Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat az-Zumar

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Arab-Latin: tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm

Terjemah Arti:  1.  Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Turunnya al-quran hanyalah dari Allah yang maha perkasa dalam kuasaNya dan pembalasanNya, juga mahabijaksana dalam pengaturan dan hukum-hukumNya.

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa’budillāha mukhliṣal lahud-dīn

 2.  Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu (wahai rasul) al-qur’an yang memerintahkan kepada kebenaran dan keadilan. maka sembahlah Allah semata dan ikhlaskanlah segala ketaatan hanya kepadaNya.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

alā lillāhid-dīnul-khāliṣ, wallażīnattakhażụ min dụnihī auliyā`, mā na’buduhum illā liyuqarribụnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifụn, innallāha lā yahdī man huwa kāżibung kaffār

 3.  Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Ingatlah hanya milik Alah semata segala ketaatan yang sempurna yang bebas dari syirik , dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan selainnya dan mengangkat sekutu-sekutu selainNya berkata ’Kami tidak menyembah tuhan-tuhan itu bersama Allah kecuali agar ia memberi syafaat kepada Kami di sisi Allah dan mendekatkan kedudukan Kami di sisiNya. Akibatnya mereka menjadi kafir karena itu, sebab ibadah dan syafaat hanya milik Allah semata. Sesungguhnya Alah menetapkan keputusanNya diantara orang-orang yang beriman yang ikhlas dengan orang-orang yang menyekutukanNya dengan sesuatu di hari kiamat dalam perkara yang mereka perselisihkan terkait dengan ibadah mereka, lalu Dia membalas masing-masing sesuai dengan haknya. Sesungguhnya Allah tidak memberikan taufik kepada jalan yang lurus bagi siapa yang berdusta atas nama Allah lagi kafir kepada ayat-ayat dan hujjah-hujjahNya.

لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

lau arādallāhu ay yattakhiża waladal laṣṭafā mimmā yakhluqu mā yasyā`u sub-ḥānah, huwallāhul-wāḥidul-qahhār

 4.  Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

Sekiranya Allah hendak mengangkat seorang anak, niscaya Dia memilih siapa yang Dia kehendaki dari makhlukNya maha suci Allah lagi maha tinggi dari kepemilikan terahadap anak, karena Dia maha esa lagi maha tunggal, dimana seluruh makhluk bergantung kepadaNya, yang maha perkasa yang menundukan seluruh makhlukNya dengan kuasaNya, maka segala sesuatu tunduk dan patuh kepadaNYa.

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, yukawwirul-laila ‘alan-nahāri wa yukawwirun-nahāra ‘alal-laili wa sakhkharasy-syamsa wal-qamar, kulluy yajrī li`ajalim musammā, alā huwal-‘azīzul-gaffār

 5.  Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara dengan haq, Dia mendatangkan malam dan menyirnakan siang, dan mendatangkan siang, dan menyirnakan malam. Dia juga menundukan matahari dari rembulan dengan tatanan yang teratur untuk kemaslahatan haba-hambaNya, masing-masing darinya beredar pada orbitnya sampai hari kiamat. ketauhilah bahwa sesungguhnya Allah melakukan semua itu dan Dia yang melimpahkan nikmat kepada makhlukNYa, maha pengampun terhadap dosa-dosa hambaNYa yang bertaubat kepadaNya.

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

khalaqakum min nafsiw wāḥidatin ṡumma ja’ala min-hā zaujahā wa anzala lakum minal-an’āmi ṡamāniyata azwāj, yakhluqukum fī buṭụni ummahātikum khalqam mim ba’di khalqin fī ẓulumātin ṡalāṡ, żālikumullāhu rabbukum lahul-mulk, lā ilāha illā huw, fa annā tuṣrafụn

 6.  Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

tuhan kalian telah menciptakan kalian (wahai manusia) dari Adam, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan Dia juga menciptakan delapan jenis hewan-hewan ternak, yaitu jantan dan betina dari unta, sapi, kambing, dan domba. Allah menciptakan kalian dalam rahim ibu kalian fase demi fase dalam kegelapan perut, Rahim dan selaput yang menutupi kalian dalam Rahim. Itulah Allah yang menciptakan semua ini, tuhan kalian pemilik tunggal segala kerajaan, yang diesakan dengan ibadah dan yang berhak untuk disembah semata, maka bagaimana kalian berpaling dari penyembahan kepadanya kepada selainNya dari makhlukNya?

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

in takfurụ fa innallāha ganiyyun ‘angkum, wa lā yarḍā li’ibādihil-kufr, wa in tasykurụ yarḍahu lakum, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji’ukum fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

 7.  Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.

jika kalian (wahai manusia) kafir kepada tuhan kalian dan tidak beriman kepadaNya, serta tidak mengikuti utusan-utusanNya, maka sesungguhnya Allah maha kaya dan tidak membutuhkan kalian, Dia tidak memiliki hajat kepada kalian, sebaliknya kalianlah yang membutuhkan Nya, dan Allah tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hambaNya dan tidak memerintahkan mereka melakukannya akan tetapi Dia hanya meridhai disyukurinya kenikmatanNya atas mereka. Satu jiwa tidak memikul beban dosa jiwa yang lain. Kemudian tempat kembali kalian adalah kepada tuhan kalian, lalu Dia membalas kalian sesuai dengan amal perbuatan kalian dan memperhitungkan kalian atasnya. Sesungguhnya Dia maha mengetahui segala rahasia jiwa dan apa yang disembunyikan oleh dada manusia.

۞ وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

wa iżā massal-insāna ḍurrun da’ā rabbahụ munīban ilaihi ṡumma iżā khawwalahụ ni’matam min-hu nasiya mā kāna yad’ū ilaihi ming qablu wa ja’ala lillāhi andādal liyuḍilla ‘an sabīlih, qul tamatta’ bikufrika qalīlan innaka min aṣ-ḥābin-nār

 8.  Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.

dan apabila manusia ditimpa oleh sebuah ujian, kesulitan dan wabah penyakit, maka dia mengingat Robbnya, kemudian dia memohon dan berdo’a kepada-Nya. Kemudian apabila Allah telah mengabulkan permintaanya dan mengangkat kesulitannya serta menggantinya dengan kenikmatan-Nya, maka dia lupa terhadap do’a-do’anya kepada Allah saat dia memerlukan-Nya, dan diapun menyekutukan-Nya dengan sesuatu untuk menyesatkan orang lain sehingga tidak beriman dan tidak taat kepada Allah. Katakanlah kepadanya (wahai rosul) seraya mengancam mereka “silahkan nikmati kekufuran kalian sebentar saja sampai kematian datang kepadamu dan ajalmu habis, sesungguhnya kamu termasuk penduduk neraka yang akan kekal di dalamnya”

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

am man huwa qānitun ānā`al-laili sājidaw wa qā`imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjụ raḥmata rabbih, qul hal yastawillażīna ya’lamụna wallażīna lā ya’lamụn, innamā yatażakkaru ulul-albāb

 9.  (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Apakah orang kafir yang menikmati kekufurannya ini lebih baik, ataukah seseorang yang beribadah kepada Rabbnya dan taat kepada-Nya, menghabiskan malamnya dalam shalat dan sujud kepada Allah, takut kepada adzab akhirat dan berharap rahmat Rabb-Nya? Katakanlah (wahai Rasul) Apakah sama orang-orang yang mengetahui Rabb mereka dan agama mereka yang haq dengan orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang hal itu? Tidak sama. Hanyasanya yang mengingatnya dan mengetahui perbedaannya adalah orang-orang yang berakal lurus

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

qul yā ‘ibādillażīna āmanuttaqụ rabbakum, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa arḍullāhi wāsi’ah, innamā yuwaffaṣ-ṣābirụna ajrahum bigairi ḥisāb

 10.  Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Katakanlah (wahai nabi) kepada hamba-hamba-Ku yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ‘Takutlah kalian kepada Rabb kalian dengan menaati-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini dengan beribadah kepada Rabb mereka dan menaati-Nya ada kebaikan di akhirat, yaitu surga dan kebaikan di dunia berupa kesehatan, rizki, kemenangan dan sebagainya. Dan Bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah kalian ke tempat di mana kalian bisa menyembah Rabb kalian dan memungkinkan kalian untuk melaksanakan agama kalian. Sesungguhnya hanya Orang-orang yang sabar yang diberi pahala di akhirat tanpa batasan, hitungan dan kadar. Ini adalah pengagungan terhadap balasan bagi orang-orang yang sabar dan pahala mereka.

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

qul innī umirtu an a’budallāha mukhliṣal lahud-dīn

 11.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ

wa umirtu li`an akụna awwalal-muslimīn

 12.  Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

11-12 Katakanlah (wahai rasul) kepada manusia, ”sesungguhnya Allah telah memerintahkanku dan orang-orang yang mengikutiku agar mengikhlaskan ibadah kepadaNYa semata, bukan kepada selainNya juga memerintahkanku agar menjadi orang pertama yang berserah diri kepadaNya dari umatku, tunduk dengan mentauhidkaNNya dan mengihlaskan ibadah kepadaNya serta berlepas diri dari segala macam tuhan yang disembah selain Allah.’

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

 13.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”.

katakanlah (wahai rasul) kepada manusia ”sesungguhnya aku takut bila aku mendurhakai tuhanku terkait apa yang Dia perintahkan kepadaku, yaitu agar aku menyembah Nya dan mengihklaskan ketaatan kepada Nya, maka aku akan ditimpa azab di hari kiamat, hari dimana kengerian padanya sangat besar.

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

qulillāha a’budu mukhliṣal lahụ dīnī

 14.  Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

fa’budụ mā syi`tum min dụnih, qul innal-khāsirīnallażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmah, alā żālika huwal-khusrānul-mubīn

 15.  Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

14-15 Katakanlah (wahai rasul) kepada manusia “sesungguhnya aku menyembah Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dengan mengikhlaskan iabadah dan ketaatanku hanya untukNya” maka sembahlah oleh kalian (wahai orang-orang musyrik) apa yang kalian ingin sembah selain Allah berupa berhala-berhala, patung-patung dan makhluk-mahklukNya yang lain, hal itu tidak merugikanku sedikitpun. ini adalah ancaman keras terhadap siapa yang menyembah selain Allah dan mempersekutukannya dengan Allah. katakalnlah (wahai rasul), ”sesungguhnya orang-orang yang benar-benar merugi adalah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarga mereka di hari kiamat dan hal itu dengan menyesatkan mereka dan mengahalang-halangi mereka dari beriman di dunia.” ketahuilah, bahwa kerugian orang-orang musyrik itu pada diri dan keluarga mereka di hari kiamat adalah kerugian yang jelas dan nyata.”

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

lahum min fauqihim ẓulalum minan-nāri wa min taḥtihim ẓulal, żālika yukhawwifullāhu bihī ‘ibādah, yā ‘ibādi fattaqụn

 16.  Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.

Orang-orang yang merugi itu pada hari kiamat berada di dalam neraka jahanam dimana mereka akan mendapatkan potongan-potongan azab neraka dari atas mereka seperti atap yang memayungi, dari bawah mereka juga demikian. Dengan azab yang seperti itulah Allah mempertakutkan hamba-hambaNya agar mereka mewaspadainya, wahai hamab-hambaku bertakwalah kepadaku dengan menjalankan perintah-perintah-Ku dan menjauhi larangan-larangan-Ku.

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ

wallażīnajtanabuṭ-ṭāgụta ay ya’budụhā wa anābū ilallāhi lahumul-busyrā, fa basysyir ‘ibād

 17.  Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

allażīna yastami’ụnal-qaula fa yattabi’ụna aḥsanah, ulā`ikallażīna hadāhumullāhu wa ulā`ika hum ulul-albāb

 18.  yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

17-18 Dan orang-orang yang menolak untuk taat kepada setan dan tidak menyembah kepada selain Allah, sebaliknya mereka bertaubat kepadaNya dengan beribadah kepadaNya seraya mengikhlasakn agama untukNya, bagi mereka adalah berita gembira dalam kehidupan dunia ini dengan sanjungan yang bagus dan taufik dari Allah dan di akhirat mereka mendapatkan ridha Allah dan kenikmatan yang abadi di dalam surga. Maka sampaikanlah berita gembira (wahai nabi) kepada hamba-hambaku yang mendengarkan perkataaan lalu mengikuti yang paling lurus darinya; dan sebaik-baik perkataan dan sekaligus paling lurus adalah firman Allah kemudian sabda rasulNya, mereka itulah orang-orang yang Allah berikan taufik kepada jalan yang lurus, Allah menunjukan kepada mereka akhlak dan perbuatan terbaik, dan mereka adalah orang-orang yang memiliki akal yang sempurna.

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ

a fa man ḥaqqa ‘alaihi kalimatul-‘ażāb, a fa anta tungqiżu man fin-nār

 19.  Apakah (kamu hendak merubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?

apakah orang yang berhak mendapatkan keputusan azab, karena dia terus menerus di atas kesesatan dan penenentangannya, sesungguhnya tidak ada cara bagimu (wahai rasul) untuk memberinya petunjuk; maka apakah kamu mampu menyelamatkan dari neraka? tidak, kamu tidak kuasa untuk melakukan itu.

لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ

lākinillażīnattaqau rabbahum lahum gurafum min fauqihā gurafum mabniyyatun tajrī min taḥtihal-an-hār, wa’dallāh, lā yukhlifullāhul-mī’ād

 20.  Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.

Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada tuhan mereka (dengan menaatiNya dan mengihklasakn ibadahnya hanya kepadaNya) bagi mereka di surga memperoleh kamar-kamar, sebagain darinya dibangun di atas sebagin yang lain, yang mana sungai-sungai mengalir dari bawah tempat tinggal dan kamar-kamar mereka, semua itu Allah janjikan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa sebagi janji yang pasti, dan Allah tidak akan menyelisihi janjiNya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

a lam tara annallāha anzala minas-samā`i mā`an fa salakahụ yanābī’a fil-arḍi ṡumma yukhriju bihī zar’am mukhtalifan alwānuhụ ṡumma yahīju fa tarāhu muṣfarran ṡumma yaj’aluhụ huṭāmā, inna fī żālika lażikrā li`ulil-albāb

 21.  Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Apakah kamu tidak melihat (wahai rasul), bahwa sesungguhnya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Dia memasukannya ke dalam tanah, menjadikannya mata air yang memancar dan air yang mengalir, kemudian dengan air ini Allah menumbuhkan tanam-tanaman yang beraneka ragam jenis dan warnanya, kemudian ia pun mengering setelah ia hijau segar, kamu melihatnya menguning, kemudian Allah menjadikannya kayu bakar yang lapuk dan hancur? sesungguhnya pada apa yang Allah lakukan itu benar-benar terkandung peringatan dan nasihat bagi orang-orang yang memiliki akal yang selamat.

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

a fa man syaraḥallāhu ṣadrahụ lil-islāmi fa huwa ‘alā nụrim mir rabbih, fa wailul lil-qāsiyati qulụbuhum min żikrillāh, ulā`ika fī ḍalālim mubīn

 22.  Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Apakah orang yang Allah lapangkan dadanya sehingga dia berbahagia dengan menerima islam tunduk dan beriman kepadaNya, sehingga Dia berjalan dengan ilmu yang jelas dan kehidupannya dan hidayah dari tuhannya, apakah dia sama dengan orang yang tidak seperti itu? tentu tidak sama. Celaka dan binasalah orang yang keras hatinya dan berpaling sehingga tidak mengingat Allah mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas kesesatan yang jelas dari kebenaran.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

allāhu nazzala aḥsanal-ḥadīṡi kitābam mutasyābiham maṡāniya taqsya’irru min-hu julụdullażīna yakhsyauna rabbahum, ṡumma talīnu julụduhum wa qulụbuhum ilā żikrillāh, żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā`, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

 23.  Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.

Allah lah yang menurunkan perkataan yang terbaik, yaitu al-qur’an yang agung sebagian yang lainnya mirip dengan sebagian yang lain dalam kebagusan, ketetapan hukumnya dan ketiadaan pertentangan di dalamnya, terkandung kisah-kisah yang diulang-ulang, hukum-hukum, hujjah hujjah dan keterangan-keterangan yang tilawahnya diulang namun jiwa tidak merasa bosan sekalipun sering di ulang-ulang, membuat merinding kulit orang-orang yang takut kepada tuhan mereka saat mendengarnya, karena mereka terpengaruh dengan ancaman siksa yang ada di dalamnya kemudian kulit dan hati mereka melunak karena berbagahagia dengan janji Allah yang ada di dalamnya, pengaruh al-qur’an terhadap diri itu merupakan hidayah Allah kepada hamba-hambaNya. dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dengan al-qur’an dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah dari beriman kepada Al-qur’an ini karena kekafiran dan penentangannya, maka tidak ada satupun yang bisa memberinya hidayah dan memberinya taufik.

أَفَمَنْ يَتَّقِي بِوَجْهِهِ سُوءَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ وَقِيلَ لِلظَّالِمِينَ ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

a fa may yattaqī biwaj-hihī sū`al-‘ażābi yaumal-qiyāmah, wa qīla liẓ-ẓālimīna żụqụ mā kuntum taksibụn

 24.  Maka apakah orang-orang yang menoleh dengan mukanya menghindari azab yang buruk pada hari kiamat (sama dengan orang mukmin yang tidak kena azab)? Dan dikatakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu balasan apa yang telah kamu kerjakan”.

Apakah orang-orang yang dicampakan kedalam api neraka dalam keadaan terbelenggu, sehingga dia tidak bisa melindungi diri dari neraka kecuali dengan wajahnya, karena kekafiran dan kesesatannya, lebih baik daripada orang yang mendapatkan kenikmatan di dalam surga karena Allah memberinya petunjuk? di hari itu dikatakan kepada orang-orang yang zhalim, ”rasakanlah akibat buruk dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dulu kalian usahakan di dunia.”

كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

każżaballażīna ming qablihim fa atāhumul-‘ażābu min ḥaiṡu lā yasy’urụn

 25.  Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul), maka datanglah kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sangka.

فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

fa ażāqahumullāhul-khizya fil-ḥayātid-dun-yā, wa la’ażābul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

 26.  Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.

25-26 Orang-orang sebelum kaummu (wahai rasul) juga telah mendustakan rasul-rasul mereka, lalu azab datang kepada mereka dari arah dimana mereka tidak menyangka bahwa ia akan datang, kemudian Allah membuat umat-umat yang mendustakan itu mencicipi azab dan kehinaan di dunia, dan di akhirat Allah menyediakan siksa yang lebih pedih dan lebih keras. Sekiranya orang-orang musyrik itu mengetahui bahwa apa yang menimpa mereka disebabkan kekafiran dan pendustaan mereka, niscaya mereka akan mengambil pelajaran.

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad darabnā lin-nāsi fī hāżal-qur`āni ming kulli maṡalil la’allahum yatażakkarụn

 27.  Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

qur`ānan ‘arabiyyan gaira żī ‘iwajil la’allahum yattaqụn

 28.  (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.

27-28 Sungguh kami telah membuat segala perumpamaan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah itu dari perumpamaan-perumpamaan umat-umat yang telah berlalu untuk mempertakutkan mereka dan memberi peringatan kepada mereka, sehingga mereka menyadari lalu meninggalkan apa yang mereka perbuat, yaitu kekafiran kepada Allah. Dan Kami menjadikan al-quran ini dengan bahasa arab yang lafazhnya jelas dan maknanya mudah, tidak ada kerancuan dan penyimpangan padanya, agar mereka bertakwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

ḍaraballāhu maṡalar rajulan fīhi syurakā`u mutasyākisụna wa rajulan salamal lirajulin hal yastawiyāni maṡalā, al-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

 29.  Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Allah membuat perumpamaan, yaitu seorang hamba sahaya yang dimiliki beberapa sekutu yang bertikai, sehingga hamba sahaya ini bingung dalam membuat mereka semuanya ridha, dan dengan seorang hamba lainnya yang hanya dimiliki oleh seorang pemilik saja, dia mengetahui apa yang diinginkan dan diridhoinya. Apakah mereka sama? Tentu saja tidak sama. Begitulah orang-orang musyrik, dia dalam kebingungan dan kebimbangan, sementara orang mukmin dalam ketenangan dan ketentraman. Maka pujian yang sempurna lagi lengkap hanyalah milik Allah semata, sebaliknya orang-orang musyrik tidak mengetahui kebenaran sehingga mereka tidak mengikutinya.

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

innaka mayyituw wa innahum mayyitụn

 30.  Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

ṡumma innakum yaumal-qiyāmati ‘inda rabbikum takhtaṣimụn

 31.  Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu.

30-31 Sesungguhnya engkau (wahai rasul), akan mati dan mereka juga akan mati. Kemudian kalian semuanya (wahai manusia) akan berselisih di hari kiamat di sisi tuhan kalian, sehingga Allah menetapkan keputusanNya dianatra kalian dengan adil dan obyektif.

۞ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

fa man aẓlamu mim mang każaba ‘alallāhi wa każżaba biṣ-ṣidqi iż jā`ah, a laisa fī jahannama maṡwal lil-kāfirīn

 32.  Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?

Tidak ada seseorang yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kebohongan atas Nama Allah dengan menisbahkan sesuatu kepada Allah yang tidak patut denganNya seperti sekutu dan anak, atau dia berkata, “Aku diberi wahyu.” Padahal dia tidak diberi wahyu apa pun. Dan tidak ada seorang pun yang lebih zhalim daripada seseorang yang mendustakan kebenaran yang turun kepada Muhammad. Bukankah neraka adalah tempat kembali dan tempat tinggal orang-orang yang kafir kepada Allah, tidak membenarkan Muhammad dan tidak melaksanakan apa yang dia bawa? Benar.

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

wallażī jā`a biṣ-ṣidqi wa ṣaddaqa bihī ulā`ika humul-muttaqụn

 33.  Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dan orang yang datang membawa kebenaran pada perkataan dan perbuatannya dari kalangan para nabi dan para pengikut mereka dan sekaligus membenarkannya dengan beriman dan mengamalkannya, mereka adalah orang-orang yang menggabungkan antara sifat-sifat takwa, dan dideretan depan dari mereka adalah penutup para nabi dan para rasul, Muhammad dan orang-orang yang beriman kepadanya, yang melaksanakan SyariatNya dari kalangan para sahabat serta orang-orang yang datang sesudah mereka hingga Hari Pembalasan.

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

lahum mā yasyā`ụna ‘inda rabbihim, żālika jazā`ul-muḥsinīn

 34.  Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik,

Bagi mereka apa yang mereka inginkan di sisi Tuhan mereka berupa berbagai bentuk kelezatan dan kesenangan. Itulah balasan orang yang menaati Tuhannya dengan sebenar-benarnya dan menyembahNya dengan sebanar-benarnya.

لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

liyukaffirallāhu ‘an-hum aswa`allażī ‘amilụ wa yajziyahum ajrahum bi-aḥsanillażī kānụ ya’malụn

 35.  agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Allah hendak menghapus perbuatan terburuk yang mereka kerjakan di dunia disebabkan mereka bertaubat dan kembali kepada Allah dengan meninggalkan keburukan yang mereka lakukan dan Allah membalas atas ketaatan mereka di dunia dengan balasan terbaik, yaitu surga.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

a laisallāhu bikāfin ‘abdah, wa yukhawwifụnaka billażīna min dụnih, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

 36.  Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.

Bukankah Allah telah menjaga hambaNya, Muhammad dari tipu daya dan makar orang-orang musyrik sehingga mereka tidak kuasa menimpakan keburukan kepadanya? Benar, sesungguhnya Allah mencukupkan untuknya baik dalam urusan agama dan dunianya, membelanya dari siapa yang hendak bertindak buruk terhadapnya. Dan mereka wahai Rasul, menakut-nakutimu dengan tuhan-tuhan mereka di mana mereka mengatakan bahwa ia akan menyakitimu. Barangsiapa yang dibiarkan oleh Allah lalu disesatkannya dari jalan kebenaran, maka tidak ada satu pun yang bisa memberinya petunjuk.

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ

wa may yahdillāhu fa mā lahụ mim muḍill, a laisallāhu bi’azīzin żintiqām

 37.  Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Barangsiapa diberikan taufik oleh Allah kepada iman dan melaksanakan kitabNya dan mengikuti rasulNya, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dari jalan kebenaran yang telah dipijaknya. Bukankah Allah itu Mahaperkasa dalam pembalasanNya terhadap orang-orang yang kafir diantara makhluk-Nya dan yang bermaksiat kepadaNya?

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunnallāh, qul a fa ra`aitum mā tad’ụna min dụnillāhi in arādaniyallāhu biḍurrin hal hunna kāsyifātu ḍurrihī au arādanī biraḥmatin hal hunna mumsikātu raḥmatih, qul ḥasbiyallāh, ‘alaihi yatawakkalul-mutawakkilụn

 38.  Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

Dan jika kamu (wahai rasul), bertanya kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah itu, “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?” niscaya mereka menjawab, “Allah yang menciptakannya.” Mereka mengakui yang Maha Pencipta. Maka katakanlah kepada mereka, “Apakah tuhan-tuhan yang kalian persekutukan dengan Allah itu mampu menjauhkan gangguan dariku yang telah Allah takdirkan kepadaku atau menimpakan keburukan atasku? Apakah ia mampu menahan manfaat yang Allah mudahkan kepadaku atau mencegah rahmat Allah kepadaku?” mereka akan menjawab, “Tidak mampu.” Maka katakanlah kepada mereka, “Allah yang mencukupkan dan menjagaku, kepadaNya-lah orang-orang bersandar dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan mereka. Maka Allah Yang di TanganNya semata ada kecukupan, cukup bagiku dan Dia akan melindungiku dari segala perkara yang membuatku berduka.”

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

qul yā qaumi’malụ ‘alā makānatikum innī ‘āmil, fa saufa ta’lamụn

 39.  Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,

مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

may ya`tīhi ‘ażābuy yukhzīhi wa yaḥillu ‘alaihi ‘ażābum muqīm

 40.  siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa oleh azab yang kekal”.

39-40. Katakanlah (wahai Rasul) kepada kaummu yang menentang keras, “Beramallah sesuai dengan keadaan kalian yang kalian ridhai untuk diri kalian, di mana kalian menyembah sesuatu yang tidak berhak disembah dan tidak memiliki dari urusan hidup sedikit pun, sementara aku juga menjalankan apa yang diperintahkan kepadaku, yaitu menghadapkan wajahku hanya kepada Allah semata dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatanku, maka kalian akan mengetahui siapa yang akan didatangi oleh azab yang menghinakannya di dunia, sedangkan di akhirat dia akan ditimpa siksa yang abadi, tidak berakhir dan tidak berkesudahan.”

إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

innā anzalnā ‘alaikal-kitāba lin-nāsi bil-ḥaqq, fa manihtadā fa linafsih, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu ‘alaihā, wa mā anta ‘alaihim biwakīl

 41.  Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (wahai Rasul), al-Qur’an dengan kebenaran sebagai hidayah bagi alam semesta kepada jalan yang lurus. Maka barangsiapa mengambil hidayah dari cahayanya, dan beramal dengan apa yang dikandungnya, serta beristiqamah di atas manhajnya, maka manfaatnya kembali kepada dirinya, dan sebaliknya barangsiapa tersesat setelah petunjuk itu jelas baginya, maka mudaratnya akan kembali menimpa dirinya sendiri, dia tidak sedikit pun akan memudaratkan Allah. Dan kamu (wahai rasul) bukanlah penjaga yang bertugas mengurusi amal perbuatan mereka, kamu tidak dihisab karenanya dan tidak kuasa melindungi siapa yang kamu kehendaki, karena tugasmu hanyalah menyampaikan.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

allāhu yatawaffal-anfusa ḥīna mautihā wallatī lam tamut fī manāmihā, fa yumsikullatī qaḍā ‘alaihal-mauta wa yursilul-ukhrā ilā ajalim musammā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

 42.  Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Allah- lah Yang mencabut nyawa saat ajalnya tiba. Wafat besar ini adalah wafat kematian saat ajal telah habis, dan Allah juga menahan arwah yang belum mati dalam tidurnya, dan ini adalah wafat kecil. Dari kedua arwah tersebut Allah menahan salah satu arwah yang ditetapkan kematiannya, yaitu arwah orang yang mati dan melepaskan yang lain untuk menyempurnakan ajal dan rizkinya dan hal itu dengan mengembalikannya ke jasad pemiliknya. Sesungguhnya dipegangnya arwah orang yang mati dan orang yang tidur, dilepaskannya arwah orang yang tidur dan ditahannya arwah orang yang mati oleh Allah mengandung petunjuk yang sangat jelas atas Kuasa Allah bagi siapa yang merenung dan berpikir.

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ

amittakhażụ min dụnillāhi syufa’ā`, qul a walau kānụ lā yamlikụna syai`aw wa lā ya’qilụn

 43.  Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”

Apakah orang-orang yang menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan mereka yang mereka sembah itu mengangkat tuhan-tuhan itu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka yang akan membantu menunaikan hajat mereka di hadapan Allah? katakanlah kepada mereka (wahai Rasul), “Apakah kalian akan tetap mengangkat mereka sebagai para pemberi syafa’at sekalipun tuhan-tuhan itu tidak memiliki apa pun dan tidak memahami ibadah kalian kepada mereka?”

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

qul lillahisy-syafā’atu jamī’ā, lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, ṡumma ilaihi turja’ụn

 44.  Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”

. Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik itu, “Hanya milik Allah seluruh syafa’at itu. Hanya milikNya apa yang ada di langit dan di bumi dan segala apa yang ada pada keduanya. Maka segala urusan adalah milik Allah semata, tidak seorang pun yang memberi syafa’at di sisiNya kecuali dengan izinNya, Dia-lah Pemilik langit dan bumi, Dia yang mengatur apa yang ada pada keduanya. Maka semestinya syafa’at itu diminta kepada Allah sebagai Pemiliknya dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya dan tidak diminta dari tuhan-tuhan yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudarat. Hanya kepada Allah kalian akan kembali setelah kematian untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal.”

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

wa iżā żukirallāhu waḥdahusyma`azzat qulụbullażīna lā yu`minụna bil-ākhirah, wa iżā żukirallażīna min dụnihī iżā hum yastabsyirụn

 45.  Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.

Bila Nama Allah semata disebut, maka akan menjauh hati orang-orang yang tidak beriman kepada kebangkitan setelah kematian. Namun bila berhala-berhala, patung-patung dan para wali yang disembah selain Allah itu disebut, maka mereka akan bersuka cita, karena syirik sesuai dengan hawa nafsu mereka.

قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

qulillāhumma fāṭiras-samāwāti wal-arḍi ‘ālimal-gaibi wasy-syahādati anta taḥkumu baina ‘ibādika fī mā kānụ fīhi yakhtalifụn

 46.  Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya”.

Katakanlah, “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi dan Pembuat keduanya tanpa contoh sebelumnya, Yang mengetahui yang rahasia dan yang nyata, Engkau menetapkan keputusan diantara hamba-hambaMu di Hari Kiamat dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan tentang perkataan terhadapMu, keagunganMu, kekuasaanMu, iman kepadaMu dan kepada RasulMu, bimbinglah aku kepada kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau membimbing siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” Ini adalah diantara doa Rasulullah dan ia adalah pengajaran kepada para hamba agar bersandar kepada Allah dan berdoa kepadaNya dengan nama-namaNya yang sangat baik dan sifat-sifatNya yang Mahatinggi.

وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ مِنْ سُوءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

walau anna lillażīna ẓalamụ mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ laftadau bihī min sū`il-‘ażābi yaumal-qiyāmah, wa badā lahum minallāhi mā lam yakụnụ yaḥtasibụn

 47.  Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.

Dan sekiranya orang-orang yang menyekutukan sesuatu dengan Allah itu mempunyai segala kekayaan dan perbendaharaan harta benda yang ada di bumi dan ditambah yang semisal dengannya, niscaya di Hari Kiamat nanti mereka akan rela melepasnya untuk menebus diri mereka dari pedihnya azab. Dan sekiranya mereka melepasnya dan hendak menebusnya, niscaya ia tetap tidak diterima, semua itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka dari azab Allah, dan di hari itu mereka mengetahui keputusan dan azab Allah yang tidak pernah mereka kira sebelumnya di dunia bahwa ia akan menimpa mereka.

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa badā lahum sayyi`ātu mā kasabụ wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 48.  Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.

Dan tampaklah bagi orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan itu balasan dari perbuatan buruk mereka yang mereka ada-adakan, dimana mereka menisbatkan apa yang tidak layak kepada Allah, melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dalam hidup mereka, sehingga siksa yang pedih mengepung mereka dari segala penjuru sebagai hukuman atas mereka karena peremehan mereka terhadap peringatan siksa yang disampaikan oleh Rasulullah dan mereka sama sekali tidak mempedulikannya

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

fa iżā massal-insāna ḍurrun da’ānā ṡumma iżā khawwalnāhu ni’matam minnā qāla innamā ụtītuhụ ‘alā ‘ilm, bal hiya fitnatuw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

 49.  Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

maka apabila manusia ditimpa kesulitan dan kemudaratan, dia memohon kepada Tuhannya agar mengangkat darinya, namun bila Kami menghilangkannya darinya apa yang telah menimpanya dan menggantinya dengan kenikmatan dari Kami, maka dia kembali kafir kepada Tuhannya dan mengingkari karuniaNya dan dia berkata, “Sesungguhnya apa yang aku dapatkan ini berdasarkan ilmu Allah bahwa aku memang layak dan berhak mendapatkannya.” Tidak demikian, sebaliknya itu adalah ujian dari Allah kepada hamba-hambaNya agar Dia melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kafir dari mereka, sekalipun kebanyakan dari mereka (karena kebodohan dan prasangka buruk mereka) tidak menyadari bahwa hal itu merupakan istidraj (penguluran waktu) dari Allah bagi mereka dan ujian dariNya atas mereka, apakah mereka akan mensyukuri nikmat-nikmatNya atau tidak.

قَدْ قَالَهَا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

qad qālahallażīna ming qablihim fa mā agnā ‘an-hum mā kānụ yaksibụn

 50.  Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.

Perkataan mereka ini telah diucapkan pula oleh orang-orang sebelum mereka dari kalangan umat-umat yang telah berlalu lagi mendustakan, maka harta dan anak-anak yang mereka usahakan (di dunia) tidak sedikit pun bisa membantu mereka saat azab Allah datang kepada mereka.

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا ۚ وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَٰؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ

fa aṣābahum sayyi`ātu mā kasabụ, wallażīna ẓalamụ min hā`ulā`i sayuṣībuhum sayyi`ātu mā kasabụ wa mā hum bimu’jizīn

 51.  Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.

Maka akibat buruk dari perbuatan buruk tersebut menimpa orang-orang yang mengucapkan perkataan tersebut dari kalangan umat-umat terdahulu, dan akibat perbuatan buruk yang mereka lakukan berupa kehinaan hidup di dunia menimpa mereka. Dan orang-orang yang menzhalimi diri mereka dari kaummu (wahai Rasul) mengucapkan perkataan ini, mereka juga akan ditimpa akibat buruk dari buruknya perbuatan mereka, sebagaimana hal itu juga telah menimpa orang-orang sebelum mereka, dan mereka tidak akan bisa menyelamatkan diri atau berlari dari Allah.

أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a wa lam ya’lamū annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

 52.  Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Apakah orang-orang itu tidak mengetahui bahwa rizki Allah kepada manusia bukan merupakan bukti kebaikan hidup pemiliknya, karena sesungguhnya Allah, berdasarkan hikmahNya yang mendalam, melapangkan rizkiNya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya, baik dia shalih ataupun durjana, dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki dari mereka? Sesungguhnya dilapangkan dan disempitkannya rizki tersebut benar-benar mengandung petunjuk yang jelas bagi kaum yang membenarkan perintah Allah dan melaksanakannya.

۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

qul yā ‘ibādiyallażīna asrafụ ‘alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī’ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

 53.  Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada hamba-hambaKu yang bergelimang dalam kemaksiatan dan melampaui batas terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan dosa-dosa ajakan dari hawa nafsu mereka, “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah hanya karena banyaknya dosa kalian, sebab Allah mengampuni semua dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat darinya dan meninggalkannya sebanyak apa pun dosa-dosa itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi dosa para hambaNya yang bertaubat kepadaNya lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

wa anībū ilā rabbikum wa aslimụ lahụ ming qabli ay ya`tiyakumul-‘ażābu ṡumma lā tunṣarụn

 54.  Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Kembalilah kalian (wahai manusia) kepada Tuhan kalian dengan ketaatan dan taubat, tunduklah kepadaNya sebelum hukumanNya menimpa kalian, kemudian tidak ada yang menolong kalian selain Allah.

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

wattabi’ū aḥsana mā unzila ilaikum mir rabbikum ming qabli ay ya`tiyakumul-‘ażābu bagtataw wa antum lā tasy’urụn

 55.  Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,

Ikutilah apa yang terbaik yang diturunkan oleh Tuhan kalian kepada kalian, yaitu al-Qur’an yang agung, semuanya adalah baik, lalu laksanakanlah perintah-perintahNya dan jauhilah larangan-laranganNya sebelum kalian ditimpa azab yang datang secara tiba-tiba sedangkan kalian tidak menyadarinya.

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

an taqụla nafsuy yā ḥasratā ‘alā mā farrattu fī jambillāhi wa ing kuntu laminas-sākhirīn

 56.  supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah),

Taatilah Tuhan kalian dan bertaubatlah kepadaNya sehingga suatu jiwa tidak akan menyesal dengan berkata, “Duhai, betapa ruginya aku karena dulu di dunia aku menyia-nyiakan kesempatan untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan, aku lalai dari menaatiNya dan menunaikan hakNya, dan sesungguhnya dulu di dunia aku termasuk orang-orang yang memperolok-olok perintah Allah, kitabNya, RasulNya dan orang-orang yang beriman.”

أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

au taqụla lau annallāha hadānī lakuntu minal-muttaqīn

 57.  atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa’.

Atau jiwa akan berkata, “Andai saja Allah membimbingku kepada agamaNya, niscaya aku termasuk orang-orang yang menjauhi syirik dan kekafiran.”

أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

au taqụla ḥīna taral-‘ażāba lau anna lī karratan fa akụna minal-muḥsinīn

 58.  Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.

Atau jiwa yang akan berkata saat melihat azab Allah telah mengepungnya di Hari Pembalasan, “Seandainya aku memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia, sehingga di sana aku termasuk di antara orang-orang yang berbuat baik dengan menaati Tuhan mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para Rasul kepada mereka.”

بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ

balā qad jā`atka āyātī fa każżabta bihā wastakbarta wa kunta minal-kāfirīn

 59.  (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”.

Perkaranya tidak sebagaimana yang kamu katakan, sungguh ayat-ayatKu yang jelas yang menunjukkan kepada kebenaran telah datang kepadamu, tetapi kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri sehingga tidak mau menerimanya dan mengikutinya, sebaliknya kamu menolaknya dan kamu termasuk orang-orang yang kafir kepada Allah dan RasulNya.

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ

wa yaumal-qiyāmati tarallażīna każabụ ‘alallāhi wujụhuhum muswaddah, a laisa fī jahannama maṡwal lil-mutakabbirīn

 60.  Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Di Hari Kiamat, kamu akan melihat orang-orang yang mendustakan, yang mengatakan sesuatu tentang Tuhan mereka yang tidak patut dengan keagunganNya dan menisbatkan sekutu dan anak kepadaNya, wajah-wajah mereka menghitam. Bukankah Jahanam adalah tempat kembali dan tempat tinggal bagi siapa yang menyombongkan diri terhadap Allah sehingga dia tidak berkenan untuk mentauhidkan dan menaatiNya? Benar.

وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

wa yunajjillāhullażīnattaqau bimafāzatihim lā yamassuhumus-sū`u wa lā hum yaḥzanụn

 61.  Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.

Dan Allah menyelamatkan dari Jahanam dan siksanya orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka dengan menjalankan apa-apa yang Dia wajibkan dan menjauhi apa-apa yang Dia larang. Mereka beruntung karena harapan mereka terwujud, yaitu harapan meraih surga, di sana mereka tidak tersentuh azab Jahanam sedikit pun, mereka juga tidak bersedih atas kenikmatan-kenikmatan dunia yang luput dari mereka.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

allāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwa ‘alā kulli syai`iw wakīl

 62.  Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

Allah adalah Pencipta segala sesuatu seluruhnya, Dia juga Tuhan, Pemilik dan Pengaturnya, Dia Maha Menjaga segala sesuatu, yang mengatur segala urusan makhlukNya.

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

lahụ maqālīdus-samāwāti wal-arḍ, wallażīna kafarụ bi`āyātillāhi ulā`ika humul-khāsirụn

 63.  Kepunyaan-Nya-lah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Hanya milik Allah kunci-kunci perbendaharaan (kekayaan) langit dan bumi, Dia memberikan sebagian darinya kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhlukNya. Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat al-Qur’an dan bukti-buktiNya yang jelas yang terkandung di dalamnya, mereka adalah orang-orang yang benar-benar merugi di dunia dengan dibiarkannya mereka dari iman dan di akhirat dengan kekalnya mereka di dalam neraka.

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

qul a fa gairallāhi ta`murūnnī a’budu ayyuhal-jāhilụn

 64.  Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?”

katakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang musyrik dari kaummu, “Apakah kalian wahai orang-orang yang tidak mengetahui Allah, memerintahkanku untuk menyembah selain Allah padahal ibadah itu tidak patut untuk sesuatu pun kecuali Dia?”

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa laqad ụḥiya ilaika wa ilallażīna ming qablik, la`in asyrakta layaḥbaṭanna ‘amaluka wa latakụnanna minal-khāsirīn

 65.  Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Sungguh telah diwahyukan kepadamu (wahai Rasul), dan kepada para rasul sebelummu, “Jika kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya amalmu akan batal dan kamu benar-benar termasuk orang-orang yang celaka lagi merugi di dunia dan akhiratmu, karena tidak ada amal shalih yang diterima bersama syirik.”

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

balillāha fa’bud wa kum minasy-syākirīn

 66.  Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Hanya Allah semata, sembahlah Dia (wahai Nabi) dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya semata yang tiada sekutu bagiNya, dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang mensyukuri Allah atau nikmat-nikmatNya.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrihī wal-arḍu jamī’ang qabḍatuhụ yaumal-qiyāmati was-samāwātu maṭwiyyātum biyamīnih, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn

 67.  Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Orang-orang musyrik itu tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, saat mereka menyembah selainNya bersamaNya padahal selain Dia tidak memberi manfaat atau mudarat pun. Mereka menyamakan makhluk yang lemah dengan Pencipta Yang Mahaagung, di mana diantara bukti besarnya KuasaNya adalah bahwa seluruh bumi dalam genggamanNya di Hari Kiamat, dan langit-langit tergulung di Tangan kananNya. Mahasuci Allah lagi Mahaagung dari apa yang dipersekutukan oleh orang-orang musyrik itu. Ayat ini mengandung dalil yang menetapkan sifat qabdhah (menggenggam) dan yamin (tangan kanan) serta ath-thayy (melipat) bagi Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya tanpa menentukan bentuk dan caranya dan tanpa menyamakan.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

wa nufikha fiṣ-ṣụri fa ṣa’iqa man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā`allāh, ṡumma nufikha fīhi ukhrā fa iżā hum qiyāmuy yanẓurụn

 68.  Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk tidak mati, kemudian malaikat meniupnya untuk kedua kalinya sebagai pengumuman hidupnya kembali seluruh mahkluk untuk bangkit menghadapi perhitungan amal di depan Tuhan mereka, dan mereka pun bangkit melihat apa yang hendak dilakukan Tuhan mereka terhadap mereka.

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa asyraqatil-arḍu binụri rabbihā wa wuḍi’al-kitābu wajī`a bin-nabiyyīna wasy-syuhadā`i wa quḍiya bainahum bil-ḥaqqi wa hum lā yuẓlamụn

 69.  Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.

Bumi bersinar di Hari Kiamat saat Allah Yang Mahahaq hadir untuk memberikan keputusanNya di antara makhluk, para malaikat menyebarkan buku catatan amal setiap orang, para nabi dan para saksi atas umat-umat didatangkan atas umat-umat, Allah bertanya kepada para nabi tentang tugas dakwah yang mereka pikul dan jawaban kaum mereka terhadap seruan dakwahnya, sebagaimana umat Muhammad hadir untuk menjadi saksi bahwa para rasul terdahulu telah menyampaikan dakwah mereka kepada umat-umat mereka bila umat-umat tersebut mengingkari penyampaian tersebut, sehingga hujjah Allah tegak atas semua umat lalu Tuhan semesta alam memberikan keputusanNya di antara hamba-hambaNya dengan keadilan yang sempurna dan mereka tidak dizhalimi sedikit pun dengan dikurangi pahalanya atau ditambah hukumannya.

وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ

wa wuffiyat kullu nafsim mā ‘amilat wa huwa a’lamu bimā yaf’alụn

 70.  Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan Allah memberikan balasan kepada setiap jiwa atas apa yang dilakukannya secara sempurna, berupa kebaikan maupun keburukan. Dan Dia lebih mengetahui tentang apa yang mereka lakukan di dunia, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan.

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

wa sīqallażīna kafarū ilā jahannama zumarā, ḥattā iżā jā`ụhā futiḥat abwābuhā wa qāla lahum khazanatuhā a lam ya`tikum rusulum mingkum yatlụna ‘alaikum āyāti rabbikum wa yunżirụnakum liqā`a yaumikum hāżā, qālụ balā wa lākin ḥaqqat kalimatul-‘ażābi ‘alal-kāfirīn

 71.  Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

Dan orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya digiring ke Neraka Jahanam secara berbondong-bondong. Ketika mereka tiba di depannya, para malaikat penjaga membuka tujuh pintunya lalu menghardik mereka sambil berkata, “Bagaimana kalian mendurhakai Allah dan mengingkari bahwa Dia adalah Tuhan Yang Haq semata? Bukankah Dia telah mengutus para rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan ayat-ayat Tuhan kalian kepada kalian dan memperingatkan kalian tentang beratnya beban di hari ini?” mereka menjawab dengan penuh pengakuan terhadap dosa-dosa mereka, “Benar, para rasul Tuhan kami telah datang kepada kami dengan membawa kebenaran, dan mereka telah memperingatkan kami akan kebenaran hari ini” Hanya saja kalimat Allah telah ditetapkan bahwa siksaNya akan menimpa orang-orang yang kafir kepadaNya.

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

qīladkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa bi`sa maṡwal-mutakabbirīn

 72.  Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

Dikatakan kepada orang-orang yang mengingkari bahwa Allah adalah Tuhan Yang Haq sebagai sebuah perendahan dan penghinaan bagi mereka, “Masuklah kalian melalui pintu-pintu Jahanam dan kalian akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya.” Maka sangatlah buruk tempat kembali bagi orang-orang yang menyombongkan diri untuk beriman kepada Allah dan melaksanakan SyariatNya.

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

wa sīqallażīnattaqau rabbahum ilal-jannati zumarā, ḥattā iżā jā`ụhā wa futiḥat abwābuhā wa qāla lahum khazanatuhā salāmun ‘alaikum ṭibtum fadkhulụhā khālidīn

 73.  Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka dengan mentauhidkanNya dan mengamalkan perintahNya digiring ke surga dengan berkelompok-kelompok, hingga ketika mereka tiba di depannya, Nabi meminta kepada Allah agar pintu-pintu surga dibuka, maka ia pun dibuka, para malaikat penjaga surga menyambutnya, memberikan penghormatan kepada mereka dengan penuh kebahagiaan dan suka cita karena kesucian mereka dari noda-noda kemaksiatan seraya berkata kepada mereka, “Selamat untuk kalian, kalian selamat dari segala cacat, kehidupan kalian adalah baik. Masuklah kalian kedalam surga dan kalian kekal di dalamnya.”

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

wa qālul-ḥamdu lillāhillażī ṣadaqanā wa’dahụ wa auraṡanal-arḍa natabawwa`u minal-jannati ḥaiṡu nasyā`, fa ni’ma ajrul-‘āmilīn

 74.  Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”.

Orang-orang Mukmin berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mewujudkan janjiNya kepada kami melalui lisan para rasulNya dan memberikan surgaNya kepada kami di mana kami bisa tinggal di bagian manapun darinya.” Itu adalah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang berbuat baik (ihsan) yang telah bersungguh-sungguh dalam menaati Tuhan mereka.

وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa taral-malā`ikata ḥāffīna min ḥaulil-‘arsyi yusabbiḥụna biḥamdi rabbihim, wa quḍiya bainahum bil-ḥaqqi wa qīlal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

 75.  Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

Dan kamu melihat (wahai Nabi) para malaikat mengelilingi Arasy Allah Yang maha Pengasih, mereka menyucikan Tuhan mereka dari segala apa yang tidak layak denganNya. Dan Allah menetapkan keputusanNya diantara makhluk-makhlukNya dengan kebenaran dan keadilan, lalu DIa mengizinkan orang-orang yang beriman untuk tinggal di surga dan orang-orang yang kafir di neraka. Dikatakan, “Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam atas keputusanNya diantara penghuni surga dan penduduk neraka, pujian karena karunia dan kebaikanNya, pujian karena keadilan dan kebijaksanaanNya.”

Related: Surat al-Mu’min Arab-Latin, Surat Fushshilat Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat asy-Syura, Terjemahan Tafsir Surat az-Zukhruf, Isi Kandungan Surat ad-Dukhan, Makna Surat al-Jatsiyah

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surat Zumar Tulisan Arab 47 Ali Imran