Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ath-Thur

وَالطُّورِ

Arab-Latin: waṭ-ṭụr

Terjemah Arti:  1.  Demi bukit,

وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ

wa kitābim masṭụr

 2.  dan Kitab yang ditulis,

فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ

fī raqqim mansyụr

 3.  pada lembaran yang terbuka,

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

wal-baitil-ma’mụr

 4.  dan demi Baitul Ma’mur,

وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ

was-saqfil-marfụ’

 5.  dan atap yang ditinggikan (langit),

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1-6. Allah bersumpah dengan Thur, yaitu gunung dimana Allah berbicara kepada Musa, juga dengan kitab yang tertulis, yaitu al-Quran dalam shuhuf-shuhuf yang terbuka, juga dengan Baitul Ma’mur di langit yang ramai oleh para malaikat yang selalu menghadirinya, juga dengan atap yang terangkat, yaitu langit terdekat, dan dengan lautan yang bergejolak yang penuh dengan air,

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

wal-baḥril-masjụr

 6.  dan laut yang di dalam tanahnya ada api,

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ

inna ‘ażāba rabbika lawāqi’

 7.  sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi,

مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ

mā lahụ min dāfi’

 8.  tidak seorangpun yang dapat menolaknya,

يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا

yauma tamụrus-samā`u maurā

 9.  pada hari ketika langit benar-benar bergoncang,

وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا

wa tasīrul-jibālu sairā

 10.  dan gunung benar-benar berjalan.

7-10. sesungguhnya azab Tuhanmu (wahai Rasul) pasti akan menimpa orang-orang kafir, tidak ada yang menghalanginya saat ia datang. Hari yang saat itu langit bergerak, tatanannya rusak, penjuru-penjurunya goncang, itu adalah akhir hidup dunia. Gunung-gunung terangkat dari tempatnya, ia berjalan seperti awan.

فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

fa wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

 11.  Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,

الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ

allażīna hum fī khauḍiy yal’abụn

 12.  (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan,

11-12. Kebinasaan pada hari itu menimpa orang-orang yang mendustakan, yaitu orang-orang yang membicarakan kebatilan dan bermain-main didalamnya, menjadikan agama mereka sebagai bahan olokan dan permainan.

يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا

yauma yuda”ụna ilā nāri jahannama da”ā

 13.  pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.

هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

hāżihin-nārullatī kuntum bihā tukażżibụn

 14.  (Dikatakan kepada mereka): “Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya”.

13-14. Di hari itu orang-orang yang mendustakan akan didorong dengan keras dan terhina ke Neraka Jahanam. Kepada mereka dikatakan sebagai celaan, “Inilah api neraka yang dulu kalian dustakan”.

أَفَسِحْرٌ هَٰذَا أَمْ أَنْتُمْ لَا تُبْصِرُونَ

a fa siḥrun hāżā am antum lā tubṣirụn

 15.  Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?

15-16. Apakah azab yang kalian saksikan ini hanyalah sihir belaka atau kalian memang tidak melihat? Rasakanlah panasnya api neraka ini. Kalian bersabar dalam merasakan rasa sakit dan panasnya atau tidak ( itu sama saja), karena azab tidak akan diringankan dari kalian. Kalian tidak akan keluar darinya, sama saja kalian sabar atau tidak. Sesungguhnya kalian hanya dibalas atas apa yang kalian lakukan di dunia.”

اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

iṣlauhā faṣbirū au lā taṣbirụ, sawā`un ‘alaikum, innamā tujzauna mā kuntum ta’malụn

 16.  Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ

innal-muttaqīna fī jannātiw wa na’īm

 17.  Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan,

فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

fākihīna bimā ātāhum rabbuhum, wa waqāhum rabbuhum ‘ażābal-jaḥīm

 18.  mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka.

17-18. Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam surga-surga dan kenikmatan yang besar. Mereka menikmati apa yang Allah berikan kepada mereka dari berbagai bentuk kesenangan, dan Allah menyelamatkan mereka dari azab api neraka.

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn

 19.  (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”,

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

muttaki`īna ‘alā sururim maṣfụfah, wa zawwajnāhum biḥụrin ‘īn

 20.  mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.

19-20. Makanlah makanan yang nikmat dan minumlah minuman yang lezat, sebagai balasan atas amal-amal shalih yang kalian kerjakandi dunia. Mereka bersandar diatas ranjang-ranjang yang berhadap-hadapan. Kami memberi mereka pasangan wanita-wanita yang berkulit putih, bermata lebar dan cantik-cantik.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

wallażīna āmanụ wattaba’at-hum żurriyyatuhum bi`īmānin alḥaqnā bihim żurriyyatahum wa mā alatnāhum min ‘amalihim min syaī`, kullumri`im bimā kasaba rahīn

 21.  Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Dan orang-orang beriman, dan anak-anak mereka juga ikut beriman, Kami menyusulkan anak-anak mereka dengan mereka dalam derajat mereka di surga sekalipun amal mereka tidak mencapai amal bapak-bapak mereka, agar para bapak berbahagia dengan anak-anak mereka yang mendapatkan kedudukan sama dengan mereka. Mereka dipersatukan dalam suasana yang membahagiakan. Kami tidak mengurangi sedikit pun dari balasan amal mereka. Setiap orang tergadaikan dengan amalnya, tidak memikul dosa orang lain.

وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

wa amdadnāhum bifākihatiw wa laḥmim mimmā yasytahụn

 22.  Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.

يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ

yatanāza’ụna fīhā ka`sal lā lagwun fīhā wa lā ta`ṡīm

 23.  Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.

22-23. Kami menambahkan disamping nikmat-nikmat tersebut buah-buahan dan daging yang nikmat dan disukai. Dan diantara kenikmatan itu, adalah mereka saling menyuguhkan gelas-gelas khamar, salah seorang dari mereka menyuguhkannya kepada rekannya, ini melengkapi kegembiraan mereka. Minuman ini tidak sama dengan khamar dunia, akal peminumnya tidak tertutup, tidak menyebarkan mabuk dan tidak mengakibatkan ucapan-ucapan batil dan maksiat.

۞ وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ

wa yaṭụfu ‘alaihim gilmānul lahum ka`annahum lu`lu`um maknụn

 24.  Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.

Para pelayan berkeliling di sekitar mereka yang disiapkan untuk melayani mereka, mereka seperti mutiara yang terjaga dalam kebeningan, kulit mereka yang putih, dan kerapiannya.

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

wa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

 25.  Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya.

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

qālū innā kunnā qablu fī ahlinā musyfiqīn

 26.  Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”.

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

fa mannallāhu ‘alainā wa waqānā ‘ażābas-samụm

 27.  Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.

إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

innā kunnā ming qablu nad’ụh, innahụ huwal-barrur-raḥīm

 28.  Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.

25-28. Para penghuni surga datang, sebagian bertanya kepada sebagian yang lain tentang kenikmatan besar yang mereka dapatkan dan sebabnya. Mereka berkata, “kami di dunia saat berada berada di tengah keluarga kami adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan kami, takut kepada azabNya di Hari Kiamat. Lalu Allah memberi kami nikmat hidayah dan taufik, Allah menjaga kami dari azab beracun Neraka Jahanam, yakni api dan panasnya. Sesungguhnya kami sebelum ini beribadah dengan rendah hati kepada Allah semata tidak menyekutukanNya dengan apa pun, maka Allah menjaga kami dari azab neraka dan menyampaikan kami ke surga yang penuh kenikmatan ini. Allah menjawab doa kami dan memberi kami apa yang kami minta. Sesungguhnya Allah Mahabaik lagi Maha Penyayang di antara kebaikan Allah dan dan rahmatNYa kepada kami adalah Dia memberikan ridha dan surgaNya, serta menjaga kami dari murkaNya dan neraka.”

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

fa żakkir fa mā anta bini’mati rabbika bikāhiniw wa lā majnụn

 29.  Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila.

Peringatkanlah (wahai rasul) orang-orang yang kepada mereka kamu diutus. Kamu karena nikmat Tuhanmu kepadamu berupa kenabian dan kekuatan akal, bukanlah seorang dukun yang mengabarkan perkara ghaib tanpa ilmu, bukan pula orang gila yang tidak mengerti apa yang diucapkan sebagaimana yang mereka klaim.

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ

am yaqụlụna syā’irun natarabbaṣu bihī raibal-manụn

 30.  Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”.

قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ

qul tarabbaṣụ fa innī ma’akum minal-mutarabbiṣīn

 31.  Katakanlah: “Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu”.

30-31. Atau apakah orang-orang musyrik itu berkata kepadamu (wahai Rasul) “Dia penyair yang menunggu ajal kematian”? katakanlah kepada mereka, “Silakan menunggu kematianku, sesungguhnya aku bersama kalian menunggu azab Allah atas kalian. Kalian akan tahu akibat baik itu milik siapa.”

أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَٰذَا ۚ أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

am ta`muruhum aḥlāmuhum bihāżā am hum qaumun ṭāgụn

 32.  Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?

Bahkan apakah orang-orang yang mendustakan itu diperintahkan oleh akal mereka agar mengatakan kata-kata yang bertentangan ini? Hal itu karena kriteria dukun, penyair dan orang gila tidak mungkin terkumpul di saat yang sama. Mereka memang suatu kaum yang melampaui batas dalam kesombongan.

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ

am yaqụlụna taqawwalah, bal lā yu`minụn

 33.  Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman.

Bahkan apakah orang-orang musyrik itu berkata, “Muhammad membuat-buat al-Quran dari dirinya sendiri.” Sebenarnya mereka tidak beriman, bila mereka beriman, niscaya mereka tidak berkata demikian.

فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

falya`tụ biḥadīṡim miṡlihī ing kānụ ṣādiqīn

 34.  Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.

Silakan mereka mendatangkan perkataan yang semisal al-Quran, bila klaim mereka memang benar bahwa Muhammad yang membuat al-Quran.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

am khuliqụ min gairi syai`in am humul-khāliqụn

 35.  Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

Apakah orang-orang musyrik itu diciptakan tanpa pencipta ataukah mereka sendiri yang menciptakan diri mereka? Keduanya adalah batil dan mustahil. Dengan ini jelaslah dengan pasti bahwa hanya Allah semata Yang Mencipta mereka, hanya Dia semata yang berhak untuk disembah, dan ibadah tidak layak kecuali untukNYa.

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

am khalaqus-samāwāti wal-arḍ, bal lā yụqinụn

 36.  Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).

Atau apakah mereka menciptakan langit dan bumi dengan penciptaan yang indah ini? Sebaliknya mereka tidak percaya kepada azab Allah, maka mereka adalah orang-orang musyrik.

أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

am ‘indahum khazā`inu rabbika am humul-muṣaiṭirụn

 37.  Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?

Atau apakah mereka memiliki perbendaharaan Tuhanmu sehingga mereka bisa bertindak terhadapnya atau mereka adalah orang-orang berkuasa, yang menguasai makhluk Allah dengan menundukkan dan mengalahkan mereka? Perkaranya tidak demikian, sebaliknya mereka adalah orang-orang lemah yang tidak mampu.

أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ ۖ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

am lahum sullamuy yastami’ụna fīh, falya`ti mustami’uhum bisulṭānim mubīn

 38.  Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.

Atau apakah mereka punya tangga ke langit yang dengannya mereka bisa mendengar wahyu langit bahwa apa yang mereka pegang merupakan kebenaran? Hendaknya mereka mendatangkan bukti yang nyata atas kebenaran apa yang mereka klaim.

أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ

am lahul-banātu wa lakumul-banụn

 39.  Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?

Apakah anak perempuan untuk Allah sedangkan anak lelaki untuk kalian sebagaimana yang kalian ucapkan secara dusta dan bohong?

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

am tas`aluhum ajran fa hum mim magramim muṡqalụn

 40.  Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?

Atau apakah kamu (wahai Rasul) meminta upah kepada orang-orang musyrik atas penyampaian risalah sehingga hal itu memberatkan dan menyusahkan mereka karena mereka harus memikul pembayaran yang kamu minta dari mereka?

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

am ‘indahumul-gaibu fa hum yaktubụn

 41.  Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?

Atau apakah mereka punya ilmu ghaib lalu mereka menulisnya untuk manusia dan mengabarkannya kepada mereka? Tidak demikian, karena tidak ada yang mengetahui hal ghaib di langit dan di bumi kecuali Allah semata.

أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ

am yurīdụna kaidā, fallażīna kafarụ humul-makīdụn

 42.  Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya.

Bahkan mereka hendak berbuat makar terhadap Rasulullah dan orang-orang yang beriman, akan tetapi justru makar orang-orang kafir itu kembali menimpa mereka sendiri.

أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

am lahum ilāhun gairullāh, sub-ḥānallāhi ‘ammā yusyrikụn

 43.  Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Atau apakah mereka memiliki sesembahan yang berhak disembah selain Allah? Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari apa yang mereka sekutukan. Allah tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan, Allah tidak mempunyai sekutu dalam kesaan dan ibadah.

وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ

wa iy yarau kisfam minas-samā`i sāqiṭay yaqụlụ saḥābum markụm

 44.  Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: “Itu adalah awan yang bertindih-tindih”.

Seandainya orang-orang musyrik itu melihat pecahan langit turun kepada mereka sebagai azab, niscaya mereka tetap memegang teguh sikap mereka, dan niscaya mereka berkata, “Ini hanya awan yang sebagian darinya bertumpuk di atas sebagian yang lain.”

فَذَرْهُمْ حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ

fażar-hum ḥattā yulāqụ yaumahumullażī fīhi yuṣ’aqụn

 45.  Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan,

Tinggalkanlah (wahai Rasul) orang-orang musyrik itu hingga mereka bertemu dengan hari yang pada saat itu mereka dibinasakan, yaitu Hari Kiamat.

يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

yauma lā yugnī ‘an-hum kaiduhum syai`aw wa lā hum yunṣarụn

 46.  (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong.

Di hari itu, tipu daya mereka tidak bisa menolak azab Allah sedikit pun dari mereka, tidak ada yang menolong mereka dari azab Allah.

وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَٰلِكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa inna lillażīna ẓalamụ ‘ażāban dụna żālika wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 47.  Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Sesungguhnya orang-orang zhalim itu akan mendapatkan azab yang akan mereka terima di dunia sebelum azab di Hari Kiamat, berupa pembunuhan, penawanan, siksa alam kubur dan lainnya, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

waṣbir liḥukmi rabbika fa innaka bi`a’yuninā wa sabbiḥ biḥamdi rabbika ḥīna taqụm

 48.  Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ

wa minal-laili fa sabbiḥ-hu wa idbāran-nujụm

 49.  dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).

48-49. Sabarlah (wahai rasul) dalam menerima keputusan Tuhanmu dan perintahNya yang telah memikulkan beban kerasulan di pundakmu, atas gangguan yang kamu terima dari kaummu, karena sesungguhnya kamu berada di bawah penglihatan, perhatian, dan penjagaan Kami. Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu saat kamu berdiri shalat, dan saat kamu bangun dari tidur. Dan dari sebagian malam hari, bertasbihlah memuji Tuhanmu dan agungkanlah Dia, dan shalatlah karenaNya. Lakukanlah hal itu pada Shalat Subuh saat bintang-bintang redup. Dalam ayat ini terkandung dalil yang menetapkan sifat “dua mata” bagi Allah sesuai dengan keagunganNya tanpa menyamakanNya dengan makhluk atau menetapkan bentuk DzatNya, Mahasuci Allah dan segala puji bagiNya, sebagaimana hal tersebut ditetapkan oleh as-Sunnah dan disepakati oleh generasi salaf umat ini. Lafazh “mata” hadir disini dengan kata jamak untuk pengagungan.

Related: Surat an-Najm Arab-Latin, Surat al-Qamar Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat ar-Rahman, Terjemahan Tafsir Surat al-Waqi’ah, Isi Kandungan Surat al-Hadid, Makna Surat al-Mujadilah

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!