Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Fushshilat

حم

Arab-Latin: ḥā mīm

Terjemah Arti:  1.  Haa Miim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Ha Mim), pembicaraan tentang huruf-huruf terpisah (seperti ini) telah hadir di awal Surat al-Baqarah.

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

tanzīlum minar-raḥmānir-raḥīm

 2.  Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Al-Qur’an yang mulia ini diturunkan dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dia menurunkannya kepada Nabi-Nya, Muhammad.

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

kitābun fuṣṣilat āyātuhụ qur`ānan ‘arabiyyal liqaumiy ya’lamụn

 3.  Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,

Sebuah kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan dengan sempurna, serta makna-makna dan hukum-hukumnya diterangkan dengan baik, yang merupakan bacaan dalam bahasa Arab yang mudah untuk dipahami bagi kaum yang mengetahui bahasa Arab.

بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

basyīraw wa nażīrā, fa a’raḍa akṡaruhum fa hum lā yasma’ụn

 4.  yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.

Yang menyampaikan berita gembira dengan pahala di dunia dan di akhirat, bagi siapa yang beriman dan beramal sesuai dengan tuntunannya, juga memberikan peringatan dengan azab di dunia dan di akhirat, bagi siapa yang kafir kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia justru berpaling darinya, mereka tidak mendengarnya dengan pendengaran untuk menerima dan memenuhi seruannya.

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ

wa qālụ qulụbunā fī akinnatim mimmā tad’ụnā ilaihi wa fī āżāninā waqruw wa mim baininā wa bainika ḥijābun fa’mal innanā ‘āmilụn

 5.  Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”.

Orang-orang kafir yang berpaling itu berkata kepada Nabi Muhammad, “Hati kami terkunci yang menghalangi kami untuk bisa memahami apa yang kamu serukan, telinga kami tersumbat sehingga kami tidak mendengar, diantara kami dan kamu terdapat penghalang (wahai Muhammad), sehingga kami tidak memenuhi ajakanmu, maka beramallah sesuai dengan ajaran agamamu, sebagaimana kami juga beramal sesuai dengan tuntunan agama kami.”

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

qul innamā ana basyarum miṡlukum yụḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥidun fastaqīmū ilaihi wastagfirụh, wa wailul lil-musyrikīn

 6.  Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,

الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

allażīna lā yu`tụnaz-zakāta wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn

 7.  (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.

6-7. katakanlah kepada mereka (wahai rasul), “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang sama dengan kalian, hanya saja Allah mewahyukan kepadaku, bahwa Tuhan kalian yang berhak kalian sembah hanyalah Tuhan yang Esa yang tiada sekutu bagiNya, maka tempuhlah jalan yang menyampaikan kepadaNya dan carilah ampunanNya. Kebinasaan dan siksaan bagi orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah berupa berhala-berhala yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mudarat, yaitu orang-orang yang tidak menyucikan diri mereka dengan mentauhidkan Tuhan mereka dan ikhlas kepadaNya, tidak menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya, sehingga dia tidak memiliki keikhlasan kepada Yang Maha Pencipta dan tidak pula manfaat kepada makhluk dan mereka tidak beriman kepada kebangkitan, mereka juga tidak beriman kepada surga dan neraka.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnụn

 8.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah, RasulNya, kitabNya dan melakukan amal-amal shalih dengan ikhlas dalam melakukannya, bagi mereka pahala besar yang tidak terputus dan tidak terhalangi.”

۞ قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ۚ ذَٰلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ

qul a innakum latakfurụna billażī khalaqal-arḍa fī yaumaini wa taj’alụna lahū andādā, żālika rabbul-‘ālamīn

 9.  Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”.

katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik seraya menyalahkan dan memperlihatkan keheranan terhadap perbuatan mereka, “Apakah kalian benar-benar kafir kepada Allah yang menciptakan bumi dalam dua hari, kalian mengangkat sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan bagi Allah dan menyembah mereka di samping menyembahNya? Padahal Pencipta itu hanya Allah, Tuhan semesta alam.”

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ

wa ja’ala fīhā rawāsiya min fauqihā wa bāraka fīhā wa qaddara fīhā aqwātahā fī arba’ati ayyām, sawā`al lis-sā`ilīn

 10.  Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

Dan Allah meletakkan di permukaan bumi gunung-gunung yang kokoh, Allah memberkahinya sehingga ia selalu memberikan kebaikan kepada penghuninya, dan juga menetapkan rizki-rizki penduduknya berupa makanan dan sarana-sarana kehidupan yang mereka perlukan dalam empat hari sempurna. Dua hari untuk menciptakan bumi, dua hari untuk menetapkan gunung-gunung dan menetapkan makanan penduduknya, yang memadai bagi orang-orang yang bertanya tentang hal ini untuk mengetahuinya.

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

ṡummastawā ilas-samā`i wa hiya dukhānun fa qāla lahā wa lil-arḍi`tiyā ṭau’an au karhā, qālatā atainā ṭā`i’īn

 11.  Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

Kemudian Allah bersemayam, yaitu menuju langit yang sebelumnya adalah kabut, lalu Dia berfirman kepada langit dan bumi, “Tunduklah kalian berdua kepada perintahKu, dengan sukarela atau terpaksa.” Maka keduanya menjawab, “Kami menghadap kepadaMu dengan tunduk, kami tidak memiliki keinginan yang mnyelisihi keinginanMu.”

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

fa qaḍāhunna sab’a samāwātin fī yaumaini wa auḥā fī kulli samā`in amrahā, wa zayyannas-samā`ad-dun-yā bimaṣābīḥa wa ḥifẓā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

 12.  Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Allah menyelesaikan penciptaan langit-langit yang tujuh dan menyempurnakannya dalam dua hari, maka sempurnalah penciptaan langit dan bumi adalah enam hari, karena sebuah hikmah yang Allah ketahui, padahal Allah kuasa untuk menciptakan keduanya dalam sesaat. Dan Allah mewahyukan di setiap langit apa yang Dia inginkan dan perintahkan padanya. Dan Kami menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang bersinar sebagai penjagaan baginya dari setan-setan yang mencuri-curi pendengaran. Penciptaan yang unik itu adalah penetapan dari Allah yang Mahaperkasa dan kerajaanNya, juga MahaMengetahui, di mana IlmuNya meliputi segala sesuatu.

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

fa in a’raḍụ fa qul anżartukum ṣā’iqatam miṡla ṣā’iqati ‘ādiw wa ṡamụd

 13.  Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”.

Bila orang-orang yang mendustakan itu berpaling, setelah dijelaskan kepada mereka sifat-sifat al-Qur’an yang terpuji dan sifat-sifat Allah yang agung, maka katakanlah kepada mereka, “Aku sudah memperingatkan kalian dari azab yang membinasakan kalian seperti azab yang menimpa kaum Ad dan Tsamud saat mereka kafir kepada Tuhan mereka dan mendurhakai utusan-utusan mereka.”

إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

iż jā`at-humur-rusulu mim baini aidīhim wa min khalfihim allā ta’budū illallāh, qālụ lau syā`a rabbunā la`anzala malā`ikatan fa innā bimā ursiltum bihī kāfirụn

 14.  Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah”. Mereka menjawab: “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya”.

Saat para Rasul datang kepada kaum Ad dan Tsamud, sebagian datang sesudah yang lain secara berkesinambungan, memerintahkan mereka agar menyembah Allah semata, yang tidak ada sekutu bagiNya, maka mereka berkata kepada rasul-rasul mereka, “Sekiranya tuhan kami berkehendak agar kami mentauhidkanNya dan tidak menyembah selainNya, niscaya Dia menurunkan malaikat dari langit sebagai utusan-utusan kepada kami, yang menyampaikan apa yang kalian sampaikan kepada kami, Dia tidak mengutus kalian karena kalian adalah manusia yang sama dengan kami. Sesungguhnhya kami mengingkari apa yang Allah mengutus kalian dengannya kepada kami untuk beriman dan mengesakanNya.”

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

fa ammā ‘ādun fastakbarụ fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa qālụ man asyaddu minnā quwwah, a wa lam yarau annallāhallażī khalaqahum huwa asyaddu min-hum quwwah, wa kānụ bi`āyātinā yaj-ḥadụn

 15.  Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.

Adapun Ad, kaum Hud, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi terhadap manusia tanpa haq. Mereka berkata dengan penuh kesombongan, “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” apakah mereka tidak melihat bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih kuat dan lebih hebat daripada mereka? Mereka adalah orang-orang yang ingkar kepada dalil-dalil dan hujjah-hujjjah Kami.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَىٰ ۖ وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ

fa arsalnā ‘alaihim rīḥan ṣarṣaran fī ayyāmin naḥisātil linużīqahum ‘ażābal-khizyi fil-ḥayātid-dun-yā, wa la’ażābul-ākhirati akhzā wa hum lā yunṣarụn

 16.  Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.

Maka Kami mengirimkan kepada mereka angin yang sangat dingin dengan suara yang mengguntur di hari-hari yang membawa sial kepada mereka, agar mereka merasakan azab kehinaan dan kerendahan di dunia, dan azab akhirat benar-benar lebih menghinakan dan lebih merendahkan, mereka tidak ditolong dengan dicegahnya azab dari mereka.

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

wa ammā ṡamụdu fa hadaināhum fastaḥabbul-‘amā ‘alal-hudā fa akhażat-hum ṣā’iqatul-‘ażābil-hụni bimā kānụ yaksibụn

 17.  Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

Sedangkan Tsamud, kaum Shaleh, maka Kami menjelaskan kepada mereka jalan kebenaran dan jalan yang lurus, namun mereka memilih kesesatan di atas petunjuk, maka halilintar yang menghinakan membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa yang mereka lakukan dan kekafiran mereka kepada Allah dan pendustaan mereka terhadap utusan-utusan Allah.

وَنَجَّيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

wa najjainallażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

 18.  Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.

Dan Kami menyelamatkan orang-orang beriman dari azab yang menimpa Ad dan Tsamud, dan orang-orang yang selamat itu adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya.

وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

wa yauma yuḥsyaru a’dā`ullāhi ilan-nāri fa hum yụza’ụn

 19.  Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya.

حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ḥattā iżā mā jā`ụhā syahida ‘alaihim sam’uhum wa abṣāruhum wa julụduhum bimā kānụ ya’malụn

 20.  Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.

19-20. Pada hari di mana musuh-musuh Allah di seret ke Neraka Jahanam, para malaikat Zabaniyah menggiring mereka dari awal hingga akhir mereka. Sehingga saat mereka tiba di neraka, mereka mengingkari dosa-dosa mereka, maka pada saat itu pendengaran,penglihatan, dan kulit mereka bersaksi dengan apa yang mereka lakukan di dunia berupa dosa dan kesalahan

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa qālụ lijulụdihim lima syahittum ‘alainā, qālū anṭaqanallāhullażī anṭaqa kulla syai`iw wa huwa khalaqakum awwala marratiw wa ilaihi turja’ụn

 21.  Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.

Musuh-musuh Allah yang digiring ke neraka itu berkata mengingkari kulit-kulit mereka, “Mengapa kalian bersaksi memberatkan kami?” maka kulit-kulit itu menjawab, “Allah yang membuat kami berbicara, Dia-lah yang membuat segala sesuatu berbicara, Dia-lah yang menciptakan kalian pertama kali saat kalian bukan apa-apa dan hanya kepadaNya tempat kembali kalian setelah kematian untuk menghadapi perhitungan amal dan pembalasan.

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ

wa mā kuntum tastatirụna ay yasy-hada ‘alaikum sam’ukum wa lā abṣārukum wa lā julụdukum wa lākin ẓanantum annallāha lā ya’lamu kaṡīram mimmā ta’malụn

 22.  Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.

وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa żālikum ẓannukumullażī ẓanantum birabbikum ardākum fa aṣbaḥtum minal-khāsirīn

 23.  Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

22-23. Kalian tidak bersembunyi saat melakukan kemaksiatan-kemaksiatan karena takut bila pendengaran, penglihatan dan kulit kalian akan bersaksi memberatkan kalian di Hari Kiamat. Akan tetapi kalian mengira dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan bahwa Allah tidak mengetahui banyak dari amal-amal perbuatan kalian yang dengannya kalian mendurhakaiNya. Itulah dugaan buruk kalian yang kalian sangkakan terhadap Tuhan kalian, ia mencelakakan kalian dan membuat kalian masuk neraka, maka di hari ini kalian termasuk orang-orang yang merugi pada diri dan keluarga mereka.

فَإِنْ يَصْبِرُوا فَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَسْتَعْتِبُوا فَمَا هُمْ مِنَ الْمُعْتَبِينَ

fa iy yaṣbirụ fan-nāru maṡwal lahum, wa iy yasta’tibụ fa mā hum minal-mu’tabīn

 24.  Jika mereka bersabar (menderita azab) maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.

jika mereka bersabar menerima azab, maka neraka adalah tempat tinggal mereka, dan bila mereka minta kembali ke dunia untuk memulai amal shalih, maka permintaan mereka tidak dituruti dan alasan-alasan tidak diterima dari mereka.

۞ وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

wa qayyaḍnā lahum quranā`a fa zayyanụ lahum mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu fī umaming qad khalat ming qablihim minal-jinni wal-ins, innahum kānụ khāsirīn

 25.  Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

Dan Kami menyiapkan untuk orang-orang zhalim yang ingkar itu kawan-kawan yang rusak dari setan jin dan manusia, lalu para setan itu menghiasi perbuatan buruk mereka di dunia, dan mengajak mereka kepada kenikmatan dan syahwatnya yang haram, serta membuat mereka lalai terhadap kehidupan akhirat yang menanti mereka, sehingga mereka pun melupakannya dan tidak mengingatnya, para setan itu mengajak mereka untuk mendustakan hari kebangkitan, maka dengan itu mereka berhak masuk neraka bersama umat-umat terdahulu dari kalangan jin dan manusia yang kafir. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi (dalam) amal perbuatan mereka di dunia, dan terhadap diri serta keluarga mereka pada hari kiamat.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

wa qālallażīna kafarụ lā tasma’ụ lihāżal-qur`āni walgau fīhi la’allakum taglibụn

 26.  Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”.

Orang-orang kafir saling berwasiat diantara mereka, “Jangan mendengarkan al-Qur’an ini dan jangan menaatinya, jangan tunduk kepada perintah-perintahnya, buatlah kegaduhan dengan meninggakan siulan, suara dan teriakan kalian di depan Muhammad bila dia membaca al-Qur’an, agar kalian bisa mengalahkannya, lalu dia menghentikan bacaannya, maka kita menang atasnya.”

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

fa lanużīqannallażīna kafarụ ‘ażāban syadīdaw wa lanajziyannahum aswa`allażī kānụ ya’malụn

 27.  Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.

Kami pasti akan menimpakan kepada orang-orang yang mengucapkan kata-kata tersebut azab yang keras di dunia dan di akhirat, dan Kami pasti akan membalas mereka dengan pembalasan terburuk atas keburukan-keburukan yang mereka kerjakan.

ذَٰلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ ۖ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

żālika jazā`u a’dā`illāhin-nāru lahum fīhā dārul-khuld, jazā`am bimā kānụ bi`āyātinā yaj-ḥadụn

 28.  Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami.

Balasan yang diberikan kepada orang-orang kafir itu adalah balasan untuk musuh-musuh Allah, yaitu neraka. Ia adalah rumah langgeng dan abadi bagi mereka, sebagai balasan atas pengingkaran mereka terhadap ayat-ayat dan hujjah-hujjah Kami di dunia. Ayat ini menunjukkan besarnya kejahatan orang yang memalingkan manusia dari al-Qur’an yang agung dan menghalang-halangi mereka sehingga mereka tidak bisa merenungkannya dan mengambil petunjuk darinya dengan sarana apa pun.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا اللَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ

wa qālallażīna kafarụ rabbanā arinallażaini aḍallānā minal-jinni wal-insi naj’al-humā taḥta aqdāminā liyakụnā minal-asfalīn

 29.  Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”.

Orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasulNya berkata saat mereka di neraka, “Wahai Tuhan kami, tunjukkan lah kepada kami dua golongan dari makhlukMu yang menyesatkan kami dari kalangan jin dan manusia, kami akan meletakkan keduanya di bawah kaki kami, agar keduanya menjadi kerak api neraka.”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ tatanazzalu ‘alaihimul-malā`ikatu allā takhāfụ wa lā taḥzanụ wa absyirụ bil-jannatillatī kuntum tụ’adụn

 30.  Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya,” kemudian mereka beristiqamah di atas syariatNya, maka para malaikat turun kepada mereka saat kematian dan berkata kepada mereka, “Jangan takut mati dan apa yang sesudahnya, jangan bersedih atas perkara-perkara dunia yang kalian tinggalkan, dan berbahagialah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.”

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

naḥnu auliyā`ukum fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah, wa lakum fīhā mā tasytahī anfusukum wa lakum fīhā mā tadda’ụn

 31.  Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

nuzulam min gafụrir raḥīm

 32.  Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

31-32. Para malaikat berkata kepada mereka, “Kami adalah penolong-penolong kalian dalam kehidupan dunia, kami meluruskan langkah kalian dan menjaga kalian dengah perintah dari Allah, demikian pula di akhirat, kami tetap bersama kalian. Di dalam surga, kalian mendapatkan apa yang diinginkan oleh jiwa kalian dari apa-apa yang kalian pilih, dan juga menyenangkan pandangan mata kalian. Apa pun yang kalian minta, kalian mendapatkannya di depan kalian sebagai jamuan dan kenikmatan untuk kalian dari Allah yang Maha Pengampun terhadap dosa-dosa kalian dan Maha Penyayang kepada kalian.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa man aḥsanu qaulam mim man da’ā ilallāhi wa ‘amila ṣāliḥaw wa qāla innanī minal-muslimīn

 33.  Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Tidak ada yang lebih bagus perkataannya daripada seseorang yang mengajak kepada tauhid Allah dan penyembahan kepadaNya semata, lalu dia melakukan amal shalih dan dia berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim yang tunduk kepada perintah dan syariat Allah.” Ayat ini mengandung dorongan untuk berdakwah kepada Allah, menjelaskan keutamaan para ulama yang mengajak kepada Allah berdasarkan ilmu yang mantap (bashirah) sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

wa lā tastawil-ḥasanatu wa las-sayyi`ah, idfa’ billatī hiya aḥsanu fa iżallażī bainaka wa bainahụ ‘adāwatung ka`annahụ waliyyun ḥamīm

 34.  Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

wa mā yulaqqāhā illallażīna ṣabarụ, wa mā yulaqqāhā illā żụ ḥaẓẓin ‘aẓīm

 35.  Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.

34-35. Kebaikan orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah di atas syariatNya serta berbuat baik kepada makhlukNya, tidak sama dengan keburukan orang-orang yang kafir kepadaNya, menyelisihi perintahNya dan berbuat buruk kepada makhlukNya. Sikapilah (wahai Rasul) dengan maafmu, kesantunanmu dan kebaikanmu orang yang berbuat buruk kepadamu, balaslah keburukannya terhadapmu dengan kebaikanmu kepadanya, dengan itu orang yang berbuat buruk kepadamu, di mana antara dirimu dengan dirinya terdapat permusuhan, akan menjadi kawan akrab bagimu. Dan tidak dibimbing kepada sifat yang terpuji ini kecuali orang-orang yang sabar menghadapi gangguan dan hal-hal yang tidak diinginkan, membawa jiwa mereka kepada apa yang dicintai oleh Allah, dan tidak dibimbing kepadanya kecuali orang yang memiliki bagian besar dari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta’iż billāh, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

 36.  Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Jika setan membisikkan godaannya ke dalam hatimu untuk membalas orang yang berbuat buruk kepadamu dengan keburukan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dan bernaunglah kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar permohonanmu dan Maha Mengetahui segala urusan MakhlukNya.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qamar, lā tasjudụ lisy-syamsi wa lā lil-qamari wasjudụ lillāhillażī khalaqahunna ing kuntum iyyāhu ta’budụn

 37.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.

Diantara hujjah-hujjah Allah atas makhlukNya dan bukti-bukti keesaanNya dan kesempurnaan KuasaNya adalah silih bergantinya malam dengan siang dan saling mengejar di antara keduanya, silih bergantinya matahari dengan rembulan dan pergantian di antara keduanya. Semua ini dibawah pengaturan dan keperkasaan Allah. janganlah bersujud kepada matahari atau rembulan (karena keduanya adalah makhluk yang diatur) sebaliknya bersujudlah kepada Allah yang menciptakan mereka, bila kalian benar-benar tunduk kepada perintahNya, mendengar dan menaatiNya, menyembahNya semata, tidak ada sekutu bagiNya.

فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ ۩

fa inistakbarụ fallażīna ‘inda rabbika yusabbiḥụna lahụ bil-laili wan-nahāri wa hum lā yas`amụn

 38.  Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.

Bila orang-orang musyrik itu menyombongkan diri dengan menolak untuk sujud kepada Allah, maka sesungguhnya para malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidak menyombongkan diri untuk itu, sebaliknya mereka bertasbih dan menyucikan Allah dari segala kekurangan di waktu siang dan malam, mereka tak henti-hentinya melakukan itu dan tidak pernah bosan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa min āyātihī annaka taral-arḍa khāsyi’atan fa iżā anzalnā ‘alaihal-mā`ahtazzat wa rabat, innallażī aḥyāhā lamuḥyil-mautā, innahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

 39.  Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Diantara tanda-tanda keesaan dan Kuasa Allah adalah bahwa kamu melihat bumi kering dan tidak ada tanaman padanya, lalu bila Kami menurunkan hujan atasnya, maka kehidupan pun menggeliat padanya, ia bergerak dengan tumbuhnya pohon-pohon yang membesar dan meninggi. Sesungguhnya Allah Yang menghidupkan bumi setelah kegersangannya ini juga berkuasa menghidupkan makhluk setelah kematian mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka sebagaimana tidak ada yang mampu melemahkan kuasa Allah dalam menumbuhkan bumi yang mati, maka tidak ada yang mampu melemahkan kuasa-Nya untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.

إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا ۗ أَفَمَنْ يُلْقَىٰ فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

innallażīna yul-ḥidụna fī āyātinā lā yakhfauna ‘alainā, a fa may yulqā fin-nāri khairun am may ya`tī āminay yaumal-qiyāmah, i’malụ mā syi`tum innahụ bimā ta’malụna baṣīr

 40.  Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, di mana mereka kafir kepada al-Qur’an dan merubahnya, tidaklah samar bagi Kami, sebaliknya Kami mengetahui mereka. Maka apakah orang yang menyimpang dalam ayat-ayat Allah ini yang akan dicampakkan ke dalam api neraka lebih baik atau orang yang datang di Hari Kiamat dalam keadaan aman dari azab Allah dan dia berhak atas pahalaNya karena dia beriman kepadaNya dan membenarkan ayat-ayatNya? Berbuatlah kalian (wahai orang-orang yang menyimpang) sesuka kalian, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat amal perbuatan kalian, tiada sedikit pun yang samar bagiNya, dan Dia akan membalas kalian atas itu. Dalam ayat ini mengandung ancaman bagi mereka.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

innallażīna kafarụ biż-żikri lammā jā`ahum, wa innahụ lakitābun ‘azīz

 41.  Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

lā ya`tīhil-bāṭilu mim baini yadaihi wa lā min khalfih, tanzīlum min ḥakīmin ḥamīd

 42.  Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

41-42. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Al-Quran itu dan mendustakannya saat ia datang kepada mereka adalah orang-orang yang celaka lagi disiksa. Sesungguhnya al-Quran ini adalah kitab yang mulia dengan pemuliaan dari Allah dan penjagaanNYa terhadapnya dari segala perubahan dan pergantian, kebatilan tidak menyusupinya dari arah manapun dan tidak ada sesuatu pun yang membatalkannya, ia terjaga sehingga tidak bisa dikurangi atau ditambah, diturunkan dari Allah yang Mahabijaksana dengan mengatur segala perkara hamba-hambaNya, Dia Mahaterpuji karena Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ

mā yuqālu laka illā mā qad qīla lir-rusuli ming qablik, inna rabbaka lażụ magfiratiw wa żụ ‘iqābin alīm

 43.  Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.

Orang-orang musyrik itu tidak berkata kepadamu (wahai Rasul) kecuali apa yang telah dikatakan oleh umat-umat sebelum mereka kepada utusan-utusan mereka. Maka bersabarlah atas apa yang kamu dapatkan di jalan dakwah kepada Allah. Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemilik ampunan bagi dosa orang-orang yang bertaubat, namun Dia juga pemilik hukuman bagi siapa yang mempertahankan kekafiran dan mendustakan.

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

walau ja’alnāhu qur`ānan a’jamiyyal laqālụ lau lā fuṣṣilat āyātuh, a a’jamiyyuw wa ‘arabiyy, qul huwa lillażīna āmanụ hudaw wa syifā`, wallażīna lā yu`minụna fī āżānihim waqruw wa huwa ‘alaihim ‘amā, ulā`ika yunādauna mim makānim ba’īd

 44.  Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Sekiranya Kami menjadikan al-Quran yang telah Kami turunkan kepadamu ini (wahai Rasul) dengan bahasa Ajam (selain Arab), niscaya orang-orang musyrik akan berkata, “Mengapa ayat-ayatnya tidak dijelaskan kepada kami agar kami bisa memahami dan mengetahuinya?” apakah patut al-Quran ini dengan bahasa Ajam sedangkan ia diturunkan kepada pemilik lisan Arab? Hal ini tidak terjadi. Katakanlah kepada mereka (wahai Rasul) “Al-Quran ini bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya adalah hidayah dari kesesatan, kesembuhan bagi apa yang ada di dalam dada berupa keragu-raguan dan penyakit. Dan orang-orang yang tidak beriman kepada al-Quran, telinga mereka tuli sehingga tidak mendengarnya dan tidak merenungkannya, sedangkan hati mereka juga buta terhadap al-Quran sehingga tidak mengambil petunjuk darinya. Orang-orang musyrik itu adalah seperti orang yang dipanggil dari tempat yang jauh, dia tidak mendengar suara pemanggilnya dan tidak pula menjawabnya.”

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ ۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba fakhtulifa fīh, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum, wa innahum lafī syakkim min-hu murīb

 45.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. Dan Sesungguhnya mereka terhadap Al Quran benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan.

Sungguh Kami telah memberikan Taurat kepada Musa, sebagaimana Kami juga memberimu al-Quran (wahai Rasul), lalu kaum Musa berselisih padanya, diantara mereka ada yang beriman dan diantara mereka ada yang mendustakan. Kalau bukan karena kalimat (ketetapan) yang mendahului dari Tuhanmu untuk menunda azab dari kaummu, niscaya mereka diberi keputusan pasti dengan membinasakan orang-orang kafir saat itu juga. Sesungguhnya orang-orang musyrik benar-benar dalam keraguan terhadap al-Quran dengan keraguan yang berat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

man ‘amila ṣāliḥan falinafsihī wa man asā`a fa ‘alaihā, wa mā rabbuka biẓallāmil lil-‘abīd

 46.  Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.

Barangsiapa melakukan amal shalih, di mana dia menaati Allah dan RasulNya, maka pahala amal perbuatannya adalah untuk dirinya sendiri,. Barangsiapa melakukan perbuatan buruk di mana dia mendurhakai Allah dan RasulNya, maka keburukan perbuatannya adalah tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak menzhalimi hamba-hambaNya dengan mengurangi kebaikan mereka atau menambah keburukan mereka.

۞ إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۚ وَمَا تَخْرُجُ مِنْ ثَمَرَاتٍ مِنْ أَكْمَامِهَا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ أَيْنَ شُرَكَائِي قَالُوا آذَنَّاكَ مَا مِنَّا مِنْ شَهِيدٍ

ilaihi yuraddu ‘ilmus-sā’ah, wa mā takhruju min ṡamarātim min akmāmihā wa mā taḥmilu min unṡā wa lā taḍa’u illā bi’ilmih, wa yauma yunādīhim aina syurakā`ī qālū āżannāka mā minnā min syahīd

 47.  Kepada-Nya-lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?”, mereka menjawab: “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)”.

Hanya kepada Allah semata, yang tidak ada sekutu bagiNya ilmu tentang kiamat dikembalikan, karena tak seorang pun selain Allah yang mengetahui saatnya tiba, tidak ada yang keluiar dari buah-buahan dari pohonnya, tidak ada wanita hamil atau melahirkan kecuali Allah mengetahuinya, tida ada sesuatupun yang samar bagi Allah. Di Hari Kiamat Allah  memanggil orang-orang musyik, memperjelekan mereka dan memperlihatkan kebohongan mereka, “Di mana sekutu-sekutu yang kalian sembah bersamaKu?” Mereka menjawab, “Sekarang kami mengatakan kepadaMu bahwa tidak ada seorang pun dari kami yang bersaksi bahwa Engkau memiliki sekutu.”

وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَدْعُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَظَنُّوا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ

wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yad’ụna ming qablu wa ẓannụ mā lahum mim maḥīṣ

 48.  Dan hilang lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka satu jalan keluarpun.

Orang-orang musyrik itu ditinggalkan oleh sekutu-sekutu mereka yang dulu mereka sembah di dunia selain Allah, sekutu-sekutu itu tidak berguna apa pun bagi mereka, dan mereka pun meyakini bahwa tidak ada tempat berlari untuk selamat dari siksa Allah, dan tidak ada tempat bersembunyi darinya.

لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

lā yas`amul-insānu min du’ā`il-khairi wa im massahusy-syarru fa ya`ụsung qanụṭ

 49.  Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

Manusia tidak merasa bosan untuk selalu berdo’a kepada Tuhan-nya meminta kebaikan dunia, namun bila dia ditimpa kemiskinan dan kesulitan, maka dia berputus asa dari rahmat Allah, berputus harapan dengan berburuk sangka kepada Tuhanya.

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَىٰ ۚ فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

wa la`in ażaqnāhu raḥmatam minnā mim ba’di ḍarrā`a massat-hu layaqụlanna hāżā lī wa mā aẓunnus-sā’ata qā`imataw wa la`ir ruji’tu ilā rabbī inna lī ‘indahụ lal-ḥusnā, fa lanunabbi`annallażīna kafarụ bimā ‘amilụ wa lanużīqannahum min ‘ażābin galīẓ

 50.  Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.

Bila kami berikan kenikmatan kepada manusia setelah sebelumnya dia ditimpa kesulitan dan ujian, maka dia tidak bersyukur kepada Allah  sebaliknya dia melampui batas dan berkata, “ Ini semuanya adalah milikiku karena aku memang berhak atasnya dan aku tidak yakin hari kiamat akan datang. Ini adalah pengingkaran darinya terhadap kebangkitan. Kalaupun Kiamat tetap datang dan aku akan kembali kepada Tuhanku, maka aku akan tetap mendapatkan syurga.” Di Hari Kiamat nanti Kami akan mengabarkan kepada orang-orang kafir tentang keburukan-kaburukan yang mereka kerjakan dan Kami akan membuat mereka merasakan azab yang keras.

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

wa iżā an’amnā ‘alal-insāni a’raḍa wa na`ā bijānibih, wa iżā massahusy-syarru fa żụ du’ā`in ‘arīḍ

 51.  Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.

Bila Kami memberikan kenikmatan kepada manusia dengan kesehatan atau rizki atau lainya, maka dia berpaling dan menyombongkan diri sehingga dia menolak kepada kebenaran. Bila dia ditimpa kesulitan, maka dia banyak berdo’a kepada Allah agar mengangkat kesulitanya. Dia mengetahui Tuhanya saat dia berada dalam keadaan susah dan tidak mengenalNya dalam keadaan senang.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

qul a ra`aitum ing kāna min ‘indillāhi ṡumma kafartum bihī man aḍallu mim man huwa fī syiqāqim ba’īd

 52.  Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu jika (Al Quran) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?”

Katankanlah wahai Rasul kepada oarang-orang yang mendustakan itu, “ Sampaikan pendapat kalian kepadaku bila Al- Qur’an ini memang datang dari sisi Allah kemudian kalian mengingkari dan mendustakanya, maka tidak ada yang lebih sesat dari kalian, karena kalian dalam keadaan menyelisihi yang jauh dari kebenaran dengan kekafiran kepada Al-Qur’an dan pendustaan kalian.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

sanurīhim āyātinā fil-āfāqi wa fī anfusihim ḥattā yatabayyana lahum annahul-ḥaqq, a wa lam yakfi birabbika annahụ ‘alā kulli syai`in syahīd

 53.  Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Kami akan memperlihatkan kepada orang-orang yang mendustakan itu ayat-ayat Kami berupa kemenangan dan keungulan islam yang menaklukan negri-negri dan menggungguli agama-agama, dari penjuru langit dan belahan bumi, peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada keduanya dan pada diri mereka sendiri yang mengandung keajaiban penciptaan Allah dan Ayat-AyatNya, sehingga dari ayat-ayat tersebut mereka mengetahui dengan jelas dan tidak menyisakan keraguan bahwa al-Qur’an yang mulia ini adalah haq yang di wahyukan kepadamu dari Tuhan semesta alam. Apakah kesaksian Allah  belum cukup bukti bahwa al-Qur’an adalah haq dan orang yang membawanya adalah benar? Allah telah bersaksi dengan membenarkanya dan Dia Maha menyaksikan segala sesuatu, dan tidak ada kesaksian yang lebih besar dari pada kesaksian Allah.

أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ ۗ أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ

alā innahum fī miryatim mil liqā`i rabbihim, alā innahụ bikulli syai`im muḥīṭ

 54.  Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Ketahuilah, bahwa orang-orang kafir itu dalam keraguan yang besar terhadap kebangkitan sesudah mati. Ketahulah, bahwa sesungguhnya ilmu, kemuliaan, dan kuasa Allah meliputi segala sesuatu, tiada sesuatupun di langit dan di bumi yang samar baginya.

Related: Surat asy-Syura Arab-Latin, Surat az-Zukhruf Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat ad-Dukhan, Terjemahan Tafsir Surat al-Jatsiyah, Isi Kandungan Surat al-Ahqaf, Makna Surat Muhammad

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surat Fussilat Ayat 7 44