Ayat Tentang Kepemimpinan

۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Arab-Latin: wa iżibtalā ibrāhīma rabbuhụ bikalimātin fa atammahunn, qāla innī jā'iluka lin-nāsi imāmā, qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu 'ahdiẓ-ẓālimīn

Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Tafsir Ayat Tentang Kepemimpinan

Ingatlah -wahai nabi- ketika Allah menguji Ibrahim dengan apa yang disyariatkan nya kepadanya berupa amalan-amalan taklifiyah, dan  dia pun menjalankan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman kepadanya: “Aku jadikan kau sebagai teladan baik bagi umat manusia”. Ibrahim Alaihissalam berkata. “Wahai Tuhanku jadikanlah juga dari keturunanku imam-imam sebagai limpahan karunia dari Mu”. Maka Allah menjawab bahwa sesungguhnya kepemimpinan dalam agama tidak akan dipegang oleh orang-orang yang zalim. (Tafsir al-Muyassar)

Ingatlah ketika Allah menguji Ibrahim -'alaihissalām- dengan beberapa perintah dan tugas. Lalu Ibrahim berhasil menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Maka Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai suri teladan bagi manusia agar tindakan dan perangaimu mereka jadikan contoh.” Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah juga dari keturunanku pemimpin-pemimpin yang bisa dijadikan suri teladan oleh manusia.” Allah menjawabnya dengan berfirman, “Janji-Ku kepadamu tidak mencakup orang-orang zalim dari keturunanmu untuk menjadi pemimpin dalam urusan agama.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Muhammad, ingatlah ketika Allah menguji Nabi Ibrahim dengan berbagai perintah, dia melalui/mengerjakannya dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Allah berkata: “Aku benar-benar menjadikanmu pemimpin atau contoh yang baik perihal agama dan amal kebaikan. Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Allah, jadikanlah anak keturunanku sebagai pemimpin bagi umat mereka. Maka Allah mengkabarkan kepada nabi Ibrahim bahwa anak-cucunya akan menjadi pemimpin dan bahkan menjadi nabi. Allah juga mengkabarkan bahwa anak-cucu nabi Ibrahim tidak akan ada yang terjerumus dalam kedhaliman dan kemaksiatan. Karena ahli maksiat dan orang dholim tidak pantas menjadi contoh bagi manusia. Pemimpin haruslah orang yang mampu berbuat adil dan menjalankan perintah agama, apabila tidak seperti itu maka mereka termasuk orang yang zalim (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ (Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya) (الابتلاء) yakni ujuan dan cobaan.بِكَلِمَاتٍ (dengan beberapa kalimat) Yakni dengan kalimat : ( إني جاعلك للناس إماما) “Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi manusia”فَأَتَمَّهُنَّ ۖ (lalu Ibrahim menunaikannya). Yakni Ibrahim meminta tambahan cakupan dari kalimat tersebut dengan (ومن ذريتي ) “dan juga keturunanku” Ada pula yang berpendapat bahwa maknanya adalah Ibrahim menjalankan tugas kepemimpinan itu dengan sempurna.قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”) Yakni ketika Ibrahim meminta agar keturunannya juga dijadikan sebagai pemimpin, Allah mengabarkan bahwa diantara keturunannya adalah pelaku kemaksiatan dan kezaliman sehingga mereka tidak layak untuk menjadi pemimpin dan tidak mempu menjalankannya dengan benar dan tidak mendapatkan janji Allah ini; karena pemimpin harus adil dan menjalankan perintah syari’at sebagaimana mestinya, jika tidak maka dia adalah orang yang zalim. Ini juga sebagai perintah bagi hamba-hambaNya agar tidak mengangkat orang yang zalim dalam urusan syari’at, karena sesungguhnya seseorang diangkat sebagai pemimpin adalah agar menjadi panutan dalam urusan agama dengan perkataan dan tingkah lakunya. Sedangkan orang zalim (Zubdatut Tafsir)