Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Luqman

الم

Arab-Latin: alif lām mīm

Terjemah Arti:  1.  Alif Laam Miim

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

(Alif Lam Mim). Pembicaraan tentang huru-huruf yang teputus-putus (di awal surat seperti ini) telah berlalu di awal surat al-Baqarah.

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

tilka āyātul-kitābil-ḥakīm

 2.  Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmat,

Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung hikmah yang mendalam.

هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ

hudaw wa raḥmatal lil-muḥsinīn

 3.  menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,

Ayat-ayat ini adalah petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik dengan mengamalkan apa yang Allah turunkan di dalam al-Quran dan apa yang diperintahkan kepada mereka oleh RasulNya Muhammad sholallohu alaihi wasallam.

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

allażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa hum bil-ākhirati hum yụqinụn

 4.  (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

Yaitu orang-orang yang menunaikan shalat dengan sempurna pada waktunya, membayar zakat yang diwajibkan atas mereka kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan mereka juga beriman kepada kebangkitan dan balasan di alam akhirat.

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

ulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn

 5.  Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas adalah orang-orang yang berjalan di atas penjelasan dan cahaya dari Tuhan mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

wa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn

 6.  Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Dan diantara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan (yaitu semua permainan yang melenakan dari ketaatan kepada Allah dan menghalangi dari keridhaan Allah) untuk menyesatkan manusia dari jalan petunjuk ke jalan hawa nafsu, dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai hinaan. Mereka akan mendapatkan siksa yang menghinakan dan merendahkan mereka.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

wa iżā tutlā ‘alaihi āyātunā wallā mustakbirang ka`al lam yasma’hā ka`anna fī użunaihi waqrā, fa basysyir-hu bi’ażābin alīm

 7.  Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

Dan apabila ayat-ayat al-Qur’an dibacakan kepadanya, dia berpaling dari ketaatan kepada Allah, takabur dan tidak mengambil pelajaran, seolah-olah tidak mendengar apapun, seolah-olah telinganya tersumbat. Barangsiapa yang keadaannya seperti ini, maka sampaikanlah berita gembira kepadanya (wahai Rasul) dengan siksa yang menyakitkan di dalam api neraka pada Hari Kiamat.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

innallażīna āmanu wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum jannātun na’īm

 8.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, serta melaksanakan amal-amal shalih yang diperintahkan kepada mereka, mereka itu akan mendapatkan kenikmatan yang tetap di surga.

خَالِدِينَ فِيهَا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

khālidīna fīhā, wa’dallāhi ḥaqqā, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

 9.  Kekal mereka di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kehidupan mereka di surga tersebut adalah kehidupan abadi, tidak terputus dan tidak berakhir, dan Allah menjanjikan itu sebagai janji yang benar. Dia tidak menyelisihi janjiNya. Dia Mahaperkasa dalam perintahNya dan Mahabijaksana dalam pengaturanNya.

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

khalaqas-samāwāti bigairi ‘amadin taraunahā wa alqā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bikum wa baṡṡa fīhā ming kulli dābbah, wa anzalnā minas-samā`i mā`an fa ambatnā fīhā ming kulli zaujing karīm

 10.  Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Allah menciptakan langit dan meninggikannya tanpa tiang sebagaimana yang kalian saksikan, Dia menancapkan gunung-gunung di bumi dengan kokoh, agar bumi tidak bergerak dan tidak bergoncang sehingga kehidupan kalian tidak rusak, Dia menyebarkan di bumi berbagai macam makhluk bernyawa, menurunkan air dari awan, lalu Dia menumbuhkan dengan air itu dari bumi segala tanaman yang berpasangan yang hijau lagi menarik pandangan mata.

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

hāżā khalqullāhi fa arụnī māżā khalaqallażīna min dụnih, baliẓ-ẓālimụna fī ḍalālim mubīn

 11.  Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

Segala apa yang kalian saksikan adalah makhluk ciptaan Allah. maka tunjukkanlah kepadaku (wahai orang-orang musyrik) apa yang telah diciptakan oleh tuhan-tuhan kalian yang kalian sembah selain Allah? sebaliknya, orang-orang musyrik itu dalam keadaan menyimpang yang jauh dari kebenaran dan jalan yang lurus.

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

wa laqad ātainā luqmānal-ḥikmata anisykur lillāh, wa may yasykur fa innamā yasykuru linafsih, wa mang kafara fa innallāha ganiyyun ḥamīd

 12.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Dan Kami telah memberikan hikmah kepada hamba Kami yang shalih, yaitu Luqman. Hikmah yaitu pemahaman dalam agama, akal dan kebenaran dalam berkata. Kami katakan kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmatNya kepadamu, dan barangsiapa bersyukur kepada Tuhannya, manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, sebaliknya barangsiapa mengingkari nikmat-nikmaNya, sesungguhnya Allah Mahakaya dari syukurnya, tidak memerlukannya. BagiNya segala puji dan sanjungan baik dalam keadaan apa pun.”

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya’iẓuhụ yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm

 13.  Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Ingatlah (wahai Rasul) nasihat Luqman kepada putranya saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Allah, karena dengan itu kamu menzhalimi dirimu, sesungguhnya syirik benar-benar perbuatan dosa yang paling besar dan paling buruk.”

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

 14.  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan Kami memerintahkan manusia agar berbakti dan berbuat baik kepada bapak ibunya. Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah di atas kelemahan, mengandungnya dan menyapihnya setelah menyusuinya selama dua tahun. Kami berfirman kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah kemudian berterima kasihlah kepada kedua orang tuamu. Hanya kepadaKu-lah kalian akan kembali, lalu Aku akan membalas masing-masing sesuai haknya.”

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā wa ṣāḥib-humā fid-dun-yā ma’rụfaw wattabi’ sabīla man anāba ilayy, ṡumma ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

 15.  Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dan bila bapak ibumu memaksamu (wahai anak yang beriman) untuk membuatmu menyekutukan sesuatu denganKu dalam ibadahmu kepadaKu dimana kamu tidak memiliki ilmu tentangnya atau keduanya mengajakmu berbuat maksiat, maka jangan taati keduanya, karena tidak ada ketaatan bagi makhluk untuk bermaksiat kepada khaliq, namun tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia ini dengan baik dalam hal-hal yang bukan menagndung dosa. Dan tempuhlah olehmu (Wahai anak yang beriman) jalan orang-orang yang bertaubat dari dosanya, yang kembali kepadaKu, beriman kepada utusanKu, Muhammad, kemudian hanya kepadaKu-lah tempat kembali kalian lalu Aku mengabarkan kepada kalian apa yang dulu kalian kerjakan di dunia dan Aku membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

yā bunayya innahā in taku miṡqāla ḥabbatim min khardalin fa takun fī ṣakhratin au fis-samāwāti au fil-arḍi ya`ti bihallāh, innallāha laṭīfun khabīr

 16.  (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Wahai anakku, ketahuilah bahwa keburukan dan kebaikan, sekalipun itu sekecil biji sawi (maksudnya sangat kecil) di perut gunung atau di mana pun di langit dan di bumi, maka Allah akan mendatangkannya di Hari Kiamat dan menghisabnya. Sesungguhnya Allah Mahalembut kepada hamba-hambaNya, juga Maha teliti terhadap perbuatan-perbuatan mereka.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

yā bunayya aqimiṣ-ṣalāta wa`mur bil-ma’rụfi wan-ha ‘anil-mungkari waṣbir ‘alā mā aṣābak, inna żālika min ‘azmil-umụr

 17.  Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Wahai anakku, dirikanlah shalat dengan sempurna dengan rukun-rukun, syarat-syarat dan wajib-wajibnya. Perintahkanlah kepada yang baik dan cegahlah dari yang mungkar dengan lemah lembut dan hikmah sebatas kemampuanmu. Bersabarlah atas apa yang menimpamu dalam rangka beramar ma’ruf dan bernahi mungkar. Ketahuilah bahwa wasiat-wasiat ini termasuk perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah, yang patut dilakukan dengan penuh kemauan.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

wa lā tuṣa”ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr

 18.  Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan jangan memalingkan wajahmu dari manusia bila kamu berbicara dengan mereka atau mereka berbicara kepadamu dalam rangka merendahkan mereka atau karena kamu menyombongkan diri atas mereka. Dan jangan berjalan di muka bumi di antara manusia dengan penuh kesombongan dan keangkuhan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri dalam penampilan dan ucapannya.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

waqṣid fī masy-yika wagḍuḍ min ṣautik, inna angkaral-aṣwāti laṣautul-ḥamīr

 19.  Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Dan rendah hatilah saat berjalanmu, rendahkanlah suaramu dan jangan meninggikannya. Sesungguhnya suara yang paling buruk dan paling dibenci adalah suara keledai yang terkenal dengan kedunguan dan suaranya yang melengking jelek.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

a lam tarau annallāha sakhkhara lakum mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa asbaga ‘alaikum ni’amahụ ẓāhirataw wa bāṭinah, wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa lā hudaw wa lā kitābim munīr

 20.  Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

Apakah kalian tidak melihat (wahai manusia) bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit untuk kalian, yaitu matahari, rembulan, awan dan lainnya, dan apa yang ada di bumi berupa hewan-hewan, pohon-pohon, air dan lainnya yang tidak terhitung, Dia melimpahkan nikmatNya yang lahir kepada kalian pada badan dan anggota badan kalian, dan nikmat batin pada akal dan hati serta apa yang Dia simpan untuk kalian yang tidak kalian ketahui? Dan diantara manusia ada yang mendebat dala hal keesaan Allah dan keikhlasan ibadah kepadaNya tanpa hujjah dan keterangan, tanpa kitab yang nyata yang mendukung kebenaran klaimnya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

wa iżā qīla lahumuttabi’ụ ma anzalallāhu qālụ bal nattabi’u mā wajadnā ‘alaihi ābā`anā, a walau kānasy-syaiṭānu yad’ụhum ilā ‘ażābis-sa’īr

 21.  Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

Dan apabila dikatakan kepada orang-orang yang mendebat keesaan Allah dan pengesaan ibadah hanya kepadaNya tersebut, “Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah kepada NabiNya, Muhammad.” Maka mereka menjawab, “Kami hanya mengikuti apa yang telah dianut oleh nenek moyang kami berupa kesyrikan dan penyembahan kepada berhala.” Apakah mereka tetap melakukan semua itu sekalipun setan mengajak mereka dan memperindah perbuatan batil mereka serta kekafiran mereka kepada Allah, sehingga mengantarkan mereka ke dalam azab neraka yang menyala-nyala?

۞ وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

wa may yuslim waj-hahū ilallāhi wa huwa muḥsinun fa qadistamsaka bil-‘urwatil-wuṡqā, wa ilallāhi ‘āqibatul-umụr

 22.  Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

Dan barangsiapa mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah dan niatnya kepada Tuhannya, sedangkan dia berkata-kata baik dan berbuat mulia, maka dia telah memegang sebab terkuat yang mengantarkannya kepada ridha Allah dan rahmatNya. Hanya kepada Allah semata segala urusan berjalan, lalu Dia membalas orang yang berbuat baik atas kebaikannya dan orang yang berbuat buruk atas keburukannya.

وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ ۚ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

wa mang kafara fa lā yaḥzungka kufruh, ilainā marji’uhum fa nunabbi`uhum bimā ‘amilụ, innallāha ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

 23.  Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

dan barang siapa yang kafir, maka Jangan kamu bersedih dan berduka atas siapa yang kafir (wahai Rasul), karena kamu telah menunaikan kewajiban menyampaikan dan menjelaskan. Hanya kepada Kami mereka semuanya akan kembali dan berpulang di Hari Kiamat, lalu Kami mengabarkan kepada mereka tentang amal-amal buruk yang mereka kerjakan di dunia, kemudian Kami akan membalas mereka atasnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam dada mereka berupa kekafiran kepada Allah dan mementingkan ketaatan kepada setan.

نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٍ

numatti’uhum qalīlan ṡumma naḍṭarruhum ilā ‘ażābin galīẓ

 24.  Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.

Kami membiarkan mereka menikmati kehidupan dunia ini untuk waktu yang pendek, kemudian di Hari Kiamat, Kami akan menggiring mereka dan mencampakkan mereka ke dalam azab yang menyakitkan, yaitu azab Jahanam.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunnallāh, qulil-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

 25.  Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Jika kamu bertanya (wahai rasul) kepada orang-orang musyrik itu dengan Nama Allah, “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?” niscaya mereka akan menjawab, “Allah.” bila mereka menjawab demikian, maka katakanlah kepada mereka , “Segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkan dalil atas kalian dari diri kalian sendiri.” Akan tetapi kebanyakan orang-orang musyrik itu tidak mau melihat dan merenungkan siapa yang berhak untuk disanjung dan dipuji, oleh karena itu mereka menyekutukan sesuatu denganNya.

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd

 26.  Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Hanya milik Allah-lah segala apa yang di langit dan di bumi, sebagai hamba-hambaNya yang Dia ciptakan, Dia yang mengadakan dan menakdirkan mereka, maka tidak ada yang berhak disembah selainNya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Mahakaya yang tidak membutuhkan makhlukNYa. BagiNya sanjungan dan pujian dalam keadaan apa pun.

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

walau anna mā fil-arḍi min syajaratin aqlāmuw wal-baḥru yamudduhụ mim ba’dihī sab’atu ab-ḥurim mā nafidat kalimātullāh, innallāha ‘azīzun ḥakīm

 27.  Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Seandainya semua pohon di bumi ini dijadikan sebagai pena, dan lautan sebagai tinta nya ditambah dengan tujuh samudera lagi, lalu pena-pena dan tinta-tinta itu digunakan untuk menulis kalimat-kalimat Allah yang mencakup Ilmu dan hukumNya, apa Yang DIa wahyukan kepada para malaikat dan para utusanNYa, niscaya pena-pena itu akan patah dan tinta-tinta akan habis, namun tidak dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, di mana tidak seorang pun meliputinya. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa dalam menimpakan hukuman terhadap siapa yang menyekutukanNya, juga Mahabijakksana dalam pengaturan atas makhlukNya. Ayat ini menetapkan sifat “kalam” bagi Allah secara hakiki sesuai dengan keagungan dan kesempurnaanNya.

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

mā khalqukum wa lā ba’ṡukum illā kanafsiw wāḥidah, innallāha samī’um baṣīr

 28.  Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Penciptaan kalian (wahai manusia) dan kebangkitan kalian di Hari Kiamat dalam kemudahan dan keringanannya tidak lain kecuali seperti menciptakan satu jiwa dan membangkitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar kata-kata kalian, Maha Melihat perbuatan kalian dan akan membalas kalian atasnya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

a lam tara annallāha yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laili wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara kullui yajrī ilā ajalim musammaw wa annallāha bimā ta’malụna khabīr

 29.  Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Apakah kamu tidak melihat bahwa Allah mengambil sebagian waktu dari malam sehingga siangnya menjadi panjang dan malamnya pendek, Dia mengambil sebagian waktu dari siang sehingga malamnya menjadi panjang dan siangnya menjadi pendek, Dia menundukkan matahari dan rembulan untuk kalian, masing-masing dari keduanya berjalan di atas orbitnya sampai waktu yang sudah ditentukan dan ditetapkan, dan sesungguhnya Allah maha mengetahui segala yang diperbuat makhluk-Nya dari kebaikan maupun keburukan, tiada sesuatu pun yang samar bagiNya?

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa anna mā yad’ụna min dụnihil-bāṭilu wa annallāha huwal-‘aliyyul-kabīr

 30.  Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Semua itu merupakan bukti besarnya kuasa Allah dan agar kalian mengetahui dan mengakui bahwa Allah adalah Haq pada dzat, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, dan bahwa apa yang kalian sembah selain Allah adalah batil, dan bahwa Allah adalah Mahatinggi dengan Dzat-Nya, kedudukanNya, dan kekuasaan-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, juga Mahabesar atas segala sesuatu, dan segala sasuatu selainNya tunduk kepadaNya. Hanya Dia semata yang berhak untuk disembah, bukan selainNya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

a lam tara annal-fulka tajrī fil-baḥri bini’matillāhi liyuriyakum min āyātih, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr

 31.  Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.

Apakah kamu tidak melihat (wahai orang yang menyaksikan) bahwa kapal-kapal itu berjalan di laut dengan perintah Allah sebagai nikmat dariNya kepada makhlukNya, agar Dia memperlihatkan pelajaran-pelajaran dan hujjah-hujjahNya kepada kalian yang bisa membuat kalian mengambil pelajaran? Sesungguhnya berlayarnya kapal-kapal itu di laut merupakan bukti bagi orang-orang yang sangat sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah dan sangat sabar atas ketaatan kepadaNya serta sangat sabar atas takdirnya, lagi banyak bersyukur atas nikmat-nikmatNya.

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

wa iżā gasyiyahum maujung kaẓ-ẓulali da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīn, fa lammā najjāhum ilal-barri fa min-hum muqtaṣid, wa mā yaj-ḥadu bi`āyātinā illā kullu khattāring kafụr

 32.  Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.

Bila orang-orang Musyrik naik kapal, lalu ombak mengepung kapal itu dari segala arah seperti awan dan gunung, lalu menimpa mereka rasa cemas dan takut tenggelam, mereka berdoa kepada Allah dan mengikhlaskannya untukNya semata, namun setelah Allah menyelamatkan mereka ke darat, maka diantara mereka ada yang bersikap pertengahan dengan tidak bersyukur kepada Allah secara sempurna, dan diantara mereka ada ingkar dan kafir kepada nikmat-nikmat Allah. dan tidak ada yang kafir kepada ayat-ayat dan hujjah-hujjah Kami yang menunjukkan kesempurnaan kodrat dan keesaan Kami kecuali setiap pengkhianat yang suka membatalkan perjanjian, dan pengingkar nikmat-nikmat Allah atasnya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakum wakhsyau yaumal lā yajzī wālidun ‘aw waladihī wa lā maulụdun huwa jāzin ‘aw wālidihī syai`ā, inna wa’dallāhi ḥaqqun fa lā tagurrannakumul-ḥayātud-dun-yā, wa lā yagurrannakum billāhil-garụr

 33.  Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian dan taatilah Dia dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Takutlah kepada Hari Kiamat di mana saat itu orangtua tidak bisa membantu anak, dan sebaliknya anak tidak bisa membantu orangtuanya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah haq, tidak ada keraguan padanya. Maka Janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia dan keindahannya, sehingga dia membuat kalian lupa terhadap kehidupan akhirat. Dan Janganlah sampai kalian tertipu oleh penipu yang berwujud setan jin atau manusia dalam (menaati) Allah.

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

innallāha ‘indahụ ‘ilmus-sā’ah, wa yunazzilul-gaīṡ, wa ya’lamu mā fil-ar-ḥām, wa mā tadrī nafsum māżā taksibu gadā, wa mā tadrī nafsum bi`ayyi arḍin tamụt, innallāha ‘alīmun khabīr

 34.  Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sesungguhnya hanya Allah semata tidak ada selainNya yang mengetahui kapan Kiamat tiba, dan Dia-lah Allah yang menurunkan hujan dari langit, tidak seorang pun selainNya yang mampu melakukan itu, Dia mengetahui kandungan Rahim kaum wanita, Dia mengetahui apa yang akan didapatkan oleh setiap orang di hari esok, setiap orang tidak mengetahui di bumi mana dia akan mati, sebaliknya yang mengetahuinya hanyalah Allah, ilmu tentang semua itu hanyalah khusus bagiNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti, meliputi yang Nampak dan yang tidak Nampak, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya.

Related: Surat as-Sajdah Arab-Latin, Surat al-Ahzab Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Saba, Terjemahan Tafsir Surat Fathir, Isi Kandungan Surat Yasin, Makna Surat ash-Shaffat

Category: Tafsir Per Surat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Luqman Bersyukur Ali Imran 144 Download Surat Luqman Dan Terjemahan