Surat Fussilat Ayat 46

مَّنْ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ

Arab-Latin: Man 'amila ṣāliḥan falinafsihī wa man asā`a fa 'alaihā, wa mā rabbuka biẓallāmil lil-'abīd

Terjemah Arti: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Barangsiapa melakukan amal shalih, di mana dia menaati Allah dan RasulNya, maka pahala amal perbuatannya adalah untuk dirinya sendiri,. Barangsiapa melakukan perbuatan buruk di mana dia mendurhakai Allah dan RasulNya, maka keburukan perbuatannya adalah tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak menzhalimi hamba-hambaNya dengan mengurangi kebaikan mereka atau menambah keburukan mereka.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

46. Barangsiapa melakukan amal saleh, maka manfaat amal salehnya kembali kepada dirinya. Amal saleh seseorang tidak bermanfaat buat Allah. Barangsiapa melakukan perbuatan buruk, maka dampak buruknya kembali kepada pelakunya sendiri. Kemaksiatan seseorang tidak merugikan Allah sedikit pun. Allah akan membalas masing-masing hamba sesuai haknya. Rabbmu -wahai Rasul- tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, tidak mengurangi kebaikan mereka dan tidak menambah keburukan mereka.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

46. Allah menjelaskan keadilan-Nya terhadap para hamba: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih dengan mentaati Allah, maka manfaat dari amalannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat buruk dengan bermaksiat terhadap Allah dan rasul-Nya, maka mudharat dari keburukannya itu akan kembali pada dirinya sendiri juga. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi seorangpun dengan menyiksa seseorang tanpa kesalahan.”

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

46. وَمَا رَبُّكَ بِظَلّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ (dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya)
Sehingga tidak mengazab seseorang kecuali karena dosa-dosanya.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

46. Barangsiapa beramal shalih maka manfaatnya akan kembali kepada dirinya dan barangsiapa beramal buruk maka kemudharatannya akan kembali kepadanya juga. Tidaklah Tuhanmu itu Dzat yang menyesatkan dan menghukum seorang kecuali karena dosanya

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

(Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri) ia beramal untuk dirinya sendiri (dan barang siapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri) bahaya dari perbuatan jahatnya itu kembali kepada dirinya sendiri (dan sekali-kali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba-Nya) Dia bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya sebagaimana yang telah diungkapkan oleh ayat lainnya, yaitu firman-Nya, "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang pun walaupun sebesar dzarrah." (Q.S. An-Nisa, 40).

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

46. “barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih,” yaitu amal yang diperintahkan oleh Allah dan oleh RasulNya,”maka untuk dirinya sendiri,”yakni manfaat dan pahalanya di dunia maupun di akhirat.”dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka akan menimpa dirinya sendiri,” yakni bahaya dan siksaannya di dunia maupun diakhirat.
Disini terkandung himbauan untuk melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan, dan orang yang berbuat baik akan mendapat manfaat dari kebaikan dan akan mendapat bahaya dari amal-amal buruk yang mereka kerjakan, dan sesungguhnya seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. “dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hama,” sehingga membebani seseorang melebihi kesahan-kesalahannya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Yaitu amal yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, adanya akibat dari amal yang dilakukan, dan bahwa seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain.

Seperti memikulkan kepada hamba dosa-dosa di luar dosa mereka.

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Oleh sebab itu, sadarilah apa yang telah diajarkan oleh Al-Qur'an itu bahwa barang siapa mengerjakan kebajikan maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat maka dosanya menjadi tanggungan dirinya sendiri, bukan dibebankan kepada orang lain. Dan tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya yang durhaka itu. 47. Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa tidak seorang pun yang mampu mengetahui terjadinya kiamat, hanya kepada-Nyalah ilmu tentang hari kiamat itu dikembalikan. Hanya dia yang maha mengetahui kapan terjadinya dan perincian kejadiannya. Tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya, dan tidak seorang perempuan pun yang mengandung dan yang melahirkan, melainkan semuanya dengan sepengetahuan-Nya. Dialah yang mengetahui secara pasti dan segala perinciannya. Pada hari kiamat itu, dia (Allah) menyeru mereka, yakni orang-orang musyrik, 'di manakah sekutu-sekutu-ku itu, yaitu berhala-berhala yang di dunia dahulu kamu sembah dan kamu duga dapat menyelamatkanmu dari siksaan-ku'' mereka menjawab, 'kami nyatakan kepada engkau bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat menjadi saksi yang memberi kesaksian pada hari ini. '.

Lainnya: Fussilat Ayat 47 Arab-Latin, Fussilat Ayat 48 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Fussilat Ayat 49, Terjemahan Tafsir Fussilat Ayat 50, Isi Kandungan Fussilat Ayat 51, Makna Fussilat Ayat 52

Terkait: « | »

Kategori: 041. Fussilat

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi