Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Ar-Ra’d Ayat 39

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Arab-Latin: Yam-ḥullāhu mā yasyā`u wa yuṡbit, wa 'indahū ummul-kitāb

Terjemah Arti: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Allah menghapus hukum-hukum dan ketetapan lainnya yang Dia kehendaki, dan mempertahankan dari perkara-perkara itu apa yang dikehendakiNya, sesuai dengan hikmah yang diketahuiNya. Dan di sisiNya terdapat kitab, yaitu lauhil mahfuzh. Yang ditetapkan di sana segala keaadan makhluk sampai hari kiamat.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

39. Allah menghapus apa yang Dia kehendaki untuk dihapus berupa kebaikan atau keburukan, kebahagiaan atau kesengsaraan atau selainnya. Allah menetapkan apa yang Allah kehendaki untuk Dia tetapkan. Di sisi-Nya Lauḥul Maḥfuẓ yang merupakan induk dari segala urusan, apa yang nampak berupa penghapusan atau penetapan sejalan dengan apa yang tertulis di sana.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

39. يَمْحُوا۟ اللهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan)
Yang tercantum dalam kitab tersebut. Allah menghapus apa yang Dia kehendaki seperti kemelaratan, kebahagiaan, rezeki, umur, kebaikan, atau keburukan, Allah dapat mengganti yang satu dengan yang lainnya. Dan menempatkan yang satu ditempat lainnya.

وَعِندَهُۥٓ أُمُّ الْكِتٰبِ(dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)
Terdapat pendapat mengatakan bahwa penghapusan dan penetapan ini pada kitab yang ada di tangan para malaikat, adapun kitab Lauhul mahfudz tidak dihapus atau dirubah sama sekali, tidak ada pergantian yang satu dengan yang lain.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

39 Terkadang Allah menghapuskan hukum-hukum yang Dia kehendaki dan Dia juga menetapkan hukum yang Dia kehendaki dengan disertai hikmah dan manfaat yang disesuaikan dengan zaman. Di sisi-Nya lah terdapat Ummul-Kitab yaitu Lauh mahfuzh yang tidak ada ganti dan perubahannya

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Makna kata : (يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ) yamhullahu maa yasyaa’ : “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki.” Yaitu menghapus hukum-hukum dan selainnya sesuai dengan kehendak-Nya, apa yang Dia hapuskan maka itu adalah mansukh (dihapus hukumnya) dan yang Dia tetapkan adalah muhkam.

Makna ayat :
Firman-Nya : (يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثۡبِتُۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ) “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki, dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan milik-Nya lah Ummul Kitab.” Ayat ini adalah bantahan atas perkataan mereka, “Mengapa Dia menetapkan sesuatu, lalu menghapusnya lagi?” seperti diubahnya kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah dan masa iddah dari satu tahun menjadi empat bulan sepuluh hari? Maka Dia menegaskan bahwa Allah ta’ala memiliki kekuasaan dan kehendak yang akan bisa dikalahkan oleh kekuasaan dan kehendak manusia, Dia menghapus yang apa yang Dia kehendaki berupa syariat dan hukum, tergantung kepada kebutuhan hamba-hamba-Nya, dan begitu juga menetapkan hal yang baik dan bermanfaat bagi mereka, (وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ) “dan milik-Nya lah Ummul Kitab.” Yaitu kitab yang mencakup segala takdir, tidak dapat diubah dan diganti, seperti kematian, kehidupan, kebahadiaan, dan kesengsaraan. Dalam hadits “Pena-pena telah diangkat, dan kertas-kertas sudah kering.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Pelajaran dari ayat :
• Penjelasan bahwa naskh (penghapusan) hukum-hukum berdasarkan kitab (Al-Qur’an) dan sunnah (Al-Hadits).

Aisarut Tafasir / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, pengajar tafsir di Masjid Nabawi

Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghapus taqdir-Nya dan menetapkan sesuai yang Dia kehendaki. Perubahan ini bukanlah pada taqdir yang terdahulu yang telah didahului ilmu-Nya dan dicatat oleh pena-Nya, karena taqdir ini sudah tidak dapat dirubah lagi, yang demikian karena jika masih dirubah sama saja terjadi kekurangan dalam ilmu-Nya.

Syaikh As Sa’di berkata, “Yakni Lauh Mahfuzh, di mana semua perkara kembali kepadanya, ia merupakan pokoknya, sedangkan perkara-perkara itu cabang dan rantingnya. Perubahan hanyalah terjadi pada cabang dan ranting, seperti halnya amalan yang dilakukan pada siang dan malam hari yang dicatat oleh malaikat. Allah mengadakan sebab-sebab untuk tetapnya dan mengadakan sebab-sebab untuk terhapusnya, dan sebab-sebab itu tidak melewati apa yang tertulis dalam Lauh Mahfuzh, sebagaimana Allah menjadikan birrul walidain, silaturrahim dan ihsan termasuk sebab panjang umur dan luasnya rezeki, dan sebagaimana Dia menjadikan maksiat sebagai sebab tercabutnya keberkahan rezeki dan umur, dan sebagaimana Dia menjadikan sebab-sebab selamat dari kebinasaan sebagai sebab untuk keselamatan, dan menjadikan coba-coba kepadanya sebagai sebab untuk binasa. Dialah yang mengatur urusan sesuai kemampuan dan iradah-Nya, dan apa yang diatur-Nya tidaklah menyalahi apa yang telah diketahui-Nya dan ditulis-Nya dalam Lauh Mahfuzh.”

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Allah yang mahabijaksana menghapus hukum yang layak untuk dihapus, dan menetapkan apa (hukum) yang dia kehendaki untuk ditetapkan. Allah melakukan hal itu sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan yang dimiliki-Nya. Dan di sisi-Nya terdapat ummul-kitab, yakni lauh mahfudh. Kami'Allah'mahakuasa menetapkan atau menghapus hukum yang kami kehendaki sesuai kebijaksanaan kami. Dan sungguh, jika kami perlihatkan kepadamu, wahai nabi Muhammad, di dunia ini sebagian dari siksaan dan balasan yang kami ancamkan kepada mereka (orang kafir) sebagaimana permintaan mereka, atau kami wafatkan engkau sebelum menyaksikan siksaan itu datang kepada mereka'namun mereka pasti akan merasakannya'maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja dakwah dan risalah yang kami titipkan kepadamu, dan kamilah yang akan memperhitungkan amal mereka serta balasan yang akan mereka terima atasnya.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Ar-Ra’d Ayat 40 Arab-Latin, Surat Ar-Ra’d Ayat 41 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Ar-Ra’d Ayat 42, Terjemahan Tafsir Surat Ar-Ra’d Ayat 43, Isi Kandungan Surat Ibrahim Ayat 1, Makna Surat Ibrahim Ayat 2

Category: Surat Ar-Ra'd

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!