Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Hajj

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Arab-Latin: yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakum, inna zalzalatas-sā’ati syai`un ‘aẓīm

Terjemah Arti:  1.  Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Wahai sekalian manusia, waspadalah terhadap siksaan Allah dengan cara menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Sesungguhnya peristiwa yang terjadi pada Hari Kiamat, berupa kengerian-kengerian dan goncangan dahsyat pada bumi sehingga seluruh sisinya terpecah belah, merupakan kejadian yang sangat besar (dahsyat), tidak bisa diperkirakan tingkatannya dan tidak bisa dibayangkan hakikatnya. Dan tidak ada yang mengetahui bagaimana persisnya kecuali Tuhan semesta alam.

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

yauma taraunahā taż-halu kullu murḍi’atin ‘ammā arḍa’at wa taḍa’u kullu żāti ḥamlin ḥamlahā wa taran-nāsa sukārā wa mā hum bisukārā wa lākinna ‘ażāballāhi syadīd

 2.  (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.

Pada hari ketika kalian menyaksikan datangnya Hari Kiamat, sang ibu melupakan bayinya yang masih menyusu pada putingnya, lantaran masalah berat yang dia alami, wanita hamil keguguran janinnya dikarenakan rasa takut yang amat besar, dan akal-akal manusia hilang, dimana mereka layaknya orang-orang mabuk disebabkan dahsyatnya kengerian dan keterkejutan, namun mereka tidak sedang mabuk karena minum khamar. Akan tetapi, dahsyatnya siksaan menyebabkan mereka kehilangan akal dan kesadaran mereka.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ

wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattabi’u kulla syaiṭānim marīd

 3.  Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,

Dan diantara tokoh kekafiran dari sebagian manusia mendebat dan mencoba melontarkan keragu-raguan tentang Kuasa Allah untuk membangkitkan makhluk setelah kematiannya, lantaran kebodohan mereka terhadap hakikat kekuasaanNya dan dikarenakan mengikuti para pemimpin kesesatan dari kalangan setan yang banyak pembangkangannya terhadap Allah dan rasul-rasulNya.

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

kutiba ‘alaihi annahụ man tawallāhu fa annahụ yuḍilluhụ wa yahdīhi ilā ‘ażābis-sa’īr

 4.  yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.

Allah telah menetapkan dan menakdirkan pada diri setan, bahwa ia akan menyesatkan setiap makhluk yang mengikutinya, dan tidak menunjukkan kepadanya menuju jalan kebenaran. Bahkan sebaliknya, menyeretnya menuju siksaan Neraka Jahanam yang apinya menyala-nyala, sebagai balasan baginya lantaran mengikutinya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

yā ayyuhan-nāsu ing kuntum fī raibim minal-ba’ṡi fa innā khalaqnākum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma min ‘alaqatin ṡumma mim muḍgatim mukhallaqatiw wa gairi mukhallaqatil linubayyina lakum, wa nuqirru fil-ar-ḥāmi mā nasyā`u ilā ajalim musamman ṡumma nukhrijukum ṭiflan ṡumma litablugū asyuddakum, wa mingkum may yutawaffā wa mingkum may yuraddu ilā arżalil-‘umuri likai lā ya’lama mim ba’di ‘ilmin syai`ā, wa taral-arḍa hāmidatan fa iżā anzalnā ‘alaihal-mā`ahtazzat wa rabat wa ambatat ming kulli zaujim bahīj

 5.  Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Wahai sekalian manusia, jika kalian itu berada dalam keraguan bahwa Allah berkuasa menghidupkan orang-orang yang mati, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan moyang kalian, Adam, dari tanah, kemudian anak keturunannya berkembang biak dari setetes air, yaitu cairan sperma yang dipancarkan seorang lelaki (suami) pada Rahim istrinya. Kemudian dengan kuasa Allah,berubah menjadi ‘alaqah,yaitu darah merah yang bergumpal kental, lalu menjadi mudhghah,yaitu gumpalan daging kecil sebesar suapan yang dikunyah dalam mulut. Kadang-kadang gumpalan daging itu berbentuk mukhallaqah, yaitu sempurna bentuk fisiknya hingga berakhir dengan janin terlahir hidup-hidup, dan kadang-kadang berbentuk fisik yang tidak sempurna, sehingga mengalami keguguran sebelum usia kandungan sempurna. Tujuannya, agar Kami menerangkan kepada kalian kesempurnaan Kuasa Kami dengan mengendalikan fase-fase penciptaan makhluk, dan Kami mempertahankan apa yang ada di dalam Rahim sesuai dengan kehendak Kami, yaitu janin yang sempurna hingga masa kelahiran. Fase-fase itu berakhir dengan dilahirkannya janin-janin dalam rupa anak-anak kecil yang akan berkembang terus hingga menginjak usia dewasa, yaitu masa muda, penuh kekuatan, dan kematangan akal. Dan sebagian anak kecil terkadang meninggal sebelum masa itu. Dan sebagian bertumbuh hingga masa lanjut usia, dan menurunnya kemampuan akal, sehingga orang yang panjang umur ini tidak mengetahui apa yang pernah dia ketahui pada masa sebelumnya. Kamu lihat bumi itu kering lagi mati, tidak ada tanaman diatasnya. Ketika Kami menurunkan air hujan padanya, bumi menjadi bergerak dan terkuak oleh tumbuhan-tumbuhan, meninggi dan bertambah padat karena cukupnya air pdanya, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa annahụ yuḥyil-mautā wa annahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

 6.  Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,

hal-hal yang tekah disebutkan terdahulu itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Di dalamnya terdapat bukti petunjuk pasti bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Tuhan Yang berhak diibadahi, yang tidak sepantasnya peribadahan dilakukan kecuali bagiNya semata. Dia Maha Menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

wa annas-sā’ata ātiyatul lā raiba fīhā wa annallāha yab’aṡu man fil-qubụr

 7.  dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.

Dan bahwasanya waktu kebangkitan makhluk setelah kematian itu akan tiba, tidak ada keraguan sedikit pun tentang itu, dan bahwasanya Allah akan membangkitkan orang-orang mati dari kubur-kubur mereka untuk memperhitungkan amal perbuatan mereka dan memberikan balasan kepada mereka.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa lā hudaw wa lā kitābim munīr

 8.  Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,

ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۖ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ

ṡāniya ‘iṭfihī liyuḍilla ‘an sabīlillāh, lahụ fid-dun-yā khizyuw wa nużīquhụ yaumal-qiyāmati ‘ażābal-ḥarīq

 9.  dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.

8-9. Diantara orang-orang kafir ada orang yang mendebat dengan dasar kebatilan tentang Allah; tentang keesaanNya serta pilihanNya yang jatuh pada RasulNya , serta turunnya al-Qur’an padanya. Sanggahan itu dilakukan tanpa dasar ilmu dan keterangan yang benar, serta tanpa kitab dari Allah yang berisi bukti kebenaran dan hujjah yang jelas. Dia membelokkan lehernya dalam kesombongannya, berpaling dari kebenaran, supaya dapat menghalang-halangi orang lain dari keinginan masuk kedalam agama Allah. Maka dia akan menemui kehinaan di dunia dengan kekalahan dan terkuaknya jati dirinya. Dan Kami membakarnya pada Hari Kiamat dengan api neraka.

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

żālika bimā qaddamat yadāka wa annallāha laisa biẓallāmil lil-‘abīd

 10.  (Akan dikatakan kepadanya): “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”.

Dan dikatakan kepadanya, “Siksaan itu datang disebabkan maksiat yang telah kamu lakukan dan dosa-dosa yang kamu perbuat.” Dan Allah tidak menyiksa seseorang pun tanpa dosa.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

wa minan-nāsi may ya’budullāha ‘alā ḥarf, fa in aṣābahụ khairuniṭma`anna bih, wa in aṣābat-hu fitnatuningqalaba ‘alā waj-hih, khasirad-dun-yā wal-ākhirah, żālika huwal-khusrānul-mubīn

 11.  Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

yad’ụ min dụnillāhi mā lā yaḍurruhụ wa mā lā yanfa’uh, żālika huwaḍ-ḍalālul-ba’īd

 12.  Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.

يَدْعُو لَمَنْ ضَرُّهُ أَقْرَبُ مِنْ نَفْعِهِ ۚ لَبِئْسَ الْمَوْلَىٰ وَلَبِئْسَ الْعَشِيرُ

yad’ụ laman ḍarruhū aqrabu min naf’ih, labi`sal-maulā wa labi`sal-‘asyīr

 13.  Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat kawan.

11-13. Dan diantara manusia ada orang yang masuk ke dalam Islam dengan dorongan yang lemah dan keraguan, sehingga dia menyembah Allah dengan ragu-ragu, layaknya orang yang tengah berdiri di atas tepi gunung atau tembok, dia tidak mantap dalam berdirinya, dan dia mengaitkan keimanannya erat dengan kehidupan dunianya. Apabila dia dalam keadaan sehat dan hidup dengan nyaman, maka dia akan meneruskan ibadahnya. Dan apabila terjadi padanya satu cobaan dengan kejadian yang tidak mengenakkan dan kesulitan, dia mengaitkan kesialannya itu kepada agamanya, lalu dia meninggallkan agamanya sebagaimana orang yang berbalik ke belakang setelah istiqamah. Disebabkan hal itulah, dia merugi di dunia, karena kekafirannya tidak mengubah apa yang ditakdirkan bagi dirinya untuk kehidupan dunianya, dan dia merugi di akhirat karena masuk ke dalam neraka. Dan itu adalah kerugian yang nyata. Orang yang merugi itu menyembah selain Allah yang tidak dapat memadorotkannya bila ia abaikan, dan tidak memberinya manfaat jika ia sembah. Itulah kesesatan nyata yang amat jauh dari kebenaran. Dia menyeru makhluk yang mudaratnya lebih dekat daripada manfaatnya. Alangkah buruknya sesembahan itu sebagai penolong dan amat buruk menjadi kawan.

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

innallāha yudkhilullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, innallāha yaf’alu mā yurīd

 14.  Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan mereka itu teguh di atas keimanan tersebut, serta mengerjakan amal-amal shalih, ke dalam surga-surga yang sungai-sungai mengalir di bawah istana-istana dan pepohonannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, seperti memberi pahala orang-orang yang taat kepadaNya sebagai bentuk keutamaan dariNya dan menyiksa orang-orang yang bermaksiat kepadaNya sebagai bentuk keadilanNya.

مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ

mang kāna yaẓunnu al lay yanṣurahullāhu fid-dun-yā wal-ākhirati falyamdud bisababin ilas-samā`i ṡummalyaqṭa’ falyanẓur hal yuż-hibanna kaiduhụ mā yagīẓ

 15.  Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.

Barangsiapa meyakini bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menguatkan RasulNya, Muhammad dengan pertolongan di dunia dengan memenangkan agamaNya dan di akhirat dengan meninggikan derajatnya dan menyiksa orang-orang yang mendustakannya, maka hendaklah dia membentangkan seutas tali ke atap rumahnya dan menggantung dirinya dengan tali itu, kemudian memutus tali tersebut, lalu hendaklah dia pikirkan, apakah tindakan itu akan menghilangkan rasa amarah yang ada di dalam dirinya? Sesungguhnya Allah akan menolong NabiNya, Muhammad, dengan pasti tanpa keraguan.

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَأَنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يُرِيدُ

wa każālika anzalnāhu āyātim bayyinātiw wa annallāha yahdī may yurīd

 16.  Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.

Dan sebagaimana Allah menegakkan hujjah berupa bukti-bukti KuasaNya di hadapan orang-orang kafir untuk membangkitkan mereka, Dia (juga) menurunkan al-Qur’an, yang ayat-ayatnya jelas dalam lafaz-lafaz yang digunakannya dan maknanya, Allah memberikan hidayah dengannya kepada orang-orang yang Allah kehendaki unruk memperoleh hidayah; sebab tidak ada yang sanggup memberikan hidayah selainNya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَىٰ وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

innallażīna āmanụ wallażīna hādụ waṣ-ṣābi`īna wan-naṣārā wal-majụsa wallażīna asyrakū innallāha yafṣilu bainahum yaumal-qiyāmah, innallāha ‘alā kulli syai`in syahīd

 17.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad , orang-orang Yahudi, dan kaum Shabi’in (yaitu kaum yang masih berada di atas fitrah mereka, tidak memiliki ajaran agama tertentu yang mereka ikuti), kaum Nasrani dan kaum Majusi (para penyembah api) dan orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu para penyembah berhala, sesungguhnya Allah akan memutuskan ketetapan di antara mereka pada Hari Kiamat, lalu memasukkan kaum Mukminin ke dalam surga dan memasukkan orang-orang kafir ke neraka. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu, Maha Menyaksikan amalan-amalan hamba-hambaNya dan Maha menghitung dan menjaganya dan akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang berhak diterima oleh mereka berupa balasan yang sesuai dengan jenis perbuatan mereka yang Allah catat dan saksikan mereka melakukannya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩

a lam tara annallāha yasjudu lahụ man fis-samāwāti wa man fil-arḍi wasy-syamsu wal-qamaru wan-nujụmu wal-jibālu wasy-syajaru wad-dawābbu wa kaṡīrum minan-nās, wa kaṡīrun ḥaqqa ‘alaihil-‘ażāb, wa may yuhinillāhu fa mā lahụ mim mukrim, innallāha yaf’alu mā yasyā`,

 18.  Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Apakah Kamu (wahai Rasul) belum tahu bahwa sesungguhnya Allah, bersujud kepadaNya dengan tunduk lagi patuh makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi, juga matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, dan hewan yang bergerak (hidup)? Dan banyak manusia yang bersujud kepada Allah dengan penuh ketaatan dan kemauan sendiri, yaitu orang-orang Mukmin. Dan banyak juga manusia yang telah pasti azab akan meninpanya, maka dia adalah seorang yang hina. Dan manusia manapun yang dihinakan oleh Allah, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat memuliakannya. Sesungguhnya Allah pasti melakukan pada makhluk-makhluk ciptaanNya apa-apa yang Dia kehendaki sejalan dengan kebijaksanaanNya.

۞ هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ

hāżāni khaṣmānikhtaṣamụ fī rabbihim fallażīna kafarụ quṭṭi’at lahum ṡiyābum min nār, yuṣabbu min fauqi ru`ụsihimul-ḥamīm

 19.  Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.

يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ

yuṣ-haru bihī mā fī buṭụnihim wal-julụd

 20.  Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).

وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

wa lahum maqāmi’u min ḥadīd

 21.  Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.

كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

kullamā arādū ay yakhrujụ min-hā min gammin u’īdụ fīhā wa żụqụ ‘ażābal-ḥarīq

 22.  Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”.

19-22. Inilah dua golongan yang berselisih tentang Tuhan mereka, yaitu golongan yang beriman dan golongan kafir. Masing-masing mengaku sebagai pihak yang benar. Orang-orang yang kafir dikelilingi oleh siksaan dalam bentuk pakaian yang dibuatkan bagi mereka dari neraka yang mereka kenakan, lalu membakar tubuh-tubuh mereka. Dan dituangkan pada kepala-kepala mereka air yang sudah mencapai derajat tertinggi dalam panasnya, Yang kemudian mengalir turun kedalam rongga tubuh mereka, sehingga melelehkan semua yang ada di dalamnya, sampai menembus kulit-kulit mereka, lalu membakarnya, dan kulit-kulit mereka pun berjatuhan. Dan malaikat memukul mereka pada kepala mereka dengan palu-palu besi. Tiap kali mereka akan keluar dari neraka, (lantaran beratnya kesulitan dan kesengsaraan mereka di sana), mereka dikembalikan lagi ke siksaan di dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah oleh kalian siksaan neraka yang membakar.”

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

innallāha yudkhilullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa lu`lu`ā, wa libāsuhum fīhā ḥarīr

 23.  Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan beramal shalih ke dalam surga-surga yang kenikmatannya abadi. Yang mengalir sungai-sungai Di bawah istana-istana dan pepohonannya. Dan disana, mereka akan dikenakan perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian keseharian mereka di surga adalah kain sutra, baik lelaki maupun perempuan.

وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

wa hudū ilaṭ-ṭayyibi minal-qaụl, wa hudū ilā ṣirāṭil-ḥamīd

 24.  Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.

Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah bagi mereka di dunia untuk memilih ucapan baik, seperti kalimat tauhid, memuji Allah dan menyanjungNya, dan di akhirat untuk memujiNya atas tempat kesudahan mereka yang baik, sebagaimana Allah telah memberikan hidayah bagi mereka sebelumnya menuju jalan Islam yang terpuji lagi mengantarkan mereka menuju surga.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

innallażīna kafarụ wa yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wal-masjidil-ḥarāmillażī ja’alnāhu lin-nāsi sawā`anil-‘ākifu fīhi wal-bād, wa may yurid fīhi bi`il-ḥādim biẓulmin nużiq-hu min ‘ażābin alīm

 25.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan mendustakan risalah yang dibawa Muhammad bagi mereka, serta menghalangi orang lain untuk memeluk agama Allah, dan menghambat perjalanan Rasulullah dan kaum Mukiminin pada tahun perjanjian Hudaibiyah menuju Masjidil Haram yang Kami menjadikannya sebagai tempat bagi seluruh kaum Mukminin, baik yang bermukim di situ maupun orang pendatang, bagi mereka siksaan pedih lagi menyakitkan. Dan barangsiapa berniat di masjidil harom untuk berbuat penyimpangan dari kebenaran secara zhalim,kemudian dia bermaksiat kepada Allsh, niscaya Kami akan membuatnya merasakan siksaan pedih lagi menyakitkan.

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

wa iż bawwa`nā li`ibrāhīma makānal-baiti al lā tusyrik bī syai`aw wa ṭahhir baitiya liṭ-ṭā`ifīna wal-qā`imīna war-rukka’is-sujụd

 26.  Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.

Dan ingatlah (wahai Nabi), ketika Kami menjelaskan kepada Ibrahim tempat Baitullah, dan Kami persiapkan Baitullah baginya, sedang waktu itu tempatnya tidak diketahui, dan Kami perintahkan dia untuk membangunnya di atas asas ketakwaan dan bertauhid kepada Allah, dan membersihkannya dari kekafiran, bid’ah dan najis-najis supaya menjadi tempat yang kondusif bagi orang-orang yang berthawaf dan orang-orang yang mendirikan shalat di sekitarnya.

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

wa ażżin fin-nāsi bil-ḥajji ya`tụka rijālaw wa ‘alā kulli ḍāmiriy ya`tīna ming kulli fajjin ‘amīq

 27.  Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

liyasy-hadụ manāfi’a lahum wa yażkurusmallāhi fī ayyāmim ma’lụmātin ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa kulụ min-hā wa aṭ’imul-bā`isal-faqīr

 28.  supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

27-28. Dan umumkanlah (wahai Ibrahim) kepada sekalian manusia tentang kewajiban haji atas mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dalam keadaan berbeda-beda; berjalan kaki dan menunggangi unta yang kurus (yaitu unta yang kurus karena perjalanan dan beban pekerjaan bukan karena berdaging sedikit) yang tiba dari segenap jalan yang jauh, supaya mereka menghadiri hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, berupa: pengampunan bagi dosa-dosa mereka, pahala mengerjakan manasik haji dan ketaatan mereka, serta perolehan keuntungan dalam perniagaan mereka dan kepentingan-kepentingan lain, dan agar mereka menyebut Nama Allah ketika menyembelih hewan kurban yang mereka jadikan pendekatan diri kepada Allah, seperti unta, sapi dan kambing pada hari-hari tertentu, yaitu tanggal 10 dzulhijjah dan tiga hari setelahnya, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya, sedang mereka diperintah sebagai anjuran saja untuk memakan dari sembelihan-sembelihan tersebut dan memberikan makan orang fakir yang amat sulit ekonominya dari sembelihan itu.

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

ṡummalyaqḍụ tafaṡahum walyụfụ nużụrahum walyaṭṭawwafụ bil-baitil-‘atīq

 29.  Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).

Kemudian hendaknya orang-orang yang berhaji menyelesaikan manasik-manasik haji yang belum dilaksanakan, supaya dapat kembali ke dalam kondisi halal dan keluar dari keadaan ihram. Demikian itu, dengan cara menghilangkan kotoran yang bertumpuk pada tubuh-tubuh mereka dan memotong kuku-kuku mereka serta menggunduli kepala mereka, dan supaya mereka memenuhi keinginan yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri berupa haji, umrah dan menyembelih hadyu-hadyu, serta supaya mereka melakukan thawaf di sekeliling bangunan rumah tua lagi sudah lama yang Allah pelihara dari cengkraman para tiran, yaitu Ka’bah.

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

żālika wa may yu’aẓẓim ḥurumātillāhi fa huwa khairul lahụ ‘inda rabbih, wa uḥillat lakumul-an’āmu illā mā yutlā ‘alaikum fajtanibur-rijsa minal-auṡāni wajtanibụ qaulaz-zụr

 30.  Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Perkara yang Allah perintahkan tersebut, berupa menyelesaikan manasik-manasik haji, memenuhi nadzar dan thawaf di sekeliling Ka’bah, itulah yang diwajibkan Allah atas kalian, maka agungkanlah perkara itu. Dan barangsiapa mengagungkan perkara-perkara terhormat yang ditetapkan Allah, dan diantaranya adalah manasik-manasikNya dengan cara menjalankannya dengan sempurna lagi ikhlas karena Allah, maka itu lebih baik baginya di dunia dan akhirat. Dan Dia telah menghalalkan bagi kalian memakan binatang-binatang ternak, kecuali yang Dia haramkan dalam ayat yang dibacakan kepada kalian di al-Qur’an, seperti bangkai dan lainnya, maka jauhilah. Dan dalam hal ini terkandung pembatalan apa yang diharamkan oleh bangsa arab terhadap beberapa jenis binatang ternak. Dan jauhilah hal-hal najis, yaitu berhala-berhala, dan jauhilah kedustaan terhadap Allah.

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

hunafā`a lillāhi gaira musyrikīna bih, wa may yusyrik billāhi fa ka`annamā kharra minas-samā`i fa takhṭafuhuṭ-ṭairu au tahwī bihir-rīḥu fī makānin saḥīq

 31.  dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.

Dengan istiqamah kepada Allah untuk mengikhlaskan amal perbuatan bagiNya, menghadap kepadaNya dengan cara beribadah kepadaNya saja dan mengesakanNya dengan ketaatan, berpaling dari selainNya, dengan membuang perbuatan kesyirikan. Karena sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka perumpamaannya; (ditinjau dari jauhnya dia dari hidayah, kebinasaanya dan dia terjatuh dari keimanan tinggi menuju jerat kekafiran, serta sambaran setan terhadapnya dari seluruh sisi) adalah seperti orang yang terjatuh dari langit, maka bisa jadi dia akan disambar oleh burung dan burung itu mencabik-cabik anggota-anggota tubuhnya, atau akan diterjang pusaran angin yang kencang lalu melemparkannya ke tempat yang sangat jauh.

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

żālika wa may yu’aẓẓim sya’ā`irallāhi fa innahā min taqwal-qulụb

 32.  Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.

Demikian itulah yang diperintahkan Allah, yaitu mentauhidkanNya dan mengikhlaskan ibadah bagiNya. Dan barangsiapa melaksanakan perintah Allah dan mengagungkan setiap simbol-simbol agama termasuk di dalamnya rangkaian manasik haji dan tempat-tempatnya, serta hewan-hewan kurban yang disembelih padanya, yaitu dengan cara memperlakukannya dengan baik dan menggemukannya, bentuk pengagungan ini, termasuk perbuatan orang-orang yang memiliki hati yang menyandang sifat takwa kepada Allah dan takut kepadaNya.

لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

lakum fīhā manāfi’u ilā ajalim musamman ṡumma mahilluhā ilal-baitil-‘atīq

 33.  Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).

Pada hewan-hewan hadyu ini, kalian dapat mengambil manfaat-manfaat yang kalian nikmati berupa bulu, air susu dan sebagai tunggangan, dan bentuk pemanfaatan lainnya yang tidak berpengaruh buruk padanya hingga hari penyembelihan di sisi Baitullah, yaitu seluruh zona tanah haram.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

wa likulli ummatin ja’alnā mansakal liyażkurusmallāhi ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa ilāhukum ilāhuw wāḥidun fa lahū aslimụ, wa basysyiril-mukhbitīn

 34.  Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

Dan bagi tiap golongan yang beriman yang telah lalu, Kami menjadikan baginya rangkaian ibadah manasik, berupa menyembelih dan menumpahkan darah (hewan sembelihan). Yang demikian itu, supaya mereka menyebut nama Allah waktu penyembelihan binatang-binatang ternak yang Allah karuniakan bagi kalian, kemudian bersyukur kepadaNya. Tuhan sembahan kalian (wahai sekalian manusia) adalah Tuhan sembahan Yang Maha Esa, yaitu Allah, maka patuhlah kepada perintahNya dan perintah RasulNya. Dan berilah kabar gembira (wahai Nabi) kepada orang-orang yang tawadhu lagi tunduk kepada Tuhan mereka, dengan kebaikan dunia dan akhirat.

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

allażīna iżā żukirallāhu wajilat qulụbuhum waṣ-ṣābirīna ‘alā mā aṣābahum wal-muqīmiṣ-ṣalāti wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

 35.  (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.

Orang-orang yang tawadhu lagi takut kepada Allah, di antara sifat mereka adalah, bila disebut nama Allah semata, mereka takut siksaanNya dan waspada jangan sampai menyelisihiNya. dan apabila tertimpa musibah dan kesulitan, mereka bersabar menghadapinya, dengan berharap pahala dari Allah dan menjalankan ibadah shalat dengan sempurna. Selain itu, mereka membelanjakan sebagian yang Allah karuniakan kepada mereka untuk hal-hal yang wajib atas mereka, seperti menunaikan zakat dan menafkahi keluarga dan nafkah orang yang menjadi kewajiban mereka, berinfak di jalan Allah dan infak-infak sunnah.

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wal-budna ja’alnāhā lakum min sya’ā`irillāhi lakum fīhā khairun fażkurusmallāhi ‘alaihā ṣawāff, fa iżā wajabat junụbuhā fa kulụ min-hā wa aṭ’imul-qāni’a wal-mu’tarr, każālika sakhkharnāhā lakum la’allakum tasykurụn

 36.  Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Dan Kami menjadikan bagi kalian penyembelihan unta dan sapi yang gemuk itu termasuk syiar agama dan simbol pengenalnya, supaya kalian mendekatkan diri kepada Allah, bagi kalian (wahai orang-orang yang berkurban/mendekatkan diri kepada Allah) ada kebaikan padanya berupa berbagai jenis pemanfaatan darinya seperti makan, sedekah, pahala dan ganjaran. Maka ketika menyembelihnya, ucapkanlah, “Bismillah.” Dan unta disembelih dalam keadaan berdiri dengan tiga kaki yang dibiarkan tegak lurus, sedang kaki keempat dirantai. Kemudian apabila sudah roboh di atas tanah, maka sungguh telah halal untuk memakannya. Lalu hendaklah orang-orang yang berkurban menyantapnya sebagai bentuk ibadah dan memberi makan darinya orang fakir yang tidak meminta-minta untuk menjaga kehormatan dan orang miskin yang meminta-minta karena didesak kebutuhannya. Demikianlah, Allah menundukkan unta bagi kalian supaya kalian bersyukur kepada Allah karena ditundukannya unta bagi kalian.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

lay yanālallāha luḥụmuhā wa lā dimā`uhā wa lākiy yanāluhut-taqwā mingkum, każālika sakhkharahā lakum litukabbirullāha ‘alā mā hadākum, wa basysyiril-muḥsinīn

 37.  Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Tidaklah sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah dari sembelihan-sembelihan itu sedikit pun. Akan tetapi, yang sampai kepadaNya adalah keikhlasan padaNya dan niat mencari Wajah Allah dengannya. Demikianlah Kami menundukkan bagi kalian, (wahai orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah) supaya kalian mengagungkan Allah dan bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah tunjukkan pada kalian, karena Dia memang berhak untuk itu. Dan sampaikanlah kabar gembira, (wahai Nabi), kepada orang-orang yang berbuat baik dengan beribadah kepada Allah semata dan juga berbuat kebaikan kepada hamba-hambaNya, dengan segala kebaikan dan keberuntungan.

۞ إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

innallāha yudāfi’u ‘anillażīna āmanū, innallāha lā yuḥibbu kulla khawwāning kafụr

 38.  Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.

Sesungguhnya Allah menolak dari kaum Mukminin permusuhan orang-orang kafir dan tipu daya orang-orang jahat; karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka berkhianat terhadap tugas amanah dari Tuhannya lagi banyak mengingkari nikmat-nikmatNya.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

użina lillażīna yuqātalụna bi`annahum ẓulimụ, wa innallāha ‘alā naṣrihim laqadīr

 39.  Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,

Dahulu kaum Muslimin pada awal perkembangan mereka, dilarang untuk memerangi orang-orang kafir, dan diperintahkan untuk bersabar mengahadapi gangguan mereka. Kemudian ketika gangguan kaum Musyrikin sudah mencapai puncaknya, sementara Nabi telah keluar berhijrah dari Makkah menuju Madinah, kemudian Islam memiliki kekuatan, Allah mengizinkan kaum Muslimin untuk maju berperang, disebabkan apa yang mereka alami berupa penindasan dan permusuhan. Dan sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk menolong mereka dan menghinakan musuh-musuh mereka.

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

allażīna ukhrijụ min diyārihim bigairi ḥaqqin illā ay yaqụlụ rabbunallāh, walau lā daf’ullāhin-nāsa ba’ḍahum biba’ḍil lahuddimat ṣawāmi’u wa biya’uw wa ṣalawātuw wa masājidu yużkaru fīhasmullāhi kaṡīrā, wa layanṣurannallāhu may yanṣuruh, innallāha laqawiyyun ‘azīz

 40.  (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,

Yaitu, orang-orang yang terpaksa keluar meninggalkan kampung halaman mereka, bukan karena sesuatu (kesalahan) yang mereka perbuat selain karena mereka memeluk agama Islam dan mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah semata.” Seandainya bukan karena ketetapan yang sudah Allah syariatkan, untuk menolak kezhaliman yang mengambil manfaat darinya oleh setiap pengikut agama yang diturunkan dan menolak kebatilan dengan jihad yang dizinkan pastilah kebenaran akan terpecundangi pada setiap ummat, dan tentulah bumi akan rusak, dan robohlah tempat-tempat ibadah di muka bumi, seperti biara-biara para rahib, gereja-gereja umat Nasrani dan tempat-tempat penyembahan kaum Yahudi, serta masjid-masjid yang kaum Muslimin mengerjakan shalat di dalamnya dan mengingat Nama Allah di sana dengan sebanyak-banyaknya. Barangsiapa bersungguh-sungguh untuk membela agama Allah, maka sesungguhnya Allah menjadi penolongnya terhadap musuhnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, tidak terkalahkan, lagi Mahaperkasa, yang tidak dapat terjamah; Dia telah menundukkan semua makhluk dan menggenggam ubun-ubun mereka.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

allażīna im makkannāhum fil-arḍi aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta wa amarụ bil-ma’rụfi wa nahau ‘anil-mungkar, wa lillāhi ‘āqibatul-umụr

 41.  (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Orang-orang yang Kami janjikan dengan pertolongan dari Kami ialah orang-orang yang bila Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan kami jadikan mereka penguasa di sana, dengan memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka,mereka mendirikan shalat dengan menjalankannya pada waktu-waktunya dengan memperhatikan batasan –batasannya, mengeluarkan zakat harta mereka kepada orang-orang yang berhak menerimanya, memerintahkan setiap perkara yang diperintahkan Allah, terkait hak-hakNya dan hak hamba-hambaNya, dan melarang dari setiap perkara yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. Dan kepada Allah semata tempat kembali semua perkara itu, dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَثَمُودُ

wa iy yukażżibụka fa qad każżabat qablahum qaumu nụḥiw wa ‘āduw wa ṡamụd

 42.  Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ‘Aad dan Tsamud,

وَقَوْمُ إِبْرَاهِيمَ وَقَوْمُ لُوطٍ

wa qaumu ibrāhīma wa qaumu lụṭ

 43.  dan kaum Ibrahim dan kaum Luth,

وَأَصْحَابُ مَدْيَنَ ۖ وَكُذِّبَ مُوسَىٰ فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

wa aṣ-ḥābu madyan, wa kużżiba mụsā fa amlaitu lil-kāfirīna ṡumma akhażtuhum, fa kaifa kāna nakīr

 44.  dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu).

42-44. Dan apabila kaummu mendustakan kamu (wahai Rasul) maka sungguh kaum NUh telah mendahului mereka dalam urusan mendustakan para rasul mereka, begitu juga kaum Ad, kaum Tsamud, kaum Ibrahim, kaum Luth, penduduk (Madyan) yang mendustakan Syu’aib, dan Fir’aun dan pengikutnya mendustakan Musa. Namun, Aku tidak menyegerakan siksaan pada mereka, akan tetapi Aku menangguhkan waktu bagi mereka, kemudian Aku siksa masing-masing dari mereka dengan siksaan. Maka (perhatikanlah) bagaimanakah pengingkaranKu terhadap mereka atas kekafiran dan pendustaan mereka dan perubahan kenikmatan yang ada pada mereka dengan siksaan dan kebinasaan?

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ

fa ka`ayyim ming qaryatin ahlaknāhā wa hiya ẓālimatun fa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urụsyihā wa bi`rim mu’aṭṭalatiw wa qaṣrim masyīd

 45.  Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi,

Banyak dari negeri-negeri yang (penduduknya) berbuat kezhaliman dengan kekafiran, Kami hancurkan penduduknya, sehingga pemukiman-pemukiman mereka runtuh, kosong dari penghuni-penghuninya, sumur-sumur mereka tidak dapat dimanfaatkan untuk minum, istana-istana yang menjulang tinggi lagi penuh hiasan tidak dapat menolak siksaan buruk dari mereka.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa takụna lahum qulụbuy ya’qilụna bihā au āżānuy yasma’ụna bihā, fa innahā lā ta’mal-abṣāru wa lākin ta’mal-qulụbullatī fiṣ-ṣudụr

 46.  maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Tidaklah orang-orang yang mendustakan dari suku Quraisy itu berjalan di muka bumi untuk menyaksikan bekas-bekas kehancuran orang-orang yang di binasakan, sehingga mereka mau berpikir dengan akal-akal mereka, dan kemudian mengambil pelajaran darinya dan mendengarkan berita-berita mereka dengan penuh perenungan, sehingga dapat memetik pelajaran darinya? Karena sesungguhnya hakikat kebutaan bukanlah kebutaan penglihatan, akan tetapi kebutaan yang membinasakan adalah kebutaan mata hati untuk menangkap kebenaran dan mengambil pelajaran.

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

wa yasta’jilụnaka bil-‘ażābi wa lay yukhlifallāhu wa’dah, wa inna yauman ‘inda rabbika ka`alfi sanatim mimmā ta’uddụn

 47.  Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Dan orang-orang Kafir Quraisy meminta untuk menyegerakan siksaan kepadamu (wahai Rasul) yang kamu memperingatkan mereka dengannya, (karena kebodohan mereka yang parah), ketika mereka tetap bersikeras berada di atas kekafiran, dan Allah tidak akan menyalahi janji yang Dia janjikan kepada mereka berupa siksaan, hal itu pasti akan terjadi. Dan sungguh Allah telah menyegerakan siksaan pada mereka di dunia pada Perang Badar, dan sesungguhnya satu hari dari hari-hari Allah (yaitu Hari Kiamat) seperti seribu tahun dari tahun yang kalian hitung di dunia.

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ

wa ka`ayyim ming qaryatin amlaitu lahā wa hiya ẓālimatun ṡumma akhażtuhā, wa ilayyal-maṣīr

 48.  Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu).

Dan kebanyakan dari negeri-negeri yang berbuat kezhaliman, dimana penduduknya tetap bersikeras di atas kekafiran, lalu Kami tangguhkan mereka, dan tidak Aku timpakan hukuman pada mereka dengan segera, sehingga mereka merasa lengah, kemudian Aku siksa mereka dengan siksaanKu di dunia, dan kepadaKu-lah tempat kembali mereka setelah kehancuran mereka, lalu Aku siksa mereka dengan siksaan yang pantas mereka terima di akhirat.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

qul yā ayyuhan-nāsu innamā ana lakum nażīrum mubīn

 49.  Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu”.

فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

fallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa rizqung karīm

 50.  Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.

وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna sa’au fī āyātinā mu’ājizīna ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

 51.  Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka.

49-51. Katakanlah (wahai Rasul), “Wahai sekalian manusia, aku tiada lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kalian, penyampai wahyu dari Allah dan risalahNya.” Maka orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan keimanan itu tertanam kuat pada hati mereka, dan mengerjakan amal shalih, mereka mendapat ampunan dari Allah dari dosa-dosa mereka dan ampunan yang bisa menutupi apa yang mereka lakukan berupa maksiat-maksiat, dan rizki baik yang tidak terputus, yaitu surga. Dan orang-orang yang berusaha kuat melancarkan tipu daya untuk menggugurkan ayat-ayat al-Qur’an, dengan mendustakan untuk menentang lagi mengalahkan, mereka itu adalah orang-orang yang menetap di dalam neraka yang menyala-nyala. Mereka menetap di dalamnya untuk selamanya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa mā arsalnā ming qablika mir rasụliw wa lā nabiyyin illā iżā tamannā alqasy-syaiṭānu fī umniyyatih, fa yansakhullāhu mā yulqisy-syaiṭānu ṡumma yuḥkimullāhu āyātih, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 52.  Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu (wahai Rasul) seorang Rasul maupun seorang Nabi, kecuali ketika dia membaca Kitabullah yang dia diutus dengannya berupa ayat-ayat, maka setan melontarkan pada bacaannya bisikan-bisikan dan syubhat-syubhat, agar dapat menghalangi manusia dari mengikuti apa yang dibacakan dan disampaikan oleh nabi atau rasul itu. Akan tetapi, Allah mematahkan tipu daya setan, lalu melenyapkan bisikan-bisikannya dan mengukuhkan ayat-ayatNya yang nyata. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagiNya, Mahabijaksana dalam penetapan takdirNya dan pengaturanNYa.

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

liyaj’ala mā yulqisy-syaiṭānu fitnatal lillażīna fī qulụbihim maraḍuw wal-qāsiyati qulụbuhum, wa innaẓ-ẓālimīna lafī syiqāqim ba’īd

 53.  agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,

Dan tidaklah tindakan dari setan ini muncul kecuali supaya Allah menjadikannya sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat keraguan dan kemunafikan, dan bagi orang-orang berhati keras dari kaum musyrikin yang sama sekali tidak terpengaruh oleh peringatan apa pun. dan sesungguhnya orang-orang zhalim, baik dari golongan munafik maupun golongan musyrikin, berada dalam api permusuhan besar terhadap Allah dan RasulNya dan perlawanan terhadap al-haq, lagi jauh dari kebenaran.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa liya’lamallażīna ụtul-‘ilma annahul-ḥaqqu mir rabbika fa yu`minụ bihī fa tukhbita lahụ qulụbuhum, wa innallāha lahādillażīna āmanū ilā ṣirāṭim mustaqīm

 54.  dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.

Dan agar orang-orang berilmu yang dengan ilmu yang mereka miliki, mereka membedakan antara kebenaran dan kebatilan, menjadi tahu bahwa sesungguhnya al-qur’an al-Karim itulah kebenaran yang turun dari sisi Allah kepadamu, wahai rasul, tidak ada syubhat padanya, dan tidak ada jalan bagi setan kepadanya, kemudian iman mereka bertambah kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar akan menunjukkan orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada RasulNya ke jalan kebenaran yang nyata, yaitu Islam, Dia menyelamatkan mereka dengannya dari kesesatan.

وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ

wa lā yazālullażīna kafarụ fī miryatim min-hu ḥattā ta`tiyahumus-sā’atu bagtatan au ya`tiyahum ‘ażābu yaumin ‘aqīm

 55.  Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Quran, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.

Orang-orang kafir yang mendustakan akan terus dalam keraguan terhadap apa-apa yang engkau bawa kepada mereka, berupa al-Qur’an, hingga kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba sementara mereka masih di atas sikap mendustakan, atau azab akan menimpa mereka pada hari yang tidak ada kebaikan padanya, yaitu Hari Kiamat.

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

al-mulku yauma`iżil lillāh, yaḥkumu bainahum, fallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fī jannātin-na’īm

 56.  Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā fa ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn

 57.  Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka azab yang menghinakan.

56-57. Kerajaan dan kekuasaan pada hari tersebut hanya milik Allah semata. Allah akan menetapkan keputusan di antara kaum Mukminin dan orang-orang kafir. Maka orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan mengerjakan amal-amal shalih, bagi mereka kenikmatan abadi di dalam surga-surga, sedangkan orang-orang kafir kepada keesaan Allah dan mendustakan RasulNya, dan mengingkari ayat-ayat al-Qur’an, maka bagi mereka siksaan yang menghinakan dan merendahkan mereka di dalam jahanam.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

wallażīna hājarụ fī sabīlillāhi ṡumma qutilū au mātụ layarzuqannahumullāhu rizqan ḥasanā, wa innallāha lahuwa khairur-rāziqīn

 58.  Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.

Dan orang-orang yang keluar meninggalkan kampung-kampung halaman mereka guna mencari ridha Allah dan membela agamaNya, dan orang yang terbunuh dari mereka, ketika berperang melawan orang-orang kafir, dan orang yang meninggal dari mereka bukan dalam peperangan, niscaya Allah benar-benar akan memberikan karunia kepada mereka berupa surga dan kenikmatan di dalamnya yang tidak akan terputus dan habis. Dan sesungguhnya Allah benar-benar sebaik-baik pemberi rizki.

لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ

layudkhilannahum mudkhalay yarḍaunah, wa innallāha la’alīmun ḥalīm

 59.  Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.

Allah benar-benar akan memasukkan mereka ke dalam tempat yang amat mereka sukai, yaitu surga, dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui orang yang keluar di jalanNYa dan orang yang keluar demi mencari dunia, juga Mahalembut terhadap orang yang bermaksiat kepadaNya, sehingga tidak menyegerakan hukuman bagi mereka.

۞ ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

żālika wa man ‘āqaba bimiṡli mā ‘ụqiba bihī ṡumma bugiya ‘alaihi layanṣurannahullāh, innallāha la’afuwwun gafụr

 60.  Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Berita itulah yang Kami kisahkan kepadamu, yaitu dimasukannya orang-orang yang berhijrah ke dalam surga. Sedangkan orang yang tertindas dan terzholimi, sungguh telah di buka pintu izin baginya untuk membalas pelaku kezhaliman itu dengan tindakan yang serupa dengan perbuatannya. Hal itu tidak masalah baginya. Dan apabila pelaku penindasan kembali melancarkan gangguan dan berbuat kezhaliman, maka sesungguhnya Allah akan menolong orang yang terzhalimi lagi tetindas. Sebab, tidak dibenarkan melancarkkan kezhaliman pada seseorang yang mengambil haknya untuk membela diri. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun, memaafkan orang-orang yang berbuat dosa, sehingga tidak mempercepat hukuman pada mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

żālika bi`annallāha yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laili wa annallāha samī’um baṣīr

 61.  Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ketetapan-ketetapan hokum yang disyariatkan bagi kalian berupa hokum-hukum yang adil itulah kebenaran sejati. Dan Dia MahaKuasa atas segala yang Dia kehendaki. Dan diantara bukti KuasaNYa, Dia memasukkan waktu malam yang berkurang pada waktu siangnya, dan memasukkan waktu-waktu siang yang menyusut ke dalam waktu-waktu malam, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua suara, Maha Melihat seluruh perbuatan, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagiNya.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa anna mā yad’ụna min dụnihī huwal-bāṭilu wa annallāha huwal-‘aliyyul-kabīr

 62.  (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Demikian itu, karena sesungguhnya Allah itulah Tuhan Yang Haq, yang tidak layak ditujukan sebuah peribadahan kecuali kepadaNya, dan sesungguhnya obyek yang disembah oleh kaum musyrikin selain Allah, berupa berhala-berhala dan tandingan-tandingan itulah kebatilan yang tidak membawa manfaat dan mendatangkan bahaya. Dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang MahaTinggi di atas MakhlukNya, Yang MahaTinggi dari keserupaan-keserupaan dan tandingan-tandingan, lagi MahaBesar dalam Dzat, Nama-namaNya, dan sifat-sifatNya; Dia lebih besar dari segala sesuatu.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً ۗ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

a lam tara annallāha anzala minas-samā`i mā`an fa tuṣbiḥul-arḍu mukhḍarrah, innallāha laṭīfun khabīr

 63.  Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Apakah kamu (wahai Rasul) belum mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menurunkan hujan dari langit, kemudian permukaan tanah menjadi kehijauan dengan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh padanya? Sesungguhnya Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambaNya dengan mengeluarkan tanaman dari dalam tanah melalui air tersebut, juga Maha Mengetahui kemaslahatan-kemaslahatan mereka.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa innallāha lahuwal-ganiyyul-ḥamīd

 64.  Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi dalam hal penciptaan, kepemilikan dan penghambaan diri mereka. Semuanya membutuhkan pengaturan dan curahan karuniaNYa. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Yang Maha Kaya Yang tidak membutuhkan sesuatu pun, lagi Maha Terpuji dalam seluruh keadaan.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

a lam tara annallāha sakhkhara lakum mā fil-arḍi wal-fulka tajrī fil-baḥri bi`amrih, wa yumsikus-samā`a an taqa’a ‘alal-arḍi illā bi`iżnih, innallāha bin-nāsi lara`ụfur raḥīm

 65.  Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan bagi kalian semua yang ada di muka bumi dari berbagai macam binatang, hewan ternak, tanam-tanaman, buah-buahan dan benda-benda mati untuk di gunakan sebagai tunggangan kalian, makanan kalian dan manfaat-manfaat lain bagi kalian. Sebagaimana Dia telah menundukkan kapal-kapal bagi kalian, yang berlayar di permukaan laut dengan kuasa dan perintah Allah. kapal-kapal itu mengangkut kalian beserta barang-barang bawaan kalian ke tempat mana saja yang kalian kehendaki dari negeri-negeri dan tempat tujuan. Dia- lah juga yang menahan langit lalu memeliharanya sehingga tidak roboh ke bumi sehingga akan membinasakan semua yang ada padanya kecuali dengan kehendak Allah untuk itu? Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Penyayang terhadap sekalian manusia dengan kasih sayang yang luas di dunia maupun di akhirat, dan diantara bertuk kasih sayangNya adalah dengan segala sesuatu yang ditundukanNya bagi mereka dari berbagai hal ini dan lainnya, sebagai karunia dariNya bagi mereka.

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ

wa huwallażī aḥyākum ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum, innal-insāna lakafụr

 66.  Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.

Dan Dia –lah Allah Yang menghidupkan kalian dan mengadakan wujud kalian setelah sebelumnya tidak ada, kemudian mematikan kalian sesudah habisnya jatah usia kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali) dengan membangkitkan kembali setelah kematian, untuk menghitung amal perbuatan kalian. Sesungguhnya manusia itu benar-benar makhluk yang sangat ingkar terhadap bukti-bukti nyata yang menunjukkan Kuasa dan Keesaan Allah.

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ

likulli ummatin ja’alnā mansakan hum nāsikụhu fa lā yunāzi’unnaka fil-amri wad’u ilā rabbik, innaka la’alā hudam mustaqīm

 67.  Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

Dan bagi umat-umat yang telah berlalu, Kami menjadikan aturan syariat dan tata cara peribadahan yang Kami perintahkan untuk mereka laksanakan. Kemudia mereka melaksanakannya. Maka janganlah kaum musyrikin Quraisy sampai membantahmu (wahai Rasul) dalam urusan ajaran syariat agamamu dan hal-hal yang Allah memerintahkanmu dalam manasik haji dan jenis-jenis ibadah lain secara keseluruhan. Dan serulah (manusia) menuju pengesaan Tuhanmu dan pemurnian ibadah hanya bagiNya dan mengikuti perintahNYa. Sesungguhnya kamu itu berada di atas ajaran agama yang lurus, yang tidak ada kebengkokan padanya.

وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ

wa in jādalụka fa qulillāhu a’lamu bimā ta’malụn

 68.  Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah: “Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan”.

Dan jika mereka terus menerus mendebatmu dengan dasar kebatilan terkait kandungan dakwah yang kamu menyeru mereka kepadanya, maka janganlah kamu melayani perdebatan mereka. Akan tetapi, katakanlah kepada mereka, “Allah mengetahui apa yang kalian perbuat berupa kekafiran dan pendustaan .” mereka itu adalah orang-orang yang membangkang lagi sombong.

اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

allāhu yaḥkumu bainakum yaumal-qiyāmati fīmā kuntum fīhi takhtalifụn

 69.  Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.

Allah memutuskan perkara di antara kaum muslimin dan orang-orang kafir pada hari kiamat perihal perselisihan dalam masalah agama. Dalam ayat ini terkandung satu etika luhur dalam membantah orang yang mengajak berdebat dalam rangka menampakkan penentangan dan kesombongannya.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

a lam ta’lam annallāha ya’lamu mā fis-samā`i wal-arḍ, inna żālika fī kitāb, inna żālika ‘alallāhi yasīr

 70.  Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

Tidakkah kamu mengetahui (wahai Rasul) bahwasanya Allah mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi dengan pengetahuan yang sempurna, yang telah ditetapkanNya di dalam Lauhul Mahfuzh? Sesungguhnya pengetahuan tentang hal tersebut merupakan perkara ringan bagi Allah, yang tidak ada satu perkara pun dapat melemahkanNYa.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānaw wa mā laisa lahum bihī ‘ilm, wa mā liẓ-ẓālimīna min naṣīr

 71.  Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun.

Dan orang-orang kafir Quraisy terus ngotot di atas kesyirikan kepada Allah, meski kebatilan keyakinan mereka itu sudah tampak kebatilannya. Mereka menyembah Tuhan sesembahan, yang tidak ada bukti petunjuk yang turun dalam salah satu kitab-kitab suci Allah yang menunjukkan bahwa ia layak untuk disembah. Dan mereka pun tidak memiliki pengetahuan terkait apa yang mereka perdebatkan sendiri dan mereka ada-adakan terhadap Allah. Hal itu hanyalah merupakan satu perkara yang mereka sekedar mengikuti bapak-bapak mereka padanya tanpa ada dalil (petunjuk yang benar). Maka apabila telah tiba waktu perhitungan amal perbuatan di akhirat, maka tidak ada penolong bagi kaum musyrikin yang akan menolong mereka atau yang dapat menolak siksaan dari mereka.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātin ta’rifu fī wujụhillażīna kafarul-mungkar, yakādụna yasṭụna billażīna yatlụna ‘alaihim āyātinā, qul a fa unabbi`ukum bisyarrim min żālikum, an-nār, wa’adahallāhullażīna kafarụ, wa bi`sal-maṣīr

 72.  Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Dan apabila dibacakan ayat-ayat al-Qur’an yang jelas kepada kaum musyrikin, kamu dapat melihat kebencian tampak jelas pada wajah-wajah mereka. Mereka hampir-hampir melancarkan serangan sadis terhadap kaum Mukminin yang menyeru mereka kepada Allah dan membacakan ayat-ayatNya kepada mereka. Katakanlah kepada mereka (wahai Rasul), “Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang lebih kalian benci daripada mendengarkan kebenaran dan melihat para penyeru kepada Allah?” yaitu, neraka yang sudah Allah sediakan bagi orang-orang kafir di akhirat. Dan seburuk-buruk tempat mereka kembali adalah neraka.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

yā ayyuhan-nāsu ḍuriba maṡalun fastami’ụ lah, innallażīna tad’ụna min dụnillāhi lay yakhluqụ żubābaw wa lawijtama’ụ lah, wa iy yaslub-humuż-żubābu syai`al lā yastangqiżụhu min-h, ḍa’ufaṭ-ṭālibu wal-maṭlụb

 73.  Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.

Wahai sekalian manusia, telah dijadikan satu perumpamaan, maka simak dan renungilah ia: sesungguhnya berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian sembah selain Allah, tidak akan mampu bersekutu untuk menciptakan seekor lalat sekalipun, apalagi makhluk yang lebih besar dari lalat? Dan tidak mampu mempertahankan apa yang telah dirampas oleh lalat darinya. Apakah ada bentuk kelemahan yang lebih parah dari keadaan ini? Kedua belah pihak sama-sama lemah; kelemahan yang mengejar, yaitu yang disembah selain Allah, untuk merebut apa yang telah diambil oleh lalat darinya, dan lemah pula yang dikejar, yaitu lalat. Bagaimana bisa berhala-berhala dan tandingan-tandingan didaulat sebagai tuhan sesembahan, sedang keadaannya sedemikian lemah?

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

mā qadarullāha ḥaqqa qadrih, innallāha laqawiyyun ‘azīz

 74.  Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Orang-orang musyrik tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sepatutnya, karena mengadakan bagi Allah sekutu-sekutu, padahal Dia adalah Dzat Yang MahaKuat Yang menciptakan segala sesuatu, juga MahaPerkasa Yang tidak terkalahkan.

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

allāhu yaṣṭafī minal-malā`ikati rusulaw wa minan-nās, innallāha samī’um baṣīr

 75.  Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۗ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa ilallāhi turja’ul-umụr

 76.  Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.

75-76. Allah memilih utusan-utusan dari kalangan malaikat kepada nabi-nabiNya dan memilih dari kalangan manusia rasul-rasul untuk menyampaikan risalahNya kepada semua makhluk. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNya, juga Maha Melihat segala sesuatu dan orang yang dipilihNya dari makhlukNya untuk mengemban risalahNya. Dan Dia mengetahui apa yang di depan malaikat-malaikat dan rasul-rasulNya sebelum menciptakan mereka, dan Dia mengetahui apa saja yang akan terjadi sesudah kebinasaan mereka. Dan kepada Allah saja segala sesuatu akan dikembalikan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

yā ayyuhallażīna āmanurka’ụ wasjudụ wa’budụ rabbakum waf’alul-khaira la’allakum tufliḥụn

 77.  Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

wa jāhidụ fillāhi ḥaqqa jihādih, huwajtabākum wa mā ja’ala ‘alaikum fid-dīni min ḥaraj, millata abīkum ibrāhīm, huwa sammākumul-muslimīna ming qablu wa fī hāżā liyakụnar-rasụlu syahīdan ‘alaikum wa takụnụ syuhadā`a ‘alan-nāsi fa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa’taṣimụ billāh, huwa maulākum, fa ni’mal-maulā wa ni’man-naṣīr

 78.  Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

77-78. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad, rukuk dan sujudlah kalian dalam shalat kalian, sembahlah Tuhan kalian semata, tanpa menyekutukan apa pun denganNya, dan lakukanlah kebajikan-kebajikan, agar kalian beruntung. Dan berjihadlah menundukkan diri kalian sendiri, laksanakanlah perintah Allah dengan sempurna, dan serulah manusia ke jalanNYa. Berjihadlah kalian dengan harta benda, lisan dan diri kalian, dengan mengikhlaskan niat padanya karena Allah, juga berserah diri kepadaNya dengan hati dan anggota tubuh kalian. Dia telah memilih kalian untuk mengemban agama ini. Dan Dia telah mencurahkan kenikmatan pada kalian dengan menjadikan ajaran syariat agama kalian penuh kemudahan, tidak menyempitkan dan tidak menyulitkan dalam beban ajaran-ajaran dan hokum-hukumNya, sebagaimana dulu terjadi pada sebagian umat sebelum kalian. Ajaran agama yang penuh kemudahan ini merupakan ajaran bapak moyang kalian, Ibrahim. Dan sesungguhnya Dia telah menamakan kalian dengan nama “orang-orang Muslim” sejak sebelumnya, yaitu dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya dan juga dalam al-Qur’an ini. Dan Dia telah mengkhususkan kalian dengan pilihan ini supaya penutup para rasul,Muhamad menjadi saksi atas kalian bahwa dia telah menyampaikan risalah Tuhannya pada kalian, dan kalian menjadi saksi-saksi atas umat-umat bahwa rasul-rasul mereka sungguh telah menyampaikan apa yang dikabarkan Allah pada kalian dalam kitab sucinya. Maka kewajiban kalian untuk menyadari urgensi kenikmatan ini, lalu kalian mensyukurinya, dan menjaga rambu-rambu agama Allah dengan menjalankan shalat dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, mengeluarkan zakat yang wajib, dan agar kalian kembali kepada Allah dan bertawakal kepadaNya. Dia adalah sebaik-baik Pelindung bagi orang yang berwala’ kepadaNYa dan Dia sebaik-baik Penolong bagi hamba yang meminta pertolongan kepadaNYa.

Related: Surat al-Mu’minun Arab-Latin, Surat an-Nur Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Furqon, Terjemahan Tafsir Surat Asy-Syu’ara, Isi Kandungan Surat an-Naml, Makna Surat al-Qashash

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!