyyānā ya’budụn

 63.  Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka; “Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami”.

Orang-orang yang sudah ditetapkan tertimpa siksaan, yaitu mereka para penyeru kepada kekufuran berkata, “Wahai Tuhan kami, mereka inilah yang telah kami sesatkan, kami menyesatkan mereka sebagaimana kami telah sesat jalan. Kami berlepas diri kepada Engkau untuk membela dan menolong mereka. Mereka itu tidaklah menyembah kami. Sesungguhnya mereka itu hanyalah menyembah setan-setan.”

وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَرَأَوُا الْعَذَابَ ۚ لَوْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَهْتَدُونَ

wa qīlad’ụ syurakā`akum fa da’auhum fa lam yastajībụ lahum, wa ra`awul-‘ażāb, lau annahum kānụ yahtadụn

 64.  Dikatakan (kepada mereka) “Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu”, lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat azab. (Mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk.

Dikatakan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah pada Hari Kiamat, “Panggillah sekutu-sekutu kalian yang dahulu kalian sembah selain Allah. orang-orang itu memanggil sekutu-sekutu itu, akan tetapi sekutu-sekutu itu tidak menyambut panggilan mereka. Seandainya mereka dahulu di dunia menerima petunjuk menuju kebenaran, pastilah mereka tidak disiksa.

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

wa yauma yunādīhim fa yaqụlu māżā ajabtumul-mursalīn

 65.  Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawabanmu kepada para rasul?”

Dan pada hari Allah menyeru orang-orang musyrik tersebut, lalu berfirman, “Dengan jawaban apa kalian menjawab rasul-rasul terkait risalah yang Kami utus mereka kepada kalian dengan membawanya?”

فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ

fa ‘amiyat ‘alaihimul-ambā`u yauma`iżin fa hum lā yatasā`alụn

 66.  Maka gelaplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu, karena itu mereka tidak saling tanya menanya.

Maka alasan-alasan menjadi kabur bagi mereka, mereka tidak tahu lagi apa yang akan mereka jadikan alasan. Sebagian mereka tidak saling bertanya kepada sebagian yang lain dengan pertanyaan yang bermanfaat tentang apa yang mereka jadikan alasan.

فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَىٰ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ

fa ammā man tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa ‘asā ay yakụna minal-mufliḥīn

 67.  Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung.

Adapun orang yang bertaubat dari kalangan kaum musyrikin dan ia mengikhlaskan ibadah bagiNya serta mengamalkan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya, maka dia termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

wa rabbuka yakhluqu mā yasyā`u wa yakhtār, mā kāna lahumul-khiyarah, sub-ḥānallāhi wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

 68.  Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki untuk diciptakanNya dan memilih makhluk yang dikendakiNya untuk menjadi waliNya. Ketetapan menentukan perintah dan pilihan bukanlah menjadi hak seseorang pun. Namun, hal itu hanya menjadi milik Allah. Allah Mahatinggi lagi suci dari kesyirikan mereka.

وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

wa rabbuka ya’lamu mā tukinnu ṣudụruhum wa mā yu’linụn

 69.  Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.

Dan Tuhanmu mengetahui apa-apa yang disembunyikan oleh hati makhluk-makhlukNya dan apa-apa yang mereka tampakkan.

وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ ۖ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa huwallāhu lā ilāha illā huw, lahul-ḥamdu fil-ụlā wal-ākhirati wa lahul-ḥukmu wa ilaihi turja’ụn

 70.  Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dan Dia-lah Allah yang tiada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Segala pujian yang indah dan rasa syukur hanya bagiNya di dunia dan akhirat. Dan semua penentuan di antara para hambaNya juga hanya milikNya, dan kepadaNya-lah kalian akan dikembalikan setelah kematian kalian untuk menghadapi perhitungan amal perbuatan dan pembalasannya.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ

qul a ra`aitum in ja’alallāhu ‘alaikumul-laila sarmadan ilā yaumil-qiyāmati man ilāhun gairullāhi ya`tīkum biḍiyā`, a fa lā tasma’ụn

 71.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah (wahai Rasul), “Beritahukanlah kepadaku (wahai sekalian manusia) bila Allah menjadikan bagi kalian malam terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar bagi kalian yang kalian jadikan sumber cahaya dengannya. Apakah kalian tidak mendengar dengan pendengaran yang melahirkan pemahaman dan penerimaan?

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

qul a ra`aitum in ja’alallāhu ‘alaikumun-nahāra sarmadan ilā yaumil-qiyāmati man ilāhun gairullāhi ya`tīkum bilailin taskunụna fīh, a fa lā tubṣirụn

 72.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Katakanlah kepada mereka, “Beritahukanlah kepadaku, bila Allah menjadikan siang hari terus-menerus untuk kalian sampai Hari Kiamat, maka siapakah tuhan selain Allah yang dapat mendatangkan malam bagi kalian untuk kalian beristirahat dan menenangkan diri padanya? Tidakkah kalian melihat dengan mata-mata kalian terjadinya pergantian malam dan siang?”

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa mir raḥmatihī ja’ala lakumul-laila wan-nahāra litaskunụ fīhi wa litabtagụ min faḍlihī wa la’allakum tasykurụn

 73.  Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Dan di antara bentuk rahmatNya kepada kalian (wahai sekalian manusia) Dia menjadikan malam dan siang dan membedakan antara keduanya. Malam Dia jadikan gelap agar kalian mendapatkan ketenangan padanya dan tubuh-tubuh kalian dapat beristirahat. Dan Dia menjadikan siang bercahaya bagi kalian supaya kalian dapat mencari penghidupan kalian padanya dan agar kalian bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmatNya tersebut pada kalian.

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa yauma yunādīhim fa yaqụlu aina syurakā`iyallażīna kuntum taz’umụn

 74.  Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?”

Pada hari Allah memanggil kaum musyrikin, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Dimanakah sekutu-sekutuKu yang kalian anggap di dunia merupakan sekutu-sekutuKu?”

وَنَزَعْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا فَقُلْنَا هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ فَعَلِمُوا أَنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa naza’nā ming kulli ummatin syahīdan fa qulnā hātụ burhānakum fa ‘alimū annal-ḥaqqa lillāhi wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

 75.  Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.

Dan Kami ambil dari tiap-tiap umat dari umat-umat yang mendustakan, seorang saksi (yaitu nabi mereka) yang bersaksi atas apa yang terjadi di dunia dari perbuatan syirik mereka dan pendustaan yang mereka lakukan terhadap rasul-rasul mereka. Kemudian Kami berfirman kepada umat-umat yang mendustakan rasul-rasul mereka dan risalah yang mereka bawa dari sisi Allah, “Tunjukkanlah bukti-bukti kalian atas perbuatan kalian menyekutukan sesuatu obyek dengan Allah.” Maka mereka sadar bahwa sesungguhnya bukti yang kuat milik Allah telah menyanggah mereka. Dan sesungguhnya kebenaran itu kepunyaan Allah, dan lenyaplah apa yang mereka ada-adakan atas nama Tuhan mereka. Itu tidak bermanfaat bagi mereka. Bahkan mencelakai mereka dan menjerumuskan mereka ke Neraka Jahanam.

۞ إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

inna qārụna kāna ming qaumi mụsā fa bagā ‘alaihim wa ātaināhu minal-kunụzi mā inna mafātiḥahụ latanū`u bil-‘uṣbati ulil-quwwati iż qāla lahụ qaumuhụ lā tafraḥ innallāha lā yuḥibbul-fariḥīn

 76.  Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Sesungguhnya Qarun itu termasuk dari kaum Musa. Dia berbuat melampaui batas dalam kesombongan dan otoriter terhadap orang-orang. Dan Kami telah memberikan kepada Qarun dari perbendaharaan harta kadar yang sangat melimpah, sampai-sampai kuncinya sungguh-sungguh berat dipikul oleh banyak orang berfisik kuat. Ketika itu, kaumnya berkata kepadanya, “janganlah kamu berlaku congkak dengan penuh kegirangan dengan kekayaan yang ada padamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang congkak yang tidak mensyukuri Allah atas pemberian yang diberikanNya kepada mereka.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsing kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn

 77.  Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dan carilah pahala negeri akhirat pada apa yang Allah berikan kepadamu berupa harta benda, dengan mengamalkan ketaatan kepada Allah melalui harta itu di dunia ini. Dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia dengan jalan bersenang-senang di dunia ini dengan hal-hal yang halal, tanpa berlebihan. Dan berbuat baiklah kepada orang-orang dengan memberikan sedekah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dengan (memberikan) harta yang banyak. Dan janganlah kamu mencari apa yang diharamkan oleh Allah berupa tindakan berbuat kerusakan di muka bumi dan penganiayaan terhadap kaummu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan dan Dia akan membalas mereka atas amal perbuatan buruk mereka.”

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

qāla innamā ụtītuhụ ‘alā ‘ilmin ‘indī, a wa lam ya’lam annallāha qad ahlaka ming qablihī minal-qurụni man huwa asyaddu min-hu quwwataw wa akṡaru jam’ā, wa lā yus`alu ‘an żunụbihimul-mujrimụn

 78.  Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Qarun berkata kepada kaumnya yang menasehatinya, “Aku di anugerahi perbendaharaan kekayaan ini, disebabkan oleh apa yang aku miliki berupa ilmu pengetahuan dan kemampuan.” Dan apakah Qarun tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah telah melenyapkan umat-umat manusia sebelum dirinya yang memiliki kekuatan yang lebih besar daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta kekayaan? Dan orang-orang yang berdosa tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka, karena Allah telah mengetahuinya. Mereka itu ditanya dengan pertanyaan untuk tujuan menjelek-jelekkan dan penetapan pengakuan (mereka) saja. Dan Allah akan menghukum mereka atas apa yang Dia ketahui dari mereka.

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

fa kharaja ‘alā qaumihī fī zīnatih, qālallażīna yurīdụnal-ḥayātad-dun-yā yā laita lanā miṡla mā ụtiya qārụnu innahụ lażụ haẓẓin ‘aẓīm

 79.  Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.

Maka Qarun keluar menemui kaumnya dalam perhiasan kemegahannya, guna memamerkan kebesaran dan limpahan kekayaannya. Dan ketika orang-orang yang menghendaki kemewahan kehidupan dunia menyaksikannya, mereka berkata, “Semoga saja kita mempunyai apa yang diberikan kepada Qarun berupa kekayaan dan kemewahan serta kedudukan tinggi. Sesungguhnya Qarun benar-benar memiliki bagian besar dari kenikmatan dunia.

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

wa qālallażīna ụtul-‘ilma wailakum ṡawābullāhi khairul liman āmana wa ‘amila ṣāliḥā, wa lā yulaqqāhā illaṣ-ṣābirụn

 80.  Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.

Dan orang-orang yang dianugerahi ilmu tentang Allah dan syariatNya serta memahami hakikat-hakikat perkara dengan sebenarnya berkata kepada orang-orang yang mengatakan, “Semoga saja kita mempunyai apa yang diberikan kepada Qarun”, “Celaka kalian! Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaNya. Pahala dari Allah yang diperuntukkan bagi orang yang beriman kepadaNya dan rasul-rasulNya dan melakukan amal-amal shalih itu adalah lebih baik daripada apa yang diberikan kepada Qarun. dan tidaklah menerima nasihat ini dan diberi taufik untuk memahami dan melakukannya kecuali orang-orang yang mau bersungguh-sungguh menundukkan jiwanya dan bersabar dalam ketaatan kepada Tuhannya serta menjauhi maksiat-maksiat kepadaNya.”

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

fa khasafnā bihī wa bidārihil-arḍ, fa mā kāna lahụ min fi`atiy yanṣurụnahụ min dụnillāhi wa mā kāna minal-muntaṣirīn

 81.  Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

Maka Kami membenamkan Qarun dan rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada bala tentara yang menolongnya selain Allah. dan tidaklah ia bisa mempertahankan diri dari (siksaan) Allah bila siksaanNya telah menimpanya.

وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

wa aṣbaḥallażīna tamannau makānahụ bil-amsi yaqụlụna waika`annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u min ‘ibādihī wa yaqdir, lau lā am mannallāhu ‘alainā lakhasafa binā, waika`annahụ lā yufliḥul-kāfirụn

 82.  Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”.

Dan orang-orang yang memimpikan keadaan Qarun kemarin mengatakan dengan hati hancur, mawas diri lagi takut dari jatuhnya siksaan Allah pada mereka, “Sesungguhnya Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari para hambaNya dan mempersempit (rizki) bagi orang yang Dia kehendaki dari mereka. Kalaulah sesungguhnya Allah tidak melimpahkan kenikmatan kepada kita di mana Dia tidak menghukum kita atas apa yang kita ucapkan, maka Dia benar-benar akan membenamkan kita sebagaimana yang dilakukan kepada Qarun. Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya orang-orang kafir tidak beruntung di dunia maupun di akhirat?”

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

tilkad-dārul-ākhiratu naj’aluhā lillażīna lā yurīdụna ‘uluwwan fil-arḍi wa lā fasādā, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn

 83.  Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Negeri akhirat itu Kami jadikan kenikmatannya bagi orang-orang yang tidak menghendaki sikap sombong terhadap kebenaran di muka bumi dan kerusakan di sana. Dan tempat kesudahan yang baik (yaitu surga) adalah bagi orang-orang yang membentengi diri dari siksaan Allah, melakukan amal ketaatan, dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ khairum min-hā, wa man jā`a bis-sayyi`ati fa lā yujzallażīna ‘amilus-sayyi`āti illā mā kānụ ya’malụn

 84.  Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.

Barangsiapa yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa tauhid yang murni kepada allah dan amal-amal shalih sesuai dengan ajaran yang disyariatkan Allah, maka baginya pahala yang besar yang lebih baik dari itu, yaitu surga dan kenikmatan yang abadi. Dan barangsiapa yang datang dengan membawa perbuatan-perbuatan buruk, maka orang-orang yang berbuat keburukan tidaklah diberi balasan atas perbuatan mereka kecuali sesuai dengan apa yang mereka perbuat.

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

innallażī faraḍa ‘alaikal-qur`āna larādduka ilā ma’ād, qul rabbī a’lamu man jā`a bil-hudā wa man huwa fī ḍalālim mubīn

 85.  Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.

Sesunggguhnya Dzat yang menurunkan al-Qur’an kepadamu (wahai Rasul) dan mewajibkan atas kamu untuk menyampaikannya dan berpegang teguh dengannya, Dia benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat yang kamu keluar darinya, yaitu Makkah. Katakanlah wahai Rasul kepada kaum musyrikin, “Tuhanku lebih mengetahui orang yang datang membawa hidayah dan orang yang berada dalam kejauhan yang nyata dari kebenaran.”

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ

wa mā kunta tarjū ay yulqā ilaikal-kitābu illā raḥmatam mir rabbika fa lā takụnanna ẓahīral lil-kāfirīn

 86.  Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.

Dan kamu (wahai Rasul) tidaklah pernah mengharapkan turunnya al-Qur’an kepadamu. Akan tetapi, Allah mencurahkan rahmatNya kepadamu, lalu menurunkannya kepadaMu, maka bersukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmatNya. Dan janganlah kamu sekali-kali menjadi penolong bagi orang-orang yang berbuat kesyirikan dan kesesatan.

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ ۖ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

wa lā yaṣuddunnaka ‘an āyātillāhi ba’da iż unzilat ilaika wad’u ilā rabbika wa lā takụnanna minal-musyrikīn

 87.  Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Dan janganlah kaum musyrikin menjadi penghambat bagimu untuk menyebarkan ayat-ayat Tuhanmu dan hujjah-hujjahNya, setelah Kami menurunkannya kepadamu. Dan sampaikanlah risalah dari Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah dalam aspek apa pun.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa lā tad’u ma’allāhi ilāhan ākhar, lā ilāha illā huw, kullu syai`in hālikun illā waj-hah, lahul-ḥukmu wa ilaihi turja’ụn

 88.  Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dan janganlah kamu menyembah tuhan lain bersama Allah. sebab tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Segala sesuatu itu akan hancur dan lenyap kaecuali wajahNya. BagiNya segala penentuan hokum dan kepadaNya kalian akan kembali setelah kematian kalian untuk menghadapi perhitungan amal dan balasannya. Dalam ayat ini terkandung penetapan sifat “wajah” bagi Allah sesuai dengan kesempurnaan dan kebesaran keagunganNya.

Related: Surat al-Ankabut Arab-Latin, Surat ar-Rum Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Luqman, Terjemahan Tafsir Surat as-Sajdah, Isi Kandungan Surat al-Ahzab, Makna Surat Saba

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

27 Al Qashash Ayat 67