Ayat Tentang Kepemimpinan

۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Arab-Latin: wa iżibtalā ibrāhīma rabbuhụ bikalimātin fa atammahunn, qāla innī jā'iluka lin-nāsi imāmā, qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu 'ahdiẓ-ẓālimīn

Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Tafsir Ayat Tentang Kepemimpinan

Ingatlah -wahai nabi- ketika Allah menguji Ibrahim dengan apa yang disyariatkan nya kepadanya berupa amalan-amalan taklifiyah, dan  dia pun menjalankan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman kepadanya: “Aku jadikan kau sebagai teladan baik bagi umat manusia”. Ibrahim Alaihissalam berkata. “Wahai Tuhanku jadikanlah juga dari keturunanku imam-imam sebagai limpahan karunia dari Mu”. Maka Allah menjawab bahwa sesungguhnya kepemimpinan dalam agama tidak akan dipegang oleh orang-orang yang zalim. (Tafsir al-Muyassar)

Ingatlah ketika Allah menguji Ibrahim -'alaihissalām- dengan beberapa perintah dan tugas. Lalu Ibrahim berhasil menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Maka Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai suri teladan bagi manusia agar tindakan dan perangaimu mereka jadikan contoh.” Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah juga dari keturunanku pemimpin-pemimpin yang bisa dijadikan suri teladan oleh manusia.” Allah menjawabnya dengan berfirman, “Janji-Ku kepadamu tidak mencakup orang-orang zalim dari keturunanmu untuk menjadi pemimpin dalam urusan agama.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Muhammad, ingatlah ketika Allah menguji Nabi Ibrahim dengan berbagai perintah, dia melalui/mengerjakannya dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Allah berkata: “Aku benar-benar menjadikanmu pemimpin atau contoh yang baik perihal agama dan amal kebaikan. Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Allah, jadikanlah anak keturunanku sebagai pemimpin bagi umat mereka. Maka Allah mengkabarkan kepada nabi Ibrahim bahwa anak-cucunya akan menjadi pemimpin dan bahkan menjadi nabi. Allah juga mengkabarkan bahwa anak-cucu nabi Ibrahim tidak akan ada yang terjerumus dalam kedhaliman dan kemaksiatan. Karena ahli maksiat dan orang dholim tidak pantas menjadi contoh bagi manusia. Pemimpin haruslah orang yang mampu berbuat adil dan menjalankan perintah agama, apabila tidak seperti itu maka mereka termasuk orang yang zalim (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ (Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya) (الابتلاء) yakni ujuan dan cobaan. بِكَلِمَاتٍ (dengan beberapa kalimat) Yakni dengan kalimat : ( إني جاعلك للناس إماما) “Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi manusia” فَأَتَمَّهُنَّ ۖ (lalu Ibrahim menunaikannya). Yakni Ibrahim meminta tambahan cakupan dari kalimat tersebut dengan (ومن ذريتي ) “dan juga keturunanku” Ada pula yang berpendapat bahwa maknanya adalah Ibrahim menjalankan tugas kepemimpinan itu dengan sempurna. قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”) Yakni ketika Ibrahim meminta agar keturunannya juga dijadikan sebagai pemimpin, Allah mengabarkan bahwa diantara keturunannya adalah pelaku kemaksiatan dan kezaliman sehingga mereka tidak layak untuk menjadi pemimpin dan tidak mempu menjalankannya dengan benar dan tidak mendapatkan janji Allah ini; karena pemimpin harus adil dan menjalankan perintah syari’at sebagaimana mestinya, jika tidak maka dia adalah orang yang zalim. Ini juga sebagai perintah bagi hamba-hambaNya agar tidak mengangkat orang yang zalim dalam urusan syari’at, karena sesungguhnya seseorang diangkat sebagai pemimpin adalah agar menjadi panutan dalam urusan agama dengan perkataan dan tingkah lakunya. Sedangkan orang zalim (Zubdatut Tafsir)

وَأَتْبَعْنَٰهُمْ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا لَعْنَةً ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ هُم مِّنَ ٱلْمَقْبُوحِينَ

wa atba'nāhum fī hāżihid-dun-yā la'nah, wa yaumal-qiyāmati hum minal-maqbụḥīn

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).

Dan Kami iringkan pada Fir’aun dan kaumnya di dunia ini kehinaan dan kemurkaan Kami kepada mereka, dan pada Hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang perbuatan mereka dinilai buruk dan mereka dijauhkan dari rahmat allah. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Kami tambahkan atas siksa mereka di dunia ini berupa kehinaan dan pengusiran, dan pada hari Kiamat nanti mereka adalah orang-orang yang dijauhkan dari rahmat Allah, dimurkai Allah dan dicela oleh hamba-hamba-Nya yang beriman. (Tafsir al-Mukhtashar)

Kami turunkan laknat kepada mereka di dunia ini; atau terhalang dari rahmat Kami. Pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan dari rahmat Allah (Tafsir al-Wajiz)

وَأَتْبَعْنٰهُمْ فِى هٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۖ (Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini) Sehingga setiap orang yang menyebut mereka akan melaknat mereka. وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ هُم مِّنَ الْمَقْبُوحِينَ (dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)) Makna (المقبوح) adalah terusir dan termurkai. Dan pendapat lain mengatakan maknanya adalah memiliki tubuh yang cacat. (Zubdatut Tafsir)

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَٰبَ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَهْلَكْنَا ٱلْقُرُونَ ٱلْأُولَىٰ بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba mim ba'di mā ahlaknal-qurụnal-ụlā baṣā`ira lin-nāsi wa hudaw wa raḥmatal la'allahum yatażakkarụn

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.

Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa kitab Taurat setelah Kami membinasakan umat-umat sebelum dia (seperti kaum Nuh, Ad, Tsamud dan kaum Luth serta penduduk Madyan). Di dalam kitab taurot itu terdapat petunjuk-petunjuk bagi Bani Israil. Dengan itu, mereka dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan perkara-perkara yang membahayakan mereka. Dan di dalamya terdapat rahmat bagi orang yang mengamalkannya dari mereka. Mudah-mudahan mereka mau mengngat-ingat nikmat-nikmat Allah yang tercurah pada mereka, lalu mereka mensyukuri Allah atas nikmat tersebut dan tidak kafir terhadapNya. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Kami telah memberi Musa kitab Taurat setelah Kami mengutus para Rasul Kami kepada umat-umat terdahulu. Dan mereka mendustakan para Rasul Kami, sehingga Kami binasakan mereka dikarenakan kedustaan mereka terhadap para Rasul. Di dalam kitab Taurat itu terdapat ajaran yang menjadikan manusia mengerti apa yang bermanfaat bagi mereka sehingga mereka mengerjakannya, dan apa yang berbahaya bagi mereka sehingga mereka bisa menghindarinya, dan di dalamnya terdapat petunjuk untuk mereka kepada kebaikan, sebagai rahmat karena di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan kebaikan Akhirat, agar mereka mengingat nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka sehingga mereka bersyukur kepada-Nya dan beriman kepada-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab Taurat sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu. Yaitu kaum Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Luth dan lainnya. Sebagai pembuka mata dan penerang bagi mereka kaum Bani Israi menuju agama mereka, serta untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman, agar mereka ingat dan mengambil pelajaran dari kitab tersebut. (Tafsir al-Wajiz)

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتٰبَ (Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab) Yakni kitab Taurat. مِنۢ بَعْدِ مَآ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ( sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu) Yakni setelah kaum Nabi Nuh, kaum Aad, Tsamud, dan lain sebagainya. Pendapat lain mengatakan yakni setelah Kami binasakan Fir’aun dan kaumnya serta Kami tenggelamkan Qarun ke dalam tanah. بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ(untuk menjadi pelita bagi manusia) Yakni Kami memberinya kitab agar menjadi penerang dan petunjuk bagi manusia menuju kebenaran dan agar mereka dapat menyelamatkan diri mereka dari kesesatan. وَرَحْمَةً (dan rahmat) Yakni rahmat Allah yang Dia berikan kepada mereka. لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ(agar mereka ingat) Yakni mengingat nikmat-nikmat ini, sehingga mereka bersyukur dan beriman kepada Allah serta memenuhi seruan-Nya menuju kebaikan bagi mereka. (Zubdatut Tafsir)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

wa iż qāla ibrāhīmu rabbij'al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahụ minaṡ-ṡamarāti man āmana min-hum billāhi wal-yaumil-ākhir, qāla wa mang kafara fa umatti'uhụ qalīlan ṡumma aḍṭarruhū ilā 'ażābin-nār, wa bi`sal-maṣīr

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".

Dan Ingatlah -wahai nabi- ketika Ibrahim berkata sambil berdoa, “Wahai Tuhanku jadikanlah Makkah sebagai negeri yang aman dari ancaman rasa takut, dan berilah penduduknya rizki dari berbagai macam buah-buahan, dan khususkanlah dengan rizki ini bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “barangsiapa yang kafir dari mereka akan aku beri rezeki di dunia dan akan aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku akan dorong dengan paksa ke dalam siksa neraka.” Dan seburuk-buruknya tempat kembali dan tempat tinggal adalah  tempat tersebut. (Tafsir al-Muyassar)

Dan ingatlah -wahai Nabi- ketika Ibrahim berdoa kepada Rabbnya, “Ya Rabbku, jadikanlah Makkah ini negeri yang aman, tidak ada seorangpun yang diperlakukan buruk di sana. Dan anugerahilah penduduknya aneka macam buah-buahan. Dan jadikanlah itu sebagai rezeki hanya bagi orang-orang yang beriman kepada-Mu dan hari Akhir.” Allah berfirman, “Barangsiapa yang kafir di antara mereka, maka Aku akan memberinya sedikit kenikmatan di dunia, kemudian di akhirat kelak Aku akan memasukkannya ke dalam azab neraka. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali di hari kiamat.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Ingatlah, ketika Ibrahim berdoa: “Ya Allah, jadikanlah negeri Makkah ini sebagai negeri yang aman bagi para penduduknya. Anugerahkanlah kepada penduduk yang beriman kepada-Mu dan hari akhir berbagai buah-buahan yang dapat diambil dari setiap tempat. Allah menjawab: “Aku akan memberi rizki juga kepada mereka yang kafir. Agar mereka merasakan kesenangan sementara di dunia dari sedikit rizki itu. Kemudian akan Aku tunaikan kepada mereka azab neraka, tak akan ada yang bisa selamat dari azab-Ku. Sungguh neraka Jahanam adalah tempat paling buruk yang diperuntukkan bagi mereka. (Tafsir al-Wajiz)

هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا (negeri ini, negeri yang aman sentosa) Yakni negeri Makkah وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ (dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah) Dan bukan kepada orang yang kafir. Sehingga Allah menjawabnya dengan: (ومن كفر) وَمَنْ كَفَرَ (Dan kepada orang yang kafir) Yakni Aku akan memberi rezeki untuk orang-orang mukmin di negeri itu untuk memenuhi janji-Ku dan Aku juga akan memberi rezeki untuk orang kafir. Karena rezeki bukanlah seperti kepemimpinan, kepemimpinan hanya untuk orang mukmin sedangkan rezeki untuk orang mukmin dan kafir. فَأُمَتِّعُهُ(Aku beri kesenangan) Yakni adapun orang kafir akan Aku beri kesenangan dengan sedikit rezeki di dunia. ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ ( kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka) Yakni di akhirat Aku paksa mereka untuk merasakan siksa neraka sampai mereka merasa terpojok dan tidak mendapat tempat membebaskan diri. (Zubdatut Tafsir)

ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ

allāhu laṭīfum bi'ibādihī yarzuqu may yasyā`, wa huwal-qawiyyul-'azīz

Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Allah maha lembut kepada hamba-hamabNya Dia melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan hikmahNya. Dia maha kuat yang memiliki seluruh kekuatan, maha perkasa dalam pembalasanNya terhadap orang-orang yang bermaksiat kepadaNya. (Tafsir al-Muyassar)

Allah Mahalembut kepada para hamba-Nya, memberi rezeki kepada yang dikehendaki-Nya, melapangkan rezeki baginya dan menyempitkan rezeki atas orang yang dikehendaki-Nya sebagai kasih sayang kepadanya meski nampaknya tidak demikian. Dia Mahakuat, tidak ada yang mengalahkan-Nya dan Maha Perkasa yang membalas para musuh-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah itu lembut dan bermurah hati kepada hamba-hambaNya, sehingga Dia tidak mempercepat azab mereka. Dia juga Dzat yang banyak kebaikanNya terhadap mereka. Dia memberi rejeki orang dikehendaki di antara mereka sesuai kebijaksanaanNya, baik melimpah atau sedikit. Dialah Dzat yang luas kekuasaanNya lagi Maha Kuat dan tak terkalahkan (Tafsir al-Wajiz)

اللهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ (Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya) Yakni Allah sangat lembut dan mengasihi mereka. Dan salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah Dia memberi rezeki kepada mereka untuk kehidupan mereka di dunia. يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ ۖ (Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya) Dengan cara yang Allah kehendaki. Dia meluaskan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan bagi hamba-Nya yang lain. (Zubdatut Tafsir)

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

ar-rijālu qawwāmụna 'alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba'ḍahum 'alā ba'ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa'iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji'i waḍribụhunn, fa in aṭa'nakum fa lā tabgụ 'alaihinna sabīlā, innallāha kāna 'aliyyang kabīrā

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Kaum laki-laki merupakan pemimpin-pemimpin yang menjalankan tugas pengarahan terhadap kaum wanita dan memperhatikan urusan mereka, berdasarkan keistimewaan yang Allah khususkan bagi mereka berupa kepemimpinan dan keunggulan, dan berdasarkan apa yang telah diberikan kaum laki-laki kepada mereka berupa mahar-mahar dan nafkah-nafkah. Maka wanita-wanita yang shalihah yang lurus diatas ajaran syariat Allah dari mereka adalah wanita-wanita yang taat kepada allah dan kepada suami mereka,menjaga apa saja yang luput dari pengetahuan suami-suami mereka terhadap hal-hal yang mereka dipercaya untuk menjaganya dengan bantuan penjagaan dari Allah dan taufikNYA. Dan istri-istri yang kalian takutkan dari mereka keengganan untuk taat kepada kalian, maka nasihatilah mereka dengan tutur kata yang baik. Apabila tidak membuahkan hasil kepada mereka dengan tutur kata yang baik, maka pisah ranjanglah dengan mereka dan jangan mendekati mereka. Apabila mereka tidak berpengaruh bagi mereka tindakan mengucilkan tersebut, maka pukullah dengan pukulan yang tidak memudaratkan bagi mereka sedikitpun. Jika kemudian mereka taat kepada kalian,maka hindarilah berbuat zhalim kepada mereka. Maka sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar perwaliyanNya, dan Dia akan membalas orang yang menzolimi mereka dan melapaui batas terhadap mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Para suami adalah pemimpin bagi para istri. Mereka mengurus berbagai keperluan para istri, karena Allah memberikan kelebihan kepada para suami atas para istri; jugakarena Allah mewajibkan mereka memberikan nafkah kepada para istri dan memimpin mereka. Wanita-wanita yang saleh senantiasa taat kepada Rabb mereka, patuh kepada suami-suami mereka, dan menjaga hak-hak suami-suami mereka di saat mereka tidak ada di rumah berkat bimbingan yang Allah berikan kepada mereka. Dan wanita-wanita yang kalian khawatirkan keengganan mereka untuk patuh kepada suami-suami mereka, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, maka mulailah -wahai para suami- dengan mengingatkan mereka agar mereka takut kepada Allah. Jika mereka tidak menghiraukannya, maka jauhilah mereka di tempat tidur dengan membalikkan badan dan tidak berhubungan badan dengan mereka. Jika mereka tetap tidak menghiraukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka kembali patuh kepada kalian, maka janganlah kalian berbuat semena-mena maupun memarahi mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi dari segala sesuatu, lagi Mahabesar dalam Żat dan sifat-sifat-Nya, maka takutlah kalian kepada-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Laki-laki itu berlaku sebagai pemimpin dan penjaga bagi para wanita karena dua hal (1) memiliki karakter jantan, postur tubuh, dan kelebihan pengalaman, (2) menafkahi seluruh keluarga dan membayar sedekah. Wanita-wanita yang shalihah itu taat kepada Allah dan suami-suaminya, sehingga mereka menjaga diri dan anak-anak mereka saat suami-suami mereka tidak ada, serta menjaga harta suami mereka tanpa berbuat mubazir, karena telah dijaga dan ditolong oleh Allah serta hak-hak mereka seperti keadilan dan perlakuan baik dari suami telah ditunaikan. Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan kecacatannya, yaitu menolak perintah suami, mencegah diri untuk melakukan perintah suami tanpa alasan, dan keluar dari rumah tanpa seijin suami, maka ingatkanlah mereka tentang sesuatu yang diwajibkan Allah atas mereka yaitu taat dan bergaul dengan baik. Buatlah mereka berhasrat terhadap pahala Allah dan takut dengan hukumanNya di akhirat. Pisahkanlah mereka di tempat tidur lain, jika tidak mau menerima nasehat melalui ucapan, dan pukullah mereka dengan lembut untuk mendisiplinkan dan memperbaiki sikap mereka, jika belum bisa memperbaiki diri dengan dipisahkan dari tempat tidur. Dan jika mereka mau menaati kalian melalui salah satu perkara ini, maka janganlah kalian menyakitinya baik dengan perkataan maupun tindakan, karena perbuatan zalim itu diharamkan. Dan janganlah kalian memberinya beban dengan sesuatu yang kalian sukai, sedangkan itu tidak bisa dilakukan dan mereka tidak punya pilihan untuk melakukannya. Sesungguhnya Allah Maha Luhur, Maha Menaklukkan, Maha Besar dan Maha Kuasa. Ayat ini turun ketika ada seorang wanita yang datang kepada Nabi SAW melaporkan suaminya yang telah menempelengnya. Lalu Rasulullah memerintahkan untuk membalasnya. Kemudian Allah menurunkan ayat {Ar-Rijaalu Qawwaamuuna …}. Lalu wanita itu kembali tanpa membalas suaminya. (Tafsir al-Wajiz)

الرِّجَالُ قَوّٰمُونَ عَلَى النِّسَآءِ (Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita) Yakni para laki-laki adalah pembimbing bagi para istri mereka, dan kewajiban bagi para istri untuk mentaati mereka dalam perintah kebaikan yang ditujukan kepada mereka. بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ (oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)) Yakni kelebihan ini diberikan kepada para suami karena Allah telah melebihkan mereka atas para istri berupa kelebihan akal dan perawakan sehingga mereka dapat menjadi para pemimpin, penguasa, tantara perang dan hal-hal lainnya. وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ (dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka) Yakni yang mereka infakkan dari harta mereka untuk para istri berupa mahar dan nafkah-nafkah. فَالصّٰلِحٰتُ (Sebab itu maka wanita yang saleh) Yakni dari istri-istri tersebut. قٰنِتٰتٌ (yang taat kepada Allah) Yakni yang taat kepada Allah dan kepada para suami mereka, yang senantiasa menunaikan apa yang diwajibkan atas mereka yang meliputi hak-hak Allah dan hak-hak suami mereka. حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ (memelihara diri ketika suaminya tidak ada) Yakni menjaga apa yang wajib atas mereka untuk menjaganya ketika para suami mereka tidak ada, seperti menjaga diri, kehormatan, anak-anak, rumah, dan harta. بِمَا حَفِظَ اللهُ ۚ(karena Allah telah memelihara (mereka)) Yakni dengan penjagaan, bantuan, dan taufik dari Allah bagi mereka. وَالّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ (Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya) Nusyuz bermakna pembangkangan. Jika dikatakan: istri itu melakukan nusyuz, yakni apabila dia membangkang suaminya dengan tidak mentaati perintahnya, atau dia menolak suaminya yang mengajak berjima’ tanpa uzur, atau dia keluar dari rumahnya tanpa seizin suami, dan lain sebagainya. فَعِظُوهُنَّ (maka nasehatilah mereka) Yakni ingatkanlah mereka dengan apa yang diwajibkan atas mereka berupa ketaatan dan pergaulan yang baik, dan bisa juga dengan cara mengiming-imingi mereka hal yang baik atau menakut-nakuti mereka. وَاهْجُرُوهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ(dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka) Yakni jauhilah tempat tidur mereka. Pendapat lain mengatakan yakni dengan membelakangi mereka ketika tidur tanpa meninggalkan tempat tidur mereka. وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ(dan pukullah mereka) Yakni dengan pukulan untuk mendidik dan meluruskan, bukan pukulan karena rasa dendam dan kesewenang-wenangan. فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ(Kemudian jika mereka mentaatimu) Yakni mentaati sebagaimana yang diharuskan dan meninggalkan nusyuz. فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ(maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya) Yakni dengan sesuatu yang mereka benci baik itu dengan perkataan atau perbuatan; dan janganlah kalian paksa mereka untuk mencintai kalian karena hal itu diluar kehendak mereka. إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar) Maka ingatlah kekuasaan Allah atas kalian, karena kekuasaan-Nya diatas segala kekuasaan. (Zubdatut Tafsir)

وَلَوْلَآ أَن كَتَبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمُ ٱلْجَلَآءَ لَعَذَّبَهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابُ ٱلنَّارِ

walau lā ang kataballāhu 'alaihimul-jalā`a la'ażżabahum fid-dun-yā, wa lahum fil-ākhirati 'ażābun-nār

Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka.

(Tafsir al-Muyassar)

Dan kalau bukan karena Allah telah menentukan mereka keluar dan terusir dari rumah-rumah mereka niscaya Allah akan menyiksa mereka di dunia dengan dibunuh dan ditawan sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara mereka dari Bani Quraiẓah, dan bagi mereka di Akhirat siksa Neraka yang menunggu, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sebagaimana yang terjadi pada Bani Quraidhoh. Allah juga akan mengazab mereka di akhirat (Tafsir al-Wajiz)

وَلَوْلَآ أَن كَتَبَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَآءَ لَعَذَّبَهُمْ فِى الدُّنْيَا ۖ (Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia) Yakni kalaulah bukan karena Allah telah menetapkan bagi mereka untuk keluar dari pemukiman mereka niscaya Allah akan mengazab mereka di dunia dengan terbunuh dan tertawan sebagaimana yang Allah tetapkan bagi Bani Quraizhah. (Zubdatut Tafsir)

مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِى ٱلْمِلَّةِ ٱلْءَاخِرَةِ إِنْ هَٰذَآ إِلَّا ٱخْتِلَٰقٌ

mā sami'nā bihāżā fil-millatil-ākhirati in hāżā illakhtilāq

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,

6-7 lalu para tokoh dan para pembesar kaum berusaha mendorong mereka untuk mempertahankan kesyirikan dan memperjuangkan keragaman tuhan-tuhan. Mereka berkata” apa yang dibawa oleh rasul tersebut adalah sesuatu yang direncanakan dengan tujuan meraih kepemimpinan dan kedudukan. kami belum pernah dengar apa yang didakwahkan itu dari kalangan leluhur kami (orang-orang quraisy) dan dalam agama nasrani. Apa yang dia sampaikan hanyalah kedustaan dan kebohongan. ” (Tafsir al-Muyassar)

Kami tidak mendengar apa yang didakwahkan oleh Muhammad tentang mentauhidkan Allah dalam ajaran nenek moyang kami, tidak pula dalam agama Isa -'alaihissalām-. Kami tidak mendengar darinya selain kebohongan dan bualan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Kami belum pernah mendengar ajaran pengesaan tuhan ini bahkan dari orang Nasrani, mereka berkata: Sesungguhnya Allah itu yang ketiga dari tiga tuhan. Sehingga pernyataan Muhammad hanyalah dusta semata. (Tafsir al-Wajiz)

مَا سَمِعْنَا بِهٰذَا فِى الْمِلَّةِ الْاٰخِرَةِ (Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir) Yakni agama Nasrani. إِنْ هٰذَآ إِلَّا اخْتِلٰقٌ(ini tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan) Yakni hanyalah kebohongan yang dibuat-buat Muhammad. (Zubdatut Tafsir)

وَءَاتَيْنَٰهُم بَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ ۖ فَمَا ٱخْتَلَفُوٓا۟ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِى بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُوا۟ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa ātaināhum bayyinātim minal-amr, fa makhtalafū illā mim ba'di mā jā`ahumul-'ilmu bagyam bainahum, inna rabbaka yaqḍī bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.

Dan Kami memberi Bani Israil syariat-syariat yang jelas dalam perkara halal dan haram dan petunjuk-petunjuk yang menjelaskan kebenaran dan kebatilan, dan mereka tidak berselisih kecuali setelah ilmu datang kepada mereka dan hujjah tegak atas mereka. Yang mendorong mereka demikian adalah pelanggaran sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya untuk mendapatkan kedudukan dan kepemimpinan. Sesungguhnya Tuhanmu (wahai rasul) akan memberikan keputusan di antara orang-orang yang berselisih dari Bani Israil di Hari Kiamat dalam perkara yang mereka perselisihkan di dunia. Dalam ayat Ini terdapat peringatan bagi umat ini agar tidak mengambil jalan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Kami telah memberikan kepada mereka bukti-bukti yang memperjelas kebenaran dari kebatilan, dan tidaklah mereka berselisih kecuali setelah tegaknya hujah (bukti kebenaran) atas mereka dengan diutusnya Nabi kita Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dan tidak ada yang menarik mereka kepada perselisihan ini kecuali kedengkian sebagian kepada sebagian yang lain karena tamak terhadap kekuasaan dan kedudukan. Sesungguhnya Rabbmu -wahai Rasul- memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan di dunia hingga jelaslah siapa yang benar dan siapa yang salah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Kami memberi mereka bukti-bukti nyata tentang urusan-urusan agama di antaranya adalah mukjizat atau bukti-bukti penegas tentang nubuwwah penutup para nabi, sehingga tidak terjadi pertentangan di antara mereka tentang urusan agama kecuali setelah turunnya pengetahuan kepada mereka tentang penjelasan prinsip-prinsip agama dan hukum-hukum halal-haram, lalu terjadilah permusuhan dan kedengkian di antara sebagian mereka, dan mereka mencari-cari pemimpin. Wahai Nabi, sesungguhnya Tuhanmu menentukan hukum tentang keyakinan yang berbeda-beda di antara mereka pada hari kiamat. Dia membalas setiap manusia dengan sesuatu yang layak bagi mereka, baik ataupun buruk. {Yaqdhi} maknanya adalah keputusan dengan menegur dan membalas. (Tafsir al-Wajiz)

وَءَاتَيْنٰهُم بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْأَمْرِ ۖ (Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama)) Yakni tentang syari’at-syari’at yang jelas dalam masalah halal dan haram, atau mukjizat-mukjizat yang jelas. Pendapat lain mengatakan yakni pengetahuan tentang pengutusan Rasulullah Muhammad dan bukti-bukti kenabiannya. فَمَا اخْتَلَفُوٓا۟ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ (maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan) Yakni perselisihan yang terjadi di antara mereka tidak lain adalah setelah datangnya ilmu kepada mereka dengan jelas, namun sesuatu yang seharusnya sebagai sebab terselesaikannya perselisihan mereka menjadikan sebagai sebab terus terjadinya perselisihan di antara mereka itu. بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۚ (karena kedengkian yang ada di antara mereka) Yakni karena sebagian mereka menzalimi sebagian yang lain karena mengharap kekuasaan. إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِى بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيمَا كَانُوا۟ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ(Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya) Yakni berselisih tentang urusan agama mereka. Dan Allah akan membalas kebaikan orang yang berbuat baik dan membalas keburukan orang yang berbuat buruk, dan membedakan antara orang yang benar dan orang yang salah. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِىٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَٰنٍ أَتَىٰهُمْ ۙ إِن فِى صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَٰلِغِيهِ ۚ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

innallażīna yujādilụna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum in fī ṣudụrihim illā kibrum mā hum bibāligīh, fasta'iż billāh, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sesungguhnya orang-orang yang menolak kebenaran dengan kebatilan, menolak hujjah-hujjah Allah yang shahih dengan syubhat-syubhat yang rusak tanpa ada bukti dan hujjah dari Allah, di dalam dada mereka hanyalah ada kesombongan untuk menerima kebenaran ditambah dengan kedengkian dari mereka atas karunia yang Allah berikan kepada NabiNya dan kemuliaan derajat kenabian yang Dia limpahkan kepadanya, sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan dan raih, maka berlindunglah kepada Allah dari keburukan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan-perkataan mereka, Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka dan Dia akan membalas mereka atasnya. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah sebagai usaha untuk membatalkannya tanpa hujah dan bukti, yang mendorong mereka berbuat demikian hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran, mereka tidak akan pernah bisa mewujudkan apa yang mereka inginkan. Maka berlindunglah -wahai Rasul- kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat amal-amal mereka, tidak ada sesuatu pun yang luput dari Allah dan Dia akan membalas mereka atasnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya orang-orang yang berdebat tentang ayat-ayat Al-Qur’an tanpa hujjah dan bukti-bukti yang datang dari Allah, maka di dalam hati mereka itu tidak lain hanya enggan untuk mengikuti kebenaran. Apa yang mereka sampaikan hanyalah keinginan mereka yaitu kepemimpinan dan keunggulan atas nabi. Maka berlindunglah kepada Allah atas kejahatan dan tipu daya mereka. Sesungguhnya Allah itu Maha mendengar ucapan mereka dan Maha melihat keadaan dan tindakan mereka. Ayat ini diturunkan untuk orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, orang-orang musyrik Mekah dan orang-oang kafir secara umum (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّ الَّذِينَ يُجٰدِلُونَ فِىٓ ءَايٰتِ اللهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ أَتَىٰهُمْ ۙ (Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka) Yakni tanpa hujjah yang jelas yang datang dari Allah. إِن فِى صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ(tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran) Yakni kesombongan mereka terhadap kebenaran membuat mereka mendustakanmu. مَّا هُم بِبٰلِغِيهِ ۚ(yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya) Yakni mereka menyombongkan diri atas Muhammad dan berharap dapat menyakitimu, namun mereka tidak dapat mencapai harapan mereka itu. atau mereka sangat berusaha untuk dapat membunuhmu dan sebagainya namun mereka tidak dapat melakukan itu. فَاسْتَعِذْ بِاللهِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ(maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat) Yakni maka mintalah perlindungan Allah dari keburukan, tipu daya, dan kezaliman mereka, Dia Maha Mendengar ucapan mereka dan Maha Melihat perbuatan mereka, tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi