Surat Fussilat Ayat 51

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ أَعْرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ

Arab-Latin: Wa iżā an'amnā 'alal-insāni a'raḍa wa na`ā bijānibih, wa iżā massahusy-syarru fa żụ du'ā`in 'arīḍ

Terjemah Arti: Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Bila Kami memberikan kenikmatan kepada manusia dengan kesehatan atau rizki atau lainya, maka dia berpaling dan menyombongkan diri sehingga dia menolak kepada kebenaran. Bila dia ditimpa kesulitan, maka dia banyak berdo’a kepada Allah agar mengangkat kesulitanya. Dia mengetahui Tuhanya saat dia berada dalam keadaan susah dan tidak mengenalNya dalam keadaan senang.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

51. Jika Kami memberi manusia nikmat berupa kesehatan, keselamatan dan yang sepertinya, maka manusia lalai dari mengingat Allah maupun menaati-Nya, dia berpaling ke samping dengan kesombongan. Namun bila manusia ditimpa musibah berupa penyakit, kemiskinan dan yang sepertinya, maka ia akan berdoa kepada Allah berulang kali, mengadukan apa yang menimpanya kepada Allah agar Allah mengangkatnya, ia tidak bersyukur kepada Rabbnya bila Rabbnya memberinya kenikmatan, ia tidak sabar atas ujian Rabbnya manakala Dia mengujinya.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

51. Dan jika Kami memberi kenikmatan kepada manusia, maka dia berpaling dari rasa syukur kepada Allah Yang telah memberi kenikmatan; namun jika dia tertimpa musibah maka dia akan banyak berdoa.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

51. وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسٰنِ (Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia)
Ini merupakan tabiat manusia secara umum.

أَعْرَضَ(ia berpaling)
Yakni berpaling dari rasa syukur.

وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ(dan menjauhkan diri)
Yakni angkuh dan sombong serta enggan untuk melakukan ketaatan.

وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ(tetapi apabila ia ditimpa malapetaka)
Yakni musibah, kesulitan, kemiskinan, dan penyakit.

فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ(maka ia banyak berdoa)
Yakni jika dia tertimpa keburukan maka dia tunduk kepada Allah dan memohon pertolongan dari-Nya dengan harapan dapat diangkat apa yang telah menimpanya, dia akan berulang-ulang melakukan ini. Dia mengingat Allah dikala tertimpa musibah dan melupakan-Nya dikala lapang; dia memohon pertolongan ketika musibah datang dan meninggalkan-Nya ketika mendapat kenikmatan. Ini merupakan perbuatan orang-orang kafir, serta orang-orang Islam yang tidak kokoh dalam agamanya.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

51. Jika kami memberi nikmat kepada manusia, maka dia akan tidak bersyukur kepada yang memberi nikmat itu dan enggan menerima kebenaran. Dan jika dia tertimpa musibah berupa kefakiran atau sakit maka dia akan banyak-banyak berdoa secara terus-menerus. Ayat-ayat ini diturunkan untuk orang-orang kafir seperti Walid bin Mughirah dan Utbah bin Rabi’ah.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

(Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia) yang dimaksud adalah jenis manusia (ia berpaling) tidak mau bersyukur (dan menjauhkan diri) yakni memutarkan badannya seraya menyombongkan diri; menurut suatu qiraat lafal Na-aa dibaca dengan didahulukan huruf Hamzahnya (tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa) banyak permintaannya.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

51. “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia,” berupa kesehatan, rizki, atau lainnya “ia berpaling” dari Rabbnya dan dari mensyukuriNya, “dan menjauhkan diri,” maksudnya, menghindarkan diri “di sampingNya,” dengan sukap takjub dan sombong. “Tetapi apabila ia ditimpa malapetaka,” maksudnya, penyakit, kefakiran, atau lainnya, “maka ia banyak berdoa,” sangat sering sekali berdoa karena tidak mempunyai kesabaran.
Tidak ada kesabaran saat ditimpa kesusahan dan tidak ada syukur saat mendapat kelapangan, kecuali orang yang diberi hidayah oleh Allah dan diberi karuniaNYa.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Seperti kesehatan dan rezeki.

Dari Tuhannya dan dari bersyukur kepada-Nya.

Seperti sakit, kemiskinan dan lainnya.

Yakni karena tidak kuat bersabar di samping keadaannya yang tidak bersyukur saat mendapatkan kesenangan.

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Dan demikian pula halnya apabila kami berikan nikmat dan berbagai kebajikan kepada manusia, dia berpaling dari kami dengan mengingkari nikmat-nikmat itu dan menjauhkan diri dari ajaran-ajaran kami dengan sombong. Akan tetapi, apabila ditimpa malapetaka sebagai peringatan atas keingkaran dan kesombongan mereka, maka dia banyak berdoa dengan doa yang panjang. 52. Ayat ini menggambarkan kesesatan orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an. Katakanlah kepada mereka, wahai nabi Muhammad, 'bagaimana pendapatmu jika dia, yakni Al-Qur'an, yang kamu tolak tuntunannya dan keberadaannya itu benar-benar datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Jika demikian halnya, maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh dari kebenaran seperti keadaan kamu'' pastilah tidak ada yang lebih sesat.

Lainnya: Fussilat Ayat 52 Arab-Latin, Fussilat Ayat 53 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Fussilat Ayat 54, Terjemahan Tafsir Asy-Syura Ayat 1, Isi Kandungan Asy-Syura Ayat 2, Makna Asy-Syura Ayat 3

Terkait: « | »

Kategori: 041. Fussilat

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi