Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat at-Taubah

بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Arab-Latin: barā`atum minallāhi wa rasụlihī ilallażīna ‘āhattum minal-musyrikīn

Terjemah Arti:  1.  (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Ini adalah (penyataan) sikap berlepas diri dari Allah dan RasulNya, dan pengumuman untuk melepaskan diri dari perjanjian-perjanjian yang dahulu terjalin antara kaum muslimin dengan orang-orang musyrik.

فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ مُخْزِي الْكَافِرِينَ

fa sīḥụ fil-arḍi arba’ata asy-huriw wa’lamū annakum gairu mu’jizillāhi wa annallāha mukhzil-kāfirīn

 2.  Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.

Maka berjalanlah kalian (wahai kaum musyrikin), di muka bumi selama empat bulan, kalian bisa pergi kemana saja kalian suka dalam keadaan aman dari kaum mukminin. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya kalian tidak akan lolos dari siksaan. Dan sesungguhnya Allah akan menghinakan orang-orang kafir dan membebaskan pada mereka kenistaan di dunia dan neraka di akhirat. Ayat ini berlaku pada kalangan yang menjalin perjanjian yang bersifat mutlak, bukan perjanjian yang berdurasi hingga waktu tertentu, atau golongan yang terikat dengan perjanjian selama kurang dari empat bulan sehingga dilengkapi masanya hingga empat bulan, atau pihak yang menjalin perjanjian kemudia dia melanggarnya.

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ ۚ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

wa ażānum minallāhi wa rasụlihī ilan-nāsi yaumal-ḥajjil-akbari annallāha barī`um minal-musyrikīna wa rasụluh, fa in tubtum fa huwa khairul lakum, wa in tawallaitum fa’lamū annakum gairu mu’jizillāh, wa basysyirillażīna kafarụ bi’ażābin alīm

 3.  Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.

Dan juga pemberitahuan dari Allah dan rasulNya dan peringatan kepada seluruh umat manusia pada hari raya kurban bahwa sesungguhnya Allah berlepas diri dari kaum musyrikin, dan rasulNya berlepas diri pula dari mereka. Maka apabila kalian kembali (wahai kaum musyrikin) mau menerima kebenaran dan kalian tinggalkan kesyirikan, maka itu lebih baik bagi kalian. Dan apabila kalian berpaling dari kebenaran dan menolak untuk memeluk agama Allah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian tidak akan pernah lolos dari siksaan Allah. Dan peringatkanlah (wahai rosul), orang-orang yang berpaling dari islam dengan siksaan Allah yang pedih.

إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

illallażīna ‘āhattum minal-musyrikīna ṡumma lam yangquṣụkum syai`aw wa lam yuẓāhirụ ‘alaikum aḥadan fa atimmū ilaihim ‘ahdahum ilā muddatihim, innallāha yuḥibbul muttaqīn

 4.  kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Dikecualikan dari hukum tersebut, orang-orang musyrik yang telah masuk kedalam perjanjian damai dengan kalian sehingga waktu tertentu dan mereka tidak mengkhianati perjanjian, serta tidak membantu siapaun untuk memerangi kalian dari musuh. Maka sempurnakanlah perjanjian dengan mereka hingga waktunya berakhir. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, yang menjalankan perkara yang diperintahkan kepada mereka dan menghindari perbuatan syirik dan khianat dan perbuatan lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan.

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa iżansalakhal-asy-hurul-ḥurumu faqtulul-musyrikīna ḥaiṡu wajattumụhum wa khużụhum waḥṣurụhum waq’udụ lahum kulla marṣad, fa in tābụ wa aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta fa khallụ sabīlahum, innallāha gafụrur raḥīm

 5.  Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Kemudia apabila telah berakhir masa empat bulan yang mana kalian memberikan keamanan kepada orang-orang musyrik itu, maka umumkanlah peperangan melawan musuh-musuh Allah di manapun mereka berada, dan bidiklah mereka dengan mengepung mereka dalam benteng-benteng mereka dan intailah mereka di jalan-jalan mereka. Apabila mereka kembali dari kekafiran mereka dan masuk kedalam islam, serta komitmen dengan syariat-syariatnya seperti melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, maka biarkanlah mereka; sebab mereka sesungguhnya telah menjelma menjadi saudara-saudara kalian dalam islam. Sesungguhnya Allah mahapengampun terhadap orang-orang yang bertaubat kepadaNya, lagi mahapenyayang terhadap mereka.

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

wa in aḥadum minal-musyrikīnastajāraka fa ajir-hu ḥattā yasma’a kalāmallāhi ṡumma ablig-hu ma`manah, żālika bi`annahum qaumul lā ya’lamụn

 6.  Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

Dan apabila salah seorang diantara kaum musyrikin yang halal darah dan harta benda mereka meminta masuk dalam perlindunganmu (wahai rasul), dan dia ingin merasa aman, maka penuhilah permintaannya itu hingga ia dapat mendengar al-qur’an al-karim dan mengetahui petunjuk hidayahnya, kemudian kembalikan dia ketempat berasal dalam keadaan aman. Tindakan tersebut ditunjukan untuk menegakan hujjah di hadapan dirinya. Demikian itu disebabkan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir adalah kumpulan manusia-manusia bodoh yang tidak memahami hakikat-hakikat ajaran islam. Mungkin saja mereka akan memilih islam ketika ketidaktahuan itu sirna dari mereka.

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

kaifa yakụnu lil-musyrikīna ‘ahdun ‘indallāhi wa ‘inda rasụlihī illallażīna ‘āhattum ‘indal-masjidil-ḥarām, famastaqāmụ lakum fastaqīmụ lahum, innallāha yuḥibbul-muttaqīn

 7.  Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Dan tidak sepatutnya kaum musyrikin memiliki perjanjian damai di sisi Allah dan di sisi RasulNya, kecuali orang-orang yang kalian telah mengadakan perjanjian perdamaian di dekat masjidil haram dalam peristiwa perdamaian hudaibiyah. Selama mereka tegak menepati isi perjanjian dengan kalian, maka tetaplah kalian menepati terhadap mereka seperti itu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa yang memenuhi perjanjian-perjanjian mereka.

كَيْفَ وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لَا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً ۚ يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَىٰ قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ

kaifa wa iy yaẓ-harụ ‘alaikum lā yarqubụ fīkum illaw wa lā żimmah, yurḍụnakum bi`afwāhihim wa ta`bā qulụbuhum, wa akṡaruhum fāsiqụn

 8.  Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).

Sesungguhnya karakter kaum musyrikin adalah mereka akan patuh dengan perjanjian-perjanjian selama kemenangan menjadi milik pihak lain. Numun, apabila mereka merasa kuat di atas kaum mukminin, maka mereka tidak akan memperhatikan hubungan kerabat dan perjanjian yang ada. Maka janganlah kalian terpedaya dengan gaya interaksi mereka kepada kalian ketika mereka takut terhadap kalian. Sebab sesungguhnya mereka itu melontarkan ucapan dengan lisan-lisan mereka agar kalian suka kepada mereka. Akan tetapi, hati mereka menolaknya. Dan kebanyakan dari mereka keras menolak terhadap islam lagi melanggar perjanjian.

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

isytarau bi`āyātillāhi ṡamanang qalīlan fa ṣaddụ ‘an sabīlih, innahum sā`a mā kānụ ya’malụn

 9.  Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan kekayaan dunia yang tidak bernilai, lalu mereka menghalang-halangi dari kebenaran dan mencegah orang-orang yang berkeinginan masuk islam dan memeluknya. maka alangkah buruk perbuatan mereka dan itulah seburuk-buruk perbuatan.

لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ

lā yarqubụna fī mu`minin illaw wa lā żimmah, wa ulā`ika humul-mu’tadụn

 10.  Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Sesungguhnya orang-orang musyrik adalah musuh yang memerangi keimanan dan orang-orang yang menganutnya. Mereka tidak melakukan pertimbangan sama sekali terhadap hubungan kekerabatan dengan seorang mukminin dan perjanjiannya. Dan sikap mereka adalah memusuhi dan bertindak zhalim.

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

fa in tābụ wa aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta fa ikhwānukum fid-dīn, wa nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

 11.  Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.

Apabila mereka meninggalkan peribadaahan kepada selain Allah, dan mengucapkan kaliamat tauhid, serta berpegang teguh dengan syariat-syariat islam, seperti menegakan shalat, dan membayar zakat, maka sesungguhnya mereka itu saudara-saudara kalian dalam islam. Dan kami menerangkan ayat-ayat dan menjelaskannya bagi kaum yang mau mengambil manfaan darinya.

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ ۙ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

wa in nakaṡū aimānahum mim ba’di ‘ahdihim wa ṭa’anụ fī dīnikum fa qātilū a`immatal-kufri innahum lā aimāna lahum la’allahum yantahụn

 12.  Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

Sesungguhnya pelanggaran mereka terhadap kandungan perjanjian-perjanjian yang telah kalian jalin kuat dengan mereka, dan mereka menampakan celaan terhadap agama islam, maka perangilah mereka. Sesungguhnya mereka itu pimpinan-pimpinan kesesatan, tidak ada perjanjian dan perlindungan bagi mereka, hingga mereka berhenti dari kekafiran mereka dan permusuhan mereka terhadap islam.

أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

alā tuqātilụna qauman nakaṡū aimānahum wa hammụ bi`ikhrājir-rasụli wa hum bada`ụkum awwala marrah, a takhsyaunahum, fallāhu aḥaqqu an takhsyauhu ing kuntum mu`minīn

 13.  Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

janganlah kalian ragu-ragu untuk memerangi kaum yang telah melanggar perjanjian-perjanjian mereka dan melakukan pengusiran terhadap rasul dari Makkah, sedang mereka itulah pihak yang memulai untuk mengganggu kalian terlebih dahulu. Apakah kalian takut kepada mereka dan takut berjumpa dengan mereka dalam pertempuran? Allah lah yang lebih pantas kalian takuti bila kalian benar-benar orang-orang mukmin.

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

qātilụhum yu’ażżib-humullāhu bi`aidīkum wa yukhzihim wa yanṣurkum ‘alaihim wa yasyfi ṣudụra qaumim mu`minīn

 14.  Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

Wahai orang-orang mukmin, perangilah musuh-musuh Allah, niscaya Allah  akan menyiksa mereka melalui tangan-tangan kalian dan menghinakan mereka dengan kekalahan dan kenistaan duniawi, dan memenangkan kalian atas mereka, dan meninggikan kalimatNya, serta mendatangkan rasa lega dengan kekalahan mereka di hati kalian yang telah tersusupi rasa kesedihan dan kecemasan akibat tipu daya kuam musyrikin.

وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa yuż-hib gaiẓa qulụbihim, wa yatụbullāhu ‘alā may yasyā`, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 15.  dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan Dia juga akan menghilangkan amarah dari hati kaum mukminin. Dan orang yang bertaubat dari para penentang itu, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubat orang yang dikehdakiNYa. Dan Allah maha mengetahui keseriusan kejujuran orang yang bertaubat, juga mahabijaksana dalam pengaturanNya, perbuatanNya dan peletakan ajaran-ajaran syariatNYa bagi hamba-hambaNYa.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

am ḥasibtum an tutrakụ wa lammā ya’lamillāhullażīna jāhadụ mingkum wa lam yattakhiżụ min dụnillāhi wa lā rasụlihī wa lal-mu`minīna walījah, wallāhu khabīrum bimā ta’malụn

 16.  Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Diantara sunnatullah adalah datangnya cobaan. Maka janganlah kalian beranggapan wahai kaum Mukminin bahwa Allah akan membiarkan kalian tanpa cobaan; agar Allah mengetahui dengan ilmu yang jelas bagi makhluknya orang-orang yang ikhlas di dalam jihad mereka dan tidak menjadikan selain Allah dan RasulNya serta kaum mukminin teman dekat dan pelindung. Dan Allah maha mengetahui segala amal perbuatan kalian dan akan memberikan balasan kepada mereka dengan itu.

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

mā kāna lil-musyrikīna ay ya’murụ masājidallāhi syāhidīna ‘alā anfusihim bil-kufr, ulā`ika ḥabiṭat a’māluhum, wa fin-nāri hum khālidụn

 17.  Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.

Bukanlah termasuk urusan kaum musyrikin, memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengumumkan dengan terang-terangan kekafiran kepada Allah dan mereka mengadakan sekutu-sekutu bagiNya. Orang-orang musyrik itu telah terhapus amal-amal perbuatan mereka pada hari Kiamat, dan tempat kembali mereka adalah keabadian di dalam neraka.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

innamā ya’muru masājidallāhi man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa aqāmaṣ-ṣalāta wa ātaz-zakāta wa lam yakhsya illallāh, fa ‘asā ulā`ika ay yakụnụ minal-muhtadīn

 18.  Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Tidaklah memeberi perhatian terhadap rumah-rumah Allah dan memakmurkannya, kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan menegakan solat, membayar zakat dan tidak takut di jalan Allah kepada orang-orang yang mencaci. Orang-orang yang memakmurkan (masjid-masjid Allah) itulah orang-orang yang memperoleh hidayah menuju kebenaran.

۞ أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

a ja’altum siqāyatal-ḥājji wa ‘imāratal-masjidil-ḥarāmi kaman āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa jāhada fī sabīlillāh, lā yastawụna ‘indallāh, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

 19.  Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Apakah kalian (wahai kaum), menjadikan tanggung jawab yang kalian laksanakan berupa memberi minum orang-orang yang mengerjakan haji dan memakmurkan Masjidil Haram setara dengan keimanan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir dan berjihad di jalan Allah? Tidaklah sama keadaan orang-orang mukminin dan keadaan orang-orang kafir di sisi Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak menerima amalan tanpa di dasari oleh keimanan. Dan Allah  tidak memberikan taufik untuk mengerjakan amal-amal kebaikan bagi kaum yang berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dengan kekafiran.

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

allażīna āmanụ wa hājarụ wa jāhadụ fī sabīlillāhi bi`amwālihim wa anfusihim a’ẓamu darajatan ‘indallāh, wa ulā`ika humul-fā`izụn

 20.  orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Orang-orang yang beriman dan meninggalkan negri kafir untuk menuju negri islam dan mereka telah mengorbankan harta benda dan jiwa mereka di dalam jihad untuk menegakan kalimat Allah, mereka itu orang-orang yang paling agung derajatnya di sisi Allah dan merekalah orang-orang yang menang dan memperoleh keridhaanNya.

يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ

yubasysyiruhum rabbuhum biraḥmatim min-hu wa riḍwāniw wa jannātil lahum fīhā na’īmum muqīm

 21.  Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,

Sesungguhnya mereka orang-orang mukmin yang berhijrah itu, bagi mereka berita gembira dari Tuhan mereka dengan rahmat yang luas dan keridhaan yang tdak ada kemurkaan setelah itu. Dan tempat kembali mereka adalah menuju surga yang abadi dan kenikmatan yang terus menerus.

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

khālidīna fīhā abadā, innallāha ‘indahū ajrun ‘aẓīm

 22.  mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Mereka tinggal di dalam surga-surga itu dengan kekal , tanpa ada waktu penghujung lamanya mereka tinggal dan menikmati kenikmatan. Itu adalah balasan dari apa yang telah mereka perbuat dari berbagai macam ketaatan dan amal shalih di kehidupan dunia mereka. Sesungguhnya Allah  di sisiNya terdapat pahala besar bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżū ābā`akum wa ikhwānakum auliyā`a inistaḥabbul-kufra ‘alal-īmān, wa may yatawallahum mingkum fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

 23.  Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian menjadikan kaum kerabat kalian (seperti ayah, saudara dan yang lainnya) sebagai pemimpin-pemimpin yang kalian membocorkan kepada mereka rahasia-rahasia kaum muslimin dan bertukar pikiran dengan mereka dalam urusan-urusan kalian, selama mereka masih bertahan di atas kekafiran dan memusuhi islam. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai pemimpin dan memberikan kasih sayang kepada mereka, sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah  dan menzhalimi diri sendiri dengan kezhaliman yang besar.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

qul ing kāna ābā`ukum wa abnā`ukum wa ikhwānukum wa azwājukum wa ‘asyīratukum wa amwāluniqtaraftumụhā wa tijāratun takhsyauna kasādahā wa masākinu tarḍaunahā aḥabba ilaikum minallāhi wa rasụlihī wa jihādin fī sabīlihī fa tarabbaṣụ ḥattā ya`tiyallāhu bi`amrih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

 24.  Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada kaum mukminin. “Sesungguhnya bila kalian lebih mengutamakan ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabat dan harta benda dengan yang kalian kumpulkan dan perdagangan yang kalian khawatirkan tidak laku dan rumah-rumah nyaman yang kalian tinggali, bila kalian lebih mengutamakan semua itu daripada cinta kepada Allah dan cinta kepada RasulNya dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah oleh kalian siksaan Allah balasanNya yang akan menimpa kalian.” Dan Allah tidak memberikan taufik kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

laqad naṣarakumullāhu fī mawāṭina kaṡīratiw wa yauma ḥunainin iż a’jabatkum kaṡratukum fa lam tugni ‘angkum syai`aw wa ḍāqat ‘alaikumul-arḍu bimā raḥubat ṡumma wallaitum mudbirīn

 25.  Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.

Sengguhnya Allah telah menurunkan pertolonganNya kepada kalian dalam peperangan yang banyak, tatkala kalian menempuh usaha-usaha dan bertawakal kepada Allah. Dan pada hari perang Hunain kalian berkata, “hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah pasukan yang sedikit.” Maka memperdayai kalian Jumlah pasukan yang banyak dan tidak mendatangkan manfaat bagi kalian, dan musuh-musuh berhasil memukul kalian, sehingga kalian tidak menemukan tempat berlindung di muka bumi yang luas ini. Kalian berlari-lari terpukul mundur.

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

ṡumma anzalallāhu sakīnatahụ ‘alā rasụlihī wa ‘alal-mu`minīna wa anzala junụdal lam tarauhā wa ‘ażżaballażīna kafarụ, wa żālika jazā`ul-kāfirīn

 26.  Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.

Kemudian Allah menurunkan ketentraman kepada RasulNya dan kepada kaum mukminin sehingga mereka bertahan kuat, dan Dia mengirimkan bantuan dengan bala tentara dari malaikat yang belum pernah mereka saksikan, kemudian mereka memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka dengan menyiksa orang-orang kafir. Itulah hukuman Allah bagi orang yang menghalangi (orang lain) dari agamaNya lagi mendustakan RasulNya.

ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma yatụbullāhu mim ba’di żālika ‘alā may yasyā`, wallāhu gafụrur raḥīm

 27.  Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan barang siapa kembali dari kekafiranya setelah itu dan masuk islam, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubat siapa saja yang Dia kehendaki dari mereka, lalu dia akan mengampuni dosanya. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū innamal-musyrikụna najasun fa lā yaqrabul-masjidal-ḥarāma ba’da ‘āmihim hāżā, wa in khiftum ‘ailatan fa saufa yugnīkumullāhu min faḍlihī in syā`, innallāha ‘alīmun ḥakīm

 28.  Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Wahai sekalian kaum mukminin, sesungguhnya orang-orang musyrik adalah najis dan kotor, maka janganlah kalian memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendekati Masjidil Haram setelah tahun kesembilan dari hijrah ini. Dan jika kalian khawatir akan kemiskinan karena terputusnya perniagaan mereka dari kalian, maka sesungguhnya Allah akan mengantikanya bagi kalian, dan mencukupi kalian melalui sebagian dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui kebutuhan kalian, lagi Maha bijaksana dalam pengaturan urusan-urusan kalian.

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

qātilullażīna lā yu`minụna billāhi wa lā bil-yaumil-ākhiri wa lā yuḥarrimụna mā ḥarramallāhu wa rasụluhụ wa lā yadīnụna dīnal-ḥaqqi minallażīna ụtul-kitāba ḥattā yu’ṭul-jizyata ‘ay yadiw wa hum ṣāgirụn

 29.  Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Wahai kaum muslimin, perangilah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan tidak beriman kepada Hari kebangkitan dan pembalasan amal, dan tidak menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, serta tidak berkomitmen dengan syarriat-syariat islam, dari kalangan Yahudi dan Nasrani, sampai mereka mau membayar jizyah yang kalian wajibkan atas tangan mereka dengan tangan mereka sendiri dalam keadaan hina lagi rendah diri.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa qālatil-yahụdu ‘uzairunibnullāhi wa qālatin-naṣāral-masīḥubnullāh, żālika qauluhum bi`afwāhihim, yuḍāhi`ụna qaulallażīna kafarụ ming qabl, qātalahumullāh, annā yu`fakụn

 30.  Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?

Sungguh kaum Yahudi telah berbuat syirik kepada Allah ketika mereka beranggapan bahwa Uzair adalah putra Allah, dan kaum Nasrani telah menyekutukan Allah ketika mereka mengklaim bahwa al-Masih adalah putra Allah. Pernyataan ini mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri. Dengan itu, mereka menyerupai keyakinan kaum musyrikin sebelum mereka. Semoga Allah memerangi kaum musyrikin semuanya, sebab bagaimana mereka berpaling dari kebenaran menuju kebatilan?

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

ittakhażū aḥbārahum wa ruhbānahum arbābam min dụnillāhi wal-masīḥabna maryam, wa mā umirū illā liya’budū ilāhaw wāḥidā, lā ilāha illā huw, sub-ḥānahụ ‘ammā yusyrikụn

 31.  Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan para ulama dan para ahli ibadah mereka sebagai tuhan-tuhan yang menggariskan hukum-hukum syariat bagi mereka, maka mereka memeganginya dengan teguh dan meninggalkan ajaran-ajaran Allah. Dan mereka telah menjadikan Al-masih isa putra Maryam sebagia sesembahan yang mereka sembah. Padahal sesungguhnya Allah telah memerintahkan mereka semua bertauhid dan beribadak kepada Tuhan Yang Satu, tiada sesembahan yang berhak di ibadahi kecuali Dia. Maha bersih dan Maha suci Allah dari apa yang dibuat-buat oleh pembela kesyirikan dan penganut kesesatan.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

yurīdụna ay yuṭfi`ụ nụrallāhi bi`afwāhihim wa ya`ballāhu illā ay yutimma nụrahụ walau karihal-kāfirụn

 32.  Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Orang-orang kafir menghendaki dengan pendustaan mereka untuk menghilangkan agama islam dan membatalkan hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti nyata tentang keesaanNya yang dibawa oleh Muhammad . Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan agamaNYa dan menampakkannya serta meninggikan kalimatNya, meskipun orang-orang yang ingkar tidak menyukainya.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

huwallażī arsala rasụlahụ bil-hudā wa dīnil-ḥaqqi liyuẓ-hirahụ ‘alad-dīni kullihī walau karihal-musyrikụn

 33.  Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.

Dia lah yang telah mengutus RasulNya, Muhammad  , dengan membawa al-qur’an dan agama islam, untuk meninggikannya di atas seluruh agama yang ada, walaupun kaum musyrikin membenci agama yang haq ini (islam) dan kemenangannya di atas seluruh agama.

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

yā ayyuhallażīna āmanū inna kaṡīram minal-aḥbāri war-ruhbāni laya`kulụna amwālan-nāsi bil-bāṭili wa yaṣuddụna ‘an sabīlillāh, wallażīna yaknizụnaż-żahaba wal-fiḍḍata wa lā yunfiqụnahā fī sabīlillāhi fa basysyir-hum bi’ażābin alīm

 34.  Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, sesungguhnya kebanyakan dari tokoh agama ahli kitab dan para ahli ibadah mereka benar-benar mengambil harta manusia dengan cara yang tidak benar, seperti melalui sogokan dan lainnya, dan mereka mencegah manusia dari memeluk agama islam, serta menghalangi menuju jalan Allah. Dan orang-orang yang menahan harta, dan tidak membayarkan zaktnya serta tidak mengeluarkan hak-hak wajib darinya, maka berilah kabar gembira kepada mereka dengan siksaan yang pedih.

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

yauma yuḥmā ‘alaihā fī nāri jahannama fa tukwā bihā jibāhuhum wa junụbuhum wa ẓuhụruhum, hāżā mā kanaztum li`anfusikum fa żụqụ mā kuntum taknizụn

 35.  pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

Pada hari kiamat akan diletakkan lempengen-lempengan emas dan perak di dalam neraka. Apabila panasnya sudah membara, maka dibakarlah dengannya dahi-dahi, lambung-lambung, dan punggung-punggung mereka, dan dikatakan kepada mereka sebagai celaan bagi mereka, ”ini adalah harta yang dulu kalian tahan dan kalian menolak mengeluarkan hak-hak Allah darinya, maka rasakanlah siksaan pedih ini dikarenakan kalian menimbun dan menahannya,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

inna ‘iddatasy-syuhụri ‘indallāhiṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍa min-hā arba’atun ḥurum, żālikad-dīnul-qayyimu fa lā taẓlimụ fīhinna anfusakum wa qātilul-musyrikīna kāffatang kamā yuqātilụnakum kāffah, wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn

 36.  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Sesungguhnya bilangan bulan-bulan dalam hukum Allah dan dalam catatan yang tertulis di lauhil mahfuzh ada dua belas bulan, pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Diantaranya ada empat bulan haram yang Allah mengharamkan peperangan di dalamnya, (yaitu bulan, dzulqadah, dzulhijjah, muharam, dan rajab). Demikianlah agama yang lurus. Maka janganlah kalian menzholimi diri kalian di dalam bulan-bulan tersebut lantaran tingkat keharamannya bertambah dan dikarenakan perbuatan zhalim padanya lebih parah dibandingkan bulan lainnya, bukan berarti kezhaliman di bulan lain boleh. Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka telah memerangi kalian semua. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dengan dukungan dan pertolonganNYa.

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

innaman-nasī`u ziyādatun fil-kufri yuḍallu bihillażīna kafarụ yuḥillụnahụ ‘āmaw wa yuḥarrimụnahụ ‘āmal liyuwāṭi`ụ ‘iddata mā ḥarramallāhu fa yuḥillụ mā ḥarramallāh, zuyyina lahum sū`u a’mālihim, wallāhu lā yahdil-qaumal-kāfirīn

 37.  Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Sesungguhnya budaya yang dahulu dilakukan oleh bangsa arab dimasa jahiliyah, berupa penghormatan terhadap empat bulan dalam setahun, dengan menghormati jumlahnya yang empat saja, tanpa menentukannya dengan nama-nama bulan yang telah Allah haramkan, dimana mereka mengundurkan sebagiannya dan memajukan sebagian yang lain dan menggantikannya dengan bulan-bulan yang halal yang mereka kehendaki, sesuai dengan kebutuhan mereka terhadap peprangan, sesungguhnya tindakan tersebut merupakan bentuk tambahan dalam kekafiran. Dengan itu, setan menyesatkan orang-orang kafir. Mereka menghalalkan bulan-bulan yang mereka tunda pengharamannya dari bulan-bulan yang empat dalam satu tahun, dan mengharamkannya pada tahun yang lain, tujuannya agar mereka dapat menyelaraskannya dengan jumlah empat bulan, akiibatnya mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Setan telah menjadikan mereka memandang baik terhadap perbuatan-perbuatan buruk. Dan Allah tidak memberikan taufik kepada kaum kafir menuju kebenaran dan jalan lurus.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ mā lakum iżā qīla lakumunfirụ fī sabīlillāhiṡ ṡāqaltum ilal-arḍ, a raḍītum bil-ḥayātid-dun-yā minal-ākhirah, fa mā matā’ul-ḥayātid-dun-yā fil-ākhirati illā qalīl

 38.  Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, mengapa kalian bila diserukan kepada kalian, ”keluarlah kalian menuju jihad di jalan Allah untuk memerangi musuh-musuh kalian.” kalian bermalas-malasan dan tetap berada di rumah-rumah kalian? apakah kalian lebih mengutamakan kesenangan-kesenangan duniawi daripada kenikmatan akhirat? Maka apa yang kalian bersenang-senang dengannya di dunia ini adalah sedikit lagi akan fana. Sedangkan kenikmatan akhirat yang disediakan Allah bagi kaum Mukminin yang berjihad, amat banyak lagi abadi.

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

illā tanfirụ yu’ażżibkum ‘ażāban alīmaw wa yastabdil qauman gairakum wa lā taḍurrụhu syai`ā, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

 39.  Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bila kalian tidak berangkat wahai kaum mukminin, menuju peperangan melawan musuh kalian, niscaya Allah akan menimpakan siksaan pada kalian, dan akan mendatangkan kaum lain yang akan mau berangkat perang ketika mereka diseru untuk berangkat perang dan taat kepada Allah dan rasulNya. Dan kalian tidak akan memberikan mudarat kepada Allah sama sekali lantaran kalian berpaling dari berjihad. Dia mahkaya, sedang kalian butuh kepadaNYa. Dan apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu, yaitu untuk memenangkan agamaNya dan nabiNya tanpa peran serta kalian.

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

illā tanṣurụhu fa qad naṣarahullāhu iż akhrajahullażīna kafarụ ṡāniyaṡnaini iż humā fil-gāri iż yaqụlu liṣāḥibihī lā taḥzan innallāha ma’anā, fa anzalallāhu sakīnatahụ ‘alaihi wa ayyadahụ bijunụdil lam tarauhā wa ja’ala kalimatallażīna kafarus-suflā, wa kalimatullāhi hiyal-‘ulyā, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

 40.  Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Wahai sekalain sahabat-sahabat rasululllah ! Bila kalian tidak berangkat berperang bersamanya ketika kalian diminta berangkat, dan bila kalian tidak menolongnya, maka sungguh Allah telah menguatkannya dan menolongnya pada hari orang-orang kafir dari suku quraisy mengusirnya dari negerinya (Makkah), dan dia salah seorang dari dua orang (dia dan abu bakar shidi ), dan mereka memaksa kedunya untuk berlindung di dalam gunung gua tsur di Makkah, di mana dia tinggal di dalamnya selama tiga hari tiga malam, ketika dia berkata kepada sahabtnya (abu bakar) yang dia lihat ketakutan mengkhawatirkannya, ”janganlah bersedih . Sesungguhnya Allah bersama kita dengan pertolongan dan dukunganNya.” Maka Allah menurunkan ketenangan di hati rasulullah  dan menolongnya dengan bala tentara yang tidak terlihat oleh siapapun dari kalangan manusia. Mereka adalah para malaikat. Maka Allah menyelamatkannya dari musuhnya dan Allah menghinakan musuh-musuhnya, dan menjadikan slogan orang-orang kafir rendah. Dan kalimat Allah itulah yang paling tinggi, yaitu dengan meninggikan agama islam. Dan Allah mahaperkasa dalam kekuasaanNYa, maha bijaksana dalam pengaturan urusan-urusan hamba-hambaNya. Di dalam ayat ini terdapat petunjuk keutamaan besar bagi abu bakar .

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

infirụ khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidụ bi`amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

 41.  Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Keluarlah kalian (wahai kaum Mukminin), untuk berjihad di jalan Allah, baik para pemuda maupun orang-orang yang sudah tua, dalam kondisi sulit maupun mudah, dalam seperti apapun keadaan kalian. Dan infakkanlah harta benda kalian di jalan Allah dan perangilah oleh kalian dengan tangan-tangan kalian untuk meniggikan kalimat Allah. Keluar dan infak tersebut lebih baik bagi kalian dalam keadaan kalian dan harta kalian daripada merasa berat, tidak berinfak serta tidak tidak ambil bagian dalam perang, bila kalian memang termasuk orang-orang yang mengetahui keutamaan jihad dan pahalanya da sisi Allah, maka laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian dan penuhilah seruan Allah dan RasulNya.

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

lau kāna ‘araḍang qarībaw wa safarang qāṣidal lattaba’ụka wa lākim ba’udat ‘alaihimusy-syuqqah, wa sayaḥlifụna billāhi lawistaṭa’nā lakharajnā ma’akum, yuhlikụna anfusahum, wallāhu ya’lamu innahum lakāżibụn

 42.  Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Allah  mencela sekelompok dari golongan kaum munafik yang meminta izin kepada Rasulullah  untuk tidak ambil bagian dalam perang Tabuk, untuk menerangkan bahwa seandainya tujuan keluar mereka adalah menuju harta rampasan yang berada di tempat yang dekat lagi mudah dicapai,dan perjalanan yang tidak berta pastilah mereka akan mengikutimu. Akan tetapi, karena mereka diseru untuk memerangi kekuatan Romawi yang berada di perbatasan negri Syam pada musim panas, merekapun mundur dan tidak ikut berangkat. Dan mereka akan mengajukan alasan ketidak berangkatan mereka dengan bersumpah bahwa sesungguhnya mereka tidak mampu melakukan hal itu. Mereka telah membinasakan diri mereka dengan kedustaan dan kemunafikan, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka itu benar-benar dusta dalam alasan-alasan yang mereka ungkapkan.

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

‘afallāhu ‘angk, lima ażinta lahum ḥattā yatabayyana lakallażīna ṣadaqụ wa ta’lamal-kāżibīn

 43.  Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?

Allah memaafkanmu (wahai nabi), atas apa yang terjadi padamu berupa meninggalkan sikap yang lebih utama dam sempurna, yaitu dengan memberikan izin begi orang-orang munafik untuk tidak ikut berjihad, dengan alasan apapun kamu mengizinkan mereka untuk tidak ikut serta dalam peperangan tersebut, sehingga nampak menjadi jelas bagimu orang-orang yang jujur dalam menganjukan alasan ketidakikutnya dan mengetahui orang-orang yang berdusta dalam hal itu?.

لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

lā yasta`żinukallażīna yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri ay yujāhidụ bi`amwālihim wa anfusihim, wallāhu ‘alīmum bil-muttaqīn

 44.  Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Bukanlah termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan Hari Akhir, meminta izin kepadamu (wahai Nabi), untuk tidak ikut serta dalam jihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta benda. Itu hanyalah sipat orang-orang muanfik dan Allah Maha Mngetahui orang yang takut kepadaNya, lalu bertakwa kepadaNya dengan menjalankan kewajiban-kawajiban dariNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

innamā yasta`żinukallażīna lā yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri wartābat qulụbuhum fa hum fī raibihim yataraddadụn

 45.  Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.

Orang yang mengajukan izin untuk tidak ikut serta dalam berjihad hanyalah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah dan Hari Akhir, dan tidak mengerjakan amal shalih, dan hati mereka ragu-ragu terhadap kebenaran risalah yang kamu bawa (wahai Nabi), berupa islam dan syariat-syariatnya. Dan mereka dalam keraguan-keraguan mereka kebingungan.

۞ وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

walau arādul-khurụja la`a’addụ lahụ ‘uddataw wa lāking karihallāhumbi’āṡahum fa ṡabbaṭahum wa qīlaq’udụ ma’al-qā’idīn

 46.  Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.

Dan sekiranya orang-orang munafik itu memang berkehendak keluar bersamamu (wahai nabi) menuju jihad, pastilah mereka akan bersiap-siap menyongsongnya dengan perbekalan dan kendaraan. Akan tetapi, Allah tidak meyukai mereka ikut keluar (berangkat), sehingga amat beratlah bagi mereka untuk keluar, sebagai ketatapan Qadha’ dan Qadhar, meskipun memerintahkan mereka untuk itu dalam syariat. Dan dikatakan kepada mereka, “Tinggalah kalian bersama orang-orang yang tinggal seperti orang-orang yang sakit, orang-orang yang lemah dan kaum wanita serta anak-anak.

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

lau kharajụ fīkum mā zādụkum illā khabālaw wa la`auḍa’ụ khilālakum yabgụnakumul-fitnah, wa fīkum sammā’ụna lahum, wallāhu ‘alīmum biẓ-ẓālimīn

 47.  Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

Sekiranya orang-orang munafik keluar bersamamu (wahai orang-orang mukmin) untuk berjihad, pastilah mereka akan menyebarkan kecemasan pada kaum muslimin, keburukan dan kerusakan. Dan pastilah mereka akan segera melancarkan adu bomba dan kebencian diantara kalian. Mereka hendak mengacaukan kalian dengan mengikis semangat jihad kalian di jalan Allah. Dan di tengah kalian (wahai kaum mukminin), ada mata-mata mereka yang dapat ikut mendengar berita-berita kalian dan akan mengirimkanya kepada mereka. Dan Allah Maha Mangetahui orang-orang munafik yang berbuat kezhaliaman dan akan memberikan balasan kepada mereka atas tindakan tersebut.

لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّىٰ جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ

laqadibtagawul-fitnata ming qablu wa qallabụ lakal-umụra ḥattā jā`al-ḥaqqu wa ẓahara amrullāhi wa hum kārihụn

 48.  Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

Sesungguhnya orang-orang munafik berusaha mencari cara untuk menyimpangkan kaum mukminin dari agama mereka dan menghalangi mereka dari jalan Allah sebelum perang tabuk dan terbongkarnya jati diri mereka. Dan mereka melancarkan berbagai usaha terhadapmu (wahai nabi), untuk menghapuskan risalah yang kamu bawa, sebagaimana yang telah mereka perbuat pada perang uhud dan perang khandaq, dan mereka telah mengatur rencana jahat kepadamu hingga akhirnya datanglah pertolongan dari sisi Allah, dan Dia menguatkan tentaraNya dan memenangkan agamaNYa, sedang mereka amat membenci kejadian tersebut.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

wa min-hum may yaqụlu`żal lī wa lā taftinnī, alā fil-fitnati saqaṭụ, wa inna jahannama lamuḥīṭatum bil-kāfirīn

 49.  Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah”. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.

Dan diantara orang-orang munafik ada orang yang meminta izin untuk tidak pergi berjihad, dan mengatakan, ”janganlah kamu menjerumuskanku dalam cobaan dengan apa yang nanti muncul saat aku ikut keluar berupa fitnah wanita.” Sesungguhnya mereka telah terjerumus dalam fitnah kemunafikan yang besar, maka sesungguhnya neraka jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir kepada Allah dan hari akhir, tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat lolos.

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

in tuṣibka ḥasanatun tasu`hum, wa in tuṣibka muṣībatuy yaqụlụ qad akhażnā amranā ming qablu wa yatawallaw wa hum fariḥụn

 50.  Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.

Jika menimpa kepada kamu (wahai nabi) kebahagiaan dan harta rampasan perang, niscaya orang-orang munafik akan bersedih. Dan apabila kamu ditimpa keburukan berupa kekalahan dan kesulitan hidup, mereka akan berkata, ”kami adalah orang-orang yang berpikiran matang dan cakap dalam perencanaan urusan. Dan sesungguhnya kami telah mengambil antisipasi bagi diri kami dengan tidak ikut berperang dengan Muhammad.” Mereka berpaling dalam keadaan riang gembira atas apa yang telah mereka perbuat dan atas apa yang menimpamu berupa keburukan.

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

qul lay yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā, huwa maulānā wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

 51.  Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.

Katakanlah (wahai nabi), kepada orang-orang yang enggan ikut dalam berjihad sebagai bentuk peringatan dan celaan terhadap mereka, ”tidak akan menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah takdirkan pada kami dan Dia telah menulisnya dalam lauhil mahfudzh. Dia dalah penolong kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Dan hanya kepada Allah semata hendaknya bergantung orang-orang yang beriman kepadaNYa.”

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ

qul hal tarabbaṣụna binā illā iḥdal-ḥusnayaīn, wa naḥnu natarabbaṣu bikum ay yuṣībakumullāhu bi’ażābim min ‘indihī au bi`aidīnā fa tarabbaṣū innā ma’akum mutarabbiṣụn

 52.  Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”.

Katakanlah kepada mereka (wahai nabi), ”tidaklah kalian menunggu-nunggu pada kami, kecuali mati syahid di jalan Allah atau menang atas kalian?. Sedangkan kami menunggu-nunggu pada kalian bahwa Allah akan menimpakan pada kalian siksaan dari sisiNya yang datang segera untuk membinasakan kalian atau melalui tangan-tangan kami lalu kami membunuhi kalian. Maka tunggulah, sesungguhnya kami bersama kalian menunggu apa yang akan Allah perbuat pada masing-masing golongan, baik kami atau kalian.”

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ ۖ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ

qul anfiqụ ṭau’an au kar-hal lay yutaqabbala mingkum, innakum kuntum qauman fāsiqīn

 53.  Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.

Katakanlah (wahai nabi), kepada orang-orang munafik, ”infakkanlah harta kalian dengan cara apapun yang kalian kehendaki dan dalam keadaan apapun yang kalian inginkan, baik dengan tulus maupun terpaksa, niscaya Allah tidak akan menerima infak-infak kalian, karena sesungguhnya kalian adalah kaum yang telah keluar dari agama Allah dan ketaatan kepadaNya.

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

wa mā mana’ahum an tuqbala min-hum nafaqātuhum illā annahum kafarụ billāhi wa birasụlihī wa lā ya`tụnaṣ-ṣalāta illā wa hum kusālā wa lā yunfiqụna illā wa hum kārihụn

 54.  Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.

Dan sebab tidak diterimanya infak-infak mereka adalah bahwa sesungguhnya mereka menyembunyikan (di dalam hati mereka) kekufuran kepada Allah  dan pendustaan kepada rasulNya, Muhammad  , dan tidak mengerjakan shalat kecuali mereka merasa berat. Dan mereka tidak menginfakkan harta mereka keculai mereka tidak menyukainya, maka mereka tidak mengharapkan pahala dari kewajiban-kewajiban ini dan tidak takut saat meninggalkannya mendapatkan siksaan dikarenakan kekafiran mereka.

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

fa lā tu’jibka amwāluhum wa lā aulāduhum, innamā yurīdullāhu liyu’ażżibahum bihā fil-ḥayātid-dun-yā wa taz-haqa anfusuhum wa hum kāfirụn

 55.  Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.

Maka janganlah membuatmu kagum kekayaan orang-orang munafik itu, begitu pula anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah hendak menyiksa mereka dengan itu di kehidupan dunia dengan kelelahan dalam menghasilkannya dan bencana-bencana yang menimpanya, lantaran mereka tidak mengharapkan pahalanya dari sisi Allah, dan nyawa mereka keluar lalu mereka mati di atas kekafiran mereka kepada Allah dan rasulNya.

وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ

wa yaḥlifụna billāhi innahum lamingkum, wa mā hum mingkum wa lākinnahum qaumuy yafraqụn

 56.  Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).

Dan orang-orang munafik bersumpah dengan nama Allah di hadapan kalian (wahai kaum mukminin), dengan dusta dan kepalsuan, bahwa mereka itu bagian dari kalian, padahal mereka bukan bagian dari kalian, akan tetapi mereka adalah kaum yang penakut lalu bersumpah untuk menutupi jati diri mereka di hadapan kalian.

لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلًا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ

lau yajidụna malja`an au magārātin au muddakhalal lawallau ilaihi wa hum yajmaḥụn

 57.  Jikalau mereka memperoleh tempat perlindunganmu atau gua-gua atau lobang-lobang (dalam tanah) niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya.

Seandainya orang-orang munafik itu mendapatkan tempat aman dan benteng pertahanan yang sanggup melindungi mereka atau gua di gunung yang memberi mereka tempat tinggal, atau lubang di dalam tanah yang menyelamatkan mereka dari kalian, pastilah mereka akan beranjak kesana dengan bersegera.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

wa min-hum may yalmizuka fiṣ-ṣadaqāt, fa in u’ṭụ min-hā raḍụ wa il lam yu’ṭau min-hā iżā hum yaskhaṭụn

 58.  Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.

Dan diantara orang-orang munafik ada orang yang mencelamu dalam pembagian sedekah. Kemudian bila ada bagian yang mereka dapatkan darinya, mereka akan rido dan diam saja. Dan apabila tidak ada bagian darinya yang mendatangi mereka, mereka akan murka kepadamu dan mencelamu.

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

walau annahum raḍụ mā ātāhumullāhu wa rasụluhụ wa qālụ ḥasbunallāhu sayu`tīnallāhu min faḍlihī wa rasụluhụ innā ilallāhi rāgibụn

 59.  Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

Dan sekiranya orang-orang yang mencelamu dalam mekanisme pembagian sedekah mau ridha dengan mekanisme bagaimana Allah dan rasulNya membagiakn kepada mereka dan mereka mengatakan, ”cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karuniaNYa dan rasulNya akan memberikan kepada kami dari apa yang Allah berikan kepadanya, sesungguhnya kami ingin Allah melapangkan karunia pada kami, lalu memberikan kecukupan kepada kami, sehingga tidak butuh terhadap sedekah dan sedekah-sedekah dari manusia,” sekiranya mereka melakukan semua itu, pastilah akan lebih baik dan lebih bermanfaaat bagi mereka.

۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarā`i wal-masākīni wal-‘āmilīna ‘alaihā wal-mu`allafati qulụbuhum wa fir-riqābi wal-gārimīna wa fī sabīlillāhi wabnis-sabīl, farīḍatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 60.  Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya zakat-zakat wajib hanya diberikan kepada : orang-orang yang membutuhkan yang tidak memiliki apapun, kaum miskin yang tidak memiliki sesuatu yang mencukupi mereka dan menutupi kebutuhan mereka, para petugas yang sibuk mengumpulkannya, orang yang dilembutkan hatinya sehingga diharapkan keislamannya, atau diharapkan keimanannya bertambah kuat, atau orang yang diharapkan bermanfaat bagi kaum muslimin, atau kalian dapat menepis dengannya keburukan seseorang terhadap kaum muslimin, untuk membebaskan hamba sahaya dan budak-budak yang ingin menebus dirinya, orang-orang yang terkena tuntutan hutang dalam rangaka memperbaiki persengketaan, atau orang yang terbebani oleh hutang-hutang yang tidak dipakai untuk kerusakan maupun di hambur-hamburkan, lalu mereka kesulitan untuk melunasinya, para pejuang di jalan Allah, serta musafir yang kehabisan bekal perjalanan. Pembagian ini adalah merupakan kewajiabn yang diwajibkan oleh Allah dan ditetapkanNya. Dan Allah mahamengetahui maslahat-maslaahat hamba-hambaNya, nahabijaksana dalam pengaturan dan ajaran syariatNya.

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa min-humullażīna yu`żụnan-nabiyya wa yaqụlụna huwa użun, qul użunu khairil lakum yu`minu billāhi wa yu`minu lil-mu`minīna wa raḥmatul lillażīna āmanụ mingkum, wallażīna yu`żụna rasụlallāhi lahum ‘ażābun alīm

 61.  Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.

Dan diantara orang-orang munafik ada sekelompok orang yang menyakiti rasulullah  , melalui ucapan mereka, semabri mengatakan, ”sesungguhnya dia menyimak setiap apa yang dikatakan kepadanya lalu mempercayainya,” katakanlah kepada mereka (wahai nabi), ”sesungguhnya Muhammad adalah manusia yang mendengarkan setiap kebaikan, dia beriman kepada Allah dan mempercayai kaum mukminin atas berita yang mereka sampaikan. Dan dia adalah rahmat bagi orang yang mengikutinya dan mengambil petunjuk dari hidayahnya. Dan orang-orang yang menyakiti rasulullah, Muhammad  dengan bentuk gangguan apapun, bagi mereka siksaan yang pedih.

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ

yaḥlifụna billāhi lakum liyurḍụkum wallāhu wa rasụluhū aḥaqqu ay yurḍụhu ing kānụ mu`minīn

 62.  Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin.

Orang-orang munafik bersumpah dengan sumpah-sumpah dusta dan mengajukan alasan-alasan yang tidak karuan, supaya mereka diridoi oleh orang-orang mukmin, padahal Allah dan rasulNya lah yang lebih berhak dan lebih pantas untuk mereka dapatkan keridhaannya dengan beriman kepada keduanya dan taat kepada keduanya, jika memang mereka orang-orang mukmin yang sebenarnya.

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

a lam ya’lamū annahụ may yuḥādidillāha wa rasụlahụ fa anna lahụ nāra jahannama khālidan fīhā, żālikal-khizyul-‘aẓīm

 63.  Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya nerakan jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.

Tidaklah orang-orang munafik itu , mengetahui bahwa tempat kembali orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya adalah neraka jahanam, yang merupakan tempat mereka mendapatkan siksaaan abadi di dalamya? tempat kembali tersebut merupakan tempat kehinaan dan kenistaan yang besar. Dan diantara bentuk memerangi adalah melancarkan gangguan terhadap rasulullah  dengan mencela dan merendahkan kehormatannya. Kita berlindung Hanya kepada Allah dari hal itu.

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ

yaḥżarul-munāfiqụna an tunazzala ‘alaihim sụratun tunabbi`uhum bimā fī qulụbihim, qulistahzi`ụ, innallāha mukhrijum mā taḥżarụn

 64.  Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.

Orang-orang munafik takut akan turun terkait kelakuan mereka suatu surat yang menerangkan apa yang mereka sembunyikan di dalam hati-hati mereka berupa kekafiran. Katakanlah kepada mereka (wahai nabi), ”bertahanlah kalian di atas perbuatan kalian berupa kebiasaan mengolok-ngolok dan menertawakan, sesungguhnya Allah akan mengungkapkan hakikat perkara yang kalian khawatirkan.”

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

wa la`in sa`altahum layaqụlunna innamā kunnā nakhụḍu wa nal’ab, qul a billāhi wa āyātihī wa rasụlihī kuntum tastahzi`ụn

 65.  Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Dan apabila kamu bertanya kepada mereka (wahai nabi), tentang apa yang mereka ucapkan berupa penghinaan terhadap kehormatanmu dan kehormatan sahabat-sahabtmu, tentulah mereka benar-benar akan mengatakan, ”sesungguhnya kami hanya sekedar berbicara dengan ucapan yang tidak ada kesengajaan dari kami padanya.” Katakanlah kepada mereka (wahai nabi), ”apakah kepada Allah  , ayat-ayatNya dan rasulNya kalian mengolok-ngolok?”

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

lā ta’tażirụ qad kafartum ba’da īmānikum, in na’fu ‘an ṭā`ifatim mingkum nu’ażżib ṭā`ifatam bi`annahum kānụ mujrimīn

 66.  Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Janganlah kalian mencari alasan (wahai kaum munafik), tidak ada gunanya alasan kalian. Sebab, sesungguhnya kalian telah kafir dengan ucapan yang kalian lontarkan sebagai bahan olokan tersebut. Bila kami memaafkan segolongan dari kalian yang meminta maaf dan ikhlas dalam bertaubat, kami akan tetap menyiksa golongan lain disebabkan kejahatan buruk mereka dengan ucapan jahat lagi salah tersebut.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

al-munāfiqụna wal-munāfiqātu ba’ḍuhum mim ba’ḍ, ya`murụna bil-mungkari wa yan-hauna ‘anil-ma’rụfi wa yaqbiḍụna aidiyahum, nasullāha fa nasiyahum, innal-munāfiqīna humul-fāsiqụn

 67.  Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

Orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan adalah sama dalam hal mengumumkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, mereka memerintahkan kekafiran kepada Allah dan mendurhakai rasulNya, melarang dari keimanan dan ketaatan, menahan tangan mereka untuk berinfak di jalan Allah. Mereka lupa kepada Allah, tidak mengingat-ingatNya, maka Dia pun melupakan mereka dari rahmatNya, Dia tidak memberikan taufik kepada mereka menuju kebaikan. Sesungguhnya orang-orang munafik adalah orang-orang yang telah keluar dari keimanan kepada Allah dan rasulNya.

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

wa’adallāhul-munāfiqīna wal-munāfiqāti wal-kuffāra nāra jahannama khālidīna fīhā, hiya ḥasbuhum, wa la’anahumullāh, wa lahum ‘ażābum muqīm

 68.  Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan serta orang-orang kafir bahwa tempat kembali mereka adalah neraka jahanam, mereka kekal abadi di dalamnya selamanya. Itu sudah cukup bagi mereka sebagai siksaan atas kekafiran mereka kepada Allah. Dan Allah mengusir mereka dari rahmatNYa, dan bagi mereka siksaan yang abadi.

كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

kallażīna ming qablikum kānū asyadda mingkum quwwataw wa akṡara amwālaw wa aulādā, fastamta’ụ bikhalāqihim fastamta’tum bikhalāqikum kamastamta’allażīna ming qablikum bikhalāqihim wa khuḍtum kallażī khāḍụ, ulā`ika ḥabiṭat a’māluhum fid-dun-yā wal-ākhirah, wa ulā`ika humul-khāsirụn

 69.  (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.

Sengsungguhnya perbuatan-perbuatan kalian itu (wahai orang-orang munafik), berupa olokan dan kekafiran itu serupa dengan perbuatan-perbuatan umat-umat terdahulu yang dari segi keuatan fisik, harta, dan anak-anak, mereka lebih besar daripada kalian, lalu mereka meresakan ketentraman di dalam kehidupan dunia dan bersenang-senang dengan yang apa ada di dalamnya berupa bagian-bagian mereka dan kesenangan-kesenangan. Kalianpun wahai orang-orang munafik, telah bersenang-senang dengan bagian kalian berupa kenikmatan-kenikmatan yang fana, sebagian orang-orang terdahulu bersenang-senang dengan bagian mereka yang fana itu, dan kalian larut dalam kedustaan terhadap Allah seperti umat-umat sebelum kalian larut di dalamnya. Orang-orang yang bersifat demikian, mereka itulah orang-orang yang lenyap kebaikan-kebaikan mereka di dunia dan di akhirat. Dan mereka itulah orang-orang yang merugi lantaran menjual kenikmatan akhirat dengan kesenangan-kesenanangan di dunia.

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

a lam ya`tihim naba`ullażīna ming qablihim qaumi nụḥiw wa ‘ādiw wa ṡamụda wa qaumi ibrāhīma wa aṣ-ḥābi madyana wal-mu`tafikāt, atat-hum rusuluhum bil-bayyināt, fa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

 70.  Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Belumkah datang kepada orang-orang munafik berita orang-orang yang telah berlalu dari kaum Nuh, bangsa Ad, bangsa Tsamud, kaum Ibrahim, para penduduk Madyan dan kaum Luth, ketika datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa wahyu dan ayat-ayat Allah, lalu mereka mendustakan mereka? Akibatnya, Allah menurunkan kepada mereka semua siksaNya, sebagai balasan bagi mereka akibat perbuatan mereka. Allah tidak menzhalimi mereka, kan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka dengan pendustaan dan penentangan.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wal-mu`minụna wal-mu`minātu ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa yuṭī’ụnallāha wa rasụlah, ulā`ika sayar-ḥamuhumullāh, innallāha ‘azīzun ḥakīm

 71.  Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Orang-orang mukmin, laki-laki maupun perempuan, yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sebagian mereka merupakan penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan manusia untuk beriman dan mengerjakan amal shalih serta melarang mereka dari perbuatan kafir dan maksiat-maksiat, menjalankan shalat, memberikan zakat, taat kepada Allah dan RasulNya dan mereka menghindar dari perkataan yang mereka dilarang melakukanya. Mereka itu akan di rahmati oleh Allah, lalu dia akan menyelamatkan mereka dari siksaNya dan memasukan mereka ke dalam surgaNya, lsesungguhnya Allah Maha perkasa dalam kerajaannNya agi Maha Bijaksana dalam penetapan ajaran-ajaran syariat dan hukum-hukumNya.

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

wa’adallāhul-mu`minīna wal-mu`mināti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā wa masākina ṭayyibatan fī jannāti ‘adn, wa riḍwānum minallāhi akbar, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

 72.  Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

Alah menjanjikan bagi orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan yang beriman kepada Allah dan RasulNya, suga-surga yang mengalir di bawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai, mereka tinggal di dalam selamanya, kenikmatan tidak akan lenyap dari mereka dan tempat-tempat tinggal yang berbangunan indah, nyaman di tempati di dalam surga-surga yang abadi. Dan keridhaan dari Allah lebih besar lebih agung daripada kenikmatam yang mereka berada di dalamnya. janji tersebut berupa pahala akhirat dan keberuntungan yang besar.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa ma`wāhum jahannamu wa bi`sal-maṣīr

 73.  Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dengan pedang, dan orang-orang munafik dengan keterangan dan hujjah, dan tekanlah kedua golongan itu dengan keras. Dan tempat kembali mereka adalah nereka jahanam, dan seburuk buruk tempat kembali adalah tempat kemdali mereka.

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

yaḥlifụna billāhi mā qālụ, wa laqad qālụ kalimatal-kufri wa kafarụ ba’da islāmihim wa hammụ bimā lam yanalụ, wa mā naqamū illā an agnāhumullāhu wa rasụluhụ min faḍlih, fa iy yatụbụ yaku khairal lahum, wa iy yatawallau yu’ażżib-humullāhu ‘ażāban alīman fid-dun-yā wal-ākhirah, wa mā lahum fil-arḍi miw waliyyiw wa lā naṣīr

 74.  Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.

Orang-orang munafik bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya mereka tidak mengatakan apapun yang menyakiti rasulullah  dan kaum muslimin,sesungguhnya mereka itu benar-benar dusta. sesungguhnya mereka telah mengatakan kalimat kekafiran dan dengan itu mereka murtad keluar dari islam, dan berusha melancarkan mudarat terhadap rasulullah  Muhammad, namun Allah tidak memberi kesempatan mereka untuk itu. Orang-orang munafik tidak mendapati sesuatu yang dapat mereka cela dan kritik, hanya saja Allah  memberikan karunia kepada mereka, dan Dia mencukupi mereka dengan apa yang dibukakan Allah bagi nabiNya  berupa kebaikan dan keberkahan. Apabila orang-orang kafir itu kembali menuju keimanan dan taubat, maka itu lebih baik bagi mereka. Dan apabila mereka berpaling dan bertahan dalam keadaan mereka itu, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia melalui tangan-tangan kaum mukminin, dan di akhirat dengan nereka jahanam. Dan mereka tidak memiliki penyelamat yang menyelamatkan mereka dan penolong yang menghalangi siksaan buruk dari mereka.

۞ وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa min-hum man ‘āhadallāha la`in ātānā min faḍlihī lanaṣṣaddaqanna wa lanakụnanna minaṣ-ṣāliḥīn

 75.  Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.

Dan di antara orang-orang munafik yang fakir miskin, ada orang yang menegaskan ikrar pada dirinya, bahwa apabila Allah memberikan kepadanya harta, pasti dia akan menyedekahkan dan akan benar-benar berbuat selayaknya orang shalih berbuat dengan harta-harta mereka, dan akan benar-benar berjalan di jalan kebaikan.

فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

fa lammā ātāhum min faḍlihī bakhilụ bihī wa tawallaw wa hum mu’riḍụn

 76.  Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Maka ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian karuniaNya, mereka kikir untuk memberikan sedekah dan menginfakan harta dalam jalan kebaikan, bahkan mereka berbalik ke belakang, berpaling dari islam

فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

fa a’qabahum nifāqan fī qulụbihim ilā yaumi yalqaunahụ bimā akhlafullāha mā wa’adụhu wa bimā kānụ yakżibụn

 77.  Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.

Maka balasan perbuatan mereka dan kesudahan nasib mereka, adalah Dia menambahkan kemunafikan di atas kemunafikan mereka, sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya hingga Hari perhitungan amal tiba. Hal itu disebabkan oleh pengingkaran mereka terhadap janji yang sudah mereka ikrarkan dengan kuat pada diri mereka, dan disebabkan kemunafikan dan kedustaan mereka.

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

a lam ya’lamū annallāha ya’lamu sirrahum wa najwāhum wa annallāha ‘allāmul-guyụb

 78.  Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.

Tidaklah orang-orang munafik itu tahu bahwa sesengguhnya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka dan apa yang mereka ceritakan di tempat-tempat berkumpul mereka, berupa tipu daya dan makar jahat, dan sesungguhnya Allah mahamengetahui perkara-perkara ghaib? kemudian Dia akan memberi balasan kepada mereka atas perbuatan-perbuatan yang telah Allah perhitungkan atas mereka.

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

allażīna yalmizụnal-muṭṭawwi’īna minal-mu`minīna fiṣ-ṣadaqāti wallażīna lā yajidụna illā juhdahum fa yaskharụna min-hum, sakhirallāhu min-hum wa lahum ‘ażābun alīm

 79.  (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

Dan bersama bakhilnya orang-orang munafik itu, orang-orang yang bersedekah juga tidak bebas dari gangguan mereka. Apabila orang-orang kaya bersedekah dengan harta yang banyak, mereka mencelanya dan menuduh mereka berbuat riya, dan apabila orang-orang fakir bersedekah sesuai dengan kemampuan mereka, mereka mengolok-ngolok mereka dan berkata sebagai ejekan terhadap mereka, ”apa yang dapat diperbuat oleh sedekah mereka itu?” Allah pasti membalas ejekan orang-orang munafik itu, dan mereka juga akan mendapatkan azab yang menyakitkan.

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

istagfir lahum au lā tastagfir lahum, in tastagfir lahum sab’īna marratan fa lay yagfirallāhu lahum, żālika bi`annahum kafarụ billāhi wa rasụlih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

 80.  Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Mintakanlah ampunan olehmu (wahai rasul) bagi orang-orang munafik atau kamu tidak memohonkan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka, seberapa banyakpun istighfarmu bagi mereka dan berulang-ulang. Karena sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasulNYa. Dan Allah  tidak memberikan taufik menuju hidayah kepada orang-orang yang keluar dari ketaatanNya.

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

fariḥal-mukhallafụna bimaq’adihim khilāfa rasụlillāhi wa karihū ay yujāhidụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāhi wa qālụ lā tanfirụ fil-ḥarr, qul nāru jahannama asyaddu ḥarrā, lau kānụ yafqahụn

 81.  Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.

telah bergembira orang-orang yang tinggal yang tidak ikut bersama rasulullah  dengan tetap berada di Madinah, mereka menyelisihi rasulullah  dan mereka tidak menyukai berjihad bersamanya dengan harta benda mereka dan jiwa raga mereka di jalan Allah. Dan sebagian dari mereka berkata kepada sebagain yang lain, ”janganlah kalian berangkat pada saat yang panas ini,” waktu itu perang tabuk terjadi pada musim yang amat panas. Katakanlah kepaada mereka (wahai rasul) ”api neraka jahanam itu lebih panas,” seandainya mereka itu mengetahui hal itu.

فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

falyaḍ-ḥakụ qalīlaw walyabkụ kaṡīrā, jazā`am bimā kānụ yaksibụn

 82.  Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.

hendaknya tertawa-tawa sebentar orang-orang munafik yang tidak ikut berangkat bersama rasulullah  dalam perang tabuk itu di kehidupan dunia yang fana ini, dan silahkan mereka menangis banyak-banyak di dalam neraka jahanam, sebagai balasan atas apa yang mereka usahakan di dunia berupa kemunafikan dan kekafiran.

فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَىٰ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا ۖ إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ

fa ir raja’akallāhu ilā ṭā`ifatim min-hum fasta`żanụka lil-khurụji fa qul lan takhrujụ ma’iya abadaw wa lan tuqātilụ ma’iya ‘aduwwā, innakum raḍītum bil-qu’ụdi awwala marrah, faq’udụ ma’al-khālifīn

 83.  Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka Katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang”.

Jika Allah mengembalikanmu (wahai rasul), dari peperanganmu untuk berjumpa dengan segolongan dari orang-orang munafik yang tetap bertahan diatas kemunafikan, lalu mereka meminta izin kepadamu untuk ikut berangkat perang menuju peperangan yang lain pasca perang tabuk, maka katakanlah kepada mereka, ”kalian tidak akan pernah keluar bersamaku selamanya dalam suatu peperanganpun, dan kalian tidak akan pernah berperang bersamaku untuk melawan musuh dari semua musuh; karena sesungguhnya kalian lebih rido untuk tidak berangkat perang sejak pertama kali. Maka tinggalah kalian bersama orang-orang yang tidak ikut serta dalam berjihad bersama rasulullah .

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

wa lā tuṣalli ‘alā aḥadim min-hum māta abadaw wa lā taqum ‘alā qabrih, innahum kafarụ billāhi wa rasụlihī wa mātụ wa hum fāsiqụn

 84.  Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (wahai rasul) salah seorang yang telah mati dari kalangan orang-orang munafik untuk selamanya, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya untuk mendoakan kebaikan baginya. Sebab, sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah  dan kepada rasulNya, dan mereka mati dalam keadaan fasik. Inilah hukum secara umum pada orang yang sudah diketahui kemunafikannya.

وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

wa lā tu’jibka amwāluhum wa aulāduhum, innamā yurīdullāhu ay yu’ażżibahum bihā fid-dun-yā wa taz-haqa anfusuhum wa hum kāfirụn

 85.  Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.

Dan janganlah kamu (wahai rasul) takjub terhadap harta benda orang-orang munafik dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah hanyalah menghendaki untuk menyiksa mereka dengan itu di dunia lantaran harus mengarungi kesulitan-kesulitan dalam menanganinya, dan lantaran kematian mereka diatas kekafiran kepada Allah dan rasulNya.

وَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ

wa iżā unzilat sụratun an āminụ billāhi wa jāhidụ ma’a rasụlihista`żanaka uluṭ-ṭauli min-hum wa qālụ żarnā nakum ma’al-qā’idīn

 86.  Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk”.

Dan apabila turun surat kepada Muhammad  yang memerintahkan untuk beriman kepada Allah, ikhlas kepadaNya dan berjihad bersama rasulullah  , maka meminta izin kepadamu (wahai rasul) orang-orang yang kaya dari kalangan orang-orang munafik sembari berkata ”tinggalkanlah kami bersama orang-orang yang tinggal lagi tidak berdaya untuk berangkat perang.”

رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

raḍụ bi`ay yakụnụ ma’al-khawālifi wa ṭubi’a ‘alā qulụbihim fa hum lā yafqahụn

 87.  Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).

Orang-orang munafik lebih senang celaan melekat pada diri mereka, lantaran mereka tinggal bersama di rumah-rumah bersama wanita-wanita, anak-anak, dan orang-orang yang terhalang udzur. Dan Allah mengunci hati-hati mereka disebabkan kemunafikan mereka dan berpalingnya mereka dari berjihad dan berangkat bersama rasulullah  di jalan Aallah. Mereka itu tidak memahami apa-apa yang mengandung kebaikan dan hidayah lurus bagi mereka.

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

lākinir-rasụlu wallażīna āmanụ ma’ahụ jāhadụ bi`amwālihim wa anfusihim, wa ulā`ika lahumul-khairātu wa ulā`ika humul-mufliḥụn

 88.  Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Jika orang-orang munafik tetap berpaling dari berperang, maka sesungguhnya rasulullah  dan kaum mukminin yang bersamanya telah berjihad dengan harta benda dan jiwa raga mereka. Dan bagi mereka kemenangan dan harta rampasan di dunia serta surga dan kemuliaan di akhirat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

a’addallāhu lahum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, żālikal-fauzul-‘aẓīm

 89.  Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Pada hari kiamat, Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai, mereka tinggal di dalamnya selamanya. Itulah keberuntungan yang besar.

وَجَاءَ الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ سَيُصِيبُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa jā`al-mu’ażżirụna minal-a’rābi liyu`żana lahum wa qa’adallażīna każabullāha wa rasụlah, sayuṣībullażīna kafarụ min-hum ‘ażābun alīm

 90.  Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan ‘uzur, yaitu orang-orang Arab Baswi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.

Dan datanglah sekelompok orang dari suku-suku arab yang berada di sekitar Madinah, mereka mengajukan alasan kepada rasulullah  dan menerangkan kepada beliau keadaan mereka yang lemah dan tidak mampu keluar untuk ikut berperang. Dan satu kaum tinggal (tidak ikut berangkat perang) tanpa alasan yang mereka sampaikan, lantaran kepongahan mereka terhadap rasulullah . Orang-orang kafir dari mereka akan ditimpa siksaan pedih di dunia berupa terbunuh dan yang lainnya, dan di akhirat dengan neraka.

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

laisa ‘alaḍ-ḍu’afā`i wa lā ‘alal-marḍā wa lā ‘alallażīna lā yajidụna mā yunfiqụna ḥarajun iżā naṣaḥụ lillāhi wa rasụlih, mā ‘alal-muḥsinīna min sabīl, wallāhu gafụrur raḥīm

 91.  Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

Tidak ada dosa atas orang-orang yang mempunyai alasan benar, seperti orang-orang yang lemaah fisik, orang-orang yang sakit, orang-orang fakir yang tidak memiliki sesuatu untuk mereka pergunakan sebagai persiapan berangkat jihad untuk tidak berperang, bila mereka bersikap ikhlas kepada Allah dan rasulNya, serta mengerjakan syariatNya.Tidak ada jalan untuk menyalahkan dan menghukum orang yang berbuat baik dari orang yang terhalangi keadaan untuk berjihad bersama rasulullah  , sedang dia seorang yang bersikap baik kepada Allah dan rasulNya.Dan Allah maha pengampun bagi orang-orang yang berbuat baik lagi maha penyayang terhadap mereka.

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

wa lā ‘alallażīna iżā mā atauka litaḥmilahum qulta lā ajidu mā aḥmilukum ‘alaihi tawallaw wa a’yunuhum tafīḍu minad-dam’i ḥazanan allā yajidụ mā yunfiqụn

 92.  dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.

Demikian pula, tidak ada dosa atas orang-orang yang bila mereka datang kepadamu untuk memohon agar kamu menolong mereka dengan membawa mereka menuju medan jihad, lalu kamu katakan kepada mereka, ”aku tidak mendapati tunggangan untuk ku gunakan mengangkut kalian,” lalu mereka pergi dari sisimu, sedang mata mereka bercucuran air mata, lantaran perasaan kecewa terhadap apa yang mereka lewatkan dari kemuliaan jihad dan pahalanya, dikarenakan mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dapat mereka infakan dan apa yang bisa mengangkut mereka untuk keluar berjihad di jalan Allah.

۞ إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ وَهُمْ أَغْنِيَاءُ ۚ رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

innamas-sabīlu ‘alallażīna yasta`żinụnaka wa hum agniyā`, raḍụ bi`ay yakụnụ ma’al-khawālifi wa ṭaba’allāhu ‘alā qulụbihim fa hum lā ya’lamụn

 93.  Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).

Sesungguhnya dosa dan celaan hanyalah tertuju kepada orang-orang kaya yang datang kepadammu (wahai rasul), meminta izin kepadamu untuk tidak berperang, dan mereka itu adalah orang-orang munafik yang kaya raya. Mereka lebih memilih untuk dirinya sendiri untuk tinggal bersama wanita-wanita dan orang-orang yang memiliki udzur. Dan Allah mengunci hati mereka dengan kemunafikan, sehingga tidak ada keimanan yang memasukinya. Mereka itu tidak menyadari buruknya kesudahan mereka akibat sengaja tidak ikut serta bersamamu dan meningglkan jihad bersamamu.

يَعْتَذِرُونَ إِلَيْكُمْ إِذَا رَجَعْتُمْ إِلَيْهِمْ ۚ قُلْ لَا تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ ۚ وَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

ya’tażirụna ilaikum iżā raja’tum ilaihim, qul lā ta’tażirụ lan nu`mina lakum qad nabba`anallāhu min akhbārikum wa sayarallāhu ‘amalakum wa rasụluhụ ṡumma turaddụna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 94.  Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘uzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: “Janganlah kamu mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

telah mengajukan alasan kepada kalian (wahai orang-orang mukminin) orang-orang yang tidak ikut serta untuk memerangi kaum musyrikin, dengan kedustaan-kedustaan, ketika kalian kembali dari peperangan kalian dari perang Tabuk. Katakanlah kepada mereka (wahai Rasul), “ janganlah kalian mengajukan alasan, kami sekali-kali tidak akan mempercayai kalian terhadap yang kalian katakan. Sesungguhnya Allah telah mengabarkan kepada kami tentang urusa kalian yang menegaskan kepada kami kedustaan kalian. Dan Allah dan RasulNya akan melihat perbuatan kalian, jika kalian bertaubat dari kemunafikan kalian atau kalian bertahan diatas kemunafikan, dan Dia akan mempertontonkan perbuatan kalian di dunia, kemudian kalian akan kembali setelah kematian kalian kepada Dzat yang tidak tersembunyi bagiNya urusan-urusan kalian yang tersembunyi dan urusan-urusan kalian yang di tampak. Kemudian Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas perbuatan tersebut.

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ ۖ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

sayaḥlifụna billāhi lakum iżangqalabtum ilaihim litu’riḍụ ‘an-hum, fa a’riḍụ ‘an-hum, innahum rijsuw wa ma`wāhum jahannamu jazā`am bimā kānụ yaksibụn

 95.  Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Orang-orang munafik akan bersumpah kepada kalian dengan nama Allah –dengan dusta dan mencari cari alasan-, apabila kalian kembali kepada mereka dari peperangan, agar kalian membiarkan mereka tanpa intenvigasi. Maka jauhilah mereka dan berpalinglah dari mereka sebagai bentuk penghinaan bagi mereka; sebab sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia yang berbatin kotor, dan tempat mereka yang akan mereka tinggali di akhirat kelak adalah Neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang mereka usahakan berupa dosa-dosa dan pelangaran-pelangaran.

يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

yaḥlifụna lakum litarḍau ‘an-hum, fa in tarḍau ‘an-hum fa innallāha lā yarḍā ‘anil-qaumil-fāsiqīn

 96.  Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.

Orang-orang munafik akan bersumoah dengan dusta di hadapan kalian (wahai kaum mukminin) agar kalian menerima mereka, dan jika kalian menerima mereka (karena kalian tidak mengetahui kedustaan mereka), maka sesungguhnya Allah tidak meridhai mereka dan kaum selain mereka yang terus menerus diatas kefasikan dan keluar dari ketaatan kepadaNya dan dari ketaatan kepada Rasulnya.

الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

al-a’rābu asyaddu kufraw wa nifāqaw wa ajdaru allā ya’lamụ ḥudụda mā anzalallāhu ‘alā rasụlih, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 97.  Orang-orang Arab Badwi itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Orang-orang Arab Badui, yaitu para penduduk pendalaman, lebih keras kekafiran dan kemunafikannya daripada para penghuni perkotaan. Demikian itu dikarenkan kekerasan perilaku dan kerasnya hati mereka dan jauhnya mereka dari ilmu dan ulama serta majelis nasihat dan tempat-tempat berdzikir. Karena latar belakang tersebut, mereka lebih besar kemungkinan tidak mengetahui rambu-rambu agama dan apa yang Allah turunkan berupa ajaran-ajaran syariat dan hukum-hukum. Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka semua, Mahabijaksana dalam pengaturaNya terhadap urusan-urusan hamba-hambaNya.

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ مَغْرَمًا وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa minal-a’rābi may yattakhiżu mā yunfiqu magramaw wa yatarabbaṣu bikumud-dawā`ir, ‘alaihim dā`iratus-saụ`, wallāhu samī’un ‘alīm

 98.  Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah), sebagi suatu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan di antara orang-orang Badui itu ada yang mengira bahwa apa yang di keluarkan di jalan Allah sebagai bentuk jeratan dan kerugian yang tidak mendatangkan pahala baginya dan tidak menolak siksaan dari diriNya, dan diapun menunggu-nunggu kejadian-kejadian buruk dan bencan-bencana menimpa kalian. Akan tetapi, keburukan berputar atas mereka, bukan pada kaum muslimin. Dan Allah Maha Mendengar apa yang mereka katakan , juga MahaMengatahui niat-niat buruk mereka

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ ۚ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ ۚ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa minal-a’rābi may yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhiri wa yattakhiżu mā yunfiqu qurubātin ‘indallāhi wa ṣalawātir-rasụl, alā innahā qurbatul lahum, sayudkhiluhumullāhu fī raḥmatih, innallāha gafụrur raḥīm

 99.  Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan diantara orang-orang Badui, ada yang beriman kepada Allah dan mengakui kesaanNya dan Hari kebangkitan setelah kematian, juga pahala dan siksaan serta dia mengharap pahala dari apa yang mereka infakan berupa harta benda dan memerangi kaum musyrikin, dengan mengharap ridha Allah dan cintaNya dengan itu, dan menjadikanya sebagai sarana untuk mengharp doa kebaikan dari Rasul  baginya. Ketahuilah, sesungguhnya amal-amal ini akan mendekatkan diri mereka kepada Allah  Allah akan memasukan mereka ke syurgaNya. Sesungguhnya Dia Maha pengampun terhadap dosa-dosa yang mereka perbuat, jugaMaha penyayang terhadap mereka.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

was-sābiqụnal-awwalụna minal-muhājirīna wal-anṣāri wallażīnattaba’ụhum bi`iḥsānir raḍiyallāhu ‘an-hum wa raḍụ ‘an-hu wa a’adda lahum jannātin tajrī taḥtahal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, żālikal-fauzul-‘aẓīm

 100.  Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Dan orang-orang yang mendahului orang-orang sejak pertama menuju keimanan kepada Allah dan rasulNya dari kalangan muhajirin yang berhijrah meninggalkan kaum mereka dan kerabat mereka, dan mereka berpindah menuju negeri islam, dan kaum anshar yang menolong rasulullah  atas musuh-musuhnya dari orang-orang kafir, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam keyakinan, ucapan-ucapan mereka dan perbuatan-perbuatan dalam rangka mencari keridhaan Allah . mereka itulah orang-orang yang Allah meridhai mereka karena ketaatan mereka kepada Allah dan rasulNya, dan mereka ridha kepada Allah karena Dia melimpahkan pada mereka pahala atas ketaatan mereka dan keimanan mereka, dan menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamya selamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Di dalam ayat ini terdapat tazkiyah bagi para sahabat  , kredibilitas tinggi dan pujian bagi mereka. Oleh karena itu, penghormatan terhadap mereka termasuk di antara pokok-pokok iman.

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ

wa mim man ḥaulakum minal-a’rābi munāfiqụn, wa min ahlil-madīnati maradụ ‘alan-nifāq, lā ta’lamuhum, naḥnu na’lamuhum, sanu’ażżibuhum marrataini ṡumma yuraddụna ilā ‘ażābin ‘aẓīm

 101.  Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.

Dan diantara kaum yang hidup di sekitar Madinah ada orang-orang Arab badui yang munafik. Dan diantara penduduk Madinah ada orang-orang munafik yang hidup diatas kemunafikan. Dan mereka bertambah menjadi-jadi dalam kedurhakaan, lantaran seluk beluk mereka tersembunyi bagimu (wahai rasul).Kami mengetahui mereka, maka kami akan menyiksa mereka dua kali dengan dibunuh, ditawan dan dibongkar kedok mereka di dunia dan dengan siksaan kubur setelah kematian. Kemudian mereka akan dikembalikan pada hari kiamat menuju siksaan besar di nerka jahanam.

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa ākharụna’tarafụ biżunụbihim khalaṭụ ‘amalan ṣāliḥaw wa ākhara sayyi`ā, ‘asallāhu ay yatụba ‘alaihim, innallāha gafụrur raḥīm

 102.  Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Dan ada orang-orang yang lain dari penduduk Madinah dan penduduk sekitarnya yang mengakui dosa-dosa mereka dan menyesalinya, serta telah bertaubat darinya, mereka mencampuradukan amal shalih (berupa taubat, menyesal,mengakui dosa dan yang lainnya dari amal-amal sholeh) dengan perbuatan buruk lainnya, (yaitu tidak turut serta berangkat perang bersama rasulullah  dan mengajarkan perbuatan buruk lainnya), mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada mereka untuk bertaubat dan menerimanya dari mereka. Sesungguhnya Allah maha pengampun bagi hamba-hambaNYa lagi mahapenyayang terhadap mereka.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

khuż min amwālihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā wa ṣalli ‘alaihim, inna ṣalātaka sakanul lahum, wallāhu samī’un ‘alīm

 103.  Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ambilah (wahai nabi), dari sebagian harta benda orang-orang yang telah bertaubat yang mencampuradukan antara amal shalih dan perbuatan buruk lain, sedekah (zakat) yang membersihkan mereka dari kotoran dosa-dosa dan mengangkat mereka dari golongan orang-orang munafik menuju derajat orang-orang yang ikhlas, dan berdoalah kepada Allah bagi mereka untuk mengampuni dosa-dosa mereka, dan mintakanlah ampunan bagi mereka dari dosa-dosa itu. Sesungguhnya doamu dan permintaan ampunanmu akan menjadi rahmat dan ketenangan bagi mereka. Dan Allah maha mendengar tiap-tiap doa dan ucapan, maha mengetahui keadaan-keadaan hamba-hamba dan nita-niat mereka. Dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang yang berbuat sesuai dengan perbuatannya.

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

a lam ya’lamū annallāha huwa yaqbalut-taubata ‘an ‘ibādihī wa ya`khużuṣ-ṣadaqāti wa annallāha huwat-tawwābur-raḥīm

 104.  Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?

Apakah tidak mengetahui orang-orang yang tidak turut dalam jihad dan orang-orang yang lainnya bahwa sesungguhnya Allah semata yang menerima taubat-taubat hamba-hambaNYa, dan menerima zakat-zakat serta memberikan pahalanya, dan sesungguhnya Allah, Dia lah Dzat yang maha menerima taubat hamba-hambaNya bila mereka mau kemabali taat kepadaNya, mahapenyayang kepada mereka apabila mereka berinabah(kembali) menuju keridhaannya?

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa quli’malụ fa sayarallāhu ‘amalakum wa rasụluhụ wal-mu`minụn, wa saturaddụna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 105.  Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dan katakanlah (wahai nabi), kepada orang-orang yang telah ikut berjihad, ”berbuatlah kalian karena Allah dengan apa yang Dia ridoi dari ketaatan kepadaNya, dan menunaikan kewajibanNya dan menjauhi maksiat kepadaNya, maka Allah akan melihat amal kalian, begitu pula rasulNya dan kaum mukminin, dan jati diri kalian akan menjadi jelas urusan kalian. Dan kalian akan dikembalikan pada hari kiamat kepada dzat yang mengetahui perkara rahasia dan perkara nyata dari kalian, lalu Dia akan memberitakan kepada kalian tentang apa yang dahulu kalian kerjakan. Dalam ayat ini termuat peringatan dan ancaman bagi orang yang tetap bertahan di atas kebatilan dan keangkuhannya.

وَآخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa ākharụna murjauna li`amrillāhi immā yu’ażżibuhum wa immā yatụbu ‘alaihim, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 106.  Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan diantara orang-orang yang tidak berangkat bersama kalian (wahai kaum mukminin), di perang tabuk ada orang-orang lain yang ditangguhkan, karena Allah akan memutuskan perkara kepada mereka dengan ketetapan yang akan diputuskannya. Mereka itu adalah orang-orang yang menyesali apa yang mereka perbuat. Mereka adalah murarah bin ar-rabi’, ka’ab bin malik, dan hilal bin umayyah, baik dengan menghukum mereka atau memaafkan mereka. Dan Allah mahamengetahui siapa yang berhak di hukum dan diberi maaf, juga mahabijaksana dalam semua perkataan dan perbuatannya.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

wallażīnattakhażụ masjidan ḍirāraw wa kufraw wa tafrīqam bainal-mu`minīna wa irṣādal liman ḥāraballāha wa rasụlahụ ming qabl, wa layaḥlifunna in aradnā illal-ḥusnā, wallāhu yasy-hadu innahum lakāżibụn

 107.  Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

Orang-orang munafik yang membangun masjid dengan tujuan menimbulkan mudarat bagi kaum Mukminin dan kekafiran kepada Allah dan memecah belah diantara kaum mukminin, supaya sebagian mereka shalat di masjid itu dan meninggalkan masjid Quba ‘ yang kaum muslimin mengerjakan shalat di dalamnya. Maka Akibatnya akan membuat kaum muslimin berpecah-belah dan tercerai-berai disebabkan hal tersebut,dan menunggu orang yang akan memerangi Allah dan RasulNya sebelumnya, (yaitu Abu Amir, sang pendeta yang fasik) supaya menjadi kesempatan untuk memperdayai kaum Muslimin. Dan orang-orang munafik itu benar-benar bersumpah bahwa mereka sesunguhnya tidak mengingikan pembangunan masjid itu kecuali sekedar kebaikan semata dan iba terhadap kaum muslimin dan melonggarkan orang-orang lemah lagi tidak berdaya untuk berjalan menuju masjid (Quba’). Dan Allah bersaksi bahwa sesngguhnya mereka itu benar-benar berdusta dalam sumpah yang mereka nyatakan. Dan sungguh masjid tersebut telah dihancurkan dan dibakar.

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

lā taqum fīhi abadā, lamasjidun ussisa ‘alat-taqwā min awwali yaumin aḥaqqu an taqụma fīh, fīhi rijāluy yuḥibbụna ay yataṭahharụ, wallāhu yuḥibbul-muṭṭahhirīn

 108.  Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Janganlah kamu berdiri (wahai Nabi) untuk shalat di dalam masjid itu selamanya. Sesungguhnya masjid yang di bangun di atas asas ketakwaan sejak hari pertama, (yaitu masjid Quba’), lebih pantas untuk kamu berdiri tegak sholat di dalamnya. Di dalam masjid ini, ada orang-orang yang menyukai bersuci dengan Air dari najis-najis dan kotoran-kotoran, sebagaimana mereka menyucikan diri dengan sikaf waro dan istigfar dari dosa-dosa dan kemaksiatan. Dan Allah mencintai orang-orang yang mensucikan diri. Dan apabila masjid quba di bangun diatas landasan ketakwaan sejak pertama, maka masjid rasulullah  demikian pula, bahkan lebih patut berlandaskan ketakwaan.

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

a fa man assasa bun-yānahụ ‘alā taqwā minallāhi wa riḍwānin khairun am man assasa bun-yānahụ ‘alā syafā jurufin hārin fan-hāra bihī fī nāri jahannam, wallāhu lā yahdil qaumaẓ-ẓālimīn

 109.  Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Tidaklah sama orang yang membangun bangunannya di atas ketakwaan kepada Allah ,ketaatan kepadaNya dan dalam rangka mencari keridhaanNya, dengan orang yang membangun bangunannya di tepi jurang yang hampir-hampir runtuh. Dia membangun masjid demi melancarkan mudarat, kekafiran dan memecah belah kaum muslimin, maka tindakan itu menyeretnya jatuh terjerumus kedalam neraka jahanam. Dan Allah tidaklah memberikan hidayah kepada orang-orang yang berbuat zhalim lagi melampaui batas-batasNya.

لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَّا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

lā yazālu bun-yānuhumullażī banau rībatan fī qulụbihim illā an taqaṭṭa’a qulụbuhum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

 110.  Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan bangunan masjid orang-orang munafik yang mereka bangun senantiasa menjadi sumber yang memadorotkan masjid quba dan bentuk keraguan dan kemunafikan yang tertanam di hati mereka hingga hati mereka hancur berkeping-keping akibat dibunuh, mati atau dengan penyesalan mereka yang tiada terkira atau bertaubat kepada tuhan mereka, serta ketakutan mereka kepadaNYa dengan sebenar-benarnya. Dan Allah mahamengetahui keadaan orang-orang munafik berupa keragu-raguan dan tujuan yang mereka maksud dalam niat-niat mereka, juga mahabijaksana dalam pengaturan urusan-urusan dan makhluk-makhlukNy.

۞ إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

innallāhasytarā minal-mu`minīna anfusahum wa amwālahum bi`anna lahumul-jannah, yuqātilụna fī sabīlillāhi fa yaqtulụna wa yuqtalụna wa’dan ‘alaihi ḥaqqan fit-taurāti wal-injīli wal-qur`ān, wa man aufā bi’ahdihī minallāhi fastabsyirụ bibai’ikumullażī bāya’tum bih, wa żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

 111.  Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Sesungguhnya Allah membeli dari kaum mukminin jiwa-jiwa mereka dengan imbalan mereka mendapatkan surga sebagai gantinya dan apa yang Dia sediakan di dalamnya berupa kenikmatan; karena pengorbanan mereka dengan jiwa raga dan harta benda mereka dalam memerangi musuh-musuhNya untuk meninggikan kalimatNya dan menampakan agamaNYa, lalu mereka membunuh dan dibunuh, sebagai janji dariNya secara pasti di dalam taurat yang diturunkan kepada musa  dan injil yang diturunkan kepada isa ,serta al-qur’an yang di turunkan kepada Muhammad  .tidak ada seorangpun yang lebih menepati janji daripada Allah bagi orang yang memenuhi perjanjiannya kepada Allah. maka tampaklah kegembiraan (wahai kaum mukminin), dengan perniagaan kalian yang kalian jalin dengan Allah dan dengan apa-apa yang dijanjikan Allah bagi kalian berupa surga dan keridhaan. Perniagaan tersebut, itulah keberuntungan yang besar.

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

attā`ibụnal-‘ābidụnal-ḥāmidụnas-sā`iḥụnar-rāki’ụnas-sājidụnal-āmirụna bil-ma’rụfi wan-nāhụna ‘anil-mungkari wal-ḥāfiẓụna liḥudụdillāh, wa basysyiril-mu`minīn

 112.  Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Dan diantara sifat kaum mukminin yang mendapatkan berita gembira berupa masuk kedalam surga, bahwa mereka adalah orang-orang yang bertaubat, dan kembali dari apa yang dibenci Allah menuju perkara yang dicintai Allah dan diridhaiNya, yang mengikhlaskan ibadah bagi Allah semata dan sungguh-sungguhan dalam ketaatan kepadaNya, yang memuji Allah dalam seluruh perkara yang Allah menguji mereka, dari kabaikan maupun keburukan, orang-orang yang berpuasa , yang rukuk dalam shalat mereka, bersujud di dalamnya, yang memerintahkan manusia dengan perkara yang diperintahkan Allah dan rasulNya dan melarang mereka dari setiap perkara yang Allah dan rasulNya melarang mereka darinya, yang mengerjakan kewajiban-kewajiban Allah, berhenti pada batas perintah dan laranganNya, menjalankan ketaatan kepadaNya lagi berdiri pada rambu-rambuNya. dan berilah kabar gembira (wahai nabi), kepada orang-orang mukmin yang memiliki sifat-sifat demikian dengan keridhaan Allah dan surgaNya.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

mā kāna lin-nabiyyi wallażīna āmanū ay yastagfirụ lil-musyrikīna walau kānū ulī qurbā mim ba’di mā tabayyana lahum annahum aṣ-ḥābul-jaḥīm

 113.  Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.

Tidak sepatutnya bagi nabi Muhammad  dan orang-orang mukmin untuk berdoa memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, meskipun mereka adalah karib kerabat sendiri, setelah mereka mati di atas kesyirikan kepada Allah dan penyembahan terhadap berhala-berhala, dan telah jelas bagi mereka bahwa orang-orang itu adalah para penghuni neraka jahanam, lantaran mati diatas kesyirikan. Dan Allah tidak akan mengampuni kaum musyrikin, sebagaimana Allah berfirman إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ “sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni perbuatan syirik” (QS : an-nisa 48) dan sebagaimana Allah berfirman, إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ ”sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan Allah), maka pasti Allah mengharamkan surga baginya.” (QS : al-maidah 72)

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

wa mā kānastigfāru ibrāhīma li`abīhi illā ‘am mau’idatiw wa’adahā iyyāh, fa lammā tabayyana lahū annahụ ‘aduwwul lillāhi tabarra`a min-h, inna ibrāhīma la`awwāhun ḥalīm

 114.  Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Dan bukanlah permohonan ampunan Ibrahim alaihisalam bagi bapaknya yang musyrik, kecuali sekedar memenuhi janji yang dia janjikan kepadanya semata, yaitu dalam firman Allah, سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا ”aku akan memintakan ampun bagimu kepada tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam 47) Lalu tatkala menjadi jelas bagi Ibrahim  , bahwa ayahnya adalah musuh Allah, dan nasihat dan peringatan tidak berguna lagi baginya, dan dia akan mati sebagai orang kafir, Ibrahim  meningalkannya dan meninggalkan permohonan ampunan baginya serta berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim  sangat besar ketundukannya kepada Allah dan banyak berlapangdada menghadapi apa yang keluar bersumber dari tingkah kaumnya berupa kekeliruan-kekeliruan.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

wa mā kānallāhu liyuḍilla qaumam ba’da iż hadāhum ḥattā yubayyina lahum mā yattaqụn, innallāha bikulli syai`in ‘alīm

 115.  Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan Allah tidaklah menyesatkan satu kaum setelah melimpahkan hidayah dan taufik pada mereka hingga menjelaskan pada mereka dengan apa mereka harus takut kepadaNya dan apa yang mereka butuhkan dalam pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya. Sesungunya Allah mahamengetahui segala sesuatu. Sungguh Dia telah mengajarkan kepada kalian apa yang dahulu belum kalian ketahui dan menerangkan kepada kalian hal-hal yang dapat kalian ambil manfaatnya dan menegakkan hujjah di hadapan kalian dengan menyampaikan risalahNYa kepada kalian.

إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۚ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

innallāha lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, yuḥyī wa yumīt, wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

 116.  Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.

Sesungguhnya Allah adalah pemilik langit dan bumi dan segala yang ada didalamnya, tidak ada sekutu bagiNya dalam penciptaan, pengaturan dan ibadah serta penetapan syariat. Dia menghidupkan siapa saja yang dikehendakiNya, dan Dia mematikan siapa yang dikehendakiNya. Dan kalian tidak memiliki siapapun selain Allah yang akan menangani urusan kalian, tidak ada penolong yang akan menolong kalian menghadapi musuh kalian.

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

laqat tāballāhu ‘alan-nabiyyi wal-muhājirīna wal-anṣārillażīnattaba’ụhu fī sā’atil-‘usrati mim ba’di mā kāda yazīgu qulụbu farīqim min-hum ṡumma tāba ‘alaihim, innahụ bihim ra`ụfur raḥīm

 117.  Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,

Sungguh Allah telah memberikan taufik kepada nabiNya, Muhammad  untuk kembali(inabah) dan taat kepaadNya, dan Allah telah menerima taubat kaum muhajirin yang berhijrah meninggalkan kampung halaman mereka dan keluarga besar mereka menuju negeri islam. Dan Allah menerima taubat para penolong rasulullah  (kaum anshar) yang keluar bersama beliau untuk memerangi musuh-musuh pada perang tabuk di musim yang sangat panas dan kekurangan perbekalan dan tunggangan. Sesungguhnya Allah telah menerima taubat mereka semua setelah sebagian hati mereka hampir-hampir melenceng dari kebenaran, lebih cenderung kepada santai dan berleha-leha. Akan tetapi Allah meneguhkan mereka dan menguatkan mereka, serta menerima taubat mereka, sesungguhnya Dia banyak sekali kasih sayangNya kepada mereka baik di dunia dan di akhirat. Dan diantara bentuk rahmatNya kepada mereka, adalah Dia melimpahkan karunia kepada mereka untuk bertaubat dan menerimanya dari mereka dan meneguhkan mereka di atasnya.

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

wa ‘alaṡ-ṡalāṡatillażīna khullifụ, ḥattā iżā ḍāqat ‘alaihimul-arḍu bimā raḥubat wa ḍāqat ‘alaihim anfusuhum wa ẓannū al lā malja`a minallāhi illā ilaīh, ṡumma tāba ‘alaihim liyatụbụ, innallāha huwat-tawwābur-raḥīm

 118.  dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Demikian pula, Allah menerima taubat tiga orang yang tertunda (diterimanya taubat mereka) dari kaum anshar, yaitu ka’ab bin malik, hilal bin umayyah dan murarah bin ar-rabi. Mereka bertiga tinggal tidak turut serta berperang bersama rasulullah  dan mereka mengalami kesedihan yang amat mendalam, hingga bumi ini dengan segala keluasaannya terasa sempit bagi mereka, merasa gundah dan menyesal kerena tidak ikut berperang, dan bahkan jiwa mereka terasa sempit lantaran kegundahan yang mengenai mereka, dan mereka yakin tidak ada tempat berlindung dari hukuman Allah, kecuali padaNya. Dan Allah memberikan taufik kepada mereka untuk taat dan kembali menuju keadaan yang diridhai Allah  . Sesungguhnya Allah maha menerima taubat dari hamba-hambaNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa kụnụ ma’aṣ-ṣādiqīn

 119.  Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Wahai orang-orang yang briman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, laksanakanlah perintah-perintah Allah dan jauhilah larangan-laranganNYa dalam segala yang kalian kerjakan dan kalian tinggalkan.Dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar dalam sumpah-sumpah mereka, janji-janji mereka dan dalam setiap urusan penting dari urusan-urusan mereka.

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

mā kāna li`ahlil-madīnati wa man ḥaulahum minal-a’rābi ay yatakhallafụ ‘ar rasụlillāhi wa lā yargabụ bi`anfusihim ‘an nafsih, żālika bi`annahum lā yuṣībuhum ẓama`uw wa lā naṣabuw wa lā makhmaṣatun fī sabīlillāhi wa lā yaṭa`ụna mauṭi`ay yagīẓul-kuffāra wa lā yanalụna min ‘aduwwin nailan illā kutiba lahum bihī ‘amalun ṣāliḥ, innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn

 120.  Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,

Tidak sepatutnya bagi penduduk kota rasulullah  (Madinah) dan penduduk sekitar mereka dari pada penduduk pedalaman untuk lebih suka tetap tinggal di tengah keluarga dan rumah-rumah mereka, membiarkan rasulullah  , dan mereka merasa lega untuk santai, sedang rasulullah  berada dalam kepayahan dan kesulitan. Yang demikian itu, lantaran sesungguhnya tidaklah mereka tertimpa dalam perjalanan dan jihad mereka kehausan, keletihan, lapar di jalan Allah, dan tidaklah mereka menginjak suatu tempat yang dapat menyulut kemarahan orang-orang kafir karena keberadaan mereka disana, dan tidaklah mereka menimpakan pada musuh Allah dan musuh mereka pembunuhan dan kekalahan, kecuali dituliskan bagi mereka disebabkan semua itu sebagai pahala amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan ang telah berbuat baik dengan kecekatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah, dan pelaksanaan kewajiban mereka terhadap hak Allah dan hak makhlukNya.

وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lā yunfiqụna nafaqatan ṣagīrataw wa lā kabīrataw wa lā yaqṭa’ụna wādiyan illā kutiba lahum liyajziyahumullāhu aḥsana mā kānụ ya’malụn

 121.  dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Dan tidaklah mereka menginfakan nafkah yang kecil maupun besar di jalan Allah dan tidaklah mereka menyebrangi lembah dalam perjalanan mereka bersama rasulullah  dalam jihadnya, kecuali dituliskan bagi mereka pahala amal mereka itu, agar Allah memberikan balasan bagi mereka dengan balasan terbaik yang diterima mereka atas amal sholeh mereka.

۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

wa mā kānal-mu`minụna liyanfirụ kāffah, falau lā nafara ming kulli firqatim min-hum ṭā`ifatul liyatafaqqahụ fid-dīni wa liyunżirụ qaumahum iżā raja’ū ilaihim la’allahum yaḥżarụn

 122.  Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dan tidak patut bagi kaum mukminin semuanya keluar memerangi musuh mereka, sebagaimana yang tidak dibenarkan bagi mereka untuk tinggal semua. Mengapa tidak keluar untuk berperang dan berjihad dari setiap golongan sejumlah orang yang memadai dan mewujudkan mashlahat;tujuannya agar orang-orang yang tinggal bisa mendalami agama Allah dan mengetahui apa yang terbaru dari hokum-hukum agama Allah dan wahyu yang diturunkan pada rasulNya, agar mereka nanti memperingatkan kaum mereka dengan ilmu yang mereka pelajari tatkala mereka kembali kepada kaumnya itu. Mudah-mudahan mereka takut kepada siksaan Allah dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ qātilullażīna yalụnakum minal-kuffāri walyajidụ fīkum gilẓah, wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn

 123.  Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, serta melaksanakan syariatNya, mulailah memerangi golongan orang-orang kafir yang terdekat dengan negeri islam dan begitu selanjutnya, dan biarlah mereka mendapati pada diri kalian sikap tegas dan ketegasan. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dengan dukungan dan pertolonganNya.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

wa iżā mā unzilat sụratun fa min-hum may yaqụlu ayyukum zādat-hu hāżihī īmānā, fa ammallażīna āmanụ fa zādat-hum īmānaw wa hum yastabsyirụn

 124.  Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.

Dan apabila Allah menurunkan satu surat dari surat-surat al-qur’an kepada rasulNya, maka ada dari orang-orang munafik yang berkata, (sebagai bentuk pengingkaran dan mengolok-olok), ”siapakah diantara kalian yang surat ini menambah imannya kepada Allah dan ayat-ayatNya? Maka adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rosulNya, turunnya surat itu menambah keimanan mereka dengan mengetahuinya, mentadaburinya dan meyakininya serta mengamalkannya.Dan mereka bergembira dengan apa yang Allah berikan kepada mereka berupa keimanan dan keyakinan.

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

wa ammallażīna fī qulụbihim maraḍun fa zādat-hum rijsan ilā rijsihim wa mātụ wa hum kāfirụn

 125.  Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.

Sedangkan orang-orang yang didalam hati mereka terdapat kemunafikan dan keragu-raguan terhadap agama Allah, maka sesungguhnya turunnya surat itu akan menambah kemunafikan dan keragu-raguan pada mereka dari sebelumnya dari kemunafikan dan keragu-raguan yang ada pada mereka. Dan binasalah orang-orang tersebut.Dan mereka adalah orang-orang yang mengingkari Allah dan ayat-ayatNya.

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

a wa lā yarauna annahum yuftanụna fī kulli ‘āmim marratan au marrataini ṡumma lā yatụbụna wa lā hum yażżakkarụn

 126.  Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?

Tidakkah orang-orang muanfik itu melihat bahwa sesungguhnya Allah menguji mereka dengan paceklik dan kesulitan hidup, dan dengan menampakan apa yang mereka sembunyikan berupa kemunafikan sekali atau dua kali dalam setiap tahun? kemudian meskipun demikian, mereka tidak mau bertaubat dari kekafiran dan kemunafikan mereka, dan mereka tidak mengambil pelajaran dan menjadikan sebagai peringatan dari apa yang mereka saksikan secara langsung dari ayat-ayat Allah.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

wa iżā mā unzilat sụratun naẓara ba’ḍuhum ilā ba’ḍ, hal yarākum min aḥadin ṡummanṣarafụ, ṣarafallāhu qulụbahum bi`annahum qaumul lā yafqahụn

 127.  Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Dan tiap kali diturunkan surat, orang-orang munafik saling memberikan isyarat dengan mata mereka sebagai bentuk pengingkaran terhadap turunnya surat tersebut, olok-olokan dan amarah;lantaran turun di dalam kandungannya keterangan tentang keburukan-keburukan dan perbuatan-perbuatan mereka. kemudian mereka mengatakan “apakah ada seseorang yang melihat kalian bila kalian pergi meninggalkan rasul?” maka apabila tidak seorang pun memergoki mereka, mereka berdiri dan pergi dari sisi rasul  karena takut terbongkar rahsia mereka. Allah memalingkan hati mereka dari keimanan, disebabkan mereka sesunggguhnya tidak memahami dan tidak merenunginya.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

laqad jā`akum rasụlum min anfusikum ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum ḥarīṣun ‘alaikum bil-mu`minīna ra`ụfur raḥīm

 128.  Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Sungguh telah datang kepada kalian wahai kaum mukminin, seorang rasul dari kaum kalian sendiri, yang merasa berat atas dirinya dengan apa yang kalian alami berupa keburukan dan kesulitan, amat antusias terhadap keimanan kalian dan kebaikan keadaan kalian. Dan dia kepada kaum muslimin banyak kasih dan sayang.

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

fa in tawallau fa qul ḥasbiyallāhu lā ilāha illā huw, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm

 129.  Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.

Maka apabila kaum musyrikin dan orang-orang munafik tetap berpaling dari keimanan kepada mu (wahai rasul), maka katakanlah kepada mereka, ”cukuplah Allah bagiku, Dia akan memenuhi apa yang menjadi cita-citaku, tiada tuhan yang berhak di sembah kecuali Dia, kepadaNya lah aku bergantung. Dan kepadaNYa aku serahkan seluruh urusanku, sesungguhnya Dia penolong dan yang akan membantuku. Dia Robb pemilik arsy yang agung yang merupakan makhluk yang paling besar.”

Related: Surat Yunus Arab-Latin, Surat Hud Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Yusuf, Terjemahan Tafsir Surat ar-Ra’d, Isi Kandungan Surat Ibrahim, Makna Surat al-Hijr

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

43 24 109 58