Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Ahqaf

حم

Arab-Latin: ḥā mīm

Terjemah Arti:  1.  Haa Miim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Ha Mim). Pembicaraan tentang huruf-huruf penggalan (di awal surat seperti ini) telah hadir di awal surat al-Baqarah.

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm

 2.  Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Al-Quran ini turun dari Allah yang Maha perkasa yang tidak dikalahkan, Mahabijaksana dalam pengaturan dan perbuatanNya.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musamman, wallażīna kafarụ ‘ammā unżirụ mu’riḍụn

 3.  Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang diantara keduanya kecuali dengan kebenaran, tidak main-main dan sia-sia, sebaliknya agar para hamba mengetahui keagungan Pencipta keduanya lalu mereka menyembahNya semata, agar mereka mengetahui bahwa Dia Mahakuasa untuk membangkitkan para hamba sesudah kematian mereka, agar mereka menegakkan keadilan dan kebenaran diantara mereka dan hingga masa yang ditetapkan olehNya. Dan orang-orang yang mengingkari bahwa Allah adalah Tuhan yang haq, mereka itu berpaling dari peringatan yang disampaikan oleh al-Quran, mereka tidak merenungkan dan tidak mengambil pelajaran.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ۖ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul a ra`aitum mā tad’ụna min dụnillāhi arụnī māżā khalaqụ minal-arḍi am lahum syirkun fis-samāwāti`tụnī bikitābim ming qabli hāżā au aṡāratim min ‘ilmin ing kuntum ṣādiqīn

 4.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang kafir, “apakah kalian melihat tuhan-tuhan dan berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah, tunjukkanlah kepadaku apa yang telah mereka ciptakan di bumi, atau mereka punya bagian kewenangan bersama Allah dalam menciptakan langit? Hadirkanlah kepadaku sebuah kitab dari sisi Allah sebelum al-Quran ini atau sisa ilmu, bila kalian memang benar dalam apa yang kalian klaim.”

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

wa man aḍallu mim may yad’ụ min dụnillāhi mal lā yastajību lahū ilā yaumil-qiyāmati wa hum ‘an du’ā`ihim gāfilụn

 5.  Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?

Tidak ada yang lebih sesat dan lebih bodoh daripada orang yang berdoa kepada tuhan-tuhan selain Allah yang tidak menjawab doanya selamanya, karena semua itu hanyalah orang-orang mati, pohon-pohon, batu-batu dan yang sepertinya, ia tidak mengetahui doa orang yang menyembahnya, tidak kuasa memberikan manfaat atau mudarat baginya.

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

wa iżā ḥusyiran-nāsu kānụ lahum a’dā`aw wa kānụ bi’ibādatihim kāfirīn

 6.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.

dan apabila manusia dibangkitkan di Hari Kiamat untuk menghadapi hisab dan pembalasan, tuhan-tuhan yang mereka sembah ketika di dunia akan menjadi musuh bagi mereka, tuhan-tuhan tersebut melaknat mereka dan berlepasdiri dari mereka, serta mengingkari apa yang mereka lakukan terhadapnya.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna kafarụ lil-ḥaqqi lammā jā`ahum hāżā siḥrum mubīn

 7.  Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Apabila ayat-ayat Kami yang jelas dibacakan kepada orang-orang musyrik itu, maka orang-orang kafir berkata saat al-Qur’an datang kepada mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.”

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ ۖ كَفَىٰ بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۖ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

am yaqụlụnaftarāh, qul iniftaraituhụ fa lā tamlikụna lī minallāhi syai`ā, huwa a’lamu bimā tufīḍụna fīh, kafā bihī syahīdam bainī wa bainakum, wa huwal-gafụrur-raḥīm

 8.  Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran)”. Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Apakah orang-orang musyrik itu berkata, “Muhammad lah yang membuat-buat al-Quran ini”? katakanlah kepada mereka (wahai Rasul) “Bila aku mengada-ngada kedustaan atas nama Allah, niscaya kalian tidak akan sanggup menolak hukuman Allah terhadapku sedikitpun bila Allah hendak menghukumku karena itu. Allah lebih mengetahui dari siapa pun selainNya tentang apa yang kalian ucapkan tentang al-Quran. Cukuplah Allah sebagai saksi atas diriku dan diri kalian. Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat, Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang berimn.”

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ

qul mā kuntu bid’am minar-rusuli wa mā adrī mā yuf’alu bī wa lā bikum, in attabi’u illā mā yụḥā ilayya wa mā ana illā nażīrum mubīn

 9.  Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik dari kaummu, “Aku bukan Rasul Allah yang pertama kepada makhlukNya. Aku tidak tahu apa yang akan Allah lakukan terhadapku dan terhadap kalian di dunia. Aku tidak mengikuti dalam apa yang aku perintahkan kepada kalian dan apa yang aku lakukan kecuali wahyu Allah yang Dia wahyukan kepadaku. Aku tidak lain kecuali pemberi peringatan dengan peringatan yang nyata.”

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

qul ara`aitum ing kāna min ‘indillāhi wa kafartum bihī wa syahida syāhidum mim banī isrā`īla ‘alā miṡlihī fa āmana wastakbartum, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

 10.  Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik dari kaummu, “Kabarkanlah kepadaku, seandainya al-Quran ini datang dari sisi Allah lalu kalian mengingkarinya, lalu seorang saksi dari Bani Israil, seperti Abdullah bin Salam, bersaksi atas apa yang sepadan dengan al-Quran, yaitu apa yang ada di dalam Taurat, berupa pembenaran kepada kenabian Muhammad, lalu Abdullah membenarkan dan mengamalkan apa yang ada di dalam al-quran, sementara kalian memilih mengingkarinya dengan kesombongan, bukankah itu adalah kezhaliman paling besar dan kekafiran paling berat? Sesungguhnya Allah tidak memberikan taufik kepada Islam dan mengikuti kepada suatu kaum yang menzhalimi diri mereka dengan kafir kepada Allah.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

wa qālallażīna kafarụ lillażīna āmanụ lau kāna khairam mā sabaqụnā ilaīh, wa iż lam yahtadụ bihī fa sayaqụlụna hāżā ifkung qadīm

 11.  Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”.

Orang-orang yang mengingkari kenabian Muhammad berkata kepada orang-orang yang beriman kepadanya, “Bila pembenaran kalian kepada apa yang Muhammad bawa merupakan kebaikan, niscaya kalian tidak mendahului kami dalam hal ini.” Karena mereka tidak mengambil petunjuk dari al-Quran dan manfaaat darinya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang diwariskan dari orang-orang terdahulu.’

وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً ۚ وَهَٰذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَىٰ لِلْمُحْسِنِينَ

wa ming qablihī kitābu mụsā imāmaw wa raḥmah, wa hāżā kitābum muṣaddiqul lisānan ‘arabiyyal liyunżirallażīna ẓalamụ wa busyrā lil-muḥsinīn

 12.  Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sebelum al-Quran ini, Kami telah menurunkan Taurat sebagai imam (pemandu) bagi Bani Israil, mereka mengikutinya, dan sebagai rahmat bagi siapa yang beriman dan mengamalkannya. Dan al-Quran ini membenarkan kitab-kitab yang turun sebelumnya. Kami menurunkannya dengan Bahasa Arab agar ia memperingatkan orang-orang yang menzhlimi diri mereka dengan kekafiran dan kemaksiatan, memberi kabar baik bagi orang-orang yang menaati Allah, dan berbuat baik dalam iman dan ketaatan mereka di dunia.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

 13.  Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” kemudian mereka berpegang teguh kepada iman tersebut, maka tidak ada ketakutan atas mereka dari kegoncangan dan kengerian Hari Kiamat, mereka juga tidak sedih atas apa yang mereka tinggalkan di belakang mereka dari bagian dunia yang tidak mereka raih.

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ulā`ika aṣ-ḥābul-jannati khālidīna fīhā, jazā`am bimā kānụ ya’malụn

 14.  Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Mereka itu adalah ahli surga, mereka tinggal di sana selamanya dengan rahmat dari Allah bagi mereka, dan disebabkan apa yang mereka lakukan di dunia berupa amal shalih.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaihi iḥsānā, ḥamalat-hu ummuhụ kurhaw wa waḍa’at-hu kurhā, wa ḥamluhụ wa fiṣāluhụ ṡalāṡụna syahrā, ḥattā iżā balaga asyuddahụ wa balaga arba’īna sanatang qāla rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī żurriyyatī, innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn

 15.  Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Kami berwasiat kepada manusia agar memperlakukan bapak ibunya dengan baik semasa keduanya hidup dan sesudah keduanya wafat. Ibunya telah mengandungnya saat dia masih berupa janin dalam rahimnya dengan penuh kelelahan dan kepayahan, lalu melahirkannya dengan penuh kelelahan dan kepayahan juga. Masa kehamilan dan penyapihan adalah 30 bulan. Disebutnya beban berat yang dipikul ibu bukan bapak ini menunjukkan bahwa hak ibu lebih besar dari hak bapak. Saat manusia mencapai puncak kekuatan pada akal dan jasmaninya, dia mencapai umur 40 tahun, dia berdoa kepada Tuhannya dengan berkata, “Wahai Tuhanku, bimbinglah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada bapak-ibuku. Jadikanlah aku orang yang beramal shalih yang Engkau ridhai. Perbaikilah anak keturunanku untukku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dari dosa-dosaku. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang tunduk kepadaMu, menaatiMu, berserah diri kepada perintah dan laranganMu, serta patuh kepada hukumMu.”

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ ۖ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

ulā`ikallażīna nataqabbalu ‘an-hum aḥsana mā ‘amilụ wa natajāwazu ‘an sayyi`ātihim fī aṣ-ḥābil-jannah, wa’daṣ-ṣidqillażī kānụ yụ’adụn

 16.  Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

Mereka itu orang-orang yang Kami menerima amal shalih yang mereka lakukan, memaafkan keburukan mereka dalam rombongan para penghuni syurga. Janji yang Kami janjikan kepada mereka ini merupakan janji yang benar yang tidak ada keraguan padanya.

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wallażī qāla liwālidaihi uffil lakumā ata’idāninī an ukhraja wa qad khalatil-qurụnu ming qablī, wa humā yastagīṡānillāha wailaka āmin inna wa’dallāhi ḥaqq, fa yaqụlu mā hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

 17.  Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.

dan adapun orang yang berkata kepada bapak ibunya ketika keduanya mengajaknya untuk beriman kepada Allah dan mengakui Hari Kiamat, “Keburukan untuk kalian berdua, apakah kalian mengancamku bahwa aku akan dikeluarkan dari kuburku dalam keadaan hidup, sementara orang-orang dari umat-umat sebelumku telah berlalu, mereka binasa dan tidak seorang pun dari mereka yang dibangkitkan?” sementara bapak ibunya berdoa kepada Allah memohon hidayah baginya dan berkata kepadanya, “Celaka kamu! Berimanlah, benarkanlah dan beramallah dengan amal yang shalih. Sesungguhnya janji Hari Kiamat dari Allah adalah haq, tidak ada kebimbangan padanya,.” Tetapi dia malah menjawab kepada mereka, “Apa yang kalian berdua katakan hanyalah dongeng orang-orang terdahulu, yang dinukil dari buku-buku mereka.”

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

ulā`ikallażīna ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu fī umaming qad khalat ming qablihim minal-jinni wal-ins, innahum kānụ khāsirīn

 18.  Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

Orang-orang yang sifat mereka adalah demikian, adalah orang-orang yang wajib mendapatkan azab Allah, hukuman dan murkaNya, sama dengan umat-umat yang telah berlalu dari mereka dari kalangan jin dan manusia yang berjalan di atas kekafiran dan pendustaan. Mereka adalah orang-orang yang merugi dengan menjual petunjuk dengan kesesatan, nikmat dengan azab.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa likullin darajātum mimmā ‘amilụ, wa liyuwaffiyahum a’mālahum wa hum lā yuẓlamụn

 19.  Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.

Masing-masing kelompok dari pengikut kebaikan dan pengikut keburukan memiliki derajat di sisi Allah pada Hari Kiamat sesuai amal-amal yang mereka kerjakan di dunia, masing-masing sesuai dengan martabatnya. Lalu Allah membalas mereka tanpa dizhalimi dengan ditambah keburukan dan dikurangi dari kebaikan mereka.

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

wa yauma yu’raḍullażīna kafarụ ‘alan-nār, aż-habtum ṭayyibātikum fī ḥayātikumud-dun-yā wastamta’tum bihā, fal-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum tastakbirụna fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa bimā kuntum tafsuqụn

 20.  Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”.

Di hari dimana orang-orang kafir digiring ke neraka untuk menerima siksa, dikatakan kepada mereka sebagai celaan, “sungguh kalian telah menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan kalian dalam kehidupan dunia kalian dan kalian menikmatinya. Maka hari ini (wahai orang-orang kafir) kalian dibalas dengan siksa yang merendahkan dan menghinakan di dalam neraka, karena dulu kalian menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kerena kalian keluar dari ketaatan kepada Allah.”

۞ وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

ważkur akhā ‘ād, iż anżara qaumahụ bil-aḥqāfi wa qad khalatin-nużuru mim baini yadaihi wa min khalfihī allā ta’budū illallāh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

 21.  Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Ingatlah (wahai rasul) Nabi Allah Hud, saudara ‘Ad dalam nasab, bukan dalam agama, saat dia memperingatkan kaumnya dari siksa Allah yang bisa menimpa mereka dan mereka tinggal di negeri mereka yang terkenal, yaitu Al-Ahqaf, tanah berpasir di selatan Jazirah Arabia. Para rasul telah datang kepada mereka, sebelum dan sesudah Hud, yang memperingatkan mereka dengan berkata kepada mereka, “Jangan menyekutukan Allah dengan selainNYa dalam ibadah kalian, sesungguhnya aku takut kalian akan mendapatkan azab Allah di suatu hari yang kengeriannya besar, yaitu Hari Kiamat.”

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālū a ji`tanā lita`fikanā ‘an ālihatinā, fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

 22.  Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Mereka menjawab, “Apakah kamu datang membawa dakwahmu untuk memalingkan kami dari penyembahan kepada tuhan-tuhan kami? Silakan kamu mendatangkan azab yang kamu ancamkan kepada kami, bila kamu termasuk orang-orang yang benar dalam ucapan dan janjimu.”

قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

qāla innamal-‘ilmu ‘indallāhi wa uballigukum mā ursiltu bihī wa lākinnī arākum qauman taj-halụn

 23.  Ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

Hud berkata, “sesungguhnya Ilmu tentang kapan azab akan datang kepada kalian hanya di sisi Allah. sementara aku hanya seorang utusan Allah kepada kalian, aku menyampaikan apa yang Allah perintahkan untuk aku sampaikan. Akan tetapi aku melihat kalian adalah orang-orang bodoh karena meminta disegerakannya azab dan kelancangan kalian terhadap Allah.”

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

fa lammā ra`auhu ‘āriḍam mustaqbila audiyatihim qālụ hāżā ‘āriḍum mumṭirunā, bal huwa masta’jaltum bih, rīḥun fīhā ‘ażābun alīm

 24.  Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,

Maka ketika mereka menyaksikan azab yang mereka minta agar disegerakan berupa awan yang berjalan ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Ini adalah awan hujan bagi kami.” Hud berkata, “Bukan, ia bukan hujan rahmat seperti yang kalian sangka, sebaliknya ia adalah awan azab yang kalian minta sendiri. Ia adalah angin yang membawa azab yang pedih.”

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

tudammiru kulla syai`im bi`amri rabbihā fa`aṣbaḥụ lā yurā illā masākinuhum, każālika najzil-qaumal-mujrimīn

 25.  yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.

Angin itu menghancurkan segala yang dilewatinya atas perintah dan kehendak Tuhannya. Akhirnya, di negeri mereka tidak ada yang terlihat kecuali tempat tinggal mereka. Dengan balasan seperti ini Kami membalas kaum pendosa akibat dari dosa-dosa dan kejahatan mereka.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqad makkannāhum fīmā im makkannākum fīhi wa ja’alnā lahum sam’aw wa abṣāraw wa af`idatan fa mā agnā ‘an-hum sam’uhum wa lā abṣāruhum wa lā af`idatuhum min syai`in iż kānụ yaj-ḥadụna bi`āyātillāhi wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

 26.  Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.

Sungguh Kami telah memudahkan bagi kaum ‘Ad sebab-sebab kemajuan dalam bentuk yang belum Kami berikan kepada kalian, wahai orang-orang kafir Quraisy. Kami memberi mereka pendengaran yang dengannya mereka mendengar, penglihatan yang dengannya mereka melihat, hati yang dengannya mereka memahami, tetapi mereka menggunakannya dalam apa yang mengundang murka Allah atas mereka, sehingga semua itu tidak berguna bagi mereka sedikit pun manakala mereka mendustakan hujjah-hujjah Allah. azab yang mereka remehkan dan mereka meminta disegerakan pun turun menimpa mereka. Ini merupakan ancaman dan peringatan dari Allah kepada orang-orang kafir.

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa laqad ahlaknā mā ḥaulakum minal-qurā wa ṣarrafnal-āyāti la’allahum yarji’ụn

 27.  Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).

Sungguh Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian, wahai penduduk Makkah, seperti Ad dan Tsamud. Kami menjadikan negeri-negeri mereka terjungkir balik. Kami menjelaskan kepada mereka hujjah-hujjah dan bukti-bukti, dengan harapan mereka berkenan meninggalkan apa yang mereka lakukan berupa kekafiran kepada Allah dan ayat-ayatNya. .

فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً ۖ بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ ۚ وَذَٰلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

falau lā naṣarahumullażīnattakhażụ min dụnillāhi qurbānan ālihah, bal ḍallụ ‘an-hum, wa żālika ifkuhum wa mā kānụ yaftarụn

 28.  Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

Maka mengapa orang-orang yang Kami binasakan dari kalangan umat-umat yang telah berlalu itu tidak ditolong oleh tuhan-tuhan yang mereka sembah dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka agar tuhan-tuhan tersebut memberi mereka syafa’at di sisiNya? Sebaliknya tuhan-tuhan mereka hilang, tidak memenuhi seruan mereka dan tidak membela mereka. Itu adalah kebohongan mereka dalam menjadikan selain Allah sebagai sesembahan-sesembahan.

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

wa iż ṣarafnā ilaika nafaram minal-jinni yastami’ụnal-qur`ān, fa lammā ḥaḍarụhu qālū anṣitụ, fa lammā quḍiya wallau ilā qaumihim munżirīn

 29.  Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

Ingatlah (wahai rasul) ketika Kami mengirimkan kepadamu sekelompok jin yang mendengar al-Quran darimu. Maka ketika mereka telah hadir dan Rasulullah membaca al-Quran, mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Diamlah, supaya kita mendengar al-Qur’an.” Maka ketika Rasulullah selesai membaca, di mana mereka telah memahaminya dan ia berpengaruh kepada mereka, jin-jin tersebut pulang kepada kaum mereka untuk memperingatkan mereka dari azab Allah bila mereka tidak beriman.

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

qālụ yā qaumanā innā sami’nā kitāban unzila mim ba’di mụsā muṣaddiqal limā baina yadaihi yahdī ilal-ḥaqqi wa ilā ṭarīqim mustaqīm

 30.  Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Mereka berkata, “ Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang turun sesudah Musa, ia membenarkan kitab-kitab Allah sebelumnya yang Dia turunkan kepada para RasulNya, ia membimbing kepada kebenaran dan hidayah ke jalan lurus lagi benar.

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

yā qaumanā ajībụ dā’iyallāhi wa āminụ bihī yagfir lakum min żunụbikum wa yujirkum min ‘ażābin alīm

 31.  Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.

Wahai kaum kami, penuhilah seruan Rasulullah, Muhammad kepada apa yang dia serukan kepada kalian, benarkanlah dia dan amalkanlah apa yang dia bawa kepada kalian, niscaya Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih dan menyakitkan.

وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa mal lā yujib dā’iyallāhi fa laisa bimu’jizin fil-arḍi wa laisa lahụ min dụnihī auliyā`, ulā`ika fī ḍalālim mubīn

 32.  Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

Barangsiapa tidak menjawab seruan Rasulullah kepada apa yang dia serukan, maka dia tidak akan bisa lolos dari Allah di muka bumi bila Allah hendak menghukumnya. Dia tidak memiliki penolong yang melindunginya dari azabNya. Mereka adalah orang-orang yang jelas-jelas tersesat dari kebenaran.”

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

a wa lam yarau annallāhallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa lam ya’ya bikhalqihinna biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā, balā innahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

 33.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Apakah mereka lupa dan tidak tahu bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya dan Allah kuasa menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati yang Dia ciptakan sebelumnya? Benar, itu adalah suatu yang mudah bagi Allah yang tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkanNya, karena sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

wa yauma yu’raḍullażīna kafarụ ‘alan-nār, a laisa hāżā bil-ḥaqq, qālụ balā wa rabbinā, qāla fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

 34.  Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (dikatakan kepada mereka): “Bukankah (azab) ini benar?” Mereka menjawab: “Ya benar, demi Tuhan kami”. Allah berfirman “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar”.

Di Hari Kiamat, orang-orang kafir akan digiring ke Neraka Jahanam untuk diazab. Kepada mereka dikatakan, “Bukankah azab ini adalah kebenaran?” mereka menjawab dengan mengatakan, “betul, demi tuhan kami, ia benar.” Maka dikatakan kepada mereka, “maka rasakanlah azab ini, karena dulu di dunia kalian mengingkarinya.”

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

faṣbir kamā ṣabara ulul-‘azmi minar-rusuli wa lā tasta’jil lahum, ka`annahum yauma yarauna mā yụ’adụna lam yalbaṡū illā sā’atam min nahār, balāg, fa hal yuhlaku illal-qaumul-fāsiqụn

 35.  Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.

Maka bersabarlah (wahai rasul) atas apa yang menimpamu berupa gangguan dari kaummu yang mendustakanmu sebagaimana para rasul ulul azmi sebelummu bersabar. Mereka (menurut pendapat yang masyhur) adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan kamu salah satu dari mereka. Jangan minta disegerakannya azab untuk kaummu, maka ketika azab itu terjadi dan mereka melihat azab itu, mereka akan merasa bahwa mereka tidak tinggal di dunia kecuali sesaat saja. Ini adalah pemberitahuan bagi mereka dan selain mereka. Tidak ada yang dibinasakan oleh azab Allah kecuali orang-orang yang keluar dari perintah Allah dan ketaatan kepadaNya.

Related: Surat Muhammad Arab-Latin, Surat al-Fath Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat al-Hujurat, Terjemahan Tafsir Surat Qaf, Isi Kandungan Surat Adz-Dzariyat, Makna Surat ath-Thur

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!