Ayat Tentang Isra’ Mi’raj

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

Arab-Latin: wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā

Artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ

Arab-Latin: 'inda sidratil-muntahā

Artinya: (yaitu) di Sidratil Muntaha.

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Pelajaran Menarik Tentang Ayat Tentang Isra’ Mi’raj

Ada sekumpulan penafsiran dari kalangan ahli tafsir terhadap makna ayat tentang isra’ mi’raj, sebagiannya seperti termaktub:

Di Sidratul Muntaha, yaitu pohon yang besar sekali berada di langit ketujuh. (Tafsir al-Mukhtashar)

Di sisi pohon Sadr (Allah paling tahu tentang hakikat pohon itu) di tempat paling tinggi di langit, yaitu di langit ke-enam sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. Al-Muntaha adalah tempat pemberhentian. Dikatakan: “Disanalah batas pengetahuan para makhluk”. Di sampingnya ada surga yang mana ruh-ruh orang-orang mukmin yang bertakwa bersemayam disana (Tafsir al-Wajiz)

عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ ((yaitu) di Sidratil Muntaha) Pohon sidr ini berada di langit ke enam, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. Terdapat pendapat mengatakan bahwa pohon ini merupakan batas terakhir yang diketahui oleh makhluk, adapun setelahnya tidak ada yang dapat mengetahui. (Zubdatut Tafsir)

عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ

Arab-Latin: 'indahā jannatul-ma`wā

Artinya: Di dekatnya ada surga tempat tinggal,

Di sebelah pohon ini terdapat Surga Al-Ma`wa. (Tafsir al-Mukhtashar)

عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰٓ (Di dekatnya ada surga tempat tinggal) Dinamakan dengan (جنة المأوى) kerena ruh-ruh orang beriman akan kembali kepadanya. (Zubdatut Tafsir)

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِٱلنَّاسِ ۚ وَمَا جَعَلْنَا ٱلرُّءْيَا ٱلَّتِىٓ أَرَيْنَٰكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ وَٱلشَّجَرَةَ ٱلْمَلْعُونَةَ فِى ٱلْقُرْءَانِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَٰنًا كَبِيرًا

Arab-Latin: wa iż qulnā laka inna rabbaka aḥāṭa bin-nās, wa mā ja'alnar-ru`yallatī araināka illā fitnatal lin-nāsi wasy-syajaratal-mal'ụnata fil-qur`ān, wa nukhawwifuhum fa mā yazīduhum illā ṭugyānang kabīrā

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.

Dan ingatlah (wahai rasul) ketika Kami berfirman kepadamu, ”sesungguhnya tuhanmu meliputi seluruh manuasia dengan ilmu dan kekuasaanNya. Dan Kami tidaklah menjadikan penglihatan yang kami perlihatkan kepadamu secara langsung pada malam isra’ mi’raj berupa makhluk-mahkluk ciptaan yang luar biasa besar kecuali sebagai ujian bagi manusia, supaya bisa memisahkan mana yang kafir, dan mana yang mukmin. Dan tidaklah Kami menjadikan pohon zaqqum terlaknat yang disebutkan dalam al-qur’an, kecuali sebagai cobaan bagi manusia. Kami membuat takut kaum musyrikin dengan berbagai macam siksaan dan tanda-tanda kuasa Kami. Dan tidaklah perkara-perkara yang menakutkan itu menambah mereka kecuali kian menjadi-jadi dalam kekafiran dan kesesatan. (Tafsir al-Muyassar)

Dan ingatlah -wahai Rasul- ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sungguh kekuasaan Tuhanmu meliputi seluruh manusia, mereka senantiasa berada dalam genggaman-Nya, Allah juga akan melindungi dirimu dari kejahatan mereka, maka sampaikanlah segala apa yang diperintahkan padamu untuk disampaikan. Dan Kami tidak menjadikan apa yang Kami perlihatkan padamu secara jelas pada malam isra` kecuali sebagai ujian bagi manusia; apakah mereka akan membenarkannya atau malah mendustakannya? Dan Kami juga tidak menjadikan pohon zaqqum yang disebutkan dalam Al-Qur`ān bahwa ia tumbuh di dasar Neraka Jahim melainkan sebagai ujian bagi mereka. Bila mereka tidak percaya dengan dua tanda kebenaran Rasul ini maka mereka pasti tidak akan percaya dengan tanda-tanda kebenaran lainnya, dan Kami akan terus mengancam mereka untuk mengirimkan tanda-tanda kebenaran Rasul, namun hal itu malah tidak akan menambah mereka kecuali semakin bertambah kafir dan semakin terjerumus ke dalam kesesatan." (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan ingatlah wahai Nabi saat Kami berfirman kepadamu: “Sesungguhnya Tuhanmu meliputi manusia dengan pengetahuan dan kekuasaanNya, sehingga mereka berada dalam genggaman dan di bawah kuasaNya, maka sampaikanlah kepada mereka risalahmu.” Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang Kami perlihatkan kepadamu pada malam Isra’ Mi’raj, yaitu melihat ayat-ayat dan mukjizat Allah sebagaimana yang terdapat dalam surah (ayat) {Linuriyahu min ayatina} [1] Dan Kami tidak menjadikan pohon Zaqqum yang sangat dihindari untuk dimakan yang tumbuh di dasar neraka Jahim tanpa terbakar itu kecuali sebagai ujian dan cobaan bagi penduduk Mekah. Dan Kami tidak memperingatkan mereka dengan pohon itu dan ayat-ayat (lain). Peringatan Kami dan penyampaian ayat itu tidak lain hanya membuat mereka semakin menjadi-jadi dalam kekufuran. Pada suatu hari rasulallah SAW khawatir, lalu dikatakan kepadanya: “Apa yang terjadi kepadamu wahai rasulallah? Jangan kamu pedulikan hal itu, sesungguhnya itu adalah penglihatan tentang apa yang menimpa mereka.” Lalu Allah SWT menurunkan ayat {Wa Maa Ja’alnaar ru’yaa}. Abu Jahal dan lainnya berkata: “Sahabat kalian menganggap bahwa neraka Jahanam itu mampu membakar batu” kemudian berkata: “Namun di dalamnya tumbuh pohon”. Dia menganggap bahwa pohon Zaqqum itu adalah makanan jenis bubur dengan tambahan susu, lalu turunlah ayat {Wasy-Syajarota …} (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ ۚ (Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”) Yakni mereka berada dalam genggaman-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya. Terdapat pendapat mengatakan yang dimaksud dengan manusia disini adalah para penduduk kota Makkah. Allah berkuasa atas mereka dan akan memberimu kuasa atas mereka, maka janganlah kamu tergesa-gesa. وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِىٓ أَرَيْنٰكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ(Dan Kami tidak menjadikan mimpi (penampakan) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia) Penampakan ini merupakan penampakan nyata pada saat malam isra’ mi’raj yang disebutkan pada awal surat, dan disebut sebagai mimpi karena itu terjadi pada malam hari. Sedangkan ujian yang dimaksud adalah murtadnya sekelompok orang yang sebelumnya telah beriman akibat kabar isra’ mi’raj yang Rasulullah sampaikan kepada mereka. Pendapat lain mengatakan bahwa penampakan itu adalah dalam mimpi. Allah menampakkan kepada Rasulullah dalam mimpi bahwa ia melawan kafir Quraisy di perang Badar. وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِى الْقُرْءَانِ ۚ (an (begitu pula) pohon yang terkutuk dalam Al Quran) Yakni pohon Zaqqum. Dan yang dimaksud dengan (الفتنة) adalah bahwa Abu Jahal dan lainnya mengatakan: sahabat kalian itu (Muhammad) mengatakan bahwa neraka Jahannam dapat membakar batu, kemudian ia mengatakan bahwa di neraka tumbuh pepohonan. Dan diriwayatkan bahwa Abu Jahal memerintahkan budak wanitanya untuk menghidangkan kurma dan mentega, kemudian dia mengatakan kepada para sahabatnya: “nikmatilah buah Zaqqum ini” وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيٰنًا كَبِيرًا (Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka) Yakni menakut-nakuti mereka dangan berbagai mukjizat. Namun hal itu tidak bermanfaat bagi mereka, melainkan hanya menambah kekafiran mereka. (Zubdatut Tafsir)

وَسْـَٔلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلْنَا مِن دُونِ ٱلرَّحْمَٰنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ

Arab-Latin: was`al man arsalnā ming qablika mir rusulinā a ja'alnā min dụnir-raḥmāni ālihatay yu'badụn

Artinya: Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?"

Bertanyalah (wahai rasul) kepada para pengikut nabi-nabi yang telah Kami utus sebelummu dan para pembawa syariat mereka, ”apakah utusan-utusan mereka mengajak manusia untuk menyembah selain Allah?”. maka mereka akan mengabarkan kepadamu bahwa hal itu tidak terjadi, karena semua rasul mengajak kepada apa yang kamu serukan kepada manusia sekarang, yaitu menyembah Allah semata. yang tidak ada sekutu bagiNya dan melarang menyembah selainNya. (Tafsir al-Muyassar)

Dan tanyakanlah -wahai Rasul- kepada para rasul yang telah Kami utus sebelummu, apakah Kami menjadikan selain Ar-Raḥmān tuhan-tuhan untuk disembah? (Tafsir al-Mukhtashar)

Bertanyalah wahai Rasul, tentang umat para rasul terdahulu yang telah kami bangkitkan sebelummu: “Apakah Allah pernah mengizinkan menjadikan berhala sebagai sesembahan, juga apakah kalian tidak pernah diperingatkan?” Maksudnya adalah bahwa para Nabi terdahulu kesemuanya bersaksi dan menyeri kepada pengesaan Allah, juga perintah ini sudah ada sejak dulu. (Tafsir al-Wajiz)

وَسْـَٔلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرَّحْمٰنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ (Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”) Yang dimaksud adalah pertanyaan kepada para rasul pada malam Isra mi’raj ketika beliau menemui mereka. Pendapat lain mengatakan maknanya adalah tanyakanlah kepada umat-umat yang telah Kami utus kepada mereka para rasul, apakah Allah mengizinkan penyembahan terhadap berhala-berhala dalam suatu agama? Apakah hal itu diperbolehkan bagi salah satu dari umat itu? (Zubdatut Tafsir)

وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ

Arab-Latin: wa laqad ra`āhu bil-ufuqil-mubīn

Artinya: Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.

Muhammad yang kalian kenal bukan orang gila. Muhammad telah melihat jibril yang datang dengan membawa wahyu kepadanya dalam wujud aslinya sebagaimana Allah menciptakannya,di ufuk besar dari arah timur di Makkah,itu adalah penglihatan nabi kepada jibril yang pertama di gua hira. Muhammad tidak kikir dalam menyampaikan wahyu. Al-qur’an ini bukan ucapan setan yang terkutuk yang terusir dari rahmat Allah, sebaliknya ia adalah kalam dan wahyu Allah. (Tafsir al-Muyassar)

Teman kalian ini telah melihat Jibril di ufuk langit yang jelas dalam bentuk asli sebagaimana ia diciptakan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sungguh, Muhammad SAW itu telah melihat secara langsung wujud asli Jibril di atas awang-awang, dia memliki 600 sayap (Tafsir al-Wajiz)

وَلَقَدْ رَءَاهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang) Yakni Muhammad telah melihat Jibril dengan rupa sebenarnya, ia memiliki enam ratus sayap. Mujahid mengatakan: Rasulullah melihatnya di arah Ajyad yang terletak di timur kota Makkah. (Zubdatut Tafsir)

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَٰهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Arab-Latin: wa rusulang qad qaṣaṣnāhum 'alaika ming qablu wa rusulal lam naqṣuṣ-hum 'alaīk, wa kallamallāhu mụsā taklīmā

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Dan kami utus rasul-rasul yang sungguh telah kami kisahkan kisah-kisah mereka kepadamu di dalam al-qur’an sebelum ayat ini,dan rasul-rasul lain yang belum kami kisahkan dalam kisah-kisah mereka kepadamu karena ada hikmah yang kami kehendaki. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung, sebagai pemuliaan kepadanya dengan sifat ini. Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat kalam (berbicara) bagi Allah ,sebagaimana yang sesuai dengan keagunganNya, dan sesungguhnya Dia berbicara kepada Musa dengan sebenarnya tanpa ada perantara. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Kami telah mengutus rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu di dalam Al-Qur`ān. Dan Kami juga mengutus rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan kepadamu di dalam Al-Qur`ān. Kami tidak menceritakan sepak terjang mereka untuk hikmah tertentu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa -tanpa perantara- dengan cara berbicara yang sesuai dengan keagungan-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā- untuk memuliakan nabi Musa. (Tafsir al-Mukhtashar)

164 Dan Kami telah mengutus rasul-rasul lain, sungguh telah Kami sampaikan kisah mereka kepadamu wahai Rasul yang terkandung dalam ayat-ayat ini juga tentang rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung, tanpa perantara malaikat pembawa wahyu yaitu Jibril. Jumlah Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar adalah seratus dua puluh empat ribu, adapaun jumlah rasul adalah tiga ratus tiga belas, mereka semua berbicara dengan Allah dengan perantara Jibril (Tafsir al-Wajiz)

وَرُسُلًا (Dan rasul-rasul) Yakni dan Kami telah mengutus Rasul-Rasul. قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ(yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu) Yakni Kami kisahkan kabar-kabar tentang mereka. مِن قَبْلُ (dahulu) Yakni sebelum Kami ceritakan padanya kisah-kisah mereka di surat ini. وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا (dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung) Yakni berbicara dengan sebenarnya dan bukan majas, Allah mengistimewakan Nabi Musa dengan berbicara dengannya sebagai bentuk pemuliaan derajatnya, oleh sebab itulah ia dijuluki dengan ‘kalimullah’ (yang diajak bicara oleh Allah). Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dzar yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya ia (Abu Dzar) berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah berapa jumlah para Nabi? Ia menjawab: 124.000 orang. Aku bertanya lagi: berapa jumlah Rasul diantara mereka? Ia menjawab: 313 orang, itu adalah jumlah yang sangat banyak. (Zubdatut Tafsir)

مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

Arab-Latin: mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā

Artinya: Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

Apakah kalian mendustakan Muhammad dan mendebatnya atas apa yang dia lihat dan dia saksikan dari tanda-tanda kebesaran Tuhannya? Sungguh Muhammad telah melihat Jibril dalam wujud aslinya sebagaimana Allah menciptakannya pada kesempatan yang lain di Sidratul Muntaha (pohon Nabq) di langit ketujuh, di mana apa yang naik dari bumi berhenti padanya, apa yang turun dari atasnya terparkir disana. Di sana ada Surga Ma’wa yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. Saat Sidratul Muntaha dikelilingi sesuatu yang agung atas perintah Allah, hanya Allah semata yang tahu sifatnya. Nabi adalah orang yang sangat teguh hatinya dan sangat taat, maka pandangan beliau tidak menengok ke kanan dan ke kiri, tidak melibihi apa yang diizinkan untuk dilihatnya. Muhammad telah melihat malam Mi’raj itu tanda-tanda besar Tuhannya yang menunjukkan KuasaNya dan keagunganNya, yang diantaranya adalah surga, neraka, dan lainnya. (Tafsir al-Muyassar)

Mata beliau tidak menoleh ke kiri atau ke kanan serta tidak melampaui yang sudah ditentukan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Saat pohon Sidrah itu diliputi oleh makhluk-makhluk yang meliputinya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Penglihatan Rasulallah tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak mampu melampauinya. (Tafsir al-Wajiz)

مَا زَاغَ الْبَصَرُ (Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu) Yakni penglihatan Rasulullah tidak berpaling dari apa yang dia lihat. وَمَا طَغَىٰ (dan tidak (pula) melampauinya) Yakni tidak menembus apa yang dia lihat. Karena itu adalah penglihatan mata biasa, bukan sebuah pandangan yang menipu mata. (Zubdatut Tafsir)

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ

Arab-Latin: latarkabunna ṭabaqan 'an ṭabaq

Artinya: sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),

Allah bersumpah dengan warna merah ufuk saat matahari terbenam, Juga dengan malam dan apa-apa yang mereka kumpulkan berupa hewan-hewan, serangga-serangga, binatang-binatang kecil lainnya, Dan juga rembulan saat dia menjadi purnama, Bahwa kalian (wahai manusia) akan mengalami fase-fase yang bermacam-macam dan keadaan yang berbeda-beda,dari setetes air lalu menjadi segumpal darah lalu menjadi segumpal daging hingga ditiupnya ruh hingga kematian lalu kebangkitan dan pengumpulan. Dan makhluk tidak boleh bersumpah kepada selain allah,dan siapa yang melakukannya,maka dia telah berbuat syirik. (Tafsir al-Muyassar)

Sungguh kalian -wahai manusia- melewati tahapan demi tahapan mulai dari setetes mani, lalu segumpal darah, kemudian segumpal daging, lalu menjalani kehidupan, kematian dan kebangkitan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai orang kafir, kalian sungguh-sungguh akan menghadapi tahap demi tahap hiruk pikuk rentetan hari kiamat, kemudian mati, dibangkitkan, padang mahsyar sampai penghitungan amal (Tafsir al-Wajiz)

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ (sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)) Yakni keadaan demi keadaan, dari kekayaan menuju kemiskinan, kehidupan menuju kematian, dan masuk neraka atau masuk surga. (Zubdatut Tafsir)

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Arab-Latin: sub-ḥānallażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah memuliakan kedudukan diriNYa dan mengagungkan urusanNya karena kuasaNya untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat diperbuat oleh siapapun selainNya; tiada tuhan yang berhak disembah selainNya, dan tidak ada tuhan (penguasa alam) selainNya. Dialah yang menjalankan hambaNYa, Muhammad di malam hari pada sebagian malamnya dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga, bukan tidur, dari masjidil haram di makkah menuju masjidil aqsha di baitul maqdis yang Allah memberkahi sekelilingnya dari segi tanam-tanamannya, buah-buahannya dan lain sebagianya, dan Dia menjadikannya sebagai tempat hidup banyak nabi agar ia dapat menyaksikan keajaiban-keajaibab kuasa Allah dan petunjuk-petunjuk keesaanNYa. Sesungguhnya Allah , Dia mahamendengar semua ucapan para hambaNya lagi mahamelihat semua perbuatan mereka. Maka DIa akan memberikah hak setiap orang di dunia dan di akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

Sungguh Allah -Subḥānahu- Maha Suci lagi Agung; lantaran kekuasaan-Nya yang tidak bisa ditandingi oleh selain-Nya. Dia lah yang memperjalankan hamba-Nya Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan jasad dan ruhnya serta dalam kondisi sadar (bukan mimpi) pada sebagian malam dari Masjidil Haram menuju Masjid Bait al-Maqdis (Al-Aqṣa) yang kami berkahi dan anugerahi tanah-tanah sekelilingnya dengan banyaknya buah-buahan, dan pertanian, serta sebagai tempat diutus dan menetapnya para Nabi -'alaihimussalām-, agar ia (Muhammad) menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Kami yang menunjukkan kekuasaan Allah -Subḥānahu-, karena sesungguhnya Dia Yang Maha Mendengar; tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala sesuatu yang terdengar, lagi Maha Melihat; tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala sesuatu terlihat. (Tafsir al-Mukhtashar)

Keutamaan: Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW setiap malam membaca surah Bani Israil dan Az-Zumar. Surah ini juga dinamakan surah Bani Israil dan termasuk surah-surah awal yang diturunkan di Mekah. 1. Maha suci Allah dari apa yang tidak sesuai dengannyan berupa sifat-sifat lemah dan kurang, Dzat yang menjalankan hambaNya, Muhammad SAW secara jasad dan ruh pada sebagian malam sebelum satu tahun berhijrah, dari rumah Ummu Hani’ di seberang Masjidil Haram (Masijil Haram digunakan untuk menyebut Mekah atau tempat suci yang ada di Mekah) menuju masjid Baitul Maqdis yang Kami berkahi sekelilingnya dengan buah-buahan, perkebunan dan sungai-sungai, dan menjadikannya sebagai tempat turunnya malaikat dan tempat tinggalnya para nabi, supaya Kami bisa memperlihatkan dia sebagian dalil-dalil kekuasaan Kami yang menakjubkan dan betapa menakjubkannya para makhluk. Sesungguhnya Dia (Allah) itu Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNya dan Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka. Dan di sini Allah menggambarkan nabiNya sebagai orang yang menerima wahyu kehambaan untuk memberi penghormatan, kemuliaan dan isyarat kepadanya yang mana dia berkumpul bersama para nabi dan melakukan perjalanan langit. Dan sungguh rasulallah SAW telah mengatakan kepada kaum Quraisy tentang peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut dan mereka mendustakannya lalu Allah menurunkan ayat ini untuknya sebagai wujud pembenaran baginya. (Tafsir al-Wajiz)

سُبْحٰنَ الَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam) Yakni memperjalankan hamba-Nya di malam hari. Allah tidak menyebut beliau dalam ayat ini dengan Nabi-Nya, Rasul-Nya, atau Muhammad, hal ini sebagai penghormatan bagi beliau dengan menjadikannya dalam kedudukan yang mulia ini (yakni sebagai hamba-Nya). مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ(dari Al Masjidil Haram) Rasulullah diperjalankan dari rumah milik Ummu Hani’ yang terletak di sebelah Masjidil Haram. إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا(ke Al Masjidil Aqsha) Yakni masjid Baitul Maqdis, dan pada saat itu tidak ada masjid setelahnya (oleh sebab itu disebut sebagai al-Masjidil Aqsha (masjid yang terjauh)). الَّذِى بٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ(yang telah Kami berkahi sekelilingnya) Dengan buah-buahan, sungai-sungai, dan tempat tinggal para nabi dan orang-orang shalih; serta di sana terdapat keberkahan dunia dan akhirat. لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايٰتِنَآ ۚ(agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami) Yakni keajaiban-keajaiban yang Allah tunjukkan kepada beliau di malam itu. إِنَّهُۥ(Sesungguhnya Dia) Yakni Allah Ta’ala. هُوَ السَّمِيعُ (Maha Mendengar) Segala suara. الْبَصِيرُ (lagi Maha Mengetahui) Segala wujud, termasuk diantaranya adalah Maha Mengetahui diri Rasulullah dan amal perbuatan-Nya. Terdapat pendapat mengatakan bahwa perjalanan tersebut dengan jasad dan ruh Rasulullah. Pendapat lain mengatakan perjalanan tersebut hanya dengan ruhnya saja. Isra’ Mi’raj terjadi satu tahun sebelum Rasullah berhijrah ke Madinah. Dan pendapat lain mengatakan terjadi beberapa tahun sebelum hijrah. (Zubdatut Tafsir)

Anda belum lancar atau belum hafal al-Qur'an? Klik di sini sekarang!

Demikianlah beragam penjabaran dari kalangan ahli ilmu berkaitan makna dan arti ayat tentang isra’ mi’raj (arab, latin, artinya), semoga membawa faidah untuk kita semua. Support kemajuan kami dengan memberi tautan ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Halaman Paling Sering Dilihat

Terdapat banyak topik yang paling sering dilihat, seperti surat/ayat: Ali ‘Imran 97, Ad-Dukhan, Tentang Al-Quran, Al-Jin, Al-Hadid 20, Al-Qamar 49. Juga Al-Ma’idah 8, At-Thalaq, Ali ‘Imran 139, Al-Isra 25, Al-Baqarah 45, Al-Baqarah 43.

  1. Ali ‘Imran 97
  2. Ad-Dukhan
  3. Tentang Al-Quran
  4. Al-Jin
  5. Al-Hadid 20
  6. Al-Qamar 49
  7. Al-Ma’idah 8
  8. At-Thalaq
  9. Ali ‘Imran 139
  10. Al-Isra 25
  11. Al-Baqarah 45
  12. Al-Baqarah 43

Pencarian: ...

Surat dan Ayat Rezeki

GRATIS Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah". Caranya, copy-paste text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga (3) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
👉 tafsirweb.com/start
 
✅ Bagikan informasi ini untuk mendapat pahala jariyah

Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol di bawah: