Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Munafiqun

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Arab-Latin: iżā jā`akal munāfiqụna qālụ nasy-hadu innaka larasụlullāh, wallāhu ya’lamu innaka larasụluh, wallāhu yasy-hadu innal-munāfiqīna lakāżibụn

Terjemah Arti:  1.  Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1. Apabila orang-orang munafik itu mengahadiri majelismu (wahai rasul) mereka berkata dengan lisan mereka, “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu adalah utusan Allah” dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu adalah para pendusta dalam kesaksian yang mereka perlihatkan kepadamu dan sumpah mereka dengan lisan mereka, serta apa yang mereka simpan dalam dada mereka.

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ittakhażū aimānahum junnatan fa ṣaddụ ‘an sabīlillāh, innahum sā`a mā kānụ ya’malụn

 2.  Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

żālika bi`annahum āmanụ ṡumma kafarụ fa ṭubi’a ‘alā qulụbihim fa hum lā yafqahụn

 3.  Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

2-3. Orang-orang munafik itu menjadikan sumpah yang mereka ucapkan sebagai tameng dan pelindung bagi mereka dari hukuman dan siksa dunia, mereka menghalang-halangi diri mereka dan orang-orang dari jalan Allah yang lurus. Sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu sungguhlah buruk. Hal itu karena mereka mengaku beriman secara lahir kemudian kafir secara batin, maka Allah menutup hati mereka disebabkan kekafiran mereka; sehingga mereka tidak mengerti apa yang mengandung kemaslahatan bagi mereka.

۞ وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa iżā ra`aitahum tu’jibuka ajsāmuhum, wa iy yaqụlụ tasma’ liqaulihim, ka`annahum khusyubum musannadah, yaḥsabụna kulla ṣaiḥatin ‘alaihim, humul-‘aduwwu faḥżar-hum, qātalahumullāhu annā yu`fakụn

 4.  Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

4. Apabila kamu melihat orang-orang munafik itu, penampilan dan gaya mereka membuatmu kagum, bila mereka berkata-kata, kamu mendengarkan pembicaraan mereka, karena lisan mereka fasih, tetapi karena hati mereka kosong dari iman dan akal mereka kosong dari pemahaman dan ilmu yang berguna, maka mereka seperti kayu yang tersandar di dinding yang tidak punya kehidupan, mereka menyangka setiap suara tinggi diarahkan kepada mereka dan merugikan mereka, karena mereka menyadari hakikat dari keadaan mereka, di samping ketakutan mereka yang luar biasa yang bersamayam di dalam hati mereka. Mereka adalah para musuh sejati dengan permusuhan yang sangat kuat kepadamu dan orang-orang beriman, maka waspadailah mereka. Allah menghinakan dan mengusir mereka dari rahmatNya; bagaimana mereka dipalingkan dari kebenaran kepada kemunafikan dan kesesatan yang mereka pegang?

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

wa iżā qīla lahum ta’ālau yastagfir lakum rasụlullāhi lawwau ru`ụsahum wa ra`aitahum yaṣuddụna wa hum mustakbirụn

 5.  Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.

5. Apabila dikatakan kepada orang-orang munafik itu, “Datanglah dengan bertaubat dan meminta maaf dari apa yang telah kalian lakukan berupa kata-kata buruk dan ucapan rendah, Rasulullah akan meminta ampunan kepada Allah bagi kalian dan maafNya bagi dosa-dosa kalian, mereka memiringkan kepala-kepala mereka dan menggerakannya dengan kesombongan dan penghinaan. Kamu wahai Rasul, melihat mereka berpaling darimu dengan penuh kesombongan dan penolakan untuk melakukan apa yang dituntut kepada mereka.

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

sawā`un ‘alaihim astagfarta lahum am lam tastagfir lahum, lay yagfirallāhu lahum, innallāha lā yahdil-qaumal-fāsiqīn

 6.  Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

6. Sama saja bagi orang-orang munafik itu, apakah kamu (wahai Rasul) meminta ampunan bagi mereka kepada Allah atau tidak, sesungguhnya Allah tidak akan memaafkan dosa-dosa mereka selamanya, karena mereka bersikukuh dalam kefasikan dan bertahan dalam kekafiran. Sesungguhnya Allah tidak akan membimbing kaum yang kafir kepadaNya kepada iman, yang keluar dari ketaatan kepadaNya.

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنْفَضُّوا ۗ وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ

humullażīna yaqụlụna lā tunfiqụ ‘alā man ‘inda rasụlillāhi ḥattā yanfaḍḍụ, wa lillāhi khazā`inus-samāwāti wal-arḍi wa lākinnal-munāfiqīna lā yafqahụn

 7.  Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.

7. Orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang berkata kepada orang-orang Madinah, ”Jangan membantu para sahabat Rasulullah dari orang-orang Muhajirin, agar mereka meninggalkannya.” Hanya milik Allah semata pembendaharaan langit dan bumi, serta apa yang ada di antara keduanya, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami bahwa rizki adalah dari sisi Allah, karena mereka adalah orang-orang yang jahil tentang Allah.

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

yaqụlụna la`ir raja’nā ilal-madīnati layukhrijannal-a’azzu min-hal-ażall, wa lillāhil-‘izzatu wa lirasụlihī wa lil-mu`minīna wa lākinnal-munāfiqīna lā ya’lamụn

 8.  Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

8. Orang-orang munafik itu berkata, “Bila kami pulang ke Madinah, niscaya golongan kami yang mulia akan mengusir golongan orang-orang beriman yang terhina.” Padahal kemuliaan itu hanya milik Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, bukan milik selain mereka, akan tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahuinya karena mereka sangat bodoh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tul-hikum amwālukum wa lā aulādukum ‘an żikrillāh, wa may yaf’al żālika fa ulā`ika humul-khāsirụn

 9.  Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

9. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian disibukkan oleh harta dan anak-anak kalian dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa disibukkan oleh harta dan anaknya dari itu, maka mereka adalah orang-orang yang merugi, gagal meraih kemuliaan dan rahmat dari Allah.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa anfiqụ mimmā razaqnākum ming qabli ay ya`tiya aḥadakumul-mautu fa yaqụla rabbi lau lā akhkhartanī ilā ajaling qarībin fa aṣṣaddaqa wa akum minaṣ-ṣāliḥīn

 10.  Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

10. Infakkanlah (wahai orang-orang yang beriman) kepada Allah dan RasulNya, sebagian dari apa yang Kami berikan kepada kalian di jalan-jalan kebaikan dengan bersegera sebelum salah seorang di antara kalian dijemput oleh kematian, melihat tanda-tanda dan alamat-alamatnya, lalu dia menyesal dan berkata, “Wahai Tuhanku, berikanlah aku kesempatan, tundalah kematianku barang beberapa saat, akau akan menyedekahkan hartaku dan aku akan menjadi orang-orang shalih yang bertakwa.”

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

wa lay yu`akhkhirallāhu nafsan iżā jā`a ajaluhā, wallāhu khabīrum bimā ta’malụn

 11.  Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.

11. Allah tidak akan menunda kematian satu jiwa bila waktunya sudah tiba dan uisianya habis. Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian lakukan, baik kebaikan maupun keburukan, dan akan membalas kalian atasnya.

Related: Surat at-Taghabun Arab-Latin, Surat at-Thalaq Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat at-Tahrim, Terjemahan Tafsir Surat al-Mulk, Isi Kandungan Surat al-Qalam, Makna Surat al-Haqqah

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al Munafiqun Mereka Mengira Setiap Perkataan Kepada Mereka Surat Al Munaqikun Surat Al Munafiqun Arab Latin Surat Munafiqun