Surat Al-‘Ankabut Ayat 2


Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Arab-Latin: A ḥasiban-nāsu ay yutrakū ay yaqụlū āmannā wa hum lā yuftanụn

Terjemah Arti: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Apakah manusia menyangka ketika mereka mengatakan, “Kami beriman,” bahwa sesungguhnya Allah akan membiarkan mereka tanpa cobaan dan ujian?

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

2.      Apakah manusia mengira bahwa dengan ucapan mereka, “Kami beriman kepada Allah,” mereka akan dibiarkan saja tanpa diuji untuk memastikan hakikat yang mereka ucapkan, apakah mereka benar-benar beriman? Perkaranya tidak sebagaimana yang mereka kira.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

2. أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ (Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja))
Makna ayat ini adalah bahwa Allah tidak akan membiarkan manusia tanpa diuji dan diberi cobaan. Mereka tidak akan dibiarkan mengatakan “kami telah beriman” tanpa mendapat ujian.

أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?)
Yakni sedang mereka tidak diberi cobaan dalam harta dan diri mereka. Kenyataannya tidak seperti yang mereka sangka, mereka harus diuji dengan perintah berjihad, kemiskinan, mara bahaya, dan lain sebagainya, agar jelas siapa yang jujur dalam keimanannya dan siapa yang munafik, siapa yang benar dan siapa yang bohong.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

2. Apakah manusia itu beranggapan bahwa mereka akan dibiarkan saja tanpa diberi beban cobaan, hanya karena sudah mengucapkan dengan lisan mereka: “Kami beriman kepada Allah dan rasulNya” sedangkan mereka tidak diuji dengan nafsu dan harta mereka serta tidak diuji dengan beban dan kesukaran. Ayat ini yaitu {A hasiban naasu …} [2] diturunkan untuk Amar bin Yasir saat dia di siksa karena berada di jalan Allah.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Allah berkata dalam awal surat ini dengan pengingkaran : Apakah manusia menyangka dengan mengatakan : Kami beriman kepada Allah; Kemudian ditinggalkan dengan tanpa di uji dan diberikan cobaan serta terjauhkan dari penilaian, sampai diketahui yang jujur dalam keimanan dan selainnya ?

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya hikmah-Nya. Hikmah-Nya tidak menghendaki bahwa setiap orang yang mengaku mukmin tetap dalam keadaan aman dari fitnah dan ujian serta tida datang kepada mereka sesuatu yang menggoyang iman mereka. Yang demikian adalah karena jika tidak demikian, maka tidak dapat dibedakan antara orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak (yakni berdusta) dan tidak dapat dibedakan antara orang yang benar dengan orang yang salah. Akan tetapi Sunnah-Nya dan kebiasaan-Nya terhadap generasi terdahulu sampai pada umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka.

Barang siapa yang ketika fitnah syubhat (kesamaran) datang, imannya tetap kokoh dan dapat menolak dengan kebenaran yang dipegangnya. Dan ketika fitnah syahwat datang yang mengajaknya berbuat dosa dan maksiat atau memalingkan dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia bersabar dalam arti mengerjakan konsekwensi iman dan melawan hawa nafsunya, hal ini menunjukkan kebenaran imannya. Akan tetapi barang siapa yang ketika syubhat datang, ada pengaruh dalam hatinya berupa keraguan dan kebimbangan dan ketika syahwat datang, membuatnya mengerjakan maksiat atau berpaling dari kewajiban, maka yang demikian menunjukkan tidak benar keimanannya. Manusia dalam hal ini berbeda-beda tingkatannya, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Oleh karena itu, kita meminta kepada Allah agar Dia menguatkan kita dengan ucapan yang teguh (Laailaahaillallah) di dunia dan akhirat dan mengokohkan kita di atas agamanya. Ujian dan cobaan ibarat kir (alat peniup api untuk besi) yang mengeluarkan kotorannya.

Agar diketahui hakikat keimanan mereka.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja pada setiap waktu, tempat dan situasi hanya dengan mengatakan, 'kami telah beriman, ' dan mereka tidak diuji dengan hal-hal yang dapat membuktikan hakikat keimanan mereka, yaitu dalam bentuk cobaan-cobaan dan tugas-tugas keagamaan' tidak, bahkan mereka harus diuji dengan hal-hal seperti itu. 3. Dan apakah mereka menduga demikian, padahal sungguh, kami bersumpah bahwa kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, yaitu sebelum umat nabi Muhammad, dengan tugas-tugas keagamaan dan bermacam nikmat dan cobaan, agar tampak perbedaan antara orang-orang yang benar-benar beriman dan berdusta sesuai dengan apa yang diketahuinya berdasarkan ilmu-Nya yang azali. Maka sesungguhnya Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dalam keimanannya dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Related: Surat Al-‘Ankabut Ayat 3 Arab-Latin, Surat Al-‘Ankabut Ayat 4 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Al-‘Ankabut Ayat 5, Terjemahan Tafsir Surat Al-‘Ankabut Ayat 6, Isi Kandungan Surat Al-‘Ankabut Ayat 7, Makna Surat Al-‘Ankabut Ayat 8

Category: Surat Al-'Ankabut


Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!