Ayat Tentang Dakwah

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Arab-Latin: wa man aḥsanu qaulam mim man da'ā ilallāhi wa 'amila ṣāliḥaw wa qāla innanī minal-muslimīn

Terjemah Arti: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Tafsir Ayat Tentang Dakwah

Tidak ada yang lebih bagus perkataannya daripada seseorang yang mengajak kepada tauhid Allah dan penyembahan kepadaNya semata, lalu dia melakukan amal shalih dan dia berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim yang tunduk kepada perintah dan syariat Allah.” Ayat ini mengandung dorongan untuk berdakwah kepada Allah, menjelaskan keutamaan para ulama yang mengajak kepada Allah berdasarkan ilmu yang mantap (bashirah) sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad. (Tafsir al-Muyassar)

Tidak ada seorangpun yang lebih bagus perkataannya dibandingkan orang yang mengajak untuk mentauhidkan Allah dan mengamalkan syariat-Nya, mengerjakan amal saleh yang diridai oleh Rabbnya, dan dia berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri lagi tunduk kepada Allah.” Barangsiapa melakukan hal itu seluruhnya, maka dia adalah manusia yang paling bagus perkataannya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tidak ada orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang mengajak agar hanya menyembah Allah dan mengerjakan amal shalih yang diperintahkan olehNya. Dia berkata dengan lantang: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang tunduk kepada perintah Allah” Ini merupukan penggabungan antara akidah dan amal. {Man} adalah istifham yang mengandung makna nafi. Maknanya adalah tidak ada satupun yang ucapannya lebih baik. Ayat ini diturunkan untuk Rasulallah SAW dan para sahabatnya (Tafsir al-Wajiz)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ (Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah) Yakni kepada keesaan dan ketaatan kepada Allah. Inilah perkataan terbaik yang diucapkan seseorang kepada orang lain. وَعَمِلَ صٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ(mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”) Yakni berserah diri kepada Tuhan-Ku. Setiap orang yang menjalankan dakwah kepada syariat Allah dan melakukan amal baik dengan mengerjakan kewajiban yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya serta termasuk orang yang beragama Islam, maka tidak ada yang lebih baik perkataannya darinya dan tidak ada yang lebih terang jalannya serta tidak ada yang lebih besar balasan amalnya. (Zubdatut Tafsir)

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا ٱضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَآئِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُعْتَدِينَ

wa mā lakum allā ta`kulụ mimmā żukirasmullāhi 'alaihi wa qad faṣṣala lakum mā ḥarrama 'alaikum illā maḍṭurirtum ilaīh, wa inna kaṡīral layuḍillụna bi`ahwā`ihim bigairi 'ilm, inna rabbaka huwa a'lamu bil-mu'tadīn

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Dan apa saja yang menghalangi kalian (wahai kaum muslimin), untuk memakan sembelihan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada kalian seluruh makanan yang diharamkannya atas kalian? Akan tetapi, dalam kondisi darurat yang disebabkan oleh kelaparan, dari barang-barang yang diharamkan atas kalian seperti bangkai, sesungguhnya menjadi boleh dimakan bagi kalian. Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang sesat pasti akan menyesatkan para pengikut mereka dari jalan Allah dalam urusan penghalalan barang-barang yang diharamkan dan pengharaman barang-barang halal dengan dorongan hawa nafsu mereka lantaran kebodohan mereka. Sesungguhnya tuhanmu (wahai rasul), lebih mengetahui orang yang melampaui batas dalam perkara tersebut. Dan Dia lah yang akan menangani perhitungan perbuatan orang itu dan balasan baginya. (Tafsir al-Muyassar)

Apa yang mencegah kalian -wahai orang-orang mukmin- untuk memakan binatang yang disembelih dengan menyebut nama Allah? Padahal Allah telah menjelaskan kepada kalian apa-apa yang diharamkan bagi kalian sehingga harus kalian tinggalkan, kecuali dalam kondisi darurat. Karena kondisi darurat membuat yang terlarang menjadi boleh. Dan banyak orang-orang musyrik yang tersesat berusaha menyesatkan para pengikut mereka dengan pendapat-pendapat mereka yang salah lantaran kebodohan mereka. Mereka menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan bagi mereka, seperti bangkai dan lain-lain, dan mengharamkan apa-apa yang Allah halalkan bagi mereka, seperti binatang-binatang baḥīrah, waṣīlah, ḥāmī dan lain-lain. Sesungguhnya Rabbmu -wahai Rasul- lebih tahu tentang orang-orang yang melampaui batas-batas Allah. Dan Dia akan memberi mereka balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang melampaui batas-batas-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

119 Mengapa kamu tidak mau memakan binatang-binatang yang halal dan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya? Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu dengan penjelasan yang jelas pada surat Al maidah ayat ketiga, kecuali sesuatu yang haram dan kamu terpaksa memakannya. Sebab keadaan mendesak bisa jadi sebab halalnya sesuatu yang diharamkan. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia yaitu orang-orang kafir benar benar hendak menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan dan dasar. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih Mengetahui orang-orang yang melampaui batas. sehingga mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Seperti orang Jahiliyyah yang menghalalkan bangkai. dan mengharamkan unta bakhirah dan sahibah (Tafsir al-Wajiz)

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ (Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya) Yakni apa yang menghalangi kalian dari memakan sembelihan yang telah kalian sebut nama Allah ketika menyembelihnya padahal Allah telah mengizinkan kalian memakannya? وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ (padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu) Yakni Allah telah menjelaskan bagi kalian makanan-makanan yang diharamkan dengan penjelasan yang terperinci tanpa ada keraguan didalamnya dan yang menjauhkan syubhat dengan firman-Nya: (إنما حرم عليكم الميتة....) “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian bangkai…..—sampai akhir ayat –“. إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ (kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya) Yakni dari segala yang diharamkan atas kalian, karena keadaan darurat dapat menjadikan hukum yang haram menjadi boleh. وَإِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَآئِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ (Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan) Mereka adalah pemuka-pemuka orang kafir yang mengharamkan bahiirah, saa’ibah, dan yang lainnya; mereka berusaha menyesatkan manusia, namun manusia mengikuti mereka dan dan tidak tahu bahwa itu merupakan kebodohan dan kesesatan; begitu pula yang terjadi pada bangsa-bangsa lain yang mengharamkan sesuatu karena hawa nafsu dan kebodohan. (Zubdatut Tafsir)

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

waltakum mingkum ummatuy yad'ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma'rụfi wa yan-hauna 'anil-mungkar, wa ulā`ika humul-mufliḥụn

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dan hendaklah di antara kalian (wahai kaum Mukminin), ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan kepada yang ma’ruf, yaitu sesuatu yang telah diketahui kebaikannya menurut syariat dan akal, dan melarang dari kemungkaran, yaitu apa-apa yang diketahui keburukannya dari segi syariat maupun akal. Mereka itu adalah orang-orang yang beruntung menggapai surga yang penuh kenikmatan. (Tafsir al-Muyassar)

Dan hendaklah ada di antara kalian -wahai orang-orang mukmin- satu kelompok yang mengajak kepada setiap kebajikan yang dicintai Allah, menyuruh berbuat baik yang ditunjukkan oleh syarak dan dinilai baik oleh akal sehat, dan mencegah perbuatan mungkar yang dilarang oleh syarak dan dinilai buruk oleh akal sehat. Orang-orang semacam itulah yang akan mendapatkan kemenangan yang sempurna di dunia dan akhirat. (Tafsir al-Mukhtashar)

104 Dan hendaklah ada di antara kalian wahai orang-orang mukmin, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan dengan mengajarkan kebaikan dan menyuruh kepada kebaikan. Kebaikan adalah segala yang berkaitan dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Serta menyeru untuk berbuat ma’ruf: kebaikan yang sesuai dengan syariat dan akal sehat. Serta mencegah perbuatan munkar: yaitu segala yang dianggap tidak baik oleh syariat dan akal sehat. Mereka yang menyeru kepada kebaikan itu samua merekalah orang-orang yang beruntung yang akan mendapatkan ridho Allah dan surga-Nya (Tafsir al-Wajiz)

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ (Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat) Yakni hendaklah segolongan diantara kalian yang senantiasa mendirikan kewajiban berdakwah, memerintah kebajikan, dan melarang keburukan. Dan pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah hendaklah kalian semua menjalankan kewajiban dakwah, memerintah kebajikan, dan melarang keburukan. Namun pendapat pertama lebih dekat kepada kebenaran. يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ (yang menyeru kepada kebajikan) Yakni dengan mengajarkannya, memberi nasehat dan petunjuk. وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ (menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar) Yakni dengan tangan atau lisan. Dan menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada yang mungkar adalah bagian dari fardhu kifayah, yang dikhususkan bagi pemilik ilmu yang mengetahui perihal apa yang diajarkannya dan apa yang dilarangnya. Dan kewajiban menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada yang mungkar ini berdasarkan apa yang termaktub dalam al-qur’an dan as-sunnah, dan ia merupakan salah satu kewajiban yang paling mulia yang ada dalam syariat yang suci ini dan juga merupakan asas penting dari asas-asas syariat, karena dengannya sempurnalah aturan-aturannya, karena pemeluk setiap agama telah melenceng sebagian mereka dari agamanya disebabkan kebodohan mereka tentang agama atau karena mengikuti hawa nafsu mereka. Atau mungkin karena lalai dalam menjalankan kewajiban mereka, atau mungkin saling menzalimi diantara mereka, maka apabila tidak ada orang yang membenarkan jalan mereka, menunjukkan petunjuk kepada yang tersesat, menasehati yang lalai, dan menghentikan tangan zalim, maka kesesatan akan semakin banyak dan semakin besar hingga agama akan dilupakan dan akan berubah Batasan-batasannya. Dan Allah telah mempringati kita agar tidak seperti apa yang terjadi pada Bani Israil. Yang Allah telah melaknat mereka karena meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar lewat firman-Nya: ذٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ. كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (al-Maidah: 78-79) وَأُو۟لٰٓئِكَ(Mereka itulah) Yakni golongan yang menjalankan apa yang disebutkan. هُمُ الْمُفْلِحُونَ(orang-orang yang beruntung) Yakni orang-orang yang mendapat kekhususan dengan keberuntungan. (Zubdatut Tafsir)

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِىٓ إِلَّا فِرَارًا

fa lam yazid-hum du'ā`ī illā firārā

maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

Nuh berkata, “wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah mengajak kaumku untuk beriman kepadaMu malam dan siang, tetapi ajakanku kepada mereka agar beriman tidak membuat mereka kecuali berlari dan berpaling. Setiap kali aku mengajak mereka agar beriman kepadaMu, agar dosa-dosa mereka diampuni, mereka meletakkan jari-jari mereka di telinga-telinga mereka, agar mereka tidak mendengar dakwah kebenaran, mereka menutup wajah mereka dengan kain agar tidak melihatku, mereka tetap bersikukuh di atas kekafiran mereka, menyombongkan diri dan menolak iman dengan kesombongan yang besar. Kemudia aku mengajak mereka agar beriman secara terang-terangan, tidak bersembunyi. Kemudian aku mengumumkan dakwah dengan suara tinggi dalam satu kondisi dan memelankannya dalam kondisi lainnya. Aku berkata kepada kaumku, ‘Mintalah ampunan dari dosa-dosa kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat dari hamba-hambaNya dan kembali kepadaNya. (Tafsir al-Muyassar)

Seruanku kepada mereka itu tidak menambah mereka melainkan semakin lari dan menjauh dari apa yang aku serukan kepada mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

Namun ajakanku tidak mendorong mereka untuk beriman dan bertauhid kecuali mereka lari dan menjauh dari keimanan dan ketaatan (Tafsir al-Wajiz)

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِىٓ إِلَّا فِرَارًا (maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)) Yakni lari menjauh dari apa yang aku sampaikan kepada mereka. (Zubdatut Tafsir)

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ۚ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَٰٓؤُلَآءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا۟ بِهَا بِكَٰفِرِينَ

ulā`ikallażīna ātaināhumul-kitāba wal-ḥukma wan-nubuwwah, fa iy yakfur bihā hā`ulā`i fa qad wakkalnā bihā qaumal laisụ bihā bikāfirīn

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.

Para nabi telah kami beri karunia kepada mereka dengan hidayah dan kenabian itu, mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab suci, seperti shuhuf (lembaran kitab suci) Ibrahim, taurat musa, zabur dawud, injil isa, dan kami telah anugerahkan kepada mereka pemahan kitab-kitab tersebut dan kami pilih mereka untuk menyampaikan wahyu kami. Wahi rasul, siapa saja yang mengingkari ayat-ayat al-qur’an ini dari orang-orang kafir dari kaummu, maka sesungguhnya kami akan menyerahkannya kepada kaum yang lain, yaitu kaum muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat, yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Sebaliknya, mereka betul-betul mengimaninya dan mengamalkan ajaran yang dikandungnya. (Tafsir al-Muyassar)

Para nabi tersebut merupakan orang-orang yang Kami beri kitab suci, hikmah, dan status sebagai nabi. Jika kaummu mengingkari ketiga pemberian itu, niscaya Kami akan menyiapkan kaum-kaum lain yang tidak mengingkarinya, tetapi mengimaninya dan berpegang teguh kepadanya. Yaitu kaum Muhajirin, kaum Ansar, dan orang-orang mengikuti mereka dengan baik sampai hari Kiamat. (Tafsir al-Mukhtashar)

89 Mereka itulah delapan belas Nabi dan para pengikutnya yang telah Kami berikan jenis kitab yang sama yaitu kitab samawi, ilmu, dan risalah. Jika orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang musyrik itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka adalah kaum Muhajirin dan Anshor. Telah Kami pilih mereka untuk membawa risalah iman seakan mereka adalah wakil atas risalah itu (Tafsir al-Wajiz)

أُو۟لٰٓئِكَ (Mereka itulah) Yakni para nabi yang telah Kami sebutkan sebelumnya itu telah Kami berikan kepada mereka kitab-kitab Kami. وَالْحُكْمَ (dan al-hikmah) Yakni ilmu. وَالنُّبُوَّةَ(dan kenabian) Yakni risalah. فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هٰٓؤُلَآءِ (Jika orang-orang itu mengingkarinya) Yakni orang-orang kafir quraisy yang durhaka kepada Rasulullah. فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا(maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum) Yakni Kami berikan taufik kepada seuatu kaum untuk beriman. لَّيْسُوا۟ بِهَا بِكٰفِرِينَ(yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya) Sebuah pendapat mengatakan mereka adalah kaum Muhajirin dan Anshar, Kami beri mereka taufik untuk mengemban risalah ini hingga seakan-akan merekalah yang telah diserahi dengan risalah tersebut. (Zubdatut Tafsir)

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ ۗ قُل لَّآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَٰلَمِينَ

ulā`ikallażīna hadallāhu fa bihudāhumuqtadih, qul lā as`alukum 'alaihi ajrā, in huwa illā żikrā lil-'ālamīn

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)". Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.

Para nabi yang telah disebutkan nama-namanya tersebut, itulah orang-orang yang telah diberikan taufik oleh Allah , untuk memegangi agama yang benar, maka hendaknya engkau (wahai rasul) mengikuti petunjuk mereka dan menapaki jalan mereka. Dan katakanlah kepada kaum musyrikin , ”Aku tidak meminta upah duniawi dari kalian dalam menyampaikan dakwah islam ini. Sesungguhnya balasanku hanyalah menjadi tanggungan Allah. Dan tidaklah islam itu, kecuali ajakan kepada semua manusia menuju jalan yang lurus dalam peringatan bagi kalian dan orang-orang yang serupa dengan kalian yang berdiri di atas kebatilan. Semoga kalian dapat mengambil pelajaran darinya hal-hal yang bermanfaat bagi kalian. ” (Tafsir al-Muyassar)

Para nabi beserta para orangtua, anak-anak, dan saudara-saudaranya tersebut adalah orang-orang yang benar-benar mendapatkan hidayah (petunjuk dari Allah). Maka ikutilah jejak mereka dan contohlah perilaku mereka. Dan katakanlah -wahai Rasul- kepada kaummu, “Aku tidak minta imbalan apa pun dari kalian atas jasaku menyampaikan Al-Qur`ān ini kepada kalian. Karena Al-Qur`ān itu tidak lain adalah peringatan bagi alam semesta dari golongan jin dan manusia agar mereka jadikan sebagai petunjuk ke jalan yang lurus dan jalur yang benar. (Tafsir al-Mukhtashar)

90 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka wahai Rasul. Ikutilah jalan mereka dalam menyeru kepada pengesaan allah dan budi pekerti yang luhur. Katakanlah kepada kaummu wahai Rasul: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan Al-Quran atau dalam menyampaikan risalah”. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat dari manusia maupun jin. (Tafsir al-Wajiz)

أُو۟لٰٓئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ ۖ فَبِهُدَىٰهُمُ اقْتَدِهْ ۗ (Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka) Rasulullah diperintahkan untuk mengikuti jejak para rasul sebelumnya dalam hal yang belum terdapat wahyu tentangnya. قُل لَّآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ( . Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan”) Yakni Allah memerintahkan Rasulullah agar memberitahukan kepada mereka bahwa ia tidak meminta imbalan atas dakwah yang disampaikan kepada mereka menuju hidayah. إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ(Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan) Yakni al-qur’an itu. لِلْعٰلَمِينَ(untuk seluruh ummat) Yakni pembelajaran dan peringatan bagi seluruh makhluk yang ada saat al-qur’an diturunkan dan setelahnya. (Zubdatut Tafsir)

ثُمَّ إِنِّى دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا

ṡumma innī da'autuhum jihārā

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,

Nuh berkata, “wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah mengajak kaumku untuk beriman kepadaMu malam dan siang, tetapi ajakanku kepada mereka agar beriman tidak membuat mereka kecuali berlari dan berpaling. Setiap kali aku mengajak mereka agar beriman kepadaMu, agar dosa-dosa mereka diampuni, mereka meletakkan jari-jari mereka di telinga-telinga mereka, agar mereka tidak mendengar dakwah kebenaran, mereka menutup wajah mereka dengan kain agar tidak melihatku, mereka tetap bersikukuh di atas kekafiran mereka, menyombongkan diri dan menolak iman dengan kesombongan yang besar. Kemudia aku mengajak mereka agar beriman secara terang-terangan, tidak bersembunyi. Kemudian aku mengumumkan dakwah dengan suara tinggi dalam satu kondisi dan memelankannya dalam kondisi lainnya. Aku berkata kepada kaumku, ‘Mintalah ampunan dari dosa-dosa kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat dari hamba-hambaNya dan kembali kepadaNya. (Tafsir al-Muyassar)

Kemudian aku -wahai Rabbku- menyeru mereka secara terang-terangan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Kemudian aku mengajak mereka secara terang-terangan dengan suara yang tinggi untuk beriman kepadaMu ya Allah (Tafsir al-Wajiz)

ثُمَّ إِنِّى دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan) Yakni menampakkan dakwah dan menyampaikannya kepada mereka secara terang-terangan. (Zubdatut Tafsir)

فَكَانَتْ هَبَآءً مُّنۢبَثًّا

fa kānat habā`am mumbaṡṡā

maka jadilah ia debu yang beterbangan,

apabila bumi diguncang dengan kuat sekali, gunung-gunung dihancurkan berkeping-keping, sehingga ia menjadi debu yang beterbangan di udara disapu angin. (Tafsir al-Muyassar)

Dari penghancuran ini menjadikannya debu yang bertebaran, tidak menetap. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan menjadi debu yang bertebaran kemana-mana. Kalian akan dikategorikan menjadi tiga golongan (Tafsir al-Wajiz)

(Zubdatut Tafsir)

إِنَّا قَدْ أُوحِىَ إِلَيْنَآ أَنَّ ٱلْعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

innā qad ụḥiya ilainā annal-'ażāba 'alā mang każżaba wa tawallā

Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.

Allah berfirman kepada Musa dan Harun, “Janganlah kalian berdua takut kepada Fir’aun. Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, mendengar ucapan kalian berdua dan melihat tindakan-tindakan kalian berdua. Maka tetaplah pergi kepadanya dan katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan kepadamu dari Tuhanmu, agar kamu membebaskan orang-orang Bani Israil, dan janganlah membebani mereka pekerjaan-pekerjaan yang tidak dapat mereka pikul. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti mukjizat yang amat luar biasa dari Tuhanmu yang menunjukkan kebenaran kami dalam dakwah kami ini. Dan keselamatan dari siksaan Allah tercurah bagi orang yang mengikuti petunjukNya.’ Sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan kepada kami bahwa siksaanNYa itu ditimpakan atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling dari dakwah dan ajaran syariatNya. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada kami bahwa azab yang ada di dunia dan di akhirat itu ditimpakan kepada siapapun yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan berpaling dari risalah yang dibawa oleh para rasul. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sungguh Allah memberi wahyu kepada kami bahwa kehancuran itu ada di dunia dan keabadian itu ada di neraka akibat pendustaan terhadap ayat-ayat Allah dan rasul-rasulNya, dan menolak untuk beriman dan berikrar mengesakan Allah SWT. Perlu diperhatikan bahwa Allah SWT itu memberikan kabar gembira tentang kesejahteraan untuk menyenangkan, lalu mengumumkan hukuman untuk memberikan ancaman. (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّا قَدْ أُوحِىَ إِلَيْنَآ (Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami) Yakni wahyu dari Allah. أَنَّ الْعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ( bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling) Yakni kehancuran dan kebinasaan di dunia dan siksa yang kekal di neraka sebagai balasan atas pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah dan rasul-Nya. (Zubdatut Tafsir)

تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ

tabbat yadā abī lahabiw wa tabb

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

Merugilah kedua tangan Abu Lahab dan sengsara, karena dia telah menyakiti Rasulullah sholallohu alaihi wasallam. Sungguh kerugian Abu Lahab telah terwujud. (Tafsir al-Muyassar)

Telah merugi kedua tangan paman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- Abu Lahab bin Abdul Muṭṭalib karena perbuatannya, karena ia telah menyakiti Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan gagallah usahanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Hancur dan merugilah Abu Lahab (yaitu Abu Al-Uzza bin Abdul Muthallib, paman Nabi SAW, namun dia adalah orang yang paling memusuhinya), maka sungguh merugilah dia. Ini adalah berita untuknya. Abu Lahab adalah julukan baginya karena saking merahnya wajahnya, julukan ini disebutkan untuk mengolok-olok dia. Kalimat pertama adalah doa yang abadi untuk Abu Lahab sampai hari kiamat. Ditetapkan dalam dua hadits shahih dan lainnya bahwa sesungguhnya Nabi SAW saat mengajak kaumnya di bukit Shafa untuk masuk Islam, Abu Lahab berkata:”Cih, apakah kamu mengumpulkan kami kecuali hanya untuk ini?” kemuidian turunlah surah ini. (Tafsir al-Wajiz)

تبَّتۡ يَدَاۤ اَبِىۡ لَهَبٍ (Binasalah kedua tangan Abu Lahab) Yakni binasa dan merugilah kedua tangannya. وَّتَبَّؕ‏( dan sesungguhnya dia akan binasa) Dan dia juga akan binasa. Dan kebinasaan ini telah menimpanya, dia adalah Abu Lahab, paman Rasulullah, dan namanya adalah Abdul ‘Uzza. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi