Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Tentang Kepemimpinan

۞ وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Arab-Latin: wa iżibtalā ibrāhīma rabbuhụ bikalimātin fa atammahunn, qāla innī jā'iluka lin-nāsi imāmā, qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu 'ahdiẓ-ẓālimīn

Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Ingatlah -wahai nabi- ketika Allah menguji Ibrahim dengan apa yang disyariatkan nya kepadanya berupa amalan-amalan taklifiyah, dan  dia pun menjalankan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman kepadanya: “Aku jadikan kau sebagai teladan baik bagi umat manusia”. Ibrahim Alaihissalam berkata. “Wahai Tuhanku jadikanlah juga dari keturunanku imam-imam sebagai limpahan karunia dari Mu”. Maka Allah menjawab bahwa sesungguhnya kepemimpinan dalam agama tidak akan dipegang oleh orang-orang yang zalim. (Tafsir al-Muyassar)

Ingatlah -wahai nabi- ketika Allah menguji Ibrahim dengan apa yang disyariatkan nya kepadanya berupa amalan-amalan taklifiyah, dan  dia pun menjalankan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman kepadanya: “Aku jadikan kau sebagai teladan baik bagi umat manusia”. Ibrahim Alaihissalam berkata. “Wahai Tuhanku jadikanlah juga dari keturunanku imam-imam sebagai limpahan karunia dari Mu”. Maka Allah menjawab bahwa sesungguhnya kepemimpinan dalam agama tidak akan dipegang oleh orang-orang yang zalim. (Zubdatut Tafsir)

. Wahai Muhammad, ingatlah ketika Allah menguji Nabi Ibrahim dengan berbagai perintah, dia melalui/mengerjakannya dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Allah berkata: “Aku benar-benar menjadikanmu pemimpin atau contoh yang baik perihal agama dan amal kebaikan. Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Allah, jadikanlah anak keturunanku sebagai pemimpin bagi umat mereka. Maka Allah mengkabarkan kepada nabi Ibrahim bahwa anak-cucunya akan menjadi pemimpin dan bahkan menjadi nabi. Allah juga mengkabarkan bahwa anak-cucu nabi Ibrahim tidak akan ada yang terjerumus dalam kedhaliman dan kemaksiatan. Karena ahli maksiat dan orang dholim tidak pantas menjadi contoh bagi manusia. Pemimpin haruslah orang yang mampu berbuat adil dan menjalankan perintah agama, apabila tidak seperti itu maka mereka termasuk orang yang zalim (Tafsir al-Wajiz)

وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ

wa atba'nāhum fī hāżihid-dun-yā la'nah, wa yaumal-qiyāmati hum minal-maqbụḥīn

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).

Dan Kami iringkan pada Fir’aun dan kaumnya di dunia ini kehinaan dan kemurkaan Kami kepada mereka, dan pada Hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang perbuatan mereka dinilai buruk dan mereka dijauhkan dari rahmat allah. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Kami iringkan pada Fir’aun dan kaumnya di dunia ini kehinaan dan kemurkaan Kami kepada mereka, dan pada Hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang perbuatan mereka dinilai buruk dan mereka dijauhkan dari rahmat allah. (Zubdatut Tafsir)

42. Kami turunkan laknat kepada mereka di dunia ini; atau terhalang dari rahmat Kami. Pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan dari rahmat Allah (Tafsir al-Wajiz)

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba mim ba'di mā ahlaknal-qurụnal-ụlā baṣā`ira lin-nāsi wa hudaw wa raḥmatal la'allahum yatażakkarụn

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.

Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa kitab Taurat setelah Kami membinasakan umat-umat sebelum dia (seperti kaum Nuh, Ad, Tsamud dan kaum Luth serta penduduk Madyan). Di dalam kitab taurot itu terdapat petunjuk-petunjuk bagi Bani Israil. Dengan itu, mereka dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan perkara-perkara yang membahayakan mereka. Dan di dalamya terdapat rahmat bagi orang yang mengamalkannya dari mereka. Mudah-mudahan mereka mau mengngat-ingat nikmat-nikmat Allah yang tercurah pada mereka, lalu mereka mensyukuri Allah atas nikmat tersebut dan tidak kafir terhadapNya. (Tafsir al-Muyassar)

Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa kitab Taurat setelah Kami membinasakan umat-umat sebelum dia (seperti kaum Nuh, Ad, Tsamud dan kaum Luth serta penduduk Madyan). Di dalam kitab taurot itu terdapat petunjuk-petunjuk bagi Bani Israil. Dengan itu, mereka dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan perkara-perkara yang membahayakan mereka. Dan di dalamya terdapat rahmat bagi orang yang mengamalkannya dari mereka. Mudah-mudahan mereka mau mengngat-ingat nikmat-nikmat Allah yang tercurah pada mereka, lalu mereka mensyukuri Allah atas nikmat tersebut dan tidak kafir terhadapNya. (Zubdatut Tafsir)

43. Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab Taurat sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu. Yaitu kaum Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Luth dan lainnya. Sebagai pembuka mata dan penerang bagi mereka kaum Bani Israi menuju agama mereka, serta untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman, agar mereka ingat dan mengambil pelajaran dari kitab tersebut. (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

wa iż qāla ibrāhīmu rabbij'al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahụ minaṡ-ṡamarāti man āmana min-hum billāhi wal-yaumil-ākhir, qāla wa mang kafara fa umatti'uhụ qalīlan ṡumma aḍṭarruhū ilā 'ażābin-nār, wa bi`sal-maṣīr

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".

Dan Ingatlah -wahai nabi- ketika Ibrahim berkata sambil berdoa, “Wahai Tuhanku jadikanlah Makkah sebagai negeri yang aman dari ancaman rasa takut, dan berilah penduduknya rizki dari berbagai macam buah-buahan, dan khususkanlah dengan rizki ini bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “barangsiapa yang kafir dari mereka akan aku beri rezeki di dunia dan akan aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku akan dorong dengan paksa ke dalam siksa neraka.” Dan seburuk-buruknya tempat kembali dan tempat tinggal adalah  tempat tersebut. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Ingatlah -wahai nabi- ketika Ibrahim berkata sambil berdoa, “Wahai Tuhanku jadikanlah Makkah sebagai negeri yang aman dari ancaman rasa takut, dan berilah penduduknya rizki dari berbagai macam buah-buahan, dan khususkanlah dengan rizki ini bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “barangsiapa yang kafir dari mereka akan aku beri rezeki di dunia dan akan aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku akan dorong dengan paksa ke dalam siksa neraka.” Dan seburuk-buruknya tempat kembali dan tempat tinggal adalah  tempat tersebut. (Zubdatut Tafsir)

Ingatlah, ketika Ibrahim berdoa: “Ya Allah, jadikanlah negeri Makkah ini sebagai negeri yang aman bagi para penduduknya. Anugerahkanlah kepada penduduk yang beriman kepada-Mu dan hari akhir berbagai buah-buahan yang dapat diambil dari setiap tempat. Allah menjawab: “Aku akan memberi rizki juga kepada mereka yang kafir. Agar mereka merasakan kesenangan sementara di dunia dari sedikit rizki itu. Kemudian akan Aku tunaikan kepada mereka azab neraka, tak akan ada yang bisa selamat dari azab-Ku. Sungguh neraka Jahanam adalah tempat paling buruk yang diperuntukkan bagi mereka. (Tafsir al-Wajiz)

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

allāhu laṭīfum bi'ibādihī yarzuqu may yasyā`, wa huwal-qawiyyul-'azīz

Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Allah maha lembut kepada hamba-hamabNya Dia melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan hikmahNya. Dia maha kuat yang memiliki seluruh kekuatan, maha perkasa dalam pembalasanNya terhadap orang-orang yang bermaksiat kepadaNya. (Tafsir al-Muyassar)

19. Allah itu lembut dan bermurah hati kepada hamba-hambaNya, sehingga Dia tidak mempercepat azab mereka. Dia juga Dzat yang banyak kebaikanNya terhadap mereka. Dia memberi rejeki orang dikehendaki di antara mereka sesuai kebijaksanaanNya, baik melimpah atau sedikit. Dialah Dzat yang luas kekuasaanNya lagi Maha Kuat dan tak terkalahkan (Tafsir al-Wajiz)

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

ar-rijālu qawwāmụna 'alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba'ḍahum 'alā ba'ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa'iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji'i waḍribụhunn, fa in aṭa'nakum fa lā tabgụ 'alaihinna sabīlā, innallāha kāna 'aliyyang kabīrā

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Kaum laki-laki merupakan pemimpin-pemimpin yang menjalankan tugas pengarahan terhadap kaum wanita dan memperhatikan urusan mereka, berdasarkan keistimewaan yang Allah khususkan bagi mereka berupa kepemimpinan dan keunggulan, dan berdasarkan apa yang telah diberikan kaum laki-laki kepada mereka berupa mahar-mahar dan nafkah-nafkah. Maka wanita-wanita yang shalihah yang lurus diatas ajaran syariat Allah dari mereka adalah wanita-wanita yang taat kepada allah  dan kepada suami mereka,menjaga apa saja yang luput dari pengetahuan suami-suami mereka terhadap hal-hal yang mereka dipercaya untuk menjaganya dengan bantuan penjagaan dari Allah dan taufikNYA. Dan istri-istri yang kalian takutkan dari mereka keengganan untuk taat kepada kalian, maka nasihatilah mereka dengan tutur kata yang baik. Apabila tidak membuahkan hasil kepada mereka dengan tutur kata yang baik, maka pisah ranjanglah dengan mereka dan jangan mendekati mereka. Apabila mereka tidak berpengaruh bagi mereka tindakan mengucilkan tersebut, maka pukullah dengan pukulan yang tidak memudaratkan bagi mereka sedikitpun. Jika kemudian mereka taat kepada kalian,maka hindarilah berbuat zhalim kepada mereka. Maka sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar perwaliyanNya, dan Dia akan membalas orang yang menzolimi mereka dan melapaui batas terhadap mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Kaum laki-laki merupakan pemimpin-pemimpin yang menjalankan tugas pengarahan terhadap kaum wanita dan memperhatikan urusan mereka, berdasarkan keistimewaan yang Allah khususkan bagi mereka berupa kepemimpinan dan keunggulan, dan berdasarkan apa yang telah diberikan kaum laki-laki kepada mereka berupa mahar-mahar dan nafkah-nafkah. Maka wanita-wanita yang shalihah yang lurus diatas ajaran syariat Allah dari mereka adalah wanita-wanita yang taat kepada allah  dan kepada suami mereka,menjaga apa saja yang luput dari pengetahuan suami-suami mereka terhadap hal-hal yang mereka dipercaya untuk menjaganya dengan bantuan penjagaan dari Allah dan taufikNYA. Dan istri-istri yang kalian takutkan dari mereka keengganan untuk taat kepada kalian, maka nasihatilah mereka dengan tutur kata yang baik. Apabila tidak membuahkan hasil kepada mereka dengan tutur kata yang baik, maka pisah ranjanglah dengan mereka dan jangan mendekati mereka. Apabila mereka tidak berpengaruh bagi mereka tindakan mengucilkan tersebut, maka pukullah dengan pukulan yang tidak memudaratkan bagi mereka sedikitpun. Jika kemudian mereka taat kepada kalian,maka hindarilah berbuat zhalim kepada mereka. Maka sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar perwaliyanNya, dan Dia akan membalas orang yang menzolimi mereka dan melapaui batas terhadap mereka. (Zubdatut Tafsir)

وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَ لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ

walau lā ang kataballāhu 'alaihimul-jalā`a la'ażżabahum fid-dun-yā, wa lahum fil-ākhirati 'ażābun-nār

Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka.

3. Bila Allah tidak menetapkan mereka terusir dari negeri mereka dan memutuskannya, niscaya Allah menyiksa mereka di dunia dengan terbunuh dan ditawan, dan bagi mereka azab neraka di akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

3. Adapun jika Allah tidak menetapkan untuk mengusir Yahudi Bani Nadhir dari kampung halaman/rumah mereka, maka Allah sudah pasti mengazab mereka di dunia dengan membinasakan dan mengutuk mereka. Sebagaimana yang terjadi pada Bani Quraidhoh. Allah juga akan mengazab mereka di akhirat (Tafsir al-Wajiz)

مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

mā sami'nā bihāżā fil-millatil-ākhirati in hāżā illakhtilāq

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,

6-7 lalu para tokoh dan para pembesar kaum berusaha mendorong mereka untuk mempertahankan kesyirikan dan memperjuangkan keragaman tuhan-tuhan. Mereka berkata” apa yang dibawa oleh rasul tersebut adalah sesuatu yang direncanakan dengan tujuan meraih kepemimpinan dan kedudukan. kami belum pernah dengar apa yang didakwahkan itu dari kalangan leluhur kami (orang-orang quraisy) dan dalam agama nasrani. Apa yang dia sampaikan hanyalah kedustaan dan kebohongan. ” (Tafsir al-Muyassar)

7. Kami belum pernah mendengar ajaran pengesaan tuhan ini bahkan dari orang Nasrani, mereka berkata: Sesungguhnya Allah itu yang ketiga dari tiga tuhan. Sehingga pernyataan Muhammad hanyalah dusta semata. (Tafsir al-Wajiz)

وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْأَمْرِ ۖ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa ātaināhum bayyinātim minal-amr, fa makhtalafū illā mim ba'di mā jā`ahumul-'ilmu bagyam bainahum, inna rabbaka yaqḍī bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.

Dan Kami memberi Bani Israil syariat-syariat yang jelas dalam perkara halal dan haram dan petunjuk-petunjuk yang menjelaskan kebenaran dan kebatilan, dan mereka tidak berselisih kecuali setelah ilmu datang kepada mereka dan hujjah tegak atas mereka. Yang mendorong mereka demikian adalah pelanggaran sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya untuk mendapatkan kedudukan dan kepemimpinan. Sesungguhnya Tuhanmu (wahai rasul) akan memberikan keputusan di antara orang-orang yang berselisih dari Bani Israil di Hari Kiamat dalam perkara yang mereka perselisihkan di dunia. Dalam ayat Ini terdapat peringatan bagi umat ini agar tidak mengambil jalan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

17. Kami memberi mereka bukti-bukti nyata tentang urusan-urusan agama di antaranya adalah mukjizat atau bukti-bukti penegas tentang nubuwwah penutup para nabi, sehingga tidak terjadi pertentangan di antara mereka tentang urusan agama kecuali setelah turunnya pengetahuan kepada mereka tentang penjelasan prinsip-prinsip agama dan hukum-hukum halal-haram, lalu terjadilah permusuhan dan kedengkian di antara sebagian mereka, dan mereka mencari-cari pemimpin. Wahai Nabi, sesungguhnya Tuhanmu menentukan hukum tentang keyakinan yang berbeda-beda di antara mereka pada hari kiamat. Dia membalas setiap manusia dengan sesuatu yang layak bagi mereka, baik ataupun buruk. {Yaqdhi} maknanya adalah keputusan dengan menegur dan membalas. (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

innallażīna yujādilụna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum in fī ṣudụrihim illā kibrum mā hum bibāligīh, fasta'iż billāh, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sesungguhnya orang-orang yang menolak kebenaran dengan kebatilan, menolak hujjah-hujjah Allah yang shahih dengan syubhat-syubhat yang rusak tanpa ada bukti dan hujjah dari Allah, di dalam dada mereka hanyalah ada kesombongan untuk menerima kebenaran ditambah dengan kedengkian dari mereka atas karunia yang Allah berikan kepada NabiNya dan kemuliaan derajat kenabian yang Dia limpahkan kepadanya, sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan dan raih, maka berlindunglah kepada Allah dari keburukan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan-perkataan mereka, Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka dan Dia akan membalas mereka atasnya. (Tafsir al-Muyassar)

56. Sesungguhnya orang-orang yang berdebat tentang ayat-ayat Al-Qur’an tanpa hujjah dan bukti-bukti yang datang dari Allah, maka di dalam hati mereka itu tidak lain hanya enggan untuk mengikuti kebenaran. Apa yang mereka sampaikan hanyalah keinginan mereka yaitu kepemimpinan dan keunggulan atas nabi. Maka berlindunglah kepada Allah atas kejahatan dan tipu daya mereka. Sesungguhnya Allah itu Maha mendengar ucapan mereka dan Maha melihat keadaan dan tindakan mereka. Ayat ini diturunkan untuk orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, orang-orang musyrik Mekah dan orang-oang kafir secara umum (Tafsir al-Wajiz)

Related: Ayat Tentang Isra’ Mi’raj Arab-Latin, Ayat Tentang Akhlak Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Ayat Tentang Keluarga, Terjemahan Tafsir Tiga (3) Ayat Terakhir Surat al-Baqarah, Isi Kandungan Ayat Al-Qur’an Yang Ditakuti Jin Jahat dan Setan, Makna Ayat Tentang Kesabaran

Category: Tafsir Topik

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!