Ayat Tentang Pendidikan

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Arab-Latin: wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli minar-raḥmati wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

Terjemah Arti: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Tafsir Ayat Tentang Pendidikan

Dapatkan pahala berdakwah dan gratis buku Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk caranya

Terdokumentasikan beberapa penafsiran dari kalangan ahli tafsir berkaitan isi ayat tentang pendidikan, di antaranya sebagaimana berikut:

Dan bersikaplah kepada ibu-ibu dan bapak-bapakmu dengan merendah dan tawadhu sebagai bentuk sayang kepada mereka, dan mohonlah kepada tuhanmu agar berkenan menyayangi mereka berdua dengan rahmatNya yang luas semasa mereka masih hidup maupun setelah wafat, sebagaimana mereka dahulu bersabar dalam mendidikmu semasa masih kecil, yang tak berdaya lagi tak punya kekuatan. (Tafsir al-Muyassar)

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh rasa kasih sayang, dan katakanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangi dan rahmatilah keduanya karena mereka berdua telah bersusah payah membina dan memeliharaku sewaktu kecil. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan tunjukkanlah ketundukkan dan kerendah hatian kepada keduanya untuk menambahkan kasih sayangmu kepada keduanya. Dan berdoalah: “Wahai Tuhanku kasihilah keduanya (orang tuaku) dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku saat masih kecil” (Tafsir al-Wajiz)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ (Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan) Asal dari ungkapan ini diambil dari perilaku burung jika ingin memeluk anaknya untuk mengasuh dan mengasihinya maka ia akan merendahkan sayapnya. Seakan-akan Allah berfirman kepada seorang anak “peliharalah kedua orang tuamu dengan mendekatkan dirimu dan tunduklah pada mereka. وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا (dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”) Yakni dengan kasih sayang seperti kasih sayang mereka ketika mengasuhku. Atau maknanya adalah kasihilah mereka sebab mereka telah mengasuhku. (Zubdatut Tafsir)

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا ٱلْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَٰمَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

fa taqabbalahā rabbuhā biqabụlin ḥasaniw wa ambatahā nabātan ḥasanaw wa kaffalahā zakariyyā, kullamā dakhala 'alaihā zakariyyal-miḥrāba wajada 'indahā rizqā, qāla yā maryamu annā laki hāżā, qālat huwa min 'indillāh, innallāha yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Maka Allah mengabulkan do’anya dan menerima nadzar itu darinya dengan peneriamaah terbaik. Dan dia mengurus putrinya,Maryam, dengan penuh pemeliharaan dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik. Dan Allah memudahkan zakaria untuk menjadi pemelihara Maryam, lalu ia menempatkannya di tempat ibadah. Dan tiap kali dia masuk menemuinya ditempat itu, dia mendapati di sisi Maryam ada rizki lezat yang telah tersedia. Zakaria bertanya, ”wahai Maryam, dari mana kamu mendapatkan rizki yang baik ini?” Maryam menjawab, ”itu adalah rizki dari sisi Allah. sesungguhnya Allah (dengan kemurahanNYA) memberikan rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNYA tanpa perhitungan. (Tafsir al-Muyassar)

Maka Allah menerima nazarnya dengan baik dan menumbuhkan Maryam dengan pertumbuhan yang baik. Allah menjadikan hati hamba-hamba-Nya yang saleh sayang kepadanya dan memberikan hak asuhnya kepada Zakariya -'alaihissalām-. Dan setiap kali Zakariya menemui Maryam di tempat ibadahnya, dia selalu menemukan rezeki yang baik dan mudah di tempatnya. Maka Zakariya pun bertanya kepada Maryam, “Wahai Maryam, dari mana engkau mendapatkan rezeki ini?” Maryam menjawab, “rezeki ini berasal dari Allah. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang luas dan tidak terhingga kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (Tafsir al-Mukhtashar)

37 Maka Allah menerimanya Maryam sebagai nazar dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik yang menjadikan segala keadaannya baik. Dan Allah menjadikan Zakariya (suami bibinya) sebagai pengasuhnya yang bertanggungjawab atas kebaikannya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya (tempat duduk paling mulia, sebagai tempat beribadah), Zakariya mendapati makanan dan buah-buahan yang tidak sesuai dengan musim yang ada. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari Allah. Allah menurunkannya untukku”. Sesungguhnya Allah Maha memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan maupun batas. (Tafsir al-Wajiz)

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ (Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik) Yakni Allah meridhainya dalam nazarnya dan Allah menuntunnya diatas jalan orang-orang yang bahagia. وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا (dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik) Yakni pengasuhan yang baik yang kebaikannya kembali kepada ibunya dalam segala keadaan. وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ (dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya) Yakni menjadikannya sebagai orang yang menanggung segala urusan yang berhubungan dengan kemaslahatannya. Dari Qatadah ia berkata: Maryam merupakan anak dari pemimpin mereka, sehingga pemuka agama mereka tamak terhadapnya. Mereka pun mengundi dengan anak panah siapa yang akan mengasuhnya, dan Zakariya memenangkan undian tersebut maka dialah yang mengasuhnya. Dan akhirnya Maryam berada dalam pengasuhan Zakaiya. كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ (Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya) Yakni suatu jenis makanan. Yakni apabila Zakariya masuk menemui Maryam di musim panas, ia mendapati di sisinya buah-buahan musim dingin; dan mendapati buah-buahan musim panas di musim dingin. أَنَّىٰ لَكِ هٰذَا ۖ (dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?) Yakni dari mana kamu dapatkan makanan yang tidak menyerupai makanan dunia. قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ ۖ (Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”) Maka tidak apa yang perlu diherankan dan dianggap aneh. (Zubdatut Tafsir)

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

mā afā`allāhu 'alā rasụlihī min ahlil-qurā fa lillāhi wa lir-rasụli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli kai lā yakụna dụlatam bainal-agniyā`i mingkum, wa mā ātākumur-rasụlu fa khużụhu wa mā nahākum 'an-hu fantahụ, wattaqullāh, innallāha syadīdul-'iqāb

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Ia didistribusikan untuk kemaslahatan umum kaum Muslimin, untuk para kerabat Rasulullah, yaitu Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib, juga untuk anak-anak yatim, yaitu anak-anak miskin yang ditinggal wafat bapak-bapak mereka saat belum baligh, juga orang-orang miskin, yaitu orang-orang yang membutuhkan dan tidak memiliki apa yang mencukupi dan memenuhi kebuutuhan mereka, dan juga ibnu sabil, yaitu musafir yang bekalnya habis dan terputus dari hartanya. Hal ini agar harta tidak hanya beredar di tangan orang-orang kaya saja dan dihalangi dari orang-orang fakir dan miskin. Apa yang Rasullullah berikan kepada kalian berupa harta, atau apa yang Rasulullah syariatkan, maka ambillah ia, dan apa yang Rasul larang kalian untuk mengambil dan melakukannya, maka hentikanlah. Dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Sesungguhnya Allah Mahakeras azabNya bagi siapa yang mendurhakaiNya dan menyelisihi perintah dan laranganNYa. Ayat ini merupakan dasar dalam beramal sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, baik perkataan, perbuatan, dan penetapan Nabi. (Tafsir al-Muyassar)

Harta rampasan dari penduduk negeri yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya tanpa didahului dengan peperangan, maka itu untuk Allah, diberikan kepada yang dikehendaki-Nya, untuk Rasul miliki, untuk kerabat beliau dari Bani Hasyim dan Bani al-Muṭṭalib sebagai ganti karena mereka tidak boleh menerima sedekah, untuk anak-anak yatim, untuk orang-orang fakir dan untuk orang asing (musafir) yang kehabisan bekal, agar harta itu tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja tanpa melibatkan orang-orang fakir. Apa yang diberikan oleh Rasul kepada kalian dari harta rampasan perang maka terimalah -wahai orang-orang yang beriman-. Dan apa saja yang dilarang oleh Rasul terhadap kalian, maka tinggalkanlah! Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha keras siksa-Nya maka hati-hatilah terhadap siksa-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Itu bermaksud untuk menjaga kemuliaan dan keluhuran mereka. Harta itu juga untuk diberikan kepada anak yatim yang tidak mempunyai ayah, juga kepada fakir miskin yang membutuhkan, dan anak jalanan: yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan menuju kampung halaman mereka. Agar harta fai’ tidak hanya beredar pada golongan orang-orang kaya saja. Maka terima dan ambillah pemberian rasul. Allah tidak melarang kalian untuk menerima dan mengambilnya, maka terimalah. Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Memberi Azab kepada siapapun yang durhaka dan membangkang-Nya (Tafsir al-Wajiz)

مَّآ أَفَآءَ اللهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ (Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota) Ini merupakan penjelasan tentang orang yang berhak mendapat harta rampasan setelah Allah menjelaskan bahwa itu milik Rasulullah. Harta rampasan (fa’i) adalah seluruh negeri yang ditakhlukkan Rasulullah dan kaum muslimin setelah beliau sampai hari kiamat tanpa melalui peperangan dan tidak membutuhkan pengerahan pasukan muslimin yang menunggang kuda atau unta, namun melalui perjanjian damai. فَلِلَّـهِ(maka adalah untuk Allah) Sehingga Allah memberi keputusan tentangnya sesuai dengan kehendak-Nya. وَلِلرَّسُولِ(untuk Rasul) Yakni untuk menjadi kepemilikan Rasulullah, kemudian diberikan untuk kemaslahatan kaum muslimin. وَلِذِى الْقُرْبَىٰ( kaum kerabat) Mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutthalib, yakni orang-orang yang fakir di antara mereka saja, sebab mereka dilarang menerima harta sedekah, maka Allah memberi mereka hak untuk mendapatkan harta fa’i. وَالْيَتٰمَىٰ( anak-anak yatim) Mereka adalah anak-anak kecil yang ditinggal mati ayah mereka sebelum memasuki masa baligh. وَالْمَسٰكِينِ(orang-orang miskin) Yakni orang-orang fakir. وَابْنِ السَّبِيلِ(dan orang-orang yang dalam perjalanan) Yakni orang asing yang perbekalannya telah habis. كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ الْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ( supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu) Sehingga orang-orang kaya dapat berkuasa atas orang-orang kafir. Namun Allah menjadikannya agar harta itu dapat berputar di antara mereka semua. وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا۟ ۚ( Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah) Yakni harta rampasan yang Allah berikan kepada kalian maka terimalah, dan harta yang Allah larang untuk kalian ambil maka janganlah kalian ambil. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّ وَلِۦِّىَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْكِتَٰبَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى ٱلصَّٰلِحِينَ

inna waliyyiyallāhullażī nazzalal-kitāba wa huwa yatawallaṣ-ṣāliḥīn

Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Sesungguhnya pelindunganku adalah Allah yang mengurus penjagaan dan bantuan bagiku. Dia lah Dzat yang menurunkan al-qur’an kepadaku dengan sebenarnya, dan Dia melindungi orang-orang shalih dari hamba-hambaNya dan menolong mereka atas musuh-musuh dan tidak mengabaikan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya penolongku adalah Allah yang senantiasa menjagaku. Maka aku tidak pernah berharap kepada selain Allah. Dan aku tidak takut sedikit pun pada berhala-berhala kalian. Karena Allah lah yang telah menurunkan Al-Qur`ān kepadaku sebagai petunjuk bagi umat manusia. Dan Dia lah yang melindungi orang-orang saleh di antara hamba-hamba-Nya. Dia lah yang menjaga dan menolong mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

196 Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah menurunkan Al Quran dan Dia melindungi dan menolong orang-orang yang shalih. Lalu bagaimana bisa aku takut kepada berhala-berhala ini? (Tafsir al-Wajiz)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى الْبِلٰدِ (Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang- orang kafir bergerak di dalam negeri) Dengan melakukan perjalanan untuk berdagang untuk memperlapang kehidupan mereka, karena itu merupakan kenikmatan yang sedikit yang mereka nikmati di dunia ini dan kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. Ikrimah berkata: yang dimaksud adalah pergerakan mereka di siang dan malam hari dan segala kenikmatan yang berlaku bagi mereka. (Zubdatut Tafsir)

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

ulā`ika 'alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn

Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas adalah orang-orang yang berjalan di atas penjelasan dan cahaya dari Tuhan mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

Orang-orang yang mempunyai kriteria seperti itu, mereka berada di dalam hidayah dari Rabb mereka, dan mereka adalah orang-orang yang menang dengan mendapatkan apa yang mereka cari dan terhindar dari apa yang mereka takutkan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Orang-orang yang digambarkan sesuai yang disebut adalah orang-orang yang diberi petunjuk dan bimbingan dengan cahaya dari Tuhan mereka. Hanya merekalah orang-orang yang mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat (Tafsir al-Wajiz)

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

Allah bersumpah dengan waktu dhuha,dan maksudnya adalah seluruh siang, Allah bersumpah Juga dengan malam yang membuat makhluk tenang dan kegelapannya pekat. Allah bersumpah dengan makhluk yang Dia kehendaki. sedangkan makhluk tidak boleh bersumpah dengan selain khaliknya,karena sumpah dengan selain Allah adalah syirik. Tuhanmu (wahai nabi),tidak meninggalkanmu dan tidak marah kepadamu hanya karena menahan wahyu darimu. (Tafsir al-Muyassar)

Rabbmu -wahai Rasul- tidak akan meninggalkanmu dan tidak pula memurkaimu sebagaimana ucapan orang-orang musyrik tatkala wahyu terputus darimu. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan Tuhanmu tidak meninggalkanmu, tidak memotong hubungan denganmu, tidak mengabaikanmu dan tidak murka denganmu. Itu adalah jawaban dari qasam (Tafsir al-Wajiz)

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ (Tuhanmu tiada meninggalkan kamu) Yakni tidak memutus hubungan denganmu, dan wahyu juga belum terputus darimu. وَمَا قَلَىٰ( dan tiada (pula) benci kepadamu) Yakni tidak murka terhadapmu. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

innā anzalnāhu qur`ānan 'arabiyyal la'allakum ta'qilụn

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Sesungguhnya kami telah menurunkan al-qur’an ini dengan berbahasa arab, agar kalian (wahai bangsa arab), dapat mencerna makna-maknanya dan memahaminya serta mengamalkan petunjuknya. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`ān dengan menggunakan bahasa Arab supaya kalian -wahai orang-orang Arab- bisa memahami maknanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an ini dengan bahasa Arab supaya kalian mengerti makna-maknanya dan memahami isinya guna membangun manusia individu dan sosial (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّآ أَنزَلْنٰهُ (Sesungguhnya Kami menurunkannya) Yakni al-Qur’an. قُرْءٰنًا عَرَبِيًّا(berupa Al Quran dengan berbahasa Arab) Yakni dengan berbahasa arab. لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ(agar kamu memahaminya) Yakni agar kalian mengetahui makna-maknanya dan memahami kandungannya. (Zubdatut Tafsir)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

allāhu lā ilāha illā huw, wa 'alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

(Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.

hanya kepada Allah semata hendaknya orang-orang yang beriman kepada keesaaNya menyerahkan segala urusan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Allah adalah Żat yang berhak disembah, tiada sesembahan lain yang berhak disembah selain-Nya, dan kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman bersandar di dalam setiap urusan mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dialah Allah, Tiada Tuhan selain Dia, tiada yang patut disembah selain Dia, maka bertauhidlah kepadaNya, dan hanya kepadaNyalah orang-orang yang beriman itu berserah diri dan menyerahkan semua urusan-urusannya (Tafsir al-Wajiz)

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

huwallażī ba'aṡa fil-ummiyyīna rasụlam min-hum yatlụ 'alaihim āyātihī wa yuzakkīhim wa yu'allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Allah-lah Yang mengutus kepada orang-orang Arab yang tidak bisa membaca, tidak memiliki kitab dan tidak ada kerasulan pada mereka, seorang rasul dari mereka kepada seluruh manusia, yang membacakan al-Quran kepada mereka, menyucikan mereka dari akidah-akidah rusak dan akhlak-akhlak buruk, mengajari mereka al-Quran dan asSunnah. Sesungguhnya mereka sebelum diutusnya Rasulullah berada di dalam penyimpangan yang nyata dari jalan kebenaran. Allah juga mengutus Rasul tersebut kepada kaum lain yang belum datang dan akan datang dari kalangan orang-orang Arab dan lainnya. Hanya Allah semata Yang Mahaperkasa, Yang berkuasa atas segala sesuatu lagi Mahabijaksana dalam perkataan dan perbuatanNya. (Tafsir al-Muyassar)

Dia lah yang mengutus kepada orang-orang Arab yang tidak bisa membaca dan menulis seorang Rasul dari kalangan mereka, membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya yang diturunkan kepadanya, membersihkan mereka dari kekufuran dan akhlak yang buruk, mengajari mereka Al-Qur`ān, mengajari mereka As-sunnah, dan sesungguhnya mereka sebelum pengutusan Rasul tersebut kepada mereka berada dalam kesesatan yang nyata dari kebenaran, karena mereka dahulu menyembah berhala-berhala, menumpahkan darah dan memutuskan silaturahim. (Tafsir al-Mukhtashar)

Maha Suci Allah yang mengutus Muhammad sebagai Rasul dari bangsa Arab yang Ummiy, yaitu orang-orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Maknanya adalah kebanyakan dari mereka adalah Ummiy, dan dia (Muhammad) termasuk dalam golongan tersebut yaitu sebagai bangsa Arab yang ummiy. Dia (Muhammad) membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dengan ke-Ummiyan-nya yang sama dengan mereka. Dia membersihkan mereka dari kesyirikan dan akidah serta akhlak yang buruk. Dia mengajarkan mereka Al-Qur’an, Sunnah dan pengertian tentang tujuan ajaran syariat dan rahasia-rahasianya. Sesungguhnya sebelum dia diutus menjadi Rasul, mereka berada dalam kesalahan yang jelas dan nyata serta jauh dari kebenaran, yaitu berupa kesyirikan dan keburukan zaman Jahiliyyah. (Tafsir al-Wajiz)

هُوَ الَّذِى بَعَثَ فِى الْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ (Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka) Yang dimaksud dengan kaum yang buta huruf (Ummiyin) adalah orang-orang Arab; sebagian mereka dapat menulis dan sebagian mereka tidak, sebab mereka bukan termasuk Ahli Kitab. Dan makna asal kata (Ummiy) adalah orang yang tidak dapat membaca dan menulis; dan kebanyakan orang Arab ketika itu tidak dapat baca tulis. يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايٰتِهِۦ(yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka) Yakni membacakan al-Qur’an. Padahal Rasulullah tidak dapat membaca tulisan atau menulis dan tidak mempelajari itu dari siapapun. وَيُزَكِّيهِمْ(mensucikan mereka) Yakni membersihkan mereka dari kotoran kekafiran, dosa-dosa, dan akhlak yang buruk. Pendapat lain mengatakan: yakni menjadikan mereka memiliki hati yang bersih dengan keimanan. وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ(dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah) Makna (الكتاب) di sini yakni al-Qur’an, sedangkan (الحكمة) adalah sunnah Rasulullah. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan (الكتاب) yakni menulis dengan pena, dan (الحكمة) yakni pemahaman agama; dan inilah pendapat yang diambil oleh Malik bin Anas. وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ (Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Yakni dalam kesyirikan dan jauh dari kebenaran. (Zubdatut Tafsir)

وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا

wa māżā 'alaihim lau āmanụ billāhi wal-yaumil-ākhiri wa anfaqụ mimmā razaqahumullāh, wa kānallāhu bihim 'alīmā

Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.

Mudarat apa yang akan menimpa mereka seandainya mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, baik dalam bentuk keyakinan maupun dengan amal, dan menginfakkan sebagian yang Allah berikan kepada mereka dengan mengharap pahala dan ikhlas? dan Allah Maha Mengetahui mereka dan apa yang mereka perbuat, dan DIA akan menghisab mereka atas semua itu. (Tafsir al-Muyassar)

Apa salahnya jika mereka beriman dengan sungguh-sungguh kepada Allah dan hari Kiamat, dan menginfakkan harta mereka di jalan Allah secara tulus dan ikhlas? Bahkan seluruh kebaikan ada di dalam hal itu. Allah Maha Mengetahui mereka, tidak ada satu pun kondisi mereka yang luput dari pengetahuan-Nya. Dan Dia akan memberikan balasan yang setimpal dengan amal perbuatan masing-masing. (Tafsir al-Mukhtashar)

Apakah kemudharatan yang akan menimpa mereka ketika beriman dan menginfakkan sebagian rejeki yang diberikan Allah untuk mendapatkan ridhaNya. Dan Allah itu Maha Mengetahui infak dan amal mereka, Dia akan membalas mereka atas amal tersebut. (Tafsir al-Wajiz)

Dapatkan pahala berdakwah dan gratis buku Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk detailnya

Demikianlah beragam penjelasan dari para mufassirin berkaitan makna ayat tentang pendidikan, semoga memberi kebaikan untuk kita semua. Support perjuangan kami dengan mencantumkan tautan ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik

Artikel: Topik, Serial, Doa Dzikir, Lain-lain, Updates