Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ar-Ra’d

المر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ ۗ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Arab-Latin: alif lām mīm rā, tilka āyātul-kitāb, wallażī unzila ilaika mir rabbikal-ḥaqqu wa lākinna akṡaran-nāsi lā yu`minụn

Terjemah Arti:  1.  Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Alif lam ra. Keterangan tentang huruf-huruf yang terputus-putus (diawal sejumlah surat seperti ini) telah berlalu di muka pada permulaan surat al-baqarah. Ini adalah ayat-ayat al-qur’an yang tinggi kedudukannya. Dan al-qur’an yang diturunkan kepadamu ini (wahai rasul), adalah merupakan kebenaran, bukan seperti yang dikatakan kaum musyrikin, bahwa sesungguhnya kamulah yang mendatangkannya dari dirimu sendiri. Meskipun demikian banyak manusia tidak beriman kepadanya dan tidak mengamalkannya.

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

allāhullażī rafa’as-samāwāti bigairi ‘amadin taraunahā ṡummastawā ‘alal-‘arsyi wa sakhkharasy-syamsa wal-qamar, kulluy yajrī li`ajalim musammā, yudabbirul-amra yufaṣṣilul-āyāti la’allakum biliqā`i rabbikum tụqinụn

 2.  Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.

Allah , Dialah yang meninggikan langit berlapis tujuh dengan kuasaNya tanpa penyangga, sebagaimana yang kalian lihat. Kemudian Dia bersemayam (yakni tinggi yang berada di atas jauh di sana) di atas arasy, sesuai dengan keagunganNya. Dan Dia menundukan matahari dan bulan bagi kemaslahatan hamba-hambaNya. Masing-masing dari keduanya berputar dalam garis edarnya hingga hari kiamat. Allah  juga mengatur urusan-urusan dunia dan akhirat dan menjelaskan kepada kalian bukti-bukti petunjuk yang menunjukan kuasaNya dan bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia supaya kalian yakin kepada Allah dan tempat kembali hanya kepadaNYa, lalu kalian mengimani janji dan ancamanNya, dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya semata.

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

wa huwallażī maddal-arḍa wa ja’ala fīhā rawāsiya wa an-hārā, wa ming kulliṡ-ṡamarāti ja’ala fīhā zaujainiṡnaini yugsyil-lailan-nahār, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

 3.  Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Dan Dialah yang menjadikan bumi lapang lagi terhampar luas, dan meyiapkannya untuk tempat hidup kalian, dan menjadikan padanya gunung-gunung yang meneguhkannya dan sungai-sungai untuk kebutuhan air minum dan manfaat-manfaat lain bagi kalian, dan menjadikan di dalamnya dari setiap buah-buahan dua jenis yang saling berpasangan, maka sebagian ada yang berwarna hitam dan berwarna putih, manis dan masam, dan Dia menjadikan malam menutup siang hari dengan kegelapannya. Sesungguhnya pada semua itu terdapat pelajaran-pelajaran bagi orang-orang yang berfikir tentangnya lagi mau memetik pelajaran darinya.

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa fil-arḍi qiṭa’um mutajāwirātuw wa jannātum min a’nābiw wa zar’uw wa nakhīlun ṣinwānuw wa gairu ṣinwāniy yusqā bimā`iw wāḥidiw wa nufaḍḍilu ba’ḍahā ‘alā ba’ḍin fil-ukul, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy ya’qilụn

 4.  Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang sebagian bersebelahan dengan sebagian yang lain. Sebagian darinya merupakan tanah yang baik yang dapat menumbuhkan tanam-tanaman yang bermanfaat bagi manusia, dan sebagian (lagi) bergaram lagi asin tidak dapat menumbuhkan apapun. Dan pada bagian tanah yang baik terdapat kebun-kebun anggur, dan menjadikan padanya tanaman-tanaman yang beraneka ragam, pohon kurma yang berkelompok pada satu lokasi tanam, dan ada yang tidak berkelompok pada satu tempat. Semua itu (tumbuh) pada satu tanah yang sama dan menyerap air yang sama, akan tetapi bermacam-macam dalam hasil buah-buahan, bentuk, cita rasa dan aspek lainnya. Ini manis, sedang yang itu masam, sebagian lebih utama daripada sebagian yang lain untuk dikonsumsi. Sesungguhnya pada yang demikian ini terdapat tanda-tanda nyata bagi orang-orang yang memiliki hati yang memahami perintah dan larangan dari Allah .

۞ وَإِنْ تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wa in ta’jab fa ‘ajabung qauluhum a iżā kunnā turāban a innā lafī khalqin jadīd, ulā`ikallażīna kafarụ birabbihim, wa ulā`ikal-aglālu fī a’nāqihim, wa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

 5.  Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: “Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?” Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Dan apabila kamu terheran-heran (wahai rasul), terhadap keengganan berimannya orang-orang kafir setelah adanya petunjuk-petunjuk ini, maka keheranan yang lebih besar lagi patut muncul adalah terhadap pernyatan orang-orang kafir, ”apakah apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah, kami akan dibangkitkan kembali?” Mereka itu adalah orang-orang yang ingkar terhadap tuhan-tuhan mereka yang telah menciptakan mereka dari tidak ada sebelumnya. Dan mereka itu, belenggu-belenggu rantai dari neraka akan diikatkan pada leher-leher mereka pada hari kiamat, dan mereka itulah orang-orang yang akan terus berada di dalam neraka, tidak akan keluar darinya selamanya.

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلَاتُ ۗ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ ۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ

wa yasta’jilụnaka bis-sayyi`ati qablal-ḥasanati wa qad khalat ming qablihimul-maṡulāt, wa inna rabbaka lażụ magfiratil lin-nāsi ‘alā ẓulmihim, wa inna rabbaka lasyadīdul-‘iqāb

 6.  Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.

orang-orang yang mendustakan meminta kepadamu supaya disegerakan siksaan yang aku belum menimpakan pada mereka siksaan dengan segera, sebelum keimanan yang diharapkan menjadi sumber keamanan dan kebaikan. Dan sungguh telah berlalu hukuman-hukuman atas orang-orang yang mendustakan sebelum mereka, maka mengapa mereka tidak mau mengambil pelajaran darinya? sesungguhnya tuhanmu (wahai rasul), benar-benar memberi pengampunan terhadap dosa-dosa manusia yang bertaubat dari dosa-dosa lantaran perbuatan kezhaliman mereka, dengan membukakan pintu ampunan bagi mereka dan menyeru mereka kepadanya, sementara mereka berbuat kezhaliman terhadap diri mereka dengan berbuat maksiat kepada tuhan mereka. Dan sesungguhnya tuhanmu benar-benar amat keras siksaanNya terhadap orang yang terus menerus di atas kekafiran, kesesatan dan maksiat kepada Allah.

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۗ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

wa yaqụlullażīna kafarụ lau lā unzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, innamā anta munżiruw wa likulli qaumin hād

 7.  Orang-orang yang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.

Dan orang-orang kafir Makkah berkata, ”mengapa tidak datang kepadanya satu mukjizat yang bisa dirasakan pancaindra, seperti, tongkat musa, dan unta Shaleh?” itu tidaklah berada dalam kekuasaanmu (wahai rasul). Kamu tidak lain hanyalah seorang penyampai kepada mereka, dan seorang yang memperingatkan mereka dari siksaan Allah. Dan bagi tiap-tiap umat terdapat seorang rasul yang mengarahkan kepada Allah  .

اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَىٰ وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۖ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ

allāhu ya’lamu mā taḥmilu kullu unṡā wa mā tagīḍul-ar-ḥāmu wa mā tazdād, wa kullu syai`in ‘indahụ bimiqdār

 8.  Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.

Allah  mengetahui apa yang dikandung setiap perempuan di dalam perutnya; apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia celaka ataukah bahagia. Allah juga mengetahui apa yang kurang dari Rahim, dimana janin yang dikandung nya keguguran atau dilahirkan sebelum umur Sembilan bulan, serta apa yang lebih dari masa hamilnya. Dan segala sesuatu telah ditetapkan takdirnya di sisi Allah dengan ketentuan-ketentuan baik, kurang, maupun bertambah, yang tidak akan ia lewati.

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-kabīrul-muta’āl

 9.  Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.

Allah maha mengetahui apa-apa yang samar dari pandangan mata (manusia) dan juga apa-apa yanag (nyata), yang Maha besar DzatNya, Nama-nama dan sifat-sifatNya, yang juga mahatinggi di atas semua makhlukNya dengan Dzat, kuasa dan kekuasaanNya.

سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ

sawā`um mingkum man asarral-qaula wa man jahara bihī wa man huwa mustakhfim bil-laili wa sāribum bin-nahār

 10.  Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

Sama dalam ilmu Allah  orang yang menyamarkan perkataan diantara kalian dan orang yang mengatakannya secara terang-terangan. dan sama pula bagiNYa orang yang menyembunyikan amal-amalnya di kegelapan malam dan orang yang melakukannya secara terang-terangan di siang bolong.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

lahụ mu’aqqibātum mim baini yadaihi wa min khalfihī yaḥfaẓụnahụ min amrillāh, innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl

 11.  Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Allah  memiliki maliakat yang datang secara bergantian kepada manusia, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang menjaganya dari perintah Allah dan menghitung apa-apa yang berasal darinya;kebaiakn maupun keburukan.Sesungguhnya Allah  tidak merubah nikmat yang telah Dia berikan kepada suatu kaum, kecuali apabila mereka sendiri yang merubah apa yang Dia perintahkan kepada mereka, lalu mereka berbuat maksiaat kepadaNya. Dan apabila Allah ingin menimpakan malapetaka kepada suatu kelompok, maka tidak jalan untuk menghindarinya, dan tidak ada penolong bagi mereka selain Allah yang akan menangani urusan mereka, yang akan mendatangkan apa-apa yang mereka cintai dan menolak Dari mereka apa-apa yang tidak mereka sukai.

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ

huwallażī yurīkumul-barqa khaufaw wa ṭama’aw wa yunsyi`us-saḥābaṡ-ṡiqāl

 12.  Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.

Dialah Dzat yang memperlihatkan kepada kalian sebagian dari tanda kekuasaanNya, berupa kliat yaitu cahaya amat terang yang tampak di sela awan-awan mendung, lalu kalian takut halilintar-halilintar yang membakar menyambar kalian darinya, dan kalian amat berharap hujan turun bersamaan dengannya. Dan dengan kuasaNya, Allah menciptakan awan yang penuh dengan air yang banyak untuk kepentingan-kepentingan kalian.

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

wa yusabbiḥur-ra’du biḥamdihī wal-malā`ikatu min khīfatih, wa yursiluṣ-ṣawā’iqa fa yuṣību bihā may yasyā`u wa hum yujādilụna fillāh, wa huwa syadīdul miḥāl

 13.  Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.

Dan guruh bertasbih memuji Allah yang menujukan ketundukannya kepada tuhannya. Dan para malaikat menyucikan tuhan mereka karena ketakutan mereka kepada Allah. Dan Allah mengirim halilintar yang membinasakan, sehingga matilah orang yang Allah kehendaki dari makhlukNya. Dan orang-orang kafir mendebat sifat-sifat keesaan Allah dan kuasaNya untuk membangkitkan makhluk setelah mati. Dan dia mahakeras daya, kekuatan dan hukumannya terhadap orang yang maksiat kepadaNya.

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ ۚ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

lahụ da’watul-ḥaqq, wallażīna yad’ụna min dụnihī lā yastajībụna lahum bisyai`in illā kabāsiṭi kaffaihi ilal-mā`i liyabluga fāhu wa mā huwa bibāligih, wa mā du’ā`ul-kāfirīna illā fī ḍalāl

 14.  Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

Hanya milik Allah  semata seruan kepada tauhid “lailahaillalah”, sehingga tidak disembah dan tidak di seru kecuali Dia, sedang tuhan-tuhan sesembahan yang mereka sembah selain Allah, tidak dapat mengabulkan doa orang yang meminta kepadanya. Dan keadaan mereka itu bersama tuhan-tuhan sesembahan mereka adalah seperti keadaan orang yang dahaga yang membentangkan tangannya dari kejauhan untuk meraih air supaya sampai kemulutnya dan tidak sampai kepadanya. Dan tidaklah permintaan orang-orang kafir terhadap tuhan-tuhan sesembahan itu kecuali merupakan bentuk teramat jauhnya mereka dari kebenaran, lantaran mereka mempersekutukan sesuatu dengan Allah.

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۩

wa lillāhi yasjudu man fis-samāwāti wal-arḍi ṭau’aw wa kar-haw wa ẓilāluhum bil-guduwwi wal-āṣāl

 15.  Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

Dan kepada Allah semata bersujudnya dalam keadaan tunduk dan patuh setiap yang ada di langit dan dibumi. Maka orang-orang mukmin itu tunduk kepadaNya dengan suka rela, sedang orang-orang kafir tunduk dengan dipaksa, sebab mereka menyombongkan diri, enggan untuk beribadah kepadaNya. Adapaun keadaan dan fitrah mereka justru mendustakan mereka terkait hal tersebut. Begitu juga bayang-bayang makhluk-makhluk tunduk kepada keagunganNya, bergerak dengan iradahNya di permulaan siang dan penutup hari.

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

qul mar rabbus-samāwāti wal-arḍ, qulillāh, qul a fattakhażtum min dụnihī auliyā`a lā yamlikụna li`anfusihim naf’aw wa lā ḍarrā, qul hal yastawil-a’mā wal-baṣīru am hal tastawiẓ-ẓulumātu wan-nụr, am ja’alụ lillāhi syurakā`a khalaqụ kakhalqihī fa tasyābahal-khalqu ‘alaihim, qulillāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwal-wāḥidul-qahhār

 16.  Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”siapakah pencipta langit dan bumi dan pengaturnya?” Maka katakanlah, ”Allah dialah pencipta lagi pengatur keduanya, dan kalian mengakuinya.” Kemudian katakanlah kepada mereka untuk membungkam hujjah mereka, ”apakah kalian menjadikan selain Allah sebagi sesembahan-sesembahan bagi kalian, padahal mereka tidak berkuasa memberikan manfaat bagi diri sendiri dan membahayakannya, apalagi mendatangkan manfaat atau menimpakan mudarat terhadap diri kalian, dan kalian tinggalkan beribadah kepada Dzat yang menguasainya?” katakanlah (wahai rasul), kepada mereka, ”apakah menurut kalian sama antara orang kafir yang seperti orang buta dengan orang mukmin yang menyerupai orang yang dapat melihat? atau apakah sama menurut kalian antara kekafiran yang menyerupai kegelapan-kegelapan dan keimanan yang serupa dengan cahaya? ataukah sesungguhnya pembela-pembela mereka yang mereka jadikan sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan Allah, sehingga menjadi samar perbedaan antara hasil ciptaan sekutu-sekutu itu dan ciptaan Allah, lalu mereka meyakini sekutu-sekutu Allah tersebut berhak untuk di sembah?” katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”Allah  pencipta segala sesuatu dari tidak ada sebelumnya. Dialah semata yang berhak diibadahi. Dialah yang maha Esa lagi Mahaperkasa yang berhak dipertuhankan dan disembah, bukan berhala-berhala dan patung-patung yang tidak dapat menimpakan mudarat dan mendatangkan manfaat.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

anzala minas-samā`i mā`an fa sālat audiyatum biqadarihā faḥtamalas-sailu zabadar rābiyā, wa mimmā yụqidụna ‘alaihi fin-nāribtigā`a ḥilyatin au matā’in zabadum miṡluh, każālika yaḍribullāhul-ḥaqqa wal-bāṭil, fa ammaz-zabadu fa yaż-habu jufā`ā, wa ammā mā yanfa’un-nāsa fa yamkuṡu fil-arḍ, każālika yaḍribullāhul-amṡāl

 17.  Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Kemudian Allah membuat perumpamaan untuk yang haq dan yang batil dengan air yang diturunkanNya dari langit, lalu mengalirlah air di lembah-lembah di bumi karenanya, sesuai dengan kecil dan luasnya. Lalu aliran air mengalir membawa buih-buih yang mengambang di permukaan tanpa ada manfaatnya sama sekali. Dan Allah juga membuat perumpamaan lain, yaitu logam-logam mulia yang mereka panasi dengan api untuk melelehkannya demi mendapatkan perhiasan, seperti pada tambang emas, perak, atau demi mencari manafat-manfaat lain yang mereka pergunakan seperti dalam tambang tembaga, lalu keluarlah darinya material buruk yang tidak ada gunanya seperti halnya buih yang ikut bersama air. Seperti inilah Allah membuat perumpamaan untuk (menggambarkan) kebenaran dan kebatilan; dimana yang batil adalah bagaikan buih air yang menguap begitu saja atau dicampakan, karena ia samasekali tidak memiliki manfaat. Dan kebenaran itu bak air murni dan logam-logam mulia yang murni, akan bertahan dimuka bumi untuk dimanfaatkan orang. Sebagaimana Dia menerangkan kepada kalian perumpamaan-perumpamaan ini, demikian pula Dia mengadakan perumpamaan itu bagi sekalian manusia, supaya kebenaran tampak jelas bedanya dari kebatilan dan begitu juga hidayah dari kesesatan.

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

lillażīnastajābụ lirabbihimul-ḥusnā, wallażīna lam yastajībụ lahụ lau anna lahum mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ laftadau bih, ulā`ika lahum sū`ul-ḥisābi wa ma`wāhum jahannam, wa bi`sal-mihād

 18.  Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.

۞ أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

a fa may ya’lamu annamā unzila ilaika mir rabbikal-ḥaqqu kaman huwa a’mā, innamā yatażakkaru ulul-albāb

 19.  Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ

allażīna yụfụna bi’ahdillāhi wa lā yangquḍụnal-mīṡāq

 20.  (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,

19-20. Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang datang kepadamu (wahai rasul), dari sisi Allah merupakan kebenaran, lalu mengimaninya, sama seperti orang buta yang tidak dapat melihat kebenaran yang dia tidak Imani? sesungguhnya orang-orang yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal lurus. Yaitu orang-orang yang memenuhi perjanjian dengan Allah yang telah diperintahkanNya kepada mereka, dan tidak membatalkan perjanjian teguh yang telah mereka kukuhkan kepada Allah.

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

wallażīna yaṣilụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yakhsyauna rabbahum wa yakhāfụna sū`al-ḥisāb

 21.  dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

Mereka adalah orang-orang yang menyambung apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, seperti menjalin hubungan silaturahmi dengan kaum kerabat dan (membantu) orang-orang yang membutuhkan, dan selalu merasa diawasi oleh tuhan mereka dan mengkhawatirkan Allah memperhitungkan setiap dosa-dosa mereka dan tidak mengampuni dosa-dosa mereka sedikitpun.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

wallażīna ṣabarubtigā`a waj-hi rabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa anfaqụ mimmā razaqnāhum sirraw wa ‘alāniyataw wa yadra`ụna bil-ḥasanatis-sayyi`ata ulā`ika lahum ‘uqbad-dār

 22.  Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

Dan mereka adalah orang-orang yang bersabar menghadapi gangguan, bersabar dalam ketaatan dan dari maksiat, dikarenakan mencari ridha tuhan mereka, menjalankan shalat dengan kesempurnaan pelaksannannya, dan membayarkan zakat wajib dan infak yang disunnahkan dari harta benda mereka dalam keadaan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, serta menolak perbuatan buruk dengan kebaikan, sehingga menghapuskannya. Orang-orang yang bersifat demikian, bagi mereka tempat kesudahan yang terpuji di akhirat.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

jannātu ‘adniy yadkhulụnahā wa man ṣalaḥa min ābā`ihim wa azwājihim wa żurriyyātihim wal-malā`ikatu yadkhulụna ‘alaihim ming kulli bāb

 23.  (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

Tempat kesudahan (yang terpuji) itu adalah surga-surga Adn, mereka tinggal disana, tidak berpindah darinya. dan tinggal bersama mereka, orang-orang shalih dari orangtua, istri dan anak keturunan mereka, baik yang lelaki maupun perempuan. Dan malaikat-malaikat datang masuk menemui mereka dari semua pintu, untuk memberi selamat kepada mereka atas keberhasilan memasuki surga.

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

salāmun ‘alaikum bimā ṣabartum fa ni’ma ‘uqbad-dār

 24.  (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Malaikat berkata kepada mereka, ”selamat atas kalian sebagai salam penghormatan bagi kalian. kalian telah selamat dari semua keburukan, dikarenakan kesabaran kalian untuk taat kepada Allah. Maka sebaik-baik tempat kesudahan adalah surga.

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

wallażīna yangquḍụna ‘ahdallāhi mim ba’di mīṡāqihī wa yaqṭa’ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍi ulā`ika lahumul-la’natu wa lahum sū`ud-dār

 25.  Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

Adapaun orang-orang yang celaka, sungguh mereka telah disifati dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat kaum mukminin. Mereka tidak memenuhi perjanjian dengan Allah untuk mengesakan Allah  dengan ibadah, setelah meneguhkan janji itu pada diri mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang memutus hal yang Allah perintahkan mereka untuk menyambungnya, seperti menyambung hubungan kekerabatan dan lain-lain dan melakukan kerusakan di muka bumi dengan berbuat maksiat-maksiat. Orang-orang yang berkarakter buruk ini, mereka dijauhkan dari rahmat Allah, dan bagi mereka hukuman yang memperburuk keadaan mereka berupa siksaan yang keras di akhirat.

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

allāhu yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, wa fariḥụ bil-ḥayātid-dun-yā, wa mal-ḥayātud-dun-yā fil-ākhirati illā matā’

 26.  Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).

Allah semata yang melapangkan rizki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dan mempersempit rizki bagi orang yang Dia kehendaki dari mereka. Dan orang-orang kafir begitu bergembira dengan keluasan rizki di kehidupan dunia. Dan tidaklah kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali sesuatu yang amat sedikit yang dinikmati begitu saja, yang akan cepat sirna.

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

wa yaqụlullażīna kafarụ lau lā unzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, qul innallāha yuḍillu may yasyā`u wa yahdī ilaihi man anāb

 27.  Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”,

Orang-orang kafir berkata untuk mengungkapkan penentangan, ”mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad satu mukjizat yang dapat di saksikan dengan indra kami, seperti mukjizat musa dan isa? katakalnlah kepada mereka, Sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang dikehendakiNya dari kalangan para penentang hidayah, dan keberadaan mukjizat-mukjizat tidak akan berguna bagi dirinya. Dan Dia akan memberikan hidayah menuju agamaNya yang benar kepada orang yang kembali kepadaNya dan mencari ridhaNya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

allażīna āmanụ wa taṭma`innu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma`innul-qulụb

 28.  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dan Allah memberikan petunjuk bagi orang-orang yang hatinya tentram dengan tauhidullah dan mengingatNYa, sehingga menjadi tenang dengannya. Ingatlah dengan ketaatan kepada Allah dan mengingatNya serta dengan pahala dariNya, hati menjadi tenang dan damai.

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

allażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti ṭụbā lahum wa ḥusnu ma`āb

 29.  Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, dan mengerjakan amal-amal shalih, bagi mereka kebahagiaan, pandangan sejuk dan keadaan yang baik, serta tempat kembali yang baik menuju surga dan keridoan Allah.

كَذَٰلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَٰنِ ۚ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

każālika arsalnāka fī ummating qad khalat ming qablihā umamul litatluwā ‘alaihimullażī auḥainā ilaika wa hum yakfurụna bir-raḥmān, qul huwa rabbī lā ilāha illā huw, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi matāb

 30.  Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”.

Sebagaimana kami telah mengutus rasul-rasul sebelummu, kami mengutusmu (wahai rasul), ditengah umat, sunggguh telah berlalu sebelumnya umat-umat para rasul; supaya kamu membacakan kepada umat ini al-qur’an yang diturunkan kepadamu, sedang keadaan kaummu adalah mengingkari keesaan Tuhan yang Maha pengasih. Katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”yang maha pengasih yang tidak kalian jadikan sebagai tuhan yang esa adalah tuhanku satu-satunya, tiada sesembahan yang berhak diibadahi selainNya. kepadaNyalah aku bergantung dan percaya, dan kepadaNyalah tempat kembali dan inabahku.

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

walau anna qur`ānan suyyirat bihil-jibālu au quṭṭi’at bihil-arḍu au kullima bihil-mautā, bal lillāhil-amru jamī’ā, a fa lam yai`asillażīna āmanū al lau yasyā`ullāhu laḥadan-nāsa jamī’ā, wa lā yazālullażīna kafarụ tuṣībuhum bimā ṣana’ụ qāri’atun au taḥullu qarībam min dārihim ḥattā ya`tiya wa’dullāh, innallāha lā yukhliful-mī’ād

 31.  Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Allah  membantah orang-orang kafir yang menuntut diturunkannya mukjizat pada diri nabi  yang dapat mereka tangkap dengan pancaindra mereka. Dia berfirman kepada mereka, ”Dan sekiranya ada satu bacaan(kitab) yang dibaca, yang kemudian menyebabkan gunung-gunung runtuh dari tempat-tempatnya, atau bumi terbelah menjadi sungai-sungai atau orang-orang mati hidup dan dapat berkomunikasi, sebagaimana mereka memintanya kepadamu, maka bacaan yang memiliki sifat-sifat demikian adalah kitab al-qur’an, yang tidak ada pada bacaan lainnya, tetapi mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Akan tetapi, semua perkara adalah hak Allah terkait diturunkannya mukjizat-mukjizat dan perkara lainnya. Apakah kaum mukminin belum mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki, niscaya semua penduduk bumi akan beriman tanpa melihat mukjizat? Dan orang-orang kafir akan terus-menerus tertimpa musibah disebabkan kekafiran mereka, berupa terbunuh dan menjadi tawanan dalam peperangan kaum muslimin, atau musibah turun pada mereka di dekat tempat tinggal mereka, sampai akhirnya datanglah janji Allah berupa pertolongan (bagi kaum muslimin) atas mereka. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ

wa laqadistuhzi`a birusulim ming qablika fa amlaitu lillażīna kafarụ ṡumma akhażtuhum fa kaifa kāna ‘iqāb

 32.  Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu!

Dan apabila mereka mengolok-olok dakwahmu (wahai rasul), maka sungguh umat-umat sebelummu telah memperolok rasul-rasul mereka. Karena itu, janganlah kamu bersedih hati. Sungguh aku hanya menangguhkan waktu orang-orang kafir itu, kemudian aku binasakan mereka dengan siksaanKu. Dan siksaan itu adalah siksaan yang amat dahsyat.

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۗ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ ۚ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ ۗ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

a fa man huwa qā`imun ‘alā kulli nafsim bimā kasabat, wa ja’alụ lillāhi syurakā`, qul sammụhum, am tunabbi`ụnahụ bimā lā ya’lamu fil-arḍi am biẓāhirim minal-qaụl, bal zuyyina lillażīna kafarụ makruhum wa ṣuddụ ‘anis-sabīl, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

 33.  Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu”. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.

Apakah tuhan yang selalu mengurus setiap jiwa, menghitung semua yang diperbuatnya lebih berhak untuk disembah, atau apakah makhluk-makhluk yang lemah ini? mereka -lantaran kebodohan mereka- menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dari makhlukNya yang mereka sembah. Katakanlah -wahai rasul-, kepada mereka, ”sebutlah nama-nama dan sifat-sifat mereka,” niscaya mereka tidak akan mendapati sesuatu dari sifat-sifatnya yang menjadikan tuhan-tuhan itu layak untuk disembah, ”ataukah kalian mau memberitahukan kepada Allah sekutu-sekutuNya di muka bumi yang tidak diketahuiNya, ataukah kalian menamai mereka sebagai sekutu-sekutu dengan istilah semata sementara ia tidak memiliki hakikat?” Bahkan sebetulnya setan telah menjadikan orang-orang kafir memandang baik perkataan mereka yang batil dan menghalangi mereka dari jalan Allah. Maka barangsiapa yang tidak diberi taufik oleh Allah untuk memperoleh hidayahNya, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk dan taufik menuju jalan kebenaran dan jalan lurus.

لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

lahum ‘ażābun fil-ḥayātid-dun-yā wa la’ażābul-ākhirati asyaqq, wa mā lahum minallāhi miw wāq

 34.  Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.

Orang-orang kafir yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah akan mendapatkan siksaan berat di dunia, dengan terbunuh, ditawan dan kehinaan. Dan siksaan mereka di akhirat benar-benar lebih berat dan lebih dahsyat. Dan tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka yang melindungi mereka dari siksaan Allah.

۞ مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا ۖ وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

maṡalul-jannatillatī wu’idal-muttaqụn, tajrī min taḥtihal-an-hār, ukuluhā dā`imuw wa ẓilluhā, tilka ‘uqballażīnattaqaw wa ‘uqbal-kāfirīnan-nār

 35.  Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Sifat surga yang Allah janjikan kepada orang-orang yang takut kepadaNya, adalah surga yang dibawah pepohonan dan istana-istannya mengalir sungai-sungai. Buah-buahnnya tidak pernah putus, dan naungannya tidak hilang dan tidak berkurang. Balasan dengan surga itu adalah kesudahan orang-orang yang takut kepada Allah, maka mereka menjauhi maksiiat-maksiat kepadaNya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dariNya, sedangkan kesudahan orang-orang kafir kepada Allah adalah neraka.

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ ۖ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ ۚ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

wallażīna ātaināhumul-kitāba yafraḥụna bimā unzila ilaika wa minal-aḥzābi may yungkiru ba’ḍah, qul innamā umirtu an a’budallāha wa lā usyrika bih, ilaihi ad’ụ wa ilaihi ma`āb

 36.  Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”.

Dan orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab suci, dari kalangan yahudi dan nasrani, ada orang yang beriman kepadamu dari kalangan mereka seperta abdulloh bun salam dan Najasayi, mereka merasa gembira dengan al-qur’an yang diturunkan padamu, karena sesuai dengan apa yang mereka miliki. Dan dari golongan-golongan yang bersekutu di atas kekafiran untuk menentangmu, seperti sayyid dan A’qib, dua uskup najran, dan ka’ab bin asyraf, ada orang yang mengingkari sebagain yang diturunkan padamu. Katakanlah kepada mereka, ”Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk menyembahNya saja, dan tidak mempersekutukan apapun denganNya. kepada perwujudan peribadahan kepada Allah, aku menyeru sekalain manusia. dan kepadaNyalah tempat kembaliku dan tempat berpulangku.”

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ

wa każālika anzalnāhu ḥukman ‘arabiyyā, wa la`inittaba’ta ahwā`ahum ba’da mā jā`aka minal-‘ilmi mā laka minallāhi miw waliyyiw wa lā wāq

 37.  Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.

Dan sebagaimana kami turunkan kitab-kitab suci kepada para nabi dengan Bahasa mereka, kami turunkan kepadamu -wahai rasul- al-qur’an dengan berbahasa arab, agar kamu menentukan hukum dengannya. Dan jika kamu mengikuti keinginan-keinginan hawa nafsu kaum musyrikin untuk menyembah selain Allah, -setelah kebenaran datang kepadamu dari sisi Allah-, niscaya kamu tidak memiliki penolong yang akan menolongmu dan pelindung yang melindungimu dari siksaanNya.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

wa laqad arsalnā rusulam ming qablika wa ja’alnā lahum azwājaw wa żurriyyah, wa mā kāna lirasụlin ay ya`tiya bi`āyatin illā bi`iżnillāh, likulli ajaling kitāb

 38.  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).

Dan apabila mereka berkata, ”mengapa kamu -wahai rasul-, menikahi wanita-wanita?” maka sesungguhnya kami telah mengutus sebelummu rasul-rasul dari kalangan manusia, dan kami memberikan kepada mereka istri-istri dan anak-anak. Dan apabila mereka berkata, ”seandainya dia benar utusan Allah, pastilah dia akan datang membawa mukjizat-mukjizat yang kami minta. ”Maka bukan pada jangkauan kemampuan seorang rasul untuk mendatangkan mukjizat yang diinginkan kaumnya kecuali dengan izin Allah. Tiap-tiap perkara yang telah diputuskan oleh Allah memiliki catatan dan batas waktu tertentu, yang Allah telah menuliskannya di sisiNya; tidak akan maju dan tidak akan mundur.

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

yam-ḥullāhu mā yasyā`u wa yuṡbit, wa ‘indahū ummul-kitāb

 39.  Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

Allah menghapus hukum-hukum dan ketetapan lainnya yang Dia kehendaki, dan mempertahankan dari perkara-perkara itu apa yang dikehendakiNya, sesuai dengan hikmah yang diketahuiNya. Dan di sisiNya terdapat kitab, yaitu lauhil mahfuzh. Yang ditetapkan di sana segala keaadan makhluk sampai hari kiamat.

وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

wa im mā nuriyannaka ba’ḍallażī na’iduhum au natawaffayannaka fa innamā ‘alaikal-balāgu wa ‘alainal-ḥisāb

 40.  Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.

Dan bila kami memperlihatkan padamu -wahai rasul-, sebagian hukuman yang kami ancamkan kepada musuh-musuhmu, berupa kehinaan dan siksaan di dunia, maka itulah balasan bagi mereka yang disegerakan. Dan bila kami mewafatkanmu sebelum kamu menyaksikannya, maka tugasmu tiada lain hanyalah menyampaikan dakwah saja, dan kewajiban Kami lah urusan perhitungan amal dan memberikan balasan.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

a wa lam yarau annā na`til-arḍa nangquṣuhā min aṭrāfihā, wallāhu yaḥkumu lā mu’aqqiba liḥukmih, wa huwa sarī’ul-ḥisāb

 41.  Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya.

Apakah orang-orang kafir itu tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah dibumi dan menguranginya dari sisi-sisinya, yaitu dengan cara kaum muslimin menaklukan negeri-negeri kaum musyrikin dan memasukannya menjadi negeri kaum muslimin. Dan Allah  menetapkan hukum, tidak ada yang dapat menolak ketetapanNya dan keputusanNya. Dan Dia mahacepat perhitunganNya, maka janganlah mereka meminta agar siksaan ditimpakan pada mereka dengan segera, sebab setiap yang akan tiba itu dekat.

وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلِلَّهِ الْمَكْرُ جَمِيعًا ۖ يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ ۗ وَسَيَعْلَمُ الْكُفَّارُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ

wa qad makarallażīna ming qablihim fa lillāhil-makru jamī’ā, ya’lamu mā taksibu kullu nafs, wa saya’lamul-kuffāru liman ‘uqbad-dār

 42.  Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.

Dan sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mengatur berbagai tipu daya terhadap rasul-rasul mereka, sebagaimana mereka melakukan hal yang sama terhadapmu. Padahal hanya milik Allah semua makar itu, lalu Dia menggagalkan makar mereka, dan mengembalikan makar itu pada mereka dalam bentuk kegagalan dan penyesalan. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, yang baik maupun yang buruk, lalu dia diberi balasan atasnya. Orang-orang kafir akan mengetahui, bila mereka datang kepada tuhan mereka, bagi siapakah kesudahan yang baik setelah kehidupan dunia ini? sesungguhnya itu bagi para pengikut rasul-rasul. Disini terkandung peringatan dan ancaman bagi orang-orang kafir.

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا ۚ قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

wa yaqụlullażīna kafarụ lasta mursalā, qul kafā billāhi syahīdam bainī wa bainakum wa man ‘indahụ ‘ilmul-kitāb

 43.  Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab”.

Dan orang-orang kafir berkata kepada nabi Allah ”wahai Muhammad, Allah tidak mengutus kamu.” katakanlah kepada mereka, ”Cukuplah Allah menjadi saksi atas kebenaranku dan kedustaan kalian. Dan cukuplah persaksian orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci dari kalangan yahudi dan nasrani yang beriman kepada risalahku dan wahyu yang aku bawa dari sisi Allah, dan mengikuti kebenaran, lalu mengutarakan persaksian itu dengan terang-terangan dan tidak menyembunyiakannya.”

Related: Surat Ibrahim Arab-Latin, Surat al-Hijr Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat an-Nahl, Terjemahan Tafsir Surat al-Isra, Isi Kandungan Surat al-Kahfi, Makna Surat Maryam

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Bahasa Arab Dan Kepadanyalah Kami Meminta Ulul Albab 172