Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Ankabut

الم

Arab-Latin: alif lām mīm

Terjemah Arti:  1.  Alif laam miim

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Alif Lam Mim). Keterangan tentang huruf-huruf yang terputus-putus (di awal surat seperti ini) telah berlalu di muka pada permulaan Surat al-Baqarah.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

a ḥasiban-nāsu ay yutrakū ay yaqụlū āmannā wa hum lā yuftanụn

 2.  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Apakah manusia menyangka ketika mereka mengatakan, “Kami beriman,” bahwa sesungguhnya Allah akan membiarkan mereka tanpa cobaan dan ujian?

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

wa laqad fatannallażīna ming qablihim fa laya’lamannallāhullażīna ṣadaqụ walaya’lamannal-kāżibīn

 3.  Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Dan sungguh Kami telah menguji umat-umat manusia sebelum mereka dan mengadakan cobaan pada mereka yang merupakan orang-orang yang Kami mengutus rasul-rasul Kami kepada mereka. Maka Allah benar-benar akan mengetahui kebenaran orang-orang yang benar dalam keimanan mereka dan kedustaan orang-orang yang mendustakan, untuk memisahkan yang satu dengan yang lain.

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

am ḥasiballażīna ya’malụnas-sayyi`āti ay yasbiqụnā, sā`a mā yaḥkumụn

 4.  Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.

Bahkan apakah orang-orang yang berbuat maksiat-maksiat seperti perbuatan syirik dan perbuatan maksiat lainnya mengira bahwa mereka akan dapat melemahkan Kami, sehingga mereka lolos dengan diri mereka dari Kami, dan Kami tidak kuasa atas mereka? Alangkah buruk penilaian mereka yang mereka tetapkan itu.

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

mang kāna yarjụ liqā`allāhi fa inna ajalallāhi la`āt, wa huwas-samī’ul-‘alīm

 5.  Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah dan sangat berharap terhadap pahalaNya, maka sesungguhnya masa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk membangkitkan semua makhluk untuk memberikan pembalasan dan hukuman benar-benar akan tiba lagi dekat. Dan Dia Maha Mendengar semua perkataan dan Maha Mengetahui segala amal perbuatan.

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

wa man jāhada fa innamā yujāhidu linafsih, innallāha laganiyyun ‘anil-‘ālamīn

 6.  Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Dan barangsiapa berjihad di jalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah, dan berjuang menundukkan dirinya untuk taat kepadaNya, sesungguhnya ia tengah berjihad untuk dirinya sendiri. Sebab sesungguhnya ia melakukan itu demi mencari pahala melalui jihadnya. Sesungguhnya Allah MahaKaya, tidak membutuhkan segala amal perbuatan seluruh makhlukNya. KepunyaanNya-lah kerajaan, penciptaan dan penetapan ketentuan.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lanukaffiranna ‘an-hum sayyi`ātihim wa lanajziyannahum aḥsanallażī kānụ ya’malụn

 7.  Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan mengerjakan amal shalih, niscaya Kami sunguh-sungguh akan menghapuskan dosa-dosa dari mereka dan Kami akan benar-benar memberikan pahala kepada mereka atas amal-amal shalih mereka yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaihi ḥusnā, wa in jāhadāka litusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā, ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 8.  Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dan Kami wajibkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orangtuanya dan berlaku baik kepada mereka berdua dengan tutur kata dan perbuatan. Dan apabila mereka berdua memaksamu (wahai manusia) untuk menyekutukan sesuatu denganKu dalam ibadah, maka janganlah kamu melaksanakan perintah mereka berdua. Dan (permintaan berbuat) seluruh jenis maksiat (dari mereka) dihukumi sama dengan permintaan mereka untuk menyekutukan Allah. Tidak ada kewajiban taat kepada makhluk, siapa pun dia, untuk maksiat kepada Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam hadist dari Rasulullah. Kepada-Ku lah tempat kembali kalian pada hari kiamat. Lalu Kami akan beritahukan kepada kalian apa saja yang telah kalian perbuat di dunia, dari perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Dan Aku akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan perbuatan-perbuatan itu.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lanudkhilannahum fiṣ-ṣāliḥīn

 9.  Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, serta mengerjakan amal-amal shalih, niscaya Kami benar-benar akan memasukannya ke dalam surga golongan hamba-hamba Allah yang shalih.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ ۚ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ

wa minan-nāsi may yaqụlu āmannā billāhi fa iżā ụżiya fillāhi ja’ala fitnatan-nāsi ka’ażābillāh, wa la`in jā`a naṣrum mir rabbika layaqụlunna innā kunnā ma’akum, a wa laisallāhu bi`a’lama bimā fī ṣudụril-‘ālamīn

 10.  Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah.” namun, ketika kaum musyrikin mengganggunya, dia gundah tak sabar akibat siksaan dan gangguan mereka, layaknya dia berkeluh kesah karena mengalami siksaan Allah dan tidak bersabar atas ujian dariNya. Maka dia murtad meninggalkan keimanannya. Dan sesungguhnya bila datang pertolongan dari Tuhanmu (wahai Rasul) bagi orang-orang yang beriman kepadaNya, maka orang-orang yang telah murtad meninggalkan keimanan itu berkata, “Sesungguhnya kami bersama kalian (wahai kaum Mukiminin). Kami akan menolong kalian mengatasi musuh-musuh kalian.” Bukankah Allah lebih mengetahui daripada siapapun tentang isi hati seluruh makhlukNya?

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

wa laya’lamannallāhullażīna āmanụ wa laya’lamannal-munāfiqīn

 11.  Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.

Dan Allah benar-benar akan mengetahui (dengan pengetahuan yang tampak jelas bagi para makhluk) orang-orang yang beriman kepadaNya dan mengikuti RasulNya dan melaksanakan syariatNya. Dan Dia akan benar-benar mengetahui orang-orang yang munafik, agar dapat dibeda-bedakan masing-masing golongan dari golongan lainnya.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

wa qālallażīna kafarụ lillażīna āmanuttabi’ụ sabīlanā walnaḥmil khaṭāyākum, wa mā hum biḥāmilīna min khaṭāyāhum min syaī`, innahum lakāżibụn

 12.  Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.

Dan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah dari suku Quraisy, dan tidak mengimani ancaman Allah dan janjiNya, mereka berkata kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengamalkan sariatNya dari suku mereka, “Tinggalkanlah agama Muhammad, dan ikutilah agama kami. Sesungguhnya kami nanti akan memikul dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kalian.” Padahal mereka itu tidak memikul sedikitpun dari dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka itu benar-benar berdusta dalam ucapan yang mereka katakan.

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa layaḥmilunna aṡqālahum wa aṡqālam ma’a aṡqālihim wa layus`alunna yaumal-qiyāmati ‘ammā kānụ yaftarụn

 13.  Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.

Dan orang-orang musyrik itu benar-benar akan memikul beban kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa mereka, serta kesalahan-kesalahan orang-orang yang mereka sesatkan dan mereka halangi dari jalan Alah, di samping dosa-dosa mereka sendiri, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa para pengikut mereka. Dan pada Hari Kiamat, mereka benar-benar akan ditanya tentang kedustaan-kedustaan yang mereka ada-adakan.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

wa laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī fa labiṡa fīhim alfa sanatin illā khamsīna ‘āmā, fa akhażahumuṭ-ṭụfānu wa hum ẓālimụn

 14.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka dia tinggal di tengah mereka selama 950 tahun lamanya. Ia menyeru mereka kepada tauhid dan melarang mereka dari perbuatan syirik. Akan tetapi, mereka tidak menyambut seruannya. Maka Allah mengahancurkan mereka dengan banjir besar, sedang mereka dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri dengan perbuatan kafir dan sikap aniaya mereka.

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

fa anjaināhu wa aṣ-hābas-safīnati wa ja’alnāhā āyatal lil-‘ālamīn

 15.  Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.

Maka Kami menyelamatkan Nuh dan orang-orang yang mengikutinya dari orang-orang yang bersamanya di dalam perahu. Dan Kami menjadikan

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa ibrāhīma iż qāla liqaumihi’budullāha wattaqụh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

 16.  Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Dan ingatlah (wahai rasul) tentang Ibrahim ketika ia menyeru kaumnya, “Ikhlaskanlah ibadah karena Allah semata. Dan takutlah terhadap kemurkaanNya, dengan cara menjalankan kewajiban-kewajiban dariNya dan menjauhi maksiat-maksiat kepadaNya. Itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui apa yang baik bagi kalian dari apa yang buruk bagi kalian.

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

innamā ta’budụna min dụnillāhi auṡānaw wa takhluqụna ifkā, innallażīna ta’budụna min dụnillāhi lā yamlikụna lakum rizqan fabtagụ ‘indallāhir-rizqa wa’budụhu wasykurụ lah, ilaihi turja’ụn

 17.  Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.

apa yang kalian sembah (wahai kaum) selain Allah kecuali berhala-berhala saja, dan kalian membuat-buat kedustaan dengan menamakannya sebagai tuhan-tuhan sembahan. Sesungguhnya berhala-hala kalian yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki apa pun kepada kalian. Maka carilah rizki dari sisi Allah, bukan dari berhala-berhala kalian. Dan ikhlaskanlah ibadah hanya kepadaNya, begitu juga rasa syukur atas rizkiNya bagi kalian. Kepada Allah kalian akan dikembalikan setelah kematian kalian. Kemudian Dia akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan apa yang kalian perbuat.”

وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa in tukażżibụ fa qad każżaba umamum ming qablikum, wa mā ‘alar-rasụli illal-balāgul-mubīn

 18.  Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”.

Jika kalian (wahai manusia) mendustakan Rasul Kami, Muhammad, dalam risalah yang kalian diajak untuk mengikutinya, yaitu beribadah kepada Allah saja, maka sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah mendustakan para rasul mereka terkait risalah yang diserukan kepada mereka yang berupa kebenaran. Akibatnya, kemurkaan Allah menimpa mereka. Dan Rasulullah Muhammad tidaklah berkewajiban kecuali hanya menyampaikan kepada kalian risalah dari Allah dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya, dan sungguh ia telah melakukannya.

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

a wa lam yarau kaifa yubdi`ullāhul-khalqa ṡumma yu’īduh, inna żālika ‘alallāhi yasīr

 19.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Tidakkah mereka itu mengetahui bagaimana Allah mengadakan makhluk dari tidak ada, kemudian Dia mengembalikan wujudnya setelah kehancurannya, sebagaimana Dia memulai penciptaannya sekali lagi dalam wujud yang baru, tanpa menyulitkanNya? Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah, sebagaimana mudah bagiNya untuk mengadakannya pertama kali.

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa bada`al-khalqa ṡummallāhu yunsyi`un-nasy`atal-ākhirah, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

 20.  Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang yang mengingkari Hari Kebangkitan setelah kematian, “Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah mengadakan mahkluk-makhlukNya, tidak sulit bagiNya untuk mengadakan itu pertama kali. Demikian pula, bukan perkara sulit bagiNya untuk mengulang penciptaan itu kembali sekali lagi. Sesungguhnya Allah MahaKuasa atas segala sesuatu; tidak ada sesuatu yang diinginkanNya yang melemahkanNya.”

يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَإِلَيْهِ تُقْلَبُونَ

yu’ażżibu may yasyā`u wa yar-ḥamu may yasyā`, wa ilaihi tuqlabụn

 21.  Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.

Dia menyiksa siapa saja dari makhlukNya yang Dia kehendaki atas kejahatan yang dahulu ia perbuat pada hari-hari kehidupannya, dan Dia memberikan rahmat kepada orang-orang yang bertaubat dari mereka dan beramal shalih. KepadaNya-lah kalian akan dikembalikan. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada kalian sesuai apa yang kalian perbuat.

وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ۖ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

wa mā antum bimu’jizīna fil-arḍi wa lā fis-samā`i wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

 22.  Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah.

Dan kalian (wahai sekalian manusia) tidak akan mampu melemahkan Allah di muka bumi dan di langit, jika kalian bermaksiat kepadaNya. Dan kalian tidaklah mempunyai pelindung selain Allah yang menangani urusan-urusan kalian. Dan tidak ada penolong yang menolong kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan pada kalian.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَٰئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wallażīna kafarụ bi`āyātillāhi wa liqā`ihī ulā`ika ya`isụ mir raḥmatī wa ulā`ika lahum ‘ażābun alīm

 23.  Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

Dan orang-orang yang menolak hujjah-hujjah Allah, serta mengingkari dalil-dalilNya dan perjumpaan denganNya pada Hari Kiamat, mereka itu tidak memiliki keinginan terhadap rahmatKu di akhirat ketika mereka menyaksikan sendiri siksaan yang dipersiapkan bagi mereka, dan mereka akan mendapat siksaan yang pedih lagi menyakitkan.

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qāluqtulụhu au ḥarriqụhu fa anjāhullāhu minan-nār, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

 24.  Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.

Maka tidak ada jawaban dari kaum Ibrahim kepadanya selain sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Bunuhlah dia atau bakarlah dia dengan api. Lalu lemparkanlah dia kedalamnya.” Lalu Allah menyelamatkan dirinya dari api itu, dan Dia menjadikan api itu dingin dan keselamatan baginya. Sesungguhnya dalam peristiwa Kami menyelamatkan Ibrahim dari api itu benar-benar terdapat bukti-bukti dan hujjah-hujjah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan syariatNya.

وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

wa qāla innamattakhażtum min dụnillāhi auṡānam mawaddata bainikum fil-ḥayātid-dun-yā, ṡumma yaumal-qiyāmati yakfuru ba’ḍukum biba’ḍiw wa yal’anu ba’ḍukum ba’ḍaw wa ma`wākumun-nāru wa mā lakum min nāṣirīn

 25.  Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.

Dan Ibrahim berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya yang kalian sembah itu adalah tuhan-tuhan yang batil yang kalian jadikan sebagai tuhan selain Allah, kalian saling mencintai dalam penyembahan kepadanya, Kalian saling berkasih sayang dalam berkhidmat kepadanya di kehidupan dunia. Kemudian pada Hari Kiamat, sebagian dari kalian akan berlepasadiri atas sebagian yang lain, dan sebagian dari kalian akan melaknat sebagian yang lain. Sedang tempat kembali kalian semua adalah neraka, dan kalian tidak mempunyai penolong yang akan menyelamatkan kalian sehingga kalian tidak memasukinya.”

۞ فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

fa āmana lahụ lụṭ, wa qāla innī muhājirun ilā rabbī, innahụ huwal-‘azīzul-ḥakīm

 26.  Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maka Luth membenarkan Ibrahim dan mengikuti ajaran agamanya. Dan Ibrahim berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku meninggalkan negeri kaumku menuju tempat yang diberkahi, yaitu Syam. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahaperkasa Yang tidak terkalahkan, Mahabijaksana dalam pengaturanNya.”

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

wa wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụba wa ja’alnā fī żurriyyatihin-nubuwwata wal-kitāba wa ātaināhu ajrahụ fid-dun-yā, wa innahụ fil-ākhirati laminaṣ-ṣāliḥīn

 27.  Dan Kami anugrahkan kepda Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Dan Kami menganugerahkan Ishaq kepada Ibrahim menjadi putranya, dan Ya’qub setelahnya menjadi putra dari anaknya. Dan Kami menjadikan nabi-nabi dan kitab-kitab suci pada keturunannya. Dan Kami memberikan kepadanya sebagai pahala atas cobaan di jalan Kami nama yang baik di dunia dan anak yang sholeh. Dan sesungguhnya dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang shalih.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

wa lụṭan iż qāla liqaumihī innakum lata`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

 28.  Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”.

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

a innakum lata`tụnar-rijāla wa taqṭa’ụnas-sabīla wa ta`tụna fī nādīkumul-mungkar, fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālu`tinā bi’ażābillāhi ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

 29.  Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

28-29. Dan ingatlah (wahai rasul) Luth ketika ia berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kalian benar-benar telah mengerjakan perbuatan yang amat buruk. Tidak ada seorang pun yang mendahului kalian dengan perbuatan itu dari umat-umat sebelumnya. Apakah pantas kalian mendatangi sesama lelaki melalui dubur-duubur mereka dan kalian menghambat perjalanan orang-orang musafir dengan perbuatan keji kalian tersebut, serta melakukan perbuatan-perbuatan mungkar di tempat-tempat perkumpulan kalian seperti mengolok-olok manusia, melempari orang yang melintas dan mengganggu mereka dengan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang tidak sopan?” dalam ayat ini terdapat pemberitahuan tidak bolehnya orang-orang berkumpul-kumpul dalam kemungkaran yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. Maka tidak ada jawaban dari kaum Luth kepadanya selain berkata, “Datangkanlah kepada kami siksaan Allah bila kamu termasuk orang-orang yang jujur dalam perkataan yang kamu ucapkan lagi dapat mewujudkan apa yang kamu ancamkan itu.”

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

qāla rabbinṣurnī ‘alal-qaumil-mufsidīn

 30.  Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”.

Dia berkata, “Wahai Tuhanku, tolonglah aku mengahadapi kaum yang melakukan kerusakan dengan menurunkan siksaan pada mereka, lantaran mereka telah mengadakan suatu perbuatan keji yang baru dan bersikeras menjalankannya terus.” Maka Allah mengabulkan doanya.

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ

wa lammā jā`at rusulunā ibrāhīma bil-busyrā qālū innā muhlikū ahli hāżihil-qaryah, inna ahlahā kānụ ẓālimīn

 31.  Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”.

Dan tatkala para malaikat mendatangi Ibrahim dengan membawa berita gembira dari Allah dengan kelahiran Ishaq dan setelah Ishaq, kelahiran putranya Ya’qub. Para malaikat berkata kepada Ibrahim, “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri kaum Luth ini, yaitu Sodom. Sesungguhnya penduduk negeri itu adalah orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan bermaksiat kepada Allah.”

قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا ۚ قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا ۖ لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

qāla inna fīhā lụṭā, qālụ naḥnu a’lamu biman fīhā lanunajjiyannahụ wa ahlahū illamra`atahụ kānat minal-gābirīn

 32.  Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”. Para malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Ibrahim berkata kepada para malaikat, “Sesungguhnya di negeri itu terdapat Luth, sedang dia bukan termasuk orang-orang yang berbuat kezhaliman.” Malaikat berkata kepadanya, “Sesungguhnya kami lebih mengetahui tentang orang yang berada di dalamnya. Kami benar-benar akan menyelamatkannya dan para pengikutnya dari kebinasaan yang akan menimpa penduduk negeri itu kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal lagi dibinasakan.”

وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ ۖ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

wa lammā an jā`at rusulunā lụṭan sī`a bihim wa ḍāqa bihim żar’aw wa qālụ lā takhaf wa lā taḥzan, innā munajjụka wa ahlaka illamra`ataka kānat minal-gābirīn

 33.  Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”.

Dan tatkala malaikat-malaikat itu mendatangi Luth, hal itu menggelisahkannya. Sebab dia menduga mereka adalah tamu-tamu dari bangsa manusia. Dan dia bersedih hati karena keberadaan mereka, lantaran dia tahu keburukan tindakan kaumnya. Dan mereka berkata, “Janganlah kamu mengkhawatirkan kami. Kaummu tidak akan sanggup menyentuh kami. Dan janganlah bersedih hati dari berita yang kami sampaikan kepadamu bahwa kami akan membinasakan mereka. Sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dari siksaan yang menimpa kaummu, dan menyelamatkan keluargamu kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan binasa bersama orang-orang yang binasa dari kaummu.

إِنَّا مُنْزِلُونَ عَلَىٰ أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

innā munzilụna ‘alā ahli hāżihil-qaryati rijzam minas-samā`i bimā kānụ yafsuqụn

 34.  Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik.

Sesungguhnya kami akan menimpakan siksaan dari langit pada penduduk negeri ini, disebabkan kemaksiatan mereka kepada Allah dan perbuatan keji mereka.”

وَلَقَدْ تَرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa laqat taraknā min-hā āyatam bayyinatal liqaumiy ya’qilụn

 35.  Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.

Sungguh Kami telah mempertahankan beberapa bekas peninggalan nyata dari perkampungan kaum Luth bagi kaum yang mau memikirkan pelajaran-pelajaran dari kejadian tersebut, sehingga mereka mendapatkan manfaat darinya.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

wa ilā madyana akhāhum syu’aiban fa qāla yā qaumi’budullāha warjul-yaumal-ākhira wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

 36.  Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”.

Dan Kami telah mengutus kepada negeri Madyan saudara mereka, yaitu Syu’aib. Maka dia berkata berkata kepada mereka, “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah semata, dan murnikanlah ibadah bagiNya. Kalian tidak punya sesembahan selainNya. Dan berharaplah dengan ibadah yang kalian kerjakan untuk memperoleh pahala pada Hari Akhir. Dan janganlah kalian banyak berbuat kerusakan dan maksiat di muka bumi. Dan janganlah kalian mengerjakannya terus menerus. Akan tetapi, bertaubatlah kepada Allah dari perbuatan itu dan kemabalilah (kepadaNya).”

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

fa każżabụhu fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn

 37.  Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.

maka penduduk Madyan mendustakan syuaib dalam perkara yang dibawanya diri Allah berupa risalah, maka merepa ditimpa gempa yagn besar sekali, maka negeri mereka menjadi hancur dan binasa.

وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ ۖ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

wa ‘ādaw wa ṡamụda wa qat tabayyana lakum mim masākinihim, wa zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum fa ṣaddahum ‘anis-sabīli wa kānụ mustabṣirīn

 38.  Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam,

Dan kami (juga) telah membinasakan kaum Ad dan Tsamud. Dan sungguh telah menjadi jelas bagi kalian kehancuran dan tidak berpenghuninya pemukiman mereka, dan datangnya siksaan Kami pada mereka semua. Dan setan menjadikan perbuatan-perbuatan buruk mereka indah pada pandangan mereka. Lalu dia menghalangi mereka dari jalan Allah dan jalan keimanan kepadaNya dan kepada RasulNya. Dan mereka adalah orang-orang yang paham akan kekafiran dan kesesatan mereka juga terkagum dengannya. Mereka berasumsi bahwa diri mereka berada di atas petunjuk dan kebenaran, padahal mereka itu sebenarnya tenggelam di dalam kesesatan.

وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ

wa qārụna wa fir’auna wa hāmān, wa laqad jā`ahum mụsā bil-bayyināti fastakbarụ fil-arḍi wa mā kānụ sābiqīn

 39.  dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).

Dan Kami telah membinasakan Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya Musa telah mendatangi mereka semua dengan membawa ayat-ayat yang nyata. Tetapi mereka berlaku congkak dan sombong di muka bumi. Mereka tidaklah bisa meloloskan diri dari Kami, bahkan Kami kuasa menyiksa mereka.

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

fa kullan akhażnā biżambihī fa min-hum man arsalnā ‘alaihi ḥāṣibā, wa min-hum man akhażat-huṣ-ṣaiḥah, wa min-hum man khasafnā bihil-arḍ, wa min-hum man agraqnā, wa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

 40.  Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Kemudian Kami menyiksa masing-masing dari mereka itu dengan siksaan Kami disebabkan dosanya. Maka di antara mereka, ada yang Kami jatuhkan bebatuan kepada mereka dari tanah yang panas terbakar, mereka adalah kaum Luth, dan ada yang disambar oleh suara dahsyat, mereka adalah kaum Shaleh dan kaum Syua’ib, dan ada yang dibenamkan ke dalam bumi, seperti Qarun, dan ada pula yang Kami tenggelamkan, mereka adalah kaum Nuh, Fir’aun dan kaumnya. Dan Allah tidaklah membinasakan mereka karena dosa-dosa orang lain, sehingga Dia menzhalimi mereka dengan membinasakan mereka tanpa pantas menerima hukuman itu, akan tetapi mereka itu telah berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri, dengan hidup bergelimang dalam kenikmatan dari Tuhan mereka, namun malah beribadah kepada selainNya.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

maṡalullażīnattakhażụ min dụnillāhi auliyā`a kamaṡalil-‘angkabụt, ittakhażat baitā, wa inna auhanal-buyụti labaitul-‘angkabụt, lau kānụ ya’lamụn

 41.  Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Perumpamaan orang-orang yang menjadikan berhala-berhala sebagai penolong selain Allah yang mereka harapkan pertolonggannya adalah seperti laba-laba yang membuat sarang bagi dirinya agar dapat menjaganya, namun sarang itu tidak memberikan manfaat sedikit pun ketika ia membutuhkan (perlindungan) nya. Demikian pula keadaan orang-orang musyrik, para penolong mereka yang mereka ada-adakan selain Allah itu tidak dapat memberikan bantuan sedikit pun. Dan sesungguhnya selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka mengetahui hal itu, pasti mereka tidak menjadikannya sebagai penolong-penolong. Tuhan-tuhan itu tidak memberikan manfaat bagi mereka dan tidak dapat mendatangkan mudarat terhadap mereka.

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

innallāha ya’lamu mā yad’ụna min dụnihī min syaī`, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

 42.  Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya Allah mengetahui tandingan-tandingan yang mereka persekutukan dengan Allah, dan sesungguhnya obyek-obyek itu tidak ada apa-apanya, hanya sekedar nama-nama yang mereka bubuhkan kepadanya, tidak dapat mendatangkan manfaat, juga tidak dapat mencelakai. Dia Mahaperkasa dalam menghukum orang yang kafir kepadaNya lagi Mahabijaksana dalam pengaturan dan perbuatanNya.

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nās, wa mā ya’qiluhā illal-‘ālimụn

 43.  Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Perumpamaan-perumpamaan ini Kami adakan bagi sekalian manusia, agar mereka dapat mengambil manfaat darinya dan mengambil pelajaran darinya. Dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang yang mengenal Allah, ayat-ayat dan syariatNya.

خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ

khalaqallāhus-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, inna fī żālika la`āyatal lil-mu`minīn

 44.  Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan asas keadilan dan keseimbangan. Sesungguhnya dalam penciptaanNya tersebut benar-benar terkandung bukti yang besar atas KuasaNya dan keberhakanNya sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Dalam ayat ini Allah menyebutkan “orang-orang yang beriman” secara khusus, karena merekalah yang mengambil manfaat dari hal itu.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

utlu mā ụḥiya ilaika minal-kitābi wa aqimiṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta tan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkar, walażikrullāhi akbar, wallāhu ya’lamu mā taṣna’ụn

 45.  Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan bacalah apa yang diturunkan kepadamu dari al-Qur’an ini dan amalkanlah kandungannya, serta laksanakanlah shalat dengan seluruh aturannya. Sesungguhnya menjaga shalat dengan baik akan menahan orang yang melakukannya dari terjerumus di dalam maksiat-maksiat dan perbuatan-perbuatan mungkar. Hal itu dikarenakan orang yang menegakannya, yang menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, hatinya akan bercahaya, dan keimanan, ketakwaan dan kecintaannya terhadap kebaikan akan bertambah, dan (sebaliknya) keinginannya terhadap keburukan akan semakin berkurang atau hilang sama sekali. Dan sungguh mengingat Allah di dalam shalat dan di tempat lainnya lebih agung dan lebih utama dari segala sesuatu. Dan Allah mengetahui apa saja yang kalian perbuat, yang baik maupun yang buruk. Lalu Dia memberikan balasan kepada kalian atas perbuatan tersebut dengan balasan yang sempurna lagi penuh.

۞ وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

wa lā tujādilū ahlal-kitābi illā billatī hiya aḥsanu illallażīna ẓalamụ min-hum wa qụlū āmannā billażī unzila ilainā wa unzila ilaikum wa ilāhunā wa ilāhukum wāḥiduw wa naḥnu lahụ muslimụn

 46.  Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.

Dan janganlah kalian (wahai kaum Mukminin) mendebat kaum Yahudi dan Nasrani kecuali dengan cara yang baik dan ucapan yang bagus serta dakwah kepada kebenaran melalui metode yang paling mudah menuju tujuan tersebut, kecuali orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, membangkang dan berlaku sombong serta mengumumkan api permusuhan terhadap kalian. Maka lawanlah mereka dengan pedang hingga mereka beriman atau mau menyerahkan jizyah sendiri sedang mereka dalam keadaan terhina. Dan katakanlah, “Kami beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepada kami dan kami beriman kepada Taurat dan Injil yang diturunkan kepada kalian. Dan Tuhan Kami dan Tuhan kalian adalah satu. Tidak ada sekutu bagiNya dalam uluhiyah dan rububiyah serta nama dan sifatNya. Dan kami tunduk dan menghinakan diri kepadaNya dengan ketaatan dalam perkara yang diperintahkan kepada kami dan larangan yang tertuju kepada kami.”

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ ۚ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَمِنْ هَٰؤُلَاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ

wa każālika anzalnā ilaikal-kitāb, fallażīna ātaināhumul-kitāba yu`minụna bih, wa min hā`ulā`i may yu`minu bih, wa mā yaj-ḥadu bi`āyātinā illal-kāfirụn

 47.  Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir.

Dan sebagaimana Kami (wahai rosul) telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul sebelum kamu, Kami menurunkan kepadamu kitab yang membenarkan kitab-kitab terdahulu. Maka orang-orang yang Kami anugerahkan al-Kitab kepada mereka dari kalangan Bani Israil, lalu mereka memahaminya dengan sebenarnya, mereka itu beriman kepada al- Qur’an. Dan dari kalangan bangsa Arab dari suku Quraisy dan lainnya ada yang beriman kepadanya. Tidak ada orang yang mengingkari al-Qur’an atau ragu-ragu terhadap dalil-dalil dan bukti-buktinya yang nyata, kecuali orang-orang kafir yang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mengingkari dan membangkang.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

wa mā kunta tatlụ ming qablihī ming kitābiw wa lā takhuṭṭuhụ biyamīnika iżal lartābal-mubṭilụn

 48.  Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).

Dan termasuk mukjizat-mukjizatmu yang nyata (wahai Rasul) adalah bahwasanya kamu itu tidak dapat membaca kitab apa pun dan menulis huruf-huruf dengan tanganmu sendiri sebelum turunnya al-Qur’an kepadamu. Dan mereka tahu itu. Sekiranya kamu itu dapat membaca atau menulis sebelum diwahyukan wahyu kepadamu, pastilah para penentang ragu-ragu perihal al-Qur’an. Dan mereka akan mengatakan, “Dia telah mempelajarinya dari kitab-kitab terdahulu atau menyalinnya dari kitab-kitab tersebut.”

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

bal huwa āyātum bayyinātun fī ṣudụrillażīna ụtul-‘ilm, wa mā yaj-ḥadu bi`āyātinā illaẓ-ẓālimụn

 49.  Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

Bahkan al-Qur’an itu merupakan ayat-ayat yang jelas lagi nyata dalam petunjuknya kepada kebenaran yang telah dihafal oleh para ulama. Dan tidaklah ada yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menolaknya kecuali orang-orang yang zhalim dan suka menentang yang mengetahui kebenaran namun berbelok darinya.

وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ ۖ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

wa qālụ lau lā unzila ‘alaihi āyātum mir rabbih, qul innamal-āyātu ‘indallāh, wa innamā ana nażīrum mubīn

 50.  Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”.

Dan orang-orang musryrik berkata, “ Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad bukti-bukti dan hujjah-hujjah dari Tuhannya yang dapat kami saksikan seperti unta Shaleh, dan tongkat Musa?” katakanlah kepada mereka, “Sesungguhnya mukjizat-mikjizat itu wewenang Allah. Jika Dia berkehendak, Dia akan menurunkannya dan bila berkehendak, Dia menahannya. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Aku memperingatkan kalian terhadap kedahsyatan siksaanNYa dan hukumanNya, menerangkan jalan kebenaran dari jalan kebatilan.”

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a wa lam yakfihim annā anzalnā ‘alaikal-kitāba yutlā ‘alaihim, inna fī żālika laraḥmataw wa żikrā liqaumiy yu`minụn

 51.  Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Apakah tidak cukup bagi mereka pengetahuan mereka tentang kejujuranmu (wahai Rasul), bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam al-Qur’an ini terdapat rahmat bagi kaum Mukiminin di dunia dan akhirat, serta peringatan bagi mereka, di mana mereka akan mengingat-ingat pelajaran dan nasihat yang dikandungnya.

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا ۖ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

qul kafā billāhi bainī wa bainakum syahīdā, ya’lamu mā fis-samāwāti wal-arḍ, wallażīna āmanụ bil-bāṭili wa kafarụ billāhi ulā`ika humul-khāsirụn

 52.  Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Katakanlah, “Cukuplah Allah menjadi saksi antara diriku dan kalian atas kejujuranku bahwa aku adalah utusanNya, dan atas pendustaan kalian kepadaku dan penolakan kalian terhadap kebenaran yang aku bawa dari sisi Allah. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada sesuatu pun di dalam keduanya yang samar bagiNya. Dan orang-orang yang beriman kepada kebatilan dan mengingkari Allah (meskipun terdapat bukti-bukti yang nyata ini) mereka itu adalah orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ ۚ وَلَوْلَا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa yasta’jilụnaka bil-‘ażāb, walau lā ajalum musammal lajā`ahumul-‘ażāb, wa laya`tiyannahum bagtataw wa hum lā yasy’urụn

 53.  Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.

Dan orang-orang musyrik dari kaummu itu akan meminta kepadamu (wahai Rasul) supaya disegerakan turunnya siksaan untuk tujuan memperolok-olok saja. Kalau bukan karena Allah telah menetapkan waktu tertentu untuk sikssan bagi mereka yang tidak akan maju dan mundur darinya di dunia, niscaya siksaan itu benar-benar datang kepada mereka ketika mereka memintanya dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadari dan tidak awas.

يَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

yasta’jilụnaka bil-‘ażāb, wa inna jahannama lamuḥīṭatum bil-kāfirīn

 54.  Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya Jahannam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir,

Dan mereka meminta kepadamu untuk disegerakan turunnya siksaan pada mereka di dunia, padahal siksaan itu pasti akan mendatangi mereka tanpa keraguan padanya, bisa di dunia dan bisa di akhirat. Dan sesungguhnya siksaan Neraka Jahanam di akhirat itu benar-benar meliputi mereka, tidak ada tempat lari bagi mereka darinya.

يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ وَيَقُولُ ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

yauma yagsyāhumul-‘ażābu min fauqihim wa min taḥti arjulihim wa yaqụlu żụqụ mā kuntum ta’malụn

 55.  pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka): “Rasailah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan”.

Pada Hari Kiamat, siksaan Neraka Jahanam akan mengepung orang-orang kafir dari sisi atas kepala mereka, dan dari arah bawah kaki-kaki mereka. Api neraka melingkupi mereka dari segenap sisi mereka. Pada saat itu, Allah berfirman kepada mereka, “Rasakanlah balasan apa yang telah kalian perbuat di dunia yaitu perbuatan syirik kepada Allah dan tindakan kejahatan serta dosa-dosa.”

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

yā ‘ibādiyallażīna āmanū inna arḍī wāsi’atun fa iyyāya fa’budụn

 56.  Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.

Wahai hamba-hambaKu yang beriman, jika kalian berada dalam kesulitan untuk menampakkan keimanan kalian dan beribadah kepada Allah semata, maka berhijrahlah kalian ke bumi Allah yang luas, dan murnikanlah ibadah bagiKu saja.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

kullu nafsin żā`iqatul-maụt, ṡumma ilainā turja’ụn

 57.  Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

Tiap-tiap jiwa yang hidup akan merasakan kematian, kemudian kepada Kami kalian akan dikembalikan untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasannya.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lanubawwi`annahum minal-jannati gurafan tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, ni’ma ajrul-‘āmilīn

 58.  Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta mengerjakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, berupa amal-amal shalih, Kami benar-benar akan tempatkan mereka pada kamar-kamar yang tinggi di dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka tinggal kekal abadi di dalamnya. Sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal dengan menjalankan ketaatan kepada Allah adalah kamar-kamar hunian tersebut di surga yang penuh kenikmatan.

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

allażīna ṣabarụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

 59.  (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.

Sesungguhnya surga-surga yang telah disebutkan itu diperuntukkan bagi kaum Mukminin yang bersabar dalam beribadah kepada Allah dan memegang kuat terhadap ajaran agama mereka, dan kepada Allah-lah mereka bergantung dalam rizki-rizki dan jihad melawan musuh-musuh mereka.

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa ka`ayyim min dābbatil lā taḥmilu rizqahallāhu yarzuquhā wa iyyākum wa huwas-samī’ul-‘alīm

 60.  Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan berapa banyak binatang yang tidak menyimpan bekal makanannya untuk keesokan harinya, sebagaimana yang dilakukan oleh keturunan Adam. Allah yang memberikan rizki kepada binatang-binatang itu dan kepada kalian. Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian, lagi Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan kalian dan pikiran-pikiran yang terlintas di hati kalian.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara layaqụlunnallāh, fa annā yu`fakụn

 61.  Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Dan jikalau kamu (wahai Rasul) bertanya kepada kaum musyrikin, “Siapakah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keteraturan yang indah ini, dan menundukkan matahari dan bulan?” pastilah mereka benar-benar akan mengatakan, “Allah-lah saja yang menciptakannya.” Maka mengapa mereka dapat dipalingkan dari beriman kepada Allah, Pencipta segala sesuatu dan pengaturannya, dan menyembah selain Allah bersamaNYa? Alangkah aneh kedustaan dan kebohongan mereka!

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

allāhu yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u min ‘ibādihī wa yaqdiru lah, innallāha bikulli syai`in ‘alīm

 62.  Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendakiNya dari makhlukNya dan menyempitkannya bagi orang-orang yang lain dari mereka, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kemaslahat hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu tentang keadaan-keadaan dan urusan-urusan kalian. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

wa la`in sa`altahum man nazzala minas-samā`i mā`an fa aḥyā bihil-arḍa mim ba’di mautihā layaqụlunnallāhu qulil-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’qilụn

 63.  Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).

Dan jikalau kamu (wahai Rasul) bertanya kepada kaum musyrikin, “Siapakah Dzat yang menurunkan air (hujan) dari langit lalu menghidupkan tanah dengannya setelah kegersangannya?” niscaya mereka benar-benar akan mengatakan kepadamu dengan mengakuinya, ”Allah semata, Dia-lah yang menurunkannya.” Maka katakanlah, “Segala puji bagi Allah Yang telah menerangkan hujjahNya di hadapan mereka.” Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami apa saja yang bermanfaat bagi mereka dan segala yang mendatangkan bahaya bagi mereka. Seandainya mereka memahaminya niscaya mereka tidak menyekutukan sesuatu bersama Allah.

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

wa mā hāżihil-ḥayātud-dun-yā illā lahwuw wa la’ib, wa innad-dāral-ākhirata lahiyal-ḥayawān, lau kānụ ya’lamụn

 64.  Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Dan tidaklah kehidupan dunia ini kecuali senda gurau dan main-main. Hati bersenda gurau dan tubuh bermain-main dengannya, disebabkan adanya pesona dan perkara-perkara yang disukai jiwa, kemudian semua itu akan sirna secepatnya. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu benar-benar merupakan kehidupan yang hakiki lagi abadi yang tidak ada kematian di sana. Seandainya manusia menyadarinya, pastilah mereka benar-benar tidak akan lebih mengutamakan negeri yang fana atas negeri yang langgeng abadi itu.

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

fa iżā rakibụ fil-fulki da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīn, fa lammā najjāhum ilal-barri iżā hum yusyrikụn

 65.  Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

liyakfurụ bimā ātaināhum wa liyatamatta’ụ, fa saufa ya’lamụn

 66.  agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).

65-66. Apabila orang-orang kafir naik menumpang kapal-kapal di laut, dan mereka khawatir tenggelam, mereka mengesakan Allah dan mengikhlaskan doa hanya kepadaNya dalam keadaan sulit mereka. Tatkala Allah telah menyelamatkan mereka ke daratan dan kesulitan mereka telah sirna, mereka kembali kepada kesyirikan mereka. Dengan sikap demikian ini, mereka itu telah melakukan dua hal yang saling kontradiktif; mengesakan Allah dalam kesulitan, dan menyekutukan Allah dalam kondisi nyaman. Dan perbuatan syirik mereka setelah curahan nikmat Kami pada mereka berupa keselamatan dari (mara bahaya) lautan, agar kesudahannya berwujud kekafiran terhadap kenikmatan yang telah Kami berikan kepada mereka dalam diri mereka, harta benda mereka; dan agar mereka menghabiskan kesenangan mereka di dunia ini. Lalu mereka akan mengetahui rusaknya perbuatan-perbuatan mereka dan siksaan pedih yang Allah sediakan bagi mereka di Hari Kiamat. Dalam ayat ini termuat satu peringatan keras dan ancaman bagi mereka.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ

a wa lam yarau annā ja’alnā ḥaraman āminaw wa yutakhaṭṭafun-nāsu min ḥaulihim, a fa bil-bāṭili yu`minụna wa bini’matillāhi yakfurụn

 67.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?

Tidakkah orang-orang kafir Makkah melihat bahwa sesungguhnya Allah telah menjadikan Makkah sebagai kota suci yang aman bagi mereka, yang para penduduknya merasa aman dengan jiwa-jiwa dan harta mereka, sedang orang-orang sekitar mereka yang diluar kota suci mengalami ancaman-ancaman dan tidak merasa aman? Apakah mereka justru meyakini keyakinan yang syirik, sedang dengan kenikmatan Allah yang telah mengistimewakan mereka dengannya, mereka mengingkarinya, tidak beribadah kepadaNya semata tanpa menyembah selainNya?

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bil-ḥaqqi lammā jā`ah, a laisa fī jahannama maṡwal lil-kāfirīn

 68.  Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?

Tidak ada orang yang lebih besar tindak kezhalimannya daripada orang yang berdusta terhadap Allah, lalu menyematkan keadaan sesat dan kebatilan yang ada padanya kepada Allah, atau mendustakan kebenaran yang Allah mengutus RasulNya, Muhammad, dengannya. Sesungguhnya di dalam neraka itu benar-benar terdapat tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir kepada Allah, mengingkari keesaaNya dan mendustakan RasulNya, Muhammad.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

wallażīna jāhadụ fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama’al-muḥsinīn

 69.  Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Dan orang-orang Mukmin yang berjuang melawan musuh-musuh Allah, jiwa dan setan, dan mereka bersabar menghadapi fitnah-fitnah dan gangguan di jalan Allah, Allah akan memberikan hidayah kepada mereka menuju jalan-jalan kebajikan dan meneguhkan mereka di atas jalan yang lurus. Dan orang yang bersifat demikian, maka dia merupakan orang yang telah berbuat baik kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Dan sesungguhnya Allah benar-benar menyertai orang yang berbuat baik dari makhlukNya dengan pertolongan, dukungan, perlindungan dan pemberian hidayah.

Related: Surat ar-Rum Arab-Latin, Surat Luqman Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat as-Sajdah, Terjemahan Tafsir Surat al-Ahzab, Isi Kandungan Surat Saba, Makna Surat Fathir

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Fal Yanzur Arb Latin Dan Artinya Surat Latin Wahai Orang Orang Yang Beriman Surat Al Ankabut Bahasa Arab Bunuhlah Dia