Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Saba

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Arab-Latin: al-ḥamdu lillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa lahul-ḥamdu fil`ākhirah, wa huwal-ḥakīmul-khabīr

Terjemah Arti:  1.  Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Sanjungan adalah bagi Allah karena sifat-sifatNya yang seluruhnya adalah sifat-sifat kesempurnaan, dan karena nikmat-nikmatNya yang lahir maupun yang batin, agama dan dunia, Yang memiliki apa yang di langit dan di bumi, dan bagiNya sanjungan sempurna di akhirat. Dia Mahabijaksana dalam perbuatanNya, juga Maha teliti terhadap urusan makhlukNya.

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ

ya’lamu mā yaliju fil-arḍi wa mā yakhruju min-hā wa mā yanzilu minas-samā`i wa mā ya’ruju fīhā, wa huwar-raḥīmul-gafụr

 2.  Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

Allah mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi berupa tetesan air hujan, mengetahui apa yang keluar darinya berupa tanaman, barang tambang dan air, apa yang turun dari langit berupa hujan, malaikat dan kitab-kitab, apa yang naik kepadaNya berupa malaikat dan amal perbuatan makhluk. Dia-lah Yang Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya sehingga Dia tidak menyegerakan hukuman atas orang-orang yang durhaka diantara mereka, juga Maha Pengampun bagi dosa-dosa para hambaNya yang bertaubat dan bertawakal kepadaNya.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa qālallażīna kafarụ lā ta`tīnas-sā’ah, qul balā wa rabbī lata`tiyannakum ‘ālimil-gaibi lā ya’zubu ‘an-hu miṡqālu żarratin fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa lā aṣgaru min żālika wa lā akbaru illā fī kitābim mubīn

 3.  Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”,

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

liyajziyallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt, ulā`ika lahum magfiratuw wa rizqung karīm

 4.  supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.

3-4. Orang-orang kafir yang mengingkari kebangkitan berkata, “ Kiamat tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah kepada mereka (wahai Rasul), “Pasti, demi Allah Tuhanku, ia benar-benar akan datang, hanya saja saat kedatangannya tidak diketahui kecuali oleh Allah semata Yang Maha Mengetahui yang ghaib, dimana tidak samar bagiNya seekor semut sekalipun, baik di langit maupun dibumi, tidak juga yang lebih besar atau lebih kecil dari itu, kecuali ia tertulis dalam kitab yang nyata, yaitu Lauhul Mahfuzh”, agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang membenarkan Allah dan mengikuti Rasulullah serta melakukan amal-amal yang shalih. Mereka mendapatkan ampunan bagi dosa-dosa mereka dan rizki yang mulia, yaitu surga.

وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ

wallażīna sa’au fī āyātinā mu’ājizīna ulā`ika lahum ‘ażābum mir rijzin alīm

 5.  Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang pedih.

Dan orang-orang yang berusaha menghalang-halangi jalan Allah, mendustakan para utusanNya dan membatalkan ayat-ayatNya, seraya menentang dan melawan perintah Allah, mereka mendapatkan azab terburuk dan terberat kepedihannya.

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

wa yarallażīna ụtul-‘ilmallażī unzila ilaika mir rabbika huwal-ḥaqqa wa yahdī ilā ṣirāṭil-‘azīzil-ḥamīd

 6.  Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari sisi Tuhanmu adalah haq, ia membimbing kejalan Allah yang Mahaperkasa yang tidak terkalahkan dan tidak terhalangi, sebaliknya Dia menundukkan segala sesuatu dan mengalahkannya, Maha Terpuji dalam firman-firman, perbuatan-perbuatan dan SyariatNya.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ نَدُلُّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ يُنَبِّئُكُمْ إِذَا مُزِّقْتُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّكُمْ لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ

wa qālallażīna kafarụ hal nadullukum ‘alā rajuliy yunabbi`ukum iżā muzziqtum kulla mumazzaqin innakum lafī khalqin jadīd

 7.  Dan orang-orang kafir berkata (kepada teman-temannya). “Maukah kamu kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, sesungguhnya kamu benar-benar (akan dibangkitkan kembali) dalam ciptaan yang baru?

Sebagian orang-orang kafir itu berkata kepada sebagian yang lain dalam rangka memperolok-olok, “maukah kalian kami tunjukkan seorang laki-laki (maksud mereka adalah Muhammad) yang mengabarkan kepada kalian bahwa bila kalian sudah mati dan jasad kalian telah hancur sehancur-hancurnya, kalian akan dihidupkan dan dibangkitkan kembali dari kubur kalian? Mereka mengatakan hal ini karena pengingkaran mereka yang melampaui batas.

أَفْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَمْ بِهِ جِنَّةٌ ۗ بَلِ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ فِي الْعَذَابِ وَالضَّلَالِ الْبَعِيدِ

aftarā ‘alallāhi każiban am bihī jinnah, balillażīna lā yu`minụna bil-ākhirati fil-‘ażābi waḍ-ḍalālil-ba’īd

 8.  Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh.

Apakah laki-laki itu berdusta atas Nama Allah atau dia gila sehingga dia berbicara sesuatu yang tidak dia sadari?” perkaranya tidak seperti yang dikira oleh orang-orang kafir itu, sebaliknya Muhammad adalah orang yang paling jujur di antara orang-orang yang jujur. Dan orang-orang yang tidak mempercayai kebangkitan dan tidak beramal untuknya mereka dalam azab yang terus-menerus di akhirat dan kesesatan yang jauh dari kebenaran di dunia.

أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ

a fa lam yarau ilā mā baina aidīhim wa mā khalfahum minas-samā`i wal-arḍ, in nasya` nakhsif bihimul-arḍa au nusqiṭ ‘alaihim kisafam minas-samā`, inna fī żālika la`āyatal likulli ‘abdim munīb

 9.  Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).

Apakah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Hari Akhirat itu tidak melihat besarnya Kuasa Allah yang ada di depan mereka dan di belakang mereka, yaitu langit dan bumi yang mencengangkan akal dan bahwa keduanya telah mengelilingi mereka? Bila kami berkehendak Kami membenamkan mereka ke dalam bumi sebagaimana yang Kami lakukan terhadap Qarun atau menurunkan potongan azab kepada mereka sebagaimana yang Kami lakukan terhadap kaum Syuaib, yang mana langit telah menghujani mereka dengan api yang membakar mereka. Sesungguhnya Kuasa Kami yang Kami sebutkan di atas mengandung petunjuk yang nyata bagi setiap hamba yang kembali kepada Tuhannya dengan bertaubat, mengakui tauhidNya dan mengikhlaskan ibadah untukNya.

۞ وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

wa laqad ātainā dāwụda minnā faḍlā, yā jibālu awwibī ma’ahụ waṭ-ṭaīr, wa alannā lahul-ḥadīd

 10.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya,

Sungguh Kami telah memberikan kenabian kepada Dawud, juga kitab dan ilmu, dan Kami berfirman kepada gunung-gunung dan burung-burung, “Bertasbihlah bersamanya.” Dan Kami melunakkan besi baginya, sehingga besi itu seperti adonan yang dia bisa buat sebagaimana yang dia kehendaki.

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

ani’mal sābigātiw wa qaddir fis-sardi wa’malụ ṣāliḥā, innī bimā ta’malụna baṣīr

 11.  (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.

(Yaitu) hendaklah engkau membuat baju-baju besi yang sempurna dan luas, tancapkan paku-paku pada sambungan-sambungannya. Jangan membuat lingkaran-lingkaran kecil karena ia lemah, sehingga baju perang tidak mampu melindungi pemakainya. Jangan menjadikannya besar sehingga ia memberatkan pemakainya. Beramallah wahai Dawud, kamu dan keluargamu, dengan taat kepada Allah. Sesungguhnya Aku Maha Melihat apa yang kalian lakukan, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariKu.

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

wa lisulaimānar-rīḥa guduwwuhā syahruw wa rawāḥuhā syahr, wa asalnā lahụ ‘ainal-qiṭr, wa minal-jinni may ya’malu baina yadaihi bi`iżni rabbih, wa may yazig min-hum ‘an amrinā nużiq-hu min ‘ażābis-sa’īr

 12.  Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Dan Kami tundukkan angin untuk Sulaiman, ia berhembus dari pagi sampai tengah hari dengan perjalanan satu bulan dan dari tengah hari sampai malam dengan perjalanan satu bulan, dengan (ukuran) perjalanan biasa. Dan Kami lebur tembaga untuknya sebagaimana air mengalir, yang dia gunakan sesukanya. Dan Kami menundukkan untuknya jin untuk bekerja kepadanyaa dengan izin Tuhannya. Barangsiapa yang menyimpang diantara mereka dari perintah Kami yang telah Kami tetapkan, yaitu mereka harus menaati Sulaiman, Kami akan menimpakan kepadaNya siksa api neraka yang terus menerus menyala.

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

ya’malụna lahụ mā yasyā`u mim maḥārība wa tamāṡīla wa jifāning kal-jawābi wa qudụrir rāsiyāt, i’malū āla dāwụda syukrā, wa qalīlum min ‘ibādiyasy-syakụr

 13.  Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Jin membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya berupa tempat-tempat ibadah, gambar-gambar dari kaca dan tembaga, nampan-nampan besar seperti telaga tempat air dan bejana-bejana yang menetap di suatu tempat dan tidak bergerak karena besarnya. Dan Kami berfirman, “Wahai keluarga Dawud, beramalah untuk mensyukuri Allah atas apa-apa yang telah Dia berikan kepada kalian, dan hal itu dengan menaatiNya dan menjalankan perintah-perintahNya.” Hanya sedikit dari hamba-hambaKu yang banyak bersyukur, dan Dawud dengan keluarganya termasuk yang sedikit itu.

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

fa lammā qaḍainā ‘alaihil-mauta mā dallahum ‘alā mautihī illā dābbatul-arḍi ta`kulu minsa`atah, fa lammā kharra tabayyanatil-jinnu al lau kānụ ya’lamụnal-gaiba mā labiṡụ fil-‘ażābil-muhīn

 14.  Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.

Maka tatkala kami menetapkan kematian atas Sulaiman, jin tidak mengetahui kematiannya kecuali oleh petunjuk rayap yang menggerogoti tongkatnya yang biasa digunakan oleh Sulaiman untuk bersandar. Sulaiman lalu jatuh ke tanah, saat itu jin mengetahui seandainya mereka mengetahui yang ghaib, niscaya mereka tidak berada dalam siksaan yang menghinakan dan pekerjaan berat kepada Sulaiman, karena mereka mengira bahwa Sulaiman masih hidup. Ayat ini membantah keyakinan sebagian orang bahwa jin mengetahui perkara ghaib, karena bila jin mengetahui perkara ghaib, niscaya mereka akan mengetahui wafatnya Sulaiman dan mereka tidak akan hidup dalam siksaaan yang menghinakan.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

laqad kāna lisaba`in fī maskanihim āyah, jannatāni ‘ay yamīniw wa syimāl, kulụ mir rizqi rabbikum wasykurụ lah, baldatun ṭayyibatuw wa rabbun gafụr

 15.  Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Kabilah Saba’ di Yaman memilki tempat tinggal yang membuktikan Kuasa Kami, yaitu dua kebun di kanan dan kiri. Makanlah dari rizki Tuhan kalian dan bersyukurlah atas nikmat-nikmatNya atas kalian, karena negeri kalian bertanah subur dan berhawa bagus, dan Tuhan kalian Maha Pengampun.

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

fa a’raḍụ fa arsalnā ‘alaihim sailal-‘arimi wa baddalnāhum bijannataihim jannataini żawātai ukulin khamṭiw wa aṡliw wa syai`im min sidring qalīl

 16.  Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.

ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

żālika jazaināhum bimā kafarụ, wa hal nujāzī illal-kafụr

 17.  Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

16-17. Namun mereka berpaling dari perintah Allah, tidak bersyukur kepadaNya dan mendustakan utusan-utusan Allah, akibatnya kami mengirimkan banjir bandang yang dahsyat yang menghancurkan bendungan dan menenggelamkan kebun-kebun. Kami mengganti dua kebun mereka yang berbuah lebat itu dengan dua kebun buah-buahan yang buruk dan terasa pahit, yaitu buah yang pahit dan rasanya yang tidak enak, pohon Atsl, yaitu sejenis cemara yang tidak berbuah, dan sedikit pohon bidara yang berduri. Pergantian dari yang baik kepada yang buruk adalah karena kekafiran mereka dan tidak bersyukurnya mereka kepada nikmat-nikmat Allah. dan Kami tidak menimpakan hukuman yang keras ini kecuali kepada orang yang sangat ingkar lagi kafir dengan kekafiran yang mendalam. Dia membalas perbuatannya dengan balasan yang setimpal.

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

wa ja’alnā bainahum wa bainal-qurallatī bāraknā fīhā quran ẓāhirataw wa qaddarnā fīhas-saīr, sīrụ fīhā layāliya wa ayyāman āminīn

 18.  Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.

Dan Kami menjadikan antara Saba’ yang di Yaman dengan bumi yang Kami berkahi, yaitu Syam, kota-kota yang sambung-menyambung, sebagian terlihat dari sebagian yang lain dan Kami menjadikan perjalanan padanya perjalanan yang ditentukan dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa ada kesusahan padanya, Kami berfirman kepada mereka, “Berjalanlah di kota-kota tersebut pada waktu kapan pun kalian ingin, siang atau malam, dalam keadaan aman, kalian tidak takut musuh, kelaparan dan kehausan.”

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

fa qālụ rabbanā bā’id baina asfārinā wa ẓalamū anfusahum fa ja’alnāhum aḥādīṡa wa mazzaqnāhum kulla mumazzaq, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr

 19.  Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.

Tetapi karena sikap mereka yang berlebih-lebihan, mereka bosan kepada kemudahan, keamanan dan kemakmuran hidup. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, jadikanlah kota-kota kami berjauhan agar perjalanan kami diantaranya menjadi jauh, sehingga kami tidak menemukan kota yang ramai dalam perjalanan kami.” Mereka menzhalimi diri mereka dengan kekafiran mereka, maka Kami membinasakan mereka dan menjadikan mereka sebagai pelajaran dan cerita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Kami memecahkan mereka sehingga mereka becerai-berai, dan kota-kota mereka pun hancur. Sesungguhnya apa yang menimpa Saba’ adalah pelajaran bagi orang yang sangat sabar menghadapi hal-hal yang dibenci lagi berat, juga pandai bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

wa laqad ṣaddaqa ‘alaihim iblīsu ẓannahụ fattaba’ụhu illā farīqam minal-mu`minīn

 20.  Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.

Iblis menyangka dengan sangkaan yang tidak yakin bahwa dia akan menyesatkan anak cucu Adam dan bahwa mereka akan menaatinya dalam bermaksiat kepada Allah, maka Allah membenarkan sangkaannya pada mereka, mereka pun menaatinya dan mendurhakai Tuhan mereka, kecuali sekelompok orang-orang yang beriman kepada Allah, mereka tetap teguh di atas ketaatan kepada Allah.

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ ۗ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

wa mā kāna lahụ ‘alaihim min sulṭānin illā lina’lama may yu`minu bil-ākhirati mim man huwa min-hā fī syakk, wa rabbuka ‘alā kulli syai`in ḥafīẓ

 21.  Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.

Iblis tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang kafir sehingga bisa memaksa mereka untuk menjadi kafir, akan tetapi hikmah Allah menuntut untuk memberi kesempatan kepada iblis agar menggoda anak cucu Adam, supaya apa yang Allah ketahui di alam azali terlihat, agar Dia membedakan antara siapa yang membenarkan kebangkitan, pahala dan siksa dengan siapa yang meragukannya. Dan Tuhanmu Maha menjaga segala sesuatu dengan penjagaanNya dan akan memberikan balasan atasnya.

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

qulid’ullażīna za’amtum min dụnillāh, lā yamlikụna miṡqāla żarratin fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa mā lahum fīhimā min syirkiw wa mā lahụ min-hum min ẓahīr

 22.  Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.

katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik, “Panggillah apa yang menurut kalian adalah sekutu-sekutu bagi Allah lalu kalian menyembahnya selain Allah berupa berhala-berhala, malaikat-malaikat dan manusia. Mintalah mereka untuk menunaikan hajat kalian, karena mereka tidak akan menjawab kalian, mereka tidak memiliki apa pun walaupun hanya seberat semut kecil sekalipun, baik di langit maupun di bumi, mereka tidak memiliki wewenang sedikit pun di langit dan di bumi.” Allah tidak dibantu oleh seorang pun dari orang-orang musyrik itu untuk menciptakan sesuatu, sebaliknya Allah adalah satu-satunya Dzat yang mengadakan, maka hanya Dia-lah yang patut disembah, tidak seorang pun selainNya yang berhak disembah.

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

wa lā tanfa’usy-syafā’atu ‘indahū illā liman ażina lah, ḥattā iżā fuzzi’a ‘ang qulụbihim qālụ māżā qāla rabbukum, qālul-ḥaqq, wa huwal-‘aliyyul-kabīr

 23.  Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Syafa’at pemberi syafa’at di sisi Allah tidak berguna kecuali bagi siapa yang Allah izinkan. Dan karena keagungan dan kemuliaan Allah, bila Dia berfirman dengan wahyu, lalu penduduk langit mendengar FirmanNya, mereka gemetar ketakutan, hingga mereka seperti pingsan, pada saat ketakutan itu lenyap dari hati mereka, sebagian bertanya kepada sebagian yang lain, “Apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian?” Malaikat menjawab, “Dia berfirman yang haq,” dan Dia Mahatinggi dengan Dzat, kekuasaan, dan kedudukanNya, juga Mahabesar atas segala sesuatu.

۞ قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qul may yarzuqukum minas-samāwāti wal-arḍ, qulillāhu wa innā au iyyākum la’alā hudan au fī ḍalālim mubīn

 24.  Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.

Katakanlah (wahai rasul) kepada orang-orang musyrik, “Siapa yang memberi kalian rizki dari langit dengan hujan dan dari bumi dengan tanaman, barang tambang dan lainnya?” mereka pasti akan mengakui bahwa dia adalah Allah. Namun bila mereka tidak mengakui, maka katakanlah kepada mereka, “Allah-lah yang memberi rizki. Dan sesungguhnya salah satu di antara kedua kubu, kami atau kalian, berada di atas hidayah yang kokoh dariNya atau di atas kesesatan yang nyata lagi terbenam di dalamnya.”

قُلْ لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ

qul lā tus`alụna ‘ammā ajramnā wa lā nus`alu ‘ammā ta’malụn

 25.  Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”.

Katakanlah, “Kalian tidak bertanggung jawab atas dosa-dosa kami dan kami juga tidak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan kalian, karena kami berlepasdiri dari kalian dan kekufuran kalian.”

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

qul yajma’u bainanā rabbunā ṡumma yaftaḥu bainanā bil-ḥaqq, wa huwal-fattāḥul-‘alīm

 26.  Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”.

katakanlah, “Tuhan kita akan mempertemukan antara kami dengan kalian di Hari Kiamat, kemudian menetapkan keputusan diantara kita dengan adil, Dia-lah yang Maha Memberi keputusan yang menetapkan hokum di antara makhlukNya, mengetahui apa yang seharusnya diputuskan dengannya, danmengetahui keadaan makhluk-Nya, tiada sesuatu pun yang samar bagiNya.

قُلْ أَرُونِيَ الَّذِينَ أَلْحَقْتُمْ بِهِ شُرَكَاءَ ۖ كَلَّا ۚ بَلْ هُوَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

qul arụniyallażīna alḥaqtum bihī syurakā`a kallā, bal huwallāhul-‘azīzul-ḥakīm

 27.  Katakanlah: “Perlihatkanlah kepadaku sembah-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu-Nya, sekali-kali tidak mungkin! Sebenarnya Dialah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Katakanlah, “Tunjukkanlah kepadaku berdasarkan hujjah dan dalil, apa-apa yang kalian samakan dengan Allah lalu kalian menjadikan mereka sekutu-sekutu bagi Allah dalam ibadah, adakah mereka menciptakan sesuatu?” perkaranya tidak sebagaimana yang mereka kira, karna hanya Allah yang berhak disembah dengan haq, tidak ada sekutu bagiNya. Dia Mahaperkasa dalam membalas orang-orang yang menyekutukanNya, juga Mahabijaksana dalam firman-firman, perbuatan-perbuatan dan PengaturanNya terhadap makhlukNya.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa mā arsalnāka illā kāffatal lin-nāsi basyīraw wa nażīraw wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 28.  Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Dan Kami tidak mengutusmu (wahai Rasul) kecuali kepada manusia seluruhnya, sebagai pemberi kabar gembira dengan pahala dari Allah dan sebagai penyampai peringatan akan hukumanNya, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui kebenaran, sehingga mereka berpaling darinya.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

 29.  Dan mereka berkata: “Kapankah (datangnya) janji ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar?”.

Orang-orang musyrik itu berkata untuk memperolok-olok, “Kapankah datangnya janji yang kalian ancamkan kepada kami bahwa Allah akan mengumpulkan kami padanya kemudian Dia menetapkan keputusanNya di antara kami, bila kalian adalah orang-orang yang benar dalam apa yang kalian ancamkan kepada kami?”

قُلْ لَكُمْ مِيعَادُ يَوْمٍ لَا تَسْتَأْخِرُونَ عَنْهُ سَاعَةً وَلَا تَسْتَقْدِمُونَ

qul lakum mī’ādu yaumil lā tasta`khirụna ‘an-hu sā’ataw wa lā tastaqdimụn

 30.  Katakanlah: “Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat) yang tiada dapat kamu minta mundur daripadanya barang sesaatpun dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan”.

katakanlah kepada mereka (wahai Rasul), “Kalian memilki waktu yang telah ditetapkan dan ia akan mendatangi kalian, tidak mungkin tidak, yaitu Hari Kiamat, dimana kalian tidak bisa menunda sesaat pun untuk beratubat, kalian juga tidak bisa memajukannya sesaat pun sebelumnya untuk menyegerakan azab. Hati-hatilah kepada hari itu dan persiapkanlah diri kalian untuk menghadapinya.”

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ نُؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ

wa qālallażīna kafarụ lan nu`mina bihāżal-qur`āni wa lā billażī baina yadaīh, walau tarā iżiẓ-ẓālimụna mauqụfụna ‘inda rabbihim yarji’u ba’ḍuhum ilā ba’ḍinil-qaụl, yaqụlullażīnastuḍ’ifụ lillażīnastakbarụ lau lā antum lakunnā mu`minīn

 31.  Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”.

Orang-orang kafir berkata, “Kami tidak akan membenarkan al-Qur’an ini dan tidak pula kitab-kitab yang mendahuluinya seperti Taurat, Injil, dan Zabur.” Sungguh mereka telah mendustakan seluruh kitab-kitab Allah. Seandainya kamu melihat wahai Rasul, saat orang-orang zhalim itu ditahan di depan Tuhan mereka untuk menjalani perhitungan amal, mereka berbisik-bisik diantara mereka, masing-masing menyalahkan yang lain, niscaya kamu melihat sesuatu yang menyeramkan. Orang-orang lemah berkata kepada orang-orang yang sombong (dan mereka adalah para tokoh dan pemimpin yang sesat lagi menyesatkan) “kalau kalian tidak menyesatkan kami dari petunjuk, niscaya kami telah beriman kepada Allah dan RasulNya.”

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ ۖ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ

qālallażīnastakbarụ lillażīnastuḍ’ifū a naḥnu ṣadadnākum ‘anil-hudā ba’da iż jā`akum bal kuntum mujrimīn

 32.  Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.

Para pemimpin berkata kepada para pengikut yang dianggap lemah, “Apakah kami melarang kalian untuk mengikuti hidayah setelah ia datang kepada kalian? Justru kalianlah para pendosa karena masuk ke dalam kekafiran atas dasar keinginan dan pilihan kalian sendirii.”

وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا ۚ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa qālallażīnastuḍ’ifụ lillażīnastakbarụ bal makrul-laili wan-nahāri iż ta`murụnanā an nakfura billāhi wa naj’ala lahū andādā, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa ja’alnal-aglāla fī a’nāqillażīna kafarụ, hal yujzauna illā mā kānụ ya’malụn

 33.  Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Orang-orang lemah berkata kepada para pemimpin dalam kesesatan, “Pengaturan kalian yang buruk terhadap kami siang dan malam yang membuat kami terjerumus ke dalam kebinasaan, kalian meminta kami agar kami kafir kepada Allah dan mengangkat sekutu-sekutu bagiNya dalam ibadah.” Masing-masing kubu merintihkan penyesalan saat mereka melihat azab disiapkan untuk mereka. Dan Kami menjadikan belenggu-belenggu di leher orang-orang kafir itu, mereka tidak di hokum dengan hukuman ini kecuali disebabkan oleh kekafiran mereka kepada Allah dan perbuatan buruk mereka di dunia. Dalam ayat ini terkandung peringatan keras dari mengikuti para penyeru kepada kesesatan dan para pemimpin kezhaliman.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

wa mā arsalnā fī qaryatim min nażīrin illā qāla mutrafụhā innā bimā ursiltum bihī kāfirụn

 34.  Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Dan Kami tidak mengutus di sebuah negeri seorang rasul yang mengajak kepada mentauhidkan Allah dan mengesakanNya dengan ibadah, kecuali orang-orang dari penduduknya yang tenggelam dalam hawa nafsu dan syahwat berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian bawa (wahai para rasul).”

وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

wa qālụ naḥnu akṡaru amwālaw wa aulādaw wa mā naḥnu bimu’ażżabīn

 35.  Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.

Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak harta dan anak daripada kalian, dan Allah tidak memberikan nikmat-nikmat ini kepada kami kecuali karena Dia ridha kepada kami, dan kami tidak akan disiksa di dunia dan di akhirat.”

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdiru wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

 36.  Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

katakanlah kepada mereka (wahai rasul), “Sesungguhnya tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya, bukan karena cinta atau benci, namun Dia melakukan itu sebagai ujian, tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa hal itu adalah ujian bagi hamba-hambaNya, karena mereka tidak memperhatikan.”

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

wa mā amwālukum wa lā aulādukum billatī tuqarribukum ‘indanā zulfā illā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa ulā`ika lahum jazā`uḍ-ḍi’fi bimā ‘amilụ wa hum fil-gurufāti āminụn

 37.  Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).

Bukan harta dan anak-anak kalian yang mendekatkan kedudukan kalian di sisi Kami dan meninggikan derajat kalian, akan tetapi siapa yang beriman kepada Allah dan beramal shalih, maka mereka mendapatkan pahala kebaikan yang berlipat ganda, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tambahan yang dikehendaki oleh Allah. mereka berada di tempat-tempat yang tinggi di surga, aman dari siksa, kematian dan kesedihan.

وَالَّذِينَ يَسْعَوْنَ فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ

wallażīna yas’auna fī āyātinā mu’ājizīna ulā`ika fil-‘ażābi muḥḍarụn

 38.  Dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu dimasukkan ke dalam azab.

Dan orang-orang yang berusaha membatalkan hujjah-hujjah Kami dan menghalang-halangi dari jalan Allah, seraya menentang dan melawan, mereka berada dalam azab Jahanam di Hari Kiamat, para malaikat Zabaniyah menyeret mereka ke dalamnya dan mereka tidak akan keluar darinya.

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u min ‘ibādihī wa yaqdiru lah, wa mā anfaqtum min syai`in fa huwa yukhlifuh, wa huwa khairur-rāziqīn

 39.  Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang yang menyombongkan diri dengan harta dan anak-anak mereka, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki karena sebuah hikmah yang Dia ketahui.” Apa pun yang kalian berikan bila hal itu diperintahkan Allah, Dia akan menggantinya dengan balasan di dunia dan dengan pahala di akhirat. Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki, maka mintalah rizki kepadaNya dan berusahalah dengan sebab-sebab yang Dia perintahkan kepada kalian.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

wa yauma yaḥsyuruhum jamī’an ṡumma yaqụlu lil-malā`ikati a hā`ulā`i iyyākum kānụ ya’budụn

 40.  Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”.

dan ingatlah (wahai rasul) hari di mana Allah akan mengumpulkan orang-orang musyrik dan apa-apa yang disembah selain Allah dari kalangan malaikat, kemudian Allah berfirman kepada para malaikat sebagai pengingkaran atas orang-orang yang menyembah mereka, “Apakah kalian itu yang mereka sembah selain Kami?’

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

qālụ sub-ḥānaka anta waliyyunā min dụnihim, bal kānụ ya’budụnal-jinna akṡaruhum bihim mu`minụn

 41.  Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.

Malaikat menjawab, “Kami menyucikanMu ya Allah dari menjadi sekutu bagiMu dalam ibadah, Engkau adalah wali kami yang kami taati dan kami sembah semata, akan tetapi mereka menyembah setan-setan, kebanyakan dari mereka membenarkan dan menaati setan-setan itu.”

فَالْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

fal-yauma lā yamliku ba’ḍukum liba’ḍin naf’aw wa lā ḍarrā, wa naqụlu lillażīna ẓalamụ żụqụ ‘ażāban-nārillatī kuntum bihā tukażżibụn

 42.  Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”.

maka pada hari kebangkitan, apa-apa yang disembah selain Allah tidak memiliki kuasa apa pun untuk para penyembahnya, tidak manfaat dan tidak pula mudarat, dan Kami berfirman kepada orang-orang yang menzhalimi diri mereka dengan kesyirikan dan kemaksiatan, “Rasakanlah siksa neraka yang dulu kalian dustakan.”

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُفْتَرًى ۚ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālụ mā hāżā illā rajuluy yurīdu ay yaṣuddakum ‘ammā kāna ya’budu ābā`ukum, wa qālụ mā hāżā illā ifkum muftarā, wa qālallażīna kafarụ lil-ḥaqqi lammā jā`ahum in hāżā illā siḥrum mubīn

 43.  Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu”, dan mereka berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja”. Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

Bila ayat-ayat Allah yang jelas dibacakan kepada orang-orang kafir Makkah, mereka berkata, “Muhammad hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalang-halangi kalian untuk menyembah tuhan-tuhan yang yang kalian sembah dan telah disembah sebelumnya oleh nenek moyang kalian.” Mereka juga berkata, “Al-Qur’an yang kamu bacakan kepada kami (wahai Muhammad), hanyalah dusta yang dibuat-buat, kamu membuatnya dari dirimu sendiri, bukan dari sisi Allah.” dan orang-orang kafir berkata tentang al-Qur’an manakala ia datang kepada mereka, “Ini hanyalah sihir yang nyata.”

وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ

wa mā ātaināhum ming kutubiy yadrusụnahā wa mā arsalnā ilaihim qablaka min nażīr

 44.  Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun.

Dan Kami tidak menurunkan kepada orang-orang kafir itu kitab-kitab yang mereka baca sebelum al-Qur’an lalu kitab-kitab itu menunjukkan kepada apa yang mereka klaim bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah sihir. Dan Kami tidak mengutus kepada mereka sebelummu (wahai Rasul) seorang rasul yang memperingatkan mereka terhadap siksa Kami.

وَكَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوا مِعْشَارَ مَا آتَيْنَاهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِي ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

wa każżaballażīna ming qablihim wa mā balagụ mi’syāra mā ātaināhum fa każżabụ rusulī, fa kaifa kāna nakīr

 45.  Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu lalu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku.

Dan orang-orang sebelum mereka telah mendustakan pula rasul-rasul Kami, seperti kaum Ad dan Tsamud, padahal orang-orang Makkah tidak memiliki sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada umat-umat terdahulu berupa kekuatan, kekayaan melimpah dan usia yang panjang serta nikmat-nikmat lainnya, lalu mereka mendustakan utusan-utusanKu dalam apa yang mereka bawa kepada mereka, lalu Kami membinasakan mereka. Maka lihatlah (wahai Rasul), bagaimana pengingkaranKu atas mereka dan hukumanKu terhadap mereka.

۞ قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ ۖ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا ۚ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

qul innamā a’iẓukum biwāḥidah, an taqụmụ lillāhi maṡnā wa furādā ṡumma tatafakkarụ, mā biṣāḥibikum min jinnah, in huwa illā nażīrul lakum baina yadai ‘ażābin syadīd

 46.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.

katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang yang mendustakan lagi menentang itu, “sesungguhnya Aku hanya menasihatkan satu perkara kepada kalian, yaitu hendaklah kalian menegakkan ketaatan kepada Allah, berdua atau sendiri-sendiri, kemudian renungkanlah keadaan teman kalian Rasulullah, dan apa yang dituduhkan kepadanya, ternyata dia tidak gila, karena dia hanya pemberi peringatan kepada kalian yang mengingatkan kalian terhadap azab Jahanam sebelum kalian mencicipi panasnya.”

قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

qul mā sa`altukum min ajrin fa huwa lakum, in ajriya illā ‘alallāh, wa huwa ‘alā kulli syai`in syahīd

 47.  Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang kafir, “Aku tidak meminta atas kebaikan yang aku bawa kepada kalian sebuah upah, sebaliknya ia untuk kalian saja, upahku yang aku nanti-nantikan telah ditanggung oleh Allah yang Maha Mengetahui amalku dan amal kalian, tiada sesuatu pun yang samar bagiNya, Dia akan membalas semua orang sesuai dengan apa yang menjadi haknya.”

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

qul inna rabbī yaqżifu bil-ḥaqq, ‘allāmul-guyụb

 48.  Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib”.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada pihak yang mengingkari tauhid dan risalah Islam, “sesungguhnya Tuhanku melempari kebatilan dengan hujjah-hujjah kebenaran, maka hujjah-hujjah itu merobohkan dan menghancurkannya.” Allah Maha Mengetahui perkara ghaib, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya di bumi dan di langit.

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

qul jā`al-ḥaqqu wa mā yubdi`ul-bāṭilu wa mā yu’īd

 49.  Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi”.

Katakanlah (wahai Rasul), “Kebenaran dan syariat yang agung telah datang dari Allah, kebatilan telah lenyap dan kekuasaannya telah sirna, sehingga tidak tersisa darinya yang bisa memulainya dan mengembalikannya.”

قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي ۖ وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

qul in ḍalaltu fa innamā aḍillu ‘alā nafsī, wa inihtadaitu fa bimā yụḥī ilayya rabbī, innahụ samī’ung qarīb

 50.  Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”.

katakanlah, “Bila aku menyimpang dari kebenaran, maka aku sendiri yang memikul dosa dari kesesatanku, namun bila aku istiqamah di atasnya, maka hal itu dengan wahyu Allah yang Dia wahyukan kepadaku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mendengar apa yang aku katakan kepada kalian, Maha dekat kepada orang yang meminta dan berdoa kepadaNya.”

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ فَزِعُوا فَلَا فَوْتَ وَأُخِذُوا مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ

walau tarā iż fazi’ụ fa lā fauta wa ukhiżụ mim makāning qarīb

 51.  Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka),

Sekiranya kamu (wahai Rasul) melihat saat orang-orang kafir itu ketakutan saat melihat azb Allah, niscaya kamu melihat suatu perkara yang dahsyat, tiada tempat berlari dan menyelamatkan diri bagi mereka, mereka digiring ke dalam neraka dari tempat yang dekat.

وَقَالُوا آمَنَّا بِهِ وَأَنَّىٰ لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

wa qālū āmannā bih, wa annā lahumut-tanāwusyu mim makānim ba’īd

 52.  dan (di waktu itu) mereka berkata: “Kami beriman kepada Allah”, bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu.

Orang-orang kafir berkata (ketika mereka melihat azab di akhirat), “Kami beriman kepada Allah, kitab-kitabNya dan utusan-utusanNya.” Bagaimana mungkin mereka menggapai iman di akhirat sementara jarak mereka dengan iman sangat jauh? Sungguh telah dihalangi antara mereka dan iman, karena tempat iman adalah di kehidupan dunia, sementara di sana mereka telah mengingkarinya.

وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ ۖ وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

wa qad kafarụ bihī ming qabl, wa yaqżifụna bil-gaibi mim makānim ba’īd

 53.  Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh.

Mereka telah kafir kepada kebenaran di dunia, mendustakan para rasul, menuduh dengan dugaan dari jarak yang jauh dari kebenaran, mereka tidak mempunyai sandaran bagi dugaan batil mereka, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk mendapatkan kebenaran, sebagaimana pemanah tidak mungkin mengenai sasarannya dari jarak yang sangat jauh.

وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُرِيبٍ

wa hīla bainahum wa baina mā yasytahụna kamā fu’ila bi`asy-yā’ihim ming qabl, innahum kānụ fī syakkim murīb

 54.  Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.

Orang-orang kafir itu dihalangi dari apa yang mereka inginkan, yaitu taubat dan kembali ke dunia agar bisa beriman, sebagaimana Allah melakukan hal yang sama kepada orang-orang kafir seperti mereka dari umat-umat sebelumnya. Sesungguhnya mereka di dunia dalam kebimbangan dalam perkara para rasul, kebangkitan dan hisab, membuat keragu-raguan dan kegoncangan, oleh karena itu mereka tidak beriman.

Related: Surat Fathir Arab-Latin, Surat Yasin Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat ash-Shaffat, Terjemahan Tafsir Surat Shad, Isi Kandungan Surat az-Zumar, Makna Surat al-Mu’min

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!