Surat al-Qalam

Belajar Quran Online

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Arab-Latin: nūn, wal-qalami wa mā yasṭurụn

Terjemah Arti:  1.  Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

mā anta bini’mati rabbika bimajnụn

 2.  berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

wa inna laka la`ajran gaira mamnụn

 3.  Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm

 4.  Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1-4. Nun, pembicaraan tentang huruf-huruf terpenggal telah hadir di awal Surat al-baqarah. Allah bersumpah dengan pena yang dengannya para malaikat dan manusia menulis, dan dengan apa yang mereka tulis, berupa kebaikan, manfaat dan ilmu-ilmu, kamu (wahai rasul) bukan orang yang lemah akal dan bodoh pendapat karena nikmat Allah berupa kenabian dan kerasulan. Sesungguhnya kamu, atas beban berat yang kamu pikul selama menyampaikan risalah, akan mendapatkan pahala yang besar yang tidak dikurangi dan tidak terputus, dan sesungguhnya kiamu (wahai Rasul) benar-benar memilki akhlak yang agung, yaitu akhlak-akhlak yang dikandung al-Quran. Pelaksanaan terhadap al-Quran merupakan ciri khusus Rasulullah, beliau melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ

fa satubṣiru wa yubṣirụn

 5.  Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,

بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ

bi`ayyikumul-maftụn

 6.  siapa di antara kamu yang gila.

5-6. Tidak lama lagi kamu (wahai Rasul) dan orang-orang kafir itu akan tahu siapa yang terfitnah dan gila di antara kalian?

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

 7.  Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

7. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui oranng yang sengsara yang menyimpang dari agama Allah dan jalan hidayah, dan Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa yang mendapatkan hidayah ke jalan kebenaran.

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ

fa lā tuṭi’il-mukażżibīn

 8.  Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

8. Maka teguhlah kamu (wahai Rasul) di atas apa yang kamu pegang, berupa menyelisihi orang-orang yang mendustakan itu dan jangan taati mereka.

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

waddụ lau tud-hinu fa yud-hinụn

 9.  Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).

9. Mereka ingin dan berharap bila kamu bersikap lunak dan berbaik hati kepada mereka sehingga mereka juga bersikap lunak kepadamu.

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

wa lā tuṭi’ kulla ḥallāfim mahīn

 10.  Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

hammāzim masysyā`im binamīm

 11.  yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,

مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

mannā’il lil-khairi mu’tadin aṡīm

 12.  yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

‘utullim ba’da żālika zanīm

 13.  yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,

أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ

ang kāna żā māliw wa banīn

 14.  karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

 15.  Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala”.

10-15. Janganlah engkau (wahai Rasul) menaati setiap orang yang banyak bersumpah, pembohong lagi rendah, banyak mengghibah orang, berjalan di antara mereka dengan menyebarkan namimah (adu domba), yaitu menukil pembicaraan sebagian dari mereka ke sebagian lainnya untuk merusak hubungan mereka, kikir dan bakhil dalam urusan harta, tidak memberikannya untuk kebenaran, kuat menghalang-halangi kebaikan, melampaui batas dalam melanggar hak manusia dan memakan yang diharamkan, banyak berdosa, kuat kekafirannya, keji dan buruk, dinasabkan bukan kepada bapaknya; hanya karena dia punya harta kekayaan dan anak-anak, dia menyombongkan diri di depan kebenaran. Bila salah satu ayat al-Quran dibacakan kepadanya, dia mendustakannya. Dia berkata, “Ini adalah kebatilan dan khurafat orang-orang dulu.” Ayat-ayat ini walaupun walaupun turun pada sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ia mengandung peringatan bagi Muslim agar tidak menyamai orang yang memiliki sifat-sifat tercela ini.

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

sanasimuhụ ‘alal-khurṭụm

 16.  Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya).

16. Kami akan membuat tanda pada hidungnya yang menempel padanya dan tidak terpisah darinya sebagai hukuman baginya, agar hal itu mempermalukannya di depan orang-orang.

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn

 17.  Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari,

وَلَا يَسْتَثْنُونَ

wa lā yastaṡnụn

 18.  dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),

17-18. Sesungguhnya Kami menguji orang-orang Makkah dengan kekeringan dan kelaparan, sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun saat mereka bersumpah di antara mereka bahwa mereka akan memanen hasil kebun mereka di pagi buta agar orang-orang miskin dan yang seperti mereka tidak datang meminta, dan mereka tidak berkata, “Insya Allah.”

فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ

fa ṭāfa ‘alaihā ṭā`ifum mir rabbika wa hum nā`imụn

 19.  lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

fa aṣbaḥat kaṣ-ṣarīm

 20.  maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.

19-20. Maka Allah menurunkan api yang membakar kebun itu di malam hari saat mereka tidur, sehingga kebun itu menghitam seperti malam yang kelam.

فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ

fa tanādau muṣbiḥīn

 21.  lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ

anigdụ ‘alā ḥarṡikum ing kuntum ṣārimīn

 22.  “Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”.

21-22. Karena itu sebagian memanggil sebagian yang lain saat pagi, “Pergilah segera ke kebun kalian, bila kalian memang hendak memanen buah.”

فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ

fanṭalaqụ wa hum yatakhāfatụn

 23.  Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.

أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ

al lā yadkhulannahal-yauma ‘alaikum miskīn

 24.  “Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu”.

23-24. Maka mereka berangkat dengan segera, mereka merahasiakan pembicaraan di antara mereka, “Jangan membiarkan siapa pun dari orang-orang yang membutuhkan masuk ke kebun kalian.”

وَغَدَوْا عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ

wa gadau ‘alā ḥarding qādirīn

 25.  Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya).

25. Mereka berangkat ke kebun mereka di pagi hari dengan tujuan tidak baik yaitu tidak memberikan sebagian hasil kebun kepada orang-orang miskin, mereka merasa sangat mampu melakukan apa yang hendak mereka lakukan.

فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ

fa lammā ra`auhā qālū innā laḍāllụn

 26.  Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

bal naḥnu maḥrụmụn

 27.  bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”.

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

qāla ausaṭuhum a lam aqul lakum lau lā tusabbiḥụn

 28.  Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”

قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

qālụ sub-ḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn

 29.  Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatalāwamụn

 30.  Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

qālụ yā wailanā innā kunnā ṭāgīn

 31.  Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”.

عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

‘asā rabbunā ay yubdilanā khairam min-hā innā ilā rabbinā rāgibụn

 32.  Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.

كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

każālikal-‘ażāb, wa la’ażābul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

 33.  Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

26-33. Ketika mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka merasa tidak percaya, mereka berkata, “Kita salah jalan dalam menuju kepadanya.” Ketika mereka tahu bahwa kebun itu memang benar kebun mereka, mereka berkata, “Kita gagal mendapatkan hasilnya, disebabkan keinginan kita untuk bersikap bakhil dengan menghalang-halangi orang-orang miskin.” Orang yang terbaik dari mereka berkata, “Bukankah aku sudah berkata kepada kalian agar mengucapkan, insya Allah?” mereka berkata sesudah mereka menyadari kesalahan mereka, “Mahasuci Allah dari kezhaliman terkait apa yang menimpa kami, justru kamilah yang menzhalimi diri kami dengan tidak mengucapkan insya Allah dan menyimpan niat buruk. Mereka berkata, “Celakalah kita, kita memang melampaui batas dengan berusaha menghalang-halangi orang-orang fakir dan menyelisihi perintah Allah. Semoga Allah memberi kita sesuatu yang lebih baik daripada kebun kita, karena kami sudah mengakui kesalahan kita dan bertaubat. Sesungguhnya kita hanya berharap kepada Tuhan kita semata, kita mengharapkan maafNya, dan meminta kebaikan dariNya.” Hukuman seperti yang menimpa para pemilik kebun itu merupakan hukuman Kami di dunia bagi siapa yang menyelisihi perintah Allah, bakhil dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa nikmat-nikmat dan tidak menunaikan hak Allah padanya. Dan azab akhirat benar-benar lebih besar dan lebih keras daripada azab dunia; seandainya mereka mengetahui, niscaya mereka meninggalkan apa yang mendatangkan azab.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

inna lil-muttaqīna ‘inda rabbihim jannātin na’īm

 34.  Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.

34. Sesungguhnya orang-orang yang takut dari hukuman Allah dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan meninggalkan apa yang Allah larang, bagi mereka di sisi Tuhan mereka di akhirat surga-surga yang berisi kenikmatan yang abadi.

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

a fa naj’alul-muslimīna kal-mujrimīn

 35.  Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

 36.  Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

35-36. Apakah patut Kami menjadikan orang-orang yang tunduk dengan ketaatan kepada Allah itu sama dengan orang-orang kafir? Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian menetapkan hukum yang zhalim ini dengan menyamakan keduanya dalam pahala?

أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

am lakum kitābun fīhi tadrusụn

 37.  Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?,

إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ

inna lakum fīhi lamā takhayyarụn

 38.  bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.

37-38. Atau apakah kalian memiliki kitab yang turun dari langit di mana di sana kalian membaca bahwa orang yang taat sama dengan orang yang durhaka, lalu kalian mempelajari apa yang kalian katakan itu? Kalau begitu, kalian mendapati apa yang kalian inginkan di dalam kitab tersebut. Sama sekali tidak demikian.

أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۙ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ

am lakum aimānun ‘alainā bāligatun ilā yaumil-qiyāmati inna lakum lamā taḥkumụn

 39.  Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?

39. Atau apakah kalian memiliki perjanjian atas Kami bahwa kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan dan harapkan?

سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ

sal-hum ayyuhum biżālika za’īm

 40.  Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?”

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ فَلْيَأْتُوا بِشُرَكَائِهِمْ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

am lahum syurakā`, falya`tụ bisyurakā`ihim ing kānụ ṣādiqīn

 41.  Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar.

40-41. Tanyakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik, siapakah di antara mereka yang berani menjamin dan bertanggung jawab bahwa dia memang demikian dengan hukum tersebut? Atau apakah mereka memiliki tuhan-tuhan lain yang menjamin apa yang mereka ucapkan dan membantu mereka mendapatkan apa yang mereka cari? Kalau begitu silakan mereka mendatangkannya bila mereka jujur dalam klaim mereka.

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ

yauma yuksyafu ‘an sāqiw wa yud’auna ilas-sujụdi fa lā yastaṭī’ụn

 42.  Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa,

42. Pada Hari Kiamat, urusan menjadi sulit dan huru-haranya mengerikan, Allah datang untuk menetapkan keputusan di antara makhluk, lalu Allah membuka betisNya yang mulia yang tidak serupa dengan sesuatu apa pun.

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

khāsyi’atan abṣāruhum tar-haquhum żillah, wa qad kānụ yud’auna ilas-sujụdi wa hum sālimụn

 43.  (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.

43. Pandangan mereka tertunduk, mereka tidak bisa mengangkatnya, mereka diliputi kehinaan berat karena azab Allah. Dahulu di dunia mereka diajak untuk shalat dan beribadah kepada Allah saat mereka sehat dan mampu, tetapi mereka tidak mau untuk sujud, karena kesombongan dan keangkuhan.

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

fa żarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡ, sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

 44.  Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,

وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

wa umlī lahum, inna kaidī matīn

 45.  dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.

44-45. Biarkanlah Aku (wahai Rasul) dengan orang-orang yang mendustakan al-Quran ini, sesungguhnya Aku yang akan membalas dan menghukum mereka, Kami akan memberi mereka harta, anak-anak dan kenikmatan-kenikmatan sebagai tipu daya sehingga mereka tidak menyadari bahwa semua itu adalah sebab kebinasaan mereka. Aku menangguhkan mereka dan memanjangkan umur mereka agar mereka semakin bertambah dosa. Sesungguhnya balasanKu atas orang-orang kafir adalah kuat dan keras.

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

am tas`aluhum ajran fa hum mim magramim muṡqalụn

 46.  Apakah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

am ‘indahumul-gaibu fa hum yaktubụn

 47.  Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)?

46-47. Atau apakah kamu (wahai Rasul) meminta upah dunia dari orang-orang musyrik itu atas penyampaian tugas kerasulan sehingga mereka terbelit beban keuangan yang berat? Atau apakah mereka punya ilmu ghaib lalu mereka menulis apa yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri bahwa kedudukan mereka di sisi Allah lebih utama dibandingkan orang-orang yang beriman kepadaNya?

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ

faṣbir liḥukmi rabbika wa lā takung kaṣāḥibil-ḥụt, iż nādā wa huwa makẓụm

 48.  Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ

lau lā an tadārakahụ ni’matum mir rabbihī lanubiża bil-‘arā`i wa huwa mażmụm

 49.  Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.

فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

fajtabāhu rabbuhụ fa ja’alahụ minaṣ-ṣāliḥīn

 50.  Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.

48-50. Maka bersabarlah (wahai Rasul) terhadap apa yang ditetapkan dan diputuskan oleh Tuhanmu, termasuk penangguhan terhadap mereka dan penundaan terhadap pertolonganNya kepadamu atas mereka, jangan seperti orang yang ditelan ikan, yaitu Yunus yang marah dan tidak sabar menghadapi kaumnya, saat dia memanggil Tuhannya dalam keadaan dipenuhi kesedihan meminta disegerakannya azab bagi kaumnya. Kalau Allah tidak menyusulkan nikmatNya kepadanya dengan membimbingnya untuk bertaubat dan menerima taubat, niscaya dia dimuntahkan dari perut ikan di tanah kosong yang mematikan, sedangkan dia melakukan sesuatu yang dipersalahkan. Lalu Tuhannya memilihnya untuk mengemban risalahNya, lalu menjadikannya termasuk orang-orang shalih yang niat, perkataan dan perbuatan mereka baik.

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

wa iy yakādullażīna kafarụ layuzliqụnaka bi`abṣārihim lammā sami’uż-żikra wa yaqụlụna innahụ lamajnụn

 51.  Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”.

51. Orang-orang kafir itu, ketika mereka mendengar al-Quran, hampir menimpakan tatapan mata jahat ( serangan ‘ain) atasmu (wahai Rasul) karena kebencian mereka kepadamu, seandainya tidak ada penjagaan dan perlindungan Allah kepadamu. Mereka berkata sesuai dengan hawa nafsu mereka, “Sesungguhnya dia itu benar-benar gila.”

وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

wa mā huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

 52.  Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.

52. Al-Quran ini tidak lain hanyalah nasihat dan peringatan bagi seluruh alam, yaitu para makhluk dari kalangan jin dan manusia.

Related: Surat al-Haqqah Arab-Latin, Surat al-Ma’arij Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Nuh, Terjemahan Tafsir Surat Al-Jin, Isi Kandungan Surat al-Muzzammil, Makna Surat al-Muddatstsir

Baca Quran Online