Ayat Tentang Mutasyabihat

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ مِنْهُ ءَايَٰتٌ مُّحْكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٌ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Arab-Latin: huwallażī anzala 'alaikal-kitāba min-hu āyātum muḥkamātun hunna ummul-kitābi wa ukharu mutasyābihāt, fa ammallażīna fī qulụbihim zaigun fayattabi'ụna mā tasyābaha min-hubtigā`al-fitnati wabtigā`a ta`wīlih, wa mā ya'lamu ta`wīlahū illallāh, war-rāsikhụna fil-'ilmi yaqụlụna āmannā bihī kullum min 'indi rabbinā, wa mā yażżakkaru illā ulul-albāb

Terjemah Arti: Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Tafsir Ayat Tentang Mutasyabihat

Dia lah satu-satunya dzat yang menurunkan al-qur’an kepadamu. Dintara isi al-quram itu ada ayat-ayat yang jelas makna dan kandungannya, itulah pokok-pokok ajaran al-qur’an yang menjadi rujukan dalam persoalan-persoalan yang masih samar, dan hal-hal yang bertentangan dikembalikan padanya, dan diantaranya ada ayat-ayat yang lain yang mutasyabihat yang menghimpun beberapa pengertian yang berbeda, yang tidak tampak jelas maksudnya kecuali dengan dipadukan dengan ayat-ayat muhkam. maka adapun orang-orang yang hatinya sakit lagi menyimpang dikarenakan buruknya tujuan hati mereka, mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat saja, supaya meniupkan subhat-subhat di tengah manusia sehingga dapat menyesatkan orang-orang tersebut dan agar menafsirkankan ayat-ayat tersebut diatas madzhab mereka yang batil. Dan tidak ada yang mengetahui hakikat makna-makan ayat ini selain Allah. sedang orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan “kami beriman kepada al-qur’an, semuanya datang kepada kami dari sisi tuhan kami, melalui lisan rasulNYA, Muhammad shalallohu alaihi wasallam.” Dan mereka membalikan ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat muhkamnya, dan orang yang dapat memaham, mencerna dan menyelami makna-makna nya dengan pemahaman yang lurus adalah orang orang yang berakal lurus. (Tafsir al-Muyassar)

Dia lah yang menurunkan Al-Qur`ān kepadamu, -wahai Nabi-. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas sekali maknanya, tidak ada kesulitan sama sekali untuk memahaminya. Ini adalah bagian yang utama dan mayoritas di dalamnya. Dan ini merupakan rujukan utama ketika terjadi perbedaan pendapat. Dan ada sebagian ayat-ayatnya yang mengandung lebih dari satu makna (multi tafsir) dan sulit dimengerti maknanya oleh kebanyakan orang. Adapun orang-orang yang hatinya melenceng dari kebenaran, mereka meninggalkan ayat-ayat yang jelas sekali maknanya (muhkam) dan mengambil ayat-ayat yang sulit dimengerti maknanya (mutasyabih) dan multi tafsir. Mereka ingin membangkitkan keragu-raguan dan menyesatkan orang dari jalan yang benar. Mereka ingin menafsirkan ayat-ayat tersebut menurut selera mereka yang sejalan dengan mazhab mereka yang sesat. Tidak ada yang mengetahui makna yang sesungguhnya dari ayat-ayat semacam itu dan bagaimana kenyataan yang sebenarnya kecuali Allah. Sedangkan orang-orang yang berilmu tinggi dan dalam mengatakan, “Kami percaya kepada Al-Qur`ān secara keseluruhan, karena semuanya berasal dari sisi Rabb kami.” Dan mereka menafsirkan ayat-ayat yang mutasyabih dengan ayat-ayat yang muhkam. Dan tidak ada yang bisa mendapatkan pelajaran dan peringatan kecuali orang-orang yang berakal sehat. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah adalah Dzat yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu wahai nabi Muhammad. Di antaranya ada ayat-ayat muhkamat, yaitu ayat yang hanya memiliki satu sudut pandang penafsiran seperti ayat {Wa laa Taqrabuz zinaa} [surah Al-Isra’ 17/32] ayat-ayat tersebut merupakan sumber dalam Al-Qur’an yang digunakan sebagai pedoman. Di antaranya juga ada ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang mengandung banyak makna seperti ayat {Ar-Rahman ‘alal ‘arsyistawa} [surah Thaha 20/5] dan ayat {Yadullahi fauqa aidiihim} [Surah Al-fath 48/10], juga janji tentang terjadinya kiamat, hakikat ruh dan lain-lain. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya itu berpaling dari yang haq menuju yang bathil, maka mereka lebih terikat dengan ayat mutasyabihah, mereka menafsirkannya dengan cara yang membingungkan dengan maksud untuk memfitnah manusia tentang agama yang benar dan menta’wilkannya sesauai tujuan mereka. Tidak ada yang mengetahui tafsir dan hakikat ayat mutasyabihah kecuali Allah. Orang yang mahir dalam keilmuan berkata: “Kami beriman kepada seluruhnya, bahwa setiap ayat muhkamat dan mutasyabihat itu dari sisi Tuhan Kami,” Ayat-ayat itu tidak saling tumpang tindih, sehingga ayat-ayat sifat menolak ayat-ayat tentang kesucian yang mutlak, begitu juga ayat-ayat tentang penggambaran tentang Isa dengan diberi kalimat dan ruh yang bertentangan dengan ayat-ayat tauhid yang sudah mutlak. Dan tidak ada yang mengambil pelajaran dari ayat-ayat ini kecuali orang-orang yang memiliki akal sehat. (Tafsir al-Wajiz)

الْكِتٰبَ ( Al Kitab) Yakn al Qur’an.مِنْهُ ءَايٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ (Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat ) Makna (المحكم) yakni ayat yang tidak memiliki tafsiran lebih dari satu, sehingga tidak mungkin untuk diubah atau diganti dari makna ayat yang sebenarnya. Adapun makna (المتشابه) yakni ayat yang ada kemungkinan untuk diubah, diganti, atau ditakwilkan dari makna yang sebenarnya. Dan ayat yang mempunyai makna yang tersembunyi, tidak jelas, menimbulkan kemungkinan-kemingkinan, atau terdapat keraguan menjadikan ayat ini termasuk dalam ayat mutasyabih.هُنَّ أُمُّ الْكِتٰبِ( itulah pokok-pokok isi Al qur’an) Yakni ayat muhkamat ini adalah pokok yang menjadi landasan dan kepadanya dikembalikan makna yang menyelisihinya.فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ ( Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan) Makna (الزيغ) yakni berbelok dari kebenaran.فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشٰبَهَ مِنْهُ (maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya) Yakni terpaut hati mereka dengan ayat-ayat mutasyabih untuk memberi keraguan kepada orang-orang beriman dan menjadikannya sebagai dalil atas bid’ah yang mereka lakukan.ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ (untuk menimbulkan fitnah ) Yakni untuk menimbulkan cobaan pada manusia atas agama mereka dan keraguan kepada mereka.وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ ( dan untuk mencari-cari ta’wilnya) Yakni untuk dapat mentakwilkan ayat tersebut sesuai dengan apa yang mereka ingingkan dan sesuai dengan jalan mereka yang sesat.وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا اللهُ ۗ وَالرّٰسِخُونَ فِى الْعِلْمِ ( padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang ilmunya mendalam) Ibnu Abbas berkata: Aku termasuk orang yang mengetahui takwilnya. Dan maknanya adalah orang yang memiliki ilmu yang dalam (Rasikhuun) mengetahui takwil dari ayat-ayat ini, yang senantiasa mengatakan (آمنا به).ءَامَنَّا بِهِۦ ( Kami beriman kepadanya) Yakni beriman kepada seluruh ayat-ayat al-Qur’an baik itu yang muhkam maupun yang mutasyabih, karena seluruhnya berasal dari Allah maka tidak terdapat perbedaan diantaranya, maka kami mengembalikan ayat mutasyabih yang memiliki kemungkinan kebenaran dan kebathilan kepada ayat yang muhkam yang tidak memiliki kemungkinan kecuali kebenaran sehingga dengan itu jelaslah maksud dari ayat mutasyabih tersebut. Ayat ini turun untuk orang-orang Nasrani Najran yang berkata: sesungguhnya Allah berkata tentang dirinya dalam al-Qur’an dengan kata ‘Kami’ dan ‘Aku’ dan itu adalah kata ganti jamak maka Allah adalah satu dari yang tiga. -Maha Tinggi Allah-. Maka Rasulullah meminta mereka untuk mengembalikan ayat ini kepada ayat yang muhkam seperti (قل هو الله أحد) dan (إنما الله إله واحد). Dan pendapat lain mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki ilmu yang dalam (Rasikhun) juga tidak mengetahui takwil ayat mutasyabihat. Dan yang dimaksud dengan mutasyabih adalah seperti waktu terjadinya hari kiamat, hakikat dari arwah, dan lainnya yang tidak diketahui oleh manusia. (Zubdatut Tafsir)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

rabbanā lā tuzig qulụbanā ba'da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladungka raḥmah, innaka antal-wahhāb

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".

Dan mereka mengatakan, ”wahai tuhan kami, jangan lah Engkau belokkan hati kami dari keimanan kepadaMU setelah Engkau mengaruniakan hidayah kepada kami, untuk memeluk agama Mu. dan berikanlah kami rahmat yang luas dari karuniaMU, sesungguhnya Engkau adalah maha pemberi, memiliki banyak karunia dan pemberian, Engkau memberi siapa saja yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (Tafsir al-Muyassar)

Orang-orang yang berilmu tinggi itu berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau belokkan hati kami dari kebenaran setelah Engkau tunjukkan kami kepada kebenaran. Selamatkanlah kami dari azab yang menimpa orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Dan berilah kami rahmat yang luas dari sisi-Mu untuk membimbing hati kami ke jalan yang benar dan memeliharanya dari kesesatan. Sesungguhnya Engkau -wahai Rabb kami- adalah Żat Yang Maha Memberi. (Tafsir al-Mukhtashar)

Orang-orang memiliki ilmu itu berdoa dalam hatinya: “Wahai Tuhan Kami, janganlah engkau palingkan hati kami dari kebenaran dan keimanan, seperti berpalingnya hati orang-orang yang mengikuti ayat mutasyabihat setelah Engkau menunjukkan kami kepada kebenaran dan memberi kami rahmat agung dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang banyak pemberiannya bagi orang yang Engkau kehendaki, yang mana Engkau memberi taufik dan kebenaran” (Tafsir al-Wajiz)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan) Ini merupakan lanjutan dari perkataan para Rasikhun, yang maknanya adalah mereka berkata Ya Tuhan kami janganlah condongkan hati kami kepada kesesatan dengan mengikuti ayat-ayat mutasyabih sebagaimana condongnya hati orang-orang yang mengikutinya, setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. (Zubdatut Tafsir)

هُوَ ٱلَّذِى يُصَوِّرُكُمْ فِى ٱلْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَآءُ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

huwallażī yuṣawwirukum fil-ar-ḥāmi kaifa yasyā`, lā ilāha illā huwal-'azīzul-ḥakīm

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dialah satu satuNYA dzat yang menciptakan kalian dalam rahim-rahim ibu-ibu kalian sebagaimna yang dikehendakiNYA, apakah kalian menjadi laki-laki atau perempuan, bersifat baik atau buruk, celaka atau bahagia. Tidak ada tuhan sesembahan yang patut di ibadahi kecual DIA. DIA maha perkasa yang tidak terkalahkan, juga maha bijaksana dalam penetapan perintah dan pengaturanNYA. (Tafsir al-Muyassar)

Dia lah yang menciptakan kalian dalam beragam bentuk di dalam perut ibu kalian menurut kehendak-Nya, baik berupa laki-laki maupun wanita, cantik maupun jelek, putih maupun hitam. Tidak ada yang berhak disembah dengan penuh cinta dan rasa hormat selain Dia, Yang Maha Perkasa, Yang tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, pengaturan-Nya dan penetapan syariat-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dialah Dzat yang menciptakan kalian dalam rahim-rahim (ibu) sesuai kehendakNya baik laki-laki maupun perempuan, bagus atau jelek, dan sifat yang lainnya, Tiada Tuhan selain Dia. Dialah Dzat Yang Maha Kuat dalam kerajaanNya lagi Maha Bijaksana dalam tindakan dan aturanNya. (Tafsir al-Wajiz)

هُوَ الَّذِى يُصَوِّرُكُمْ فِى الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَآءُ ۚ (Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya) Yakni menjadikannya laki-laki atau perempuan, berparas bagus atau jelek, hitam atau putih, dan tinggi atau pendek; dan juga membentuk organ tubuh mereka seperti, mata, telinga, hidung, kedua tangan dan kaki, dan yang lainnya. (Zubdatut Tafsir)

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أُحْكِمَتْ ءَايَٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

alif lām rā, kitābun uḥkimat āyātuhụ ṡumma fuṣṣilat mil ladun ḥakīmin khabīr

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,

( Alif lam Ro ) keterangan tentang huruf-huruf yang terputus-putus (di awal surat) penjelasannya telah berlalu di awal pada permulaan surat al-baqarah. Kitab yang diturunkan Allah kepaada Muhammad ini, ayat-ayat nya telah terpelihara dari kesalahan dan kebatilan. kemudian diterangkan dengan adanya perintah dan larangan seta penjelasan halal dan haram dari sisi Allah, Dzat yang mahabijaksana dalam mengatur segala urusan, yang maha mengetahui bagaimana perkara-perkara itu berkesudahan. (Tafsir al-Muyassar)

Alif Lām Rā. Pembahasan tentang huruf-huruf semacam ini sudah ada di awal surah Al-Baqarah. Al-Qur`ān adalah kitab yang ayat-ayatnya dan maknanya disusun dengan tepat dan kata-katanya ditata dengan baik. Maka engkau tidak melihat adanya celah atau kekurangan di dalamnya. Kemudian ayat-ayat itu diberi penjelasan dengan menyebutkan halal dan haram, perintah dan larangan, janji dan ancaman, kisah-kisah dan lain-lain, dari sisi Tuhan Yang Maha Bijaksana dalam mengatur makhluk-Nya dan menetapkan syariat-Nya, lagi Maha Mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya dan apa yang terbaik untuk mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

Keutamaan: Diriwayatkan dari Tirmidzi dan Hakim dari Ibnu Abbas berkata: Abu Bakar berkata: Ya Rasul, engkau telah beruban. Rasul menjawab: Surat Hud, Al-waqi’ah, Al-mursalat, ‘Amma yatasaalun, idzasy syamsu kuwwirat yang telah membuat rambutku beruban. Ini adalah hadis hasan sebagaimana dikatakan Tirmidzi, dan hadis sahih menurut Hakim. Nabi ditanya tentang apa yang telah membuat rambutnya beruban di surat Hud, Nabi menjawab: Yaitu firman Allah: Fastaqim kamaa umirtu (112).1 Alif laam raa, untuk memberi perhatian, menantang (bangsa Arab) dan meneguhkan Al-Qur’an bahwa itu diturunkan dari sisi Allah. Al-Qur’an adalah kitab yang ayat-ayatnya tersusun rapi tanpa kurang dan berantakan seperti bangunan yang tersusun rapi, dalam lafadznya tersusun dengan rincian-rincian ayat, dalam maknanya dijelaskan kisah-kisah, nasehat dan hukum, dan waktu turunnya dalam jangka waktu sesuai kebutuhan dan kemaslahatan. Al-Qur’an ini adalah penjelas yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana dalam menciptakan, mengatur firman, kehendak dan ketentuanNya lagi Maha Mengetahui keadaan dan kebaikan manusia, (Tafsir al-Wajiz)

الٓر ۚ (Alif laam raa) Huruf-huruf hijjaiyah ini telah disebutkan penafsirannya di awal surat al-Baqarah.كِتٰبٌ((inilah) suatu kitab) Yakni al-Qur’an.أُحْكِمَتْ ءَايٰتُهُۥ(yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi) Yakni ayat-ayat yang kuat dan sempurna, yang tidak mempunyai kekurangan dan tidak mungkin dihancurkan seperti bangunan yang kuat; dan ayat-ayat ini tidak akan diganti sebagaimana Taurat dan Injil.ثُمَّ فُصِّلَتْ(serta dijelaskan secara terperinci) Dengan janji kebaikan dan ancaman, pahala dan siksaan. Makna dari penyempurnaan ayat-ayat ini adalah bahwa ia tidak ada kerusakan dan tidak ada perselisihan.مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ(yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Yakni yang disempurnakan oleh Allah Yang Maha Bijaksana, dan dijelaskan oleh-Nya yang Maha Mengetahui segala urusan. (Zubdatut Tafsir)

صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلْأُمُورُ

ṣirāṭillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, alā ilallāhi taṣīrul-umụr

(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.

52-53 Sebagiamana Kami telah mewahyukan kepada nabi-nabi sebelummu (wahai nabi), Kami juga mewahyukan alqur’an kepadamu dari sisi Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apa itu kitab-kitab terdahulu, apa itu iman, dan apa itu syariat ilahiyah? Akan tetapi Kami menjadikan al-qur’an sebagai cahaya bagi manusia, dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami ke jalan yang lurus. Dan Sesungguhnya kamu (wahai rasul) benar-benar menujukan dan membimbing dengan izin Allah ke jalan yang lurus (yaitu islam), jalan Allah yang memiliki segala kerajaan yang ada di langit dan di bumi, tiada sekutu bagiNYa dalam hal itu. Hanya kepada Allah (wahai manusia) segala urusan kalian akan berpulang, yang baik maupun yang buruk, lalu Dia akan membalas masing-masing dengan amalnya, bila baik maka dengan balasan baik, bila buruk maka dengan balasan buruk. (Tafsir al-Muyassar)

Yaitu jalan Allah yang memiliki segala yang ada di langit dan memiliki segala yang ada di bumi, baik dalam penciptaannya, penguasaannya dan pengurusannya. Tidak ada keraguan bahwa hanya kepada Allah semata segala sesuatu akan dikembalikan, baik dalam takdirnya maupun urusannya. (Tafsir al-Mukhtashar)

yaitu agama Allah, pemiliki kekuasaan atas segala yang ada di langit dan bumi. Ingatlah bahwa hanya kepada Allahlah segala sesuatu itu dikembalikan tanpa melalui wasilah apapun, Dia memberi pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghukum orang yang berbuat keburukan. (Tafsir al-Wajiz)

(Zubdatut Tafsir)

حمٓ

ḥā mīm

Haa Miim.

(ha mim) pembicaraan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (sepertin ini) telah hadir di awal surat al-baqarah. (Tafsir al-Muyassar)

Ḥā Mīm. Pembahasan tentang huruf-huruf semacam ini sudah ada di awal surah Al-Baqarah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Ha’, Mim, adalah dua huruf arab yang memberi penekanan perhatian pada kalimat setelahnya, dan untuk menunjukkan kesempurnaan Al-Qur’an, meskipun tersusun dari huruf-huruf bahasa yang dilafalkan bangsa Arab (Tafsir al-Wajiz)

حمٓ وَالْكِتٰبِ الْمُبِينِ (Haa Miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan) Allah bersumpah dengan al-Qur’an itu sendiri bahwa ia merupakan petunjuk. (Zubdatut Tafsir)

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ

rabbanā innaka jāmi'un-nāsi liyaumil lā raiba fīh, innallāha lā yukhliful-mī'ād

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

wahai tuhan kami, sesungguhnya kami mengakui dan bersaksi bahwa Engkau akan mengumpulkan seluruh manusia pada hari yang tidak ada keraguan sama sekali tentangnya, yaitu hari kiamat,sesungguhnya Engkau tidak memungkiri janji yang Engkau sampaikan kepada hamba-hambaMU. (Tafsir al-Muyassar)

Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau akan mengembalikan semua manusia kepada-Mu untuk memperhitungkan amal mereka pada hari yang tidak ada keraguan terhadapnya. Karena hari itu pasti akan datang, tidak mungkin tidak. Sesungguhnya Engkau -wahai Rabb kami- tidak akan ingkar janji.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan, membangkitkan, dan menghidupkan manusia untuk dibalas pada hari dimana tiada keraguan di dalamnya, yaitu hari kiamat. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjiNya untuk membangkitkan dan menghisab. (Tafsir al-Wajiz)

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ (Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia) Yakni yang membangkitkan dan menghidupkan mereka.لِيَوْمٍ ((pada) hari) Yakni pada hari kiamat untuk melakukan hisab dihari yang tak ada keraguan padanya.لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ ( yang tak ada keraguan padanya) Yakni yang tidak ada keraguan atas kejadiannya dan kejadian yang ada didalamnya seperti hisab dan pembalasan. Yakni memenuhi janji bagi tuhan adalah sesuatu yang tidak ada keraguan didalamnya. (Zubdatut Tafsir)

وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ ٱلنَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّٰتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَٰبِهٍ ۗ ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكُمْ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa huwallażī anzala minas-samā`i mā`ā, fa akhrajnā bihī nabāta kulli syai`in fa akhrajnā min-hu khaḍiran nukhriju min-hu ḥabbam mutarākibā, wa minan-nakhli min ṭal'ihā qinwānun dāniyatuw wa jannātim min a'nābiw waz-zaitụna war-rummāna musytabihaw wa gaira mutasyābih, unẓurū ilā ṡamarihī iżā aṡmara wa yan'ih, inna fī żālikum la`āyātil liqaumiy yu`minụn

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Dan Allah Dia lah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Dia mengeluarkan dari hujan itu berbagai macam tumbuhan. Kemudian menumbuhkan dari tetumbuhan tetsebut tanaman dan pepohonan yang menghijau, dan mengelurkan dari tanaman itu biji-bijian yang tersusun satu sama lain, seperti bulir biji gandum, jewawut dan padi. Dan Dia mengeluarkan dari mayang kurma, (yaitu tempat tumbuhnya bakal tandan kurma muda), tangkai-tangkai kurma yang mudah di jangkau tangan. Dia menumbuhkan kebun-kebun angggur. Dia mengeluarkan pohon zaitun dan delima yang serupa daunnya, namun berbeda buahnya dalam bentuk, rasa, dan karakter. Maka lihatlah olehmu Wahai sekalian manusia, buah-buahan pohon-pohon tersebut ketika tanaman itu berbuah, serta mengkal dan masaknya ketika tiba waktunya. Sesungguhnya dalam perkara tersebut (wahai sekalian manusia), terdapat berbagai petunjuk tentang kesempurnaan kekuasaan Dzat penciptanya, hikmah dan rahmatNya bagi kaum yang beriman kepaad Allah dan melaksanakan syariatNya. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Dia lah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang menurunkan air hujan dari langit. Kemudian dengan air hujan itu Dia menumbuhkan segala jenis tanaman. Lalu dari tumbuh-tumbuhan itu Kami keluarkan tanam-tanaman dan pepohonan yang hijau. Dan darinya Kami keluarkan biji-bijian yang bertumpuk-tumpuk, seperti yang terjadi pada bulir-bulir (gandum dan sejenisnya). Dan dari mayang kurma muncul tangkai-tangkai yang dekat sehingga dapat diraih oleh orang yang berdiri maupun orang yang duduk. Kami pun mengeluarkan kebun-kebun anggur. Dan Kami juga mengeluarkan pohon zaitun dan pohon delima yang memiliki kemiripan dalam bentuk daunnya tetapi buahnya berbeda. Perhatikanlah -wahai manusia- bagaimana kondisi buahnya pada awal kemunculannya dan bagaimana kondisinya ketika buahnya telah matang. Sesungguhnya di situ terdapat petunjuk yang nyata mengenai kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Karena merekalah yang bisa mendapatkan manfaat dari petunjuk-petunjuk dan bukti-bukti semacam itu. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah adalah Dzat yang menurunkan hujan dari awan, lalu Dia mengeluarkan macam-macam tumbuhan yang berbeda di bumi. Dia mengeluarkan tumbuhan yang hijau dan segar, yang mana dari sebagian tumbuhan itu keluarlah biji yang tersusun satu sama lain seperti tangkai, dan dari mayang kurma (hal pertama yang tumbuh dari kurma) tangkai-tangkai yang hampir bisa diambil orang yang berdiri dan yang didik. Dia menumbuhkan kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima yang ukuran dan warnanya hampir serupa, namun rasanya tidak serupa. Perhatikanlah buahnya saat tumbuhan itu berbuah, begitu juga perkembangannya, yang mana sesuai dengan dengan bentuknya. Sesungguhnya dalam sesuatu yang telah disebutkan itu terdapat dalil-dalil atas kesempurnaan kuasa sang Khaliq bagi kaum yang mengimani keberadaan dan kuasa Allah. Mereka itulah otang-orang yang mengambil manfaat dari suatu petunjuk. (Tafsir al-Wajiz)

وَهُوَ الَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً (Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit) Yakni air hujan.فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ (lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan) Yakni seluruh jenis tumbuhan yang berbeda-beda.فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا (maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau) Yakni berwarna hijau. Dan makna (الخصر) yakni sayuran segar.نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا (Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak) Yakni butir yang bertumpuk-tumpuk seperti yang terdapat pada tangkai/malai biji-bijian.وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ (dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai) Yakni keluar dari mayang kurma tandan-tandannya dengan perintah Allah. Dan makna (الدانية) yakni yang menjulang kebawah sampai dapat dijangkau orang yang berdiri atau duduk. Seorang ulama bernama az-Zajjaaj berkata: makna dari ayat ini adalah bahwa ada tangkai yang panjang hingga menjulang rendah dan ada pula tangkai yang pendek, namun tidak tersebutkan.وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشٰبِهٍ (dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa) Yakni yang serupa dalam hal ukuran dan warnanya namun tidak serupa dalam hal rasa. Kemudian Allah memerintahkan untuk melihat dengan penuh pengamatan kepada buahnya ketika berbuah dan ketika tiba masa panennya, yakni ketika telah matang dan telah sesuai sekali dengan postur mereka.إِنَّ فِى ذٰلِكُمْ (Sesungguhnya pada yang demikian itu) Yang telah disebutkan sebelumnya secara garis besar dan secara terperinci. (Zubdatut Tafsir)

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

allāhu nazzala aḥsanal-ḥadīṡi kitābam mutasyābiham maṡāniya taqsya'irru min-hu julụdullażīna yakhsyauna rabbahum, ṡumma talīnu julụduhum wa qulụbuhum ilā żikrillāh, żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā`, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.

Allah lah yang menurunkan perkataan yang terbaik, yaitu al-qur’an yang agung sebagian yang lainnya mirip dengan sebagian yang lain dalam kebagusan, ketetapan hukumnya dan ketiadaan pertentangan di dalamnya, terkandung kisah-kisah yang diulang-ulang, hukum-hukum, hujjah hujjah dan keterangan-keterangan yang tilawahnya diulang namun jiwa tidak merasa bosan sekalipun sering di ulang-ulang, membuat merinding kulit orang-orang yang takut kepada tuhan mereka saat mendengarnya, karena mereka terpengaruh dengan ancaman siksa yang ada di dalamnya kemudian kulit dan hati mereka melunak karena berbagahagia dengan janji Allah yang ada di dalamnya, pengaruh al-qur’an terhadap diri itu merupakan hidayah Allah kepada hamba-hambaNya. dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dengan al-qur’an dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah dari beriman kepada Al-qur’an ini karena kekafiran dan penentangannya, maka tidak ada satupun yang bisa memberinya hidayah dan memberinya taufik. (Tafsir al-Muyassar)

Allah menurunkan kepada rasul-Nya Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- Al-Qur`ān yang merupakan pembicaraan paling bagus. Allah menurunkannya setara, sebagian darinya menyerupai sebagian yang lain dalam kebenaran, kebaikan, keserasian dan tanpa kontradiksi. Di dalamnya terdapat beragam kisah dan hukum, janji pahala dan ancaman siksa, sifat-sifat pengikut kebenaran dan sifat-sifat pengikut kebatilan, dan lainya. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding manakala mereka mendengar ancaman dan peringatan di dalamnya, kemudian kulit dan hati mereka melunak untuk mengingat Allah manakala mereka mendengar harapan dan kabar gembira. Al-Qur`ān yang demikian pengaruhnya adalah hidayah Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa Allah biarkan dan tidak bimbing kepada hidayah, maka tidak ada pemberi hidayah baginya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah telah menurunkan Al-Qur’an dan menamainya sebagai hadits (khabar) karena Nabi SAW mengabarkan Al-Qur’an kepada kaumnya, dan menyampaikan berita dari yang diturunkan padanya. Al-Qur’an berisi hukum-hukum dan sebagian yang lain berisi kebaikan-kebaikan. Aturan yang bermakna penguatan atas petunjuk pada kebaikan. Yang kisah-kisah didalamnya diulang-ulang nasehat-nasehat dan hukum-hukum, membacanya selalu diulang-ulang setiap malam tanpa jenuh dan bosan. Menjadikan ketakutan bagi orang-orang yang hatinya takut kepada Allah ketika mengingatNya, lalu merindinglah bulu-bulu orang-orang yang takut kepada Allah ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, itulah Al-Qur’an kitab yang penuh hidayah bagi orang yang dikehendaki mendapat hidayah oleh Allah, dan orang yang menyia-nyiakan untuk iman pada Al-Qur’an maka ia tidak mendapat petunjuk dan tidak mendapatkan taufiq pada jalan kebenaran. Sa’ad bin Abi Waqash berkata: al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad dan kami membacanya sepanjang waktu, maka para kaum bertanya: wahai Rasulullah bagaimana engkau bercerita pada kami? Kemudian turunlah ayat: Allahlah yang menurunkan sebaik-baiknya khabar (berita) (Tafsir al-Wajiz)

اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ (Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik) Yakni al-Qur’an. Allah menyebutnya sebagai perkataan karena Rasulullah menyampaikannya kepada kaumnya dan mengabarkan mereka ayat al-Qur’an yang diturunkan kepadanya. Dan ia merupakan perkataan yang paling baik karena mengandung banyak keberkahan.كِتٰبًا مُّتَشٰبِهًا(Al Quran yang serupa) Yakni isinya serupa dalam hal keindahan, kebenaran maknanya, kekuatan lafadznya, dan ketinggian balaghahnya.مَّثَانِىَ(lagi berulang-ulang) Yakni mengandung kisah-kisah yang berulang-ulang, pelajaran dan hukum-hukum yang berulang-ulang, dan dibaca berulang-ulang namun tidak menimbulkan rasa bosan bagi orang yang mendengar maupun yang membacanya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ(gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya) Dikatakan (اقشعر جلده) jika kulitnya bergetar dan menciut karena rasa takut atau kedinginan. Az-Zajjaj berkata: jika dibacakan ayat tentang azab maka kulit orang-orang yang takut kepada Allah akan bergetar.ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللهِ ۚ( kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah) Yakni ketika mereka mengingat rahmat, pahala, dan surga Allah. Qatadah mengatakan bahwa ini adalah sifat dari para kekasih Allah; Allah menyebutkan bahwa kulit mereka akan gemetar kemudian hati mereka akan tenang ketika mereka mengingat Allah. Dan Allah tidak menyebutkan hilangnya kesadaran mereka sebagaimana yang dilakukan oleh para pelaku bid’ah, sebab itu datangnya dari setan. (Zubdatut Tafsir)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuṣbirụ wa ṣābirụ wa rābiṭụ, wattaqullāha la'allakum tufliḥụn

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNYA dan melaksanakan syariatNYA, bersabarlah diatas ketaatan kepada tuhan kalian dan terhadap apa yang menimpa kalian berupa kemadorotan dan bencana, dan teguhkanlah kesabaran kalian untuk menghadapi musuh-musuh kalian sehingga mereka tidak lebih bersabar di bandingkan kalian, dan tegaklah untuk memerangi musuhKU dan musuh kalian serta takutlah kepada Allah dalam seluruh keadaan kalian, semoga kalian memperoleh keberuntungan berupa ridhaNYA di dunia dan di akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya, bersabarlah kalian terhadap beban-beban syariat (agama) serta musibah-musibah dunia yang menimpa kalian. Dan kalahkanlah orang-orang kafir dalam hal kesabaran. Jangan sampai mereka lebih sabar dari kalian. Tegakkanlah jihad di jalan Allah. Dan takutlah kalian kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, supaya kalian mendapatkan apa yang kalian harapkan. Yaitu selamat dari Neraka dan masuk ke dalam Surga. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai orang-orang mukmin, bersabarlah untuk berbuat data dan menahan syahwat, dan kuatkanlah kesabaran kalian, Unggulilah musuh dengan bersabar atas derita peperangan, dan jadilah orang yang lebih bersabar daripada mereka. Berdirilah di ujung-ujung negeri yang akan disusupi musuh dengan mengikat kuda-kuda kalian disana seraya dan mempersiapkan diri untuk berjihad. Bertakwalah kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan agar kalian mendapatkan keridhaan dan surga Allah. Ar-Ribath adalah menunggu shalat di masjid. Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: “Di zaman nabi SAW belum ada ujung tempat yang dijaga/dibentengi” Namun ayat ini turun terkait tindakan menunggu shalat di belakang orang yang shalat (Tafsir al-Wajiz)

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اصْبِرُوا۟ (Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu) Ayat ini sebagai himbauan untuk senantiasa bersabar diatas ketaatan dan dari syahwat.وَصَابِرُوا۟ (dan kuatkanlah kesabaranmu) Yakni dalam menghadapi musuh. Dan hal ini lebih berat dari pada sabar.وَرَابِطُوا۟(dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu)) Yakni bersiagalah di perbatasan negeri dan ikatlah kuda-kuda kalian disana. Dan termasuk dari Ribath adalah menunggu shalat di masjid. Dan makna ribath adalah melazimi perbatasan dan melazimi masjid. Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan lainnya sabda dari Rasulullah: “maukah kalian aku tunjukkan pada amalan yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan dengannya mengangkat derajat-derajat: menyempurnakan wudhu saat suasana yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid-masjid, dan menunggu didirikannya shalat selanjutnya setelah mengerjakan shalat, maka itulah Ribath, maka itulah ribath, maka itulah ribath. Dan banyak diriwayatkan berbagai hadist yang menyebutkan keutamaan ribath di jalan Allah dengan membelakangi negeri kaum muslimin dan menghadap negeri musuh, diantaranya sabda Nabi yang dikeluarkan Imam Bukhari: Ribath selama satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik