Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Qiyamah

لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

Arab-Latin: lā uqsimu biyaumil-qiyāmah

Terjemah Arti:  1.  Aku bersumpah demi hari kiamat,

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

wa lā uqsimu bin-nafsil-lawwāmah

 2.  dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ

a yaḥsabul-insānu allan najma’a ‘iẓāmah

 3.  Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1-4. Allah bersumpah dengan hari perhitungan amal dan pembalasan. Allah juga bersumpah dengan jiwa beriman yang bertakwa yang mengkritik pemiliknya saat meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, bahwa manusia akan dibangkitkan. Apakah manusia kafir itu menyangka Kami tidak kuasa mengumpulkan tulang belulangnya sesudah ia berserakan? Dugan itu salah besar, sebaliknya Kami akan mengumpulkannya, Kami Mahakuasa sesudah mengumpulkannya dan menyatukannya untuk membentuk dan menyusun kembali jari-jari dan ruas-ruasnya sebagaimana sebelum dia mati.

بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah

 4.  Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.

بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ

bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah

 5.  Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ

yas`alu ayyāna yaumul-qiyāmah

 6.  Ia berkata: “Bilakah hari kiamat itu?”

5-6. Manusia mengingkari kebangkitan, dia ingin tetap berbuat dosa pada umurnya yang tersisa, orang kafir ini bertanya sebagai ungkapan tidak mungkinnya Hari Kiamat terjadi, “Kapankah Hari Kiamat?”

فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ

fa iżā bariqal-baṣar

 7.  Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),

وَخَسَفَ الْقَمَرُ

wa khasafal-qamar

 8.  dan apabila bulan telah hilang cahayanya,

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

wa jumi’asy-syamsu wal-qamar

 9.  dan matahari dan bulan dikumpulkan,

يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ

yaqụlul-insānu yauma`iżin ainal-mafarr

 10.  pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari?”

7-10. Ketika pandangan mata terbelalak, terkejut ketakutan melihat kengerian pada Hari Kiamat, rembulan hilang cahayanya, matahari dan rembulan dikumpulkan, cahaya keduanya sama-sama hilang, tidak ada lagi cahaya bagi keduanya; saat itu manusia bertanya, “Kemana tempat berlari dari azab?”

كَلَّا لَا وَزَرَ

kallā lā wazar

 11.  sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!

11-12. Perkaranya tidak sebagaimana yang kamu angankan (wahai manusia) bahwa kamu bisa berlari. Tidak ada tempat untuk berlari dan selamat. Hanya kepada Allah semata tempat kembali seluruh makhluk pada Hari Kiamat, maka Allah membalas masing-masing sesuai dengan yang berhak dia dapatkan.

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

ilā rabbika yauma`iżinil-mustaqarr

 12.  Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

yunabba`ul-insānu yauma`iżim bimā qaddama wa akhkhar

 13.  Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

13. Hari itu manusia diberitahu semua amal-amalnya, yang baik dan yang buruk, apa yang dia lakukan selama hidupnya dan apa yang ia lalaikan?

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

balil-insānu ‘alā nafsihī baṣīrah

 14.  Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,

وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ

walau alqā ma’āżīrah

 15.  meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

14-15. Manusia adalah hujjah yang terang atas dirinya sendiri yang mengikatnya dengan apa yang dia lakukan dan apa yang dia tinggalkan, sekalipun dia menghadirkan segala alasan atas kejahatannya, ia tidak bermanfaat baginya.

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

lā tuḥarrik bihī lisānaka lita’jala bih

 16.  Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

inna ‘alainā jam’ahụ wa qur`ānah

 17.  Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

fa iżā qara`nāhu fattabi’ qur`ānah

 18.  Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

ṡumma inna ‘alainā bayānah

 19.  Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

16-19. Jangan menggerakan lisanmu (wahai Nabi) untuk membaca al-Quran saat wahyu turun, agar kamu bisa menghapalnya dengan cepat karena kamu khawatir ia akan terlewatkan darimu. Sesungguhnya kewajiban Kamilah mengumpulkannya di dalam dadamu, kemudian Kami membacakannya dengan lisanmu kapan kamu berkehendak. Bila Rasul Kami, Jibril, membacakannya kepadamu, maka dengarkanlah bacaannya dan diamlah, kemudian bacalah sebagaimana dia membacakannya kepadamu, kemudian Kami-lah yang akan menjelaskan apa yang musykil bagimu pemahamannya dari makna-makna dan hukum-hukumnya.

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ

kallā bal tuḥibbụnal-‘ājilah

 20.  Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,

20-21. Perkaranya tidak sebagaimana yang kalian klaim (wahai kaum musyrikin) bahwa tidak ada kebangkitan, dan tidak ada pembalasan amal, sebaliknya kalian adalah orang-orang yang mencintai dunia dan perhiasannya, meninggalkan dan melalaikan akhirat dengan segala kenikmatannya.

وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

wa tażarụnal-ākhirah

 21.  dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

wujụhuy yauma`iżin nāḍirah

 22.  Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

ilā rabbihā nāẓirah

 23.  Kepada Tuhannyalah mereka melihat.

22-23. Wajah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat akan berbinar, bersuka cita dan bergembira, wajah-wajah itu akan melihat Penciptanya dan pemegang urusannya, maka wajah-wajah itu mendapatkan kenikmatan karenanya.

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ

wa wujụhuy yauma`iżim bāsirah

 24.  Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,

تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

taẓunnu ay yuf’ala bihā fāqirah

 25.  mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.

24-25. Sedangkan wajah orang-orang yang sengsara pada Hari Kiamat bermuram durja dan cemberut, wajah-wajah itu yakin akan ditimpa musibah besar yang menghancurkan tulang punggung mereka.

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ

kallā iżā balagatit-tarāqī

 26.  Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

wa qīla man rāq

 27.  dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”,

وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ

wa ẓanna annahul-firāq

 28.  dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ

waltaffatis-sāqu bis-sāq

 29.  dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan),

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

ilā rabbika yauma`iżinil-masāq

 30.  kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.

26-30. Benar, ketika ruh telah naik ke dada bagian atas, sebagian hadirin berkata kepada sebagian lainnya, “Adakah peruqyah yang bisa meruqyah dan menyembuhkan apa yang dialaminya?” yang bersangkutan yakin bahwa apa yang terjadi padanya adalah perpisahannya dengan alam dunia, karena dia telah menyaksikan malaikat maut dengan matanya, beban berat perpisahan dunia bertemu dengan beban berat awal perjumpaan dengan akhirat. Hanya kepada Allah semata para hamba akan dikumpulkan, selanjutnya surga atau neraka.

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ

fa lā ṣaddaqa wa lā ṣallā

 31.  Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,

وَلَٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

wa lāking każżaba wa tawallā

 32.  tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran),

ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰ

ṡumma żahaba ilā ahlihī yatamaṭṭā

 33.  kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).

أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ

aulā laka fa aulā

 34.  Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,

ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ

ṡumma aulā laka fa aulā

 35.  kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.

31-35. Orang kafir itu tidak beriman kepada Rasul dan al-Quran, serta dia menunaikan kewajiban shalat untuk Allah, sebaliknya dia malah mendustakan al-Quran, berpaling dan menolak beriman, kemudian dia kembali kepada keluarganya dengan berjalan penuh kesombongan. Celakalah kamu dan celakalah, kemudian celakalah kamu dan celakalah.

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

a yaḥsabul-insānu ay yutraka sudā

 36.  Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ

a lam yaku nuṭfatam mim maniyyiy yumnā

 37.  Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ

ṡumma kāna ‘alaqatan fa khalaqa fa sawwā

 38.  kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,

فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ

fa ja’ala min-huz-zaujainiż-żakara wal-unṡā

 39.  lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.

أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ

a laisa żālika biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā

 40.  Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

36-40. Apakah manusia pengingkar kebangkitan ini menyangka akan dibiarkan begitu saja, tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak dihisab dan tidak dihukum? Bukankah manusia itu dulunya hanya setetes air hina dari sperma yang dikeluarkan dan dimasukkan ke rahim, kemudian ia menjadi segumpal darah yang beku, lalu Allah menciptakan dari manusia ini dua jenis; laki-laki dan wanita. Bukankah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu ini Mahakuasa untuk mengembalikan seluruh makhluk sesudah mereka fana? Tentu, karena sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Related: Surat al-Insan Arab-Latin, Surat al-Mursalat Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat an-Naba, Terjemahan Tafsir Surat an-Naziat, Isi Kandungan Surat ‘Abasa, Makna Surat at-Takwir

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surah Al Qiyamah Surah Al Qiyamah Latin Al Qiyamah Latin Surat Al Kiyamah Makna Surat Al Qiyamah