Surat Al-Qashash Ayat 29

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

۞ فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى ٱلْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِۦٓ ءَانَسَ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ ٱمْكُثُوٓا۟ إِنِّىٓ ءَانَسْتُ نَارًا لَّعَلِّىٓ ءَاتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

Arab-Latin: Fa lammā qaḍā mụsal-ajala wa sāra bi`ahlihī ānasa min jānibiṭ-ṭụri nārā, qāla li`ahlihimkuṡū innī ānastu nāral-la'allī ātīkum min-hā bikhabarin au jażwatim minan-nāri la'allakum taṣṭalụn

Artinya: Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".

« Al-Qashash 28Al-Qashash 30 »

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Hikmah Menarik Mengenai Surat Al-Qashash Ayat 29

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Qashash Ayat 29 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada beraneka hikmah menarik dari ayat ini. Ada beraneka penjabaran dari banyak mufassirun terhadap kandungan surat Al-Qashash ayat 29, antara lain seperti di bawah ini:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Setelah nabi Allah, Musa menepati tempo waktu selama sepuluh tahun kepada orang tersebut, yaitu tempo waktu yang lebih lama, dan berangkat bersama keluarganya menuju Mesir, dia melihat nyala api di lereng gunung. Musa berkata kepada keluarganya, “Sebentar dan tunggulah, sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku bisa kembali kepada kalian darinya dengan satu berita atau aku kembali kepada kalian dengan membawa nyala api agar kalian dapat menghangatkan badan dengannya.”


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

29. Akhirnya Musa menyelesaikan tenggang waktu yang paling lama dari waktu yang disepakati, yaitu sepuluh tahun. Kemudian dia bertekat untuk pergi ke negeri Mesir bersama istrinya; dan ketika dia berada di tengah perjalanan, dia melihat api di sisi gunung Thur, dan dia meminta keluarganya menunggunya agar dia dapat menuju api itu dengan harapan dia mendapati orang yang menunjukkan jalan atau dia dapat meminta suluh api untuk menghangatkan diri.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

29. Tatkala Musa telah menunaikan tenggat waktu maksimal yaitu sepuluh tahun, dan dia berangkat dengan keluarganya dari negeri Madyan menuju Mesir, ia melihat api di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya, “Tetaplah di sini, aku melihat api, semoga aku bisa membawa kabar kepadamu tentang api itu atau aku membawa untuk kalian suluh api untuk menyalakan api, dengannya kalian bisa menghangatkan diri dari hawa dingin.”


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

29. فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ (Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan)
Yakni menyelesaikannya dengan waktu yang paling sempurna yaitu sepuluh tahun.

وَسَارَ بِأَهْلِهِۦٓ (dan dia berangkat dengan keluarganya)
Menuju Mesir.
Terdapat pendapat mengatakan bahwa seorang suami dapat membawa istrinya kemanapun ia kehendaki.

ءَانَسَ مِن جَانِبِ الطُّورِ نَارًا (dilihatnyalah api di lereng gunung)
Yakni ia melihatnya dari kejauhan.
Kalimat ini telah disebutkan tafsirnya pada surat Taha dengan jelas.

قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوٓا۟ إِنِّىٓ ءَانَسْتُ نَارًا لَّعَلِّىٓ ءَاتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ (gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu)
Kalimat ini juga telah dijelaskan tafsirnya dalam surat Taha dan an-Naml.

أَوْ جَذْوَةٍ(atau (membawa) sesuluh api)
Makna (الجدوة) adalah sepotong bara api.

لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (agar kamu dapat menghangatkan badan”)
Yakni agar kalian dapat menghangatkan badan dengan api tersebut.


📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini bahwasanya seorang suami berhak membawa keluarganya kemana pun ia kehendaki; karena pada dirinya ada keutamaan dan tingkatan yang lebih dari istrinya, kecuali ada perkara yang menjadi syarat akad nikahnya dan harus ia tunaikan karena seorang mukmin itu berpegang teguh pada syarat-syarat yang ia berjanji untuk menunaikannya. dan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih : "Sesungguhnya syarat yang paling berhak untuk kalian penuhi adalah syarat yang kalian gunakan untuk menghalalkan kemaluan (pernikahan)."


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

29. Maka ketika nabi Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dengan nabi Syu’aib yaitu sepuluh tahun, lantas nabi Musa meninggalkan kota Madyan dan dengan izin nabi Syu’aib berangkat menuju Mesir bersama istrinya. Sebagai laki-laki berhak membawa pergi keluarganya kemanapun dia kehendaki. Nabi Musa lalu melihat api di lereng gunung Thursina ia berkata kepada istrinya: "Tunggulah (di sini, aku sungguh melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari tempat itu) api itu atau dapat membawa sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Maka ketika Musa telah menyelesaikan} menyempurnakan {waktu yang ditentukan itu dan berangkat dengan keluarganya, dia melihat} melihat {api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya,“Tunggulah. Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari sana atau sepercik api} nyala api {agar kalian bisa mendapat kehangatan} kalian bisa mendapat kehangatan darinya dari hawa dingin


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

29. “Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan.” Bisa jadi Musa telah menyelesaikan waktu yang wajib yang telah ditentukan atau sudah melebihinya, sebagaimana bisa diduga pada Musa dan penunaiannya, kemudian dia merasa rindu untuk berjumpa dengan kelarga, ibunda, kerabat dekat dan tanah airnya. Dan diduga pula, karena sudah lamanya masa, bahwa mereka telah melupakan apa yang telah diperbuatnya. “Dan dia berangkat dengan keluarganya,” menuju Mesir, lalu “dia melihat api di lereng gunung Thur.” maka “dia berkata kepada keluarganya, ‘Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu’,” atau aku membawakan cahaya api obor kepadamu, “atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.” Pada saat itu dia sudah kedinginan dan tersesat jalan.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 29-32
Telah disebutkan dalam tafsir ayat sebelumnya bahwa nabi Musa telah menunaikan masa yang paling banyak, paling baik, paling sempurna, dan dan paling bersih dari kedua masa itu.
Firman Allah: (dan dia berangkat bersama keluarganya) Mereka berkata bahwa nabi Musa merasa rindu dengan negerinya dan keluarganya, maka dia bertekad untuk mengunjungi mereka dengan sembunyi-sembunyi dari Fir'aun dan kaumnya. Ketika dia dalam keadaan demikian (dilihatnyalah api di lereng gunung) yaitu dia melihat nyala api yang terang dari kejauhan (ia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api”) yaitu aku akan berangkat menuju ke tempat api itu (mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu) Demikian itu karena pada saat itu nabi Musa tersesat (atau membawa sesuluh api) yaitu sebagian dari nyala api itu (agar kamu dapat menghangatkan badan”) yaitu, untuk kamu berdiang agar tidak kedinginan oleh cuaca dingin. Allah SWT berfirman: (Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah sebelah kanannya) yaitu dari pinggir lembah yang ada di sebelah bukit itu yang berada di sebelah kanannya dari arah barat, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa) (Surah Al-Qashash: 44) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa nabi Musa menuju ke arah tempat api itu yang mengarah ke kiblat, dan bukit yang ada di barat berada di sebelah kanannya. dia menjumpai api itu menyala besar pada pohon hijau di lereng bukit yang bersebelahan dengan lembah itu. Nabi Musa berdiri tertegunmenyaksikan pemandangan itu. Maka Tuhannya menyerunya: (dari (arah) pinggir lembah sebelah kanannya yang diberkati dari sebatang pohon kayu)
Firman Allah SWT: (Yaitu, "Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”)
yaitu, yang sedang berbicara kepadamu ini adalah Tuhan alam semesta yang Maha Berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki, tidak ada Tuhan dan Rabb selain Dia. Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari kemiripan dengan makhlukNya dalam Dzat, sifat, dan perbuatanNya.
Firman Allah: (dan lemparkanlah tongkatmu) yang ada di tanganmu. Sebagaimana yang disebutkan tentang itu dalam firmanNya SWT: ("Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa?” (17) Musa menjawab, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya” (18)) (Surah Thaha) Makna yang dimaksud adalah bahwa adapun tongkatmu yang telah kamu kenal itu, lemparkanlah (Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (20)) (Surah Thaha)
Lalu dia mengetahui dan menyedari bahwa Dzat yang berbicara denganya adalah Dzat yang berfirman pada sesuatu “Jadilah” maka terjadilah sesuatu itu, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam tafsir surah Thaha. Allah SWT berfirman di sini: (Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak) yaitu bergerak (seolah-olah dia seekor ular yang gesit) yaitu ular itu dalam gerakannya sangat cepat, dengan bentuk dan penyangganya yang sangat besar, mulutnya lebar, dan taring-taring serta gigi-giginya berderak-derak. Tidak ada suatu batu besar pun yang dilaluinya melainkan ditelannya, lalu masuk ke dalam mulutnya dan masuk ke dalam perutnya mengeluarkan suara dentuman seakan-akan terjatuh dari atas lembah. Maka pada saat itu, (larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh) yaitu tidak menoleh karena tabiat manusia merasa takut melihat pemandangan seperti itu. Ketika Allah SWT berfirman kepadanya: (Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman) Maka nabi Musa kembali ke tempat pertama. Kemudian Allah SWT berfirman: (Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit) yaitu apabila kamu masukkan tanganmu ke leher bajumu, lalu kamu keluarkan, maka sesungguhnya tanganmu itu akan mengeluarkan sinar berkilauan seakan-akan sinar kilat yang menyilaukan. Oleh karena itu Allah berfirman: (bukan karena penyakit) yaitu, bukan karena terkena penyakit
Firman Allah: (dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan) Mujahid berkata bahwa hal itu karena terkejut.
Makna yang dimaksud lebih umum daripada hal ini, bahwa Allah memerintahkan kepadanya jika dia merasa takut hendaknya mendekapkan tangannya ke dadanya, apabila nabi Musa melakukan hal itu, maka akan hilang rasa takutnya. Barangkali jika seseorang melakukan hal tersebut hanya untuk mengikutinya,, lalu dia meletakkan tangannya ke dadanya, maka akan lenyap atau menjadi ringan rasa takutnya jika Allah SWT menghendaki dan dengan itu dia percaya diri..
Firman Allah: (maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu) yaitu pelemparan tongkat, perubahannya menjadi ular, dan memasukkan tangannya ke leher baju, lalu mengeluarkan cahaya putih yang bukan karena penyakit. Keduanya merupakan dalil yang pasti dan terang yang menunjukkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Berbuat dan Maha Memilih sesuatu, serta menunjukkan kebenaran kenabian orang yang menimbulkan peristiwa menakjubkan itu. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: ((yang akan kamu kemukakan) kepada Fir’aun dan pembesar-pembesar (kerajaan)nya) yaitu kepada para pemimpin, pembesar, dan para pengikutnya (Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik) yaitu, keluar dari ketaatan kepada Allah dan menentang agamaNya


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Al-Qashash ayat 29: Maka ketika telah sempurna waktu ditunaikannya perjanjian untuk berkhidmat dan telah memiliki istri, Musa kembali menuju Mesir dan ia juga telah melihat cahaya di samping gunung thur, ia menyangka bahwasanya yang keluar adalah api, kemudian ia meminta istrinya untuk melihat ke arah api tersebut karena ingin segera pergi barangkali (api) tersebut adalah tanda yang bermanfaat dalam rihlah mereka sehingga dapat memperjelas jalan mereka menuju ke Mesir, atau memanfaatkan api tersebut untuk menghangatkan di cuaca yang dingin. Perkataannya : لعلى كم ءاتكم منها mengabarkan bahwasanya Musa tersesat di jalan, tau dia meragukan jalan yang dia lewati, maka dia menginginkan kepastian menuju jalan yang benar.


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Beliau rindu dengan keluarganya dan kampung halamannya.

Setelah Musa ‘alaihis salam menyelesaikan perjanjian dengan mertuanya. Dia berangkat dengan keluarganya dengan sejumlah kambing yang diberi mertuanya, maka pada suatu malam yang gelap dan dingin, Musa ‘alaihis salam tiba di suatu tempat, di mana setiap kali Beliau menghidupkan api, ternyata api itu tidak menyala. Hal ini sangat mengherankan Musa, sehingga ia berkata kepada istrinya seperti yang disebutkan dalam ayat 29.

Tentang jalan yang harus dilalui, di mana ketika itu Beliau sedang tersesat jalan dan merasakan kedinginan.


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Qashash Ayat 29

Setelah nabi musa menyetujui untuk menikahi salah seorang perempuan yang ditemuinya di tempat sumber air dengan syarat-syarat yang diajukan ayah perempuan itu, hiduplah ia bersama keluarganya di madyan. Maka ketika musa telah menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan itu, yaitu sepuluh tahun lamanya, dan ketika dia berangkat kembali menuju tempat kelahirannya di negeri mesir bersama de-ngan keluarganya untuk menemui ibunya dan saudara perempuannya, di tengah perjalanan dia melihat dengan sangat jelas api di lereng gunung dari arah bukit sinai. Ketika itu dia berkata kepada keluarganya, 'tunggulah di sini, jangan beranjak dari tempat ini, sesungguhnya aku melihat cahaya api di tengah kegelapan. Aku akan mendatangi api itu, mudah-Mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari tempat api itu mengenai arah jalan yang akan kita tempuh, atau membawa sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan. '30. Setelah berpesan kepada keluarganya, berangkatlah nabi musa. Maka ketika dia sampai ke tempat yang dilihatnya sebagai sumber api itu, dia diseru dari arah pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon yang tumbuh di sebidang tanah yang diberkahi. Panggilan itu adalah, 'wahai musa! sungguh, aku yang engkau dengar memanggilmu ini adalah Allah, tidak ada yang patut disembah selain aku, tuhan pencipta, pemelihara dan pengawas seluruh alam!.


Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Demikianlah beraneka penjelasan dari para ulama terhadap makna dan arti surat Al-Qashash ayat 29 (arab-latin dan artinya), semoga menambah kebaikan untuk kita. Bantulah perjuangan kami dengan memberikan tautan ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Bacaan Cukup Sering Dilihat

Nikmati ratusan halaman yang cukup sering dilihat, seperti surat/ayat: Alhamdulillah, Al-Ma’un, Al-Baqarah 183, Ali ‘Imran 159, Al-Insyirah, Al-Bayyinah. Ada pula Al-Fath, Yusuf 4, Al-Fil, Inna Lillahi, Al-‘Alaq, At-Tin.

  1. Alhamdulillah
  2. Al-Ma’un
  3. Al-Baqarah 183
  4. Ali ‘Imran 159
  5. Al-Insyirah
  6. Al-Bayyinah
  7. Al-Fath
  8. Yusuf 4
  9. Al-Fil
  10. Inna Lillahi
  11. Al-‘Alaq
  12. At-Tin

Pencarian: al-baqarah ayat 255, surat at tin ayat 4 dan artinya, al quraish, allail, arti surat al balad

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga (3) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
👉 tafsirweb.com/start
 
✅ Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: